• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

3

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Umum

2.1.1 Hewan Langka di Indonesia

Hewan Langka Indonesia daftar ini selain memuat nama hewan dalam bahasa Indonesia juga dilengkapi dengan penyebutannya dalam nama latin (nama ilmiah) dan bahasa Inggris serta sedikit penjelasannya. Sebenarnya dalam dunia konservasi tidak mengenal istilah hewan langka. Status yang di pakai adalah “hewan terancam punah” sebagaimana yang biasa digunakan oleh berbagai lembaga konservasi semacam IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) yang rutin mengklasifikasi dan merilis daftar IUCN Red List of Threatened Species. (sumber www.iucnredlist.org, diunduh tanggal 14 Maret 2014)

Daftar tersebutlah yang kemudian dijadikan acuan berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah dalam pengambilan kebijakan terkait konservasi hewan. Indikator keterancaman ini pula yang kemudian sering di samakan dengan tingkat kelangkaan sebuah spesies. Hewan langka di Indonesia kian lama kian bertambah, pertambahan ini di sebabkan oleh beberapa faktor mulai dari faktor lingkungan dan juga manusia, yang menyebabkan hewan semakin lama semakin berkurang, kemudian muncul lah hewan langka. (sumber www.iucnredlist.org, 2013)

Pelestarian hewan langka adalah tanggung jawab semua pihak. Hal ini terkait dengan kondisi bahwa manusia adalah salah satu pihak yang memiliki peran terbesar dalam proses musnahnya beberapa jenis spesies hewan. Meski manusia berada dalam jalur yang berlainan dengan dunia hewan dalam sebuah rantai makanan, namun pada kenyataannya manusia adalah salah satu predator dalam kehidupan hewan. Dalam proses pelestarian hewan langka ini, bertujuan untuk mempertahankan kehidupan spesies hewan yang makin sedikit. (sumber www.iucnredlist.org)

(2)

Hal ini sesuai kenyataan di lapangan, bahwa ada beberapa jenis spesies binatang yang makin sulit dijumpai. Bahkan, ada beberapa jenis binatang yang ditenggarai sudah musnah sama sekali dan tidak lagi di jumpai di alam bebas. Salah satu jenis hewan yang kini mulai sulit dijumpai di alam bebas seperti Kuda laut Walea, atau juga beberapa jenis kura-kura hutan Sulawesi. Binatang-binatang tersebut tergolong jenis Binatang-binatang yang sudah hilang atau makin sedikit jumlahnya. (sumber www.iucnredlist.org)

2.1.2 Kategori Hewan Langka di Indonesia

Berikut merupakan jenis-jenis hewan langka yang ada di Indonesia menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources: 1. Gajah Sumatera 2. Komodo 3. Rusa Bawean 4. Harimau Sumatera 5. Badak Jawa 6. Orang Utan 7. Kura-kura Hutan

8. Kera Hitam Sulawesi

9. Burung Merak

10. Tapir

Hewan langka yang disebutkan di atas, baik hidup atau mati, dilarang oleh pemerintah untuk diperdagangkan. Maka pemerintah membuat peraturan yang melarang perdagangan hewan langka. Hal itu sebagai upaya pelestarian hewan langka agar bisa dicegah kepunahannya.

(3)

2.1.3 Psikologi Anak Membaca

Mengenal kondisi psikologis perkembangan anak menjadi sesuatu yang harus dipahami oleh para pendidik dan orang tua dalam mempengaruhi kemampuan baca anak. Kemampuan anak yang satu dibandingkan dengan anak yang lain tidak sama. Misalnya kemampuan motorik visual. Kematangan motorik visual setiap anak berbeda-beda tergantung kematangan fungsi organ, kematangan daya konsentrasi dan kematangan emosi. Oleh sebab itu biarkan kematangan ini berjalan alami agar menghindari anak jadi jenuh dan frustasi karena dipaksakan.

Pada umumnya daya pikir anak belum mampu dan tertarik untuk belajar, sehingga cara yang biasa mereka lakukan adalah dengan bermain sambil belajar. Ketika anak sudah tertarik, maka akan mudah baginya untuk mempelajari baca dan tulis. Membuat proses pembelajaran baca dan tulis agar menarik bagi anak adalah tugas pendidik dan orang tua. Perlu diingat bahwa untuk membangun karakter gemar membaca harus memiliki motivasi untuk melakukan kegiatan belajar atas keinginannya sendiri, bukan karena paksaan. Anak mampu untuk belajar dimanapun dan kapan pun sehingga setiap anak akan merasa bahagia bukan terbebani. Jadi bagaimana membuat anak bisa menyukai buku dan gemar membaca adalah pilihan bagi para pendidik, bukan hanya mengajarkan mereka bagaimana bisa membaca (Ranis, 2013).

2.1.3.1 Menumbuhkan minat baca anak

Menumbuhkan minat baca pada anak usia dini dapat dimulai dengan memperkenalkan huruf dan kata melalui buku cerita yang sering dibacakan atau melakukan permainan yang terdapat unsur bacaannya. Hal itu disebabkan anak usia dini lebih mudah menyerap hal-hal yang bersifat permainan. Dalam membacakan buku sebaiknya dengan suara yang terdengar oleh anak (read a loud). Aktivitas ini bila dilakukan secara terus menerus maka anak akan mengalami “magic reading”, yaitu anak akan tiba-tiba bisa membaca tanpa diajari membaca secara formal.

Dengan sering membacakan buku kepada anak, dapat meningkatkan listening level mereka dan anak akan tumbuh menjadi orang yang terbiasa mendengarkan dengan baik bukan hanya sekedar mendengar saja. Anak akan mendengarkan apa

(4)

yang disebut dan melihat apa yang ditunjukkan. Sehingga koneksi otaknya terbangun. Hal ini akan mendukung perkembangan otak anak dengan baik. Ketika anak mendengar apa yang dibacakan, dia akan mampu mengucapkan, ketika dia mampu mengucapkan maka dia akan mampu membacanya dan pada akhirnya anak itu akan mampu menuliskannya. (Ranis, 2013)

Menurut Soeseno Bachtiar seperti dikutip dalam bukunya yang berjudul “Buku Pintar Memahami Psikologi Anak Didik : Panduan Sukses Menjadi Guru Teladan dan Profesional” bahwa ada 7 hal yang harus diketahui oleh para pendidik untuk menumbuhkan minat baca anak yaitu :

1. Memberikan stimulus kearah minat baca jauh lebih baik daripada langsung mengajari mereka baca tulis. Ingat dunia anak-anak adalah dunia bermain, yang pantas kita berikan kepada mereka adalah sebuah permainan walaupun didalamnya ada unsur edukasi baca tulis.

2. Untuk membangun minat baca anak, orang tua memiliki andil besar untuk memberikan contoh. Anak biasanya akan mencontoh perilaku orang terdekatnya, salah satunya orangtua. Tumbuhkan minat mereka dengan memberikan buku-buku bacaan yang disertai gambar-gambar dan warna-warna yang menarik, sesuai dengan minat dan usianya. Misalnya jika anak senang dengan robot-robotan, maka anak akan cepat merespon ketika diberikan buku yang bercerita dan bergambar tentang robot-robotan. Yang lebih penting lagi, pilih buku yang lebih banyak gambarnya daripada hanya tulisan saja.

3. Sebelum diajarkan menulis, anak harus dilatih kemampuan motorik halusnya terlebih dahulu. Misalnya melipat, mengelem, menggunting, mewarnai, membuat berbagai bentuk dengan bahan clay, dan lain-lain. Setelah itu ajari bagaimana memegang pensil dengan benar baru ajari mereka menulis.

4. Jika anak sudah menunjukkan minat untuk membaca dan menulis maka berikanlah bantuan padanya.

5. Orang tua tidak perlu menjadi depresi jika anak belum bisa membaca dan menulis. Nanti kalau sudah tiba waktunya ia akan cepat membaca dan menulis. Pada usia 6 tahun pada umumnya anak sudah bisa baca tulis.

(5)

6. Jangan membuat anak merasa ‘bodoh’ karena akan membentuk konsep diri yang negatif dan anak menjadi tidak percaya diri. Lihatlah kelebihan yang dimiliki anak karena setiap anak pasti memiliki kelebihan.

7. Pilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan si anak. Jangan memaksakan anak untuk masuk di sekolah favorit yang dianggap terbaik untuknya, padahal belum tentu sekolah tersebut adalah yang terbaik untuk anak bila tidak sesuai dengan kondisi anak.

2.1.4 Origami

Kata origami berasal dari bahasa Jepang, dari kata oru yang berarti melipat dan kami berarti kertas. Penggabungan kata tersebut mengubah kata kami menjadi gami, sehingga bukan orikami tetapi origami, artinya sama yaitu melipat kertas. Meskipun origami lebih dikenal di Jepang, namun lahirnya origami berasal dari negeri Cina. Berawal dari kain perca serta aneka ragam tumbuh-tumbuhan, maka dibuatlah kertas yang nantinya digunakan sebagai bahan pembuatan origami. Baru pada abad 16, Origami berkembang di Spanyol, daratan Arab dan semakin populer di Jepang.

Di Jepang origami diperkenalkan oleh seorang dokter pribadi kaisar Jepang, dr. Dokkyo. Ia mengenalkannya kepada Ratu Shotoku. Kemudian Ratu tertarik untuk menghias kerajaan serta kuil dengan gantungan origami, sebagai simbol agama Shinto (agamanya orang Jepang). Bertepatan dengan bulan itu pula dirayakan Tanabana, Ratu meminta setiap orang wajib untuk membuat origami sebanyak mungkin untuk digantungkan pada pohon keberuntungan. Sekarang origami menjadi salah satu seni yang disukai berbagai kalangan masyarakat. Seni origami menjadi semakin berkembang dan semakin diminati karena bahan origami tersebut sangat mudah didapatkan dan tersedia dengan berbagai bentuk dipasaran. (Martha Christianti M.Pd, 2012:56)

Origami memang bukan hanya mainan anak-anak, seperti yang telah dinyatakan oleh seniman origami dari Kanada Josep Wu pada pertemuan origamer dunia di Tokyo. Namun tak dipungkiri bahwa origami memang sangat dekat dengan dunia anak-anak. Sebagian di antara model origami jelas sangat disukai mereka dan

(6)

juga sangat sesuai dengan dunia anak. Aktifitas origami itu sendiri ternyata juga sangat disenangi oleh hampir semua anak-anak. Maka bagi orang tua yang sudah mengerti manfaat dan nilai positifnya bagi mereka, tentu tidak akan melewatkan aktifitas, sarana dan kesempatan ini begitu saja.

Berikut ini beberapa alasan dan sekaligus manfaat berorigami untuk mereka:

1. Anak belajar meniru/mengikuti arahan

Ketika seorang anak mengikuti tahap demi tahap lipatan dengan baik, maka sebenarnya ia telah belajar bagaimana mengikuti petunjuk dan arahan baik dari orang tua, instruktur, maupun dari gambar/foto origami. Dari sanalah ia belajar membuat sesuatu dari cara yang paling mendasar yakni meniru.

2. Anak belajar berkreatifitas

Origami memang dunia kreatifitas. Begitu banyak model origami, baik model tradisional maupun model dari karya-karya terbaru. Seorang anak tinggal memilih model apa dan mana yang ia sukai. Seiring dengan itu, jika anak sudah mulai mahir melipat dan sudah banyak model yang ia lipat, maka pada saat tertentu nanti akan muncul gagasan ingin membuat sesuatu dari teknik-teknik lipatan yang telah dikenalnya. Ini artinya ia belajar berkreasi untuk menghasilkan sesuatu.

3. Anak belajar berimajinasi

Model origami biasanya juga merupakan miniatur dari makhluk dan benda-benda kebutuhan hidup. Modelnya merupakan hasil dari imajinasi para pembuatnya. Ada model yang sangat jelas atau sangat natural dari bentuk-bentuk atau model-model kehidupan. Namun ia juga kadang begitu abstrak sehingga lebih diperlukan imajinasi yang kuat untuk menangkapnya. Seorang anak akan belajar berimajinasi melalui origami ini. Apalagi ketika ia telah mencoba berkreasi dengan sesuatu bentuk yang baru tanpa meniru atau mengikuti diagramnya.

4. Anak belajar berkarya (seni)

Origami adalah seni melipat kertas, sehingga ketika seorang anak membuat origami berarti ia telah belajar berkarya (seni). Seni di sini bisa diartikan dalam dua hal,

(7)

yakni pertama seni melipatnya (teknik dan cara melipatnya, prosesnya pada setiap tahapan, dsb), yang kedua adalah modelnya itu sendiri yang menjadi karya seni. Hasil karya origami jelas dapat dimasukkan dalam seni visual (visual art). Penggunaan jenis ragam dan warna kertas akan menjadikan model yang juga berbeda, termasuk komposisi yang diinginkannya.

5. Anak belajar menghargai/mengapresiasi

Bicara soal karya dan seni, tentu tidak lepas dari kata apresiasi dan penghargaan. Mempraktekkan origami berarti juga belajar mengapresiasi sebuah cabang karya seni dari seni visual. Seorang anak ketika berorigami berarti juga akan belajar mengapresiasi seni dan keindahan sejak dini, artinya ia juga belajar kehalusan jiwa.

6. Anak belajar membuat model

Origami adalah melipat kertas untuk membuat suatu model. Maka ketika seorang anak berorigami, ia sedang belajar membuat dari selembar kertas (atau lebih) menjadi sebuah model sesuai dengan kemampuan dan kesukaannya. Model dalam origami sangatlah banyak dan terus berkembang seiring dengan karya-karya baru yang dihasilkan oleh para pelipat. Namun model origami yang disukai anak biasanya adalah model origami tradisional yang berupa mainan (miniatur) binatang, pesawat (anak laki-laki), rumah dan alat rumah tangga (anak wanita) dan sebagainya. Model origami untuk anak ini, biasanya terdiri dari lipatan sederhana dengan sedikit tahapan dalam diagramnya. Namun tidak menutup kemungkinan, seorang anak yang telah banyak mencoba jenis lipatan akan bisa membuat model origami yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Semakin banyak mencoba jenis lipatan, seorang anak tentu dapat membuat model origami lebih banyak lagi.

7. Anak belajar membuat mainannya sendiri

Banyak model origami yang dapat digunakan untuk bermain anak, misalnya kodok lompat, piring terbang, bola besar, pesawat-pesawat terbang, perahu, kuda berputar, suara tembakan, baling-baling, model peralatan rumah mulai lemari, kursi, meja dipan, dan lain-lain. Model-model itu umumnya dapat cukup dibuat dari selembar kertas saja. Untuk model tertentu yang berukuran besar bisa menggunakan kertas koran, seperti untuk membuat topi, bola besar, pesawat dan lain-lain. Perlu

(8)

digaris-bawahi bahwa dalam berorigami, melipatnya itu sendiri adalah bagian dari bermain, setelah menjadi model, juga dapat dimainkan baik sendiri atau bersama.

8. Anak belajar membaca diagram/gambar

Belajar origami, selain melalui bimbingan seorang guru atau instruktur, dapat pula melalui animasi atau melalui diagram dari sebuah buku origami. Jadi seorang anak dapat membuat origami dengan mengikuti diagram yang ada dalam buku, meski harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Ini diharapkan agar anak tidak kesulitan untuk menyelesaikannya. Bahkan dianjurkan, bila kemampuan sang anak masih tahap pemula, baiknya senantiasa didampingi orang dewasa, agar ketika mendapat kesulitan ada yang membantu untuk menyelesaikannya. Yang pasti, semakin sering anak berlatih melalui diagram-diagram yang ada, maka akan meningkat pula kemampuan membaca diagramnya termasuk pengenalan terhadap jenis lipatan yang digunakan. Proses membaca diagram akan merangsang logikanya untuk memikirkan rangkaian tahapan hingga selesai.

9. Anak belajar menemukan solusi bagi persoalannya

Sebuah diagram origami terdiri dari beberapa tahapan, dimana setiap tahapannya merupakan rangkaian persoalan-persoalan lipatan yang beraneka ragam. Ketika seorang anak membuat origami dengan cara mengikuti alur sebuah diagram, sebetulnya dia sedang menghadapi persoalan pada setiap tahapan diagram itu. Bilamana dia berhasil mengikuti tahap demi tahap, artinya ia dapat menyelesaikan persoalan origami. Pada saat seperti itu, untuk anak umur tertentu akan berjalan logikanya, bagaimana mengikuti, membaca gambar, dan menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Bahkan jika sudah mulai membuat karya sendiri, ia akan berusaha mencari solusi, hingga berhasil membentuk sebuah model origami yang diharapkan. Tentu ini latihan yang sangat baik bagi anak untuk belajar memecahkan persoalannya.

10. Anak belajar perbandingan (proporsi) dan berfikir matematis

Satu di antara yang sangat menentukan keindahan model origami adalah yang disebut dengan proporsi bentuk (perbandingan bentuk). Mengapa model ini atau itu

(9)

mirip bentuk tertentu adalah karena teori proporsi. Tingkat keindahan sebuah model origami (meski sudah jelas modelnya) adalah juga sangat terletak pada proporsi ini. Di sisi lain jenis lipatan origami tradisional umumnya merupakan jenis lipatan berdasarkan teori matematis, artinya bukan asal lipatan (berbeda dengan banyak teknik untuk model-model kontemporer). Dengan demikian, aktifitas origami dapat membimbing seorang anak untuk mengenal konsep perbandingan bentuk dan sekaligus konsep matematis. (www.sanggar-origami.com)

2.2. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh dan yang akan digunakan untuk proyek tugas akhir berasal dari beberapa sumber, diantaranya adalah :

2.2.1 Data Literatur dan Website

- Seni Melipat Kertas - Kawan-Kawan Makhluk Hidup 2, oleh Miyoko Alam

- Seni Melipat Kertas - Aneka Burung, oleh Miyoko Alam

- ORIGAMI Inspired by Japanese Prints, by STEVE AND MEGUMI BIDDLE

- Soeseno Bachtiar, 2012

- planetpals

- Rahasia mengajarkan seni pada anak. Yogyakarta:Pripoenbooks, 2003.

2.2.2 Data Wawancara

Narasumber : Thomas Andika

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 14 Maret 1998

Wawancara dilakukan pada tanggal 4 Maret 2014 kurang lebih pada pukul 15.00 di Rumah Thomas Andika. Saat ini Thomas duduk dibangku SMA kelas 1 di Beacon International Serpong, Tangerang. Saya mewawancarai ibu dari Thomas, Beliau menceritakan sedikit tentang kondisi psikologis Thomas. Thomas merupakan

(10)

anak penyandang gangguan spektrum (autisme). Sejak SD, ia memiliki hobi menggambar, membuat origami, dan membaca buku-buku tentang binatang. Semula, Thomas mengasah bakat menggambarnya sendiri (otodidak) dengan pensil. Bakat Thomas dalam membuat origami juga diasahnya sendiri. Untuk memperluaswawasan seputar seni melipat kertas dari Jepang tersebut, Thomas mengunduh e-book tentang origami. Semua itu ia lakukan sendiri tanpa ada yang mengajarinya. Belakangan ini Thomas mulai mengkomersilkan hasil origami buatannya yang kemudian uang hasil penjualannya disumbangkan kepada orang yang kurang mampu. Saat di rumahnya saya melihat banyak karya origami yang dibuat oleh Thomas, kebanyakan dari karya-karya tersebut lebih mengarah pada bentuk hewan.

Gambar 2.1 Sumber : Resca Novianty 2.2.3 Data Target

2.2.3.1 Perilaku Konsumen

Anak-anak pada masa sekarang yang sudah terbiasa dengan kemudahan, sudah jarang membaca bahkan membeli buku. Hal ini menyebabkan kurangnya kreativitas terhadap anak. Belajar mengenal hewan sekaligus belajar origami dapat membantu anak mengembangkan kreativitas dan pengetahuan.

(11)

2.2.3.2 Psikografi

-Personality

- Anak-anak yang ceria

- Senang bermain

- Suka berkreasi

- Memiliki rasa keingintahuan yang tinggi

2.2.3.4 Demografi

Gender : Pria dan Wanita

Usia : 6-12 tahun

Kewarganegaraan : Indonesia

Pekerjaan : Pelajar

Jenis Kelamin : Laki-laki & Perempuan

Kelas sosial : A-B

2.2.3.5 Geografi

Geografis: Seluruh wilayah Indonesia

Psikologi: Anak-anak yang ceria, suka bergaul, suka bermain, dan memiliki keingin tahuan tentang kreativitas origami dan hewan.

2.2.4 Penerbit

Gagas Media

(12)

Sebuah penerbitan buku yang didirikan pada 4 Juli 2003, dengan segmentasi buku popular untuk kalangan remaja. Buku-buku GagasMedia langsung menggebrak dunia perbukuan Indonesia. Misi untuk melahirkan penulis-penulis muda generasi baru yang diusung GagasMedia terbukti sukses dengan munculnya penulis-penulis muda seperti Adhitya Mulya dengan novel Jomblo-nya (2003), Icha Rahmanti dengan Cintapucino-nya (2004) dan banyak lagi penulis-penulis muda yang dilahirkan GagasMedia dan sukses sebagai penulis best seller.

GagasMedia memiliki visi jauh ke depan untuk mengangkat dunia buku di Indonesia sebagai sesuatu yang popular. Sesuatu yang digemari dan diminati oleh banyak orang sehingga buku sebagai sarana untuk

mencerdaskan masyarakat tidak berjarak dengan masyarakat itu. Untuk mencapai tujuan ini, jembatan yang dipakai GagasMedia adalah melahirkan penulis-penulis muda yang bermutu dan mampu menulis karya yang digemari banyak orang. Sasaran GagasMedia adalah generasi muda yang selama ini masih berjarak dengan buku.

Gagasmedia yang didirikan oleh FX Rudy Gunawan, Anthonius Riyanto, Moammar Emka, Hikmat Kurnia, dan Andi Dominicus, juga sukses memelopori karya-karya adaptasi hasil kolaborasi dengan dunia hiburan, khususnya film dan sinetron, dengan menampilkan penulis-penulis senior seperti Fira Basuki (Brownies, 2005), FX Rudy Gunawan (Tusuk Jelangkung, 2004 dan Bangsal 13, 2005), Nova Riyanti Yusuf (30 Hari Mencari Cinta, 2003), Agung Bhawantara (Seventeen, 2005), Moammar Emka (Tentang Dia, 2005), dan banyak lagi novel-novel adaptasi lainnya.

GagasMedia berada di bawah satu atap dengan AgroMedia Pustaka dan memasarkan buku-bukunya melalui AgroMedia Distributor sehingga tersebar merata di seluruh Indonesia. Sampai bulan Mei 2006, GagasMedia telah menerbitkan sekurangnya 142 judul buku, jadi setiap bulannya paling sedikit menerbitkan empat judul buku.

(13)

2.3. Tinjauan Khusus

2.3.1. Teori Publikasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku adalah lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, publikasi adalah 1. Pengumuman

2. Penerbitan

2.3.2 Teori Layout

Menurut Garvin Ambrose dan Paul Harris, Layout adalah penyusunan dari elemen-elemen desain yang berhubungan kedalam sebuah bidang sehingga membentuk susunan artistik. Hal ini bisa juga disebut manajemen bentuk dan bidang. Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat memudahkan pembaca menerima informasi yang disajikan.

2.3.3 Teori Grid

Sebuah grid diciptakan sebagai solusi terhadap permasalahan penataan elemen-elemen visual dalam sebuah ruang. Grid digunakan sebagai perangkat untuk mempermudah menciptakan sebuah komposisi visual. Melalui grid seorang perancang grafis dapat membuat sebuah sistematika guna menjaga konsistensi dalam melakukan repetisi dari sebuah kompisisi yang sudah diciptakan. Tujuan utama dari penggunaan grid dalam desain grafis adalah untuk menciptakan suatu rancangan yang komunikatif dan memuaskan secara estetik.

2.3.4 Teori Ilustrasi

Ilustrasi adalah hasil visualisasi dari suatu tulisan dengan teknik drawing, lukisan, fotografi, atau teknik seni rupa lainnya yang lebih menekankan hubungan subjek dengan tulisan yang dimaksud daripada bentuk. Tujuan ilustrasi adalah untuk menerangkan atau menghiasi suatu cerita, tulisan, puisi, atau

(14)

informasi tertulis lainnya. Diharapkan dengan bantuan visual, tulisan tersebut lebih mudah dicerna.

2.3.5 Teori Tipografi

Tipografi (Typography) adalah perpaduan antara seni dan teknik mengatur tulisan, agar maksud serta arti tulisan dapat tersampaikan dengan baik secara visual kepada pembaca. Pengolahan tipografi tidak hanya terbatas lewat pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, dekorasi, kesesuaian dengan tema, tetapi juga meliputi tata letak vertikal atau horizontal tulisan pada sebuah bidang desain. Ilmu tipografi digunakan pada banyak bidang diantaranya desain grafis, desain web, percetakan, majalah, desain produk dll.

Jenis-jenis Huruf

Berikut ini beberapa jenis huruf berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, antara lain sbb :

Roman

Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.

Egyptian

Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.

Sans Serif

Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer sama.

(15)

Script

Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.

Miscellaneous

Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.

2.3.6 Teori Warna

Seperti yang dikatakan oleh Henry Dreyfuss warna dapat didefinisikan secara obyektif atau fisik sebagai sifat cahaya yang dipancarkan, atau secara psikologis merupakan bagian dari pengalaman pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panjang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit dari gelombang elektromagnetik.

Proses terlihatnya warna adalah dikarenakan adanya cahaya yang menimpa suatu benda, dan benda tersebut memantulkan cahaya ke mata (retina) kita hingga terlihatlah warna. Benda berwarna merah karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan warna merah dan menyerap warna lainnya. Benda berwarna hitam karena sifat pigmen benda tersebut menyerap semua warna pelangi. Sebagai bagian dari elemen tata rupa, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain. Dalam perencanaan corporate identity, warna mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek identitas.

Menurut teori dari Teori Brewster yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1831, warna juga mendefinisikan karakter seseorang secara umum, seperti warna- warna berikut :

1. Hitam, sebagai warna yang tertua (gelap) dengan sendirinya menjadi lambing untuk sifat gulita dan kegelapan (juga dalam hal emosi).

(16)

2. Putih, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesucian.

3. Abu-abu, merupakan warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.

4. Merah, bersifat menaklukkan, ekspansif (meluas), dominan (berkuasa), aktif dan vital (hidup), panas membara, peringatan, penyerangan, cinta.

5. Kuning, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, merupakan wakil dari hal-hal atau benda yang bersifat cahaya, momentum dan mengesankan kebahagiaan, keceriaan dan hati-hati

6. Biru, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu, sifat yang tak terhingga dan transenden, disamping itu memiliki sifat tantangan.

7. Hijau, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru, identik dengan pertumbuhan dalam lingkungan,pasukan perdamaian,kepuasan

8. Pink, warna yang identik dengan wanita, menarik/cantik, gulali

9. Jingga, warna yang identik dengan musim gugur, penuh kehangatan, halloween.

10. Coklat, warna yang mengesankan hangat, identik dengan musim gugur, kotor, bumi

11. Ungu, warna yang identik dengan kesetiaan, kepuasan, Barney (tokoh boneka berwarna ungu)

2.4 Analisa SWOT

Strength :

Belum ada buku ilustrasi yang membahas tentang hewan langka dengan menampilkan origami hewan tersebut.

(17)

Weakness :

Kurangnya minat anak-anak zaman sekarang terhadap origami

Opportunities :

-Tidak ada buku publikasi mengenal hewan langka dengan origami yang dikemas secara ilustrasi dengan warna yang menarik dan tidak monoton

-Hadir sebagai buku yang membahas pentingnya kreativitas untuk anak

-Agar kerajinan seni melipat kertas (origami) masih terus diminati

Threat :

- Kurangnya minat membaca dan membeli buku di zaman sekarang

- Karena kemajuan teknologi yang merubah pola pikir dan gaya hidup yang lebih modern

2.5 Spesifikasi Buku

Ukuran Buku : Landscape 21 x 21 cm

Spiral hard cover Matte Paper 120 gr

Referensi

Dokumen terkait

Setelah data dianalisis dapat dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Numbered Heads Together berbantuan Interactive Handout

NAMBORU : Dipakai oleh laki-laki dan perempuan untuk panggilan saudara perempuan ayahnya, untuk isteri dari saudara laki-laki suami NAMBORU nya tersebut, untuk isteri dari

Adapun tujuan dalam penelitian tugas akhir ini adalah untuk mengetahui bagaimana analisis pelaksanaan Layanan SMS Banking di Bank Nagari Cabang Pembantu Syariah

Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi dan satu sifat watak tertentu. Tokoh ini tidak memiliki sifat atau tingkah laku yang memberikan efek kejutan

pengecatan Hematoxylin Eosin menunjukkan hasil kualitas sediaan yang identik, rata rata hasil yang baik yaitu warna biru terang pada inti sel, warna merah ( eosin )

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT dan Hidayah-nya karena berkah dan rahmat penulis dapat menyelesaikan laporan akhir yang berjudul Analisis Kombinasi

Adapun perbedaan penelitian yang telah dilakukan oleh Wikanta, dkk (2010) dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu jenis sampel dan jenis penambahan

Hasil penelitian ini pada rasio efektivitas PAD Kota Jambi menunjukkan bahwa kinerja keuangan Pemerintah Daerah Kota Jambi sudah efektif, tingkat efisiensi keuangan daerah