• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 2. Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab 2. Landasan Teori"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Landasan Teori

Pada bab ini, penulis akan memaparkan teori yang digunakan sebagai landasan teori dalam penulisan skripsi ini. Teori yang digunakan yaitu teori analisis eror berbahasa, teori pembelajaran bahasa kedua, dan teori makna verba agaru dan noboru.

2.1 Teori Analisis Eror Berbahasa

Analisis eror berbahasa merupakan bagian jenis analisis yang berfokus meneliti kesalahan yang dibuat pembelajar bahasa dalam proses memperoleh bahasa kedua. Selain itu, umumnya analisis eror menekankan tujuan untuk mencari perbandingan kesalahan antara bahasa pertama dan bahasa kedua pembelajar.

Sementara itu Brown (2000:218) mendefinisikan analisis eror sebagai berikut.

“The fact that learners do make errors, and that these error can be observed, analyzed, and classified to reveal something of the system operating within the learner, led to a surge of study of learner’s error, called error analysis.”

Terjemahan :

Fakta bahwa pembelajar membuat kesalahan, dan kesalahan ini dapat diobservasi, dianalisis, dan diklasifikasikan untuk mengungkapkan sesuatu sistem operasi si pembelajar, penyebab lonjakan kesalahan si pembelajar dalam pembelajarannya, disebut analisis eror.

Menurut Gonzalez (2008:280) menjelaskan analisis eror sebagai berikut: “Error analysis comprises a variety of linguistic analyses of the errors language learners make in producing or comprehending a new language. The two questions that guide this analysis are as follow: (1) what types of errors do they make? and (2) what a re sources of these error?”

(2)

Terjemahan :

Analisis eror merupakan jenis analisis linguistik mengenai kesalahan berbahasa yang dibuat pembelajar dalam menghasilkan atau memahami bahasa baru. Dua pertanyaan yang dapat memandu analisis ini ialah sebagai berikut: (1) jenis kesalahan apa yang mereka buat? dan (2) apa sumber kesalahan ini?

Kesalahan berbahasa sering terjadi karena adanya perbedaan antara sistem bahasa pertama dengan sistem bahasa kedua atau bahasa asing yang sedang dipelajari. Menurut Brown (2000:224-227) mengutarakan sumber utama dari penyebab kesalahan yaitu:

1. Transfer Interlingual

Seperti yang diketahui, transfer interlingual merupakan sebuah sumber kesalahan yang signifikan bagi pembelajar bahasa. Pada tahap awal permulaan pembelajaran bahasa kedua sangat rentan dipengaruhi dari bahasa ibu karena sebelum akrab dengan sistem bahasa kedua, bahasa ibu merupakan bahasa satu-satunya bagi pembelajar.

2. Transfer Intralingual

Salah satu kontribusi besar dalam penelitian pembelajaran bahasa adalah kesalahan yang terjadi dalam mempelajari bahasa kedua itu sendiri. Kesalahan itu ditemukan ketika pembelajar bahasa membentuk sistem bahasa yang ia ketahui ke dalam bahasa kedua yang sedang dipelajari. Menyamaratakan kaidah-kaidah ke dalam bahasa tersebut.

3. Konteks Pembelajaran

Ketika tidak lengkapnya kondisi dalam mempelajari bahasa kedua seperti guru yang berkualitas, material dan sebagainya, saat itu pun terjadi kesalahan mengenai penjelasan apa yang diterima pembelajar baik itu kata kerja, struktur bahasa dan lain-lain diakibatkan kurang mendukungnya fasilitas yang lengkap.

(3)

4. Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi didefinisikan dan terkait dengan gaya belajar. Pembelajar jelas menggunakan strategi produksi dalam rangka meningkatkan pesan. Tetapi pada suatu saat teknik yang mereka gunakan akan menjadi sumber masalah.

Analisis kesalahan dan kekeliruan sulit untuk dibedakan tanpa mengadakan analisis yang cermat. Dalam menganalisis kesalahan perlu dibutuhkan langkah-langkah dalam pengerjaannya. Menurut Corder dalam Ellis (1994:48) mengemukan lima langkah dalam pengerjaan analisis eror yaitu sebagai berikut:

1. Mengumpulkan sampel dari pembelajar bahasa 2. Mengidentifikasi kesalahan

3. Memaparkan kesalahan 4. Menjelaskan kesalahan

5. Mengevaluasi atau mengoreksi kesalahan

Kemudian menurut Nursida (2014:102) menyatakan tujuan dari analisis eror yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana seseorang belajar bahasa

2. Untuk menemukan seberapa baik dan benar seseorang mengetahui bahasa ajar

3. Untuk memperoleh informasi tentang kesulitan-kesulitan biasa dalam belajar bahasa sebagai suatu sarana dalam pengajaran atau dalam penyiapan materi pengajaran.

2.2 Teori Pembelajaran Bahasa Kedua

Dardjowidjojo (2010:225) menyatakan istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah Inggris yaitu acquisition yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu belajar bahasa ibunya (native language). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah Inggris yaitu learning. Dalam pengertian ini proses tersebut dilakukan dalam tatanan formal dengan belajar di kelas dan diajarkan oleh seorang guru.

(4)

Menurut Chaer (2009:242) pembelajaran bahasa biasanya mengacu pada proses pemerolehan bahasa kedua setelah seseorang memperoleh bahasa pertamanya. Digunakannya istilah pembelajaran bahasa karena diyakini bahwa bahasa kedua hanya dapat dikuasai dengan proses belajar, dengan cara sengaja dan sadar. Hal ini berbeda dengan penguasaan bahasa pertama atau bahasa ibu yang diperoleh secara ilmiah, secara tidak sadar di dalam lingkungan keluarga. Krashen yang dikutip oleh Harras (2009:71) mengatakan kemampuan bahasa kedua mengacu pada pembelajaran. Kemampuan bahasa kedua berwujud kegiatan mengajarkan dan umumnya belajar bahasa kedua terjadi di dalam ruang kelas formal.

Berdasarkan Ellis dalam Chaer (2009:243) membagi pembelajaran bahasa menjadi dua tipe yaitu, tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Pertama, tipe naturalistik bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan. Pembelajaran berlangsung di dalam lingkungan kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat bilingual atau multilingual tipe naturalistik banyak dijumpai. Sebagai contoh ada seorang anak di dalam keluarganya menggunakan bahasa pertama, misal bahasa X, saat keluar rumah berjumpa dengan teman-teman lain yang berbahasa Y. Dengan hal itu anak tersebut akan mencoba dan berusaha menggunakan bahasa Y. Kedua, tipe formal yaitu berlangsung di dalam kelas dengan guru, materi, dan alat-alat bantu belajar yang sudah dipersiapkan.

Dalam pembelajaran bahasa kedua ada beberapa faktor yang berkaitan mempengaruhi keberhasilan seseorang untuk memperoleh bahasa keduanya. Secara umum faktor-faktor tersebut yaitu:

1. Faktor Motivasi

Chaer (2009:251) menjelaskan dalam pembelajaran bahasa kedua ada asumsi yang menyatakan bahwa orang yang di dalam dirinya ada keinginan, dorongan, atau tujuan yang ingin dicapai dalam belajar bahasa kedua cenderung akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar tanpa dilandasi oleh suatu dorongan, tujuan, atau motivasi itu.

Menurut Gardner dan Lambert yang dikutip dalam Chaer (2009:251) Motivasi memiliki dua fungsi, yaitu (1) motivasi integratif kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk mempelajari suatu bahasa karena adanya keinginan untuk berkomunikasi dengan masyarakat penutur bahasa itu atau

(5)

menjadi anggota masyarakat bahasa tersebut. Sedangkan (2) motivasi instrumental ialah motivasi mendorong seseorang untuk memiliki kemampuan untuk mempelajari bahasa kedua itu karena tujuan yang bermanfaat atau karena dorongan ingin memperoleh suatu pekerjaan atau mobilitas sosial pada lapisan atas masyarakat tersebut.

2. Faktor Usia

Menurut Djunaidi yang dikutip dalam Chaer (2009:252) ada anggapan umum bahwa dalam pembelajaran bahasa kedua bahwa anak-anak lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak lebih mudah dalam memperoleh bahasa baru, sedangkan orang dewasa mendapatkan kesulitan dalam memperoleh tingkat kemahiran bahasa kedua.

3. Faktor Bakat

Menurut Ellis (1990:293) bahwa bakat mengacu pada kemampuan tertentu yang dimiliki pembelajar dalam mempelajari bahasa kedua. Bakat ini diduga tdak terlepas dari kemampuan untuk menguasai keterampilan akademik, yang disebut sebagai “kecerdasan”

Dari hasil yang telah dicapai para ahli, pembelajaran bahasa sampai saat ini belum bisa secara mantap disebut sebagai teori dikarenakan belum teruji, dan lebih tepatnya disebut sebagai hipotesis. Hipotesis-hipotesis berikut di antaranya yaitu sebagai berikut:

1. Hipotesis Kesamaan Antara Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua

Menurut Nurhadi dalam Chaer (2009: 246-247) hipotesis ini menyatakan adanya kesamaan dalam proses belajar bahasa pertama (B1) dan belajar bahasa kedua (B2). Kesamaan itu terletak pada urutan pemerolehan struktur bahasa, seperti modus interograsi, negasi, dan morfem-morfem gramatikal. Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa diperoleh dengan urutan-urutan yang diramalkan. Unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh terlebih dahulu, sementara unsur kebahasaan lain diperoleh baru kemudian.

(6)

2. Hipotesis Kontrastif

Menurut Fries dan Lado dalam Chaer (2009:247) hipotesis ini menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar bahasa kedua (B2) adalah karena adanya perbedaan antara bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2). Sedangkan kemudahan dalam belajar bahasa kedua disebabkan oleh adanya kesamaan antara bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2). Adanya perbedaan antara bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, sedangkan adanya persamaan antara bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) akan menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar B2. Hipotesis kontrastif ini juga menyatakan bahwa seorang pembelajar bahasa kedua seringkali melakukan transfer bahasa pertama ke bahasa kedua dalam menyampaikan suatu gagasan dan terjadi pada semua tingkat kebahasaan baik tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, maupun tata (leksikon).

3. Hipotesis Krashen

Stephen Krashen dalam Chaer (2009:247-250) mengajukan Sembilan buah hipotesis yang saling berkaitan. Kesembilan hipotesis itu adalah:

a. Hipotesis Pemerolehan dan Belajar

Dalam penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning). Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terencana. Sebaliknya, belajar adalah usaha sadar untuk secara formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama yang berkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa.

Selain itu Krashen (1982:7) menjelaskan bahwa perbedaan pemerolehan dan pembelajaran adalah hal yang paling mendasar dalam semua hipotesis yang disajikan. Orang dewasa memiliki dua cara untuk mengembangkan kompetensi di dalam bahasa kedua. Pertama, pemerolehannya berbeda dengan cara anak-anak mengembangkan kemampuan bahasa pertamanya. Prosesnya terjadi secara bawah sadar dan hanya menyadari bahwa mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Selain itu, tidak menyadari mengenai aturan bahasa yang

(7)

diperolehnya. Tetapi memiliki rasa dalam kebenaran bahasanya seperti kalimat gramatikalnya terdengar benar, atau berdasarkan perasaan itu benar. Lalu ketika merasa salah, tidak tahu mengenai aturan tata bahasa apa yang dilanggar. Cara lain itu mengembangkan pemerolehan bahasa yaitu melalui pembelajaran implisit, pembelajaran informal, dan pembelajaran alami.

Kedua, untuk mengembangkan kompetensi dalam bahasa kedua adalah melalui pembelajaran bahasa. Biasanya menggunakan istilah “belajar” yang selanjutnya merujuk kepada pengetahuan bahasa kedua secara sadar, dan mengetahui aturan tentang bahasa. Secara non teknis, belajar yaitu mengetahui tentang bahasa, seperti aturan tata bahasa yang disebut secara eksplisit. Teori bahasa kedua menjelaskan bahwa anak-anak dalam memperoleh bahasa yaitu dengan cara memperoleh, sedangkan orang dewasa hanya bisa belajar.

b. Hipotesis Urutan Alamiah

Hipotesis ini menyatakan bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kanak-kanak memperoleh unsur-unsur bahasa menurut urutan tertentu yang dapat diprediksikan. Urutan ini bersifat alamiah. Hasil penelitian menunjukan pola pemerolehan unsur-unsur bahasa yang relatif stabil untuk bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing.

c. Hipotesis Monitor

Hipotesis ini menyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan bahasa. Proses sadar menghasilkan hasil belajar dan proses bawah sadar menghasilkan pemerolehan. Kaidah tata bahasa yang kita kuasai ini hanya berfungsi sebagai monitor saja dalam pelaksanaan (performasi) berbahasa.

d. Hipotesis Masukan

Hipotesis ini menyatakan bahwa seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dapat dipahami yaitu dengan memusatkan perhatian pada pesan atau isi, dan bukan pada bentuk. Selain itu,

(8)

menyatakan bahwa kegiatan mendengarkan untuk memahami isi wacana sangat penting dalam proses pemerolehan bahasa.

e. Hipotesis Afektif (Sikap)

Hipotesis ini menyatakan bahwa orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan dengan orang yang kepribadian dan sikap yang lain.

f. Hipotesis Pembawaan (Bakat)

Hipotesis ini menyatakan bahwa bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan dalam belajar bahasa kedua. Krashen menyatakan bahwa sikap secara langsung itu berhubungan dengan pemerolehan bahasa kedua, sedangkan bakat berhubungan dengan belajar.

g. Hipotesis Filter Aktif

Hipotesis ini menyatakan bahwa sebuah filter yang bersifat afektif dapat menahan masukan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh bahasa kedua. Filter itu dapat berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi yang menegangkan. Sikap defensif, dan sebagainya.

h. Hipotesis Bahasa Pertama

Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak.

i. Hipotesis Variasi Individual Pengguanaan Monitor

Hipotesis ini berkaitan dengan hipotesis ketiga (hipotesis monitor), menyatakan bahwa cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata bervariasi.

(9)

4. Hipotesis Bahasa – Antara

Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa/ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu. Bahasa antara ini merupakan produk dari strategi seseorang dalam belajar bahasa kedua.

5. Hipotesis Pijinisasi

Hipotesis ini menyatakan bahasa pijin (pidgin) yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin digunakan untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki bahasa sendiri

2.3 Makna Verba Agaru 「「「「上上上上がるがるがるがる」」」

Menurut Izuhara et.all (2009:14) verba agaru memiliki makna yaitu: 到着点に焦点。全体的部分的・連続非連続の上への移動する。

完了など。

Touchakuten ni shouten. Zentaitekide bubunteki. Renzoku hirenzoku no ue e no idou. Kanryou nado.

Terjemahan :

Fokus pada titik tiba. Sebagian atau seluruh. berpindah ke arah atas secara terus-menerus. Penyelesaian dan lain-lain.

Menurut Koizumi et.all (1989:5) verba agaru memiliki makna yaitu: 下から上に移動したり、位置が高くなる。

Shita kara ue ni idoushitari, ichi ga takaku naru.

Terjemahan:

Suatu gerakan yang berpindah dari bawah ke atas, posisi menjadi lebih tinggi.

(10)

Dalam penggunaan verba agaru ini terdiri dari 3 pola yaitu:

1. Pola ini menunjukan makna agaru yang berfokus pada penentuan arah. Dalam arti yang lebih spesifiknya menekankan pada tempat tujuan. Subjek melakukan perpindahan ke arah atas di awali dari tempat titik awal ke tempat titik tiba atau tujuan. Subjek terdiri dari manusia atau makhluk hidup. Pola verba agaru ini yaitu sebagai berikut:

例:子供たちは一階から二階に上がった。

Anak-anak telah naik dari lantai satu ke lantai tiga.

2. Pola ini menunjukan makna agaru yang berfokus pada jalur yang dilalui. Namun tetap berfokus pada tempat tujuan atau titik tiba.

Subjek melakukan perpindah dari bawah ke atas dengan melalui sebuah jalur atau rute, biasanya melalui jalur yang kondisinya memiliki kemiringan. Subjek terdiri dari manusia, makhluk hidup atau kendaraan. Pola verba agaru ini yaitu sebagai berikut:

例:バスが坂道を上がって行く。 Bus pergi melewati bukit

3. Pola ini menunjukan makna agaru yang berfokus pada pergerakan barang atau bagian tubuh ke arah atas.

Hal seperti bagian anggota tubuh atau barang naik ke arah atas. Pola verba agaru ini yaitu sebagai berikut:

例:子供たちの手が上がった。

[人・生き物]{が/は}( [所] から) [所] {に/へ}上がる

[人・生き物・乗り物] {が/は} [所]を上がる

(11)

Tangan anak-anak telah naik ke atas.

2.4 Makna Verba Noboru 「「「「上上上上るるるる」」」

Menurut Izuhara et.all (2009:14) verba noboru memiliki makna yaitu: 経路に焦点。自分で働くものの全体的で、連続した上への移動 するなど。

Keiro ni shouten Jibun de ugoku mono no zentaiteki de, renzokushita ue e no idousuru nado.

Terjemahan :

Berfokus pada rute. Keseluruhan benda yang bergerak dilakukan sendiri, berlanjut berpindah ke atas.

Menurut Koizumi et.all (1989:406) verba noboru memiliki makna yaitu: 移動して高いところに達する。

Idoushite takai tokoro ni tassuru. Terjemahan :

Berpindah mencapai tempat yang tinggi.

Dalam penggunaan verba noboru ini terdiri dari 2 pola yaitu:

1. Pola ini menunjukan makna noboru yang berfokus proses pergerakan naiknya.

Dalam hal ini tidak ada tempat tujuan atau titik akhir dari gerakan naik tersebut. Berfokus pada aktivitas naiknya. Subjek terdiri dari manusia, organisasi atau kendaraan. Pola verba noboru ini yaitu sebagai berikut:

例:エレベーターが8階に上る。

(12)

Lift naik ke lantai 8

2. Pola ini menunjukan makna noboru yang menekankan proses kegiatan melajunya.

Dalam hal ini tidak ada tempat tujuan atau titik akhir dari proses kegiatan melajunya. Subjek terdiri dari manusia, organisasi atau kendaraan. Pola verba noboru ini yaitu sebagai berikut:

例:階段を上る。 menaiki tangga

[人・組織・乗り物] {が/は} [所] を ([所] から) ([所] {に/へ}上る) 上る

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan Penelitian ini adalah Penyelesaian debitur wanprestasi atas obyek jaminan fidusia yang telah didaftarkan sesuai dengan undang-undang No 42 tahun 199 tentang

Dari AutoCad, peta hasil digitasi dikonversi ke dalam bentuk format yang dapat di baca oleh perangkat lunak Map Info yaitu : konversi dari format AutoCad (DWG) ke format standar

terlampir dalam dokumen tersebut, surat pernyataan kesediaan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh Ketua Koperasi

Puncak absropsi sekitar 650cm dan 770cm (Gb.2) pada kaca zinc–tellurite mungkin merupakan mixing dari beberapa struktur unit TeO 3 group, symmetric TeO 4 group dan depormed TeO 4

yang dibangun dari blok-blok training data , dan melakukan klasifikasi dengan cara voting terhadap hasil prediksi yang dibuat oleh masing-masing base classifier ,..

Perusahaan harus meminta persetujuan dari LPPOM MUI setiap penambahan fasilitas produksi baru untuk produk yang sudah disertifikasi7. Contoh surat permintaan

- Sarana belajar ttg Kesehatan Ibuhamil Dalam bentuk tatap muka kelompok untuk. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai

Data rata-rata yang diperoleh dari perhitungan nilai kecernaan bahan organik (KcBO) dapat diketahui bahwa pemberian EM-4 pada dosis tinggi cenderung