• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bimbingan Konseling Anak Berbakat. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bimbingan Konseling Anak Berbakat. doc"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Kelompok

Pendidikan Anak dengan Kecerdasan dan Bakat Istimewa Tentang

Bimbingan Konseling Anak Berbakat

Disusun Oleh

Kelompok 6:

Rahmatul Putri (14003016)

Restu Emidal Putri (14003018)

M. Ridoan Lubis (14003036)

Muhammad Zuliansyah (14003037)

Ria Oktavia (14003039)

Rahmadani Yusuf (14003094)

Yonika Zakiah (14003101)

Endang Afrianti KM (14003115)

(2)

Drs. Ganda Sumekar

(3)

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Bimbingan Konseling Anak Berbakat”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Pendidikan Anak dengan Kecerdasan dan Bakat Istimewa.

Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami, Bapak Drs Ganda Sumekar yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini, baik pada teknik penulisan maupun materi. Dengan demikian, kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Padang, Desember 2015

(4)

Daftar Isi

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

BAB II Pembahasan

A. Masalah Anak Berbakat dan Keperluan B. Pengatasan Masalah Underachievement C. Konseling Karir Anak Berbakat

BAB III Penutup A. Kesimpulan B. Saran

(5)

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Sebagaimana diketahui bimbingan dan konseling muncul dalam proses pendidikan bila terjadi situasi kritis antara lain karena adanya distorsi persepsi manusia yang bersangkkutan terhadap situasi lingkungan. Situasi kritis ini menuntut keberanian mengambil keputusan dalam menghadapinya dan situasi seperti ini bagi anak berbakat lebih sering muncul dalam hidupnya, justru karena anak berbakat memiliki problema-problema yang amat spesifik. Ini berarti bahwa bagi mereka terjadi apa yang disebut “suatu untaian yang tak ada hentinya dalam proses pengambilan keputusan”, yang membawa konsekuensi dalam tuntutan kesiapan sikapnya menghadapi situasi-situasi krisis tersebut.

Kehidupan sosial emosional dalam mempertahankan keberbakatan sering “terkalahkan penanganannya” karena fokus kepedulian terlalu terarah pada inteligensi dan kemampuannya. Demikian juga lingkungan sekolah sering kurang memenuhi kebutuhan tersebut. Atas dasar asumsi-asumsi tersebut dalam makalah ini akan diuraikan berbagai masalah yang dihadapi anak berbakat dengan titik anjak dari kegiatan bimbingan dan konseling beserta berbagai perlakuan yang khusus bagi mereka.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana masalah anak berbakat dan keperluan bimbingan konseling? 2. Bagaimana pengatasan masalah underachievement?

3. Bagaimana konseling karir anak berbakat?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

(6)

makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana masalah anak berbakat dan keperluan bimbingan konseling, mengetahui bagaimana pengatasan masalah underachievement, dan mengetahui bagaimana konseling karir anak berbakat.

(7)

BAB II Pembahasan

A. Masalah Anak Berbakat dan Keperluan Bimbingan Konseling 1. Berbagai Masalah Anak Berbakat

Kepedulian terhadap ciri-ciri dari anak manusia yang berkualifikasikan istimewa tumbuh dari kepedulian terhadap sifat-sifat istimewa manusia tersebut.

Seperti sudah diutarakan dalam pengatar, bab ini bermaksus mendiskusikan dan mendisseminasikan berbagai informasi terhadap berbagai masalah yang amat khusu dalam pendidikan dan pengembangan keberbakatan.

Jadi disini masalahnya dilihat dari sudut pandang manusia, apa yang ia alami dan apa yang ia hayati dan menjadikan situasi baginya, maupun bagi lingkungannya.

Kita ketahui bahwa didalam kegiatan bimbingan dan konseling, yang mengadakan konseling itu selalu pertama-pertama harus melihat persoalan itu dari kacamat yang mengalami konseling atau konsele, jadi berbagai permasalahan \yang di ketengakan disini juga pertama-tama dilihat dari sudur pandang konsele.

a. Labeling

Memberikan label pada anak berbakat bahwa ia berbakat menimbulkan harapan terhadap kemampuan anak tersebut dan bisa menjadi beban mentalnya, bahkan sering mengakibatkan frustasi. Dengan demikian perlu di perhatikan beberapa hal :

1) Dalam identifikasi keberbakatan perlu di rumuskan dengan jelas, apa arti atau rumusan keberbakatan tersebut.

(8)

3) Harus ada rencana dan disain yang jelas tentang keberbakatan tiu. 4) Harus ada pertemuan khusus dengan orang tua agar mereka

mengerti mengapa anak mereka disebut berrbakat dan bakat yang dimilikinya serta bagaimana melatihkannya.

Dengan demikian labeling ini tidak mengandung berbagai harapan yang ditujukan kepada anak berbakat yang tidak dapat dipenuhinya. Dengan komunikasi yang baik, kita dapat merancang suatu program dan mempengaruhi sikap-sikap yang menaruh harapan semu, bahkan akan mungkin tercapainya suatu persepsi dan sikap uang mendukung. Suatu pengalaman belajar harus dapat meningkatkan kemampuan anak berbakat tanpa menderita efek yang negatif karena dicap berbakat.

b. Memberi nilai (granding) dalam bentuk angka.

Granding ini sudah menjadi sistem yang terintegrasikan dalam sistem persekolahan kita sebagai suatu lambang tentang keberhasilan dan kemajuan belajar anak-anak. Meskipun nilai angka tidak meningkatkan proses belajar bahkan sering menghambatnya (apalagi kalau salah angkanya), kita tidak dapat memikirkan sistem persekolahan tanpa pemeberian angka.

c. Underchievement adalah masalah yang paling menyolok dari berbagai masalah yang diderita anak berbakat, karena itu akan dibicarakan secara tersendiri dalam sub sub berikutnya.

d. Konsep diri

Konsep diri anak berbakat ialah bidang yang sangat signifikan. Dalam penelitian konsep diri dapat diibaratkan dalam kekuatan dari struktur kognitif yang merupakan interpretasi dan respon terhadap kejadian tertentu yang melibatkan individu (Nurius, 1986, dalam Colangelo 1991).

2. Isu-Isu dalam Konseling Keberbakatan

(9)

masalah anak berbakat, telah terpapar juga berbagai isu konseling. Namun begitu dalam sub-sub ini akan di tambahkan beberapa isu lain yang terkait dengan konseling keberbakatan.

a. Konseling orang tua anak berbakat

Meskipun orang tua diberitahu anaknya berbakat, namun pola asuhnya tetap sama seperti pola asuh terhadap anak “normal”. Kendatipun demikian, orang tua menjadi cemas karena takut tidak dapat memenuhi kebutuhan. Orang tua bahkan mengira bahwa karena tidak terpenuhi kebutuhannya anak dianggap tidak bisa menyesuaikan dirinya (maladjusted).

Bisa juga orang tua merasa tidak mampu mendidik anak yang dibedakan dari anak “biasa”.

Ketidakmampuan itu terkait dengan bantuan emosional yang dirasakannya tidak dapat diberikan pada anak yang berbeda tersebut, dan terkait dengan stimulasi intelektual yang tidak terpenuhi. Kesemuanya anak seperti ini dalam pengalaman pendidikan.

b. Efek Labelling terhadap keluarga

Anak yang memperoleh label tertentu biasanya dikaitkan dengan “cap” yang ia peroleh dalam sifat atau perilakunya. Seandainya ia mengalami kesukaran belajar, kendatipun ia berbakat, maka “cap” tersebut terkait dengan kesukaran belajar tersebut kalau di muka dijelaskan betapa hal tersebut berpengarunya pada keluarga dan kehidupan keluarga.

(10)

tersebut. Kalau kedua orang tua tersebut tidak setuju, maka cap tersebut tidak dapat diterima sebagai sesuatu yang positif. Colangelo dan Brower (1987a, 1987b, dalam Colangelo 1991), memperluas penelitian Cornel dan menemukan bahwa orang tua sering tidak setuju dengan label gifted, dan bahwa alasannya adalah karena ketidaksamaan pengertian terhadap konseptualisasi keberbakatan (gifted). Kesukaran yang dihadapi orang tua terutama pada kala anaknya pada permulaan diberi label berbakat, dan kemudian setelah lima tahun tak terlihat dampak apapun dari keberbakatan tersebut.

Pengatasan masalah ini oleh konselor sekolah harus diantisipasikan pada kala anak tersebut diidentifikasikan sebagai berbakat.

1) Konselor sendiri harus yakin bahwa orang tua memahami mengapa perannya diindetifikasikan sebagai berbakat.

2) Konselor harus membantu orang tua mengantisipasikan perubahan komunikasi yang baik, dan dalam hal ini akan membantu orang tua dan seluruh kehidupan keluarga memainkan perannya masing-masing. Setelah komunikasi itum orang tua dan keluarga akan tergugah kesadarannya untuk bersikap positif terhadap identifikasi keberbakatan itu.

c. Interaksi orang tua-sekolah

Salah satu isu penting dalam konseling keterbakatan yang dihadapi oleh konselor adalah hubungan antara orang tua dan sekolah (Colangelo dan Dettman, 1983, 1985 b; Dettman dan Colangelo 1980, dalam Colangelo, 1991).

(11)

Tipe I yaitu kerjasama, adalah interaksi yang didasarkan pada sikap orang tua maupun sekolah, bahwa sekolah harus aktif dalam pendidikan keberbakatan. Kecendrungan untuk saling memberikan informasi dan kerjasama yang baik menurut pendapat mereka adalah cara yang paling efektif untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan khusus melalui pertimbangan pendidikan yang khusus dan nyata.

Tipe II menyajikan pertentangan (conflict yang didasarkan pada sikap pertentangan orang tua yang aktif dan sekolah yang pasif berkenaan dengan peranan sekolah. Orang tua berpendapat bahwa anak mereka yang berbakat memerlukan perlakuan khusus untuk mengembangkan kemampuannya. Namun sekolah berpendapat bahwa kurikulum sekolah yang berlaku umum sudah memenuhi kebutuhan tersebut. Interaksi ini adalah yang paling sulit bagi orang tua maupun sekolah karena orang tua sering menyalahkan sekolah terhadap acara-acara yang membosankan, sehingga kurang mengundang motivasi dalam kemajuan belajar anak. Ada tiga polla dalam tipe ini yaitu :

1) Orang tua terus menerus “menyerang” sekolah.

2) Orang tua menyelenggaralam program khusus sendiri yang mencakup kunjungan ke museum, pengadilan tuto dan mentor, dsb.

3) Orang tua merasa putus asa dan tidak berkomunikasi dengan sekolah.

Tipe III adalah interferensi (inteference), yang didasarkan juga pada konflik, namun keadaan sebaliknya dan dinamisme tipe II. Di sini justrus sekolah ingin secara aktif menyelenggarakan kegiatan bagi anak yang berbakat, tetapi orang tua tidak setuju.

(12)

sekolah pasif, anak berbakat akan dengan sendirinya tumbuh kembang sesuai potensi kemampuannya, tanpa perlakuan khusus. Kedua belah pihak percaya bahwa sekolah dengan kurikulum yang berdifat umum cukup bervariasi untuk menstimulasikan anak berbakat akan mencapai perkembangan optimal.

3. Fungsi Bimbingan Konseling Anak Berbakat

Setelah menjelajah berbagai masalah khas anak berbakat dan mendikusikan berbagai isu konseling, sebenarnya sudah dapat ditarik kesimpulan tentang fungsi bimbingan konseling anak berbakat dibedakan dari fungsi konseling anak lainnya: ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam kaidah dan fungsi konseling keberbakatam, yaitu:

a. Konseling tersebut menjangkau lebih banyak orang daripada konselor dan konseling sendiri, bahkan mencakup juga orang-orang yang tidak profesional dalam rangka membangun komunikasi yang baik antar lingkungan dan mereka yang berbakat.

b. Rentangan waktu konseling tersebut juga mencakup jangka waktu yang lebih panjang, artinya penyelesaian persoalan memakan waktu lebih panjang dan bahkan lebih sering menuntut tindak lanjut di luar jam konseling itu sendiri, bahkan bisa mencakup seluruh waktu hidupnya.

Ciri khas keberbakatan dalam kaitan dengan kehidupan emosinya adalah bawah sensivitas dan intesitasnya luar biasa dan pada sementara anak hal tersebut tidak tampak nyata, namun berpengaruh terhadap seluruh kemajuan belajar maupun perkembangan kepribadiannya. Dalam pengertian tentang hal ini ini telah ditemukan bahwa faktor tersebut lebih banyak tidak tampak nyata dari pada merupakan realitas yang dapat diamati secara langsung, namun tentu tatap memerlukan penanganannya.

(13)

Oleh karena itu fungsi utama dari konseling keterbakatam adalah : a. Membantu perkembangan pribadia anak berbakat dan membantu

mengatasi kendala-kendala emosional, maupun kendala lingkungan. b. Membantu memaksimalkan belajarnya dan penempatannya pada

perguruan tinggi, serta kemudian menempuh karir profesional sesuai bakat dan misalnya (Gourau, 1979 dalam Gallagham, 1979).

Tugas tersebut cukup kompleks, juga di negara kita, dimana konselor profesional masih dapat dihitung dengan jari. Perguruan tinggi di Indonesia yang belum menampung sebagian besar remaja kita belum juga selalu merupakan tempat dimana anak kita memotivasikan secara instrisik untuk belajar. Untuk dapat menyelesaikan studi tersebut.

Dengan pemaparan tentang masalah-masalah anak berbakat dan berbagai isu konselor, jeals dalam fungsi konseling keberbakatan yang diketengahkan disini, perlu motivasi dari masing-masing fungsi tersebut dan upaya dalam meningkatkan motivasi belajar anak berbakat.

B. Pengatasan Masalah Underachievement

1. Prestasi Belajar Kurang (Underachievement) Dipandang dari Dua Sisi. Keberbakatan tidak selalu menjamin sukses pendidikan atau produktivitas dan kreativitas. Ada resiko dan tekanan (Rimm, 1987, dalam Colangelo, 1991) yang menyertai intelegensi tinggi dan yang sering mengarahkan anak yang berpotensi tinggi untuk menjadi anak yang sikapnya defensif. Yang menjadi faktor tertentu agar anak berbakat akan mencapai prestasi belajar tinggi (superachievement) atau prestasi belajar kurang (underachievement), tergantung dari rumah, sekolah atau teman sebaya. Dengan demikian prestasi belajar ini dapat dipandang dari dua sisi.

Tekanan-tekanan yang dialami anak berbakat adalah antara lain: a. Perasaan bahwa ia harus menjadi manusia sempurna dan sangat

(14)

b. Keinginan untuk menjadi sangat kreatif dan luar biasa, yang kemudian diterjemahkan sebagai manusia lain dari yang lain.

c. Kepedulian untuk dikagumi oleh teman sebaya karena penampilannya dan popularitasnya (Colangelo, 1991).

Meskipun orang tua sering dipersalahkan bahwa mereka menekan anak-anaknya yang berbakat, tekanan-tekanan tersebut muncul karena keberbakatan anak-anaknya. Stress tersebut diinternalisasikannya karena orang-orang sekitarnya telah mengagumi mereka karena keluarbiasaan kemampuannya dan ide-ide yang cemerlang maupun penampilannya yang berbeda dari anak lainnya. Memang, pujian bisa meningkatkan motivasi belajar, namun bila pujiannya terlalu sering atau terlalu ekstrim, mereka merasa tertekan untuk dapat mencapainya, bahkan gandrung untuk menarik perhatian terus menerus agar dipuji (Rimm dalam Colangelo, 1991).

Jadi, mereka merasa sulit untuk mencapai kemajuan kalau tidak dipuji. Kekuatan pengulang intrinsik (intrinsic reinforcement) tergantung pada kekuatan pengulang ekstrinsik (extrinsic reinforcement).

Home Gaskill Hutchkin, (1998, dalam Colangelo, 1991), menyatakan bahwa yang disebut underachievement diantara anak berbakat adalah kinerja yang secara signifikan berada di bawah potensinya (Kitano dan Kirty, 1986).

2. Hubungan Antara Upaya dan Hasil

Lingkungan sekolah yang kurang menghargai hasil belajar tinggi akan menyebabkan anak-anak berbakat tidak memperoleh kepuasan intrinsik dari hasil upayanya.

Lingkungan sekolah seperti itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

(15)

tinggi dan untuk menanjak pada pendidikan tinggi.

b. Suasana yang menganggap program keberbakatan terlalu elit dan eksklusif dan lebih mengutamakan penyesuaian diri (well-adjustment) dari semua siswa.

c. Lingkungan sekolah yang ketat yang menginginkan semua anak belajar materi sama (identik) dengan kecepatan belajar dan gaya belajar sama.

d. Guru yang kurang memperhatikan kualitas karya anak, karena perbedaan nilai, prasangka budaya, atau “sara”, yang menyebabkan anak-anak merasa kurang mampu mencapai kualitas kerja yang baik, meskipun ikhtiarnya optimal.

Lingkungan sekolah yang menyebabkan ikhtiar negatif, hasil positif merupakan tahap transisional prestasi belajar kurang, yang berkenaan dengan tugas yang kurang menantang atau ikhtiar yang berkelanjutan. Sering kali karena tugasnya terlalu mudah sehingga menghasilkan unjuk kerja yang sangat baik.

Anak-anak merasa positif terhadap sekolahnya, tetapi kurang tertantang. Namun, selama mereka termasuk kelompok pintar tak ada masalah perilaku. Ciri-ciri mereka adalah bangga bisa disebut pintar tanpa belajar betul. Bila mereka kemudian tercampur dengan populasi sebaya yang secara intelektual lebih kompetitif, mereka akan merasa tidak sepandai yang diperkirakan semula, dan akibatnya adalah bahwa mereka kurang peduli tentang hasil kerjanya, tidak menyelesaikan tugas-tugasnya dan “semerawut” dalam unjuk kerjanya (disorganized).

Lingkungan sekolah dapat dipersalahkan karena tidak mengajarkannya proses mencapai prestasi.

(16)

disadari dan tidak disengaja, tidak ada contoh-contoh baik dari motivasi intrinsik, belajar mandiri maupun keterletakan pada karir atau anggapan bahwa sekolah itu berharga.

Di Indonesia pun dapat diamati bahwa berbagai aktivitas waktu kanak-kanak dan masa anak sering terisi dengan les-les privat yang tidak menentu, menjenuhkan dan menyita waktu berlebihan. Berbagai perbedaan antara orang tua tentang standar-standar maupun harapan-harapan terhadap anak-anaknya menambah persoalan-persoalan yang dihadapi dalam masalah ini. Secara ideal orang-orang ini harus memiliki :

a. Latar belakang dalam pengukuran.

b. Punya sensitivitas terhadap berbagai cara belajar dan gaya motivasi serta masalahnya.

c. Memahami teori belajar perilaku, dan

d. Sadar tentang ciri-ciri khusus anak berbakat dan kreatif.

Untuk asesmen pertama diperlukan tes intelegensi individual untuk menjadi dasar dari harapan-harapan yang terkait dengan kemampuan anak, karena tes kelompok telah kurang menilai potensi-potensi intelektualnya. Tes WISC-R atau Standford Binet harus secara individual dinilai oleh psikolog.

Selama testing penting diperhatikan gejala-gejala ketegangan, perhatian terhadap tugas, ketekunan terhadap tugas, respons terhadap frustasi, pendekatan pengatasan masalah dan respons terhadap upaya mendorong oleh pengetes.

Selain tes intelegensi individual diperlukan tes hasil belajar individual untuk menilai kekuatan dan kekurangan dalam keterampilan dasar, terutama matematika dan membaca.

(17)

tentang berbagai kemampuan, ciri-ciri dan interes yang relevan dengan pemahaman kepribadian anak.

Berbagai skor tersebut akan memberikan berbagai pemahaman dan pesan pada orang tua tentang kemajuan belajarnya. Singkatnya, asesmen tentang kemampuan siswa di rumah dan di sekolah sangat penting bagi langkah ke-2, yang juga perlu disertai interview dengan orang tua.

Hasil diskusi orang tua harus mencapai kesepakatan tentang tujuan jangka panjang dan sasaran jangka pendek untuk memastikan sukses segera, betapapun kecil kemajuannya.

Ganjaran untuk anak penting sehingga ganjaran tersebut harus bermakna. Jangan sampai ganjaran itu terlalu besar namun memberikan kepuasan pada anak. Jangan sampai memberikan ganjaran kalau pekerjannya tidak selesai. Perhatian orang dewasa terhadap hasil kerjanya merupakan ganjaran yang dapat meningkatkan motivasi intrinsik anak dan lebih baik daripada berbagai ganjaran yang menjadikan motivasi ekstrinsik

C. Konseling Karir Anak Berbakat

1. Pengertian Karir dan Tahap Karir Anak Berbakat.

Pengertian karir adalah proses adaptasi seumur hidup yang terkait dengan penyiapan diri terhadap kerja, dunia kerja, dan berganti posisi kerja, maupun meninggalkan dunia kerja. Pengertian ini mencakup peningkatan progresif dan modifikasi dari kemampuan seseorang dan disposisinya (kemungkinannya) untuk perilaku terrtentu yang terkait dengan kerja.

(18)

meskipun masa lalu seseorang adalah bagian dari dirinya hari ini, yang kemudian bisa mempengaruhi masa yang akan datang. Kendatipun demikian, berbagai perbaikan dalam pengembangan karir melalui konseling karir yang mungkin terjadi.

Pengembangan karir menunjuk pada terarahnya energi dan penghalusan kemampuan namun juga berarti makin menuju pada pilihan tertentu dan alternatif yang tersedia. Kendatipun demikian, pilihan pekerjaan tertentu itu harus dilihat dalam cakupan yang lebih luas daripada dipandang semata-mata dari kesesuaian antara kemampuan yang dimiliki seseorang dengan kecocokan dari tuntutan pekerjannya.

Ada sementara pihak berpendapat bahwa karir bisa diciptakan sendiri. Memang orang mempunyai lebih dari satu pilihan, namun temuan kunci dalam pengembangan karir adalah pemahaman, kemampuan dan ketetapan hati. Untuk itu seseorang yang menempuh karir harus :

a. Terbuka dan awas untuk mengenal kemungkinan-kemungkinan yang ada.

b. Mempergunakan kesempatan yang sesuai dengan kemampuan yang ada.

c. Menerapkan kemampuan dan mewujudkan diri, usai memilih. Tahap karir

Super (1957, dalam Healy 1982) mengajukan lima tahap karir yang umum berlaku yaitu:

a. Pertumbuhan 0 - 14 b. Penjelajahan 15 - 24 c. Penegakan 25 - 44 d. Mempertahankan 45 - 65

e. Penurunan 65

(19)

memperlihatkan ikhtiar utama seseorang dalam fase tertentu, meskipun fungsi karir yang dinyatakan di sini berlanjut pada masa-masa tersebut.

Pada masa pertumbuhan, si anak perlu memiliki peralatan, kebiasaan teratur, kesadaran, pembentukan sikap dan kesempatan untuk mulai meminati suatu karir tertentu. Sebaliknya tahap eksplorasi adalah masanya dimana si adolesen mengkaji berbagai kesesuaian dari berbagai kemungkinan dalam mempersiapkan alternatif tertentu. Pada tahap penegakan, manusia dewasa muda meningkatkan keterampilan dan kemampuannya untuk memastikan posisinya. Setelah itu adalah masa mempertahankan diri, yaitu, masa konsolidasi dan penyempurnaan, kemampuan, pekerjaan dan kedudukannya. Selanjutnya usia lanjut berarti mengurangi kegiatan dan mempersiapkan diri meninggalkan pekerjaan, sehingga bisa menggunakan sisa energinya untuk berbagai aktivitas dasar kehidupan yang lain (Healy, 1982).

Setiap tahap memiliki tugas yang luas namun tertentu untuk bisa berlanjut pada tahap berikutnya, meskipun tahap-tahap tersebut juga saling tumpah tindih.

2. Model Konseling Karir Holistik

The Guidance Institute for Talented Students (GIFTS) yang dikembangkan di University of Wisconsin (Madison). Guidance Laboratoty merupakan model holistik development – motivational (Perrone Karshner & Male, 1979, dalam Khatena, 1992) dan terkenal dengan istilah GIFTS career model. Model ini merupakan nasional teoretis yang mengacu pada berbagai pola karir yang dijabarkan dari teori tahap perkembangan Erikson dan motivasi kebutuhan (need-motivation) Maslow, serta memiliki dua matra, yaitu yang pertama terdiri dari tiga komponen, yaitu :

a. Kesadaran diri dan orang lain b. Orientasi tindakan

(20)

Yang kedua terdiri dari kebutuhan : a. Rasa aman

b. Kasih sayang c. Harga diri d. Aktualisasi diri

Beberapa permasalahan tambahan yang dialami anak berbakat dan yang bersumber dari teori ini yang terkait dalam bimbingan karir GIFTS adalah sebagai berikut (Khatena, 1992) :

a. Kesalah fahaman bahwa anak berbakat mampu mencapai apapun yang dicita-citakan.

b. Kesukaran yang dialami anak berbakat dalam menyesuaikan sistem nilai yang ada pada dirinya dengan sistem nilai masyarakat.

c. Suatu komitmen ynag terlalu dini terhadap pilihan karir yang didasarkan pada keberhasilan belajar yang luar biasa dalam beberapa mata pelajaran tertentu, yang ternyata kemudian mempeloleh kendala dalam perwujudan diri dan karirnya.

d. Pencarian karir sebagai prinsip untuk memperoleh tunjangan (beasiswa).

e. Konflik antara perolehan penghargaan luar biasa dan penerimaan dirinya.

f. Kebutuhan besar bagi anak berbakat menguasai detail secara sempurna, sehingga garis besarnya (Gestalt) tak tampak olehnya. g. Penundaan pemenuhan kebutuhan psikososial, karena ingin

memperoleh tambhan dan perluasaan pendidikan.

h. Suatu perpanjangan dari konflik kemandirian-ketergantungan karena terlalu sibuk mempersiapkan diri bagi persiapan karir.

i. Perubahan penting pada individu dan sifat pekerjaan yang muncul pada perpanjangan persiapan karir siswa.

j. Khususnya bagi wanita berbakat kadang kala ada persepsi bahwa penikahan dan karir adalah secara timbal balik eksklisif, sehingga terjadi kompromi-kompromi yang tak perlu dalam perencanaan karir. k. Kemampuan atau ketakmampuan menyesuaikan diri pada kelompok

(21)

l. Kebutuhan untuk menyesuaikan perilakunya sebagai orang berbakat dalam konteks baru.

Arah karir dipengaruhi dan terkait dengan masalah kebutuhan motivasi, tujuan dan interaksinya dengan orang lain dalam berbagai fase kehidupannya.

3. Pendidikan Karir bagi Anak Berbakat

Di dalam berbagai kesempatan telah terungkapkan bahwa berbagai upaya pendidikan, bimbingan maupun latihan adalah semuanya mengacu pada sasaran untuk mengembangkan bakat anak berbakat, sehingga tercapai kemandirian. Demikian pula pendidikan karir memiliki arah yang sama, dengan catatan bahwa dalam upaya pengembangan bakat ini diharapkan aspek kreatif keberbakatan terus menerus mencapai kemekarannya.

(22)

Sebagaimana dikemukakan di muka, konselor dalam membantu peserta didik mengambil keputusan, harus menggunakan pendekatan multipotensial yang memiliki 5 fase, yaitu:

a. Kesiapan (readiness)

Adalah fase pertama dalam mengambil keputusan. b. Kesadaran (awareness)

Adalah tahap berikutnya dalam proses pengambilan keputusan yang beranjak dari asumsi bahwa kesadaran diri dan juga terutama karena ada kesadaran dunia kerja yang memotivasikan minat individu untuk memperoleh sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk pengembangan karir yang bermakna.

c. Eksplorasi (exploration)

Mencakup rencana sistematis inkuiri yang menuntut reviu dan pengkajian berbagai alternative okupasi.

d. Kajian realitas (reality-testing)

Terkait dengan pemantapan pilihan okupasi berdasarkan dasar pengkajian risiko sumber dan semangat personal yang terkait. Juga mencakup pengalaman kerja yang disimulasikan ataupun yang nyata. e. Konfirmasi (confirmation)

Adalah tahap terakhir dalam proses keputusan tentang karir, yang disertai persiapan yang sesuai untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan pekerjaan tertentu.

(23)

a. Sikap seseorang individu terhadap dirinya (adanya kesadaran diri) kecermatan, perasaan tentang diri dan identitas.

b. Pertumbuhan, perkembangan atau aktualisasi diri (konsep diri, proses motivasi dan investasi dalam kehidupan).

c. Integrasi (keseimbangan dan kekuatan psikis dalam individu, suatu pandangan hidup yang menyeluruh, tekanan pada integrasi aspek kognitif dan penolakan terhadap stress).

d. Otonomi (pengaturan perilaku diri “dalam” menjadi perilaku mandiri). e. Persepsi dari realita (persepsi dari distorsi kebutuhan dan sensitivitas

sosial).

f. Penguasaan lingkungan kemampuan menyayangi pekerjaan dan permainan, pandai bergaul, efisien dalam memenuhi tuntutan situasional kemampuan beradaptasi dan efisien dalam pengatasan masalah.

Mencegah kendala-kendala emosional antara lain yaitu dengan: a. Pengembangan keterampilan interpersonal

Makin ia mencapai kematangan intelektual, makin cermat ia mengamati sikap, interes dan kemampuan orang lain, sehingga terjadi interaksi dengan cara yang konstruktif.

b. Penggunaan kemampuan intelektual

(24)

perubahan yang cepat dan bertubi-tubi dalam dunia dimana ia berada. Berfikir evaluative peranannya untuk menghadapi stress paling penting, sebab adalah masalah esensial bagi seseorang untuk mengenali seberapa serius (seriousness) adanya suatu situasi itu, karena bukan hanya kognisi dan memori yang berbicara, tetapi evaluasi daripada suatu situasi, sehingga dapat diambil keputusan untuk tindak adaptif yang seperlunya.

c. Mekanisme pengatasan masalah yang lain 1) Mengambil risiko atau menghindarinya

Disini konseling harus menjaga agar siswa belajar meng ambil keputusan sementara (tentative), sebelum sampai pada keputusan terakhir. Cara ini yang disebut technique of limited commitment dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk tidak menggunakan semua sumber yang ada, melainkan beberapa alternative seperlunya.

2) Memberi muatan melebihi kekuatan atau “membongkar muatan” Memberi muatan melebihi kekuatan (overloading) disebabkan akumulasi stress yang menjadi beban bagi seseorang. Dalam melepaskan diri dari situasi ini, yaitu mengatasi tegangan, digunakan istilah membongkar muatan, yaitu dengan cara membiarkan seseorang berbicara bebas menyatakan isi hatinya. 3) Menguasai atau mengalami kegagalan

Metoda yang baik dalam konteks ini adalah menstruktur berbagai pengalaman kerja dengan memberikan berbagai informasi terhadap pengalaman yang akan datang.

4) Menyangkal kebutuhan atau berdamai

(25)

sering berbentur dengan berfungsinya secara efektif kemampuan berfikir evaluative.

5) Mendorong melanjutkan upaya mengatasi masalah

Dorongan dan bantuan kelompok sangat membantu individu untuk tidak putus asa dan melanjutkan upaya pengatasan masalah. 5. Pengembangan Kepribadian dan Kreativitas dalam Konseling Karir

Dalam menelaah konseling karir dalam keberbakatan dalam kaitan dengan perkembangan kepribadian dan kreativitas tidak dapat melepaskan diri kita dari pengaruh – pengaruh sosial budaya dan kondisi lingkungan.

Menurut Ariety (1976, dalam Khatena 1992), individu dan masyarakat adalah dua sistem terbuka dalam petukaran energi (two open system in dymamic energy exchange). Sampai seberapa masyarakat membentuk kreativitas individu banyak ditentukan oleh integrasi dari nilai dan predisposisi kreatif masyarakat tersebut menjadi sinesta yang magis (magic synthesis).

Selain pengaruh tersebut ada model peran untuk menyamai (role models for emulation). Manusia unggul (eminent) banyak mempengaruhi kepribadian anak berbakat. Konseling karir role models emulatin ini sangat penting, karena selain memiliki nilai historis, berbagai perlakuan dan pengolahan dapat diatur dalam bidang ini sehingga muncul potensi sifat-sifat dari model-model yang diupayakan untuk disamai. Apalagi kalau hal ini terjadi dalam latar belakang pendidikan yang sama, maka dalam fase perkembangan anak berbakat, kepribadiannya amat terpengaruh oleh model- model tersebut.

Bloom dan Sosniak (1981, dalam Colangelo 1991), mendeskripsikan betapa mereka yang mencapai berbagai keunggulan, terutama dalam tiga bidang :

a. Aristik (pemain konser piano dan pemahat),

(26)

c. Kognitif (peneliti matematik dan peneliti neorolog), yang terkait dengan pengembangan karir dipengaruhi oleh tokoh-tokoh tersebut. Hasil penelitian membuktikan bahwa pengembangan kepribadian dalam kaitan dengan perkembangan karir terpengaruh dan terjadi sebagai berikut :

a. Majoritas sangat terlibat dalam meneladani orang unggul ini sebelum umur 12 dan orang tuanyapun menaruh minat besar dalam bidang ini. b. Pengalaman belajar di rumah dan di tempat latihan atau sekolah sangat

mendukung.

c. Kebanyakan pembelajaran bersifat individual.

d. Para orang tua sangat menyesuaikan diri pada kehidupan anak untuk menguasai bidangnya.

e. Lebih banyak ditekankan menguasai bidangnya dari pada mnyayangi orang lain dalam bidang tersebut.

f. Bagi para remaja instrutornya bukan orang tuanya.

g. Pertunjukan konser, kontes, kinerja banyak mendukung pengembangan keterampilan dan berbagai sifat kepribadian.

h. Sekali anak mendalami salah satu bidang, bidang lainnya agak dikesampingkan.

i. Pada kala masa remaja, latihan dalam bidang tersebut mencakup 15 sampai 25 jam.

Holland (dalam Perrone, Colangelo, 1991), memperluas teori Gottfredson tentang aspirasi karir yang beranjak dari asumsi bahwa individu mencari kerja yang cocok dengan gambaran tentang dirinya, berkesimpulan bahwa kelas sosial, intelegensi dan gander adalah faktor penentu dalam konsep diri dari aspirasi karir. Holland menemukan 6 tipe yang terkait dengan tipe lingkungan.

(27)

b. Aristic (A) : Tipe aristic ingin lebih bebas dalam memanipulasikan satu atau berbagai model ekspresi manusia dalam bentuk kreatif aristik. c. Sosial (S) : Tipe kepribadian ini lebih gemar latihan dan mengajar

serta membantu dari pada aktivitas sistematis yang bersifat khas. d. Enterprising (E) : Tipe ini lebih mengutamakan pencapaian tujuan

organisasinya melalui kerjasama dengan orang lain dan menghindari prosedur sistematis yang bersifat eksplisit.

e. Conventional (C) : Tipe ini menghendaki sesuatu secara eksplisit, mengatur data dan kurang setuju dengan makna ganda atau aktivitas yang tidak sistematis.

f. Realistic (R) : Tipe ini menyayangi hal-hal yang bersifat eksplisit, data, hewan, peralatan yang teratur dan hampir tidak memiliki toleransi untuk makna ganda (Holland, dalam Perrone. Collangelo, 1992).

6. Mengenali Keberbakatan yang Tersembunyi dalam Diri Seseorang Menggali keberbakatan dalam diri seseorang adalah tugas suci konselor untuk membantu setiap insan setiap makhluk manusia unggul mewujudkan daimon yang ada pada dirinya, yang terjawantahkan dalam seluruh gaya hidup, propesi ataupun karirnya. Untuk dapat menggali potensi yang paling baik yang tersembunyi pada diri seseorang agar dalam hidupnya menjalankan propesi yang sesuai dengan daimonnya, perlu kita ketahui bahwa arah suatu karir banyak yang ditentukan oleh gaya hidup dari pribadi individu yang menjalankan okupuasi tersebut, dan ini bermula dari aspirasi okupusional sejak kanak-kanak sampai dewasa.

Gottfredson (1991, dalam Colangelo) dalam hal ini telah meringkas sepuluh tahap perkembangan kognisi Van den Daele (Porrone dalam Colangelo, ’91), menjadi petunjuk untuk memperoleh pemahaman terhadap seseorang terhadap dunia, sebagaimana secara reflektif tercermin dari situasi kemanusiaannya. Petunjuk terdiri dari lima tahap yaitu :

(28)

sebagaimana anak kecil memnadang orang dewasa sebagai aktivitas pemuasan diri. Kedewasaan yang dipandang penguasaan terhadap sumber yang diinginkan sebagaimana yang ditampilkan orang dewasa. b. Umur 6 – 8 tahun : Orientasi terhadap peran seks. Konsep diri sangat berbicara disini dan terkait dalam perkembangan kognitif. Cita-cita pada tahap ini banyak mereflesikan kecocokan dengan peran seks. c. Umur 9 – 13 tahun : Orientasi terhadap nilai sosial kelas dan

kemampuan menjadi penentu dalam perilaku dan harapan pengaruh teman sebaya sangat besar pada masa ini. Makin tinggi kelas sosial makinluas rintangan pilihan okupasi tertentu.

d. Umur 14 – 18 tahun : Orientasi terhadap diri yang unik krisis identitas mulai pada umur ini dan asesmen serta seleksi dan rentangan profesi yang ada bermula melalui berbagai pergaulan.

(29)

BAB III Penutup

A. Kesimpulan

Konsep bimbingan dan konseling dan bimbingan karir beserta tahap-tahap perkembangannya, bukan saja untuk anak biasa, melainkan terutama untuk anak berbakat. Berbagai isyu konseling, serta masalah yang sifatnya khusus dan khas juga menjadi bagian yang penting dalam bimbingan konseling bagi anak berbakat.

Dalam menangani masalah yang paling crucial bagi anak berbakat, yaitu yang disebut masalah prestasi kurang (underachievement).

Pengembangan karir pada anak berbakat menunjuk pada terarahnya energi dan penghalusan kemampuan namun juga berarti makin menuju pada pilihan tertentu dan alternatif yang tersedia

B. Saran

(30)

Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Pertemuan 10: Presentasi makalah seminar terkait dengan pembahasan dimensi pembelajaran anak usia dini (metode, media/sumber, strategi, dan evaluasi).. Pertemuan 11: Presentasi

Kualitas peningkatan kemampuan komunikasi matematis pada kelompok siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan software Matlab termasuk ke dalam kategori tinggi, sedangkan

PENGUJIAN MUTU DAN PENETAPAN KADAR FILANTIN PADA EKSTRAK ETANOL HERBA MENIRAN ( PHYLLANTHUS NIRURI LINN).. Sukmayati Alegantina 1 , Herni Asih Setyorini 1 , Triwahyuni 1

Pada tahap ini pembelajaran matematika dengan metode outbound training dilakukan. Dimana pembelajaran yang dilakukan pada siklus III kali ini terdapat 2

Coorporate Culture bank syariah juga harus menjadi perhatian praktisi perbankan yang membuka sistem Office Chanelling ini.. Namun modifikasi dan pembaharuan harus

Rancang Bangun Lembar Kegiatan Siswa Berbasis Multimedia D engan Menggunakan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Structured Query Language

Berdasarkan latar belakang masalah, maka penelitian ini dibatasi pada hubungan indikator kesejahteraan masyarakat terhadap tingkat kesejahteraan nelayan di Kampung Nelayan

Rancang Bangun Lembar Kegiatan Siswa Berbasis Multimedia D engan Menggunakan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Structured Query Language