(Studi Kasus terhadap Waria di Kota Semarang Tahun
(Studi Kasus terhadap Waria di Kota Semarang Tahun 2007)2007)
SKRIPSI SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang Universitas Negeri Semarang
Untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat Untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat
guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Oleh : Oleh : DEWI MUTHI’AH DEWI MUTHI’AH NIM. 1550402029 NIM. 1550402029 FAKULTAS
FAKULTAS ILMUILMUPENDIDIKANPENDIDIKAN UNIVERSITAS
UNIVERSITASNEGERINEGERI SSEEMARANGMARANG 2007
Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan dinyatakan diterima untuk memenuhi Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan dinyatakan diterima untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh gelar S
sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi, pada :arjana Psikologi, pada : H
Haarrii : : JJuumm’’aatt T
Taannggggaall : : 220 0 JJuulli i 22000077
Panitia Ujian Skripsi Panitia Ujian Skripsi K
Keettuuaa SSeekkrreettaarriiss
Dr.
Dr. AgAguus s SaSali li m m , , M.M.S S DDrsrs. . E E d d y y PuPurwrwanantoto,M ,M .S.Sii N
NIIPP. . 113311112277008822 NNIIPP. . 113311669999330022 Dewan Penguji
Dewan Penguji 1.
1. Liftiah, Liftiah, S.Psi, S.Psi, M M .Si .Si ……….... NIP. 132170599
NIP. 132170599 2. Dra.
2. Dra. Sri Sri Mar Mar y y ati ati DelianDeliana, a, M.Si. M.Si. ………..….. NIP. 131125886
NIP. 131125886 3.
3. Dra. Dra. Tri Tri E E sti sti BudininBudiningsih gsih ………..……….. NIP. 131570067 NIP. 131570067 Mengesahkan, Mengesahkan, Semarang, 20 Juli 2007 Semarang, 20 Juli 2007 Fakultas Ilmu Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan Dekan Dekan Drs. Drs. AAg g u u s s S S a a lli i m m , , MM..SS NIP. 1301127082 NIP. 1301127082 iiii
Oleh: Dewi Oleh: Dewi Muthi’ah Muthi’ah 1550402029 1550402029
Skripsi dibawah bimbingan Dra. Sri Maryati Deliana, M.Si dan Dra. Skripsi dibawah bimbingan Dra. Sri Maryati Deliana, M.Si dan Dra. Tri Esti Budiningsih.
Tri Esti Budiningsih.
Kehadiran seorang waria menjadi bagian dari kehidupan sosial rasanya tidak Kehadiran seorang waria menjadi bagian dari kehidupan sosial rasanya tidak mungkin dihindari. Waria bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi masyarakat mungkin dihindari. Waria bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Semarang. Di Semarang, kita tidak menjumpai Indonesia, khususnya masyarakat Semarang. Di Semarang, kita tidak menjumpai waria ditempat ”
waria ditempat ”cebongancebongan” (tempat pelacuran) di jalan Cakrawala, di kawasan” (tempat pelacuran) di jalan Cakrawala, di kawasan
Tanggul Indah (TI) dan kawasan Kota Lama. Di lingkungan ”
Tanggul Indah (TI) dan kawasan Kota Lama. Di lingkungan ”cebongancebongan” (tempat” (tempat
pelacuran) kehadiran seorang waria dapat diterima secara utuh, sebagai media pelacuran) kehadiran seorang waria dapat diterima secara utuh, sebagai media sosialisasi, tempat membangun solidaritas sosial antar waria dan untuk membangun sosialisasi, tempat membangun solidaritas sosial antar waria dan untuk membangun kkoonnsseepp ddiirrii.. PPeerraann kkeelluuaarrggaa,, mmaassyyaarraakkaatt ddaann tteemmaann ssaannggaatt ppeennttiinngg bbaaggii perkembangan konsep diri seorang waria. Konsep diri merupakan faktor yang dibawa perkembangan konsep diri seorang waria. Konsep diri merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman sejak lahir, tetapi merupakan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam hubungannya dengan orang lain. Konsep diri yang terbentuk baik individu dalam hubungannya dengan orang lain. Konsep diri yang terbentuk baik positif maupun negatif tergantung dari penerimaan dan penilaian dari orang lain positif maupun negatif tergantung dari penerimaan dan penilaian dari orang lain
terhadap seorang waria. terhadap seorang waria.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri yang tertanam pada Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri yang tertanam pada diri seorang waria yang hidup ditengah-tengah lingkungan masyarakat, untuk diri seorang waria yang hidup ditengah-tengah lingkungan masyarakat, untuk mengetahui
mengetahui dinamika pembentukan konsep dinamika pembentukan konsep diri seorang waria diri seorang waria dan untuk mengetahuidan untuk mengetahui latar belakang kehidupan seorang waria.
latar belakang kehidupan seorang waria.
Subyek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, alasan mengambil tiga Subyek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, alasan mengambil tiga subyek yaitu untuk mengetahui variasi konsep diri, dinamika psikologi serta latar subyek yaitu untuk mengetahui variasi konsep diri, dinamika psikologi serta latar belakang kehidupan pada diri subyek. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan belakang kehidupan pada diri subyek. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan wawancara, observasi dan tes psikologi. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara, observasi dan tes psikologi. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara tersruktur dimana peneliti lebih dahulu mempersiapkan pedoman wawancara tersruktur dimana peneliti lebih dahulu mempersiapkan pedoman wawancaranya, observasi yang dilakukan yaitu menggunakan teknik observasi non wawancaranya, observasi yang dilakukan yaitu menggunakan teknik observasi non partisipan dan tes psikologi yang digunakan yaitu tes grafis, tes
partisipan dan tes psikologi yang digunakan yaitu tes grafis, tes Edward’s Personal Edward’s Personal Preference Schedule
Preference Schedule(EPPS) dan TIU 5.(EPPS) dan TIU 5.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya yang melatar belakangi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya yang melatar belakangi seseorang menjadi waria adalah adanya beberapa penyebab yaitu faktor biologis, seseorang menjadi waria adalah adanya beberapa penyebab yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan faktor sosiologis.
faktor psikologis dan faktor sosiologis.
Dari hasil penelitian yang telah diperoleh yaitu bahwa subyek pertama Dari hasil penelitian yang telah diperoleh yaitu bahwa subyek pertama memiliki
memiliki konsep diri yang negatif, konsep diri yang negatif, subyek kedua memiliki konsep diri yang subyek kedua memiliki konsep diri yang positif positif dan subyek ketiga memiliki konsep diri yang negatif. Dari hasil penelitian juga dapat dan subyek ketiga memiliki konsep diri yang negatif. Dari hasil penelitian juga dapat
iii iii
Berdasarkan penelitian peneliti dapat memberi masukan terutama kepada Berdasarkan penelitian peneliti dapat memberi masukan terutama kepada orangtua, dimana orangtua hendaknya bisa menempatkan dan memilih pola asuh orangtua, dimana orangtua hendaknya bisa menempatkan dan memilih pola asuh yang sesuai dengan jenis kelamin anak, harus memperhatikan perkembangan anaknya yang sesuai dengan jenis kelamin anak, harus memperhatikan perkembangan anaknya secara seksama dan orangtua sebaiknya memperhatikan lingkungan sosial anak. secara seksama dan orangtua sebaiknya memperhatikan lingkungan sosial anak. Selain itu, masyarakat diharapkan tidak mendiskriminasikan kaum minoritas yaitu Selain itu, masyarakat diharapkan tidak mendiskriminasikan kaum minoritas yaitu waria (
waria (transsexual transsexual ).). Kata kunci:
Kata kunci: Konsep diri dan waria.Konsep diri dan waria.
iv iv
“Kerjakan sesuatu yang bermanfaat dan memintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah bersikap lemah” (Hadist).
“Jikat a k d i r m e m b i a r k a nh i d u pQ - t h at a n p ac o b a a n ,m a k aQ - t h atid a ka k a np e r n a hmenja d im a n u s i a
y a n gkua td a n t e r b a n gt i n g g i ”(p e n u l i s ) .
“Mengharapkan yang paling baik dan mempersiapkan yang paling buruk dalam setiap hal yang akan Q-tha lakukan”
(penulis).
Skripsi ini ku persembahkan kepada :
“Bapak dan Ibu yang senantiasa memberikan semangat, kasih sayang, kesabaran dan keridhoannya dalam membimbing di
setiap langkahku dengan penuh kasih dan do’a.
”A’ Agoes yang selalu memberikan motivasi, kasih serta ketulusan hatinya”.
“Adik-adikku Dhiny dan Ely yang selalu memberiku semangat.
KATA PENGANTAR
tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW dan semoga kita semua mendapat syafaatNya kelah di Yaumil Qiyamah, Amin.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, motivasi serta do’a sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul : “Konsep Diri dan Latar Belakang Kehidupan Waria (Studi Kasus Terhadap Waria di Kota Semarang Tahun 2007)”.
Pada kesempatan ini, penulis berkeinginan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada :
1. Dr. Agus Salim, M.S. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
2. Dra. Sri Maryati Deliana, M.Si. Ketua Jurusan Psikologi yang menjadi ibu untuk seluruh mahasiswa psikologi dan sebagai Dosen Pembimbing I yang selalu bersedia diganggu ditengah kesibukannya.
3. Dra. Tri Esti Budiningsih. Dosen pembimbing II yang selalu setia mendengarkan keluhan penulis, mau memahami keinginan penulis dan bersedia membimbing penulis ditengah kesibukannya.
4. Seluruh dosen Psikologi UNNES yang telah memberikan bimbingan dan bekal ilmu kepada penulis selama kuliah
Mbak Lisa dan Mas Egies yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian dan membantu dalam pelaksanaan penelitian.
6. Mbak Ar, Mbak Sh dan Tante Vh sebagai subyek penelitian yang bersedia menceritakan seluruh pengalaman hidupnya sebagai seorang waria dan mempercayai penulis.
7. Bapak dan Ibu yang tak henti-hentinya mendo’akan dan memberikan semangat untuk selalu menjadi yang terbaik.
8. Adik-adikku Dhiny dan Ely yang selalu mencelaku kapan aku lulus namun semua itu menjadi Spirit dalam setiap langkahku.
9. A’ Agoes yang selalu memberikan semangat dan siap membantu disaat penulis memerlukan bantuan.
10. Anton, temen yang paling kacau yang selalu menemani saat observasi dan pengambilan data di tempat “cebongan” (tempat pelacuran) dari malam
sampai pagi.
11. Sahabat-sahabat angkatan 2002 Psikologi, special Renny, Dian, Nanung dan Mela yang setia merangkulku saat aku lalai dan mendengarkan setiap keluh kesahku.
12. Teman-teman KKN Wajar 9 Tahun di Banjarharjo Brebes 2006, Pak Ketoe, Shila, Nendah, Ella, Fery, dan Edo yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi.
Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan dari Allah SWT, Amin…Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini sangat penulis harapkan dan semoga skripsi dapat bermanfaat.
Semarang,
Penulis
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... .. vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN... xvi
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Kajian ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 9
F. Sistematika Skripsi... 10
BAB II : PERSPEKTIF TEORITIK DAN KAJIAN PUSTAKA ... 12
A. Kaum Waria (Transsexual )... 12
1. Pengertian Waria……… 12
4. Ciri-Ciri Waria ... 18
5. Faktor Pendukung Terjadinya Waria ... 19
Konsep Diri ... 25
1. Pengertian Konsep Diri... 25
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri ... 27
3. Aspek-Aspek Konsep Diri ... 34
4. Karakteristik Konsep Diri ... 36
5. Gambaran Terbentuknya Konsep Diri Waria ... 40
6. Kerangka Teoritik ... 42
B. BAB III : METODE PENELITIAN... 43
A. Pendekatan Penelitian ... 43
B. Unit Analisis ... 45
1. Unit analisis penelitian... 45
2. Subyek penelitian... 45
C. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data... 47
1. Teknik Pengumpulan Data... 47
a. Teknik Wawancara... 48
b. Teknik Observasi... 51
c. Metode Tes... 52
BAB IV : GAMBARAN SETTING PENELITIAN... 60
BAB V : TEMUAN-TEMUAN PENELITIAN... 68
A. Subyek Pertama (Ar)... 68
1. Identitas dan Ciri Fisik... 68
2. Konsep Diri ... 70
3. Faktor Pembentuk Konsep Diri... 72
4. Karakteristik Konsep Diri ... 80
5. Tes Grafis (DAP, Tree Test dan HTP) ………..… 82
6. Tes Edward’s Personal Perference Schedule (EPPS)…………. 84
7. Tes TIU 5 ... 86
B. Subyek Kedua (Sh)……… 86
1. Identitas dan Ciri Fisik... 86
2. Konsep Diri ... 88
3. Faktor Pembentuk Konsep Diri ... 90
4. Karakteristik Konsep Diri ... 95
5. Tes Grafis (DAP, Tree Test dan HTP) ……… 97
6. Tes Edward’s Personal Perference Schedule (EPPS) ………… 99
7. Tes TIU 5 ... 101
2. Konsep Diri ... 103
3. Faktor Pembentuk Konsep Diri... 105
4. Karakteristik Konsep Diri ... 112
5. Tes Grafis (DAP, Tree Test dan HTP)………. 115
6. Tes Edward’s Personal Perference Schedule (EPPS) ………….. 117
7. Tes TIU 5 ………. 119
BAB VI : PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN ... 120
A. Hasil Analisis Subyek Pertama (Ar) ... 120
1. Latar Belakang Ar menjadi Waria ………. 123
2. Dinamika Konsep Diri pada Diri Ar ... 129
3. Karakteristik Konsep Diri Ar... 139
B. Hasil Analisis Subyek Kedua (Sh) ……….. 142
1. Latar Belakang Sh menjadi Waria ... 145
2. Dinamika Konsep Diri pada Diri Sh ... 151
3. Karakteristik Konsep Diri Sh... 157
C. Hasil Analisis Subyek Ketiga (Vh)... 160
1. Latar Belakang Vh menjadi Waria... 163
2. Dinamika Konsep Diri pada Diri Vh... 170
3. Karakteristik Konsep Diri Vh ... 178
2. Dinamika Konsep Diri Waria ... 188
3. Karakteristik Konsep Diri Waria ... 193
BAB VII: KESIMPULAN DAN SARAN... 195
A. Kesimpulan ... 195
B. Saran... 197
DAFTAR PUSTAKA ... 200
LAMPIRAN………. 202
Tabel Halaman
1. Unit analisis penelitian……… 45
2. Hasil tes Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS) Ar ……… 84
3. Hasil tes Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS) Sh ……… 99
4. Hasil tes Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS) Vh……… 117
Gambar Halaman
1. Gambar terbentuknya konsep diri waria ... 40
2. Kerangka teoritik... 42
3. Kerangka hasil penelitian subyek pertama (Ar)... 122
4. Kerangka hasil penelitian subyek pertama (Sh)... 144
5. Kerangka hasil penelitian subyek pertama (Vh) ... 162
6. Kerangka kesimpulan hasil penelitian waria... 182
Lampiran Halaman
Lampiran 1 : Pedoman wawancara dan observasi ... 202
Lampiran 2 : Hasil penelitian subyek pertama (Ar)... 207
a. Tes grafis (DAP, Tree test dan HTP)………. 207
b. Tes Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS) ……… 210
c. Hasil observasi I………. 211
d. Hasil observasi II……… 213
e. Hasil wawancara pertama...……… 214
f. Hasil wawancara kedua..……… 236
g. Hasil wawancara dengan teman subyek... 240
h. Hasil wawancara dengan keluarga ... 243
Lampiran 3 : Hasil penelitian subyek kedua (Sh) ... 246
a. Tes grafis (DAP, Tree test dan HTP) ………. 246
b. Tes Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS)………. 249
c. Hasil observasi I………. 250
d. Hasil observasi II..………. 251
e. Hasil observasi III………... 252
f. Hasil wawancara pertama... 254
Lampiran 4 : Hasil penelitian subyek ketiga (Vh)... 278
a. Tes grafis (DAP, Tree test dan HTP) ... 278
b. Tes Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS)………. 281
c. Hasil observasi I ... 282
d. Hasil observasi II... 284
e. Hasil wawancara pertama... 285
f. Hasil wawancara kedua... 299
g. Hasil wawancara dengan teman subyek... 307
Lampiran 5 : Surat ijin penelitian... 309
Lampiran 6 : Surat keterangan telah melaksanakan penelitian... 310
Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat, taufik serta hidayahNya. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW dan semoga kita semua mendapat syafaatNya kelah di Yaumil Qiyamah, Amin.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, motivasi serta do’a sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul : “ Konsep Diri dan Latar Belakang Kehidupan Waria (Studi Kasus Terhadap Waria di Kota Semarang Tahun 2007)”.
Pada kesempatan ini, penulis berkeinginan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada :
1. Dr. Agus Salim, M.S. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
2. Dra. Sri Maryati Deliana, M.Si. Ketua Jurusan Psikologi yang menjadi ibu untuk seluruh mahasiswa psikologi dan sebagai Dosen Pembimbing I yang selalu bersedia diganggu ditengah kesibukannya.
3. Dra. Tri Esti Budiningsih. Dosen pembimbing II yang selalu setia mendengarkan keluhan penulis, mau memahami keinginan penulis dan bersedia membimbing penulis ditengah kesibukannya.
4. Seluruh dosen Psikologi UNNES yang telah memberikan bimbingan dan bekal ilmu kepada penulis selama kuliah
MbAK SiLvy, MbaK LisA dan MaZ ĚĝiS yang telah memberikan ijin untuk MbAK SiLvy, MbaK LisA dan MaZ ĚĝiS yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian dan membantu dalam pelaksanaan penelitian.
mengadakan penelitian dan membantu dalam pelaksanaan penelitian. 6.
6. MbaK AMbaK Ar, Mbar, Mbak Sh dan Tank Sh dan Tante Vh sebte Vh sebagai sagai subyubyek peneek penelitlitian yaian yang bersng bersediediaa menceritakan
menceritakan seluruh pengalaman hidupnya sebagai seluruh pengalaman hidupnya sebagai seorang waria danseorang waria dan mempercayai penulis.
mempercayai penulis. 7.
7. BApäBApäk dan IbÜ yk dan IbÜ yang taang tak hentk henti-hi-hententinyinya menda mendo’ao’akan dan mkan dan memberemberikaikann semangat untuk selalu menjadi yang terbaik.
semangat untuk selalu menjadi yang terbaik. 8.
8. AdiAdik-adk-adikkikku ĐhiNu ĐhiNy dan Ěly dan Ěly yang sey yang selallalu menceu mencelaklaku kapan aku kapan aku luluu lulus namuns namun semua itu menjadi Spirit dalam setiap langkahku.
semua itu menjadi Spirit dalam setiap langkahku. 9.
9. A’ AgA’ AgoEs yaoEs yang selng selalu malu membeemberikrikan semaan semangat dngat dan siaan siap membp membantantu disau disaatat penulis memerlukan bantuan.
penulis memerlukan bantuan.
10. AŇtoN, temen yang paling kacau yang selalu menemani saat observasi dan 10. AŇtoN, temen yang paling kacau yang selalu menemani saat observasi dan pengambilan data di tempat “cebongan” (tempat pelacuran) dari malam pengambilan data di tempat “cebongan” (tempat pelacuran) dari malam
sampai pagi. sampai pagi.
11. Sahabat-sahabat angkatan 2002 Psikologi, special Renny, Dian, Nanung dan 11. Sahabat-sahabat angkatan 2002 Psikologi, special Renny, Dian, Nanung dan Mela yang setia merangkulku saat aku lalai dan mendengarkan setiap keluh Mela yang setia merangkulku saat aku lalai dan mendengarkan setiap keluh kesahku.
kesahku.
12. Teman-teman KKN Wajar 9 Tahun di Banjarharjo Brebes 2006, pAk KeTőe, 12. Teman-teman KKN Wajar 9 Tahun di Banjarharjo Brebes 2006, pAk KeTőe,
ShiLa, NendAh,
ShiLa, NendAh, eLLa, FerRy, eLLa, FerRy, dan Edo ydan Edo yang selalu memberikan ang selalu memberikan semangatsemangat untuk menyelesaikan skripsi.
Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan dari Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan dari Allah SWT, Amin…Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak Allah SWT, Amin…Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini kekurangan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini sangat penulis harapkan dan semoga skripsi dapat bermanfaat.
sangat penulis harapkan dan semoga skripsi dapat bermanfaat.
Semarang, Semarang,
Penulis Penulis
A.
A. Latar Latar BelakangBelakang
Masyarakat modern yang serba kompleks sebagai produk dari Masyarakat modern yang serba kompleks sebagai produk dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi memunculkan kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi memunculkan banyak masalah yang akan membawa dampak negatif. Masalah sosial tersebut banyak masalah yang akan membawa dampak negatif. Masalah sosial tersebut
terjadi karena adanya
terjadi karena adanya penyimpangapenyimpangan terhadap konsep masyarakat ideal.n terhadap konsep masyarakat ideal. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang terbaik yang dicita-citakan, Masyarakat ideal adalah masyarakat yang terbaik yang dicita-citakan, sseehhiinnggggaa kkoonnsseepp mmaassaallaahh ssoossiiaall iittuu tteerrggaannttuunngg ppaaddaa kkoonnsseepp tteennttaanngg m
maassyyaarraakkaatt sseemmppuurrnnaa aattaauu mmaassyyaarraakkaatt yyaanngg ddiisseemmppuurrnnaakkaann.. KonsepKonsep masyarakat ideal dipengaruhi oleh kondisi masyarakat pada saat hidupnya, masyarakat ideal dipengaruhi oleh kondisi masyarakat pada saat hidupnya, oleh karena itu
oleh karena itu masalah sosial dapat ditentukan oleh masalah sosial dapat ditentukan oleh kebudayakebudayaan (Vembriarto,an (Vembriarto, 1994 : 29).
1994 : 29).
PPaaddaa mmaassyyaarraakkaatt yyaanngg mmeemmppuunnyyaaii kkeetteerraattuurraann ssoossiiaall sseerriinngg memandang hal-hal yang di luar kewajaran sebagai sesuatu yang menyimpang memandang hal-hal yang di luar kewajaran sebagai sesuatu yang menyimpang dan melanggar norma. Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan dan melanggar norma. Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat (Horton, 1999:191). Norma diciptakan dan menjadi pedoman bagi masyarakat (Horton, 1999:191). Norma diciptakan dan menjadi pedoman bagi masyarakat melalui proses kesepakatan sosial yang merujuk pada tuntunan agama atau melalui proses kesepakatan sosial yang merujuk pada tuntunan agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan meskipun kepercayaan yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan meskipun sseessuunngggguuhhnnyyaa nnoorrmmaa--nnoorrmmaa tteerrsseebbuutt mmeennggaallaammii ppeerrggeesseerraann ddaann ppaaddaa perkembangan selanjutnya bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial perkembangan selanjutnya bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial
dianggap sebagai suatu kewajaran. Serangkaian norma-norma penting, yang dianggap sebagai suatu kewajaran. Serangkaian norma-norma penting, yang tidak dinyatakan dalam pepatah-pepatah dan tidak disadari serta dianggap tidak dinyatakan dalam pepatah-pepatah dan tidak disadari serta dianggap biasa merupakan aturan yang prosedural untuk mengatur kehidupan sosial biasa merupakan aturan yang prosedural untuk mengatur kehidupan sosial sehari-hari dan pihak-pihak yang tidak mengikuti aturan yang prosedural akan sehari-hari dan pihak-pihak yang tidak mengikuti aturan yang prosedural akan terkena bermacam-macam sanksi sosial (Berry, 2003 : 62).
terkena bermacam-macam sanksi sosial (Berry, 2003 : 62). Munculnya waria sebagai fenomena sosial
Munculnya waria sebagai fenomena sosial transsexual transsexual dianggapdianggap
sebagai perilaku yang menyimpang oleh masyarakat pada umumnya, sebagai perilaku yang menyimpang oleh masyarakat pada umumnya, Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam secara tegas menyatakan bahwa Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam secara tegas menyatakan bahwa manusia diciptakan berpasangan, yaitu pasangan manusia adalah laki-laki dan manusia diciptakan berpasangan, yaitu pasangan manusia adalah laki-laki dan perempuan (Q.S Al. Hujurat : 13). Pelaku
perempuan (Q.S Al. Hujurat : 13). Pelaku transsexual transsexual di Indonesia disebutdi Indonesia disebut
dengan istilah waria (wanita-pria), wadam (wanita-adam), banci atau bencong. dengan istilah waria (wanita-pria), wadam (wanita-adam), banci atau bencong. Namun, kehadiran mereka sebagai kelompok ketiga dalam struktur kehidupan Namun, kehadiran mereka sebagai kelompok ketiga dalam struktur kehidupan manusia tentunya menjadi “tidak diakui”. Karena, secara eksplisit Al-Qur’an manusia tentunya menjadi “tidak diakui”. Karena, secara eksplisit Al-Qur’an tidak pernah menyebut jenis kelamin di luar pria dan wanita. Norma tidak pernah menyebut jenis kelamin di luar pria dan wanita. Norma kebudayaan hanya mengakui dua jenis kelamin secara obyektif yaitu pria dan kebudayaan hanya mengakui dua jenis kelamin secara obyektif yaitu pria dan wanita. Jenis kelamin itu sendiri
wanita. Jenis kelamin itu sendiri mengacu kepada keadamengacu kepada keadaan fisik alat an fisik alat reproduksireproduksi manusia. Kelly (Koeswinarno, 2005 : 15) berpendapat bahwa mengenai jenis manusia. Kelly (Koeswinarno, 2005 : 15) berpendapat bahwa mengenai jenis kelamin dapat mengakibatkan masyarakat menilai tentang perilaku manusia kelamin dapat mengakibatkan masyarakat menilai tentang perilaku manusia dimana pria harus berperilaku sebagai pria (berperilaku maskulin) dan wanita dimana pria harus berperilaku sebagai pria (berperilaku maskulin) dan wanita harus berperilaku sebagai wanita (berperilaku feminin). Pandangan psikologi harus berperilaku sebagai wanita (berperilaku feminin). Pandangan psikologi mengatakan bahwa
mengatakan bahwa transeksual transeksual merupakan salah satu bentuk penyimpanganmerupakan salah satu bentuk penyimpangan
seksual baik dalam hasrat untuk mendapatkan kepuasan seksual maupun seksual baik dalam hasrat untuk mendapatkan kepuasan seksual maupun dalam kemampuan untuk mencapai kepuasaan seksual (Supratiknya, 1995 : dalam kemampuan untuk mencapai kepuasaan seksual (Supratiknya, 1995 :
91). Di lain pihak, pandangan sosial beranggapan bahwa akibat dari penyimpangan perilaku yang ditunjukkan oleh waria dalam kehidupan sehari-hari akan dihadapkan pada konflik sosial dalam berbagai bentuk pelecehan seperti mengucilkan, mencemooh, memprotes dan menekan keberadaan waria di lingkungannya (Koeswinarno, 2004 : 151).
Kehadiran seorang waria menjadi bagian dari kehidupan sosial rasanya tidak mungkin untuk dihindari. Mereka akan terus bertambah selama belum ditemukan cara yang tepat untuk mencegahnya. Satu hal yang harus diperhatikan dalam hal ini, yaitu pengertian waria (transsexual ) berbeda
dengan homoseksual (perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan sejenis)
atau transvestisme (suka menggunakan pakaian wanita dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan seksualnya). Walaupun hal tersebut juga merupakan bagian dari suatu kelainan seksual. Seorang transsexual khususnya seorang
waria hanya akan bahagia apabila diperlakukan sebagai seorang wanita.
Waria dewasa ini sudah bukan hal yang aneh lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Semarang. Pada siang hari, mereka dapat ditemukan di salon-salon kecantikan tempat di mana mereka bekerja, bahkan disekitar lampu rambu-rambu lalu lintas. Pada umumnya sebagian dari mereka masih bekerja dengan menggunakan pakaian layaknya pria karena mereka belum mempunyai keberanian menyatakan diri sebagai waria dengan menggunakan rok. Hal ini disebabkan karena menurut mereka, masyarakat di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh norma-norma sopan santun yang berlaku serta mereka tidak ingin masyarakat mencemooh dan memandang hina
diri mereka secara terang-terangan. Biasanya mereka berani berdandan dan memakai rok layaknya seorang wanita apabila mereka telah berkumpul bersama dengan teman-teman senasib untuk menjajakan diri pada malam hari. Mereka akan mencari teman atau populasi yang keadaannya serupa dengan diri mereka agar mereka dapat diterima dan dihargai sebagai individu yang utuh, sebagaimana layaknya individu yang normal (Nadia, 2005: 46). Selanjutnya timbul masalah lain, yaitu pemenuhan kehidupan sehari-hari, sementara tidak semua waria memiliki bakat dan keterampilan yang memadai untuk bertahan hidup, sehingga cara yang mereka lakukan adalah menjajakan diri dalam dunia “cebongan” atau pelacuran (Nadia, 2005: 48). Hal ini
menjadi dilema tersendiri bagi waria. Di satu sisi, masyarakat tidak membuka kesempatan pendidikan, kehidupan yang layak dan pekerjaan bagi waria. Namun, di sisi lain seiring dengan menjamurnya prostitusi waria, pandangan
masyarakat yang sering ditujukan pada waria adalah bahwa waria identik dengan prostitusi. Ironisnya, pada saat yang lain diam-diam masyarakat juga berminat pada jasa pelayanan waria.
Di Semarang, keadaan ini dapat ditemukan dengan mudah di jalan Cakrawala, di kawasan Tanggul Indah, dan di Kota Lama. Dunia “cebongan”
(pelacuran) bagi waria merupakan bagian dari kebudayaan tersendiri. Ini bisa dilihat bagaimana dalam dunia “cebongan” (pelacuran) kaum waria dapat
mengembangkan satu model komunikasi dengan bahasa-bahasa yang sangat khas. Dunia “cebongan” (pelacuran) dalam kehidupan waria bukan hanya
merupakan media yang sangat berperan dalam menegaskan jati diri untuk tampil menjadi waria. Karena itulah, dalam lingkungan “cebongan”
(pelacuran) kehadiran waria diterima dalam dunia yang utuh selain juga sebagai media sosialisasi, membangun solidaritas sosial waria dan untuk membangun konsep diri.
Kehidupan waria memiliki keunikan tersendiri, walaupun seorang waria telah mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan baik dalam berperilaku maupun dalam berpenampilan namun tanpa disadari seorang waria masih dapat berperan sebagai laki-laki yang bersikap maskulin. Hal inilah yang membedakan seorang waria dengan laki-laki dan perempuan normal sehingga dapat mempengaruhi konsep diri.
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam hubungannya dengan orang lain. Dalam berinteraksi setiap individu akan menerima tanggapan-tanggapan yang diberikan dan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri (Pudjijogyanti,
1985 : 8).
Apabila konsep diri seseorang bersifat positif maka ia memiliki kepribadian yang bersifat stabil, dapat menerima dirinya apa adanya, mampu merancang tujuan hidup dan mampu menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang. Sebaliknya bila seseorang mengembangkan konsep diri negatif, maka seseorang memiliki pandangan dan pengetahuan yang buruk tentang dirinya,
tidak memiliki kestabilan diri dan tidak dapat menerima kritikan dari orang lain mengenai dirinya (Calhoun dan Acocella, 1995 : 72).
Keluarga menjadi bagian yang sangat penting dalam sosialisasi primer, dimana seseorang pada masa kanak-kanak mulai dikenalkan dengan nilai-nilai tertentu dari sebuah kebudayaan. Di dalam keluarga pula seseorang dibentuk dan akhirnya menciptakan suatu kepribadian tertentu. Kebiasaan-kebiasaan dan pendidikan keluarga memegang peranan yang sentral dalam memperkenalkan nilai, norma dan kebudayaan (Koeswinarno, 2004 : 149). Oleh sebab itu, ketika seorang anak telah mencapai dewasa dan banyak mengenal nilai-nilai dari luar keluarga seringkali muncul konflik-konflik, terutama jika nilai yang didapat dari luar bertentangan dengan nilai-nilai di dalam keluarga. Selain pengaruh dari keluarga, konsep diri juga dapat terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang lain disekitarnya yaitu teman bergaul dan masyarakat (Pudjiyogyanti, 1985 : 21)
Munculnya fenomena kewariaan memang tidak lepas dari konteks kebudayaan. Kebiasaan-kebiasaan pada masa kanak-kanak ketika mereka dibesarkan di dalam keluarga, kemudian mendapat penegasan pada masa remaja menjadi penyumbang terciptanya waria. Tidak satu pun waria yang “menjadi waria” karena proses mendadak. Proses menjadi waria diawali dengan satu perilaku yang terjadi masa anak-anak melalui pola bermain dan bergaul (Nadia, 2005 : 45). Perilaku yang dipresentasikan pada masa anak-anak akhirnya menunjukkan ciri yang berbeda pula dibandingkan dengan teman-teman sebaya lainnya. Namun demikian “tanda-tanda yang berbeda”
tidak pernah disadari oleh orangtua mereka sehingga menjadi perilaku yang menetap (Koeswinarno, 2004 : 73).
Hadirnya seorang waria secara umum tidak pernah dikehendaki oleh keluarga mana pun. Tanggapan keluarga muncul setelah mengetahui adanya perilaku-perilaku tertentu yang dianggap menyimpang, sedang tanggapan
waria muncul dalam bentuk reaksi-reaksi setelah keluarga mengetahui mereka. Di sini, tanggapan orangtua dianggap sebagai suatu konflik yang umumnya diakhiri dengan larinya anak dari orangtua dan keluarga. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengaktualisasikan diri sebagai perempuan secara totalitas fisik, ber-make-up, dan berpakaian perempuan sekaligus sebagai
sebuah penyelesaian.
Biasanya tindak penolakan orangtua waria umumnya dilakukan setelah mengalami proses “menjadi waria” dan hidup “sebagai waria”. Namun demikian, peran keluarga sangat penting bagi perkembangan waria. Seorang waria yang dilahirkan dalam keluarga yang baik, taat beragama, berpendidikan dan ditambah dengan keberadaan orangtua yang pada akhirnya menerima keberadaan mereka secara otomatis akan mempunyai pengaruh yang baik bagi perkembangan waria begitu pula sebaliknya yaitu apabila orangtua tidak pernah menerima keberadaan mereka akan mempunyai pengaruh yang buruk.
Berhubungan dengan hal tersebut di atas, peneliti ingin mengetahui secara mendalam tentang konsep diri kaum waria (transsexual ) dan dalam
penelitian ini peneliti mengambil judul Konsep Diri Dan Latar Belakang Kehidupan Waria (Studi Kasus terhadap Waria di Kota Semarang).
B. Fokus Kajian
Dari latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan fokus kajian yang akan diteliti, yaitu :
1. Bagaimana konsep diri kaum waria ?
2. Bagaimana dinamika pembentukan konsep diri kaum waria ? 3. Bagaimana latar belakang kehidupan kaum waria ?
C. Tujuan Penelitian
Dalam sebuah penelitian, baik penelitian yang bersifat ilmiah maupun penelitian sosial pasti dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan penelitian.
Pada penelitian ini yang ingin dicapai oleh peneliti adalah : 1. Mendiskripsikan konsep diri kaum waria.
2. Mendeskripsikan dinamika pembentukan konsep diri kaum waria. 3. Mendeskripsikan latar belakang kehidupan kaum waria.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Mendapatkan penjelasan dan gambaran tentang konsep diri dan latar belakang kehidupan kaum waria.
b. Dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan sosial khususnya psikologi sosial.
c. Dapat menjadi refleksi sehingga dapat dipakai sebagai referensi untuk mengetahui konsep diri dan latar belakang kehidupan kaum waria.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan permasalahan waria.
b. Bagi kaum waria pada khususnya, untuk dapat menjadikan hidupnya lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
c. Bagi peneliti, dapat menambah pengetahuan dan wawasan sehingga dapat dilakukan penelitian lanjutan.
E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Dalam sebuah penelitian diperlukan batasan hal apa yang akan diteliti dalam sebuah penelitian agar tidak mengaburkan fokus penelitian yang akan diteliti. Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah mengenai konsep diri dan latar belakang kehidupan kaum waria.
1. Penegasan Istilah
a. Konsep diri adalah pandangan atas diri sendiri, pengenalan diri sendiri dan pemahaman diri sendiri. Pandangan ini meliputi karakteristik kepribadian dari individu, nilai-nilai kehidupan, prinsip hidup, moralitas, pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya. Konsep diri terdiri dari bagaimana individu melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana individu dapat merasakan apa yang
ada didalam dirinya, bagaimana individu menginginkan dirinya sendiri menjadi individu yang ideal dan bagaimana gambaran serta pandangan orang lain tentang diri individu itu sendiri.
b. Kaum waria (transsexual) adalah individu yang memiliki gangguan
kelainan dimana penderita merasa tidak nyaman dan tidak sesuai dengan jenis kelamin anatomisnya sehingga penderita ingin mengganti kelaminnya (dari laki-laki menjadi wanita) dan cenderung berpenampilan menyerupai wanita.
2. Lokasi Penelitian
Subyek penelitian berstatus sebagai waria, maka penelitiannya akan dilaksanakan di rumah, salon, serta tempat “cebongan” (tempat
pelacuran).
F. Sistematika Skripsi
Sistematika dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan memberikan gambaran keseluruhan isi skripsi yang berisi tentang latar belakang masalah, fokus kajian, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian dan sistematika skripsi.
Bab II : Landasan teori memberikan deskripsi mengenai kaum waria dan konsep diri. Pada uraian kaum waria dijelaskan pengertian kaum waria, sejarah waria, jenis-jenis waria, ciri-ciri waria dan faktor-faktor penyebab terjadinya waria. Sedangkan pada bagian konsep
diri dijelaskan pengertian konsep diri, faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri, dan terbentuknya konsep diri.
Bab III : Metode penelitian menguraikan tentang sifat penelitian, unit analisis, subyek penelitian, teknik penelitian dan analisis data, serta keabsahan data.
Bab IV : Gambaran setting penelitian meliputi tentang keadaan Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah, tempat tinggal kaum waria, salon dan tempat “cebongan” (tempat pelacuran).
Bab V : Temuan penelitian menggambarkan proses penelitian, kaum waria di Kota Semarang dan profil subyek penelitian.
Bab VI : Pembahasan temuan penelitian mendeskripsikan konsep diri kaum waria, dinamika pembentukan konsep diri kaum waria dan latar belakang kehidupan kaum waria.
Bab VII : Kesimpulan dan saran membahas tentang kesimpulan dari pembahasan masalah dalam penulisan skripsi dan saran terhadap penelitian selanjutnya.
A. Waria (Transsexual )
1. Pengertian Waria
Bastaman dkk (2004 : 168) mengatakan bahwa transsexual yaitu:
Keinginan untuk hidup dan diterima sebagai anggota kelompok lawan jenis, biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman atau tidak sesuai dengan jenis kelamin anatomisnya, dan menginginkan untuk membedah jenis kelamin serta menjalani terapi hormonal agar tubuhnya sepadan
mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.
Kartono (1989 : 226) mengatakan bahwa transsexual ialah gejala
merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya. Koeswinarno (2005 : 12) mengatakan bahwa seorang transseksual secara
psikis merasa dirinya tidak cocok dengan alat kelamin fisiknya sehingga mereka memakai pakaian atau atribut lain dari jenis kelamin yang lain.
Sue (1986 : 338) mengatakan bahwa transsexual yaitu seseorang
yang merasa memiliki kelamin yang berlawanan dimana terdapat pertentangan antara identitas jenis kelamin dan jenis kelamin biologisnya. Crooks (1983 : 36) menjelaskan bahwa transsexual adalah seseorang yang
mempunyai identitas jenis kelamin sendiri yang berlawanan dengan jenis kelamin biologisnya.
Transsexual biasanya cenderung menunjukkan perselisihan dengan
peran jenis kelamin di usia muda. Laki-laki yang memperlihatkan minat dan sifat-sifat yang dianggap feminin dan mereka seringkali di sebut
“banci” oleh teman-teman sebaya mereka. Seseorang yang cenderung menjadi transsexual biasanya lebih suka bermain dengan perempuan dan
menghindari kegiatan yang kasar dan kacau.
Supratiknya (1995 : 96) mendefinisikan transsexual sebagai
gangguan kelainan dimana penderita merasa bahwa dirinya terperangkap di dalam tubuh lawan jenisnya. Sedangkan Puspitosari (2005 : 10) mendefinisikan transsexual sebagai seseorang yang secara jasmaniah jenis
kelaminnya laki-laki namun secara psikis cenderung berpenampilan wanita.
Danandjaja (Puspitosari, 2005 : 11) menyatakan bahwa transsexual
adalah kaum homo yang mengubah bentuk tubuhnya dapat menjadi serupa dengan lawan jenis. Jika yang jantan mengubah dadanya dengan operasi plastik atau menyuntikkan diri dengan hormon seks, dan membuang penis
serta testisnya dan membentuk lubang vagina.
Dari beberapa pendapat diatas mengenai transsexual , maka dapat
disimpulkan bahwa transsexual merupakan suatu kelainan dimana
penderita merasa tidak nyaman dan tidak sesuai dengan jenis kelamin anatomisnya sehingga penderita ingin mengganti kelaminnya (dari laki-laki menjadi wanita) dan cenderung berpenampilan menyerupai wanita.
2. Sejarah Waria
Sejarah belum pernah mencatat dengan pasti kapan dan dimana kebudayaan waria mulai muncul. Mungkin kaum waria belum masuk ke dalam lingkungan peradaban manusia normal. Budaya waria sendiri tidak
lahir begitu saja akibat modernisasi dimana banyak mengakibatkan kelainan-kelainan seksual, seperti homoseks yang dianggap sebagai modernisasi dan sebagainya. Al-Qur’an menyebutkan adanya kaum nabi Luth yang disebut ”Liwath” yang artinya ”senggama melalui dubur” (Puspitosari dan Pujileksono, 2005 : 17).
Sejarah bangsa Yunani tercacat adanya kaum waria pada abad ke XVII yaitu munculnya beberapa waria kelas elite seperti Raja Henry III
dari Prancis, Abbe de Choicy Duta Besar Prancis di Siam, serta Gubernur New York tahun 1702, Lord Cornbury (Nadia, 2005 : 51).
Dukun pria di Turco-Mongol di Gurun Siberia pada umumnya berpakaian perempuan. Mereka biasanya memiliki kesaktian dan ditakuti orang. Dukun-dukun semacam ini dapat juga dijumpai di negara Malaysia, kepulauan Sulawesi, Patagona, kepulauan Aleut dan beberapa suku Indian di Amerika Serikat. Oman terkenal dengan xanith. Konon, xanith
diperbolehkan untuk melindungi kaum perempuan dari berbagai bahaya dan pekerjaan sehari-hari. Menurut sejarah, di Oman pelacuran perempuan sangat jarang dan seandainya ada harganya sangat mahal, xanith kemudian
beralih fungsi sebagai pelacur dengan harga yang terjangkau oleh kelas ekonomi bawah sekalipun. Busana yang dipakai xanith mengandung dua
fungsi yaitu sebagai budaya dan sebagai daya tarik seksual ketika mereka berfungsi sebagai pelacur. Berbagai catatan tersebut, tidak jelas apakah
mereka benar-benar kaum waria yang fenomena psikologisnya sebagaimana gejala transsexual atau sekedar gejala transvestet.
Di Indonesia, budaya waria memang tidak secara khusus seperti di Oman, Turco-Mongol, atau tempat-tempat lain (Nadia, 2005 : 53). Meskipun demikian, kita dapat menemukannya, misalnya pada masyarakat Ponorogo Jawa Timur yang berkecimpung dalam dunia seni Warok . Para
Warok di daerah ini terkenal sangat sakti yang menjadikan mereka kebal terhadap senjata tajam. Agar dapat menjalankan ilmunya dengan sempurna maka ada berbagai pengorbanan dan persyaratan yang harus dijalaninya. Setiap Warok Ponorogo dapat dipastikan memiliki gemblakan (laki-laki
usia 9-17) yang bertugas untuk membantu pekerjaan rumah hingga memberikan kebutuhan seksual kepada sang Warok. Kebutuhan seksual
ini membuat para warok selalu memilih gemblakan laki-laki muda yang
berwajah cantik dan berkulit halus. Hal tersebut dilakukan karena adanya larangan untuk menggauli perempuan sebelum ilmu yang dipelajari dapat dikuasai, dan setelah ilmu mereka mencapai tingkat kematangan mereka pun diperbolehkan berhubungan seks dengan perempuan yang dinikahinya. Perlakuan warok terhadap para gemblak inilah yang dapat
menjerumuskan perilaku seksual remaja tersebut menjadi seorang waria karena warok seringkali memperlakukan gemblak -nya sebagai seorang
perempuan baik dalam perilaku, berpakaian dan dandanannya.
Kaum waria pada zaman kerajaan Jawa terdahulu termasuk dalam kelompok yang justru memiliki daya tarik tersendiri karena kelainan yang dideritanya, sehingga mereka tidak disingkirkan namun menjadi sebuah momentum dunia kegaiban. Kesenian gandrung (Banyuwangi) ditarikan
oleh bocah laki-laki berusia 10-12 tahun yang berpakaian perempuan. Di Kalimantan, Suku Dayak Ngaju mengenal pendeta perantara ( medium- priest ) yang mengenakan pakaian lawan jenis. Basir adalah seorang
laki-laki, namun dalam segala hal dia berperilaku sebagai perempuan. Di Sulawesi suku Makasar pun terdapat fenomena serupa yaitu Bisu
(laki-laki yang diberi tugas menjaga pusaka). Dan seorang Bisu diharapkan
mengenakan pakaian perempuan, dilarang berkomunikasi dan dilarang berhubungan badan dengan perempuan. Hal ini dilakukan demi sakralitas pusaka-pusaka yang dijaganya.
Dengan demikian jelas bahwa waria bukanlah sebuah produk modernisasi. Budaya waria barangkali sama panjangnya dengan sejarah dan keberadaan kaum homoseksual.
3. Jenis-Jenis Waria
Kemala Atmojo (Nadia, 2005 : 40) menyebutkan jenis-jenis waria sebagai berikut :
a. Transsexual yang aseksual, yaitu seorang transsexual yang tidak
berhasrat atau tidak mempunyai gairah seksual yang kuat.
b. Transsexual homoseksual, yaitu seorang transsexual yang memiliki
kecenderungan tertarik pada jenis kelamin yang sama sebelum ia sampai ke tahap transsexual murni.
c. Transsexual yang heteroseksual, yaitu seorang transsexual yang
pernah menjalani kehidupan heteroseksual sebelumnya. Misalnya pernah menikah.
Adapun penyebab dari waria (transsexual) ini masih menjadi
perdebatan; apakah disebabkan oleh kelainan secara biologis dimana didalamnya terdapat kelainan secara hormonal dan kromosom atau disebabkan oleh lingkungan (nurture) seperti trauma masa kecil, atau
sering diperlakukan sebagai seorang perempuan dan lain sebagainya.
Beberapa teori tentang abnormalitas seksual menyatakan bahwa keabnormalan itu timbul karena sugesti masa kecil. Seseorang akan mengalami atau terjangkit abnormalitas seksual karena pengaruh luar, misalnya dorongan kelompok tempat ia tinggal, pendidikan orangtua yang menjurus pada benih-benih timbulnya penyimpangan seksual, dan pengaruh budaya yang diakibatkan oleh komunikasi intens dalam
lingkungan abnormalitas seksual.
Di dalam penelitian ini ketiga subyek penelitian termasuk
transsexual homoseksual, hal ini disebabkan karena waria (transsexual )
sebagai subyek penelitian memiliki kecenderungan tertarik pada jenis kelamin yang sama sebelum mereka sampai ke tahap transsexual murni.
Pada saat usia Sekolah Dasar (SD) mereka mulai tertarik dengan jenis kelamin yang sama, namun mereka belum berani mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang waria. Dan setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) mereka mulai berani berdandan, bersosialisasi dan mengaktualisasikan diri sebagai waria di tempat “cebongan” (tempat
4. Ciri-Ciri Waria
Menurut Maslim (2003 : 111), ciri-ciri transsexual adalah :
a. Identitas transsexual harus sudah menetap selama minimal dua tahun,
dan harus bukan merupakan gejala dari gangguan jiwa lain seperti
skizofrenia, atau berkaitan dengan kelainan interseks, genetik atau
kromosom.
b. Adanya hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan risih atau tidak serasi dengan anatomi seksualnya.
c. Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis
kelamin yang diinginkan.
Tanda-tanda untuk mengetahui adanya masalah identitas dan peran jenis menurut Tjahjono (1995 : 98), yaitu :
a. Individu menampilkan identitas lawan jenisnya secara kontinyu.
b. Memiliki keinginan yang kuat berpakaian sesuai dengan lawan jenisnya.
c. Minat-minat dan perilaku yang berlawanan dengan lawan jenisnya. d. Penampilan fisik hampir menyerupai lawan jenis kelaminnya.
e. Perilaku individu yang terganggu peran jenisnya seringkali menyebabkan ditolak di lingkungannya.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri
transsexual adalah: (1) individu menampilkan identitas lawan jenisnya
secara kontinyu minimal dua tahun, (2) memiliki keinginan yang kuat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari lawan jenisnya, (3) mempunyai keinginan yang kuat untuk berpakaian dan berperilaku menyerupai lawan jenis kelaminnya.
5. Faktor Pendukung Terjadinya Waria
Sue dkk (1986 : 339), faktor-faktor yang mendukung terjadinya
transsexual adalah:
a. Orang tua selalu mendorong anak bertingkah laku seperti wanita dan tergantung dengan orang lain.
b. Perhatian dan perlindungan yang berlebihan dari seorang ibu. c. Tidak adanya kakak laki-laki sebagai contoh.
d. Tidak adanya figur ayah.
e. Kurang mendapatkan teman bermain laki-laki. f. Dukungan pemakaian pakaian yang menyimpang.
Nadia (2005 : 26) menyatakan bahwa secara umum faktor-faktor terjadinya waria (transsexual ) disebabkan karena :
a. Susunan kepribadian seseorang dan perkembangan kepribadiannya, sejak ia berada dalam kandungan hingga mereka dianggap menyimpang.
c. Sikap, pandangan dan persepsi seseorang terhadap gejala penyimpangan perilaku.
d. Seberapa kuat perilaku menyimpang itu berada dalam dirinya dan dipertahankan.
e. Kehadiran perilaku menyimpang lainnya yang biasanya ada secara paralel.
Menurut Tjahjono (1995 : 99) mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transsexual yaitu:
a. Anak laki-laki yang dibesarkan tanpa ayah atau dibesarkan tanpa kehadiran ayah selama periode waktu yang panjang menunjukkan minat-minat, sikap-sikap dan perilaku feminin.
b. Hubungan yang terlalu dekat antara anak dengan orangtua yang berlawanan dengan jenis kelaminnya. Anak dan orangtua cenderung
memiliki kontak yang sangat intim baik secara fisik maupun secara psikis, dan orangtua sering melaporkan adanya suatu hubungan “yang tidak dapat dipisahkan”. Dengan demikian anak hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk mengidentifikasi orangtua yang sama dengan jenis kelaminnya dan kurang mengembangkan perilaku-perilaku sesuai
dengan peran jenisnya.
c. Beberapa orangtua, menginginkan anak dengan jenis kelamin yang lain, sehingga berusaha menjadikan anak perempuan bersikap seperti laki-laki yang tidak pernah dimilikinya atau sebaliknya.
d. Seorang ibu yang membenci dan iri terhadap kejantanan bisa membentuk perilaku yang kurang jantan pada anak laki-lakinya. Ibu mungkin mengasosiasikan maskulinitas dengan kekerasan fisik dan agresifitas, penyalahgunaan seksual dan kekasaran. Ia lebih suka anak laki-lakinya lembut.
e. Pengaruh-pengaruh genetik atau hormonal. Dari perspektif medis, pada waria ini terdapat kemungkinan disebabkan oleh presdisposisi hormonal, hormon faktor-faktor endokrin (kelenjar) konstitusi pembawaan, dan beberapa diantaranya basis biologis pada masa prenatal atau masa didalam kandungan (Nadia, 2005 : 41).
Crooks (1983 : 36) mengatakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinyatranssexual antara lain yaitu:
a. Faktor biologis, faktor biologis merupakan peran yang dapat menentukan identitas seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Goy tahun 1970 menyatakan bahwa tingkah laku maskulin dapat bertambah pada perempuan dengan dibuat-buat menyebabkan tingkat hormon laki-lakinya tinggi dalam lingkungan prenatal dan sebaliknya apabila pada masa prenatal anak laki-laki
tingkat hormon laki-lakinya dihilangkan maka anak tersebut sering menunjukkan tingkah laku seperti perempuan.
b. Pengalaman pengetahuan sosial, seorang anak dapat terbuka dengan bermacam-macam pengalaman yang mendorong tingkah laku dalam sebuah pola secara tradisional yang berhubungan dengan jenis
kelamin. Anak dapat mengembangkan sebuah keakraban, memperkenalkan hubungan dengan orang tua pada jenis kelamin yang berbeda sehingga dapat diperkuat oleh reaksi anak pada masa dewasa.
Anak laki-laki yang pada masa kecilnya bermain peran sebagai anak perempuan maka tingkah laku yang menyimpang tersebut dapat mempengaruhi dalam mengembangkan identitas jenis kelamin yang tidak sesuai.
Puspitosari (2005 : 12) mengatakan bahwa faktor-faktor terjadinya
transsexual adalah :
a. Disebabkan oleh faktor biologis yang dipengaruhi oleh hormon seksual dan genetik seseorang. Hermaya (Nadia, 2005 : 29) berpendapat bahwa peta kelainan seksual dari lensa biologi dapat dibagi ke dalam dua penggolongan besar yaitu :
1). Kelainan seksual akibat kromosom. Dari kelompok ini, seseorang ada yang berfenotip pria dan yang berfenotip wanita. Dimana pria dapat kelebihan kromosom X. bisa XXY, atau bahkan XXYY atau XXXYY. Diduga, penyebab kelainan ini karena tidak berpisahnya kromosom seks pada saat meiosis (pembelahan sel) yang pertama dan kedua. Hal ini dikarenakan usia seorang ibu yang berpengaruh terhadap proses reproduksi. Artinya bahwa semakin tua seorang ibu, maka akan semakin tidak baik proses pembelahan sel tersebut dan, sebagai akibatnya, semakin besar kemungkinan menimbulkan kelainan seks pada anaknya.
2). Kelainan seksual yang bukan karena kromosom. Menurut Moertiko (Nadia, 2005 : 31) mengatakan bahwa dalam tinjauan medis, secara garis besar kelainan perkembangan seksual telah dimulai sejak dalam kandungan ibu. Kelompok ini dibagi menjadi empat jenis :
a). Pseudomale atau disebut sebagai pria tersamar. Ia mempunyai
sel wanita tetapi secara fisik ia adalah pria. Testisnya mengandung sedikit sperma atau sama sekali mandul. Menginjak dewasa, payudaranya membesar sedangkan kumis dan jenggotnya berkurang.
b). Pseudofemale atau disebut juga sebagai wanita tersamar.
Tubuhnya mengandung sel pria. Tetapi, pada pemeriksaan
gonad (alat yang mengeluarkan hormon dalam embrio) alat
seks yang dimiliki adalah wanita. Ketika menginjak dewasa, kemaluan dan payudaranya tetap kecil dan sering tidak bisa mengalami haid.
c). Female-pseudohermaprodite. Penderita ini pada dasarnya
memiliki kromosom sebagai wanita (XX) tetapi perkembangan fisiknya cenderung menjadi pria.
d). Male-pseudohermaprodite. Penderita ini pada dasarnya
memiliki kromosom pria (XY) namun perkembangan fisiknya cenderung wanita.
b. Disebabkan oleh faktor psikologis, sosial budaya yang termasuk didalamnya pola asuh lingkungan yang membesarkannya. Mempunyai
pengalaman yang sangat hebat dengan lawan jenis sehingga mereka berkhayal dan memuja lawan jenis sebagai idola dan ingin menjadi
seperti lawan jenis.
Ibis (Nadia, 2005 : 27) mengatakan bahwa faktor-faktor terjadinya abnormalitas seksual dapat digolongkan ke dalam dua bagian yaitu :
a. Faktor internal, abnormalitas seksual yang disebabkan oleh dorongan seksual yang abnormal dan abnormalitas seksual yang dilakukan dengan cara-cara abnormal dalam pemuasaan dorongan seksual.
b. Faktor eksternal (sosial), abnormalitas seksual yang disebabkan oleh adanya pasangan seks yang abnormal. Kartono (1989 : 263) mengatakan bahwa sebab utama pola tingkah laku relasi seksual yang abnormal yaitu adanya rasa tidak puas dalam relasi heteroseksual.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang menjadi waria (transsexual ) disebabkan karena faktor-faktor:
(a) Faktor biologis, yaitu kelainan yang dipengaruhi oleh hormon seksual dan genetik seseorang. Dimana secara garis besar kelainan perkembangan seksual telah dimulai sejak dalam kandungan. (b) Faktor psikologis, merupakan dorongan atau motivasi yang ada dari dalam diri individu itu sendiri untuk selalu berperilaku dan berpakaian seperti wanita, bermain dengan mainan serta teman-teman wanita. Selain itu, keluarga menjadi bagian yang sangat penting dalam sosialisasi primer, dimana seseorang pada masa kanak-kanak mulai dikenalkan dengan nilai-nilai tertentu dari sebuah kebudayaan. Di dalam keluarga pula seseorang di bentuk melalui
pola asuh dan akhirnya menciptakan suatu kepribadian tertentu. Dan tanpa disadari terbentuknya seorang waria dapat dipengaruhi oleh adanya perlakuan orangtua yang selalu mendorong anak bertingkah laku lembut dan berpakaian seperti wanita, tidak adanya figur ayah, adanya hubungan yang terlalu dekat antara anak dengan orang tua yang berlawanan jenis kelaminnya, tidak adanya kakak laki-laki sebagai contoh dan kurang mendapatkan teman bermain laki-laki. (c) Faktor sosiologis, dimana seseorang kelainan seksual karena dipengaruhi oleh pasangan seks yang abnormal. Jadi seseorang akan mengalami kelainan seksual apabila pasangan seksnya memiliki kelainan seksual dan adanya pengaruh budaya
dalam lingkungan abnormalitas seksual.
B. Konsep Diri
1. Pengertian Konsep Diri
Hal yang paling penting dalam menafsirkan kepribadian seseorang adalah melalui konsep diri yang dimiliki oleh individu tersebut. Konsep diri merupakan peranan yang paling utama sebagai faktor di dalam integrasi kepribadian, dalam memotivasi tingkah laku dan mencapai kesehatan mental. Konsep diri dapat menentukan bagaimana individu bertingkah laku dalam segala situasi. Pemahaman mengenai konsep diri
dapat memudahkan untuk memahami tingkah laku individu.
Chaplin (2004 : 451) mengatakan bahwa konsep diri merupakan evaluasi individu mengenai diri sendiri, penilaian atau penafsiran
mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Menurut Burn (1993 : vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, orang lain berpendapat mengenai diri kita, dan seperti apa diri
kita yang kita inginkan.
Cawagas (Pudjiyogyanti, 1985 : 2) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan kepandaian, kegagalan dan lain sebagainya.
Calhoun (1995 : 90) mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran mental diri anda sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri anda, pengharapan bagi diri anda dan penilaian terhadap diri anda sendiri. Selain itu Brooks (Rakhmat, 2004 : 99) mendefinisikan bahwa konsep diri sebagai “those physical, social, and psychological perception of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadi konsep diri merupakan pandangan dan perasaan tentang
diri sendiri yang bersifat fisiologi, sosial dan fisik atau merupakan persepsi fisik, sosial dan fisiologis terhadap diri individu yang didapatkan oleh individu dari pengalaman dan interaksi dengan orang lain.
Cooley (Burns, 1993 : 17) menggambarkan konsep diri dengan gejala looking-glass self (diri cermin) dimana konsep diri seseorang
dipengaruhi oleh apa yang diyakini individu tentang pendapat orang lain mengenai individu tersebut dan seakan-akan menaruh cermin didepan kita. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain, kita melihat sekilas diri kita seperti berada dalam cermin. Kedua, kita
membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Ketiga, kita mengalami perasaan bangga atau kecewa.
Mead (Burns, 1993 : 19) berpendapat bahwa konsep diri sebagai obyek timbul didalam interaksi sosial sebagai suatu hasil perkembangan dari perhatian individu tersebut mengenai bagaimana orang lain berinteraksi kepadanya. Sehingga individu tersebut dapat mengantisipasi
reaksi orang lain agar bertingkah laku dengan pantas dan individu mampu belajar untuk menginterpretasikan lingkungannya sebagaimana yang telah
dilakukan oleh orang lain.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan pandangan atas diri sendiri, pengenalan diri sendiri dan pemahaman diri sendiri. Pandangan ini meliputi karakteristik kepribadian
dari individu, nilai-nilai kehidupan, prinsip hidup, moralitas, pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya. Konsep diri terdiri dari bagaimana individu melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana individu dapat merasakan apa yang ada didalam dirinya, bagaimana individu menginginkan dirinya sendiri menjadi individu yang ideal dan bagaimana gambaran serta pandangan orang lain tentang diri individu itu
sendiri.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Rakhmat (2004 : 101-104) faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah faktor orang lain dan faktor kelompok rujukan (reference group).
Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya, akan membentuk konsep diri saya.
Hurlock (1994 : 235) mengatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri adalah usia kematangan, penampilan diri, kepatuhan seks, nama dan julukan, hubungan keluarga, teman-teman sebaya, kreativitas dan cita-cita.
Pudjiyogyanti (1985 : 8) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu:
a. Peranan citra fisik
Setiap individu tidak dapat melihat keseluruhan tubuhnya, kecuali bila menggunakan cermin yang dapat memantulkan bayangan tubuh. Demikian pula halnya dengan citra diri, yang hanya dapat terbentuk melalui refleksi dari individu lain.
Penilaian yang positif terhadap keadaan seseorang, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain, sangat membantu perkembangan konsep diri kearah yang positif. Hal ini disebabkan penilaian positif akan menumbuhkan rasa puas keadaan diri. Rasa puas ini merupakan awal dari sikap positif terhadap diri sendiri.
b. Peranan seksual
Adanya perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, telah ditentukan pula peran masing-masing sesuai dengan jenis kelamin.
c. Peranan perilaku orang tua
Lingkungan yang pertama menanggapi perilaku kita adalah lingkungan keluarga, maka dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan ajang pertama dalam membentuk konsep diri anak. Lima tahun pertama dalam kehidupan anak atau pada masa prasekolah, secara keseluruhan anak tergantung pada keluarga.
Orang yang dikenal anak terbatas pada lingkungan keluarga saja dan anak memahami kebutuhan fisik melalui keluarga. Jadi dunia anak betul-betul dunia keluarga yang diwarnai oleh perilaku orang tua dan persaingan dengan saudara-saudaranya. Dan singkatnya, seorang anak mengalami ketergantungan fisik, sosial, maupun emosional pada keluarga.
d. Peranan faktor sosial
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang-orang disekitarnya. Apa yang dipersepsi individu lain mengenai diri individu, tidak lepas dari struktur, peran, dan status sosial yang disandang individu.
Burns (1993 : 189-209) menyebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan konsep diri seseorang, antara lain :
a. Diri Fisik dan Citra Tubuh
Citra tubuh merupakan gambaran yang dievaluasikan mengenai diri fisik. Perasaan-perasaan yang bersangkutan dengan tubuh dan citra tubuh menjadi inti dari konsep diri. Di dalam tahun pertama dari
kehidupan, tubuh dan penampilan merupakan hal yang penting dalam kehidupan, tubuh dan penampilan merupakan hal yang penting dalam mengembangkan pemahaman tentang konsep diri seseorang. Setiap mengembangkan pemahaman tentang konsep diri seseorang. Setiap individu tidak dapat melihat tubuhnya kecuali bila menggunakan individu tidak dapat melihat tubuhnya kecuali bila menggunakan cermin yang dapat memantulkan bayangan tubuh. Begitu pula halnya cermin yang dapat memantulkan bayangan tubuh. Begitu pula halnya dengan citra fisik yang hanya dapat terbentuk melalui refleksi dari dengan citra fisik yang hanya dapat terbentuk melalui refleksi dari orang lain.
orang lain.
Pandangan dari individu lain mengenai keadaan fisik yang Pandangan dari individu lain mengenai keadaan fisik yang dilihat
dilihat menyebabkmenyebabkan adanya dimensi tubuh yang idean adanya dimensi tubuh yang ideal. Dimensial. Dimensi mengenai bentuk tubuh yang ideal dapat dipengaruhi oleh adanya mengenai bentuk tubuh yang ideal dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain dan perbedaan kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain dan dapat pula dipengaruhi oleh adanya perbedaan waktu. Pada umumnya dapat pula dipengaruhi oleh adanya perbedaan waktu. Pada umumnya individu beranggapan bahwa bentuk tubuh laki-laki yang ideal adalah individu beranggapan bahwa bentuk tubuh laki-laki yang ideal adalah atletis, berotot dan kekar, sed
atletis, berotot dan kekar, sedangkan bentuangkan bentuk tubuh k tubuh wanita yang idealwanita yang ideal adalah langsing tanpa ada lemak. Dengan adanya dimensi tubuh ideal adalah langsing tanpa ada lemak. Dengan adanya dimensi tubuh ideal sebagai patokan maka setiap individu beranggapan bahwa individu sebagai patokan maka setiap individu beranggapan bahwa individu tersebut akan mendapat tanggapan yang positif dari individu lain tersebut akan mendapat tanggapan yang positif dari individu lain apabila berhasil mencapai patokan tubuh yang ideal.
apabila berhasil mencapai patokan tubuh yang ideal.
Kegagalan dan keberhasilan individu untuk mencapai patokan Kegagalan dan keberhasilan individu untuk mencapai patokan ideal yang telah ditetapkan oleh masyarakat merupakan keadaan yang ideal yang telah ditetapkan oleh masyarakat merupakan keadaan yang sangat mempengaruhi pembentukan citra fisiknya. Seperti, tubuh yang sangat mempengaruhi pembentukan citra fisiknya. Seperti, tubuh yang tinggi, berotot dan atletis dianggap sebagai karakteristik positif dan tinggi, berotot dan atletis dianggap sebagai karakteristik positif dan pelindung bagi diri sendiri
pendek sering mendapat citra yang negatif yaitu jelek dan tidak dapat pendek sering mendapat citra yang negatif yaitu jelek dan tidak dapat
diandalkan. diandalkan.
Tinggi badan, berat badan, warna kulit, pandangan mata dan Tinggi badan, berat badan, warna kulit, pandangan mata dan proporsi tubuh menjadi sedemikian erat dengan sikap-sikap terhadap proporsi tubuh menjadi sedemikian erat dengan sikap-sikap terhadap diri sendiri dan perasaan tentang kemampuan pribadi dan kemampuan diri sendiri dan perasaan tentang kemampuan pribadi dan kemampuan untuk menerima keberadaan orang lain. Tubuh merupakan bagian dari untuk menerima keberadaan orang lain. Tubuh merupakan bagian dari individu yang terlihat dan dapat dirasakan dimana merupakan ciri yang individu yang terlihat dan dapat dirasakan dimana merupakan ciri yang khas dalam mempersepsikan tentang diri sendiri.
khas dalam mempersepsikan tentang diri sendiri. b.
b. Keterampilan Keterampilan BerbahasaBerbahasa
Perkembangan bahasa akan membantu perkembangan konsep Perkembangan bahasa akan membantu perkembangan konsep diri. Selain itu, simbol-simbol bahasa juga dapat membentuk dasar dari diri. Selain itu, simbol-simbol bahasa juga dapat membentuk dasar dari pandangan tentang diri. Penggunaan bahasa
pandangan tentang diri. Penggunaan bahasa verbal verbal dapat membedakandapat membedakan
individu satu dengan individu yang lain. Individu dapat menyebut individu satu dengan individu yang lain. Individu dapat menyebut dirinya sendiri dengan kata “saya” atau “aku” dan menyebut orang lain dirinya sendiri dengan kata “saya” atau “aku” dan menyebut orang lain dengan kata “ kamu”, “anda”, “dia” dan “mereka”. Pemakaian kata dengan kata “ kamu”, “anda”, “dia” dan “mereka”. Pemakaian kata ganti dapat berguna sebagai konseptualisasi dari diri dan orang lain. ganti dapat berguna sebagai konseptualisasi dari diri dan orang lain. K
Keetteeppaattaann ppeemmaakkaaiiaann kkaattaa ggaannttii mmeemmppeerrlliihhaattkkaann kkoonnsseeppssii pendewasaan individu mengenai eksistensi dan individualitasnya. pendewasaan individu mengenai eksistensi dan individualitasnya. Perbendaharaan bertambah seiring dengan pertambahan usia individu Perbendaharaan bertambah seiring dengan pertambahan usia individu dan kemampuan untuk menerima keadaan orang lain. Pemakaian dan dan kemampuan untuk menerima keadaan orang lain. Pemakaian dan ketepatan kata-kata yang bertambah mencerminkan kemampuan yang ketepatan kata-kata yang bertambah mencerminkan kemampuan yang bertambah dari individu tersebut untuk memahami dirinya sendiri bertambah dari individu tersebut untuk memahami dirinya sendiri