• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. PERANCANGAN TAPAK. 11 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. PERANCANGAN TAPAK. 11 Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

2. PERANCANGAN TAPAK

2.1. Kriteria Pemilihan Lokasi dan Tapak

Terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi yang tepat bagi Fasilitas Wisata Edukasi Penyu Hijau ini. Pertimbangan memilih lokasi tidak hanya mempertimbangkan kenyamanan pengunjung, tetapi juga lokasi yang ideal untuk kehidupan penyu hijau (memiliki karakter-karakter yang sesuai dengan lokasi penangkaran penyu hijau). Lokasi tersebut juga diharapkan mempunyai potensi-potensi positif yang dapat menunjang perkembangan dan eksistensi Fasilitas Wisata Edukasi Penyu Hijau ini. Terdapat 2 hal yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih dan menentukan lokasi, yaitu :

a. Karakterisitk lokasi yang seusai dengan habitat penyu hijau atau penangkaran. Pasir merupakan tempat yang mutlak diperlukan untuk penyu bertelur. Habitat peneluran bagi setiap penyu memiliki kekhasan. Tempat pemilihan bertelur merupakan pantai yang luas dan landai serta terletak di atas bagian pantai. Rata-rata kemiringan 30 derajat di pantai bagian atas. Jenis tanaman atau formasi vegetasi pantai yang biasanya terdapat di sepanjang daerah peneluran penyu secara umum dari daerah pantai ke arah daratan adalah sebagai berikut :

 Tanaman Pioner

 Zonasi jenis-jenis tanaman yang terdiri dari Hibiscus tiliaceus, Gynura procumbens, dan lainnya

 Zonasi jenis-jenis tanaman seperti Hernandia peltata, Terminalia catappa, Cycas rumphii, dan lainnya

 Zonasi terdalam dari formasi hutan pantai Callophyllum inophyllum, Canavalia ensiformis, Cynodon dactylon, dan lainnya.

(2)

Gambar 2.1. Vegetasi Pantai Sukamade

Formasi Vegetasi dan Kondisi Pantai Peneluran Penyu di daerah peneluran penyu hijau di Pantai Merubetiri, Banyuwangi, Jatim

b. Potensi Positif lokasi di sektor ekonomi dan wisata.

Diperkukan lokasi yang sedang berkembang di sektor ekonomi dan pariwisata namun mempunyai daya dukung wisata yang kuat, memiliki pemandangan alam yang masih asri, tingkat polusi rendah, serta mempunyai penataan lingkungan yang masih baik dengan vegetasi dan dekat dengan pantai yang belum tercemar limbah.

Gambar 2.2. Objek Wisata Segitiga Berlian Sumber : www.banyuwangitourism.com

(3)

Banyuwangi terkenal dengan The Triangle Diamond (Segitiga Berlian) yang merupakan daerah wisata di Banyuwangi, yaitu : Kawah Ijen, Pantai Sukamade (Taman Nasional Meru Betiri), dan Pantai Plengkung (Taman Nasional Alas Purwo). Pantai Sukamade merupakan habitat dari penyu hijau untuk bertelur yang berada di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Dari 2 kriteria diatas, maka dipilihlah lokasi di Pesanggaran, karena Pesanggaran merupakan daerah wisata yang sedang berkembang dimana terdapat Taman Nasional Meru Betiri. Selain sebagai daerah wisata, Pesanggaran merupakan daerah pertanian, perkebunan, perhutanan, dan daerah pantai yang masih asri karena terletak di pesisir pantai dan pegunungan.

2.2. Lokasi dan Kondisi Tapak 2.2.1. Lokasi Proyek

Lokasi yang dipilih untuk proyek Fasilitas Wisata Edukasi Penyu Hijau di Pesanggaran, Banyuwangi ini berada di Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pesanggaran terletak di daerah pesisir pantai dan terdapat pegunungan juga dengan kondisi alam yang masih hijau dan pemandangan alam yang masih asri, udaranya segar, dan belum tercemar banyak polusi. Pesanggaran merupakan wilayah daerah pesisir pantai yang memiliki potensi positif yang dapat menunjang perkembangan wisata. Selain itu, Pesanggaran juga mempunyai daya dukung wisata kuat dan mempunyai penataan lingkungan yang masih baik dengan vegetasi di sekitar pantai yang masih asri.

2.2.2. Keadaan Lokasi

 Ketinggian + 10 meter di atas permukaan laut  Perbedaan ketinggian kontur + 1 meter  Panjang pantai 1 km.

 Curah Hujan 2.300 mm/tahun  Kelembaban + 50%

 Kecepatan Arus 20 – 40 cm/detik

 Kemiringan lahan 30° dari pantai bagian atas  Topografi pesisir pantai dan pegunungan

(4)

 Kejernihan air kurang lebih dari 5 meter dengan jarak pandang secara horisontal

 Suhu air berkisar 27 – 30°C dengan fluktuasi harian maksimal 4°C

 Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 – 35 permil (optimum sekitar 33 permil).

 Jarak pasang surut air laut sekitar 100 – 150 meter.

 Ketinggian ombak rata-rata mencapai 1 meter dan dapat mencapai 1,5 meter pada waktu musim hujan.

 Beda tinggi pasang surut air laut sekitar 1 – 5 meter (pasang tertinggi pada surut terendah).

 Kecepatan angin rata-rata 4 knot yang sebagian besar bertiup dari arah selatan ke utara.

2.2.3. Kondisi Tapak

Lokasi ini termasuk dalam iklim tropis yang memiliki udara yang lembab serta kondisi tanah yang relatif masih hijau dan asri, berbatasan dengan perkebunan di daerah pegunungan yang subur dan tenang, sehingga sangat cocok untuk wisata edukasi dan penangkaran penyu hijau.

2.2.3.1. Faktor Pencapaian

Jarak Pantai Sukamade kira-kira 97 km ke arah barat daya dari kota Banyuwangi. Pencapaian relatif sangat sulit karena jalan yang dilalui sangat buruk kondisinya. Dari kota Banyuwangi menuju Pesanggaran jaraknya 60 km dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum selama + 45 menit kemudian dilanjutkan ke Sarongan berjarak 20 km dapat ditempuh dengan angkutan umum atau truk selama + 45 menit karena jalan yang dilalui merupakan jalan aspal yang rusak berat. Sarongan-Rajegwesi-Sukamade berjarak 17 km hanya dapat ditempuh menggunakan truk atau sepeda motor selama + 2 jam ini dikarenakan jalan masih belum mendapat perawatan dari pihak pemerintah dengaan menyusuri daerah perkebunan dan hutan yang berada di pegunungan.

(5)

2.2.3.2. Faktor Potensial

Gambar 2.3. Peta Potensi Disekitar Tapak Sumber : Google Map

a. Perkebunan

Karet, kopi dan coklat ditanam di tanah perkebunan seluas 1200 hektar.

Gambar 2.4. Perkebunan karet dan coklat

b. Pantai Rajegwesi.

Wisata bahari, berenang, pengamatan, satwa / tumbuhan dan wisata budaya (nelayan tradisional).

a b c d e f g

(6)

Gambar 2.5. Pantai Rajegwesi

c. Pantai Sukamade.

Melihat atraksi penyu yang sedang bertelur, berkemah, selancar angin dan pengamatan tumbuhan / satwa.

Gambar 2.6. Pantai Sukamade

d. Teluk Hijau.

(7)

Gambar 2.7. Teluk Hijau

e. Penginapan

Terdapat area penginapan dan cottage yang berada di dekat Pantai Sukamade yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Gambar 2.8. Penginapan dan Cottage

f. Sumbersari.

Grazing area seluas 192 hektar untuk melihat atraksi satwa seperti sambar, rusa, kijang dan laboratorium alam untuk kegiatan penelitian.

(8)

g. Hutan Hujan Tropis

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan hujan tropis dengan formasi hutan bervariasi yang terbagi ke dalam 3 tipe vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan rawa dan vegetasi hutan hujan dataran rendah (Darmawan, 1997). Kondisi setiap tipe vegetasi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tipe Vegetasi Hutan Pantai

Tipe vegetasi ini tersebar di sepanjang garis pantai selatan dalam kelompok hutan yang sempit, umumnya menempati daerah sekitar teluk yang bertopografi datar, misalnya di Teluk Permisan, Teluk Meru, Teluk Bandealit, dan Teluk Rajegwesi. Formasi vegetasi hutan pantai terdiri dari 2 tipe utama yaitu formasi ubi pantai (Ipomea pescaprae), dan formasi Barringtonia (25 - 50 m) pada daerah pantai yang landai dan akan berkurang luasnya jika pantainya terjal dan berbatu. Formasi Pescaprae terdiri dari tumbuhan yang tumbuh rendah dan kebanyakan terdiri dari jenis herba, sebagian tumbuh menjalar. Jenis yang paling banyak adalah ubi pantai (Ipomoea pescaprae) dan rumput lari (Spinifex squarosus). Formasi Baringtonia terdiri dari keben (Baringtonia asiatica), nyamplung (Calophyllum inophyllum), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus tectorius) dan lain-lain.

2. Tipe Vegetasi Hutan Rawa

Vegetasi ini dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade. Jenis-jenis yang banyak dijumpai diantaranya mangga hutan (Mangifera sp), sawo kecik (Manilkara kauki), ingas/rengas (Gluta renghas), pulai (Alstonia scholaris), kepuh (Sterculia foetida).

3. Tipe Vegetasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah

Merupakan hutan campuran antara hutan hujan dataran rendah dengan hutan hujan tropis pegunungan. Aneka flora hutan hujan tropis dataran rendah menutupi hampir semua permukaan daratan Taman Nasional Meru Betiri yang memiliki iklim panas dan curah hujan cukup banyak, serta terbagi merata. Hutan hujan tropis pegunungan di atas ketinggian 600 - 1.300 m dpl. Sebagian besar kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri merupakan tipe vegetasi hutan hujan tropika dataran rendah. Pada tipe vegetasi ini juga tumbuh banyak jenis epifit,

(9)

seperti anggrek dan paku-pakuan serta liana. Jenis tumbuhan yang banyak dijumpai diantaranya jenis walangan (Pterospermum diversifolium), winong (Tetrameles nudiflora), gondang (Ficus variegata), budengan (Diospyros cauliflora), pancal kidang (Aglaia variegata), rau (Dracontomelon mangiferum), glintungan (Bischoffia javanica), ledoyo (Dysoxylum amoroides), randu agung (Gossampinus heptaphylla), nyampuh (Litsea sp), bayur (Pterospermum

javanicum), bungur (Lagerstromia speciosa), segawe (Adenanthera

microsperma), aren (Arenga pinnata), langsat (Lansium domesticum), bendo (Artocarpus elasticus), suren (Toona sureni), dan durian (Durio zibethinus). Terdapat pula vegetasi bambu seperti : bambu bubat (Bambusa sp), bambu wuluh (Schizastychyum blumei), dan bambu lamper (Schizastychyum branchyladium). Di dalam kawasan juga terdapat beberapa jenis rotan, diantaranya : rotan manis (Daemonorops melanocaetes), rotan slatung (Plectomocomia longistigma), rotan warak (Plectomocomia elongata) dan lain-lain.

Hingga saat ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri telah teridentifikasi flora sebanyak 518 jenis, terdiri 15 jenis yang dilindungi dan 503 jenis yang tidak dilindungi. Contoh jenis yang dilindungi yaitu Balanopora (Balanophora fungosa) yaitu tumbuhan parasit yang hidup pada jenis pohon Ficus spp. dan Padmosari/Rafflesia (Rafflesia zollingeriana) yang hidupnya tergantung pada tumbuhan inang Tetrastigma sp. Selain itu terdapat pula jenis flora sebagai bahan baku obat/jamu tradisional, dimana berdasarkan hasil uji petik di lapangan telah teridentifikasi sebanyak 239 jenis yang dapat dikelompokkan dalam 7 habitus, yaitu bambu, memanjat, herba, liana, perdu, semak dan pohon. Jenis-jenis tumbuhan obat di Taman Nasional Meru Betiri berdasarkan bagian yang digunakannya dibagi ke dalam 19 bagian, yaitu air batang, akar, batang/kayu, biji, buah, bunga, cabang/ranting, daun, getah, kulit batang, pucuk daun, rimpang, semua bagian, umbi, zat pati/zat pahit, nira, abu kayu, air kelapa dan herba bagian atas. Beberapa jenis tumbuhan obat unggulan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah Cabe Jawa (Piper retrofractum), Kemukus (Piper cubeba), Kedawung (Parkia roxburghii), kluwek/pakem (Pangium edule), kemiri (Aleuritus moluccana), pule pandak (Rauwolfia serpentina), kemaitan (Lunasia

(10)

amara), anyang-anyang (Elaeocarpus grandiflora), sintok (Cinnamomum sintok), dan kemuning (Murray paniculata).

Gambar 2.9. Peta Taman Nasional Meru Betiri Sumber : www.merubetiri.com

2.2.4. Tapak

Berdasarkan kriteria pemilihan tapak, maka lokasi yang tepat untuk proyek Fasilitas Wisata Edukasi Penyu Hijau di Pesanggaran, Banyuwangi ini berada di pantai Sukamade (97 km dari Banyuwangi) yang merupakan daerah pesisir pantai dengan pemandangan alam yang indah, asri, dan berhawa sejuk karena berdekatan dengan pegunungan. Selain itu, tapak jauh dari polusi dan tidak dekat dengan jalan primer. Tapak berbatasan dengan hutan di daerah pegunungan milik Perhutani di sisi utara, dengan keanekaragaman flora. Tapak juga dekat dengan perkebunan yang dikelola oleh pihak swata yang menjadi nilai wisata dan memiliki penunjang / daya dukung wisata berupa penginapan di dekat pantai.

(11)

Gambar 2.10. Peta Wisata Banyuwangi dan Letak Tapak Sumber : www.eastjava.com 2.2.5. Data Tapak  Desa : Sukamade  Kecamatan : Pesanggaran  Kabupaten : Banyuwangi  Propinsi : Jawa Timur  Luas Lahan : + 4,8 ha

(12)
(13)

Gambar 2.12. Lokasi Tapak Sumber : Google Earth

2.2.6. Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Tapak

a. Garis Sepadan Bangunan (GSB) : 5 m pada sekeliling lahan b. Garis Sepadan Pantai (GSP) : 25 m dari pantai

c. Garis Sepadan Sungai (GSS) : 5 m dari sungai d. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 10 – 25% e. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 50 – 150%

f. Pengembangan Fungsi Lahan : merupakan wilayah untuk pariwisata 250 m 50 m 400 m 180 m 150 m

Gambar

Gambar 2.2. Objek Wisata Segitiga Berlian  Sumber : www.banyuwangitourism.com
Gambar 2.3. Peta Potensi Disekitar Tapak  Sumber : Google Map
Gambar 2.5. Pantai Rajegwesi
Gambar 2.7. Teluk Hijau
+5

Referensi

Dokumen terkait

penjajahan bangsa Eropa, serta strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20

Moewardi pada periode 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011 didapatkan hasil bahwa Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berlebih mempunyai hubungan terhadap risiko terjadinya

Selama mengidap penyakit bipolar disorder yayuk sunarsih telah menjalani berbagai pengobatan baik secara medis maupun secara non medis oleh keluarga dan suaminya, beberapa

Dari hasil analisis dan keputusan yang sesuai berdasar kriteria dari pertimbangan pemilihan lokasi tapak diatas, maka lokasi tapak yang dipilih sebagai tapak perancangan

Posisi tapak yang secara garis besar lebih rendah dari jalan berpotensi untuk membuka view yang luas dari luar ke dalam, sehingga bisa menjadi landmark gerbang timur kota Malang

Daerah lokasi site (Jl. Metro Tanjung Bunga) merupakan daerah dengan tata guna lahan sebagai daerah perdagangan, meliputi toko, perkantoran, supermarket, warung, kios, showroom,

Tingkat kemahalan harga saham berdasarkan PER perusahaan yang melakukan stock split tidak berbeda dengan tingkat kemahalan harga saham berdasarkan PER perusahaan

Berdasarkan Permendagri 86 Tahun 2017 tentang tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan