16 III. METODE PENELITIAN
3.1. Penentuan Waktu dan Lokasi
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2018 hingga 20 Februari 2018. Penelitian ini berlokasi di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati dengan pertimbangan bahwa Desa Bageng merupakan salah satu desa yang membudidayakan tanaman kopi dan terdapat satu kelompok tani yang menjalankan program pemerintah BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) berupa program Kebun Bibit Rakyat (KBR).
3.2. Jenis dan Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif serta menggunakan metode survei. Deskriptif kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuanitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2010). Metode survei adalah sebuah teknik penelitian yang dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap suatu gejala atau pengumpulan informasi melalui pedoman wawancara, kuesioner, kuesioner terkirim atau survei melalui telepon (Slamet, 2006).
3.3. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, catatan peneliti, dan observasi, meliputi: data umum responden (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaaan, pendapatan, frekuensi pengawasan), data informasi umum responden (kinerja, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan). Data Sekunder yang merupakan data pendukung diperoleh dari buku, jurnal yang telah diteliti orang lain sebelumnya untuk mendukung penelitian ini.
3.4. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan menggunakan metode purposive sampling dengan mengambil 31 sampel petani. Pengambilan sampel dalam penelitian ini atas dasar 31 petani adalah para perani yang terlibat dalam program KBR. Metode purposive
17 sampling adalah pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu atau dilakukan karena beberapa pertimbangan (Arikunto,2006). Pertimbangan dalam pengambilan sampel dilakukan atas dasar pelaksana program KBR sejumlah 31 petani.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancarastruktural berdasarkan kuesioner yang disiapkan. Wawancara secara langsungterhadap pengelola dari kelompok tani Karya Utama Bageng yang terlibat dalam kegiatanKBR di lapangan. Sedangkan untuk kuesioner ditujukan untuk seluruh anggota kelompok tani Karya Utama yang menjalankan program KBR.
3.6. Pengukuran Variabel dan Definisi Operasional 3.6.1. Teknik Pengukuran Variabel
Variabel yang ingin diteliti dalam penelitian ini dilihat dari fungsi manajemen, meliputi: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (controlling) dengan kinerja petani melalui program Kebun Bibit Rakyat (KBR). Metode penilaian yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Menurut Sugiyono (2010), Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata atau jawaban. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban tersebut dapat diberi skor, misalnya:
1. Sangat tidak setuju = 1 2. Tidak Setuju = 2
3. Netral = 3
4. Setuju = 4
18 3.6.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional ini akan memberikan batasan, ciri atau indikator suatu variabel dengan merinci hal-hal yang harus dikerjakan oleh peneliti untuk mengukur variabel tersebut.
Tabel 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
No Variabel Definisi Operasional Indikator Pengukuran
1 Kinerja Petani (Y)
Menurut Mangkunegara (2005) kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
1. Kuantitas bibit sengon yang hidup
2. Kuantitas bibit kopi yang hidup 3. Kualitas bibit sengon 4. Kualitas bibit kopi 5. Perencanaan program 6. Pelaksanaan program 7. Penyerahan hasil laporan akhir 8. Tercapainya visi dan misi Skala likert (1-5) 2 Perencanaan (planning) (X1) Heidjrachman didalam Sadjiman (2007): Perencanaan ialah pengambilan keputusan tentang apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, kapan mengerjakannya, siapa yang akan mengerjakannya, dan bagaimana mengukur keberhasilan pelaksanaannya. 1. Penyusunan RUKK (Rencana Usulan Kegiatan kelompok) 2. Fasilitas 3. Ketersediaan sarana dan prasarana 4. Sosialisasi Skala likert (1-5) 3 Pengorganisasian (organizing) (X2) Hasibuan (2004) Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan,
pengelompokan, dan pengaturan bermacam macam aktifivitas yang
1. Susunan
kelompok kerja 2. Pertemuan/rapat 3. Memiliki aturan dan norma yang ditaati bersama 4. Memiliki
Skala likert (1-5)
19 diperlukan untuk
mencapai tujuan, menempatkan orang orang pada setiap aktivitas ini,
menyediakan alat-alat yang
diperlukan,menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitastersebut. pencatatan / pengadministras ian organisasi yang rapi 5 Pelaksanaan (actuating) (X3) Menurut Terry (2010). Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama. 1. Realisasi penanaman 2. Kepemimpinan 3. Komunikasi 4. Pelaporan kemajuan kegiatan Skala likert (1-5) 5 Pengawasan (controlling)(X4) Menurut Siagian (2004), pengawasan adalah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. 1. Monitoring 2. Evaluasi 3. Respon terhadap frekuensi jadwal 4. Respon terhadap pengendalian Skala likert (1-5)
3.7. Teknik Analisis Data
Setelah data dari responden dan sumber lain terkumpul maka, langkah selanjutnya ialah dilakukan analisis data. Analisis data ialah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan. Dalam penelitian ini, analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:
20 3.7.1. Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif menurut Nazir (dalam Amrilla dan Nurmalina, 2011) adalah suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari metode analisis deskriptif ialah untuk menguraikan tentang karakteristik suatu keadaan.
3.7.2. Uji Validitas dan Reliabilitas 3.7.2.1. Uji Validitas
Validitas menurut Sugiyono (2010) adalah derajat ketetapan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh penelitian. Dengan demikian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitain. Uji validitas instrument dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang telah dirancang dalam bentuk kuesioner benar-benar dapat menjalankan fungsinya.
Menurut Sugiyono (2010) keputusan uji validitas adalah :
Bila rhitung lebih besar dari rtabel artinya variabel tersebut valid Bila rhitung lebih kecil dari rtabel artinya variabel tersebut tidak valid. 3.7.2.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas merupakan suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat ukur dalam mengukur gejala yang sama. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten (Umar, 2003). Sehingga reliabilitas ialah istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran dilakukan dua kali atau lebih (Singarimbuan dan Effendi, 1989).
Pengujian ini merupakan pengujian statistik yang relevan untuk mengukur sejauh mana kehandalan atau konsistensi internal dari sebuah intrumen penelitian. Uji reliabilitas ini menggunakan teknik analisis Cronbach’s Alpha dengan bantuan software SPSS 16.0. Tujuannya adalah untuk memberikan jaminan bahwa data yang diperoleh telah memenuhi kriteria untuk diuji dengan menggunakan berbagai jenis metode statistik yang ada. Untuk mengukur relibilitas
21
digunakan uji statistik Cronbach Alpha. Jika nilai realibilitas alpha > 0,60 maka dikatakan reliabel (Kaplan dan Saccuzo dalam Siregar, 2013).
3.7.3. Uji Asumsi Klasik 3.7.3.1. Uji Normalitas
Uji normalitas menurut Umar (2011), bertujuan untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen ataupun keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau tidak. Model regresi yang baik hendakanya berdistribusi normal atau mendekati normal. Deteksi normalitas data dapat dilakukan dengan menggambarkan penyebaran data melalui sebuah grafik yaitu P-P Plot. Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji secara statistic menggunakan software SPSS 16.0 for windows dengan metode Kolmogorov Smirnov. Dengan dasar pengambilan keputusan untuk menentukan data dikatakan terdistribusi secara normal atau data dikatakan lolos uji normalitas menurut Lufitasari (2014) ialah jika nilai dari asymp. Sig (2-tailed) variabel residual ialah > 0.05 atau > 5%. 3.7.3.2. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (t-1). Apabila terjadi korelasi maka haltersebut menunjukkan adanya masalah autokorelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin-Watson. Untuk menentukan nilai dL dan dU dengan melihat tabel Durbin-Watson, pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05), Keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:
a. Bila nilai DW berada diantara dU sampai dengan 4 – dU, koefisien korelasi sama dengan nol. Artinya, tidak terjadi autokorelasi.
b. Bila nilai DW lebih kecil daripada nilai dL, koefisien korelasi lebih besar daripada nol. Artinya, terjadi autokorelasi positif.
c. Bila nilai DW lebih besar daripada nilai 4 – dL, koefisien korelasi lebih kecil dari pada nol. Artinya , terjadi autokerelasi negatif.
d. Bila nilai DW terletak diantara dL dan du, atau 4 – dU dan 4 – dL, hasilnya tidak dapat disimpulkan (Sarjono dan Winda 2013).
22 3.7.3.3. Uji Multikolinearitas
Uji multikolineritas bertujuan mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (bebas), dalam model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen, jika terjadi korelasi antar variabel independen maka variabel-variabel tersebut tidak orthogonal. Variabel orthogonal merupakan variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas = 0. Dalam model regresi salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan multikolineritas ialah dengan melihat nilai dari Variance Inflation Faktor (VIF), serta nilai Tolerance. Ghozali (2009) mengatakan bahwa, cara mendeteksi keberadaan multikolineritas dalam model regresi ialah sebagai berikut :
1. Besarnya Variabel Inflation Faktor (VIF), pedoman suatu model regresi yang tidak bebas multikolineritas (terdapat multikolineritas) yaitu nilai VIF > 10. 2. Besarnya Tolerance pedoman suatu model regresi yang tidak bebas
multikolineritas (terdapat multikolineritas) yaitu nilai Tolerance < 0,10. 3.7.3.4. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pangamatan lain (Umar, 2011). Cara yang digunakan untuk mendeteksi terjadinya heteroskedastisitas ialah dengan melihat antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID) pada grafik scatter plot. Dasar dalam melakukan analisis (Ghozali, 2009) ialah:
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik yang ada menyebar diatas dan dibawah adalah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak ada heteroskedastisitas. 3.7.4. Uji Regresi Linear Berganda
Analisis linier berganda digunakan sebagai alat analisis statistik karena penelitian ini di rancang untuk meneliti variabel-variabel yang berpengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Secara umum perumusan model regresi yang digunakan dalam penelitian adalah:
23 Y = a + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4+ e
Keterangan: Y= Kinerja Petani a = Konstanta
β = Koefisien Regresi Variabel X1 = Perencanaan
X2 = Pengorganisasian X3 = Pelaksanaan X4 = Pengawasan
e = Kesalahan Estimasi Standar 3.7.4.1. Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Tingkat signifikansi untuk uji F pada penelitian ini adalah pada tingkat kepercayaan 95% atau taraf uji α= 0,05. Adapun model hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H0 = variabel independent secara bersama-sama tidak berpengaruh secara nyata terhadap kinerja petani.
H1 = variabel independent secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap kinerja petani.
Dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:Jika Fhitung< Ftabel atau jika signifikansi > 0,05 maka H0 di terima dan H1 ditolak artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika Fhitung> Ftabel atau jika signifikansi < 0,05 maka H1 diterima dan H0 di tolak artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.
3.7.4.2. Uji t
Uji signifikansi parameter individual (uji statistik t) digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2006). Pengujian keberartian variabel bebas secara individu digunakan uji t dengan tingkat kepercayaan 95% atau taraf uji α=0,05 yaitu dengan membandingkan antara t hitung dengan t tabel dengan pengujian hipotesis seperti berikut ini:
24 H0 = variabel independent secara individu tidak berpengaruh secara nyata
terhadapkinerja petani.
H1 = variabel independent secara individu berpengaruh nyata terhadap kinerja petani.
Dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut: Jika t hitung < t tabel, maka H0 diterima dan H1 di tolak artinya variabel bebas secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Jika t hitung > t tabel, H1 diterima dan H0 ditolak maka variabel bebas secara individu berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.
3.7.4.3. Koefisien Determinasi (R2)
Menurut Ghozali (2012) koefisien determinasi (R2) merupakan alat untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol atau satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Sebaliknya jika nilai yang mendekati 1 berarti variabel variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel – variabel dependen.