• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB 1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sekolah adalah lingkungan pendidikan setelah keluarga yang dikenal peserta didik dan merupakan lembaga pendidikan formal, di mana peserta didik melakukan proses belajar untuk bekal kehidupannya. Dengan demikian sekolah memiliki peranan penting dalam perkembangan peserta didik yaitu mengupayakan terjadinya perubahan perilaku peserta didik yang mencakup perilaku kognitif, afektif, psikomotoriknya, dan menyiratkan luasnya tugas sekolah dalam memikul tanggung jawab dan melengkapi peran keluarga dalam melatih kecerdasan emosional siswa. Ada hubungan antara pendidikan dan perilaku individu, sesuai dengan fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan, yaitu pembentukan pribadi anak atau individu. Dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan tersebut, mampu mempengaruhi perilaku individu dalam bertingkah laku, karena menurut pakar pendidikan Jhon Locke (Inggris, 1632-1704) menyatakan bahwa “Tujuan pendidikan adalah pembentukan watak, perkembangan manusia sebagai kebulatan moral, jasmani dan mental. Perilaku individu dapat diperoleh pula melalui proses belajar yang kontinu”.

Siswa SMP yang rata-rata berusia 13 sampai 16 tahun berada dalam fase perkembangan remaja awal yang merupakan masa sangat dinamis dan peka bagi individu, dan sering kali menimbulkan berbagai masalah, baik yang bersifat emosional, sosial maupun kognitif (Santrock, 2002: 32). Terdapat keragaman dalam menetapkan batasan dan ukuran tentang kapan mulainya dan kapan berakhirnya masa remaja itu. Para ahli juga cenderung mengadakan pembagian lagi kedalam masa remaja awal (early adolescent, puberty) dan remaja akhir (late adolescent) yang mempunyai rentang waktu antara 11-13 sampai 14-15 tahun dan 14-16 sampai 18-20 tahun. Buhler (Nurihsan, 2011: 55) malah menambahkan suatu transisi ke periode ini ialah masa pre-puberteit (praremaja) yang berkisar sekitar 10-12 tahun dari kalender kelahiran yang bersangkutan.

(2)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hal tersebut disebabkan pada masa remaja terjadi dua transisi perkembangan yang penting yaitu masa kanak-kanak menuju remaja dan masa remaja menuju masa dewasa. Dalam masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa remaja terjadi perubahan pubertas yang menonjol, di samping perubahan kognitif dan perubahan sosio emosional, sedangkan dalam masa transisi menuju masa dewasa ditandai dengan beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan kedewasaan yaitu antara lain; tanggungjawab pribadi, kemandirian, psikologis dan sosial. Kriteria yang dimiliki pada masa-masa dewasa di atas belum berkembang secara maksimal pada masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa remaja.

Disebutkan pula pergolakan emosi yang terjadi pada masa remaja tidak terlepas dari berbagai macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, dan teman-teman sebaya serta aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila aktivitas di sekolah tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja sering kali meluapkan energinya ke arah yang tidak positif.

Berdasarkan hasil observasi terhadap dinamika dan problematika siswa SMP Negeri 1 Minas, pada umumnya mereka kurang dapat mengontrol emosi dengan baik, lebih menonjolkan sikap agresif daripada logika rasional. Data yang diperoleh dari Wakasek kesiswaan dan guru bimbingan konseling di sekolah tersebut, menunjukkan bahwa peristiwa perkelahian antar peserta didik di kelas sering kali terjadi, hal ini menunjukkan bahwa peserta didik belum dapat mengontrol emosinya dengan baik. Ketika dilakukan pengamatan dan wawancara lebih lanjut, banyak di antara peserta didik yang menunjukkan perilaku kurang sabar, kurang ulet, mudah mengeluh, mudah putus asa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah maupun dalam menyelesaikan masalah pribadi yang mengganggu kelancaran studi. Rendahnya tingkat kecerdasan emosional siswa yang terlihat dari kontrol emosi yang masih

(3)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

labil, kondisi seperti ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi perkembangan psikologis, karena makin tinggi kecerdasan emosional seseorang diharapkan akan makin mampu seseorang dalam mengarungi kehidupan secara umum.

Berkaitan dengan permasalahan di atas, pendidikan jasmani sebagai salah satu mata pelajaran yang terdapat di sekolah tentunya mempunyai peranan yang sangat strategis dalam upaya mengembangkan kemampuan sosial dan moral peserta didik. Pembinaan proses sosial peserta didik pada hakikatnya adalah menumbuh kembangkan peserta didik menjadi makhluk sosial yang bermanfaat bagi lingkungan di manapun ia berada. Sehubungan dengan hal ini Hoedaya (2009: 3) mengemukakan bahwa:

“Melalui sosialisasi, khususnya keterlibatan anak pada aktivitas olahraga, maka sifat, perilaku, serta aspek kepribadian diharapkan akan tumbuh dan berkembang dengan baik, akan tumbuh sifat bersaing yang dilandasi sportivitas tinggi, menghargai lawan bermain, menghargai usaha sendiri, percaya diri, dan kemampuan mengendalikan emosi”.

Pendidikan jasmani memiliki peran dan fungsi yang kongkrit dalam mengaktualisasikan nilai-nilai sosial dan moral dalam diri kepribadian anak didik. Kepribadian yang ulet, pantang menyerah, pekerja keras, dan menempatkan individu lain sebagai lawan dan kawan merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan dalam pergaulan sehari-hari. Aktivitas fisik dalam pendidikan jasmani secara langsung bersentuhan dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian pendidikan jasmani dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kecerdasan emosional yang cakupannya meliputi kumpulan dari kecakapan-kecakapan kerjasama, kesadaran diri, penghargaan diri, pengendalian diri, empati, aktualisasi diri, kemandirian, tanggung jawab sosial, optimisme dan kegembiraan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hellison dan Martinek (Hoedaya, 2009: 47) mengatakan bahwa tanggung jawab dan sosial bisa dimiliki siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, melalui aktivitas jasmani sebagai media pemerolehan nilai-nilai sosial dan emosional. Beberapa ahli

(4)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut secara langsung dapat teraktualisasikan melalui pendidikan jasmani.

Pencapaian tujuan pendidikan jasmani khususnya pada aspek sosial di lapangan cenderung sangat sulit tercapai ini disebabkan karena adanya beberapa hambatan. Pada lanjutan pengamatan yang dilakukan di lingkungan SMP di Kabupaten Siak umumnya dan di SMP Negeri 1 Minas khususnya, terdeteksi beberapa hal seperti: (1) inkonsistensi guru pendidikan jasmani dalam melaksanakan atau menerapkan model pembelajaran di lapangan, hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan para guru pendidikan jasmani terhadap teori-teori pembelajaran, dengan faktor minimnya pengetahuan inilah yang menjadikan para guru pendidikan jasmani dalam prakteknya dilapangan setengah-setengah dalam menerapkan model pembelajaran dilapangan, sehingga target atau dampak yang diharapkan terkadang akan menjadi tidak maksimal; (2) guru-guru pendidikan jasmani lebih menekankan kepada pencapaian tujuan perkembangan fisik dan gerak. Proses pembelajaran peserta didik kurang diarahkan untuk mengembangkan aspek sosial seperti kemampuan kerjasama, saling menghargai antar sesama, saling membantu, empati, mengendalikan emosi, dan aspek sosial lainnya. Proses belajar mengajar cenderung hanya menekankan aspek fisik, yaitu menguasai keterampilan gerak tertentu. Dengan penyampaian informasi, instruksi dan kegiatan belajar berpusat pada guru, peserta didik hanya dituntut untuk menguasai gerak keterampilan tertentu sehingga aspek lainnya yang seharusnya dikembangkan jadi terabaikan.

Jika kondisi di atas berlangsung lama maka akan memberikan dampak negatif pada perkembangan sosial anak, dan akan menjadikan peserta didik cenderung akan lebih egois kurang menghargai kawan bermain serta berpengaruh terhadap kecerdasan emosional siswa terutama dalam hal menghargai dan mengendalikan emosi. Hal semacam ini bertentangan dengan dasar falsafah pendidikan jasmani yang disampaikan oleh Husdarta (2011: 26-27) bahwa “Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan hidup bermasyarakat seperti berempati

(5)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pada orang lain, menahan sabar, memberikan respek dan penghargaan pada orang lain, mempunyai motivasi yang tinggi serta banyak lagi. Seorang ahli menyebut bahwa kesemua keterampilan di atas adalah keterampilan hidup. Sedangkan ahli yang lain memilih istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence)”. Sedangkan untuk dampak tidak langsung maka hasil pendidikan jasmani hanya akan fokus pada perkembangan fisik dan gerak saja, sedangkan dari segi afektif tidak sama sekali tersentuh padahal tujuan pengembangan mental dan sosial yang merupakan nilai-nilai yang tidak boleh terabaikan, pada akhirnya dapat terjadi penyimpangan dari tujuan pembelajaran pendidikan jasmani seperti yang diharapkan. Kondisi seperti ini sangatlah berpengaruh terhadap aplikasi kehidupan psikis peserta didik terutama tentang kecerdasan emosional baik yang terjadi di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk mencapai tujuan. Pendidikan jasmani makin penting dan strategis dalam kehidupan era teknologi yang sarat akan perubahan atau persaingan dan kompleksitas. Pendidikan jasmani merupakan sarana yang efektif dan efisien untuk meningkatkan disiplin dan rasa tanggung jawab, kreativitas dan daya inovasi serta mengembangkan kecerdasan emosional.

Pendidikan jasmani merupakan program dari bagian pendidikan umum yang memberi kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Dengan begitu pendidikan jasmani dapat diartikan sebagai pendidikan gerak, dan pendidikan melalui gerak yang harus dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan konsepnya. Pada prakteknya pendidikan jasmani yang dilaksanakan memiliki beberapa tujuan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Suherman (2009: 7) tentang klasifikasi tujuan umum pendidikan jasmani, yaitu :

1. Perkembangan fisik. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan kekuatan-kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh seseorang (physical fitness).

(6)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Perkembangan gerak. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan gerak secara efektif, efisien, halus, indah, dan sempurna (skill full).

3. Perkembangan mental. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan berpikir dan menginterpretasikan keseluruhan pengetahuan tentang pendidikan jasmani ke dalam lingkungannya sehingga menumbuh kembangkan pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab siswa.

4. Perkembangan sosial. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat.

Dalam bagian lain, Wiranto (1997: 4) juga menyatakan bahwa “pendidikan jasmani merupakan sarana yang efektif dan efisien untuk meningkatkan disiplin, rasa tanggung jawab, kreatif, daya inovasi, dan mengembangkan kecerdasan emosional”. Hal ini diperkuat oleh berbagai penelitian, di antaranya dilakukan oleh Cowell (Martens, 1975: 103) yang menunjukkan bahwa ada hubungan sedang antara beberapa variabel sosial dengan partisipasi dalam aktivitas jasmani. Demikian juga yang disampaikan oleh Layman yang dikutip Martens (Nopembri, 2006: 28) menemukan dalil-dalil berikut ini; (1) partisipasi dalam olahraga meningkatkan kebugaran jasmani, kebugaran jasmani berhubungan dengan kesehatan emosi yang baik dan kurangnya kebugaran dengan kesehatan emosi yang minim, (2) memperoleh keterampilan motorik melalui olahraga menyumbang terhadap pertemuan kebutuhan dasar keselamatan dan penghargaan pada anak, (3) pengawasan yang dimainkan orang tua berpotensi untuk meningkatkan kesehatan emosi dan mencegah kegagalan, (4)...ketika bermain, rekreasi, dan aktivitas olahraga dirancang dengan kebutuhan individu dalam pikiran, hal itu mungkin maknanya lebih bernilai dari mengembangkan kesehatan di antara para pasien yang sakit secara emosi, (5) bermain dan olahraga memberikan jalan keluar untuk mengekspresikan emosi dan mengekspresikan emosi di bagian luar pada aktivitas yang disetujui berguna untuk pengembangan dan pemeliharaan kesehatan emosi, (6) olahraga kompetitif, jika

(7)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pantas digunakan, mungkin meningkatkan kesehatan emosi dan memperoleh sifat kepribadian yang didambakan.

Sehubungan dengan uraian di atas, implementasi nilai-nilai pendidikan jasmani sebagai pembinaan watak dan pembinaan moral dalam menumbuhkan suasana kerjasama, disiplin, tanggung jawab, bersahabat atau kekeluargaan, dan saling tolong menolong akan mengurangi potensi munculnya perselisihan. Oleh karena itu pendidikan sebagai wahana pembinaan kepribadian dan perkembangan sosial anak akan memberikan kontribusi yang lebih besar dan berpengaruh terhadap perubahan sikap dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian program pendidikan jasmani dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk menumbuhkan perkembangan sikap sosial, sebagai upaya pendidikan menyeluruh yang mencakup perkembangan jasmani, mental, sosial, dan emosional.

Pandangan keliru, tetapi dianut oleh begitu banyak orang, bahwa kualitas inteligensi kecerdasan dalam ukuran intelektual atau tataran kognitif yang tinggi dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar atau meraih kesuksesan dalam hidupnya. Namun baru-baru ini telah berkembang pandangan lain yang mengatakan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan (kesuksesan) hidup seseorang, bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tetapi oleh faktor kemantapan emosional (kecerdasan emosional).

Menurut Goleman (2000: 44), “kecerdasan intelektual hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan yang lain, di antaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengatur suasana hati (mood), berempati dan kemampuan bekerjasama”. Selanjutnya Goleman (2000: 45), menyebutkan bahwa “kecerdasan emosional adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan

(8)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa”. Seseorang yang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustrasi, tidak mudah percaya pada orang lain, tidak peka terhadap kondisi orang lain dan cenderung putus asa bila mengalami stres. Kondisi sebaliknya dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ rata-rata namun memiliki kecerdasan emosional tinggi. Tidak heran bila saat ini banyak siswa yang pandai secara intelektual, tetapi gagal secara emosional.

Mengingat pentingnya peran kecerdasan emosional yang lebih dominan dalam mempengaruhi keberhasilan siswa di masa yang akan datang, maka hendaknya sekolah sebagai lembaga pendidikan dan miniatur masyarakat dapat menyelenggarakan pendidikannya yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan aspek akademik semata, tetapi juga pada pengembangan kemampuan kecerdasan emosional. Adapun sebagai upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui proses pembelajaran, dengan memilih suatu model pembelajaran yang tepat.

Dalam pengembangan kecerdasan emosional siswa, guru pendidikan jasmani di SMP Negeri 1 Minas dalam melakukan proses belajar mengajar dapat menggunakan suatu model pembelajaran yang dianggap mampu meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Dalam pembelajaran, model sosial sebagai implikasi yang menekankan pada keadaan sosial alami kita, bagaimana kita belajar tingkah laku sosial, dan bagaimana interaksi sosial dapat meningkatkan pembelajaran secara akademis (Joyce, Weil & Clahoun, 2000: 29). Model pembelajaran yang dianggap mampu meningkatkan kecerdasan emosional di antaranya adalah model Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching. Seperti yang diungkapkan oleh Matzler (2000: 220 & 286), bahwa “Pembelajaran pendidikan jasmani yang terus berkembang sampai pada penerapan model sosial tersebut dalam model pembelajaran seperti : bermain peran, Cooperative Learning dan Peer Teaching model”. Dengan model pembelajaran ini diharapkan akan lebih menarik perhatian siswa dikarenakan

(9)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pembelajaran semacam ini belum pernah digunakan di dalam kelas sehingga dapat meningkatkan motivasi dalam memahami konsep-konsep dan meminimalisasi tingkat kesulitan belajar.

Model Cooperative Learning tipe TGT yaitu suatu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya meliputi beberapa komponen, seperti dikemukakan Slavin (2005: 170) sebagai berikut: “Presentasi kelas, belajar tim, turnamen, dan rekognisi tim”. TGT (Teams Games Turnament) merupakan jenis pembelajaran yang berkaitan dengan STAD (Student-Teamss-Achivement-Division) dimana dalam pembelajaran ini siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 orang yang mempunyai kemampuan dan latar belakang yang berbeda untuk mencapai ketuntasan belajar. Dalam Teams Games Turnament (TGT) siswa memainkan permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor tim mereka.

Secara umum model Cooperative Learning tipe TGT sama saja dengan STAD kecuali satu hal yakni TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. Adapun untuk deskripsi singkatnya dari komponen-komponen TGT adalah sebagai berikut; Presentasi kelas, Belajar tim, Games, Turnamen, dan Rekognisi tim.

Presentasi kelas yaitu penyampaian materi berupa pengajaran langsung seperti yang sering dilakukan oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi audiovisual. Bedanya presentasi kelas dengan pengajarn biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit TGT. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.

Belajar tim, terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsi utama dari

(10)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi lainnya. Yang paling terjadi, pembelajaran itu melibatkan pembahasan permasalahan bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan. Tim ini memberikan dukungan kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang penting untuk akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar kelompok, rasa harga diri, dan penerimaan terhadap mainstream siswa-siswa.

Games, gamenya terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan, yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Games tersebut dimainkan di atas meja dengan lima orang siswa, yang masing- masing mewakili tim yang berbeda.

Turnamen adalah sebuah struktur di mana games tersebut berlangsung, turnamen biasanya berlangsung pada akhir Minggu atau akhir unit pembelajaran. Setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Pada turnamen pertama, guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen, lima siswa berprestasi tinggi sebelumnya pada meja 1, lima berikutnya pada meja 2, dan seterusnya. Kompetisi yang seimbang ini, seperti halnya sistem skor kemajuan individual dalam STAD, memungkinkan para siswa dari semua tingkat kinerja sebelumnya berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka jika mereka melakukan yang terbaik.

Rekognisi tim, yaitu memberikan penghargaan pada tim yang menjadi pemenang yang didasarkan perolehan skor turnamen. Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu atau nilai tertinggi dari kelompok lain.

(11)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Melalui langkah-langkah pembelajaran tersebut, akan memungkinkan terciptanya suasana pembelajaran yang menjadikan siswa saling berinteraksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Di dalam interaksi yang terjadi itulah diharapkan akan terbinanya kemampuan moral siswa terutama dalam hal kecerdasan emosional siswa, sehingga siswa yang kemampuannya tinggi dapat memahami dan mau bekerjasama untuk membantu siswa yang kemampuannya sedang atau rendah. Dan sebaliknya siswa yang kemampuannya sedang dan rendah akan merasa bahwa dirinya diperhatikan sehingga mau belajar dari mereka yang memiliki kelebihan, tanpa ada rasa minder. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002: 64) bahwa “Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerjasama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan, yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang memiliki kekurangan. Sebaliknya mereka yang memiliki kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang memiliki kelebihan, tanpa rasa minder”.

Selain itu, pengajaran pendidikan jasmani yang kental dengan pengajaran melalui turnamen mini game, menuntut siswa untuk dapat bekerjasama dalam mempersiapkan timnya sebaik mungkin, ini bukti bahwa pendidikan jasmani sarat dengan pengajaran yang membutuhkan kerjasama dalam kelompok, mengingat keberhasilan dalam belajarnya tidak hanya diukur dan ditentukan dengan kemampuan individu saja, tetapi kelompok juga turut mempunyai peran dalam keberhasilan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002: 64), bahwa “Hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu”.

Selain model Cooperative Learning tipe TGT ada model pembelajaran Peer Teaching yang merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa sebagai pengajar setelah dipilih oleh guru berdasarkan kriteria tertentu, yakni siswa yang

(12)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

memiliki prestasi yang lebih tinggi dibanding dengan teman sekelompoknya, sehingga ia dapat membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan belajar. Peer teaching adalah metode mengajar yang kerap digunakan di sekolah-sekolah dengan siswa lain yang menjadi tutor atau pengajarnya, teman sepermainan merupakan orang yang lebih dahulu mengajarkan tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran sehari-hari, seperti dikatakan Metzler (2000: 287)”... most likely they were your friends, playmates, and siblings who first taught you many of the basic social, communication, cognitive, and psychomotor skills that you took into and through your early years in school”.

Model Peer Teaching merupakan model mengajar sesama teman, model ini memupuk rasa sosial dan tanggung jawab antar sesama siswa. Model ini menjelaskan kembali pelajaran (cara-cara, konsep) kepada teman yang belum mengerti, dalam hal ini siswa yang lebih terampil akan membantu siswa lainnya dalam mengajarkan keterampilan. Dengan demikian diharapkan secara keseluruhan siswa dalam kelompok mampu menguasai keterampilan dengan tetap memperhatikan unsur saling menghargai, kerjasama, motivasi, dan empati.

Sedangkan menurut pendapat Silberman (2006: 157) yang diterjemahkan oleh Arifin “Beberapa ahli percaya bahwa satu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila seorang peserta didik mampu mengajarkan pada peserta lain”. Pada model Peer Teaching penjelasan siswa yang menjadi tutor lebih memungkinkan berhasil. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

Baik model Cooperative Learning tipe TGT maupun model pembelajaran Peer Teaching hendaknya selalu dipakai dalam pengajaran pendidikan jasmani, permainan bola besar misalnya yang merupakan permainan beregu yang kompetitif dan menyenangkan bagi siswa, dan termasuk dalam materi pokok yang sebaiknya diajarkan lewat banyak model pembelajaran. Penelitian ini sengaja memilih permainan bola besar, pertimbangannya kenapa memilih permainan bola besar karena

(13)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dalam permainan sepak bola, basket dan voli lebih banyak melibatkan kemampuan kecerdasan emosi siswa, dalam permainan beregu seperti ini lebih banyak melibatkan unsur-unsur kecerdasan emosional seperti; mengelola emosi, kerjasama, motivasi, saling menghargai lawan, bersikap jujur, sportivitas, patuh pada peraturan, dan komitmen dalam satu tim akan lebih dapat dikembangkan.

Alasan penulis tertarik untuk menggunakan model Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching dalam penelitian kali ini dikarenakan; 1) kedua model ini termasuk dalam kategori model sosial seperti yang terungkap dalam buku Matzler (2000:220 & 286), bahwa “Pembelajaran pendidikan jasmani yang terus berkembang sampai pada penerapan model sosial tersebut dalam model pembelajaran seperti : bermain peran, Cooperative Learning dan Peer Teaching model”; 2) karena kedua model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling kerjasama, saling menghargai, saling memotivasi, saling membutuhkan, saling bertanggung jawab akan tugasnya masing-masing; 3) karena keduanya merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dari awal sampai akhir kegiatan; 4) karena kedua model ini merupakan model yang siswanya belajar secara kelompok dan dilakukan oleh teman sebaya. Dari dasar inilah penulis ingin mengetahui secara lebih dalam mana dari kedua model ini yang lebih berpengaruh terhadap pengembangan kecerdasan emosional. Kalau kita amati lebih jauh kedua model ini sama-sama merupakan model yang siswanya belajar secara kelompok dan dilakukan oleh teman sebaya, dengan demikian menjadikan alasan buat penulis untuk melakukan penelitian dari kedua model kaitannya dengan ada tidaknya pengaruh terhadap pengembangan kecerdasan emosional.

Dari paparan latar belakang masalah, demikian pentingnya peran kecerdasan emosional yang harus dimiliki siswa agar dapat menjawab tantangan dan mencapai keberhasilan dalam kehidupannya nanti, menjadikan dasar bagi penulis untuk memfokuskan penelitian yang akan dilakukan.

(14)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Fenomena hampir semua sekolah di Indonesia yaitu banyak siswa yang tidak dapat mengontrol emosinya atau bersikap agresif, seperti kasar terhadap orang lain, sering bertengkar, bergaul dengan anak-anak bermasalah, memberontak, rendahnya motivasi belajar, membandel di rumah dan di sekolah, keras kepala dan suasana hatinya sering berubah-ubah, terlalu banyak bicara, sering mengolok-olok dan bertemperamen tinggi. Selain itu para siswa yang memasuki masa remaja di sekolah dalam pergaulan sosialnya banyak siswa yang menarik diri dari pergaulan, seperti lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi, bermuka muram dan kurang semangat, merasa tidak bahagia dan selalu bergantung kepada sesuatu, (Nurnaningsih, 2011: 269).

Melihat pergaulan para siswa yang kurang sehat serta kurangnya pembinaan moral terutama pembinaan emosi di setiap sekolah untuk membentuk sikap dan perilaku positif, dibutuhkan pendidikan yang mampu membina para siswa untuk dapat mengelola emosinya dengan baik. Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, melalui sekolah siswa belajar tentang berbagai pengetahuan yang ada di dunia.

Trend di setiap sekolah sebagian besar selalu mengedepankan prestasi belajar sehingga yang menjadi patokan utama yaitu perkembangan intelektual tanpa memperhatikan perkembangan emosional para siswanya, sehingga tidak jarang para siswa yang unggul dalam prestasi namun gagal secara emosional. Berdasarkan pengamatan penulis, banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya karena mereka memiliki kecerdasan emosional, meskipun inteligensi intelektualnya (IQ) hanya pada tingkat rata-rata.

(15)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Di sisi lain, problematika di lapangan yang sering kita jumpai adalah pada saat melakukan pembelajaran pendidikan jasmani adanya guru pendidikan jasmani yang sering hanya menekankan pembelajaran pada aspek kognitif dan psikomotor saja, untuk aspek afektif sangat minim sekali diperhatikan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Suherman & Mahendra (Budiman, 2009: 9), bahwa “Guru kurang mengembangkan domain afektif karena kurang melibatkan aktivitas yang dapat mengembangkan keterampilan sosial, kerjasama dan kesenangan siswa terhadap pendidikan jasmani.”

Individu yang memiliki kemampuan kecerdasan emosional yang lebih baik, dapat menjadi terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan untuk kerja akademis di sekolah lebih baik (Gottman,2001: 78). Oleh karenanya untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan emosional siswa perlu adanya program, salah satunya melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang dikemas oleh guru dalam menyajikan berbagai pendekatan atau model pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan siswa. Hal ini sesuai dengan yang diyakini oleh Husdarta (2011: 27), “Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri, membina ketekunan, dan motivasi diri. Hal ini diperkuat lagi jika proses pembelajaran direncanakan sebaik-baiknya”.

Perkembangan kecerdasan emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut; Temperamen (Kagan dalam Shapiro, 2003), keluarga (Gottman & DeClaire, 1998), teman sebaya (Asher dalam Salovey & Sluyter, 1997), sekolah (Salovey & Sluyter, 1997), seni (Mandler dalam Strongman, 2003), media cetak dan elektronik (Gottman & DeClaire, 1998), jenis kelamin (Petrides & Sangareau 2006) ) juga pendidikan kusus (Ulutas & Omeroglu 2007).

Salah satunya di lingkungan sekolah, kecerdasan emosional siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran pendidikan jasmani dengan berbagai model

(16)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pembelajaran yang disajikan, di antaranya adalah model Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching. Model pembelajaran pendidikan jasmani ini diharapkan akan memberikan dampak positif pada pengembangan kecerdasan emosional siswa. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa dari uraian diatas penulis dalam penelitian ini bermaksud membandingkan dua model pembelajaran yang berbeda dengan tujuan yang sama yakni melihat pengaruhnya terhadap kecerdasan emosional siswa yang dirasa memang perlu mendapat perhatian khusus, karena nantinya akan sangat mempengaruhi keberhasilan siswa di masa yang akan datang. Selain itu maksud dari penelitian ini penulis juga mencoba memberikan perlakuan terhadap siswa di SMP Negeri 1 Minas yang dirasa perlu karena sudah ada indikasi yang menjurus kepada rendahnya tingkat kecerdasan emosional siswa sebagaima yang sudah diungkapkan di bagian latar belakang.

Dalam pembelajaran pendidikan jasmani dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe TGT peserta didik akan dibiasakan untuk dapat bekerjasama dalam kelompok, berbuat yang terbaik untuk kepentingan kelompok, dan bisa lebih berani untuk tampil dalam kompetisi yang nantinya akan bermanfaat sebagai modal untuk hidup bermasyarakat yang kehidupan di dalamnya penuh dengan tantangan dan hambatan. Kemudian dalam proses pembelajaran dengan model Cooperative Learning tipe TGT, peserta didik juga mempunyai kesempatan yang sama dalam hal memberikan andil bagi kemenangan kelompoknya dengan menjadikan tahapan akhir dalam proses pembelajaran mendapatkan hadiah atau reward bagi kelompok yang terbaik, dari sinilah peserta didik diharapkan akan terbiasa juga untuk saling memberikan motivasi pada teman dalam kelompoknya maupun motivasi diri sendiri.

Sedangkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani dengan menggunakan model Peer Teaching, peserta didik diharapkan akan mampu untuk memberikan informasi yang berupa materi dari guru dengan bahasa yang mudah dimengerti dan jelas. Dari sini diharapkan dalam kelompok pembelajaran Peer Teaching, peserta didik

(17)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

diharapkan dapat saling menghargai teman yang sedang berdiri di depan sebagai tutor, begitu juga siswa yang sebagai tutee diharapkan mau untuk menyampaikan gagasan atau pertanyaannya tanpa rasa cemas atau malu. Begitu juga dalam proses pembelajaran ini peserta didik akan dibiasakan untuk bisa melakukan kerjasama dan komunikasi yang baik dalam setiap kegiatan pembelajaran.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Bertolak dari latar belakang penelitian dan identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu "Seberapa besar pengaruh model Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa?” Sedangkan rumusan masalah secara khusus adalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan model Cooperative Learning tipe TGT dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa?

2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan model Peer Teaching dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa? 3. Manakah yang paling berpengaruh secara signifikan antara model Cooperative

Learning tipe TGT dan Peer Teaching dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching pada pengembangan kecerdasan emosional siswa SMP kelas VII. Berikut merupakan tujuan secara khusus dalam penelitian ini :

(18)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Mengetahui pengaruh yang signifikan model Cooperative Learning tipe TGT dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa

2. Mengetahui pengaruh yang signifikan model Peer Teaching dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa

3. Mengetahui manakah yang paling berpengaruh secara signifikan antara model Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching dalam permainan bola besar terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa

E. Urgensi Penelitian

Pentingnya penelitian ini dilakukan karena kecerdasan emosional memegang peranan yang cukup dominan dalam mendukung siswa berhasil di masa yang akan datang. Salah satu komponen penting untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat adalah kemampuan untuk mengarahkan emosi secara baik. Dalam kenyataannya sekarang ini dapat dilihat bahwa orang yang ber- IQ tinggi belum tentu sukses dan belum tentu hidup bahagia. Kecerdasan emosional memegang peranan penting dalam menyukseskan dan membentuk anak, dan menghantarkan pada keberhasilan.

Lebih lanjut Goleman (2000: 48) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan permasalahan banyak ditentukan oleh kualitas kecerdasannya, sebagian dari kecerdasan yang dapat membantu dalam menyelesaikan permasalahan adalah kecerdasan yang berkaitan dengan aspek emosional. Seseorang yang cerdas dalam mengelola emosinya akan meningkatkan kualitas kepribadiannya.

Oleh karena itu faktor kecerdasan emosi anak harus diperhatikan sejak anak masih dalam ruang lingkup sekolah. Segala lingkungan yang ada di sekitar anak harus dikondisikan sedemikian rupa agar kondusif dalam membentuk kecerdasan emosi anak. Biasanya sikap para guru di sekolah adalah seolah tidak peduli dengan perkembangan kecerdasan emosi siswa. Maksudnya tidak peduli adalah bahwa para guru meremehkan keadaan lingkungan karena pastinya tak akan berpengaruh

(19)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

terhadap siswa. Anggapan seperti ini adalah salah satu sikap salah besar. Karena sebenarnya siswa memiliki kemampuan untuk menangkap dan mengingat segala kejadian yang dialami. Memang saat itu siswa tidak akan langsung mengungkapkan apa yang dilihatnya, namun suatu saat bisa jadi siswa akan mengungkapkan dan mengekspresikan memori yang pernah disimpannya. Tentunya ini akan menjadi masalah manakala yang diingat siswa adalah hal-hal yang berbau negatif.

Alasan kenapa kecerdasan emosional menjadi penting dikarenakan kebanyakan orang pasti akan menggunakan sisi emosionalnya dulu bila dibandingkan dengan sisi logisnya. Pendidikan yang salah kepada siswa akan bisa mengganggu perkembangan kecerdasan emosional anak. Dan saat ini kalau kita perhatikan dengan seksama, justru pendidikan yang kita berikan kepada siswa cenderung hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual semata. Sangat sedikit sekali pendidikan yang kita berikan dalam lingkup untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Hal seperti ini bertolak belakang dengan yang dijelaskan Lutan (2001: 64) yaitu: “Perkembangan kecerdasan emosi, sosial dan moral tidak dipandang sebagai dampak pengiring belaka, melainkan dapat dibina secara sengaja dan terarah sehingga menjadi bagian dari skenario dalam proses belajar-mengajar.

Pendidikan jasmani merupakan laboratorium bagi pengalaman manusia, karena dalam pendidikan jasmani menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan pengembangan karakter. Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani biasanya dengan contoh atau perilaku. Selain dari pada itu pendidikan jasmani begitu kaya akan pengalaman emosional dan aneka macam emosi yang terlibat di dalamnya. Kegiatan pendidikan jasmani yang berakar pada permainan, keterampilan dan ketangkasan memerlukan pengerahan energi untuk menghasilkan yang terbaik. Pantas rasanya jika kita setuju untuk mengemukakan bahwa pendidikan jasmani merupakan dasar atau alat pendidikan dalam membentuk manusia seutuhnya, dalam pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang behavior dalam membentuk

(20)

Cokro Wibowo, 2014

PENGARUH MOD EL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT D AN PEER TEACHING D ALAM PERMAINAN BOLA BESAR TERHAD AP PENGEMBANGAN KECERD ASAN EMOSIONAL SISWA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kemampuan manusia yang cerdas dalam emosional. Secara spesifik urgensi penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :

1. Secara Teoritis

a. Memberikan pemahaman lebih mendalam kepada guru pendidikan jasmani mengenai pentingnya model Cooperative Learning tipe TGT terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa.

b. Memberikan pemahaman lebih mendalam kepada guru pendidikan jasmani mengenai pentingnya model Peer Teaching terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa.

c. Sumbangan bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan jasmani pada tingkat Sekolah Menengah Pertama bahwa masalah kecerdasan emosional penting dikembangkan untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas sehingga secara kompetitif bisa bersaing dalam tataran global.

2. Secara Praktis

a. Memberikan gambaran guna menentukan praktik-praktik pengembangan kecerdasan emosional siswa di lapangan.

b. Digunakan oleh guru pendidikan jasmani untuk mengetahui bagaimana cara-cara penerapan model Cooperative Learning tipe TGT dan Peer Teaching dengan tepat.

c. Informasi dan masukan bagi lembaga-lembaga formal (sekolah) untuk lebih memperhatikan tingkat kecerdasan emosional yang dimiliki siswa.

d. Sebagai bahan informasi bagi siswa SMP Negeri 1 Minas mengenai aspek yang dinilai dalam hasil belajar pendidikan jasmani tidak hanya kecerdasan intelektual saja, akan tetapi kecerdasan emosional juga dinilai dalam pembelajaran.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam latihan teknik Pada materi permainan bola besar (sepak bola, bola voli, dan bola basket) semester genap ini akan membahas mengenai variasi dan kombinasi gerakan teknik dasar

kemampuan siswa melakukan teknik dasar passing atas dalam permainan bola. voli dengan menggunkan metode explicit instruction pada siswa kelas VII

Dalam meningkatkan kemampuan passing bawah pada cabang permainan bola voli pada siswa SMP Negeri 1 Randangan, dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran STAD

Untuk mengakomodasi kreatifitas dan kebebasan siswa dalam mengikuti aktivitas pembelajaran permainan sepak bola, seorang guru penjas bisa menggunakan metode, model

Diharapkan dengan penelitian implementasi pendidikan nilai melalui pengajaran permainan beregu dalam pendidikan jasmani, masalah rendahnya sikap tanggung jawab siswa

Dalam permainan bola voli sering juga terjadi kesalahan saat melakukan passing yang di lakukan oleh seorang pemain karena kurangnya berkonsentrasi, nerveous

Pengaruh Pendekatan Taktis Dan Tradisional Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Keterampilan Sepak Bola (Eksperimen Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Tasikmalaya

Dalam permainan bola tangan teknik passing, dribbling, dan flying shoot sangat penting untuk dikuasai oleh siswa, karena apabila keterampilan teknik dasar bola