• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSEL"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN RINTISAN SEKOLAH

BERTARAF INTERNASIONAL

IMPLEMENTATION OF GUIDANCE AND COUNSELING SERVICES IN SECONDARY VOCATIONAL SCHOOL INTERNATIONAL SCHOOL

PILOT Bayu Anggara

e-mail: [email protected]

BK merupakan bagian integral dalam program pendidikan. Program BK dalam rangka membantu siswa memecahkan masalahnya disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan daerah masing-masing. Pelaksanaan layanan yang diberikan memiliki kekhasan yaitu disesuaikan dengan tugas konselor sesuai jenjang pendidikan dalam jalur pendidikan formal (TK, SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA, PT). SMK Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan contoh sekolah kejuruan yang mengembangkan sekolah tersebut menuju sekolah bertaraf internasional (SBI). Dengan demikian pelaksanaan layanan BK di SMK RSBI juga akan memiliki karakteristik yang khas yaitu konselor yang memberikan alokasi waktu pelayanan lebih besar terhadap pelayanan perencanaan individual dan keluarga, juga pengajaran di kelas yang menggunakan dua bahasa (bilingual). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan layanan BK di SMK RSBI, pemaknaan personil sekolah terhadap pelaksanaan program BK, pemaknaan siswa terhadap program BK, faktor yang mempengaruhi pelaksanaan layanan BK di SMK RSBI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis fenomenologi; dilakukan di SMK Negeri 1 Kota Blitar dengan subjek konselor, personil sekolah dan siswa. Teknik pengumpulan data: wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi. Data yang diperoleh dideskripsikan, dimaknai, dikategorisasikan dan dibuat koneksitas antar data yang telah ditemukan. Keabsahan data diuji dengan, konfirm ability, dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan layanan BK di SMK RSBI menggunakan program dan materi pengembangan diri siswa sesuai kurikulum KTSP, menggunakan semboyan konselor sahabat siswa dan menggunakan manajemen yang telah tersertifikasi international standard organization (ISO) 9001. Personil sekolah dalam memaknai BK adalah membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri di sekolah dan membantu untuk merencanakan karier mereka. Siswa memaknai BK berbeda-beda sesuai dengan tingkatan kelas. Kelas sepuluh memaknai BK masih negatif misalnya menghukum, menertibkan. Kelas sebelas memaknai BK masih kurang akrab dengan siswa. Kelas dua belas memaknai BK dengan positif membantu menyelesaikan masalah siswa. Faktor yang mendukung pelaksanaan layanan BK meliputi konselor yang selalu meng-update ilmunya, konselor memiliki etos kerja yang tinggi, konselor mendahulukan pekerjaan serta dukungan dari personil sekolah yang positif. Faktor yang menghambat pelaksanaan layanan BK meliputi belum adanya fasilitas online untuk BK, ruang bimbingan yang kurang strategis serta dukungan orang tua yang kurang maksimal. Saran: (1) Kepala sekolah hendaknya meningkatkan sarana dan fasilitas sekolah; (2) Konselor hendaknya berkonsultasi kepada pihak-pihak yang lebih ahli dalam melaksanakan layanan BK; (3) Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa sekolah RSBI dan jenjang pendidikan yang berbeda untuk menemukan kekhasan lainnya.

Kata Kunci: Pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling, Sekolah Menengah Kejuruan,

Sekolah bertaraf Internasional.

Nilai suatu bangsa terletak dari kualitas sumber daya manusia yang

menjadi warga negara. Semakin baik kualitas manusianya, bangsa tersebut

semakin memiliki peluang besar menuju kemajuan dan kemakmuran. Dalam

(2)

berupaya mencapai masyarakat adil dan makmur baik jasmani maupun rohani,

perlu adanya usaha untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas,

guna memenuhi kebutuhan pembangunan dewasa ini dan masa yang akan datang.

Usaha yang dilakukan adalah meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan

Mutu Pendidikan dan Tenaga Pendidikan (PMPTK) dalam rangka meningkatkan

mutu pendidikan dan tenaga pendidikan di sekolah. Berkaitan dengan upaya

dimaksud, salah satu program Direktorat Jenderal PMPTK adalah melaksanakan

program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sesuai dengan Undang-undang

Sisdiknas Pasal 50 Ayat 3 yaitu pemerintah dan/atau pemerintah daerah

menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua

jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf

internasional.

Kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional dibuat untuk memperbaiki

kualitas pendidikan nasional agar memiliki daya saing dengan negara-negara maju

lainnya. Icon SBI di mata masyarakat Indonesia tak bisa lepas dari bilingual

sebagai medium of instruction, multi media dalam pembelajaran di kelas,

berstandar internasional, ataupun sebagai sekolah prestisius dengan jalinan

kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara anggota OECD maupun

lembaga-lembaga tes/sertifikasi internasional, seperti Cambridge, IB,

TOEFL/TOEIC, ISO, dan lain-lain (Kebijakan SBI, 2009: 1).

Menurut hasil wawancara peneliti dengan seorang guru yang berada di

Kota Blitar mengatakan:

Sekolah RSBI itu ya sekolah yang mengajarnya dengan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namun biaya sekolah RSBI mahal, hanya kalangan yang ekonominya baik yang bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah RSBI (DU/PS/28-01-2012).

Sekolah yang berlabel RSBI merupakan sekolah yang penyelenggaraan

pendidikannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mahalnya bersekolah ke

sekolah RSBI karena biaya penyelenggaraan dalam mengajar membutuhkan

media-media penunjang pembelajaran, sedangkan media-media penunjang

(3)

Seorang guru yang mengajar di sekolah RSBI dituntut untuk bisa

berbicara dengan dua bahasa (bilingual). Bahasa yang digunakan juga bervariasi

tergantung sekolah masing-masing. Biasanya dalam mengajar mereka memakai

bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat, hal

ini menuntut manusia agar bisa terampil dan mandiri bukan hanya dalam bahasa

saja melainkan dalam IPTEK. Sekolah menengah kejuruan merupakan solusi yang

tepat bagi masyarakat indonesia untuk menyekolahkan anaknya agar bisa terampil

dan mandiri karena sekolah menengah kejuruan merupakan sekolah yang

mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu (UU

SPN pasal 15).

Kota Blitar banyak memiliki sekolah-sekolah menengah kejuruan yang

telah berlabel Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Tentunya setiap

sekolah-sekolah tersebut memiliki perangkat bimbingan dan konseling yang berkualitas

dan melaksanakan program bimbingan sesuai dengan KTSP. Pelaksanaan

program bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah tersebut juga disesuaikan

dengan Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur

Pendidikan Formal yang pengimplementasiannya berbeda-beda (memiliki

kekhasan) sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

Bimbingan dan konseling sangat berperan penting di sekolah khususnya

di sekolah menengah kejuruan, bimbingan karier mutlak diperlukan untuk

membantu siswa sekolah kejuruan yang nantinya memilih keahlian-keahlian

tertentu sesuai dengan bakat dan minatnya. Namun kenyataan di lapangan

berbeda, banyak siswa yang memilih jenis keahlian pekerjaan kurang sesuai

dengan bakat dan minatnya karena kurang begitu mengenal bimbingan dan

konseling.

Menurut hasil wawancara peneliti dengan salah seorang siswa sekolah

menengah kejuruan di Kota Blitar mengatakan:

(4)

Siswa memandang bahwa bimbingan dan konseling hanya membantu

siswa yang bermasalah saja, bimbingan dan konseling dianggap sebagai sesuatu

yang menakutkan di sekolah. Padahal bimbingan konseling tidak hanya

membantu siswa yang bermasalah saja, siswa yang berprestasi juga dibantu

diarahkan agar lebih meningkatkan prestasinya (tujuan bimbingan dan konseling).

Bimbingan dan konseling di sekolah menengah kejuruan pada

hakikatnya merupakan proses bantuan dan layanan agar siswa mampu memahami

dirinya (sikap, minat, bakat, dan pribadinya), memahami nilai-nilai yang ada pada

dirinya, lingkungan rumahnya, dan lingkungan dunia kerja, serta

memutuskan/merencanakan dan menentukan pilihan karirnya yang mengarah

pada masa depan sesuai dengan potensi yang dimiliki, dengan demikian materi

bimbingan dan konseling kejuruan mencakup hal yang dapat menumbuhkan: (1)

pemahaman dan penerimaan diri, (2) pemahaman lingkungan dunia kerja, instansi

kerja, potensi daerah dan sebagainya, (3) pengidentifikasian hambatan oleh faktor

pribadi dan lingkungan serta kemampuan dalam mengatasi hambatan, (4)

cara-cara pengambilan keputusan dan dunia kerja, (5) pengembangan karier.

Menurut hasil wawancara peneliti dengan salah seorang mahasiswa yang

telah melaksanakan praktik pengalaman lapangan II di sekolah menengah

kejuruan mengatakan:

Kami melaksanakan layanan bimbingan dan konseling di sana tanpa ada jam masuk kelas. Kami ya harus minta sama konselor pamong apabila kami mau masuk kelas. Konselor pamong yang memintakan jam ke guru mata pelajaran (DU/MS/31-01-2012).

Tidak adanya jam masuk kelas berarti mengurangi tingkat hubungan

konselor dengan para siswa, konselor yang banyak dikenal oleh siswa akan

memudahkan mereka dalam membantu memecahkan masalah siswanya karena

mereka sudah kenal dan tahu (fungsi perbaikan bimbingan dan konseling).

Pelaksanaan bimbingan dan konseling menekankan kolaborasi antara

konselor dengan para personal sekolah lainnya (pimpinan sekolah, guru-guru, dan

staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak terkait lainnya (seperti

instansi pemerintah/swasta dan para ahli: psikolog dan dokter), yang berarti

bimbingan dan konseling itu terintegrasi dengan proses pendidikan di sekolah

(5)

Pelaksanaan bimbingan dan konseling membutuhkan bantuan dari

seluruh kalangan instansi dan atau masyarakat yang berkaitan dengan kebutuhan

membantu konseli dalam perkembangannya. Oleh karena itu pelaksanaan

bimbingan dan konseling tidak akan berjalan dengan baik apabila kurang

didukung dengan kolaborasi antar para personel sekolah.

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling belum terlaksana dengan

seharusnya hal ini dikarenakan siswa sendiri sebagai konseli atau subyek yang

akan dibantu masih menganggap konselor sebagai polisi sekolah yang tugasnya

hanya menangani siswa yang bermasalah saja. Hal ini didukung dengan sistem

pendidikan di sekolah yang para personel pelakunya kurang tahu bagaimana

penyelenggaraan program bimbingan dan konseling di sekolah sehingga sulit

merubah paradigma bimbingan dan konseling sebagai polisi sekolah dimata siswa.

Icon SBI seharusnya menjadikan pendidikan di sekolah lebih maju,

namun tuntutan untuk menjalankan sekolah SBI sangatlah berat. Hal ini

menimbulkan permasalahan yang kompleks di sekolah di satu sisi personel

sekolah diharuskan bilingual dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Di sisi

lainnya siswa masih asing dengan penerapan bilingual di dalam pembelajaran

sehingga menimbulkan kesulitan-kesulitan belajar.

Selain itu sekolah RSBI dituntut juga untuk mengikuti kemajuan IPTEK

seperti penggunaan wifi atau hotspot di area sekolah hal ini dapat mempengaruhi

kelancaran proses belajar mengajar sekaligus menimbulkan masalah lain yang

lebih kompleks seperti penyalahgunaan penggunaan fasilitas tersebut oleh siswa

untuk hal-hal negatif misalkan mengakses situs-situs porno, jejaring network

maupun game online.

Hal inilah yang seharusnya dimanfaatkan oleh bimbingan dan konseling

untuk melaksanakan layanannya guna membantu konseli mengatasi masalah

kesulitan belajar ataupun masalah perkembangan remaja mereka agar merubah

paradigma yang menganggap konselor sebagai polisi sekolah menjadi konselor

sebagai sahabat siswa.

Sesuai dengan yang disebutkan diatas peneliti sangat tergerak untuk

mengetahui lebih lanjut bagaimanakah kemenarikan dan keunikan/kekhasan

(6)

KTSP. Penelitian ini tidak memecahkan masalah pelaksanaan sekolah menengah

kejuruan rintisan sekolah berstandar internasional yang seharusnya melainkan

penelitian ini memberikan gambaran jelas tentang pelaksanaan salah satu SMK

RSBI di kota Blitar.

METODE PENELITIAN

Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini bermaksud

mengetahui dan mendeskripsikan secara rinci tentang pelaksanaan layanan

bimbingan dan konseling di sekolah menengah kejuruan negeri rintisan sekolah

berstandar internasional di Kota Blitar. Peneliti akan melakukan kegiatan di

lapangan sejak dari penjajakan lokasi penelitian, studi orientasi sampai dengan

kegiatan studi secara terfokus.

Penelitian ini mengungkapkan pelaksanaan layanan bimbingan dan

konseling di SMK Negeri 1 Kota Blitar. Jenis pendekatan yang sesuai dengan

penelitian ini adalah fenomenologi. Peneliti dalam pandangan fenomenologis

berusaha menghayati makna yang orang berikan terhadap sesuatu dan memahami

arti peristiwa beserta kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada pada

situasi tertentu. Dalam penelitian ini peneliti berusaha memahami pemaknaan

personil sekolah dan siswa dalam memaknai pelaksanaan bimbingan dan

konseling di SMK Negeri 1 Kota Blitar.

Selain itu dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik snowball

sampling. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data,

yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan

karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan

data yang lengkap, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai

sumber data sampai data benar-benar lengkap. Dengan demikian jumlah sampel

sumber data akan semakin besar.

Subyek yang dijadikan sumber data ditetapkan berdasarkan kriteria

berikut: (1) Subyek merupakan warga SMK Negeri 1 Kota Blitar. (2) Subyek

pernah mengikuti kegiatan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. (3)

(7)

informal, di dalam atau di luar ruangan. (4) subyek bersedia menjadi partisipan

dalam penelitian.

Berdasarkan kriteria tersebut, awalnya peneliti menetapkan satu subyek

penelitian dari konselor, siswa, maupun personil sekolah lainnya. sejalan dengan

keperluan kelengkapan data mengenai fenomena yang diteliti, maka ditambah

beberapa subyek lagi untuk memperoleh hasil data yang melengkapi. Subyek

pertama untuk konselor adalah K1, dari K1 tersebut diperoleh subyek lain yaitu

K2, K3, K4. Subyek pertama untuk siswa adalah S1, dari S1 tersebut diperoleh

subyek lain yaitu S2, S3, S4, S5, S6, S7, S8. Subyek pertama untuk personil

sekolah adalah PS1, dari PS1 tersebut diperoleh subyek lain yaitu PS2, PS3, PS4.

Peneliti dalam pengumpulan data ini menggunakan data deskriptif yang

berupa kata-kata dan tindakan serta data tertulis. Data tersebut dikumpulkan

secara berurutan sesuai dengan urutan tema fokus penelitian. Dalam hal ini, data

dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu:

teknik observasi, teknik wawancara mendalam dan teknik dokumentasi.

Peneliti mengobservasi ruang bimbingan bimbingan dan konseling, proses

pembelajaran di kelas, fasilitas yang tersedia, materi-materi yang diberikan dan

perilaku konselor dalam melaksanakan layanan. Peneliti melakukan wawancara

kepada empat konselor, empat personil sekolah dan delapan siswa mulai awal

peneliti melakukan penelitian tanggal 23 April sampai tanggal 5 Mei 2012. Dalam

penelitian ini, dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data yang berkaitan

dengan fokus penelitian. Dalam data ini dimanfaatkan sebagai penunjang dari

data-data lainnya sehingga diperoleh data yang utuh dan berkualitas. Peneliti

diantaranya mempelajari PROTA, PROMES, RPP, dan Silabus dalam melakukan

studi dokumentasi.

Dari lokasi penelitian, data lapangan dituangkan dalam uraian laporan

yang lengkap dan terinci. Data dan laporan lapangan kemudian direduksi,

dirangkum, dan kemudian dipilah-pilah hal yang pokok, difokuskan untuk dipilih

yang terpenting kemudian dicari tema atau polanya ( melalui proses

penyuntingan, pemberian kode dan pentabelan ). Reduksi data dilakukan terus

menerus selama proses penelitian berlangsung. Pada tahapan ini setelah data

(8)

memberi kemudahan dalam penampilan, penyajian, serta untuk menarik

kesimpulan sementara.

Peneliti mereduksi data yang diperoleh dengan cara sebagai berikut:

K : Konselor

PS : Personil Sekolah

S : Siswa

Untuk K, PS dan S diperoleh melalui proses wawancara.

O : Observasi

D : Dokumentasi

DU : Data Utama (Data yang diperoleh dari wawancara)

DT : Data Tambahan (Data yang diperoleh dari observasi atau

dokumentasi)

Untuk memudahkan pembaca, peneliti menuliskan data-data secara

berurutan yaitu termasuk data utama atau tambahan, subyek penelitian konselor,

siswa atau personil sekolah, dan terakhir kapan mengumpulkan data tersebut

misalnya:

(DU/K2/03-04-2012) : Data Utama yang diperoleh dari dari konselor ke-2

yang dilakukan ke-2 pada tanggal 3 April 2012.

(DT/O1/05-03-2012) : Data Tambahan dari observasi ke-1 yang

dilakukan ke-1 pada tanggal 5 Maret 2010.

Data-data tersebut kemudian dipilah-pilah dan disisikan untuk disortir

menurut kelompoknya dan disusun sesuai dengan kategori yang sejenis untuk

ditampilkan agar selaras dengan permasalahan yang dihadapi, termasuk

kesimpulan-kesimpulan sementara diperoleh pada waktu data direduksi.

Pada penelitian kualitatif, verifikasi data dilakukan secara terus menerus

sepanjang proses penelitian dilakukan. Sejak pertama memasuki lapangan dan

selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan

mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu mencari pola tema dan

hubungan persamaan, yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk kesimpulan

yang masih bersifat tentatif.

Kecukupan referensial dengan menggunakan alat bantu perekam yang

(9)

untuk keperluan evaluasi, alat-alat yang digunakan dalam pengecekan keabsahan

data dengan menggunakan teknik konfirm ability yaitu menyesuaikan analisis

tertulis dari transkrip wawancara yang dibahas dengan rekaman. Dengan data dan

informasi yang telah tercatat dan terekam dapat digunakan sebagai dasar untuk

menguji sewaktu diadakan analisis dan penafsiran data sehingga peneliti tidak

mengalami kesulitan dalam menyusun laporannya.

Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau

sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan

triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik untuk menguji

kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada subyek penelitian

yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan

wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumentasi. Sedangkan triangulasi

sumber digunakan untuk mengecek data yang diperoleh dari beberapa subyek

penelitian. Misalkan sumber data dari konselor kemudian dicek kepada personil

sekolah dan siswa.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini mendiskripsikan tentang pelaksanaan layanan BK di

SMKN RSBI, pemaknaan personil sekolah dan siswa terhadap program BK serta

faktor yang mempengaruhi pelaksanaan layanan BK di SMKN RSBI. Deskripsi

hasil penelitian dijabarkan sebagai berikut:

Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling di SMK RSBI

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMKN 1 Kota Blitar

mengacu pada program dan materi pengembangan diri siswa sesuai kurikulum

tingkat satuan pendidikan. Dalam mengorganisasikan layanan mereka membuat

program tahunan, program semester, RPP dan Silabus. Mereka juga membuat

modul dan LKS bimbingan dan konseling untuk memudahkan dalam pelaksanaan

layanan. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sana didukung juga

dengan adanya jam masuk kelas.

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMKN 1 Kota Blitar

(10)

evaluasi program. Dalam melaksanakan layanannya bimbingan dan konseling di

sana menggunakan pedoman konselor sebagai sahabat siswa. Mereka berpedoman

seperti itu agar siswa mau datang dan tidak berpandangan negatif terhadap

bimbingan dan konseling.

Kegiatan perencanaan program yang mereka lakukan diantaranya yaitu

kegiatan penyusunan program BK, penyusunan RAPBS serta penyediaan fasilitas.

Pelaksanaan penyusunan program BK dan penyusunan RAPBS di sana dilakukan

pada awal tahun ajaran baru berkolaborasi dengan tim kurikulum. Penyediaan

fasilitas penunjang layanan BK di sana dilakukan pada bulan Juli dan Agustus

berkolaborasi dengan tim sarana dan prasarana.

Kegiatan pelaksanaan program meliputi pengumpulan dan analisis data,

pelaksanaan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,

penguasaan konten, bimbingan kelompok, layanan konseling, konsultasi, referal,

konferensi kasus, serta home visit. Pengumpulan dan analisis data di sana dibagi

dalam dua tahap, yaitu pengumpulan data identitas siswa dan pengumpulan data

hasil analisa DCM. Pelaksanaan Layanan orientasi, informasi, penempatan dan

penyaluran, penguasaan konten dan bimbingan kelompok dilaksanakan sesuai

jadwal masuk kelas yang telah diprogramkan. Layanan konseling, konsultasi,

referal dan home visit dilakukan insidental sesuai kebutuhan siswa. Mereka juga

berkolaborasi dengan berbagai pihak yang ada di dalam maupun di luar sekolah

yang terkait dengan kebutuhan membantu memecahkan masalah siswa antara lain:

orang tua siswa, guru mata pelajaran, wali murid, Dinkes dan MGBK.

Kegiatan evaluasi yang dilakukan di sana menggunakan tinjauan

manajemen yang telah tersertifikasi ISO 9001. Pelayanan bimbingan dan

konseling dievaluasi oleh pihak SAI global setiap enam bulan sekali. Evaluasi

tersebut dilakukan dengan tinjauan manajemen.

Pemaknaan Personil Sekolah Terhadap Program BK

Bimbingan dan konseling merupakan unit kerja berarti tidak dapat

berjalan sendiri dalam melaksanakan layanan. Bimbingan dan konseling bertugas

memantapkan siswa yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan jurusannya.

Bimbingan dan konseling juga bertugas membantu siswa merencanakan karier

(11)

khususnya di SMK. Di SMK dengan praktek dan teori dalam pembelajarannya

sangat rentan dengan timbulnya masalah, maka bimbingan dan konseling di sini

juga berperan penting untuk mencegah timbulnya masalah. Bimbingan dan

konseling juga melakukan kegiatan merekap absensi siswa, melaksanakan home

visit, memberikan motivasi di kelas dan juga merangkap penertib.

Bimbingan dan konseling di sana ditinjau dari banyaknya siswa yang

perlu dibina mengalami kekurangan personil namun secara kualitas sudah bekerja

dengan baik karena memiliki keahlian khusus dalam menangani siswa dan

menerapkan manajemen yang telah tersertifikasi ISO 9001. Mereka juga sudah

mengurangi tugas merangkap sebagai tatib. Menurut konselor sendiri, mereka

mengakui bahwa ilmu yang mereka dapat saat ini sudah ketinggalan dengan

perkembangan keilmuan bimbingan dan konseling.

Pemaknaan Peserta Didik terhadap Program BK

Menurut pendapat kelas sepuluh bimbingan dan konseling di sana

menakutkan karena banyak dari teman-teman mereka yang bercerita negatif

tentang BK. Hal-hal negatif dari bimbingan dan konseling diperoleh dari

pengalaman waktu duduk di SMP dahulu. Bimbingan dan konseling menurut

siswa kelas sebelas dianggap sebagai tempat untuk menangani siswa yang

bermasalah. Namun mereka enggan untuk mengutarakan masalahnya ke konselor

karena menurut mereka konselor kurang akrab dengan siswa. Bimbingan dan

konseling menurut siswa kelas dua belas adalah tempat untuk berkonsultasi,

mencari informasi mengenai sekolah lanjutan maupun lowongan pekerjaan serta

anggapan mereka adalah siswa yang dipanggil oleh BK merupakan siswa yang

bermasalah.

Siswa kelas sepuluh, sebelas dan dua belas menganggap konselor di

SMKN 1 Kota Blitar berperilaku ramah dan bersahabat. Hal ini juga merupakan

semboyan dari bimbingan dan konseling di sana yaitu konselor merupakan

sahabat siswa.

Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Layanan BK di SMK RSBI

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan layanan bimbingan dan

konseling di sana dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu keprofesionalan konselor

(12)

personil bimbingan lainnya. Faktor-faktor tersebut ada yang mendukung dan ada

yang menghambat pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.

Faktor yang mendukung pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling

dapat berjalan dengan baik apabila konselornya profesional. Profesional menurut

mereka adalah konselor dapat meng-up date ilmu, konselor memiliki etos kerja

yang tinggi, serta dapat mendahulukan pekerjaannya dari pada urusan pribadi.

Personil sekolah sangat mendukung terhadap keberadaan bimbingan dan

konseling di SMKN 1 Kota Blitar. Dukungan yang diberikan terhadap BK mereka

sesuaikan dengan jabatan mereka di sekolah.

Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan layanan bimbingan dan

konseling di sana dipengaruhi oleh fasilitas dan sarana penunjang layanan

diantaranya fasilitas online untuk bimbingan dan konseling dan konseling belum

diprogramkan di sekolah, masih adanya fasilitas gedung kelas yang dibangun

sehingga menghambat pelayanan bimbingan masuk kelas serta ruang bimbingan

dan konseling yang kurang strategis membuat siswa enggan untuk memanfaatkan

layanannya. Orang tua yang kurang mendukung terhadap layanan bimbingan dan

konseling sehingga menghambat pemecahan masalah anaknya di sekolah.

PEMBAHASAN

Pelaksanaan Layanan BK di SMK RSBI

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMKN 1 Kota Blitar

mengacu pada program dan materi pengembangan diri siswa sesuai kurikulum

tingkat satuan pendidikan. Dalam mengorganisasikan layanan mereka membuat

program tahunan, program semester, RPP dan Silabus. Mereka juga membuat

modul dan LKS bimbingan dan konseling untuk memudahkan dalam pelaksanaan

layanan. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sana didukung juga

dengan adanya jam masuk kelas.

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMKN 1 Kota Blitar

dibagi menjadi tiga tahap yaitu perencanaan program, pelaksanaan program dan

evaluasi program. Hal ini berarti di sana telah melaksanakan kegiatan manajemen

dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Hal ini senada dengan apa yang

(13)

adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,

pengontrolan/pengawasan, dan pengendalian kegiatan petugas bimbingan dalam

rangka mencapai tujuan bimbingan yang telah dirumuskan, dengan menggunakan

sumber manusia dan material secara tepat.

Kegiatan perencanaan program yang mereka lakukan yaitu diantaranya

yaitu kegiatan penyusunan program BK, penyusunan RAPBS serta penyediaan

fasilitas. Pelaksanaan penyusunan program BK dan penyusunan RAPBS di sana

dilakukan pada awal tahun ajaran baru berkolaborasi dengan tim kurikulum.

Penyediaan fasilitas penunjang layanan BK di sana dilakukan pada bulan Juli dan

Agustus berkolaborasi dengan tim sarana dan prasarana.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gysber & Henderson

dalam Flurentin (2001: 26) yaitu tahap-tahap pengembangan bimbingan dan

konseling meliputi perencanaan (planning), penyusunan (designing), pelaksanaan

(implementing), dan penilaian (evaluating). Perencanaan program di sana sudah

melaksanakan beberepa tahap yang ada tersebut, namun kurang begitu lengkap.

Walaupun begitu mereka sudah berusaha melaksanakan kegiatan perencanaan

program.

Program bimbingan dan konseling di SMKN 1 Kota Blitar mengadopsi

program tahun yang lalu. Hal ini kurang sesuai dengan apa yang dikemukakan

Flurentin. (2001: 21) program yang direncanakan secara terperinci dan baik

memberikan banyak keuntungan, baik itu siswa yang mendapat layanan

bimbingan, maupun petugas bimbingan yang menyelenggarakannya. Mengadopsi

program tahun lalu tidak merencanakan program secara terperinci sehingga hanya

menguntungkan konselor saja.

Selain itu Roeber et al. (1955) dalam Flurentin (2001: 21) bahwa

perencanaan awal program bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk

menjawab tiga pertanyaan yaitu: (1) Apa saja kebutuhan bimbingan untuk siswa?,

(2) Sejauh mana kebutuhan-kebutuhan itu telah dapat dipenuhi dengan kondisi

yang ada sekarang?, dan (3) Bagaimana sekolah dapat memenuhi

kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan baik?. Dengan demikian kegiatan mengadopsi

program tahun lalu kurang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut

(14)

Pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sana dilakukan

sesuai dengan program layanan yang telah dibuat melalui kegiatan pelaksanaan

program. Kegiatan pelaksanaan program meliputi pengumpulan dan analisis data,

pelaksanaan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,

penguasaan konten, bimbingan kelompok, layanan konseling, konsultasi, referal,

konferensi kasus, serta home visit. Kegiatan pelaksanaan program klasikal

(layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten

serta bimbingan kelompok) di sana diprogramkan dengan mencakup empat

bidang bimbingan yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir. Hal ini sesuai

dengan SK Mendikbud No. 025/O/1995 tentang petunjuk teknis ketentuan

pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya yaitu kegiatan

bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup bimbingan pribadi,

sosial, belajar dan karir.

Pengumpulan dan analisis data di sana dibagi dalam dua tahap, yaitu

pengumpulan data identitas siswa dan pengumpulan data hasil analisa DCM. Hal

ini sesuai dengan Wingkel (1997: 299) bahwa secara ideal, kumpulan catatan ini

merupakan arsip perseorangan, yang diorganisasi dengan baik dan bersifat

komprehensif, sehingga akhirnya dapat menghasilkan suatu deskripsi kuantitaif

dan kualitatif tentang kepribadian siswa dalam berbagai aspeknya.

Pelaksanaan Layanan orientasi diberikan kepada siswa kelas sepuluh dan

dua belas. Layanan orientasi untuk kelas sepuluh bertujuan untuk mengenalkan

bimbingan dan konseling, sedangkan untuk kelas dua belas bertujuan agar mereka

mengenal dunia kerja maupun sekolah lanjutan. Hal ini senada dengan apa yang

dikemukakan oleh Prayitno (1997: 35) bahwa layanan orientasi memungkinkan

peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik

di lingkungan yang baru.

Layanan informasi yang dilakukan di sana menggunakan metode papan

bimbingan, ceramah, diskusi dan tanya jawab serta pemutaran video. Hal ini

sesuai dengan apa yang dikemukakan Prayitno (1994) bahwa layanan informasi

perlu diselenggarakan di sekolah yaitu untuk membekali individu dengan berbagai

(15)

Layanan penempatan dan penyaluran ditujukan kepada siswa kelas

sebelas. Layanan tersebut dilaksanakan oleh bimbingan dan konseling di sana

berkolaborasi dengan BKK di sekolah dalam menentukan tempat prakerin.

Konselor berperan penting untuk menyiapkan siswa agar siap untuk

melaksanakan prakerin sesuai dengan tempat yang telah ditentukan. Hal ini sesuai

dengan tujuan layanan penempatan dan penyaluran yaitu siswa memperoleh

penempatan dan penyaluran yang tepat, misalnya penempatan di dalam kelas,

kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang dan kegiatan

ekstrakulikuler (Depdikbud, 2002: 15)

Layanan penguasaan konten diberikan kepada semua siswa, untuk siswa

kelas dua belas layanan konten diberikan porsi lebih banyak untuk membekali

mereka ketika lulus agar dapat bersaing di dunia kerja. Tujuan layanan konten

adalah agar siswa menguasai konten atau kompetensi tertentu serta menambah

pemahaman, mengarahkan sikap dan kebiasaan tertentu, memenuhi kebutuhan

dan mengatasi masalahnya.

Bimbingan kelompok dilaksanakan sesuai jadwal masuk kelas yang

telah diprogramkan. Layanan ini terintegrasi dengan layanan informasi.

Bimbingan kelompok di sana dilakukan dengan metode dikusi kelompok dan

tanya jawab. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Romlah (2001: 3)

bahwa bimbingan kelompok merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan

dalam situasi kelompok. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya masalah

pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.

Pelaksanaan layanan konseling yang dilakukan di SMKN 1 Kota Blitar

dilaksanakan dengan melakukan pemanggilan ke ruang konseling dengan melihat

hasil analisis DCM, absensi siswa, laporan dari wali kelas dan guru mata pelajaran

dan juga pelanggaran di peraturan sekolah. Selain itu ada juga siswa yang datang

atas kemauannya sendiri karena mempunyai masalah pribadi. Masalah yang sama

dari siswa mereka lakukan konseling kelompok.

Mortensen dan Schmuller (1964) yang menyatakan counseling is the

heart of guidance program yang artinya konseling adalah jantung dari bimbingan.

Oleh karena itu diharapkan agar kegiatan konseling dapat berlangsung secara

(16)

berlangsung dengan baik. Hal ini berarti diperlukan penguasaan layanan konseling

dengan baik oleh konselor.

Konseling yang dilaksanakan di sana tidak menggunakan teknik-teknik

konseling. Mereka menggunakan nasehat-nasehat, saran, dan solusi pemecahan

masalah. Dalam pelaksanaan konseling mereka kurang menguasai teknik-teknik

konseling. Menggunakan nasehat-nasehat, saran, dan solusi memecahkan masalah

siswa kurang sesuai. Di dalam konseling terjadi proses membahas dan

memikirkan masalah bersama anak bukan untuk anak (Djoko, 2009: 101). Karena

konseling merupakan proses belajar jadi siswa belajar untuk memahami diri,

belajar untuk memecahkan masalahnya serta belajar untuk mengambil keputusan.

Layanan konsultasi dilaksanakan insidental sesuai kebutuhan siswa.

Siswa yang memanfaatkan layanan konsultasi adalah siswa kelas dua belas.

Mereka mengkonsultasikan masalah mengenai sekolah lanjutan dan pekerjaan.

Konselor dibantu oleh BKK untuk mencari pekerjaan, sedangkan untuk

membantu memilihkan jurusan konselor mempelajari brosur-brosur PTN. Hal ini

kurang sesuai dengan apa yang dikemukakan di dalam PMPTK (2007: 54) bahwa:

Konselor menerima layanan konsultasi yang bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah/madrasah yang terkait dengan upaya

membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan sekolah/madrasah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan referal, dan meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.

Dengan demikian pelaksanaan konsultasi ditujukan bagi guru, orang tua,

atau pihak pimpinan/madrasah yang bertujuan untuk membantu perkembangan

peserta didik.

Pelaksanaan alih tangan kasus yang dilaksanakan untuk membantu siswa

di sana berhubungan dengan masalah kesehatan siswa. Alih tangan kasus yang

dilaksanakan di sana berkolaborasi dengan Dinkes. Alih tangan kasus merupakan

kegiatan pendukung untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas

atas masalah yang dialami siswa dengan memindahkan penanganan kasus ke

pihak lain, misalnya guru mata pelajaran, konselor, sesuai dengan permasalahan

siswa (Depdikbud, 2002: 17). Dalam hal ini pelaksanaan alih tangan yang

dilaksanakan di sana sesuai keahlian yang akan akan digunakan untuk membantu

(17)

Pelaksanaan home visit dilakukan dengan kondisi apabila orang tua

siswa yang diundang tiga kali tidak memenuhi panggilan. Siswa yang tidak

masuk, terlambat lebih dari tiga kali juga akan kami lakukan home visit. Kegiatan

tersebut dilakukan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan dan komitmen

bagi terentasnya permasalahan siswa melalui kunjungan rumah (Flurentin, 2001:

80). Dengan demikian pelaksanaan home visit di sana dilakukan untuk

mengentaskan masalah siswa.

Konferensi kasus yang dilaksanakan di sana, digunakan untuk membantu

menyelesaikan masalah yang dianggap berat sehingga konselor tidak dapat

memutuskannya sendiri. Mereka berkolaborasi dengan wali kelas, kepala

departemen, kesiswaan maupun kepala sekolah. Masalah-masalah tersebut

misalnya: kasus hamil, mencuri, tawuran, bobot poin mendekati ambang batas dan

nilai akademik yang memungkinkan untuk tidak naik kelas. Kegiatan kolaborasi

dalam konferensi kasus yang dilakukan di sana telah sesuai dengan apa yang

dikemukakan di dalam PMPTK, (2007: 55) bahwa konferensi kasus adalah

kegiatan yang membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang

dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan

komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan

konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sana berkolaborasi

dengan berbagai pihak yang ada di dalam maupun di luar sekolah yang terkait

dengan kebutuhan membantu memecahkan masalah siswa antara lain: orang tua

siswa, guru mata pelajaran, wali murid, Dinkes dan MGBK. Hal ini senada

dengan PMPTK (2007: 40) dalam pemetaan tugas konselor pada jenjang sekolah

menengah yang di anjurkan untuk melaksanakan kolaborasi dengan berbagai

pihak yang terkait.

Kegiatan evaluasi yang dilakukan di sana menggunakan tinjauan

manajemen yang telah tersertifikasi ISO 9001. Pelayanan bimbingan dan

konseling dievaluasi oleh pihak SAI global setiap enam bulan sekali. Evaluasi

tersebut dilakukan dengan tinjauan manajemen. Hal ini senada dengan pernyataan

Sauber (1973) dalam Flurentin (1991: 78) bahwa evaluasi merupakan proses

(18)

tujuan atau proses memberikan nilai atas sesuatu yang mengambil suatu

keputusan. Dengan demikian evaluasi yang dilakukan dengan tinjauan manajemen

yang tersertifikasi ISO 9001 telah mewakili evaluasi dalam pelaksanaan layanan

bimbingan dan konseling di sana.

Pemaknaan Personil Sekolah Terhadap Program BK

Bimbingan dan konseling menurut pemaknaan mereka merupakan unit

kerja berarti tidak dapat berjalan sendiri dalam melaksanakan layanan. Selain itu

bimbingan dan konseling bertugas memantapkan siswa yang kurang dapat

menyesuaikan diri dengan jurusannya. Hal ini sesuai dengan tugas konselor di

sekolah menengah kejuruan dalam PMPTK (2007: 39) yaitu pelayanan lebih

difokuskan kepada upaya membantu konseli mengokohkan pilihannya dan

pengembangan karir sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya.

Bimbingan dan konseling menurut mereka juga bertugas membantu

siswa merencanakan karier mereka kedepan. Oleh karena itu bimbingan dan

konseling sangatlah penting khususnya di SMK. Hal ini senada dengan apa yang

dikemukakan oleh Flurentin, (2001: 5) bahwa bimbingan dan konseling penting

adanya di suatu sekolah karena merupakan bagian integral dari keseluruhan

program pendidikan. Di SMK dengan praktek dan teori dalam pembelajarannya

sangat rentan dengan timbulnya masalah, maka bimbingan dan konseling di sini

juga berperan penting untuk mencegah timbulnya masalah. Hal ini sesuai dengan

pendekatan bimbingan dan koseling perkembangan yang berorientasi kepada

perkembangan dan preventif.

Bimbingan dan konseling juga melakukan kegiatan merekap absensi

siswa, melaksanakan home visit, memberikan motivasi di kelas dan juga

merangkap penertib. Sebagian dari apa yang mereka katakan memang merupakan

tugas dari konselor (home visit dan motivasi). Namun perlu digaris bawahi jika

bimbingan dan konseling bertugas sebagai penertib, hal ini tidak sejalan dengan

pengertian bimbingan yaitu:

(19)

Penertib bukanlah bantuan yang bersifat mendidik oleh karena itu dapat

dilakukan oleh guru lain. Sedangkan bimbingan sendiri merupakan kegiatan yang

dilakukan secara sistematis dan terus menerus sehingga perlu penanganan oleh

orang yang memiliki keahlian dalam hal ini tentunya adalah konselor. Sesuai UU

No 20 Tahun 2003 Pasal Ayat 6 yaitu keberadaan konselor dalam sistem

pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar

dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan

instruktur. Hal ini berarti penertib bukanlah merupakan tugas konselor karena

lebih bersifat menghukum bukan mendidik.

Menurut mereka bimbingan dan konseling di sana ditinjau dari

banyaknya siswa yang perlu dibina mengalami kekurangan personil yaitu dari

2388 siswa ditangani oleh sebelas konselor. Hal ini sesuai dengan SKB

Mendikbud dan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 025 tahun 1993 tentang

petunjuk teknis ketentuan pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka

kreditnya pasal 5 ayat 3 yang berbunyi tentang jumlah peserta didik yang harus

dibimbing oleh seorang guru pembimbing adalah 150. Jadi seyogyanya sekolah

menambah empat atau lima orang konselor lagi dalam memenuhi aturan tersebut.

Menurut mereka secara kualitas konselor di sana sudah bekerja dengan

baik karena memiliki keahlian khusus dalam menangani siswa dan menerapkan

manajemen ISO. Mereka juga sudah mengurangi tugas merangkap sebagai tatib.

Dalam hal ini pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan

kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan

pengentasan masalah-masalah konseli (PMPTK, 2007: 13). Oleh karena itu belum

tepat kiranya apabila pelaksanaan bimbingan dan konseling itu dinilai hanya dari

kualitas konselor ataupun manajemen yang baik karena pelaksanaan bimbingan

dan konseling yang berjalan baik dan efektif adalah jika mencapai tujuan

bimbingan konseling.

Menurut konselor sendiri, mereka mengakui bahwa ilmu yang mereka

dapat saat ini sudah ketinggalan dengan perkembangan keilmuan bimbingan dan

konseling. Dalam hal ini konselor perlu melaksanakan pengembangan profesi agar

mereka dapat melaksanakan layanan bimbingan dan konseling dengan baik.

(20)

terus menerus berusaha untuk meng-up date pengetahuan dan ketrampilannya

melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam

kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4)

melanjutkan studi ke program yan lebih tinggi (Pascasarjana).

Harapan yang di utarakan para personil sekolah menuntut agar konselor

meningkatkan kinerja layanan responsif serta meningkatkan kolaborasi dengan

personil sekolah lainnya. Selain meningkatkan kinerja layanannya, konselor juga

diharapkan untuk lebih memfokuskan layanan untuk membantu ke arah karier

siswa yang berkaitan dengan dunia kerja dan perguruan tinggi. Harapan tersebut

juga bisa dimaknai sebagai saran untuk melaksanakan layanan bimbingan dan

konseling lebih baik lagi.

Konselor di sana seyogyanya menindak lanjuti harapan para personil

sekolah dengan membuat program yang lebih baik lagi. Kegiatan ini dapat

meliputi dua kegiatan, yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah,

kurang tepat, atau kurang relevan dengan tujuan yang akan dicapai, dan (2)

mengembangkan program, engan cara merubah atau menambah beberapa hal

yang dipandang dapat meningkatkan kualitas dan efektifitas program (PMPTK,

2007: 60).

Pemaknaan Siswa Terhadap Program BK

Menurut pendapat siswa kelas sepuluh (X) bimbingan dan konseling

merupakan tempat untuk membimbing siswa agar mereka dapat mentaati

peraturan sekolah. Hal ini ini berarti bimbingan dan konseling di sana telah

melaksanakan fungsi preventif yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor

untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan

berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli (PMPTK, 2007:

22). Pelaksanaan tersebut harus ditunjang dengan penggunaan teknik yang tepat

agar tidak menimbulkan persepsi negatif.

Menurut mereka bimbingan dan konseling di sana menakutkan karena

banyak dari teman-teman mereka yang bercerita negatif tentang BK. Hal-hal

negatif dari bimbingan dan konseling diperoleh dari pengalaman waktu duduk di

SMP dahulu. Hal ini kurang sesuai dengan prinsip bimbingan dan konseling yaitu

(21)

layanan orientasi yang intensif dan penciptaan kondisi yang baik agar siswa

merubah persepsinya.

Menurut pendapat kelas sebelas (XI) bimbingan dan konseling

merupakan tempat untuk mendidik siswa agar mentaati peraturan sekolah dan

tempat untuk mengarahkan mereka dalam meraih prestasi. Dalam hal mendidik

agar mentaati peraturan sekolah, bimbingan dan konseling di sana telah

melaksanakan fungsi preventif sesuai dengan yang telah dijelaskan pada paragraf

sebelumnya. Sedangkan dalam hal mengarahkan untuk meraih prestasi berarti

bimbingan dan konseling di sana juga melaksanakan fungsi pengembangan. Yaitu

konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang

kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli (PMPTK, 2007: 23). Oleh

karena itu perlu kerjasama dengan personil sekolah lainnya.

Mereka juga menganggap bimbingan dan konseling sebagai tempat

untuk menangani siswa yang bermasalah. Anggapan bahwa siswa bahwa

bimbingan dan konseling merupakan tempat siswa yang bermasalah tersebut

bertolak belakang dengan prinsip bimbingan dan konseling yaitu bimbingan dan

konseling diperuntukan bagi semua konseli (PMPTK, 2007: 24). Prinsip ini

berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang

tidak bermasalah maupun yang maupun yang bermasalah, baik wanita maupun

pria, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa.

Mereka juga enggan untuk mengutarakan masalahnya ke konselor karena

menurut mereka konselor kurang akrab. Hal ini kurang sesuai dengan asas

keterbukaan bimbingan dan konseling dalam PMPTK (2007: 26) yaitu:

Asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru

pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terseleng-garanya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru

pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.

(22)

Konselor perlu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura agar siswa dapat

terbuka untuk mau mengutarakan masalah-masalanya.

Menurut pendapat siswa kelas dua belas (XII) bimbingan dan konseling

adalah tempat yang digunakan untuk membantu para siswa agar mentaati

peraturan, membantu memberikan masukan dan motivasi atas masalah yang

dialami serta merupakan tempat untuk mencari informasi dan solusi mengenai

pemilihan pekerjaan dan perguruan tinggi mereka.

Dalam hal ini bimbingan dan konseling juga melaksanakan fungsi

penyaluran, yaitu dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakulikuler,

jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang

sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya (PMPTK,

2007: 20)

Mereka dalam hal mencari informasi dan solusi tentang pemilihan

pekerjaan dan perguruan tinggi datang sendiri tanpa dipanggil. Mereka

beranggapan bahwa kegiatan yang mereka lakukan tersebut merupakan kebutuhan

mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan asas kesukarelaan bimbingan dan konseling

yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli dalam

mengikuti/menjalani pelayanan/ kegiatan yang diperlukan baginya (PMPTK,

2007: 26).

Siswa kelas sepuluh, sebelas dan dua belas menganggap konselor di

SMKN 1 Kota Blitar berperilaku ramah dan bersahabat. Hal ini juga merupakan

semboyan dari bimbingan dan konseling di sana yaitu konselor merupakan

sahabat siswa. Konselor yang berperilaku ramah dan bersahabat menjadikan siswa

merasa nyaman dan tidak takut kepada mereka. Apabila iklim tersebut dapat

dipertahankan, maka anggapan-anggapan, pandangan, pencitraan negatif terhadap

bimbingan dan konseling akan menghilang sedikit demi sedikit. Hal ini berarti

konselor juga telah bertanggung jawab atas eksistensi profesinya sebagai yang

diakui oleh negara (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6)

Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Layanan BK Di SMK RSBI

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dapat berjalan dengan

baik apabila konselornya profesional. Pengembangan profesionalitas konselor

(23)

mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan (ABKIN, 2009:

6). Profesional menurut mereka adalah konselor dapat meng-up date ilmu,

konselor memiliki etos kerja yang tinggi, serta dapat mendahulukan pekerjaannya

dari pada urusan pribadi. Hal ini senada dengan asas keahlian bimbingan dan

konseling, yaitu bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan

kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah

profesional (PMPTK, 2007: 27). Oleh karena itu konselor perlu menjaga

keprofesionalanya agar eksistensinya dalam dunia pendidikan tidak diremehkan.

Pelaksanaan layanan juga dipengaruhi juga oleh fasilitas bimbingan dan

konseling dan konseling, fasilitas online di sekolah, fasilitas gedung kelas.

ketersediaan fasilitas tersebut memudahkan mereka dalam melancarkan

layanannya. Di dalam pelaksanaan pembelajaran di Sekolah RSBI ketersedian

fasilitas merupakan faktor kunci. Termasuk fasilitas bimbingan dan konseling

juga. Hal ini tersebut salah satunya karena sekolah rintisan bertaraf internasional

menerapkan filosofi eksistensialisme yaitu:

Pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro-perubahan, kreatif, inovatif dan eksperimentif, serta menumbuh-kembangkan bakat, minat dan

kemampuan peserta didik (Haryana, 2007: 37).

Dengan demikian apabila fasilitas dapat terpenuhi dengan baik maka

siswa akan dapat berkembang dengan optimal sehingga tujuan pendidikan akan

tercapai.

Ruang bimbingan dan konseling yang kurang strategis membuat siswa

juga enggan untuk memanfaatkan layanannya. Ruang bimbingan dan konseling

merupakan salah satu sarana penting yang turut mempengaruhi keberhasilan

pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Konselor seyogyanya

memperhatikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Pengadaan ruang

bimbingan dan konseling perlu mempertimbangkan letak atau lokasi, ukuran dan

jenis dan jumlah ruangan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya (ABKIN,

2007: 67). Dengan demikian seluruh konseli bisa dengan mudah dan tertarik

mengunjungi ruang bimbingan dan konseling, dan prinsip-prinsip confidential

(24)

Personil sekolah sangat mendukung terhadap keberadaan bimbingan dan

konseling di SMKN 1 Kota Blitar. Dukungan yang diberikan terhadap bimbingan

dan konseling berbeda-beda. Dukungan tersebut mereka sesuaikan dengan jabatan

mereka di sekolah. Orang tua juga berpengaruh besar terhadap layanan bimbingan

dan konseling karena berhubungan langsung dengan siswa yang akan dibantu

penyelesaian masalah.

Hal ini senada dalam prinsip bimbingan dan konseling yaitu: bimbingan

dan konseling merupakan usaha bersama (PMPTK, 2007:24). Berarti bimbingan

bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga merupakan tugas

seluruh personil sekolah lainnya sesuai dengan tugas dan peran mereka

masing-masing karena merupakan suatu teamwork. Selain itu teamwork juga diperlukan

dalam penanganan siswa yang bermasalah. Masalah murid tidak jarang rumit

sifatnya, sumbernya bisa bemacam-macam. Faktor penyebab masalah pun juga

bermacam-macam, maka perlu melibatkan pihak-pihak yang berkaitan, baik itu

pihak sekolah maupun luar sekolah. Oleh karena itu penting adanya dukungan

dari sekolah maupun pihak luar sekolah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMKN RSBI dilaksanakan

melalui tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan evaluasi program.

Tahap perencanaan program meliputi kegiatan penyusunan program BK,

penyusunan RAPBS dan penyediaan fasilitas. Tahap pelaksanaan program

meliputi pengumpulan dan analisis data, pelaksanaan layanan orientasi,

informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, bimbingan

kelompok, layanan konseling, konsultasi, referal, konferensi kasus, serta home

visit. Tahap pelaksanaan evaluasi program dilaksanakan dengan menggunakan

manajemen yang telah tersertifikasi ISO 9001. Kekhasan pelaksanaan di sana

adalah menggunakan materi pengembangan diri dalam KTSP, menggunakan

semboyan konselor sahabat siswa dalam melaksanakan layanan dan

menggunakan tinjauan manajemen yang telah tersertifikasi ISO 9001 dalam

(25)

Para personil sekolah memaknai bimbingan dan konseling berdasar pada

jenis sekolah mereka yaitu sekolah kejuruan. Bimbingan dan konseling dianggap

penting di sekolah karena membantu siswa untuk dapat beradaptasi di lingkungan

sekolah maupun di lingkungan kerjanya kelak. Layanan bimbingan dan konseling

menurut mereka sudah dilaksanakan dengan baik.

Sedangkan siswa memaknai bimbingan dan konseling berbeda-beda

sesuai tingkatan kelas. Kelas sepuluh (X) masih memaknai bimbingan dan

konseling secara negatif seperti menghukum maupun menertipkan. Kelas sebelas

(XI) memaknai bimbingan dan konseling adalah tempat memecahkan masalah

namun mereka enggan memecahkan masalah kesana karena kurang akrab. Kelas

dua belas (XII) memaknai bimbingan dan konseling berkenaan dengan bidang

karir. Siswa memaknai konselor sama, mereka menganggap konselor ramah dan

bersahabat.

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMK RSBI

dipengaruhi pengaruhi berbagai faktor diantaranya keprofesionalan konselor,

ketersediaan fasilitas dan sarana serta dukungan dari personil sekolah lainnya.

keseluruhan faktor tersebut dapat menghambat ataupun menunjang pelaksanaan

layanan bimbingan dan konseling.

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam pelaksanaan layanan BK di

SMKN RSBI maka perlu dipertimbangkan saran sebagai berikut:

Kepala Sekolah diharapkan segera menyelesaikan pembangunan sarana

dan fasilitas sekolah yang sesuai dengan tuntutan sekolah bertaraf internasional.

Kepala sekolah juga seyogyanya memberikan kebijakan yang menguntungkan

konselor dalam melaksanakan kegiatan pengembangan profesi.

Konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling

hendaknya berkonsultasi kepada pihak-pihak yang ahli dalam menentukan

program bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Konselor

juga seyogyanya berusaha untuk mengamalkan kode etik profesi sebagai landasan

dalam melakukan layanan.

Penelitian ini memerlukan waktu lama agar memperoleh data yang valid

jadi di sarankan untuk merancang penelitian lebih lama. Penelitian lanjutan

(26)

beberapa sekolah RSBI. Selain itu juga disarankan untuk melakukan penelitian

pada berbagai jenjang pendidikan.

DAFTAR RUJUKAN

ABKIN. 2009. Kode Etik Profesi Konselor Indonesia.

Anonim. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan. WIPRESS.

Anonim. 2006. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional. WIPRESS.

Anonim. 2006. Rencana Startegis Departemen Pendidikan Nasional Tahun

2005-2009. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Anonim. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) SMK. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Depdikbud. 2002. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis

Kompetensi Sekolah Menengah Umum/Kejuruan, Madrasah Aliyah dan

Sederajad. Jakarta: Depdikbud.

Ellis, T.I. 1990. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The

Educational Resources Information Center.

Flurentin, Elia. 2001. Organisasi dan Manajemen Bimbingan di Sekolah. Malang:

Universitas Negeri Malang.

Haryana, Kir. 2007. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (artikel). Jakarta:

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Isjoni. 2003. SMK dan Permasalahanya (Artikel). Riau: UNRI.

Muro, James J. & Kottman, Terry. 1995. Guidance and Counseling in The

Elementary and Middle Schools. Madison: Brown & Benchmark.

Moleong, L.J. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT Remaja

Rosdakarya.

Moleong, L.J. 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi.Bandung : PT

(27)

PMPTK. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan

Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta:

Depdiknas.

Prayitno. 1997. Layanan Bimbingan dan Konseling. Padang: Ghalia Indonesia.

Romlah, Tatiek. 2001. Teori dan Praktik Bimbingan Kelompok. Malang:

Universitas Negeri Malang.

Santoso, D.J. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Malang: Universitas

Negeri Malang.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:

Alfabeta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi,

Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Tugas Akhir, Laporan Penelitian

(edisi kelima). Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Widada & Hayinah. 1990. Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

Malang: OPF IKIP Malang.

Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT

Gramedia Widiasarana Indonesia.

Wiyono. 2007. Metodologi Penelitian: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan

Referensi

Dokumen terkait

Ironisnya, pemenuhan kebutuhan informasi tersebut justru menjadikan munculnya tindak kecurangan yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, yang menjadikan informasi

Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan Universitas Negeri Semarang, sebagai pelatihan untuk

Peserta didik bersama kelompoknya berdiskusi untuk menggeneralisasikan persoalan pada masalah yang diberikan untuk menentukan solusi terkait perkalian dua matriks

Hubungan pengetahuan tentang tanda dan gejala diabetes mellitus dengan upaya pencegahan pada lansia di Desa Lam Bheu Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar tahun

Selain itu, dapat memberikan dampak positif kepada citra rumah sakit yaitu dengan penyebarluasan informasi adanya pelayanan yang baik di Unit Rawat Jalan Rumah sakit Umum

Menimbang, bahwa terhadap dalil permohonan Pemohon I dan Pemohon II mengenai wali nikah, saksi nikah dan mas kawin yang tidak ada satu orang saksipun yang

memerlukan perencanaan dan pelaksaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas, sehingga dengan demikian pada pembelajaran langsung dapat: 1) merumuskan tujuan

Berdasarkan analisis yang penulis lakukan dapat diketahui bahwa untuk pelaporan keuangan, perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk menentukan besarnya beban