• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. PERANCANGAN TAPAK. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. PERANCANGAN TAPAK. Universitas Kristen Petra"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

2. PERANCANGAN TAPAK

2.1 Kriteria Lokasi

Fasilitas Eduwisata Pertanian dan Hortikultura di Malang ini merupakan sarana dengan fungsi yang kompleks, sehingga terdapat persyaratan dasar lokasi.

Kriteria pemilihan lokasi berdasarkan rangkuman berbagai sumber mengenai fungsi eduwisata dan latar belakang masalah adalah sebagai berikut:

a. Merupakan lokasi yang masih hijau, memiliki iklim dan kondisi tanah subur, sesuai untuk tanaman hortikultura: pangan dan obat-obatan.

b. Merupakan lokasi yang dekat atau berada di kota yang strategis dengan jumlah penduduk dan tingkat pendidikan yang mendukung.

c. Memiliki akses strategis, yang mudah dicapai oleh masyarakat, termasuk jalur angkutan umum, baik melalui jalan utama ataupun di jalan sekunder.

d. Memiliki akses yang mudah dikenali dari dan ke luar kota karena jangkauan fungsinya yang berkembang luas, meliputi fungsi wisata dan ekonomi.

e. Memiliki infrastruktur yang baik, meliputi kualitas jalan, lebar jalan, jaringan listrik, air, telepon, pembuangan, dan lain-lain.

f. Memiliki pencapaian yang dekat dari wilayah pemukiman, baik ekonomi menengah bawah ataupun menengah atas.

g. Memiliki pencapaian yang mudah ke area pertanian lokal.

h. Memiliki luas area hijau memadai, lebih baik jika memiliki kontur dan sungai sebagai teknis penunjang landscape dan farming.

i. Merupakan area pendidikan publik yang sesuai dengan tata guna lahan dalam Rencana Tata Ruang wilayah yang bersangkutan.

(2)

2.2 Data Tapak

Alternatif tapak 1 di kota Malang, dengan perincian berikut:

Lokasi : Jalan Laksda Adi Sucipto, Kecamatan Blimbing, Kotamadya Malang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Luas Lahan : +/- 3,7 ha (luas bersih 3,1 ha tidak termasuk area GSB) Orientasi -

- Hadap Jalan: selatan (utama) & timur (sekunder)

Iklim : tropis lembab (makro), iklim gunung (mikro)

Tata Guna : pemukiman dan pertanian (RTRW Malang 2009-2029)

Gambar 2.1. Lokasi Tapak dan sekitarnya Sumber: Google Earth (2011)

(3)

Gambar 2.2. Lokasi & Geometri Tapak Sumber: Google Earth (2011)

(4)

Batas-Batas Tapak :

- Utara : lahan pertanian dan komplek perumahan PBI-Araya - Timur : pemukiman warga, Wahana Wisata Wendit (500m) - Selatan : Jalan L.A.Sucipto, dam Kalisari, pemukiman warga - Barat : Kali Bango, lahan kosong, pemukiman warga Lebar Jalan : 10 meter (Jl. L.A.Sucipto) 2 arah

5 meter (Jl. Pemukiman Mangliwan) Lebar Sungai : 20-40 meter

Arah Aliran –

- Sungai : menunju selatan (Kali Brantas), dengan aliran tenang.

Garis Sempadan Bangunan (GSB) : - Tepi Jalan : 15 meter

- Tepi Sungai : 15 meter - Lainnya : 5 meter

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : maksimum 50%

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 0,5-1,5 Tinggi Lantai Bangunan (TLB) : 1-3 lantai

Topografi : kontur bervariasi 1-60, dengan 3 area besar berkontur cenderung datar, turun 3m dari jalan, 428-437m dpl.

Hidrologi : air tanah dangkal, dialiri Kali Bango / dam Kalisari.

Geologi : lapis tanah keras dangkal, melingkupi lapisan air tanah.

(5)

Gambar 2.3. Foto Dalam Tapak Sumber: dokumentasi pribadi

(6)

Gambar 2.4. Foto Sekitar Tapak –

(kr-kn/as-bw) Sawah Mangliwan, Taman Araya, Pemukiman Araya, Pemukiman Mangliwan, Dam Kalisari, Taman Wisata Wendit,

Terminal Arjosari, Bandara Abdurrahman Saleh Sumber: http://www.panoramio.com

2.3. Potensi dan Hambatan Tapak 2.3.1. Kelebihan dan Potensi

Lokasi tapak memenuhi kriteria lokasi, didukung akses strategis dan hubungan mudah dengan area pemukiman, pendidikan, pariwisata, dan pertanian,

(7)

sehingga memungkinkan tercapainya sasaran serta memenuhi tujuan dan manfaat untuk menjawab permasalahan yang ada.

Lokasi tapak dialiri Kali Bango yang merupakan jalur dam Kalisari, menjadi penanda perbatasan kota Malang dengan kecamatan Pakis kabupaten Malang di timur. Potensi kali dan kontur landai bermanfaat untuk sarana view dan fungsi pengolahan ruang luar, juga teknis irigasi dan pembuangan air.

Posisi tapak yang secara garis besar lebih rendah dari jalan berpotensi untuk membuka view yang luas dari luar ke dalam, sehingga bisa menjadi landmark gerbang timur kota Malang yang mewakili peran pendidikan dan juga arsitektur berwawasan lingkungan.

Gambar 2.5. Potensi Utilitas Eksisting dan Lokalitas Tapak –

2.3.2. Kekurangan dan Hambatan

View yang terbatas di sisi selatan, sedangkan view dalam tapak dan sisi utara tergolong baik. Area di daerah urban yang masih belum berkembang hingga aktivitas malam hari sehingga cenderung gelap dan memerlukan sarana yang menghidupkan pada fasilitas.

(8)

2.4. Tinjauan Fisik dan Non-Fisik 2.4.1 Tinjauan Fisik Tapak

Lokasi makro yang dipilih adalah di kota Malang, provinsi Jawa Timur.

Dasar pemilihan lokasi, pertama memperhatikan kesesuaian fungsi dengan visi- misi kota 2009-2013, yang salah satunya mendukung kota pendidikan terintegrasi, seperti yang tercantum dalam latar belakang. Kemudian secara khusus memperhatikan kondisi geografis dan iklim kota Malang makro seperti yang tercantum dalam website resmi kotamadya Malang (http://www.malangkota.go.id/) sebagai berikut:

2.4.1.1 Keadaan Geografi

Kota Malang secara astronomis terletak di 112,06°-112,07° BT dan 7,06°-8,02° LS, dengan batas wilayah:

- Utara : Kecamatan Singosari dan Karangploso, Kab. Malang.

- Timur : Kecamatan Pakis dan Tumpang, Kabupaten Malang.

- Selatan : Kecamatan Tajinan dan Pakisaji, Kabupaten Malang.

- Barat : Kecamatan Wagir dan Dau, Kabupaten Malang

Serta dikelilingi gunung Arjuno di sebelah utara, gunung Semeru di sebelah timur, gunung Kawi dan Panderman di sebelah barat, dan gunung Kelud di sebelah selatan.

2.4.1.2 Keadaan Iklim

Kondisi iklim kota Malang selama tahun 2008 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 22,7°C-25,1°C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 32,7°C dan suhu minimum 18,4°C. Rata kelembaban udara berkisar 79%-86%. Dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai 40%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau.

Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Pebruari, Nopember, Desember.

Sedangkan pada bulan Juni dan September Curah hujan relatif rendah.

Kecepatan angin maksimum terjadi di bulan Mei, September, dan Juli.

(9)

2.4.1.3 Jenis Tanah

Jenis tanah di wilayah kota Malang ada 4, antara lain : - Aluvial kelabu kehitaman dengan luas 6,930,267 Ha.

- Mediteran coklat dengan luas 1.225.160 Ha.

- Asosiasi latosol coklat kemerahan dengan luas 1.942.160 Ha.

- Asosiasi andosol coklat dan kelabu humus seluas 1.765,160 Ha

Struktur tanah pada umumnya relatif baik, tetapi yang memerlukan perhatian adalah penggunaan jenis tanah andosol yang memiliki sifat peka erosi. Jenis tanah andosol ini terdapat di Kecamatan Lowokwaru dengan relatif kemiringan sekitar 15 %, Untuk area tapak yang terletak di bantaran Kali Bango, Kecamatan Blimbing, jenis tanah relatif dominan adalah alluvial.

2.4.2 Tinjauan Non-Fisik Tapak

Tinjauan non-fisik meliputi peraturan daerah dan fungsi ruang sekitar tapak, baik dalam skala kota, maupun skala mikro.

2.4.2.1 Arahan Tata Guna dan Sirkulasi Kota

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang 2009- 2029 (lihat Lampiran 1), lokasi tapak yang teletak di Jalan L.A. Sucipto ini merupakan lokasi strategis kota yang merupakan gerbang kota dari utara dan timur. Dikatakan strategis karena lokasi ini dekat dengan terminal pusat di utara kota Malang, dan jalur utama menuju bandara Abdurrahman Saleh di timur kota. Dalam RTRW tersebut juga dikatakan bahwa kecamatan Blimbing ini (lingkaran no.3 pada gambar di bawah) merupakan kawasan pendidikan kota yang terintegrasi dengan pemukiman dan memiliki akses mudah ke wilayah lainnya dalam perimeter dan pusat kota.

(10)

Gambar 2.6 Skema Hubungan Ruang Lokasi Dalam Kota Malang Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang 2009-2029 (2009, p.4)

Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang tersebut, tersusun peta tata guna lahan dan pokok-pokok pembahasan yang mendukung pemilihan alternatif lokasi di Jalan L.A. Sucipto ini. Pada peta tata guna lahan, site diapit area kuning dan sebagian area hijau (lihat gambar peta tata guna lahan), yang merupakan lokasi pemukiman dan lahan pertanian. Secara khusus, tapak ini dilalui Kali Bango dan merupakan jalur dam Kalisari yang bermanfaat untuk irigasi dan jalur pembuangan air kota. Kondisi menjadi lebih ideal lagi karena sasaran yang ingin dicapai terdapat dalam jumlah yang memadai di lokasi ini, termasuk juga pertumbuhan jumlah sekolah dan universitas di sekitar yang melayani berbagai tingkat ekonomi sasaran.

(11)

Gambar 2.7. Peta Tata Guna Lahan Kota Malang

Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang 2009-2029 (2009, p.2)

Secara spesifik, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Malang 2007, penentuan lokasi ini, didukung dalam setiap bagiannya, meliputi unsur iklim mikro, kelompok usia, pekerjaan, sekolah, pendidikan (Universitas Brawijaya), sarana kesehatan, pembuangan, kesejahteraan sosial, dan pertanian (lihat Lampiran 1).

(12)

Gambar 2.8. Rencana Struktur Tata Ruang Kota Malang

Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang 2009-2029 (2009, p.6)

Dalam gambar di atas, pada Struktur Tata Ruang Kota, alternatif site yang dipilih termasuk dalam BWK Timur Laut, area ini diperuntukkan sebagai area pemukiman kota dan pendidikan yang juga merupakan gerbang utama kota dengan pusat BWK yang terletak di Kecamatan Blimbing, yang merupakan lokasi site terpilih. Struktur area Timur Laut ini, dengan posisinya yang cenderung ke utara juga merupakan kawasan subur dengan aliran sungai sebagai sumber pengairan dan jalur drainase yang memadai yaitu Kali Mewek di batas utara Terminal Arjosari, dan Kali Bango di batas timur yang mengalir melalui tapak terpilih (Jembatan Kalisari).

(13)

2.4.2.2 Arahan Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Sungai (GSS) Berdasarkan RTRW Kota Malang, Pakis maka arahan Garis Sempadan Bangunan pada area Jalan L.A.Sucipto adalah 10 meter dengan ketentuan perencanaan lebar jalan 20 meter. Namun berdasarkan survei tapak, ditunjukkan bahwa lebar jalan hingga tahun 2011 masih 10 meter, sehingga ditetapkan pelebaran jalan masing-masing 5 meter di kedua sisi.

Dengan menanggapi perkembangan rencana kota tersebut, ditetapkan desain tapak dengan mengambil GSB 15 meter dari tepi Jalan L.A.Sucipto saat ini (tahun 2011). Sementara itu, Garis Sempadan Bangunan dari Jalan Pemukiman Mangliwan ditetapkan 5 meter.

Sedangkan untuk Garis Sempadan Sungai, dimana yang dimaksud adalah Kali Bango tepi atas (sebelum dam Kalisari), ditetapkan untuk menjaga ruang hijau terbuka di tepi sungai minimal 15meter dari bibir sungai. Pada area ini bisa dibangun struktur non-permanen dengan persyaratan khusus.

2.4.2.3 Arahan Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

Koefisien Dasar Bangunan yang ditentukan untuk tapak adalah 50% (18.500 meter persegi jika diperhtungkan dalam luas tapak 3,7 ha), karena masih termasuk area bantaran kali.

2.4.2.4 Arahan Tinggi Lantai Bangunan (TLB)

Arahan Koefisien Lantai Bangunan untuk koridor Jalan L.A.Sucipto adalah 3 lantai, sedangkan untuk sisi Jalan Pemukiman Mangliwan adalah 2 lantai.

2.4.2.5 Fungsi Ruang Sekitar Tapak

Lokasi tapak yang diambil tepatnya berada di Jalan Laksamana Adi Sucipto, kecamatan Blimbing, kota Malang. Tapak ini berada di sisi utara kota Malang yang dikenal subur dan dekat dengan pusat edukasi serta pemukiman di tepian kota (http://en.wikipedia.org/wiki/Malang).

(14)

Gambar 2.9. Lokasi Tapak Di Sekitar Pemukiman dan Pertanian Sumber: http://www.panoramio.com

(15)

Gambar 2.10. Pemetaan Lokasi – Edge, Pathway, Node, District

Dengan demikian, dasar pertimbangan lokasi dapat dirangkum dalam poin- poin sebagai berikut:

a. Lokasi sesuai dengan kondisi iklim dan tanah yang dibutuhkan.

b. Lokasi strategis pendidikan sesuai RTRW Kota Malang 2009-2029.

c. Lokasi memadai dengan pemukiman, pendidikan, dan pertanian.

d. Lokasi di jalan utama memudahkan transportasi intra dan antarkota.

e. Lokasi dekat dengan terminal dan bandara yang menghubungkan sasaran dari jarak yang jauh di luar wilayah kota Malang.

f. Lokasi dekat dengan area wisata dan perekonomian lokal.

g. Lokasi memiliki jaringan infrastruktur yang baik, meliputi jalan aspal, listrik, air, telepon, saluran pembuangan, dll.

h. Lokasi berupa lahan kosong berkontur landai yang dialiri sungai.

i. Lokasi merupakan lahan milik pemerintah, sehingga sejalan dengan tujuan fasilitas yang juga menyangkut kepentingan pemerintah kota.

j. Sasaran yang terlingkupi lebih tepat dan variatif segala usia.

(16)

2.5. Pencapaian Tapak

Tapak memiliki dua pencapaian dengan pola sirkulasi yang beranjak dari akses entrance tapak yang dianalisakan sebagai berikut:

Gambar 2.11. Pencapaian Lokasi Tapak oleh Pengunjung & Servis

(17)

Gambar 2.12. Analisa Pencapaian Lokasi Tapak dan Sirkulasi

Dari analisa dibutuhkan dua titik pencapaian yaitu melalui Jalan L.A.Sucipto dan Pemukiman Mangliwan, karena pertimbangan yang lebih baik untuk kebutuhan sirkulasi internal fungsi fasilitas.

Tapak berada di tepi jalan raya utama kota yaitu Jl. L.A.Sucipto, bisa dilalui berbagai sarana transportasi darat: mobil, motor, sepeda, angkot, bus, truk, dll. Posisi di tepian kota berjarak 6km dengan pusat kota (10-15 menit).

(18)

Gambar 2.13. Pencapaian Utama Jl. L.A. Sucipto Dalam Hubungannya Dengan Fungsi Sekitar

Akses entrance utama menangkap view dari jalan dengan posisi tapak yang terbuka di barat karena keberadaan lahan kosong dan kontur yang menurun ke arah sungai. Dari sudut pandang ini, arah kendaraan datang paling banyak karena merupakan satu-satunya jalan dari pusat kota menuju tapak, begitu juga dengan sasaran pendatang dari luar kota seperti Surabaya juga melalui pencapaian dari barat. Arah sirkulasi masuk tapak yang memutar karena perbedaan 3m dengan ketinggian jalan, menjadi nilai lebih untuk menciptakan sequence sebelum memasuki lokasi tapak

Melalui jalan utama yang ini, lokasi berada dekat dan bisa diakses langsung dari dan menuju terminal bus Arjosari kota Malang (+/- 2km) dan bandara Abdurrahman Saleh kota Malang (+/- 5km), juga sangat dekat dengan wahana wisata Wendit. Hal ini memunculkan pencapaian yang sangat beragam baik dari luar kota, hingga juga memperhatikan pedestrian yang cukup bagi pejalan kaki untuk warga lokal sekitarnya berupa trotoar berpaving 1-2m yang diteduhi pepohonan.

(19)

Gambar 2.14. Sirkulasi Utama Jl. L.A. Sucipto Saat Pagi dan Petang Sumber: dokumentasi pribadi; http://www.panoramio.com

Gambar 2.15. Sirkulasi Pedestrian Jl. L.A. Sucipto Sumber: dokumentasi pribadi

Tapak juga memiliki pencapaian sekunder yaitu melalui Jl. Raya Mangliwan, yang terletak di timur tapak. Pencapaian ini penting untuk kebutuhan servis, serta jalur masuk karyawan yang banyak diupayakan dan dibutuhkan untuk tenaga pendukung dalam fasilitas. Dengan akses ini juga berusaha memanfaatkan potensi lokal dengan kemampuan masyarakat sekitar yang bekerja di bidang pertanian dan kebun. Akses ini juga menjadi jalur masuk pengelola karena selain

(20)

tidak mengganggu jalur pengunjung dari Jalan L.A.Sucipto, juga lebih privat dan dekat akses karyawan.

Gambar 2.16. Jalur Sirkulasi Kendaraan & Pedestrian Jl. Pemukiman Mangliwan Sumber: dokumentasi pribadi; http://www.panoramio.com

Salah satu yang paling utama dalam desain pencapaian adalah penentuan titik tangkap yang menjadi penanda entrance utama. Desain pencapaian tapak berkaitan langsung dengan tanggapan terhadap bentuk tapak dan sirkulasi yang dihasilkan dari pola-pola visual dan jalan yang ada.

Gambar 2.17. Titik Tangkap, Pencapaian, dan Pola Sirkulasi Entrance

(21)

2.6. Pendaerahan Tapak Berdasarkan Kondisi Lingkungan

Pendaerahan mencakup zoning dalam lingkup area pada tapak. Ini berhubungan erat nantinya pada penataan zoning massa dan ruang luar, serta orientasi di dalam desain dan dengan lingkungan sekitar.

2.6.1. Pendaerahan Berdasarkan Pengindraan Lingkungan

Pendaerahan (zoning area) ini menyangkut manusia dan tanggapan terhadap tapak. Hubungan fungsi fasilitas dan tapak yang berada pada area tepian kota mempengaruhi pengindraan audio-visual: view dan kebisingan. Kedua tolok ukur ini bermanfaat untuk peletakan tanaman greenhouse dan area edukasi yang dipengaruhi tingkat kebisingan suara, serta sebagai dasar pengambilan spot massa-massa utama dan pemanfaatan view terbaik di dalam dan luar tapak.

Gambar 2.18. Skema Perspektif Pengaruh View dan Sumber Kebisingan

Pendaerahan berdasarkan pengindraan lingkungan yang terlihat pada gambar di atas membentuk zona-zona yang berpengaruh pada tapak. Jika memperhatikan analisa berdasarkan view ke dalam tapak (biru), didapatkan zoning area yang sesuai untuk titik tangkap desain. Sementara untuk analisa

(22)

zoning view ke luar tapak (hijau) diperoleh area-area dalam tapak untuk view rekreasi ke arah sungai dan view taman publik ke arah dam dan jalan.

Gambar 2.19. Skema Zoning View ke Dalam dan ke Luar Tapak

Gambar 2.20. Skema Zoning Area Kebisingan

(23)

Pendaerahan berdasarkan pengindraan suara (kebisingan) berpengaruh pada penataan lokasi penelitian tanaman, dimana ada yang membutuhkan elemen akustik untuk melihat pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, sehingga semakin ke belakang tapak, suasana ruang semakin bisa dibentuk tanpa terpengaruh keramaian jalan utamanya.

2.6.2. Pendaerahan Berdasarkan Iklim dan Vegetasi

Pendaerahan (zoning area) ini menyangkut fungsi fasilitas dengan kondisi alam yang ada. Fungsi yang erat dengan vegetasi dan tapak yang berada di pengunungan saling berkaitan dalam nature environment-nya. Iklim dan vegetasi bermanfaat dalam zoning lokasi greenhouse, pengolahan shading dan barrier line, serta pemanfaatan lahan lokal.

Gambar 2.21. Data Iklim Kota Malang

Sumber: http://www.gaisma.com/en/location/malang.html

Pendaerahan berdasarkan posisi matahari ini mendapatkan hasil bahwa titik kontur tertinggi (kontur/zoning tengah) merupakan area yang paling cocok untuk kebun dan greenhouse Karen terhindar dari pembayangan saat bulan tertentu, terlebih lagi dipastikan posisinya bisa lebih tinggi dari bangunan sekitar.

Posisi ini juga efektif secara fungsi lahan sebelumnya, dari analisa vegetasi, yang memang berfungsi untuk lahan pertanian dan kebun, sehingga tidak mengubah tanah secara berlebihan.

(24)

Gambar 2.22. Skema Analisa Zoning Berdasarkan Posisi Matahari

Gambar 2.23. Skema Analisa Zoning Berdasarkan Vegetasi Sekitar

(25)

2.6.3. Pendaerahan Berdasarkan Fungsionalitas Tapak/Lingkungan

Pendaerahan (zoning area) tapak ini terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu zoning dasar berdasarkan kesimpulan dari pendaerahan berdasarkan sifat area

pada lingkungan tapak; zoning fasilitas merupakan pendaerahan lebuh mendetil berdasarkan jenis sarana/fasilitas ruang yang ada dalam eduwisata; dan terakhir, zoning ruang aktivitas berdasarkan tipikal pengguna yang dimaksudkan penting dalam sasaran edukasi, konsep edukasi alam, dan pendekatan perilaku.

Gambar 2.24. Skema Zoning Area Dasar dan Fasilitas

Pendaerahan (zoning area) yang mendasar menunjukkan sifat-sifat area berdasarkan pengaruh view, keterbukaan tapak dan akses yang mempengaruhi fungsi fasilitas yang akan diletakkan dalam tiap area tersebut. Hal ini dijabarkan sebagai berikut:

- Zona Publik merupakan area yang sangat terbuka baik dari jalan utama (karena posisinya yang lebih rendah dari jalan dan menarik perhatian), serta keterbukaan dari sungai yang mana menjadi special spot sehingga berpotensi sebagai area komunal publik.

(26)

- Zona Semi Privat, terbentuk karena lingkungannya yang lebih tertutup, jauh dari keramaian, terletak di kontur paling tinggi yang secara akses lebih sulit dicapai.

Ini menjadikannya lebih eksklusif yang berpotensi untuk area edukasi utama, yang dikhususkan utama bagi pelajar, ahli dan kepentingan kebun atau penelitian lainnya.

- Zona Semi Publik, terbentuk dari lingkungan yang menarik publik dan view luar- dalam karena berada di tepian sungai, khususnya pada spot lekukan sungai yang menarik view 180 derajat. Hal ini, sesuai karakter areanya, cocok untuk area rekreasi.

Gambar 2.25. Skema Zoning Area Ruang Aktivitas Berdasarkan Tipe Sasaran

Pendaerahan (zoning area) kemudian ditinjau lebih lanjut dengan sasaran yang beragam menghasilkan 1 zona umum sebagai penerima, dan 3 zona usia (lihat Gambar 2.25).

- Zona area keluarga (biru) diletakkan di area rekreasi sesuai fungsi dan potensi aktivitas bersamanya;

(27)

- Zona area anak-anak (hijau) diletakkan di tengah karena erat dengan fungsi rekreasi, pengawasan yang terkontrol, serta kontur yang cenderung datar (alasan safety);

- Zona area remaja (kuning) yang lebih ke arah penelitian membutuhkan area lebih privat dan dekat dengan servis agar lebih efektif, sehingga diletakkan di timur tapak yang dekat jalur entrance sekunder.

2.7. Program Vegetasi: Jenis dan Penempatannya

Fasilitas sangat tergantung pada jenis tanaman yang ada, sebagaimana fungsinya yang terkait pertanian dan hortikultura, khususnya tanaman pangan dan herbal. Terpilih 63 jenis tanaman, 6 diantaranya tanaman pangan pokok, dan 57 lainnya jenis tanaman herbal serta pangan non-pokok. Materi edukasi dibatasi pada 3 jenis tanaman pokok dan 36 jenis tanaman herbal, sehingga ada total 39 jenis yang bisa dipraktikkan secara pembibitan hingga demo pengolahannya, sedangkan sisanya sebagai pengenalan tanaman terbatas dan pengisi area landscape. Komoditas yang diunggulkan adalah lokal, yaitu ubi kayu untuk pangan pokok, dan rosella untuk tanaman herbal.

Berdasarkan batasan proyek terhadap tanaman hortikultura yang ada, maka disusun program kebutuhan jenis tanaman yang disesuaikan sebagai berikut:

2.7.1. Pengelompokan Tanaman Pangan (Pokok)

Tabel 2.1. Daftar Tanaman Pangan Pokok

NO. Nama Tanaman NO. Nama Tanaman

1 Singkong (Manihot esculenta) 4 Kentang (Solanum tuberosum)

2 Aren (Arrenge pinnata)

- juga sebagai tanaman obat 5 Jagung (Zea mays)

3 Ubi Jalar (Ipomoea batatas) 6 Padi (Oryza sativa) - memanfaatkan tapak lokal

Pengelompokan tanaman pangan dibagi berdasarkan pemanfaatan kebun yang ada. Karena bersifat musiman, selain memanfaatkan sawah dan ladang lokal,

(28)

Tanaman yang dijadikan bahan edukasi utama pembibitan dan penanaman adalah singkong, aren, dan ubi jalar karena bisa diterapkan dengan baik di sekitar tapak, merupakan komoditas utama eksisting, dan mudah diterapkan sasaran pada lahan yang terbatas. Sedangkan yang lainnya lebih untuk variasi pengenalan jenis pangan pokok karena memerlukan lahan yang luas untuk penerapannya.

2.7.2. Indikator Pengelompokan Tanaman Obat

Tabel 2.2. Indikator Pengelompokan Tanaman Obat

Jenis Tanaman Pohon >10m Pohon 5-10m Perdu 1,5-5m Perdu 0,5-1,5m Tanaman Air

Kode (JT) A B C D E

Kebutuhan Matahari Tinggi Sedang Rendah

Kode (KM) A B C

Kebutuhan Air Tinggi Sedang Rendah

Kode (KA) A B C

Media Tanam Tanah Pupuk+Sekam Air

Kode (MT) X Y Z

Perbanyakan Biji Batang Tunas/Akar Stek Cangkok

Kode (P) 1 2 3 4 5

Penjelasan penanganan kebutuhan matahari dan air dalam Lampiran 2

2.7.3. Pengelompokan Tanaman Obat

Pengelompokan tanaman obat dibagi berdasarkan pemanfaatan kebun yang ada. Tidak semua untuk kepentingan edukasi utama, namun sebagian untuk pengisi landscape yang fungsional di dalam tapak serta untuk kepetingan pengenalan variasinya. Yang dijadikan bahan edukasi pembibitan dan penanaman dominan adalah tanaman obat yang termasuk penggolongan (JT): D dan E. Selain itu, semua tanaman lainnya tetap bisa dimanfaatkan hasilnya untuk bahan edukasi pengolahan dan pengenalan, yaitu penggolongan (JT) A, B, C, D, dan E.

(29)

Tabel 2.3. Daftar Tanaman Pangan Herbal

NO Nama Tanaman Nama Latin JT KM KA MT P Manfaat

1 Cemara Kipas Thuja orientalis A A C X 1|5

Daun: asma, infeksi kulit, batuk dan desentri.

2 Yang Liu Salix babylonica A A C X 4 Daun: obat antiseptik 3 Beringin Ficus benjamina A A C X 1|5 Daun: reducer polusi

4 Bungur Lagerstroemia

indica A A C X 1|4

Biji: obat hipertensi;

Kulit kayu: diare &

kencing darah;

Daun: diabetes, kencing batu &

hipertensi

5 Anyang-anyang Elaeocarpus

grandiflorus A A B X 1|5

Buah & daun:

demam & radang ginjal

6 Kanon Couroupita

guianensis A A B X 1 Bunga, batang, buah:

antibiotik

JT KM KA MT P

7 Kenanga Canangium

odoratum B A A X 1|4 Bunga: obat haid

8 African Spiral Flag Costus

lucanusianus B A A Y 3|4 Daun: obat malaria, diare, dan rematik

9 Crepe Ginger Costus speciosus B A A Y 3|4

Akar: obat diare ,konstipasi, dan vertigo

10 Trengguli Cassis fistula B A B X 1

Buah: obat demam, syaraf, pendarahan &

sakit lambung

11 Nam Nam Hutan Cynometra

ramiflora B A B X 1|5 Daun & akar:

penyakit kulit

12 Turi Sesbania

grandiflora B A B X 1|5

Batang & daun: cacar air, demam, pusing, sinusitis

JT KM KA MT P

(30)

13 Wijaya Kusuma Epiphyllum

oxypetalum C B B Y 3|4

Bunga & batang:

obat batuk, TBC, luka luar, dan radang lambung

14 Kembang Sepatu Hibiscus sp. C A A X 1|4 Daun & bunga: obat penyegar

15 Semak Api Hamelia patens C A B X 1|4

Daun & batang:

penyakit kulit &

desinfektan

16 Mangkokan Nothopanax

scutellarium C A B X 1|4

Daun: pelancar urine, obat bengkak dan kerontokan

17 Ubi Kates Ipomoea cairica C A B X 1|4 Daun: pelancar urine, obat antiradang

18 Yellow Bauhinia Bauhinia

tomentosa C A B Y 1|5 Daun: obat demam &

diare

19 Amargo Quassia amara C A B Y 4|5

Daun: obat cacing, demam, hepatitis, malaria

20 Widuri Calotropis

gigantea C A B Y 1|4 Daun: obat kudis &

batuk

21 Bunga Matahari

(sifat gulma) Helianthus anuus C A B X 1 Biji: sumber karbohidrat, protein

JT KM KA MT P

22 Anting Putri Wrightia religiosa D A A X 1|5 Akar: penyakit kulit

23 Azalea Rhodendron

mucronatum D A B Y 1|4 Bunga: obat demam

24 Bakung Harum Crinum asiaticum D A B Y 1 Daun & umbi: obat antidepresi

25 Begonia Begonia sp. D A B Y 1|4

Daun, batang, bunga:

obat batuk, demam, pembersih darah, lalapan

26 Kucai Jepang Ophiopogon

japonicus D B B X 3

Akar: obat panas dalam, batuk, konstipasi

(31)

27 Krisan Chrysanthemum

grandiflora D A B Y 1|4

Bunga: reducer polusi & teh panas dalam

28 Mirambos Merah Hibiscus radiatus D A B X 1|4 Daun: obat ginjal &

mual

29 Tapak Dara Vinca rosea D B B X 1|4 Daun: obat diabetes

& kanker

30 Philodendron Philodendron sp. D B B X 1|5 Daun: reducer polusi

31 Lidah Buaya Aloe vera D A C Y 1|2

Daun: obat luka bakar, panas dlm, antiseptik, dan penyubur rambut

32 Dahlia Dahlia variabilis D A B Y 3

Umbi: sumber karbohidrat dan glukosa

33 Landik Barleria lupurina D A B Y 4

Daun: obat penawar gigitan ular dan anjing, rematik, kudis, dan bengkak.

34 Lavender Lavandula

angustifolia D A B Y 1|4

Bunga: obat antinyamuk, the dan aromaterapi

35 Nasturtium Tropaeolum majus D A B Y 1

Bunga: obat penyakit kulit, infeksi saluran kencing & flu

36 Jahe Zingiber officinale D A B Y 3 Umbi: penghangat badan

37 Kunyit

(Temulawak) Curcuma longa D A B Y 3

Umbi: obat sendi, rematik, regenerasi sel, suplemen makanan

38 Kencur Kaempferia

galanga D A B Y 3 Umbi: obat rematik, haid, dan suplemen

39 Purple Coneflower Echinacea

purpurea D A B Y 1|2

Biji dan daun: obat imun, antiseptik, demam, sakit gigi, herpes, kanker &

(32)

AIDS

40 Rosella Hibiscus

sabdariffa D A B X 1|4

Kelopak & buah:

obat kanker, hipertensi, batu ginjal, asam urat, dan bahan makanan

41 Sleepy Mallow Malvaviscus

arboreus D A B Y 1|4

Bunga & daun:

antiseptik, disentri, gonorrhea

42 Pettigree Ruscus aculeatus D B B Y 1|3

Daun: memperlancar peredaran darah, obat anemia, varises

43 Jangkang Homalocladium

platycladum D A B Y 3|4 Daun: obat gigitan ular, dan memar

44 Rumput Palem Curculigo

capitulate D C B Y 1|3

Umbi: obat sakit perut dan penyakit mata

45 Ajuga Ajuga reptans D B B Y 1|4 Daun: obat batuk dan abses

46 Blue Eyes Evolvulus

alsinoides D A B Y 1|4

Daun: asma &

bronchitis, insomnia, dan meningkatkan daya ingat

47 Jarak Hias Jatropha

podagrica D A B Y 1 Getah: antiseptik

48 Kembang Bugang Clerodendron

calamitosum D A B Y 1|4 Daun: demam, wasir, batu ginjal, bisul

49 Kumis Kucing Orthosiphon

aristatus D A B Y 1|4

Daun: rematik, hipertensi, batu ginjal, haid

50 Mirten Malpighia

coccigera D A B Y 1|4

Daun & akar:

rematik, panas dalam, hepatitis

51 Snowflake Wrightia

antidysenterica D A B Y 1|5 Batang: luka bakar, sariawan, antiseptik

(33)

52 Sambang Darah Excoecaria

cochinchinensis D A B Y 1|4

Daun, batang, akar:

disentri, penyakit kulit & pendarahan

53 Wungu Graptophyllum

phuket D A B Y 4 Daun: obat wasir &

borok

54 Bunga Balon Platycodon

grandiflorus D A B Y 1|4

Akar: obat pilek, asma, batuk, bronchitis

JT KM KA MT P

55 Lotus Nelumbo nucifera E A A Z 1|2

Biji & daun: obat kolera, demam, diare, syphiis

56 Typha Typha latifolia E A A Z 1|2

Akar, batang, daun:

obat batu ginjal, kanker, pendarahan, bahan dasar tepung

57 Apu-Apu

(Water Lettuce) Pistia crispate E A A Z 1|2 Daun: obat batuk &

demam Sumber: Limin (2009, n.p.)

2.7.4. Zona Vegetasi Pada Tapak

Pengelompokan tanaman dibagi berdasarkan kebutuhan matahari, air dan jenis media tanamnya, seperti yang terlihat pada pembagian berikut ini:

Gambar 2.26. Pembagian Tanaman Berdasarkan Matahari, Air, Media Tanam

(34)

Sementara, pembagian tanaman juga disesuaikan karakter tanaman yang disesuaikan pada tiap sasaran kelompok usia, sehingga menjadi seperti berikut:

Gambar 2.27. Susunan Pembagian Zona Vegetasi Berdasarkan Karakter Pengguna Sumber: Limin (2009, n.p.)

(35)

2.8. Pola Penataan Massa dan Ruang Luar Pada Tapak

Penataan dalam proses desain dimulai dengan menentukan sumbu-sumbu yang membentuk pola dari figure ground dan kontur tapak. Terdapat 3 garis maya yang terbentuk dari pola grid pemukiman, pola grid sawah, dan garis ekuivalen bantaran sungai. Pola ini akhirnya melahirkan orientasi yang membuka ke sawah lokal, dan mengantarkan pada gradien massa dan ruang luar dalam tapak. Hasil dari pengolahan tapak ini akhirnya diharapkan bisa menyatukan desain dengan lingkungan sekitar, sesuai unsur konsep yang membaur dan bermain dengan alam, yang dimaksud disini sebagai keberadaan sungai, sawah dan pemukiman lokal.

Gambar 2.28. Skema Pola Axis dan Gradient Pada Tapak

Selanjutnya, memperhatikan sirkulasi yang ada dan tatanan gradien serta axis, didapatkan titik penting pada desain, yang menjadi orientasi, titik tangkap, dan membentuk tatanan massa serta ruang luar yang saling mengimbangi satu sama lain. Tatanan ini membentuk dua ruang luar utama yaitu area edukasi- rekreasi dan area ruang luar publik, dengan massa-massa linear sebagai barrier ruangnya. Ini dibentuk sesuai konsep, dimana nantinya akan ada diciptakan karakter area edukasi-rekreasi yang benar-benar terorientasi ke lingkungan, dengan vista, orientasi dan linkage menuju sawah lokal serta view sungai, tanpa terganggu aktivitas jalan yang ramai pada ruang terbuka publik.

(36)

Gambar 2.29. Skema Pola Axis Dalam Hubungannya Pada Sirkulasi dan Orientasi

Gambar 2.30. Skema Area, Penempatan Massa dan Ruang Luar

(37)

Gambar 2.31. Penataan Pola Tapak Zona Publik Utama

Gambar 2.32. Penataan Pola Tapak Zona Rekreasi Keluarga

(38)

Gambar 2.33. Penataan Pola Tapak Zona Edukasi Remaja

Gambar 2.34. Penataan Pola Tapak Zona Edukasi Anak-Anak

(39)

Pola tatanan ruang luar berangkat dari alam dan pada akhirnya membentuk tatanan dan bentukan massa. Ini dibutuhkan untuk mencapai kedekatan dengan lingkungan, memanfaatkan potensi lokal yang sangat potensial. Gradasi dengan sawah lokal di utara, beranjak pada kebun dalam tapak, area edukasi/rekreasi, hingga massa-massa bangunan terpapar dalam penjelasan berikut:

Gambar 2.35. Skema Proses Olah Landscape

(40)

Gambar 2.36. Skema Proses Penataan Area Kebun Terbuka

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pengawasan Komoditi Karantina Pertanian melalui Impor, Ekspor, Domestik Masuk maupun Domestik Keluar terhadap media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK)

Tingkat kemahalan harga saham berdasarkan PER perusahaan yang melakukan stock split tidak berbeda dengan tingkat kemahalan harga saham berdasarkan PER perusahaan

Berdasarkan Permendagri 86 Tahun 2017 tentang tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan

Hasil analisa logam Fe dan Cu yang terdapat di dalam air sungai Siak sebelum dan setelah disaring dengan membran hibrid PMMA/TEOT pada setiap variasi tekanan dapat

penjajahan bangsa Eropa, serta strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20

Hubungan antara proses pembentukan istilah terhadap teknik penerjemahan dan kualitas terjemahannya adalah, untuk semua teknik yang digunakan dalam membentuk istilah

Selama mengidap penyakit bipolar disorder yayuk sunarsih telah menjalani berbagai pengobatan baik secara medis maupun secara non medis oleh keluarga dan suaminya, beberapa

tekanan untuk melakukan kecurangan dan manipulasi laporan keuangan ketika.. 12 stabilitas keuangan dan profitabilitas perusahaannya terancam kondisi ekonomi, industri, dan