ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DAN KAITANNYA DENGAN KEMAJUAN EKONOMI PROVINSI JAMBI
1. LATAR BELAKANG PENELITIAN
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan sangatlah perlu untuk mengetaui kondisi perusahaan tersebut, dan kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan keungan perusahaan yang bersangkutan, yang terdiri dari Neraca, Laporan Perhitungan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan dapat diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa terhadap laporan rugi labanya akan memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan. (Munawir S, 2004).
dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan mendukung keputusan yang akan diambil. Dermawan (2006) menguraikan analisa rasio adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan. Ada 3 (tiga) jenis rasio perbandingan, yaitu : 1). Cross Sectional Analysis (analisis perusahaan sejenis pada waktu yang sama), 2) Time Series Analysis (analisis deret berkala), 3) Combined Analysis (analisis gabungan).
Hal seperti ini diharapkan dapat diterapkan di dalam organisasi pemerintah, terutama pemerintah daerah sehingga tuntutan reformasi akan demokrasi dan transparansi dapat tercapai.
Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan umum di Undang-Undang Otonomi Daerah No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang telah menggantikan UU No. 22 tahun 1999. Pelaksanaan kebijakan pemerintah Indonesia tentang Otonomi Daerah, dimulai secara efektif pada tanggal 1 Januari 2001, merupakan kebijakan yang dipandang sangat demokratis dan memenuhi aspek desentralisasi yang sesungguhnya. Desentralisasi sendiri mempunyai tujuan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat, pengembangan kehidupan berdemokrasi, keadilan, pemerataan, dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah dan antar daerah (dalam Sidik et al, 2002).
dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan bagian daerah dari Dana Bagi Hasil yang terdiri dari pajak dan sumber daya alam. Disamping dana perimbangan tersebut, pemerintah Daerah mempunyai sumber pendanaan sendiri berupa Pendapatan Asli Daerah (PAD), pembiayaan, dan lain-lain pendapatan. Kebijakan penggunaan semua dana tersebut diserahkan kepada Pemerintah daerah. Seharusnya dana transfer dari Pemerintah Pusat diharapkan digunakan secara efektif dan efisien oleh Pemerintah Daerah untuk meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Kebijakan penggunaan dana tersebut sudah seharusnya pula secara transparan dan akuntabel.
Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, sudah disebut lengkap bahwa pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Diukur Kinerjannya. Dengan kelengkapan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah diperlukan Analisis Kinerja Pemerintah dalam mengelola keuangan daerahnya dengan melakukan analisis rasio keuangan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dan dilaksanakannya.
Daerah Provinsi Jambi, dalam Aspek Keuangan. Adannya perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara berkala tiap tahun diharapkan adanya perbaikan terutama dalam pembangunan yang berkonstribusi pada kesejahteraan rakyat (provinsi jambi). Besarnya anggaran daerah yang meningkat setiap tahun, tentunya juga memerlukan evaluasi sejauh mana pencapaian dan penggunaan keuangan yakni evaluasi manajemen keuangan daerah agar efektif dan efisien. Untuk itu perlu dibuatkan laporan keuangan daerah yang menggambarkan hal tersebut.
Secara umum laporan keuangan bagi pemerintah daerah adalah memberikan informasi keuangan kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Penyajian laporan keuangan adalah salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas pengelolaan keungan publik. Reformasi yang bergulir menutut semua aspek yang menyakut hajat hidup orang banyak harus dilakukan secara transparan. Salah satunya adalah transparansi pengelolaan keuangan daerah, dimana publik akan memperoleh informasi yang aktual dan faktual. Mahmudi (2006) mengatakan, publik dengan adanya transparansi tersebut dapat menggunakan informasi tersebut untuk :
1. membandingkan kinerja keuangan yang akan dicapai dengan yang direncanakan (realisasi v.s anggaran).
2. menilai ada tidaknya unsur korupsi dan manipulasi dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran.
3. menentukan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang terkait, 4. mengetahui hak dan kewajiban masing-masing pihak, yaitu antara pemerintah
dengan masyarakat dan dengan pihak lain yang terkait.
keuangan organisasi pemerintah adalah untuk menunjukan akuntabilitas pemerintahan atau unit kerja pemerintah terhadap pengelolaan keungan dan sumber daya yang dipercaya, serta memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dengan cara :
1. Mengindikasikan apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan anggaran.
2. Mengindikasikan apakah sumber daya yang diperoleh dan dimanfaatkan sesuai dengan peraturan hukum dan peraturan kontrak, termasuk batasan financial yang ditetapakan dengan persetujuan dewan legislatif.
3. Memberikan informasi mengenai sumber daya, alokasi dan penggunaan sumber daya financial.
4. Memberikan informasi mengenai bagaimanakah pemerintah atau unit organisasi membiayai aktivitas dan memenuhi kebutuhan kasnya.
5. Memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengevaluasi kemampuan pemerintah atau unit organisasi untuk membiayai aktivitasnya dan memenuhi kewajiban serta komitmennya.
6. Memberikan informasi mengenai kondisi financial pemerintah atau unit organisasi serta perubahan-perubahan yang terjadi.
7. Memberikan informasi angregat yang bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah atau unit organisasi dalam hal biaya layanan, efisiensi serta prestasinya.
rasio utang (leverge). Analisis neraca ini dimaksudkan untuk melihat keadaan atau posisi keuangan daerah dalam membelanjakan keuangan daerah.
Pemerintah Daerah Provinsi Jambi telah mulai memperbaiki kinerjanya dengan cara melakukan analisis laporan realisasi APBD dan Neraca, sehingga transparansi yang sesuai tuntutan reformasi dapat dicapai.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil judul ”ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DAN KAITANNYA DENGAN KEMAJUAN EKONOMI PROVINSI JAMBI”
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah penelitian tentang bagaimanakah bentuk analisis yang dapat dilakukan pada laporan keuangan pada APBD dan Neraca Keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jambi dari tahun 2004 s/d 2006, yaitu sebagai berikut ;
1. Bagaimana analisis realisasi anggaran pada APBD terhadap Pendapatan dan Pembiayaan Daerah ?
2. Bagaimana analisis rasio kemandirian keuangan daerah terhadap dana perimbangan ?
3. Bagaimana analisis rasio efektivitas dan efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) ?
4. Bagaimana analisis rasio aktivitas terhadap belanja rutin dan kemajuan ekonomi 5. Bagaimana analisis rasio pertumbuhan APBD ?
8. Bagaimana analisis rasio utang terhadap ekuitas dana dan aset modal ? 9. bagimana analisis sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) ?
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian adalah : 3.1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris pada;
1. Untuk mengetahui analisis realisasi anggaran pada APBD terhadap Pendapatan dan Pembiayaan Daerah ?
2. Untuk mengetahui analisis rasio kemandirian keuangan daerah terhadap dana perimbangan ?
3. Untuk mengetahui analisis rasio efektivitas dan efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) ?
4. Untuk mengetahui analisis rasio aktivitas terhadap belanja rutin dan kemajuan ekonomi
5. Untuk mengetahui analisis rasio pertumbuhan APBD ? 6. Untuk mengetahui analisis rasio likuiditas ?
7. Untuk mengetahui analisis rasio solvabilitas ?
8. Untuk mengetahui analisis rasio utang terhadap ekuitas dana dan aset modal ? 9. Untuk mengetahui analisis sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) ?
3.2. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah ; 6. Bagi Pemerintah Daerah Provinsi Jambi
6. Bagi Universitas
Hasil Penelitian ini dapat memberi masukan bagi pihak-pihak yang ingin memperdalam pengetahuan tentang Keuangan Daerah.
6. Bagi Penulis
4. LANDASAN TEORITIS, TINJAUAN KAJIAN TERDAHULU DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
4.1. Landasan Teoritis. 4.1.1. Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah manajemen yang membahas kegiatan-kegiatan berdasarkan fungsinya, pada intinya manajemen keuangan berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan harus mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Fungsi Keuangan tersebut meliputi bagaimana memperoleh dana (raising of fund) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of fund). Tugas manajemen keuangan di antaranya merencanakan dari mana pembiayaan diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan.
perusahaan, akan mempengaruhi struktur modal (Husnan, 2000). Suatu kombinasi yang optimal atas ketiganya akan memaksimumkan nilai perusahaan yang selanjutnya meningkatkan kemakmuran kekayaan pemegang saham. Keputusan-keputusan tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya, sehingga kita harus memperhatikan dampak bersama dari ketiganya.
Investasi modal merupakan salah satu aspek utama dalam keputusan investasi. Keputusan pengalokasian modal ke dalam investasi harus dipertimbangkan dengan cermat, dievaluasi dan dihubungkan dengan resiko dan hasil yang diharapkan. Investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai macam resiko dan ketidakpastian yang sering kali sulit diprediksi oleh para investor.
Keputusan pendanaan dapat meningkatkan nilai perusahaan. Apabila pendanaan didanai melalui hutang peningkatan tersebut terjadi dari effect tax deductible. Artinya, perusahaan yang memiliki hutang akan membayar bunga pinjaman yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak, yang dapat memberikan manfaat bagi pemegang saham. Sedangkan apabila peningkatan pendanaan perusahaan didanai melalui laba ditahan atau penerbitan saham baru, maka resiko keuangan perusahaan semakin kecil. Menurut Brigham et all (1999), peningkatan hutang dapat diartikan pihak luar tentang kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya di masa yang akan datang atau resiko bisnis yang rendah.
4.1.2. Analisis Keuangan Perusahaan
disiplin. Hal ini meliputi perhatian pada analisis lingkungan dan strategis bisnis. Tujuan analisis lingkungan bisnis adalah mengidentifikasi dan menilai kekuatan dan kelemahan kompotitif perusahaan beserta peluang dan ancamannya.
Analisis lingkungan bisnis dan strategi terdiri atas dua bagian analisis industri dan analisis strategi. Analisis industri biasanya merupakan langkah pertama, mengingat prospek dan struktur industri sangat menentukan profitbilitas perusahaan. Analisis industri (industry analysis) seringkali dikerjakan dengan menggunakan kerangka yang diajukan oleh Porter (1980,1985) atau analisis rantai nilai (value cahain analysis). Berdasarkan kerangka ini sebuah industri dipadang sebagai kumpulan pesaing yang bertanding untuk memenangkan kekuatan posisi tawar pelanggan dan pemasok, serta aktif bersaing di antara mereka sendiri dalam menghadapi ancaman pendatang baru dan produk substitusi.
Analisis industri harus menilai prospek industri dan tingkat kompetisi, baik yang aktual maupun potensial, yang dihadapi perusahaan. Analisis strategi merupakan evaluasi atas keputusan bisnis perusahaan dan keberhasilan perusahaan membangun keungulan kompetitifnya.
Analisis keuangan (financial analysis) merupakan penggunaan laporan keuangan untuk menganalisis posisi dan kinerja keuangan perusahaan dimasa yang akan datang. Analisis keuangan terdiri atas tiga bagian besar, yaitu analisis profitabilitas, analisis resiko serta analisis penggunaan dana dan sumber dana. Analisis profitabilitas (profitabilitas analysis) merupakan evaluasi atas tingkat pengembalian investasi perusahaan. Analisis ini berfokus pada sumber daya perusahaan dan tingkat profitabilitasnya dan melibatkan identifikasi serta pengukuran dampak berbagai pemicu profitabilitas. Analisis resiko (risk analysis) merupakan evaluasi atas kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya. Analisis resiko melibatkan penilaian atas solvabilitas dan likwiiditas perusahaan sejalan dengan variasi laba.sedangkan analisis sumber dan penggunaan dana (analysis of sources and uses of funds) merupakan evaluasi bagaimana perusahaan memperoleh dan menggunakan dananya. Analisis ini memberikan pandangan tentang impliksi pendanaan perusahaan dimasa depan.
Disisi lain mamduh (2003: 49) menjelaskan analisis keuangan sangat bergantung pada informasi yang diberikan oleh laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang penting disamping informasi lain seperti informasi industri, kondisi perekonomian, pangsa pasar perusahaan, kualitas manajemen dana lainnya. Ada tiga macam laporan keuangan pokok yang dihasilkan: (1) Neraca, (2) Laporan Rugi Laba, dan (3) Laporan arus kas.
4.1.2.1. Neraca
atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut dengan Balance Sheet (Munawir,2004:13).
Dengan demikian neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu aktiva , utang dan modal.
.a Aktiva
Dalam pengertian tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets) misalnya goodwill, hak patent, hak menerbitkan dan sebagainya. Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.
)1 Aktiva lancar (likwid) adalah uang kas dan uang kas lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumsi dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal). Yang termasuk kelompok aktiva lancar adalah ;
)a Kas atau uang tunai )b Investasi jangka pendek )c Piutang wesel
)d Piutang dagang
)2 Aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan). Yang termasuk dalam aktiva tidak lancar adalah :
)a Investasi jangka panjang )b Aktiva tetap
)c Aktiva tetap tidak berwujud (intangible fixed assets) )d Beban yang ditangguhkan (deffered charges)
)e Aktiva lain-lain. .b Utang
Utang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana utang merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor. Utang atau kewajiban perusahaan dapat dibedakan kedalam utang lancar (utang jangka pendek) dan utang jangka panjang.
)1 Utang lancar atau utang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan.
.c Modal
Modal merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus atau laba yang ditahan atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh utang-utangnya.
Menurut Zaki (1997:25) mengatakan modal dalam perusahaan perorangan ditunjukkan dalam satu rekening yang diberi nama modal. Rekening modal terdiri atas beberapa elemen, yaitu (1) modal disetor, dibagi atas modal saham dan agio/disagio saham, (2) Laba tidak dibagi, (3) Modal penilaian kembali, (4) Modal sumbangan, (5) Modal lain-lain.
4.1.2.2. Laporan Rugi Laba
Laporan rugi laba merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Adapun bentuk laporan rugi laba yang biasa digunakan adalah (1) bentuk single step (mengelompokan semua penghasilan dan biaya dalam kelompoknya masing-masing), dan (2) bentuk multiple step (melakukan pengelompokan yang lebih teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum). Walaupun belum ada keseragaman tentang susunan laporan rugi laba bagi tiap-tiap perusahaan, namun prinsip-prinsip yang umumnya diterapkan adalah sebagai berikut:
2. Bagian kedua menunjukkan biaya-biaya operasional yang terdiri dari biaya penjualan dan biaya umum/administrasi (operating expenses). 3. Bagian ketiga menunjukkan hasil-hasil yang diperoleh diluar operasi
pokok perusahaan, yang diikuti dengan biaya-biaya yang terjadi diluar usaha pokok perusahaan (non operating/financial income dan expenses). 4. Bagian keempat menunjukan laba atau rugi yang insidentil (extra
ordinary gain or loss) sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan.
4.1.3. Manajemen Keuangan Daerah
Manajemen Keuangan Daerah dilakukan dengan melihat sistem pengelolaan keuangan berupa pengalokasian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang merupakan program kerja dalam bentuk angka-angka (Halim, 2004). Manajemen keuangan Daerah ditujukan guna merencanakan perolehan dana melalui pendapatan daerah dan menggunakan dana tersebut melalui pembiayaan daerah. Sedangkan sistem keuangan daerah tidak berorientasi kepada keuntungan (profit oriented) akan tetapi lebih dititikberatkan kepada unsur pelayanan masyarakat (social oriented).
Berbicara tentang pengelolaan keuangan daerah tidak terlepas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, oleh sebab itu pembahasan manajemen keuangan daerah bertitik tolak dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dalam Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dinyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah terdiri dari :
- Pendapatan Daerah, meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah.
- Belanja Daerah, meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayaran kembali oleh daerah.
- Pembiayaan Daerah, meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 menjelaskan bahwa manajemen keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabitas dan transfaransi keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah bertujuan agar penggunaan keuangan daerah dapat dipertanggung jawabkan dan untuk menjamin bahwa keuangan daerah betul -betul dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan.
Selain itu, manajemen keuangan daerah dimaksudkan untuk memperjelas pembagian wewenang dengan berbagai level tanggung jawab pengelolaan keuangan daerah ( distribution of authority dan level of respobsibiliiy). Hal ini dimaksudkan agar pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih efektif dan efisien.
keseimbangan fiskal dengan mempertahankan kemampuan keuangan negara yang bersumber dari pendapatan pajak dan sumber-sumber lainnya guna memenuhi keinginan masyarakat.
Salah satu ciri yang penting dalam mewujudkan keseimbangan tersebut adalah berlangsungnya proses politik untuk menyelaraskan berbagai kepentingan yang ada di masyarakat. Perubahan sistem politik, sosial dan kemasyarakatan serta ekonomi yang dibawa oleh arus reformasi telah menimbulkan tuntutan yang beragam terhadap pengelolaan pemerintah yang baik (good government governance). Tuntutan ini perlu dipenuhi dan disadari langsung oleh para manajer pemerintahan daerah. Seiring dengan Peraturan Pemerintah nomor 105/2000 yang diganti menjadi Peraturan Pemerintah nomor 58/2005 mensyaratkan diperlakukannya pertanggungjawaban (akuntabililas) dalam bentuk laporan keuangan (neraca daerah, arus kas, dan realisasi anggaran) oleh kepala daerah.
Rakyat Daerah (DPRD) sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah.
Sementara itu yang dimaksudkan dengan Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah lainnya dan DPRD. Dan yang penting dari itu adalah kedudukan di antara kedua lembaga tersebut bersifat sejajar dan menjadi mitra. Implikasi positif dari berlakunya Undang-Undang tentang Otonomi Daerah yang berkaitan dengan kedudukan, fungsi dan hak-hak DPRD, diharapkan DPRD yang selanjutnya disebut dewan akan lebih aktif di dalam menangkap aspirasi yang berkembang di masyarakat, yang kemudian mengadopsinya dalam berbagai bentuk kebijakan publik di daerah bersama-sama Kepala Daerah (Bupati dan Walikota).
Dampak lain yang kemudian muncul dalam rangka otonomi daerah adalah tuntutan terhadap pemerintah untuk menciptakan good governance sebagai prasyarat penyelenggaraan pemerintah dengan mengedepankan akuntabilitas dan transparansi. Sedangkan untuk mendukung akuntabilitas dan transparansi diperlukan internal control dan eksternal control yang baik serta dapat dipertanggungjawabkan. Sehubungan dengan hal tersebut maka peran dari dewan sebagai wakil rakyat dan pemegang kekuasaan tertinggi menjadi semakin meningkat dalam mengontrol kebijaksanaan pemerintah. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Anggaran menjelaskan bahwa: (1) Pengawasan atas anggaran dilakukan oleh dewan, (2) Dewan berwenang memerintahkan pemeriksa eksternal di daerah untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan anggaran.
mengawasi kinerja eksekutif). Pengawasan anggaran yang dilakukan oleh dewan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (Pramono, 2002). Faktor internal adalah faktor yang dimiliki oleh dewan yang berpengaruh secara langsung terhadap pengawasan yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah pengetahuan tentang anggaran. Sedangkan faktor eksternal adalah pengaruh dari luar terhadap fungsi pengawasan oleh dewan yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap pengawasan yang dilakukan oleh dewan, di antaranya adalah adanya partisipasi masyarakat dan transparansi kebijakan publik.
Di sisi lain, dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, secara tersirat telah memisahkan dengan tegas antara fungsi Pemerintahan Daerah (Eksekutif) dengan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Legislatif). Berdasarkan perbedaan fungsi tersebut, menunjukkan bahwa antara legislatif dan eksekutif terjadi hubungan keagenan (Halim, 2001; Halim & Abdullah, 2006). Pada pemerintahan, peraturan perundang-undangan secara implisit merupakan bentuk kontrak antara eksekutif, legislatif, dan publik.
4.1.4. Anggaran Daerah Sektor Publik
Proses perumusan anggaran dimaksudkan untuk menterjemahkan perencanaan ekonomi pemerintah berupa perencanaan input dan output dalam satuan keuangan. Oleh karena itu, proses perumusan anggaran tersebut harus dapat menggali dan mengendalikan sumber-sumber dana publik. Proses pembuatan satu tahun anggaran tersebut dikenal dengan istilah penganggaran.
kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan potensi dan sumber-sumber kekayaan daerah. APBN merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat/DPR (UU Keuangan Negara, 2002).
Berbicara tentang pengelolaan keuangan daerah tidak terlepas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, oleh sebab itu pembahasan manajemen keuangan daerah bertitik tolak dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dalam Permendagri Nomor 29 Tahun 2003 dinyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah terdiri dari :
Pendapatan Daerah, meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Terdiri dari :
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) : - Pajak Daerah
- Retribusi Daerah
- Hasil Perusahaan Milik Daerah 2. Dana Perimbangan :
- Dana Bagi Hasil ; bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak. - Dana Alokasi Umum (DAU)
- Dana Alokasi Khusus (DAK)
3. Lain-lain pendapatan daerah yang syah :
APBN tetapi dana itu juga masuk di dalam anggaran pemerintah daerah (APBD). Apapun pembiayaan pemerintah dalam hubungannya dengan pembiayaan pemerintah pusat diatur sebagai berikut :
Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat di daerah dalam rangka dekonsentrasi dibiayai atas beban APBN.
Urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah dalam rangka desentralisasi dibayar dari dan atas beban APBD
Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat atau pemerintah daerah atasnya, yang dilaksanakan dalam rangka tugas perbantuan, dibiayai oleh pemerintah pusat atas beban APBN atau pemerintah daerah diatasnya atas beban APBD pihak yang menugaskan.
Sepanjang potensi sumber keuangan daerah belum mencukupi pemerintah pusat memberikan sejumlah sumbangan kepada pemerintah daerah. Dengan demikian bagi pemerintah kabupaten/kota disamping mendapat bantuan dari pemerintah pusat juga mendapat limpahan dari Pemerintah Provinsi. Meskipun bisa jadi limpahan, dana provinsi tersebut berasal dari pemerintah pusat lewat APBN. Berbagai penelitian empiris yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa daeri ketiga sumber pendapatan daerah seperti tersebut diatas peranan dari pendapatan yang berasal dari pusat sangat dominan.
dekonsentrasi merupakan sarana bagi perangkat birokrasi pusat untuk menjalankan praktek sentralisasi yang terselubung sehingga kemandirian daerah menjadi terhambat.
Dengan semakin kuatnya tuntutan desentralisasi pemerintah mengeluarkan satu paket Undang-Undang Otonomi Daerah, yaitu UU No. 22 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang “Pemerintah Daerah”, dan UU No.25 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.33 Tahun 2004 tentang “Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah”. Pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah derah yang diatur dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang-Undang-Undang No.32 tahun 2004, perlu dibarengi dengan pelimpahan keungan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang diatur dalam UU No.25 tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.33 tahun 2004 tanpa adanya otonomi keuangan daerah tidak akan pernah ada otonomi bagi pemerintah daerah. Jadi kedua Undang-Undang tersebut saling melengkapi.
pusat. Pemerintah kabupaten/kota hanya memiliki enam sumber PAD dimana sebagian besar dari padanya dari pengalaman masa lalu sudah terbukti hanya memiliki peranan yang relatif kecil bagi kemandirian daerah (http://www.ideasrespec.org).
Dana alokasi umum berfungsi pemerataan antar Daerah dengan tujuan semua Daerah memiliki kemampuan yang relatif sama untuk membiayai pengeluarannya dalam pelaksanaan azas desentralisasi. Dana alokasi umum dialokasikan berdasarkan suatu rumus yang memasukkan unsur potensi penerimaan Daerah dan kebutuhan obyektif pengeluaran Daerah, dan dengan memperhatikan ketersediaan dana APBN.
Jumlah dana alokasi umum ditetapkan minimal 25 persen dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan APBN dengan ketentuan 90 persen untuk kabupaten/kota dan 10 persen untuk propinsi. Penghitungan dana alokasi dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah.
Dalam memperhitungkan dana alokasi umum untuk propinsi dan kabupaten/kota, akan digunakan kriteria potensi daerah dan kebutuhan obyektif daerah. Kriteria daerah dicerminkan oleh: Pendapatan Asli Daerah dan Bagian Daerah dari PBB, BPHTB, dan penerimaan sumber daya alam, atau tingkat pendapatan masyarakat. Kebutuhan obyektif pengeluaran daerah dicerminkan oleh: luas daerah, keadaan geografi dan jumlah penduduk.
- Kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan rumus, antara lain kebutuhan yang bersifat khusus yang tidak sama dengan kebutuhan daerah lain, misalnya kebutuhan di kawasan transmigrasi, kebutuhan beberapa jenis investasi/prasarana baru, misalnya pembangunan jalan di kawasan terpencil, saluran irigasi primer; dan atau
- Kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional. Di samping dana PAD dan Perimbangan Keuangan, Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri atau luar negeri melalui Pusat untuk membiayai sebagian anggarannya yang pengaturannya dilakukan lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah. Daerah dapat juga memperoleh Dana Darurat, yaitu dana yang dialokasikan dari APBN kepada Daerah tertentu untuk keperluan mendesak, misalnya jika terjadi bencana alam, dan sebagainya. Pengaturan lebih lanjut dari Dana Darurat ini dilakukan melalui Peraturan Pemerintah.
4.1.5. Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah sebagai pihak yang diserahi tugas menjalankan roda pemerintahan, pembangunan, dan layanan sosial masyarakat wajib menyampaikan Laporan Pertanggunganjawaban keuangan daerahnya untuk dinilai apakah pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak.
relevan sehubungan dengan hasil program yang dilaksanakan kepada wakil rakyat dan juga kelompok-kelompok masyarakat yang memang ingin kinerja pemerintah.
Pelaporan keuangan pemerintah pada umumnya hanya menekankan pada pertanggung jawaban apakah sumber yang diperoleh sudah digunakan sesuai dengan anggaran atau perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian pelaporan keuangan yang ada hanya memaparkan informasi yang berkaitan dengan sumber pendapatan pemeritah, bagaimana penggunaannya dan posisi pemerintah saat itu.
Salah satu alat untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerahnya adalah dengan melaksanakan analisis rasio terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakanya (http://www.feuhamka.com/artikel22.htm). Hasil analisis rasio keuangan ini selanjutnya digunakan untuk tolok ukur dalam : mengukur Pengaruh in Efisiensi dan In Efektivitas Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Di Provinsi Jambi.
Penggunaan analisis rasio pada sektor publik khususnya terhadap APBD belum banyak dilakukan, sehingga secara teori belum ada kesepakatan secara bulat mengenai nama dan kaidah pengukurannya. Meskipun demikian dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang transparan, jujur, demokratis, efektif,efisien dan akuntabel, analisis rasio terhadap APBD perlu dilaksanakan meskipun kaidah pengakuntansian dalam APBD berbeda dengan kuangan yang dimiliki oleh perusahaan swasta.
sama untuk melihat bagaimana posisi rasio keuangan pemerintah daerah taersebut terhadap pemerintah daerah lainnya. (Halim, 2007:231-232)
Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keungan pemerintah daerah tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun potensi daerahnya relatif sama untuk dilihat bagaimana posisi keuangan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah daerah lainnya.
Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan APBD ini adalah : 1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
DPRD adalah badan yang memberikan otorisasi kepada pemerintah daerah untuk mengelola laporan keuangan daerah.
2. Badan Eksekutif
Badan Eksekutif merupakan badan penyelenggara pemerintahan yang menerima otorisasi pengelolaan keuangan daerah dari DPRD, seperti Gebernur, Bupati, Walikota, serta Pimpinan unit Pemerintah Daerah lainnya.
3. Badan Pengawas Keuangan
Badan Pengawas Keuangan adalah Badan yang dilakukan pengawasan atas pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Yang termasuk dalam badan ini adalah Inspektorat Jendral, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Badan Pemeriksa Keuangan.
Badan atau Organisasi baik pemerintah, lembaga keuangan, maupun lainnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang menyediakan sumber keuangan bagi pemerintah daerah.
5. Analisis Ekonomi dan Pemerhati Pemerintah Daerah
Yaitu pihak-pihak yang menaruh perhatian atas aktivitas yang dilakukan pemerintah Daerah, seperti lembaga pendidikan, ilmuwan, peneliti dan lain-lain 6. Rakyat
Rakyat disini adalah kelompok masyarakat yang menaruh perhatian kepada aktivitas pemerintah khususnya yang menerima pelayanan pemerintah daerah atau yang menerima produk dan jasa dari pemerintah daerah.
7. Pemerintah Pusat
Pemerintah Pusat memerlukan laporan keuangan Pemerintah Daerah untuk menilai pertanggungjawaban Gubernur sebagai wakil pemerintah (pasal 2 PP No. 108/2008).
4.1.6. Analisis Laporan Keuangan Pada APBD
1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukan kemampuan pemda dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Mahmudi (2006) menjelaskan kemandirian keuangan daerah ditujukan oleh besarnya PAD dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber-sumber lainnya misalnya bantuan pemrintah pusat ataupun dari pinjaman.
Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber ekstern. Semakin tinggi rasa kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintah pusat dan provinsi) semakin rendah, dan demikian pula sebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah akan meningkatkan PAD.
Rasio Kemandirian =
---2. Rasio Efektivitas dan Efisiensi PAD
Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah.
Rasio Efektivitas = PAD
Bantuan Pusat + Provinsi + Pinjaman
Realisasi Penerimaan PAD
Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai minimal sebasar satu atau 100 persen. Namun demikian ,
semakin tinggi rasio efektivitas, maka kemampuan daerah pun semakin baik. Guna memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektivitas tersebut perlu dipersandingkan dengan rasio efisiensi yand dicapai pemerintah daerah.
Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja Pemerintah Daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan dikategori efisien, apabila rasio yang dicapai kurang dari 1(satu) atau dibawah 100 persen. Semakin kecil rasio efisien berarti kinerja pemerintah semakin baik. Untuk itu, pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat berapa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh pendapatan yang diterimanya sehingga dapat diketahui apakah kegiatan pemungutan pendapatannya tersebut efisien atau tidak. Hal tersebut perlu dilakukan karena meskipun pemerintah daerah berhasil merealisasikan penerimaan pendapatan sesuai dengan target yang ditetapkan, namun keberhasilan tersebut kurang memiliki arti apabila ternyata biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan target penerimaan pendapatannya lebih besar daripada realisasi Pendapatan yang diterimanya.
Rasio Efisiensi =
---3. Rasio Aktivitas terhadap APBD a) Rasio Keserasian
Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal.
Semakin tinggi persentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin dan belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk menyediakan sarana dan prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil. Rumus rasio keserasian adalah :
Rasio belanja rutin =
---Rasio Belanja Pembangunan Terhadap APBD = ---b) Penyerapan dana triwulan
Penyerapan dana per triwulan menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan dan mempertanggung jawabkan secara periodik atas kegiatan yang direncanakan pada masing-masing triwulan. Hal ini sesuai dengan pasal 37 Peraturan Pemerintah No.105 tentang pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah yang menegaskan bahwa pemerintah daerah menyampaikan triwulanan pelaksanaan APBD kepada DPRD. Apabila realisasi penerimaan pendapatan per triwulanan dikurangi realisasi pengeluaran per triwulan terjadi surplus dan sementara penyerapan dana untuk pengeluaran terbesar terjadi pada triwulan terakhir berarti beban kerja pelaksanaan pembangunan terpusat pada triwulan terakhir.
4. Debt Service Coverage Ratio (DSR)
Dalam rangka melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana di daerah, selain menggunakan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah dapat menggunakan alternativ sumber dana lain yaitu dengan melakukan pinjaman, sepanjang prosedur dan pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Total belanja Rutin Total APBD
a. Ketentuan yang menyangkut persyaratan
1) Jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayarkan maksimal 75 % dari penerimaan APBD tahun sebelumnya.
2) DSCR minimal 2,5
DSCR merupakan perbandingan antara penjumlahan pendapatan asli daerah (PAD), bagian daerah (BD) dari pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunanan (BPHTB), penerimaan sumber daya alam dan bagian daerah lainnya serta dana alokasi umum setelah dikurangi belanja wajib (BW), dengan penjumlahan angsuran pokok, bunga dan biaya pinjaman lainnya yang jatuh tempo.
DSCR =
---b. Ketentuan yang menyangkut penggunaan pinjaman
1) Pinjaman jangka panjang digunakan membiayai pembangunan yang dapat menghasilkan penerimaan kembali untuk pembayaran pinjaman dan pelayanan masyarakat.
2) Pinjaman Jangka Pendek untuk pengaturan arus kas c. Ketentuan yang menyakut prosedur
1) Mendapat persetujuan 2) DPRD
3) Dituangkan dalam kontrak 5. Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur seberapa besar kemampuan pemda dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai pada
(PAD+BD+DAU)-BW
periode selanjutnya. Analisis rasio ini bermanfaat untuk mengetahui pertumbuhan masing-masing komponen sumber pendapatan dan pengeluaran. Hasil analisis ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan dalam mengevaluasi potensi yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.
4.1.7. Analisis Rasio pada Neraca Keuangan Daerah
Mahmudi (2007:101) menjelaskan “ utang bagi pemerintah daerah memiliki beberapa manfaat tetapi juga memiliki resiko yang merugikan”. Manfaat utang antara lain dapat digunakan untuk memperbaiki struktur neraca, meningkatkan struktur fiskal, menjaga kesinambungan fiskal, serta untuk membiayai investasi pembangunan yang membutuhkan dana besar sehingga akselerasi pembangunan bisa dicapai. Namun disamping memiliki manfaat, utang juga memiliki resiko,yakni utang besar, justru dapat melemahkan struktur fiskal dan rentan terhadap krisis keuangan. Kegagalan dalam membayar utang dapat menyebabkan implikasi yang luas bagi pemerintah. Analisis rasio pada neraca laporan keuangan pemerintah daerah terdiri dari :
1. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas menunjukan kemampuan pemerintah daerah untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Walaupun pemerintah daerah sudah menyusun anggaran kas, tetapi analisis likuiditas akan lebih bermanfaat bagi manajemen dibandingkan jika hanya mendasarkan pada anggaran kas saja. Untuk itu, perlu dilakukan analisis likuiditas yang terdiri atas beberapa rasio yang bisa dipelajari yaitu:
a) Rasio Lancar (Current Ratio)
satu tahun, relative terhadap besarnya utang-utang yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat.
Adapun rumusnya sebagai berikut:
Rasio Lancar =
---b) Rasio Cepat (Acid-Test Ratio)
Rasio cepat merupakan ukuran kemampuan perusahaan atau instansi dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan. Rasio ini merupakan perbandingan antara aktiva lancar dikurangi dengan persediaan utang lancar. Rasio quick dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
Rasio Cepat=
---c) Rasio Kas (Cash Rasio)
Rasio tunai merupakan perbandingan antara total penerimaan dan total pengeluaran terhadap utang lancar. Rasio ini digunakan untuk melengkapai rasio lancar dan rasio cepat. Rasio tunai dapat dirumuskan sebagai berikut :
Rasio Kas =
---d) Working Capital To Total Asset (WCTA)
Merupakan rasio keuangan untuk mengukur likwiditas dari total aktiva dengan posisi modal kerja netto dengan rumus sebagai berikut :
WCTA = ---Aktiva lancar
Utang lancar
Aktiva Lancar - Persediaan Utang Lancar
Kas + Efek Utang
2. Rasio Solvabilitas
Rasio ini dapat digunakan untuk melihat kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi seluruh kewajtibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio solvabilitas diperoleh dengan membandingkan total aktiva dengan total utang.
Rasio =
---3. Rasio Utang (leverage Ratio)
Rasio utang sangat penting bagi kreditor dan calon kreditor potensial pemerintah daerah dalam membuat keputusan kredit. Rasio akan digunakan oleh kreditor untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar utangnya.
Terdapat beberapa jenis rasio utang yang perlu diketahui, yakni : a) Rasio utang terhadap ekuitas (total debt to equity ratio)
Rasio utang terhadap ekuitas adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui bagian dari setiap ekuitas dana yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan utang. Rasio ini dapat dilihat dengan rumus :
Rasio utang terhadap ekuitas =
---b) Rasio utang terhadap asset modal (total debt to total capital asset)
Rasio utang terhadap modal adalah rasio untuk mengetahui besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga utang jangka panjang. Rasio utang terhadap asset modal sebenarnya lebih cocok untuk sektor bisnis, sedangkan untuk sektor
Total Aktiva Total Utang
mengklaim asset modal perusahaan. Sementara itu, pemerintah daerah tidak diasumsikan akan dilikuidasi, kreditor pun tidak dapat mengklaim aset modal pemerintah daerah jika terjadi kegagalan dalam membayar utang, kreditor tidak dapat mempailitkan pemerintah daerah. Rasio ini dapat dirumuskan :
Rasio utang terhadap aset modal =
---c) Rasio bunga utang terhadap pendapatan (times interest earned ratio)
Adalah rasio untuk mengetahui besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga utang jangka panjang. Rasio ini tidak dapat diterapkan pada pemerintah daerah, karena tidak adanya konsep laba dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
TIER =
---4.1.8. Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)
Sistem anggaran tradisional yang bersifat incrementalism dan line-item dengan pendekatan anggaran berimbang (balanced budget), sebagimana diimplementasikan selama era orde baru, menilai kinerja anggaran berdasarkan habis tidaknya anggaran. Jika unit kerja berhasil menghabiskan anggaran maka unit kerja tersebut akan dinilai berhasil, sebaliknya jika tidak dapat menyerap seluruh anggaran akan dinilai kurang berhasil. Oleh arena itu, tidak mengherankan jika kemudian unit kerja berusah untuk menghabiskan anggaran dengan cara membuat program dadakan yang sifatnya sekedar untuk menghabiskan anggaran (Mahmudi, 2007:159).
Total aset modal Total utang
Pada era reformasi dan demokrasi saat ini, tidak bisa lagai diterapkan sistem anggaran tradisional karena era reformasi dituntut bekerja secara efektif dan efisien. Untuk itu dengan sistem panganggaran kinerja (performance budgeting), kinerja anggaran tidak lagi didasarkan habis tidaknya anggaran, tetapi diukur dari tercapai tidaknya target kinerja dengan anggaran yang disediakan. Sehingga diperoleh sisa yang nantinya bisa digunakan pada periode selanjutnya.
4.2. Kerangka Pemikiran
Analisa keuangan sangat bergantung pada informasi yang diberikan oleh laporan keuangan perusahaan, baik dalam bentuk neraca, laporan rugi laba serta laporan arus kas. Neraca bertujuan memberikan informasi nilai perusahaan, akan tetapi tidak secara keseluruhan. Untuk itu perlu mempelajari neraca dan laporan keungan secara bersamaan. Disamping itu, didalam menyusun neraca perlu pengakuan dalam konteks neraca. Hal ini dimaksudkan membantu pihak eksternal menganalisis :
1) Likwidiatas Perusahaan 2) Fleksibilitas Perusahaan 3) Kemampuan Operasional
4) Kemampuan Menghasilkan Pendapatan dalam Periode Tertentu Untuk itu, supaya neraca diakui harus :
a) Memenuhi definisi elemen b) Bisa diukur
c) Relevan d) Reliable
Nomor 33 tahun 2004 yang menjelaskan bahwa daerah tidak bisa bergantung sepenuhnya kepada pemerintah pusat, tapi dituntut lebih aktif dan produktif dalam meningkatkan PAD untuk membiayai pembangunan daerah.
Dalam Undang-Undang No.32 Tahun 2004 dijelaskan pengelolaan keuangan daerah tidak terlepas dari APBD. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah disahkan sebagai keranka dasar pemerintah daerah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya di daerah. Sebagai perangkat daerah bersama dengan DPRD, pemerintah daerah bertanggung jawab untuk menyusun, melaksanakan, mengevaluasi, dan mempertanggung jawabkan APBD yang telah ditetapkan. Pemerintah daerah mengelola keuangan daerah dengan memperhatikan prinsip-prinsip, seperti efektivitas, efisiensi, transparansi dan akuntabilitas.
g
APBD + NERACA LAPORAN KEUANGAN
RASIO LAPORAN KEUANGAN APBD
1. Analisis Realisasi APBD 2. Rasio Kemandirian
3. Rasio Efektivitas dan Efisiensi PAD 4. Rasio Aktivitas
5. Rasio Pertumbuhan 6. Rasio Likuiditas 7. Rasio Solvabilitas 8. Rasio Utang 9. Analisa SILPA Otonomi Daerah
Pemerintah Daerah
Kemajuan ekonomi daerah
5. METODE PENELITIAN
5.1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah di Biro Keuangan Kantor Gubernur Jambi, sedangkan lokasi penelitian ini dilakukan di Kantor Pemerintahan Provinsi Jambi. Lama Penelitian ± 3 Bulan, Tanggal 9 Juni sampai dengan 9 Agustus 2008.
5.2. Jenis Penelitian dan Sumber Data 5.2.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan permasalahan, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif bertujuan mendeskrpsikan atau menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya (Prasetya, 1999 :60). Sedangkan menurut sugiono (1998) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membandingkan atau menghubungkan dengan variabel lainnya. Data yang diperoleh kemudian dianalisis, ditafsir dan disimpulkan.
5.2.2. Sumber Data
5.3. Metode Pengumpulan Data
Menurut Masngudi (2003) untuk mengumpulkan data dalam penelitian studi kasus ini dapat digunakan beberapa pendekatan seperti field research dan Library research. Field research merupakan penelitian yang dilakukan langsung ke tempat objek penelitian dengan memperhatikan kondisi dan lingkungan. Sedangkan Library research suatu penelitian yang dilakukan berdasarkan atas data dan informasi bahan-bahan bacaan atau tulisan tanpa melakukan peninjauan lapangan. Penelitian ini menggabungkan kedua penelitian tersebut, yakni field research dan library research.
Secara umum teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
5.3.1. Dokumentasi
Penelusuran dokumentasi dilakukan terhadap literatur atau sumber-sumber tertulis yang antara lain memuat tentang laporan Keuangan Daerah, APBD, dan Realisasi Pencapaian Target PAD. Pengumpulan data melalui dokumentasi bertujuan untuk mendapatkan naskah-naskah APBD, Laporan Keuangan, dan Realisasi Pencapaian Target PAD Pemerintah Daerah Provinsi Jambi secara keseluruhan untuk keperluan analisis.
5.3.2. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan diperlukan untuk melengkapi kajian dan atau mempertajam analisis dari berbagai sumber bacaan yang relevan.
5.4. Metode Analisis Data
dengan menggambarkan dan melukiskan keadaan objek atau objek penelitian pada waktu sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya. Selain itu, Bogdan & Biklen dalam Prasetya (1999:100), menjelaskan analisis data kualitatif adalah proses mencari dan mengatur secara sistematis transkrip interiview, catatan dilapangan dan bahan-bahan lain yang didapatkan, yang kesemuannya itu dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman anda (terhadap suatu fenomena) dan membantu untuk mempresentasikan penemuan anda kepada orang lain.
Selain itu, untuk menganalisis rasio keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi maka dalam Penelitian ini digunakan beberapa analisis sebagai berikut :
A. Analisis Laporan Keuangan Pada APBD 1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
Rumus :
Rasio Kemandirian = --- (Abdul H,2007)
2. Rasio Efektivitas dan Efisiensi PAD Rumus :
Rasio Efektivitas = --- (Abdul H,2007)
Rasio Efisiensi = --- (Abdul H,2007)
3. Rasio Aktivitas terhadap APBD
PAD
Bantuan Pusat + Provinsi + Pinjaman
Realisasi Penerimaan PAD Target Penerimaan PAD
Rasio belanja rutin = --- (Abdul H, 2007)
Rasio B. Pembangunan = --- (Abdul H, 2007)
4. Debt Service Coverage Ratio (DSR) Rumus :
DSCR =
---B. Analisis Rasio pada Neraca Kuangan Daerah 1. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas terdiri dari : a) Rasio Lancar
Rumus :
Rasio Lancar = --- ( Mahmudi, 2007) b) Rasio Kas
2. Rasio Solvabilitas Rumus :
Rasio Solvabilitas= --- ( Mahmudi, 2007)
3. Rasio Utang
a. Rasio Utang Terhadap Ekuitas Rumus :
Rasio Terhadap Ekuitas = --- (Mahmudi, 2007)
b. Rasio Utang Terhadap Modal Rumus :
Rasio utang terhadap modal =
---C. Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Rumus :
SILPA = Realisasi Penerimaan Daerah – Realisasi Pengeluaran Daerah Total aset modal
Total utang Total Aktiva
Total Utang
Total Utang
6. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I. Merupakan Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang masalah, Perumusan masalah, Tujuan penelitian, Ruang lingkup pembahasan, dan Sistematika pembahasan.
BAB II. Merupakan Landasan Teori yang menjelaskan tentang Manajemen Keuangan, Manajemen Keuangan Daerah, Anggaran Sektor Publik, Proses Penyusunan Anggaran di Indonesia dan Analisis Rasio Keuangan Pada APBD. Kemudian juga membahas tentang Tinjauan Kajian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis serta Kerangka Pemikiran. BAB III. Merupakan Objek Penelitian, Jenis Penelitian, Sumber Data, Metode
Pengumpulan Data dan Metode Analisis Data.
BAB IV. Merupakan Analisis Data dan Pembahasan Hasil Penelitian yang membahas tentang Gambaran Umum Propinsi Jambi, Analisis Deskripsi, dan Pembahasan Hasil Penelitian.