• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal HIBUALAMO Seri Ilmu-Ilmu Sosial dan Kependidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal HIBUALAMO Seri Ilmu-Ilmu Sosial dan Kependidikan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

LP2M Universitas Hein Namotemo

100

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII1 SMP NEGERI 6 KOTA TERNATE

Muhamad Refki Yunus

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Hein Namotemo,

Jalan Kompleks Pemerintahan Halmahera Utara Villa Vak I Tobelo, Halmahera Utara, 97762 E-Mail: [email protected]

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 6 Kota Ternate

pada konsep usaha dan energi dengan menggunakan model pembelajaran Treffinger. Desain penelitian adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa setelah pembelajaran dan lembar observasi untuk guru dan siswa. Pada siklus I terdiri atas 6 soal essay dengan jumlah skor total 54, pada siklus II terdiri dari 6 soal essay dengan jumlah skor total 66, dan pada siklus III terdiri dari 8 soal essay dengan jumlah skor total 71. Siklus I, aktivitas siswa rata-rata 58,17%, aktivitas guru 50,00% dan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 orang atau 38,46%. Untuk siklus II aktivitas siswa meningkat menjadi 64,90%, aktivitas guru 65,90% dan jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 57,69%. Sedangkan pada siklus III, aktivitas siswa meningkat 74,75%, aktivitas guru 81,81% dan jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 73,07%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Treffinger dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep usaha dan energi.

Kata Kunci:Pembelajaran Treffinger, Usah dan Energi, Hasil Belajar. ABSTRACT

The purpose of this study is to improve the learning outcomes of students of class VIII1 SMP Negeri 6 Kota Ternate on the concept of effort and energy using the Treffinger learning model. The research design is a classroom action research (Classroom Action Research). The instrument used in this study is the result of student learning after learning and observation sheet for teachers and students. In cycle I consists of 6 essays with total score of 54, in cycle II consists of 6 essay questions with total score 66, and in cycle III consists of 8 essay questions with total score of 71. Cycle I, average 58.17%, teacher activity 50.00% and total number of completed students as many as 10 people or 38,46%. For the second cycle of student activity increased to 64.90%, teacher activity 65.90% and the total number of students who completed the study increased to 57.69%. While on the third cycle, student activity increased 74.75%, teacher activity 81.81% and the total number of students who completed the study increased to 73.07%. This suggests that the application of the Treffinger learning model can improve student learning outcomes on business and energy concepts.

Keywords: Treffinger Learning, Business and Energy, Learning Outcomes. 1. PENDAHULUAN

Salah satu aspek pendidikan yang turut menentukan kualitas pendidikan adalah pendidikan fisika. Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang memberikan kontribusi positif tercapainya masyarakat yang cerdas dan bermartabat. Fisika diajarkan bukan hanya untuk mengetahui dan memahami apa yang terkandung dalam fisika sendiri, tetapi fisika diajarkan pada dasarnya bertujuan untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh sebab itu guru harus dapat mendorong siswa untuk belajar fisika dengan baik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak terdapat siswa yang menganggap fisika sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari, dipahami, dan dimengerti, sehingga mengakibatkan

rendahnya hasil belajar siswa untuk mempelajari fisika.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah satu guru fisika dan bagian kurikulum kesiswaan SMP Negeri 6 Kota Ternate, terdapat bahwa nilai hasil ujian semester genap tahun ajaran 2012-2013 kelas VIII1, masih termasuk kategori

rendah dan belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh pihak sekolah.

Selain wawancara peneliti juga melakukan observasi di sekolah SMP Negeri 6 Kota Ternate khususnya di kelas VIII1, dan ternyata hasil

observasi terlihat bahwa: 1) Guru hanya memberikan pertanyaan pada sebagian siswa yang dianggap mampu dalam menyelesaikan

(2)

masalah-LP2M Universitas Hein Namotemo

101

masalah fisika sehingga tidak ada interaksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. 2) Siswa kurang diberikan kesempatan untuk bertanya dalam proses belajar mengajar fisika berlangsung. 3) proses pembelajaran masih berpusat satu arah yaitu hanya berpusat pada guru. Hal inilah yang merupakan faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang lebih terencana dan sistematis dan sesuai dengan hakikat IPA. Untuk itu, peneliti mencoba memberikan suatu alternatif model pembelajaran untuk mengatasi permasalahan di atas, yaitu dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang berorientasi pada siswa dan membina seluruh potensi siswa, salah satunya adalah potensi dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini peneliti bermaksud menerapkan model pembelajaran Treffinger.

Sesuai dengan permasalahan di atas peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Treffinger untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Usaha dan Energi”.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut di atas, maka peneliti merumuskan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan model pembelajaran Treffiger dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 6 Kota Ternate pada konsep usaha dan energy?

2. MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER

Model pembelajaran Treffinger ini disebut juga dengan model pembelajaran pemecahan masalah secara kreatif (Creative Problem Solving Models). Model ini digagas oleh Treffinger pada tahun 2002 sebagai penyempurnaan model pembelajaran pemecahan masalah secara kreatif yang telah ia buat sebelumnya. Menurut Treffinger 2002 digagasnya model pembelajaran ini dikarenakan perkembangan zaman yang terus berubah dengan cepat dan semakin kompleksnya permasalahan yang harus dihadapi, maka untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu cara agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan dan menghasilkan solusi yang paling tepat. Adapun yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada di lingkungan sekitar, lalu memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi yang tepat untuk kemudian diimplementasikan.

Model pembelajaran Treffinger dirancang agar siswa aktif mencari sendiri pengetahuannya. Selanjutnya model pembelajaran Treffinger ini pun

merupakan model pembelajaran yang bersifat

developmental dan lebih mengutamakan segi

proses. Hal ini dikarenakan model ini dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri (Sarson, 2005).

Pada tahap awal proses pemecahan masalah secara kreatif, siswa dikondisikan pada suatu permasalahan yang siswa peroleh dari hasil penggalian data. Dari situasi yang disajikan siswa diharapkan dapat menyadari permasalahan yang muncul. Siswa selanjutnya dirangsang agar pikirannya terbuka dan menghasilkan berbagai macam ide dalam pemecahan masalah tersebut. Kemudian siswa dikondisikan untuk berpikir logis dan membawa siswa pada suatu jawaban tepat sehingga sedikit jumlah ide dapat diimplementasikan. Adapun hal-hal yang menjadi ciri khas dari model pembelajaran Treffinger adalah sebagai berikut:

2.1. Tingkah Laku Mengajar (Sintaks)

Menurut Treffinger (2002) bahwa model pembelajaran ini terdiri atas 3 komponen, yaitu

Understanding Challange (Memahami Tantangan), Generating Ideas (membangkitkan

gagasan-gagasan atau ide-ide) dan Preparing for Action (Mempersiapkan Tindakan) yang dirinci ke dalam 6 tahapan. Adapun penjelasan mengenai model ini adalah sebagai berikut:

a. Memahami Tantangan

Pemahaman terhadap tantangan meliputi investigasi tujuan secara luas, kesempatan atau tantangan dan penjelasan, rumusan, atau pemusatan pikiran pada seperangkat petunjuk yang sifatnya pokok dan mendasar untuk pekerjaan yang akan dilakukan oleh seseorang. Adapun 3 tahapan agar siswa memahami tantangan adalah sebagai berkut. 1). Tahap membangun tujuan.

Siswa mengetahui tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta mengetahu manfaat dari konsep atau teori dari materi yang akan diajarkan.

2) Tahap menggali data.

Tahap menggali data yaitu tahap mengumpulkan data-data tentang situasi permasalahan. Data tersebut diperoleh dengan menggali dan mengumpulkan informasi, pengetahuan, fakta, perasaan, opini, dan melakukan klasifikasi terhadap data yang diperlukan atau tidak. Selanjutnya disusul dengan mengumpulkan sejumlah pertanyaan yang ada hubungannya dengan informasi yang diperlukan.

3) Tahap membuat kerangka masalah.

Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merespon memfokuskan permasalahan

(3)

LP2M Universitas Hein Namotemo

102

dari data yang telah diperoleh sebelumnya. b. Pembangkitan Gagasan-gagasan

Adapun tahapan dalam komponen ini adalah tahap membangkitkan gagasan dimana siswa melakukan curah pendapat untuk mengembangkan sebanyak mungkin gagasan untuk memecahkan masalah. Kemudian gagasan yang dikemukakan diseleksi hingga terpilih satu gagasan yang dianggap mendekati penyelesaian.

c. Mempersiapkan Tindakan

Komponen mempersiapkan tindakan ini membantu siswa untuk memperkuat gagasan yang telah dipilih dan dianggap mendekati penyelesaian. Penguatan gagasan ini diperoleh setelah siswa melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan gagasan yang telah ia pilih dan mengimplementasikannya sehingga diperoleh solusi yang benar-benar tepat untuk menyelesaikan permasalahan. Komponen ini terdiri atas dua tahap yaitu tahap membangun solusi dan membangun penerimaan.

1) Tahap mengembangkan solusi

Tahap mengembangkan solusi yaitu tahap memperkuat gagasan yang telah dipilih dan dianggap mendekati penyelesaian. Misalnya dengan siswa melakukan percobaan untuk mempekuat gagasan yang diambil dengan menggunakan prosedur kerja yang telah dibuat sendiri oleh siswa.

2) Tahap membangun penerimaan

Pada tahap ini siswa menemukan jawaban atas permasalahan yang ada berdasarkan tahap membangun solusi. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk mengecek kembali solusi yang telah diperoleh kemudian mengimplementasikan solusi yang telah diperoleh pada persoalan yang lebih kompleks, namun masih berkenaan dengan konsep yang tengah dipelajari. Hal ini dilakukan agar solusi yang diperoleh siswa benar-benar tepat dan menambah pengetahuan siswa.

2.2. Karakteristik Model Pembelajaran Treffinger

Selain memiliki sintak-sintak pembelajaran, model pembelajaran Treffinger memiliki karakteristik-karakteristik. Karakteristik pertama dari model pembelajaran Treffinger ini adalah melibatkan siswa dalam suatu permasalahan dan menjadikan siswa sebagai partisipan aktif dalam pemecahan masalah. Masalah yang dihadapkan pada siswa ini diperoleh melalui data atau fakta-fakta yang disajikan pada siswa yang dapat menunjukkan fenomena atau gejala fisis yang dapat disajikan secara konseptual. Selanjutnya masalah

tersebut dapat diselesaikan melalui kegiatan penyelidikan (investigation) dan penemuan

(inquiry).

Karakteristik yang paling dominan dari model pembelajaran Treffinger ini adalah mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif siswa untuk mencari arah-arah penyelesaian yang akan ditempuhnya untuk memecahkan permasalahan, siswa diberikan keleluasaan untuk berkreativitas menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan cara-cara yang ia kehendaki. Tugas guru adalah membimbing siswa agar arah-arah yang ditempuh oleh siswa ini tidak keluar dari permasalahan (Sarson, 2005).

Ciri yang lain adalah siswa melakukan penyelidikan untuk memperkuat gagasannya atau hipotesisnya. Artinya siswa harus berperan aktif dalam menyelesaikan masalah melalui penyelidikan yang didasarkan pada metode ilmiah. Kegiatan penyelidikan merupakan suatu kebutuhan dalam memahami suatu konsep. Siswa diarahkan untuk menemukan dan membangun sendiri konsepnya. Menemukan dalam hal ini bukanlah menemukan dalam arti menemukan hal yang baru melainkan hanya reinvitation. Diharapkan dari kegiatan ini siswa dapat mengumpulkan dan menganalisis informasi serta menarik kesimpulan.

Ciri berikutnya adalah siswa menggunakan pemahaman yang telah diperoleh untuk memecahkan permasalahan lain yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Artinya setelah siswa memperoleh pemahaman dari hasil penyelidikan, siswa selanjutnya mengaplikasikan konsep yang telah ia miliki pada persoalan yang lain. Satu lagi ciri lain yang membedakan model ini dengan model pembelajaran yang lain adalah model pembelajaran yang sangat fleksibel, dikarenakan tidak harus selalu menggunakan setiap tahapan yang ada pada model ini. Kita bisa menggunakan tahapan-tahapan yang kita perlukan saja. Selain itu juga, tahapannya tidak harus berurut, bisa maju ke tahap berikutnya dan kembali lagi ke tahap sebelumnya, hal tersebut disesuaikan dengan tujuan yang kita inginkan.

2.3. Hakikat Belajar

Proses balajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat, artinya proses perubahan yang terjadi dalam diri sesorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.

Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi

(4)

LP2M Universitas Hein Namotemo

103

individu dengan lingkungan yang disadari. Dengan demikian ada empat kriteria dalam pelajaran yang dikemukakan oleh Hilgard (Sanjaya, 2006).

a. Belajar adalah aktivitas yang dirancang dan bertujuan.

Belajar bukanlah peristiwa yang dilakukan tanpa sadar, akan tetapi merupakan proses yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan yang dirancang adalah tujuan yang disadari manfaat dan kegunaannya oleh setiap individu yang belajar.

b. Tujuan belajar adalah perubahan perilaku secara utuh.

Belajar bukanlah hanya sekedar menghafal atau mengembangkan kemampuan intelektual, akan tetapi mengembangkan setiap aspek, baik kemampuan kognitif, sikap, emosi, dan kebiasaan.

c. Belajar bukan hanya sebagai hasil, akan tetapi juga sebagai proses.

Belajar mengembangkan dua sisi yang sama pentingnya yaitu sisi hasil dan sisi proses. Oleh karena itu, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana proses penguasaan itu terjadi. d. Belajar adalah proses pemecahan masalah.

Belajar bukan menghafal informasi, akan tetapi proses berpikir untuk memecahkan suatu masalah, melalui proses ini diharapkan terjadi pola perubahan secara utuh, yang bukan hanya perkembangan intelektual akan tetapi sikap dan keterampilan. Menurut Hamalik (1994), belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan yang diperoleh seseorang yang nampak dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan yang dialaminya. Sedangkan menurut Riduwan (2008), belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Seseorang itu belajar karena berinteraksi dengan lingkungannya dalam rangka mengubah tingkah laku. Belajar dapat dikatakan sebagai upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan, seperti membaca, mendengar, mengamati dan meniru atau dengan kata lain belajar sebagai kegiatan psiko fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya (Sardiman, 2008).

3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research), yakni suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan yang berfokus pada upaya untuk mengubah kondisi riil sekarang ke arah kondisi yang diharapkan (improvement oriented). Dalam proses penelitian ini dipilih model spiral atau siklus menurut Kemmis dan Taggart (1990) yaitu berupa perangkat-perangkat siklus tindakan di mana satu perangkat terdiri dari empat tahapan yaitu planning (perencanaan), acting (pelaksanaan tindakan),

observing (observasi) dan reflecting (refleksi). 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII1 SMP Negeri 6 Kota Ternate, yang

beralamat di Kelurahan kampung pisang. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, dimulai pada 17 September sampai 16 Oktober 2012 pada hari rabu jam 10.35-11.45 WIT.

3.2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes. Tes dilakukan setelah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Treffinger pada konsep usaha dan energi. Soal-soal tes yang digunakan dalam penelitian adalah dalam bentuk essay sebanyak 10 soal. Namun sebelum digunakan dalam penelitian, soal-soal tersebut diuji cobakan untuk mengetahui reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda soal. Sedangkan untuk validitas hanya dilihat dari kisi-kisi soal yang telah dibuat. Reliabilitas soal dianalisis secara manual dengan menggunakan rumus Alpha sebagai berikut :

11

r





1

2i2

1

n

n

t

Dimana: 11

r

= Reliabilitas tes secara keseluruhan n = Banyaknya butir pertanyaan

2 t

= Jumlah varians skor dari tiap-tiap butir soal

2 t

= Varians total, (Sudjiono, 2001)

Menurut Depdiknas (2004). Untuk mengetahui daya beda dan tingkat kesukaran soal digunakan rumus sebagai berikut :

(5)

LP2M Universitas Hein Namotemo

104

Dimana

n

X

Mean

Keterangan :

DP

= Daya pembeda DP = 0,00 – 0,20 Jelek DP = 0,20 – 0,40 Cukup DP = 0,40 – 0,70 Baik

DP = 0,70 – 1,00 Sangat baik, (Arikunto,

2006)

Sedangkan untuk mencari tingkat kesukaran soal dapat digunakan rumus sebagai berikut:

Maksimum

Skor

Mean

TK 

Penentuan karakteristik soal tes dari aspek tingkat kesukaran menggunakan kriteria sebagai berikut: Soal dengan TK : 0,00 – 0,30 : Soal Sukar Soal dengan TK : 0,30 – 0,70 : Soal Sedang Soal dengan TK : 0,70 – 1,00 : Soal Mudah, (Arikunto, 2006)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 6 Kota Ternate pada kelas VIII1 akan

diuraikan berupa siklus-siklus yang dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Dalam proses belajar mengajar yang peneliti lakukan diobsever 2 orang guru, observer I mengamati keaktifan siswa selama proses belajar mengajar dan observer II mengamati proses mengajar peneliti yang terdiri dari beberapa aspek yakni 1) mengabsensi siswa, 2) pengelolaan kelas, 3) apresepsi atau motivasi, 4) penjelasan materi dengan menggunakan model pembelajaran treffinger, 5) memberikan pertanyaan kepada siswa, 6) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan gagasannya, 7) kemampuan melakukan evaluasi, 8) memberikan penghargaan individu, 9) menyimpulkan materi pembelajaran, 10) memberikan tugas, 11) menutup pembelajaran. Sehingga peneliti dapat mengetahui dengan benar kekurangan apa yang ada pada diri peneliti. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil tes siswa dan data aktivitas siswa selama proses belajar mengajar (PBM) berlangsung Dari hasil observasi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar mengalami peningkatan dari siklus pertama hasil yang yang diperoleh siswa 58,17%, siklus kedua hasil yang diperoleh siswa 64, 90% menjadi 74,75% pada siklus ketiga. Hasil peningkatan aktivitas siswa pada siklus pertama, kedua dan ketiga dapat dilihat pada diagram batang 1 di bawah ini.

Gambar 1. Diagram peningkatan aktivitas siswa

pada siklus I, siklus II dan siklus III Untuk hasil observasi aktivitas guru (peneliti) dalam proses belajar mengajar yang terdiri dari 11 aspek mengalami peningkatan pada siklus ketiga. Pada siklus ketiga ini mencapai nilai 36 atau 81,81% dari skor ideal 44. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus pertama yang hanya diperoleh nilai 50,00% dan pada siklus kedua 65,90% (Lampiran 13, 29 dan 44). Untuk lebih jelas hasil peningkatan aktivitas guru dalam proses belajar mengajar pada siklus pertama, kedua dan ketiga dapat dilihat pada diagram batang 2 di bawah ini.

Gambar 2. Diagram peningkatan aktivitas guru

dalam proses belajar mengajar

Sedangkan hasil evaluasi siswa setelah pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus pertama dengan skor rata-rata yang diperoleh siswa 38,46%, pada siklus kedua 57,69% dan meningkat menjadi 73,07% pada siklus ketiga. Untuk lebih jelas, peningkatan hasil belajar siswa pada siklus pertama, kedua dan ketiga dapat dilihat pada diagram 3 di bawah ini.

(6)

LP2M Universitas Hein Namotemo

105

Gambar 3. Diagram peningkatan hasil belajar

siswa pada siklus I, siklus II dan siklus III

Adapun keberhasilan yang diperoleh selama siklus ketiga ini adalah sebagai berikut : 1) Dalam proses pembelajaran siswa sudah

terbiasa dengan pembelajaran Treffinger. Hal ini dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat 58,17% pada siklus pertama dan siklus kedua 64,90% menjadi 74,75% pada siklus ketiga

2) Meningkatnya aktivitas dalam proses belajar mengajar didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam memperbaiki dan meningkatkan suasana belajar. Guru intensif dalam membimbing siswa dan memberikan penjelasan meteri sehingga siswa lebih antusias dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru meningkat dari 50,00% pada siklus pertama, 65,90% pada siklus kedua menjadi 81,81%

3) Jumlah siswa yang tuntas belajar secara klasikal pada siklus pertama terdapat 10 orang atau 38,46%, pada siklus kedua terdapat 15 orang atau 57,69% dan meningkat menjadi 19 orang atau 73,07% pada siklus ketiga. Dengan demikian ketuntasan klasikal pada siklus ketiga telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 70 yang telah ditentukan oleh sekolah tersebut.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SMP Negeri 6 Kota Ternate dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Treffinger pada konsep usaha dan energi, hal ini dapat diketahui dari hasil belajar dan aktivitas siswa. Hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 38,46%, siklus II yaitu 57,69% dan hasil belajar pada siklus III yaitu 73,07%, sehingga pada hasil akhir siklus III ini dikatakan berhasil.

Dari hasil penilitian yang peneliti lakukan di SMP Negeri 6 Kota Ternate, maka dapat disarankan kepada Guru fisika di SMP Negeri 6

Kota Ternate agar dapat menggunakan model pembelajaran Treffinger pada pada proses belajar mengajar sebagai salah satu bahan acuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa disesuaikan dengan materi. Disarankan juga kepda Siswa agar dapat meningkatkan aktivitas belajarnya melalui model pembelajaran treffinger pada mata pelejaran fisika dan adanya penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat menjadi acuan bagi peneliti sebagai calon guru untuk tetap meningkatkan kemampuan mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2006. Dasar- dasar Evaluasi Penelitian. Jakarta, Bumi Aksara.

Depdiknas, 2004. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Hamalik O. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran.

Jakarta; Bumi Aksara.

Riduwan. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung, Tarsito.

Sarson 2005. Model Pembelajaran Treffinger.

http://repository.upi.edu/operator/upload/s_ d025_040201_chapter2.pdf

Sardiman, 2008. Interaksi Dan Motivasi Belajar

Mengajar. Jakarta, Radja Grafindo Parsada.

Sanjaya, Wina. 2006. Kurikulum Dan Pembelajaran; Teori dan Praktik pengembanagan KTSP. Jakarta: Kencana

Prenada Mrdia Group.

Sudijono, 2001. Pengantar Evaluasi Pendidkan. Jakarta, Raja Grafindo Persada.

Treffinger, D.J. (2002). A Preliminary Model of CreativeLearning.

http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/JURN AL_MIMBARPENDIDIKAN/Mengembangk an_Kreativitas_siswa

Gambar

Gambar 2. Diagram peningkatan aktivitas guru  dalam proses belajar mengajar
Gambar 3. Diagram peningkatan hasil belajar  siswa pada siklus I, siklus II dan siklus  III

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan PPDB MAN 19 Jakarta dengan program khusus ini dilakukan secara daring agar selektif, berkualitas dan akuntabel perlu disusun suatu Petunjuk Teknis yang dapat

Yaitu untuk menghasilkan sistem informasi penjualan tiket Perusahaan Otomotif Aneka Jaya yang berbasis komputer yang dapat membantu proses pembuatan laporan keuangan yang

Dari hasil bimbingan teknis yang telah dilakukan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara pada tujuh kabupaten dan kota tersebut, sebanyak 733 desa telah mengimplementasikan

Hamzah Qatha‟ berupa Hamzah yang selalu diucapkan dengan ber-harkah fathah, dhammah atau kasrah.Tidak gugur pengucapannya baik di awal permulaan kalimat atau ditengah-tengah

Dengan demikian untuk para investor di Bursa Efek Indonesia sebelum mengambil keputusan dalam membeli saham disarankan untuk mempertimbangkan frekuensi perdagangan

Sebuah penelitian (disertasi) yang menulis tentang analisa akar sejarah metode susastra dalam tradisi Islam. Tulisan ini mengulas wacana susastra Alqur’an abad ke

Untuk menguji keberhasilan proses registrasi yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan pencarian identitas pasien tersebut menggunakan Menu Pencarian Data Pasien Lama,

Rusdiyanto (2010), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Kinerja dengan Pendekatan Balance Scorecard pada PDAM Kabupaten Semarang” menjelaskan tentang