BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 DATA PERUSAHAAN
2.1.1 Identitas Perusahaan
Kementerian Agama Republik Indonesia (disingkat Kemenag RI, dahulu Departemen Agama Republik Indonesia, disingkat Depag RI) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan agama. Kementerian Agama dipimpin oleh seorang Menteri Agama (Menag) yang sejak tanggal 9 Juni 2014 dijabat oleh Lukman Hakim Saifuddin.
Sebagai penjabaran visi dan misi, tujuan pembangunan Kementerian Agama : 1. Bidang Agama :
a. Peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan beragama.
b. Pengukuhan suasana kerukunan hidup umat beragama yang harmonis sebagai salah satu pilar kerukunan nasional.
c. Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kehidupan beragama yang berkualitas dan merata.
d. Peningkatan pemanfaatan dan perbaikan kualitas pengelolaan potensi ekonomi keagamaan dalam meningkatkan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan percepatan pembangunan.
e. Peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang trasparan dan akuntabel untuk pelayanan ibadah haji yang prima. f. Peningkatan kualitas tata kelola pembangunan bidang agama dalam
menunjang penyelenggaraan pembangunan bidang agama yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel.
2. Bidang Pendidikan
a. Peningkatan akses pendidikan yang setara bagi masyarakat tidak mampu terhadap pendidikan dasar-menengah (wajib belajar 12 tahun). b. Peningkatan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat pada
berbagai jenjang pendidikan.
c. Penurunan tingkat kegagalan masyarakat dalam menyelesaikan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar-menengah (wajib belajar 12 tahun).
d. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang pendidikan.
e. Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan dalam melakukan proses mendidik yang profesional di seluruh satuan pendidikan.
f. Peningkatan akses masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan agama pada satuan pendidikan umum yang berkualitas.
g. Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan keagamaan yang berkualitas.
Sebagai salah satu institut pemerintahan, Kementerian Agama memiliki logo sebagai identitas diri. Logo merupakan suatu gambar atau sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, organisasi, produk, negara, lembaga, dan hal lainnya membutuhkan sesuatu yang singkat dan mudah diingat sebagai pengganti dari nama sebenarnya. Logo harus memiliki filosofi dan kerangka dasar berupa konsep dengan tujuan melahirkan sifat yang berdiri sendiri atau mandiri. Logo lebih lazim dikenal oleh penglihatan atau visual, seperti ciri khas berupa warna dan bentuk logo tersebut.
Gambar 2.1 Logo kementerian agama sebagai identitas diri
MAKNA ISI LAMBANG :
1. Bintang bersudut lima yang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, bermakna bahwa karyawan Kementerian Agama selalu menaati dan menjunjung tinggi norma-norma agama dalam melaksanakan tugas Pemerintahan dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
2. 17 kuntum bunga kapas, 8 baris tulisan dalam Kitab Suci dan 45 butir padi bermakna Proklamasi Kemerdekaan republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, menunjukkan kebulatan tekad para Karyawan Kementerian Agama untuk membela Kemerdekaan Negara Kesatuan republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
3. Butiran Padi dan Kapas yang melingkar berbentuk bulatan bermakna bahwa Karyawan Kementerian Agama mengemban tugas untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan merata.
4. Kitab Suci bermakna sebagai pedoman hidup dan kehidupan yang serasi antara kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, materil dan spirituil dengan ridha Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
5. Alas Kitab Suci bermakna bahwa pedoman hidup dan kehidupan harus ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya sesuai dengan potensi dinamis dari Kitab Suci.
6. Kalimat “Ikhlas Beramal” bermakna bahwa Karyawan Kementerian Agama dalam mengabdi kepada masyarakat dan Negara berlandaskan niat beribadah dengan tulus dan ikhlas.
7. Perisai yang berbentuk segi lima sama sisi dimaksudkan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama RI yang berdasarkan Pancasila dilindungi sepenuhnya sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.
8. Kelengkapan makna lambang Kementerian Agama melukiskan motto : Dengan Iman yang teguh dan hati yang suci serta menghayati dan mengamalkan Pancasila yang merupakan tuntutan dan pegangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karyawan Kementerian Agama bertekad bahwa mengabdi kepada Negara adalah Ibadah.
Gambar 2.2 Gedung kementerian agama jalan lapangan banteng (sumber : pribadi)
Gambar 2.3 Gedung kementerian agama jalan lapangan banteng (sumber : pribadi)
Gambar 2.4 Gedung kementerian agama jalan lapangan banteng (sumber : suara-islam.com)
2.1.2
Sejarah Singkat Perusahaan
Usulan pembentukan Kementerian Agama pertama kali disampaikan oleh Mr. Muhammad Yamin dalam Rapat Besar (Sidang) Badan Penyelidik Usaha – Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tanggal 11 Juli 1945. Dalam rapat tersebut Mr. Muhammad Yamin mengusulkan perlu diadakannya kementerian yang istimewa, yaitu yang berhubungan dengan agama. Menurut Yamin, "Tidak cukuplah jaminan kepada agama Islam dengan Mahkamah Tinggi saja, melainkan harus kita wujudkan menurut kepentingan agama Islam sendiri. Pendek kata menurut kehendak rakyat, bahwa urusan agama Islam yang berhubungan dengan pendirian Islam, wakaf dan masjid dan penyiaran harus diurus oleh kementerian yang istimewa, yaitu yang kita namai Kementerian Agama”. Namun demikian, realitas politik menjelang dan masa awal kemerdekaan menunjukkan bahwa pembentukan Kementerian Agama memerlukan perjuangan tersendiri. Pada waktu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melangsungkan sidang hari Ahad, 19 Agustus 1945 untuk membicarakan pembentukan kementerian/departemen, usulan tentang Kementerian Agama tidak disepakati oleh anggota PPKI. Salah satu anggota PPKI yang menolak pembentukan Kementerian Agama ialah Mr. Johannes Latuharhary.
Usulan pembentukan Kementerian Agama kembali muncul pada sidang Pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang diselenggarakan pada tanggal 25-27 November 1945. Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) merupakan Parlemen Indonesia periode 1945-1950, sidang pleno dihadiri 224 orang anggota, di antaranya 50 orang dari luar Jawa (utusan Komite Nasional Daerah). Sidang dipimpin oleh Ketua KNIP Sutan Sjahrir. Dalam sidang pleno KNIP tersebut usulan pembentukan Kementerian Agama disampaikan oleh utusan Komite Nasional Indonesia Daerah Keresidenan Banyumas yaitu K.H. Abu Dardiri, K.H.M Saleh Suaidy, dan M. Sukoso Wirjosaputro. Mereka adalah anggota KNI dari partai politik Masyumi. Secara aklamasi sidang KNIP menerima dan menyetujui usulan pembentukan Kementerian Agama. Presiden Soekarno memberi isyarat kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta akan hal itu. Bung Hatta langsung berdiri dan mengatakan, "Adanya Kementerian Agama tersendiri mendapat perhatian pemerintah." Pada mulanya terjadi diskusi apakah kementerian itu dinamakan Kementerian Agama Islam ataukah Kementerian Agama. Tetapi akhirnya diputuskan nama Kementerian Agama.
Pembentukan Kementerian Agama dalam Kabinet Sjahrir II ditetapkan dengan Penetapan Pemerintah No 1/S.D. tanggal 3 Januari 1946 (29 Muharram 1365 H) yang berbunyi; Presiden Republik Indonesia, Mengingat: usul Perdana Menteri dan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat, memutuskan: Mengadakan Kementerian Agama. Maksud dan tujuan
membentuk Kementerian Agama, selain untuk memenuhi tuntutan sebagian besar rakyat beragama di tanah air, yang merasa urusan keagamaan di zaman penjajahan dahulu tidak mendapat layanan yang semestinya, juga agar soal-soal yang bertalian dengan urusan keagamaan diurus serta diselenggarakan oleh suatu instansi atau kementerian khusus, sehingga pertanggungan jawab, beleid, dan taktis berada di tangan seorang menteri. Pengumuman berdirinya Kementerian Agama disiarkan oleh pemerintah melalui siaran Radio Republik Indonesia. Haji Mohammad Rasjidi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Agama RI Pertama. H.M. Rasjidi adalah seorang ulama berlatar belakang pendidikan Islam modern dan di kemudian hari dikenal sebagai pemimpin Islam terkemuka dan tokoh Muhammadiyah.
2.1.3
Visi, Misi, dan Komitmen Perusahaan
Sebagaimana institut – institut pemerintahan lainnya, Kementerian Agama memiliki visi, misi, dan komitmen tugas yang ingin disampaikan kepada penduduk Republik Indonesia.
A. Visi
"Terwujudnya Masyarakat Indonesia yang Taat Beragama, Rukun, Cerdas, dan Sejahtera Lahir Batin dalam rangka Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong" (Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 2015).
B. Misi
1. Meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama 2. Memantapkan kerukunan intra dan antar umat beragama
3. Menyediakan pelayanan kehidupan beragama yang merata dan berkualitas
4. Meningkatkan pemanfaata dan kualitas pengelolaan potensi ekonomi keagamaan
5. Mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang berkualitas dan akuntabel
6. Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan umum berciri agama, pendidikan agama pada satuan pendidikan umum, dan pendidikan keagamaan
7. Mewujudkan tatakelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan terpercaya
C. Komitmen Tugas
Kementerian Agama memiliki tugas, yaitu menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Serta memiliki tujuan dan harapan yang ingin disampaikan kepada rakyat Indonesia.
1. Peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan beragama,
2. Pengukuhan suasana kerukunan hidup umat beragama yang harmonissebagai salah satu pilar kerukunan nasional,
3. Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kehidupan beragama yang berkualitas dan merata,
4. Peningkatan pemanfaatan dan perbaikan kualitas pengelolaan potensi ekonomi keagamaan dalam meningkatkan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan percepatan pembangunan,
5. Peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang trasparan dan akuntabel untuk pelayanan ibadah haji yang prima, 6. Peningkatan kualitas tatakelola pembangunan bidang agama dalam
menunjang penyelenggaraan pembangunan bidang agama yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
2.1.4
Kebijakan Manajemen Perusahaan
Kebijakan aturan pada Kementerian Agama tidak jauh berbeda dengan instiut – institut pemerintahan lainnya. Yaitu, jam kerja mulai dari pukul 07.30 s/d 16.00 pada hari senin hingga kamis, dan jam 07.30 s/d 16.30 pada hari jumat. Dalam hal berpakaian untuk pegawai biasanya menggunakan kemeja atau pakaian kantor rapi dengan sepatu. Fasilitas yang disediakan oleh Kementerian Agama berupa komputer untuk masing – masing pegawai. Dalam menerapkan proses perancangan sebuah infografis, diberi satu informasi atau artikel dengan bersumber dari website Kementerian
Agama oleh pembimbing lapangan. Setelah itu, mencari referensi desain – desain infografis untuk mencari ide yang akan dituangkan ke dalam infografis yang ditugaskan kepada kita. Setelah membuat sebuah infografis, segera memberitahu pembimbing lapangan untuk memberikan pendapatnya tentang infografis yang dibuat. Jika ada sedikit kekurangan pada infografis yang dibuat, segera melakukan perbaikan desain sehingga dapat diterima oleh pembimbing lapangan.
2.1.5
Penghargaan yang diraih
Tahun 2015 bisa dibilang sebagai tahun prestasi bagi Kementerian Agama. Pasalnya, sederet penghargaan berhasil diraih oleh kementerian yang bermotto Ikhlas Beramal ini. Lembaga-lembaga survei juga menempatkan Lukman Hakim Saifuddin (Menag) sebagai menteri kabinet kerja yang berkinerja baik.
1. Penghargaan diberikan oleh Pemerintah RI atas keberhasilan Kementerian Agama menyusun dan menyajikan laporan keuangan 2014 dengan capaian standar tertinggi dalam akuntansi dan laporan keuangan Pemerintah,
2. Penghargaan dari Kementerian Keuangan, berupa juara kedua Serifikasi Barang dan Jasa untuk kelompok Kementerian dan Lembaga dengan jumlah nilai kepuasan pengguna barang lebih dari 100 satuan kerja,
3. Penghargaan akuntabilitas kinerja dari MENPAN dan RB berupa predikat nilai B untuk penilaian akuntabilitas kinerja Kemenag tahun 2014. Setelah sebelumnya selalu mendapat nilai CC
4. Penghargaan e-PUPNS.
2.2 Cakupan Bidang Usaha
Kementerian Agama merupakan institut pemerintah yang menjalankan tugasnya dalam bidang agama. Dengan membantu rakyat Indonesia dalam memahami dan memberikan berbagai informasi berkaitan dengan agama. Selain itu, Kementerian Agama jua memliki fungsi, yaitu :
1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang keagamaan;
2. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Agama;
3. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Agama; 4. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan
Kementerian Agama di daerah;
5. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional; dan 6. Pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah.
2.3 Struktur Organisasi
Susunan organisasi Kementerian Agama terdiri atas 11 (sebelas) unit kerja, sebagai berikut:
1. Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia atau disingkat dengan Setjen Kemenag RI merupakan unsur pembantu pimpinan Kementerian Agama Republik Indonesia. Setjen Kemenag RI berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Setjen Kemenag RI dipimpin oleh Sekretaris Jenderal yang saat ini dijabat oleh Nur Syam.
2. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (disingkat Ditjen Pendis) adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin, M.A.
3. Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (disingkat Ditjen PHU) adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh Prof. Dr. Abdul Djamil, M.A.
4. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh Prof.Dr. H. Machasin, M.A.
5. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh Oditha Rintana Hutabarat.
6. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh Eusabius Binsasi.
7. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh I Ketut Widnya. 8. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Budha dipimpin oleh seorang direktur jenderal yang saat ini dijabat oleh Dasikin. 9. Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia atau
disingkat dengan Itjen Kemenag RI merupakan unsur pengawas di Kementerian Agama Republik Indonesia yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Itjen Kemenag RI dipimpin oleh Inspektur Jenderal yang saat ini dijabat oleh Mochammad Jasin. 10. Badan Penelitian dan Pengembangan, dan Pendidikan dan
Pelatihan adalah salah satu unsur pendukung di Kementerian Agama
Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama. Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan dipimpin oleh Kepala Badan.
11. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Sebanyak tujuh
pejabat eselon III dan IV Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (JPH) resmi dilantik oleh Sekjen Kemenag Nur Syam. Berikut 7 pejabat yang dilantik :
a. Siti Aminah sebagai Kepala Bidang Pengawasan Jaminan Produk Halal pada Pusat Pembinaan dan Pengawasan Jaminan Produk Halal
b. Puji Kusbandari sebagai Kepala Bagian Keuangan dan Umum pada Sekretariat Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal c. Khotibul Umam sebagai Kepala Bidang Bina Auditor Halal dan
Pelaku Usaha pada Pusat Pembinaan dan Pengawasan Jaminan Produk Halal
d. Giri Cahyono sebagai Kasubbag Pengelolaan Data Produk Halal pada Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Sekretariat BPJPH
e. Ngatmanto sebagai Kepala Subbagian Hukum pada Bagian Organisasi, Kepegawaian dan Hukum Sekretariat BPJPH f. Ali Fauzan sebagai Kepala Subbidang Kerjasama MUI dan
Kementerian/Lembaga pada Bidang Kerjasama JPH Pusat Kerjasama dan Standardisasi Halal BPJPH
g. Mohammad Zein sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha pada Pusat Kerja Sama dan Standardisasi Halala BPJPH.