• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

A. Teori Medis. 1. Kehamilan.

a. Pengertian.

Menurut Ummi, dkk. (2010) Kehamilan merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsungan peradaban manusia.

Sedangkan menurut prawirohardjo (2008) masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, yaitu selama 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakir.

b. Tanda dan gejala kehamilan (Ummi, dkk. 2010).

1) Tanda tidak pasti (persumtive Sign) adalah perubahan-perubahan yang dapat di kenali dari pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita hamil diantaranya:

a) Amenorea (berhentinya menstruasi).

Konsepesi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de graaf dan ovulasi sehingga menstruasi tidak terjadi. Lamanya amenorea dapat dikonfirmasi dengan memastikan hari pertama haid terakhir

(HPHT), dan digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan dan taksiran persalinan. Tetapi, amenorea juga dapat disebabkan oleh penyakit kronik tertentu, tumor

(2)

pituitari, perubahan dan faktor lingkungan, malnutrisi, dan

biasanya gangguan emosional seperti ketakutan akan kehamilan.

b) Mual (nausea) dan muntah (emesis).

Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan dan menimbulkan mual muntah yang terjadi terutama pada pagi hari yang di sebut

morning sickness. Dalam batas tertentu hal ini masih fisiologis, tetapi bila terlampau sering bdapat menyebabkan

gangguan kesehatan yang di sebut hiperemesis gravidarum. c) Ngidam (mengingini makanan teretentu).

Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian di sebut ngidam. Ngidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan dan akan menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

d) Syncope (pingsan).

Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan syncope atau pingsan. Hal ini sering terjadi terutama jika berada pada tempat yang ramai, biasanya akan hilang setelah 16 minggu.

(3)

Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari penurunan kecepatan basal metabolisme (basal metabolisme

rate-BMR) pada kehamilan, yang akan meningkat seiring

pertambahan usia kehamilan akibat aktivitas metabolisme hasil konsepsi.

f) Payudara tegang.

Estrogen meningkatkan perkembangan sistem duktus pada

payudara, sedangkan progesteron menstimulasi

perkembangan sistem alveolar payudara. Bersama

somatomamotropin, hormon-hormon ini menimbulkan pembesaran payudara, menimbulkan perasaan tegang dan nyeri selama dua bulan pertama kehamilan, pelebaran puting susu, serta pengeluaran kolostrum.

g) Sering miksi.

Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi. Frekuensi miksi yang sering, terjadi pada triwulan pertama akibat desakan uterus terhadap kandung kemih. Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini akan berkurang karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan, gejala bisa timbul karena janin mulai masuk ke rongga panggul dan menekan kembali kandung kemih.

(4)

Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus (tonus otot menurun) sehingga kesulitan untuk BAB.

i) Pigmentasi kulit .

Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12

minggu. Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid

plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. Pigmentasi ini meliputi tempat-tempat berikut ini.

(1) Sekitar pipi: cloasma gravidarum (penghitaman pada daerah dahi, hidung, pipi, dan lahir).

(2) Sekitar leher: tampak lebih hitam.

(3) Dinding perut: striae lividae/garvidarum (terdapat pada seseorang primigravida, warnanya membiru), striae

nigra, linea alba menjadi lebih hitam (linea grisea/migra).

(4) Sekitar payudara: hiperpigmentasi areola mamae

sehingga terbentuk areola sekunder. Pigmentasi areola ini berbeda pada setiap wanita, ada yang merah muda pada wanita kulit putih, coklat tua pada wanita kulit coklat, dan hitam pada wanita kulit hitam. Selain itu, kelenjar montgomeri menonjol dan pembuluh darah

manifes sekitar payudara.

(5) Sekitar pantat dan paha atas: terdapat striae akibat pembesaran bagian tersebut.

(5)

j) Epulis.

Hipertropi papilla ginggivae/gusi, sering terjadi pada

triwulan pertama.

k) Varises (penampakan pembuluh darah vena).

2) Tanda kemungkinan (probabilty sign) merupakan perubahan fisiologi yang di ketahui oleh pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan fisik kepada wanita hamil diantaranya:

a) Pembesaran perut.

Terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan keempat kehamilan.

b) Tanda hegar.

Tanda hegar adalah pelunakan dan dapat ditekannya istmus

uteri.

c) Tanda goodel.

Adalah pelunakan serviks. Pada wanita yang tidak hamil serviks seperti ujung hidung, sedangkan wanita hamil melunak seperti bibir.

d) Tanda chadwicks.

Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa

(6)

e) Tanda piscaseck.

Merupakan pembesaran uterus yang tidak simetris. Terjadi karena ovum berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga daerah tersebut berkembang lebih dahulu.

f) Kontraksi braxton hicks.

Merupakan peregangan sel-sel otot uterus, akibat meningkatnya actomysin di dalam otot uterus. Kontraksi ini tidak beritmik, sporadis, tidak nyeri, biasanya timbul pada kehamilan delapan minggu, tetapi baru dapat diamati dari pemeriksaan abdominal pada trimester ketiga. Kontraksi ini akan terus meningkat frekuensinya, lamanya, dan kekuatanya sampai mendekati persalinan.

g) Teraba ballotement.

Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa. Hal ini harus ada pada pemeriksaan kehamilan karena perabaan bagian seperti bentuk janin saja tidak cukup karena dapat saja merupakan myoma uteri.

h) Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif. Pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya human

(7)

siniotropoblastik sel selama kehamilan. Hormon ini disekresi di peredaran darah ibu (pada plasma darah), dan

diekskresi pada 26 hari setelah konsepsi dan meningkat

dengan cepat pada hari ke 30-60. Tingkat tertinggi pada hari 60-70 usia gestasi, kemudian menurut pada hari ke 100-130.

3) Tanda pasti (positive sign) yaitu tanda yang menunjukkan langsung keberadaan janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksa diantaranya:

a) Gerakan janin dalam rahim.

Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh pemeriksa. Gerakan janin baru dapat dirasakan pada usia kehamilan sekitar 20minggu

b) Denyut jantung janin.

dapat di dengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan alat fetal electrokardiograf (misalnya dopler). Dengan

stetoskop laenec, DJJ baru dapat didengar pada usia

kehamilan 18-20 minggu. c) Bagian-bagian janin.

bagian-bagian janin yaitu bagian besar janin (kepala dan bokong) serta bagian kecil janin (lengan dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan lebih tua (trimester

(8)

terakhir). Bagian janin ini dapat dilihat lebih sempurna lagi dengan USG.

d) Kerangka janin.

kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupum USG.

c. Patofisiologi kehamilan (Stoppard, 2009).

Jika siklus menstruasi normal, pembuahan terjadi sekitar seminggu setelah menstruasi atau 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Sekitar 7-10 hari setelahnya, sel telur yang telah di buahi terimplantasi pada dinding rahim. Di akhir minggu berikutnya sel telur terhubung kuat oleh plasenta, yang menghubungkan embrio dengan ibunya. Plasenta adalah organ tubuh yang digunakan untuk menyalurkan sumber makanan dan

oksigen dari ibu kejanin dan menyalurkan zat tak berguna dari

janin ke ibu. Organ ini sangat penting bagi perkembangan kesehatan kehamilan karena organ ini menghasilkan hormon yang fungsinya mempertahankan kesehatan janin, rahim, dan alat kelamin wanita. Hormon yang sama juga mempersiapkan tubuh wanita untuk proses melahirkan dan persalinan.

Sel telur biasanya dibuahi sekitar sepertiga jalan sepanjang tuba fallopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim) oleh satu seperma yang masuk, bersama dengan yang lain dalam

(9)

jumlah jutaan, kedalam vagina setelah ejakulasi. Dalam beberapa detik setelah ejakulasi sperma bergerak dengan kibasan ekornya yang menyerupai cambuk. Pergerakan ini membuat mereka menuju kecepatan maksimum disaat vagina dalam kondisi asam dan melewati leher rahim, yang menjadi lebih basah selama pelepasan sel telur, menuju rongga rahim. Dalam beberapa detik sperma melewati rahim dan memasuki tuba fallopi untuk bertemu sel telur yang sedang menuruni saluran itu menuju sperma. Sperma scara kimiawi tertarik pada sel telur yang paling besar dan melekat dengan sendirinya pada sel telur itu seperti siput yang menempel pada permukaan. Bagaimanapun juga, hanya satu seperma saja yang menembus lapisan luar sel telur. Dengan sendirinya sel telur itu kehilangan keterkaitanya, mengeraskan lapisan luarnya dan seluruh sperma yang tak berguna ditinggalkan. Seluruh proses ini, dari ejakulasi sampai pembuahan, membutuhkan waktu kurang dari 60 menit.

Sel telur yang matang bertahan selama 12 jam, maksimal 24 jam. Kekuatan seperma untuk membuahi bertahan tidak lebih dari 24 jam maksimal 36 jam. Oleh karena itu pembuahan setidaknya tidak seperti bersetubu yang muncul satu atau dua hari sebelum atau setelah pelepasan sel telur.

(10)

1) Jadwal (Pudiastuti, 2012). a) Minimal.

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit yaitu 4 kali.

b) Ideal.

kunjungan antenatal sebaiknya di lakukan setiap

(1) Satu kali pada usia kehamilan 1 bulan (trimester pertama).

(2) Satu kali pada usia kehamilan 1 bulan berikutnya (trimester kedua).

(3) Dua kali pada usia kehamilan 2 minggu berikutnya (trimester ketiga).

2) Data fokus.

a) Tanda-tanda vital (Hellen, dkk. 2011).

(1) Tekanan darah: Ukuran normal sistolik yaitu 100-140mmHg, sedangkan tekanan diastolik nilai normalnya yaitu 60-90 mmHg.

(2) Suhu: Suhu tubuh normal orang dewasa adalah 370C. Ibu hamil sering merasakan tangan dan kaiki yang hangat terjadi karena peningkatan aliran darah ke ekstermitas sebanyak 7 kali lipat. pada ibu hamil suhu tubuh meningkat 0,50C, setelah melahirkan suhu tubuh mencapai 380C.

(11)

(3) Nadi: Pada saat istirahat, frekuensi nadi normal bagi remaja dan dewasa adalah antara 60-100 kali per menit (4) Pernafasan : Pernafasan normal bagi orang dewasa

sekitar 12 kali per menit. b) GPA (Ummi, dkk. 2010).

(1) Gravida yaitu jumlah kehamilan yang dialami wanita. Di ikuti dengan jumlah seluruh kehamilan ini.

(2) Para yaitu jumlah kehamilan yang diakiri dengan kelahiran janin yang memenuhi syarat untuk melangsungkan kehidupan (28 minggu atau 1000 gram) (3) Abortus yaitu jumlah kelahiran yang diakiri dengan

aborsi spontan atau terinduksi pada usia kehamilan sebelum 20 minggu atau memiliki berat kurang dari 500 gram.

c) Umur kehamilan (Ummi, dkk. 2010).

Umur kehamilan dapat di ketahui dengan cara perhitungan (1) Rumus naegele (Ummi, dkk. 2012)

(a) Patokan HPHT (Hari pertam haid terakir).

HPHT adalah hari pertama haid terakir seorang wanita sebelum hamil. Cara menentukan HPHT adalah dengan melakukan anamnesis pada ibu secara tepat karena apabila terjadi kesalahan, maka penentuan usia kehamilan juga menjadi tida tepat.

(12)

Haid terakir tersebut harus normal, baik dari lamanya maupun dari banyaknya. Jadi beberapa pertanyaan yang bisa diajukan adalah sebagai berikut: kapan ibu mengeluarkan haid terakir sebelum haid, apakah pada tanggal tersebut sudah bersih atau masih baru keluar darah haidnya, berapa lama menstruasinya, berapa banyak menstruasinya (jika hanya sedikit maka kemungkinan sudah terjadi nidasi. Dihitung secara rinci hari-hari yang sudah dilalui dimulai dari HPHT sampai tanggal waktu perhitungan.

(b) Perhitungan dari tafsiran persalinan (Ummi, dkk. 2012).

Di hitung secara rinci hari-hari yang belum dilalui secara mundur dimulai dari TP sampai tanggal waktu perhitungan, kemudian mengurangi dari 40 minggu (bulan aterm) dengan hasil perhitungan. Perhitungan ini dapat ditentukan setelah HPHT didapatkan TP (jika bulan >4-12) = tanggal HPHT +7, bulan - 3, tahun HPHT +1 dan TP (jika bulan >1-3) = tanggal HPHT +7, bulan +9, tahun HPHT +0

(13)

(2) Gerakan pertama fetus (Ummi, dkk. 2012).

Di perkirakan terjadinya gerakan pertama fetus pada usia kehamilan 16 minggu terdapat perbedaan. Namun, perkiraan ini tidak tepat karena perbedaan merasakan gerakan antara primigravida dengan multigravida. Pada primigravida biasanya dirasakan pada usia 18 minggu, sedangkan pada multigravida sekitar 16 minggu.

(3) Perkiraan tinggi fundus uteri (Ummi, dkk. 2012).

Perkiraan TFU ini merupakan perkiraan yang harus diketahui oleh bidan. Perkiraan dengan TFU akan lebih tepat pada kehamilan pertama, tetapi kurang tepat pada kehamilan berikutnya.

2.1 Tabel umur kehamilan dari perkiraan tinggi fundus

Tinggi fundus uteri Umur kehamilan

1/3 di atas simpisis atau 3 jari di

atas simpisis

12 minggu

½ simpisis-pusat 16 minggu

2/3 di atas simpisis atau 3 jari di

bawah pusat

20 minggu

Setinggi pusat 24 minggu

1/3 di atas pusat atau 3 jari di

atas pusat

28 minggu

½ pusat –procesus xipoideus 32 minggu

Setinggi procesus xipoideus 36 minggu

(14)

(4) USG (Ummi, dkk. 2012).

Perkiraan dengan USG dapat dilakukan dengan perhitungan dari beberapa hal berikut ini:

(a) Diameter kantong gestasi/KG.

Uk (minggu) = (diameter KG+2,543)/0,702 Uk (hari) =(diameter KG+30)

(b) Jarak kepala-bokong/JKB (crown-Rump

length/CRL).

Uk (minggu) =JKB (cm) +6,5

(c) Diameter biparietal dan femur, untuk UK >9 minggu (DBP, Femur).

(5) Palpasi (Pemeriksaan leopold) (Manuaba, 2010).

Leopold I :untuk menentukan tinggi fundus uteri dan

meraba bagian fundus.

Leopold II :untuk meraba bagian kanan dan kiri perut

ibu.

Leopold III:untuk meraba bagian bawah perut ibu.

Leopold IV :untuk meraba apakah kepala janin sudah

masuk pintu atas panggul. (6) Denyut Jantung Janin.

(15)

Frekuensi normal ialah antara 120 dan 160 per menit, selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi pada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung janin umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai di bawah 100 semenit di luar his, dan lebih lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya (Wiknjosastro, 2005).

Ada 3 cara mendengarkan denyut jantung janin yaitu dengan (Ummi, dkk. 2010):

(a) Laenec : usia kehamilan 18-20 minggu.

(b) Dopler : usia 12 minggu.

(c) USG

(7) Tafsiran berat janin (Ummi, dkk. 2012).

Tafsiran berat janin dapat di hitung dengan menggunakan rumus Johnson Thusak yang didasarkan pada TFU.

(TFU-11).155= TBJ yang dapat dibuat variasi berdasarkan turunnya bagian terendah panggul.

2.2 Tafsiran berat janin dari perkiraan tinggi fundus

Bagian terendah Pengukuran

Hodge I TFU-13

(16)

Hodge III TFU-11

2. Anemia Sedang dalam kehamilan. a. Pengertian.

Menurut lalage (2013) anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana tubuh memiliki sedikit sel-sel darah merah atau sel tidak dapat membawa oksigen ke berbagai organ tubuh.

Sedangkan Menurut prawirohardjo (2010) Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemglobin di bawah 11gr% pada trimester I dan trimester III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II.

Sedangkan Anemia sedang merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin yaitu dengan Hb 7-8 gr%.

b. Klasifikasi anemia (Manuaba, 2010) 1) Tidak anemia :Hb 11 gr%. 2) Anemia ringan :Hb 9-10 gr %. 3) Anemia sedang :Hb 7-8 gr%. 4) Anemia berat :Hb <7gr%.

c. Pembagian anemia (Wiknjosastro, 2005). 1) Anemia defisiensi besi.

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang disebabkan akibat kekurangan besi. Kekurangan ini disebabkan karena

(17)

kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya perdarahan.

2) Anemia megaloblastik.

Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroylglutamiv acid), jarang sekali karena defisiensi B12 (cyanobalamin).

3) Anemia hipoplastik.

Anemia ini disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru.

4) Anemia hemolitik.

Anemia ini disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatanya.

d. Penyebab anemia

1) Menurut (Ashari, 2010) a) Kurang gizi

b) Kurang zat besi c) Malabsorbsi

d) Kehilangan darah yang banyak pada pesalinan yang lalu 2) Menurut (Pudiastuti, 2012)

(18)

b) Gangguan pembentukan darah merah akibat beberapa bahan essensial seperti kekurangan zat besi, vit B kompleks, vit C dan asam folat.

c) Kehilangan darah baik yang akut maupun yang kronis (perdarahan, cacing tambang).

e. Gejala yang terasa biasanya (lalage, 2013) 1) Konjungtiva pucat

2) Kulit pucat. 3) Bibir pucat. 4) Cepat lelah 5) Sering gemetar

6) Badan sering terasa lesu 7) Kurang bergairah 8) Mudah mengantuk 9) Mata berkunang-kunang

10) Kepala sering pusing bahkan sering merasa limbung rasanya ingin pingsan.

11) Jika sudah tergolong anemia berat (<6gr/desiliter darah) merasakan nyeri dada dan pusing.

f. Dampak anemia sedang Bagi ibu hamil 1) Menurut (Manuaba, 2010)

(19)

b) Prematur

c) Hambatan tumbuh kembang janin d) Mudah infeksi

e) Hiperemesis gravidarum f) Perdarahan antepartum g) Ketuban pecah dini 2) Menurut (Pudiastuti, 2012)

a) Dapat menyebabkan perdarahan waktu persalinan sehingga membahayakan jiwa ibu.

b) Mengganggu pertumbuhan bayi dalam kandungan c) Berat badan bayi dibawah berat normal

g. Diagnosis anemia pada kehamilan

1) Anamnesa dan pemeriksaan fisik Tanda dan Gejala yang terasa biasanya (lalage, 2013) a) Konjungtiva pucat b) Kulit pucat. c) Bibir pucat. d) Cepat lelah e) Sering gemetar

f) Badan sering terasa lesu g) Kurang bergairah h) Mudah mengantuk i) Mata berkunang-kunang

(20)

j) Kepala sering pusing bahkan sering merasa limbung rasanya ingin pingsan.

k) Jika sudah tergolong anemia berat (<6gr/desiliter darah) merasakan nyeri dada dan pusing.

2) Pemeriksaan darah

Pemeriksaan dan pengawasan Hb untuk menetukan derajat anemia dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan terutama pada trimester satu dan trimester tiga (manuaba,2010) h. Penatalaksaan anemia sedang dan berat (Hb <8 gr%)

Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2 gr%. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis (pudiastuti, 2005).

Pemberian tranfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang diberikan, walaupun Hb-nya kurang dari 6 g/100 ml – apabila tidak terjadi perdarahan. Darah secukupnya harus tersedia selama persalinan, yang segera harus diberikan apabila terjadi perdarahan yang lebih dari biasa, walaupun tidak lebih dari 1000 ml (wiknjosastro, 2005)

(21)

Anemia sering terjadi pada kehamilan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang. Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut dengan hidremia dan hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19% (Wiknjosastro, 2005).

Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama-tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Pada perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu, dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2005).

Karena sehari-hari kurang makan bahan makanan yang banyak mengandung zat besi seperti: kangkung, daun pepaya, bayam, daun katu, daun singkong, daun ubi jalar dan kacang-kacangan. Proses pertumbuhan janin sehingga kebutuhan zat besi

(22)

meningkat sedangkan makanan yang dimakan kurang mengandung zat besi untuk memenuhi kebutuhannya. Seringnya muntah(karena nyidam) sehingga makanan yang dimakan belum sempat di serap sari makanannya. Karena sering melahirkan dalam jangka waktu yang pendek misalnya setia setahun sekali (Pudiastuti, 2012). B. Teori manajemen kebidanan.

1. Pengertian.

Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering di sebut manajemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan (Soepardan, 2008).

Manajemen kebidanan merupakan pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah scara sistematis, mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Asri dan Mufdlilah, 2009).

2. Langkah-langkah manajemen kebidanan (Soepardan, 2008). a. Langkah I (pengumpulan data dasar).

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan

(23)

dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data di lakukan dengan cara:

Anamnesa dan pemeriksaan fisik Tanda dan Gejala yang terasa biasanya (lalage, 2013), cepat lelah, konjungtiva dan kulit pucat, sering gemetar, badan sering terasa lesu, kurang bergairah, mudah mengantuk, mata berkunang-kunang, kepala sering pusing bahkan sering merasa limbung rasanya ingin pingsan, Jika sudah tergolong anemia berat (<6gr/desiliter darah) merasakan nyeri dada dan pusing, Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya).

b. Langkah II( interpretasi data dasar).

Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. meskipun masalah tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan.

Diagnosis anemia pada kehamilan yaitu dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik Tanda dan Gejala yang terasa biasanya cepat lelah, kulit pucat, sering gemetar, badan sering terasa lesu, kurang bergairah, mudah mengantuk, mata berkunang-kunang, kepala sering pusing bahkan sering merasa limbung rasanya ingin pingsan.

(24)

Jika sudah tergolong anemia berat (<6gr/desiliter darah) merasakan nyeri dada dan pusing (Lalage, 2013).

Pemeriksaan darah : Pemeriksaan dan pengawasan Hb untuk menetukan derajat anemia dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan terutama pada trimester satu dan trimester tiga (Manuaba, 2010).

c. Langkah III (identifikasi diagnosis/masalah potensial dan antisipasi penangananya.

Pada langkah ketiga mengidentifikasikan masalah potensial atau diagnosis potensial/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis /masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.

Pada langkah ketiga bidan di tuntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang rasional/logis.

Potensial terjadi yaitu persalinan lama, terjadi infeksi, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini, terjadi sub involusi

(25)

uteri yang menimbulkan perdarahan antepartum, pengeluaran ASI kurang (Pudiastuti, 2012).

d. Langkah IV(menetapkan perlunya konsultasi dan kolaborasi segera dengan tenaga kesehatan lain).

Bidan mengidentifikasikan perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan proses manajemen kebidanan. Jadi, manajemen tidak hanyak berlangsung selama asuhan kebidanan periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi selama wanita tersebut dalam dumpingan bidan. Karena dalam kondisi tertentu bidan juga perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain.

e. Langkah V (menyusun rencana asuhan menyeluruh).

Pada langkah kelima dirancangkan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen unutk masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang kurang lengkap dapat di lengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi untuk klien tersebut. Pedoman antisipasi ini

(26)

mencangkupperkiraan tentang hal yang akan terjadi berikutnya; apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah bidan perlu merujuk klien bila ada sejumlah masalah terkait sosial, ekonomi, kultural, dan psikologis.

Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan ini harus bersifat rasional dan valid yang didasarkan pada pengetahuan, teori terkini(up to date), dan sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan kilen.

Jelaskan pada ibu kondisinya saat ini, (anjurkan ibu hati-hati dengan kehamilannya, berikan terapi tambah darah, anjurkan pada ibu cara mengkonsumsi zat besi, evaluasi cara mengkonsumsi zat besi, libatkan keluarga untuk memberikan dukungan psikologis pada), Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan gizi ibu hamil meliputi( anjuran ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang, anjuran untuk makan sedikit tapi sering, libatkan keluarga agar membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang), anjuran ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi pekerjaan berat, berikan informasi tentang persiapan persalinan, anjurkan ibu kunjulang ulang sesuai jadwal dan segera jika ada keluhan (Pudiastuti, 2012).

f. Langkah VI (pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman).

(27)

Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim keshatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (memastikan langkahnya berjalan dengan benar). Dalam situasi keika bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawabterhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaan yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta biaya.

Menjelaskan pada ibu kondisinya saat ini, (anjurkan ibu hati-hati dengan kehamilannya, berikan terapi tambah darah, anjurkan pada ibu cara mengkonsumsi zat besi, evaluasi cara mengkonsumsi zat besi, libatkan keluarga untuk memberikan dukungan psikologis pada), Menjelaskan pada ibu tentang kebutuhan gizi ibu hamil meliputi( anjuran ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang, anjuran untuk makan sedikit tapi sering, libatkan keluarga agar membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang), anjuran ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi pekerjaan berat, berikan informasi tentang persiapan persalinan, anjurkan ibu kunjulang ulang sesuai jadwal dan segera jika ada keluhan(Pudiastuti, 2012).

(28)

g. Langkah VII (Evaluasi).

Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak efektif unutk mengetahui faktor yang yang mana yang menguntungkan atau meghambat keberhasilan asuhan yang diberikan. Pada langkah terakir dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan: apakah benar-benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi di dalam diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.mengingat bahwa proses manajemen asuhan merupakan suatu kegiata yang bersinambungan, maka bidan perlu mengulang kembali setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa rencana asuhan tidak berjalan efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut.

Ibu tahu kondisinya saat ini, (anjuran ibu hati-hati dengan kehamilannya, berikan terapi tambah darah, anjuran pada ibu cara mengkonsumsi zat besi, evaluasi cara mengkonsumsi zat besi, libatkan keluarga untuk memberikan dukungan psikologis pada), ibu tahu tentang kebutuhan gizi ibu hamil meliputi (anjuran ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang, anjuran untuk makan sedikit tapi sering, libatkan keluarga agar membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang), ibu bersedia untuk

(29)

banyak istirahat dan mengurangi pekerjaan berat, ibu tahu informasi tentang persiapan persalinan, ibu bersedia kunjulang ulang sesuai jadwal dan segera jika ada keluhan (Pudiastuti, 2012). 3. Metode Pendokumentasian SOAP.

Menurut Jannah (2011: 48-49) alasan catatan SOAP sering digunakan untuk dokumentasi yaitu :

a. Pendokumentasian dengan metode SOAP berupa kemajuan informasi yang sistematis yang mengorganisasi penemuan kesimpulan sehingga terwujud rencana asuhan.

b. Metode ini merupakan penyaringan proses penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan penyediaan dan pendokumentasian asuhan. c. Metode SOAP dapat membantu mengorganisasi pikiran sehingga

dapat memberikan asuhan secara menyeluruh.

d. SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan tertulis. Metode pendokumentasian SOAP yaitu :

1) Subjective (S).

Subjektif menggambarkan dokumentasi hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis sebagai langkah I Varney.

2) Objektive (O).

Objektif menggambarkan dokumentasi hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium, dan uji diagnostik lain dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan.

(30)

3) Assassment (A).

Assessment menggambarkan dokumentasi hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi. a) Diagnosis/ masalah.

b) Antisipasi diagnosis/ kemungkinan masalah.

c) Perlu tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/ kolaborasi, dan atau perujukan sebagai langkah 2, 3, dan 4,

varney.

4) Planning (P).

Planning menggambarkan dokumentasi tingkatan (I) dan evaluasi perencanaan (E) berdasarkan pengkajian langkah 5, 6, dan 7 varney.

C. Teori Hukum Wewenang Bidan.

1. KEPMENKES RI NOMOR 369/MENKES/SK/III/2007 tentang regristrasi dan praktik bidan.

a. Bab 1 pasal 1 ayat 4 menyatakan praktik bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya.

(31)

b. Pasal 15 ayat 2 menyatakan pelayanan kepada ibu di berikan pada masa pra nikah, prahamil, masa kehamilan, masa persainan, masa nifas, menyusui, dan masa antara (periode interval).

c. Pasal 16 ayat 1 huruf a menyatakan penyuluhan dan konseling, dan huruf d pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencangkup ibu hamil dengan abortus imminens, hiperemesis gravidarum tingkat 1, preeklamsi ringan, serta anemia ringan. 2. Berdasarkan permenkes No.1464/MENKES/PER/X/2010 pasal 10.

a. Ayat (1), bidan dalam menjalankan praktik wewenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi pelayanan kesehatan ibu yang berkaitan dengan masa prahamil, kehamilan, masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua kehamilan.

b. Ayat (3) huruf c yaitu penanganan kegawat daruratan, di lanjutkan dengan rujukan.

c. Ayat (3) huruf d yaitu pemberian tablet Fe pada ibu hamil.

(32)

D. Patway Anemia Sedang pada Kehamilan

Bagan: 2.1 Patway Anemia sedang pada Kehamilan

Sumber: (Pudiastuti, 2012), (Manuaba, 2010), (Lalage, 2013), (Wiknjosastro, 2005) Tanda dan Gejala

Cepat lelah, kulit pucat, sering gemetar, badan sering terasa lesu, kurang bergairah, mudah mengantuk, mata berkunang-kunang, kepala sering pusing hampir pingsan, anemia berat (<6gr/dl)

nyeri dada dan pusing.

Diagnosis

Kehamilan dengan anemia sedang

Jika Hb normal

hentikan tranfusi

Penyebab Anemia

Kurang gizi, Kurang zat besi, Malabsorbsi, Kehilangan darah yang banyak pada pesalinan yang lalu, Rusaknya butir darah merah, Gangguan pembentukan darah merah akibat beberapa bahan essensial seperti kekurangan zat besi, vit B kompleks, vit C dan asam folat. Kehilangan darah baik

yang akut maupun yang kronis (perdarahan, cacing tambang).

Penanganan

Anemia sedang (Hb 8-9 gr%)

Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, diberikan dosis 0,5 cc/im, untuk

reaksi alergi, bila tak ada reaksi berikan seluruh dosis.

Tranfusi darah jika terjadi perdarahan lebih dari biasa walau <1000ml.

Jika Hb masih anemia

(33)

Referensi

Dokumen terkait

kekerasan. 5) Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan. 6) Anjurkan klien memprktekan latihan. Tum : Klien dapat meningkatkan harga dirinya. 2) Klien

v. Diskusikan dengan klien keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat. Anjurkan klien minta obat sendiri pada perawat dan merasakan manfaat. Anjurkan klien bicara minta

tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan. posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala.

Kekurangan (defisiensi) zat besi dapat terjadi karena makanan yang dikonsumsi tidak cukup mengandung zat besi, adanya gangguan pencernaan yang tidak dapat mengabsorpsi zat-zat

Dengan kurangnya zat besi yang dapat dipenuhi dari intake makanan karena kebiasaan makan/minum yang kurang baik (banyak mengkonsumsi zat penghambat dan kurang mengkonsumsi

1) ASI Kaya Akan Zat Penting Bila dibandingkan ASI dengan produk susu kalengan atau formula untuk sang buah hati, ASI tetap terunggul dan tak terkalahkan. Karena ASI memiliki

1) Anjurkan pasien untuk rileks dan berikan posisi yang nyaman untuk dirinya. 2) Berikan instruksi pada pasien untuk menghirup nafas melalui hidung sambal melibatkan

Sikap terhadap konsumsi tablet tambah darah Sikap ibu hamil seperti adanya rasa malas, bosan, seringnya lupa, tidak suka mengkonsumsi obat, ataupun mengalami efek samping seperti