ISSN 0216-8537
9 77 0 21 6 8 5 3 7 21
Volume 13
Nomor 2
September 2016
13 2
Hal. 107 - 286
September 2016
Tabanan
IMPLEMENTASI DEMOKRASI INDONESIA
TERHADAP CALON INDEPENDENDALAM PILKADA
MENURUT UNDANG-UNDANGNO. 12 TAHUN 2008
I GEDE SUTRISNA ADHI UPT – PPKB
(Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Pembangunan Karakter Bangsa)
Universitas Udayana
ABSTRAK
Pancasila sebagai pandangan hidup mengharuskan bangsa Indonesia untuk mentransformasikan nilai-nilai Pancasila secara nyata dan terus-menerus penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan.Dalam mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi pancasila dengan hadirnya calon independen dalam sebuah pilkada tentu memilki imbas politik yang luas setidaknya kepada partai-partai politik, diantara imbas tersebut adalah lahirnya tantangan bagi para pengurus partai politik.Tampilnya calon independen memang membuat kompetisi semakin kompleks dan ketat.Kompetisi tidak saja terjadi antar partai politik yang mengusung calonnya masing-masing, tetapi juga terjadi antara partai politik dengan calon independen.Sudah tentu persaingan yang semakin ketat tersebut "memaksa" partai politik untuk membenahi dirinya dengan melakukan konsolidasi wawasan, konsolidasi organisasi dan konsolidasi kader.
Kelemahannya dan tantangannya saat ini, calon independen tidak memiliki infrastruktur politik yang jelas. Sehingga, apa yang menjaga hubungan konstituen (infrastruktur) dengan lembaga eksekutif (suprastruktur) tidak ada. Justru posisi eksekutif yang diisi oleh calon independen tidak akan memperoleh legitimasi politik yang kuat dari DPRD Propinsi dan Kabupaten/Kota karena representasi dari kekuatan berbagai parpol. Dilihat dari efektifitas pemerintahan, kita menyaksikan pesimisme yang lain. Calon independen yang terpilih menjadi kepala daerah sangat mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengambil kebijakan bersama DPRD.Jika tidak dicalonkan oleh partai dan tidak didukung oleh partai, sangat mudah diduga bahwa fraksi-fraksi DPRD juga tidak akan begitu saja mendukung kebijakan Kepala Daerah. Potensi masalah lain, di daerah-daerah dengan kontrol publik yang lemah, calon independen bisa menjadi tokoh politik yang tidak terkontrol sehingga kebijakan publik pun menjadi tidak terkendali. Jika didukung institusi primordial yang kuat, tampilnya kepala daerah dari calon independen juga bisa memicu peluang bangkitnya oligarki primordial.
Kata Kunci: Demokrasi, Calon Independen, Pilkada PENDAHULUAN
Pencalonan kepala daerah secara independen sedang marak diperbincangkan.
Persoalan tentang syarat-syarat yang
dibutuhkan untuk seorang calon independen dapat ikut serta dalam pemilihan kepala daerah kian menjadi perbincangkan yang hangat. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Undang-Undang Pilkada) dalam pasal 41 ayat
(1) dan ayat (2) telah mengatur tentang syarat-syarat yang dibutuhkan untuk dapat maju kepemilihan kepala daerah secara independen. Namun banyaknya anggapan bahwa pencalonan secara indepenten akan merusak jalannya demokrasi membuat peraturan itu dipertanyakan. Permasalahan yang terjadi kini adalah semakin menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap calon-calon yang diusung oleh partai politik.Ini terjadi karena semakin banyak persoalan yang menjerat kepala daerah
IMPLEMENTASI DEMOKRASI INDONESIA
TERHADAP CALON INDEPENDENDALAM PILKADA
MENURUT UNDANG-UNDANGNO. 12 TAHUN 2008
I GEDE SUTRISNA ADHI UPT – PPKB
(Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Pembangunan Karakter Bangsa)
Universitas Udayana
ABSTRAK
Pancasila sebagai pandangan hidup mengharuskan bangsa Indonesia untuk mentransformasikan nilai-nilai Pancasila secara nyata dan terus-menerus penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan.Dalam mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi pancasila dengan hadirnya calon independen dalam sebuah pilkada tentu memilki imbas politik yang luas setidaknya kepada partai-partai politik, diantara imbas tersebut adalah lahirnya tantangan bagi para pengurus partai politik.Tampilnya calon independen memang membuat kompetisi semakin kompleks dan ketat.Kompetisi tidak saja terjadi antar partai politik yang mengusung calonnya masing-masing, tetapi juga terjadi antara partai politik dengan calon independen.Sudah tentu persaingan yang semakin ketat tersebut "memaksa" partai politik untuk membenahi dirinya dengan melakukan konsolidasi wawasan, konsolidasi organisasi dan konsolidasi kader.
Kelemahannya dan tantangannya saat ini, calon independen tidak memiliki infrastruktur politik yang jelas. Sehingga, apa yang menjaga hubungan konstituen (infrastruktur) dengan lembaga eksekutif (suprastruktur) tidak ada. Justru posisi eksekutif yang diisi oleh calon independen tidak akan memperoleh legitimasi politik yang kuat dari DPRD Propinsi dan Kabupaten/Kota karena representasi dari kekuatan berbagai parpol. Dilihat dari efektifitas pemerintahan, kita menyaksikan pesimisme yang lain. Calon independen yang terpilih menjadi kepala daerah sangat mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengambil kebijakan bersama DPRD.Jika tidak dicalonkan oleh partai dan tidak didukung oleh partai, sangat mudah diduga bahwa fraksi-fraksi DPRD juga tidak akan begitu saja mendukung kebijakan Kepala Daerah. Potensi masalah lain, di daerah-daerah dengan kontrol publik yang lemah, calon independen bisa menjadi tokoh politik yang tidak terkontrol sehingga kebijakan publik pun menjadi tidak terkendali. Jika didukung institusi primordial yang kuat, tampilnya kepala daerah dari calon independen juga bisa memicu peluang bangkitnya oligarki primordial.
Kata Kunci: Demokrasi, Calon Independen, Pilkada PENDAHULUAN
Pencalonan kepala daerah secara independen sedang marak diperbincangkan.
Persoalan tentang syarat-syarat yang
dibutuhkan untuk seorang calon independen dapat ikut serta dalam pemilihan kepala daerah kian menjadi perbincangkan yang hangat. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Undang-Undang Pilkada) dalam pasal 41 ayat
(1) dan ayat (2) telah mengatur tentang syarat-syarat yang dibutuhkan untuk dapat maju kepemilihan kepala daerah secara independen. Namun banyaknya anggapan bahwa pencalonan secara indepenten akan merusak jalannya demokrasi membuat peraturan itu dipertanyakan. Permasalahan yang terjadi kini adalah semakin menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap calon-calon yang diusung oleh partai politik.Ini terjadi karena semakin banyak persoalan yang menjerat kepala daerah
semu dapat diolah menjadi pakan ternak, minuman beralkohol dan ampasnya dapat diolah menjadi abon. Cairan cangkang dapat diolah menjadi tir dan lem kayu. Kulit viber dapat diolah menjadi kampas rem dan kampas kopling yang anti panas (Anon., 2008). Mengingat banyaknya manfaat dari tanaman jambu mete ini khususnya bagi pelaku usaha tani di daerah kristis diharapkan dapat meningkatkan kesejahtraan mereka. Untuk itu, pembudidayaan jambu mete harus dilakukan secara optimal.
Pada tahun 2007 areal jambu mete tersebar di 24 provinsi dan yang dikatagorikan sentra produksi utama jambu mete adalah 9 provinsi, yaitu terdiri atas Nusa Tenggara Timur dengan luas 170.191 ha dan produksi 37.331 t, Sulawesi Tenggara dengan luas 121.511 ha dan produksi 34.696 t, Sulawesi Selatan dengan luas 65.363 ha dan produksi 24.401 t, Nusa Tenggara Barat dengan luas 63.909 ha dan produksi 13.497 t, Jawa Timur dengan luas 48.497 ha dan produksi 14,161 t, Jawa Tengah dengan luas 26.512 ha dengan produksi 8.314 t, Bali dengan luas 10.329 ha dengan produksi 2.971 t,D I Yogyakarta dengan luas 21.211 ha dengan produksi 631 t, Sulawesi Tengah dengan luas 21.221 ha dengan produksi 5.315 t ( Anon., 2008).
Jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan Bali khususnya pada lahan kritis.Beberapa tanaman yang lain tidak mampu tumbuh dan berproduksi optimal di lahan kritis, hal ini menjadikan salah satu keunggulan dari tanaman jambu mete(Anon., 2006).Luas areal perkebunan jambu mete di Bali tahun 2012 seluas 12.444 ha dan terdapat sisa potensi sebesar8.070 ha, dan produksi sebesar 3.735,817 t (Anon., 2012).
Beberapa faktor utama yang diduga menjadi penyebab rendahnya prouktivitas mete di daerah ini selain karena mutu genetik dan rendahnya mutu bahan tanam yang digunakan, juga kurangnya pemeliharaan tanaman. Menurut Nunung (2012 dalam Anon., 2011), bahwa untuk usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah tersedianya bibit yang baik.Pengadaan bibit yang bermutu baik melalui pembibitan dengan menggunakan
benih bermutu.Bibit bermutu baik didapat apabila selama kurun waktu pembibitan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam pertumbuhannya terpenuhi dan media tumbuhnya dapat menunjang perakaran tanaman (Sukawidana, 2011).
Media tanam diartikan sebagai wadah atau tempat tinggal tanaman. Sebagai tempat tinggal yang baik, media tanam harus dapat mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman (Anon., 2007). Media tanam yang baik juga sangat penting bagi berlangsungnya pertumbuhan bibit jambu mete. Benih akan terhambat berkecambah pada tanah yang padat, karena benih berusaha keras untuk dapat menembus permukaan tanah (Sutopo, 2002). Guna mendapatkan media tanam yang baik pada penelitian ini dicoba menggukan media tanah, pasir dan kompos. Sesuai pendapat Syarif (1984) yang menyatakan bahwa, tanah yang berstruktur baik akan membantu berfungsinya faktor – faktor pertumbuhan tanaman secara optimal sedangkan tanah dengan struktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
Lingga dan Marsono (2004 dalam Turaini dkk., 2012) menyatakan penambahan bahan organik kedalam media tanam merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menambah kesuburan media tanam sehingga penyediaan unsur hara bagi tanaman akan lebih terpenuhi. Nurhayati Hakim dkk. (1986) menyatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Pengaruh bahan organik pada ciri fisik tanah seperti kemampuan menahan air meningkat, warna tanah menjadi coklat hingga hitam, merangsang granulasi agregat dan memantapkannya, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat. Pengaruh bahan organik pada biologi tanah seperti jumlah dan aktifitas metabolik organisme tanah meningkat dan kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik juga meningkat.
Buckman dan Brady (1982) mengemukakan bahwa, media yang baik untuk pembibitan kakao adalah campuran tanah atas (top soil), pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, namun bibit perlu
MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (ANACARDIUM
OCCIDENTALE L.) DENGAN MENGATUR KOMPOSISI MEDIA TANAM
DAN KONSENTRASI ZPT ROOTMOST PADA TINGKAT YANG BERBEDA
I NENGAH KARNATA PANDE GEDE GUNAMANTA
WAYAN LANA
PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tabanan Email :[email protected]
ABSTRAK
Penelitian untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete dilaksanakan di Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari
permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2.000 – 2.500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama
86 hari dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015. Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor media tanam (M) dan faktor konsentrasi ZPTRootmost (R). Faktor perlakuan media tanam (M) terdiri
dari 3 komposisi yaitu : M1 = Media tanah + pasir (3 : 1); M2 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1); M3 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 : 1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1; R1 = 2 ml liter air-1; R2 = 4 ml liter air-1; R3 = 6 ml liter air-1,
setiap perlakuan diulang tiga kali.
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuanmedia tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05).Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat
muncul tunas, tinggi bibit, jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit di atas
tanah dan total berat basah bibit, selanjutnya terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata (p < 0,05). Total berat basah bibit terberat ditunjukkan oleh perlakuan media tanah + pasir + kompos (2 : 1 : 1) yaitu 24,17 g atau lebih berat 19,83 % dibandingkan media tanah + pasir (3 : 1) seberat 20,17 g.
Perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01)
terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit
di atas tanah dan total berat basah bibit,selanjutnya berpengaruh nyata (p < 0,05) terhadap parameter jumlah daun dan terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata. Total berat basah bibit
terberat ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi 6 ml liter air-1 yaitu 24,78 g atau lebih berat 28,93 %
dibandingkan konsentrasi 0 ml liter air-1 seberat 19,22 g.
Kata kunci : Komposisi media tanam, konsentrasi ZPT Rootmost, jambu mete
(Anacardiumoccidentale L.).
PENDAHULUAN
Jambu mete merupakan tanaman ekspor yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan melestarikan lingkungan pada lahan kritis.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini jambu mete dapat diolah sehingga menghasilkan berbagai produk untuk berbagai sektor usaha seperti: biji dapat dipakai campuran coklat sabagai makanan ringan. Buah
semu dapat diolah menjadi pakan ternak, minuman beralkohol dan ampasnya dapat diolah menjadi abon. Cairan cangkang dapat diolah menjadi tir dan lem kayu. Kulit viber dapat diolah menjadi kampas rem dan kampas kopling yang anti panas (Anon., 2008). Mengingat banyaknya manfaat dari tanaman jambu mete ini khususnya bagi pelaku usaha tani di daerah kristis diharapkan dapat meningkatkan kesejahtraan mereka. Untuk itu, pembudidayaan jambu mete harus dilakukan secara optimal.
Pada tahun 2007 areal jambu mete tersebar di 24 provinsi dan yang dikatagorikan sentra produksi utama jambu mete adalah 9 provinsi, yaitu terdiri atas Nusa Tenggara Timur dengan luas 170.191 ha dan produksi 37.331 t, Sulawesi Tenggara dengan luas 121.511 ha dan produksi 34.696 t, Sulawesi Selatan dengan luas 65.363 ha dan produksi 24.401 t, Nusa Tenggara Barat dengan luas 63.909 ha dan produksi 13.497 t, Jawa Timur dengan luas 48.497 ha dan produksi 14,161 t, Jawa Tengah dengan luas 26.512 ha dengan produksi 8.314 t, Bali dengan luas 10.329 ha dengan produksi 2.971 t,D I Yogyakarta dengan luas 21.211 ha dengan produksi 631 t, Sulawesi Tengah dengan luas 21.221 ha dengan produksi 5.315 t ( Anon., 2008).
Jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan Bali khususnya pada lahan kritis.Beberapa tanaman yang lain tidak mampu tumbuh dan berproduksi optimal di lahan kritis, hal ini menjadikan salah satu keunggulan dari tanaman jambu mete(Anon., 2006).Luas areal perkebunan jambu mete di Bali tahun 2012 seluas 12.444 ha dan terdapat sisa potensi sebesar8.070 ha, dan produksi sebesar 3.735,817 t (Anon., 2012).
Beberapa faktor utama yang diduga menjadi penyebab rendahnya prouktivitas mete di daerah ini selain karena mutu genetik dan rendahnya mutu bahan tanam yang digunakan, juga kurangnya pemeliharaan tanaman. Menurut Nunung (2012 dalam Anon., 2011), bahwa untuk usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah tersedianya bibit yang baik.Pengadaan bibit yang bermutu baik melalui pembibitan dengan menggunakan
benih bermutu.Bibit bermutu baik didapat apabila selama kurun waktu pembibitan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam pertumbuhannya terpenuhi dan media tumbuhnya dapat menunjang perakaran tanaman (Sukawidana, 2011).
Media tanam diartikan sebagai wadah atau tempat tinggal tanaman. Sebagai tempat tinggal yang baik, media tanam harus dapat mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman (Anon., 2007). Media tanam yang baik juga sangat penting bagi berlangsungnya pertumbuhan bibit jambu mete. Benih akan terhambat berkecambah pada tanah yang padat, karena benih berusaha keras untuk dapat menembus permukaan tanah (Sutopo, 2002). Guna mendapatkan media tanam yang baik pada penelitian ini dicoba menggukan media tanah, pasir dan kompos. Sesuai pendapat Syarif (1984) yang menyatakan bahwa, tanah yang berstruktur baik akan membantu berfungsinya faktor – faktor pertumbuhan tanaman secara optimal sedangkan tanah dengan struktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
Lingga dan Marsono (2004 dalam Turaini dkk., 2012) menyatakan penambahan bahan organik kedalam media tanam merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menambah kesuburan media tanam sehingga penyediaan unsur hara bagi tanaman akan lebih terpenuhi. Nurhayati Hakim dkk. (1986) menyatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Pengaruh bahan organik pada ciri fisik tanah seperti kemampuan menahan air meningkat, warna tanah menjadi coklat hingga hitam, merangsang granulasi agregat dan memantapkannya, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat. Pengaruh bahan organik pada biologi tanah seperti jumlah dan aktifitas metabolik organisme tanah meningkat dan kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik juga meningkat.
Buckman dan Brady (1982) mengemukakan bahwa, media yang baik untuk pembibitan kakao adalah campuran tanah atas (top soil), pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, namun bibit perlu
MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (ANACARDIUM
OCCIDENTALE L.) DENGAN MENGATUR KOMPOSISI MEDIA TANAM
DAN KONSENTRASI ZPT ROOTMOST PADA TINGKAT YANG BERBEDA
I NENGAH KARNATA PANDE GEDE GUNAMANTA
WAYAN LANA
PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tabanan Email :[email protected]
ABSTRAK
Penelitian untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete dilaksanakan di Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari
permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2.000 – 2.500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama
86 hari dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015. Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor media tanam (M) dan faktor konsentrasi ZPTRootmost (R). Faktor perlakuan media tanam (M) terdiri
dari 3 komposisi yaitu : M1 = Media tanah + pasir (3 : 1); M2 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1); M3 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 : 1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1; R1 = 2 ml liter air-1; R2 = 4 ml liter air-1; R3 = 6 ml liter air-1,
setiap perlakuan diulang tiga kali.
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuanmedia tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05).Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat
muncul tunas, tinggi bibit, jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit di atas
tanah dan total berat basah bibit, selanjutnya terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata (p < 0,05). Total berat basah bibit terberat ditunjukkan oleh perlakuan media tanah + pasir + kompos (2 : 1 : 1) yaitu 24,17 g atau lebih berat 19,83 % dibandingkan media tanah + pasir (3 : 1) seberat 20,17 g.
Perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01)
terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit
di atas tanah dan total berat basah bibit,selanjutnya berpengaruh nyata (p < 0,05) terhadap parameter jumlah daun dan terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata. Total berat basah bibit
terberat ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi 6 ml liter air-1 yaitu 24,78 g atau lebih berat 28,93 %
dibandingkan konsentrasi 0 ml liter air-1 seberat 19,22 g.
Kata kunci : Komposisi media tanam, konsentrasi ZPT Rootmost, jambu mete
(Anacardiumoccidentale L.).
PENDAHULUAN
Jambu mete merupakan tanaman ekspor yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan melestarikan lingkungan pada lahan kritis.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini jambu mete dapat diolah sehingga menghasilkan berbagai produk untuk berbagai sektor usaha seperti: biji dapat dipakai campuran coklat sabagai makanan ringan. Buah
semu dapat diolah menjadi pakan ternak, minuman beralkohol dan ampasnya dapat diolah menjadi abon. Cairan cangkang dapat diolah menjadi tir dan lem kayu. Kulit viber dapat diolah menjadi kampas rem dan kampas kopling yang anti panas (Anon., 2008). Mengingat banyaknya manfaat dari tanaman jambu mete ini khususnya bagi pelaku usaha tani di daerah kristis diharapkan dapat meningkatkan kesejahtraan mereka. Untuk itu, pembudidayaan jambu mete harus dilakukan secara optimal.
Pada tahun 2007 areal jambu mete tersebar di 24 provinsi dan yang dikatagorikan sentra produksi utama jambu mete adalah 9 provinsi, yaitu terdiri atas Nusa Tenggara Timur dengan luas 170.191 ha dan produksi 37.331 t, Sulawesi Tenggara dengan luas 121.511 ha dan produksi 34.696 t, Sulawesi Selatan dengan luas 65.363 ha dan produksi 24.401 t, Nusa Tenggara Barat dengan luas 63.909 ha dan produksi 13.497 t, Jawa Timur dengan luas 48.497 ha dan produksi 14,161 t, Jawa Tengah dengan luas 26.512 ha dengan produksi 8.314 t, Bali dengan luas 10.329 ha dengan produksi 2.971 t,D I Yogyakarta dengan luas 21.211 ha dengan produksi 631 t, Sulawesi Tengah dengan luas 21.221 ha dengan produksi 5.315 t ( Anon., 2008).
Jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan Bali khususnya pada lahan kritis.Beberapa tanaman yang lain tidak mampu tumbuh dan berproduksi optimal di lahan kritis, hal ini menjadikan salah satu keunggulan dari tanaman jambu mete(Anon., 2006).Luas areal perkebunan jambu mete di Bali tahun 2012 seluas 12.444 ha dan terdapat sisa potensi sebesar8.070 ha, dan produksi sebesar 3.735,817 t (Anon., 2012).
Beberapa faktor utama yang diduga menjadi penyebab rendahnya prouktivitas mete di daerah ini selain karena mutu genetik dan rendahnya mutu bahan tanam yang digunakan, juga kurangnya pemeliharaan tanaman. Menurut Nunung (2012 dalam Anon., 2011), bahwa untuk usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah tersedianya bibit yang baik.Pengadaan bibit yang bermutu baik melalui pembibitan dengan menggunakan
benih bermutu.Bibit bermutu baik didapat apabila selama kurun waktu pembibitan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam pertumbuhannya terpenuhi dan media tumbuhnya dapat menunjang perakaran tanaman (Sukawidana, 2011).
Media tanam diartikan sebagai wadah atau tempat tinggal tanaman. Sebagai tempat tinggal yang baik, media tanam harus dapat mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman (Anon., 2007). Media tanam yang baik juga sangat penting bagi berlangsungnya pertumbuhan bibit jambu mete. Benih akan terhambat berkecambah pada tanah yang padat, karena benih berusaha keras untuk dapat menembus permukaan tanah (Sutopo, 2002). Guna mendapatkan media tanam yang baik pada penelitian ini dicoba menggukan media tanah, pasir dan kompos. Sesuai pendapat Syarif (1984) yang menyatakan bahwa, tanah yang berstruktur baik akan membantu berfungsinya faktor – faktor pertumbuhan tanaman secara optimal sedangkan tanah dengan struktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
Lingga dan Marsono (2004 dalam Turaini dkk., 2012) menyatakan penambahan bahan organik kedalam media tanam merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menambah kesuburan media tanam sehingga penyediaan unsur hara bagi tanaman akan lebih terpenuhi. Nurhayati Hakim dkk. (1986) menyatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Pengaruh bahan organik pada ciri fisik tanah seperti kemampuan menahan air meningkat, warna tanah menjadi coklat hingga hitam, merangsang granulasi agregat dan memantapkannya, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat. Pengaruh bahan organik pada biologi tanah seperti jumlah dan aktifitas metabolik organisme tanah meningkat dan kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik juga meningkat.
Buckman dan Brady (1982) mengemukakan bahwa, media yang baik untuk pembibitan kakao adalah campuran tanah atas (top soil), pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, namun bibit perlu
MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (ANACARDIUM
OCCIDENTALE L.) DENGAN MENGATUR KOMPOSISI MEDIA TANAM
DAN KONSENTRASI ZPT ROOTMOST PADA TINGKAT YANG BERBEDA
I NENGAH KARNATA PANDE GEDE GUNAMANTA
WAYAN LANA
PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tabanan Email :[email protected]
ABSTRAK
Penelitian untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete dilaksanakan di Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari
permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2.000 – 2.500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama
86 hari dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015. Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor media tanam (M) dan faktor konsentrasi ZPTRootmost (R). Faktor perlakuan media tanam (M) terdiri
dari 3 komposisi yaitu : M1 = Media tanah + pasir (3 : 1); M2 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1); M3 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 : 1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1; R1 = 2 ml liter air-1; R2 = 4 ml liter air-1; R3 = 6 ml liter air-1,
setiap perlakuan diulang tiga kali.
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuanmedia tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05).Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat
muncul tunas, tinggi bibit, jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit di atas
tanah dan total berat basah bibit, selanjutnya terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata (p < 0,05). Total berat basah bibit terberat ditunjukkan oleh perlakuan media tanah + pasir + kompos (2 : 1 : 1) yaitu 24,17 g atau lebih berat 19,83 % dibandingkan media tanah + pasir (3 : 1) seberat 20,17 g.
Perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01)
terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit
di atas tanah dan total berat basah bibit,selanjutnya berpengaruh nyata (p < 0,05) terhadap parameter jumlah daun dan terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata. Total berat basah bibit
terberat ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi 6 ml liter air-1 yaitu 24,78 g atau lebih berat 28,93 %
dibandingkan konsentrasi 0 ml liter air-1 seberat 19,22 g.
Kata kunci : Komposisi media tanam, konsentrasi ZPT Rootmost, jambu mete
(Anacardiumoccidentale L.).
PENDAHULUAN
Jambu mete merupakan tanaman ekspor yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan melestarikan lingkungan pada lahan kritis.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini jambu mete dapat diolah sehingga menghasilkan berbagai produk untuk berbagai sektor usaha seperti: biji dapat dipakai campuran coklat sabagai makanan ringan. Buah
124 Majalah Ilmiah Untab, Vol. 13 No. 2 September 2016
semu dapat diolah menjadi pakan ternak, minuman beralkohol dan ampasnya dapat diolah menjadi abon. Cairan cangkang dapat diolah menjadi tir dan lem kayu. Kulit viber dapat diolah menjadi kampas rem dan kampas kopling yang anti panas (Anon., 2008). Mengingat banyaknya manfaat dari tanaman jambu mete ini khususnya bagi pelaku usaha tani di daerah kristis diharapkan dapat meningkatkan kesejahtraan mereka. Untuk itu, pembudidayaan jambu mete harus dilakukan secara optimal.
Pada tahun 2007 areal jambu mete tersebar di 24 provinsi dan yang dikatagorikan sentra produksi utama jambu mete adalah 9 provinsi, yaitu terdiri atas Nusa Tenggara Timur dengan luas 170.191 ha dan produksi 37.331 t, Sulawesi Tenggara dengan luas 121.511 ha dan produksi 34.696 t, Sulawesi Selatan dengan luas 65.363 ha dan produksi 24.401 t, Nusa Tenggara Barat dengan luas 63.909 ha dan produksi 13.497 t, Jawa Timur dengan luas 48.497 ha dan produksi 14,161 t, Jawa Tengah dengan luas 26.512 ha dengan produksi 8.314 t, Bali dengan luas 10.329 ha dengan produksi 2.971 t,D I Yogyakarta dengan luas 21.211 ha dengan produksi 631 t, Sulawesi Tengah dengan luas 21.221 ha dengan produksi 5.315 t ( Anon., 2008).
Jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan Bali khususnya pada lahan kritis.Beberapa tanaman yang lain tidak mampu tumbuh dan berproduksi optimal di lahan kritis, hal ini menjadikan salah satu keunggulan dari tanaman jambu mete(Anon., 2006).Luas areal perkebunan jambu mete di Bali tahun 2012 seluas 12.444 ha dan terdapat sisa potensi sebesar8.070 ha, dan produksi sebesar 3.735,817 t (Anon., 2012).
Beberapa faktor utama yang diduga menjadi penyebab rendahnya prouktivitas mete di daerah ini selain karena mutu genetik dan rendahnya mutu bahan tanam yang digunakan, juga kurangnya pemeliharaan tanaman. Menurut Nunung (2012 dalam Anon., 2011), bahwa untuk usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah tersedianya bibit yang baik.Pengadaan bibit yang bermutu baik melalui pembibitan dengan menggunakan
benih bermutu.Bibit bermutu baik didapat apabila selama kurun waktu pembibitan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam pertumbuhannya terpenuhi dan media tumbuhnya dapat menunjang perakaran tanaman (Sukawidana, 2011).
Media tanam diartikan sebagai wadah atau tempat tinggal tanaman. Sebagai tempat tinggal yang baik, media tanam harus dapat mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman (Anon., 2007). Media tanam yang baik juga sangat penting bagi berlangsungnya pertumbuhan bibit jambu mete. Benih akan terhambat berkecambah pada tanah yang padat, karena benih berusaha keras untuk dapat menembus permukaan tanah (Sutopo, 2002). Guna mendapatkan media tanam yang baik pada penelitian ini dicoba menggukan media tanah, pasir dan kompos. Sesuai pendapat Syarif (1984) yang menyatakan bahwa, tanah yang berstruktur baik akan membantu berfungsinya faktor – faktor pertumbuhan tanaman secara optimal sedangkan tanah dengan struktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
Lingga dan Marsono (2004 dalam Turaini dkk., 2012) menyatakan penambahan bahan organik kedalam media tanam merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menambah kesuburan media tanam sehingga penyediaan unsur hara bagi tanaman akan lebih terpenuhi. Nurhayati Hakim dkk. (1986) menyatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Pengaruh bahan organik pada ciri fisik tanah seperti kemampuan menahan air meningkat, warna tanah menjadi coklat hingga hitam, merangsang granulasi agregat dan memantapkannya, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat. Pengaruh bahan organik pada biologi tanah seperti jumlah dan aktifitas metabolik organisme tanah meningkat dan kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik juga meningkat.
Buckman dan Brady (1982) mengemukakan bahwa, media yang baik untuk pembibitan kakao adalah campuran tanah atas (top soil), pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, namun bibit perlu
125
I Nengah Karnata, Pande Gede Gunamanta, Wayan Lana, Meningkatkan Pertumbuhan Bibit....
MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (ANACARDIUM
OCCIDENTALE L.) DENGAN MENGATUR KOMPOSISI MEDIA TANAM
DAN KONSENTRASI ZPT ROOTMOST PADA TINGKAT YANG BERBEDA
I NENGAH KARNATA PANDE GEDE GUNAMANTA
WAYAN LANA
PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tabanan Email :[email protected]
ABSTRAK
Penelitian untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete dilaksanakan di Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari
permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2.000 – 2.500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama
86 hari dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015. Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor media tanam (M) dan faktor konsentrasi ZPTRootmost (R). Faktor perlakuan media tanam (M) terdiri
dari 3 komposisi yaitu : M1 = Media tanah + pasir (3 : 1); M2 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1); M3 = Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 : 1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1; R1 = 2 ml liter air-1; R2 = 4 ml liter air-1; R3 = 6 ml liter air-1,
setiap perlakuan diulang tiga kali.
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuanmedia tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05).Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat
muncul tunas, tinggi bibit, jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit di atas
tanah dan total berat basah bibit, selanjutnya terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata (p < 0,05). Total berat basah bibit terberat ditunjukkan oleh perlakuan media tanah + pasir + kompos (2 : 1 : 1) yaitu 24,17 g atau lebih berat 19,83 % dibandingkan media tanah + pasir (3 : 1) seberat 20,17 g.
Perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01)
terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit, luas daun total bibit-1 dan berat basah bagian bibit
di atas tanah dan total berat basah bibit,selanjutnya berpengaruh nyata (p < 0,05) terhadap parameter jumlah daun dan terhadap parameter diameter batang, berat basah bagian bibit di bawah tanah, berat kering oven bagian bibit di atas tanah, berat kering oven bagian bibit di bawah tanah, total berat kering oven bibit dan rasio laju pertumbuhan memberikan pengaruh tidak nyata. Total berat basah bibit
terberat ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi 6 ml liter air-1 yaitu 24,78 g atau lebih berat 28,93 %
dibandingkan konsentrasi 0 ml liter air-1 seberat 19,22 g.
Kata kunci : Komposisi media tanam, konsentrasi ZPT Rootmost, jambu mete
(Anacardiumoccidentale L.).
PENDAHULUAN
Jambu mete merupakan tanaman ekspor yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan melestarikan lingkungan pada lahan kritis.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini jambu mete dapat diolah sehingga menghasilkan berbagai produk untuk berbagai sektor usaha seperti: biji dapat dipakai campuran coklat sabagai makanan ringan. Buah
penggaris, oven, cangkul, pisau, sabit, palu, dan lain – lain.
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah, pasir dan kompos, yang telah dikering anginkan terlebih dahulu dan diayak, kemudian 12 polibag diisi tanah + pasir ( 3 : 1 ), 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 1 : 1 ) dan 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 2 : 1 ). Sebelum polibag diisi bahan – bahan tersebut sebelumnya dicampur hingga rata dan masing – masing polibag diisi 3 kg. Kemudian polibag diatur letaknya pada meja penelitian sesuai dengan hasil pengacakan pada masing – masing ulangan, jarak antar ulangan 35 cm dan jarak dalam ulangan 15 cm, kemudian media disiram air sampai betul – betul basah semua sampai ke bawah.
Benih yang telah diambil dicuci bersih kemudian dikeringanginkan, sebelum dilakukan perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost.Biji yang digunakan sebagai benih dipilih yang baik selanjutnya diperlakukan dengan Rootmost dengan konsentrasi
masing-masing 0 ml liter air-1, 2 ml liter air-1, 4 ml
liter air-1, dan 6 ml liter air-1 dengan perendaman
selama 24 jam. Penanaman benih dilakukan tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015 , benih ditanam langsung dalam polibag ukuran 15 x 35 cm dengan berat media 3 kg. Benih ditanam 2 biji polibag-1 dan dibuatkan polibag cadangan untuk mencegah apabila terdapat benih yang tidak dapat tumbuh. Setelah semua bibit tumbuh maka perlu diadakan penjarangan bibit dengan tujuan disetiap polibag hanya ada satu bibit jambu mete yang akan digunakan sebagai objek penelitian. Penjarangan bibit dilakukan dengan memotong menggunakan gunting.Penjarangan dilakukan bersamaan dengan pengamatan saat muncul tunas.
Pemeliharaan bibit meliputi : penyiraman, penyiangan,dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan 1 kali sehari tergantung juga pada keadaan, seandainya hujan maka penyiraman tidak dilakukan. Jadi Penyiraman pada polibag dilakukan hati – hati agar tanah dalam polibag tidak tumpah keluar, tidak kering dan tidak terlalu basah / becek.
Penyiraman dilakukan menggunakan gelas air mineral, dengan takaran air ½ gelas.
Penyiangan dilakukan setiap saat tergantung dari pertumbuhan gulma yang ada.Rumput yang tumbuh di dalam polibag dan di petakan percobaan segera dicabut dan di buang keluar. Dalam penelitian ini tidak ditemukan serangan hama dan penyakit sehingga tidak dilakukan tindakan pengendalian hama dan penyakit.
Pengamatan dilakukan terhadap beberapa parameter yang meliputi bagian tanaman diatas tanah dan dibawah tanah. Adapun parameter yang diamati adalah : Saat muncul tunas (hst),Tinggi bibit (cm), Jumlah daun (helai),
Luas daun total bibit-1 (cm2), Diameter batang
(cm), Berat basah bagian bibit di atas tanah (g), Berat basah bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat basah bibit (g), Berat kering oven bagian tanaman di atas tanah (g), Berat kering oven bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat kering oven tanaman (g) dan Rasio laju pertumbuhan (%). Penelitian ini diakhiri sampai saat bibit berumur 86 hari setelah tanam (hst). Pengamatan dilakukan dengan membongkar bibit tanaman dengan hati-hati agar tidak ada akar yang terputus.Bibit yang sudah dibongkar dibersihkan dengan air secara perlahan-lahan, selanjutnya dilakukan pengukuran sesuai dengan parameter yang sudah ditentukan.
Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika dengan analisis keragaman.Apabila faktor tunggal (M dan R) menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nilai Terkecil (BNT) 5%.Apabila interaksi perlakuan berpengaruh nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan’s taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuan media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05) (Tabel 1).
Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit,
jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat
diberikan pupuk tambahan. Pemberian pupuk pada pembibitan tanaman akan mendorong pertumbuhan bibit lebih cepat dan merata sehingga lebih cepat pula dapat ditanam di lapangan, menurut hasil penelitian Suka (2004) komposisi media tanam yang paling baik adalah tanah : pasir : kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 pada bibit kakao. Hasil penelitian Suparta (2013) menunjukkan bahwa perbandingan komposisi media tanam 2 : 1 : 1 memberikan total berat kering oven bibit tertinggi. Hasil penelitian Yuwita (2012) pada bibit kopi arabika perbadingan komposisi media tanam yang paling baik adalah 1 : 2 : 1.
Pembibitan adalah langkah awal untuk pertanaman berikutnya, oleh karena itu pembibitan harus memperoleh perlakuan tertentu agar kelak diperoleh bibit yang siap tanam (Supriyadi, 1985). Situmorang (1974) menyatakan pembibitan sangat perlu karena jarang langsung biji ditanam di lapangan, dalam pembibitan perawatan lebih sempurna, kebutuhan air dalam musim kemarau harus dapat terpenuhi dengan baik dan cepat, sehingga pertumbuhan tanaman jauh lebih baik, selanjutnya tanaman yang sehat dan kuat dapat dipilih untuk kemudian ditanam di lapangan. Untuk memacu perkecambahan benih, maka perlu perlakuan pemberian zat perangsang tumbuh (ZPT) pada benih. Kadang-kadang rendahnya tingkat perkecambahan benih kemungkinan disebabkan rendahnya tingkat phenol, atau kofektor auksin dalam pembentukan akar (Hartmann dan Kester, 1983).
Banyak zat perangsang tumbuh yang beredar dipasar, yang gunanya untuk pembibitan tanaman, maka penulis ingin menguji “Merk Rootmost” sebagai zat perangsang tumbuh (mempercepat tumbuhnya akar) dalam penelitian ini, yang diharapkan dapat menjawab masalah tersebut di atas. Sebagai ilustrasi, berdasarkan penelitian Astawa (2008) pada stek panili mendapatkan
hasil perlakuan 4 g liter air-1 memberikan total
berat kering oven tanaman-1 terberat, yaitu
seberat 1,69 g.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin meneliti pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT
Rootmost terhadap pertumbuhan bibit jambu mete. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan perbandingan media tumbuh tanah, pasir dan kompos (2 : 1 : 1) serta menggunakan dengan konsentrasi 4 ml
Rootmost liter air-1 diharapkan memberikan
pertumbuhan bibit jambu mete yang terbaik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor Media Tanam (M) dan faktorkonsentrasi ZPT Rootmost (R). Faktor perlakuan Media Tanam (M) terdiri dari
3 komposisi yaitu :M1 = Media tanah + pasir (3
: 1), M2= Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1), M3= Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 :
1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1, R1 = 2 ml
liter air-1, R
2 = 4 ml liter air-1dan R3 = 6 ml liter
air-1. Dari kedua faktor perlakuan tersebut
terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing - masing diulang sebanyak 3 kali sehingga diperlukan 36 polibag percobaan.Penempatan masing – masing kombinasi perlakuan polibag dilakukan secara acak, dengan jarak antar polibag dengan polibag yang lainnya dalam satu ulangan adalah 15 cm dan jarak antar ulangan dengan ulangan lainnya 35 cm.
Penelitian ini dilaksanakan di Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2000 – 2500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama 86 hari yakni dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, tanah, pasir, pupuk kompos (kotoran sapi), ZPT Rootmost, polibag ukuran 15 x 35 cm, bambu, plastik lembaran, tali rafia, triplek dan benih mete. Alat-alat yang digunakan yaitu cangkul, timbangan, ayakan, jangka sorong,
penggaris, oven, cangkul, pisau, sabit, palu, dan lain – lain.
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah, pasir dan kompos, yang telah dikering anginkan terlebih dahulu dan diayak, kemudian 12 polibag diisi tanah + pasir ( 3 : 1 ), 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 1 : 1 ) dan 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 2 : 1 ). Sebelum polibag diisi bahan – bahan tersebut sebelumnya dicampur hingga rata dan masing – masing polibag diisi 3 kg. Kemudian polibag diatur letaknya pada meja penelitian sesuai dengan hasil pengacakan pada masing – masing ulangan, jarak antar ulangan 35 cm dan jarak dalam ulangan 15 cm, kemudian media disiram air sampai betul – betul basah semua sampai ke bawah.
Benih yang telah diambil dicuci bersih kemudian dikeringanginkan, sebelum dilakukan perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost.Biji yang digunakan sebagai benih dipilih yang baik selanjutnya diperlakukan dengan Rootmost dengan konsentrasi
masing-masing 0 ml liter air-1, 2 ml liter air-1, 4 ml
liter air-1, dan 6 ml liter air-1 dengan perendaman
selama 24 jam. Penanaman benih dilakukan tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015 , benih ditanam langsung dalam polibag ukuran 15 x 35 cm dengan berat media 3 kg. Benih ditanam 2 biji polibag-1 dan dibuatkan polibag cadangan untuk mencegah apabila terdapat benih yang tidak dapat tumbuh. Setelah semua bibit tumbuh maka perlu diadakan penjarangan bibit dengan tujuan disetiap polibag hanya ada satu bibit jambu mete yang akan digunakan sebagai objek penelitian. Penjarangan bibit dilakukan dengan memotong menggunakan gunting.Penjarangan dilakukan bersamaan dengan pengamatan saat muncul tunas.
Pemeliharaan bibit meliputi : penyiraman, penyiangan,dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan 1 kali sehari tergantung juga pada keadaan, seandainya hujan maka penyiraman tidak dilakukan. Jadi Penyiraman pada polibag dilakukan hati – hati agar tanah dalam polibag tidak tumpah keluar, tidak kering dan tidak terlalu basah / becek.
Penyiraman dilakukan menggunakan gelas air mineral, dengan takaran air ½ gelas.
Penyiangan dilakukan setiap saat tergantung dari pertumbuhan gulma yang ada.Rumput yang tumbuh di dalam polibag dan di petakan percobaan segera dicabut dan di buang keluar. Dalam penelitian ini tidak ditemukan serangan hama dan penyakit sehingga tidak dilakukan tindakan pengendalian hama dan penyakit.
Pengamatan dilakukan terhadap beberapa parameter yang meliputi bagian tanaman diatas tanah dan dibawah tanah. Adapun parameter yang diamati adalah : Saat muncul tunas (hst),Tinggi bibit (cm), Jumlah daun (helai),
Luas daun total bibit-1 (cm2), Diameter batang
(cm), Berat basah bagian bibit di atas tanah (g), Berat basah bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat basah bibit (g), Berat kering oven bagian tanaman di atas tanah (g), Berat kering oven bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat kering oven tanaman (g) dan Rasio laju pertumbuhan (%). Penelitian ini diakhiri sampai saat bibit berumur 86 hari setelah tanam (hst). Pengamatan dilakukan dengan membongkar bibit tanaman dengan hati-hati agar tidak ada akar yang terputus.Bibit yang sudah dibongkar dibersihkan dengan air secara perlahan-lahan, selanjutnya dilakukan pengukuran sesuai dengan parameter yang sudah ditentukan.
Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika dengan analisis keragaman.Apabila faktor tunggal (M dan R) menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nilai Terkecil (BNT) 5%.Apabila interaksi perlakuan berpengaruh nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan’s taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuan media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05) (Tabel 1).
Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit,
jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat
diberikan pupuk tambahan. Pemberian pupuk pada pembibitan tanaman akan mendorong pertumbuhan bibit lebih cepat dan merata sehingga lebih cepat pula dapat ditanam di lapangan, menurut hasil penelitian Suka (2004) komposisi media tanam yang paling baik adalah tanah : pasir : kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 pada bibit kakao. Hasil penelitian Suparta (2013) menunjukkan bahwa perbandingan komposisi media tanam 2 : 1 : 1 memberikan total berat kering oven bibit tertinggi. Hasil penelitian Yuwita (2012) pada bibit kopi arabika perbadingan komposisi media tanam yang paling baik adalah 1 : 2 : 1.
Pembibitan adalah langkah awal untuk pertanaman berikutnya, oleh karena itu pembibitan harus memperoleh perlakuan tertentu agar kelak diperoleh bibit yang siap tanam (Supriyadi, 1985). Situmorang (1974) menyatakan pembibitan sangat perlu karena jarang langsung biji ditanam di lapangan, dalam pembibitan perawatan lebih sempurna, kebutuhan air dalam musim kemarau harus dapat terpenuhi dengan baik dan cepat, sehingga pertumbuhan tanaman jauh lebih baik, selanjutnya tanaman yang sehat dan kuat dapat dipilih untuk kemudian ditanam di lapangan. Untuk memacu perkecambahan benih, maka perlu perlakuan pemberian zat perangsang tumbuh (ZPT) pada benih. Kadang-kadang rendahnya tingkat perkecambahan benih kemungkinan disebabkan rendahnya tingkat phenol, atau kofektor auksin dalam pembentukan akar (Hartmann dan Kester, 1983).
Banyak zat perangsang tumbuh yang beredar dipasar, yang gunanya untuk pembibitan tanaman, maka penulis ingin menguji “Merk Rootmost” sebagai zat perangsang tumbuh (mempercepat tumbuhnya akar) dalam penelitian ini, yang diharapkan dapat menjawab masalah tersebut di atas. Sebagai ilustrasi, berdasarkan penelitian Astawa (2008) pada stek panili mendapatkan
hasil perlakuan 4 g liter air-1 memberikan total
berat kering oven tanaman-1 terberat, yaitu
seberat 1,69 g.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin meneliti pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT
Rootmost terhadap pertumbuhan bibit jambu mete. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan perbandingan media tumbuh tanah, pasir dan kompos (2 : 1 : 1) serta menggunakan dengan konsentrasi 4 ml
Rootmost liter air-1 diharapkan memberikan
pertumbuhan bibit jambu mete yang terbaik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor Media Tanam (M) dan faktorkonsentrasi ZPT Rootmost (R). Faktor perlakuan Media Tanam (M) terdiri dari
3 komposisi yaitu :M1 = Media tanah + pasir (3
: 1), M2= Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1), M3= Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 :
1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1, R1 = 2 ml
liter air-1, R
2 = 4 ml liter air-1dan R3 = 6 ml liter
air-1. Dari kedua faktor perlakuan tersebut
terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing - masing diulang sebanyak 3 kali sehingga diperlukan 36 polibag percobaan.Penempatan masing – masing kombinasi perlakuan polibag dilakukan secara acak, dengan jarak antar polibag dengan polibag yang lainnya dalam satu ulangan adalah 15 cm dan jarak antar ulangan dengan ulangan lainnya 35 cm.
Penelitian ini dilaksanakan di Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2000 – 2500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama 86 hari yakni dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, tanah, pasir, pupuk kompos (kotoran sapi), ZPT Rootmost, polibag ukuran 15 x 35 cm, bambu, plastik lembaran, tali rafia, triplek dan benih mete. Alat-alat yang digunakan yaitu cangkul, timbangan, ayakan, jangka sorong,
penggaris, oven, cangkul, pisau, sabit, palu, dan lain – lain.
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah, pasir dan kompos, yang telah dikering anginkan terlebih dahulu dan diayak, kemudian 12 polibag diisi tanah + pasir ( 3 : 1 ), 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 1 : 1 ) dan 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 2 : 1 ). Sebelum polibag diisi bahan – bahan tersebut sebelumnya dicampur hingga rata dan masing – masing polibag diisi 3 kg. Kemudian polibag diatur letaknya pada meja penelitian sesuai dengan hasil pengacakan pada masing – masing ulangan, jarak antar ulangan 35 cm dan jarak dalam ulangan 15 cm, kemudian media disiram air sampai betul – betul basah semua sampai ke bawah.
Benih yang telah diambil dicuci bersih kemudian dikeringanginkan, sebelum dilakukan perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost.Biji yang digunakan sebagai benih dipilih yang baik selanjutnya diperlakukan dengan Rootmost dengan konsentrasi
masing-masing 0 ml liter air-1, 2 ml liter air-1, 4 ml
liter air-1, dan 6 ml liter air-1 dengan perendaman
selama 24 jam. Penanaman benih dilakukan tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015 , benih ditanam langsung dalam polibag ukuran 15 x 35 cm dengan berat media 3 kg. Benih ditanam 2 biji polibag-1 dan dibuatkan polibag cadangan untuk mencegah apabila terdapat benih yang tidak dapat tumbuh. Setelah semua bibit tumbuh maka perlu diadakan penjarangan bibit dengan tujuan disetiap polibag hanya ada satu bibit jambu mete yang akan digunakan sebagai objek penelitian. Penjarangan bibit dilakukan dengan memotong menggunakan gunting.Penjarangan dilakukan bersamaan dengan pengamatan saat muncul tunas.
Pemeliharaan bibit meliputi : penyiraman, penyiangan,dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan 1 kali sehari tergantung juga pada keadaan, seandainya hujan maka penyiraman tidak dilakukan. Jadi Penyiraman pada polibag dilakukan hati – hati agar tanah dalam polibag tidak tumpah keluar, tidak kering dan tidak terlalu basah / becek.
Penyiraman dilakukan menggunakan gelas air mineral, dengan takaran air ½ gelas.
Penyiangan dilakukan setiap saat tergantung dari pertumbuhan gulma yang ada.Rumput yang tumbuh di dalam polibag dan di petakan percobaan segera dicabut dan di buang keluar. Dalam penelitian ini tidak ditemukan serangan hama dan penyakit sehingga tidak dilakukan tindakan pengendalian hama dan penyakit.
Pengamatan dilakukan terhadap beberapa parameter yang meliputi bagian tanaman diatas tanah dan dibawah tanah. Adapun parameter yang diamati adalah : Saat muncul tunas (hst),Tinggi bibit (cm), Jumlah daun (helai),
Luas daun total bibit-1 (cm2), Diameter batang
(cm), Berat basah bagian bibit di atas tanah (g), Berat basah bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat basah bibit (g), Berat kering oven bagian tanaman di atas tanah (g), Berat kering oven bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat kering oven tanaman (g) dan Rasio laju pertumbuhan (%). Penelitian ini diakhiri sampai saat bibit berumur 86 hari setelah tanam (hst). Pengamatan dilakukan dengan membongkar bibit tanaman dengan hati-hati agar tidak ada akar yang terputus.Bibit yang sudah dibongkar dibersihkan dengan air secara perlahan-lahan, selanjutnya dilakukan pengukuran sesuai dengan parameter yang sudah ditentukan.
Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika dengan analisis keragaman.Apabila faktor tunggal (M dan R) menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nilai Terkecil (BNT) 5%.Apabila interaksi perlakuan berpengaruh nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan’s taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuan media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05) (Tabel 1).
Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit,
jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat
diberikan pupuk tambahan. Pemberian pupuk pada pembibitan tanaman akan mendorong pertumbuhan bibit lebih cepat dan merata sehingga lebih cepat pula dapat ditanam di lapangan, menurut hasil penelitian Suka (2004) komposisi media tanam yang paling baik adalah tanah : pasir : kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 pada bibit kakao. Hasil penelitian Suparta (2013) menunjukkan bahwa perbandingan komposisi media tanam 2 : 1 : 1 memberikan total berat kering oven bibit tertinggi. Hasil penelitian Yuwita (2012) pada bibit kopi arabika perbadingan komposisi media tanam yang paling baik adalah 1 : 2 : 1.
Pembibitan adalah langkah awal untuk pertanaman berikutnya, oleh karena itu pembibitan harus memperoleh perlakuan tertentu agar kelak diperoleh bibit yang siap tanam (Supriyadi, 1985). Situmorang (1974) menyatakan pembibitan sangat perlu karena jarang langsung biji ditanam di lapangan, dalam pembibitan perawatan lebih sempurna, kebutuhan air dalam musim kemarau harus dapat terpenuhi dengan baik dan cepat, sehingga pertumbuhan tanaman jauh lebih baik, selanjutnya tanaman yang sehat dan kuat dapat dipilih untuk kemudian ditanam di lapangan. Untuk memacu perkecambahan benih, maka perlu perlakuan pemberian zat perangsang tumbuh (ZPT) pada benih. Kadang-kadang rendahnya tingkat perkecambahan benih kemungkinan disebabkan rendahnya tingkat phenol, atau kofektor auksin dalam pembentukan akar (Hartmann dan Kester, 1983).
Banyak zat perangsang tumbuh yang beredar dipasar, yang gunanya untuk pembibitan tanaman, maka penulis ingin menguji “Merk Rootmost” sebagai zat perangsang tumbuh (mempercepat tumbuhnya akar) dalam penelitian ini, yang diharapkan dapat menjawab masalah tersebut di atas. Sebagai ilustrasi, berdasarkan penelitian Astawa (2008) pada stek panili mendapatkan
hasil perlakuan 4 g liter air-1 memberikan total
berat kering oven tanaman-1 terberat, yaitu
seberat 1,69 g.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin meneliti pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT
Rootmost terhadap pertumbuhan bibit jambu mete. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan perbandingan media tumbuh tanah, pasir dan kompos (2 : 1 : 1) serta menggunakan dengan konsentrasi 4 ml
Rootmost liter air-1 diharapkan memberikan
pertumbuhan bibit jambu mete yang terbaik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor Media Tanam (M) dan faktorkonsentrasi ZPT Rootmost (R). Faktor perlakuan Media Tanam (M) terdiri dari
3 komposisi yaitu :M1 = Media tanah + pasir (3
: 1), M2= Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1), M3= Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 :
1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1, R1 = 2 ml
liter air-1, R
2 = 4 ml liter air-1dan R3 = 6 ml liter
air-1. Dari kedua faktor perlakuan tersebut
terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing - masing diulang sebanyak 3 kali sehingga diperlukan 36 polibag percobaan.Penempatan masing – masing kombinasi perlakuan polibag dilakukan secara acak, dengan jarak antar polibag dengan polibag yang lainnya dalam satu ulangan adalah 15 cm dan jarak antar ulangan dengan ulangan lainnya 35 cm.
Penelitian ini dilaksanakan di Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2000 – 2500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama 86 hari yakni dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, tanah, pasir, pupuk kompos (kotoran sapi), ZPT Rootmost, polibag ukuran 15 x 35 cm, bambu, plastik lembaran, tali rafia, triplek dan benih mete. Alat-alat yang digunakan yaitu cangkul, timbangan, ayakan, jangka sorong,
126 Majalah Ilmiah Untab, Vol. 13 No. 2 September 2016
penggaris, oven, cangkul, pisau, sabit, palu, dan lain – lain.
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah, pasir dan kompos, yang telah dikering anginkan terlebih dahulu dan diayak, kemudian 12 polibag diisi tanah + pasir ( 3 : 1 ), 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 1 : 1 ) dan 12 polibag lainnya diisi tanah + pasir + kompos ( 2 : 2 : 1 ). Sebelum polibag diisi bahan – bahan tersebut sebelumnya dicampur hingga rata dan masing – masing polibag diisi 3 kg. Kemudian polibag diatur letaknya pada meja penelitian sesuai dengan hasil pengacakan pada masing – masing ulangan, jarak antar ulangan 35 cm dan jarak dalam ulangan 15 cm, kemudian media disiram air sampai betul – betul basah semua sampai ke bawah.
Benih yang telah diambil dicuci bersih kemudian dikeringanginkan, sebelum dilakukan perlakuan konsentrasi ZPT Rootmost.Biji yang digunakan sebagai benih dipilih yang baik selanjutnya diperlakukan dengan Rootmost dengan konsentrasi
masing-masing 0 ml liter air-1, 2 ml liter air-1, 4 ml
liter air-1, dan 6 ml liter air-1 dengan perendaman
selama 24 jam. Penanaman benih dilakukan tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015 , benih ditanam langsung dalam polibag ukuran 15 x 35 cm dengan berat media 3 kg. Benih ditanam 2 biji polibag-1 dan dibuatkan polibag cadangan untuk mencegah apabila terdapat benih yang tidak dapat tumbuh. Setelah semua bibit tumbuh maka perlu diadakan penjarangan bibit dengan tujuan disetiap polibag hanya ada satu bibit jambu mete yang akan digunakan sebagai objek penelitian. Penjarangan bibit dilakukan dengan memotong menggunakan gunting.Penjarangan dilakukan bersamaan dengan pengamatan saat muncul tunas.
Pemeliharaan bibit meliputi : penyiraman, penyiangan,dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan 1 kali sehari tergantung juga pada keadaan, seandainya hujan maka penyiraman tidak dilakukan. Jadi Penyiraman pada polibag dilakukan hati – hati agar tanah dalam polibag tidak tumpah keluar, tidak kering dan tidak terlalu basah / becek.
Penyiraman dilakukan menggunakan gelas air mineral, dengan takaran air ½ gelas.
Penyiangan dilakukan setiap saat tergantung dari pertumbuhan gulma yang ada.Rumput yang tumbuh di dalam polibag dan di petakan percobaan segera dicabut dan di buang keluar. Dalam penelitian ini tidak ditemukan serangan hama dan penyakit sehingga tidak dilakukan tindakan pengendalian hama dan penyakit.
Pengamatan dilakukan terhadap beberapa parameter yang meliputi bagian tanaman diatas tanah dan dibawah tanah. Adapun parameter yang diamati adalah : Saat muncul tunas (hst),Tinggi bibit (cm), Jumlah daun (helai),
Luas daun total bibit-1 (cm2), Diameter batang
(cm), Berat basah bagian bibit di atas tanah (g), Berat basah bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat basah bibit (g), Berat kering oven bagian tanaman di atas tanah (g), Berat kering oven bagian bibit di bawah tanah (g), Total berat kering oven tanaman (g) dan Rasio laju pertumbuhan (%). Penelitian ini diakhiri sampai saat bibit berumur 86 hari setelah tanam (hst). Pengamatan dilakukan dengan membongkar bibit tanaman dengan hati-hati agar tidak ada akar yang terputus.Bibit yang sudah dibongkar dibersihkan dengan air secara perlahan-lahan, selanjutnya dilakukan pengukuran sesuai dengan parameter yang sudah ditentukan.
Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika dengan analisis keragaman.Apabila faktor tunggal (M dan R) menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nilai Terkecil (BNT) 5%.Apabila interaksi perlakuan berpengaruh nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan’s taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara perlakuan media tanam dan konsentrasi ZPT Rootmost terhadap seluruh parameter yang diamati adalah tidak nyata (p < 0,05) (Tabel 1).
Perlakuan media tanam memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap parameter saat muncul tunas, tinggi bibit,
jumlah daun, luas daun total bibit-1 dan berat
127
I Nengah Karnata, Pande Gede Gunamanta, Wayan Lana, Meningkatkan Pertumbuhan Bibit....
diberikan pupuk tambahan. Pemberian pupuk pada pembibitan tanaman akan mendorong pertumbuhan bibit lebih cepat dan merata sehingga lebih cepat pula dapat ditanam di lapangan, menurut hasil penelitian Suka (2004) komposisi media tanam yang paling baik adalah tanah : pasir : kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 pada bibit kakao. Hasil penelitian Suparta (2013) menunjukkan bahwa perbandingan komposisi media tanam 2 : 1 : 1 memberikan total berat kering oven bibit tertinggi. Hasil penelitian Yuwita (2012) pada bibit kopi arabika perbadingan komposisi media tanam yang paling baik adalah 1 : 2 : 1.
Pembibitan adalah langkah awal untuk pertanaman berikutnya, oleh karena itu pembibitan harus memperoleh perlakuan tertentu agar kelak diperoleh bibit yang siap tanam (Supriyadi, 1985). Situmorang (1974) menyatakan pembibitan sangat perlu karena jarang langsung biji ditanam di lapangan, dalam pembibitan perawatan lebih sempurna, kebutuhan air dalam musim kemarau harus dapat terpenuhi dengan baik dan cepat, sehingga pertumbuhan tanaman jauh lebih baik, selanjutnya tanaman yang sehat dan kuat dapat dipilih untuk kemudian ditanam di lapangan. Untuk memacu perkecambahan benih, maka perlu perlakuan pemberian zat perangsang tumbuh (ZPT) pada benih. Kadang-kadang rendahnya tingkat perkecambahan benih kemungkinan disebabkan rendahnya tingkat phenol, atau kofektor auksin dalam pembentukan akar (Hartmann dan Kester, 1983).
Banyak zat perangsang tumbuh yang beredar dipasar, yang gunanya untuk pembibitan tanaman, maka penulis ingin menguji “Merk Rootmost” sebagai zat perangsang tumbuh (mempercepat tumbuhnya akar) dalam penelitian ini, yang diharapkan dapat menjawab masalah tersebut di atas. Sebagai ilustrasi, berdasarkan penelitian Astawa (2008) pada stek panili mendapatkan
hasil perlakuan 4 g liter air-1 memberikan total
berat kering oven tanaman-1 terberat, yaitu
seberat 1,69 g.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin meneliti pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT
Rootmost terhadap pertumbuhan bibit jambu mete. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam kompos dan konsentrasi ZPT Rootmost serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jambu mete.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan perbandingan media tumbuh tanah, pasir dan kompos (2 : 1 : 1) serta menggunakan dengan konsentrasi 4 ml
Rootmost liter air-1 diharapkan memberikan
pertumbuhan bibit jambu mete yang terbaik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini menggunakan dua perlakuan yaitu faktor Media Tanam (M) dan faktorkonsentrasi ZPT Rootmost (R). Faktor perlakuan Media Tanam (M) terdiri dari
3 komposisi yaitu :M1 = Media tanah + pasir (3
: 1), M2= Media tanah + pasir + kompos (2 : 1
:1), M3= Media tanah + pasir + kompos (2 : 2 :
1). Faktor konsentrasi ZPT Rootmost terdiri 4
(empat) tingkat : R0 = 0 ml liter air-1, R1 = 2 ml
liter air-1, R
2 = 4 ml liter air-1dan R3 = 6 ml liter
air-1. Dari kedua faktor perlakuan tersebut
terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing - masing diulang sebanyak 3 kali sehingga diperlukan 36 polibag percobaan.Penempatan masing – masing kombinasi perlakuan polibag dilakukan secara acak, dengan jarak antar polibag dengan polibag yang lainnya dalam satu ulangan adalah 15 cm dan jarak antar ulangan dengan ulangan lainnya 35 cm.
Penelitian ini dilaksanakan di Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dengan ketinggian tempat ± 200 m dari permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2000 – 2500 mm tahun-1. Penelitian ini berlangsung selama 86 hari yakni dari tanggal 6 Mei – 30 Juli 2015.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, tanah, pasir, pupuk kompos (kotoran sapi), ZPT Rootmost, polibag ukuran 15 x 35 cm, bambu, plastik lembaran, tali rafia, triplek dan benih mete. Alat-alat yang digunakan yaitu cangkul, timbangan, ayakan, jangka sorong,