PEMBELAJARAN SEJARAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA DAN KESADARAN SEJARAH
Oleh Ketut Sedana Arta
Abstrak
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara pembelajaran sejarah dalam upaya pembangunan karakter bangsa dan kesadaran sejarah. Pembelajaran sejarah memiliki posisi penting dalam program pembangunan karakter bangsa, apalagi kalau dilihat perkembangan bangsa yang diwarnai oleh peristiwa korupsi, nepotisme, narkoba, perjudian, perkelahian antarpelajar/antarmahasiswa, konflik berbau SARA. Keadaan yang demikian memerlukan langkah-langkah yang strategis diantaranya penerapan pendidikan karakter melalui mata pelajaran sejarah.
Banyak materi sejarah yang dapat dimanfaatkan untuk membangun karakter bangsa, dan harus ditunjang dengan penggunaan startegi, pendekatan serta metode mengajar sejarah yang inovatif, sehingga diharapkan terjadi proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai luhur keindonesiaan seperti nilai-nilai religiositas, kemanusiaan dan keadilan, nasionalisme, patriotism, demokrasi, kearifan, keteladanan. Untuk itu diperlukan motivasi dalam diri sejarawan pendidik untuk mengubah pembelajaran sejarah yang menekankan ceramah menjadi pelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan menyentuh aspek-aspek afektif (kecerdasan emosional dan spiritual). Dengan demikian pembelajaran sejarah yang menekankan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual melahirkan kesadaran sejarah yang sejati.
Kata kunci: Pembelajaran sejarah, karakter bangsa, kesadaran sejarah
Abstract
This writing aim to to know related/relevant between study of history in the effort development of nation character and awareness of history. Study of history have important position in program development of nation character, more than anything else if seen growth of nation coloured by event of corruption, nepotism, narkoba, gambling, fight of student, conflict smell SARA. Such Situation need strategic stages;steps among others applying of education of character through history subject.
Many history items able to be exploited to develop;build nation character, and have to be supported with usage of startegi, approach and also method teach history which inovatif, so that expected happened process of transformasi and of internalisasi august values identity of indonesia like values of religiositas, human and justice, nationalism, patriotism, democratize, wisdom, byword. That needed by motivation in educator historian x'self to alter study of history emphasizing discourse become more having a meaning Iesson, kontekstual, and touch aspects of afektif ( emotional intellegence and spiritual). Thereby study of history emphasizing intellectual intellegence, emotional and spiritual bear awareness of real history
1.1 Latar Belakang
Historia Vitae Magistra (sejarah adalah guru kehidupan) merupakan suatu ungkapan bahwa mempelajari sejarah adalah sangat penting karena sesorang yang mempelajari sejarah dapat mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi di masa lampau. Hal tersebut dipertegas oleh Ismaun (2005) yang menyatakan kita hendaknya tidak hanya belajar tentang sejarah, melainkan juga belajar dari sejarah, karena sejarah menyimpan pengalaman berharga yang dapat memberikan kearifan.
Mempelajari sejarah tidak aka nada maknanya bila tidak disertai pemahaman akan nilai yang terkandung. Menurut Ismaun (2005) melalui berbagai kajian yang mendalam terhadap berbagai pendapat dan pengalaman dan orang-orang bijak di masa lampau, nilai-nilai sejarah berupa pengalaman-pengalaman manusia, tetapi tidak bisa dibantah bahwasannya manusia itu pada umumnya gemar menggunakan pengalaman-pengalaman itu sebagai pedoman atau contoh untuk memperbaiki kehidupannya. Sedangkan fungsi sejarah pada hakekatnya adalah untuk meningkatkan pengertian atau pemahaman yang mendalam dan lebih baik tentang masa lampau dan juga masa sekarang dalam inter relasinya dengan masa datang. Sedangkan kegunaan atau manfaat sejarah ada empat yakni bersifat edukatif bahwa sejarah membawa kebijaksanaan dan kearifan; kedua bersifat inspiratif artinya memberi ilham; ketiga, bersifat instruktif, yaitu membantu kegiatan menyampaikan pengetahuan atau ketrampilan, dan keempat, bersifat rekreatif, yakni memberi kesenangan estetis berupa kisah-kisah nyata yang dialami manusia.
1.2 Pembahasan
A. Makna Pembelajaran Sejarah
Salah satu aspek proses pendidikan termasuk pendidikan sejarah sejarah adalah membangun karakter anak didik. Karakter merupakan standar atau norma dan sistem nilai yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai luhur yang pada akhirnya diwujudkan dalam bentuk perilaku. Oleh karena itu pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa mengembangkan sikap etika, moral dan tanggung jawab. hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah, masyarakat dan Negara untuk mengisi pola dasar anak didik, yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain, sikap bertanggung jawab, rasa empati, toleransi, disiplin diri dan sebagainya (Haidar Nashir, 2013:v). Keterlibatan semua pihak termasuk guru sejarah memiliki andil dalam mengembangkan pendidikan karakter, dengan mengemas pendidikan sejarah melalui strategi pembelajaran sejarah yang inovatif kontenporer (Wena, 2013).
Widja (2012:102) menegaskan bahwa pentingnya peran pendidikan sebagai proses sosialisasi dalam pendidikan karakter, lebih-lebih dalam menghadapi masalah-masalah dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara seperti munculnya sentiment-sentimen kesukuan yang bisa mengeskalasi keseluruh anggota suku bangsa menjadi konflik terbuka. Kekhawatiran tersebut sudah terbukti seperti yang terjadi pada konflik-konflik yang terjadi di Lampung, Sumbawa.
diamantkan Pembukaan dan pasal 31 UUD 1945 kurang diperhatikan. Indikator bahwa masyarakat kurang memahami dan memperhatikan sejarah perjuangan pendahulunya adalah remaja tidak senang dan tidak berminat pelajaran sejarah karena tidak menarik, tidak penting karena tidak di UN-kan, dianggap pelajaran tambahan yang dapat diajarkan oleh siapa saja.
Pengabaian pelajaran sejarah di sekolah akan berakibat makin rendahnya pengetahuan generasi muda tentang masa lampau tentang proses terjadinya bangsa Indonesia. Bahkan dalam jangka panjang berakibat hilangnya jati diri atau krisis identitas, ketidaktahuan posisi Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, antarbangsa dan peradaban dunia serta nasionalisme Indonesia. Bisa jadi cara pandang anak didik menjadi ahistoris dan kurang memahami proses integrasi dan perjuangan panjang untuk menjadi bangsa Indonesia. Keadaan demikian sejalan dengan pendapat Benidict Anderson (2008) bahwa bangsa Indonesia sebagai
imagine communities (komunitas-komunitas terbayang). Keadaan yang demikian
dapat dijadikan tantangan guru sejara, bagaimana mengajarkan sejarah sehingga siswa dapat memetik nilai sejarah yang terkandung didalamnya dengan menggunakan metode dan media mengajar (G.P Hill, 1956: 35). Dengan meminjam pendapat (Behan McCullagh, 2010:301) bahwa pembelajaran sejarah di sekolah dan universitas hendaknya mampu melatih siswa berpikir kritis sehingga mampu kritis terhadap fakta sejarah, kritis terhadap interpretasi, dan penjelasan sejarah.
memiliki semangat kebangsaan sehingga memiliki jati diri yang kokoh dan bermatabat.
Secara umum dikatakan sejarah adalah peristiwa masa lampau. Terkait masalah ini Sidi Gazalba (1966:11) menjelaskan sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia sebagai makhluk sosial dan kehidupan manusia dengan lingkungannya yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan pemahaman tentang apa yang telah terjadi di masa lalu. Sementara Carr (1982:30) menegaskan bahwa sejarah merupakan proses interaksi yang terus-menerus antara sejarawan dengan fakta-faktanya, sebuah dialog tanpa henti antara masa sekarang dengan masa lampau. Senada dengan Carr, Soedjatmoko (1983:67) mengatakan sejarah adalah proses interaksi yang terus menerus antara realitas sosial dengan manusia pada setiap titik pada garis waktu. Oleh karena itu, harus ditafsir bahwa masa lampau dalam sejarah bersifat dinamis, maksudnya bahwa masa lampau itu bukan suatu final, tetapi bersifat terbuka dan terus berkesinambungan dengan masa kini dan masa yang akan datang. Oleh karena itu, sejarah dapat diartikan sebagai ilmu yang meneliti dan mengkaji secara sistematis dari keseluruhan perkembangan masyarakat dan kemanusiaan di masa lampau dengan segala aspek kejadiannya, untuk kemudia dapat memberi penilaian sebagai pedoman penetuan keadaan sekarang, serta cermin untuk masa yang akan datang.
Pengembangan pembelajaran sejarah yang mengembangkan pendidikan intelektual dan pendidikan kemanusiaan/moral, harapannya dapat menopang tercapainya tujuan pendidikan nasional. Pembelajaran sejarah akan dapat melandasi pendidikan intelektual,kecerdasan emosional, serta kecerdasan spiritual. Namun harus diakui pembelajaran sejarah di Indonesia masih memprihatinkan. Terhadap masalah ini Widja (1991) memberikan alternatif pemecahan terhadap pembelajaran sejarah yang dicap sebagai pelajaran hapalan yang didominasi oleh situasi mencatat dan ceramah dengan mengadakan pembaharuan pengajaran sejarah.Bahkan Widja (2002) menegaskan bahwa pengajaran sejarah syogyanya tidak lagi terlalu menekankan pengajaran hapalan fakta serta afektif doktriner tetapi lebih sarat dengan latihan berpikir historis kritis analitis, membuat murid cerdas menghadapi tantangan zaman. Oleh Soedjatmoko (1995) hal tersebut perlu didukung dorongan emansipatoris terhadap berbagai prasangka ahistoris dalam lingkungan kehidupan, dan juga kemauan dari berbagai pihak untuk menuju perubahan tersebut.
B. Membangun Karakter Bangsa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, ahklak atau budi perkerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan Pendidikan Karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik gunaa membangun karakter pribadi dan atau kelompok yang unik, sebagai warga Negara yang baik.
kuat sebagai contoh jujur, empati, perhatian, ketekunan, disiplin diri sendiri dan dorongan moral. Kedua, sekolah merupakan tempat yang baik untuk mengajarkan, menyebarluaskan nilai-nilai karakter bangsa. Ketiga, pendidikan karakter sangat penting untuk membangun sebuah masyarakat yang bermoral.Sedangkan Menurut Haryati (2010) terdapat empat jenis pendidikan karakter yang dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu: (1) pendidikan berbasis nilai religious yang meruapakan kebenaran wahyu Tuhan (konservasi moral); (2) pendidikan karakter berbasis budaya, antara lain berupa budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan, tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa (konservasi lingkungan); (3) pendidikan karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungn); (4) pendidikan karakter berbasis potensi diri yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran perberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.Pendidikan karakter yang bertujuan membangun karakter bangsa di sekolah sejalan dengan pendidikan karakter yang berbasis potensi diri
Nilai-nilai pendidikan karakter yang digali melalui pembelajaran sejarah menunjukkan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial kultural dapat dikelompokkan dalam: olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (physical and kinesthetic development) dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Keempat proses psikososial tersebut secara holistic dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, serta masing-masing proses psikososial secara konseptual merupakan gugus nilai luhur yang didalamnya terkandung nilai (Kemendiknas, 2010:8-9) seperti pada tabel berikut ini
Olah Rasa/Karsa ramah, saling menghargai, toleran,
peduli, suka menolong, gotong royong,
peserta didik, serta membangkitkan kesadaran akan suatu dimensi yang paling mendasar dari keberadaan manusia, yakni kontinuitas. Kontinuitas pada dasarnya adalah gerakan peraihan secara terus menerus dari masa lampau ke masa kini dan masa depan.
Selain itu pendidikan sejarah dituntut pula untuk mengembangkan keterampilan berpikir dalam proses pembelajarannya. Melalui pendidikan sejarah peserta didik diajak menelaah keterkaitan kehidupan yang dialami diri, masyarakat dan bangsanya, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi muda yang memiliki kesadaran sejarah, mendapatkan inspirasi atau hikmah dari kisah-kisah pahlawan, maupun tragedi nasional, yang pada akhirnya mendorong terbentuknya pola berfikir kearah berpikir secara rasional kritis empiris, dan juga tidak kalah pentingnya ialah pembelajaran sejarah yang mengembangkan sikap mau menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Misi pembelajaran sejarah yang demikian sesuai dengan pendapat Bordillon (1994) bahwa tujuan pendidikan sejarah adalah membantu peserta didik meraih kemampuan sebagai berikut: (1) memahami masa lalu dalam konteks masa kin, (2) membangkitkan masa lalu yang bermakna, (3)membantu memahami identitas diri, keluarga, masyarakat dan bangsa, (4) memahami akar budaya dan interelasinya dengan berbagai aspek kehidupan nyata, (5) memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang Negara dan budaya bangsa lain di berbagai belahan dunia, (6) melatih berikuiri dan memecahkan masalah, (8) mempersiapkan peserta didik untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tujuan ini sejalan dengan rumusan tujuan pendidikan sejarah yang dirumuskan Depdiknas (2003) yang menyatakan bahwa pendidikan sejarah bertujuan untuk menyadarkan siswa akan adanya proses perubahan dan perkembangan masyarakat dalam dimensi waktu, dan untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam menemukan memahami, dan menjelaskan jati diri bangsa di masa lalu, masa kini, dan masa depan di tengah-tengah perubahan dunia.
berkorban.. Sejarah nasional perlu menimbulkan kebanggaan nasional (national pride), harga diri, rasa swadaya. Dengan demikian sangat jelas bahwa pelajaran sejarah tidak semata-mata memberikan pengetahuan, fakta, dan kronologi. Dalam pelajaran sejarah perlu dimasukan biografi pahlawan mencakup soal kepribadian, perwatakan semangat berkorban, perlu ditanam historical mindedness, perbedaan antara sejarah dan mitos, legenda, dan novel histoties.
Apabila suatu kepribadian turut membentuk identtitas seseorang individu atau suatu komunitas, kiranya tidak sulit dipahami bahwa kepribadian berakar pada sejarah pertumbuhannya. Berarti kesadaran sejarah sangat esensial bagi pembentukan kepribadian. Analog dengan sosiogenesis individu, kepribadian bangsa juga secara inheren memuat kesadaran sejarah, hal ini menandakan bahwa sejarah dan pendidikan memiliki hubungan yang erat dalam proses pembentukan kesadaran sejarah. Apabila sudah disadari hubungan erat antara sejarah dengan pendidikan, memang belum ada jaminan bahwa makna dasar dari sejarah telah bisa diwujudkan untuk menunjang proses pendidikan tersebut. Masih diperlukan aktualisasi nilai-nilai sejarah dalam kehidupan yang nyata. Dengan kata lain, sejarah tidak akan berfungsi bagi proses pendidikan yang menjurus kearah pertumbuhan dan pengembangan karakter bangsa apabila nilai-nilai sejarah tersebut belum terwujud dalam pola-pola perilaku yang nyata.
karena tidak seorangpun mengetahui apa yang bisa dia lakukan sampai dia mencobanya, maka satu-satunya kunci untuk mengetahui apa yang bisa dia perbuat adalah apa yang telah diperbuat. Dengan demikian nilai dari sejarah adalah bahwa sejarah telah mengajarkan tentang apa telah manusia kerjakan, dan selanjutnya apa sebenarnya manusia itu.
Menurut Suaytno Kartodirdjo (1989:1-7) kesadaran sejarah pada manusia sangat penting artinya bagi pembinaan budaya bangsa. Kesadaran sejarah dalam konteks ini bukan sekedar memperluas pengetahuan, melainkan harus diarahkan pula kepada kesadaran penghayatan nilai-nilai budaya yang relevan dengan usaha pengembangan kebudayaan itu sendiri. Kesadaran sejarah dalam konteks pembinaan budaya bangsa dalam membangkitkan kesadaran bahwa bangsa itu merupakan suatu kesatuan sosial yang berwujud melalui suatu proses sejarah, yang akhirnya mempersatukan sejumlah nation kecil dalam suatu nation besar yaitu bangsa. Dengan demikian indikator-indikator kesadaran sejarah tersebut dapat dirumuskan mencakup: menghayati makna dan hakekat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang; mengenal diri sendiri dan bangsanya; membudayakan sejarah bagi pembinaan budaya bangsa; dan menjaga peninggalan bangsa.
1.3 Penutup
Banyak materi sejarah yang dapat dimanfaatkan untuk membangun karakter bangsa, dan harus ditunjang dengan penggunaan startegi, pendekatan serta metode mengajar sejarah yang inovatif, sehingga diharapkan terjadi proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai luhur keindonesiaan seperti nilai-nilai religiositas, kemanusiaan dan keadilan, nasionalisme, patriotism, demokrasi, kearifan, keteladanan. Untuk itu diperlukan motivasi dalam diri sejarawan pendidik untuk mengubah pembelajaran sejarah yang menekankan ceramah menjadi pelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan menyentuh aspek-aspek afektif (kecerdasan emosional dan spiritual). Dengan demikian pembelajaran sejarah yang menekankan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual melahirkan kesadaran sejarah yang sejati.
Daftar Pustaka
Behan McCullagh. 2010. Logic of History Perspektif Posmodernisme (Ika Diyah Candra Penerjemah). Yogyakarta: Lilin Persada Press
Benedict Anderson. 2008. imagine communities (komunitas-komunitas terbayang) Omi Intan Naomi Penerjemah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bourdillon, H.1999. Teaching History. London: Routledge Carr, E.H. 1972. Whats is History. New York: Alfred A. Knopt
Collingwood, RG. 1973, The Idea of History. London; Oxford University Press Djoko Suryo. 1996.”Pengembangan Kajian Sejarah Dalam Kurikulum SLTA”.
Makalah. Disampaikan pada Acara Seminar Dalam rangka Dies Natalis IKIP Semarang, 13 Maret 1996.
G.P. Hill. 1956. Saran-saran Tentang Mengajarkan Sejarah. Jakarta: Perpustakaan Perguruan Kem. P.P dan K.
Haedar Nashir. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya. Yogyakarta: Multipresindo
Ismaun. 2005. Pengantar belajar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan .Bandung : Historia Utama Press
Kabul Budiono. 2007. Nilai-nilai Kepribadian dan Kejuangan Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Sidi Gazalba. 1966. Sedjarah sebagai Ilmu. Jakarta: Bhratara
Soedjatmoko. 1983. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES Soedjatmoko. 1995. Sejarawan Indonesia dan Zamannya. Dalam Soedjatmoko
Pustaka Utama.
Syatno Kartodirdjo. 2000. “Teori dan Metodologi Sejarah dalam Aplikasinya” dalam Historika, No. 11 Tahun XII. Surakarta: Program Pasca Sarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta KPK Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Wena. 2013. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontenporer. Jakarta: Bumi Aksara Widja. 1991. Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah.
Bandung: Angkasa
Widja. 2002. Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.