II - 1
BAB II
LANDASAN TEORITIK
Penentuan posisi merupakan salah satu kegiatan untuk merealisasikan tujuan dari ilmu geodesi. Dan salah satu wujud penentuan posisi tersebut adalah penentuan posisi di laut yang merupakan batas laut.
Sejak pemerintah Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 (United Nation Conventions of The Law Of The Sea 1982), maka pemerintah Indonesia berkewajiban dalam menentukan batas laut negaranya dengan beracuan pada peraturan yang ditetapkan UNCLOS 1982 tersebut. Sebagai wujud ratifikasi tersebut, pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan UU No. 17 tahun 1985 untuk mengesahkan UNCLOS 1982 dan pemakaiannya di pemerintahan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensinya, Indonesia mempunyai tanggungjawab untuk memperjelas dan menegaskan batas wilayahnya dalam bentuk peta dengan skala yang memadai untuk menegaskan posisinya, atau dapat pula dibuat Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal untuk menarik Garis Pangkal Kepulauan disertai referensi datum geodetis yang diperlukan.
Garis pangkal (baseline) merupakan garis yang menghubungi titik-titik dasar yang dipilih di pantai yang berupa titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar atau karang-karang terluar. Dalam UNCLOS 1982 dipakai prinsip garis air rendah ini untuk menentukan batas wilayah, dimana dalam UNCLOS 1982 terdapat dua macam garis pangkal, yaitu garis pangkal normal/biasa (normal baseline) dan garis pangkal lurus (straight baseline). Garis pangkal normal dapat diartikan sebagai garis air rendah (low water line) sebagaimana yang terlihat sebagai garis kedalaman nol pada Peta Laut skala besar yang diakui secara resmi di negara tersebut. Sedangkan garis pangkal lurus adalah garis lurus yang menghubungkan dua titik dasar (basepoint) yang terletak pada garis air rendah.
II - 2
II. 1 Wilayah Perairan
Menurut UNCLOS 1982, ada beberapa wilayah atau zona perairan yurisdiksi yang ditentukan dari suatu garis pangkal (baseline), yaitu, Laut Teritorial (Territorial Sea), Zona Tambahan (Contiguous Zone), Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economical Zone), dan Landas Kontinen (Continental Shelf), dimana masing-masing wilayah laut tersebut memiliki karakteristik kewenangan negara pantai yang berbeda.
Dengan berlakunya UNCLOS 1982, maka wilayah perairan akan dibagi-bagi lagi. Wilayah Perairan menurut UNCLOS 1982 adalah :
II. 1. 1 Perairan Pedalaman
Yang dimaksud dengan wilayah perairan pedalaman adalah perairan yang ditutup oleh garis pangkal penutup teluk, muara, pelabuhan dan garis-garis pangkal yang menutup lekukan di pantai sampai 100 mil laut dan maksimum 125 mil laut. Dengan kata lain, perairan pedalaman adalah bagian dari laut yang berada ke arah daratan.
II. 1. 2 Laut Teritorial
Laut teritorial adalah bagian laut selebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal ke arah laut. Dalam wilayah ini, negara mempunyai kedaulatan penuh, kecuali hak lintas damai bagi kapal niaga dan kapal perang asing (Pasal 17). Semua kapal-kapal asing yang menikmati lintasan yang melalui laut teritorial suatu negara wajib mematuhi semua peraturan dan undang-undang dari negara terkait dan juga peraturan-peraturan internasional yang terkait dengan pencegahan tabrakan di laut (Pasal 21 UNCLOS 1982).
Dalam wilayah laut teritorial, negara :
a. Memiliki kedaulatan penuh atas wilayah laut teritorial, ruang udara di atasnya, dasar laut dan tanah di bawahnya, serta segenap sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
b. Membuat peraturan mengenai lintas laut damai yang berkaitan dengan keselamatan pelayaran dan pengaturan lalu lintas, perlindungan serta fasilitas navigasi, kabel laut, konservasi sumberdaya alam, pencegahan pelanggaran
II - 3 perikanan, pengurangan dan pengendalian pencemaran, penelitian ilmiah kelautan, dan pencegahan pelanggaran peraturan cukai, fiskal, imigrasi dan kesehatan.
II. 1. 3 Zona Tambahan
Zona tambahan adalah bagian dari laut selebar 12 mil laut, dari batas laut terluar teritorial, sehingga kalau dihitung dari garis pangkal laut teritorial berjarak 24 mil laut.
Dalam Zona Tambahan ini, negara mempunyai kewenangan tertentu (pasal 33 UNCLOS 1982), yang berkaitan dengan :
a. Pencegahan pelanggaran keimigrasian, bea cukai, fiskal dan karantina.
b. Menindak pelaku pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan tersebut di atas.
II. 1. 4 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) adalah bagian laut selebar 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut teritorial. Zona ini bukan wilayah kedaulatan dari negara, yang secara efektif adalah selebar 188 mil laut, karena yang 12 mil laut adalah laut teritorial dari negara.
Tiap negara yang telah menandatangi konvensi :
a. Mempunyai hak berdaulat (sovereign rights) untuk tujuan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumberdaya hayati dan nir-hayati dari perairan di atas dasar laut, dan di dasar laut serta tanah dibawahnya, serta kegiatan-kegiatan terkait dengan eksplorasi dan eksploitasi ekonomis dari zona, seperti produksi energi dari air laut, arus dan angin.
b. Mempunyai jurisdiksi yang relevan dengan ketentuan konvensi yang terkait dengan : (i) pembangunan dan penggunaan pulau buatan, instalasi dan struktur, (ii) riset ilmiah kelautan, dan (iii) perlindungan dan pencagaran dari lingkungan laut.
II - 4 II. 1. 5 Landas Kontinen
Yang dimaksud dengan Landas Kontinen adalah dasar laut dan tanah di bawah dasar laut di luar laut teritorial dan merupakan kelanjutan (prolongation) dari wilayah daratan sanpai tepi luar dari batas kontinen (the outer edge of the continental margin). Dalam UNCLOS 1982, terdapat dua pertimbangan dalam menentukan batas luar landas kontinen :
a. Lebar dari zona landas kontinen dibatas sampai jarak 200 mil laut dari garis pangkal dimana batas teritorial diukur. Ini terjadi jika tepi luar landas kontinen tidak melewati jarak tersebut (Pasal 76 UNCLOS 1982). Ini disebut klaim minimum.
b. Tepi luar dari landas kontinen melewati 200 mil dari garis pangkal dimana batas laut teritorial diukur. Dalam hal ini Negara Pantai dapat menetapkan batas landas kontinen di luar 200 mil laut, tetapi tidak melebihi 350 mil laut atau tidak melebihi 100 mil laut dari garis kedalaman (isobath) 2.500 meter (pasal 76, ayat 4 sampai 10).
Negara pantai mempunyai hak yang berdaulat atas sumber kekayaan alam (hak eksklusif) untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi. Jika negara pantai tidak memanfaatkan haknya, tidak seorang pun dapat melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi tanpa persetujuan tegas dari negara pantai yang berhak. Negara pantai juga berhak menetapkan persyaratan bagi pemasangan pipa dan kabel bawah laut negara lain di atas landas kontinennya, dengan maksud untuk pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemaran atau terganggunya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Di samping itu, negara pantai mempunyai kewajiban untuk melakukan pembayaran atau sumbangan berupa barang melalui Authority bertalian dengan eksploitasi sumber kekayaan alam non-hayati landas kontinen di luar 200 mil laut.
II - 5 II. 1. 6 Laut Lepas
Semua bagian dari laut yang tidak termasuk dalam zona ekonomi eksklusif, laut teritorial, landas kontinen, perairan pedalaman suatu negara atau perairan kepulauan suatu negara kepulauan merupakan kawasan laut bebas.
Wilayah ini terbuka untuk negara pantai atau negara tidak berpantai untuk : • Berlayar di bawah satu bendera negara
• Penerbangan
• Memasang pipa dan kabel bawah laut
• Membangun pulau buatan dan instalasi lainnya • Menangkap ikan
• Penelitian ilmiah
Kebebasan ini dilaksanakan negara dengan memperhatikan negara lain dan ketentuan lainnya dalam konvensi. Laut lepas pada dasarnya memang dicadangkan untuk maksud damai.
Gambar 2. 1 Batas-batas laut sesuai UNCLOS 1982 Pantai
Laut
Teritorial Zona Tambahan
Zona Ekonomi Eksklusif Landas Kontinen
Dasar Laut
Laut Lepas Muka Air
Garis Air
Titik Dasar (acuan penarikan batas)
12 M 24 M 200 M
350 M atau 2500 m+100
II - 6
II. 2 Titik Dasar Sebagai Acuan Penentuan Batas Laut
Titik dasar (basepoint) merupakan titik koordinat geodetik dan merupakan posisi titik terluar yang akan menentukan batas laut suatu negara pantai. Posisi titik ini dipilih pada garis air rendah di sekitar tempat-tempat yang mencolok, mudah terlihat seperti tanjung, pantai kering (bukan pantai rawa atau pantai hutan mangrove). Titik pangkal ini tidak perlu dipermanenkan di tanah, karena pada pasut tinggi titik ini akan terbenam.
Secara grafis, posisi titik dasar ditentukan dari hasil pengukuran geodetik titik referensi dan hasil survei garis air rendah, dengan ketelitian yang sesuai dengan skala besar. Selanjutnya dari posisi titik dasar tersebut dihitung arah/azimut dan jaraknya terhadap titik referensi, untuk mengetahui lokasi titik pangkal tersebut di lapangan.
II. 3 Garis Pangkal
Garis pangkal (baseline) merupakan suatu komponen yang penting dalam penentuan titik batas laut. Garis pangkal dibentuk dari titik-titik pangkal yang sudah didapat terlebih dahulu dengan survei garis air rendah. Negara yang merupakan negara kepulauan menggunakan UNCLOS 1982 pasal 47 untuk menetapkan garis pangkalnya.
Dalam kegiatan praktisnya, garis pangkal dapat dibagi sesuai dengan pemakaiannya, yaitu :
II. 3. 1 Garis Pangkal Normal (normal baseline)
Garis pangkal normal (normal baseline) adalah garis pada muka air rendah sepanjang pantai, termasuk pantai dari pulau-pulau, batas pinggir instalasi pelabuhan permanen, garis air rendah dari pulau yang dikelilingi tinggi muka air rendah (low tide elevation), dan garis air rendah ke arah laut dari atol (pulau karang) dan karang-karang sekitar pulau (IHO, 1989).
”Kecuali tidak disebutkan dalam konvensi ini, garis pangkal normal untuk pengukuran luas laut teritorial diambil dari garis air rendah sepanjang pantai seperti ditandai pada peta skala besar yang secara resmi dikeluarkan oleh negara pantai.”
II - 7 II. 3. 2 Garis Pangkal Lurus
Garis pangkal lurus adalah sebuah jaringan garis lurus yang menghubungkan titik-titik tertentu pada Garis Air Rendah, yang biasa disebut Titik Belok Garis Pangkal Lurus, yang mungkin digunakan dimana garis pantai menjorok jauh ke dalam atau adanya deretan pulau-pulau di dekat pantai.
Garis pangkal lurus digunakan apabila garis pangkal normal tidak dapat lagi dipergunakan atau memang sengaja dipakai untuk mengambil wilayah lebih luas tetapi pengambilannya juga masih sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Penentuan garis pangkal lurus diatur dalam pasal 7 UNCLOS 1982.
Garis Pangkal Lurus
Garis Air Rendah
Garis Pangkal Lurus
Garis Air Rendah
Gambar 2. 3 Garis Pangkal Lurus Garis Pantai
Garis Pangkal Normal
II - 8 II. 3. 3 Garis Pangkal Penutup
Garis Penutup merupakan Garis Pangkal Lurus yang digunakan untuk menutup daerah yang masih tidak melebihi 24 mil laut, seperti muara sungai, teluk dan pelabuhan, yang menutup sungai, teluk atau pelabuhan tersebut.
Garis Pangkal Penutup Sungai
” Jika suatu sungai mengalir secara langsung ke lautan, garis pangkalnya akan merupakan suatu garis lurus melalui mulut-mulut sungai antara titik-titik pada garis air rendah..” (Pasal 9 UNCLOS 1982)
Garis Pangkal Penutup Teluk
Definisi Teluk (Bay) berdasarkan UNCLOS 1982 adalah lekukan ke arah darat, di mana garis penutup teluk mencakup air dalam teluk yang sama atau lebih luas dari laut yang dicakup oleh radius penutup teluk sama.
Garis Air Rendah Garis Pantai
Garis Penutup Sungai
II - 9
Garis Pangkal Penutup Pelabuhan
Pada daerah pelabuhan, garis pangkal untuk menarik garis batas-batas laut adalah garis-garis lurus sebagai penutup daerah pelabuhan, yang meliputi bangunan permanen terluar yang merupakan bagian integral sistem pelabuhan sebagai bagian dari pantai. (PP No. 38 tahun 2002)
Garis lurus ditarik antara titik-titik terluar pada garis air rendah pantai dan titik-titik terluar bangunan permanen terluar yang merupakan bagian integral sistem pelabuhan.
Gambar 2. 6 Penarikan garis batas laut untuk daerah pelabuhan Gambar 2. 5 Penarikan garis batas laut untuk daerah teluk
Garis Air Terendah
II - 10 II. 3. 4 Garis Pangkal Lurus Kepulauan
Negara kepulauan merupakan negara pantai yang mempunyai perbandingan luas daratan dengan luas lautnya 1 : 1 sampai 1 : 9.
Tujuan dari kesepakatan ini:
(a) "Negara Kepulauan" artinya sebuah negara yang memiliki satu atau lebih perairan kepulauan dan mungkin termasuk pulau-pulau lainnya.
(b) "Kepulauan" artinya sebuah kumpulan dari pulau-pulau, termasuk bagian-bagian lain dari pulau, yang dihubungkan oleh air dan fenomena-fenomena alam lainnya dimana saling berhubungan erat dengan pulau lain, perairan dan berbagai bentuk fenomena alam lain dan bentuk geografi, ekonomi dan bidang politik, atau sesuai kesejarahan diakui. (Pasal 46 UNCLOS 1982)
Garis Pangkal Kepulauan ditentukan dengan cara menarik garis pangkal lurus dari titik-titik terluar pulau di negara kepulauan yang bersangkutan pada muka air rendah.
Gambar 2. 7 Garis Penutup Kepulauan
Garis Air Rendah Pulau
Pulau
Pulau Pulau
Pulau
Luas Perairan : Luas Daratan 1 : 1 sampai 9 : 1
Garis Air Rendah Garis Air Rendah
Garis Air Rendah Garis Air Rendah
Elevasi Surut
Garis Pangkal Kepulauan Garis Pangkal Kepulauan
Garis Pangkal Kepulauan
Garis Pangkal Kepulauan Garis Pangkal Kepulauan
II - 11 Beberapa hal yang penting yang dipakai dalam garis pangkal kepulauan adalah : a. Garis pangkal kepulauan ditarik dari titik-titik terluar pulau-pulau atau
karang-karang kering terluar dimana perbandingan antara daerah perairan dan daratan antara 1 : 1 hingga 9 : 1.
b. Panjang garis pangkal tidak boleh melebihi 100 mil laut, kecuali sejumlah 3 % dari jumlah keseluruhan garis pangkal dapat mencapai kepanjangan maksimum 125 mil laut.
c. Penarikan garis pangkal tidak boleh ditarik ke dan dari elevasi surut, kecuali apabila di atasnya telah dibangun suatu instalasi yang secara permanen berada di atas permukaan laut (contoh : mercusuar) atau apabila elevasi surut tersebut terletak dalam kawasan laut teritorial.
d. Garis pangkal tidak boleh memotong laut teritorial negara lain.
II. 4. Delineasi Batas Laut
Peranan ilmu geodesi akan sangat kelihatan dalam penentuan batas laut, yaitu dalam delineasi batas laut. Penentuan titik-titik pangkal untuk penarikan batas laut, maupun delineasi batas laut sesuai ketentuan batas pada UNCLOS 1982.
Delineasi batas laut akan ditunjukkan dengan informasi titik-titik geodetis baik itu yang dapat kita lihat langsung pada peta batas laut, maupun dalam bentuk daftar koordinat.
Menurut UNCLOS 1982, setiap negara yang telah meratifikasi UNCLOS 1982 wajib melaksanakan suvey penentuan batas laut dengan melampirkan dan mendaftarkan titik-titik pangkal negara tersebut ke PBB, sehingga dapat dilakukan kegiatan penentuan batas laut, baik itu untuk laut territorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, maupun landas kontinen.
Negara pantai tersebut dapat menunjukkan batas-batas laut negaranya dalam bentuk peta batas laut dengan memakai skala besar (dalam hal ini, UNCLOS 1982 tidak menyebutkan secara spesifik skala tertentu), juga dapat berbentuk daftar-daftar koordinat.
II - 12 Untuk delineasi tersebut, juga dilaksanakan metode yang paling baik antara metoda grafik maupun metode numerik untuk menunjukkan batas laut negaranya. Yang menjadi pemikiran adalah, pemakaian metoda yang paling optimal buat suatu Negara dalam delineasi batas laut.
Setiap negara pantai akan selalu berlomba dalam pemakaian metode yang terbaik untuk mendapatkan daerah laut Negara mereka seluas-luasnya, apalagi yang berkaitan untuk perbatasan laut lepas, yang tidak serumit delineasi batas laut yang bertampalan dengan negara tetangga, yang harus melalui proses perundingan.
II. 4. 1 Delineasi Batas Laut dengan Metode Grafik
Delineasi batas laut dengan metode grafik akan dilakukan dengan bantuan software grafik, misalnya AutoCad. Hasilnya akan berupa garis-garis batas.
Dengan metode grafik, batas laut dapat ditentukan dengan pendekatan, yaitu dengan membentuk lingkaran dengan menggunakan titik-titik pangkal untuk penentuan posisi batas laut dengan jari-jari sejarak ketentuan dalam UNCLOS atau juga dengan pendekatan-pendekatan pengambilan garis sesuai geografis muka air rendah.
Ada beberapa pendekatan-pendekatan yang dicantumkan dalam TALOS untuk menentukan batas laut secara grafik.
II. 4. 1.1. Pendekatan garis normal
Pendekatan yang dilakukan yaitu dengan menentukan titik batas laut sejarak batas laut yang dicantumkan dalam UNCLOS sesuai bentuk geografis garis normal (muka air laut terendah).
Dengan menentukan titik-titik batas tersebut, kita dapat menarik garis batas laut dengan menghubungkan titik-titik batas, misalnya untuk laut teritorial sejarak 12 mil laut. (gambar 2.8)
II - 13 II. 4. 1. 2. Pendekatan lingkaran berpusat di titik terluar
Pendekatan lingkaran berpusat di titik terluar ini dilakukan dengan membentuk lingkaran-lingkaran dengan jari-jari sejarak batas laut yang tercantum dalam UNCLOS dan meletakkan titik pusatnya di titik terluar pada pulau terluar.
Batas laut yang akan didapat merupakan rangkaian titik-titik batas terluar yang dihubungkan dari lingkaran-lingkaran yang dibentuk. (gambar 2.9)
Garis air rendah
X mil laut jari-jari lingkaran dari titik dasar Garis kontruksi batas dengan metode lingkaran
Gambar 2. 9 Delineasi dengan Pendekatan lingkaran berpusat pada titik terluar
II - 14 II. 4. 1. 3. Pendekatan lingkaran menyinggung titik terluar
Pendekatan untuk menentukan garis batas laut dengan cara membentuk garis batas laut dari titik pusat lingkaran yang dibentuk.
Lingkaran dengan jari-jari sejarak yang dicantumkan dalam UNCLOS digelindingkan sepanjang garis normal, yaitu akan menyinggung titik-titik terluarnya.
Garis yang dibentuk oleh titik pusat lingkaran tersebut itulah yang akan membentuk garis batas laut. (gambar 2.10)
Gambar 2.10 Garis batas laut yang dibentuk titik pusat lingkaran (R=jari-jari lingkaran sejarak batas laut dalam UNCLOS)
II - 15
II. 4. 2 Delineasi Batas Laut dengan Metode Numerik
Delineasi batas laut dengan metode Numerik dapat dilakukan dengan metode Soal Pokok Geodesi I (SPG I) untuk posisi Geodetik.
Soal Pokok Geodesi I (direct problem) merupakan penentuan posisi dengan cara langsung, yaitu dengan adanya titik acuan (titik yang sudah diketahui koordinatnya), jarak (dalam hal ini sesuai dengan peraturan yang ditetapkan dalam UNCLOS 1982), dan sudut jurusan.
Dengan adanya parameter-parameter tadi, kita akan dapat menentukan posisi titik-titik yang lainnya. Untuk titik acuan, dalam tugas akhir ini akan digunakan PP No. 38 tahun 2002 tentang titik-titik dasar yang sudah ditetapkan.
Untuk memecahkan Soal Pokok Geodesi, telah banyak rumus-rumus yang diturunkan dengan cara pendekatan (approach) yang berbeda-beda. Menurut H. Bodemuller terdapat kurang lebih 50 rumus yang dikelompokkan untuk jarak pendek (sampai 100 km), jarak menengah (100 km sampai 500 km), dan jarak panjang ( 500 km sampai 20.000 km atau sampai setengah keliling bumi ) (tabel 2.1):
II. 4. 2. 1. Penentuan Posisi Jarak Pendek (Short Line Formulae)
Posisi akan dikatakan berjarak pendek apabila posisi titik yang satu dengan yang lain terdapat pada jarak sampai 100 km. Metode ini umumnya akan mencapai ketepatan untuk 1 ppm (part per million) pada jarak 100 km atau dengan kata lain, baik digunakan untuk posisi dengan jarak <100 km.
Untuk pengukuran posisi jarak pendek secara geodetik, terdapat metode-metode hitungan yang biasa digunakan, yaitu metode Gauss-Helmert, metode Legendre, metode Soldner, Puissant direct problem dan lain sebagainya.
II. 4. 2. 2. Penentuan Posisi Jarak Menengah (Middle Line Formulae)
Penentuan posisi untuk jarak menengah digunakan untuk menentukan posisi dengan jarak antara 100 km sampai 500 km. Penghitungan dilakukan dengan memakai prinsip garis geodesik, bukan memandang bidang bumi sebagai bidang datar.
II - 16 Terdapat medote-metode hitungan yang dapat digunakan pada penentuan posisi jarak menengah yang umum digunakan, misalnya metode Clarke’s best formulae atau de Graff-Hunter . [Bomford, 1975]
II. 4. 2. 3. Penentuan Posisi Jarak Jauh (Long Line Formulae)
Penentuan posisi jarak jauh (long line formulae) akan digunakan apabila suatu jarak titik yang akan ditentukan akan mencapai setengah keliling bumi. Dengan memakai sistem referensi ellipsoida, akan mendapat posisi secara geodetik.
Terdapat berbagai macam metode yang biasa digunakan untuk penentuan posisi jarak jauh, yaitu Bessel Formulae, Vincenty (sampai setengah keliling bumi), Lilly’s long line formula, Rudoe’s formulae, metode Clarke dan lain sebagainya.
Pada umumnya, metode penghitungan pada jarak jauh menggunakan aturan-aturan segitiga bola dalam penurunan rumus pemecahannya. Karenanya dapat digunakan untuk jarak panjang sampai mencapai setengah keliling bumi.
II - 17
II. 5 Konversi Jarak
Penggunaan kata mil berbeda antara mil laut dan mil darat. Maka dibutuhkan kesepakatan untuk kesamaan satuan dalam mendapatkan nilai yang mendekati.
Satu mil laut didefenisikan sebagai satu perenam puluh derajat lintang pada lintang 4 derajat (IHO, 1989). Satu mil laut berarti perbedaan busur meridian untuk perbedaan lintang sebesar satu perenam puluh derajat pada lintang 44 derajat.
Untuk menghitung busur meridian dipergunakan persamaan :
(
2) (
4) (
6)
. .sin 2 .sin 4 .sin 6
o G=E L− E L + E L − E L dengan : 2 4 6 1 3 5 . 1 . . . .... 4 64 256 o E =a ⎢⎡ −⎜⎛ e ⎟ ⎜⎞ ⎛− e ⎞ ⎛⎟ ⎜− e ⎞⎟+ ⎤⎥ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎣ ⎦ 2 4 6 2 3 3 45 . . . . .... 8 32 1024 E =a ⎡⎢⎜⎛ e ⎞ ⎛⎟ ⎜+ e ⎞ ⎛⎟ ⎜− e ⎟⎞+ ⎤⎥ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎣ ⎦ 4 6 4 15 45 . . . .... 256 1024 E =a ⎡⎢⎛⎜ e ⎟ ⎜⎞ ⎛+ e ⎟⎞+ ⎤⎥ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎣ ⎦ 6 6 35 . . .... 3072 E =a ⎡⎢⎛⎜ e ⎞⎟+ ⎤⎥ ⎝ ⎠ ⎣ ⎦ dimana : G = Busur Meridian
a = Setengah sumbu panjang elipsoida referensi e = Eksentrisitas elipsoid referensi
L = Lintang
untuk menghitung satu mil laut, maka dapat digunakan :
1
n n
G G+ G
II - 18 ∆G = satu mil laut
n
G = Busur meridian untuk lintang 44 derajat
1
n
G+ = Busur meridian untuk lintang 44 derajat satu menit
sehingga, akan didapat nilai untuk satu mil laut, yaitu G
II - 19
II. 6 Delineasi Batas-batas Laut
Dengan adanya konversi jarak dari mil laut ke meter darat pada bidang ellipsoid, maka delineasi batas laut dapat dicari dengan menggunakan metode-metode yang ada, baik itu numerik maupun grafik.
Delineasi batas laut akan dikelompokkan sesuai metode numerik yang akan dipakai yaitu berdasarkan jarak penentuan posisi, yaitu :
II. 6. 1 Batas Laut Teritorial
Sesuai UNCLOS 1982, delineasi batas laut teritorial didapat dengan menarik garis batas sejauh 12 mil laut atau sepanjang 22.224 m.
Untuk jarak tersebut, maka digunakan penentuan posisi untuk jarak pendek.
Untuk penelitian ini, akan digunakan metode T. Vincenty, karena merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk penentuan posisi pada bidang bumi untuk jarak pendek, menengah sampai jarak panjang.
II. 6. 2 Batas Laut Zona Tambahan
Sesuai UNCLOS 1982, delineasi batas laut zona tambahan didapat dengan menarik garis batas sejauh 24 mil laut atau sepanjang 44.448 m dari titik pangkal.
Untuk jarak tersebut, maka digunakan penentuan posisi untuk jarak pendek. Untuk penelitian ini, juga akan digunakan metode T. Vincenty.
II. 6. 3 Batas Laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
Sesuai UNCLOS 1982, delineasi batas laut zona tambahan didapat dengan menarik garis batas sejauh 200 mil laut atau sepanjang 370.400 m dari titik pangkal.
Untuk jarak tersebut, maka digunakan penentuan posisi untuk jarak menengah.
Dalam penelitian ini, digunakan metode T. Vincenty, karena metode ini paling sering digunakan oleh ahli geodesi untuk menentukan posisi berjarak pendek, menengah sampai jauh (sampai setengah keliling bumi).
II - 20 II. 6. 3 Batas Laut Landas Kontinen
Sesuai UNCLOS 1982, delineasi batas laut landas kontinen didapat dengan menggunakan 2 aspek, yaitu dari aspek geologis yang harus melakukan melakukan penelitian geologis di dasar laut untuk mendapat data sedimentasi, atau dari aspek geodetis yaitu dengan melakukan pengukuran untuk penghitungan batas laut sampai sejauh 350 mil laut atau 648.200 m (jarak mendatar dari titik pangkal).
Untuk jarak tersebut, maka dapat digunakan penentuan posisi untuk jarak jauh. Dalam penelitian ini, juga digunakan metode T. Vincenty.
Proses penghitungan untuk menentukan posisi pada jarak jauh (long line direct problem), adalah :
1. Terlebih dahulu, tentukan nilai
σ
1, yaitu : 1 1 1 tan tan cos U σ α = dengan : U = −(
1 f)
tanφ
2. Hitung nilai sin
α
, yaitu : sinα
=cosU1sinα
1 3. Cari nilai Δσ
, dengan cara :(
2)
(
2)
(
2)
1 1
sin cos 2 cos 1 2 cos 2 cos 2 3 4 sin 3 4 cos 2
4 6 m m m m B B B σ σ σ σ σ σ σ σ Δ = ⎧⎨ + ⎡⎢ − + − − + − + ⎤⎥⎫⎬ ⎣ ⎦ ⎩ ⎭ dengan :
{
(
)
}
2 2 2 2 256 128 74 47 1024 u B= +u ⎡⎣− +u − u ⎤⎦(
2 2)
2 2 2 cos a b u b α − = 1 2σ
m =2σ σ
+ S bA σ = + Δ σ(
)
{
}
2 2 2 2 1 4096 768 320 175 16384 u A= + +u ⎡⎣− +u − u ⎤⎦II - 21 4. Sehingga akan dapat dihitung nilai
φ
2 danλ
, yaitu :(
)
(
)
1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1sin cos cos sin cos
tan
1 sin sin sin cos cos cos
U U f U U σ σ α φ α σ σ α + = ⎡ ⎤ − ⎣ + − ⎦ 1 1 1 1 sin sin tan
cosU cos sinU sin cos
σ α
λ
σ σ α
=
−
5. Tentukan nilai L (selisih bujur) dengan :
(
1)
sin{
sin cos 2 cos(
1 2cos 22)
}
m m
L= − −
λ
C fα σ
+Cσ
⎡⎣σ
+Cσ
− +σ
⎤⎦dengan : cos2 4
(
4 3cos2)
16 f
II - 22 Tabel 2. 1 Beberapa Metode Penentuan Posisi Geodetis
Metode Jarak Pendek Jarak Menengah Jarak Jauh Keterangan
T. Vincenty √ √ √ sampai 20.000 km
(setengah keliling bumi)
Soldner √ jarak < 100 km
Legendre √ jarak < 100 km
Mid-Latitude
Gausz √ jarak < 100 km
Bessel √ jarak sampai 800 km
Molodensky
√
sampai 20.000 km (setengah keliling bumi)
Hradilek
√
sampai 20.000 km (setengah keliling bumi)
Clarke's best
formula √ √
jarak jauh sampai 800 km, jarak menengah
300-400 km
Puissant √ jarak < 100 km
Rudoe √ jarak sampai 800 km
Lilly √ jarak sampai 1000 km
Topographical √ jarak 50-60 km de Graff-Hunter √ jarak 500 km Rainsford √ Sodano √ Bowring √ Jarak < 150 km Clarke's approximate formula √ jarak < 150 km