• Tidak ada hasil yang ditemukan

Case Report Kejang Demam - Mario, Dr. Christine Sp.A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Case Report Kejang Demam - Mario, Dr. Christine Sp.A"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Case Report

Case Report

Kejang Demam

Kejang Demam

Disusun oleh :

Disusun oleh :

Mario Aldis Wattimena

Mario Aldis Wattimena

1261050033

1261050033

Pembimbing :

Pembimbing :

Dr. Christine Handayani Tampubolon, Sp.A

Dr. Christine Handayani Tampubolon, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

PERIODE

PERIODE 12 DESEMBER 2016 12 DESEMBER 2016 - - 25 FEBUARI 201725 FEBUARI 2017 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIAINDONESIA JAKARTA

JAKARTA 2016-2017 2016-2017

(2)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... ... 11

BAB I

BAB I TINJAUAN PUSTAKA………..TINJAUAN PUSTAKA……….. 22

1. 1. Pendahuluan Pendahuluan ... ... 22 2. 2. Definisi Definisi ... ... 22 3. 3. Klasifikasi Klasifikasi ... ... 33 4.

4. Faktor Faktor Risiko Risiko dan dan Etiologi Etiologi ... ... 44 5. 5. Patofisiologi Patofisiologi ... ... 44 6. 6. Diagnosis...Diagnosis... ... 55 7. 7. Penatalaksanaan Penatalaksanaan ... .. 77 7.1

7.1 Penatalaksanaan Penatalaksanaan Kejang Kejang ... ... 77 7.2

7.2 Pemberian Pemberian Obat Obat Rumatan Rumatan ... ... 1010 7.3 7.3 Antipiretik Antipiretik ... ... 1111 8. 8. Edukasi Edukasi ... ... 1111 9. 9. Prognosis Prognosis ... ... 1111 BAB

BAB II II CASE CASE PASIENPASIEN ... ... 1313 1.

1. Identitas Identitas ... ... 1313 2.

2. Riwayat Riwayat Kehamilan Kehamilan dan dan Kelahiran Kelahiran ... ... 1313 3.

3. Riwayat Riwayat Perkembangan Perkembangan ... ... 1414 4.

4. Riwayat Riwayat Imunisasi Imunisasi ... ... 1414 5.

5. Riwayat Riwayat Makan Makan ... .. 1515 6.

6. Riwayat Riwayat Keluarga...Keluarga... ... 1515 7.

7. Riwayat Riwayat Penyakit Penyakit dan dan Anamnesis Anamnesis ... ... 1616 8.

8. Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Fisik ... ... 1717 8.1

8.1 Pemeriksaan Pemeriksaan Sistem Sistem ... ... 1818 8.2

8.2 Pemeriksaan Pemeriksaan Neurologis Neurologis ... ... 1919 9.

9. Pemeriksaan Pemeriksaan Penunjang Penunjang ... ... 2020 10. Diagnosa

10. Diagnosa ... ... 2020 11. Tatalaksana

11. Tatalaksana ... ... 2121 12.

12. Follow Follow Up Up Pasien Pasien per per Hari Hari ... ... 2222

BAB

BAB III III ANALISA ANALISA KASUSKASUS... ... 2828

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

(3)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... ... 11

BAB I

BAB I TINJAUAN PUSTAKA………..TINJAUAN PUSTAKA……….. 22

1. 1. Pendahuluan Pendahuluan ... ... 22 2. 2. Definisi Definisi ... ... 22 3. 3. Klasifikasi Klasifikasi ... ... 33 4.

4. Faktor Faktor Risiko Risiko dan dan Etiologi Etiologi ... ... 44 5. 5. Patofisiologi Patofisiologi ... ... 44 6. 6. Diagnosis...Diagnosis... ... 55 7. 7. Penatalaksanaan Penatalaksanaan ... .. 77 7.1

7.1 Penatalaksanaan Penatalaksanaan Kejang Kejang ... ... 77 7.2

7.2 Pemberian Pemberian Obat Obat Rumatan Rumatan ... ... 1010 7.3 7.3 Antipiretik Antipiretik ... ... 1111 8. 8. Edukasi Edukasi ... ... 1111 9. 9. Prognosis Prognosis ... ... 1111 BAB

BAB II II CASE CASE PASIENPASIEN ... ... 1313 1.

1. Identitas Identitas ... ... 1313 2.

2. Riwayat Riwayat Kehamilan Kehamilan dan dan Kelahiran Kelahiran ... ... 1313 3.

3. Riwayat Riwayat Perkembangan Perkembangan ... ... 1414 4.

4. Riwayat Riwayat Imunisasi Imunisasi ... ... 1414 5.

5. Riwayat Riwayat Makan Makan ... .. 1515 6.

6. Riwayat Riwayat Keluarga...Keluarga... ... 1515 7.

7. Riwayat Riwayat Penyakit Penyakit dan dan Anamnesis Anamnesis ... ... 1616 8.

8. Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Fisik ... ... 1717 8.1

8.1 Pemeriksaan Pemeriksaan Sistem Sistem ... ... 1818 8.2

8.2 Pemeriksaan Pemeriksaan Neurologis Neurologis ... ... 1919 9.

9. Pemeriksaan Pemeriksaan Penunjang Penunjang ... ... 2020 10. Diagnosa

10. Diagnosa ... ... 2020 11. Tatalaksana

11. Tatalaksana ... ... 2121 12.

12. Follow Follow Up Up Pasien Pasien per per Hari Hari ... ... 2222

BAB

BAB III III ANALISA ANALISA KASUSKASUS... ... 2828

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I

BAB I

Tinjauan Pustaka

Tinjauan Pustaka

1. Pendahuluan

1. Pendahuluan

Kejang demam adalah masalah yang sering ditemukan dalam kasus neurologis Kejang demam adalah masalah yang sering ditemukan dalam kasus neurologis anak. Lennox pada tahun 1949 mengatakan

anak. Lennox pada tahun 1949 mengatakan “kejang demam dapat mengakibatkan gangguan“kejang demam dapat mengakibatkan gangguan otak yang dibuktikan degan adanya defisit neurologis yang sementara atau permanen”. otak yang dibuktikan degan adanya defisit neurologis yang sementara atau permanen”. Sebaliknya, Robinson pada tahun 1991 menyatakan bahwa anak dengan kejang demam Sebaliknya, Robinson pada tahun 1991 menyatakan bahwa anak dengan kejang demam memiliki prognosis yang umumnya baik.

memiliki prognosis yang umumnya baik.1,2,31,2,3

Meskipun kejang demam sering ditemukan pada anak, penyakit ini dapat membuat Meskipun kejang demam sering ditemukan pada anak, penyakit ini dapat membuat orang tua pasien merasa takut, dan cemas ketika melihat penyakit ini. Selama kejang, orang orang tua pasien merasa takut, dan cemas ketika melihat penyakit ini. Selama kejang, orang tua mengansumsi bahwa anak mereka sekarat. Akan tetapi, sebagian besar kasus kejang tua mengansumsi bahwa anak mereka sekarat. Akan tetapi, sebagian besar kasus kejang demam tidak mengancam jiwa. Kejang demam jarang mengakibatkan kerusakan otak.

demam tidak mengancam jiwa. Kejang demam jarang mengakibatkan kerusakan otak.11

Telah diakui bahwa kejang demam di beberapa anak merupakan pertanda awal Telah diakui bahwa kejang demam di beberapa anak merupakan pertanda awal  bahwa

 bahwa anak anak tersebut tersebut memiliki memiliki gangguan gangguan kejang kejang yang yang telah telah diturunkan diturunkan oleh oleh keluarga keluarga baikbaik yang dengan demam maupun tanpa demam.

yang dengan demam maupun tanpa demam.11

2. Definisi

2. Definisi

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam juga rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam juga didefinisikan sebagai “kejang yang terjadi pada masa kana

didefinisikan sebagai “kejang yang terjadi pada masa kanak-kanak setelah umur 1 tahun yangk-kanak setelah umur 1 tahun yang  berhubungan

 berhubungan demam demam yang yang tidak tidak disebabkan disebabkan oleh oleh infeksi infeksi system system saraf saraf pusat, pusat, tanpa tanpa riwayatriwayat kejang neonatal atau kejang yang diprovokasi dan tidak memenuhi kriteria gejala kejang akut kejang neonatal atau kejang yang diprovokasi dan tidak memenuhi kriteria gejala kejang akut

(5)

lainnya. Adapaun yang mengatakan bahwa kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6  bulan –  5 tahun dan bayi kurang dari 1 bulan yang mengalami kejang disertai demam tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang yang didahului demam maka harus dipikirkan kemungkinan lain seperti infeksi system saraf pusat berupa meningitis atau ensefalitis atau epilepsi yang terjadi  bersamaan dengan demam.1,2,3

3. Klasifikasi

Kejang demam dibagi menjadi dua, yakni :2,3

 Kejang demam sederhana  Kejang demam kompleks

Kejang demam sederhana berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan biasanya akan berhenti sendiri. Kejang tipe ini berbentuk umum tonik, klonik atau keduanya tanpa disertai gerakan fokal. Kejang tipe ini juga tidak berulang dalam waktu 24 jam dan 80% kasus kejang demam berupa kejang demam sederhana.

Kejang demam akan disebut kompleks jika memiliki salah satu dari kriteria ini: 1.) kejang lama berlangsung lebih dari 15 menit; 2.) kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial; 3.) berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Kejang lama merupakan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau  berlangsung lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan anak tidak sadar. Kejang fokal

merupakan kejang parsial satu sisi atau kejang umum yang didahului oleh kejang parsial.

Adapun sebutan kejang demam status epilepticus jika kejang sudah berlangsung lebih dari 30 menit atau terjadi lebih dari 2 kali tanpa pemulihan kesadaran penuh selama itu.

(6)

4. Faktor Risiko dan Etiologi

Beberapa literatur mengatakan bahwa riwayat keluarga dengan kejang demam merupakan faktor yang penting dalam konstribusi risiko kejang demam. Stdui membuktikan  bahwa kejang demam dapat diwariskan secara autosomal dengan prevalensi berkisar 10%

sampai 40% pasien memiliki riwayat keluarga mengalami kejang demam. 3

Adapun faktor prenatal berupa gangguan kesehatan ibu, kebiasaan merokok dan konsumsi alcohol pada ibu berpengaruh terhadap angka kejadian kejang demam pada anak. Kehamilan atau riwayat persalinan abnormal berpredisposisi terhadap kejang demam pada umumnya serta komplikasinya. Akan tetapi tidak terlalu banyak bukti yang mendukung  bahwa faktor tersebut memiliki peranan signifikan dalam kejang demam.3

Kejang demam dapat terjadi secara tibat-tiba di rumah. Infeksi virus merupakan  penyebab yang paling tersering dalam kejang demam. Terdapat bukti yang mengatakan  bahwa virus Herpes-6 (HHV-6) merupakann penyebab tersering kejang demam. 3

Risiko kejang demam awal juga ditemukan setelah pemberian vaksin berupa Difteri-Tetanus-Pertusis (DTP) dan Measles, Mumps dan Rubella (MMR). Studi menemukan bahwa ada peningkatan risiko sampai 4 kali lipat pada kejang demam untuk muncul 1-3 hari setelah  pemberian vaksinasi DTP dan 1,5 kali sampai 3 kali 8-14 hari setelah pemberian MMR. 1,3

Kejang demam sering terjadi dan meskipun pada umumnya terjadi sekali, dapat 30% kambuh kembali dan meningkat sampai 50% jika terjadi pada anak dengan umur dibawah 1 tahun.. risiko kekambuhan meningkat 2 kali lipat jika terjadi kejang demam yang kedua kalinya. Risiko kekambuhan terjadi pada anak dengan: 1.) riwayat kejang fokal, lama dan  berulang; 2.) infeksi virus Influenza A; 3.) riwayat keluarga kejang demam; 4.) riwayat

kejang kompleks pada kejang demam pertama.1,3

5. Patofisiologi

Etiologi dan patogenesis dalam kejang demam masih belum dipahami dengan baik. Penyebab demam sendiri tidak memberi kontribusi dalam kejang demam itu sendiri. Akan tetapi, demam merupakan penyebab dari terjadinya kejang. Dalam hal ini sistem imun yang

(7)

 berperan dalam pelepasan sitokin untuk peningkatan suhu merupakan faktor terpenting dalam  peningkatan aktivitas neural yang mengakibatkan kejang.4,5

Peningkatan temperature terjadi akibat stimulus sitokin terhadap organ hipotalamus  pada otak. Sitokin berupa Interleukin-1 yang merupakan pirogen endogen dan lipopolisakarida (LPS) dinding bakteri gram negative sebagai pirogen eksogen. Pirogen ini akan menstimulasi makrofag untuk memproduksi prostaglandin E2 (PGE2) atau priogen mengkatalis konversi asam arakidonat menjadi PGE2 yang kemudian menstimulus pusat termoregulasi di hipotalamus. Adapun sitokin seperti Interleukin 1B akan meningkatkan eksabilitas neuronal (glutamatergic) dan menghambat GABA-ergic dan peningkatan eksabilitas neuronal ini yang menyebabkan kejang.5

Ketika demam, akan terjadi kenaikan metabolisme basal sebanyak 10-15% dan kebutuhan 02meingkat sebanyak 20% untuk setiap peningkatan suhu 10C. Kenaikan suhu ini dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik. Keseimbangan ini dibantu oleh neurotransmitter yang ditingkatkan atau dihambat oleh pirogen endogen seperti Interleukin 1B dan dapat menimbulkan kejang.4

6. Diagnosa

Diagnosa ditegakkan melalui anamnesis dan beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan.2,3

Perlu ditanyakan dalam anamnesis

 Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang

 Suhu sebelum atau saat kejang, frekuensi kejang dalam 24 ja m, interval, keadaan anak

setelah kejang, penyebab kejang di luar infeksi susunan saraf pusat (infeksi saluran napas akut/ISPA, infeksi saluran kemih/ISK, otitits media akut/OMA, dll)

 Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsy dalam keluarga

 Menyingkirkan penyebab kejang yang lain seperti gangguan elektrolit akibat

(8)

Adapun karakteristik dari kejang demam berupa tonik-klonik atau hipotonik dan  bukan myoklonik, spasme. Kejang demam sederhana dapat disertai dengan tatapan hampa atau staring, kekakuan ekstremitas. Kejang demam kompleks lebih parah dibandingkan yang sederhana dan sebagian besar dimasukkan ke dalam rumah sakit.3

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menegakkan anamnesis serta menyingkirkan  penyebab infeksi diluar maupun didalam sistem saraf pusat. Pemeriksaan kesadaran untuk melihat adanya penurunan kesadaran serta suhu untuk melihat demam. Pemeriksaan rangsang meningeal untuk menyingkirkan meningitis seperti kaku kuduk, Brudzinky I dan II serta Laseque dan Kernique. Pemeriksaan nervus kranialis untuk melihat kelumpuhan nervus VI dan mencari tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial berupa papil edema atau ubun-ubun besar (UUB) membonjol. Adapun dilakukan pemeriksaan luar SSP untuk mencari tahu  penyebab infeksi seperti kemungkinan ISPA, ISK, OMA, dll.2

Ada 4 pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien anak kejang :2

 Pemeriksaan laboratorium  Pungsi lumbal

 Elektroensefalografi  Pencitraan

Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan dengan rutin tapi dilakukan sesuai indikasi untuk mecari tahu sumber infeksi penyebab kejang demam serta menyingkirkan keadaan lain seperti dehidrasi gastroenteritis yang disertai demam. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa darah perifer, elektrolit, gula darah, urinalisis dan biakan darah, feses atau urin.2

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin padaanak  berusia <12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana dengankeadaan umum baik .

Indikasi lumbal pungsi berupa :

 Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal

 Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan

(9)

 Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang sebelumnya telah

mendapat antibiotik dan pemberian antibiotic tersebut dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis.

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karena itu tidak perlu dilakukan kecuali bangkitan bersifat fokal. EEG dilakukan hanya untuk mencari tahu adanya fokus kejang pada otak yang perlu dievaluasi lebih lanjut . 2

Pencitraan seperti computed tomography scan (CT-scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti:2

 Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan lesi

struktural di otak (mikrosefali, spastisitas)

 Tanda peningkatan tekanan intracranial (kesadaran menurun, muntah proyektil,

 paresis nervus VI)

7. Penatalaksanaan

Pengobatan ditujukan untuk menangani kejang serta pencegahan kekambuhan dan  juga menangani demam.

7.1. Penatalaksanaan Kejang

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan berhenti ketika pasien datang. Penatalaksanaan kejang pada anak menggunakan algoritma penatalaksanaan Status Epileptikus (SE) pada anak. Ketika datang dengan keadaan kejang amakan obat yang diberikan berupa diazepam secara intravena 0,2-0,5 mg/kgBB secara perlahan dengan kecepatan 2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit dengan dosis maksimal 20 mg.2,6,7,8

Obat yang praktis dapat digunakan sebelum masuk rumah sakit atau ditangani dokter adalah diazepam rektal dengan dosis 0,5-0,75 mg/kgBB. Dapat digunakan diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan

(10)

lebih dari 12 kg. Diazepam rektal 5 mg digunakan pada anak dibawah umur 3 tahun atau 7,5 mg untuk usia diatas 3 tahun. Apabila kejang belum berhenti setelah pemberian diazepam rektal maka dapat diulang lagi dengan dosis yang sama dengan interval 5 menit. 2,6,8

Diazepam rektal dapat diberikan sampai 2 kali. Apabila sebelum masuk rumah sakit sudah diberikan diazepam 1 kali ama anak dapat diberikan diazepam 1 kali lagi saat masuk rumah sakit. Jika setelah pemberian diazepam rektal sebanyak 2 kali anak masih kejang amak harus dirawat di rumah sakit.2,8

Di rumah sakit dapat diberikan diazepam secara intravena serta dilakukan stabilisasi  pasien berupa monitoring tanda vital, menstabilisasi aliran udara pernapasan, pemberian oksigen serta pemeriksaan yang diperlukan. Lakukan anamnesis terarah, pemeriksaan umum dan neurologis secara cepat. Cari tanda-tanda trauma, kelumpuhan fokal dan infeksi.2,8

Jika tidak tersedia diazepam secara intravena maka dapat digantikan dengan lorazepam 0.05-0,1 mg/kgBB intravena dengan dosis maksimum 4 mg atau midazolam 0,05-0,1 mg/kgBB intravena. Pemberian diazepam intravena dapat diulang 1-2 kali setelah 5-10 menit, lorazepam 0,1 mg/kgBB dapat diulang sekali setelah 10 menit, jika didapatkan hipogikemi, berikan glukosa 25% 2 mL/kg berat badan.8

Apabila kejang berlangsung lebih dari 10 menit maka cenderung menjadi status konvulsifus. Bila kejang tetap belum terhenti setelah pemberian diazepam intravena makan diberikan tambahan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Fenitoin harus diberikan secara intravena dan diencerkan dengan 1 mL NaCl 0,9%. Dosis maksimal fenitoin adalah 1000 mg. Bila kejang tidak berhenti diberikan fenobarbital 20 mg/kg intravena bolus perlahan – lahan dengan kecepatan 100 mg/menit. Dosis maksimal yang diberikan adalah 1000 mg fenobarbital. Jika kejang tetap tidak teratasi maka pasien harus dirawat secara intesnsif.8

(11)

Tabel 1. Obat obat yang sering digunakan dalam penghentian kejang.8

Gambar 1. Algoritma Penanganan Kejang Akut dan Status Epileptikus.8

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila anak kejang :2

 Tetap tenang dan tidak panic

(12)

 Bila anak tidak sadar, posisikan anak miring. Bila ada muntah, bersihkan muntahan di

mulut dan hidung

 Jika lidah tergigit, jangan masukkan sesuatu kedalam mulut  Ukur suhu, observasi dan catat bentuk dan lama kejang  Tetap bersama anak selama dan sesudah kejang

 Berikan diazepam rektal jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit. Orang tua hanya

 boleh memberikan diazepam rektal 1 kali.

 Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau

lebih, suhu tubuh lebih dari 40 derajat celcius, kejang tidak henti dengan diazepam rektal, kejang fokal, tidak sadarkan diri setelah kejang dan terdapat kelumpuhan.

7.2 Pemberian obat rumat

Indikasi pemberian obat rumat diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu) :2

1. Kejang lama > 15 menit

2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.

3. Kejang fokal

Penjelasan:

 Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam > 15 menit merupakan indikasi

 pengobatan rumat

 Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan

merupakan indikasi pengobatan rumat

 Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus

organik.

Adapun pemberian obat profilaksis berupa intermitten atau kontinyu diberikan setelah kejang terhenti. Diazepam rektal siap pakai mengurangi kekambuhan kejang demam. Diazepam rektal mampu mencegah kejang pada saat demam berlangsung dan obat  penobarbital oral dengan dosis besar memiliki dosis teraupetik dalam darah selama 90 menit.

(13)

Tidak dianjurkan untuk menggunakan kedua obat secara bersamaan karena dapat mengakibatkan ngantuk.2,3

Obat untuk pengobatan jangka panjang berupa :

 Fenobarbital dengan dosis 3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis  Asam valproate dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis

Pengobatan diberikan selama 1 tahun. Penghentian obat rumatan tidak memerlukan tapering off namun hanya dilakukan pada saat anak tidak sedang demam.2

7.3 Antipiretik

Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10 – 15 mg/kg/kali tiap 4-6 jam. Dosis Ibuprofen 5-10 mg/ kg/kali ,3-4 kali sehari.2

Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom Reye terutama  pada anak yang berusia kurang dari 18 bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak

dianjurkan.2

8. Edukasi

Kejang merupakan peristiwa yang menakutkan bagi setiap ornag tua. Pada saat kejang, sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya akn meninggal. Kecemasan tersebut harus dikurangi dengan cara :2

 Menyakinkan orang tua pasien bahwa kejang demam memiliki prognosis yang baik  Memberitahukan cara penanganan kejang

 Memeberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali  Pemebrian obat profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang

(14)

9. Prognosis

Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Tidak ada laporan kecacatan akibat komplikasi dari kejang demam. Akan tetapi, kelainan neurologis dapat terjadi pada kasus kejang demam lama atau berulang, baik yang umum maupun fokal.2

Kejang demam akan berulang lagi pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah :2

 Riwayat kejang demam dalam keluarga  Usia kurang dari 12 bulan

 Temperature rendah saat kejang (kurang dari 39 derajat celcius)  Cepatnya kejang setelah demam

 Jika kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks

Jika anak memiliki semua faktor diatas maka kemungkinan berulangnya kejang demam sebanyak 80% dan jika tidak terdapat faktor tersebut maka kemungkinan berulang hanya sekitar 10-15%.2

(15)

BAB II

CASE PASIEN

1. Identitas Pasien

  Nama : An. K

 Tgl lahir : 4 november 2012  Umur : 4 tahun 2 bulan  Jenis kelamin : perempuan  Agama : Islam  Pendidikan :

- Alamat : Cipinang besar utara

Ayah

  Nama : Tn. C

 Tanggal lahir : 15 –  06- 1994  Agama : islam

 Pendidikan : SD

 Pekerjaan : pedagang mainan  Penghasilan : > 1.500.000 Ibu   Nama : Ny. S  Tanggal lahir : 05 –  07 -1994  Agama : Islam  Pendidikan : SD

 Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Hubungan dengan orang tua : anak kandung

2. Riwayat kehamilan dan kelahiran Kehamilan :

 Perawatan antenatal :

Trimester 1 = 1x /bulan di puskesmas cipinang Trimester II =1x/ bulan di puskesmas cipinang Trimester III = 3x /bulan di puskesmas cipinang

(16)

 Penyakit kehamilan : di sangkal

Kelahiran :

 Tempat kelahiran : Rumah bersalin  Penolong persalinan : Bidan

 Cara persalinan : Spontan  Penyulit persalinan :

- Masa gestasi : Lebih bulan

Keadaan bayi :

 Berat badan lahir : 3700 gr  Panjang badan lahir : 50 cm

 Lingkar kepala : (ibu pasien tidak tahu )  Langsung menangis

  Nilai APGAR : ibu pasien tidak tahu  Kelainan bawaan : di sangkal

3. Riwayat perkembangan

 Pertumbuhan gigi pertama : 11 bulan  Psikomotor

- Tengkurap : 5 bulan -berjalan : 12 bulan

- Duduk : 7 bulan -berbicara : 19 bulan

- berdiri : 10 bulan membaca / menulis : -- Merangkak:

4. Riwayat imunisasi

Vaksin Dasar (Umur) Ulangan (Umur)

BCG 1 bulan

DPT / DT 2 bulan 4 bulan

POLIO 0 bulan 2 bulan

Campak 9 bulan

Hepatitis B 0 bulan 2 bulan

MMR

-TIPA

(17)

5. Riwayat makanan

 0 – 6 bulan : pasien mendapatkan ASI eksklusif yang diberikan sesuai keinginan

 pasien selama ± 10-15 menit

 6-9 bulan : pasien mulai mendapatkan susu formula sebanyak 100 ml sebanyak

3-4 x sehari dan makanan pendamping berupa bubur nasi setengah porsi mangkuk  bayi sebanyak 3-4 kali sehari

 9 – 12 bulan : pasien masih mendapatkan susu formula sebanyak ± 200 cc sebanyak

4 x sehari ditambah dengan bubur dengan sayur yang dilunakkan 1 mangkuk bayi sebanyak 3 x sehari

 >12 bulan : pasien masih mendapatkan susu formula sebanyak ± 200 cc sebanyak

4 x sehari ditambah dengan bubur dengan sayur yang dilunakkan 1 mangkuk bayi sebanyak 2 x sehari juga pendamping lainnya berupa nasi tim + sayuran lunak + lauk  pauk (ayam + telur) sebanyak 3 x sehari

Kesan: kualitas dan kuantitas makanan sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak.

6. Riwayat keluarga Corak reproduksi

Nomor Umur

(tahun)

Jenis

kelamin Hidup Lahir mati Abortus

Mati (sebab)

Keterangan kesehatan

Keterangan Ayah/wali Ibu/wali

Perkawinan ke 1 1

(18)

Konsanguitas - -Keadaan kesehatan/penyakit bila ada sehat sehat Data Perumahan

Kepemilikan Rumah : Kontrakan

Keadaan rumah : Dinding terbuat dari tembok Atap terbuat dari genting Ventilasi kurang

Jarak septic tank ke sumber air bersih 8 meter

Lingkungan : Sehat

7. Riwayat penyakit dan Anamnesis

 Keluhan utama :

Kejang

 Keluhan tambahan :

Demam

Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien datang dengan keluhan kejang 1 hari sebelum masuk rumah sakit . kejang dirasakan  pasien selama 20 –  30 menit. Kejang seperti gerakan menghentak. Kaku seluruh badan kaki dan tangan mata terbelakak dan mulut tertutup rapat. Tidak nampak busa di sekitar mulut. Setelah kejang pasien menangis 5-10 menit kemudian langsung tertidur. Kejang terjadi sebanyak 3 kali menurut pengakuan ibu pasien yaitu pukul 06.00 , 13.00 dan pukul 19.00 . awalnya pasien mengalami demam . 1 hari sebelum keluhan kejang timbul. Demam di rasa sepanjang hari. Di ukur suhunya 38,5 ‘ C . pasien di bawa ke puskesmas dan di berikan obat  penurun panas , namun belum Nampak perbaikan. Menurut pengakuan ibu pasien setiap kejadian kejang yang dialami selalu diawali dengan demam tinggi. Batuk (+) . pilek (+).sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. buang air besar dan kecil tidak ada keluhan.

(19)

Riwayat penyakit dahulu :

Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini saat berusia 1 tahun dan diare asst usia 15  bulan.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Ayah dan ibu pasien juga pernah mengalami keluhan yang sama saat usia muda.

Riwayat penyakit dalam keluarga

Riwayat TBC, Asma, sakit jantung, darah tinggi, kencing manis, sakit kuning disangkal.

8. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : tampak sakit sedang ( tidak Nampak penurunan kesadaran , pasien masih dapat beraaktivitas namun terbatas )

Kesadaran : Composmentis ( Tekanan Darah : 100/60 mmHg  Nadi : 105 x / menit Suhu : 37,5 ‘ C Pernapasan : 28 x / menit Data Antopometri Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Lingkar Lengan Atas : 15 cm Lingkar kepala : 49 cm

Menurut data WHO 2006

 BB/U : -2SD < X < +2SD

Kesan berat badan cukup

 TB/U : -2SD < X < +2SD

Kesan perawakan baik/normal

(20)

Kesan status gizi baik 

8.1. Pemeriksaan Sistem Kepala

 Bentuk : Normocephali

 Rambut dan Kulit kepala : Warna hitam , pertumbuhan dan penyebaran merata  Mata : pupil isokor, d : 2mm/2mm, RCL +/+, RCTL +/+  Telinga : liang telinga lapang . serumen (-)

 Hidung :Cavum nasi lapang, secret (-), pernafasan cuping

hidung (-)

 Mulut :

Bibir : lembab

Gigi geligi : belum lengkap

Lidah : tidak hiperemis

Tonsil : T2 T2. hiperemis

Faring : hiperemis

 Leher : kelenjar getah bening regio sub mandibula.regio colli

anterior, region colli posterior tidak teraba membesar.

 Thorax :

Dinding Thorax : Normochest

Paru :

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus simetris kiri- kanan

Perkusi : sonor –  sonor

Auskultasi : bunyi nafas dasar vesicular. Ronkhi wheezing

-/-Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba di intercosta 5 linea mid clavicular sinistra.

(21)

Auskultasi : bunyi jantung I & II regular. Murmur (-). Gallop (-) Abdomen

Inspeksi : tampak mendatar Palpasi : supel , NT (-) Perkusi : Timpani , NT (-) Auskultasi : BU (+), 5x /menit

Anus dan rectum : Tidak Nampak kelainan Genitalia : Tidak Nampak kelainan Anggota gerak :

 Atas  Bawah

Tulang belakang : Kifosis (-) Skoliosis (-) Lordosis (-) Kulit : Tidak Nampak kelainan

Kelenjar Getah Bening : Regio inguinal , region axilla ti dak teraba membesar

8.2. Pemeriksaan Neurologis Nervus Cranialis I : sulit di nilai II: sulit di nilai

III: Pergerakan bola mata ke segala arah IV: pergerakan bola mata ke segala arah V : sulit di nilai

VI : Pergerakan bola mata ke segala arah VII : Wajah Simetris

VIII: Pendengaran Baik IX : Refleks menelan baik X : sulit di nilai

XI : menoleh + kiri kanan XII : julur lidah simetris

(22)

Pemeriksaan Refleks

 Refleks Fisiologis : Biceps ++/++ KPR ++/++

Triceps ++/++ APR ++/++

 Refleks Patologis : Babinski -/- Rosolimo

-/-Chaddock -/- Schuffer -/-Gordon -/- Openheim -/- Rangsang Meningen Kaku kuduk (-) Brudzinksi 1 (-) Brudzinki 2 (-) Kernig (-) Laseq (-) 9. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : Hb : 12,2 g/dl Trombosit : 286 ribu

Leukosit : 14,2 ribu /ul elektrolit : Na : 136 mmol/L Cl : 101 mmol/ L

Hematokrit : 37,5 % K : 4,4 mmol/L

10. Diagnosa

 Diagnosa Kerja :

o Kejang Demam Kompleks o Tonsilofaringitis

(23)

o Encephalitis 11. Tatalaksana : Diet : Lunak BBI x FDA (BMI x TB 2) x FDA = IVFD :Kaen 1 B ( 12 tpm ) Cefadroxil 2 x 210 mg Depacote 2 x 1,5 cc Paracetamol 3 x 1 ½ Cth.

 Ad Vitam : Dubia ad bonam

 Ad Fungsionam : Dubia ad bonam  Ad Sanationam : Dubia ad malam

(24)

Follow Up Pasien per Hari

Follow up 21 Desember 2016 PP : hari ke 2 PH : 1 Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Subject Kejang (-) Demam (-) Batuk (+) Object

KU: Tampak sakit sedang Kesadaran : composmentis TD : 110 /60 mmhg

 N : 90 x/menit S : 37,2 C Rr : 25 x/m

Mata : konjungtiva anemis Hidung : secret

-/-Tenggorok : faring hiperemis Tonsil T2-T2 hiperemis Thorax :

I : Pergerakan dinding dada simetris kiri –  kanan

P : Vocal fremitus simetris kiri-kanan

P: Sonor –  sonor

A: BND vesikuler . Ronkhi Whezing

-/-Abdomen :

I : perut tampak datar A: BU (+) 4x/menit

P : nyeri ketuk (-) timpani P : supel, Nyeri tekan (-) Pemeriksaan neurologis : Rangsang meningen :

Kaku kuduk -/ Brudzinksi 2 Brudzinski 1 -/-Kernig -/- Laseq -/-Reflex fisiologis : Biceps ++/++ Triceps ++/++ Kpr ++/++ Apr ++/++ Refleks Patologis : Babinski Rossolimo Chadock Mendel Gordon Schaffer Oppenheim Klonus otot Klonus kaki -/-Assesment -Kejang Demam Kompleks -Tonsilofaringitis Laboratorium : -Planning

Diet : Lunak 1500 kkal IVFD : Kaen 1B 12 (makro ) Mm : Cefadroxil Syrup 2 x 210 mg Depacote 2 x 75 mg Paracetamol syrup 3 x 1 ½ cth

(25)

Follow up 22 Desember 2016 PP : hari ke 3 PH : 2 Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Subject Kejang (-) Demam (-) Batuk (+)  Nafsu makan  berkurang Object

KU: Tampak sakit sedang Kesadaran : composmentis TD : 100 /60 mmhg

 N : 106 x/menit S : 37,2 C

Rr : 29 x/m

Mata : konjungtiva anemis Hidung : secret

-/-Tenggorok : faring hiperemis Tonsil T2-T2 hiperemis Thorax :

I : Pergerakan dinding dada simetris kiri –  kanan

P : Vocal fremitus simetris kiri-kanan

P: Sonor –  sonor

A: BND vesikuler . Ronkhi Whezing

-/-Abdomen :

I : perut tampak datar A: BU (+) 4x/menit

P : nyeri ketuk (-) timpani P : supel, Nyeri tekan (-) Pemeriksaan neurologis : Rangsang meningen :

Kaku kuduk -/ Brudzinksi 2 Brudzinski 1 -/-Kernig -/- Laseq -/-Reflex fisiologis : Biceps ++/++ Triceps ++/++ Kpr ++/++ Apr ++/++ Refleks Patologis : Babinski Rossolimo Chadock Mendel Gordon Schaffer Oppenheim Klonus otot Klonus kaki -/-Assesment -Kejang Demam Kompleks -Tonsilofaringitis Laboratorium : -Planning

Diet : Lunak 1500 kkal IVFD : Kaen 1B 12 (makro ) Mm : Cefadroxil Syrup 2 x 210 mg Depacote 2 x 75 mg Paracetamol syrup 3 x 1 ½ cth

(26)

Follow up 23 Desember 2016 PP : hari ke 4 PH : 3 Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Subject Kejang (-) Demam (+) Demam tinggi semalam Batuk (+) Belum BAB sejak 2 hari.  Nafsu makan membaik Object

KU: Tampak sakit sedang Kesadaran : composmentis TD : 100 /60 mmhg

 N : 116 x/menit S : 38 C

Rr : 28 x/m

Mata : konjungtiva anemis Hidung : secret

-/-Tenggorok : faring tidak hiperemis

Tonsil T2-T2 tidak hiperemis Thorax :

I : Pergerakan dinding dada simetris kiri –  kanan

P : Vocal fremitus simetris kiri-kanan

P: Sonor –  sonor

A: BND vesikuler . Ronkhi Whezing

-/-Abdomen :

I : perut tampak datar A: BU (+) 4x/menit

P : nyeri ketuk (-) timpani P : supel, Nyeri tekan (-) Pemeriksaan neurologis : Rangsang meningen :

Kaku kuduk / Brudzinksi 2 - /-Brudzinski 1 -/-Kernig -/- Laseq -/-Reflex fisiologis : Biceps ++/++ Triceps ++/++ Kpr ++/++ Apr ++/++ Refleks Patologis : Babinski Rossolimo Chadock Mendel Gordon Schaffer Oppenheim Klonus otot Klonus kaki -/-Assesment -Kejang Demam Kompleks - Tonsilofaringitis Laboratorium : LED : 11 mm/jam Hb : 12,8 g/dl Eritrosit : 5,14 juta /ml Ht : 40,4 % Trombosit : 157 ribu/uL MCV : 78,6 /fL MCH/HER : 24,9  pg MCHC : 31,7 g/dl Hitung jenis leukosit : 0/1/1/57/36/6 Planning Diet : Lunak 1500 kkal IVFD : Kaen 1B 12 (makro ) Mm : Cefadroxil Syrup 2 x 210 mg (5) Depacote 2 x 75 mg (5) Paracetamol syrup 3 x 1 ½ cth Dexamethasone 3 x 0,7 mg (iv)

(27)

Follow up 24 Desember 2016 PP : hari ke 5 PH : 4 Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Subject Kejang (-) Demam (-) Bebas demam 1 hari. Batuk (-) Object

KU: Tampak sakit sedang Kesadaran : composmentis TD : 110 /60 mmhg

 N : 100 x/menit S : 36,2 C

Rr : 29 x/m

Mata : konjungtiva anemis Hidung : secret

-/-Tenggorok : faring tidak hiperemis

Tonsil T2-T2 tidak hiperemis Thorax :

I : Pergerakan dinding dada simetris kiri –  kanan

P : Vocal fremitus simetris kiri-kanan

P: Sonor –  sonor

A: BND vesikuler . Ronkhi Whezing

-/-Abdomen :

I : perut tampak datar A: BU (+) 4x/menit

P : nyeri ketuk (-) timpani P : supel, Nyeri tekan (-) Pemeriksaan neurologis : Rangsang meningen :

Kaku kuduk -/ Brudzinksi 2 Brudzinski 1 -/-Kernig -/- Laseq -/-Reflex fisiologis : Biceps ++/++ Triceps ++/++ Kpr ++/++ Apr ++/++ Refleks Patologis : Babinski Rossolimo Chadock Mendel Gordon Schaffer Oppenheim Klonus otot Klonus kaki -/-Assesment -Kejang Demam Kompleks -Tonsilofaringitis Laboratorium : Hb : 12,9 g /dl Leukosit : 6,5 ribu /ul Ht : 41,1 % Trombosit : 136 ribu / uL Planning

Diet : Lunak 1500 kkal IVFD : Kaen 1B 12 (makro ) Mm : Cefadroxil Syrup 2 x 210 mg Depacote 2 x 75 mg Paracetamol syrup 3 x 1 ½ cth Dexamethasone 3 x 0,7 mg (iv)

(28)

Follow up 25 Desember 2016 PP : hari ke 6 PH : 5 Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Subject Kejang (-) Demam (-) Bebas demam 2 hari. Batuk (-) Object

KU: Tampak sakit sedang Kesadaran : composmentis TD : 110 /60 mmhg

 N : 100 x/menit S : 36,2 C

Rr : 29 x/m

Mata : konjungtiva anemis Hidung : secret

-/-Tenggorok : faring tidak hiperemis

Tonsil T2-T2 tidak hiperemis Thorax :

I : Pergerakan dinding dada simetris kiri –  kanan

P : Vocal fremitus simetris kiri-kanan

P: Sonor –  sonor

A: BND vesikuler . Ronkhi Whezing

-/-Abdomen :

I : perut tampak datar A: BU (+) 4x/menit

P : nyeri ketuk (-) timpani P : supel, Nyeri tekan (-) Pemeriksaan neurologis : Rangsang meningen :

Kaku kuduk -/ Brudzinksi 2 Brudzinski 1 -/-Kernig -/- Laseq -/-Reflex fisiologis : Biceps ++/++ Triceps ++/++ Kpr ++/++ Apr ++/++ Refleks Patologis : Babinski Rossolimo Chadock Mendel Gordon Schaffer Oppenheim Klonus otot Klonus kaki -/-Assesment -Kejang Demam Kompleks -Tonsilofaringitis Laboratorium : Hb : 13,2 g/dl Leukosit : 7,2 ribu /uL Ht : 41,3 % Trombosit : 129 ribu /uL Planning

Diet : Lunak 1500 kkal IVFD : Kaen 1B 12 (makro ) Mm : Cefadroxil Syrup 2 x 210 mg (5) Depacote 2 x 75 mg (5) Paracetamol syrup 3 x 1 ½ cth

(29)

Follow up 26 Desember 2016 PP : hari ke 7 PH : 6 Berat Badan : 14 kg Tinggi badan : 105 cm Subject Kejang (-) Demam (-) Bebas demam 3 hari. Batuk (-) Object

KU: Tampak sakit ringan Kesadaran : composmentis TD : 109 /60 mmhg

 N : 105 x/menit S : 36,4 C

Rr : 27 x/m

Mata : konjungtiva anemis Hidung : secret

-/-Tenggorok : faring tidak hiperemis

Tonsil T2-T2 tidak hiperemis Thorax :

I : Pergerakan dinding dada simetris kiri –  kanan

P : Vocal fremitus simetris kiri-kanan

P: Sonor –  sonor

A: BND vesikuler . Ronkhi Whezing

-/-Abdomen :

I : perut tampak datar A: BU (+) 4x/menit

P : nyeri ketuk (-) timpani P : supel, Nyeri tekan (-) Pemeriksaan neurologis : Rangsang meningen :

Kaku kuduk -/ Brudzinksi 2 Brudzinski 1 -/-Kernig -/- Laseq -/-Reflex fisiologis : Biceps ++/++ Triceps ++/++ Kpr ++/++ Apr ++/++ Refleks Patologis : Babinski Rossolimo Chadock Mendel Gordon Schaffer Oppenheim Klonus otot Klonus kaki -/-Assesment -Kejang Demam Kompleks -Tonsilofaringitis Laboratorium : Hb : 14,0 g/dl Leukosit : 6,3 ribu /uL Ht : 44,5 % Trombosit : 167 ribu /uL Planning Rawat jalan Kontrol tanggal 29 desember 2016 Mm: Cefadroxil Syrup 2x210mg Depacote 2x1,5 cc

(30)

BAB III

ANALISA KASUS

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada  pasien kasus ini diagnosis sudah sesuai dengan berdasarkan tinjauan pustaka. Dari anamnesis didapatkan gejala pasien berupa kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit dan berulang sebanyak 3 kali dalam 24 jam. Pasien juga demam dengan suhu diukur 38,5 ‘ C. Pasien juga

mengeluh batuk dan pilek 1 hari sebelum mengalami kejang.

Menurut tinjauan pustaka, kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium atau kejang yang terjadi pada masa kanak-kanak setelah umur 1 tahun yang berhubungan demam yang tidak disebabkan oleh infeksi system saraf pusat, tanpa riwayat kejang neonatal atau kejang yang diprovokasi dan tidak memenuhi kriteria gejala kejang akut lainnya.

Kejang demam dibagi menjadi 2 yaitu :

 Kejang demam sederhana  Kejang demam kompleks

Kejang demam sederhana berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan biasanya akan berhenti sendiri. Kejang tipe ini berbentuk umum tonik, klonik atau keduanya tanpa disertai gerakan fokal. Kejang tipe ini tidak berulang dalam waktu 24 jam.

Kejang demam akan disebut kompleks jika memiliki salah satu dari kriteria ini: 1.) kejang lama berlangsung lebih dari 15 menit; 2.) kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial; 3.) berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Kejang lama merupakan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau  berlangsung lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan anak tidak sadar. Kejang fokal

(31)

Dari pemeriksaan fisik pada pasien ditemukan suhu relative tinggi 37,2‘C, tonsil T2-T2 dan hiperemis. Dari pemeriksaan rangsang meningeal, nervus kranialis dan morotik tidak ditemukan kelainan berupa kaku kuduk, parese nervus kranialis maupun kelumpuhan. Dari  pemeriksaan laboratorium ditemukan Leukosit 14.200/uL (normal 5-15,5 ribu/uL, rerata 8,5

ribu/ul).

Jadi pada kasus ini, gejala dan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sudah sesuai dengan tinjauan pustaka pada kasus Kejang Demam Kompleks yang disebabkan oleh Tonsilofaringitis.

Gambar

Gambar 1. Algoritma Penanganan Kejang Akut dan Status Epileptikus. 8 Beberapa hal yang harus dikerjakan bila anak kejang : 2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi maksimum dari fermentasi larutan glukosa dengan teknik immobilisasi sel

• Ketepatan dalam menjelaskan perkembangan transportasi di Indonesia Kriteria: Ketepatan dalam menjelaskan Bentuk Penilaian: Membuat makalah mengenai topik atau isu

Pada model pembelajaran kolaboratif kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya peserta didiklah yang harus lebih aktif. Guru

Auditor internal harus memiliki keahlian dan memastikan bahwa perusahaan tersebut telah melakukan praktik-praktik dalam penerapan prinsip-prinsip good governance yang

Kemampuan dasar keilmuan dan humanitas berdasar keimanan tentunya merupakan landasan bagi setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berwujud sensitifitas dan

Keadaan ini boleh berlaku apabila lapisan asfal yang tertanggal dari permukaan jalan, akibat daripada keadaan i katan diantara aggregat dan bitumen tidak kuat.. Ia mempengaruhi

Isoenzyme usus memiliki sangat pendek setengah-hidup dan tidak signifikan menambah tingkat ALP serum pada anjing dan kucing 1 Tikus memiliki aktivitas ALP tinggi

Spesifikasi pekerjaan adalah uraian persyaratan kualitas minimum orang yang bisa diterima agar dapat menjalankan satu jabatan dengan baik dan kompeten.. Spesifikasi pekerjaan