• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN Jurnal Akuntanika, Vol. 7, No. 1, Januari - Juni 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN Jurnal Akuntanika, Vol. 7, No. 1, Januari - Juni 2021"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH RISIKO BISNIS, PROFITABILITAS, STRUKTUR ASET DAN LIKUIDITAS

TERHADAP STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

Indriani Indah Astuti

Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Sriwijaya email: [email protected]

Abstract

This study was conducted to examine the effect of business risk, profitability, asset structure and liquidity on capital structure at manufacturing companies in BEI. The purpose of this study is to determine and analyze the presence or absence of the influence of business risk, profitability, asset structure and liquidity to the capital structure of manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2011 to 2015. The total sample of this study is 35 companies determined through purposive sampling. The data analysis uses panel data regression that was previously tested to determine the effect in the panel regression estimation model. Based on the results of the classical assumption test, the research data has met the conditions in the use of panel data regression. Model is estimated using Random Effect Model (REM). The results show that business risk, profitability, asset structure and liquidity significantly affect the capital structure. Significant negative business risk, profitability and significant positive asset structure affect the capital structure, while liquidity does not significantly affect the capital structure.

Keywords: Business Risk, Profitability, Asset Structure, Liquidity, Capital Structure.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Modal dalam hal ini adalah modal finansial merupakan salah satu faktor produksi yang berperan penting dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Penggunaan hutang dalam sumber pendanaan diharapkan mampu menekan biaya modal yang pada akhirnya meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Pemenuhan kebutuhan modal merupakan salah satu keputusan strategis yang harus diambil oleh manajemen. Keputusan yang salah tentang struktur modal akan menyebabkan perusahaan mengarah kepada financial distress atau bahkan menuju kebangkrutan. Sebaliknya, keputusan struktur modal yang tepat akan mampu meningkatkan efisiensi biaya modal dan nilai perusahaan (Utomo, 2013).

Untuk dapat menetapkan struktur modal yang optimal dalam keputusan pendanaannya, perusahaan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi sumber-sumber dana ekonomis guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya. Untuk itu, dalam penetapan struktur modal, perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang

mempengaruhinya (Bayunitri, 2015). Beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan diantaranya adalah risiko bisnis, kebijakan dividen, dan profitabilitas.

Risiko Bisnis adalah ketidakpastian yang dialami perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya (Pradana, 2013). Perusahaan harus bijak dalam menentukan tingkat hutang yang digunakan, karena dari struktur modal tersebut investor dapat mengetahui keseimbangan antara risk dan return.

Pada umumnya perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi menggunakan utang yang relatif kecil. Tingkat keuntungan yang tinggi memungkinkan mereka untuk memperoleh sebagian besar pendanaan dari laba ditahan. Dalam hal ini perusahaan akan cenderung memilih laba ditahan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan.

Struktur aset merupakan salah salah satu faktor penting pada capital structure atau keputusan pendanaan perusahaan, karena apabila perusahaan dihadapkan pada kondisi kesulitan keuangan dalam membayar hutangnya, aset-aset berwujud atau aset tetap yang dimiliki perusahaan dapat bertindak

(2)

2

sebagai jaminan kepada pihak luar yang

memberikan pinjaman.

Likuiditas merupakan tingkat kemampuaan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang dimiliki. Semakin besar rasio likuiditas suatu perusahaan maka semakin besar kemampuaan perusahaan tersebut membayar kewajiban dan sebaliknya. Perusahaan yang mempunyai likuiditas yang tinggi akan cenderung tidak menggunakan pembiayaan dari hutang.

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memiliki rata-rata struktur modal terbesar dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, sektor-sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan sektor yang penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara. Peran yang begitu besar pada sektor industri manufaktur terhadap perekonomian negara menjadi daya tarik untuk dilakukan penelitian tentang struktur modal pada industri tersebut. Permasalahan yang sedang dihadapi adalah tingginya tingkat hutang yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan manufaktur yang go publik di BEI. Hal ini mencerminkan bahwa ketergantungan para perusahaan manufaktur di Indonesia yang go publik di BEI terhadap pihak luar sangatlah besar.

Penelitian tentang struktur modal menarik untuk diteliti karena berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya masih ditemukan hasil-hasil penelitian yang kontroversi antara variabel dependent (X) terhadap variabel independent (Y). Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini tidak hanya untuk mengetahui pengaruh risiko bisnis dan profitabilitas terhadap struktur modal perusahaan tetapi juga menambahkan struktur aset dan likuiditas sebagai variabel independennya. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian Handayani (2011) yang menyatakan risiko bisnis dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di Indonesia pada tahun 2011 sampai dengan 2015.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di Indonesia pada tahun 2011 sampai dengan 2015.

TINJAUAN LITERATUR Grand Theory

Teori Pecking Order menjelaskan mengenai pengambilan suatu keputusan pendanaan perusahaan dengan menentukan sumber dana yang paling disukai. Pecking order theory merupakan suatu kebijakan yang ditempuh oleh suatu perusahaan untuk mencari tambahan dana dengan cara menjual asset yang dimilikinya. Teori ini menjelaskan keputusan pendanaan yang diambil oleh perusahaan (Donaldson, 1961). Secara ringkas, teori ini menyatakan bahwa:

1. Perusahaan menyukai internal financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan). 2. Perusahaan mencoba menyesuaikan rasio

pembagian dividen yang ditargetkan, dengan berusaha menghindari perubahan pembayaran dividen secara drastis.

3. Kebijakan dividen yang relatif segan untuk diubah, disertai dengan fluktuasi profitabilitas dan kesempatan investasi yang tidak bisa diduga, mengakibatkan bahwa dana hasil operasi kadang-kadang melebihi kebutuhan dan untuk investasi, meskipun pada kesempatan yang lain, mungkin kurang. Apabila dana hasil operasi kurang dari kebutuhan investasi, maka perusahaan akan mengurangi saldo kas atau menjual sekuritas yang dimiliki.

4. Apabila pendanaan dari luar diperlukan, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dulu, yaitu dimulai dengan penerbitan obligasi, kemudian diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi), baru akhirnya apabila masih belum mencukupi, saham baru diterbitkan.

Teori pecking order menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai urut-urutan preferensi dalam memilih sumber pendanaan. Perusahaan-perusahaan yang profitable umumnya meminjam dalam jumlah yang sedikit. Hal tersebut bukan karena mereka mempunyai target rasio hutang yang rendah, tetapi karena memang mereka membutuhkan external financing yang sedikit. Perusahaan–

(3)

3

perusahaan yang kurang profitable cenderung

mempunyai hutang yang lebih besar karena alasan dana internal yang tidak mencukupi kebutuhan dan karena hutang merupakan sumber eksternal yang lebih disukai. Pendanaan internal lebih disukai karena hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk tidak membuka diri lagi terhadap pihak luar. Dalam pendanaan eksternal, hutang lebih disukai daripada modal sendiri karena pertimbangan biaya emisi obligasi akan lebih murah dibanding dengan biaya emisi saham. Selain itu manajemen juga mengkhawatirkan apabila melakukan penerbitan saham baru dipandang sebagai hal yang negatif oleh para pemodal, hal tersebut tentunya berdampak buruk bagi harga saham (Husnan, 2010).

Teori sinyal (signalling theory) berawal dari tulisan Akerlof pada karyanya ditahun 1970 “The Market for Lemons”, yang memperkenalkan istilah informasi asimetris (assymetri information). Signaling berakar dalam gagasan informasi asimetris , yang mengatakan bahwa dalam beberapa transaksi ekonomi, ketidaksetaraan dalam akses ke informasi pasar normal untuk pertukaran barang dan jasa. Pada tahun 1973, seminalis Spence mengusulkan agar kedua pihak bisa mendapatkan sekitar masalah informasi asimetris dengan memiliki salah satu pihak mengirimkan sinyal yang akan mengungkapkan beberapa bagian informasi yang relevan kepada pihak lain.

Prinsip signaling ini mengajarkan bahwa setiap tindakan mengandung informasi. Hal ini disebabkan karena adanya asymetric information. Asymmetric information adalah kondisi dimana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak daripada pihak lain. Teori sinyal juga dapat membantu pihak perusahaan (agent), pemilik (prinsipal), dan pihak luar perusahaan mengurangi asimetri informasi dengan menghasilkan kualitas atau integritas informasi laporan keuangan. Untuk memastikan pihak-pihak yang berkepentingan meyakini keandalan informasi keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agent), perlu mendapatkan opini dari pihak lain yang bebas memberikan pendapat tentang laporan keuangan.

Teori agensi menjelaskan pentingnya delegasi otoritas dari pihak prinsipal ke pihak agen dalam kontrak yang telah disepakati karena hal ini berkaitan dengan pertanggungjawaban agen kepada prinsipal.

Dalam kontrak ini akan muncul biaya agen (agency cost) yang ditanggung oleh kedua belah pihak.

Struktur Modal

Tujuan dari manajemen struktur modal atau capital structure management adalah menggabungkan sumber – sumber dana yang digunakan perusahaan untuk membiayai operasi. Dengan kata lain, tujuan ini dapat dilihat sebagai pencarian gabungan dana yang akan meminimumkan biaya modal dan dapat memaksimalkan harga saham. Struktur modal yang demikian, dapat kita sebut sebagai struktur modal yang optimal. Konsep penting manajemen modal adalah masalah sumber dana dan penggunaan dana. Dana dapat dipenuhi dari sumber intern ataupun sumber ekstern perusahaan. Dana tersebut dialokasikan untuk membelanjai aktiva perusahaan. Pada hakekatnya, pemenuhan dan pengalokasian dana menyangkut masalah keseimbangan finansial dalam perusahaan, yaitu mengadakan keseimbangan finansial antara aktiva dengan pasiva tersebut dengan sebaik – baiknya. Keseimbangan finansial dapai dicapai, apabila perusahaan tersebut selama menjalankan fungsinya tidak menghadapi gangguan – gangguan finansial yang disebabkan tidak adanya keseimbangan antara jumlah modal yang tersedia dengan modal yang dibutuhkan.

Risiko Bisnis

Risiko bisnis adalah risiko aset perusahaan jika perusahaan tidak menggunakan hutang. Risiko bisnis dapat meningkat ketika perusahaan menggunakan hutang yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan pendanaannya. Risiko timbul seiring dengan munculnya beban biaya atas pinjaman yang dilakukan perusahaan. Semakin besar beban biaya yang harus ditanggung maka semakin risiko yang dihadapi perusahaan juga semakin besar (Brigham, 2011). Berdasarkan pecking order theory, perusahaan cenderung memilih pendanaaan berdasarkan urutan risiko. Jadi, perusahaan lebih memilih pendanaan dari sumber dana internal baru kemudian sumber dana eksternal. Dalam menentukan pendanaan dari sumber eksternal, perusahaan umumnya lebih memilih cara hutang daripada pemenuhan modal sendiri. Di sisi lain, apabila perusahaan mengadakan evaluasi terhadap rencana-rencana proyek investasi, pada umumnya terdapat pola di mana harus proyek- proyek yang memberikan

(4)

4

harapan hasil yang disertai dengan tingkat

risiko yang tinggi. Sebaliknya proyek-proyek yang menawarkan hasil yang rendah memliki tingkat risiko yang rendah pula.

Profitabilitas

Profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan (Kasmir, 2010). Implikasi pecking order theory adalah perusahaan yang mempunyai profit tinggi, akan menggunakan utang dalam jumlah rendah, dan sebaliknya. Perusahaan yang mempunyai profit tinggi memungkinkan mereka untuk menggunakan laba ditahan (retained earning) sebagai sumber pendanaan perusahaan dari dalam. Alasannya, biaya dana internal lebih murah dibanding biaya dana eksternal. Sementara perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan hutang yang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap struktur modal dengan didasarkan bahwa perusahaan yang mempunyai profitabilitas yang tinggi akan mengurangi tingkat ketergantungannya pada pihak luar, karena tingkat keuntungan yang tinggi memungkinkan perusahaan untuk memperoleh sebagian besar pendanaannya dari laba ditahan dan hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap penentuan komposisi struktur modal.

Aset tetap adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang secara fisik tampak dan turut berperan dalam operasi perusahaan secara permanen, selain itu mempunyai umur ekonomis lebih dari satu periode dalam kegiatan perusahaan seperti tanah, gedung, mesin, peralatan kantor, kendaraan. Struktur aset dapat dipandang dari objek operasional yang pada dasarnya menggolongkan aset dalam perbandingan tertentu untuk keperluan operasi utama perusahaan. Perusahaan yang asetnya memadai atau aktivanya memiliki perbandingan aktiva tetap jangka panjang lebih besar akan menggunakan utang jangka panjang lebih

banyak karena aktiva tetap yang dapat digunakan sebagai jaminan utang. . Semakin tinggi struktur aset maka semakin tinggi struktur modalnya berarti semakin besar aset tetap yang dapat dijadikan agunan utang oleh perusahaan tersebut. Oleh karena itu struktur aset mempunyai pengaruh terhadap struktur modal.

Struktur Aset

Struktur aset merupakan sisi sebelah kiri neraca (aktiva perusahaan yang harus dibelanjai). Perbandingan atau perimbangan antara aset lancar dan aset tetap akan menentukan struktur kekayaan. Dalam penelitian ini, struktur aset diukur dengan membandingkan antara aset tetap terhadap total aset.

Likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya yang jatuh tempo. Secara khusus jika ditinjau dari kebijakan yang dilakukan manajer dalam mengatur aktiva perusahaan, maka likuiditas dapat diartikan sebagai proporsi dari aktiva perusahaan yang diinvestasikan ke dalam kas dan marketable securities atau surat berharga. Rasio antara kas ditambah marketable securities terhadap total asset ini pada dasarnya kan rasio yang menunjukkan cash position. Current Ratio merupakan salah satu ukuran likuiditas yang dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan hutang atau kewajiban lancar. Semakin tinggi Current Ratio berarti semakin besar kemampuan perusahan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dalam penelitian ini likuiditas menggunakan proksi current ratio. Current Ratio merupakan salah satu ukuran likuiditas yang dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan hutang atau kewajiban lancar. Semakin tinggi Current Ratio berarti semakin besar kemampuan perusahan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Studi mendapatkan bahwa likuiditas memainkan peranan yang sangat penting dalam faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal. Menurut teori pertukaran dalam struktur modal ada hubungan yang positif diantara struktur kepemilikan dan likuiditas aset pada perusahaan. Rasio likuiditas aset yang tinggi dapat dipertimbangkan oleh investor untuk menjadi sinyal positif karena itu mengindikasikan bahwa perusahaan dapat dengan mudah membayar obligasinnya dan

(5)

5

dihadapkan pada risiko kebangkrutan yang

rendah.

Pengaruh risiko bisnis terhadap struktur modal

Pradana (2013) melakukan penelitian pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010-2012. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda, uji statistik deskriptif, dan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko bisnis, struktur aset, ukuran dan pertumbuhan penjualan secara bersama-sama berpengaruh terhadap struktur modal. Hasil uji parsial (uji t) menunjukan bahwa risiko bisnis tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja struktur modal.

Ferdiansya (2013) yang melakukan penelitian terhadap perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2002-2011, dengan metode analisis regresi linear berganda menyatakan bahwa baik secara bersama-sama maupun secara parsial risiko bisnis berpengaruh signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan pertambangan. Sedangkan penelitian Handayani (2011) yang menggunakan metode analisis linear berganda menemukan bahwa risiko bisnis memiliki nilai koefisien positif yang menunjukkan bahwa semakin kecil risiko bisnis maka semakin kecil struktur modal, investor yang memiliki sifat risk seeker akan tidak tertarik dengan perusahaan yang memiliki risiko yang rendah dan akan lebih tertarik dengan perusahaan yang berisiko tinggi, karena investor beranggapan bahwa dengan risiko tinggi maka return yang didapat akan semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa risiko bisnis tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada risiko bisnis sebagai variabel dependen nya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada objek penelitian, periode yang diamati serta penelitian ini menguji kembali pengaruh risiko bisnis terhadap struktur modal dengan menambahkan variabel yang berbeda.

Pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal

Penelitian Handayani (2011) yang menggunakan metode analisis regresi linear berganda, menunjukkan bahwa profitabilitas

memiliki koefisien positif sebesar 0,283 yang berarti semakin besar profitabilitas yang diperoleh peroleh perusahaan maka semakin besar struktur modal, variabel profitabilitas memiliki signifikansi 0,111 lebih besar dari 0,05 yang memunjukkan bahwa variabel profitabilitas tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal perusahaan.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah menjadikan profitabilitas sebagai variabel dependen. Sedangkan perbedaannya adalah pada objek penelitian dan periode yang diamati pada penelitian ini serta menambahkan variabel lain untuk menguji sejauh mana korelasi dengan struktur modal apabila ditambahkan varibel yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Pengaruh struktur aset terhadap struktur modal

Penelitian Habibah (2015), bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, struktur aset, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal perusahaan. Teknik analisa yang digunakan adalah analisa regresi berganda.Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari 4 variabel yang digunakan model penelitian yaitu profitabilitas, struktur aset, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan yang menunjukkan mempunyai pengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan consumer goods industry adalah variabel profitabilitas, struktur aset, dan likuiditas.

Pada penelitian Santika dan Sudiyatno (2011), menguji pengaruh pertumbuhan penjualan, struktur aktiva dan profitabilitas terhadap struktur modal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan. Jadi, penentuan alokasi untuk masing-masing komponen aktiva, baik dalam aktiva lancar maupun dalam aktiva tetap tidak mempengaruhi struktur modal.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah menjadikan struktur aset sebagai variabel dependen. Sedangkan perbedaannya adalah pada objek penelitian dan periode yang diamati pada penelitian ini serta menambahkan variabel lain untuk menguji sejauh mana korelasi dengan struktur modal apabila ditambahkan varibel yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.

(6)

6

Pengaruh likuiditas terhadap struktur

modal

Penelitian Habibah (2015), yang menganalisis pengaruh profitabilitas, struktur aset, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal perusahaan. Teknik analisa yang digunakan adalah analisa regresi berganda.Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari 4 variabel yang digunakan model penelitian yaitu profitabilitas, struktur aset, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan yang menunjukkan mempunyai pengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan consumer goods industry adalah variabel profitabilitas, struktur aset, dan likuiditas.

Penelitian Handayani (2011), yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan publik sektor manufaktur menemukan bahwa likuiditas (CR) memiliki koefisien positif, yaitu sebesar 0,002. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi likuiditas perusahaan maka semakin tinggi struktur modal. Semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam melunasi

kewajiban-kewajiban jangka pendeknya maka hal tersebut dapat mengindikasikan perusahaan berada dalam keadaan yang sehat. Hal tersebut akan mempermudah perusahaan untuk memperoleh kewajiban jangka panjang yang berasal dari pihak luar perusahaan. Variabel likuiditas memiliki nilai signifikansi 0,876 lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel likuiditas tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal perusahaan.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada likuiditas sebagai variabel dependen nya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada objek penelitian, periode yang diamati serta penelitian ini menguji kembali pengaruh likuiditas terhadap struktur modal dengan menambahkan variabel yang berbeda.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka alur kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti berikut:

Variabel X

Variabel Y

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Pada penelitian Handayani (2011) menunjukkan bahwa variabel profitabilitas, risiko bisnis dan likuiditas tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal perusahaan. Variabel profitabilitas (ROE) memiliki koefisien positif, menunjukkan bahwa semakin besar profitabilitas yang diperoleh perusahaan maka semakin besar struktur modal, sebaliknya semakin kecil profitabilitas maka semakin kecil struktur modal. Variabel risiko bisnis (Brisk) juga memiliki koefisien positif, yang menunjukkan bahwa semakin kecil resiko bisnis maka semakin kecil struktur modal. Variabel likuiditas memiliki koefisien positif yang menunjukkan bahwa semakin tinggi likuiditas perusahaan maka semakin tinggi struktur modal.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:

Risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas berpengaruh positif terhadap struktur modal.

METODE PENELITIAN

Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Data

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur atau sektor industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015 yang berjumlah 143 perusahaan. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan sampel

Risiko

Bisnis

( RB

)

Profitabilita

s

( PF

)

Struktur

Aset

( SA

)

Struktur

Modal

( SM )

Likuiditas

(LK)

(

(7)

7

penelitian. Adapun kriteria sampel yang akan

digunakan sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur atau sektor industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011-2015 yang dapat diakses (tidak underconstruction) saat pengumpulan data dilakukan.

2. Mempublikasikan laporan keuangan tahunan (financial statements) lengkap selama periode tahun 2011-2015 dan menyajikan laporan dalam satuan mata uang Rupiah. 3. Perusahaan membayarkan dividen secara

terus menerus dalam periode tahun 2011 sampai dengan tahun 2015.

4. Perusahaan memperoleh laba secara terus menerus dalam periode tahun 2011 sampai dengan tahun 2015.

Berdasarkan kriteria sampel di atas, maka didapatkan 35 perusahaan industri manufaktur dan periode 5 tahun (2011-2015) sebagai time series, sehingga didapatkan 175 unit analisis. Data penelitian merupakan data sekunder, yaitu publikasi annual report perusahaan sampel periode 2011-2015.

Penelusuran pengumpulan data dilakukan melalui akses pada website. Peneliti melakukan observasi non prilaku. Dengan metode ini semua data diperoleh melalui pengumpulan data dengan cara mengamati, mencatat serta mempelajari uraian – uraian dari buku – buku, karya ilmiah berupa jurnal, tesis dan dokumen – dokumen yang terdapat dalam Indonesian Capital Market Directory ( ICMD ) tahun 2011-2015.

Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah struktur modal yang diproksikan dengan debt to equity ratio (DER). Debt to equity ratio merupakan rasio antara hutang dengan modal sendiri. Rasio ini menggambarkan tentang bagaimana pembiayaan perusahaan menggunakan hutang dibandingkan dengan menggunakan modal sendiri.

Variabel Independen Risiko Bisnis

Risiko bisnis (BRISK), adalah risiko dasar selain risiko keuangan yang dimiliki oleh perusahaan yang menggunakan leverage atau tidak, dan menjadi tambahan risiko bagi perusahaan yang menggunakan utang. Maka digunakan perhitungan:

Profitabilitas

Return on equity adalah rasio profitabilitas yang dihitung dengan cara membagi laba setelah pajak atau laba bersih dengan total equity. Return on equity menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas penggunaan modal sendiri.

Rumus menghitung ROE adalah (Kasmir, 2010):

Struktur Aset

Struktur Aset adalah gambaran jumlah aset yang dapat dijadikan jaminan. Struktur Aset adalah perimbangan atau perbandingan antara aset tetap dengan total aset. Cara mengukurnya adalah sebagai berikut (Weston, 1995):

Struktur Aset = Aset Tetap × 100% Total Aset

Likuiditas

Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan dalam membiayai dan memenuhi kewajiban atau utang pada saat ditagih atau jatuh tempo. Pengukuran variabel ini dengan menggunakan skala rasio yang dapat dinyatakan dalam rumus berikut ini (Kasmir, 2010):

Current Ratio = Aktiva Lancar × 100% Utang Lancar

Metode Analisis Data

Metode regresi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis regresi data panel. Analisis ini dipergunakan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai pengaruh risiko bisnis, kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan sektor manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015 dengan bantuan program Eviews 8.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data panel. Data panel adalah gabungan antara data runtut waktu (time series) dan data silang (cross section). Penggunaan

(8)

8

panel data dalam penelitian ekonomi memiliki

beberapa keuntungan utama dibandingkan data jenis cross section maupun time series. Regresi data panel dimulai dengan penentuan efek dalam model sehingga diperoleh model estimasi yang paling tepat. Penentuan efek dilakukan dengan uji Chow, uji Husman dan uji Lagrange Multiplier. Hasil dari uji penentuan efek tersebut kemudian dapat digunakan untuk uji hipotesis. Pengujian hipotesis terdiri dari uji koefisien determinasi (R2), Uji statistik F dan uji statistik t.

Penelitian ini menggunakan model persamaan data panel yang merupakan gabungan dari data cross section dan data time series. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan model regresi data panel sebagai berikut:

SMit = α + β1RBit + β2PFit + β3SAit + β4LKit + εit

Keterangan:

SM = variabel struktur modal α = konstanta,

nilai Y apabila RB=PF=SA=LK=0 β1, β2, β3, β4 = koefisien regresi panel RB = variabel risiko bisnis

PF = variabel profitabilitas SA = variabel struktur aset LK = variabel likuiditas ε = Standard Error

HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif

Hasil analisis deskriptif dari variabel penelitian

Tabel 1 Statistik Deskriptif

Mean Maks Min Std. Dev.

SM 63.72 303.00 1.00 54.4335 RB 16.34 88.00 -1.00 11.2079 PF 27.80 207.00 0.15 34.5600 SA LK 35.14 266.59 84.29 1174.28 5.07 51.39 18.0438 180.6767 Sumber: data diolah

Tabel 1 menunjukkan terlihat bahwa nilai variabel struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2011-2015 memiliki nilai terendah 1.00, tertinggi 303.00 dengan rata-rata 63.72 dan nilai standar deviasi sebesar 54.4335. Variabel risiko bisnis mempunyai nilai

terendah -1.00, nilai tertinggi 88.00 dengan rata-rata risiko bisnis sebesar 63.72 dan standar deviasi sebesar 11.2079. Selanjutnya variabel profitabilitas mempunyai nilai terendah 0.15, nilai tertinggi 207.00 dengan nilai rata-rata 27.80 dan standar deviasi sebesar 34.56. Kemudian variabel struktur aset mempunyai nilai terendah 5.07, nilai tertinggi 84.29 dengan nilai rata-rata 35.14 dan standar deviasi sebesar 18.0438. Dan variabel likuiditas yang mempunyai nilai terendah 51.39, nilai tertinggi 1174.28 dengan nilai rata-rata 266.59 dan standar deviasi sebesar 180.6767.

Nilai standar deviasi digunakan untuk menggambarkan seberapa besar keragaman sampel penelitian. Tiga variabel, berdasarkan Tabel 4.13, menunjukkan nilai standar deviasi di bawah nilai mean. Nilai lebih kecil dibandingkan nilai mean, maka nilai mean dapat digunakan sebagai representasi dari keseluruhan data variabel penelitian. Jika nilai standar deviasi jauh lebih besar dibandingkan nilai mean, maka nilai mean merupakan representasi yang kurang merepresentasikan keseluruhan data, seperti pada variabel profitabilitas yang mempunyai nilai mean lebih kecil daripada standar deviasinya.

Analisis Data Panel

Hasil estimasi terhadap model regresi data panel pengaruh risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas terhadap struktur modal dapat dilihat sebagai berikut:

1. Common Effect Model

Hasil regresi yang menggunakan Pooled Least Square dapat dilihat pada lampiran 8, bahwa nilai prob (F-statistic) yaitu 0.000 < nilai signifikansi 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa secara bersama risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas signifikan memengaruhi struktur modal.

2. Fixed Effect Model

Hasil regresi yang menggunakan Pooled Least Square dengan metode estimasi fixed dapat dilihat pada lampiran 9, bahwa nilai prob (F-statistic) nya yaitu 0.000 < nilai signifikansi 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa secara bersama risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas signifikan memengaruhi struktur modal.

3. Random Effect Model

Hasil regresi yang menggunakan Pooled EGLS dengan metode estimasi random dapat dilihat pada lampiran 10, bahwa nilai prob (F-statistic) nya 0.000 < nilai signifikansi

(9)

9

0.05, maka dapat disimpulkan bahwa secara

bersama risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas signifikan memengaruhi struktur modal.

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik pada penelitian ini

hanya dilakukan untuk uji

heteroskedastisitasnya. Heteroskedastisitas biasanya terjadi pada jenis data cross section. Karena regresi data panel memiliki karakteristik tersebut, maka ada kemungkinan terjadi heteroskedastisitas. Dari ketiga model regresi data panel hanya CE dan FE saja yang memungkinkan terjadinya heteroskedastisitas, sedangkan RE tidak terjadi. Hal ini dikarenakan estimasi CE dan FE masih menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) sedangkan RE sudah menggunakan Generalize Least Square (GLS) yang merupakan salah satu teknik penyembuhan regresi.

Model regresi data panel yang dipilih untuk digunakan adalah Random Effect Model, maka dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan pada penelitian ini adalah bebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Hasil Pengujian Efek Model Uji Chow

Chow test atau uji chow dilakukan untuk menentukan apakah lebih tepat menggunakan model Common Effect atau Fixed Effect dalam model estimasi. Hipotesis uji chow adalah: H0 : Common effect model

H1 : Fixed effect model

Kriteria pengujian menyatakan jika statistik uji chi square dengan probabilitas < level of significance (=5%) maka H0 ditolak. Hasil pengujian efek model menggunakan uji Chow dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Uji Chow Sumber: data diolah

Berdasarkan Tabel 2 terlihat nilai probabilitas chi-square=0.00 < =0.05, maka dapat diambil kesimpulan tolak H0. Dengan demikian model estimasi yang digunakan adalah fixed effect model.

Uji Hausman

Uji Hausman digunakan untuk mengetahui apakah model yang tepat menggunakan fixed

effect atau random effect. Hipotesis uji husman adalah:

H0 : Random effect model H1 : Fixed effect model

Kriteria pengujian menyatakan jika statistik uji chi square dengan probabilitas < level of significance (=5%) maka H0 ditolak. Hasil uji hausman ditunjukkan pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3 Hasil Uji Hausman

Test Summary

Chi-Sq.

Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section

random 4.737687 4 0.3153

Sumber: data diolah

Tabel 3 menunjukkan nilai probabilitas chi-square=0.1466 > =0.05, maka dapat diambil kesimpulan menerima. Dengan demikian model estimasi regresi panel yang tepat adalah random effect model.

Hasil uji-uji di atas menunjukkan bahwa model regresi yang terbaik untuk dipilih adalah Random Effect Model karena hasil uji Hausman menunjukkan hasil untuk memilih RE sebagai model terbaik untuk mengestimasi model data panel pada penelitian ini.

Hasil Pengujian Hipotesis Uji Koefisien Determinasi (R2)

Berdasarkan Tabel 4 terlihat nilai R-Square menunjukkan variabel risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas mampu menjelaskan variabel struktur modal sebesar 17,32 persen dan sisanya sebesar 82,68% dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel yang digunakan.

Tabel 4 Nilai R-Square

Variabel Adjusted R-Square

SM 0.173211

Sumber: data diolah

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 14.324250 (34,136) 0.0000 Cross-section Chi-square 266.33791 7 34 0.0000

(10)

10

Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa nilai probabilitas adalah 0.0000 < level of significance (=5%). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas secara simultan mempengaruhi struktur modal.

Tabel 5 Hasil Uji F-Statistik

Nilai

F-statistic 10.11318

Prob(F-statistic) 0.00000

Sumber: data diolah

Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Kriteria pengujian menyatakan jika probabilitas < level of significance (=5%). Uji signifikansi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Hasil Uji t

Variabel Koef t-Stat Prob

SM 33.1094 2.010 0.0453

RB -0.7306 -2.703 0.0076

PF 0.5114 3.875 0.0002

SA 1.0765 3.244 0.0014

LK -0.0356 -1.959 0.0516 Sumber: data diolah

Hasil persamaan regresi di atas menunjukkan bahwa variabel struktur modal akan sebesar 33.1094 apabila tidak ada variable risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas. Koefisien risiko bisnis (-0.7306) dan likuiditas (-0.0356) yang bertanda negatif berarti apabila terjadi kenaikan 1% maka akan menurunkan nilai struktur modal sebesar koefisien tersebut. Hasil empiris risiko bisnis dan likuiditas juga bertentangan dengan yang teori dan hipotesis yang ada.

Profitabilitas (0.5114) dan struktur aset (1.0765) bertanda positif menunjukkan apabila terjadi kenaikan 1% maka nilai struktur modal akan meningkat sebesar koefisien masing-masing variabel tersebut. Variabel-variabel tersebut telah searah, baik dengan teori, hipotesis maupun hasil empiris.

Pada koefisien struktur modal dari masing-masing perusahaan sampel yang diteliti oleh peneliti, nilai intersep akhir pada Random Effect akan berbeda satu sama lain karena nilai individual effect ditambahkan dengan nilai intersepnya. Jadi, makin besar individual

effectnya, makin besar juga intersep akhir untuk masing-masing perusahaan sampel.

Hasil perhitungan intersep akhir menunjukkan nilai tertinggi diperoleh oleh Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) sebesar 134.2806. Di sisi lain, nilai terendah diperoleh oleh Semen Indonesia Tbk (SMGR) sebesar -54.3463. Intersep tersebut menjelaskan struktur modal yang dilakukan oleh perusahaan sampel. Keseluruhan nilai intersep bertanda negatif dikarenakan struktur modal perusahaan masih belum mempunyai struktur modal yang dikatakan baik atau seimbang. Nilai intersep yang cukup tinggi diperoleh oleh perusahaan yang mempunyai struktur modal yang telah baik atau seimbang. Nilai intersep terendah sebagaian besar terdapat pada perusahaan yang belum memiliki struktur modal yang baik.

Pengaruh Risiko Bisnis, Profitabilitas, Struktur Aset dan Likuiditas terhadap Struktur Modal

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas secara bersama-sama dan signifikan memengaruhi struktur modal suatu perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investor melihat variabel-variabel independen diatas sebagai tolok ukur dalam menilai seberapa baik struktur modal dari suatu perusahaan, sehingga para investor bisa mengambil kebijakan dalam melakukan investasi. Pihak manajemen perusahaan juga bisa menilai kinerja perusahaan dengan melihat struktur modalnya.

Pengaruh Risiko Bisnis terhadap Struktur Modal

Hasil penelitian ini mengidentifikasikan bahwa bussiness risk secara signifikan memengaruhi struktur modal, hal ini ditandai dengan nilai signifikansi lebih kecil dari α = 5% dan bentuk pengaruhnya adalah negatif. Hal ini tidak sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi risiko bisnis maka semakin tinggi tingkat DER. Penelitian ini menyatakan bahwa semakin rendah tingkat risiko bisnis maka semakin tinggi struktur modal pada perusahaan.

Hasil pengujian menunjukkan risiko bisnis perusahaan mempengaruhi struktur modal perusahaan, dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa risiko bisnis berpengaruh positif terhadap struktur modal ditolak. Karena dilihat dari fakta dilapangan,

(11)

11

sebanyak 22 perusahaan sampel memiliki

hubungan negatif antara risiko bisnis dan struktur modal. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mengurangi tingkat utang jangka panjang setiap tahun dikarenakan tingkat risiko bisnis yang semakin tinggi. Dan dapat pula diartikan perusahaan-perusahaan tersebut meningkatkan jumlah utang jangka panjangnya dikarenakan tingkat risiko bisnis yang semakin menurun, pihak perusahaan meyakini akan mampu melakukan pengembalian pada saat jatuh temponya.

Perusahaan yang dijadikan sampel adalah perusahaan manufaktur sehingga perusahaan akan membutuhkan banyak dana untuk kegiatan produksinya. Perusahaan yang memiliki risiko bisnis yang kecil maka perusahaan tersebut tidak ragu untuk melakukan peminjaman karena perusahaan tersebut yakin dapat melakukan pengembalian utangnya pada masa jatuh temponya.

Pengaruh Profitabilitas terhadap Struktur Modal

Hasil penelitian ini mengidentifikasikan bahwa return on equity secara signifikan memengaruhi struktur modal, hal ini ditandai dengan nilai signifikansi lebih besar dari α = 5% dan bentuk pengaruhnya adalah positif. Hal ini menyatakan bahwa semakin tinggi return on equity suatu perusahaan maka semakin tinggi tingkat DER atau struktur modal perusahaan tersebut, dan apabila return on equity nya rendah maka tingkat DER atau struktur modal juga rendah.

Profitabilitas (return on equity) yang rendah disebabkan karena perusahaan dengan kondisi keuangan yang baik melakukan peminjaman uang yang lebih sedikit, hal ini menimbulkan ketertarikan investor dalam menanamkan modalnya. Ketika perusahaan berada dalam posisi laba, maka banyak investor yang ingin menanamkan modal dalam perusahaan. Profitabilitas yang tinggi dikarenakan perusahaan memiliki kondisi keuangan yang tidak baik, cenderung melakukan peminjaman utang yang lebih banyak sehingga menaikkan tingkat DER perusahaan tersebut.

Hasil pengujian menunjukkan profitabilitas perusahaan mempengaruhi struktur modal perusahaan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap struktur modal diterima. Pada perusahaan sampel terdapat 13

perusahaan yang memiliki hubungan positif antara profitabilitas dan struktur modal perusahaan. dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat profitabilitas yang kecil maka perusahaan tidak atau hanya sedikit melakukan peminjaman utang kepada pihak lain sehingga tingkat struktur modal nya juga kecil. Sebaliknya perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang besar, melakukan peminjaman utang yang lebih besar pula untuk menjalankan kegiatan produksinya.

Pengaruh Struktur Aset terhadap Struktur Modal

Struktur aset secara signifikan memengaruhi struktur modal, hal ini ditandai dengan nilai signifikansi lebih besar dari α = 5% dan bentuk pengaruhnya adalah positif. Hal ini menyatakan bahwa semakin tinggi struktur aset suatu perusahaan maka semakin tinggi tingkat DER atau struktur modal perusahaan tersebut, dan apabila struktur asetnya rendah maka tingkat DER atau struktur modal juga rendah.

Struktur aset yang rendah disebabkan karena perusahaan mempunyai aset lancar yang lebih banyak daripada aset tetap. Ketika perusahaan memiliki struktur aset yang seimbang, maka banyak investor yang ingin menanamkan modal dalam perusahaan tersebut. Kondisi ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki aset tetap dalam jumlah besar dapat menggunakan hutang dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan karena dari skala perusahaan besar akan lebih mudah mendapatkan akses ke sumber dana di bandingkan dengan perusahaan kecil. Kemudian besarnya asset tetap dapat digunakan sebagai jaminan hutang perusahaan.

Hasil pengujian menunjukkan struktur aset perusahaan mempengaruhi struktur modal perusahaan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa struktur aset berpengaruh positif terhadap struktur modal diterima. Pada perusahaan sampel terdapat 20 perusahaan yang memiliki hubungan positif antara struktur aset dan struktur modal perusahaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi komposisi aset tetap yang dimiliki perusahaan terhadap total aset maka semakin besar jumlah aset tetap yang dapat dijadikan collateral (jaminan) dalam memperoleh hutang sehingga komposisi hutang jangka panjang terhadap modal perusahaan semakin tinggi. Hasil ini sesuai dengan teori bahwa semakin tinggi jumlah aset tetap yang

(12)

12

bersifat tangible (berwujud) maka semakin

besar jaminan yang dapat diberikan kepada kreditor sehingga semakin tinggi penggunaan hutang pada struktur modal perusahaan.

Pengaruh Likuiditas terhadap Struktur Modal

Current ratio secara signifikan tidak memengaruhi struktur modal, hal ini ditandai dengan nilai signifikansi lebih besar dari α = 5% dan bentuk pengaruhnya adalah negatif. Hal ini tidak sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi likuiditas maka semakin tinggi tingkat DER. Penelitian ini menyatakan bahwa semakin rendah tingkat likuiditas maka semakin tinggi struktur modal pada perusahaan dan sebaliknya.

Hasil ini sesuai pecking order theory, dimana perusahaan yang mempunyai likuiditas yang tinggi akan cenderung tidak menggunakan pembiayaan dari hutang. Hal ini disebabkan perusahaan dengan likuiditas yang tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan eksternal melalui hutang.

Hasil pengujian menunjukkan likuiditas perusahaan tidak mempengaruhi struktur modal perusahaan, dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa risiko bisnis berpengaruh positif terhadap struktur modal ditolak. Karena dilihat dari fakta dilapangan, sebanyak 31 perusahaan sampel memiliki hubungan negatif antara likuiditas dan struktur modal. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan, maka semakin menurunkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Hasil ini sesuai pecking order theory, dimana perusahaan yang mempunyai likuiditas yang tinggi akan cenderung tidak menggunakan pembiayaan dari hutang. Hal ini disebabkan perusahaan dengan likuiditas yang tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan eksternal melalui hutang.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Secara bersama variabel risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan.

2. Keempat variabel ini dapat menjadi informasi yang penting bagi investor untuk menilai kinerja keuangan perusahaan terutama pada struktur modalnya dan menentukan kebijakan investasinya, dan bagi pihak manajemen perusahaan untuk menilai kinerja keuangannya.

3. Pengaruh masing-masing variabel independen diatas, apabila variabel-variabel tersebut secara keseluruhan dihubungkan dengan variabel dependen menunjukkan bahwa variabel-variabel independen tersebut merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh investor untuk menentukan investasi saham.

Saran

Adapun saran dari peneliitan ini adalah: 1. Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan keempat variabel yang secara bersama berpengaruh terhadap harga saham untuk digunakan sebagai acuan dasar dalam perbaikan kinerja perusahaan. Hal ini juga perlu mendapat perhatian baik bagi investor maupun calon investor untuk menilai sebuah perusahaan.

2. Berdasarkan simpulan penelitian maka pengaruh variabel risiko bisnis, profitabilitas, struktur aset dan likuiditas signifikan dengan kajian teori dan penelitian terdahulu. Hal ini perlu mendapat perhatian baik bagi investor maupun calon investor untuk menilai sebuah perusahaan. Dan bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan topik yang sama hendaknya menggunakan variabel-variabel yang berbeda, menambah dan memperluas bidang kajian lainnya yang diduga berpengaruh terhadap struktur modal.

(13)

13

DAFTAR PUSTAKA

Bayunitri, B. I. dan M. (2015). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia. Study and Accounting Research, 12(1), 49–58. Brigham, E. F. dan H. (2001). Manajemen

Keuangan. (Y. Sumiharti, Ed.) (8th ed.). Jakarta: Erlangga.

Brigham, E. F. dan H. (2011). Dasar-dasar Manajemen Keuangan (11th ed.). Jakarta: Salemba Empat.

Donaldson, G. (1961). Corporate Debt Capacity: A Study of Corporate Debt Policy and Determination of Corporate Debt Capacity. Division of Research: Harvard Graduate School of Business Administration.

Fahmi, I. (2012). Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Ferdiansya, M. S. dan I. (2013). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI. Jurnal Manajemen Dan Bisnis Sriwijaya, 11(2), 133–148.

Habibah, M. (2015). Analisis pengaruh profitabilitas, struktur aset, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, 4(7).

Handayani, S. dan R. (2011). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur. Jurnal Bisnis Dan Akuntansi, 13(1), 39– 56.

Harahap, S. S. (2013). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan (11th ed.). Jakarta: Rajawali Pers.

Husnan, S. (2010). Manajemen Keuangan: Teori dan Penerapan (Buku 1). Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Jensen and Meckling. (1976). The Theory of The Firm: Manajerial Behaviour, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial and Economics, 3, 305–360. Kasmir. (2010). Analisis Laporan Keuangan

(1st ed.). Jakarta: Rajawali Pers.

Mardi, R. W. (2008). Pengaruh Struktur Aktiva, Profitabilitas Dan Kebijakan Dividen Terhadap Struktur Pendanaan (Studi Empiris pada Industri Perbankan). Universitas Sumatera Utara.

Margaretha, F., & Ramadhan, A. R. (2010). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Pada Industri Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Bisnis Dan Akuntansi, 12(2), 119–130.

Pradana, H. R. dan kiswanto F. (2013). Pengaruh Risiko Bisnis, Struktur Aset, Ukuran dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal. Accounting Analysis Journal, 2(4), 423–429. https://doi.org/ISSN 2252-6765

Pramastuti, S. (2007). Analisis Kebijakan Dividen: Pengujian Dividen Signalling Theory dan Rent Extraction Hypothesis. Universitas Gajah Mada.

Putri, M. E. D. (2012). Pengaruh Profitabilitas, Struktur Aktiva dan Ukuran Perusahaan terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen, 1(1), 1–10. Santika, R. B., & Sudiyatno, B. (2011).

Menentukan Struktur Modal Perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Dinamika Keuangan Dan Perbankan, 3(2), 172–182.

Situmorang, S. H. (2010). Analisis Data: Untuk Riset Manajemen dan Bisnis. Medan: USU Press.

Susilawati, C. D. K. (2012). Analisis Perbandingan Pengaruh Likuiditas , Solvabilitas , dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham pada Perusahaan LQ 45. Jurnal Akuntansi, 4(2), 165–174.

Retrieved from

http://majour.maranatha.edu/

Syafi’i, I. (2013). Karakteristik Perusahaan dan Struktur Modal pada Perusahaan Sektor Makanan-Minuman. Media Mahardhika, 11(3), 1–30.

Syamsuddin, L. (2009). Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi dalam Perencanaan, Pengawasan dan Pengambilan Keputusan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

(14)

14

Utomo, P. (2013). Pengaruh Variabel

Fundamental Terhada Struktur Modal dan Dampaknya terhadap Nilai Perusahaan ( Studi pada Perusahaan Tekstil yang Go-Public di Indonesia ). Jurnal Aplikasi Manajemen, 11(September), 374–383. Warsiman, C. K. dan R. K. (2014). Pengaruh

Struktur Aset, Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Terhadap Struktur Modal. Ultima Accounting, 6(1), 74–93. Weston, J. F. dan T. E. C. (1995). Manajemen

Keuangan (8th ed.). Jakarta: Gelora Aksara Pratama.

Zuliani, S., & Asyik, N. F. (2014). Pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Penjualan, Struktur Aset, Dan Tingkat Pertumbuhan Terhadap Struktur Modal. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, 3(7), 1–16.

Referensi

Dokumen terkait

Hausler and Strasdas (2003 : 3) menyatakan bahwa pariwisata berbasis masyarakat merupakan sejenis kepariwisataan yang perkembangan dan pengelolaannya dikontrol oleh

Dari tabel 9 dapat dilihat aktivitas guru pada pertemuan pertama sampai dengan keempat mengalami peningkatan dengan rata-rata (96%) amat baik, dari penjelasan

Guna mempertahankan akreditasi yang telah dimiliki rumah sakit dan meningkatkan mutu pelayanan yang ada, hendaknya manajer tingkat menengah selalu berpartisipasi

Menurut Fey dan Heid (dalam Novia, 2010: 6), penggunaan software komputer untuk kegiatan pembelajaran sangat tidak terbatas, beberapa software komputer dapat

Berdasarkan penelitian dapat dikatakan bahwa batako yang terbuat dari abu ampas tebu dengan ukuran yang sama dan konsentrasi yang berbeda akan menghasilkan nilai kuat tekan dan

Sistem utilitas pada bangunan dan lingkungan yang terencana dengan baik serta adanya sosialisasi secara langsung dan terus menerus akan membantu mengatasi permasalahan

Dalam hal ini penulis melakukan penyuluhan kepada masyarakat kelurahan Pintu Batu, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu mengenai NAPZA dan bentuk-bentuk NAPZA

Hal ini berarti bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ditolak, yakni tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecepatan beregerak dengan kemampuan