RESPON METABOLIT ANTI PATOGEN PADA AKAR
RESPON METABOLIT ANTI PATOGEN PADA AKAR
TUSAM AKIBAT PENGIMBASAN INTERAKSI
TUSAM AKIBAT PENGIMBASAN INTERAKSI
SIMBIOTIK MIKORISA
SIMBIOTIK MIKORISA
Fakultas Kehutanan
Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada
LATAR BELAKANG
LATAR BELAKANG
• Masa sukulen panjang
• Peka terhadap patogen • Tergantung pada mikorisa
Pinus merkusii Jungh. et de Vriese
Sehat
Sehat
?
Mikorisa Ekto
M M i i k k o o r r i i z z a a Kompetisi/ Kompetisi/ antibiosis antibiosis Kompetisi/ Kompetisi/ antibiosis antibiosis Blocking Blocking • KimiawiKimiawi • FisikFisik T T r r i i c c h h o o d d e e r r m m a a Antagonisme Antagonisme • KompetisiKompetisi • AntibiosisAntibiosis • ParasitismeParasitisme Sintesis hormon Sintesis hormon
Patogenesis
Patogenesis
•
Inokulasi
Inokulasi
•
Inkubasi
Inkubasi
•
Infeksi
Infeksi
Landasan
Landasan
Teoritis
Teoritis
Tujuan
Tujuan
1. Isolasi fitoaleksin enzim
β
-
1,3-glukanase dan
kitinase sebagai respon infeksi jamur
pembentuk mikorisa pada tusam.
• Aktifitas fitoaleksin enzim
β-1,3-glukanase
dan
kitinase terhadap jamur penyebab rebah
semai secara in vitro.
• Pengaruh inokulan mikorisa terhadap
perkembangan Fusarium sp ; Rhizoctonia sp.
dan pertumbuhan semai tusam.
• Pengaruh T. reesei sebagai biokontrol
terhadap pembentukan mikorisa
• Pengaruh waktu inokulasi terhadap interaksi
antagonistik antara T. reesei dengan jamur
rebah semai (Fusarium sp. dan R. solani)
Tahun I
Tahun I
T0 T0 Trc Trc TrcTrcMiMi TrcTrc T-14 T-14 T+14T+14 Pembentukan Pembentukan mikorisa mikorisa Trichoderma In vivo In vivoIn vitro In vitro Jamur mikorisa Induksi Induksi TanamanTanaman • fitoaleksin• kitinase
• β-1, 3-glukanase Interaksi Interaksi
METODE
METODE
Patogen Patogenmikorisa Ekto
Induksi Tanaman
Metabolit sekunder
* fitoaleksin
* Pathogenesis – Related Protein
Pembentukan
mikorisa
Interaksi
ß- 1,3-glukanase
Tahun 2
Tahun 2
mikorisa Ekto
Induksi tanaman
Metabolit sekunder
* Pathogenesis – Related Protein
Pembentukan
mikorisa
Interaksi
kitinase
Trichoderma
WaktuPatogen damping off
Tahun 3
Metode Khusus fitoaleksin
Metode Khusus fitoaleksin
Akar (10 gr) + etanol 70% (50ml), rendam 24 jam
Evaporasi (40o) sampai ¼ volum semula
Larutan fitoaleksin kasar dlm etanol Materi kering + etanol
Evaporasi (40oC)
Ekstraksi dengan petrolium ether Saring
Metode Khusus 1- 3 β glukanase
Karakterisasi β-1,3-Glukanase
• SDS-PAGE mengacu pada metode Laemli (1970)
• Karakterisasi pH optimal aktifitas enzim mengacu pada metode Aono et al. (1995) dan Fontaine et al. (1997) dengan
modifikasi.
• Karakterisasi suhu optimal aktifitas enzim.
Ekstraksi Pathogenesis-Related Protein
• Ekstraksi menggunakan metode Vannini et al. (1999). • Dialisis menggunakan metode Colligan et al.(1996).
Isolasi β-1,3-Glukanase
Kromatografi gel filtrasi mengacu pada metode Colligan et al. (1996) dan Harjono (2000) dengan modifikasi
Inokulasi
mikorisa
pd tusam
Akar dipotong,
dimsukkan dlm –80 C
Panen, 4,6,8,
minggu
Ekstraksi
crude protein
Aktivitas kitinase.
Deteksi isoform kitinase
Pengendapan am. sulfat
Dialisis, pemekatan PEG
Kromatografi gel filtrasi
sephacril S-300 HR
Karakterisasi, BM, pH, suhu
optimum, aktifitas antifungal
kitinase pada R. solani &
Fusarium sp.
Uji in vivo antara jamur patogen, agen biokontrol dan jamur pembentuk mikorisa
a. Inokulasi
R.solani
danFusarium
sp. 15 hari sebelum semaiditanam
b. Perlakuan :
Faktor A
- Tanah tidak bermikorisa (M0)
- Tanah bermikorisa (M1)
Faktor B
- Tanpa patogen (P0)
- Dengan inokulasi
R. solani
(P1)- Dengan inokulasi
Fusarium
sp. (P2)Faktor C
- Tanpa
T. reesei
(T0)-
T. reesei
bersama waktu penanaman semai (T1)- 7 hari setelah penanaman semai - 14 hari setelah penanaman semai
c. Pengamatan
- Persen kematian semai - Persen infeksi mikorisa
Hasil tahun pertama
Hasil tahun pertama
0 10 20 30 40 50 60 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Waktu (hari) Jum la h u ju ng a ka r Kontrol T1 T13 T27 W-14 0 10 20 30 40 50 60 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Waktu (hari) Ju m la h uj un g a ka r Kontrol T1 T13 T27 W0 0 10 20 30 40 50 60 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Waktu (hari) Ju m la h u ju ng a ka r Kontrol T1 T13 T27 W+14
Perkembangan jumlah ujung akar semai tusam pada media tanpa inokulasi jamur mikorisa ekto
W-14 : Introduksi Trichoderma 14 hari sebelum penambahan tanah steril.
W0 : Introduksi Trichoderma bersama-sama dengan penambahan tanah steril.
W+14 : Introduksi Trichoderma 14 hari setelah penambahan tanah steril.
Perkembangan jumlah ujung akar semai tusam pada media yang diinokulasi jamur mikorisa ekto
W-14 : Introduksi Trichoderma 14 hari sebelum penambahan tanah steril.
W0 : Introduksi Trichoderma bersama-sama dengan penambahan tanah steril.
W+14 : Introduksi Trichoderma 14 hari setelah penambahan tanah steril. 0 20 40 60 80 100 120 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Waktu (hari) Ju m la h u ju ng a ka r Kontrol T1 T13 T27 W-14 0 20 40 60 80 100 120 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Waktu (hari) Ju m la h uj un g ak ar Kontrol T1 T13 T27 W0 0 20 40 60 80 100 120 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Waktu (hari) Ju m la h u ju ng a ka r Kontrol T1 T13 T27 W+14
Aktifitas fitoaleksin thd persentase perkecambahan spora
Fusarium
sp
0,00 0,00 100 43,33 52,66 80 56,33 66,33 40 93,66 72,67 10 71,33 74,33 2 94,00 88,33 0 8 minggu 0,00 0,00 100 1,00 2,00 80 26,33 47,66 40 56,33 50,00 10 46,67 48,00 2 86,67 77,33 0 6 minggu 0,00 0,00 100 0,67 0,00 80 5,33 66,67 40 66,33 51,33 10 56,00 58,00 2 84,67 85,00 0 4 minggu 0,00 2,67 100 1,00 0,67 80 17,33 2,67 40 26,67 32,33 10 46,70 49,00 2 71,00 63,67 0 Pohon Akar bermikorisa Akar tidak bermikorisaKonsentrasi (%) Tusam
Keterangan :
a) tiap perlakuan sumber ekstrak dan konsentrasi diukur 300 spora b) konsentrasi 2 % hanya dari etanol
0,00 0,00 100 1,50 1,91 80 1,65 2,80 40 4,49 0,5 10 1,63 1,65 2 3,73 3,51 0 8 minggu 0,00 0,00 100 0,39 0,61 80 0,99 0,71 40 1,60 2,09 10 1,66 1,77 2 3,62 3,42 0 6 minggu 0,00 0,00 100 0,34 0,00 80 0,35 1,96 40 2,79 2,04 10 1,71 1,79 2 3,71 3,47 0 4 minggu 0,00 0,00 100 0,34 0,30 80 0,48 0,34 40 0,90 0,95 10 1,75 1,55 2 3,12 3,38 0 Pohon Akar bermikorisa Akar tidak bermikorisa
Konsentrasi (%) Tusam
Keterangan :
a) tiap perlakuan sumber ekstrak dan konsentrasi diukur 20 spora b) konsentrasi 2 % hanya dari etanol
Aktivitas
Aktivitas
β
β
-1,3-glukanase
-1,3-glukanase
dari
dari
crude protein
crude protein
No. Sampel Kadar Protein (l) µg/µ Aktivitas Enzim (µU) Aktivitas spesifik (µU/µg)
1 TM 0.2764 259,4202 55,3645
2 M4M 0,1856 333,8082 93,6874
3 M6M 0,3563 1349,7078 378,8122
4 M8M 0,3948 675,0547 170,9865
5 EP 0,3398 1831,6029 539,0238
Keterangan : TM : crude protein hasil ekstraksi dari akar semai tusam tanpa mikorisa ; M4M : crude protein hasil ekstraksi dari akar semai tusam bermikorisa 4 minggu; M6M : crude protein hasil ekstraksi dari akar semai tusam bermikorisa 6 minggu; M8M : crude protein hasil ekstraksi dari akar semai tusam bermikorisa 8 minggu; EP : crude protein hasil ekstraksi dari akar tusam dewasa bermikorisa.
0.00 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.10 1 6 11 16 21 26 31 36 41 46 51 56 61 66 71 76 0 2 4 6 8 10 12 14
OD 280 nm fraksi Aktivitas enzim pada tiap fraksi
Isolasi
Aktivitas
β
-1,3-glukanase dari hasil kromatografi
Keterangan : GFCA I = penggabungan fraksi-fraksi yang membentuk puncak pertama aktivitas enzim; GFCA II = penggabungan fraksi-fraksi yang membentuk puncak kedua aktivitas enzim; GFCA III = penggabungan fraksi-fraksi yang membentuk puncak ketiga aktivitas enzim.
17,5283
30,3789
9,4968
0 5 10 15 20 25 30 35 Aktivitas Enzim (µU)GFCA I GFCA II GFCA III
Hasil Kromatografi
0,0551 0,1818 0,1542 0,00 0,02 0,04 0,06 0,08 0,10 0,12 0,14 0,16 0,18 0,20 Kadar Protein (µg/µl)
GFCA I GFCA II GFCA III
31,8119 16,7101 6,1587 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 Aktivitas spesifik (µg/µU)
GFCA I GFCA II GFCA III
Aktivitas
β
-1,3-glukanase dari hasil kromatografi
Keterangan : GFCA I = penggabungan fraksi-fraksi yang membentuk puncak pertama aktivitas enzim; GFCA II = penggabungan fraksi-fraksi yang membentuk puncak kedua aktivitas enzim; GFCA III = penggabungan fraksi-fraksi yang membentuk puncak ketiga aktivitas enzim.
Karakterisasi
Karakterisasi
β
β
-1,3-glukanase hasil isolasi
-1,3-glukanase hasil isolasi
y = -0,0274x + 5,132 R2 = 0,9418 3,50 4,00 4,50 5,00 5,50 0 10 20 30 40 50 Mobilitas Relatif (mm) lo g 1 0 Be ra t m o le k u l p ro te in s ta n d a rt Marker GFC Results peak 2 Linear (Marker)
Hasil interpolasi kurva berat molekul protein standart menunjukkan bahwa β -1,3-glukanase hasil isolasi memiliki berat molekul 15 kD.
Karakterisasi
β
-1,3-glukanase hasil isolasi
-10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 10 20 30 40 50 60 Temperature (oC ) E n zy m e A ct iv it y (µ U ) Temperature Poly. (Temperature)Hasil karakterisasi pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim menunjukkan bahwa β -1,3-glukanase hasil isolasi memiliki kisaran suhu yang sempit untuk aktivitasnya. Suhu optimal untuk aktivitas enzim tersebut adalah 40o C .
Karakterisasi
β
-1,3-glukanase hasil isolasi
0 2 4 6 8 10 12 14 16 2 3 4 5 6 7 8 9 10 pH E n zy m e A c ti v ity (µ U ) pH Poly. (pH)Hasil karakterisasi pengaruh pH terhadap aktivitas enzim menunjukkan bahwa β -1,3-glukanase hasil isolasi memiliki aktivitas optimal pada pH cenderung asam. pH optimal untuk aktivitas enzim tersebut adalah 6 .
Karakterisasi
β
-1,3-glukanase hasil isolasi
No. Sampel Persentase perkecambahan Fusarium sp.
1 Kontrol 68%
2 GLUC15 14,54%
3 M6M 17,32%
4 EP 12,86%
Persentase perkecambahan konidia Fusarium sp. yang diinkubasikan dalam protein dari akar semai tusam (P. merkusii) yang berasosiasi dengan jamur pembentuk mikorisa ekto. GLUC15 = β
-1,3-glukanase hasil isolasi dari akar semai tusam (P. merkusii); M6M : crude protein hasil ekstraksi dari akar semai tusam bermikorisa 6 minggu; EP : crude protein hasil ekstraksi dari akar tusam dewasa
bermikorisa. Penghitungan persentase dilakukan dengan menjumlah konidia yang berkecambah dan tidak berkecambah dari tiga bidang pandang mikroskop dan dilakukan dengan dua kali perulangan.
19,86 17,86 23,53 18,18 P2 24,70 9,52 31,25 33,33 P1 27,62 11,11 21,74 50,00 P0 Tanah bermikorisa 5,41 7,14 0,00 9,09 P2 4,60 0,00 9,09 4,70 P1 3,81 0,00 4,76 6,67 P0 Tanah tidak bermikorisa 3 2 1 Rerata Ulangan Sumber variasi
Keterangan : P0 : tanpa patogen
P1 : patogen Fusarium sp. P2 : patogen Rhizoctonia sp.
Rerata persentase infeksi jamur mikorisa semai tusam (
P. merkusii
)
Aktivitas spesifik kitinase
Aktivitas spesifik kitinase
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 4M 6M 8M Sampel A kt iv ita s sp es ifi k ( un it/m g) mikorisa
tidak bermikorisa 4 M : 4 minggu
6 M : 6 minggu 8 M : 8 minggu
Aktivitas spesifik kitinase dari crude protein semai tusam bermikorisa dan tidak bermikorisa umur 4, 6 dan 8 minggu. Aktivitas kitinase diukur dengan menginkubasikan substrat–enzim selama 30 menit, reaksi dihentikan dengan penambahan DNS dan direbus selama 15 menit. Aktivitas kitinase diukur pada absorbansi 540, visibel.
Persentasi tingkat kejenuhan Ammonium Sulfat
Persentasi tingkat kejenuhan Ammonium Sulfat
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 30 50 70
Tingkat kejenuhan ammonium sulfat (%)
A k ti v it s s p e s if ik ki ti n a s e (U n it /m g )
Perbandingan aktivitas spesifik kitinase dengan tingkat kejenuhan 30, 50, 70 %.
52,158 4,350 3,568 0,000553 0, 155 Sephacril S-300 HR 85,47 1,422 1,166 0,000906 0,777 Pengendapan amonium sulfat dan dialisis 100 1 0,819 0,00106 1,293 Crude protein Recovery (%) Tingkat pemurnian Aktivitas spesifik (unit.mg-1) Aktivitas kitinase (unit) Protein total (µ g) Langkah pemurnian
Rekapitulasi pemisahan kitinase dari
50g akar semai
Suhu Optimal 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 0,1 10 20 30 40 50 Suhu C A kt ivi ta s sp e si fi k ki ti n a se (U n it )
Nilai suhu optimal dicapai pada suhu 300 C. Konsentrasi protein yang
digunakan untuk masing – masing pengamatan adalah 0,156 µg ml-1.
Data merupakan hasil rata – rata dua ulangan percobaan
pH optimal
pH Optimum 0 ,0 3 0 ,0 4 0 ,0 5 0 ,0 6 0 ,0 7 0 ,0 8 0 ,0 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 pH A k lt iv it a s s p e s if ik k it in a s e (U n it )Nilai pH optimal dicapai pada pH 5. Konsentrasi protein yang
digunakan untuk masing–masing pengamatan adalah 0,156 µg ml-1.
Ringkasan hasil
Ringkasan hasil
• Akar tusam mengeluarkan senyawa fitoaleksin,
β
-1,3-glukanase dan kitinase dengan aktivitas yang lebih tinggi pada
akar bermikorisa dibandingkan dengan akar tidak bermikorisa.
• Isolat enzim
β
-1,3-glukanase memiliki berat molekul 15 kD,
kurang tahan terhadap pemanasan dan bekerja optimal pada
pH cenderung asam. Sedangkan enzim kitinase memiliki berat
molekul 52 kDa, aktivitas optimum kitinase pada pH 5 dan suhu
30
0C.
• Senyawa fitoaleksin,
β
-1,3-glukanase dan kitinase yang
berasosiasi dengan jamur pembentuk mikorisa ekto memiliki
aktivitas antifungal.
• Inokulasi jamur mikorisa dan introduksi T.reesei kedalam
perakaran semai tusam dapat menghambat perkembangan
patogen penyebab rebah semai (R. solani dan Fusarium sp.).
Perlakuan ini tidak menimbulkan hambatan pembentukan dan
perkembangan mikorisa apabila waktu aplikasi Trichoderma
tepat.
• Pengendalian patogen penyebab penyakit rebah semai
diperoleh dari inokulasi T.reesei pra tanam dan selanjutnya
dapat meningkatkan perkembangan mikorisa.
Kesimpulan
Kesimpulan
Inokulasi jamur pembentuk mikorisa
ekto sangat berpotensi untuk
meningkatkan ekspresi enzim yang
berperan pada ketahanan semai tusam
Publikasi
Publikasi
Naemah, D., S. M. Widyastuti dan Sumardi. 2004. Pengaruh waktu aplikasi
Trichoderma terhadap perkembangan mikoriza pada akar Pinus
merkusii Jungh. et de Vriese. Agrosains BPPS. 16(2):173-178.
Tektonia, R., S. M. Widyastuti dan Sumardi. 2004. Pengaruh inokulasi
mikoriza terhadap perkembangan penyakit rebah semai (Fusarium
sp.) pada semai Pinus merkusii Jung. et de Vriese. Jurnal Fitopatologi.(accepted)
Anggoro, M.D., S.M. Widyastuti dan S. Margino. 2005. Isolasi dan
karakterisasi β-1,3-glukanase akar semai tusam (Pinus merkusii
jungh. et de vriese) yang berasosiasi dengan jamur pembentuk mikorisa ekto. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia.(accepted)
Handayani, A., S.M. Widyastuti dan S. Margino. 2005. Isolasi dan
karakterisasi kitinase akar tusam (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) yang bersimbiosis dengan jamur mikoriza-ekto. Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia.(accepted)
Suryantini, R., SM. Widyastuti dan Sumardi. 2005. Pengaruh Waktu
Inokulasi Trichoderma reesei terhadap Patogenisitas Jamur Lanas
(damping-off) dan Perkembangan Mikorisa pada Semai Tusam
Widyaningsih, S., S.M. Widyastuti dan Sumardi. 2005. Produksi fitoaleksin pada tusam (pinus merkusii jungh. et de vriese) sebagai respon infeksi jamur mikoriza. BIOTA. (submitted)
Widyastuti, S.M., A. Handayani, Harjono dan Sumardi. 2005. Aktivitas Anti Jamur Kitinase dan
β-1,3-glukanase
Akar Semai Tusam (Pinusmerkusii Jungh. et de Vriese) yang Berasosiasi dengan Jamur
Pembentuk Mikorisa Ekto. Jurnal Perlindungan Tanaman. (submitted)
Widyastuti, S. M., Sumardi, Harjono dan D. Naemah. 2005. Uji aktivitas biokontrol Trichoderma formulasi hasil reisolasi dari media semai tusam setelah 5 bulan aplikasi secara in vitro. Agr UMY.
(submitted)
Widyastuti, S. M., Sumardi dan R. Tektonia. 2005. Uji awal aktivitas
senyawa metabolit anti patogen akar tusam (Pinus merkusii Jung.
et de Vriese.) akibat pengimbasan interaksi mikoriza ekto
terhadap Fusarium sp. Jurnal Perlindungan Tanaman
Indonesia.(submitted)