• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEYLIA PUSPITA CANDRA DEWI P.10037

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEYLIA PUSPITA CANDRA DEWI P.10037"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. L DENGAN HIPERTENSI

PADA KELUARGA TN. S DI DESA SADON KELURAHAN WONOREJO

KECAMATAN GONDANGREJO KABUPATEN

KARANGANYAR

DI SUSUN OLEH :

MEYLIA PUSPITA CANDRA DEWI

P.10037

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

(2)

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. L DENGAN HIPERTENSI

PADA KELUARGA TN. S DI DESA SADON KELURAHAN WONOREJO

KECAMATAN GONDANGREJO KABUPATEN

KARANGANYAR

Karya Tulis Ilmiah

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

DI SUSUN OLEH :

MEYLIA PUSPITA CANDRA DEWI

P.10037

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

(3)

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Meylia Puspita Candra Dewi NIM : P 10037

Program Studi : D III Keperawatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-benar karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Surakarta, Juni 2013 Yang Membuat Pernyataan

Meylia Puspita Candra Dewi NIM. P10037

(4)

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

Nama : MEYLIA PUSPITA CANDRA DEWI NIM : P 10037

Jurusan : DIPLOMA III Keperawatan

Judul : ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. L DENGAN HIPERTENSI PADA KELUARGA TN. S DI DESA SADON WONOREJO KECAMATAN GONDANGREJO

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi D III Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : Surakarta Tanggal : 7 Juni 2013

Pembimbing : Diyah Ekarini, S.Kep.,Ns ( ) NIK. 200179001

(5)

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

Nama : MEYLIA PUSPITA CANDRA DEWI NIM : P 10037

Jurusan : DIPLOMA III Keperawatan

Judul : ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. L DENGAN HIPERTENSI PADA KELUARGA TN. S DI DESA SADON WONOREJO KECAMATAN GONDANGREJO Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi

D III Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta Ditetapkan di : Surakarta

Tanggal : 13 Juni 2013 DEWAN PENGUJI

Penguji I : Diyah Ekarini, Skep., Ns ( ... ) NIK. 200179001

Penguji II : Nurma Rahmawati, S.Kep.,Ns ( ... ) NIK. 201186076

Penguji III : Setiyawan, S.Kep.,Ns ( ... ) NIK. 201084050

Mengetahui

Ketua Prodi D III Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta

SETIYAWAN, S. Kep., Ns NIK. 201084050

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. L DENGAN HIPERTENSI PADA KELUARGA TN. S DI DESA SADON WONOREJO KECAMATAN GONDANGREJO ”.

Dalam penyusunan karya Tulis ilmiah ini, banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

1. Setiyawan, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program studi D III Keperawatan STIKES Kusuma Husada Surakarta.

2. Erlina Windyastuti, S. Kep., Ns, selaku Sekretaris Ketua Program studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta.

3. Diyah Ekarini, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

4. Nurma Rahmawati, S.Kep.,Ns, Selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

(7)

5. Setiyawan, S.Kep.,Ns, Selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

6. Semua dosen Program studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.

7. Ibu dan Bapak tercinta yang senantiasa mencurahkan kasih sayang, perhatian, dukungan dan do`a serta dorongan yang tulus iklas dan penuh kasih.

8. Kakak-adikku tercinta yang selalu memberikan semangat dan do`a.

9. N. A. Candra Aritonang yang selalu memberikan api semangat dan memberikan dukungan yang luar biasa, dengan sabar dan setia mendengarkan keluh kesah karya ilmiah saya dan selalu memberi motivasi.

10. Sahabat-sahabatku dan teman-teman kost Dynda, Meycha, Lilis, Marchel, Ana, Mitha, yang memberikan bantuan dan semangat dalam pengerjaan karya ilmiah ini, dan semua teman-teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta.

11. Semua pihak yang terlibat dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan dan kesehatan. Amin.

Surakarta, Juni 2013

Meylia Puspita Candra Dewi NIM. P10037

(8)

DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN... .. iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penulisan ... 4

C. Manfaat Penulisan... 5

BAB II LAPORAN KASUS A. Data Umum Keluarga ... 6

B. Pengkajian ... 6

C. Analisa Data ... 7

D. Intervensi ... 8

E. Implementasi ... 9

F. Evaluasi ... 11

BAB III PEMBAHASAN A. Pembahasan ... 13

B. Simpulan ... 21

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran Daftar Riwayat Hidup 2. Lampiran Log Book

3. Lampiran Konsultasi Karya Tulis Ilmiah 4. Lampiran Asuhan Keperawatan

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sehat dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit maupun kelemahan. Sakit pada dasarnya merupakan keadaan terganggunya seseorang dalam proses tumbuh kembang fungsi tubuh secara keseluruhan atau sebagian, serta terganggunya proses penyesuaian diri manusia, sakit juga bisa dikatakan sebagai gangguan dalam fungsi yang normal dimana individu sebagai totalitas dari keadaan organisme sebagai sistem biologis dan adaptasi sosial (Aziz, 2008).

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan sistole dan diastole mengalami kenaikan yang melebihi batas normal (tekanan sistole diatas 140 mmHg, diatas 90 mmHg) (Arita, 2011). Hipertensi disebabkan oleh 2 jenis yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer yaitu keturunan, umur, psikis. Sedangkan hipertensi sekunder yaitu penyakit ginjal, tumor dalam rongga kepala, penyakit syaraf. Sedangkan tanda dan gejala dari hipertensi adalah peninggian tekanan darah, badan lemas, nyeri kepala. Bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata,otak atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing. Untuk komplikasi hepertensi yaitu pada ginjal terjadi hematuri

(11)

dan kencing sedikit, pada otak terjadi stroke, pada mata terjadi retinapati hipertensi, pada jantung terjadi pembesaran ventrikel kiri dengan tanpa payah jantung, infark jantung. Penatalaksaan dari hipertensi bertujuan untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup atau dengan obat anti hipertensi (Mansjoer, 2004).

Menurut Susalit (2004) di Amerika Serikat, 15 persen golongan kulit putih dewasa dan 25-30 persen golongan kulit hitam dewasa adalah pasien hipertensi. Menurut laporan National Health and Nutrition Examination Survey II / dalam dua dekade terakhir ini terjadi kenaikan prosentase kewaspadaan masyarakat terhadap hipertensi dari 51 persen menjadi 84 persen, presentase pasien hipertensi yang mendapat pengobatan dari 36 persen menjadi 73 persen, dan presentase pasien hipertensi yang tekanan darahnya terkendali dari 16 persen menjadi 55 persen. Dalam periode yang sama angka mortalitas stroke menurun 57 persen dan penyakit jantung koroner menurun 50 persen. Disimpulkan bahwa selain perubahan pola makan dan pengurangan kebiasaan merokok, deteksi dan pengelolaan hipertensi yang lebih baik berperan dalam penurunan morbiditas dan mortalitas kardiofaskuler tersebut. Di Indosnesia, sampai saat ini belum terdapat penyelidikan yang bersifat nasional, multisenter, yang dapat menggambarkan privalensi hipertensi secara tepat. Banyak penyelidikan dilakukan terpisah dengan metodologi yang belum baku. Boedhi Darmojo

(12)

dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian melaporkan bahwa 1,8-28,6 persen penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah pasien hipertensi pada umumnya prevalensi hipertensi berkisar antara 8,6-10 persen. Prevelansi terendah yang dikemukakan dari data tersebut berasal dari desa Kalirejo, Jawa Tengah, yaitu sebesar 1,8 persen sedangkan di daerah Arun, Aceh, Sumatra Utara, sebesar 5,3 persen. Data lain yang dikemukakan Gunawan S, yang menyelidiki masyarakat terisolasi di lembah Baliyem, Irian Jaya, mendapatkan prevalensi hipertensi 0,65 persen. Berdasarkan data dari Puskesmas Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada bulan Januari-April 2013 terdapat 809 kasus hipertensi (89 persen).

Keluarga merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Keadaan ini perlu kita sadari sepenuhnya bahwa setiap individu merupakan bagiannya dan di keluarga juga semua dapat diekspresikan tanpa hambatan yang berarti (Suprajitno, 2012).

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi mengenal masalah kesehatan keluarga, memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga, merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan, memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga, memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga. (Suprajitno, 2012).

(13)

Dari hasil pengkajian penulis mendapatkan keluarga Tn. S tidak tahu tanda dan gejala, penatalaksanaan, komplikasi, diit, faktor pencetus pada hipertensi, maka penulis tertarik untuk melakukan pengelolaan kasus Asuhan Keperawatan yang dituangkan dengan penulisan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Ny. L Dengan Hipertensi Pada Keluarga Tn. S di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar ”.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Melaporkan asuhan keperawatan keluarga pada Ny. L dengan hipertensi pada keluarga Tn. S di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

2. Tujuan khusus

a. Penulis mampu melaksanakan pengkajian pada Ny. L dengan hipertensi pada keluarga Tn. S di desa Sadon, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. L dengan hipertensi pada keluarga Tn. S di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

c. Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Ny. L dengan hipertensi pada keluarga Tn. S di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

(14)

d. Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. L dengan hipertensi pada keluarga Tn. S di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. L dengan hipertensi pada keluarga Tn. S di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi pendidikan

Menambah masukan dan sumber bacaan diperpustakaan khususnya mengenai asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi.

2. Manfaat bagi penulis

Menambah wawasan dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga Tn. S terutama pada Ny. L dengan hipertensi.

3. Manfaat bagi Puskesmas

Sebagai bahan pertimbangan oleh pihak puskesmas untuk membuat kebijakan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan pada Ny. L dengan hipertensi.

(15)

BAB II

LAPORAN KASUS

Pada bab ini penulis membahas tentang resume kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Tn. S khususnya Ny. L dengan hipertensi Di Desa Sadon Kelurahan Wonorejo kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar” yang telah dilakukan pada tanggal 22 April 2013 sampai dengan 24 April 2013. Asuhan Keperawatan ini dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi, dengan metode

alloanamnesa dan autoanamnesa.

A. Data Umum Keluarga

Pengkajian dilakukan pada hari senin, tanggal 22 April 2013 di rumah keluarga Tn. S yang beralamat di Desa Sadon, Kelurahan Wonorejo Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Komposisi keluarga Tn. S terdiri dari 4 anggota keluarga yaitu Tn. S 46 tahun sebagai kepala keluarga, Ny. L sebagai istri berusia 48 tahun, dan anak pertama An. M yang berusia 20 tahun, dan anak kedua An. T berusia 12 tahun. Tipe keluarga Tn. S adalah tipe keluarga inti (Nuklear Family), dimana keluarganya terdiri dari ayah, ibu dan anak.

B. Pengkajian

Keluarga Tn. S saat ini berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak remaja. Tahap perkembangan keluarga Tn. S yang sudah

(16)

terpenuhi yaitu berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak, memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab. Tahap perkembangan keluarga Tn. S yang belum tercapai saat ini adalah perlu memberikan figur yang baik bagi anak remaja, seperti mempersiapkan perubahan sistim peran dan peraturan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga. Hasil dari pengkajian pada keluarga Tn. S, khususnya Ny. L menderita penyakit hipertensi. Ny. L mengeluh nyeri kepala skala 5, nyeri senut-senut, nyeri timbul setiap saat dan bertambah berat saat beraktivitas. lemas, sukar tidur. Biasanya jika sakit Ny. L langsung periksa ke Puskesmas. Dari pemeriksaan fisik, didapatkan nyeri kepala skala 5, badan lemas, sukar tidur, tekanan darah 180/100 mmHg, nadi 88 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, terdapat nyeri pada leher.

Pada pengkajian fungsi keperawatan keluarga didapatkan pengkajian ketidakmampuan keluarga mengenal masalah. Didapatkan data, Ny. L mengatakan belum mengerti tentang tanda dan gejalanya, makanan yang tidak boleh dikonsumsi, penatalaksanaan hipertensi, faktor pencetus hipertensi, komplikasi hipertensi serta obat tradisional untuk hipertensi. Menurut Ny. L penyakit hipertensi itu kenaikan tekanan darah

,

Ny. L waktu periksa ke Puskesmas pada tanggal 22 April 2013 mendapatkan obat captopril 2 x 12,5 mg dan antalgin 2 x 500 mg.

C. Analisa Data

Berdasarkan hasil pengkajian yang sudah dilakukan penulis pada tanggal 22 April 2013, didapatkan data subjektif : Ny. L mengatakan nyeri

(17)

kepala skala 5, nyeri timbul setiap saat dan bertambah berat saat beraktivitas, lemas dan sukar tidur. Ny. L juga mengatakan tidak mengetahui tentang tanda dan gejala hipertensi, diit hipertensi, penatalaksanaan hipertensi, komplikasi hipertensi, faktor pencetus hipertensi serta obat tradisional untuk penderita hipertensi. Dan untuk data obyektifnya tekanan darah Ny. L 180/100 mmHg. Sehingga penulis menegakkan diagnosa keperawatan nyeri akut pada Ny. L dengan Hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah.

Berdasarkan hasil scoring didapatkan masalah utama adalah nyeri akut pada Ny. L dengan hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah (skor 2 2/3).

D. Intervensi

Pada diagnosa keperawatan nyeri akut pada Ny. L dengan hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah. Pada tujuan umum : setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 1 minggu diharapkan nyeri berkurang menjadi 3. Sedangkan tujuan khususnya : setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 45 menit diharapkan keluarga dapat mengetahui tanda dan gejala dari hipertensi. Keluarga mengetahui penatalaksanaan hipertensi. Keluarga mengetahui diit untuk hipertensi. Keluarga mengetahui komplikasi dari hipertensi. Keluarga mengetahui faktor pencetus dari hipertensi. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara pembuatan obat tradisional dengan membuat jus

(18)

mentimun. Oleh karena itu Intervensi keperawatan keluarga yang penulis lakukan adalah ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam rasionalnya untuk mengurangi skala nyeri. Anjurkan pasien minum obat antalgin 2 x 500 mg dan captopril 2 x 12,5 mg rasionalnya untuk mengurangi nyeri dan menurunkan tekanan darah. Jelaskan tanda dan gejala dari hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui tanda dan gejala dari hipertensi. Jelaskan penatalaksanaan hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui penatalaksanaan dari penyakit hipertensi. Jelaskan diit hipertensi rasionalnya agar keluarga tau diit yang baik untuk penderita hipertensi. Jelaskan komplikasi dari hipertensi rasionalnya supaya keluarga tau komplikasi dari penyakit hipertensi. Jelaskan faktor pencetus dari hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui faktor pencetus penyakit hipertensi. Dan demonstrasikan cara membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun rasionalnya supaya keluarga mengerti obat tradisional untuk penderita hipertensi yaitu dengan membuat jus mentimun.

E. Implementasi

Implementasi yang penulis lakukan pada hari pertama Selasa tanggal 23 April 2013 jam 13.00 yaitu mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, respon subyektifnya Ny. L bersedia dan respon obyektifnya Ny. L dapat mempraktekan tehnik relaksasi nafas dalam. Menjelaskan tanda dan gejala dari hipertensi, respon subyektifnya keluarga bersedia dan respon obyektifnya keluarga menyimak dengan baik. Menjelaskan faktor pencetus hipertensi,

(19)

respon subyektifnya keluarga bersedia dan respon obyektifnya keluarga memperhatikan. Menjelaskan diit untuk penderita hipertensi, respon subyektifnya keluarga bersedia dan respon obyektifnya keluarga mengerti diit untuk hipertensi. Menjelaskan penatalaksanaan untuk penderita hipertensi, respon subyektifnya keluarga bersedia dan respon obyektifnya keluarga menyimak penjelasan. Menjelaskan komplikasi dari penyakit hipertensi, respon subyektifnya keluarga bersedia dan respon obyektifnya keluarga memperhatikan. Mendemonstrasikan cara membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun, respon subyektifnya keluarga bersedia dan respon obyektifnya keluarga mempraktekan cara membuat obat tradisional dengan cara membuat jus mentimun.

Implementasi hari kedua pada hari Rabu 24 April 2013 jam 14.15 yaitu mengobservasi tingkat nyeri dan menganjurkan tehnik relaksasi nafas dalam, Ny. L bersedia dan mempraktekan nafas dalam. Mengulang kembali menjelaskan tentang tanda dan gejala hipertensi, keluarga bersedia dan menjelaskan kembali tanda dan gejala hipertensi. Menjelaskan faktor pencetus dari hipertensi, keluarga bersedia dan dapat menyebutkan kembali faktor pencetus hipertensi. Menjelaskan penatalaksanaan hipertensi, keluarga bersedia dan dapat menjelaskan kembali. Menjelaskan komplikasi dari penyakit hipertensi, keluarga bersedia dan mengerti. Mengulang kembali tentang diit untuk penderita hipertensi, keluarga bersedia dan mengerti. Menganjurkan keluarga untuk membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun satu hari satu kali, keluarga bersedia dan mempraktekan.

(20)

F. Evaluasi

Evaluasi dilakukan pada hari Selasa 23 April 2013 didapatkan respon subjektif Ny. L mempraktekan tehnik relaksasi nafas dalam dan mengatakan nyeri belum berkurang, masih pusing, nyeri senut-senut, nyeri dikepala, skala nyeri 5 nyeri timbul setiap saat dan bertambah berat saat beraktivitas. Keluarga mengatakan tanda dan gejala dari hipertensi adalah kepala pusing dan lemas, keluarga mengatakan faktor pencetus dari hipertensi adalah kelelahan. keluarga mengatakan komplikasi dari penyakit hipertensi adalah stroke. keluarga mengatakan diit untuk penderita hipertensi adalah rendah garam. keluarga mengatakan mengerti cara membuat jus mentimun. Respon obyektif yaitu Ny. L tampak menahan nyeri, keluarga menyimak dengan baik penjelasan tentang penyakit hipertensi, keluarga berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan.

Analisanya keluarga sudah mengetahui tentang tanda dan gejala hipertensi, penatalaksanaan hipertensi, diit hipertensi, komplikasi hipertensi, faktor pencetus hipertensi dan mengetahui cara pembuatan obat tradisional dengan membuat jus mentimun. Planing yang dapat di buat adalah pertahankan intervensi, anjurkan Ny. L untuk melakukan relaksasi nafas dalam, anjurkan untuk kontrol tekanan darah secara teratur dua minggu sekali, jelaskan kembali tentang tanda dan gejala hipertensi, faktor pencetus dari penyakit hipertensi, penatalaksanaan penyakit hipertensi, komplikasi dari penyakit hipertensi, diit untuk penderita hipertensi, dan anjurkan untuk

(21)

membuat jus mentimun, dan minum obat yang di dapat dari puskesmas yaitu captopril 2 kali 12,5 mg, dan antalgin 2 kali 500 mg.

Evaluasi hari kedua pada hari Rabu, tanggal 24 April 2013, didapatkan respon subyektif keluarga yaitu Ny. L nyeri sudah berkurang, skala nyeri 3. Keluarga mengatakan tanda dan gejala dari hipertensi adalah kepala pusing dan lemas, keluarga mengatakan faktor pencetus dari hipertensi adalah kelelahan, keluarga mengatakan komplikasi dari penyakit hipertensi adalah stroke, keluarga mengatakan diit untuk penderita hipertensi adalah rendah garam, keluarga mengatakan mengerti cara membuat jus mentimun. Respon obyektif yaitu Ny. L tampak lebih rileks, keluarga menyimak dengan baik penjelasan tentang penyakit hipertensi, keluarga mampu menjelaskan kembali tentang hipertensi. Analisanya keluarga sudah mengetahui tentang tanda dan gejala hipertensi, penatalaksanaan hipertensi, diit hipertensi, komplikasi hipertensi, faktor pencetus hipertensi dan mengetahui cara pembuatan obat tradisional dengan membuat jus mentimun. Planing yang dapat di buat adalah pertahankan intervensi, anjurkan untuk kontrol tekanan darah secara teratur sebulan sekali, dan anjurkan untuk membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun satu hari satu kali.

(22)

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN SARAN

A. Pembahasan

Pada bab ini membahas tentang proses telaah antara data pendukung yang terjadi antara teori dengan kenyataan yang ada pada kasus nyata yang dilakukan Asuhan Keperawatan tanggal 22 April 2013 sampai tanggal 24 April 2013. Pada pembahasan ini dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1. Pengkajian

Pengkajian secara teori adalah suatu tahapan dimana perawat mengambil data secara terus menerus terhadap keluarga yang dibinanya (Padila, 2012). Penulis melakukan pengkajian pada keluarga Tn. S berdasarkan pengkajian 32 data menurut Friedman (1998) dan diaplikasikan dalam proses pengkajian melalui proses wawancara dengan keluarga, observasi lingkungan dan pemeriksaan fisik.

Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan pada keluarga Tn. S terutama pada Ny. L ditemukan data : Ny. L sering mengeluhkan nyeri kepala skala 5, nyeri senut senut, nyeri timbul setiap saat dan bertambah berat saat beraktivitas. Tanda dan gejala yang muncul pada penderita hipertensi antara lain pusing, sakit kepala, sesak nafas, gelisah, kelelahan, nyeri bagian perut, mual, gelisah, muntah, pandangan menjadi kabur (Padila, 2012).

(23)

Hal ini sesuai dengan teori nyeri menurut (Setyohadi, 2009) pada umumnya intensitas nyeri dipakai rating scale dengan analogi visual atau dikenal sebagai Visual Analogue Scale (VAS). Mintalah pasien membuat

rating terhadap rasa nyerinya (0-10) baik yang dirasakan saat ini, kapan

nyeri yang paling buruk dirasakan atau yang paling ringan dan pada tingkatan mana rasa nyeri masih dapat diterima. Kualitas nyeri menggunakan terminologi yang dikemukakan oleh pasien itu sendiri seperti nyeri tajam, seperti terbakar, seperti tertarik, nyeri tersayat dan sebagainya.

Sementara karakteristik dari nyeri adalah yang pertama P adalah tenaga kesehatan harus mengkaji tentang penyebab terjadinya nyeri pada penderita, dalam hal ini perlu dipertimbangkan bagian-bagian tubuh mana yang mengalami cidera termasuk menghubungkan antara nyeri yang di derita dengan faktor psikologisnya, karena biasanya terjadi nyeri hebat karena dari factor psikologis bukan dari lukanya, selanjutnya Q adalah Quality, kualitas nyeri merupakan sesuatu yang subyektif yang diungkapkan oleh klien, seringkali klien mendeskripsikan nyeri dengan kalimat nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit dalam atau superfisial, atau bahkan seperti di gencet. R adalah Region, untuk mengkaji lokasi, tenaga kesehatan meminta penderita untuk menunjukkan semua bagian atau daerah yang dirasakan tidak nyaman. Untuk melokalisasi lebih spesifik maka sebaiknya tenaga kesehatan meminta penderita untuk menunjukkan daerah yang nyerinya minimal sampai ke arah nyeri yang sangat. Hal ini

(24)

akan sulit dilakukan apabila nyeri yang dirasakan bersifat menyebar atau difuse, S adalah Severe, tingkat keparahan merupakan hal yang paling subyektif yang dirasakan oleh penderita, karena akan diminta bagaimana kulitas nyeri, kualitas nyeri harus bisa digambarkan menggunakan skala yang bersifat kuantitas. T adalah Time, tenaga kesehatan mengkaji tentang awitan, durasi dan rangkaian nyeri, berapa lama menderita, seberabapa sering untuk kambuh dan lain lain (Judha, 2012).

Terapi obat yang diberikan pada penderita hipertensi antara lain reserpin 0,1-0,25 mg sehari sebagai dosis tunggal, propanolol mulai dari 10 mg dua kali sehari yang dapat dinaikan 20 mg dua kali sehari, nifedipin mulai dari 5 mg dua kali sehari, bisa dinaikan 10 mg dua kali sehari, dan captopril 12,5 mg – 25 mg sebanyak dua sampai 3 kali sehari (Ardiansyah, 2012). Pada Ny. L waktu periksa ke puskesmas diberi obat captopril 2 x 12,5 mg dan antalgin 2 x 500 mg. Hal ini sesuai dengan teori bahwa salah satu obat hipertensi adalah captopril.

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, tugas keluarga tesebut antara lain : pertama mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan yang dialami keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang

(25)

tua/keluarga. Apabila menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya (Suprajitno, 2012).

Pada pengkajian fungsi kesehatan keluarga terutama dalam mengenal masalah kesehatan, maka perlu dikaji sejauh mana keluarga mengetahui fakta-fakta dari masalah kesehatan, meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab, dan yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah (Padila, 2012).

. Berdasarkan etiologi masalah yang terdapat pada keluarga Tn. S khususnya Ny. L didapatkan data keluarga mengatakan belum tau tentang tanda dan gejala, penatalaksanaan, faktor pencetus, komplikasi, diit dan obat tradisional untuk penderita hipertensi, hal ini sesuai dengan teori.

2. Diagnosa Keperawatan

Definisi diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan masalah keperawatan yang didapat dari data-data pada pengkajian yang berhubungan dengan etiologi yang berasal dari data-data pengkajian fungsi perawatan keluarga (Padila, 2012)

Masalah keperawatan sampai saat ini masih menggunakan daftar masalah keperawatan yang dibuat oleh asosiasi perawat Amerika (NANDA), yang meliputi masalah aktual, resiko atau resiko tinggi, dan potensial (untuk keadaan wellness/sejahtera). Penyebab merujuk kepada tugas keluarga dibidang kesehatan, yaitu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk tindakan, merawat anggota keluarga,

(26)

memodifikasi lingkungan, atau memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan sesuai data yang telah dikumpulkan dalam pengkajian, sedang tanda dapat dituliskan atau tidak karena telah diidentifikasi pada langkah awal (Suprajitno, 2004).

Data yang muncul pada klien yaitu data subyektifnya nyeri kepala skala 5, nyeri senut-senut, nyeri timbul setiap saat dan bertambah berat saat beraktivitas, serta etiologinya ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dengan data subyektif keluarga mengatakan belum mengetahui tentang tanda dan gejala, penatalaksanaan, faktor pencetus, komplikasi, diit dan obat tradisional untuk penderita hipertensi, dan data obyektif tekanan darah Ny. L 180/100 mmHg.

Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, maka perlu dikaji sejauh mana keluarga mengetahui fakta-fakta dari masalah kesehatan, meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah (Padila, 2012).

3. Intervensi

Intervensi keperawatan adalah bagian dari tahap proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetaan kriteria hasil, penetapan rencana tindakan yang akan diberikan kepada klien untuk memecahkan masalah yang dialami klien serta rasional dari masing-masing rencana tindakan yang akan diberikan (Hutahaean, 2010). Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan, mencangkup tujuan umum dan tujuan khusus,

(27)

rencana intervensi serta dilengkapi dengan rencana evaluasi yang memuat criteria dan standar (Padila, 2012)

Tujuan jangka umum setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 1 minggu diharapkan nyeri berkurang menjadi 3, sedangkan tujuan kususnya setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 45 menit diharapkan keluarga dapat mengetahui tanda dan gejala dari hipertensi, keluarga mengetahui penatalaksanaan hipertensi, keluarga mengetahui diit untuk hipertensi, keluarga mengetahui komplikasi dari hipertensi, keluarga mengetahui faktor pencetus dari hipertensi, serta keluarga mampu mendemonstrasikan cara pembuatan obat tradisional dengan membuat jus mentimun satu hari satu kali.

Intervensi ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam rasionalnya untuk mengurangi skala nyeri, anjurkan pasien minum obat captopril 2 x 12,5 mg dan antalgi 2 x 500 mg, untuk mengurangi tekanan darah tinggi dan mengurangi nyeri, jelaskan tanda dan gejala dari hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui tanda dan gejala hipertensi, jelaskan penatalaksanaan hipertensi agar keluarga mengetahui penatalaksanaan hipertensi, jelaskan diit hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui diit untuk penderita hipertensi, jelaskan komplikasi dari hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui komplikasi dari penyakit hipertensi, jelaskan faktor pencetus dari hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui faktor pencetus hipertensi, dan demonstrasikan cara membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun satu kali sehari rasionalnya

(28)

agar keluarga mengetahui cara membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun.

4. Implementasi

Implementasi adalah serangkaian tindakan perawat pada keluarga berdasarkan perencanaan sebelumnya (Padila, 2012).

Mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, relaksasi nafas dalam merupakan metode yang efektif untuk mengatasi nyeri, relaksasi yang sempurna dapat mengurangi ketegangan otot, kejenuhan, dan ansietas sehingga dapat mencegah peningkatan intensitas nyeri (Kusyati, 2013), menganjurkan pasien minum obat captopril 2 x 12,5 mg untuk mengurangi tekanan darah tinggi, kaptopril 12,5 mg – 25 mg sebanyak dua sampai tiga kali sehari (Ardiansyah, 2012), menjelaskan tanda dan gejala dari hipertensi, menjelaskan penatalaksanaan hipertensi, menjelaskan diit hipertensi, menjelaskan komplikasi dari hipertensi, menjelaskan faktor pencetus dari hipertensi (Arita, 2011), dan mendemonstrasikan cara membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun, penulis menganjurkan untuk dibuat jus agar lebih mudah dikonsumsi, mentimun memiliki banyak khasiat, diantaranya mampu menurunkan tekanan darah tinggi karena mentimun mengandung potassium, magnesium, dan fosfor (Nisa, 2012).

(29)

5. Evaluasi

Definisi evaluasi adalah tahap akir dari proses keperawatan dan merupakan tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai (Hutahaean, 2010). Evaluasi dilakukan dengan pendekatan pada SOAP, yaitu: S adaalah data subjektif yaitu data yang diutarakan klien dan pandangannya terhadap data tersebut (jika pasien afasia, penulisan datanya adalah 0/X), kemudian O adalah objektif yaitu data yang didapat dari hasil observasi perawat, termasuk tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan penyakit klien (meliputi data fisiologi, dan informasi dari pemeriksaan tenaga kesehatan), A adalah analisa yaitu analisa ataupun kesimpulan dari data subjektif dan data objektif, P adalah perencanaan yaitu pengembangan rencana segera atau yang akan datang untuk mencapai status kesehatan klien yang optimal (Hutahaean, 2010).

Dari hasil evaluasi didapatkan data subyektif Ny. L mengatakan nyeri berkurang skala 3, keluarga mengatakan tanda dan gejala hipertensi adalah pusing dan lemas, keluarga mengatakan faktor pencetus hipertensi adalah kelelahan, stres, keluarga mengatakan komplikasi dari hipertensi yaitu stroke, keluarga mengatakan diit untuk penderita hipertensi adalah rendah garam, keluarga mengatakan mengerti cara membuat jus mentimun, dan data obyektifnya Ny. L tampak rileks, keluarga menyimak dengan baik penjelasan hipertensi, keluarga dapat menjelaskan kembali

(30)

tentang hipertensi., dan analisanya keluarga sudah mengetahui tentang tanda dan gejala hipertensi, penatalaksanaan hipertensi, diit hipertensi, komplikasi hipertensi, faktor pencetus hipertensi dan mengetahui cara pembuatan obat tradisional dengan membuat jus mentimun, planingnya adalah pertahankan intervensi, anjurkan periksa tekanan darah setiap 2 minggu sekali, anjurkan membuat jus mentimun.

B. Simpulan Dan Saran 1. Simpulan

a. Pengkajian pada keluarga Tn. S khususnya Ny. L dengan hipertensi

primer atau esensial pada tanggal 22 April 2013 di rumah keluarga Tn.

S didapatkan bahwa Ny. L mengatakan pusing dan nyeri dikepala,

provocate: Ny. L mengatakan pusing, quality : nyeri senut-senut, region : nyeri dirasakan di kepala, skala : 5, time : nyeri timbul setiap

saat dan bertambah berat saat beraktifitas. Ny. L mengatakan belum mengetahui cara perawatan hipertensi. Keluarga Tn. S mengatakan tidak mengetahui cara merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi. b. Diagnose keperawatan yang dirumuskan oleh penulis adalah nyeri akut

pada Ny. L berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga Tn. S mengenal masalah.

c. Setelah dilakukan 2 kali kunjungan rumah, nyeri berkurang dengan kriteria hasil skala nyeri 3, ekspresi wajah rileks ,dan tujuan khususnya adalah setelah dilakukuan 2 kali kunjungan rumah keluarga mampu mengenal masalah dan keluarga mengetahui cara membuat obat

(31)

tradisional. Tindakan keperawatan yang penulis lakukan untuk tercapainya tujuan di atas antara lain mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam untuk mengurangi nyeri. Untuk mengatasi masalah ketidakmampuan keluarga Tn. S mengenal masalah kesehatan penulis menyusun rencana keperawatan setelah dilakukan 2 kali kunjungan di rumah keluarga Tn. S diharapkan nyeri pada Ny. L berkurang skala 3, dan keluarga Tn. S mampu mengenal masalah kesehatan dengan kriteria hasil keluarga Tn. S mengerti tentang tanda dan gejala, diit, komplikasi, serta mampu membuat obat tradisional.

d. Implementasi hari pertama selasa tanggal 23 April 2013 jam 13.00 yaitu mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam͕menjelaskan tanda dan

gejala dari hipertensi rasionalnya agar keluarga mengetahui tanda dan gejala dari hipertensi, menjelaskan faktor pencetus hipertensi, menjelaskan diit untuk penderita hipertensi rasionalnya agar keluarga, menjelaskan penatalaksanaan untuk penderita hipertensi, menjelaskan komplikasi dari penyakit hipertensi, mendemonstrasikan cara membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun. Hari kedua pada hari rabu 24 April 2013 jam 14.15 yaitu mengobservasi tingkat nyeri dan menganjurkan tehnik relaksasi nafas, mengulang kembali menjelaskan tentang tanda menjelaskan faktor pencetus dari hipertensi, menjelaskan komplikasi dari penyakit hipertensi, Serta menganjurkan keluarga untuk membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun e. Evaluasi hari kedua pada hari rabu, tanggal 24 April 2013, di dapatkan

respon subyektif keluarga yaitu Ny. L nyeri sudah berkurang, skala nyeri 3. Keluarga mengatakan tanda dan gejala dari hipertensi adalah

(32)

kepala pusing dan lemas, keluarga mengatakan faktor pencetus dari hipertensi adalah kelelahan, keluarga mengatakan komplikasi dari penyakit hipertensi adalah stroke, keluarga mengatakan diit untuk penderita hipertensi adalah rendah garam, keluarga mengatakan mengerti cara membuat jus mentimun. Respon obyektif yaitu Ny. L tampak lebih rileks, keluarga menyimak dengan baik penjelasan tentang penyakit hipertensi, keluarga mampu menjelaskan kembali tentang hipertensi. Analisanya keluarga sudah mengetahui tentang tanda dan gejala hipertensi, penatalaksanaan hipertensi, diit hipertensi, komplikasi hipertensi, faktor pencetus hipertensi dan mengetahui cara pembuatan obat tradisional dengan membuat jus mentimun. Planing yang dapat di buat adalah pertahankan intervensi, anjurkan untuk kontrol tekanan darah secara teratur sebulan sekali, dan anjurkan untuk membuat obat tradisional dengan membuat jus mentimun.

2. Saran

a. Bagi institusi Pendidikan

Dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang lebih berkualitas, dan menciptakan perawat-perawat yang profesional

b. Bagi institusi pelayanan kesehatan (Puskesmas)

Hal ini diharapkan puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. c. Bagi penulis

Hal ini diharap kan penulis dapat lebih maksimal lagi dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga.

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Muhamad. 2012. Medikal Bedah. Yogyakarta : Divapress

Hidayat, Aziz. 2008. Konsep Dasar Keperawatan, Edisi 2 Jakarta: Salemba Medika

Hutahaean, Serri. 2010. Konsep dan Dokumentasi Proses Keperawatan. Yogyakarta : TIM, 2010

Judha, Mohamad. 2012. Teori Pengukuran Nyeri. Yogyakarta : Nuha Medika Kusyati, Eni. 2013. Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta : EGC, 2012 Murwani, Arita. 2011. Perawatan Pasien Penyakit Dalam, Yogyakarta : Gosyem

Publishing

Nisa, Intan. 2012. Terapi Herbal. Jakarta : Dunia Sehat

Padila. 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Nuha Medika

Setiyohadi, Bambang. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Interna Publishing Suprajitno, 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga, Jakarta : EGC, 2004

Referensi

Dokumen terkait

To ensure that the BIBD operates in line with the principle of Sharī ʿ ah , the Shar ī ʿ ah governance and compliance system of the BIBD works in two dimensions

Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden yang selanjutnya disebut Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (1) adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara

Bagi mereka yang tidak familiar dengan teologi hikmat dalam kitab Amsal, memang akan merasakan keganjilan pemilihan judul Hikmat dan Hidup Sukses tersebut..

Pembatasan tersebut dimaksudkan supaya para pencipta dalam kegiatan kreatif dan inovatifnya tidak melanggar norma-norma atau asas kepatutan yang berlaku dalam

Mengkoordinasikan Mengkoordinasikan pelaksanaan pelaksanaan Program Program Pemberdayaan Pemberdayaan Masyarakat serta penarikan/pengembaliannya secara tertib bagi

Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa homoseksual dalam pandangan Islam diharamkan karena homoseksual merupakan suatu perbuatan yang keji yang dapat merusak akal

Metodologi yang digunakan adalah membangun jaringan IEEE 802.11 dengan satu komputer sebagai Server Televisi dan dua smartphone , dua notebook dan dua tablet sebagai

Salah satu contoh globalisasi ekonomi adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), seperti yang saat ini baru saja bergulir. Arus barang serta jasa dan faktor-faktor