• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PRODUKSI DAN KONSUMSI DALAM AL-QUR AN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSEP PRODUKSI DAN KONSUMSI DALAM AL-QUR AN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PRODUKSI DAN KONSUMSI DALAM AL-QUR’AN

Mujetaba Mustafa

Abstrak Produksi dan konsumsi adalah dua prilaku ekonomi yang akan terus berjalan

menyertai perkembangan prilaku ekonomi dunia. Kedua prilaku tersebut terbuka untuk berasimilasi dengan dengan berbagai sumber nilai dalam tataran implementasinya. Di antara nilai yang harus disentuhkan dengan prilaku ekonomi tersebut adalah nilai-nilai al-Qur‟an. Sebagai sumber ajaran, al-Qur‟an diyakini memiliki konsep nilai tentang hal tersebut, hal itu dibuktikan adanya beberapa ayat yang menunjuk makna produksi dan konsumsi ini. Dengan pendekatan tafsir ekonomi al-Qur‟an, pemahaman terhadap ayat-ayat kunci di atas diharapkan mencapai pemahaman yang proporsional tentang produksi dan konsumsi. Sebagai sebuah metodologi baru dalam pemahaman al-Qur‟an, memungkinkan sampai pada kontekstualisasi nilai-nilai ekonomi al-Qur‟an dalam praktek perekonomian. Dari pemahaman itu pula di-harapkan dapat dijadikan pedoman bagi perilaku ekonomi baik tataran individu maupun masyarakat sehingga keseimbangan perekonomian dapat tercapai. Kasus-kasus seperti over heating pada perilaku pasar yang dipastikan melambungkan laju inflasi setiap bulan puasa dan hari Raya Idul fitri, Tahun baru, hari-hari raya dan lain-lain dapat dieliminir melalui sikap dan perilaku ekonomi masyarakat.

Kata Kunci: Produksi dan Konsumsi Pendahuluan

Setiap muslim meyakini bahwa al-Qur'an merupakan sumber nilai atas ber-bagai persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, tidak terkecuali per-soalan-persoalan ekonomi. Pengembang-an ilmu ekonomi Islam yang bersumber dari al-Qur‟an mempunyai peluang yang sama dengan pengembangan keilmuan lainnya seperti ilmu hukum, sejarah, sastra, dan lain-lain. Agak disayangkan bahwa kajian ilmu ekonomi Islam ini terasa agak tertinggal dibandingkan dengan ilmu-ilmu keislaman yang lain, walaupun kebutuhan terhadap suatu sistem ekonomi baru yang lebih menjanjikan kesejahteraan dan kemaslahatan sudah sangat mendesak.

Dari sudut pengembangan ilmu Islam, tafsir ekonomi al-Qur‟an layak mendapatkan perhatian besar dalam pengkajian dan penelitian ilmiah dalam rangka menumbuh kembangkan ilmu ekonomi Islam. Pola metodologi yang dikembangkan dalam kajian ayat ekonomi ini tetap menggunakan metode para mufassirin. Intinya adalah kajian ayat ekonomi diharapkan memberi sumbangsih ide, pemikiran, atau bahkan solusi bagi pelbagai problematika per-ekonomian umat.

Jika mengacu pada pola kerja tafsir pada umumnya, maka sistimatika kajian pembahasan tafsir ayat ekonomi pun dapat dilakukan dengan pola tersebut, yaitu: Per-tama, mengidentifikasi ayat-ayat yang mem-bahas permasalahan ekonomi. Kedua, memaparkan tafsiran ayat dengan mendapat-kan pengayaan dari berbagai kitab tafsir, baik klasik mau pun kontemporer. Ketiga, mempertahankan pola kerja tafsir maudhu‟i dengan pendekatan adabi al-ijtima‟i

wal-iqtishadiyyah. Keempat, melakukan

kons-tektualisasi dalam realitas perekonomian. Pembahasan tentang tafsir ayat eko-nomi dalam masalah produksi dan konsumsi dipandang perlu, karena diharapkan kajian ini mampu menjembatani berkembangnya sebuah sistem produksi dan konsumsi yang seimbang dalam tatanan perekonomian masyarakat. Selama ini produksi dan kon-sumsi merupakan masalah problematis yang sering kali memberi dampak-dampak ter-tentu, misalnya dampak buruk produksi dan konsumsi narkoba, dampak buruk produksi dan penggunaan senjata illegal. Sejatinya, produksi dan konsumsi memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia, namun jika yang terjadi sebaliknya, maka dapat dikata-kan bahwa sesungguhnya ada yang salah dalam pemahaman dan implementasi konsep produksi dan konsumsi tersebut.

(2)

Dari sudut peran strategis al-Qur‟an bagi kehidupan dalam menuntun kepada keseimbangan (wasthiyah), aktifasi peran ini tentu penting pula diimlementasikan dalam mewujudkan keseimbangan perekonomian, melalui tuntunan memelihara kesimbangan antara produksi dan konsumsi. Jika pola konsumsi tinggi maka, otomatis membutuh-kan produktivitas yang tinggi pula. Sebalik-nya bila pola konsumsi rendah mengakibat-kan lemahnya produksi dan distribusi, bah-kan menurunbah-kan kinerja dan roda pereko-nomian. Namun tingginya pola konsumsi dan produksi dapat menyebabkan ketidak-seimbangan pasar, menimbulkan persoalan ekonomi seperti inflasi, ketidak stabilan pasar, penimbunan bahan kebutuhkan pokok dan lain-lain. Pada dasarnya dalam ekonomi Islam, jumlah produksi tidak ditentukan semata-mata oleh ukuran kebutuhan pola konsumsi masyarakat, melainkan didasarkan pada kebutuhan terhadap kemaslahatan masyarakat.

Petunjuk Al-Qur’an Tentang Produksi Jika mengacu pada generalitas ajaran Islam, dapat dipahami bahwa setiap hal yang dititahkan al-Qur‟an sebagai perintah diyakini memberi kemaslahatan bagi kehi-dupan manusia. Dalam konteks perintah memproduksi suatu barang misalnya harus diyakini dari sudut ekonomi Islam tentulah hal tersebut punya nilai maslahat. Hal ini dapat diamati pada QS. Hud : 37

يِف يِىۡبِط ََٰخُت َلََو اَىِي ۡحَوَو اَىِىُي ۡعَأِب َكۡلُفۡلٱ ِعَى ۡصٱَو

َنىُقَر ۡغُّم مُهَّوِإ ْآىُمَلَظ َهيِذَّلٱ

٣٧

Terjemahnya :

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan

Pada ayat tersebut cukup jelas bahwa bahtera yang diperintahkan kepada nabi Nuh untuk diproduksi adalah barang yang punya nilai manfaat yang besar, yaitu membebas-kan dari banjir bah yang dahsyat, tapi sebagian besar kaumnya mengolok-oloknya,

karena meproduksi perahu di tempat yang tinggi, bukan di lautan.

Dari sisi ekonomi Islam, setiap produksi harus mempunyai nilai maslahat, demikian pula konsumsi. Olehnya itu baik kerja produksi mau pun konsumsi haruslah punya nilai manfaat bagi kehidupan manu-sia. Produksi pada awalnya boleh jadi hanya diniatkan sebagai usaha untuk membantu memenuhi kebutuhan atas suatu jenis barang produksi, namun karena penawaran atas barang tersebut semakin tinggi, dirasakanlah bahwa produksi barang tersebut memberi keuntungan material yang cukup baik, maka profesi sebagai produsen jenis barang ter-tentu pun mulai dilakoni dengan serius. Dari profesi baru tersebut kebutuhan nafkah keluarga mulai dirasakan dapat terpenuhi. Selanjutnya, tuntunan menjaga keseimbang-an hidup bagi semua sumber daya, baik flora, fauna, dan alam secara keseluruhan. Manakala kerja produksi dan konsumsi menyisakan kerusakan, maka konsep eko-nomi Islam menjadi terabaikan. Tuntunan berikutnya adalah pemeliharaan nilai-nilai kehalalan berdasarkan tuntunan syari‟-ah menjadi aspek penting yang harus diperhati-kan juga, karena keberkahan dalam bereko-nomi sangat ditekankan dalam Islam.1

Ahli ekonomi Islam Abdul Mannan memandang bahwa aspek kemaslahatan (altruistic considerations) dalam mem-bangun ekonomi adalah hal yang sangat prinsip.2 Ekonomi tidak cukup hanya dibangun dengan pertimbangan perilaku produksi yang didasarkan pada permintaan pasar (given demand conditions), karena kemampuan memenuhi permintaan pasar tidak dapat memberikan jaminan bahwa sistem ekonomi yang sedang dijalankan adalah sistem berekonomi yang sehat. Begitu juga sebaliknya sistem konvensional

1

M.M. Metwally, “A Behavioural Model of

An Islamic Firm,” Readings in Micro-economics: An Islamic Perspektif, Longman

Malaysia (1992), hlm. 131-138.

2 M.A. Mannan, “The Behaviour of The Firm and Its Objective in an Islamic Framework”, Readings in Microeconomics: An Islamic Perspektif, Longman Malaysia (1992),

(3)

yang cenderung memberi kebebasan untuk berproduksi, cenderung terkonsentrasi pada

output yang menjadi permintaan pasar

(effective demand), sehingga dapat men-jadikan kebutuhan riil masyarakat terabai-kan. Dalam berekonomi, ada nilai-nilai yang harus diintegrasikan dengan prilaku-prilaku ekonomi tersebut, sebagaimana dijelaskan di tiga surah al-Qur'an yang menukil tentang masalah produksi.

Identifikasi ayat berbicara tentang produksi dalam al-Qur'an dapat ditemukan pada beberapa ayat di tiga surah berikut: QS. al-Baqarah: 22, QS. an-Nahl: 5-9, 10-11, 14, 18, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 80, 81, QS. al-Maidah: 62-64.

Setelah mengkaji beberapa ayat tersebut, dari kedua surat di atas dapat diambil pelajaran bahwa al-Qur‟an arahkan agar setiap pelaku ekonomi meng-optimalkan seluruh sumber daya yang ada di sekitar mereka seperti binatang ternak, area pegunungan; tanah perkebunan, lautan dengan seluruh kekayaannya, sebagai karunia yang disiapkan Allah bagi mereka untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi sarana pengabdian mereka kepada-Nya. Al-Qur‟an menyebut semua itu sebagai Fadlum

minallah. Pada surat al-Isra: 30, Allah

menegaskan; Dia lah yang menjamin atau telah menyediakan rezeki untuk manusia. Di sinilah manusia tinggal berusaha secara optimal sebagai media untuk meraih rezeki itu.

Ada pun kandungan ayat pada QS. An-Nahl lebih menekankan pembicaraan pada sikap dalam berekonomi. Dalam peri-laku produksi misalnya, diingatkan agar kegiatan produksi dilakukan tidak hanya konsentrasi pada keberhasilan memulai berproduksi, sementara kesinambungan produksi tidak dirancang sejak awal. Demikian juga ayat mengingatkan bahwa bukan sekedar bisa berproduksi yang dituntut, tetapi juga dituntut untuk menjaga agar kegiatan produsi tidak memberi dampak kerusakan, baik bagi manusia secara khusus mau pun lingkungan secara umum.

Dalam menjalankan aktifitas pro-duksi, konsep nilai al-Qur'an melarang mempraktekkan berbagai sikap tercela seperti melakukan dosa, berurusan dengan barang terlarang, menyebarkan permusuhan,

berlawanan dengan sunnatullah, dan menim-bulkan kerusakan di muka bumi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prilaku ekonomi yang diisyaratkan al-Qur‟an adalah, berdasarkan pertimbangan kemashlahatan (altruistic considerations) perilaku produksi tidak hanya menyandar-kan pada kondisi permintaan pasar (given

demand conditions).3 Karena kurva

per-mintaan pasar tidak cukup memberikan data untuk sebuah perusahaan mengambil keputusan. Dalam system konvensional, perusahaan diberikan kebebasan untuk ber-produksi, namun cenderung lebih terkon-sentrasi pada output yang memang menjadi permintaan pasar (effective demand), dimana kebutuhan riil dari masyarakat tidak dapat begitu saja mempengaruhi prioritas produksi sebuah perusahaan.

Dalam ekonomi Islam keuntungan menjadi salah satu tujuan dari aktifitas produksi, namun rambu-rambu syariah membuat corak prilaku produksi tidak seperti yang dibangun sistem konvensional. Perilaku produksi yang ada pada konven-sional terfokus pada maksimalisasi ke-untungan (profit oriented). Kadang terjadi pada suatu kondisi (pada segmen produksi tertentu) karena pertimbangan harga dan keuntungan tertentu, pada ekonomi konven-sional dinilai tidak optimal, tapi berdasarkan nilai kemashlahatan baik bagi perusahaan maupun lingkungannya dan atas per-timbangan kebutuhan masyarakat, keman-dirian negara, dan lain-lain, hal ini dapat di katakan optimal.

Menurut Mannan, keseimbangan out-put sebuah perusahaan hendaknya lebih luas, sebagai perwujudan perhatian perusahaan terhadap kondisi pasar. Pendapat ini di-dukung oleh Metwally, bahwa fungsi ke-puasan perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh variable tingkat keuntungan tapi juga oleh variable pengeluaran yang bersifat

charity atau good deeds. Demikian pula

menurut Ghazali bahwa dalam perilaku produksi dan konsumsi bertujuan mencapai

3 M.A. Mannan, “The Behaviour of The

Firm and Its Objective in an Islamic Framework”, Readings in Microeconomics: An Islamic Perspektif, Longman Malaysia (1992), hlm. 120-130.

(4)

posisi muzakki dengan berusaha mendapat-kan harta sebanyak yang kita mampu, namun tetap membelanjakannya di jalan Allah SWT. Ini dilakukan dengan semangat hidup hemat dan tidak bermewah-mewah. Dengan kata lain perilaku produksi dan konsumsi adalah perilaku yang bertujuan menjauhi posisi fakir, sesuai dengan per-ingatan Rasulullah SAW bahwa kefakiran mendekatkan manusia pada kekufuran. Petunjuk Al-Qur’an Tentang Konsumsi

Pada dasarnya ada empat arahan al-Qur‟an dalam menjalankan prilaku ekonomi tersebut, yaitu : 1) Bersikap hemat dan tidak boros (abstain from wasteful and luxurius

living). 2) Mensupport implementasi zakat

(implementation of zakat) dan tindakan eko-nomi lainnya yang bersifat sukarela yaitu infak, shadaqah, wakaf, dan hadiah. 3) Peng-hapusan Riba (prohibition of riba), dengan mengenalkan sistem bagi hasil (profit-loss

sharing) dengan instrumen mudharabah dan

musyarakah sebagai pengganti sistem kredit

(credit system) termasuk bunga (interest rate). 4) Menghidupkan institusi ekonomi

yang yang halal (permis-sible conduct), dan menjauhi dari maisir (judi) dan gharar; mulai dari bahan baku produksi, proses produksi, manajemen, out put produksi hingga proses distribusi dan konsumsi harus dalam kerangka halal.

Dalam wacana ekonomi Islam, harta bukanlah tujuan, ia hanya sekedar alat untuk meraih keuntungan duniawi dan ukhrawi. Harta merupakan pokok kehidupan (QS. an-Nisa: 5) yang merupakan karunia Allah (QS. an-Nisa :32. Islam memandang segala yang ada di atas bumi dan seisinya adalah milik Allah SWT, sehingga apa yang dimiliki manusia hanyalah amanah. Dengan nilai amanah itulah manusia dituntut untuk menyikapi harta benda untuk mendapatkan-nya dengan cara yang benar, proses yang benar dan pengelolaan dan pengembangan yang benar pula.

Dalam perspektif ekonomi konven-sional, harta merupakan asset yang menjadi hak pribadi. Sepanjang kepemilikan harta tidak melanggar hukum atau undang-undang, maka harta menjadi hak penuh si pemiliknya. Dengan demikian perbedaan Islam dan konvensional tentang harta,

terletak pada perbedaan cara pandang. Islam cenderung melihat harta berdasarkan flow

concept sedangkan konvensional

meman-dangnya berdasarkan stock concept.

Menurut Adiwarman membahas harta, dimasukan dalam pembahasan uang dan kapital. Menurut beliau uang dalam Islam adalah public goods yang bersifat flow

con-cept sedangkan kapital merupakan private goods yang bersifat stock concept.

Semen-tara itu menurut konvensional uang dan kapital merupakan private goods 4.Pada tata-ran praktis, prilaku ekonomi sangat ditentu-kan oleh tingkat keyakinan atau keimanan seseorang atau sekelompok orang yang kemudian membentuk kecenderungan peri-laku konsumsi dan produksi di pasar. Dengan demikian dapat disimpulkan tiga karakteristik perilaku ekonomi dengan menggunakan tingkat fluktuasi keimanan sebagai parameter: 1) Ketika keimanan menguat, maka motif berkonsumsi atau berproduksi akan didominasi oleh tiga motif utama tadi; mashlahah, kebutuhan dan kewajiban. 2) Ketika keimanan ada pada tingkat yang kurang baik, maka motifnya tidak didominasi hanya oleh tiga hal tadi tapi juga kemudian akan dipengaruhi secara signifikan oleh ego, rasionalisme (logika materialisme) dan keinginan-keinganan yang bersifat individualistis lainnya. 3) Ketika keimanan sangat lemah, maka motif ber-ekonomi tentu saja akan didominasi oleh nilai-nilai syahwat, ego, keinginan dan rasionalisme.

Akan halnya dengan prilaku kon-sumtif, Islam memposisikan sebagai bagian dari aktifitas ekonomi yang bertujuan mengumpulkan pahala menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Motif berkonsumsi dalam Islam pada dasarnya adalah mashlahah5 atas

4 Lihat Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi

Islam: Suatu Kajian Ekonomi Makro, The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT Indonesia), 2002, hlm. 19 – 22.

5 Pengertian mashlahah menurut bahasa

berarti kebergunaan (utility) atau kesejahteraan (welfare), yang oleh Abu Hamid Al Ghazali (505 H/1111 M) dan Abu Ishaq Al Shatibi (790 H/1388 M) masalih (plural of Mashlahah) dibagi menjadi tiga kategori; esensial (essential/ daruriyah), pelengkap (complementary/hajiyah)

(5)

kebutuhan dan kewajiban. Yusuf Qardhawi menyebutkan beberapa variabel moral dalam berkonsumsi, di antaranya; konsumsi atas alasan dan pada barang-barang yang baik (halal), berhemat, tidak bermewah-mewah, menjauhi hutang, menjauhi kebakhilan dan kekikiran.6 Dengan demikian aktifitas kon-sumsi merupakan salah satu aktifitas eko-nomi manusia yang bertujuan untuk mening-katkan ibadah dan keimanan kepada Allah SWT dalam rangka mendapatkan kemenan-gan, kedamaian dan kesejahteraan, baik dengan membelanjakan uang atau penda-patannya untuk keperluan dirinya maupun untuk amal shaleh bagi sesamanya.

Pada perspektif konvensional, akti-fitas konsumsi sangat erat kaitannya dengan maksimalisasi kepuasan. Sir John R. Hicks7 menjelaskan tentang konsumsi dengan menggunakan parameter kepuasan melalui konsep kepuasan (utility) yang tergambar dalam kurva indifference (tingkat kepuasan yang sama). Hicks mengungkapkan bahwa individu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya melalui aktifitas konsumsi pada tingkat kepuasan yang maksimal meng-gunakan tingkat pendapatannya (income sebagai budget constraint).

Dari identifikasi ayat al-Qur‟an ten-tang konsumsi, kata yang dipandang menun-juk makna tersebut adalah kata kulu dan

isyrabu yang ditemukan di berbagai surah

sebanyak 21 kali. Sedangkan makan dan minumlah (kulu wasyrabu) sebanyak enam kali. Jumlah ayat mengenai ajaran konsumsi, belum termasuk derivasi dari akar kata

akala dan syaraba selain fi‟il amar di atas

sejumlah 27 kali.

dan keinginan (desirable/tahsiniyah). Dan tugas negaralah yang memastikan kemashlahatan kategori pertama dari masyarakat itu terpenuhi dengan baik. Lihat Muhammad Akram Khan, „The Role of Government in the Economy,” The American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 14, No. 2, 1997, h. 157.

6 Yusuf Qardhawi, “Peran Nilai dan Moral

dalam Perekonomian Islam,” Rabbani Press, Jakarta (1995). 97

7 Lihat Sadono Sukirno, Pengantar Teori

Mikroekonomi, Rajawali Press Jakarta, 2002.

Diantara ayat-ayat yang menunjuk makna konsumsi tersebut adalah QS. Al Baqarah(2): 168,172,187, QS. al-Maidah(5): 4, 88, QS. al-An‟am(6) 118, 141, 142, QS. al-A‟raf(7): 31,160,161, QS. al-Anfal(8): 69, QS. an Nahl (16): 114, QS. al-Isra(17): 26-28, QS. Taha(20): 54, 81, QS. al-Hajj(22): 28, 36, QS. al-Mukminun(23): 51, QS. Saba(34): 15, QS. at-Tur(52): 19, QS. al-Mulk (67): 15, QS. al-Haqqah(69): 24, QS. almursalat(77): 43, 46 dan lain-lain.

Pada QS al-Baqarah: 168 dan QS. An-Nahl: 114 tersebut secara tegas, terdapat prinsip halal dan baik, prinsip untuk tidak mengikuti hawa nafsu, prinsip syukur dan prinsip tauhid. Dengan prinsip-prinsip demi-kian, maka pola konsumsi diarahkan kepada kebutuhan dan kewajiban berdasarkan standar-standar prinsip yang dinukil dari kedua ayat ini:

QS. Al Baqarah(2): 168,

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Se-sungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

QS. An Nahl (16): 114

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu Hanya kepada-Nya saja menyembah.

Ada pun QS. Al-Isra‟: 26-28 dan QS. Al-A‟raf: 31-32 mengandung prinsip men-jauhkan diri dari kekikiran baik pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Demi-kian pula terdapat prinsip keber-sahajaan dalam melakukan aktivitas kon-sumsi. Bagaimana mewujudkan sikap ber-sahaja antara kebutuhan dan keinginan dalam aktivitas konsumsi? Diakui bahwa aktifitas ekonomi berawal dari kebutuhan manusia untuk terus hidup (survive) di dunia. Segala keperluan untuk bertahan untuk hidup akan sekuat tenaga diusahakan sendiri, namun ketika keperluan hidup tidak dapat dipenuhi sendiri menyebabkan adanya berbagai inte-raksi untuk proses pemenuhan keperluan hidup manusia. Interaksi inilah yang

(6)

se-benarnya merepresentasikan interaksi per-mintaan dan penawaran, interaksi konsumsi dan produksi, sehingga memun-culkan pasar sebagai wadah interaksi ekonomi.

Berdasarkan teori Maslow, keperluan hidup berawal dari pemenuhan keperluan yang bersifat dasar (basic needs), kemudian pemenuhan keperluan hidup yang lebih tinggi kualitasnya seperti keamanan, Kenya-manan dan aktualisasi. Sayang teori Maslow ini merujuk pada pola pikir individualistic-materialistik.

Ukuran kepuasan dalam ekonomi Islam bukan hanya terbatas pada benda-benda konkrit (materi), tapi juga pada sesuatu yang bersifat abstrak, seperti amal shaleh yang diperbuat. Kepuasan dapat timbul dan dirasakan oleh seorang muslim ketika harapan mendapat nilai tambah dari Allah SWT melalui amal shalehnya sebagai

income ukhrawi. Pandangan ini tersirat dari

bahasan ekonomi yang dilakukan oleh pem-baharu Islam Hasan Al Banna.8 Beliau mengungkapkan firman Allah yang mengatakan:

“Tidakkah kamu perhatikan sesung-guhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan bathin.”

(QS Lukman(31): 20)

Hasan al-Banna yang menganut pa-ham syumuliyatul Islam menegaskan bahwa ruang lingkup keilmuan ekonomi Islam lebih luas dibandingkan dengan ekonomi konven-sional. Ekonomi Islam bukan hanya bicara tentang pemuasan materi yang ber-sifat fisik, tapi juga berbicara cukup luas tentang pemuasan materi yang bersifat abs-trak, pemuasan yang lebih berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba Allah SWT.

Dalam memenuhi keperluan hidup, setiap orang penting untuk memahami per-bedaan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan (needs) didefinisikan sebagai segala keper-luan dasar manusia untuk kehidupannya. Sementara keinginan (wants) didefinisikan

8 Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan

Ikhwanul Muslimin, Intermedia, Jakarta 1997. hlm. 387-409.

sebagai desire (kemauan)9 manusia atas segala hal. Cakupan keinginan lebih luas dari kebutuhan. Contoh sederhana meng-gambarkan perbedaan kedua kata ini dapat dilihat dalam perilaku konsumsi pada air untuk menghilangkan dahaga. Kebutuhan seseorang untuk menghilangkan dahaga mungkin cukup dengan segelas air putih, tapi seseorang dengan kemampuan dan keinginannya dapat saja memenuhi kebu-tuhan itu dengan segelas wishky, yang tentu lebih mahal dan lebih memuaskan ke-inginan.

Konsep keperluan dasar dalam Islam sifatnya tidak statis, artinya keperluan dasar pelaku ekonomi bersifat dinamis merujuk pada tingkat ekonomi yang ada pada masyarakat. Pada tingkat ekonomi tertentu sebuah barang yang dulu dikonsumsi akibat motifasi keinginan, pada tingkat ekonomi yang lebih baik barang tersebut telah menjadi kebutuhan. Dengan demikian para-meter yang membedakan definisi kebutuhan dan keinginan tidak bersifat statis, ia ber-gantung pada kondisi perekonomian serta ukuran kemashlahatan. Dengan standar kamashlahatan, konsumsi barang tertentu dapat saja dinilai kurang berkenan ketika sebagian besar ummat atau masyarakat dalam keadaan susah.

Dari analisa di atas, sangat jelas bahwa perilaku ekonomi Islam tidak didomi-nasi oleh nilai alamiah yang dimiliki oleh setiap individu. Terdapat nilai diluar diri manusia yang kemudian membentuk peri-laku ekonomi. Nilai ini diyakini sebagai tun-tunan utama dalam hidup yang akan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Simpulan

1. Kegiatan produksin dan konsumsi seba-gai prilaku ekonomi, terbuka untuk men-dapatkan sentuhan nilai-nilai qur‟ani se-bagai wujud implementasi ajaran al-Qur‟an.

2. Kajian tafsir ayat-ayat produksi meru-pakan bimbingan untuk tidak memfokus-kan perhatian produksi hanya pada aspek materialnya saja dengan mengabaikan

9 Meskipun kata kamauan ini juga kurang

(7)

aspek maslahat dan mafsadat dari sisi realisitasnya.

3. Kajian ayat tentang konsumsi menjadi poin-poin penting dalam menegakkan standar nilai konsumsi

Reference

Al Banna, Hasan. Risalah Pergerakan

Ikhwanul Muslimin, Intermedia,

Jakarta 1997

Baqi, Fu‟ad Abdul. Mu‟jam al-Mufahrasy

lialfadzi Qur‟an

Chapra, Umar. Islam dan Pembangunan

Ekonomi, pent. Ikhwan Abidin Gema

Insani Press 2000

Depag RI, al-Qur‟an dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putera, 1989

Karim, Adiwarman Azwar. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Makro, The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT Indonesia), 2002

Khan, Muhammad Akram „The Role of Government in the Economy,” The American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 14, No. 2, 1997

M. Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, pent. M Mustangin, Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf 1997

Mannan, M.A. “The Behaviour of The Firm and Its Objective in an Islamic

Framework”, Readings in

Microeconomics: An Islamic Perspektif, Longman Malaysia

Metwally, M.M. “A Behavioural Model of An Islamic Firm,” Readings in Microeconomics: An Islamic Perspektif, Longman Malaysia 1992 Muhammad dan Lukman Fauroni, Visi

al-Qur‟an tentang Etika dan Bisnis. Salemba Diniyah, 2002

Munawir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir Pondok Pesantren Krapyak 1983

Qardhawi, Yusuf. Norma dan Etika Ekonomi Islam, pent.Zainal Arifin Gema Insani Press, 1997

Qardhawi,Yusuf. “Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam,” Rabbani Press, Jakarta 1995.

Sammuelson, Paul A dan William D Nordhaus, Ekonomi pent.A Jaka Wasana, Surabaya: Penerbit erlangga, 1991

Sukirno, Sadono. Pengantar Teori

Mikroekonomi, Rajawali Press

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi masyarakat pengelola lahan terhadap lingkungan dan manfaat hutan Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi tentang manfaat keberadaan hutan di wilayah DAS

Data hasil analisa tersebut dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui ukuran butir sedimen dan kandungan bahan organik dan mineral (N, P, K, Fe dan Mg) yang terdapat pada di

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan komunikasi dan berpikir kreatif peserta didik SMP

Sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah asupan zat gizi yang meliputi natrium (Na), kalium (K), magnesium (Mg) dan kalsium (Ca). Data primer dalam penelitian

PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN SUBTEMA 4 KEBERSAMAAN DALAM KELUARGA MENGACU KURIKULUM SD 2013

Kepala TU yang seharusnya memahami bagaimana Pola Tata Kelola di Puskesmas tidak memahami bagaimana Pola Tata Kelola di Puskesmas seharusnya, begitu pula staff teknis

rata-rata obat analgetik yang digunakan adalah golongan analgetik NSAID ,Narkotik tidak ditemukan untuk terapi pasien kanker serviks dan Pasien yang menggunakan

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Induksi Kalus Akasia ( Acacia mangium ) Dengan