PENGGUNAAN METODE BIOLOGIS DAN NILAI IMPEDANSI UNTUK DETEKSI DAGING AYAM BANGKAI RAZALI

88 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DAGING AYAM BANGKAI

RAZALI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007

(2)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Penggunaan Metode Biologis dan Nilai Impedansi Untuk Deteksi Daging Ayam Bangkai adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, April 2007

Razali

(3)

ABSTRAK

RAZALI. Penggunaan Metode Biologis dan Nilai Impedansi Untuk Deteksi Daging Ayam Bangkai. Di bawah bimbingan DENNY WIDAYA LUKMAN, SRIHADI AGUNGPRIYONO, dan MIRNAWATI SUDARWANTO.

Selama beberapa tahun belakangan ini banyak terjadi penyalahgunaan ayam bangkai yang dijual sebagai daging ayam untuk konsumsi manusia. Untuk membuktikan penyalahgunaan daging ayam bangkai tersebut maka dibutuhkan suatu cara yang praktis yang mampu membedakan antara daging ayam bangkai atau bukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah daging yang berasal dari ayam bangkai dapat dideteksi melalui beberapa metode biologis yang terdiri dari aspek histologis (persentase degenerasi dan nekrosa serabut otot, diameter serabut otot, jarak antar serabut otot, gambaran pembuluh darah arteri dan vena serta persentase eksudasi), dan parameter kualitas daging yakni angka keempukan daging (Warner-Bratzler atau WB), warna daging CIE L* a* b* dan angka nitrogen nonprotein (NPN) daging. Disamping itu juga digunakan nilai impedansi. Penelitian ini menggunakan tiga puluh sampel daging dada (M.

pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) ayam yang terbagi dalam tiga

kategori yakni yang berasal dari ayam hidup disembelih secara halal (AHS), ayam mati disembelih (AMS) dan ayam lemah disembelih (ALS). Sampel daging yang diambil dari otot tersebut dianalisis pada 1, 5 dan 9 jam postmortem (PM).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase degenerasi dan nekrosa serabut otot dada dan otot paha AMS signifikan (p<0.05) lebih tinggi dibandingkan dengan persentase degenerasi dan nekrosa pada otot dada dan otot paha AHS dan ALS. Jarak antar serabut otot pada AMS signifikan (p<0.05) lebih lebar dibandingkan dengan jarak antar serabut otot pada AHS dan ALS. Lumen arteri dan vena pada AMS dan ALS terjadi kongesti yang berat akibat retensi darah dan eksudasi pada jaringan otot AMS mencapai 50%. Nilai WB otot dada dan otot paha AMS signifikan (p<0.05) lebih rendah setelah 9 jam postmortem. Nilai L* pada AMS signifikan (p<0.05) lebih rendah dibandingkan dengan nilai

L* pada AHS dan ALS, sedangkan nilai a* pada AMS signifikan lebih tinggi

dibandingkan dengan nilai a* pada AHS, namun nilai b* tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Persentase NPN tidak menunjukkan perbedaan yang nyata diantara ketiga sampel daging. Nilai impedansi signifikan lebih rendah pada AMS sehingga menjadi suatu indikator pembeda dalam identifikasi daging ayam bangkai. Nilai impedansi memiliki korelasi negatif yang signifikan terhadap persentase degenerasi serabut otot (p<0.01, r = -0.56), nekrosa serabut otot (p<0.01, r = -0.72), serta terhadap jarak antar serabut otot (p<0.01, r = -0.52). Hasil korelasi mencerminkan bahwa tingkat kerusakan jaringan memperlihatkan hubungan yang erat dengan nilai impedansi. Terhadap beberapa nilai WB daging dada dan paha, maka nilai impedansi memiliki korelasi positif (p<0.01, r = 0.62) yang signifikan, artinya semakin lunak jaringan otot maka semakin rendah nilai impedansi yang didapat.

(4)

ABSTRACT

RAZALI. The Use of Biological Methods and Impedance Value in the Detection of Meat of Slaughtered Dead Chicken. Under the direction of DENNY WIDAYA LUKMAN, SRIHADI AGUNGPRIYONO, and MIRNAWATI SUDARWANTO

In recent years, there has been an increasing an abuse of slaughtered dead chicken for human consumption, so it is important to find a practice method in order to distinguish whether meat chicken from slaughtered dead chicken or not. Experiments were conducted to determine 1) whether breast and thigh meat from slaughtered dead chicken can be identified through quality attributes of meat (Warner-Bratzler (WB) shear value, CIE L* a* b* color, nonprotein nitrogen (NPN), histological changes and 2) probably using the impedance value. Thirty samples of breast and thigh meat were obtained from commercial slaughtering house classified into three groups namely halal slaughtered healthy chicken (AHS), slaughtered dead chicken (AMS), and slaughtered stressed chicken (ALS). Breast (M. pectoralis) and thigh (M. biceps femoris) muscles were used to histological procedures (degenerated and necrotic, muscle fiber diameter, muscle fibers interstitials space, arteriae and venae) and to assess WB, color, NPN and impedance value at 1, 5 and 9 h postmortem (PM).

This study showed that percentage of degenerated and necrotic muscle fibres of breast and thigh meat of AMS and ALS were significantly higher (p<0.05) than of AHS. The muscle fiber interstitials spaces of AMS were significantly (p<0.05) wider than of AHS and ALS. The lumen of arteriae and venae of AMS and ALS were congested by blood retained within. All shear values of the breast meat were not different but the thigh meat were significantly lower (p<0.05) at 9 PM. Statistically the lightness (L*) value of breast and thigh meat of AMS and ALS were lower whereas the redness (a*) value of breast and thigh meat of AMS were significantly higher (p<0.05) than AHS and ALS. There were no significant differences the NPN value among the three groups. This study indicated that the impedance value of AMS were significantly lower (p<0.05) than AHS and ALS, and it can be used to distinguish the breast and thigh meat from slaughtered dead chicken and from the halal slaughtered meat. The impedance value of breast and thigh meat had significant negative correlation with degenerated muscle fiber (p<0.01, r = -0.56), necrotic muscle fiber (p<0.01,

r = -0.72), and muscle fiber interstitial (p<0.01, r = -0.52). Whereas the

impedance value of breast and thigh meat had significant positive correlation (p<0.01, r = 0.62) with WB value of thigh meat. These means the higher degradated of the tissue the lower value of impedance.

Key words: slaughtered dead chicken, impedance value, Warner-Bratzler shear, L* a* b*, NPN.

(5)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007

Hak cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam Bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya

(6)

PENGGUNAAN METODE BIOLOGIS DAN

NILAI IMPEDANSI UNTUK DETEKSI

DAGING AYAM BANGKAI

RAZALI

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Sains Veteriner

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007

(7)

Judul Disertasi : Penggunaan Metode Biologis dan Nilai Impedansi Untuk Deteksi Daging Ayam Bangkai

Nama Mahasiswa : Razali Nomor Pokok : B161030061 Program Studi : Sains Veteriner

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. drh. Denny Widaya Lukman, M.Si. Ketua

Drh. Srihadi Agungpriyono, Ph.D. Prof. Dr. drh. Mirnawati Sudarwanto Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Sains Veteriner Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. drh. Bambang P. Priyosoeryanto, MS Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MSc

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak Agustus 2005 ini adalah Penggunaan Beberapa Metode Biologis Untuk Deteksi Daging Ayam Bangkai dan Kemungkinan Penggunaaan Nilai Impedansi sebagai langkah awal untuk mendapatkan sebuah metode yang praktis dalam mendeteksi daging ayam yang berasal dari ayam bangkai.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. drh. Denny Widaya Lukman, MSi. sebagai ketua komisi pembimbing, drh. Srihadi Agungpriyono, PhD., dan Prof. Dr. drh. Hj. Mirnawati Sudarwanto, masing-masing sebagai anggota komisi pembimbing, atas bimbingan yang telah diberikan. Kepada semua pegawai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, penulis ucapkan terima kasih. Terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Ir. Bregas Budianto, MSc. di Laboratorium Meteorologi dan Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor yang telah banyak memberikan ide dan masukan terhadap modifikasi alat ukur nilai impedansi, Bapak Ir. Sofyan, MSi. di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, serta Dr. drh. Dewi Ratih di Laboratorium Histopatologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, yang telah banyak membantu dalam pengamatan mikroskopis. Terima kasih yang tak terhingga penulis haturkan untuk isteriku Ir. Safrida, MSi. dan anakku Rajwa Syafiqa atas segala pengorbanan, dukungan, doa dan kasih sayangnya, juga kepada ayah, ibu serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, April 2007

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bireuen pada tanggal 3 Juli 1968 sebagai anak bungsu dari pasangan Mahyiddin Amin dan Ramlah. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, lulus pada tahun 1992. Pada tahun 1997, penulis diterima di Program Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan selesai pada tahun 1999. Penulis melanjutkan ke program doktor pada Program Studi Sains Veteriner Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada tahun 2003. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional melalui Beasiswa Program Pascasarjana (BPPs)

Penulis bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh sejak tahun 1994. Bidang penelitian yang ditekuni adalah kesehatan dan keamanan produk pangan asal hewan.

Sejak bertugas sebagai dosen di Unsyiah, penulis telah menjadi anggota Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner. Karya ilmiah berjudul Penggunaan Beberapa Metode Biologis Untuk Deteksi Daging Ayam Bangkai dan Kemungkinan Penggunaan Nilai Impedansi telah disajikan pada Seminar Pascasarjana, IPB yaitu pada bulan Desember 2006. Sebuah artikel telah diterbitkan dengan judul Pengujian Kualitas Daging Ayam Bangkai Ditinjau Dari Beberapa Parameter Nilai Biologis pada jurnal Forum Pascasarjana. Karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari Disertasi program S3 penulis.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... ... viii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... ... 1 Identifikasi Masalah ... 4 Tujuan Penelitian ... 4 Hipotesis ... 4 Kegunaan Penelitian ... 4 TINJAUAN PUSTAKA Struktur dan Karakter Otot Dada dan Otot Paha Ayam ... 5

Nilai Keempukan Daging Warner-Bratzler Shear (Nilai WB) ... 9

Warna Daging Dada dan Daging Paha Ayam ... 10

Warna CIE L* a* b* ... 12

Nitrogen Nonprotein (NPN) ... 13

Nilai Impedansi ... 15

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ……… 19

Bahan dan Alat Penelitian ……….. 19

Rancangan Percobaan ………..…… 20

Analisis Data ………... 21

Metode Penelitian ... 22

Histologi Otot Dada dan Otot Paha ... 22

Penilaian Angka Keempukan Daging (Warner-Bratzler Shear atau nilai WB) ... 24

Pengukuran Warna Daging (CIE L* a* b*) ……… 25

Pengukuran Nitrogen Nonprotein (NPN) ……….. 25

Pengukuran Nilai Impedansi ... 26

HASIL DAN PEMBAHASAN Patologi Anatomi Daging Dada dan Daging Paha Ayam... 28

(11)

Histologi Otot Dada dan Paha Ayam... 28

Degenerasi dan Nekrosa Otot Dada dan Otot Paha Ayam... 29

Diameter Serabut Otot (Muscle Fiber Diameter) ... 33

Pembuluh Darah Arteri dan Vena ... 35

Jarak Antar Serabut Otot (Muscle Fiber Interstitials) ... 37

Nilai Keempukan Daging (Warner-Bratzler shear atau nilai WB)... 41

Warna CIE L* a* b* ... 44 Nitrogen Nonprotein (NPN) ... 49 Nilai Impedansi ... 52 SIMPULAN ... 58 DAFTAR PUSTAKA ... 59 LAMPIRAN ... 66

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Rataan dan standar deviasi persentase degenerasi dan nekrosa

serabut otot dada (M. pectoralis) dari AHS, AMS, dan ALS

yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 30 2 Rataan dan standar deviasi persentase degenerasi dan nekrosa

serabut otot paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS, dan ALS

yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 31 3 Rataan dan standar deviasi diameter serabut otot dada

(M. pectoralis) dan serabut otot paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS, dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan 9

jam postmortem ... 34 4 Rataan dan standar deviasi jarak antar serabut otot dada

(M. pectoralis) dan serabut otot paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS, dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan 9

jam postmortem... 38 5 Rataan dan standar deviasi nilai keempukan daging dada

(M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) dari AHS,

AMS, dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem ... 42 6 Rataan dan standar deviasi nilai kecerahan (L*) daging dada

(M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) dari AHS,

AMS, dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 44 7 Rataan dan standar deviasi nilai kemerahan (a*) daging dada

(M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) dari AHS,

AMS, dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 46 8 Rataan dan standar deviasi nilai kekuningan (b*) daging dada

(M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) dari AHS,

AMS, dan ALS yang dikur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem ... 48 9 Rataan dan standar deviasi angka NPN daging dada (M. pectoralis)

dan daging paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS, dan ALS

yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 50 10 Rataan dan standar deviasi nilai impedansi daging dada

(M. pectoralis) serta daging paha (M. biceps femoris) dari AHS,

(13)

11 Rangkuman standar angka degenerasi, nekrosa, jarak antar serabut otot, nilai keempukan, nilai CIE L* a* b*, angka NPN dan nilai impedansi daging dada (M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) ayam broiler yang diukur pada 1, 5 dan

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Potongan melintang serabut otot ayam memperlihatkan

degenerasi hialin (A), serabut otot nekrosa (B), serabut otot

mengecil (C) dan serabut otot yang memiliki rongga (D) ... 7 2 Bidang pengujian nilai elektris pada daging ... 15 3 Disain penelitian penggunaan beberapa metode biologis dan

nilai impedansi untuk deteksi daging ayam bangkai. AHS: Ayam hidup disembelih, AMS: Ayam mati disembelih, dan

ALS: Ayam lemah disembelih. ... 21 4 Sampel daging yang berasal dari otot dada M. pectoralis (pe),

dan yang berasal dari otot paha M. biceps femoris (bf) ayam broiler. Otot bagian kanan (1) pada daging dada dan bagian atas pada daging paha untuk analisis mikroskopis dan uji nilai WB, sedangkan otot bagian kiri (2) pada daging dada dan bagian bawah pada daging paha untuk analisis warna, NPN

dan nilai impedansi... 22 5 Pengukuran jarak antar serabut otot ditandai dengan garis

dengan ujung tanda panah (a) dan diameter serabut otot yang

ditandai dengan garis dengan ujung bulat (b)... 23 6 Contoh hasil pengukuran nilai keempukan daging dengan

menggunakan metode Warner-Bratzler shear yang ditandai

dengan tampilan grafik hasil pemotongan sampel daging……... 24 7 Contoh alat ukur impedansi meter hasil modifikasi dari

multimeter standar. Layar monitor (a) dan

sensor elektroda (b).. ... 27 8 Potongan melintang otot dada (M. pectoralis) pada 5 jam

postmortem memperlihatkan struktur serabut otot. Sebagian

besar serabut otot masih utuh pada AHS, sedangkan pada AMS dan ALS beberapa serabut otot mengalami degenerasi

(tanda panah). Pewarnaan hematoksilin-eosin... 32 9 Potongan melintang otot paha (M. biceps femoris) pada 5

jam postmortem memperlihatkan struktur histologi serabut otot. Serabut otot yang mengalami nekrosa (tanda panah) dapat dijumpai pada AMS dan ALS. Pada AHS bentuk serabut otot secara keseluruhan masih utuh dibandingkan

(15)

10 Ukuran diameter serabut otot dada (M. pectoralis) dan serabut otot paha (M. biceps femoris) yang diukur pada

1, 5 dan 9 jam postmortem... 35 11 Lumen pembuluh darah arteri pada otot dada (M. pectoralis)

AHS 1 jam postmortem tidak berisi darah (tanda panah), sedangkan pada AMS dan ALS, lumen pembuluh darah

arteri dipenuhi oleh darah. Pewarnaan hematoksilin-eosin... 36 12 Lumen pembuluh darah vena pada otot paha (M. biceps

femoris) AHS 1 jam postmortem, tidak berisi darah (tanda

panah), sedangkan pada otot paha AMS dan ALS, lumen pembuluh darah vena dipenuhi oleh darah.

Pewarnaan hematoksilin-eosin... 37 13 Potongan melintang otot dada (M. pectoralis) pada 5 jam

postmortem. Jarak antar serabut otot (tanda panah) pada AMS dan ALS lebih besar daripada pada AHS.

Pewarnaan hematoksilin-eosin... 39 14 Histogram jarak antar serabut otot dada (M. pectoralis)

dan jarak antar serabut otot paha (M. biceps femoris) yang

diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 39 15 Potongan melintang serabut otot dada (M. pectoralis) pada

9 jam postmortem memperlihatkan eksudasi yang terjadi di antara serabut otot. Pada AMS terlihat eksudasi (tanda panah) sangat banyak, sedangkan pada ALS lebih sedikit dan pada AHS dalam persentase yang sangat kecil.

Pewarnaan hematoksilin-eosin... 40 16 Nilai keempukan daging dada (M. pectoralis) dan daging

paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS, dan ALS yang

diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem ... 43 17 Nilai kecerahan (L*) daging dada (M. pectoralis) dan daging

paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS dan ALS yang

diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 45 18 Nilai kemerahan (a*) daging dada (M. pectoralis) dan daging

paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS dan ALS yang

diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 47 19 Nilai kekuningan (b*) daging dada (M. pectoralis) dan daging

paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS dan ALS yang

(16)

20 Nilai nitrogen nonprotein daging dada (M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) dari AHS, AMS, dan ALS

yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 51 21 Nilai impedansi daging dada (M. pectoralis) pada AHS, AMS

dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan 9 jam postmortem... 54 22 Nilai impedansi daging paha (M. biceps femoris) pada AHS,

AMS dan ALS yang diukur pada 1, 5 dan

9 jam postmortem... 55 23 Contoh korelasi negatif antara persentase degenerasi serabut

otot (DgSO) daging dada (M. pectoralis) terhadap nilai impedansi daging dada (M. pectoralis) pada

5 jam postmortem... 56 24 Contoh korelasi positif antara nilai kecerahan (L*) daging

dada (M. pectoralis) terhadap nilai impedansi daging dada

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Analisis korelasi antar parameter yang diukur pada daging

dada (M. pectoralis) ayam broiler pada 1 jam postmortem ... 66 2 Analisis korelasi antar parameter yang diukur pada daging

dada (M. pectoralis) ayam broiler pada 5 jam postmortem ... 67 3 Analisis korelasi antar parameter yang diukur pada daging

dada (M. pectoralis) ayam broiler pada 9 jam postmortem ... 68 4 Analisis korelasi antar parameter yang diukur pada daging

paha (M. biceps femoris) ayam broiler pada 1 jam

postmortem ... 69

5 Analisis korelasi antar parameter yang diukur pada daging paha (M. biceps femoris) ayam broiler pada 5 jam

postmortem ... 70

6 Analisis korelasi antar parameter yang diukur pada daging paha (M. biceps femoris) ayam broiler pada 9 jam

(18)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam hal produk pangan masih tergolong besar (Apriyantono 2004). Rumitnya permasalahan pangan dewasa ini menuntut peran yang besar dari ilmuwan untuk mencari solusi demi kepentingan umat manusia. Salah satu permasalahan pangan hewani yang berasal dari ayam adalah maraknya penjualan daging ayam yang berasal dari ayam yang telah mati yang dikenal dengan ayam bangkai atau sebagian orang menyebutnya dengan sebutan ayam tiren atau ayam duren. Sampai saat ini metode yang mudah dan praktis untuk mengenali atau mendeteksi daging yang berasal dari ayam bangkai belum ditemukan, sehingga permasalahan ini menuntut perhatian yang besar bagi beberapa peneliti untuk menemukan sebuah metode yang praktis dalam pendeteksiannya (Ibrahim 2004).

Daging ayam merupakan salah satu santapan favorit yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Tetapi untuk mendapatkan daging ayam yang sehat dan halal di Indonesia ternyata bukanlah perkara yang mudah. Di Indonesia daging ayam sudah lazim dijual di berbagai tempat, mulai dari pedagang keliling, pasar tradisional sampai swalayan dan supermarket. Sayangnya pemerintah kurang ketat dalam mengawasi perdagangan daging ayam. Penjualan daging ayam bangkai telah lama terjadi di sejumlah kota di Indonesia (Anonim 1996; Purnama 2004). Tindakan ini sangat berbahaya baik dari segi kesehatan maupun dari pandangan syariat Islam.

Berdasarkan perspektif hukum, memperjualbelikan daging asal bangkai termasuk kategori penipuan dan berdasarkan syariat Islam jelas hukumnya haram. Polisi dapat menjerat tersangka dengan pasal 501 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) karena menjual barang rusak atau bangkai, Undang-Undang No.7 tahun 1996 tentang pangan, dan Undang-Undang-Undang-Undang Perlindungan Konsumen yaitu Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999. Disebutkan di dalam pasal 8 dari Undang-undang tersebut bahwa pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat, atau tercemar, tanpa memberikan informasi lengkap (Lukman 2002; Apriyantono 2004).

(19)

Menurut Apriyantono (2004), sampai saat ini deteksi kesegaran daging ayam termasuk daging ayam bangkai masih dilakukan dengan pendekatan organoleptik dan masih mengandalkan analisis secara visual yang sering kali menghasilkan penilaian yang salah. Walaupun ditinjau dari perubahan patologi anatomi dan histologi dapat diamati, namun prosedur tersebut membutuhkan waktu yang lama. Menurut Purnama (2004) beberapa ciri fisik daging yang berasal dari ayam bangkai adalah banyak darah di bagian dalam, bagian leher yang dipotong tampak menguncup yang menandakan ayam tersebut mati sebelum dipotong. Namun demikian ciri-ciri tersebut akan lebih sulit dikenali bila daging yang berasal dari ayam bangkai telah dicampur dengan daging dari ayam yang dipotong secara benar atau secara halal.

Analisis nitrogen nonprotein (NPN) merupakan salah satu cara yang telah lama dilakukan terutama untuk mencari lamanya waktu kematian. Pendekatan seperti ini juga dilakukan pada mayat di rumah sakit untuk tujuan otopsi. Namun metode seperti ini memerlukan biaya yang tinggi, waktu yang relatif lama dan laboratorium yang memadai (Sasaki et al. 1983; Lucas et al. 1992). Sejauh ini penilaian NPN pada otot ayam yang segar (fresh raw chicken meat) belum pernah dilakukan untuk membedakan antara daging ayam yang berasal dari ayam bangkai dan yang berasal dari hasil pemotongan yang sebenarnya.

Efisiensi pendarahan pada daging dapat diamati berdasarkan pada reaksi hemoglobin (Hb) darah dengan malachite green dan hidrogen peroksida. Efisiensi pendarahan dapat dinilai normal dan tidak sempurna berdasarkan warna yang dihasilkan. Namun metode ini masih bersifat semikuantitatif karena warna yang dihasilkan bersifat tidak stabil (Warriss 1977; Warris dan Leach 1978). Ketidakstabilan tersebut disebabkan karena adanya pigmen mioglobin disamping pigmen hemoglobin.

Hasil penelitian pada daging sapi yang menggunakan 1 tetes malachite green 2% dan 1 tetes H2O2 12%, menunjukkan hasil reaksi hijau keruh pada daging bangkai dan warna biru jernih pada daging segar (Satriyo 2001). Berbeda halnya dengan ternak besar, penilaian Hb pada daging ayam sangat sulit, disebabkan konsentrasi Hb pada daging ayam sangat rendah. Oleh karena itu beberapa peneliti harus menggunakan metode yang lebih kompleks dan waktu

(20)

yang lebih lama untuk menghitung kadar Hb pada ayam, sehingga membuat metode ini tidak cocok untuk membedakan antara daging ayam bangkai dengan daging ayam yang berasal dari penyembelihan yang benar atau bukan bangkai.

Eksplorasi secara mikroskopis masih dianggap sebagai suatu cara yang tepat walaupun membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu satu sampai dua hari untuk mendapatkan hasilnya (Razali 2001). Sejauh ini penggunaan metode histologi dan parameter perubahan fisik lain dalam membedakan daging dari ayam bangkai dan bukan dari bangkai masih belum dilaporkan, sehingga belum ada suatu ketentuan atau nilai standar tertentu untuk menilai suatu daging ayam bangkai berdasarkan parameter histologi.

Kesulitan yang dihadapi dalam mendeteksi daging ayam bangkai melahirkan gagasan baru untuk mengembangkan suatu metode deteksi dengan mengaplikasikan nilai impedansi. Impedansi dapat didefinisikan sebagai suatu hambatan terhadap aliran arus listrik yang mengalir ketika aliran listrik tersebut melewati suatu material penghantar (Sylvia 1999). Prosedur ini dianggap dapat digunakan dengan asumsi bahwa daging dari ayam bangkai diduga memiliki perbedaan nilai hambatan aliran listrik dibandingkan dengan daging dari ayam bukan bangkai akibat adanya perbedaan perubahan fisik dan kimiawi yang terjadi antara kedua jenis daging ini.

Penggunaan teknik pengukuran nilai impedansi telah lama dipakai sebagai suatu cara untuk menduga ketebalan lemak (Marchello dan Slanger 1992; Swantek et al. 1992), menilai kondisi fisiologis pada hewan (Lepetit et al. 2002; Ivorra et al. 2004), menilai keutuhan struktur dan membran (Mullen et al. 2000) dan menilai efektivitas pemingsanan listrik melalui gambaran impedansi otak pada broiler (Savenije et al. 2000). Akan tetapi tidak semua metode tersebut mencapai keberhasilan yang memuaskan.

Metode deteksi daging ayam bangkai dengan menggunakan nilai impedansi diharapkan memiliki beberapa keunggulan antara lain cepat, efektif dilakukan di lapangan dan biaya yang dibutuhkan relatif jauh lebih murah.

(21)

Identifikasi Masalah

- Terdapat kesulitan dalam mendeteksi daging ayam bangkai terutama bila sudah dalam bentuk potongan atau bagian tubuh.

- Belum ada informasi tentang karakteristik histologis daging ayam bangkai terutama gambaran serabut otot dan pembuluh darah, dan juga dari aspek nilai kualitas daging.

- Aplikasi nilai impedansi memberi harapan besar dalam membantu pendeteksian daging ayam bangkai karena bersifat mudah, cepat dan nondestruktif.

Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah membuktikan apakah parameter histologis, keempukan daging, warna daging, nilai nitrogen nonprotein dapat dijadikan sebagai indikator untuk mendeteksi daging yang berasal dari ayam bangkai. Selanjutnya untuk mengetahui sejauh mana nilai impedansi juga dapat dijadikan sebagai suatu alternatif yang praktis untuk mendeteksi daging ayam yang berasal dari ayam bangkai atau bukan bangkai.

Hipotesis

Kualitas daging ayam bangkai dapat dideteksi dengan beberapa parameter biologis, kualitas daging dan dengan penggunaan nilai impedansi.

Kegunaan Penelitian

Memudahkan dalam upaya mendeteksi daging yang berasal dari ayam bangkai dan sebagai kajian pendahuluan penggunaan nilai impedansi sebagai metode alternatif untuk mendeteksi daging ayam bangkai.

(22)

TINJAUAN PUSTAKA

Struktur dan Karakter Otot Dada dan Otot Paha Ayam

Berdasarkan fungsinya otot dada (M. pectoralis) pada ayam tergolong kepada otot sayap, karena berfungsi mengepakkan sayap. Otot ini merupakan otot yang paling kuat dan paling besar diantara otot-otot yang lainnya. Sedangkan otot paha (M. biceps femoris) termasuk otot ekstremitas yang tersusun sedemikian rupa sehingga daerah femur terdapat kelompok otot flexor persendian lutut dan ekstensor persendian paha yang terletak di sisi caudal, sebaliknya kelompok otot flexor persendian paha dan ekstensor persendian lutut terletak di sisi cranial (Getty 1975).

Otot dada dan otot paha ayam termasuk kedalam golongan otot skelet. Serabut otot skelet memiliki banyak inti dan dipisahkan satu sama lain oleh sebuah jaringan ikat endomisium, perimisium dan epimisium. Di dalam satu serabut otot terdapat banyak miofibril. Miofibril ini tersusun dari banyak miofilamen aktin dan miosin. Dilihat dari potongan melintang maka bentuk serabut otot skelet adalah poligonal, memiliki banyak inti yang terletak pada bagian perifer. Kumpulan serabut otot membentuk bundel otot atau fasikulus (fasciculi) dan masing-masing bundel otot dipisahkan oleh jaringan ikat yang lebih tebal yang dinamakan jaringan ikat epimisium (Judge et al. 1989; Lopez 2004).

Otot dada (M. Pectoralis merupakan otot unggas yang terbesar dan terdapat pada bagian superfisialis atau permukaan dada. Berat otot Pectoralis berkisar 8% dari berat tubuh unggas. Sedangkan otot paha terdiri dari beberapa otot seperti otot Sartorius, Biceps femoris, Semitendinosus dan Semimembranosus. Otot

Pectoralis dan Biceps femoris adalah beberapa otot yang sering digunakan untuk

pengujian kualitas daging pada karkas ayam (Soeparno 1992; McKee 2000). Berdasarkan sifat histokimia, serabut otot pada ayam digolongkan ke dalam dua golongan yaitu serabut tipe merah dan serabut tipe putih atau di dalam ilmu daging lebih dikenal dengan istilah red meat dan white meat. Klasifikasi ini didasarkan atas banyaknya intensitas warna mioglobin yang dikandung serabut otot merah dan serabut otot putih. Berbeda halnya dengan unggas terbang, pada

(23)

ayam otot dada tergolong ke dalam serabut otot putih dan otot paha termasuk ke dalam serabut otot merah walaupun mengandung juga sedikit serabut otot putih. Menurut McKee (2000) otot skelet ayam bahkan dapat dibagi ke dalam lima jenis tipe serabut otot yaitu tipe I, tipe IIA dan IIB dan tipe IIIA dan IIIB. Otot dada digolongkan ke dalam tipe IIB sedangkan otot paha termasuk ke dalam tipe I. Otot tipe IIIA dan IIIB tidak ditemukan pada mamalia namun hanya terdapat pada unggas.

Menurut Van Laack et al. (2000) daging merah kurang peka terhadap kejadian Pale Soft Exudatif (PSE) dibandingkan dengan daging putih sebab kandungan mioglobin dan hemoglobin yang dimilikinya lebih banyak dari daging putih. Disamping itu serabut otot merah memiliki potensial glikolitik yang rendah, metabolisme oksidatif yang tinggi dan kandungan glikogen yang rendah.

Serabut otot putih peka terhadap kondisi PSE sebab memiliki ketergantungan yang tinggi pada glikolisis untuk mengimbangi homeostasis pada serabut otot setelah ayam disembelih. Serabut otot putih memiliki potensial glikolitik yang tinggi, jumlah glikogen yang tinggi, tetapi rendah metabolisme oksidatif dan juga rendah pigmen heme- nya (Anadon 2002; Ringkob et al. 2004).

Karakteristik daging tidak hanya ditentukan oleh sifat biokimia otot tetapi dipengaruhi juga oleh struktur dan integritas otot (Berri et al. 2001; Koohmaraie

et al. 2002). Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa unggas hasil seleksi

(improved strain) memiliki ukuran serabut otot yang lebih besar dibandingkan dengan unggas tanpa seleksi (unimproved strain), namun pada unggas hasil seleksi, kejadian kerusakan otot lebih besar atau lebih sering terjadi (Gatcliffe et

al. 2001).

Menurut Gatcliffe et al. (2001) kerusakan otot (focal myopathy) dapat digolongkan ke dalam beberapa bentuk antara lain (1) serabut otot yang membulat besar (large rounded fibres). Ini disebabkan oleh degenerasi hialin sehingga mengakibatkan kehilangan bentuk dan serabut otot nampak membesar dan bulat, (2) serabut otot yang mengalami nekrosa (necrotic fibres). Kerusakan ini ditandai dengan rusaknya membran dan struktur otot, akhirnya akan digantikan oleh jaringan lemak, (3) serabut otot yang mengecil (small angular fibres), sering terjadi pada unggas yang tua dan kondisi ini mengindikasikan bahwa telah terjadi

(24)

degenerasi sebelum nekrosa, dan (4) serabut otot yang membentuk rongga di tengah (central core fibres) (Gambar 1). Kelainan ini kemungkinan disebabkan oleh tidak cukup suplai oksigen pada permukaan otot dan juga kurang difusi oksigen ke dalam serabut otot.

Gambar 1 Potongan melintang serabut otot ayam memperlihatkan degenerasi hialin (A), serabut otot nekrosa (B), serabut otot mengecil (C) dan serabut otot yang memiliki rongga (D) (Gatcliffe et al. 2001).

Menurut Koohmaraie et al. (2002) ukuran otot sangat ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah protein otot yang disintesis dengan jumlah protein otot yang mengalami degradasi. Dransfield dan Sosnicki (1999) menyatakan bahwa tipe serabut otot merah ayam memiliki diameter serabut otot yang lebih kecil dibandingkan dengan diameter serabut otot pada otot dada, namun kaya mioglobin serta teradaptasi dengan baik pada kondisi aerobik, memiliki tipe oksidatif, tahan terhadap kelelahan. Serabut otot putih sebaliknya, memiliki diameter serabut otot yang lebih besar, metabolisme glikolitik, cepat mengalami kelelahan.

Menurut Dransfield dan Sosnicki (1999), ada tiga sistem proteolitik pada otot yaitu katepsin (lysosomal), kalpain (calcium-dependent) dan proteasom (adenosine triphosphate ubiquitin dependent). Proteasom bertanggung jawab terhadap sebagian besar turnover protein, kalpain bertanggung jawab terhadap degradasi sitoskeleton, sedangkan katepsin meningkat setelah otot mengalami sakit dan rusak. Enzim katepsin dan kalpain memiliki peranan terhadap

A B

C D

A B

(25)

proteolisis postmortem dalam melunakkan serabut otot sehingga menjadi lebih empuk.

Hemorhagi pada daging dianggap sebagai suatu kelainan yang utama (Kranen et al. 2000) dan dapat terjadi pada semua spesies hewan penghasil daging. Kejadian ini terdapat pada otot skelet maupun pada lemak intermuskular serta pada jaringan ikat. Semua kelainan warna merah yang disebabkan oleh adanya hemoglobin ekstravaskular dianggap sebagai hemorhagi. Kelainan yang termasuk ke dalam kelainan antemortem maupun postmortem biasanya berasal dari sistim vaskular (Kranen et al. 2000).

Ayam broiler yang telah mencapai berat tertentu untuk pemotongan, secara teknis biasanya ditangkap dan dimasukkan ke dalam truk untuk ditransportasikan ke tempat pemotongan. Stres akibat penanganan yang kasar dan ditambah dengan kondisi lingkungan yang ekstrim dapat menyebabkan lesio dan fraktur yang menjadi predisposisi terjadinya kerusakan jaringan otot. Stres pada saat penangkapan, penempatan di dalam tempat yang padat serta transportasi yang tidak nyaman dapat menyebabkan kematian ayam sebelum sampai ke tempat pemotongan. Kondisi ini bertambah berat bila perjalanan ke tempat pemotongan memakan waktu yang cukup lama sekitar 3-4 jam atau lebih dalam kondisi cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin. Pada sistem pemotongan yang sudah modern sekalipun, kasus kematian ayam sebelum penyembelihan dapat mencapai angka rata-rata 0.59% atau kurang dari itu (Warriss et al. 1992; Kannan et al. 1997).

Setelah ayam dipotong maka metabolisme anaerobik akan mengurangi nilai pH di dalam otot dari 7.2 menjadi 5.8 sampai terjadinya rigor mortis. Hasil penelitian Alvarado dan Sams (2000) memperlihatkan bahwa pH otot menurun secara signifikan sampai 2 jam postmortem baik pada ayam yang dipingsankan maupun pada ayam yang tidak dipingsankan. Selain itu panjang sarkomer juga meningkat sampai 2 jam postmortem pada kelompok kontrol dan sampai 12 jam

postmortem pada kelompok ayam yang dipingsankan. Penelitian tersebut

menunjukkan bahwa pemingsanan dapat memperlambat rigor mortis sampai 2 jam postmortem, namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter keempukan, kecerahan dan nilai pH daging.

(26)

Kecepatan rigor mortis dipengaruhi oleh keadaan sebelum dan setelah pemotongan. Stres karena panas merupakan salah satu contoh dari faktor lingkungan yang dapat menyebabkan glikolisis postmortem awal yang lebih cepat (Lawrie 1983; Dransfield dan Sosnicki 1999).

Serabut otot yang bersifat glikolitik seperti otot dada memiliki sifat rigor

mortis yang lebih cepat, sehingga pada otot dada ayam, rigor mortis hanya

memerlukan waktu 1 jam (Mayer dan Neufeld 1980). Kinerja pertumbuhan juga mempengaruhi kecepatan dan kekuatan terjadinya rigor mortis pada daging. Pada pH akhir yang tinggi maka daya ikat air dari molekul miosin juga tinggi. Dengan demikian kecepatan penurunan pH pada otot dada sekitar 0.04 unit/menit, sekitar 2 kali lebih cepat dari tipe otot yang pertumbuhannya lambat. Biasanya 15 menit setelah pemotongan nilai pH bervariasi antara 6.2 sampai 6.6. Akibat penurunan pH yang cepat akan menginaktifkan sistem kalpain dan dapat mengurangi keempukan daging postmortem. Penurunan pH yang cepat menyebabkan miosin lebih peka terhadap denaturasi. Denaturasi yang cepat pada miosin menyebabkan rendahnya kemampuan daya ikat air dan daging berwarna pucat seperti daging PSE (Urlings et al. 1993; Dransfield dan Sosnicki 1999).

Nilai Keempukan Daging Warner-Bratzler Shear (Nilai WB)

Banyak instrumen yang telah dikembangkan dan dapat dipakai untuk menilai tingkat kealotan atau tingkat keempukan (shear value) daging ayam (Wheeler et al. 1997; Kerth et al. 2003; Cavit et al. 2005). Dua metode instrumental yang paling sering digunakan untuk menilai tingkat kekerasan daging ayam adalah Warner-Bratzler shear (WB) dan Allo-Kramer shear (AK). Kedua metode tersebut telah diuji dan hasilnya memiliki suatu korelasi yang sangat bagus (Cavit et al. 2005). Salah satu alat yang dianggap paling popular dan akurat adalah Warner-Bratzler shear (Wheeler et al. 1997). Akan tetapi kedua metode tersebut memiliki kelemahan antara lain biaya yang mahal, memerlukan waktu yang relatif lama dalam mempersiapkan sampel pengujian serta memerlukan ukuran sampel yang homogen.

Menurut Fletcher (1999), untuk pengujian tingkat keempukan daging ayam, maka daging ayam dimasak di dalam wadah aluminium pada temperatur 95 oC

(27)

selama 20 menit. Kemudian sampel didinginkan pada temperatur kamar dan dengan menggunakan alat preparasi sampel khusus (sample coring tools), lalu diambil sampel yang homogen antara satu dengan yang lainnya. Nilai Warner-Bratzler shear mencerminkan suatu daya potong yang akurat dari pisau yang berbentuk huruf V (vee-blade) terhadap sampel. Kekuatan yang dibutuhkan untuk melakukan pemotongan ini sebanding dengan tingkat keempukan atau tingkat kealotan daging ayam (Instron 2003).

Dalam penentuan nilai keempukan daging dengan cara Warner-Bratzler shear ini maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu keseragaman ukuran sampel, apakah didinginkan atau dibekukan sebelumnya ataupun tidak sama sekali, temperatur internal daging pada saat direbus dan arah serabut otot dimana sampel diambil, kecepatan pemotongan dan temperatur udara pada saat pemotongan (Instron 2003).

Warna Daging Dada dan Daging Paha Ayam

Warna daging ayam maupun daging yang berasal dari spesies lain selalu menarik untuk diteliti, sebab mempengaruhi secara langsung terhadap penerimaan konsumen dan memiliki hubungan yang erat terhadap karakteristik daging (Perez-Vendrell et al. 2001; Petracci dan Fletcher 2002). Ayam merupakan spesies yang dikenal memiliki otot putih dan otot merah. Perbedaan ini didasarkan pada sifat biokimia dan histokimianya. Daging dada ayam segar (fresh raw breast meat) berwarna pink pucat sedangkan daging paha ayam segar (fresh raw thigh meat) berwarna merah gelap (Anadon 2002).

Otot dada ayam lebih peka terhadap perubahan warna dibandingkan dengan otot paha, hal ini disebabkan otot tersebut memiliki proporsi yang besar pada karkas ayam. Pada tingkat penjual daging pengecerpun warna daging sangat penting sebab konsumen selalu menghubungkan warna dengan kesegaran dan juga sekaligus kualitas, sehingga memberi pengaruh utama bagi keputusan konsumen untuk membeli daging (Rathgeber 2000; Qiao et al. 2001).

Menurut Anadon (2002) dan Rathgeber (2000) mioglobin dan hemoglobin memegang peranan penting terhadap warna daging segar. Warna akan bervariasi berdasarkan konsentrasi pigmen ini dan hasil refleksi cahaya pada daging.

(28)

Mioglobin merupakan pigmen heme utama pada ayam yang berperan besar terhadap warna daging, namun konsentrasi mioglobin pada otot ayam sangat rendah sekali bila dibandingkan dengan konsentrasi mioglobin pada otot dari spesies lain. Konsentrasi hemoglobin dipengaruhi juga oleh efisiensi pengeluaran darah pada saat pemotongan ayam dilakukan.

Menurut McNeal et al. (2003) bahwa ayam yang disembelih dengan sempurna maka 20 sampai 30% hemoglobin masih tetap berada pada karkas, tentu saja hal ini berpengaruh terhadap warna daging. Ayam pedaging atau broiler memiliki konsentrasi pigmen heme yang sangat rendah sekali bila dibandingkan dengan konsentrasi pigmen heme pada kalkun.

Warna daging juga ditentukan oleh refleksi cahaya pada daging. Jumlah cahaya yang mengalami refleksi berkaitan erat dengan denaturasi protein dan perubahan pada intermiofibril (Sandusky dan Heath 1998). Perubahan dalam penyebaran cahaya akan mempengaruhi kecerahan daging (L*), kemerahan daging (a*) dan kekuningan daging (b*) (Bilgili et al. 1998).

Pengukuran intensitas warna pada daging memiliki arti penting karena dapat dilakukan secara objektif (Allen et al. 1997). Warna daging sangat tergantung pada difusi dan absorpsi cahaya pada permukaannya. Bila difusi cahaya lebih besar maka akan kelihatan lebih terang dan jika absorpsi cahaya lebih kuat maka warna lebih gelap (Tomasz et al. 2002). Pada awalnya evaluasi warna daging secara visual masih tergolong subjektif sehingga penilaian di dalam proses produksi masih sangat terbatas. Namun dengan kemajuan kamera dan teknik komputer, pemakaian sistem optik yang lebih maju sangat membantu dalam menggantikan fungsi mata dalam pengamatan (Tomasz et al. 2002).

Salah satu metode objektif untuk mengukur warna daging ayam adalah dengan memakai metode reflektan dengan cara mengukur secara objektif spektrum reflektansi pada permukaan daging ayam. Hasil penelitian Tomasz et

al. (2002) menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara nilai kecerahan

(L*), kemerahan (a*), dan kekuningan (b*) yang didapat melalui metode reflektan dengan evaluasi warna secara visual. Pengukuran kecerahan memungkinkan untuk membedakan antara daging normal dengan daging PSE atau dengan daging

(29)

banyak peneliti cenderung menggunakan metode ini untuk mengevaluasi kualitas daging ayam. Beberapa hasil penelitian tersebut memperlihatkan hubungan yang erat antara sifat fisikokimia dengan kecerahan daging.

Adanya variasi pada penampilan visual dan warna dari terang sampai gelap dapat terjadi pada daging dada ayam (Fletcher et al. 2000) dan menurut Mallia et

al. (2000) pengeluaran darah yang tidak sempurna, atau ayam dalam kondisi

lemah atau sakit sebelum pemotongan besar kemungkinan dapat menyebabkan daging menjadi lebih gelap atau mengalami perubahan nilai yang diukur. Kondisi seperti tadi dapat saja terjadi di industri pengolahan daging maupun di tingkat penjual pengecer (Santos et al. 2004).

Warna CIE L* a* b*

Pengukuran warna sistem Commission International d’Eclairage (CIE) didasarkan pada penginderaan warna oleh mata manusia. Diyakini bahwa mata mengandung tiga reseptor yang peka terhadap cahaya yaitu reseptor merah, hijau, dan biru. Sistem L* a* b* merupakan sistem warna yang dipakai secara luas untuk kolorimetri makanan (deMan 1989).

Dalam teori pengukuran warna ini, dianggap bahwa ada tahap pengalihan sinyal-sinyal antara reseptor cahaya dalam retina dan saraf optik yang mengantar sinyal warna ke otak. Dalam mekanisme pengalihan ini tanggapan merah dibandingkan dengan hijau dan menghasilkan dimensi warna merah ke hijau. Kemudian tanggapan kuning dibandingkan dengan biru menghasilkan dimensi warna kuning ke biru. Ke dua dimensi warna ini dinyatakan dengan lambang a* dan b*. Dimensi warna ke tiga ialah keterangan atau kecerahan yang dilambangkan dengan L*. Dimensi warna ini tidak linear dan biasanya dinyatakan sebagai akar pangkat dua dari Y atau akar pangkat tiga dari Y (deMan 1989; Anonim 1991).

Di dalam sistem L* a* b* ini, kromatisitas didefinisikan oleh koordinat a dan b persegi panjang. Nilai a positif adalah merah sedangkan nilai a negatif adalah hijau. Nilai b positif adalah kuning dan nilai b negatif adalah biru. Nilai a dan b diperoleh ketika terjadi perbedaan sinyal Y-Z dan X-Y. Sehingga CIE X, Y, dan Z dapat dikonversi menjadi nilai L* a* b* dengan rumus sebagai berikut:

(30)

L = 10 (Y)1/2 2 / 1 Y ) Y X 02 . 1 ( 5 . 17 a = − 2 / 1 Y ) Z . 847 . 0 Y ( 0 . 7 b = −

Akan tetapi dengan penggunaan perangkat Minolta Chroma Meter nilai L* a* dan

b* dapat langsung diketahui hasilnya.

Nitrogen Nonprotein (NPN)

Selain mengandung air dalam jumlah yang banyak yaitu 75%, protein 16 – 22% dari massa otot, otot skelet juga mengandung protein sarkoplasma dan protein miofibril atau stromal. Disamping protein ada senyawa nitrogen lain yang terdapat di dalam otot yang dikategorikan sebagai nitrogen nonprotein (NPN). Senyawa ini termasuk asam amino, peptida, kreatin, kreatinin, kreatin fosfat, beberapa vitamin, nukleosida dan nukleotida termasuk adenosin trifosfat atau ATP. Komponen NPN diperkirakan sekitar 1.5% dari massa otot rangka, sedangkan subtansi karbohidrat nonprotein dan anorganik lain masing-masing sebesar 1% dari massa otot skelet (Aberle et al. 2001).

Otot mengandung sejumlah bahan anorganik yang disebut kation dan anion yang memegang peranan fisiologis penting bagi tubuh. Yang termasuk kedalam bahan tersebut adalah kalsium, magnesium, potasium, sodium, besi, fosfor, klorin, kobal, tembaga, seng, nikel dan mangan (Aberle et al. 2001). Nilai NPN menjadi suatu indikator tingkat proteolisis bila dihubungkan dengan nilai keempukan daging. Biasanya NPN dan kelompok amino bebas akan meningkat selama aging daging postmortem. Peningkatan inilah yang mengindikasikan adanya degradasi protein atau peptida (Parrish et al. 1969).

Hasil penelitian Khan (2000) menunjukkan bahwa fraksi NPN pada otot dada ayam meningkat selama penyimpanan 45 minggu pada temperatur -5 dan -40 oC. Sekitar 80% dari peningkatan tersebut diakibatkan oleh meningkatnya kadar asam amino yang mengandung sulfur dan aromatik, sedangkan asam nukleat menurun. Enzim katepsin kemungkinan terlepas akibat dari kerusakan sel selama

(31)

pembekuan dan penyimpanan. Enzim ini menyebabkan proteolisis sehingga mengganggu ikatan protein.

Sejauh ini belum pernah dilaporkan adanya kenaikan NPN yang signifikan selama dua minggu pertama penyimpanan. Nitrogen nonprotein dan asam amino biasanya meningkat mengikuti pola yang sama selama penyimpanan. Penyimpanan daging sapi selama 2 hari pada 2 oC akan terjadi peningkatan 8 sampai 20% NPN dan 22 sampai 33% asam amino bebas. Sedangkan peningkatan NPN dan asam amino bebas selama 7 hari penyimpanan adalah sebesar 36% dan 117% (Khan 2000).

Penilaian beberapa komponen kimia postmortem telah lama dikenal di dunia kedokteran forensik untuk membantu dalam menduga secara lebih tepat waktu kematian dan juga dapat memperlihatkan beberapa abnormalitas biokimia yang bertanggung jawab terhadap kematian. Sejumlah penelitian telah dilakukan terhadap NPN jaringan, cairan serebrospinalis dan cairan mata. Tidak semua nitrogen dalam jaringan berada dalam bentuk protein, ada yang berasal dari nonprotein seperti senyawa nukleotida, asam amino bebas, kreatin dan kholin. Hanya sebagian kecil dari NPN itu untuk sintesis asam amino non-esensial (Sasaki et al. 1983).

Walaupun banyak peneliti Jepang yang melaporkan tentang jumlah NPN dari ekstrak jaringan postmortem, namun dianggap bahwa NPN jaringan belum menjadi suatu indikator yang benar-benar konkrit terhadap waktu kematian karena adanya beberapa keragaman yang ditemukan pada kondisi postmortem (Sasaki et

al. 1983; Lucas et al. 1992).

Autolisis yang dianggap sebagai suatu proses kerusakan sel secara alami

postmortem, dimana sel secara perlahan-lahan akan hancur oleh bantuan enzim.

Kemampuan enzim untuk menghancurkan organ parenkhimateus lebih kuat dibandingkan dengan kemampuan enzim yang berada pada daerah otot skelet. Sehingga organ parenkhim lebih cepat mengalami proses autolisis dibandingkan dengan otot skelet (Urlings et al. 1993).

(32)

Nilai Impedansi

Sejumlah metode fisik telah dan sedang dikembangkan untuk menilai berbagai aspek kualitas daging. Diantara beberapa aspek kualitas daging, keempukan merupakan variabel yang paling penting untuk konsumen karena menyangkut langsung sifat-sifat mekanis dan struktur daging. Banyak metode fisik yang telah tersedia untuk menilai aspek mekanis. Sebagian besar metode mekanis yang telah berhasil diciptakan hanya dapat dipakai pada lingkup laboratorium dan sangat sedikit yang telah dikembangkan untuk pengukuran pada skala industri yang telah memberikan hasil memuaskan (Lepetit et al. 2002; Guan

et al. 2004).

Sifat elektris otot dan daging telah lama diteliti untuk memastikan apakah dapat memberikan informasi yang penting sebagai indikator kualitas daging. Daging secara elektris memiliki sifat anisotropik yang bermakna bahwa sifat elektrisnya berubah-ubah tergantung pada bidang elektris dari sampel daging. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh panjang dan arah miofibril yang berisi elektrolit dan dilindungi oleh membran yang berfungsi sebagai dielektrik. Swatland (1997), telah mengidentifikasi ada 2 arah penempatan elektroda untuk pengukuran sifat elektrik daging yaitu 1) menyilang miofibril dan memotong terhadap sumbu panjang miofibril, dan 2) memanjang terhadap sumbu panjang miofibril (Gambar 2).

Gambar 2 Bidang pengujian nilai elektris pada daging (Lepetit et al. 2002).

Arah bidang elektrik Arah bidang elektrik

(33)

Berdasarkan penelitian Lepetit et al. (2002) bahwa peralatan yang pernah dikembangkan untuk pengukuran nilai impedansi merupakan sistem portabel yang terdiri dari sebuah voltmeter (Model 87: Fluke, Washington, USA), sebuah generator sinyal (Wavetek Corporation, San Diego, USA) yang memberikan tegangan 5 volt pada 1 kHz, dan sirkuit elekrik seperti terlihat pada gambar berikut ini:

Dengan demikian untuk mengukur nilai impedansi pada sampel daging, pertama-tama sistem harus disesuaikan sebagai suatu cara untuk menyediakan arus 5 v dan dijaga tetap konstan, sehingga nilai impedansi (Z) dihitung sebagai berikut : v 5 v r Z −

= dimana v adalah voltase

Akan tetapi peralatan untuk pengukuran nilai impedansi yang dipakai di dalam penelitian ini adalah berbeda dan tidak terpisah seperti pada contoh di atas. Sehingga nilai impedansi (Z) dapat dibaca langsung setelah dilakukan penetrasi elektroda ke dalam jaringan otot atau daging.

Menurut Swatland (1997) dan Davalos et al. (2004), impedansi elektris otot menurun dengan cepat selama periode prerigor. Keragaman nilai impedansi

prerigor sangat ditentukan oleh perubahan-perubahan pada membran dan ruang

ekstraselular. Selama periode prerigor terjadi peningkatan permeabilitas membran yang mempermudah pergerakan ion-ion sehingga dapat mengurangi nilai impedansi dan sebaliknya meningkatkan konduktivitas pada daging. Penelitian pada daging sapi menunjukkan bahwa segera setelah pemotongan

Sampel daging Generator transformer Sampel daging Generator transformer

(34)

terjadi peningkatan sementara nilai impedansi disebabkan oleh serabut otot mengambil cairan ekstraselular sebagai akibat tekanan osmotik internalnya meningkat dan juga untuk persiapan glikolisis postmortem dan kemudian akan menurun. Perubahan pada membran dan ruang ekstraselular berhubungan erat dengan kecepatan penurunan pH untuk mencapai pH akhir.

Impedansi postrigor juga menurun dengan lambat selama penyimpanan atau tanpa penyimpanan, namun belum dapat dipahami lebih jauh tentang keragaman impedansi postrigor yang terjadi. Lepetit et al. (2002), menyarankan untuk menggunakan nilai impedansi pada frekuensi 1kHz dan 100kHz sebagai indikator

aging daging bila nilainya menurun selama aging daging. Hasil penelitian Byrne et al. (2000) menemukan ada korelasi yang signifikan antara nilai Warner-Bratzler

shear dan nilai impedansi pada sapi jika korelasi ini dihitung selama periode aging dari 2 sampai 14 hari postmortem.

Secara sederhana impedansi dapat didefinisikan sebagai suatu hambatan dari aliran arus listrik ketika arus mengalir melalui suatu material penghantar (Sylvia 1999; Lepetit et al. 2002). Hambatan aliran listrik dapat dipengaruhi oleh fase yaitu suatu penghalang aliran ion atau molekul. Fase di dalam sel makhluk hidup dinamakan membran. Ditambahkan oleh Sylvia (1999) bahwa jika dua elektroda logam dicelupkan ke dalam suatu medium penghantar maka pengujian tersebut bersifat sebagai resistor dan kapasitor. Pengujian tersebut akan menghasilkan suatu arus resultansi yang tergantung pada impedansinya.

Dengan menggunakan elektron mikroskop, Mullen et al. (2000) telah mendapatkan gambaran yang jelas ada terjadi disintegrasi ultrastruktur pada sampel daging dengan impedansi rendah. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan juga bahwa nilai impedansi elektris menurun dan konduktivitas meningkat dengan meningkatnya kerusakan membran. Kecepatan kerusakan tersebut lebih cepat pada daging yang di aging pada temperatur yang lebih tinggi, misalnya pada temperatur 30 oC lebih cepat rusak dibandingkan dengan daging yang di aging pada temperatur 20 oC.

Hasil penelitian Purslow et al. (2000) dan Oliver et al. (2001) pada otot longissimus babi memperlihatkan bahwa ada keragaman nilai impedansi elektris yang timbul sesuai dengan waktu postmortem. Ini menggambarkan bahwa ada

(35)

terjadi perubahan-perubahan permeabilitas pada dinding serabut otot. Peningkatan permeabilitas sarkolema juga akan memudahkan mengalirnya cairan intraselular menuju ruang ekstraselular dan akibatnya kejadian kehilangan air (drip loss) juga akan tinggi.

(36)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dimulai dari bulan Agustus 2005 sampai Agustus 2006. Analisis histologis dan pengukuran nilai keempukan (Warner-Bratzler shear) daging masing-masing dilakukan di Laboratorium Patologi dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Analisis nitrogen nonprotein (NPN) dan warna daging (CIE L* a* b*) masing-masing dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat Penelitian

Penelitian ini menggunakan 30 sampel daging dada (M. pectoralis) dan 30 sampel daging paha (M. biceps femoris) ayam pedaging strain Hubbard Broiler yang sudah mencapai masa potong komersial, berumur 45 hari dengan berat karkas 1.5 sampai 1.8 kg. Kendatipun sampel diambil langsung dari tempat pemotongan ayam Pondok Rumput, Bogor, namun dua hari sebelum ayam tiba di tempat pemotongan dilakukan juga pengamatan langsung ke tempat pemeliharaan ayam potong yaitu di wilayah Kecamatan Ciampea, Bogor. Pada saat itu semua ayam memperlihatkan kondisi klinis yang sehat untuk disembelih.

Sampel daging ayam terdiri atas tiga kategori yang berbeda yaitu daging ayam normal yakni berasal dari ayam hidup sehat disembelih (AHS) secara halal, daging ayam bangkai yaitu berasal dari ayam mati disembelih (AMS) dan daging yang berasal dari ayam lemah disembelih (ALS). Ciri-ciri ayam AHS adalah kondisi umum terlihat sehat, mampu berdiri dan berjalan sempurna dengan gambaran mata dan selaput lendir normal. Sampel yang berasal dari AMS adalah bangkai ayam yang telah mati selama satu sampai dua jam. Waktu 1 sampai 2 jam setelah menjadi bangkai dianggap awal kematian atau satu jam postmortem. Sampel untuk waktu 5 dan 9 jam postmortem adalah berasal dari sampel tadi yang telah dibiarkan selama 5 dan 9 jam postmortem pada temperatur kamar. Sampel yang berasal dari ALS diambil dari ayam-ayam yang memperlihatkan kondisi

(37)

umum yang lemah yakni tidak mampu berdiri dan berjalan serta sayap terkulai lemah.

Beberapa bahan kimia yang digunakan seperti asam trikhloroasetat atau TCA (CCl3COOH, 807 Merck), asam sulphat (H2SO4, 731 Merck), larutan formalin 10% dalam bufer normal yang terdiri dari Na2HPO4, NaH2PO4, formalin absolut dan aquadest. Natrium Hidroksida (NaOH, 9957 Merck), methyl red 6076 Merck) dan Hematoksilin-Eosin.

Alat yang dipakai pada penelitian ini adalah peralatan mikroteknik jaringan yang dilengkapi dengan video mikrometer, peralatan penilaian keempukan daging Warner-Bratzler Shear (InstronTM 5542), Chroma meter CR-300 (Ramsey, NJ), peralatan Kjeldahl untuk analisis NPN, termometer saku (Taylor® N:VD03-6) dan alat ukur nilai impedansi dari digital multimeter modifikasi (DT-830B).

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap satu arah. Jenis sampel daging merupakan satu-satunya faktor tunggal sedangkan pengukuran setiap peubah dilakukan dalam interval waktu 1, 5 dan 9 jam postmortem (PM) yang berasal dari sampel pada karkas yang sama. Model matematis dari rancangan yang dipakai adalah :

ij

ε

i

τ

μ

ij

Y

=

+

+

Dimana : Yij = perubahan nilai biologis dan impendansi ke j karena perbedaan daging ayam ke i (i = 1, 2, 3 sedangkan j = 1, 2, 3,……..,10). μ = rata-rata sebenarnya, ti = pengaruh perbedaan daging (AHS, AMS dan ALS). eij = pengaruh terhadap nilai biologis dan impedansi ke j akibat perbedaan jenis daging ayam ke i.

Pemeriksaan atau analisis mikroskopis dilakukan hanya terhadap beberapa sampel pada daging dada dan daging paha sesuai dengan waktu postmortem yaitu 1, 5 dan 9 jam pascamati. Dari sejumlah tiga puluh sampel daging dada dan daging paha ayam, maka untuk analisis mikroskopis masing-masing diambil sebanyak empat sampel dari daging dada dan paha AHS, AMS dan dari ALS. Akan tetapi analisis terhadap peubah keempukan (nilai Warner-Bratzler shear, warna (L* a* b*) dan nilai nitrogen nonprotein (NPN) dilakukan replikasi

(38)

sebanyak dua kali (duplo) dalam setiap pengujian. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan validitas data yang lebih baik.

Disain penelitian adalah seperti yang terdapat pada diagram Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3 Disain penelitian penggunaan beberapa metode biologis dan nilai impedansi untuk deteksi daging ayam bangkai. AHS: Ayam hidup disembelih, AMS: Ayam mati disembelih, dan ALS: Ayam lemah disembelih.

Analisis Data

Data dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA) satu arah pada tingkat α=0.05 dan dilanjutkan dengan uji perbandingan berganda Duncan dengan menggunakan perangkat lunak SAS® (SAS Institute 1988; Mattjik dan Sumertajaya 2002). Analisis korelasi juga dilakukan untuk menentukan keeratan hubungan antar peubah yang diukur (SAS Institute 1988).

Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah yang pertama peubah histologis yang terdiri atas persentase degenerasi dan nekrosa serabut otot, diameter serabut otot (μm), jarak antar serabut otot (μm), gambaran pembuluh darah arteri dan vena serta eksudasi. Peubah kedua adalah angka keempukan daging Warner-Bratzler shear (kgf/cm2), peubah ketiga adalah warna daging (CIE

L* a* b*), peubah keempat adalah angka NPN (%) dan peubah kelima yaitu nilai

impedansi (ohm). Metode Penelitian

Sampel daging dada (M. pectoralis dan daging paha (M. biceps femoris) pada 1, 5 dan

9 jam postmortem (n = 30)

AHS

Histologis Keempukan Warna NPN Impedansi

(39)

B

A

pe bf 1 1 2 2

B

A

pe bf 1 1 2 2

Ayam sehat dan yang kondisi lemah disembelih tanpa pemingsanan dengan cara pemotongan pada leher sehingga Arteri carotis communis, Vena jugularis,

trachea dan esophagus ikut terpotong sekaligus (Deptan 1996). Sedangkan

penyembelihan pada ayam yang telah mati hanya bertujuan untuk keseragaman perlakuan dengan dua kelompok tadi. Sampel daging dada dan daging paha yang berasal dari ayam mati (AMS) di peroleh sesuai dengan jam kematian yakni 1, 5 dan 9 jam postmortem. Pencabutan bulu dilakukan setelah melewati proses perendaman dalam air panas (scalding) pada temperatur 52 0C (Sams dan Dzuik 1999; Sams 2001). Setelah selesai eviserasi maka bagian dada dan paha dipisahkan sebagai sampel penelitian. Sampel dalam kondisi segar (tanpa pembekuan dan pendinginan) segera dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Histologi Otot Dada dan Otot Paha

Sampel daging diambil dari otot dada (M. pectoralis) dan otot paha (M.

biceps femoris). Untuk pengamatan histologi maka masing-masing daging dada

dan daging paha diambil pada bagian kanan atas dari otot dada dengan ukuran sayatan 1 x 1 x 2 cm (López 2004). Jumlah sampel disesuaikan dengan keperluan analisis dan disesuaikan juga dengan jam postmortem pengamatan. Secara anatomis posisi pengambilan sampel adalah seperti tertera pada Gambar 4.

Gambar 4 Sampel daging yang berasal dari otot dada M. pectoralis (pe) (A), dan yang berasal dari otot paha M. biceps femoris (bf) (B) ayam broiler. Otot bagian kanan (1) pada daging dada dan bagian atas pada daging paha untuk analisis mikroskopis dan uji nilai WB, sedangkan otot bagian kiri (2) pada daging dada dan bagian bawah pada daging paha untuk analisis warna, NPN dan nilai impedansi.

(40)

Sampel daging dada (M. pectoralis) dan daging paha (M. biceps femoris) sesuai dengan jam postmortem disayat dan langsung dimasukkan ke dalam larutan fiksasi yaitu larutan formalin 10% dalam bufer normal. Sampel daging selanjutnya diproses sesuai dengan prosedur mikroteknik dan diwarnai dengan memakai pewarnaan standar Hematoksilin-Eosin (Kiernan 1990; Witkiewicz et al. 2004). Dengan menggunakan perangkat video mikrometer, dilakukan pengamatan dan pengukuran pada potongan melintang otot dengan luas pandang 222 x 300 µm pada pembesaran 20x dan jumlah setiap pengamatan adalah 10 lapang pandang. Pengamatan dan pengukuran dibagi tiga bagian yaitu pada serabut otot (lesio degenerasi dan nekrosa, diameter serabut otot), jaringan penunjang (jarak antar serabut otot dan persentase eksudasi). Degenerasi otot hanya dibatasi pada serabut otot yang membengkak (swelling), membulat, dan hipereosinofil dan kehilangan striasi otot. Sedangkan nekrosis dibatasi pada serabut otot yang telah kehilangan sebagian atau seluruh sitoplasmanya dan terbentuk vakuola (Lopez 2004). Semua pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

1. % 100% otot serabut otot serabut /nekrosa degenerasi /nekrosa degenerasi lesio × Σ Σ = ∑

2.Diameter serabut otot =Xdiameter serabut otot pada AHS,AMSdan ALS. 3. Jarak antar serabut otot = Xjarak antar serabut otot padaAHS, AMS dan ALS Sedangkan terhadap jaringan penunjang dihitung persentase eksudasi dan jarak antar serabut otot (muscle fiber intertitials). Setiap satu lapang pandang terdapat 10 sisi yang diukur (Gambar 5).

Gambar 5 Pengukuran jarak antar serabut otot ditandai oleh garis dengan ujung tanda panah (a) dan diameter serabut otot yang ditandai oleh garis dengan ujung bulat (b).

a

(41)

Pengamatan secara deskriptif juga dilakukan terhadap besar kecilnya kongesti di dalam pembuluh darah arteri dan vena.

Penilaian Angka Keempukan Daging (Warner-Bratzler Shear atau nilai WB) Uji nilai keempukan daging dada dan daging paha dilakukan sesuai dengan metode Warner-Bratzler shear dari InstronTM. Persiapan uji keempukan daging adalah sebagai berikut: sampel daging dada dan daging paha dimasak di dalam panci aluminium pada temperatur internal daging 80 oC selama 20 menit. Pemasakan dilakukan dengan cara daging ditempatkan di dalam plastik tahan panas sehingga daging tidak bercampur dengan air. Setelah dibiarkan dingin pada temperatur kamar, dengan menggunakan selongsong khusus dari InstronTM (sample coring tool) ukuran 12.5 mm (Instron 2003), maka pengambilan sampel dilakukan searah dengan panjang serabut otot baik pada otot dada maupun pada otot paha, sehingga berbentuk bulat homogen. Pemotongan dilakukan pada temperatur kamar 25 oC dan pada kecepatan 250 mm/menit dengan ulangan dua kali. Hasil pengukuran adalah nilai Warner-Bratzler shear (WB) yaitu kgf/cm2 seperti tertera pada Gambar 6 (Fletcher 1999; Kerth et al. 2003). Angka yang digunakan sebagai nilai keempukan daging adalah kekuatan terbesar yang dibutuhkan untuk memotong sampel daging ayam (Instron 2003). Nilai tertinggi terlihat pada tampilan hasil berupa grafik atau kurva seperti terlihat pada layar monitor komputer.

Gambar 6 Contoh hasil pengukuran nilai keempukan daging dengan menggunakan metode Warner-Bratzler shear yang ditandai oleh tampilan grafik hasil pemotongan sampel daging.

(42)

Pengukuran Warna Daging (CIE L* a* b*)

Daging dada (M. pectoralis) yang terdapat pada sisi kiri anterior dan daging paha (M. biceps femoris) disayat dengan ukuran 3x3x0.5 cm. Pemilihan ketebalan 0.5 cm adalah untuk menghindari refleksi yang tinggi dari latar belakang standar yang digunakan, sehingga akan merefleksikan nilai sebenarnya dari sampel (Sandusky dan Heath 1996). Pengukuran warna dilakukan pada kondisi segar (fresh raw meat) tanpa pemanasan, penyimpanan dingin ataupun pembekuan sebelumnya. Area atau bidang yang dipilih untuk penilaian warna adalah area yang bebas dari berbagai kelainan seperti hemorhagi dan pembuluh darah. Penilaian dilakukan dengan ulangan dua kali dari sisi medial. Dipilih dari sisi medial untuk menghindari adanya perubahan warna yang mungkin dapat disebabkan oleh proses skalding. Kalibrasi peralatan sebelumnya dilakukan dengan menggunakan ubin keramik standar putih (Y = 93.7, x = 0.3139, dan y = 0.3197). Warna daging diukur secara objektif dengan menggunakan Minolta Reflectance Chroma Meter (CR-300) sebanyak dua kali ulangan dan kemudian dilaporkan sebagai sistem CIE L* (kecerahan atau lightness), a* (kemerahan atau

redness) dan b* (kekuningan atau yellowness) (Fletcher 1999; Petracci dan

Fletcher 2002).

Pengukuran Nitrogen Nonprotein (NPN)

Penentuan nilai nitrogen nonprotein (NPN) sampel daging dilakukan sesuai dengan metode Kjeldahl (Sasaki et al. 1983). Sampel daging dapat disimpan pada -20 oC menunggu waktu analisis, atau dapat langsung dianalisis seperti pada penelitian ini. Prosedurnya adalah sejumlah 5 g jaringan otot yang telah dihancurkan ditambah 25 ml aquades, disaring dan suspensi dikocok dan didiamkan selama 20 menit. Ditambahkan 10 ml asam trikhloroasetat (trikhloroacetic acid) (TCA) 10% sebagai deproteinizing agent, dikocok selama 10 menit dan dibiarkan selama 3 jam pada temperatur kamar. Supernatan disaring dengan kertas Whatman 41 dan dipisahkan.

Proses selanjutnya adalah destruksi yaitu pemecahan supernatan tadi oleh H2SO4 pekat panas dengan bantuan katalis campuran selen. Senyawa N yang

(43)

terdapat dalam sampel akan terikat sebagai senyawa amonium sulfat (NH4)2SO4 yang berwarna kuning kehijauan jernih.

Tahap selanjutnya adalah destilasi dengan cara hasil destruksi dimasukkan ke dalam labu destilasi yang telah diisi dengan batu didih, diencerkan dengan aquades, tambahkan lagi NaOH 33% untuk kemudian dihubungkan lagi dengan cepat ke pipa destilasi. Hasil destilasi berupa NH3 dan air ditangkap dengan Erlenmeyer yang telah diisi dengan H2SO4 0.3 N dan indikator Metil Red dan Metil Blue 1:1. Proses destilasi dilakukan hingga semua N yang ada di dalam labu destilasi telah tertangkap oleh H2SO4 yang ada dalam Erlenmeyer. Proses ini berakhir setelah terjadi letupan-letupan pada labu destilasi.

Tahap terakhir adalah titrasi yaitu kelebihan asam yang tertangkap dititer dengan larutan NaOH standar dengan cara labu Erlenmeyer yang berisi hasil sulingan diambil dan kelebihan H2SO4 0.1 N dititer kembali dengan larutan NaOH 0.1 N. Proses titrasi berhenti setelah perubahan warna dari biru ke warna kehijauan yang menandakan titik akhir titrasi. Dengan titrasi maka persentase dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :

% 100 x gram ) X ( 14 x NaOH N x ) Z Y ( NPN % = −

Keterangan : Y = volume blanko, dan Z = volume NaOH yang dibutuhkan untuk mentitrasi contoh.

Pengukuran Nilai Impedansi

Pengukuran nilai impedansi sampel daging dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang dinamakan impedansi meter. Alat impedansi meter ini merupakan hasil modifikasi Budianto (2004) dari Bagian Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (Gambar 7).

Alat ini merupakan modifikasi dari sebuah Multimeter standar berbasis arus bolak balik. Setelah mengalami modifikasi pada akhirnya dapat mengalirkan arus listrik searah (alternating current) dan dengan menggunakan tenaga dari 2 batere kering berbentuk kotak tipe S-006P(SG)6F22, masing-masing memiliki daya 9 Volt yang bertujuan supaya energi dari salah satu batere dapat membangkitkan medan magnit pada jaringan otot atau daging yang diukur, sedangkan batere yang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :