• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH RASIO Na2SiO3 : NaOH TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER BATU NAPAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH RASIO Na2SiO3 : NaOH TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER BATU NAPAL"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH RASIO Na

2

SiO

3

: NaOH TERHADAP KUAT TEKAN

MORTAR GEOPOLIMER BATU NAPAL

Heri Wijaya¹, Vike Itteridi², Tarmizi

3

Program Studi Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknologi Pagar Alam123

Jln.Masik Siagim No.75 Simpang Bacang Dempo Tengah Kota Pagar Alam

Sur-el :

[email protected]

Abstrak: Penelitian ini membahas mengenai pemanfaatan batu napal sebagai bahan penyusun

mortar geopolimer yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio Na₂SiO₃ : NaOH terhadap kuat tekan mortar geopolimer batu napal. Dalam pembuatannya, mortar geopolimer memanfaatkan mineral alami dengan kandungan SiO2 (silika oksida) yang tinggi sebagai prekursor dan mengunakan aktivator sebagai pengikat seperti, NaOH (natrium hidroksida) dan Na2SiO3 (natrium silikat), oksida silika yang terdapat dalam bahan tersebut akan bereaksi secara kimia dan membentuk ikatan polimer. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode ekperimental yaitu melakukan pengujian langsung di laboratorium prosedur yang dikerjakan sesuai dengan tahapan dan direncanakan mengacu pada standar yang beralaku. Rasio aktivator Na₂SiO₃ : NaOH yang digunakan pada penelitian ini adalah 1, 1,5, dan 2. Berdasarkan hasil uji kuat tekan mortar geopolimer yang memiliki kuat tekan maksimum adalah pada umur 28 hari dengan komposisi rasio perbandingan Na2SiO3 : NaOH, 1:1 sebesar 15,07 Mpa. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa semakin banyak penggunaan Na2SiO3 maka berpengaruh terhadap kuat tekan mortar geopolimer batu napal akan semakin menurun. Maka mortar geopolimer berbahan batu napal termasuk ke dalam mortar sederhana yaitu mortar untuk bagian-bagian non-struktur.

Kata Kunci : Mortar Geopolimer, Batu Napal, Ekperimental, Rasio Aktivator.

Abstract : This study discusses the use of marl stone as a constituent of geopolymer mortar which aims to determine the effect of the Na₂SiO3 : NaOH ratio to the compressive strength of a marl stone geopolymer mortar. In its manufacture, geopolymer mortar utilizes natural minerals with high SiO2 (silica oxide) content as precursors and uses activators as binders such as NaOH (sodium hydroxide) and Na2SiO3 (sodium silicate), silica oxides contained in these materials will react chemically and form polymer bonds. The method in this study uses an experimental method that is doing direct testing in the laboratory procedures that are carried out in accordance with the stages and planned to refer to the applicable standards. The Na₂SiOi: NaOH activator ratio used in this study is 1, 1.5, and 2. Based on the geopolymer compressive strength test results that have a maximum compressive strength at 28 days with a composition ratio of Na2SiO3: NaOH, 1: 1 for 15 , 07 Mpa. From the results of the analysis it can be concluded that the more use of Na2SiO3, the effect on compressive strength of napal geopolymer stones will decrease. So geopolymer mortar made from stone is included in a simple mortar that is mortar for non-structural parts.

Keywords: Mortar Geopolimer, Batu Napal, Experimental, Rasio Aktivator.

I. PENDAHULUAN

Kontruksi beton semakin marak

digunakan dalam pembangunan di Indonesia,

dalam

perkembangannya

penggunaan

kontruksi beton menimbulkan dampak

negatif salah satunya ditimbulkan oleh semen

(2)

portland sebagai bahan pembentuk beton.

Dalam

produksinya

menghasilkan

CO

2

(karbon dioksida) dalam jumlah besar dan

mengakibatkan

emisi

karbon

dioksida

meningkat dampaknya pencemaran udara

yang berdampak bagi kesehatan manusia dan

lingkungan, maka dari itu perlu adanya

inovasi

untuk

mengatasi

permasalahan

tersebut dengan mengganti semen sebagai

bahan pembuatan beton.

Beton geopolimer dapat dijadikan

sebagai salah satu solusi pengendalian

dampak negatif dari penggunaan semen

portland

karena

ramah

lingkungan.

Geopolimer dapat didefinisikan sebagai

material yang dihasilkan dari geosintesis

aluminosilikat polimerik dan alkali-silikat

yang menghasilkan kerangka polimer SiO

4

(silika tetraoksida) dan AlO

4

(alumunium

tetraoksida) yang terikat secara tetrahendral.

Dalam

perkembangannya

pemanfaatan

geopolimer dapat diterapkan pada mortar

geopolimer.

Mortar geopolimer merupakan mortar

dengan material dan bahan alami sebagai

pengikat, material alami yang digunakan

memiliki kandungan oksida silika dan

alumina yang tinggi. Dalam pembuatannya,

mortar geopolimer dapat memanfaatkan

mineral alami dengan kandungan SiO2 (silika

oksida) yang tinggi sebagai prekusor seperti

abu sekam padi, abu terbang, batu napal.

Bahan tersebut tidak memiliki kemampuan

mengikat, namun dengan aktivator sebagai

pengikat seperti, NaOH (natrium hidroksida)

dan Na

2

SiO

3

(natrium silikat), oksida silika

yang terdapat dalam bahan tersebut akan

bereaksi secara kimia dan membentuk ikatan

polimer.

Kota Pagar Alam merupakan daerah

pegunungan yang memiliki potensi kekayaan

alam yang memadai dalam memenuhi

kebutuhan

bahan

pembentuk

beton

geopolimer seperti batu napal, pemanfaatan

batu napal di Kota Pagar Alam belum

dimanfaatkan secara maksimal. Berdasarkan

hal tersebut peneliti dalam tugas akhir ini

menggunakan batu napal sebagai bahan

pembuatan

mortar

geopolimer

dengan

harapan agar batu napal dapat dimanfaatkan

Penggunaan batu napal untuk mortar

geopolimer perlu dilakukan penelitian lebih

lanjut supaya mengetahui kuat tekan dan

untuk mendapatkan proporsi campuran yang

baik sehingga didapatkan nilai kuat tekan

beton yang diinginkan. Berdasarkan hal

tersebut, pada tugas akhir ini peneliti

mencoba untuk meneliti pengaruh rasio

Na

2

SiO

3

: NaOH terhadap kuat tekan mortar

geopolimer berbahan batu napal.

II. METODELOGI PENELITIAN

1. Lokasi Penelitian

Pada penelitian ini dilakukan

di Laboratorium Sekolah Tinggi Teknologi

Pagar alam Jl. Masik Siagim No. 75

Simpang Bacang, Kelurahan Karang Dalo,

Kecamatan Dempo Tengah, Sekolah Tinggi

Teknologi Pagaralam (STTP).

2. Study Pustaka

pengumpulan data dilakukan dengan cara mencari referensi – referensi seperti buku, jurnal yang dilakukan oleh peneliti terdahulu.

1. Membaca dan mengutip dari buku Teknologi beton, 1996 (Tjokrodimulyo,K).

2. Membaca dari SNI-03-2834-2000. Tentang, Metode Pengujian Analisa Saringan Gradasi Agregat Halus.

3. Membaca dari SNI-03-2816-1992. Tentang, Metode Pengujian Kadar Organik Agregat Halus.

4. Membaca dari

SNI 03-1968-1990

. Tentang,

Modulus

Halus

Butiran

Agregat Halus

.

5. Membaca dari

PUBI-1928

. Tentang,

Pemeriksaan Berat Jenis Agregat

Halus.

.

6. Membaca dari jurnal Studi Mikrostruktur Mortar Geopolimer Abu Sawit dengan Variasi Rasio Na2SiO3 terhadap NaOH (Wari Doni) 2019

7. Membaca dari jurnal

Building Up and

Characterization of Calcined

Marl-Based

Geopolymeric

Cement.

Infrastuctures

(

El-Habak) 2018

3. Pengumpulan Data

Metode yang diterapkan pada penelitian

ini adalah metode eksperimental yaitu

percobaan yang dilakukan dengan penelitian

di laboratorium, tujuan penelitian ini untuk

(3)

Na₂SiO₃ : NaOH terhadap kuat tekan mortar

geopolimer batu napal, dengan komposisi

perbandingan binder dan agregat halus adalah

1 : 2, perbandingan antara perkusor dan

aktivator adalah 1 : 1 dengan NaOH 16 M

dan rasio Na2SiO3 : NaOH yang digunakan

adalah 1, 1.5, dan 2.

4. Komposisi Mortar Benda Uji

Pembuatan mortar geopolimer diawali

dengan menimbang material yang diaduk

sesaui dengan mix design. Variabel tetap

digunakan adalah rasio NaOH : Na

2

SiO

3

= 1

: 1, 1 : 1,5 dan 1 : 2, rasio Aktivator :

Prekursor = 0,6 : 1 dan rasio Agregat halus :

Prekursor = 2 : 1. Konsentrasi NaOH yang

digunakan

adalah

16

M.

Komposisi

campuran untuk 1 sampel mortar geopolimer

batu napal benda uji 5x5x5 cm

dengan berat

trial 200 gram.

Tabel Komposisi campuran mortar geopolimer untuk perbandingan molaritas NaOH : Na₂SiO₃

Tabel Jumlah Benda Uji

7. Bagan Aliran

Gambar Langkah Pelaksanaan Penelitan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1.

Pengujian Agregat

Tabel Hasil Pemeriksaan Gradasi Agregat Halus

Gradasi Saringan wilayah 1

0 20 40 60 80 100 120 10 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 K o m u lat if L o lo s A y ak an (% ) Diameter Ayakan (mm) Batas Atas Sample Batas bawah

(4)

2. Pengujian Kadar Organik

Analisa kadar lumpur agregat halus : Pasir = 40 ml

Asal = Sungai Lematang, Kota Pagar Alam Volume endapan = 1 ml

Kandungan lumpur dalam agregat halus = 1

40 x 100% = 2,5 %

Kadar lumpur pasir sungai lematang adalah sebesar 2,5% berdasarkan hasil analisis dapat digunakan untuk membuat mortar karena memenuhi syarat SK SNI S-04-1989-F yaitu nilai kadar lumpur < 5%.

3. Pengujian Berat Jenis Agregat Halus

Berdasarkan Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1928) berat jenis pasir yang baik adalah 2,4 – 2,9. Sehingga agregat halus berupa pasir sungai lematang yang memiliki berat jenis 2,63 gr/cm3 baik digunakan untuk campuran mortar.

4. Pengujian Kadar Organik

Tabel Tabel Prof. Rosseno Standar ASTM C-40-79

Warna Campuran air = NaOH Kandungan Zat Organik Jernih 0% Kuning Muda 0 - 10% Kuning Tua 10 - 20% Kuning Kemrahan 20 - 30% Coklat Kemerahan 30 - 40% Coklat Tua 50 - 100%

Dari hasil pengujian kadar orgaik pada pasir lematang, Kota Pagar Alam dilakukan dengan pengujian secara visual menunjukan warna pada tabung ukur jernih berarti kandungan zat organik 0% .

5. Pengujian Berat Jenis Mortar

Tabel Hubungan B

erat Jenis Mortar

Terhadap Umur

NO KODE NaOH Berat Jenis (gr/cm³)

3 7 14 21 28

1 R1 16M 2,28 2,29 2,32 2,34 2,35 2 R2 16M 2,17 2,26 2,26 2,29 2,30 3 R3 16M 2,14 2,16 2,21 2,22 2,30

Gambar Grafik Hubungan Berat Jenis Mortar Terhada Umur

6. Pengujian Kuat Tekan

Tabel Hubungan Berat Jenis Mortar

Terhadap Umur

NO KODE NaOH Mpa 3 7 14 21 28 1 R1 16M 10,8 11,5 12,40 13,73 15,07 2 R2 16M 8,1 8,4 8,67 10,00 10,53 3 R3 16M 3,7 5,6 6,00 7,33 7,73

Gambar Grafik Hubungan Berat Jenis

Mortar Terhada Umur

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian di laboratorium kuat tekan maksimum adalah pada benda uji R1 dengan rasio Na2Sio3 : NaOH=1 : 1 umur 28 hari yaitu sebesar 15,07 Mpa, dan kuat tekan minimum ada pada benda uji R3 rasio Na2Sio3 : NaOH=1 : 2 umur 3 hari yaitu sebesar 3,7 Mpa. Jadi dapat disimpulkan rasio Na2Sio3 : NaOH = 1 : 1 dengan perawatan mortar pada umur 28 hari memiliki kuat tekan maksimum dibandingkan dengan rasio 1 : 1,5 dan 1 : 2. Namun belum diketahui nilai kuat

2,28 2,29 2,32 2,34 2,35 2,17 2,26 2,26 2,29 2,30 2,14 2,16 2,21 2,22 2,30 2,10 2,15 2,20 2,25 2,30 2,35 2,40 3 7 14 21 28 Be rat J en is (g /c m 3 ) Umur (Hari) R1 R2 R3 10,8 11,5 12,40 13,73 15,07 8,1 8,4 8,67 10,00 10,53 3,7 5,6 6,00 7,33 7,73 0 5 10 15 20 3 7 14 21 28 K u at T ek an (Mp a) Umur Mortar R1 R2 R3

(5)

dilanjutkan dengan menurunkan nilai rasio Na2Sio3 : NaOH untuk mendapatkan nilai yang optimum.

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan untuk penyempurnaan hasil serta pengembangan, perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan menurunkan nilai rasio Na2SiO3 : NaOH sehingga untuk mengetahui kuat tekan yang optimum pada mortar geopolimer berbahan batu napal.

DAFTAR RUJUKAN

Dony, W. (2019). Studi Mikrostruktur mortar geopolimer abu sawit dengan variasi rasio na2SiO3 Terhadap NaOH. Jurnal

Ilmiah Universitas Batang Hari Jambi Vol 19 No. 1 , 131-138.

El-Habak, G., Askalani, M., & Hakeem, M. A.

(2018). Building Up and

Characterization of Calcined

Marl-Based Geopolymeric Cement.

Infrastuctures , 3 (22), 1-14.

SNI-03-2834-2000. Metode Pengujian Analisa

Saringan Gradasi Agregat Halus. BSN,

2000. p.1-9.

SNI-03-2816-1992. Metode Pengujian Kadar

Organik Agregat Halus. BSN, 1992. p.

1-5.

SNI 03-1968-1990. Modulus Halus Butiran

Agregat Halus. BSN,1990. p. 1-5.

SK SNI S-04-1989-F. Pemeriksaan Kadar

Lumpur Agregat Halus. BSN, 1989. p.

1-5.

PUBI-1928. Pemeriksaan Berat Jenis Agregat

Halus. BSN, 1928, p. 1-20.

ASTM C-40-79. 1987. Examination of fine

aggregate organic content. United

Gambar

Tabel Komposisi campuran mortar geopolimer  untuk  perbandingan  molaritas  NaOH  :  Na₂SiO₃
Tabel  Tabel Prof. Rosseno Standar ASTM  C-40-79

Referensi

Dokumen terkait

• Proyek Inisiatif Karbon Berbak juga mendapat dukungan dan tercatat sebagai aksi prioritas pengurangan emisi dalam Strategi dan Rencana Aksi REDD+ Provinsi Jambi 2012-2032 (SRAP)

Tahap ini merupakan langkah untuk menentukan faktor- faktor utama penyebab terjadinya cacat sleeve retak area moved yang terjadi dalam bulan November 2008 sampai dengan bulan

BIDANG SOSBUD (DESA)..

Sifat penelitian deskriptif veripikatif ini pada dasarnya ingin menguji kebenaran dari suatu hipotesis yang dilakukan melalui pengumpulan data dilapangan dimana

Sesuai dengan paparan yang dikemukakan di atas maka yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah hasil tes tertulis yang berdasarkan pembelajaran menggunakan

Berdasarkan analisis data diperoleh 6 siswa (25%) memiliki kategori keterampilan sangat baik dengan mengambil larutan dengan memijit karet penghisap dan ujung

Faktor produk obat termasuk dalam tiga faktor tertinggi yang memengaruhi perilaku patuh dan tidak patuh menggunakan obat DM baik dianalisis pada seluruh responden

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam keputusan pembelian yaitu, produk,harga,lokasi, promosi dan pelayanan prima dalam