PERSEPSI SEKOLAH TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN MAHASISWA PPL
PRO-GRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PMIPA FKIP UNIVERSITAS
MATARAM DI SMP NEGERI SE-KOTA MATARAM
Arjudin dan Baidowi
Dosen Program Studi Pend. Matematika FKIP Unram
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas pembelajaran yang dilakukan mahasiswa PPL Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mataram di SMP Negeri se-Kota, serta untuk mengetahui aspek-aspek yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa PPL tersebut. Subyek penelitian adalah semua guru mata pelajaran Matematika SMP Negeri se-Kota Mataram yang pernah menjadi guru pamong Mahasiswa PPL Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mataram dalam 3 tahun terakhir. Banyaknya subyek penelitian adalah 64 orang yang tersebar di 20 SMP Negeri di Kota Mataram. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket, sedangkan teknik pengolahan data dilakukan dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan skor kualitas pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa PPL Matematika rata-rata mencapai 57.36, yang termasuk berkategori baik. Beberapa aspek pembelajaran yang masih perlu diperhatikan untuk ditingkatkan lebih baik adalah: kemampuan merancang dan melaksanakan pengelolaan kelas, keterampilan melaksanakan pembelajaran inovatif yang mengarah ke PAKEM, dan efektifitas pembelajaran terhadap penguasaan materi siswa.
Kata-kata kunci: sekolah, kualitas pembelajaran, matematika.
PERCEPTION OF SCHOOLS TO MATHEMATICS LEARNING QUALITY BY UNIVERSITY
STUDENTS AT MATARAM JUNIOR HIGH SCHOOLS IN PPL PROGRAM ON FACULTY
OF EDUCATION, MATARAM UNIVERSITY
Abstract: The purpose of research is to know the grade of Mathematics learning quality that be done by university students in PPL Program from Faculty of Education and Teacher Training, Mataram University at Junior High School in Mataram City until First Midyear 2007/2008. Subject of research is the mathematics teachers at Junior High Schools in Mataram City that have experience as mathematics guidance teacher of PPL Program from Faculty of Education and Teacher Training, Mataram University in the last three years. The data is collected by questioner instrument, and then the data is analyzed by descriptive statistics quantitatively and qualitatively. The result shows that the average score of learning quality that be done by university students is 57.36 for scale 20 until 80. The grade of this average is Good. But there are many aspects that should be improved, e.q.: skills of design and do management of class, skill of implementation innovative learning oriented PAKEM (learning by actively, creatively, effectively, and enjoy), using of learning media, effective to knowledge students, skill of assessment for learning process and analyze it.
Keywords: school, learning quality, mathematics.
I. PENDAHULUAN
Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu program mata kuliah proses belajar mengajar yang dipersyaratkan dalam pendidikan prajabatan guru. Mata kuliah tersebut dirancang secara khusus untuk menyiapkan mahasiswa sebagai calon guru agar memiliki atau menguasai profesi keguruan yang terpadu secara utuh, sehingga setelah diangkat menjadi guru mereka diharapkan dapat mengemban tugas dan tanggung jawab secara profesional. Dalam struktur kurikulum di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram, yang sering disebut PPL adalah mata kuliah PPL II, sedangkan mata kuliah PPL I adalah micro teaching (pengajaran mikro). PPL memerlukan kemitraan dengan sekolah dan dalam
pelaksanaannya mahasiswa PPL dibimbing langsung oleh guru pamong dan dosen pembimbing.
Berdasarkan pengamatan selama peneliti bertindak sebagai dosen pembimbing, beberapa permasalahan sering muncul dalam pelaksaan PPL ini antara lain mahasiswa kurang bisa menyesuaikan dengan kondisi sekolah, mahasiswa hanya terfokus dengan mengajar saja dan kurang terlibat dengan kegiatan-kegiatan keguruan yang lain. Dalam hal melaksanakan pembelajaran di kelas, permasalahan yang muncul antara lain kurangnya persiapan mahasiswa yang menyebabkan kurangnya penguasaan materi dan kemampuan pengelolaan kelas.
13 Beberapa Permasalahan Matematika pada Tahun Pertama Bersama .... (Ketut Sarjana)
Di samping itu menurut informasi dari beberapa guru pamong dan kepala sekolah, bahwa sekolah kadang kala mendapatkan mahasiswa PPL dengan kemampuan yang kurang memadai. Adanya mahasiswa PPL yang tidak mempunyai bekal memadai untuk melaksanakan praktek pembelajaran akan menyebabkan sekolah merasa terbebani. Apabila masalah ini sering terjadi, maka program PPL ini dikhawatirkan akan dipandang oleh sekolah mitra sebagai kegiatan yang kurang bermanfaat bagi sekolah.
Bertitik tolak dari permasalahan tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas pembelajaran yang dilakukan mahasiswa PPL Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mataram di SMP Negeri se-Kota, serta untuk mengetahui aspek-aspek yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa PPL tersebut.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pada dasarnya kegiatan guru di kelas mencakup dua aspek utama, yaitu masalah instruksional (pembelajaran) dan masalah pengelolaan kelas. Terhadap kedua jenis masalah tersebut, guru harus secara jeli dan sistematis untuk dapat mengindentifikasikannya secara tepat. Dengan demikian tidak akan terjadi malpractice, yaitu munculnya masalah pembelajaran tetapi guru mengatasinya dengan terapi pengelolaan kelas, atau sebaliknya.
Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, mengembangkan hubungan inter personal dan iklim sosio emosional yang positif, serta mengembangkan organisasi kelas yang efektif dan produktif [1]
Berdasarkan pengertian di atas, seorang guru akan berhadapan dengan masalah individu dan masalah kelompok dalam hubungannya dengan pengelolaan kelas. Untuk dapat menyelesaikan masalah pengelolaan kelas secara efektif, seorang guru harus mampu mengidentifikasi masalah yang bersifat individu dan kelompok, memahami berbagai pendekatan penyelesaian maslah, dan mampu memilih pendekatan yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Masalah individu dapat muncul karena pada hakekatnya tingkah laku manusia itu mengarah pada pemcapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki atau merasa dirinya berguna dan dibutuhkan. Jika individu gagal mendapatkannya maka ia akan bertingkah laku dari yang paling ringan sampai yang paling berat, antara lain memperlihatkan ketidakmampuan, mencari perhatian, menunjukkan kekuasaan dan menuntut balas.
Menurut [1], berkaitan dengan masalah kelompok terdapat tujuh masalah yang berkenaan dengan hal tersebut, yaitu :
1. Hubungan tidak harmonis (kekurangkompakan), 2. Kekurangmampuan mengikuti kesepakaltan (peraturan)
kelompok,
3. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok, 4.Penerimaan kelompok atas tingkah laku yang
menyimpang,
5. Penyimpangan anggota kelompok dari ketentuan yang ditetapkan, atau mengikuti aturan kelompok lain,
6. Tidak memiliki teman, tidak mau bekerja, bertingkah laku agresif, dan protes,
7. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.
Pendekatan-pendekatan yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah pengelolaan kelas, antara lain prinsip pengubahan tingkah laku (behavior modification), iklim sosio emosional dan interpersonal, serta proses kelompok. Secara ringkas berikut ini dikemukakan tentang ketiga pendekatan tersebut.
- Pendekatan pengubahan tingkah laku didasarkan pada teori yang mengatakan bahwa semua tingkah laku baik yang disukai maupun yang tidak disukai adalah hasil belajar. Pendekatan ini dibangun atas dasar keyakinan bahwa ada empat proses dalam belajar yang berlaku bagi semua orang pada semua tingkatan umur, yaitu penguatan positif, penghukuman, penghilangan, dan penguatan negatif.
- Pendekatan iklim sosio emosional berakar dari psikologi klinis, sehingga dalam prakteknya menekankan pada pentingnya hubungan interpersonal. Pendekatan ini didasarkan pada suatu keyakinan bahwa penegelolaan kelas yang efektif merupakan fungsi dari hubungan yang positif antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa lainnya. Dalam hal ini guru sebagai penentu utama hubungan interpersonal dan iklim kelas. - Pendekatan proses kelompok juga dikenal dengan pendekatan sosio psikologis., yang mendasarkan pada prinsip-prinsip psikologis dan dinamika kelompok.Emapt asumsi dasar yang diadopsi dari pendekatan ini, yaitu : (1) Kegiatan sekolah berlangsung dalam suasana kelompok, (2) Tugas pokok guru adalah mengembangkan dan mempertahankan susana kelomok yang efektif dan produktif, (3) Kelas adalah suatu sistem sosial yang memiliki ciri-ciri sebagaimana yang dimiliki oleh sistem sosial masing-masing siswa, dan (4) Tugas pengelola kelas adalah mengembangkan dan mempertahankan kondisi yang dimaksud. [1]
Dari uraian di atas, kita perhatikan bahwa pengelolaan kelas merupakan salah satu aspek dalam proses belajar mengajar yang paling rumit tetapi menarik. Dikatakan rumit karena kemampuan penelolaan kelas memerlukan berbagai kriteria, antara lain keterampilan, pengalaman, kepribadian dan sikap. Dua guru yang sama-sama pandai dan berpengalaman tetapi berbeda dalam kepribadian dan sikap akan menghasilkan iklim belajar yang berbeda pula. Di sinilah letak seni dalam mengelola proses belajar mengajar. Kompetensi bersifat personal dan kompleks serta merupakan satu kesatuan yang utuh yang menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki seseorang yang terkait dengan profesi tertentu. Guru yang profesinal memiliki ciri-ciri : menguasai substansi kajian yang mendalam, dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik, berkepribadian, dan memiliki komitmen dan perhatian terhadap perkembangan peserta didik [2]. Setiap guru tidak hanya bertugas mengajar dalam pengertian memberikan dan mentransformasi pengetahuannya kepada para siswa, melainkan mereka harus terus menerus meningkatkan kualitas sebagai guru. [3]
Kompetensi Guru Matematika Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dikelompokkan dalam 5 rumpun kompetensi, yaitu: (1) memahami landasan dan wawasan pendidikan, (2) menguasai materi pembelajaran Matematika, (3) menguasai pengelolaan pembelajaran Matematika, (4) menguasai evaluasi pembelajaran Matematika, dan (5) memiliki kepribadian, wawasan profesi, dan pengembagannya [4]. Kelima rumpun kompetensi tersebut dijabarkan lagi dalam kompetensi-kompetensi dasar atau sub-sub kompetensi.
Kompetensi yang dimiliki guru diharapkan dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Secara operasional diperlukan keterampilan-keterampilan dasar mengajar, yang meliputi :
(1) Keterampilan membika dan menutup pelajaran, (2) Keterampilan bertanya dasar dan bertanya lanjut, (3) Keterampilan menjelaskan,
(4) Keterampilan memberi penguatan, (5) Keterampilan mengadakan variasi,
(6) Keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil, (7) Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, (8) Keterampilan mengelola kelas.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan PPL (Program Pengalaman Lapangan) bagi mahasiswa, keterampilan-keterampilan dasar mengajar tersebut di atas merupakan materi pokok dalam mata kuliah microteaching (PPL I) yang merupakan salah satu mata kuliah prasyarat untuk PPL. Di samping itu kepada mahasiswa juga diberikan bekal materi-materi lain yang menunjang.
III. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian survey. Penelitian dilaksanakan pada Semester Gasal 2007/
15 Beberapa Permasalahan Matematika pada Tahun Pertama Bersama .... (Ketut Sarjana)
2008 di SMP Negeri se-Kota Mataram yang menjalin kemitraan dengan UPPL FKIP Universitas Mataram. Banyaknya SMP Negeri di Kota Mataram yang telah menjalin kemitraan dengan FKIP Universitas mataram dalam pelaksanaan PPL yang mencakup mata pelajaran Metematika sampai dengan semester Gasal 2007/2008 adalah 20 sekolah.
Subyek penelitian adalah semua guru mata pelajaran Matematika SMP Negeri se-kota Mataram yang pernah menjadi guru pamong Mahasiswa PPL Program Studi Matematika FKIP Universitas Mataram dalam 3 tahun terakhir, yang banyaknya 64 orang. Dengan demikian cara pengambilan sampel menggunakan sampling populasi. Sedangkan rincian penyebaran subyek penelitian dinyatakan dalam Tabel 1.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket yang disusun oleh peneliti. Untuk memperoleh instrumen yang baik, angket dibuat dengan memperhatikan content validity. Untuk itu dalam penyusunannya terlebih dahulu dibuat kisi-kisi angket dengan memperhatikan aspek-aspek yang akan diukur. Adapun kisi-kisi instrumen penelitian dikemukakan dalam Tabel 2.
Angket terdiri dari 20 butir item dengan 4 pilihan, yaitu Sangat Baik, Baik, Kurang Baik, dan Sangat Kurang. Di samping itu ditambahkan isian untuk catatan/komentar. Skor untuk setiap butir adalah: 4 (Sangat Baik), 3 (Baik), 2 (Kurang Baik), dan 1 (Sangat Kurang). Dengan demikian rentang skor untuk setiap responden berkisar antara 20 sampai dengan 80.
Setelah data penelitian diperoleh, dilakukan teknik analisis deskriptif yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang skor kualitas pembelajaran, yang meliputi skor tertinggi, skor terendah, rata-rata, simpangan baku. Sedangkan analisis kualitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran tingkat kualitas pembelajaran dalam bentuk kategori.
Adapun penentuan kategori dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung nilai-nilai berikut.
Skor maksimal ideal (M), Skor minimal yang mungkin (m) Mean Ideal (MI) = (M+m)/2
Simpangan Baku Ideal (SDI) = (M-m)/6.
Selanjutnya penentuan kategori dilakukan berdasarkan Tabel 3.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Untuk memperoleh gambaran tingkat kualitas pembelajaran mahasiswa PPL Matematika FKIP Universitas Mataram di SMP Negeri se-Kota Mataram, data yang diperoleh diolah dengan teknik analisis deskriptif.
Analisis deskriptif terhadap skor responden dilakukan untuk mengetahui tingkat kualitas pembelajaran yang meliputi skor minimum, skor maksimum, rata-rata, dan simpangan baku. Dengan rentang skor dari 20 sampai dengan 80, hasil analisis data tentang kualitas pembelajaran yang diperoleh disajikan pada Tabel 4.
Setelah dilakukan analisis kualitatif, diperoleh bahwa rata-rata kualitas pembelajaran mahasiswa PPL Matematika berkategori baik.
Analisis terhadap data skor butir dilakukan untuk mengetahui manakah aspek-aspek kualitas pembelajaran yang sudah dilaksanakan dengan baik dan manakah yang masih kurang. Dari 20 butir angket yang mengukur aspek-aspek pembelajaran, dihasilkan analisis skor butir yang disajikan pada tabel 5 berikut.
Aspek yang berkategori sangat baik adalah aspek performance mahasiswa yang ditinjau dari penampilan fisik, cara berpakaian, dan tingkah laku. Sedangkan aspek-aspek yang belum mencapai kategori baik (masih berkategori cukup) adalah: (1) rancangan pengelolaan kelas, (2) kemampuan pengelolaan/penguasaan kelas, (3) ketrampilan melaksanakan pembelajaran inovatif yang mengarah ke PAKEM, (4) penggunaan alat dan media pembelajaran, (5)
efektivitas pencapaian target penguasaan materi oleh siswa, (6) penilaian proses, dan (7) analisis hasil penilaian.
Selanjutnya dari catatan/komentar responden, diperoleh masukan tentang hal-hal yang perlu diperbaiki di waktu mendatang, yaitu: (1) penguasaan/ pengelolaan kelas, (2) kehadiran dosen di sekolah, (3) penggunaan alat dan media pembelajaran, (4) beban kuliah lain pada waktu mengikuti memprogramkan PPL, serta (5) perlunya pembekalan pengetahuan mahasiswa tentang kurikulum yang sedang berlaku di sekolah (KTSP).
Dari hasil penelitian di atas, dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa PPL Matematika tergolong baik. Apabila dilihat dari program studinya, program studi pendidikan Matematika merupakan salah satu dari dua program studi di FKIP Unram yang terakreditasi B di antara 7 program studi yang ada di FKIP Unram. Sedangkan apabila dilihat dari perguruan tinggi yang lain, FKIP Unram merupakan LPTK Negeri yang kualitasnya lebih baik dari prguruan tingi swasta di NTB. Meskipun jawaban angket tidak berdasarkan membandingkan dengan perguruan tinggi lain, tetapi hal ini secara tidak langsung kemungkinan mempengaruhi persepsi sekolah, yang dalam hal ini adalah guru pamong. Meskipun kualitas pembelajaran tergolong baik, tetapi ada beberapa aspek yang masih perlu diperhatikan untuk ditingkatkan lebih baik. Hal ini meliputi: kemampuan merancang dan melaksanakan pengelolaan kelas, ketrampilan melaksanakan pembelajaran inovatif yang mengarah ke PAKEM, penggunaan media pembelajaran, efektifitas pembelajaran, serta kemampuan melaksanakan penilaian proses dan analisa hasil penilaian. Aspek-aspek tersebut memang memerlukan pengalaman dan kematangan yang belum dimiliki mahasiswa PPL. Di samping itu dalam menerima pelajaran, siswa seringkali bersikap berbeda pada waktu diajar mahasiswa PPL dibandingkan kalau diajar oleh guru sekolahnya. Kadang-kadang materi yang sudah diajarkan oleh mahasiswa PPL diulas kembali oleh guru sekolah karena target penguasaan materi belum tercapai.
Dari catatan/komentar responden diperoleh masukan-masukan lain untuk perbaikan pelaksanaan PPL, baik dari segi kualitas pembelajaran maupun sistem/mekanisme pelaksanaannya. Dua hal yang paling banyak disarankan oleh lebih dari 10% responden masing-masing adalah peningkatan pengelolaan/penguasaan kelas dan peningkatan kehadiran dosen pembimbing di sekolah. Penugasan dosen untuk membimbing mahasiswa PPL yang tidak sesuai dengan bidang studinya juga perlu mendapatkan perhatian. Adanya beban kuliah lain kadang-kadang dipakai alasan mahasiswa untuk tidak sepenuhnya menerima tugas dari sekolah. Pembekalan tentang perkembangan pendidikan di sekolah, terutama menyangkut kurikulum, juga perlu ditingkatkan karena seringkali ditemui mahasiswa tidak memahami perubahan kurikulum yang berlaku.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat kualitas pembelajaran mahasiswa PPL Program Studi Matematika FKIP Unram sampai dengan semester
genap tahun 2007/2008 tergolong baik, dipandang dari pihak sekolah yang dalam hal ini adalah guru pamong. 2. Aspek-aspek pembelajaran yang perlu ditingkatkan lebih
baik adalah:
a. Pengelolaan/ penguasaan kelas,
b. Inovasi pembelajaran yang berorientasi PAKEM, c. Penggunaan media pembelajaran,
d. Penguasaan materi siswa,
e. Penilaian proses dan analisa hasil penilaian. B. SARAN-SARAN
Saran-saran yang dapat dikemukakan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
1. Mahasiswa yang akan melaksanakan PPL hendaknya mempersiapkan sungguh-sungguh, baik dari segi penguasaan substansi materi, pengetahuan tentang perkembangan pendidikan, terutama pembaharuan kurikulum, serta aspek-aspek kegiatan pembelajaran. 2. Sekolah hendaknya meningkatkan kemitraan dengan
LPTK untuk penyelenggaraan PPL dengan memasukkan dalam program sekolah, dalam rangka peningkatan mutu pendidikan melalui pembinaan calon guru.
3. Unit Program Pengalaman Lapangan (UPPL) FKIP Unram hendaknya senantiasa melakukan refleksi untuk perbaikan pelaksanaan PPL dari waktu ke waktu, antara lain mengintensifkan kehadiran dosen di sekolah dan penugasan dosen pembimbing yang sesuai dengan bidang studinya.
4. FKIP Universitas Mataram hendaknya lebih sering melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PPL, untuk mewujudkan PPL sebagai program kemitraan yang dibutuhkan oleh sekolah, bukan kemitraan yang memberikan beban bagi sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sunarto, S. 2003. Interaksi Pembelajaran dan Pengelolaan Kelas (Media pebelajaran Pelatihan Terintegrasi berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika). Direktorat PLP, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.
[2] Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi guru Pemula Sekolah Lanjutan Petama/Sekolah Menengah Atas. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Ditjen Dikti, Depdiknas, Jakarta.
[3] Indra Djati S. 2001. Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma baru Pendidikan. Paramadina, Jakarta.
[4] Depdiknas. 2003. Kompetensi Guru Sekolah lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Direktorat PLP, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.
[5] Bell, F.H. 1981. Teaching and learning Mathematics in Secondary School. Wm. C Brown company, Iowa. [6] Depdikbud. 1999. Suplemen Model Pembelajaran.
Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, Depdikbud, Jakarta.
J. Pijar MIPA, Vol. III No.1, Maret 2008 : 17 - 22. ISSN 1907-1744
[7] Hudoyo, H. 1979. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Penerbit Usaha Nasional, Surabaya.
[8] Sudjana. 1988. Metoda Statistika, Edisi Ke IV. Penerbit Tarsito, Bandung.
[9] Sudjana, N. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Penerbit Sinar Baru, Jakarta.
PEMBERITAHUAN
Penelitian ini dibiayai Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor: 140b/h18.12.2/PL/2007, Direktorat Pembinaan Penelitian Dan Pengabdian Pada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.