2 of 69
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Kompetensi
• Mampu menjelaskan dan operasi
morfologi
• Mampu menerapkan konsep morfologi
untuk memperoleh informasi yang
menyatakan deskripsi dari suatu benda
pada citra
• mampu membangun aplikasi untuk
mengimplementasikan konsep morfologi
pada kasus riil.
4 of
69
Pendahuluan
•
Operasi morfologi adalah teknik pengolahan citra yang
didasarkan pada bentuk segmen atau region dalam
citra.
•
Karena difokuskan pada bentuk obyek, maka operasi ini
biasanya diterapkan pada citra biner.
•
Segmentasi dilakukan dengan membedakan antara
obyek dan latar, antara lain dengan memanfaatkan
operasi pengambangan yang mengubah citra warna
dan skala keabuan menjadi citra biner
•
Nilai biner dari citra hasil merepresentasikan 2
keadaan: obyek dan bukan obyek (latar).
•
Meskipun lebih banyak dipakai pada citra biner,
operasi morfologi sering pula digunakan pada citra
skala keabuan dan warna.
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pemrosesan citra secara morfologis
Perbedaan antara pemrosesan citra secara
morfologis dengan pemrosesan biasa (yang telah
kita pelajari):
– Dulu kita memandang sebuah citra sebagai suatu
fungsi intensitas terhadap posisi (x,y)
– Dengan pendekatan morfologi, kita memandang
suatu citra sebagai himpunan
Hasil operasi morfologi dapat dimanfaatkan untuk
pengambilan keputusan dengan analisis lebih
lanjut.
6 of
69
Contoh citra masukan
A
S
S = {(0,0),(0,1),(1,0)}
A = {(0,0),(0,1),(0,2),
(1,0),(1,1),(1,2),
(2,0),(2,1),(2,2)}
Objek S dan A dapat direpresentasikan dalam
bentuk himpunan dari posisi-posisi (x,y) yang
bernilai 1 (1=hitam/abu-abu, 0 = putih)
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Operasi Morfologi
Secara umum, pemrosesan citra secara morfologi
dilakukan dengan cara mem-passing sebuah
structuring element
terhadap sebuah citra dengan
cara yang hampir sama dengan konvolusi.
Structuring element
dapat diibaratkan dengan
mask pada pemrosesan citra biasa (bukan secara
morfologi)
8 of
69
Operasi Morfologi
Structuring element
dapat berukuran sembarang
Structuring element
juga memiliki titik poros
(disebut juga titik origin/ titik asal/titik acuan)
Contoh structuring element seperti objek S dengan
titik poros di (0,0) -> warna Merah
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Operasi Morfologi
• Operasi morfologi biasanya
didasarkan pada nilai-nilai dari tetangga langsung di sekeliling titik obyek yang ditinjau (Moore
neighborhood).
• Untuk operasi terhubung-4
(4-connected) maka tetangga
yang diperhatikan hanya yang langsung bersebelahan, yaitu titik di sebelah kiri, kanan, atas dan bawah, sedangkan untuk operasi terhubung-8
(8-connected) tetangga
diagonalnya diikutsertakan
10 of 69
Definisi Yang di Pakai dalam Operasi
Morfologi
• Titik obyek, adalah titik yang merupakan bagian
dari obyek (p1 = obyek)
• Titik latar, adalah titik yang merupakan bagian
dari latar (p1 = latar)
• B(p1) = banyaknya tetangga dari p1 yang
merupakan titik obyek
• A(p1) = banyaknya pola “latar, obyek” untuk
urutan p2-p4-p6-p8-p2 pada operasi
terhubung-4 atau urutan p2-p3-pterhubung-4-p5-p6-p7-p8-p9-p2 pada
operasi terhubung-8
• Titik terisolasi, adalah titik obyek yang semua
tetangganya adalah titik latar. B(p1) = 0
11 of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Definisi Yang di Pakai dalam Operasi
Morfologi
• Titik ujung, adalah titik obyek yang mempunyai
tepat sebuah tetangga yang merupakan titik
obyek juga. B(p1) = 1.
• Titik batas, adalah titik obyek yang salah satu
atau lebih tetangganya adalah titik latar. B(p1) <
4 pada operasi terhubung-4 dan B(p1) < 8 pada
operasi terhubung-8.
• Apabila semua titik tetangganya adalah titik
obyek maka dapat dipastikan titik tersebut
berada di dalam obyek (bukan titik batas).
• Titik simpel, adalah titik obyek yang jika diubah
menjadi titik latar maka tidak mengubah kondisi
hubungan antar titik-titik obyek tetangganya.
12 of 69
Ilustrasi
(1) Titik Terisolasi
Contoh bagian dari citra
dengan menggunakan
nilai 0 untuk titik obyek
dan 1 untuk titik latar.
(1) Titik Terisolasi
13 of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Ilustrasi
(2) Titik Ujung
14 of 69Ilustrasi
(3) Titik Batas
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Beberapa operasi morfologi
Beberapa operasi morfologi yang dapat kita
lakukan adalah:
– pencarian batas/kontur
– Dilasi, Erosi
– penutupan (closing), pembukaan (opening)
– Thinning, shrinking, pruning, thickening,
pengerangkaan (skeletonization)
– pengisian (filling), pelabelan, dll
16 of
69
Pencarian Batas/Kontur
•
Operasi ini digunakan untuk menentukan batas/kontur
dari segmen obyek.
•
Operasi ini dilakukan terhadap titik-titik obyek, yaitu
apabila titik obyek tersebut bukan titik batas maka titik
tersebut diubah menjadi titik latar, sedangkan titik-titik
batas akan dipertahankan.
•
Untuk mengetahui apakah suatu titik obyek adalah titik
batas atau tidak dilakukan dengan cara memeriksa
semua titik tetangganya.
•
Apabila ada salah satu saja dari semua tetangga
tersebut yang merupakan titik latar, maka titik tersebut
adalah titik batas.
•
Sedangkan apabila semua tetangganya adalah titik
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pencarian Batas/Kontur
• Algoritma untuk operasi pencarian batas
citra
18 of
69
Pencarian Batas/Kontur
• Contoh program operasi di atas tidak mempertimbangkan batas luar dari citra, sehingga jika ada titik obyek berada tepat di tepi citra, maka hal ini akan mengakibatkan error.
• Error tersebut disebabkan pada saat program memeriksa titik tetangganya, sementara titik tetangga tersebut berada di luar citra, maka terjadi operasi terhadap komponen matriks citra dengan indeks di luar ukuran matriks yang telah didefinisikan (yaitu indeks 0 dan indeks yang nilainya lebih besar dari lebar atau tinggi citra).
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pencarian Batas/Kontur
•
Pemeriksaan apakah sebuah titik obyek
merupakan
titik batas dilakukan
dengan
memeriksa semua tetangganya, yaitu apabila
ada tetangganya (minimal 1) yang merupakan
titik latar, maka titik tersebut adalah titik batas.
•
Operasi logika yang digunakan adalah operasi
ATAU (OR).
•
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan operasi logika DAN (AND), yaitu
apabila semua tetangga titik obyek yang
ditinjau adalah titik obyek juga, maka titik
tersebut bukanlah titik batas.
20 of
69
Dilasi
• Operasi dilasi dilakukan untuk memperbesar ukuran
segmen obyek dengan menambah lapisan di sekeliling
obyek.
• Terdapat 2 cara untuk melakukan operasi ini, yaitu
– dengan cara mengubah semua titik latar yang bertetanggadengan titik batas menjadi titik obyek, atau lebih mudahnya set setiap titik yang tetangganya adalah titik obyek menjadi titik obyek.
– dengan mengubah semua titik di sekeliling titik batas menjadi titik obyek, atau lebih mudahnya set semua titik tetangga sebuah titik obyek menjadi titik obyek.
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Dilasi
• Program operasi dilasi di atas juga tidak mempertimbangkan batas luar dari citra. • Untuk menghindari error, maka indeks yang digunakan untuk titik yang ditinjau
dimuali dari 2 sampai dengan lebar-1 untuk arah horisontal, serta dari 2 sampai dengan tinggi-1 untuk arah vertikal.
• Jika semua titik hendak dioperasikan, maka program di atas perlu ditambah dengan pemeriksaan untuk mengetahui apakah titik tetangga yang sedang ditinjau ada di luar batas citra.
• Jika titik tersebut berada di luar batas citra, maka jangan dilakukan pengubahan terhadap titik tetangga tersebut.
• Cara lain yang lebih tepat untuk dilakukan adalah dengan menambah ukuran citra sebanyak 2 titik baik ke arah lebar maupun ke arah tinggi citra kemudian citra asli digeser 1 titik ke kanan dan 1 titik ke bawah.
• Dengan cara ini, operasi dilasi tidak dilakukan terhadap titik-titik yang ada di bagian tepi citra.
• Dengan demikian tidak akan terjadi operasi terhadap titik yang ada di luar indeks yang diperbolehkan. 22 of 69
Dilasi
S
A
S
A
D
(
,
)
=
⊕
Dilasi merupakan proses penggabungan titik-titik
latar (0) menjadi bagian dari objek (1), berdasarkan
structuring element S
yang digunakan.
Cara dilasi adalah:
- Untuk setiap titik pada A, lakukan hal berikut:
- letakkan titik poros S pada titik A tersebut
- beri angka 1 untuk semua titik (x,y) yang
terkena / tertimpa oleh struktur S pada posisi
tersebut
23 of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Contoh
dilasi
D A S {(2,2),(2,3),(3,2)} (2,2) ... ... {(0,2),(1,2),(0,3)} (0,2) {(0,1),(1,1),(0,2)} (0,1) {(0,0),(1,0),(0,1)} (0,0) Sxy Posisi poros ( (x,y) ∈ A ) S = {(0,0),(0,1),(1,0)} = {poros,(+0,+1),(+1,+0)} A = {(0,0),(0,1),(0,2), (1,0),(1,1),(1,2), (2,0),(2,1),(2,2)} DCapture proses pada saat posisi poros S ada di (2,2)
24 of
of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Contoh dilasi
26 of 69Erosi
•
Operasi erosi adalah kebalikan dari operasi dilasi. Erosi
merupakan proses penghapusan titik-titik objek (1)
menjadi bagian dari latar (0), berdasarkan structuring
element S
yang digunakan.
•
Pada operasi ini, ukuran obyek diperkecil dengan
mengikis sekeliling obyek.
•
Cara yang dapat dilakukan juga ada 2.
– dengan mengubah semua titik batas menjadi titik latar – dengan menset semua titik di sekeliling titik latar menjadi titik
latar.
of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Erosi
S
A
S
A
E
(
,
)
=
⊗
Cara erosi adalah:
- Untuk setiap titik pada A, lakukan hal berikut: - letakkan titik poros S pada titik A tersebut
- jika ada bagian dari S yang berada di luar A, maka titik poros dihapus / dijadikan latar.
28 of 69
Contoh erosi
E A S {(2,2),(2,3),(3,2)} ... {(0,2),(1,2),(0,3)} {(0,1),(1,1),(0,2)} {(0,0),(1,0),(0,1)} Sxy 0 0 1 1 Ko de (2,2) ... (0,2) (0,1) (0,0) Posisi poros ( (x,y) ∈ A ) S = {(0,0),(0,1),(1,0)} = {poros,(+0,+1),(+1,+0)} A = {(0,0),(0,1),(0,2), (1,0),(1,1),(1,2), (2,0),(2,1),(2,2)} DCapture proses pada saat posisi poros S ada di (2,2).
of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Contoh Erosi
30 of 69Opening
•
Opening adalah proses erosi yang diikuti dengan
dilasi.
•
Citra asli didilasi terlebih dahulu, kemudian hasilnya
dierosi.
•
Efek yang dihasilkan adalah menghilangnya atau
menutup objek-objek kecil atau lubang-lubang kecil
yang ada dalam segmen obyek dan kurus, memecah
objek pada titik-titik yang kurus, dan secara umum
men-smooth-kan batas dari objek besar tanpa
mengubah area objek secara signifikan
•
Rumusnya adalah:
S
S
A
S
A
o
=
(
⊗
)
⊕
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Opening
• Operasi penutupan juga digunakan untuk menggabungkan 2
segmen obyek yang saling berdekatan (menutup sela antara 2 obyek yang sangat berdekatan).
• Pada citra asal terdapat 2 buah segmen obyek, namun pada citra
hasil hanya tinggal sebuah segmen obyek gabungan.
• Operasi penutupan dapat juga dilakukan dalam beberapa
rangkaian dilasi-erosi (misalnya 3 kali dilasi, lalu 3 kali erosi) apabila ukuran lubang atau jarak antar obyek cukup besar.
32 of 69
Contoh Opening
S
S
⊕
)
S
⊗
A
(
A
S
⊗
A
of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Contoh Opening
34 of 69Closing
• Operasi pembukaan (Closing) juga merupakan
kombinasi antara operasi erosi dan dilasi yang
dilakukan secara berurutan, tetapi citra asli
dierosi terlebih dahulu baru kemudian hasilnya
didilasi.
• Efek yang dihasilkan adalah mengisi lubang
kecil pada objek, menggabungkan objek-objek
yang berdekatan, dan secara umum
men-smooth-kan batas dari objek besar tanpa
mengubah area objek secara signifikan
Rumusnya adalah:
S
S
A
S
A
•
=
(
⊕
)
⊗
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Closing
• Operasi ini digunakan untuk memutus bagian-bagian
dari obyek yang hanya terhubung dengan 1 atau 2 buah
titik saja.
• Seperti terlihat, pada citra asal terdapat 2 buah obyek,
namun pada citra hasil (b) menjadi 3 segmen karena
obyek pertama dipisah menjadi 2.
• Operasi ini juga digunakan untuk menghilangkan obyek
yang sangat kecil.
• Pada citra hasil (c), obyek kecil di kanan atas tidak
muncul lagi.
36 of 69Contoh Closing
)
S
S
S
⊗
⊕
A
(
S
⊕
A
A
of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Contoh Closing
38 ofof 69
Copyright @ 2007 By Emy
Hit-or-Miss transform
Suatu structuring element S dapat
direpresentasikan dalam bentuk (S1,S2)
dimana S1 adalah kumpulan titik-titik objek
(hitam) dan S2 adalah kumpulan titik-titik latar
(putih)
)
(
)
(
A
S
1
A
S
2
S
A
∗
=
⊗
∩
c
⊗
40 of 69Hit-or-miss transform
Contoh:
– S1= {b,e,h}
– S2={a,d,g,c,f,i}
i
h
g
f
e
d
c
b
a
Hit-and-misss transform A*S adalah kumpulan titik-titik dimana S1 menemukan match di A dan pada saat yang bersamaan S2 juga menemukan match di luar A.
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Contoh hit-or-miss transform
A
S
A*S
ÆYang match dipertahankan ÆYang tidak match dihapus
42 of
69
Pengisian (Filling)
• Operasi pengisian merupakan kebalikan dari operasi pencarian batas citra.
• Pada operasi ini, citra masukan adalah citra batas/kontur, kemudian dilakukan pengisian sehingga diperoleh segmen obyek yang pejal/solid.
• Prosesnya dimulai dengan menentukan titik awal pengisian yang terletak di dalam obyek, kemudian bergerak ke arah titik-titik tetangganya.
• Operasi dilakukan secara rekursif dan berhenti jika sampai di batas obyek. Perbedaan lokasi titik awal ini dapat mengakibatkan citra hasil pengisian yang diperoleh berbeda satu sama lain, seperti terlihat pada Gambar dibawah ini
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pengisian (Filling)
Algoritma untuk operasi pengisian citra
secara terhubung-4
44 of
69
Pengisian (Filling)
• Operasi di atas akan dilakukan dengan cara
mengisi obyek dengan arah ke atas sampai
menabrak
batas
obyek
Artinya, sebelum
menabrak batas (yang berupa titik obyek), maka
lokasi yang sedang ditinjau merupakan titik latar.
• kemudian ke arah kanan sampai menabrak
batas, lalu ke bawah dan akhirnya ke kiri.
• Urutan arah di atas dapat diatur menurut
kehendak kita sendiri.
• Untuk operasi pengisian terhubung-8, maka
langkah rekursif di atas ditambahkan juga untuk
tetangga diagonalnya (ada 4 titik).
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pelabelan Obyek
• Operasi pelabelan objek dilakukan apabila dalam suatu citra
terdapat lebih dari satu obyek, maka seringkali perlu untuk
membedakan antara sebuah obyek dengan obyek yang lain yang terdapat pada citra tersebut.
• Pada intinya operasi ini hampir mirip dengan operasi pengisian,
yakni menggunakan teknik rekursi.
• Mula-mula dideteksi lokasi sebuah titik yang merupakan bagian dari
sebuah obyek, lantas dengan rekursi dilakukan pengisian dengan suatu nilai (label) terhadap obyek tersebut dari lokasi tersebut sampai menemui batas luarnya (menabrak titik latar).
• Kemudian lanjutkan mendeteksi lokasi yang merupakan titik obyek
namun belum terisi oleh operasi tadi atau belum diberi label (dengan kata lain merupakan bagian dari obyek yang lain).
46 of
69
Pengerangkaan (Skeletonization)
• Pengerangkaan adalah suatu proses pengikisan sebuah obyek
sebanyak mungkin dengan tetap mempertahankan bentuk umum dari polanya.
• Setalah sebagian besar titik pada obyek tersebut dihilangkan, maka
pola dari obyek tersebut harus tetap dapat dikenali.
• Pola yang tertinggal ini disebut sebagai kerangka (skeleton), di mana
sifat-sifatnya adalah:
1. Ketipisan:
kerangka obyek berukuran setipis mungkin (1 atau 2 titik) 2. Konektivitas:
kerangka dari suatu obyek terhubung satu sama lain sesuai dengan topologi pola aslinya
3. Posisi:
letak kerangka berada tepat di tengah obyek 4. Stabilitas:
setelah suatu bagian kerangka diperoleh, maka bagian tersebut tidak akan terkikis lagi oleh operasi pengikisan berikutnya
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pengerangkaan (Skeletonization)
• Operasi perangkaan ini sangat berguna ketika kita lebih tertarik
pada pola realtif obyek ketimbang ukuran obyek, misalnya pada aplikasi pengenalan karakter (character recognition), pengenalan kromosom, dsb.
• Terdapat beberapa algoritma yang dapat digunakan untuk operasi
perangkaan, antara lain:
– algortima Hilditch, dan – algoritma Rosenfeld.
• Algoritma Hilditch dengan ukuran jendela (window) 3 x 3, yakni
menggunakan tetangga Moore dari titik yang kita tinjau.
• Pada algoritma yang merupakan operasi terhubung-8 ini dilakukan
beberapa kali iterasi pengikisan pada suatu obyek, di mana pada setiap pengikisan dilakukan pemeriksaan pada semua titik dalam citra dan melakukan
• Pengubahan sebuah titik obyek menjadi titik latar apabila
memenuhi keempat kriteria berikut ini:
1. 2 ≤ B(p1) ≤ 6 2. A(p1) =1
3. p2, p4, atau p8 ada yang merupakan titik latar, atau A(p2) ≠ 1 4. p2, p4, atau p6 ada yang merupakan titik latar, atau A(p4) ≠ 1
48 of
69
Pengerangkaan (Skeletonization)
• Algoritma dihentikan apabila pada suatu iterasi tidak
ada lagi titik yang diubah.
• Kriteria 1
– menunjukkan bahwa tidak ada titik terisolasi, B(p1) = 0, ataupun titik ujung, B(p1) = 1, yang terkikis, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar dibawah ini.
– Demikian juga titik yang ada di dalam obyek seperti pada (d), sedangkan titik pada (c) juga tidak boleh dihilangkan untuk mencegah pengecilan kerangka.
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pengerangkaan (Skeletonization)
• Kriteria 2
– menunjukkan sifat konektivitas, di mana jika kita
menghilangkan suatu titik mempunyai nilai A lebih dari 1, seperti pada Gambar dibawah ini, maka pola atau kerangka akan menjadi terputus.
– Dengan demikian titik p1 pada contoh-contoh tersebut tidak boleh dihapus.
•
50 of 69Pengerangkaan (Skeletonization)
• Kriteria 3
– digunakan untuk menghindarkan terhapusnya garis horisontal dengan lebar 2 titik, seperti pada Gambar dibawah ini.
– Dalam gambar tersebut, titik obyek pada (a) tidak memenuhi kriteria 3 sehingga tidak boleh dihapus, sedangkan titik p1 pada (b) dan (c) memenuhi kriteria, sehingga mungkin akan dihapus.
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Pengerangkaan (Skeletonization)
• Kriteria 4
– mirip dengan kriteria 3, namun digunakan untuk
menghindarkan terhapusnya garis vertikal berlebar 2 titik. – Titik p1 pada (a) tidak memenuhi kriteria tersebut sehingga
tidak boleh dihapus, sedangkan pada (b) dan (d) memenuhi syarat, sehingga mungkin dapat dihapus.
52 of 69
Contoh Hasil Operasi
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Kelemahan Algoritma Hilditch
• tidak dapat digunakan untuk memperoleh
kerangka dari semua obyek.
• Ada beberapa pola yang akan akan terkikis
habis
54 of
69
Thinning
Tujuan: me-remove piksel tertentu
pada objek sehingga tebal objek
tersebut menjadi hanya satu piksel.
Thinning tidak boleh:
- Menghilangkan end-point
- Memutus koneksi yang ada
- Mengakibatkan excessive erosi
Salah satu kegunaan thinning adalah pada proses
pengenalan karakter/huruf
Ada banyak cara mengimplementasikan thinning, salah
satu diantaranya adalah dengan hit-or-miss transform
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Thinning
Thinning dapat didefinisikan sebagai:
– Thinning(A,{B}) = A – (A * {B})
= A – ((...(A*B1)*B2)..Bn)
Dengan B1, B2, B3..Bn adalah
Structuring element.
Note:
A-(A*B) berarti kebalikan dari A*B
ÆYang match dihapus
ÆYang tidak match dipertahankan
56 of
69
Contoh
of 69 Copyright @ 2007 By Emy
Contoh Thinning
58 of 69of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Key Stages in Digital Image Processing
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression 60 of 69
Key Stages in Digital Image Processing:
Image Aquisition
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, D ig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2)61 of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Key Stages in Digital Image Processing:
Image Enhancement
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression Imag es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, Dig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2) 62 of 69Key Stages in Digital Image Processing:
Image Restoration
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, D ig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2)63 of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Key Stages in Digital Image Processing:
Morphological Processing
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression Imag es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, Dig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2) 64 of 69Key Stages in Digital Image Processing:
Segmentation
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, D ig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2)65 of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Key Stages in Digital Image Processing:
Object Recognition
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression Imag es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, Dig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2) 66 of 69Key Stages in Digital Image Processing:
Representation & Description
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, D ig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2)
67 of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Key Stages in Digital Image Processing:
Image Compression
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression 68 of 69Key Stages in Digital Image Processing:
Colour Image Processing
Image Acquisition Image Restoration Morphological Processing Segmentation Representation & Description Image Enhancement Object Recognition Problem Domain Colour Image Processing Image Compression es tak en fr om Go nz al ez & W oo d s, D ig ital Im ag e Pr oc essi ng ( 20 0 2)
of 69
Copyright @ 2007 By Emy
Tugas
• Buatlah makalah mengenai implementasi
pemanfaatan pengolahan citra digital pada
kasus riil
• Carilah dari jurnal-jurnal terbaru lewat
internet
• Tugas dikerjakan secara kelompok
maksimal 3 orang dan dipresentasikan
pada pertemuan terakhir
70 of 69