Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 31 MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI POKOK
OPERASI BENTUK ALJABAR SISWA KELAS VII1 SMP NEGERI I LAWA
KABUPATEN MUNA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK
Fartia Rami 1), La Ndia2)
1)
Alumni Progr am Studi Pendddikan Mate matika, 2)Dosen Progr am Studi Pendi dikan Mate matika Jurusan PMIPA FKIP UHO . E-mail: alndifiat@g mail.com
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan operasi bentuk aljabar melalui pembelajaran kooperatif tipe talking stick. (2) Untuk memperbaiki proses belajar mengajar matematika siswa pada materi pokok operasi bentuk aljabar. Berdasarkan hasil analisis data, pada siklus I jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar secara individu sebanyak 13 orang dari 30 siswa dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal hanya 43,33% dan pada siklus II jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar secara individu meningkat dari 13 siswa menjadi 25 siswa dengan ketuntasan belajar secara klasikal yang dicapai meningkat menjadi 83,33%. Hal ini telah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan yaitu minimal 85% siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara individu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika pada materi pokok Operasi Bentuk Aljabar siswa kelas VII.1 SMP
Negeri I Lawa Kab. Muna dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe
Talking Stick
Kata Kunci: pembelajaran kooperatif; talking stick
Pendahuluan
Usaha untuk mencerdaskan kehi-dupan bangsa tidak terlepas dari upaya peningkatan dan pengembangan bidang pendidikan. Dalam hal ini, peningkatan mutu pendidikan di setiap jenis dan jenjang pendidikan akan terlihat pada hasil belajar yang di capai siswa dalam proses belajar mengajar, berhasil tidaknya proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh
keber-hasilan guru di dalam mengajar, di samping siswa yang belajar serta faktor-faktor lain.
Rendahnya hasil belajar adalah permasalahan yang di hadapi setiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi, kondisi demikian juga terjadi di SMP Negeri 1 Lawa. Di mana berdasarkan hasil observasi awal terungkap bahwa hasil belajar matematika Siswa Kelas VII.1 SMP Negeri 1
Lawa masih berada di bawah standar ketuntasan yang di tetapkan oleh sekolah.
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
32 www.pendmate matikauho.hol.es Misalkan pada akhir semester genap tahun pelajaran 2011/ 2012 nilai rata- rata ulangan semester yang di peroleh siswa bidang studi matematika hanya mencapai 65. Hal ini sangat memprihatinkan karena dari rata- rata hasil yang di capai siswa tergolong rendah bila dibandingkan dengan KKM sebesar 75 yang di tentukan oleh pihak sekolah. Berdasarkan pengamatan tersebut metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar hanya terbatas pada ceramah dan tanya jawab, sehingga siswa jarang di libatkan atau kurang aktif dalam proses pembelajaran serta siswa kurang terlatih bekerjasama dengan teman dalam kelompok dalam menyelesaikan masalah pelajaran mate-matika.
Pembelajaran matematika merupa-kan salah satu mata pelajaran yang di ajarkan di kelas VII SMP. Sebagian besar siswa kesulitan dalam mempelajari materi yang terdapat di dalam pelajaran matematika, hal ini di sebabkan karena guru mengajar cenderung mengajarkan model pembelajaran konvesional. Pada model pembelajaran ini siswa kurang berminat dalam mengikuti proses pembelajaran, interaksi siswa dalam proses belajar mengajar sangat kurang, siswa cenderung pasif, karena pembelajaran terpusat pada guru sehingga motivasi belajar siswa menjadi berkurang. Kondisi ini meng-akibatkan daya serap siswa dalam memahami materi menjadi rendah. Hal ini berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran matematika , terungkap bahwa hasil belajar matematika kelas VII SMP Negeri 1 Lawa pada semester genap 2011/2012 hanya dapat mencapai nilai rata- rata sebesar 65. Selain itu dari 30 orang siswa, yang termasuk kategori tuntas (minimal 75) adalah sebanyak 20 orang (66,66%) sedangkan yang lainnya yaitu sebanyak 10 orang (33,33%) adalah
termasuk kategori belum tuntas jika dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) bagi kelas VII yang ditetapkan oleh sekolah yakni 75.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick yang di maksudkan untuk lebih meningkatkan kreaktifitas hasil belajar siswa pada konsep pengetahuan matematika. Atas dasar inilah, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pokok Operasi Bentuk Aljabar Siswa Pada Kelas VII.1 SMP
Negeri I Lawa Kab. Muna Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick “.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Apakah proses pembelajaran matematika pada materi pokok Operasi Bentuk Aljabar siswa pada kelas VII.1 SMP Negeri I Lawa dapat diperbaiki
melalui model pembelajaran kooperatif tipe
Talking Stick ?, (2) Apakah hasil belajar
matematika pada materi pokok Operasi Bentuk Aljabar siswa pada kelas VII.1 SMP
Negeri I Lawa dapat di tingkatkan melalui model pembela jaran kooperatif tipe Talking
Stick ?
Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pokok operasi bentuk aljabar siswa pada kelas VII.1 SMP
Negeri I Lawa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick. (2) Untuk memperbaiki proses belajar mengajar matematika pada materi pokok operasi bentuk aljabar siswa pada kelas VII.1 SMP
Negeri I Lawa melelui model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick.
W.H. Burton dalam Usman (2000: 24) mengartikan belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 33 adanya interaksi antara individu dan
individu dengan lingkungannya. Seseorang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuannya, keteram-pilannya maupun dalam sikapnya.
Belajar adalah sebagai perubahan secara relatif berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh kemudian dari pengalaman- pengalaman Dafidift dalam Baharudin (2008: 78) Pandangan yang sama di kemukakan oleh (Muhibbin,2003: 34) bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku untuk setiap organisme sebagai hasil pengalaman. Hal ini berarti bahwa seorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat interaksinya dengan lingkungannya, tidak karena proses pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau hubungan obat-obatan kecuali perubahan tersebut haruslah bersifat permanen, tahan lama dan meresap, tidak berlangsung sesaat saja.
Kata Teach atau pembelajaran berasal dari bahasa Inggris Kuno yaitu
terecan, yang berarti memperlihatkan, istilah
mengajar sudah di kenal sejak lama, bahkan sejak di sadari pentingnya pendidikan dan persekolahan. Mengajar adalah suatu kegiatan di mana pengajar menyampaikan pengetahuan, pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik dengan tujuan agar pengetahuan yang di sampaikan dapat di pahami peserta didik (Surya, 1996: 6). Selanjutnya Sanjaya, (2006: 94) mengatakan bahwa mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa.
Nasution dalam Sutikno (2007: 51) mengartikan mengajar adalah usaha guru untuk menciptakan kondisi – kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa
sehingga terjadi interaksi antara siswa dengan lingkungannya, termaksud guru dan alat pelajaran yang di sebut proses belajar, tujuan pelajaran yang telah di tentukan tercapai. Davies dalam Sutikno (2007: 51) dalam pegertian yang lain dapat di jelaskan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas profesional yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi dan menyangkut pengambilan keputusan.
Howard dalam Slameto (2003: 31 ) mendefinisikan mengajar sebagai suatu aktifitas untuk mencoba menolong membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan keahlian (Skill), sikap (Attitudes), cita-cita (Ideals) penghargaan (Apresiations) dan penge-tahuan (Klowledge) maksudnya bahwa guru harus berusaha membawa perubahan tingkah laku yang baik atau kecenderungan langsung untuk mengubah tingkah laku siswanya.
Dimiyanti (2002: 3) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindakan belajar dan tindakan pembelajaran. Dari sisi guru, tindakan pembelajaran di akhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya proses belajar.
Gagne dalam Wijaya (2002: 217-220) mengkategorikan lima jenis hasil belajar yang hendak dicapai: (1) informasi verbal/ pengetahuan verbal, (2) keterangan intelektual, (3) strategi kognitif, (4) sikap, (5) keterampilan motorik. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak pembelajaran. Di sisi guru, tindak pembelajaran diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Hasil belajar untuk sebagian adalah berkat tindak guru suatu pencapaian tujuan pembelajaran. Pada bagian lain, merupakan peningkatan
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
34 www.pendmate matikauho.hol.es kemampuan mental. (Dimiyanti dan Mudjiono, 2006: 3)
Hamalik (2003: 155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri s iswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan menjadi lebih baik dari pembelajaran sebelumnya.
Untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar yang diperoleh siswa. Maka dilakukan suatu pengukuran dengan menggunakan alat evaluasi. Prestasi yang di peroleh siswa dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf, yaitu:
1. Istimewa, apabila suatu bahan pelajaran yang diajarkan itu dikua- sai siswa.
2. Baik sekali, apabila sebagian besar (76% - 99%) bahan pelajaran yang di ajarkan dapat di kuasai siswa. 3. Baik, apabila bahan pelajaran yang
di ajarkan hanya (60% -75%) saja di kuasai siswa.
4. Kurang, apabila bahan pelajaran yang di ajarkan kurang dari sebesar 60%. (Djamara dan zain, 2002: 121 -122).
Gredler dalam Aunurrarahman (2009:38) belajar seringkali diartikan sebagai aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini bahwa seorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat interaksinya dengan lingkungannya, tidak karena proses petumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan penyakit atau hubungan obat-obatan, kecuali perubahan tersebut haruslah bersifat permanen, tahan lama dan meresap, tidak berlangsung sesaat saja (Sardiman, dkk,1996:3). Dikatakan secara relatif, karena ada kemungkinan suatu hasil belajar ditiadakan atau diganti dengan hasil
belajar yang baru, ada kemungkinan pula suatu hasil yang terlupakan.
Hamilton, dkk (2001: 1) perubahan tingkah laku yang terjadi dan di peroleh siswa setelah mengikuti atau mengalami suatu program pembelajaran merupakan kemampuannya yang berbentuk hasil belajar. Hal ini diperkuat bahwa hasil belajar merupakan kemampuan belajar yang ditunjukkan dalam penampilan yang tetap sebagai akibat dari proses belajar yang terjadi melalui program yang menyediakan fakta-fakta, bukti-bukti, keterangan dan sebagainya. Ranah kognitif terbagi atas 6 aspek yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif terbagi atas 5 aspek yaitu penerimaan, jawaban, reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. Sedangkan psikomotorik terbagi atas 6 aspek yaitu gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, keterampilan perseptual, keharmonisan dan ketepatan, gerak keterampilan kompleks dan gerak ekspresi. Groland (2001: 3) menyatakan bahwa hasil belajar ranah kognitif dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) Pengetahuan dan (2) Kemampuan intelektual serta keterampilan.
Batasan mengenai hasil belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas sesuai dengan hasil belajar matematika yang diharapkan pada jenjang pendidikan menengah umum meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Suyitno (2004: 27) menyatakan bahwa hasil belajar tidak lain adalah hasil akhir dari proses belajar mengajar sebagai perwujudan segala upaya yang telah dilakukan selama proses itu berlangsung. Hasil belajar merupakan ukuran keber-hasilan seseorang dalam memahami materi pelajaran yang diberikan. Ukuran keber-hasilan itu dapat diketahui dari hasil evaluasi yang berbentuk skor unjuk kerja seseorang
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 35 dalam memahami konsep dan bagaimana
menggunakan konsep itu dalam bidang ilmu itu sendiri maupun terhadap bidang ilmu lainnya. Hasil belajar adalah perubahan-perubahan pada perilaku, pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman materi pelajaran yang diberikan, ukuran keberhasilan dilihat dari hasil evaluasi yang bentuk angka/nilai.
Teknis pelaksanaan metode Talk ing
Stick sebagaimana tercantum dalam buku
panduan materi sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan yang di selenggarakan oleh dinas Pendidikan Nasional 2006 dapat di gambarkan sebagai berikut:(1) Guru menyiapkan tongkat dan menyampaikan materi pokok bahasan yang akan di pelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi, (2) Setelah selesai membaca materi pelajaran siswa diperintahkan untuk menutup buku, dan membantu teman kelompoknya agar melakukan transisi secara efisien ke dalam kelompok-kelompok belajar, (3) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa memegang tongkat tersebut menjawabnya , demikian seterusnya hingga seluruh siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru, (4) Guru mengarahkan siswa untuk memberikan kesimpulan pada materi yang telah diberikan, (5) Melakukan evaluasi dimana guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari, (6) Memberikan penghargaan dan menutup pelajaran.
Dalam penerapan model pembelajaran tipe talking stick ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan memper-timbangkan keakraban, persahabatan atau minat, yang dalam sosial selanjutnya
menyiapkan dan mempersentasekan lapo-rannya kepada seluruh kelas. Bentuk aljabar adalah suatu bentuk matematika yang dalam penyajiannya memuat huruf-huruf untuk mewakili bilangan yang belum diketahui (Nuharini, 2008: 80).
Modal utama dalam pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick adalah kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan saling membantu, dengan demikian dalam pembelajaran matematika dengan model pembelajaran setiap siswa dalam kelompok secara aktif saling membantu dalam bekerja untuk menyelesaikan soal- soal dalam hal setiap siswa mempunyai tanggung jawab terhadap siswa lainnya untuk memahami materi dari tujuan yang di berikan. Jadi perkembangan pembelajaran terjadi secara bersamaan untuk setiap siswa sehingga tidak terlalu nampak perbedaan antara siswa yang pandai, sedang dan rendah.
Berdasarkan kajian teori yang di uraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan operasi bentuk aljabar siswa kelas VII SMP Negeri I Lawa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick.
Metode
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 di kelas VII1 SMP Negeri I Lawa. penelitian
ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick sebagai tindakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika kelas VII1 SMP Negeri I Lawa.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sampai tujuan proses
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
36 www.pendmate matikauho.hol.es belajar mengajar tercapai, karena tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Untuk dapat mengetahui perkembangan hasil belajar siswa, maka setiap siklus diberikan tes sebagai bahan acuan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, pelaksanaan setiap siklus terdiri dari tahapan sebagai mana dikemukakan oleh Supardi (2006 : 105 ) perencanaan, imple-mentasi tindakan, pengamatan, analisis refleksi. Kriteria keberhasilan tindakan berdasarkan partisipasi aktif belajar yakni peserta didik memperoleh nilai Kriteria Ketuntasan Minimum ( KKM ).
Implementasi tindakan berisi 3 tahap pelaksanaan, yaitu: (1) kegiatan penda-huluan, (2) kegiatan inti, dan (3) kegiatan penutup/tindak lanjut. Pada kegiatan pendahuluan, peneliti meningkatkan hasil belajar, dan menanyakan materi pelajaran minggu lalu. Pada kegiatan ini peneliti mengembangkan kemampuan mengaitkan materi pelajaran matematika; menjawab pertanyaan sesuai dengan materi yang telah diajarkan setelah itu, peneliti mengem-bangkan kemampuan memadukan/ me-ngaitkan antar mata pelajaran, yaitu ; menjelaskan tentang konsep dan mengerjakan latihan/tugas. Pada kegiatan penutup peneliti menyimpulkan hasil pembelajaran, memberikan tes akhir siklus I; menilai hasil tes akhir siklus I.
Peneliti mempunyai skenario pembelajaran sebagai berikut: (1) Pendahuluan; peneliti memberikan peng-arahan singkat tentang kegiatan belajar; waktu yang digunakan lima menit. (2) Kegiatan inti; siswa duduk berkelompok secara heterogen terdiri atas siswa pandai, siswa sedang, dan siswa yang memiliki kemampuan yang kurang, setiap kelompok
terdiri atas 5 atau 6 orang. Awal pembelajaran peneliti memberikan motivasi kepada peserta didik berupa pertanyaan. Setiap anggota kelompok diberi tugas dan guru menunjuk wakil dari salah satu kelompok dengan cara memberikan tongkat kepada siswa tersebut untuk mem-presentasikan jawaban dari hasil diskusi. Setiap kelompok menarik kesimpulan mengenai materi pelajaran yang telah dibahas, (3) Penutup; peneliti memberikan tugas latihan di akhir kegiatan; diadakan ulangan harian dengan soal berbetuk obyektif berjumlah 10 soal dengan rentang nilai untuk jawaban benar diberi bobot 1 dan untuk jawaban salah 0 yang harus diselesaikan.
Pada pelaksanaan ini peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick , di samping itu peneliti memantau siswa selama kegiatan KBM berlangsung sesuai dengan lembar observasi yang telah di buat sebelumnya. Pelaksanaan tindakan kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick dilaksanakan sampai beberapa siklus, dan akan dilangsungkan jika indikator penelitian telah tercapai melalui evaluasi.
Pada tahap obsevasi ada 2 macam aktifitas yaitu pengamatan aktifitas siswa dan aktifitas guru. Pada waktu aktifitas pembelajaran diamati oleh 1 orang observer. Observer pertama menggunakan format lembar observasi aktifitas guru (sebagai data observer guru). Dengan waktu yang bersamaan, observer melakukan penilaian sikap siswa dan menggunakan lembar penilaian sikap siswa (sebagai data penilaian sikap siswa). Pada waktu bersamaan pula observer ke 2 mengamati aktifitas siswa, dan menggunakan lembar observasi aktifitas siswa (sebagai data obsevasi aktifitas siswa). Peroleh data hasil
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 37 belajar sebagai data keberhasilan diperoleh
dari hasil evaluasi setiap akhir siklus dan penilaian hasil unjuk kerja siswa di peroleh dari pekerjaan LKS yang dilaksanakan oleh siswa (data hasil kerja) peneliti bersama guru melakukan kegiatan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian indikator penelitian.
Pada tahap ini, observer (peneliti) dan guru (mengajar) mengidentifikasi semua permasalahan yang belum di capai kekurangan dan kelemahan dalam pelaksanaan tindakan, dijadikan pijakan tindakan siklus berikutnya. Guru bersama observer melakukan kolaborasi untuk melakukan: (a) Evaluasi tindakan; mutu tindakan, ketersediaan waktu, ketuntasan belajar siswa, (b) Mengidentifikasi semua kekurangan dan pelaksanaan tindakan, (c) Evaluasi seluruh hasil tindakan/ hasil data , (d) Menentukan solusi kekurangan dan merencanakan tindakan siklus berikutnya.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Dimana analisis data dikumpulkan hingga penelitian berakhir secara simultan dan terus menerus. Selanjutnya interpretasi atau penafsiran data dilakukan dengan mengacu kepada rujukan teoritis yang berhubungan atau berkaitan dengan permasalahan penelitian. Analisis data meliputi reduksi data, display/penyajian data, dan mengambil kesimpulan lalu diverifikasi.
Hasil belajar siswa dianalisis untuk menentukan peningkatan ketuntasan siswa. Peningkatan ketuntasan mengikuti ketentuan sekolah bahwa ”siswa dinyatakan tuntas dalam setiap tes jika nilai yang diperoleh lebih besar dari 75” maka dalam penelitian
ini juga menggunakan ketentuan yang ditetapkan sekolah, untuk menentukan persentase ketuntasan siswa dengan menggunakan perhitungan persentase (%) ketuntasan yaitu sebagai berikut.
Persentase ketuntasan =
100
Data hasil observasi dianalisis untuk mengetahui sekaligus menilai aktivitas guru dan siswa saat pelaksanaan pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe
Talking Stick. Hasil data itu dikategorikan
dalam klasifikasi berhasil dan tidak berhasil. Dimana tindakan dikategorikan berhasil jika ≥ 85% pelaksanaannya sesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran. Adapun cara menghitungnya sebagai berikut:
Persentase =
100
(Sugiyono, 2001: 81).
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dapat dilihat dari dua segi : (1) Dari segi proses : tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 85 % pelaksanaannya sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. (2) Dari segi hasil : tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 75 % siswa telah memperoleh nilai minimal 75. Hasil
Hasil analisis deskriptif ketuntasan proses pelaksanaan pembelajaran oleh guru pada setiap pertemuan untuk masing-masing siklus disetiap tindakan siklus ditampilkan pada Tabel 1.
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
38 www.pendmate matikauho.hol.es
Tabel 1
Ketuntasan Proses Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick Pada Setiap Tindakan Siklus.
Tindakan Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III
Siklus I 61,11 % 66,67 % 72,22 %
Siklus II 83,33 % 94,44 % 100 %
Tabel 1 menunjukan bahwa nilai ketuntasan proses pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1 pada pertemuan pertama sebesar 61,11%, pertemuan kedua sebesar 66,67% dan pada pertemuan ketiga sebesar 72,22%. Pada siklus II pertemuan pertama sebesar
83,33%, pertemuan kedua sebesar 94,44% dan pada pertemuan ketiga sebesar 100%.
Hasil analisis deskriptif keaktifan siswa dalam proses pelaksanaan pem-belajaran kooperatif tipe Talking Stick pada setiap pertemuan di setiap tindakan siklus ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2
Aktivitas Siswa dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick Pada Setiap Tindakan Siklus
Tindakan Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III
Siklus I 57,14 % 71,43 % 78,57 %
Siklus II 85,71 % 92,86 % 100 %
Tabel 2 menunjukan bahwa nilai ketuntasan proses pelaksanaan pembelajaran oleh siswa pada siklus 1 pertemuan pertama sebesar 57,14%, pertemuan kedua sebesar 71,43% dan pada pertemuan ketiga sebesar 78,57%. Pada siklus II pertemuan pertama sebesar 85,71%, pertemuan kedua sebesar 92,86% dan pada pertemuan ketiga sebesar 100%.
Deskripsi Jurnal Refleksi Guru pada Setiap Tindakan Siklus
Hasil analisis deskriptif jurnal refleksi guru pada setiap tindakan siklus ditampilkan pada Tabel 3.
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 39 Tabel 3
Jurnal Refleksi Guru Pada Setiap Tindakan Siklus
Tindakan Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III
Siklus I 66,67 % 72,22 % 77,78 %
Siklus II 88,89 % 100 % 100 %
Tabel 3 menunjukan bahwa nilai jurnal refleksi guru pada setiap tindakan, siklus I pertemuan pertama sebesar 66,67%, pertemuan kedua sebesar 72,22% dan pada pertemuan ketiga sebesar 77,78%. Siklus II pertemuan pertama sebesar 88,89%, pertemuan kedua sebesar 100% dan pada pertemuan ketiga 100%.
Penelitian ini diawali dengan kegiatan observasi awal pada hari Senin 16 Januari 2012 dan wawancara serta mengamati langsung di kelas dengan guru bidang studi Matematika SMPN 1 Lawa tepat pada hari Senin 20 Februari 2012, tepat pada semester genap tahun akademik 2011/2012. Pada kegiatan observasi awal ini, peneliti mengobservasi proses pembelajaran matematika di kelas VII.1
dengan materi ajar Operasi Bentuk Aljabar serta aktivitas siswanya di kelas itu. Pada observasi awal terlihat bahwa secara umum pembelajaran tersebut sangat terpusat pada guru sedang siswanya lebih banyak yang diam (kurang aktif). Guru lebih sering mendikte atau menulis di papan tulis dan siswa mencatat, sehingga tidak ada interaksi yang terjadi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru. Guru sesekali bertanya, namun hanya sedikit siswa yang menanggapi.
Sejalan dengan keterangan guru kelas bersangkutan bahwa dalam proses pembelajaran matematika masih mengalami
kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran yang tepat, sehingga meng-akibatkan banyak siswa kurang mampu menerima pengetahuan matematika dengan baik. Masalah ini mengakibatkan rendahnya nilai matematika siswa kelas tersebut yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil ulangan harian (khusus materi ajar Operasi Bentuk Aljabar) pada tahun ajaran 2010/2011 yaitu sebesar 65 dan hanya 3 orang siswa yang memperoleh nilai ≥ 60 dari jumlah siswa keseluruhan sebanyak 30 siswa. Dengan demikian berarti masih ada 88% siswa yang nilainya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah tersebut yaitu 75.
Berdasarkan masalah yang dihadapi guru, guru dan peneliti telah sepakat untuk menggunakan model pembelajaran koope-ratif tipe Talking Stick dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi ajar Operasi Bentuk Aljabar di kelas VII.1 tahun
akademik 2011/2012. Alasan dipilihnya kelas VII.1 sebagai subjek penelitian adalah
karena menurut gurunya di kelas tersebut lebih banyak siswa yang belum mengerti dan memahami materi yang selalu diajarkan terutama operasi bentuk aljabar. Pada tanggal 20 Februari 2012 itu juga peneliti langsung meminta izin kepada Kepala SMP Negeri 1 Lawa untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut pada semester ganjil
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
40 www.pendmate matikauho.hol.es tahun ajar 2011/2012 yang selanjutnya Surat Izin Penelitian dari Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNHALU diserahkan kepada Kepala SMPN 1 Lawa pada tanggal 31 Oktober 2012. Waktu pelaksanaan penelitian ditetapkan mulai tanggal 12 November 2012.
1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 November 2012 dengan materi mengenali bentuk aljabar dan unsur-unsurnya dan melakukan operasi dalam bentuk aljabar. Penyajian kelas terdiri dari 3 tahap yaitu tahap pendahuluan ( 10 menit), tahap kegiatan inti ( 40 menit) dan tahap penutup (30 menit). Guru mengawali pertemuan pertama ini dengan mengucapkan salam sebagai pembuka dan menanyakan kepada siswa akan kesiapan mereka untuk belajar matematika kali ini bukan dengan guru matematika mereka sendiri saja tetapi ada yang memantau mereka pada saat belajar. Siswa menjawab bahwa mereka siap dan terlihat antusias. Selanjutnya guru memeriksa kehadiran siswa dan diperoleh keterangan bahwa semua siswa hadir.
Setelah penyajian kelas pertama ini, guru dan observer mendiskusikan beberapa kekurangan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan lembar observasi untuk siswa. Berdasarkan hasil analis is deskriptif ketuntasan proses pelaksanaan pembelajaran oleh guru pada pertemuan pertama pada tabel 1 dapat dilihat bahwa ketuntasan proses pembelajaran telah mencapai 61,11% yang berarti bahwa hasil pengamatan observer langkah-langkah yang dilakukan oleh guru berdasarkan rencana pelaksanaan yang telah dibuat hanya 11 langkah dari 18 langkah yang telah dilakukan oleh guru, tetapi berbeda halnya dengan hasil refleksi yang dilakukan oleh
guru yang ditampilkan pada tabel 3. Dapat dilihat bahwa ketuntasan mencapai 66,67% yang berarti bahwa hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru sendiri, langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan rencana pelaksanaan yang telah dibuat yaitu 12 langkah dari 18 langkah yang telah dilakukan. Dari hasil analisis antara pengamat dengan guru terjadi perbedaan, yaitu pengamat mengatakan bahwa langkah yang dilakukan oleh guru hanya mencapai 12 langkah yang terselesaikan dan menurut observer 11 langkah yang terselesaikan. Sehingga terjadi perbedaan 1 langkah yakni menurut hasil pengamatan yaitu guru tidak memberikan motifasi kepada siswa sebelum memulai pembelajaran.
2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 14 November 2012 dengan materi melakukan operasi pada bentuk aljabar. Pembelajaran dilaksanakan sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kegiatan awal dimulai dengan guru mengucapkan salam dan menanyakan kepada siswa akan kesiapan mereka untuk belajar matematika dilanjutkan dengan presensi dan diperoleh keterangan bahwa semua siswa hadir.
Setelah penyajian kelas kedua ini, guru dan observer mendiskusikan beberapa kekurangan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan lembar observasi untuk siswa. Berdasarkan hasil analisis deskriptif ketuntasan proses pelaksanaan pembelajaran oleh guru pada pertemuan pertama pada tabel 1 dapat dilihat bahwa ketuntasan proses pembelajaran telah mencapai 66,67% yang berarti bahwa hasil pengamatan observer langkah-langkah yang dilakukan oleh guru berdasarkan rencana
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 41 pelaksanaan yang telah dibuat hanya 12
langkah dari 18 langkah yang telah dilakukan oleh guru, tetapi berbeda halnya dengan hasil refleksi yang dilakukan oleh guru yang ditampilkan pada tabel 3. Dapat dilihat bahwa ketuntasan mencapai 72,22% yang berarti bahwa hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru sendiri, langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan rencana pelaksanaan yang telah dibuat yaitu 13 langkah dari 18 langkah yang telah dilakukan. Dari hasil analisis antara pengamat dengan guru terjadi perbedaan, yaitu pengamat mengatakan bahwa langkah yang dilakukan oleh guru hanya mencapai 12 langkah yang terselesaikan dan menurut observer 13 langkah yang terselesaikan. Sehingga terjadi perbedaan 1 langkah yakni menurut hasil pengamatan yaitu guru belum bisa menyampaikan model dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Setelah pelaksanaan pembelajaran pada tindakan siklus I selesai, maka pada pertemuan berikutnya (Rabu, 21 November 2012) diadakan evaluasi atau tes tindakan siklus I. Tujuannya untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa terhadap materi operasi bentuk aljabar setelah diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking
Stick. Soal tes dibuat oleh peneliti yang
kemudian didiskusikan bersama dengan guru .
Hasil tes siklus I memperlihatkan bahwa dari nilai yang terendah sebesar 42,222 dan tertinggi sebesar 86,667 dengan rata-rata 70,0741. Selain itu dari 30 orang siswa terdapat 13 orang yang telah memperoleh nilai 75, sedangkan 17 orang lainnya memperoleh nilai < 75. Ini me-nunjukan bahwa indikator ketuntasan belajar
belum tercapai yakni 75% siswa telah memperoleh nilai 75.
Pada tahap ini, peneliti dan guru bersama-sama menilai dan mendiskusikan sudah sejauh mana tindakan yang dilakukan mampu memperbaiki masalah serta mem-bahas kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pelaksanaan tindakan siklus I yang akan diperbaiki pada siklus II. Pada siklus I ini penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick ini, untuk menungkatkan hasil belajar siswa pada materi operasi bentuk aljabar di kelas VII.1
SMPN 1 Lawa belum mencapai tujuan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata ketuntasan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru hanya mencapai 70.07% dan persentase hasil belajar siswa secara klasikal mencapai 43,33%.
Setelah pelaksanaan pembelajaran pada tindakan siklus II selesai, maka pada pertemuan berikutnya (Rabu, 4 Desember 2012) diadakan evaluasi atau tes tindakan siklus II. Tujuannya untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa terhadap materi operasi bentuk aljabar setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick . Soal tes dibuat oleh peneliti yang kemudian didiskusikan bersama dengan guru.
Hasil tes siklus II memperlihatkan bahwa mengalami peningkatan dimana nilai terendah siswa sebesar 27 (hanya satu orang siswa) dan tertinggi sebesar 92. Nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah sebesar 78,43, selain itu dari 30 orang siswa terdapat 25 orang (83,33%) telah memperoleh nilai 75. Sedagkan 5 orang lainnya (16,67%) memeperoleh nilai < 75. Dengan demikian pada siklus dua ini telah mencapai indikator ketuntasan belajar yakni 80% siswa telah memperoleh nilai 75.
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
42 www.pendmate matikauho.hol.es
Tabel 4
Persentase Ketercapaian Hasil Belajar Siswa pada Operasi Bentuk Aljabar dari Tiap Siklus
No Tes Tindakan Rata-rata Jumlah siswa tuntas Jumlah siswa keseluruhan Persentase secara klasikal 1 Siklus I 70,07 13 30 43,33 2 Siklus II 78,43 25 30 83,33
Gambar 1. Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII1
SMP Negeri 1 Lawa Pada Setiap Siklus Pembahasan
Apabila kita perhatikan nilai tes siklus I dan nilai tes siklus II, maka model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII.1 SMPN 1 Lawa pada materi
Operasi bentuk aljabar. Hasil tes siklus I
menunjukkan persentase ketuntasan belajar siswa yaitu 60% (13 orang yang nilainya 75) dengan nilai rata-rata secara klasikal 43,333. Hasil tes siklus II menunjukkan peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa dibandingkan nilai tes siklus I yaitu mencapai 83,33% (25 orang yang nilainya 70,07 78,433 43,33 83,33 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
tes siklus II tes siklus II
Nilai rata-rata siswa ketuntasan belajar secara klasikal
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
Farti a Rami, La Ndi a 43 75) dengan nilai rata-rata secara klasikal
83,333 yang berarti persentase ketuntasan ini meningkat hal ini disebabkan karena semakin sempurnanya proses pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking
Stick. Dengan demikian, persentase siswa
yang mencapai kriteria ketuntasan dan nilai rata-rata kelas meningkat.
Ini berarti bahwa hipotesis tindakan telah terjawab yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Talking
Stick dapat meningkatkan hasil belajar
matematika pada siswa kelas VII.1 SMP
Negeri I Lawa dan dapat memperbaiki hasil belajar matematika siswa dengan meng-gunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Talking Stick.
Simpulan dan Saran Simpulan
Berdasarkan analisis hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking
Stick pada pokok bahasan operasi bentuk
aljabar dapat memperbaiki hasil belajar matematika siswa kelas VII.1 SMP Negeri 1
Lawa, (2) Dapat meningkatkan hasil belajar metematika siswa kelas VII.1 pada materi
operasi bentuk aljabar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking
Stick.
Hal ini ditunjukan dengan pening-katan kegiatan pembelajaran. Pada siklus I hasil tes yang di peroleh siswa nilai rata- rata adalah sebesar 70,07% sedangkan nilai rata- rata pada siklus II adalah sebesar 78,43. Pada siklus I yang termasuk kategori tuntas belajar adalah sebanyak 13 orang atau sebesar 60,00% sedangkan pada siklus II jumlah siswa yang termasuk kategori tuntas
belajar adalah sebanyak 25 orang atau sebesar 83,33%.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka peneliti menyarankan beberapa hal, sebagai berikut.
1. Bagi guru khususnya di SMP Negeri 1 Lawa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan hendaknya meng-gunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick demi untuk me-ningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Bagi kepala sekolah di SMP Negeri 1 Lawa kiranya dapat memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti pelatihan dan penataran, serta berusaha menyempurnakan fasilitas-fasilitas yang ada demi menunjang kelancaran proses belajar mengajar.
Daftar Pustaka
Baharudin. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyanti, 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
---, 2003.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamilton, Birdena, et al, 2001, the For
Learning Au Coines.
(http://www.Efcefc.Ca/Traing Connection/Learning . Htm). Nasution , S. 2002 . Berbagai Pendekatan
Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara.
Nuharini. 2008. Model-Model
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika Volume 1 No. 1 Mei 2013
44 www.pendmate matikauho.hol.es Sanjaya, Wina. 2006. Strategi
Pembe-lajaran. Jakarta: Kencana Prenada
Media.
Surya, M. 2004. Psikologi Pembelajaran
dan Pengajaran. Bandung:
Pustaka Bani Quraysi
Sutikno, M. Sobry,2007. Menggagas
Pembelajaran Efektif dan
Bermakna. Mataram: NTP Pres.
Suyitno. 2004. Dasar-dasar dan proses
pembelajaran matematika.
Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Bhineka Cipta
Usman Uzer 2000. Upaya Optimalisasi
Kegiatan Belajar Mengajar.
Bandung: Remaja Rosda Karya. Wijaya, C. 2002. Kemampuan Guru dalam
Proses Belajar Mengajar.