• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR TULANG BELAKANG FETUS MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG TEKI (Cyperus rotundus L.) (Skripsi) Oleh ETIKA JULITA SARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STRUKTUR TULANG BELAKANG FETUS MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG TEKI (Cyperus rotundus L.) (Skripsi) Oleh ETIKA JULITA SARI"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

STRUKTUR TULANG BELAKANG FETUS

MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG TEKI (Cyperus rotundus L.)

(Skripsi)

Oleh

ETIKA JULITA SARI

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

STRUKTUR TULANG BELAKANG FETUS

MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG TEKI (Cyperus rotundus L.)

Oleh Etika Julita Sari

ABSTRAK

Rumput teki merupakan tumbuhan liar yang dimanfaatkan rimpangnya sebagai obat tradisional karena memiliki khasiat sebagai antibakteri, dapat menormalkan siklus haid, dan penyakit pada organ reproduksi wanita. Zat kimia aktif yang terdapat dalam rimpang teki yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, pati, glikosida, seskuiterpen dan saponin. Dengan adanya berbagai zat kimia tersebut maka dilakukan penelitian mengenai uji teratogenik ekstrak rimpang teki untuk

mengetahui kelainan pada fetus mencit (Mus musculus L.) secara morfologi yaitu penurunan berat badan dan panjang fetus serta secara anatomi yaitu kelainan pada struktur tulang belakang. Penelitian dilaksanakan pada November 2015- Januari 2016 bertempat di Laboratorium Zoologi dan Laboratorim Kimia Organik FMIPA Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan yaitu kontrol diberi 0,4 ml aquabides (A), dosis 45 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides (B), dosis 90 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides (C), dan dosis 135 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides (D) dengan pengulangan sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 90 mg/40 gram BB dan dosis 135 mg/40 gram BB menyebabkan penurunan berat badan dan menambah panjang fetus mencit secara signifikan apabila

dibandingkan dengan kontrol. Hal ini diduga karena di dalam ekstrak rimpang teki terdapat zat aktif sehingga bersifat sitotoksik. Secara anatomi pemberian ekstrak rimpang teki tidak menyebabkan kelainan pada struktur tulang belakang fetus mencit. Hal ini diduga karena di dalam ekstrak rimpang teki terdapat kandungan kalsium sehingga dapat mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan tulang. Kata kunci: Rimpang rumput teki (Cyperus rotundus L.), teratogenik, mencit

(3)

STRUKTUR TULANG BELAKANG FETUS

MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG TEKI (Cyperus rotundus L.)

Oleh

ETIKA JULITA SARI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA SAINS

Pada Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Labuhan Ratu 1, Way Jepara, Lampung Timur pada 13 Juli 1994, sebagai putri pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Sutarto dan Ibu Eni Hidayah. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Braja Sakti pada tahun 2006, dilanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Way Jepara lulus pada tahun 2009, dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Way Jepara lulus pada tahun 2012. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung pada tahun 2012 melalui Jalur SNMPTN.

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi Bendahara Bidang Sains dan Teknologi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Fakultas MIPA pada tahun 2014-2015. Penulis juga pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Sains Dasar Biologi, Biosistematika Tumbuhan, Fisiologi Tumbuhan, Pengenalan Alat Laboratorium, dan Embriologi Hewan di Jurusan Biologi, Biologi Umum Jurusan Agribisnis dan Agroteknologi, dan Botani Umum Agroteknologi. Penulis

melaksanakan Kerja Praktik di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung pada tahun 2015.

(7)

MOTTO

Jika engkau tak belajar bersabar dalam pahitnya kegagalan, engkau tak akan

sampai pada manisnya keberhasilan

Mario Teguh

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya

bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Q.S. Al-Insyirah: 5-6

Kunci sukses adalah kegigihan untuk memperbaiki diri dan kesungguhan untuk

mempersembahkan yang terbaik dari hidup ini

(8)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT, Tiada Tuhan Selain Allah yang telah memberikan nikmat kesehatan, kekuatan, dan kesabaran untukku dalam menyelesaikan skripsi ini.

Ku persembahkan karya ini sebagai cinta kasihku, tanda bakti, serta rasa terima kasihku yang terdalam kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidupku.

Bapak dan Ibuku yang telah memberikan cinta, kasih, dan sayangnya, selalu mendoakan tiada henti, memberikan semangat dan nasehat, serta pengorbanannya.

Adikku dan sahabat terdekat dalam hidupku serta keluarga besarku yang selalu memberikanku dukungan, dorongan, semangat, dan motivasi.

Guru-guruku, dosen-dosenku dan terutama pembimbingku yang tak pernah lelah dan selalu sabar memberikan bimbingan serta arahan kepadaku

Sahabat-sahabatku yang senantiasa menjadi penyemangat, selalu membantu, tempat berbagi cerita baik suka, duka, susah maupun senang.

(9)

SANWACANA

Dengan mengucap Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Struktur Tulang Belakang Fetus Mencit (Mus musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Teki (Cyperus rotundus L.)”.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Nuning Nurcahyani, M.Sc., selaku pembimbing I sekaligus Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unila yang telah memberi bimbingan dan arahan dalam melakukan penelitian hingga menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Hendri Busman, M.Biomed., selaku pembimbing II yang telah memberi nasehat, saran, dan bimbingan selama penyelesaian skripsi ini. 3. Ibu Prof. Dr. Ida Farida Rivai selaku pembahas sekaligus Pembimbing

Akademik yang telah banyak memberikan kritik dan koreksi pada penulis serta membimbing penulis dalam menempuh pendidikan di Jurusan Biologi.

4. Bapak Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

(10)

penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Ibu Dosen Jurusan Biologi FMIPA Unila terimakasih atas

bimbingan dan ilmu yang sudah diberikan selama penulis melaksanakan studi di Jurusan Biologi.

7. Karyawan dan staff serta laboran di Jurusan Biologi yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Adikku tersayang Nadilla Dwi Lestari dan Najlaa Shania Putri serta seluruh keluarga besarku terimakasih atas doa, cinta dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Dito Aditya terimakasih atas doa, semangat dan dukungannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman seperjuangan tim mencit, Faizatin Nadya Roza dan Puty Orlando terimakasih atas kerjasama dan kebersamaannya selama menyelesaikan skripsi ini.

11. Teman-teman keluarga besar biologi 2012: Imamah, Emil, Dwi, Sayu, Agus, Mita, Aul, Asri, Laras, Lia, Sabrina, Meri, Lu’lu, Manda, Erika, Popi, Welmi, Lutfi, Ama, Olin, Ambar, Yelbi, Aida, Heni, Nora, Khorik, Mustika, Riza, Wina, Putri, Dela, Luna, Pepti, Bebi, Propal, Minggar, Jevica, Arum, Dewi, Sheila, Catur, Nike, Afrisa, Linda, Naumi, Nindia, Maria, Nikken, Aska, Indy, Amal, Nisa, Agung, Huda, Marli, Apri, Abdi, Kadek, terimakasih atas kebersamaan selama ini.

(11)

13. Teman kosan Eko Wijayanti dan Istiqomah: Ayu, Sukma, Indah, Anna, Fifi, Desta, terimakasih atas dukungan, keceriaan dan canda tawanya. 14. Kakak tingkat angkatan 2011 dan 2010 yang telah banyak memberikan

pengalaman dan bimbingannya selama penulis menyelesaikan studi di Jurusan Biologi.

15. Adik tingkat 2013 dan 2014 terimakasih atas keceriaan, canda tawa, dan semangatnya.

16. Seluruh Wadya Balad HIMBIO yang telah memberikan semangat dan tidak dapat disebutkan satu persatu.

17. Almamater tercinta Universitas Lampung.

Semoga Allah SWT membalas kasih sayang kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa masih banyak

kekurangan di dalam penulisan skripsi ini dan jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, April 2016 Penulis,

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Tujuan Penelitian ... 3 C. Manfaat Penelitian ... 3 D. Kerangka Pikir ... 4 E. Hipotesis ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Rumput Teki (Cyperus rotundus L.) ... 6

1. Taksonomi dan Morfologi ... 6

2. Manfaat Rimpang Rumput Teki ... 7

3. Kandungan Rimpang Rumput Teki ... 8

B. Mencit (Mus musculus L.) ... 11

1. Taksonomi ... 11

2. Morfologi dan Fisiologi Mencit ... 11

3. Perkembangan Fetus Mencit ... 12

C. Toksikologi ... 14

D. Teratogenik ... 16

E. Berat Badan dan Panjang Fetus ... 17

F. Tulang Belakang Fetus ... 18

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 20

B. Alat dan Bahan ... 20

C. Pelaksanaan Penelitian ... 21

1. Persiapan Kandang dan Hewan Uji ... 21

2. Persiapan dan Pembuatan Ekstrak Rimpang Teki ... 22

(13)

4. Pembuktian Kopulasi Mencit ... 23 5. Pemberian Perlakuan ... 23 6. Pengamatan ... 25 7. Rancangan Percobaan ... 26 8. Analisis Data ... 26 9. Diagram Alir ... 27

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan ... 28

1. Berat Badan dan Panjang Fetus ... 28

2. Tulang Belakang Fetus ... 31

B. Pembahasan ... 33

1. Berat Badan dan Panjang Fetus ... 33

2. Tulang Belakang Fetus ... 37

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 40

B. Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Tahap Perkembangan Fetus Pada Rodentia. ... 14 Tabel 2. Hasil Pengamatan Berat Badan Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Teki... 28 Tabel 3. Hasil Pengamatan Panjang Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Teki ... 30 Tabel 4. Pengamatan Tulang Belakang Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Teki... 32

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Rumput Teki dan Rimpang Teki ... 7

Gambar 2. Mencit (Mus musculus L.) ... 11

Gambar 3. Morfologi Fetus Normal ... 13

Gambar 4. Anatomi Rangka Mencit (Mus musculus L.) ... 18

Gambar 5. Penurunan Berat Badan Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Teki ... 29

Gambar 6. Pertambahan Panjang Badan Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Teki ... 31

Gambar 7. Fetus (a) Kontrol, (b) Dosis 45 mg/40 gram BB, (c) Dosis 90mg/40 gram BB, (d) Dosis 135 mg/40 gram BB . 33 Gambar 8. Rotary evaporator ... 50

Gambar 9. Akuabides ... 50

Gambar 10. Ekstrak Rimpang Teki ... 50

Gambar 11. Larutan Alizarin Red 1%... 50

Gambar 12. Alkohol 90% ... 50

Gambar 13. Alkohol 70% ... 50

Gambar 14. Sonde Lambung... 50

Gambar 15. Kandang Mencit ... 50

Gambar 16. Seperangkat alat bedah ... 51

(16)

Gambar 18. Jangka sorong ... 51

Gambar 19. Proses kopulasi mencit ... 51

Gambar 20. Pemberian ekstrak ... 51

Gambar 21. Kehamilan hari ke-18 ... 51

Gambar 22. Mencit dibius dengan kloroform ... 51

Gambar 23. Pembedahan mencit... 51

Gambar 24. Fetus dikeluarkan dari uterus ... 52

Gambar 25. Fetus mencit ... 52

Gambar 26. Pengukuran panjang fetus ... 52

Gambar 27. Penimbangan berat fetus ... 52

Gambar 28. Organ dalam fetus dikeluarkan ... 52

Gambar 29. Fetus diproses dengan Alizarin Red ... 52

Gambar 30. Fetus tanpa perlakuan (kontrol)... 53

Gambar 31. Fetus perlakuan dosis 45 mg/40 gram BB (B) ... 53

Gambar 32. Fetus perlakuan dosis 90 mg/40 gram BB (C) ... 53

(17)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Di hutan tropis Indonesia terdapat 30.000 spesies tumbuhan, dari jumlah tersebut sekitar 9.600 spesies diketahui berkhasiat obat, dan kurang lebih 300 spesies telah dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri obat tradisional. Tumbuhan yang memiliki potensi sehingga dapat dikembangkan menjadi bahan baku obat-obatan adalah tumbuhan yang dapat menghasilkan metabolit sekunder dan aktivitas biologis tertentu (Anonim, 2007).

Rumput teki (Cyperus rotundus L.) merupakan tumbuhan liar yang hidup di berbagai tempat terbuka seperti di lapangan rumput, pinggir jalan, tegalan, atau lahan pertanian sehingga termasuk sebagai gulma (Dalimartha, 2009). Masyarakat di berbagai daerah di banyak negara telah lama memanfaatkan rumput teki sebagai obat tradisional. Bagian rimpang merupakan bagian yang digunakan untuk pengobatan. Rimpang rumput teki memiliki rasa pedas, sedikit pahit, dan manis serta bersifat anti esterogen (Lawal dan Adebola, 2009).

Komponen aktif yang terdapat dalam rimpang teki adalah seskuiterpen. Senyawa seskuiterpen dalam rimpang teki yaitu α-cyperone, β-selinene,

(18)

cyperene, cyperotundone, patchoulenone, sugeonol, kobusone, dan

isokobusone. Selain komponen aktif tersebut, rimpang teki juga mengandung

beberapa bahan kimia yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, pati, glikosida, dan saponin (Subhuti, 2005).

Berbagai bahan kimia dalam rimpang teki dapat digunakan sebagai antibakteri, obat peluruh haid dan kontrasepsi. Kontrasepsi yang

mempengaruhi proses reproduksi dalam hal ini yaitu menghambat ovulasi terhadap siklus haid pada manusia dan siklus estrus pada mencit

(Mus musculus L.), menghambat penetrasi sperma, menghambat fertilisasi dan implantasi, sehingga proses kehamilan sulit terjadi dan apabila terjadi maka kemungkinan fetus akan mengalami kecacatan (Winarno dan Sundari, 1997).

Fetus mengalami fase organogenesis. Fase organogenesis merupakan fase dimana sel-sel fetus sedang aktif berproliferasi sehingga sangat rentan terhadap pengaruh dari luar seperti zat yang terkandung dalam makanan, minuman ataupun obat-obatan. Pengaruh langsung maupun tak langsung oleh masuknya bahan kimia terhadap perkembangan organ fetus dapat mengkibatkan kematian fetus, pertumbuhan terhambat dan kelainan pembentukan tulang. Pembentukan dan perkembangan tulang (osifikasi) pada fetus mencit terjadi pada hari ke 11 sampai ke 17 kehamilan sehingga pada masa itu sangat rentan terhadap faktor non genetik penyebab kecacatan (teratogen) (Rugh, 1968).

(19)

Dalam upaya pemanfaatan tanaman sebagai bahan obat maka perlu dilakukan uji keamanan dari ekstrak rimpang teki. Uji keamanan merupakan suatu uji dengan memberikan faktor atau zat tertentu untuk melihat ada tidaknya kelainan pada fetus hewan uji akibat pemberian zat tersebut. Pada penelitian ini digunakan ekstrak rimpang teki yang diberikan kepada mencit yang sedang hamil selama periode organogenesis yaitu pada kehamilan hari ke-6 sampai ke-17. Uji teratogenik tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi penggunaan rimpang teki sebagai bahan baku obat-obatan agar dapat

diaplikasikan pada manusia sehingga tidak menimbulkan akibat yang berbahaya (Almahdy, 1999).

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelainan pada fetus mencit (Mus musculus L.) secara morfologi yaitu penurunan berat badan dan panjang fetus serta secara anatomi yaitu kelainan pada struktur tulang

belakang setelah pemberian ekstrak rimpang teki (Cyperus rotundus L.) terhadap induk mencit yang sedang hamil.

C. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi ilmiah lebih lanjut mengenai efek teratogenik ekstrak rimpang teki (Cyperus rotundus L.) terhadap penurunan berat badan dan panjang fetus serta kelainan pada struktur tulang belakang fetus mencit (Mus musculus L.).

(20)

D. Kerangka Pikir

Keanekaragaman hayati yang tinggi membuat masyarakat Indonesia mudah untuk memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan baku obat, salah satunya adalah rumput teki (Cyperus rotundus L.). Rumput teki merupakan tumbuhan liar yang dapat hidup pada berbagai tempat sehingga termasuk sebagai gulma. Tanaman ini dimanfaatkan rimpangnya di banyak negara sebagai obat tradisional karena memiliki khasiat sebagai antibakteri, dapat menormalkan siklus haid, dan penyakit pada organ reproduksi wanita. Komponen aktif yang terdapat dalam rimpang teki adalah seskuiterpen. Senyawa seskuiterpen dalam rimpang teki yaitu α-cyperone, β-selinene,

cyperene, cyperotundone, patchoulenone, sugeonol, kobusone, dan isokobusone. Zat kimia yang terdapat dalam rimpang teki yaitu alkaloid,

flavonoid, tanin, pati, glikosida, dan saponin. Dengan adanya berbagai zat kimia tersebut maka diperlukan penelitian mengenai uji teratogenik dari ekstrak rimpang teki untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada fetus hewan uji berupa mencit (Mus musculus L.). Penelitian ini didasarkan pada penelitian Pasaribu (2008) mengenai efek pemberian ekstrak rimpang teki yang menyebabkan pertumbuhan abnormal pada bagian tubuh fetus mencit. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap penurunan berat badan dan panjang fetus, serta kelainan pada struktur tulang belakang fetus mencit, dimana proses pembentukan dan perkembangan tulang (osifikasi) pada fetus mencit terjadi pada hari ke-11 sampai ke-17 kehamilan sehingga pada masa itu sangat rentan terhadap senyawa teratogen.

(21)

E. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak rimpang teki

(Cyperus rotundus L.) terhadap induk mencit (Mus musculus L.) yang sedang hamil menyebabkan terjadinya penurunan berat badan dan panjang fetus serta kelainan pada struktur tulang belakang fetus.

(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Rumput Teki (Cyperus rotundus L.)

1. Taksonomi dan Morfologi

Menurut Sugati, Syamsuhidayat, dan Johnny (1991), taksonomi tumbuhan rumput teki adalah:

Regnum : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Bangsa : Cyperales Suku : Cyperaceae Marga : Cyperus

Jenis : Cyperus rotundus L.

Rumput teki merupakan tumbuhan liar yang dapat tumbuh di berbagai tempat seperti di tanah terbuka, pinggir jalan, atau lahan pertanian sehingga termasuk sebagai gulma. Batang berbentuk segitiga, daun terdiri dari 4-10 helai pada pangkal batang dengan pelepah daun tertutup tanah. Helaian daun berbentuk pita, bertulang sejajar, tepi rata, permukaan atas berwarna hijau mengilap dengan panjang 10-60 cm dan lebar 2-6 cm. Perbungaan majemuk berbentuk

(23)

bulir mempunyai 8-25 bunga yang berkumpul berbentuk payung, berwarna kuning atau cokelat kuning. Buah berbentuk batu berukuran kecil, bentuknya memanjang sampai bulat telur. Rimpang menjalar, berbentuk kerucut,

berwarna cokelat, dan memiliki panjang 1,5-4,5 cm dengan diameter 5-10 mm (Dalimartha, 2009). Struktur morfologi rumput teki dan rimpang teki

disajikan pada Gambar 1.

(a) (b)

Gambar 1. (a) Rumput Teki, (b) Rimpang Teki (Subhuti, 2005)

2. Manfaat Rimpang Rumput Teki

Rimpang rumput teki memiliki banyak khasiat sehingga banyak digunakan dalam pengobatan tradisional yaitu untuk mengobati kejang perut, luka, bisul dan lecet. Terdapat beberapa aktivitas farmakologi dan biologi rimpang rumput teki yaitu anti-candida, antiinflamasi, antidiabetes, antidiare,

sitoprotektif, antimutagenik, antibakteri, antioksidan, sitotoksik dan apoptosis, aktivitas analgesik dan antipiretik (Lawal dan Adebola, 2009).

(24)

3. Kandungan Rimpang Rumput Teki

Rimpang rumput teki memiliki komponen aktif yaitu seskuiterpen. Senyawa

seskuiterpen dalam rimpang rumput teki sejauh ini adalah: α-cyperone, β-selinene, cyperene, cyperotundone, patchoulenone, sugeonol, kobusone, dan isokobusone (Subhuti, 2005).

Komposisi kimia dari minyak volatile rumput teki terdiri dari empat tipe

(fourchemotypes) yaitu H-, K-, M-, dan O-. H-tipe dari Jepang mengandung α-cyperone (36,6%), β-selinene (18,5%), cyperol (7,4%) dan caryophyllene

(6,2%). M-tipe dari Cina, HongKong, Jepang, Taiwan dan Vietnam mengandung α-cyperone (30,7%), cyperotundone (19,4%), β-selinene (17,8%), cyperene (7,2%) dan cyperol (5,6%). O-tipe dari Jepang, Taiwan, Thailand, Hawaii dan Filipina mengandung cyperene (30,8%), cyperotundone (13,1%) dan β-elemene (5,2%). K-tipe dari Hawaii mengandung cyperene (28,7%), cyperotundone (8,8%), asetat patchoulenyl (8,0%) dan asetat

sugeonyl (6,9%) ( Lawal dan Adebola, 2009).

Selain komponen aktif tersebut, rimpang teki juga mengandung beberapa zat kimia yaitu alkaloid sebanyak 0,3-1%, minyak atsiri sebanyak 0,3-1%, flavonoid 1-3% yang komposisinya bervariasi tergantung daerah asal tumbuhnya.

a. Flavonoid

Flavonoid merupakan golongan dari senyawa fenolik yang merupakan pigmen tumbuhan. Fungsi flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat

(25)

flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, antiinflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik (Barnes, Anderson, and Philipson, 1996).

Flavonoid dapat bekerja sebagai inhibitor kuat pernapasan. Beberapa flavonoid menghambat fosfodiesterase, flavonoid lain menghambat aldoreduktase, monoamina oksidase, protein kinase, DNA polimerase dan lipooksigenase (Robbinson, 1995).

b. Alkaloid

Menurut Harborne (1987), alkaloid merupakan senyawa metabolid sekunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen dengan sepasang elektron bebasnya, dalam bentuk cincin

heterosiklik dan bersifat aktif biologis menonjol. Alkaloid memiliki efek biologis yang menyegarkan tubuh sampai toksik yang dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, kanker mulut, tekanan darah tinggi, dan gangguan terhadap kehamilan dan janin.

c. Seskuiterpenoid

Seskuiterpenoid merupakan senyawa terpenoid yang dihasilkan oleh tiga unit isopren yang terdiri dari kerangka asiklik dan bisiklik dengan kerangka dasar naftalen. Anggota seskuiterpenoid yang penting adalah farnesol dan alkohol. Senyawa ini mempunyai bioaktivitas yang cukup besar

diantaranya adalah sebagai antifeedant, antimikroba, antibiotik, toksin, serta regulator pertumbuhan tanaman dan pemanis (Robbinson, 1995).

(26)

d. Tanin

Tanin bersifat fenol, mempunyai rasa sepat. Kadar tanin yang tinggi dalam tumbuhan dapat membantu mengusir hewan pemangsa tumbuhan dan mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap nilai gizi tumbuhan makanan ternak. Tanin mempunyai aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor, dan menghambat enzim seperti reverse transkiptase dan DNA topoisomerase (Robbinson, 1995).

e. Saponin

Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah dan sebagai antimikroba. Efek penggunaan saponin ialah penghambatan jalur ke steroid anak ginjal dan dehidrogenase jalur prostaglandin (Robbinson, 1995).

Kandungan nutrisi rimpang rumput teki adalah lemak (29,48 ± 0,28)%, protein (9,04 ± 0,33)%, abu (2,67 ± 0,21)%, serat (12,63 ± 0,01)% dan karbohidrat (21,47 ± 0,83)%. Kandungan mineralnya sebagai berikut: tembaga (28,11 ± 0,02) mg/100g, magnesium (50,76 ± 0,50) mg/100g, kalium (110,11 ± 0,71) mg/100g, kalsium (16,40 ± 0,32) mg/100 g dan natrium (110,11 ± 0,71) mg/100g (Oladunni, Abass, dan Adisa, 2011).

(27)

B. Mencit (Mus musculus L.)

1. Taksonomi dan Morfologi

Menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) taksonomi mencit adalah: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Mamalia Bangsa : Rodentia Suku : Muridae Genus : Mus

Spesies : Mus musculus L.

Morfologi mencit (Mus musculus L.) disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Mencit (Mus musculus L) (Tetebano, 2011)

2. Morfologi dan fisiologi mencit

Mencit (Mus musculus L.) merupakan hewan pengerat yang memiliki rambut berwarna keabu-abuan atau putih, mata berwarna merah atau

(28)

hitam, kulit berpigmen dan perut sedikit pucat. Mencit dewasa pada umur 35 hari dan memiliki waktu kehamilan 19-21 hari. Mencit dapat

melahirkan 6-15 ekor. Mencit jantan dan betina siap melakukan kopulasi pada umur 8 minggu. Siklus estrus atau masa birahi 4-5 hari dengan lama estrus 12-14 jam. Fase estrus dimulai antara pukul 16.00-22.00 WIB. Proses persetubuhan mencit jantan dan betina untuk tujuan fertilisasi atau disebut dengan kopulasi terjadi pada saat estrus, dengan fertilisasi 2 jam setelah kopulasi. Ciri-ciri terjadinya kopulasi adalah ditemukannya sumbat vagina, yaitu cairan mani jantan yang menggumpal

(Mangkoewidjojo dan Smith, 1988).

Mencit merupakan hewan percobaan yang efisien karena mudah dipelihara, tidak memerlukan tempat yang luas, waktu kehamilan yang singkat, dan banyak memiliki anak perkelahiran. Mencit dan tikus putih memiliki banyak data toksikologi, sehingga mempermudah

membandingkan toksisitas zat-zat kimia (Lu, 1995).

3. Perkembangan Fetus Mencit

Menurut Roberts (1971) dan Lu (1995) masa kehamilan mencit terdiri dari 3 tahap, yaitu :

a. Tahap blastula

Tahap ini dimulai setelah ovulasi dan dilanjutkan dengan

(29)

tidak rentan terhadap senyawa teratogen, tetapi senyawa teratogen akan menyebabkan kematian fetus akibat matinya sebagian sel fetus.

b. Tahap organogenesis

Tahap organogenesis merupakan tahap pembentukan organ-organ dan sistem tubuh serta perubahan bentuk tubuh yang terjadi pada hari ke 6 sampai ke 16 kehamilan. Pada periode ini sel secara intensif

mengalami diferensiasi, mobilisasi, dan organisasi sehingga fetus sangat rentan terhadap senyawa teratogen.

c. Tahap pertumbuhan fetus

Tahap ini merupakan tahap terjadinya perkembangan dan pematangan fungsi jaringan, organ dan sistem yang tumbuh. Sehingga selama tahap ini, senyawa teratogen tidak akan menyebabkan cacat morfologi, tetapi dapat mengakibatkan kelainan fungsi seperti gangguan Sistem Syaraf Pusat (SSP) yang mungkin tidak dapat dideteksi segera setelah kelahiran.

Morfologi fetus normal mencit disajikan pada Gambar 3.

(30)

Menurut Hafez (1970) dan Schenker & Forkheim (1998), perkembangan fetus pada Rodentia dapat ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Tahap Perkembangan Fetus Pada Rodentia Waktu

(Hari)

Tingkatan yang terjadi 1 Stadium pembelahan sel di dalam oviduk 2 Terbentuk morula 16 sel

3 Fetus masuk ke dalam uterus dan membentuk blastula 4-6 Blastomer terimplantasi dan terjadi gastrulasi

6-11 Organogenesis

12-16 Pembentukan somit belakang, mata, dan osifikasi awal dari skeleton

16-20 Perkembangan fetus 20-21 Kelahiran

C. Toksikologi

Ilmu yang mempelajari tentang racun dan pengaruhnya terhadap makhluk hidup disebut toksikologi. Toksikologi menitikberatkan pada pengaruh agensia toksik baik berupa efek senyawa kimiawi, bunyi, cahaya, gelombang elektromagnetik, dan mikroorganisme terhadap perkembangan terutama perkembangan embrio (Hutahean, 2002).

Zat kimia dapat dikatakan beracun (toksik) apabila zat tersebut berpotensi memberikan efek berbahaya terhadap organisme. Sifat toksik dari suatu zat ditentukan oleh konsentrasi atau dosis, sifat zat, kondisi bioorganisme, paparan terhadap organisme, dan efek yang ditimbulkan. Apabila

menggunakan istilah toksik atau toksisitas, maka perlu dilakukan identifikasi dimana timbulnya efek berbahaya tersebut (Wirasuta dan Suadarmana, 2007). Menurut Loomis (1978), uji toksisitas dibagi menjadi uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronis, dan uji toksisitas kronis. Saat ini sudah banyak

(31)

berkembang bahan-bahan berbahaya yang harus diketahui keamanannya. Terdapat 6 jenis uji toksisitas spesifik yaitu:

1. Uji Potensi

Uji potensi merupakan uji toksisitas yang menentukan efek suatu zat dengan adanya zat-zat tambahan yang mungkin secara bersamaan dijumpai.

2. Uji Teratogenik

Uji teratogenik merupakan uji toksisitas untuk menentukan efek suatu zat terhadap fetus hewan uji.

3. Uji Reproduksi

Uji reproduksi merupakan uji toksisitas untuk menentukan efek atas kemampuan reproduktif hewan eksperimental.

4. Uji Mutagenik

Uji mutagenik merupakan uji toksisitas untuk menentukan efek pada sistem kode genetika.

5. Uji Kemampuan Tumorigenisitas dan Karsinogenisitas

Uji kemampuan tumorigenisitas dan karsinogenisitas merupakan uji toksisitas untuk menentukan kemampuan zat sehingga menimbulkan tumor.

6. Uji Perilaku

Uji perilaku merupakan uji toksisitas untuk menentukan efek zat terhadap berbagai macam perilaku hewan uji.

(32)

D. Teratogenik

Teratogenesis merupakan pembentukan cacat bawaan. Kelainan ini

merupakan penyebab utama mortalitas pada fetus yang lahir. Faktor-faktor yang menyebabkan teratogenesis adalah senyawa kimia, kekurangan gizi, infeksi virus, ketidakseimbangan hormonal, dan berbagai kondisi stress.

Menurut Lu (1995) mekanisme kerja zat kimia yang bersifat teratogen di dalam tubuh hewan coba adalah:

a. Gangguan terhadap asam nukleat

Terdapat banyak zat kimia yang dapat mempengaruhi replikasi dan transkripsi asam nukleat atau translasi RNA. Contohnya: zat pengakil, antimetabolit, dan intercalating agent.

b. Kekurangan pasokan energi dan osmolaritas

Senyawa teratogen tertentu dapat mempengaruhi pasokan energi yang digunakan untuk metabolisme dengan cara mengurangi persediaan substrat secara langsung atau bertindak sebagai analog vitamin, asam amino

esensial, dan sebagainya. Ketidakseimbangan osmolaritas dapat disebabkan oleh hipoksia dan zat penyebab hipoksia (CO, CO2) yang

bersifat teratogen. Hal ini dapat menyebabkan kelainan bentuk dan iskemia jaringan.

c. Penghambat enzim

Penghambat enzim seperti 5-flourourasil dapat menyebabkan cacat karena mengganggu diferensiasi dan pertumbuhan sel.

(33)

E. Berat Badan dan Panjang Fetus

Pertumbuhan dan perkembangan fetus pada hewan khususnya mencit diawali dengan meningkatnya jumlah sel yang diikuti dengan differensiasi dan perkembangan berbagai sistem organ. Perkembangan fetus juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor yaitu potensi genetika dan status nutrisi dari kedua induk. Sumber nutrisi fetus berasal dari induk yang berpindah melalui plasenta (Muna, Astirin, dan Sugiyarto, 2011).

Berat dan panjang fetus merupakan salah satu parameter yang penting untuk diamati dalam penelitian teratogenik. Wilson (1973) menyatakan bahwa penurunan berat dan panjang badan fetus merupakan efek dari pemberian senyawa yang bersifat teratogenik.

Senyawa teratogen dengan dosis rendah mampu menyebabkan kematian beberapa sel dan dapat pula menyebabkan pergantian beberapa sel. Apabila satu atau sekelompok sel rusak oleh gangguan senyawa toksik, maka sel-sel normal di sekitarnya akan membelah dan menggantikan peran sel-sel yang rusak tersebut. Pergantian sel-sel yang rusak akan dipertahankan selama masa organogenesis agar terbentuk morfologi fetus yang normal. Namun apabila sel-sel rusak tersebut tidak mampu diperbaiki maka akan

menyebabkan malformasi/kelainan sehingga terbentuk fetus dengan morfologi normal, tetapi berukuran kecil (Ritter, 1977; Muna, dkk., 2011).

(34)

F. Tulang Belakang Fetus

Pada saat fetus, tulang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang disebut dengan istilah osifikasi. Awal dari proses osifikasi ini adalah terjadinya perubahan jaringan mesenkim pada fetus menjadi jaringan tulang atau menjadi jaringan kartilago yang selanjutnya akan menjadi jaringan tulang (Junqueira, Carneiro, dan Kelley, 1998). Menurut Rugh (1968), osifikasi pada mencit dimulai pada hari ke 11 sampai 17 kehamilan.

Struktur anatomi rangka fetus mencit disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Anatomi Rangka Mencit (Mus musculus L.) (Amsel, 2012)

Pada fetus normal (kontrol) terdapat 7 tulang servik, 13 tulang thorak, 6 tulang lumbalis, 6 tulang sakral, dan 2 atau 3 tulang kaudal (Sukandar, Fidrianny, Garmana, 2008).

Menurut Setyawati (2011), pemberian senyawa teratogen pada masa

organogenesis dapat menyebabkan penghambatan pada pertumbuhan tulang. Adanya senyawa teratogen yang masuk melalui plasenta akan menghambat

(35)

transfer nutrisi dari induk ke fetus dan menghambat metabolisme nutrisi yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan organ fetus termasuk mineral untuk proses kalsifikasi (pembentukan tulang). Kelainan pada tulang

belakang fetus dapat dilihat dari jumlah tulang dan terdapat pemanjangan atau pemendekan dari tulang belakang tersebut.

(36)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2015-Januari 2016 bertempat di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan dan perlakuan hewan uji. Untuk pembuatan ekstrak rimpang rumput teki dilakukan di Laboratorim Kimia Organik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang mencit beserta penutup yang terbuat dari kawat sebanyak 20 unit,wadah pakan mencit, botol minum mencit, sonde lambung yang dihubungkan dengan alat suntik digunakan untuk pemberian ekstrak secara oral, mikropipet untuk mengukur ekstrak rimpang teki, tabung reaksi, rak tabung reaksi, erlenmeyer sebagai tempat larutan Alizarin Red, gelas ukur, seperangkat alat bedah, kertas label, kamera tipe SM-J500G, botol film sebagai tempat pewarnaan fetus, jangka sorong untuk mengukur panjang fetus, dan timbangan digital untuk menimbang berat fetus.

(37)

2. Bahan

Bahan yang digunakan adalah 20 ekor mencit betina dan 20 ekor mencit jantan berumur 3-4 bulan dengan berat sekitar 40 gram, sekam padi sebagai alas kandang mencit, pelet sebagai pakan mencit, air minum mencit, ekstrak rimpang teki, aquabides, kloroform, kapas, alkohol 90%, larutan KOH 1%, larutan Alizarin Red, dan alkohol 70%.

C. Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Kandang dan Hewan Uji

Kandang mencit beserta penutupnya sebanyak 20 unit dibersihkan dengan alkohol dan diberi alas berupa sekam padi. 20 ekor mencit jantan dan 20 ekor mencit betina disiapkan dalam kondisi yang fertil, berumur 10 minggu, dan berat sekitar 40 gram. Mencit kemudian diaklimatisasi selama 1 minggu dengan diberi pakan berupa pelet dan air minum setiap harinya. Aklimatisasi ini bertujuan agar mencit melakukan penyesuaian kondisi dengan lingkungan sekitar.

Penentuan besarnya sampel ditentukan berdasarkan rumus Frederer (1977), yaitu t(n-1) ≥15. Sehingga setiap perlakuan terdiri dari 5 ekor mencit betina yang hamil, yaitu 5 ekor mencit betina hamil tanpa perlakuan (kontrol), 5 ekor mencit betina hamil dengan perlakuan 45 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides, 5 ekor mencit betina hamil dengan perlakuan 90 mg/40 gram BB dalam 0,4ml aquabides, dan 5 ekor

(38)

mencit betina hamil dengan perlakuan 135 mg/40 gram BB dalam 0,4ml aquabides.

2. Persiapan dan Pembuatan Ekstrak Rimpang Teki

Pada penelitian ini untuk mendapatkan ekstrak rimpang teki digunakan metode evaporasi. Rimpang teki dibersihkan, dicuci, dan dijemur hingga kering. Setelah kering, rimpang teki kemudian digiling hingga menjadi serbuk. Kemudian dilakukan maserasi dengan cara merendam 500 gram serbuk rimpang teki dalam 2 liter larutan etanol selama 24 jam. Kemudian disaring menggunakan kertas saring. Cairan hasil saringan tersebut kemudian dipekatkan dengan cara evaporasi menggunakan alat rotary

evaporator selama 4 jam dengan suhu 50oC dan tekanan 120 atm. Setelah itu didapatkan ekstrak rimpang teki sebanyak ± 200ml.

3. Proses Kopulasi Mencit

Satu ekor mencit betina disatukan secara alami dengan satu ekor mencit jantan ke dalam satu kandang dan diberi pakan berupa pelet dan air minum. Proses persetubuhan mencit jantan dan betina untuk tujuan fertilisasi atau disebut dengan kopulasi mencit ini terjadi pada sore

menjelang petang. Hal ini disebabkan proses kopulasi mencit terjadi pada fase estrus, dimana fase estrus dimulai antara pukul 16.00-22.00 WIB (Mangkoewidjojo dan Smith, 1988).

(39)

4. Pembuktian Kopulasi Mencit

Pada keesokan pagi setelah mencit betina dan jantan disatukan, dilakukan pengamatan di daerah vagina pada mencit betina. Sumbat vagina

(copulatory plug atau vagina plug) yaitu sumbat kekuningan pada vagina yang merupakan campuran sekret betina dengan ejakulat jantan yang mengeras. Apabila ditemukan sumbat vagina, maka mencit dinyatakan telah melakukan kopulasi dan dihitung sebagai kehamilan hari ke-0 (Silvia, 2011). Selain dilihat dari adanya sumbat vagina, kehamilan mencit juga dapat diketahui dengan cara mengangkat ekstrimitas depan mencit dan dilihat apakah kelenjar mammae turun, apabila turun maka mencit dinyatakan hamil. Selama kehamilan, kelenjar mammae

mengalami perkembangan dan perubahan morfologi untuk mempersiapkan laktasi saat melahirkan (Leeson, 1986). Mencit betina yang dinyatakan terbukti kopulasi, dipelihara dalam kandang tersendiri

5. Pemberian Perlakuan

Pemberian ekstrak rimpang teki dilakukan dengan cara dicekok (secara oral) menggunakan alat sonde lambung mulai dari kehamilan hari ke 6 sampai ke 17 (Silvia, 2011).

Pada penelitian ini pemberian ekstrak rimpang rumput teki diberikan secara oral, sehingga persen pemberian aquabides menurut Yorijuly (2012) yaitu 1 %. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit dengan berat sekitar 40 gram, sehingga rumus perhitungan volume penggunaan aquabides yaitu:

(40)

Volume Pemberian= Berat x Persen Pemberian = 40 gram x 1%

= 40 gram x (1 ml/100 gram) = 0,4 ml

Menurut Sa’roni dan Wahyoedi (2002) pada tikus putih (Rattus sp.) yang beratnya 2,5 x berat mencit yaitu 100 gram, diberi perlakuan secara oral sekali sehari selama 12 hari, adapun dosis ekstrak rimpang teki yang diberikan adalah:

a. Kontrol dengan perlakuan 1 ml/100 gram BB aquabides (A)

b. Dosis 11,25 mg/100 gram BB dalam 1 ml/100 gram aquabides (B)

c. Dosis 112,5 mg/100 gram BB dalam 1 ml/100 gram aquabides (C)

d. Dosis 337,5 mg/100 gram BB dalam 1 ml/100 gram aquabides (D)

Dosis ekstrak rimpang rumput teki yang dipakai pada penelitian ini dihitung berdasarkan pemakaian ekstrak rimpang rumput teki pada penelitian sebelumnya yang menggunakan hewan percobaan yaitu tikus putih. Dosis yang digunakan untuk tikus 11,25 mg/100 gBB dalam 1ml/100 gBB, artinya dosis yang diberikan setiap pergram berat badan tikus yaitu sebagai berikut :

= 11,25 mg 100 g = 0,1125/mg

Maka, konversi dosis dari tikus ke mencit dengan berat badan 40 gram yaitu :

= 0,1125 mg x 40 g = 4,5 mg

(41)

Setelah dikonversikan terhadap mencit, maka pada kehamilan hari ke 6 sampai ke 17 mencit yang hamil diberi perlakuan sebagai berikut:

1. Kontrol, diperlakukan dengan diberi 0,4 ml aquabides (A)

2. Dosis 45 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides (B)

3. Dosis 90 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides (C)

4. Dosis 135 mg/40 gram BB dalam 0,4 ml aquabides (B)

6. Pengamatan

Pembedahan terhadap mencit betina dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat bedah setelah kehamilan hari ke 18. Seluruh mencit baik dari kelompok kontrol maupun perlakuan dibius menggunakan kloroform. Mencit dibedah dan fetus dikeluarkan dari uterus, kemudian dibersihkan dengan air mengalir dan dilakukan penimbangan berat badan dan

pengukuran panjang fetus. Selanjutnya dikeluarkan organ dalam fetus dan dilakukan preparasi tulang belakang fetus dengan pewarna Alizarin Red. Pembuatan larutan Alizarin Red dengan cara menambahkan 6 mg bubuk Alizarin Red ke dalam 1 liter larutan KOH 1% (Manson, Zenick, and Costlow, 1982).

Alizarin Red merupakan pewarna yang banyak digunakan untuk mewarnai tulang pada fetus hewan uji. Ruas tulang yang terwarnai merupakan tulang rawan yang telah mengalami penulangan sehingga akan berwarna merah tua karena zat warna terikat oleh kalsium pada matriks tulang. Larutan KOH 1% yang digunakan berfungsi agar otot pada fetus menjadi transparan dan tulang belakang fetus dapat terlihat dengan jelas

(42)

(Setyawati, 2011). Pengamatan struktur tulang belakang fetus dilakukan secara deskriptif untuk melihat ada atau tidaknya kelainan dibandingkan dengan fetus normal (kontrol).

7. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali. Dalam penelitian ini terdapat 20 ekor mencit yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 1 kelompok sebagai kontrol dan 3 kelompok sebagai perlakuan.

Berikut merupakan susunan rancangan percobaan:

AU1 BU1 CU1 DU1

DU2 AU2 BU2 CU2

AU3 CU5 DU3 BU3

BU4 DU4 CU3 AU4

CU4 BU5 AU5 DU5

Keterangan :

P = Perlakuan yang digunakan (B; C; D) K = Kontrol (A)

U = Ulangan (U1,U2,U3,U4,U5).

8. Analisis data

Data hasil penelitian berupa anatomi tulang belakang fetus dianalisis secara deskriptif. Panjang dan berat fetus dianalisis menggunakan

(43)

Analisis Ragam (ANARA) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan efek yang ditimbulkan antar perlakuan. Apabila terdapat perbedaan yang nyata, maka akan dilakukan uji lanjut dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%.

9. Diagram Alir Penelitian

Hasil Analisis data

Pengamatan berat dan panjang fetus serta kelainan pada struktur tulang belakang

Pemberian perlakuan berupa ekstrak rimpang teki Pembuktian kopulasi mencit

Proses kopulasi mencit

Persiapan dan pembuatan ekstrak rimpang teki Persiapan kandang dan hewan uji berupa mencit

(44)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ekstrak rimpang teki pada mencit hamil:

1. Pada dosis 90mg/40 gram BB dan dosis 135mg/40 gram BB

memberikan pengaruh menurunkan berat badan fetus secara signifikan. 2. Pada dosis 90mg/40 gram BB dan dosis 135mg/40 gram BB

memberikan pengaruh menambah panjang fetus mencit secara signifikan.

3. Tidak menyebabkan kelainan pada struktur tulang belakang fetus mencit.

B. Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai:

1. Zat atau kandungan spesifik dalam ekstrak rimpang teki yang dapat menyebabkan efek teratogen terhadap fetus mencit.

2. Efek teratogenik ekstrak rimpang teki terhadap fetus mencit dengan pengamatan mengenai kelainan pada seluruh tulang dan organ dalam untuk memaksimalkan kemungkinan kecacatan yang terjadi pada fetus mencit.

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Almahdy. 1999. Efek Teratogenik Fraksi Sisa Ekstrak Daun Emilia sonchifolia

(L) DC in ovo. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta.

Amsel, S. 2012. Movie Worksheets, What Owls Eat -The Bones of A Mouse. (Internet). http://visual. Merriam-webster.com/images/animal

kingdom/rodents-lagomorphs/ rodent/skeleton-rat.jpg. Diakses pada 05 November 2015.

Anonim. 2007. Kebijakan Obat Tradisional Nasional (Kotranas). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 381/Menkes/SK/III/2007. Barnes, J., Anderson, L.A., and Philipson, J.D. 1996. Herbal Medicine, 2nd

edition. London. Pharmacetical Press. p 313

Dalimartha, S. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 6. Pustaka Bunda. Jakarta. p 157

Dewoto, H.R. 2007. Farmakologi dan Terapi: Vitamin dan Mineral Edisi 5. Balai Penerbit FK UI. Jakarta.

Federer, W.T. 1977. Experimental Design Theory And Application, Third Edition. Oxford and IBH Publishing Co. New Delhi Bombay Calcuta.

Guyton, A.C. 1990. Fisiologi Kedokteran. Terjemahan Dharrna, A., dan P., Lukmanto. EGC. Jakarta.

Hafez, E.S.E. 1970. Reproduction and Breeding Techniques for Laboratory

Animals. Lea & Febinger. Philadelphia.

Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis

Tumbuhan. Terjemahan Padmawinata, K. & I., Soediro. Penerbit ITB.

Bandung.

Herbold, B. 1985. Micronucleus Test on The Mouse to Evaluate for Mutagenic

Effect. Institute of Toxicology. Germany.

Heupel. 2008. Root Cause Analysis Handbook: A Guide to Efficient and Effective

(46)

Hutahean, S. 2002. Prinsip-Prinsip Uji Toksikologi Perkembangan. FMIPA Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.

Junqueira, L.C., Carneiro, J., dan Kelley, R.O. 1998. Histologi Dasar.

Tembayong, J. (Penerjemah). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Lawal, O.A. dan Adebola, O.O. 2009. Chemical Composition of The Essential

Oils of Cyperus rotundus L. From South Africa. Journal Molecules. 14 (150). pp 2909-2917.

Leeson, C.R. 1986. Textbook of Histology. Terjemahan Siswojo, K. EGC. Jakarta. Loomis, T.A. 1978. Toksikologi Dasar Edisi ke-2. Terjemahan Imono, A. IKIP

Semarang Press. Semarang.

Lu, F.C. 1995. Toksikologi Dasar, Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Resiko

Edisi II. Penerbit UI. Jakarta. p 155-157.

Mangkoewidjojo dan Smith. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan

Hewan Percobaan di Daerah Tropis. UI Press. Jakarta. p 276.

Manson, J.M., Zenick, H., and Costlow, R.D. 1982. Teratology Test Method for

Laboratory Animals. Ravent Press. New York.

Muna, L., Astirin, O.P., dan Sugiyarto. 2011. Uji Teratogenik Ekstrak Pandanus

conoideus Varietas Buah Kuning Terhadap Perkembangan Embrio Tikus

Putih (Rattus norvegicus). Nusantara Bioscience. 2. pp 126-134.

Oladunni, O.M., Abass, O.O., dan Adisa, A.I. 2011. Studies on Physicochemical Properties of The Oil, Minerals and Nutritional Composition of Nut Grass (Cyperus rotundus). American Journal of Food Technology.6 (12).

p 74-174

Pasaribu, L. 2008. Malformasi Bagian-Bagian Tubuh Embrio Mencit (Mus

musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus L.). (Skripsi). Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung.

Lampung.

Ritter, E.J. 1977. Altered Biosynthesis In: Wilson J.G., Fraster F.C. (eds).

Handbook of Teratology. Plenum Press. New York.

Robbinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung. ITB. Roberts. 1971. Veterinary Obstetricts and Genital Diseases (Theriogenology).

New York. Ithaca.

Rugh, R. 1968. The Mouse : Its Reproduction and Development. New York. Burger Publishing Company. p 20

(47)

Sa‘roni dan Wahjoedi. 2002. Pengaruh Infuse Rimpang Cyperus rotundus L. Terhadap Siklus Estrus dan Bobot Uterus Pada Tikus Putih. Jurnal Bahan

Alam Indonesia. Jakarta. 1 (2).

Sagi, M. 1997. Embriologi Perbandingan Pada Vertebrata. Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Schenker, E.B. and Forkheim, K.E. 1998. Early Development of Mice Embryo In Microgravity Environment On Sts-80 Space Flight.

http://www.asgsb.org/embryo/htm. Diakses pada: 07 November 2015. Setiyohadi, B. 2009. Peran Kalsium dan Vitamin D Pada Metabolisme Tulang.

Subbagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. Jakarta.

Setyawati, I. 2009. Morfologi Fetus Mencit (Mus musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Jurnal Biologi. 13 (2). pp 41-44.

Setyawati, I. 2011. Penampilan Reproduksi dan Perkembangan Skeleton Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Buah Nanas Muda. Jurnal Veteriner. 12 (3). pp 192-199.

Siburian, J. dan Marlinza, R. 2009. Efek Pemberian Ekstrak Akar Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack) Pada Tahap Prakopulasi Terhadap Fertilitas Mencit (Mus Musculus L.) Betina. Biospesies. 2 (2). pp 24-30.

Silvia, G.A. 2011. Pengaruh Pemberian Suspensi Sari Akar Manis Terhadap Perkembangan Janin Pada Mencit Bunting. (Skripsi). FMIPA Universitas Indonesia. Jakarta. p 14-15.

Subhuti, D. 2005. Cyperus Primary Oil Regulating Herb of Chinese Medicine. Institute For Traditional Medicine. Oregon Portland. p 2.

Sugati, S., Syamsuhidayat, dan Johnny. 1991. Inventaris Tanaman Obat

Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. p 108.

Sukandar, E.Y., Fidrianny, I., dan Garmana, A.N. 2008. Pengaruh Kombinasi Ekstrak Umbi Lapis Bawang Putih Dan Ekstrak Rimpang Kunyit Tehadap Janin Mencit Swiss-Webster. JKM. 8(1). pp 36-44.

Suryawati, S. 1990. Pemakaian Obat Pada Kehamilan. Laboratorium Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Tetebano, R. 2011. Rancangan Percobaan Racun Sianida Pada Mencit.

http://raslytetebano.files.wordpress.com/2011/01/mencit3.jpg. Diakses pada 5 November 2015.

(48)

Widyastuti, N., Widiyani, T., dan Listyawati, S. 2006. Efek Teratogenik Ekstrak Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur Winstar. Bioteknologi. 3 (2). pp 56-62. Wilson, J.G. 1973. Environment and Birth Defects. Academic Press. New York.

pp.6-8.

Wilson, J.G. and Warkany, J. 1965. Teratology - Principles and Techniques. University of Chicago Press. Chicago and London. p 16-18.

Winarno, W.M. dan Sundari, M. 1997. Informasi Tanaman Obat Untuk

Kontrasepsi Tradisional. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Farmasi.

Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Wirasuta, I.M.A.G. dan Suadarmana, K. 2007. Analisis Toksikologi Klinik: Tantangan Baru Bagi Farmasi Indonesia. Acta Parmaceutica Indonesia. 32 (2). pp 59-62.

Yorijuly. 2012. Perhitungan Dosis Untuk Hewan Percobaan. http:/yorijuly14. Wordpress.com/2012/06/02/perhitungan-dosis-untuk-hewan-percobaan. Diakses pada 11 November 2015.

Gambar

Gambar 2. Mencit (Mus musculus L) (Tetebano, 2011)
Gambar 3. Morfologi Fetus Normal Mencit (Heupel, 2008)
Tabel 1. Tahap Perkembangan Fetus Pada Rodentia  Waktu
Gambar 4. Anatomi Rangka Mencit (Mus musculus L.) (Amsel, 2012)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data pada Tabel 2 diketahui r 2 = 0,483, jadi nilai koefisien determinasinya adalah 0,483 x 100% = 48,3% berarti variabel Perhatian Orang Tua dan Kedisiplinan

Berdasarkan hasil penelitian data rekapitulasi kelompok antara kelompok kontrol dan eksperimen membuktikan bahwa kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan

Peran Kepolisian dalam hasil penelitian ini menggunakan teori peran yang ideal dan peran yang seharusnya dimana peranan tersebut harus berpatokan pada undang-undang tertulis

Wakil talqin dalam menghadapi mean dakwah yang ditempati oleh masyarakat awam tentang agama, maka sesuai dengan amanah dari guru mursyid ialah dakwah dengan pendekatan

[r]

Salah satu cara untuk mengetahui keberadaan daging anjing dalam bakso adalah dengan mengidentifikasi kandungan lemaknya menggunakan FTIR yang dikombinasi dengan PCA

Dari hasil pengujian pengaruh maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh keteladanan guru terhadap sikap belajar peserta didik di SMA Negeri 8 Bandar Lampung

Kedudukan hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional melalui perjuangan yang cukup panjang dan baru mendapat titik terang setelah Pidato Menteri Kehakiman RI,