• Tidak ada hasil yang ditemukan

Atika Lp

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Atika Lp"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II BAB II

LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI

A.

A. Tinjuan PustakaTinjuan Pustaka 1.

1. Konsep Lanjut UsiaKonsep Lanjut Usia

a.

a. Pengertian Pengertian Lanjut Lanjut UsiaUsia

Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan

lansia apabila usianya 60 tahun ke atas,baik pria maupun wanita. lansia apabila usianya 60 tahun ke atas,baik pria maupun wanita.

Sedangkan Departeman kesehatan RI menyebutkan seseorang Sedangkan Departeman kesehatan RI menyebutkan seseorang

dikatakan berusia lanjut usia dimulai dari usia 55 tahun keatas. dikatakan berusia lanjut usia dimulai dari usia 55 tahun keatas.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) usia lanjut dimulai dari Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) usia lanjut dimulai dari

usia 60

usia 60 tahun ( Kushariyadi, 2010; Indriana, 2012; Wallnce, 2007).tahun ( Kushariyadi, 2010; Indriana, 2012; Wallnce, 2007).

 b.

 b. Batasan Umur Lanjut UsiaBatasan Umur Lanjut Usia

Batasan-batasan umur yang mencakup batasan umur lansia Batasan-batasan umur yang mencakup batasan umur lansia

dari pendapat berbagai ahli yang di kutip

dari pendapat berbagai ahli yang di kutip dari Nugroho (2008) :dari Nugroho (2008) :

1)

1) Menurut undang-undang nomor 13 tahun 1998 dalam bab I pasal 1Menurut undang-undang nomor 13 tahun 1998 dalam bab I pasal 1

ayat II yang berbunyi

ayat II yang berbunyi ““lanjut usia adalah seseorang yang mencapailanjut usia adalah seseorang yang mencapai

usia 60 tahun keatas usia 60 tahun keatas””

2)

2) Menurut WHO:Menurut WHO:

a)

a) Usia perUsia pertengahan tengahan : 45-59 : 45-59 tahuntahun

 b)

 b) Lanjut Lanjut usia usia : : 6060 –  –  74 tahun 74 tahun

c)

c) Lanjut Lanjut usia usia tua tua : : 75- 75- 90 90 tahuntahun

8 8

(2)
(3)

d)

d) Usia Usia sangat sangat tua tua : : diatas diatas 90 90 tahun tahun (Kushariy(Kushariyadi, adi, 2010).2010).

c.

c. Perubahan yang terjadi pada lanjut usiaPerubahan yang terjadi pada lanjut usia

Menurut Mujahidullah (2012) dan Wallace (2007), beberapa Menurut Mujahidullah (2012) dan Wallace (2007), beberapa

 perubahan

 perubahan yang yang akan akan terjadi terjadi pada pada lansia lansia diantaranya diantaranya adalahadalah

 perubahan fisik,int

 perubahan fisik,intlektual, dan keagamaan.lektual, dan keagamaan.

1)

1) Perubahan fisikPerubahan fisik

a)

a) Sel, saat seseorang memasuki usia lanjut keadaan selSel, saat seseorang memasuki usia lanjut keadaan sel

dalam tubuh akan berubah, seperti jumlahnya yang dalam tubuh akan berubah, seperti jumlahnya yang

menurun, ukuran lebuh besar sehingga mekanisme menurun, ukuran lebuh besar sehingga mekanisme

 perbaikan

 perbaikan sel sel akan akan terganggu terganggu dan dan proposi proposi protein protein di di otak,otak,

otot, ginjal, darah dan hati

otot, ginjal, darah dan hati beekurang.beekurang.

 b)

 b) Sistem persyarafan, keadaan system persyarafan padaSistem persyarafan, keadaan system persyarafan pada

lansia akan mengalami perubahan, seperti mengecilnya lansia akan mengalami perubahan, seperti mengecilnya

syaraf panca indra. Pada indra pendengaran akan terjadi syaraf panca indra. Pada indra pendengaran akan terjadi

gangguan pendengaran seperti hilangnya kemampuan gangguan pendengaran seperti hilangnya kemampuan

 pendengaran

 pendengaran pada pada telinga. telinga. Pada Pada indra indra penglihatan penglihatan akanakan

terjadi seperti kekeruhan pada kornea, hilangnya daya terjadi seperti kekeruhan pada kornea, hilangnya daya

akomodasi dan menurunnya lapang pandang. Pada indra akomodasi dan menurunnya lapang pandang. Pada indra

 peraba

 peraba akan akan terjadi terjadi seperti seperti respon respon terhadap terhadap nyeri nyeri menurunmenurun

dan kelenjar keringat berkurang. Pada indra pembau akan dan kelenjar keringat berkurang. Pada indra pembau akan

terjadinya seperti menurunnya kekuatan otot pernafasan, terjadinya seperti menurunnya kekuatan otot pernafasan,

sehingga kemampuan membau juga berkurang. sehingga kemampuan membau juga berkurang.

(4)

c)

c) Sistem gastrointestinal, pada lansia akan terjadi menurunyaSistem gastrointestinal, pada lansia akan terjadi menurunya

selara makan , seringnya terjadi konstipasi, menurunya selara makan , seringnya terjadi konstipasi, menurunya

 produksi

 produksi air air liur(Salivliur(Saliva) a) dan dan gerak gerak peristaltperistaltic ic usus usus jugajuga

menurun. menurun.

d)

d) Sistem genitourinaria, pada lansia ginjal akan mengalamiSistem genitourinaria, pada lansia ginjal akan mengalami

 pengecilan sehingga aliran darah ke gin

 pengecilan sehingga aliran darah ke ginjal menurun.jal menurun.

e)

e) Sistem musculoskeletal, pada lansia tulang akanSistem musculoskeletal, pada lansia tulang akan

kehilangan cairan dan makin rapuh, keadaan tubuh akan kehilangan cairan dan makin rapuh, keadaan tubuh akan

lebih pendek, persendian kaku dan tendon mengerut. lebih pendek, persendian kaku dan tendon mengerut.

f)

f) Sistem Kardiovaskuler, pada lansia jantung akanSistem Kardiovaskuler, pada lansia jantung akan

mengalami pompa darah yang menurun , ukuran jantung mengalami pompa darah yang menurun , ukuran jantung

secara

secara kesuruhan kesuruhan menurun menurun dengan dengan tidaknya tidaknya penyakitpenyakit

klinis, denyut jantung menurun , katup jantung pada lansia klinis, denyut jantung menurun , katup jantung pada lansia

akan lebih tebal dan kaku akibat dari akumulasi lipid. akan lebih tebal dan kaku akibat dari akumulasi lipid.

Tekanan darah sistolik meningkat pada lansia kerana Tekanan darah sistolik meningkat pada lansia kerana

hilangnya distensibility arteri. Tekanan darah diastolic hilangnya distensibility arteri. Tekanan darah diastolic

tetap sama atau meningkat. tetap sama atau meningkat.

2)

2) Perubahan intelektualPerubahan intelektual

Menurut Hochanadel dan Kaplan dalam Mujahidullah (2012), Menurut Hochanadel dan Kaplan dalam Mujahidullah (2012),

akibat proses penuaan juga akan terjadi kemunduran pada akibat proses penuaan juga akan terjadi kemunduran pada

kemampuan otak seperti perubahan

kemampuan otak seperti perubahan intelegenita Quantionintelegenita Quantion ( IQ) yaitu( IQ) yaitu

fungsi otak kanan mengalami penurunan sehingga lansia akan fungsi otak kanan mengalami penurunan sehingga lansia akan

(5)

mengalami kesulitan dalam berkomunikasi nonverbal, pemecehan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi nonverbal, pemecehan

masalah, konsentrasi dan kesulitan mengenal wajah seseorang. masalah, konsentrasi dan kesulitan mengenal wajah seseorang.

Perubahan yang lain adalah perubahan ingatan , karena penurunan Perubahan yang lain adalah perubahan ingatan , karena penurunan

kemampuan otak maka seorang lansia akan kesulitan untuk kemampuan otak maka seorang lansia akan kesulitan untuk

menerima rangsangan yang diberikan kepadanya sehingga menerima rangsangan yang diberikan kepadanya sehingga

kemampuan untuk mengingat pada lansia juga menurun. kemampuan untuk mengingat pada lansia juga menurun.

3)

3) Perubahan keagamaanPerubahan keagamaan

Menurut Maslow dalam Mujahidin (2012), pada umumnya Menurut Maslow dalam Mujahidin (2012), pada umumnya

lansia akan semakin teratur dalam kehidupan keagamaannya, hal lansia akan semakin teratur dalam kehidupan keagamaannya, hal

tersebut bersangkutan dengan keadaan lansia yang akan tersebut bersangkutan dengan keadaan lansia yang akan

meninggalkan kehidupan dunia. meninggalkan kehidupan dunia.

d.

d. Tugas perkembangan pada lanjut usiaTugas perkembangan pada lanjut usia

Menurut Havighurst dalam Stanley (2007), tugas Menurut Havighurst dalam Stanley (2007), tugas

 perkembangan adalah tugas

 perkembangan adalah tugas yang muncul pada peyang muncul pada periode tertentu dalamriode tertentu dalam

keidupan suatu individu. Ada beberapa tahapan perkembangan yang keidupan suatu individu. Ada beberapa tahapan perkembangan yang

terjadi pada lansia, terjadi pada lansia, yaityaituu

1)

1) Penyesuaikan diri kepada penurunan kesehatan dan kekuatanPenyesuaikan diri kepada penurunan kesehatan dan kekuatan

fisik. fisik.

2)

2) Penyesuaian diri kepada masa pension dan hilangnyaPenyesuaian diri kepada masa pension dan hilangnya

 pendapatan.  pendapatan.

3)

3) Penyesuaaian diri kepada kematian pasangan dan orangPenyesuaaian diri kepada kematian pasangan dan orang

terdekat lainnya. terdekat lainnya.

(6)

4) Pembantukan gabungan (pergelompokan) yang sesuai

denganya.

5) Pemenuhan kewajiban social dan kewarganegaraan.

6) Pembentukan kepuasan pengaturan dalam kehidupan.

2. Konsep Pengetahuan

a. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan

tahu, atau kenal, sadar, mengerti, pandai. Pengetahuan merupakan

hasil process dari usaha manusia untuk tahu (Bahtiar, 2004)

 b. Tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007), sebagai

 berikut :

1) Tahu

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali suatu yang spesifik dari seluruh bahan

(7)

2) Memahami

Memahami merupakan kemampuan menjelaskan secara

 benar, tentang objek yang diketahui dan dapat mengiterpretasikan

materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi

Aplikasi merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.

4) Analisis

Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi dan suatu objek kedalam komponen –   komponen, tetapi

masih didalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya

satu sama lain.

5) Sintesis

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis merupakan suatu

kemampuan untuk menyusun formasi baru dari formasi yang ada.

6) Evaluasi

Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan

 justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek, untuk

(8)

dilakukan dengan wawancara baik wawancara mendalam atau

terstruktur dengan kuisioner dan Focus Group Discussion (FGD).

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Mubarak, (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi

informasi tentang diit hipertensi adalah :

1) Tingkat pendidikan

Pendidikan merupakan cara untuk memberikan sebuah

 pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang

meningkat.

2) Budaya

Merupakan pikiran atau akal. Kebiasaan atau tingkah laku

manusia dalam mengetahui kebutuhan yang memiliki sikap atau

kepercayyan.

3) Informasi

Seseorang dengan sumber informasi yang lebih banyak akan

memiliki pengetahuan yang lebih luas.

4) Social ekonomi

Tingkat kemampuan seseorang melalui pengetahuan untuk

memenuhi kebutuhan hidup.

5) Pengalaman

Semakin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang maka

(9)

3. Konsep Hipertensi pada Lansia

a. Pengertian Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan systole dan

diastole mengalami kenaikan yang melebihi batas normal yaitu

tekanan darah systole > 140mmHg dan diatole . 90 mmHg.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit salah

satu resiko tinggi yang bisa menjadi penyakit jantung, stroke dan

gagal ginjal ( Muwarni, 2011 ;Zhao, 2013).

Kaplan memberikan batasan hipertensi dengan

memperhatikan usia dan jenis kelamin ( Soeparman dalam buku

Udjianti, 2010).

1) Pria berusia lebih dari 45 tahun, dikatakan hipertensi bila

tekanan darah pada waktu berbaring lebih dari 120/90 mmHg

2) Pria berusia 45 tahun, dikatakan hipertensi bila tekanan darahnya

lebih dari 145/95 mmHg.

(10)

 b. Klasifikasi Hipertensi

Berikut adalah klasifikasi hipertensi:

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi

Batasan Tekanan Darah (mmHg) Kategori

Diastolik

< 80 Tekanan darah normal

80-89 Prehipertensi

90-99 Hipertensi stage 1

≥ 100 Hipertensi stage 2

Sistolik

≤ 120 Tekanan darah normal

120-139 Prehipertensi

140-159 Hipertensi stage 1

≥ 160 Hipertensi stage 2

Sumber: Fundamental Of Nursing (Potter dan Perry, 2009)

c. Macam-macam Hipertensi

Hipertensi dapat terbagi menjadi dua golongan

1) Hipertensi Esensial atau Hipertensi Primer

Sekitar 95% kasus hipertensi primer atau esensial merupakan

hipertensi yang sampai saat ini masih belum diketahui

 penyebabnya secara pasti ( Rudianto, 2013).

2) Hipertensi Sekunder

Pada sekitar 5% kasus hipertensi sekunder adalah hipertensi

yang disebabkan oleh penyakit lain seperti diabetes, kerusakan

(11)

d. Tanda dan Gejala Hipertensi

Menurut Udjianti (2010) tanda dan gejala hipertensi yang

sering terjadi adalah:

1) Sakit kepala( rasa berat di tengkuk)

2) Kelelahan

3) Keringat berlebihan

4) Tremor otot

5) Mual, muntah

Adapun menurut Sustrani,et al (2004), bahawa tanda dan

gejala hipertensi antara lain:

1) Sakit kepala

2) Jantung berdebar-debar

3) Sulit bernafas setelah bekerja keras

4) Mudah lelah

5) Penglihatan kabur

6) Dunia terasa berputar (vertigo)

7) Hidung berdarah

8) Wajah memarah

e. faktor penyebab mempengaruhi hipertensi

1) diit

(12)

3) kegiatan fisik (gaya hidup)

4) obesitas

5) stress

f. Faktor Yang Mempengaruhi Kekambuhan Hipertensi

1) Gaya hidup

Kebiasaan mengkonsumsi makanan dengan kandungan garam

yang tinggi memicu naiknya tekanan darah (Martuti, 2009).

2) Stress

Realitas kehidupan setiap hari yang tidak bisa dihindari,

stress atau ketegaan emosional dapat mempengaruhi system

kardiovaskuler, khusus hipertensi, stress dianggap sebagai faktor

 psikologis yang dapat meningkatkan tekanan darah (Marliani,

2007)

3) Merokok

Pada sistem kardiovaskuler, rokok menyebabkan

 peningkatan tekanan darah. Merokok juga mengakibatkan dinding

 pembuluh darah menebal secara bertahap yang dapat menyulitkan

 jantung untuk memompa darah. Kerja jantung yamg lebih berat

(13)

g. Pencegahan Hipertensi

Menurut Febry, et al (2013), pencegahan terjadi hipertensi

meliputi :

1) Mengurangi konsumsi garam . kebutuhan garam per hari yaitu 5 gr

( 1 dst).

2) Mencegah kegemukan

3) Membatsi konsumsi lemak

4) Olah raga teratur

5) Makan buah dan sayuran segar

6) Hindari merokok dan tidak minum alcohol

7) Latihan relaksasi/ meditasi

8) Berusaha membina hidup yang positif

h. Pengobatan Hipertensi

Menurut Rudianto (2013) pengobatan hipertensi dibagi

menjadi 2 jenis yaitu :

1) Pengobatan Non Farmakologi diantaranya:

a) Diit rendah garam/ kolesteral/ lemak jenuh

 b) Mengurangi asupan garam kedalam tubuh

(14)

d) Melakukan olah raga seperti senam aerobic atau jalan cepat

selama 30-45 sebanyak 3-4 kali seminggu.

e) Berhenti merokok dan Alkohol

2) Pengobatan dalam Farmakologi

Terdapat banyak jenis obat antihipertensi saat ini. Untuk pemilihan

obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter diantaranya:

a) Deuretik

Bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh( lewat kencing)

sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan

daya pompa jantung lebih ringan . contoh: Hidroklorotiazid

 b) Penghambat simpatetik

Bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis ( saraf yang

 bekerja pada saat kita beraktivitas).Contoh: Metildopa, Klonidin

dan resepin.

c) Betabloker

Mekanisme kerja obat antihipertensi ini adalah melalui

 penurunan daya pompa jantung dan tidak dianjurkan pada

 penderita yang mengidap gangguan pernapasan eperti asma

 bronchial. Pada orang tua terdapat gejala bronkospame(

 penyempitan saluran pernapasan), sehingga pemberian obat harus

(15)

d) Antagonis kalsium

Menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat

kontraksi jantung (kontraktilitis)Contoh: nifedipin, Diltiasem dan

Verapamil

i. Diit hipertensi

Diit hipertensi adalah cara untuk mencegah terjadinya

hipertensi tanpa efek samping, karena menggunakan bahan makanan

yang lebih alami dari pada menggunakan obat penurunan tekanan darah

(Sustrani, 2005).

Diit hipertensi menurut Sustrani et al (2005) diantaranya adalah:

1) Mengurangi asupan garam

Mengurangi garam sering juga diimbangi dengan asupan

lebih banyak kalsium, magnesium, dan kalium( bila diperlukan untuk

kasus tertentu.) Puasa garam untuk kasus tertentu dapat menurunkan

tekanan darah secara nyata , mengkonsumsi garam dalam seharian

 pagi penderita hipertensi tidak boleh lebih dari 4 gram / hari bagi

hipertensi ringan,jika hipertensi berat hanya 2 gram / hari (Febry,

2013).

Tujuan dari diit rendah garam adalah membantu

menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan

(16)

rendah garam adalah cukup energy. Protein, mineral dan

vitamin. (Almatsier, 2006)

2) Memperbanyakan serat

Mengkonsumsi lebih banyak atau makanan rumahan yang

mengandung banyak serat memperlancar buang air besar dan

menahan sebagian asupan natrium. Sebaiknya penderita hipertensi

menghindari makanan kalengan dan makanan siap saji dari restoran,

yang dikuatirkan mengandung banyak pengawet dan kurang serat.

3) Menghentikan kebiasaan buruk

Menghentikan rokok, kopi dan alcohol dapat mengurangi

 beban jantung, sehingga jantung dapat bekerja dengan baik. Rokok

dapat meningkatkan resiko kerusakan pembuluh darah yang

mengedap kolestrol pada pembuluh darah koroner, sehingga jantung

 bekerja lebih keras.

4) Memperbanyakan asupan kalium

Diketahui bahwa dengan mengkonsumsi 3.500 miligram

kalium dapat membantu mengatasi kelebihan natrium, sehingga

dengan volume darah yang ideal dapat dicapai kembali tekanan darah

yang normal. Kalium bekerja mengusir natirum dari senyawanya,

sehingga lebih mudah dikeluarkan. Makanan yang kaya kalium

(17)

5) Memenuhi kebutuhan magnesium

Kebutuhan magnesium menurut kecukupan gizi yang

dianjurkan atau RDA ( Recommended dietary Allowance) adalah

sekitar 350 miligram . kekurangan asupan magnesium terjadi dengan

semakin banyaknya makanan olahan yang dikonsumsi.

Sumber makanan yang kaya mahnesium antara lain

kacang tanah, bayam, kacang polong dan makanan laut. Tetapi

 berhati-hati agar jangan mengkonsumsi terlalu banyak suplemen

magnesium karena dapat menyebabkan diare.

6) Melengkapi kebutuhan kalsium

Walaupun masih menjadi perdebatan mengenai ada atau

tidaknya pengaruh kalsium dengan penurunan tekanan darah, tetapi

untuk menjaga dari resiko lain< 800 miligram kalsium per hati

(setara dengan 3 gelas susu) sudah lebih dari cukup. Sumber lain

yang kaya kalsium adalah keju rendah lemak dan ikan, seperti

salmon.

7) Mengetahui sayuran dan bumbu dapur yang ber manfaat untuk

tekanan darah.

Sayuran dan bumbu dapur yang bermanfaat untuk

 pengontrolan tekanan darah adalah:

a) Tomat

(18)

c) Seledri, sedikitnya 4 batang per hari dalam sup/ masakan lain

d) Bawang putih, sedikitnya satu siung per hari. Bisa juga

digunakan bawang merah dan bawang bombai

e) Kunyit

f) Bumbu lain adalah lada hitam, adas, kemangi, dan rempah

lainnya.

 j. Contoh Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan bagi

 penderita hipertensi:

Table . Contoh Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan

Bahan makanan dianjurkan Tidak dianjurkan

Sumber karbohidrat

Beras,

kentang,singkong,terigu, makanan yang diolah  bahan makanan tersebut diatas tanpa garam dapur

dan soda seperti: makroni, mi, bihun, roti,

 biskut ,kue kering

Roti, biskut dan kue-kue yang dimasak dengan

garam dapur/ baking  pouder dan soda

Sumber protein hewani

Daging dan ikan maksimal 100 gram sehari, telur maksimal 1

 butir/ hari

Otak, ginjal, lidah,sardine, daging, ikan ,susu,dan telur yang

diawet dengan garam dapur seperti daging

asap, ham, bacon, dendeng,abon,keju,ikan

asin, ikan kaleng, koenet, udang kering,telur asin, dan

telur pindang. Sumber protein

nabati

Semua kacang-kacangan dan hasilnya yang diolah dan dimasak tanpa garam

dapur

Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan

yang hasilnya dimasak dengan garam dapur dan

(19)

ikatan natrium

Sayuran Semua sayuran segar,

sayuran yang diawet tanpa garam dapur dan

natrium benzoat

Sayuran yang dimasak dan diawet dengan garam dapur seperti

sayuran dalam kaleng,sawi asin, asinan

dan acar

Buah-buahan Semua buah-buahan

segar, buah yang diawet tanpa garam dapur dan

natrium banzoat

Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium seperti buah

dalam kaleng

Lemak Minyak goreng, margain,

dan mentaga tanpa garam

Margain dan mentaga  biasa

Minuman teh Minuman ringan, kopi

Sumber : Penuntun diit (Almatsier, 2004).

4. Konsep keluarga

a. Pengertian keluarga

Menurut Friedman 2012 dalam buku keperawatan keluarga.

mengatakan keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang

hidup bersama dengan keterikatan aturan , emotional dan individu

mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari

keluarga .

Sayekti mengatakan keluarga adalah suatu ikatan

/perseketuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang

 berlainan jenis yang hidup bersama.

Menurut UU No. 10 tahun 1992 tentang berkembangan

(20)

unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari isteri,atau

suami-isteri dan anaknya,atau ayah dan anaknya,atau ibu dan anaknya

(Suprajitno, 2012).

 b. Tipe keluarga

Secara trandisional keluarga dikelompokkan menjadi dua,

yaitu

1) Keluarga inti ( nuclear family) adalah keluarga yang hanya

terdiri ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau

adopsi atau keduanya

2) Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah

anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah

(Suprajitno, 2012)

c. Fungsi keluarga

Secara umum fungsi keluarga adalah sebagai berikut

1) Fungsi afektif ( the affective function) adalah gambaran diri

anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam

keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga dan

 bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.

Semakin mempercepat kesembuhan dari penyaitnya. Fungsi ini

 berkaitan dengan persepsi keluarga terhadap kebutuhan ini tidak

terpenuhi akan mengakibatkan ketidakseimbangan keluarga

(21)

2) Fungsi sosialisasi (  socialization function). Status social

ekonomi keluarga dapat dilihat dari pendapatan kepala keluarga

maupun dari anggota keluarga lainnya dan juga

kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga .pada pengkajian

status social ekonomi diketahui bahwa tingkat status social

ekonomi berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang. Dampak

dari ketidak mampuan keluarga membuat seseorang enggan

memeriksakan diri ke dokter dan fasilitas kesehatan yang lain.

3) Fungsi ekonomi ( the economic function), status ekonomi

keluarga sangat mendukung terhadao kesembuhan penyakit.

Biasanya karena faktor ekonomi orang segan untuk mencari

 pertolongan dokter ataupun petugas kesehatan lainnya.

4) Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan (the health care

 function),

a) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah

kesehatan sejauh mana keluarga mengetahui fakta-fakta dari

masalah kesehatan yang meliputi pegertian, faktor

 penyebab,tanda dan gejala serta yang mempengaruhi

keluarga terhadap masalah, kemampuan keluagra dapat

(22)

dilakukan oleh keluarga akan sesuai

dengan tindakan keperawatan.

 b) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil

keputusan mengenai tindakan kesehatan tang tepat.

c) Untuk mengetahui sejauh mana keluarga merawat anggota

keluarga yang sakit. Yang perlu dikaji sejauh mana

keluarga mengetahui keadaan penyakitnya dan cara merawat

anggota yang sakit.

d) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga

memelihara lingkungan rumah yang sehat. Bagaimana

keluarga mengetahui keuntungan atua manfaat pemeliharaan

lingkungan kemampuan keluarga untuk memodifikasi

lingkungan akan dapat mencegah kekambuhan dari

 penyakit.

e) Untuk mgetahui sejauhmana kemampuan keluarga

mengggunakan fasilitas kesehatan yang mana akan mendukung terhadap kesehatan seseorang (Harmoko, 2012).

(23)

Kekambuhan hipertensi pada

B. Kerangka Teori

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Sumber: Marliani (2007), Radyanto (2013), Suprajitno (2012), Udjianti (2010) Penyebab hipertensi : 1. stress 2. obesitas 3. Diit 4. Gaya hidup 5. merokok hipertensi Faktor yang Mempengaruhi kekambuhan hipertensi 1. Gaya hidup 2. Stress 3. merokok

Faktor yang mempengaruhi  pengetahuan : 1. Tingkat pendidikan 2. Budaya 3. Informasi 4. Social ekonomi 5.  pengalaman Pengetahuan keluarga tentang diit hipertensi

(24)

A. KONSEP MEDIK  1. Definisi

Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak,  penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat

terganggu.

Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh  berbagai gangguan fungsi

kognitif antara lain

intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi,

 perhatian dan konsentrasi, penyesuaian dan kemampuan bersosialisasi (Corwin, 2009).

2. Etiologi

Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar yaitu :

a. Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak dikenal kelainan yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau secara  biokimiawi pada system enzim, atau pada metabolism

 b. Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat diobati, penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :

1. Penyakit degenerasi spino - serebelar

2. Subakut leuko-esefalitis sklerotik fan bogaert 3. Khorea Hungtington

c. Sindrome demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati, dalam golongan ini diantranya :

1. Penyakit cerrebro kardiovaskuler 2.  penyakit

(25)

3. Klasifikasi

Klasifikasi demensia antara lain :

1. Demensia karena kerusakan struktur otak Demensia ini ditandai dengan gejala :

1. Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif, 2. Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia,

agnosia, gangguan fungsi eksekutif.

3. Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru, 4. Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan), 5. Kehilangan inisiatif.

2. Demensia Vascular

Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi dapat diduga sebagai demensia vascular.

Tanda-tanda neurologis fokal seperti : 1. Peningkatan reflek tendon dalam 2. Kelainan gaya berjalan

3. Kelemahan anggota gerak 3. Demensia menurut umur:

1. Demensia senilis ( usia > 65 tahun) 2. Demensia prasenilis (usia < 65 tahun) 4. Demensia menurut perjalanan penyakit :

1. Reversibel (mengalami perbaikan)

2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit.B, Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb)

Pada demensia tipe ini terdapat pembesaran vertrikel dengan meningkatnya cairan serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :

1. Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret). 2. Inkontinensia urin

(26)

3. Demensia.

5. Menurut menurut sifat klinis: 1. Demensia proprius 2. Pseudo-demensia 4. Patofisiologi

Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia. Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan  biokimiawi di susunan saraf pusat yaitu berat otak akan menurun sebanyak sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun. Berbagai faktor etiologi yang telah disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi sel-sel neuron korteks serebri.

Penyakit degeneratif pada otak, gangguan vaskular dan penyakit lainnya, serta gangguan nutrisi, metabolik dan toksisitas secara langsung maupun tak langsung dapat menyebabkan sel neuron mengalami kerusakan melalui mekanisme iskemia, infark, inflamasi, deposisi protein abnormal sehingga jumlah neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area kortikal ataupun subkortikal.

Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang diperlukan untuk  proses konduksi saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan

gangguan fungsi kognitif (daya ingat, daya pikir dan belajar), gangguan sensorium (perhatian, kesadaran), persepsi, isi pikir, emosi dan mood. Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area yang terkena (kortikal atau subkortikal) atau penyebabnya, karena manifestasinya dapat  berbeda. Keadaan patologis dari hal tersebut akan memicu keadaan konfusio

akut demensia (Boedhi-Darmojo, 2009). 5. Menifestasi Klinik 

Gejala klinis demensia berlangsung lama dan bertahap sehingga  pasien dengan keluarga tidak menyadari secara pasti kapan timbulnya  penyakit. Gejala klinik dari dEmensia Nugroho (2009) menyatakan jika

dilihat secara umum tanda dan gejala demensia adalah :

1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, lupa menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.

(27)

2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu,  bulan, tahun, tempat penderita demensia berada.

3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang  benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,

mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali.

4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.

5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien dengan demensia antara lain sebagai  berikut :

1. Farmakoterapi

Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.

a. Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan antikoliesterase seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine , Memantine

 b. Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet seperti Aspirin , Ticlopidine ,  Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.

c. Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang  berhubungan dengan stroke.

d. Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi seperti Sertraline dan Citalopram.

e. Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-psikotik (misalnya Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone)

(28)

2. Dukungan atau Peran Keluarga

Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang

3. Terapi Simtomatik

Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi simtomatik, meliputi :

a. Diet

 b. Latihan fisik yang sesuai

c. Terapi rekreasional dan aktifitas

d. Penanganan terhadap masalah-masalah 4. Pencegahan dan perawatan demensia

Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :

1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.

2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.

3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif : Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.

4. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi

5. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap s ehat. 7. Pemeriksaan Diagnostik 

Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada pasien dengan demensia antara lain :

1. Pemeriksaan laboratorium rutin

2. Imaging : Computed Tomography (CT) scan dan MRI ( Magnetic  Resonance Imaging )

(29)

4. Pemeriksaan cairan otak 5. Pemeriksaan genetika

6. Pemeriksaan neuropsikologis 8. Komplikasi

Kushariyadi (2010) menyatakan koplikasi yang sering terjadi pada demensia adalah:

1) Peningkatan resiko infeksi di seluruh bagian tubuh. a) Ulkus diabetikus

 b) Infeksi saluran kencing c) Pneumonia

2) Thromboemboli, infarkmiokardium 3) Kejang

4) Kontraktur sendi

5) Kehilangan kemampuan untuk merawat diri

6) Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan dan kesulitan menggunakan peralatan.

(30)

B. KONSEP KEPERAWATAN 1. Pengkajian

Data subyektif :

1. Pasien mengatakan mudah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi.

2. Pasien mengatakan tidak mampu mengenali orang, tempat dan waktu

. Data obyektif :

1. Pasien kehilangan kemampuannya untuk mengenali wajah, tempat dan objek yang sudah dikenalnya dan kehilangan suasana kekeluargaannya.

2. Pasien sering mengulang-ngulang cerita yang sama karena lupa telah menceritakannya.

3. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara; penderita menggunakan kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata-kata-kata yang tepat.

2. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan Memori (00131) 2. Resiko Jatuh (00155)

3. Defisit Perawatan Diri

(31)

3. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteri Hasil (NOC) Intervensi (NIC) 1. Kerusakan Memori (00131)

Domain 5 ; Persepsi/Kognisi Kelas 4 ; Kognisi

Definisi :

Ketidakmampuan mengingat beberapa informasi atau keterampilan perilaku. Batasan Karakteristik :

- Ketidakmampuan melakukan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya - Ketidakmampuan mempelajari informasi baru - Ketidakmampuan mempelajari keterampilan baru - Ketidakmampuan mengingat informasi aktual - Keidakmampuan mengingat  perilaku tertentu yang pernah

dilakukan - Ketidakmampuan mengingat  peristiwa - Ketidakmampuan menyimpan NOC 1. Orientasi Kognitif  Kriteria Hasil;

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, kesadaran klien terhadap identitas  personal, waktu dan tempat meningkat/baik, dengan indikator/kriteria hasil :

1. Mengenal kapan klien lahir 2. Mengenal orang atau hal penting 3. Mengenal hari, bulan, dan tahun

dengan benar

4. Klien mampu memperhatikan dan mendengarkan dengan baik

5. Klien mampu melaksanakan instruksi sederhana yang diberikan.

6. Klien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan dengan tepat. 7. Klien mampu mengenal identitas

dirinya dengan baik.

8. Klien mengenal identitas orang disekitarnya dengan tepat/baik. 9. Klien mampu

NIC

Memori Taining (Pelatihan Memori) 1. Stimulasi memory dengan

mengulangi pembicaraan secara  jelas di akhir pertemuan dengan  pasien.

2. Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.

3. Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali 4. Monitor perilaku pasien selama

terapi

5. Monitor daya ingat klien.

6. Kaji kemampuan klien dalam mengingat sesuatu.

7. Ingatkan kembali pengalaman masa lalu klien

8. Implementasikan teknik mengingat dengan cara yang tepat 9. Latih orientasi klien

10. Beri kesempatan kepada klien untuk melatih, konsentrasinya Stimulasi Kognitif (Cognitive Stimulation)

1. Monitor interpretasi klien terhadap lingkungan

(32)

informasi baru

- Lupa melakukan perilaku pada waktu yang telah dijadwalkan - Mudah lupa

Faktor Yang Berhubungan ; - Anemia

- Distraksi lingkungan - Gangguan neurologis - Hipoksia

- Gangguan volume cairan - Ketidakseimbangan elektrolit - Penurunan curah jantung

mengidentifikasikan tempat dengan benar.

10. Klien mampu mengidentifikasi waktu dengan benar.

2. Tempatkan objek/hal-hal yang familiar di lingkungan/di kamar klien

3. Observasi kemampuan klien  berkonsentrasi.

4. Kaji kemampuan klien memahami dan memproses informasi

5. Berikan instruksi setelah klien menunjukkan kesiapan untuk  belajar atau menerima informasi. 6. Atur instruksi sesuai tingkat

 pemahaman klien

7. Gunakan bahasa yang familiar dan mudah dipahami

8. Dorong klien menjawab  pertanyaan dengan singkat dan  jelas.

9. Koreksi interpretasi yang salah 10. Beri reinforcement pada setiap

kemajuan klien 2. Resiko Jatuh (00055)

Domain : 11 Kemanan Kelas : 2 Cedera Fisik Definisi

Peningkatan kerentanan untuk jatuh yang dapat menyebabkan bahaya fisik

NOC

1. Trauma risk for 2. Injury risk for

Kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam di harapkan klien

NIC

1. Mengidentifikasi defisit kognitif atau fisik yang dapat meningkatkan potensi jatuh dalam lingkungan tertentu

2. Mengidentifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi resiko  jatuh

(33)

Asuhan Keperawatan Demensia 10

Faktor Resiko 1. Dewasa

 Usia 65 tahun atau lebih

 Riwayat jatuh

 Tinggal sendiri

 Prosthesis eksremitas bawah

 Penggunaan alat bantu ( misalnya : walker,tongkat )

 Penggunaan kursi roda 1. Anak

 Usia dua tahun atau kurang

 Tempat tidur yang terletak didekat jendela

 Kurangnya penahan /  pengekang kereta dorong

 Kurangnya/longgarnya pagar  pada tangga

 Kurangnya penghalang atau tali pada jendela

 Kurang pengawasan orang tua

 Jenis kelamin laki-laki yang  berusia < 1 tahun

 Bayi yang tidak diawasi saat  berada dipermukaan yang tinggi ( misalnya: tempat tidur/meja)

2. Kognitif

 Penurunan status mental

mampu untuk :

1. Keseimbangan: kemampuan untuk mempertahankan ekuilibrium

2. Gerakan terkoordinasi : kemampuan otot untuk bekerja sama secara volunter untuk melakukan gerakan yang  bertujuan

3. Perilaku pencegahan jatuh : tindakan individu atau pemberi asuhan untuk meminimalkan faktor resiko yang dapat memicu  jatuh dilingkungan individu 4. Kejadian jatuh : tidak ada

kejadian jatuh

5. Pengetahuan : pemahaman  pencegahan jatuh pengetahuan :

keselamatan anak fisik,

6. Pengetahuan : keamanan pribadi 7. Pelanggaran perlindungan tingkat

kebingungan akut 8. Tingkat agitasi

9. Komunitas pengendalian resiko : 10. Gerakan terkoordinasi

3. Mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang dapat meningkatkan potensi untuk jatuh ( misalnya : lantai yang licin dan tangga terbuka )

4. Mendorong pasien untuk menggunakan tongkat atau alat  pembantu berjalan

5. Kunci roda dari kursi roda,tempat tidur,atau brankar selama transfer  pasien

6. Tempat artikel mudah dijangkau dari pasien

7. Ajarkan pasien bagaimana jatuh untuk meminimalkan cedera 8. Menyediakan toilet ditinggikan

untuk memudahkan transfer 9. Membantu ke toilet

seringkali,interval dijadwalkan 10. Sarankan alas kaki yang aman 11. Mengembangkan cara untuk

 pasien untuk berpartisipasi keselamatan dalam kegiatan rekreasi

12. Lembaga program latihan rutin fisik yang meliputi berjalan 13. Tanda-tanda posting untuk

mengingatkan staf bahwa pasien yang beresiko tinggi untuk jatuh

(34)

3. Lingkungan

 Lingkungan yang tidak terorganisasi

Ruang yang memiliki  pencahayaan yang redup

 Tidak ada meteri yang antislip di tempat mandi pancuran

 Pengekangan

 Karpet yang tidak rata/terlipat

 Ruang yang tidak di kenal

 Kondisi cuaca ( misalnya : lantai basah,es)

4. Medifikasi

 Penggunaan alcohol

 Inhibitor enzyme pengubah angiotensin

 Agen anti ansietas

 Agen anti hipertensi

 Deuretik  Hipnotik   Narkotik/opiate  Obat penenang  Antidepresan trisiklik 5. Fisiologis  Sakit akut  Anemia  Arthritis  Penurunan kekuatan ekstremitas bawah

(35)

 Diare

 Kesulitan gaya berjalan

 Vertigo saat mengekstensikan leher

 Masaalah kaki

 Kesulitan mendengar

 Gangguan keseimbangan

 Gangguan mobilitas fisik

 Inkontinensia   Neoplasma ( misalnya : letih,mobilitas terbatas )   Neuropati  Hipotensi ortostatisk  Kondisi postoperative

 Perubahan gula darah  postprandial

 Deficit proprioseptif

  Ngantuk

 Berkemih yang mendesak

 Penyakit vaskuler

 Kesulitan melihat 3. Defisit Perawatan Diri

Domain : 4 : Aktivitas/Istrahat Kelas : Kelas 5 Perawatan Diri Definisi

Hambatan kemampuan untuk melakukan

NOC :

1. Self care : Activity of Daily 2. Living (ADLs)

Kriteria Hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan

NIC

Self Care assistane : ADLs

1. Monitor kemempuan klien untuk  perawatan diri yang mandiri. 2. Monitor kebutuhan klien untuk

alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting

(36)

atvitas atau menyelesaikan aktivitas  berpakaian sendiri, eliminasi sendiri dan

makan sedndiri

Batasan Kharateristik 

- Ketidakmampuan mengacingkan  pakaian

- Hambatan mengambil pakaian - Hambatan mengenakan pakaian - Ketidakmampuan menggunakan

higene eliminasi tepat - Ketidakmampuan naik toilet - Ketidakmampuan memanipulasi

 pakaian untuk eliminasi.

- Ketidakmampuan untuk berdiri dan duduk di toilet

- Ketidakmampuan mengambil makanan dan memasukannya ke mulut - Ketidakmampuan mengunyah makanan - Ketidakmampuan menghabiskan makanan - Ketidakmampuan makan makanan dalam jumlah memadai - Ketidakmampuan memanipulasi

makanan dalam mulut

- Ketidakmampuan menyapakna makanan untuk di makan

selama 3 x 24 jam Defisit perawatan diri teratas dengan kriteria hasil:

- Klien dapat berdandan eliminasi dan makan dengan mandiri

- Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan ADLs

- Dapat melakukan ADLS dengan  bantuan

dan makan.

3. Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.

4. Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki. 5. Dorong untuk melakukan secara

mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu

melakukannya.

6. Ajarkan klien/ keluarga untuk Mendorong kemandirian, untuk Memberikan bantuan hanya jika  pasien tidak mampu untuk

melakukannya.

7. Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.

8. Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari.

(37)

- Ketidakmampuan untuk menelan Faktor Yang Berhubungan

- Gangguan kognitif - Penurunan motivasi - Ketidaknyamanan - Kendala lingkungan - Keletihan - Gangguan musculoskeletal - Gangguan neuromuscular -  Nyeri - Gangguan persepsi - Ansietas berat

4. Hambatan Komunikasi Verbal (00051) Domain : 5 Persepsi Kognisi

Kelas : 5 Komunikasi Definisi

Penurunan, keterlambatan atau ketiadaan kemampuan untuk menerima proses mengirim dan atau menggunaka sistem symbol

Batasan Kharateristik  - Tidak ada Kontak Mata - Tidak Dapat Bicara

NOC

1. Ansiety 2. Coping

3. Sensori Funtion : hearing dan vision

4. Fear self control Kriteria Hasil

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien mampu :

1. Berkomunikasi :  penerimaan NIC

Communication Enhancement : Speech Deficit

1. Gunakan penerjemah jika diperlukan

2. Beri satu kalimat simple setiap  bertemu jika di perlukan

3. Konsultasikan dengan dokter kebutuhan terapi wicara

4. Dorong  pasien untuk  berkomunikasi secara perlahan dan untuk mengulangi permintaan 5. Dengarkan dengan penuh

(38)

- Kesulitan mengekspresikan fikiran secara verbal

- Kesulitan menyusn kalinat - Kesulitan menyusun kata-kata - Kesuliatan memahami pola

komunikasi yang biasa

- Kesulitan dalam kehadiran tertentu

- Kesulitan menggunakan ekspresi wajah

- Disorientasi orang, ruang dan waktu.

- Tidak bicara

- Dismpena ketidakmampuan dalam bahasa pemberi asuhan - Ketidakmampuan menggunakan

ekspresi tubuh

- Ketidak mampuan menggunakan ekspresi wajah

- Ketidaktepatan verbalisasi - Defisit visual parsial - Pello

- Sulit bicara - Gagap

- Defisit penglihatan total - Bicara dengan kesulitan - Menolak bicara

interpretasi dan ekspresi pesan 2. Lisan, tulisan dan non verbal

meningkat.

3. Komunikasi ekspresif : (kesulitan  berbicara ekspresi pesan verbal

atau non verbal yang bermakna) 4. Komunikasi reseptif (kesulitan

mendengar) : penerimaan komunikasi dan interprestasi  pesan verbal atau non verbal 5. Gerakan terkoordinasi : mampu

mengkoordinasi gerakan dalam menggunakan isyarat.

6. Pengolahan informasi : klien mampu untuk memperoleh, mengatur, dan menggunakan informasi

7. Mampu mengontrol respon ketakutan dan kecemasan terhadap ketidak mampuan  berbicara

8. Mampu memanajemen

kemampuan fisik yang di miliki

9. Mampu mengkomunikasikan

kebutuhan dengan lingkungan sosial

ketika berbicara.

6. Gunakan kertu baca, kertas,  pensil, bahasa tubuh, gambar, daftar kosa kata, bahasa asing, computer, dan lain-lain. Untuk memfasilitasi komunikasi dua arah yang optimal

7. Ajarkan bicara dari esophagus  jika diperlukan

8. Beri anjuran kepada pasien dan keluarga tentang penggunaan alat  bantu bicara misalnya prostesi, trakheoesofagus dan laring buatan 9. Berikan pujian positif jika

diperlukan

10. Anjurkan pada pertemuan kelompok

11. Anjurkan kunjungan keluarga secara teratur untuk member stimulus komunikasi.

12. Anjurkan ekspresi diri dengan cara lain dalam menyampaikna informasi misalnya bahasa isyarat.

(39)

Faktor Yang Berhubungan - Ketiadaan Orang terdekat - Perubahan Konsep Diri - Perubahan sistem syaraf pusat - Defek anatomis

- Tumor otak - HDR kronik

- Perubahan harga diri - Perbedaan Budaya

- Penurunan Sirkulasi ke otak - Perbedaan yang berhubungan

dengan usia perkembangan - Gangguan emosi

- Kurang informasi - Hambatan fisik - Kondisi psikologi - HDR situasional

- Stress kendala lingkungan

- Efek samping obat  jelemahan sistem musculoskeletal

(40)

PATHWAY “DEMENSIA”

Faktor predisposisi : virus lambat, proses autoimun, keracunan alumunium dan genetic

Penurunan metabolism dan alran darah di korteks parietalis superior

Degenerasi neuron kolinergik

Kesulitan neurofibrilar Hilangnya serat saraf kolinergik di

yang difus korteks serebrum

Terjadi plak senilis Kelainan neurotransmiter Penurunan sel neuron kolinergik yang berproyeksi ke hipokampus

dan amigdala Asetilkolin menurun pada otak

DEMENSIA

Perubahan kemampuan merawat Kehilangan kemampuan Tingkah laku aneh dan kacau diri sendiri menyelesaikan masalah dan cenderung mengembara

defisit perawatan diri Perubahan mengawasi keadaan kompleks dan berfikir abstrak

Emosi, labil, pelupa, apatis

Loos deep memory

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi Batasan Tekanan Darah (mmHg)  Kategori
Table . Contoh Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan Bahan makanan  dianjurkan  Tidak dianjurkan
Gambar 2.1 Kerangka Teori

Referensi

Dokumen terkait

Tekanan Darah Sistolik TDS, TDD dan pulse pada keseluruhan responden berturut-turut memiliki p value 0,368; 0,791; 0,646, dan 0,167 p >0,05 artinya, hobi baik dan buruk tidak