• Tidak ada hasil yang ditemukan

orientasi pra rekonstruksi Bab3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "orientasi pra rekonstruksi Bab3"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB I I I

K ON DI SI U M U M

3.1. Geografis

Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di

nusantara tetapi juga di mancanegara. Wilayah ini mempunyai ciri khas terdiri dari

ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar di Laut Cina Selatan. Julukan kepulauan

“Segantang Lada” sangat tepat untuk mengambarkan betapa banyaknya pulau yang

(2)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Secara geografis, wilayah Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga terletak

antara 2° 00’ LintangUtara, 1° 20’ Lintang Selatan dan 104°00’ Bujur Timur- 108° 30’

Bujur Timur, dengan batas-batas sebagai berikut :

• Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Natuna dan Malaysia Timur

• Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan, Jambi dan Provinsi Bangka Belitung

• Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Karimun, Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Indragiri Hilir dan

Singapura

• Sebelah Timur : Berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat

Menurut letak geografis, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga memiliki nilai

strategis dan berada dekat dengan jalur pelayaran dunia yang merupakan salah satu

simpul dari pusat koleksi dan distribusi barang dunia. Kedekatan ini merupakan salah

satu keunggulan komparatif yang dimiliki Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga

dalam menghadapi Pasar Bebas.

3.2. Sosial Ekonomi dan Budaya

3.2.1. Kependudukan

3.2.1.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Kabupaten Bintan dan Lingga meliputi areal daratan seluas 4.063,85 km2.

Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2000, penduduknya mencapai 168.947 jiwa

yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki 84.492 jiwa dan jenis kelamin perempuan 84.455

jiwa dengan jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Bintan Utara (37.460

jiwa) sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Tambelan (4.162

jiwa). Dengan demikian kepadatan penduduk (perbandingan antara jumlah penduduk

dengan luas wilayahnya) rata-rata sebesar 43 jiwa/km2. Untuk lebih jelasnya mengenai

(3)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Tabel 3.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Bintan dan Lingga, Tahun 2000 Jumlah Penduduk (Jiwa)

No Kecamatan

Luas Daratan

(Km2) LK PR Jumlah

Kepadatan (Jiwa/Km2)

1. Singkep 359,93 12.003 11.822 23.825 66 2. Singkep Barat 469,07 6.452 6.050 12.502 27 3. Lingga 892,72 11.634 10.917 22.551 25 4. Senayang 396,00 8.259 8.131 16.390 41 5. Teluk Bintan 185,00 4.094 4.011 8.105 44 6. Bintan Utara 627,59 16.820 20.640 37.460 60 7. Bintan Timur 416,00 16.312 14.595 30.907 74 8. Gunung Kijang 548,12 6.788 6.257 13.045 24 9. Tambelan 169,42 2.130 2.032 4.162 25 JUMLAH 4.063,85 84.492 84.455 168.947 43

Sumber : Kabupaten Dalam Angka, Tahun 2000

Tabel di atas memperlihatkan bahwa beberapa kecamatan yang terletak di

Pulau Bintan dan berdekatan dengan Kota Tanjung Pinang memiliki kepadatan yang

relatif tinggi jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya.

3.2.1.2 Perkembangan Penduduk

Jumlah penduduk yang terdapat di Kabupaten Bintan dan Lingga pada tahun

2000 mencapai 168.947 jiwa. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun

1990 yang berjumlah 142.275 jiwa, maka penduduk pada tahun 2000 mengalami

pertambahan sebanyak 26.672 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk dari tahun

dari tahun 1990 – 1996 sebesar 1,72 % per tahun. Tahun 1996 sampai 2000 laju

perkembangan penduduknya sebesar 1,86 % per tahun. Kondisi ini masih berada di

bawah laju pertumbuhan Penduduk Provinsi Riau (4,02 % per tahun).

Laju pertumbuhan penduduk tertinggi tahun 1990-1996 ada di Kecamatan

Teluk Bintan yaitu sebesar 13,86 % per tahun. Namun pada tahun 1996-2000

perkembangan penduduknya per tahun kecamatan tersebut hanya sebesar 1,81 %.

Sebaliknya di Kecamatan Singkep pada tahun 1990-1996 mengalami penurunan

sebesar 1,54 % per tahun namun kemudian pada tahun 1996-2000 mengalami

(4)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Pada tahun 1996-2000, laju pertumbuhan penduduk yang tertinggi terdapat di

Kecamatan Bintan Utara (7,19 %), dan di kecamatan lainnya laju pertumbuhan

penduduk kurang dari 2,5 % per tahun. Penurunan jumlah penduduk per tahun (tahun

1996-2000) terjadi di Kecamatan Singkep Barat (0,06 %), Kecamatan Tambelan (0,31

%), Kecamatan Lingga (1,01 %) dan Kecamatan Senayang (1,43 %). Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 . Jumlah dan Perkembangan Penduduk di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 1990 – 2000

Jumlah Penduduk (Jiwa) No

Keca-matan

Luas Daratan

(Km2) 1990 1996 1997 1998 1999 2000

LPP

(1990-1996)

LPP (1996-2000)

1 Singkep 359,926 25.17 22.841 22.847 22.771 22.858 23.825 -1,54 1,08 2 Singkep

Barat 469,074 13.815 12.536 12.82 12.845 12.586 12.502 -1,54 -0,06 3 Lingga 892,720 22.98 23.513 23.6 23.681 22.528 22.551 0,39 -1,01 4

Sena-yang 396,000 15.617 17.39 17.435 17.705 16.727 16.39 1,89 -1,43 5 Teluk

Bintan 185,000 4.125 7.555 7.569 7.588 7.622 8.105 13,86 1,81 6 Bintan

Utara 627,590 17.982 28.531 32.043 32.663 37.007 37.46 9,78 7,19 7 Bintan

Timur 416,000 27.095 28.435 29.033 29.663 30.364 30.907 0,82 2,11 8 Gunung

Kijang 548,120 11.366 11.928 12.196 12.42 12.732 13.045 0,82 2,26 9

Tambe-lan 169,420 4.125 4.214 4.236 4.239 4.219 4.162 0,36 -0,31 Jumlah 4.063,85 142.28 156.94 161.78 163.58 166.64 168.95 1,72 1,86

Sumber : Kecamatan Dalam Angka, 1990 – 2000, Monografi Desa, 1990 – 2000

3.2.1.3. Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umur

Berdasarkan struktur penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Bintan

dan Lingga terlihat bahwa jumlah penduduk usia 5 - 9 tahun (22.022 jiwa) serta usia 10

- 14 tahun (21.129 jiwa) menunjukan jumlah yang tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat

(5)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Tabel 3 .3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000

STRUKTUR UMUR PENDUDUK PERKECAMATAN (JIWA) N

Sumber : Kecamatan Dalam Angka, Tahun 2000

3.2.1.4 Struktur Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikannya, penduduk Kabupaten Bintan dan Lingga

sebagian besar berpendidikan dasar sampai menengah. Jumlah tamatan tingkat

sekolah dasar 41.451 jiwa dan tamatan tingkat menengah pertama sebesar 22.847

jiwa. Sedangkan jumlah pendidikan tingkatan tinggi seperti akademi dan perguruan

tinggi menduduki jumlah yang paling kecil, yaitu 2.146 jiwa. Untuk lebih jelasnya

mengenai jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 3.4.

3.2.1.5 Struktur Penduduk Menurut Agama

Jumlah penduduk menurut agama di Kabupaten Bintan dan Lingga sebagian besar

memeluk agama Islam (145.726 jiwa). Agama lain yang dianut seperti Kristen

Protestan, Katholik, Hindu dan Budha serta Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha

Esa. Khusus untuk penganut Kepercayaan jumlahnya paling sedikit yaitu 41 jiwa, dan

hanya tersebar di Kecamatan Bintan Timur dan Kecamatan Gunung Kijang. Untuk

(6)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Tabel 3.4. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000

Jumlah 21.399 17.537 23.967 25.41 41.451 22.847 14.19 2.146 168.947

Sumber : Kecamatan Dalam Angka, Tahun 2000

Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Menurut Agama di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000

NO KECAMATAN ISLAM PROTESTAN KATHOLIK BUDHA HINDU LAIN JUMLAH

(7)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

3.2.1.6 Struktur Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Mata pencaharian di Kabupaten Bintan dan Lingga didominasi oleh kegiatan

nelayan dengan tenaga kerja sebanyak 28.325 jiwa (42,68 %) dan kegiatan pertanian

(petani, peternak, perkebunan) dengan tenaga kerja sebanyak 18.689 jiwa (28,16 %).

Mata pencaharian lainnya (seperti pedagang, buruh industri, pegawai negeri dan

lain-lain) hanya 29,17 % dari jumlah tenaga kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Tabel 3.6.

Tabel 3.6.Jumlah Penduduk Menurut Jenis Matapencarian di kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000

MATA PENCAHARIAN DI KECAMATAN TAHUN 2000

NO MATA

(8)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

3.2.2. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Struktur sosial budaya masyarakat Kabupaten Bintan dan Lingga merupakan

hasil perjalanan sejarah yang cukup panjang, dari sejak jaman Kerajaan Melayu hingga

masa setengah abad lebih setelah kemerdekaan. Pada saat ini penduduk yang

mendiami wilayah Kabupaten Bintan dan Lingga berasal dari berbagai suku bangsa,

kebudayaan dan golongan sosial.

Umumnya masyarakat Kepulauan Riau berasal dari Suku Melayu yang masih

kental budayanya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti: bahasa melayu,

Agama Islam dan berbagai adat istiadat berkenaan dengan lingkaran hidupnya.

Masyarakat Melayu terkenal dengan masyarakat yang taat dalam menjalankan Sholat

5 waktu, ramah, mementingkan hidup secara kekeluargaan, dan secara ekonomi tidak

agresif atau rakus. Secara tradisional masyarakat melayu umumnya

bermatapencaharian sebagai petani, berkebun, menangkap ikan dan berdagang.

Sedangkan dalam struktur pemerintahan, orang melayu umumnya lebih baik mengabdi

sebagai Guru Pendidikan dibandingkan dengan pekerjaan pemerintahan lainnya.

Suku lainnya yang cukup banyak terdapat di Kabupaten Bintan dan Lingga

adalah masyarakat yang berasal dari Suku Jawa, China, Batak, Bugis, Minangkabau,

dan suku lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Kepulauan Riau

memiliki heterogenitas suku bangsa yang secara langsung akan merupakan suatu

penggerak dan atau sebaliknya dapat menghambat jalannya proses pembangunan.

3.2.3. Kondisi Perekonomian Wilayah

Perekonomian suatu wilayah baik secara agregat maupun menurut lapangan

usaha dapat dilihat dari angka Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) atas

dasar harga berlaku ataupun harga konstan. Masing-masing harga berlaku dan harga

konstan tahun 1993 sebagai tahun dasar. Berdasarkan harga berlaku 1993 nilai PDRB

2000 adalah sebesar Rp.1.781.914,59 juta, mengalami kenaikan sebesar ± 13 % dari

nilai PDRB tahun 1999. Sementara berdasarkan harga konstan 1993 nilai PDRB tahun

(9)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Berdasarkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha,

sektor yang mempunyai nilai tertinggi pada tahun 2000 adalah sektor Industri

Pengolahan sebesar Rp. 459.492,35 juta, kemudian sektor Perdagangan, Hotel dan

Restoran senilai Rp. 439.954,15 juta. Sedangkan sektor yang nilai terkecil adalah

sektor Listrik dan Air senilai Rp. 19.296,74 juta. Bila dibandingkan dengan tahun 1999

semua sektor berdasarkan atas dasar harga berlaku mengalami kenaikan.

Sedangkan nilai PDRB tahun 2000 atas dasar harga konstan menurut lapangan

usaha, sektor yang mempunyai nilai terbesar adalah juga sektor Industri Pengolahan

dengan nilai Rp. 202.359,62 juta, selanjutnya sektor juga sektor Perdagangan, Hotel

dan Restoran sebesar Rp. 194.277,60 juta. Sedangkan sektor lainnya dengan nilai

sebesar di atas Rp. 50.000 juta, kecuali sektor Listrik dan Air hanya senilai Rp.

10.988.91 juta. Untuk lebih jelasnya mengenai nilai PDRB setiap sektor di Kabupaten

Kepulauan dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.

Tabel 3.7. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Kepulauan Riau, 1998 – 2000

PDRB (Dalam Jutaan Rupiah)

No. Lapangan Usaha

1998 1999 2000

1. Pertanian 113.359,78 129.399,42 141.630,26 2. Pertambangan Dan Penggalian 166.981,09 172.467,25 191.902,81 3. Industri Pengolahan 364.729,68 402.037,76 459.942,35 4. Listrik dan Air 14.638,21 16.431,36 19.296,74 5. Bangunan 121.234,37 135.540,68 157.332,37 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 324.132,39 382.536,26 439.954,15 7. Pengangkutan Dan Komunikasi 114.258,61 126.515,80 140.234,41 8. Keuangan, Persewaan Dan Jasa 93.662,60 87.225,74 94.935,81 9. Jasa-Jasa 117.093,69 124.751,20 136.685,69

P D R B 1.430.090,42 1.576.905,47 1.781.914,59

(10)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Tabel 3. 8. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (1993) Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Kepulauan Riau, 1998 – 2000

PDRB (Dalam Jutaan Rupiah) No. Lapangan Usaha

1998 1999 2000

1. Pertanian 46.722,16 48.790,23 50.485,42 2. Pertambangan Dan Penggalian 45.079,46 45.316,00 46.948,91 3. Industri Pengolahan 171.749,59 187.383,06 202.359,62 4. Listrik dan Air 6.650,06 10.362,91 10.988,91 5. Bangunan 63.057,92 65.784,02 69.087,03 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 176.139,84 182.952,48 194.277,60 7. Pengangkutan Dan Komunikasi 60.437,15 62.402,32 66.686,18 8. Keuangan, Persewaan Dan Jasa 55.489,00 51.611,57 52.383,88 9. Jasa-Jasa 62.120,93 64.839,25 66.700,75

P D R B 687.446,11 719.441,84 759.918,30

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Riau

Di samping itu, dapat juga dikemukakan tentang PDRB per kapita untuk

Kabupaten Kepulauan Riau. Menurut harga berlaku, PDRB per kapita tahun 2000

adalah Rp. 4.760.000,00. Sementara bila dilihat berdasarkan harga konstan tahun

1993 maka PDRB per kapita tahun 2000 adalah Rp. 2.170.000.

3.3. Tata Guna Lahan

Tata guna lahan Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga terdiri dari tata guna

lahan untuk kampung, industri, sawah, tanah kering, kebun campuran, perkebunan,

hutan, hutan kosong/rusak, perairan dan tataguna lainnya. Lebih dari separuh kawasan

merupakan tanah kering, sehingga kawasan ini kebanyakan dipergunakan untuk lahan

perkebunan oleh masyarakat (sayuran, buah-buahan, dan karet). Hampir sebelas

persen kawasan Kabupaten dan Kabupaten Lingga msih berhutan, dan hutan yang

telah rusak mencapai hamper sepuluh persen dari luasan kedua kabupaten ini. Luasan

setiap tata gunan lahan di Kabupaten Bintan dan Lingga dapat dilihat dalam tabel

(11)

Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

Table 3.9. Tataguna lahan di Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga

No. Tata Guna Lahan Luas

1. Kampung/Permukiman 77.706,50

2. Industri 4.040,70

3. Sawah 1.406,00

4. Tanah Kering 428.949,00

5. Kebun Campuran 0,00

6. Perkebunan 44.937,00

7. Hutan 92.010,10

8. Semak, Padang Rumput 0,00

9. Hutan Kosong, Rusak 79.696,20

Gambar

Tabel 3.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Bintan dan Lingga, Tahun 2000
Tabel 3.2 . Jumlah dan Perkembangan Penduduk di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 1990 – 2000
Tabel 3 .3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000
Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Menurut Agama di Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dardjowidjojo (1986) menelaah II Benang Pengikat Wacana ll. Dia menca- tat beberapa benang pengikat yang dapat memadukan informasi antarka- limat dalam wacana. Dalam tulisannya,

Berdasarkan tabel 5 diperoleh hasil penelitian yaitu perilaku pencegahan cedera yang sebagian besar dalam kategori baik dan jarang yaitu sebanyak 25 anak (53,2%) dan 5 anak (10,6%)

Menyediakan informasi bagi masyarakat mengenai obyek pariwisata aplikasi sistem informasi geografis pariwisata berbasis Android untuk mengetahui obyek wisata,

11 Dalam hal ini peneliti ingin memperoleh data berupa sejarah singkat berdirinya pesantren, struktur kepengurusan, tata tertib pondok pesantren, data santri, data asatidz ,

pembelajaran berbasis prezi dilakukan oleh 2 orang ahli materi, 2 orang ahli media, guru mata pelajaran geografi serta siswa SMA Negeri 1 Kubung kelas X IPS

Dalam melengkapi penulisan sampai dengan saat ini ini beberapa pihak telah memberikan masukan serta memberikan konstribusi yang positif, sehingga di dalam

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada minimarket di Semarang, maka dapat

Dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank dapat berupa giro, tabungan dan deposito (Sulistya & Wirakusuma, 2015, hal. 667) menyatakan bahwa setiap