BAB I
PENDAHULUAN
Sudah umum diketahui bahwa sejarah adalah bagian yang selalu ada dalam setiap pembahasan semua disiplin ilmu. Karena dari sejarahlah kita akan mengetahui latar belakang, asal mula yang akan sangat berguna saat kita akan membahas disiplin keilmuan itu selanjutnya. Ilmu sejarah adalah salah satu ilmu-ilmu yang paling agung derajatnya, tinggi kedudukannya. Cukuplah Allah swt yang menggambarkan betapa agungnya ilmu ini dengan mengisi sebagian besar al-Quran dengan cerita, sejarah, kisah-kisah orang terdahulu.
Rasulullah juga seringkali menceritakan pada para sahabat tentang cerita-cerita umat terdahulu. Ini menunjukkan bahwa ilmu sejarah adalah ilmu yang sangat penting, sehingga Tuhan dan utusan-Nya yang paling mulia sering menggunakannya untuk mengajari manusia. Bahkan menjadikan sejarah sebagai hujjah untuk mengkritik ahli kitab. Sebagaimana juga dilakukan Abu Bakar Khatib al-Baghdady saat menjawab keresahan umat tentang pembatalan Jizyah yang dihembuskan orang-orang Yahudi Baghdad.1
Semua itu menunjukkan betapa pentingnya kita mempelajari sejarah, dan kisah umat terdahulu. Khusus tentang peradaban di Barat Islam, kita akan dapat melacak rentetan sejarah, kemajuan dan kemunduran umat Islam saat itu. Yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk kita ambil pelajaran guna lompatan kita ke depan.
Agar jangan sampai seperti keledai yang masuk lubang dua kali. Atau agar bisa seperti nasehat pepatah, berdirilah di atas pundak raksasa. Dan kata sejarawan Barat, bahwa sejarah itu berulang. Persis seperti kalimat penutup yang dikemukakan al-Quran saat menutup kisah umat terdahulu, “sunnatallahi allati qad khalat min qabl. Walan tajida lisunnatillahi tabdilan.”
Kemunduran umat adalah pelajaran bagi kita, kalau kita tidak mau pengulangan kehancuran umat terdahulu juga terjadi pada generasi kita. Dan sebaliknya, kalau kita ingin kembali berjaya mendapat kemenangan masa lampau, maka kita juga harus memperhatikan cerita kemenangan umat terdahulu.
Pada makalah kali ini, kami akan membahas peradaban di Barat Islam yang ternyata sangat kaya dengan pelajaran sejarah dan peradaban. Membalikkan sikap para sejarawan dan tradisi mereka yang selalu memarjinalkan, bahkan mengabaikan penulisan sejarah Islam yang ada di Barat ini.
Barat Islam dikenal dalam khazanah keislaman sebagai negeri Maghrib, sebagai lawan dari Masyriq yang ada di sebelah timur, di mana Mesir adalah tengah-tengahnya. Ia adalah negeri yang pada awalnya seringkali ditinggalkan, diabaikan oleh dinasti umat Islam yang pernah menaklukkannya. Persis seperti anak buangan. Begitu berhasil dikuasai, ia ditinggalkan begitu saja, tanpa wakil ataupun gubernur. Maka tak heran bila negeri ini dicatat dalam sejarah sebagai negeri yang berkali-kali ditaklukkan. Dan ditaklukkan kembali. Sebuah hal yang tidak biasa dalam sejarah dinasti Islam.
Tapi walau begitu, siapa sangka bila ternyata negeri yang terabaikan ini justru menjadi tonggak sejarah penting, awal mula masa keemasan Islam di Andalus. Bahkan penyelamatnya dari serangan pasukan negeri Kristen di Semenanjung Iberia. Yang juga tak kalah membanggakan, di sini juga terdapat satu-satunya dinasti Islam yang berhasil memukul mundur keganasan dan kehebatan Mongol yang meluluhlantakkan Baghdad.
Dan menariknya lagi, dengan banyaknya penaklukkan dan perang tanpa henti di awal bangkitnya Islam di negeri Maghrib, memunculkan banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil tentang perpolitikan, ekonomi, sosial masyarakat bahkan mazhab dalam Islam. Juga seni dan budaya serta kemajuan ilmu pengetahuan di masa damainya.
BAB II
PEMBAHASAN
Maghrib atau Barat Islam adalah wilayah yang meliputi kawasan Afrika Utara di sebelah barat Mesir. Di masa modern sekarang, area ini meliputi area yang termasuk wilayah negara Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko.23
Penduduk asli Maghrib terdiri dari bangsa Berber. Mereka menyebar dari Afrika Barat yang bersinggungan dengan Samudera Atlantik hingga oase Siwa di Mesir, dan dari pesisir laut Mediterania sampai sungai Niger. Sekarang suku Berber banyak mendiami negara kawasan Libya, Tunis, Aljazair, Maroko dan dan beberapa negara lain yang dekat dengan gurun Sahara Barat. Diperkirakan populasi mereka mencapai 97% dari penduduk Afrika Utara dan Barat.
Mayoritas suku Berber memeluk agama Islam, sebagai akibat dari datangnya kebudayaan Arab di kawasan ini. Suku Berber bekerja di sektor peternakan dan perdagangan serta kerajinan logam dan ujian. Suku Berber kuno mengekspersikan pikiran melalui lukisan-lukisan di dinding gua dan ukiran batu.
Bahasa Berber disebut juga bahasa Tamazight.4 Selain itu mereka juga berbicara memakai bahasa Arab dengan aksen Berber yang khas.5 Bahasa ini digunakan oleh tidak kurang 20 juta penduduk dunia.
Orang Berber terkenal mudah berganti-ganti keyakinan. Ketika itu bahkan, sebagaimana diceritakan Syaikh Ibnu Abi Zaid, mereka murtad sebanyak dua belas kali. Keislaman mereka pun tidak penuh, kecuali semasa Musa bin Nushair dan Ismail bin Ubaidillah bin Abul Muhajir. Umar bin Abdul Aziz juga pernah mengutus 10 orang tabiin untuk mengajari mereka agama Islam. Dari sini diketahui bahwa Maghrib pada masa awal Islam memeluk ajaran salaf Islam.
Paham Khawarij pernah menyebar di kalangan Berber di Ifriqiyah. Kekuatannya cukup berpegaruh hingga berperan dalam berdirinya dinasti Rustamiyah (776-909 M). Politik Syiah revolusioner sendiri berasal dari Arab Tengah dari orang-orang Qarmatian pada abad 9 M. Dinasti Fatimiyah menganut paham ini.6
Pada mulanya penduduk Maghrib menganut mazhab Fiqh Hanafi selama lebih dari 400 tahun di Tripoli. Iyadh menyebutkan dalam kitabnya “Madarik”,
2 Abdul Wahid Dhanun Thaha, Muslim Conquest & Settlement of North Africa and Spain, London: Routledge, 1989, hal. 19.
3 Phillip Chiviges Naylor, North Africa: A History from Antiquity to the Present, Texas: The University of Texas Press, 2009, hal. 253.
4 The Amazigh Issue in Morocco, laporan Tamazgha, NGO yang memperjuangkan hak-hak kaum Berber. Diikutsertakan dalam 62nd Session of the Committee for the Elimination of Racial Discrimination, Genewa, Swiss, 21 Maret 2003. Diunduh dari www.mondeberbere.com
5 http://en.wikipedia.org/wiki/Berber_languages
mazhab Abu Hanifah menjadi mazhab pilihan orang-orang di Ifriqiyahh (Tripoli) selama lebih dari 400 tahun. Pada perkembangannya kemudian, mayoritas penduduk Maghrib justru identik dengan mazhab Maliki.
Yang umum diketahui bahwa mazhab Maliki ini pertama muncul di Andalus, kemudian menyebar ke Maghrib pada masa Idrisiyah oleh Asad bin al-Furat dan Abdul Salam bin Said at-Tanawwukhi.
Di kawasan ini, qira’ah Nafi’ bin Abi Nuaim dibawa oleh Abu Abdullah Muhammad al-Khairun, orang Andalus yang tinggal di Qairawan pergi ke Masyriq7 pada awal abad keempat Hijriah. Ia pulang ke Tripoli membawa qira’ah Nafi’, menggantikan qira’ah Hamzah yang lebih dulu ada.8
B. Periodesasi Sejarah Maghrib 1. Pra Islam
Maghrib memiliki sejarah panjang dari era Pra-Sejarah, bagian dari Dinasti Ptolemi Mesir, Kerajaan Carthage, Kerajaan Berber (Numidia, Mauretania dan Garamante) hingga dikuasai kekaisaran Romawi pada abad II sebelum Masehi. Pada masa itu, kawasan ini terkenal sebagai penghasil gandum dan minyak zaitun. Masa keemasan Afrika Utara terjadi pada masa Pax Romana (27 SM - 180 M).
Bersamaan dengan runtuhnya Romawi Barat pada abad kelima Masehi, Maghrib pernah jatuh ke tangan bangsa Vandal dari Spanyol. Pada abad keenam, Romawi Timur (Bizantium) berhasil mengusir Vandal menguasai Maghrib kembali. Hanya saja, di era Bizantium, tidak tercapai stabilitas politik, keamanan dan ekonomi di area ini. 9
2. Masuknya Islam ke Maghrib
Kedatangan Islam di Afrika Utara pertama kali pada masa khalifah Umar ibn al-Khathab. Pada masa itu kekuasaan Islam di tahun 640 M, sudah berhasil memasuki Mesir di bawah komando ‘Amr ibn al-‘Ash. Tahun 642
7 Masyriq adalah sebutan untuk dunia Islam yang berada di wilayah timur pada abad pertengahan. Masyriq meliputi kawasan di sebelah timur Mesir, sebelah utara Jazirah Arabia. Sekarang masuk wilayah negara Iraq, Syiria, Palestina, Jordan dan Lebanon. Lihat entri “Mashriq” di Wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Mashriq.
8 Abu Abbas Ahmad bin Khalid an-Nashiri, Al-Istiqsha li akhbar duwal Maghrib al-Aqsha. Tahqiq: Ja’far an-Nashiri. Darul Kitab, ad-Dar al-Baydha, 1997, hal. 196.
pasukan ‘Amr mencapai Barqa dan sebulan kemudian Tripoli di provinsi Ifriqiyah.10 Tidak lama setelahnya, pasukan Islam kembali ke Mesir.
Selanjutnya pada masa kekhalifahan Usman bin Affan, Abdullah bin Sa’ad ditunjuk sebagai gubernur Mesir. Abdullah membawa pasukan Islam menuju Barqa bersama Uqbah bin Nafi’. Sampai di Tripoli, dia dihadang pasukan Romawi yang dipimpin gubernur Romawi, Gregorius pada tahun 28 H atau 684 M. Dengan tewasnya Gregorius dalam perang tersebut, Ifriqiyah bersedia membayar jizyah. Akan tetapi khalifah Utsman tidak menunjuk seorang gubernur pun untuk berkuasa di tempat tersebut. Pasukan Islam kembali ke Mesir setelah 5 bulan. Kekhalifahan Islam menghentikan ekspansi ketika terjadi al-Fitnah al-Kubra di masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib.11
3. Bani Umayah
Pada waktu kekuasaan Islam berpindah kepada Bani Ummayah. Usaha ekspansi kembali dilakukan guna merebut Ifriqiyahh dari Romawi. Pasukan Umayah dipimpim oleh Uqbah bin Nafi al-Fahri (wafat 683 M), yang telah menetap di Barqa sejak daerah itu ditaklukkan.
Pada tahun 50 H/670 M ‘Uqbah mendirikan kota Qayrawan, kota militer disebelah selatan kota Tunis. Qayrawan terletak agak jauh dari laut guna mengendalikan kekuatan Berber dan menghindari serangan armada laut Bizantium.12
Selama lima tahun berkuasa, ‘Uqbah sering berperang dan membawa banyak ghanimah sambil berdakwah. Hasilnya banyak orang Berber memeluk agama Islam dan terjadi arabisasi antara Arab dan Berber. ‘Uqbah turun tahta setelah penggabungan wilayah Ifriqiyahh dengan Mesir yang ketika itu dipimpin oleh Maslamah bin Mukhallid.13
Muawiyah menunjuk Abu al-Muhajir Dinar untuk mengurus Ifriqiyah dan menerapkan kebijakan yang berbeda dengan pendahulunya. Abu al-Muhajir lebih memilih pendekatan politis dan persuasif guna merangkul Berber untuk menghadapi Romawi. Di antara pencapaian Abu al-Muhajir adalah penaklukkan Aljazair atau al-Maghrib al-Ausath.
10 Ifriqiyah adalah sebutan untuk area yang pernah jadi bagian dari provinsi Bizantium di Afrika Utara. Area ini meliputi Tripolitania (Libya bagian barat), Tunisia dan Aljazair bagian timur.
11 Asham ad-Din Abd ar-Rauf al-Fiqy, Tarikh al-Maghrib wa al-Andalus, Kairo: Nahdhat asy-Syarq., Universitas Kairo, hal. 16.
Tahun 64 H/682 M suku Berber memberontak dan mengalahkan ‘Uqbah yang diangkat kembali menjadi gubernur. ‘Uqbah tewas dalam pertempuran. Dalam kondisi seperti ini kekuatan Islam di Ifriqiyah melemah karena ancaman juga datang dari Romawi.
Perubahan sosial dan politik secara drastis terjadi saat masa gubernur Hasan bin an-Nu’man al-GHasani. Hasan merangkul Berber dengan mengikutsertakan mereka dalam pasukan dan lingkungan pemerintahan. Nu’man juga sukses menaklukkan Carthage hingga kekuatan Romawi benar-benar angkat kaki dari Ifriqiyah.
Saat khalifah al-Walid bin Abdul Malik mengangkat Musa bin Nusair tahun 708 M sebagai penerus Nu’man, keadaan relatif stabil. Dengan mudah, wilayah Islam meluas hingga mencapai Aljazair dan Maroko. Pencapaian paling monumental adalah ketika Musa mengirim pasukan yang dikepalai Thariq bin Ziyad menyeberang ke Andalusia di Spanyol pada tahun 711. Pasukan Thariq berhasil mengalahkan penguasa Visigoth, raja Roderick dan menduduki kota-kota penting seperti Sevilla, Granada, Toledo dan Cordoba. Kekuasaan Bani Umayah di Andalusia bertahan hingga hampir tiga abad lamanya.14
4. Raja-raja Kecil di Masa Abbasiyah
Wilayah kekuasaan Islam terus meluas selama masa Abbasiyah. Hanya saja dinasti penerusnya terlalu cepat kehilangan kekuasaan atas beberapa provinsi terpencil yang kemudian memerdekakan diri dan menolak mengakui Dinasti Abbasiyah. Walau begitu, jabatan gubernur di daerah lain tetap jatuh ke tangan dinasti-dinasti yang tetap mengakui Abbasiyah.15
Maghrib yang menjadi bagian barat dunia Islam tetap sulit dikendalikan. Bukan hanya karena problem jarak dan komunikasi, namun juga karena peradaban Afrika Utara relatif lebih tertinggal dibanding dengan Timur Tengah, Iran atau Asia Tengah.
Sebaliknya, kesetiaan pada Dinasti Umayah tetap kuat di Andalusia dan Semenanjung Iberia. Abdurrahman ad-Dakhil, seorang keturunan Bani Umayah lolos dari kejaran Abbasiyah hingga ke Spanyol. Dialah yang
14 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, Terj. Rosida, Jakarta: Aksara Qalbu, 2009, hal. 92.
kemudian menciptakan kembali negara Umayah di Spanyol dari tahun 756-1031 M.16
Di antara dinasti-dinasti yang muncul pada masa Abbasiyah adalah:
a. Rustamiyah (776-909 M)
Dinasti ini merupakan negara penganut paham Khawarij Ibadiyah yang menguasai Maghrib Tengah selama satu setengah abad. Didirikan dengan dukungan suku Berber oleh Abdurrahman bin Rustam, tokoh Ibadiyah yang berasal dari Persia sekaligus jadi raja pertamanya. Raja juga berfungsi sebagai imam (pemimpin keagamaan). Pada tahun 909, dinasti ini runtuh di tangan Kekhalifahan Fathimiyah.17
b. Aghlabiyah (800-909)
Khalifah Harun al-Rasyid menunjuk Ibrahim bin al-Aghlab dari kabilah Bani Tamim sebagai gubernur Ifriqiyah tahun 800 M. Aghlabiyah diberi otoritas penuh untuk mengatur wilayah ini karena memiliki posisi vital guna melindungi Abbasiyah dari rongrongan kaum Syiah (Bani Idris) dan Khawarij (Bani Rustam).18 Meski bebas dan berkuasa penuh di Ifriqiyah, mereka masih mengakui kekuasaan Abbasiyah dan membayar pajak ke Baghdad. Oleh karena itu, Abbasiyah menjamin tidak mengganggu kekuasaan Aghlabiyah.
Aghlabiyah kemudian diperintah oleh keturunan Ibrahim dan mencapai keemasannya pada masa Ahmad bin Muhammad (856-863). Aghlabiyah menjadi pusat perniagaan antara dunia Islam, Bizantium dan Italia. Sistem irigasi yang mutakhir membuat hasil pertanian Aghlabiyah berkembang pesat. Kota Qayrawan menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan di Maghrib.
Dinasti ini mengalami kemunduran di bawah pemerintahan Ibrahim II bin Ahmad (875-902). Serangan dinasti Tuluniyah dari Mesir dan pemberontakan Berber membuat kondisi semakin pelik. Akhirnya, Fathimiyah berhasil memanfaatkan situasi ini dan merebut kekuasaan penuh pada 909.19
16 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, hal. 78.
17 Entri “Rustamid Kingdom” dalam Ensyclopedia Britanica versi online. http://www.britannica.com/EBchecked/topic/514123/Rustamid-kingdom.
18 Husain Mu’nis, Tarikh al-Maghrib wa Hadharatuhu, Beirut : Al-‘Ashr al-Hadits, 1992, hal. 102.
c. Idrisiyah (789–974 M)
Dinasti Syiah pertama di Afrika Utara20—yang didirikan Idris I bin Abdullah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib. Beberapa tahun kemudian, Idris I terbunuh lalu digantikan Idris II.
Pada masa kekuasaan Idris II (791-828), Idrisiyah melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Dinasti ini meraih kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam yang berpusat di Fez. Setelah dinasti ini tumbang tahun 974 M di tangan Fathimiyah, bangsa Arab mulai kehilangan pengaruh politiknya di wilayah Maroko.
d. Fatimiyah (909-1171 M)
Dinasti yang berpaham Syiah Ismailiyah ini menolak untuk mengakui kekuasaan Abbasiyah dan mengikrarkan diri sebagai musuhnya. Karena itulah, pemimpin Fathimiyah juga bergelar “khalifah”.
Fathimiyah memindahkan ibukota negaranya dari al-Mahdiya di Tunisia ke Kairo, Mesir pada tahun 969 M setelah menaklukkan dinasti Ikhsidiyah di sana.
Saingan utama Fathimiyah lainnya adalah Turki Seljuk di Timur. Akan tetapi Fathimiyah tidak pernah bisa mengalahkan pengaruh politik dan militer musuh bebuyutannya itu. Meski demikian, Kairo justru tumbuh menjadi pusat ekonomi, seni, arsitektur, budaya dan pendidikan keagamaan yang cukup disegani. Salah satu peninggalan penting Fathimiyah di Mesir adalah Masjid al-Azhar yang menjadi cikal bakal Universitas al-Azhar, salah satu perguruan tinggi tertua di dunia.21
Invasi kesultanan Zengi ke kota Fustat, Mesir tahun 1171 mengakhiri riwayat Fathimiyah. Era Shalahuddin al-Ayubi di Mesir pun dimulai.
5. Murabithun (1040–1147)
Kekuasaan dinasti Berber asal Mauritania ini mencapai Andalusia di seberang Maghrib. Ketika Andalusia hampir jatuh ke genggaman kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol, Murabithun berhasil memenangkan perang di Sagrajas tahun 1086. Gabungan pasukan dari kerajaan Castilla dan Aragon berhasil dihancurkan.
6. Muwahidun (1121-1269)
Satu lagi dinasti Berber yang berpengaruh di Spanyol. Adalah Ibnu Tumart yang menggerakkan suku Berber Masmuda di Maroko dan melahirkan Muwahidun sebagai kekuatan baru. Abdul Mu’min, penguasa Muwahidun setelahnya berhasil menduduki Maghrib hingga Andalusia selama kurun waktu 1146-1212 M setelah menyingkirkan penguasa Murabithun.22
7. Bani Marin/ Mariniyah (1244-1465)
Dinasti yang didirikan oleh Berber Zenata ini mengambil kontrol atas Maroko tahun 1244 M dari tangan Muwahidun. Mereka menguasai sebagian besar Maghrib dan ikut menyokong kerajaan Muslim di Granada, Andalusia pada abad ke 13 dan 14 M.
Pada masa dinasti ini pengembara legendaris Ibnu Battuta hidup. Battuta berkeliling Afrika dan Asia selama 29 tahun.
Ada lagi beberapa dinasti yang berkuasa di Maghrib dengan wilayah yang lebih kecil seperti Dinasti Hafsiyah di Tunisia, Ziyaniyah di Aljazair, dan Wattasiyah di Maroko.
8. Era Turki Utsmani dan Penjajahan Eropa
Kedatangan Turki Utsmani yang sedang bangkit menjadi kekuatan baru, mengakhiri era Maghrib abad pertengahan (Medieval Maghrib). Pada abad 16 Masehi, Maghrib—kecuali Maroko—menjadi bagian dari provinsi Turki Utsmani. Seiring dengan invasi bangsa Eropa, wilayah Maghrib jatuh ke cengkraman kolonial. Prancis menduduki Aljazair (1830-1962), Tunisia (1881-1956) dan Maroko (1912-1956). Adapun Libya dijajah Italia dan Sekutu (1911-1951).
Daftar Dinasti pada Abad Pertengahan di Maghrib N
o
Dinasti Periode Wilayah Ibukota
1 Al-Muhaliba 771-793
Ifriqiyah (Sekarang masuk wilayah Libiya, Tunisia dan Aljazair)
2 Rustamiyun 776-909
3 Aghlabiyah 800-909 Ifriqiyah, Sisilia (Italia),
2 1659
C. Pencapaian Peradaban di Maghrib 1. Bidang Politik dan Militer
a. Arabisasi Bangsa Berber
Seiring masuknya Islam ke Maghrib, sudah terjadi percampuran antara Arab dan Berber yang merupakan penduduk asli daerah tersebut.
Keberadaan Berber sempat menjadi masalah tersendiri karena karakter orang Berber yang mudah berubah-ubah dan kurang teguh pendirian, membuat mereka sering dicurigai.23 Boleh dibilang ini lebih karena tingkat pendidikan dan keilmuan mereka yang rendah, dan terlalu percaya kepada pemimpin.
Pada masa-masa awal, perang terus menerus akibat kebijakan pemimpin politik yang berubah-ubah, khususnya terlihat pada masa awal ekspedisi Arab ke Maghrib. Saat dipimpin oleh Uqbah bin Nafi’ yang militeris dan Abu al-Muhajir yang moderat.24
Bangsa Berber relatif lebih bisa dikendalikan pada Hasan bin an-Nu’man yang merekrut tentara dari golongan ini. Tentara Berber akhirnya menjadi kekuatan militer yang diperhitungkan, apalagi berkat peran mereka dalam penaklukkan Andalus.
b. Pengusiran Kekuatan Romawi
Bangsa Romawi adalah penguasa pertama Maghrib sebelum ditendang keluar sepenuhnya dari Carthage oleh Hasan ibn an-Nu’man. Sangat wajar bila kemudian mereka berusaha mencari kesempatan untuk menyerang balik dinasti-dinasti Islam di Maghrib. Tapi tampaknya mereka tidak banyak usaha dan seolah pasrah. Bisa jadi ini karena sumber daya ekonomi Maghrib yang kurang, kecuali ditinjau dari pos-pos perdagangan.
Sayangnya, Romawi tidak punya kesempatan banyak. Apalagi setelah mereka seperti dikepung dan dibonsai oleh dinasti Abbasiyah di Masyriq dan dinasti Umayah di Andalus. Praktis satu-satunya jalan untuk menguasai Maghrib kembali adalah lewat Sisilia. Pun ini bukan jalan
23 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, hal. 102
mudah, terlebih mereka sudah terlanjur terusir, sehingga mau tak mau harus menyerang dari laut, yang belum maju pada masa itu dibanding serangan darat.
c. Perluasan Wilayah
Afrika Utara seolah menjadi daerah tengah dan perbatasan antara dua dinasti besar Islam, Abbasiyah di Masyriq dan Umayah di Andalus.
Dengan letaknya sebagai daerah netral, kurang bergengsi, dan sumber daya ekonomi rendah, membuat dua dinasti besar itu seolah melupakan Maghrib, dan membiarkan perang-perang lokal diantara negeri-negeri Maghrib sendiri.
Tak heran bila pergantian kekuasaan di dinasti ini berlangsung terus menerus selama berabad-abad lamanya, sebelum akhirnya Fatimiyah, Murabithun dan Muwahhidun menunjukkan kelas sesungguhnya negeri Maghrib kepada dunia Islam. Bahkan dua dinasti terakhir tadi, semenanjung Iberia, atau Andalusia, berhasil diselamatkan dari serangan kerajaan Kristen. Setidaknya, memperpanjang nafas zaman kejayaan negeri Islam di Semenanjung Iberia, atau Andalus.
d. Dukungan kepada Andalus; saat pendirian, sampai penaklukannya. Setelah sempat merasakan keteraturan kota dan bahkan administrasinya, lagi-lagi Maghrib mengalami kekacauan. Dengan sebab yang lagi-lagi sama, yaitu pemimpinnya, Hasan bin Nu’man kembali ke Masyriq. Dan seperti biasa, rakyat Berber kembali pada kekacauan sebelumnya, seperti pernah terjadi saat ditinggal oleh Habib, Abul Khattab, dan tokoh Arab lainnya diakibatkan banyaknya perbedaan kekuasaan Berber pada masa kekosongoan pemimpin.
orang Berber kemudian memeluk Islam di tangan Ismail bin Ubaidillah Abu al-Muhajir pada tahun 101 H, di masa Umar bin Abdul Aziz.
Dengan karakter Musa yang intelek, mulia, pemberani dan wara’ serta bertakwa kepada Allah swt.25 Ditambah dengan kekuatan, loyalitas dan keberanian bangsa Berber, maka dengan cepat ia berhasil memenangi setiap pertempurannya di wilayah Maghrib hingga ke Tangier. Dan akhirnya, ia pun mengutus Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan Andalus dari kerajaan Visigothic Kristen. Thariq membawa 12 ribu pasukan Berber dan sedikit orang Arab.
Selain pernah menjadi pasukan inti penakluk Andalus, Berber di Maghrib juga pernah menjadi penyelamatnya. Yaitu pada saat masa raja-raja lokal di Andalus tahun 1035, diserang oleh raja-raja-raja-raja Kristen, dimulai dari serangan Alfonso VI dari Leon dan Castilla. Sebelum semuanya terlambat habis, Murabithun dan selanjutnya Muwahhidun, berhasil menyelamatkan sebagian wilayah Islam di Andalus.
2. Administrasi
Pada masa Hasan bin Nu’man al-Ghasani, administrasi kota menjadi lebih rapi. Dengan membentuk dawawin (kantor-kantor adminstratif).26 Ini baru bisa dilakukan setelah Hasan berhasil mengeluarkan Romawi dari Maghrib seutuhnya. Dengan tak adanya perang berkepanjangan dengan musuh, Hasan bisa dengan leluasa mengatur pemerintahannya.27
3. Ekonomi
Maroko menjadi pusat perdagangan, menghubungkan dunia timur (Arab, Persia, India, Cina, Malaka, Maluku) dengan barat (Spanyol dan Eropa).28
Kebangkitan ekonomi bangkit bersamaan dengan ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan bangsa Arab pada masa Aghlabiyah, dari hasil harta rampasan perang dan harta gereja Romawi.29
25 Abul Abbas Ahmad bin Khalid bin Muhammad an-Nashiri. Tahqiq: Ja’far an-Nashiri, Al Istiqsha li akhbar duwal al-Maghrib al-Aqsha, Juz 1, hal 151.
26 Hasan Mo’nes, Tarikh al-Maghrib wa Hadharatuhu, hal. 105.
27 Abul Abbas Ahmad bin Khalid bin Muhammad an-Nashiri. Tahqiq: Ja’far an-Nashiri, Al Istiqsha li akhbar duwal al-Maghrib al-Aqsha, hal. 160.
28 Alice Magienis and Johon Conrad Appel, American Book Company, New York, 1961, hal. 164
Tata niaga yang sudah maju di kota Fez. Dengan mendirikan/ mengatur sentra-sentra perdagangan dan produksi di kota. Yang terkait dengan gengsi usaha seperti pengacara dan toko sepatu yang dekat dengan masjid. Dan tingkat polusi yang dihasilkan, seperti pabrik-pabrik, penjual daging yang terletak di pinggiran kota. Juga ada kaitan dengan beberapa usaha yang saling menunjang, seperti toko buku dan penjual kertas.30
Pola perdagangan laut nyaris tidak berubah, dengan perubahan politik apapun.31 Selain melakukan perdagangan laut, negeri Maghrib juga punya rute perdagangan darat yang disebut dengan perdagangan trans Sahara, baik di barat maupun di timur.32
Pertanian Aghlabiyah sudah sangat maju dan berhasil. Tak lain karena mereka berhasil mempelajari dan menerapkan sistem irigasi peninggalan Romawi.
4. Sosial
Di mana bangsa Arab? Meski tidak terisolasi, tapi bangsa Arab jarang menjadi pemain signifikan. Dengan kedatangan Islam, Madinah sempat sesaat menjadi ibukota Negara Islam yang semakin meluas, dan semenanjung Arab menikmati kebangkitan selama beberapa abad, sebelum turun menjadi kesukuan terbelakangan dan cenderung berperang.33
Sempat membuat kejutan dengan gerakan dari Bani Qaramitah, Arab Tengah yang menguasai Arabia, termasuk Oman. Dan terus menyebar hingga ke pedalaman Irak, Syiria bahkan Mesir. Sebuah gerakan radikal dan revolusioner hingga pernah mencuri Hajar Aswad karena dianggap takhayul. Dikembalikan setelah dibujuk dinasti Fatimiyah, 20 tahun kemudian. Sampai kemudian Qaramithah digulingkan Abbasiyah dan Seljuk Turki yang bersekutu dengan seorang pemimpin Arab lokal, bangsa Arab tetap terisolasi dan terbelakang. Tidak memainkan peran politik penting dunia Islam, hingga ditemukannya minyak pada abad ke-20. 34
Berber. Mudah berubah-ubah pandangan politik dan mazhab agama, bergantung siapa pemimpin mereka. Ia di Maghrib seringkali menjadi ‘korban’ perlakuan bangsa Arab pendatang. Terkadang diperlakukan dengan
30 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, hal. 180. 31 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, hal. 89.
32 Malise Ruthven & Azim Nanji, Historical Atlas of Islam, Harvard University Press, 2004, hal. 68-72.
baik tapi kadangkala dengan kasar dan dimusuhi. Bisa jadi ini karena karakter bangsa Berber yang mudah berubah-ubah dan jarang bisa menerima Islam secara kaffah.
Sebagian besar bangsa yang mendiami Maghrib adalah Berber sebagai pribumi dan Arab sebagai pendatang. Sedangkan sebagian kecil lainnya adalah orang Persia dan Khurasan.
5. Seni & Budaya a. Arsitektur
Kapan tepatnya seni dan arsitektur Islam muncul sebagai satu gaya tersendiri masih menjadi perdebatan. Tapi yang paling perlu digarisbawahi adalah, karakteristik awal yang paling menonjol adalah sifatnya yang fleksibel yaitu siap menerima pengaruh-pengaruh dari budaya-budaya di sekitarnya.35
Bangunan-bangunan awal mereka, dimulai sejak abad 9 M, merupakan gabungan arsitektur dan elemen dekoratif dari dua dinasti besar, baik Abbasiyah di timur maupun Umayah di Andalus. Setelah abad 11 M, bersamaan dengan luasnya invasi yang dilakukan suku Arab Banu Hilal, dua tradisi di atas menjadi tampak bertentangan. Sehingga penggabungan itu menjadi tak mungkin lagi; maka sebagian tetap menjaga identitas Andalus, seperti Maroko. Apalagi dengan adanya emigrasi orang-orang Arab ke Afrika Utara dan kekuatan politik Afrika Utara yang sempat menguasai Andalus.
Setelah hilangnya hubungan dengan Muslim Andalus pada abad 13, ditandai keruntuhan Muwahhidun, Maghrib kembali terisolasi dari sisa-sisa dunia Islam. Meskipun dinasti Utsmaniyah sempat menguasai Maghrib, tapi Maroko terhalang oleh gunung. Ia pun tak sempat mencicipi dominasi Turki pada masa itu. 36
b. Seni Lukis dan Gambar
Pada abad 10 M, sudah digunakan permainan warna. Meski hanya dengan sedikit komponen perpaduan. Dengan gambar-gambar cekukan yang sederhana. Kemampuan ini semakin meningkat hingga pada abad 13, yang tampak pada gambar Bayad wa Riyadh, yang sudah sangat maju. Dengan
35 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, hal. 56
permainan gradasi warna, komponen warna yang lebih kaya dan garis gambar yang lebih halus untuk manusia, dan tegas untuk bangunan.
Tapi sangat berbeda dengan ilustrasi ukiran yang sungguh sangat maju. Detail-detail lekukan sudah sangat mirip dengan aslinya, dan bahkan sangat rumit. Seperti terlihat dalam cawan suci Andalusia yang dibuat untuk al-Mughira tahun 968 M.
c. Sastra
Salah satu peninggalan penting sastra dari Afrika Utara adalah kontribusi cerita dalam Arabian Nights, yang sesungguhnya lebih menggambarkan petualangan-petualangan orang India. Tapi justru menjadi begitu popular dan terkenal saat diarabkan. Juga cerita tentang Sinbad si Pelaut yang berasal dari Oman, dan Pangeran Aladin.37
Roman-roman yang ada pada masa itu juga sudah sangat maju. Khususnya terkait penggambaran cinta dan wanita, yang pada masa itu di peradaban dunia lain, masih dianggap sebagai obyek seks, dan tempat peranakan.
6. Ilmu Pengetahuan a. Universitas Qairawan
Pada masa Aghlabiyah dibangun sebuah masjid yang di dalamnya dibuat juga sebuah madrasah tempat pembelajaran, untuk ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum. peran lembaga universitas ini bisa disandingkan dengan Universitas Paris di abad pertengahan.
Pada abad ke 9, kota Qairawan menjadi kiblat ilmu pengetahuan di Arab dan kebudayaan Islam, yang menarik minat banyak cendekiawan dari berbagai belahan dunia Islam. Pada masa itu, Imam Sahnun dan Asad bin al-Furat berhasil menjadikan Qairawan sebagai pusat ilmu dan pusat penyebaran ilmu pengetahuan Islam.38
b. Ibnu Battuta
Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko.
37 David Nicolle, Atlas Sejarah Dunia Islam, hal 88.
Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.
Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri. Sebagian lainnya ia dapatkan dari hasil bertanya kepada pedagang, sumber informasinya yang utama untuk mengetahui jarak sebuah wilayah yang belum ia datangi.
Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji—ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern). Ia dianggap sebagai pengembara terbesar sepanjang masa.39
c. Ibnu Khaldun
Ia adalah seorang penulis sejarah Muslim, yang juga sering dianggap sebagai bapak bagi ilmu modern seperti penulisan sejarah,40 sosiologi,41 bahkan ilmu ekonomi.42
Ibnu Khaldun telah meninggalkan beberapa karya diantaranya tentang sejarah dunia, al-Kitab al-Ibar. Secara signifikan, tulisan-tulisan tersebut tidak disinggung dalam otobiografinya, menyarankan mungkin itu Ibnu Khaldun melihat dirinya pertama dan terutama sebagai seorang sejarawan dan ingin dikenal atas semua sebagai penulis al-Kitab al-Ibar. Dari sumber lain kita tahu dari beberapa tulisan lainnya, terutama selama ia menghabiskan waktu di Afrika Utara dan Andalus. Buku pertamanya, Lubab al-Muhassal, sebuah komentar untuk teolog Islam Fakhr al-Din al-Razi, ditulis pada usia 19 tahun di bawah pengawasan gurunya al-Abili di Tunis. Sebuah karya tentang tasawuf, Sifa al-Sail, yang terdiri sekitar 1.373 halaman di Fes, Maroko. Sementara di istana Muhammad V, Sultan Granada, Ibnu Khaldun menyusun buku logika, Allaqa li al-Sultan.
39 Nehru, Jawaharlal (1989). Glimpses of World History. Oxford University Press, hal. 752. 40 Gates, Warren E. (1967). The Spread of Ibn Khaldûn's Ideas on Climate and Culture. Journal of the History of Ideas (University of Pennsylvania Press) 28 (3): hal. 415–422. 41 Dhaouadi, M. (1 September 1990). Ibn Khaldun: The Founding Father Of Eastern Sociology. International Sociology 5 (3): hal. 319–335.
al-Kitab al-Ibar karya utama Ibnu Khaldun ini, pada awalnya dipahami sebagai buku tentang sejarah Berber. Kemudian, fokus diperlebar sehingga dalam bentuk akhirnya (termasuk metodologi dan antropologi), sebagai sebuah buku yang mewakili apa yang disebut dengan "sejarah universal". Buku ini dibagi menjadi tujuh bab, yang pertama, Muqaddimah, bisa dianggap sebagai satu pekerjaan yang terpisah. Buku 2-5 mencakup sejarah umat manusia sampai masa Ibn Khaldun. Buku 6 dan 7 mencakup sejarah bangsa Berber dan Maghreb, yang tetap sangat berharga bagi sejarawan masa kini, karena didasarkan pada pengetahuan pribadi Ibnu Khaldun tentang Berber.
Dalam disiplin ilmu sosiologi, buku ini juga sudah menyinggung teori konflik sosial. Dia mengembangkan perbedaan gaya hidup menetap dan nomaden serta konsep "generasi" (yang dikenal di masa modern dengan istilah seleksi alam), juga paparan tentang hilangnya kekuasaan tak terelakkan yang terjadi ketika prajurit gurun menaklukkan kota.
Seorang sarjana Arab kontemporer, Sati al-Husri, mengatakan bahwa Muqaddimah dapat dibaca sebagai karya sosiologis: satu dari enam buku sosiologi umum. Topik yang ditangani dalam buku ini meliputi politik, kehidupan perkotaan, ekonomi, dan pengetahuan. Karya ini berbasis di sekitar konsep Ibnu Khaldun tentang 'asabiyyah, yang telah diterjemahkan sebagai "kohesi/gabungan sosial", "kelompok solidaritas", atau "tribalisme". Kohesi sosial ini muncul secara spontan dalam suku-suku dan kelompok-kelompok kekerabatan kecil, yang dapat ditingkatkan dan diperbesar lagi oleh ideologi agama.
Analisis Ibnu Khaldun melihat bagaimana kohesi ini membawa kelompok menuju kekuasaan tetapi juga tetap ada dalam dirinya sendiri benih - psikologis, sosiologis, ekonomi, politik – menuju kejatuhan kelompok, yang akan digantikan oleh grup baru, dinasti atau kerajaan terikat yang kuat (atau paling muda dan lebih kuat). Ibnu Khaldun kadang dianggap sebagai seorang rasis, tapi sesungguhnya teori-teori tentang naik turunnya kerajaan miliknya sama sekali tidak memiliki komponen yang mendiskreditkan suatu ras tertentu. Penyematan ini kemudian dianggap sebagai hasil kesalahan pembacaan dan atau penerjemahan.43
Mungkin pengamatan yang paling sering dikutip dari karya Ibnu Khaldun adalah gagasan bahwa ketika masyarakat menjadi sebuah peradaban yang besar (dan, atau menjadi budaya yang dominan di suatu wilayah), titik tinggi ini akan diikuti dengan periode penurunan. Ini artinya bahwa kelompok penguasa berikutnya yang menaklukkan berasal dari peradaban lain yang inferior. Sebagai perbandingan, sekelompok barbar. Setelah Berber memperkuat kontrol mereka atas masyarakat yang mereka taklukkan, mereka akan menjadi tertarik pada aspek yang lebih halus, seperti membaca dan seni. Baik berasimilasi ke dalam atau mengapresiasi praktik-praktik budaya yang ada. Lalu, pada akhirnya, orang Berber akan ditaklukkan oleh satu set baru Berber, yang akan mengulangi proses kekuatan tadi.
Beberapa pembaca kontemporer Khaldun membaca ini sebagai sebuah teori siklus bisnis awal, meskipun sebenarnya ia sedang menjelaskan keadaan sejarah kerajaan Islam pada masa itu.
Ibnu Khaldun menguraikan contoh (bahkan mungkin orang yang pertama menjelaskan) ekonomi politik.
Dia menggambarkan ekonomi sebagai pertambahan nilai dari sebuah proses, yaitu, tenaga kerja ditambah teknik kerajinan. Hasil dari proses ini lalu dijual dengan nilai yang lebih tinggi. Dia juga membuat perbedaan antara "keuntungan" dan "rezeki", dalam istilah ekonomi politik modern, yaitu keuntungan adalah surplus ditambah apa yang diperlukan untuk berproduksi kembali. Dia juga menyerukan penciptaan disiplin ilmu agar mudah dipahami masyarakat, lalu ia melanjutkan dengan menguraikan ide-ide dalam karya utamanya, Muqaddimah.
Ibnu Khaldun juga dikenal karena karyanya Tahrir al Ahkam fi Tadbir ahl al-Islam, yang berkaitan dengan pertanyaan legitimasi politik dalam masyarakat Islam.
d. Al-Idrisi
merupakan keturunan Hasan bin Ali, putra Ali dan cucu nabi Muhammad.44
Ia bekerja untuk Raja Roger di Sisilia dan membuat sebuah masterpiece Tabula Rogeriana tahun 1154 M. Al Idrisi mendapat pendidikannya saat ia bermukim di Andalusia.
D.Faktor Penyebab Kemunduran 1. Internal
Penyebab utama yang saling terkait adalah melemahnya kekuatan militer atau pertahanan sebuah Negara. Yang mana lahir dari pertikaian politik dan melemahnya kekuatan ekonomi negeri tersebut karena berbagai faktor. Politik seperti kudeta, ataupun dukungan yang lemah dari negeri tetangga. Sedangkan kekuatan ekonomi bisa karena lemahnya perdagangan atau hilangya sumber pendapatan ekonomi Negara.
Dalam banyak buku sejarah sering digambarkan bahwa pertikaian politik adalah awal kehancuran sebuah negeri. Pertikaian ini bisa terjadi antara orang di lingkaran kekuasaan seperti keluarga kerajaan, jendral dan tentara. Ataupun karena pemberontakan beberapa golongan masyarakat karena ketidakpuasan mereka terhadap raja.
2. Eksternal
Boleh dibilang, hanya ada satu faktor kehancuran Negara bila dilihat dari faktor eksternal. Yaitu karena serangan musuh. Hal ini secara umum dapat diantisipasi dengan menguatkan posisi dalam negeri, baik dari politik, ekonomi, maupun sosial masyarakat. Atau bisa juga dengan konsolidasi-konsolidasi negeri-negeri tetangga. Namun yang kedua ini patut diwaspadai, agar jangan sampai konsolidasi itu kemudian membuat kita lalai untuk memperkuat pertahanan dalam negeri, baik di bidang militer maupun tiga hal lainnya seperti disebut di atas.
BAB III
KESIMPULAN
Maghrib adalah salah satu negeri penting pembuka jalan bagi zaman keemasan Islam di Andalus.
Asimilasi kebudayaan dan kemajuannya hanya bisa terjadi dengan interaksi antar bangsa setelah perdamaian terwujud atau pada masa tidak berperang. Yang nantinya akan berdampak pada keseimbangan sosial dalam sebuah Negara.
Perpecahan politik dan kekacauan ekonomi yang berujung pada kekacauan sosial adalah musuh utama kemunduran sebuah peradaban. Thus, sebuah peradaban yang tinggi hanya akan lahir dari masyarakat yang aman secara politik dan ekonomi, buah dari dukungan pemerintah.
Teori penyangga politik dilihat dari kelas sosial; ada tiga elemen. Pemerintah yang diwakili oleh raja, presiden dan pembantu-pembantunya. Elit yang diwakili oleh lingkaran dalam kekuasaan ditambah pedagang atau pelaku bisnis. Dan terakhir, rakyat. Tiga elemen ini harus bersinergi, yang diawali dengan melahirkan trust, kepercayaan antar mereka.
Tanpa kepercayaan tak akan lahir sinergi. Dan tanpa sinergi, yang terjadi adalah saling berebut kepentingan. Rakyat dengan egonya masing-masing dan tak peduli dengan Negara. Kalangan Elit yang justru akan menusuk raja dari belakang, atau pelaku bisnis yang akan memperjuangkan bisnis mereka semata. Atau pemerintah yang akan sewenang-wenang dan korup. Wallahu a’lam.
Daftar Pustaka
---, Architecture of Islamic World, Editor: George Michell, London: Thames and Hudson, 1996.
al-Fiqy, Asham ad-Din Abd ar-Rauf. Tarikh al-Maghrib wa al-Andalus, Kairo: Nahdhat asy-Syarq., Universitas Kairo.
an-Nashiri, Abul Abbas Ahmad bin Khalid bin Muhammad. Al-Istiqsha li akhbar duwal al-Maghrib al-Aqsha. Tahqiq: Ja’far an-Nashiri. Darul Kitab, ad-Dar al-Baydha: 1997.
Karsh, Efraim. Islamic Imperialism: A History. Yale University Press, New Haven, 2006.
M. Kreutz, Barbara. Before the Normans: Southern Italy in the Ninth and Tenth Centuries, University of Pennsylvania Press, 1996.
Mu’nis, Husain. Tarikh al-Maghrib wa Hadharatuhu, Beirut : Al-‘Ashr al-Hadits, 1992.
Naylor, Phillip Chiviges. North Africa: A History from Antiquity to the Present, Texas: The University of Texas Press, 2009.
Nehru, Jawaharlal. Glimpses of World History. Oxford University Press, 1989. Nicolle, David. Atlas Sejarah Dunia Islam – Indonesian Edition, , Aksara Qalbu,
Jakarta, 2009.
Perry, Glenn E. The Middle East Fourteen Islamic Centuries, New Jersey: Prentice Hall, Cet. III, 1997.
Ruthven, Malise & Azim Nanji, Historical Atlas of Islam, Harvard University Press, 2004.
Thaha, Abdul Wahid Dhanun. Muslim Conquest & Settlement of North Africa and Spain, London: Routledge, 1989.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Cetakan XIV, Jakarta: Rajawali Press, 2003.
Jurnal:
Gates, Warren E. The Spread of Ibn Khaldûn's Ideas on Climate and Culture. Journal of the History of Ideas, University of Pennsylvania Press, 1967. Dhaouadi, M. Ibn Khaldun: The Founding Father Of Eastern Sociology.
International Sociology, 1990.
Cosma, Sorinel. Ibn Khaldun's Economic Thinking. Ovidius University Annals of Economics Ovidius University Press, XIV, 2009.
Website:
The Amazigh Issue in Morocco, laporan Tamazgha, NGO yang memperjuangkan hak-hak kaum Berber. Diikutsertakan dalam 62nd Session of the Committee for the Elimination of Racial Discrimination, Genewa, Swiss, 21 Maret 2003. Diunduh dari www.mondeberbere.com
http://en.wikipedia.org/wiki/Berber_languages http://en.wikipedia.org/wiki/Mashriq.
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/514123/Rustamid-kingdom.