• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BIDANG ARSIP DAN MUSEUM"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

r===-2=>=========-·===-=2==========e:o-=---=---=---·===---·--~-=--==·==~

·rEMANDANGAN

u·MUM

"FRAKSI "KARY A PEMBANGU"N"AN or>RRI

Il.ANCANGAN UNDANG-UNDANG

TENTANG

J>EJlUllAH.AN ATAS 4 UNDANG-UNllANG

BIDANG PERPAJAKAN

0

0

Disampaikan oleh: IL JUSUF TALIB, SH

Anggota FKP DPRRI No. 267

(2)

FRAKSI KARVA PEMBANGUN AN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPURLIK INDONESIA SEKRETARl/\T: JL. JENO. G/\TOT ~UBROTO JAKARTA 10770 "ll" S71!>4(11; ~·ll54:lB. 5715424 - FAX. 5734595, 5720336

PEMANDANGAN UMUM

FRAKSI KARYA PEMBANGUNAN DPR-RI

TERHADAP

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN

ATAS 4 UNDANG-UNDANG

BIDANG PERPAJAKAN

Disampaikan oleh : H. Jusuf Talib, SH Nomor Anggota 267

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yth. Saudara Ketua/Pimpinan Rapat Paripurna,

Yth. Saudara Menteri Keuangan yang mewakili Pemerintah,

Ibu-ibu, Bapak-bapak Anggota Dewan s~rta Hadirin yang kami

muliakan.

Mengawali Pemandangan Umum ini, perkenankanlah kami mengajak seluruh hadirin dan hadirat untuk bersama-sama menundukkan kepala memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa, atas segala nikmat, rahmat dan anugerah-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari ini Senin 12 September 1994, kita dapat melaksanakan tugas konstitusional yang mulia ini dalam rangkaian pelaksanaan pembahasan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas 4 Undang-Undang Bidang Perpajakan.

Semoga tauf ik dan hidayah-Nya selalu mengiringi keseluruhan rangkaian acara persidangan Dewan yang mulia ini, sehingga benar-benar hasilnya dapat memenuhi aspirasi dan menyentuh kepentingan bangsa, negara dan seluruh rakyat Indonesia.

Saudara Pimpinan dan Para Anggota Dewan yang terhormat,

Presiden Republik Indonesia dengan amanatnya Nomor

R.09/PU/VIII/1994 tertanggal 22 Agustus 1994, telah menyampaikan 4 RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Bidang Perpajakan, yaitu :

1. Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

2. Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991.

3. Perubahan atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

4. Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

Hari Sabtu yang lalu tanggal 3 September 1994 Saudara Menteri

Keuangan Republik Indonesia mewakili Pemerintah telah

(3)

menyampaikan Keterangan Pemerintah terhadap RUU tentang Perubahan atas 4 Undang-Undang bidang perpajakan.

Dalam keterangannya, Pemerintah menyatakan bahwa reformasi undang-undang perpajakan 1983 telah menghasilkan undang-undang perpajakan yang sejak diberlakukan telah membuktikan terus meningkatnya sumbangan penerimaan pajak terhadap penerimaan negara dan telah merupakan perwujudan dari tekad menjadikan penerimaan. pajak sebagai tulang punggung penerimaan negara.

Disamping itu Pemerintah menyatakan pula, bahwa hasil yang dicapai itu disamping penyempurnaan peraturan perundangan, juga berkat adanya peningkatan pelayanan pajak, ekstensifikasi waj ib

pajak dan intensifikasi pemungutan pajak, pengawasan

administratif yang lebih intensif, khususnya atas wajib pajak potensial, serta peningkatan kesadaran wajib pajak.

Dengan memaparkan beberapa penekanan hal-hal yang perlu ditingkatkan pelaksanaannya dan penegasan-penegasan untuk lebih terciptanya asas keadilan dalam sistim perpajakan dan untuk lebih meningkatkan pengawasan atas keberhasilan asas pemungutan, pemerintah berkesimpulan bahwa dilandasi dengan pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil pembangunan dan dampak globalisasi berbagai bidang, dipandang perlu untuk melakukan perubahan undang-undang perpajakan dengan tetap melandasi pada prinsip-prinsip dasar reformasi perpajakan 1983, serta tetap membuka diri terhadap pembaharuan yang disesuaikan dengan perkembangan selama 10 tahun terakhir.

Fraksi Karya Pembangunan menyambut baik disampaikannya RUU tentang Perubahan atas 4 Undang-Undang bidang Perpajakan yang sekarang berlaku, berdasarkan pertmbangan-pertimbangan sebagai berikut :

1. Sejak diberlakukannya Sistem Perpajakan Nasional yang baru pada 1 Januari 1984, dalam kurun waktu satu dasawarsa

dirasakan dan disadari banyak bentuk-bentuk aktivitas

perekonomian yang aspek perpajakannya belunt tertampung dalam undang-undang perpajakan yang berlaku sekarang.

2. Berbagai materi muatan undang-undang perpajakan yang berlaku

sekarang perlu disesuaikan dengan tujuan dan sasaran

Pembangunan Jangka Panjang II sebagaimana di amanatkan dalam GBHN 1993.

3. Keberpihakan dan dukungan fiskal kepada masyarakat

berpenghasilan rendah serta pengusaha kecil, perlu lebih dicerminkan dan diterapkan dalam Undang-Undang Perpajakan dan pelaksanaannya.

4. Berbagai masukan dari para pakar, pengamat Bidang perpajakan, para ahli ekonomi, keluhan-keluhan para waj ib paj ak, yang disampaikan kepada Fraksi Karya Pembangunan, secara obyektif rasional dirasakan perlu ditampung dalam Undang-Undang Perpajakan, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar reformasi perpajakan nasional tahun

1983-5. Masih cukup banyaknya lubang-lubang dalam undang-undang perpajakan yang sekarang berlaku, yang dapat disalahgunakan untuk penghindaran dan pengelakan pemenuhan kewaj iban pajak, termasuk pemanfaatan oleh sementara aparatur pajak yang tidak bertanggung jawab.

Masih segar dalam ingatan kita, 10 tahun yang lalu Dewan bersama-sama Pemerintah, menyetujui 4 Undang-Undang di bidang perpajakan,

(4)

dan menyatakan bahwa reformasi perpajakan 1983 benar-benar ·telah merupakan suatu karya bersama bangsa Indonesia yang dapat dibanggakan dalam menciptakan pembaharuan hukum khususnya di bidang hukum perpajakan, yang diharapkan untuk lebih dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor perpajakan.

Untuk itu ijinkanlah Fraksi Karya Pembangunan, menoleh sejenak ke waktu 10 tahun lalu.

Saudara Pimpinan dan Para Anggota Dewan yang terhormat,

Sebagaimana telah kami singgung dimuka bahwa pada tahun 1983 Indonesia telah melakukan suatu reformasi perpajakan nasionalnya dengan perka taan lain melakukan "Pembaharuan sis tim Perpaj akan Nasional" yang diberlakukan 1 Januari 1984.

Sistem perpajakan baru ini serta perangkat pelaksanaannya

dirancang untuk meningkatkan penerimaan secara maksimal,

sekaligus untuk menarik dan merangsang usaha investasi.

Disamping itu juga untuk lebih menegakkan kemandirian kita dalam membiayai pembangunan nasional yang setiap tahun terus bertambah luas cakupan dan jangkauannya, serta untuk lebih meningkatkan hasil-hasilnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banyak. Dengan diberlakukannya sistim self-assesment dalam reformasi perpajakan 1983, pada waktu itu disepakati suatu pengertian bahwa sistim perpajakan kita telah memberikan kepercayaan dan kedudukan terhormat kepada masyarakat waj ib pajak untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Disamping itu diperhatikan dan diterapkan pula berbagai prinsip perpajakan antara lain meliputi asas keadilan dalam pemikulan beban pajak, kesederhanaan jenis tarif, cara pemungutan pajak, susunan tarif yang secara keseluruhan bersifat progresip serta resprensip bagi wajib pajak mengenai beban dan pembayaran pajak dengan tidak melupakan keseimbangan antara kewajiban dan hak wajib pajak.

Saudara Pimpinan dan Para Anggota Dewan yang terhormat,

Keberhasilan reformasi perpajakan 1983, secara umum dapat kami kemukakan beberapa data sebagai berikut :

Jika pada awal diberlakukannya UU Pajak yang baru sebagai akibat adanya reformasi UU Perpajakan pada tahun 1984 bertepatan dengan dimulainya Repel i ta IV tax ratio ki ta mas ih 6, 8%, maka pada tahun 1993/94 yang merupakan akhir Repelita V atau setelah 10 tahun berlakunya UU yang baru telah meningkat menjadi 14,3 %. Begitu pula pada awal diberlakukannya UU yang baru ini jumlah wajib pajak PPh dan PPN baru sekitar 1,5 juta, pada tahun 1992/93 jumlah wajib pajak telah meningkat sekitar 5,2 juta.

Bila kita lihat dalam Pelita IV secara rata-rata penerimaan dalam negeri baru 73, 5% dari total penerimaan negara, kemudian dalam

Pelita V penerimaan dalam negeri meningkat menjadi 80,5%,

terdapat kenaikan sebesar 7% dalam kurun waktu 5 tahun. Hal ini membuktikan bahwa

mampu semakin memperkecil komponen penerimaan negara.

Undang-undang perpajakan yang baru porsi bantuan luar negeri dalam

(5)

Selanjutnya bila dalam Pelita IV penerimaan non migas baru 49,5% dari penerimaan dalam negeri, dalam Pelita V penerimaan non migas sudah mencapai 64,2%.

Hal · ini berarti, ketergantungan penerimaan dalam negeri pada sumber-sumber yang rentan terhadap gej olak pasar dunia semakin menurun.

Secara rata-rata tax ratio selama Pelita IV adalah 8,4%, sementara dalam Repelita V angka tersebut menjadi 12, 6%

Angka-angka ini·menunjukkan meningkatnya usaha pemungutan pajak.

Terbukti betapa besarnya peranan undang-undang pajak yang baru sebagai akibat reformasi UU pajak, dan semk.in efisiennya sistim pemungutan pajak, meningkatnya kesadaran dan kepatuhan wajib pajak, meluasnya basis pajak, dibandingkan dengan pelaksanaan dibawah UU Pajak yang lama.

Namun demikian, walau data-data diatas telah melihatkan keberhasilan peranan pajak setelah reformasi undang-undangnya, bukan berarti tidak terdapatnya kendala-kendala untuk pelaksanaan

selanjutnya.

Untuk itu profesionalisasi aparat perpajakan perlu secara terus-menerus dan berencana ditingkatkan, dengan dibarengi peningkatan

semangat kerja, kejujuran dan tanggung jawab, disamping peningkatan kualitas dan kuantitas kebutuhan operasional.

Disisi lain kepatuhan dan kesadaran wajib pajak walaupun terlihat semakin meningkat, tapi untuk mendukung undang-undang yang baru masih perlu lebih ditingkatkan lagi. ·

Yth. Saudara Ketua/Pimpinan Rapat Paripurna,

Yth. Saudara Menteri Keuangan yang mewakili Pemerintah,

Ibu-ibu, Bapak-bapak Anggota Dewan serta hadirin yang kami muliakan.

Sebelum menanggapi keterangan Pemerintah atas 4 RUU bidang Perpajakan, perkenankanlah kami menyampaikan prinsip-prinsip dasar Fraksi Karya Pembangunan sebagai berikut

1. Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 mengamanatkan : Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan Undang-Undang.

Dalam penjelasannya antara lain dipertegas sebagai berikut : "Oleh karena penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, maka segala tindakan yang menempatkan beban kepada rakyat, sebagai pajak dan

lain-lainnya harus di tetapkan dengan Undang-Undang, yai tu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat".

Berlandasakan amanat Pasal 23 ayat {2) UUD 1945 tersebut, maka setiap penetapan atau perubahan Undang-Undang perpajakan yang materinya memberikan beban atau penambahan beban bagi rakyat harus ditetapkan dengan Undang-Undang.

Sedangkan yang meringankan atau memperingan beban rakyat banyak, Undang-Undang perpajakan dapat memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk meengaturnya dalam berbagai bentuk peraturan perundang-undangan yang derajatnya dibawah Undang-Undang.

2. Pembagian tekanan pajak diantara subyek pajak masing-masing hendaknya dilakukan seim.bang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan penghasilan yang dinikmatinya, sesuai dengan asas pembagian atau asas kepentingan.

(6)

' Dalam asas ini tidaklah diperbolehkan suatu negara mengadakan diskriminasi diantara sesama wajib pajak. Dalam keadaan yang sama, para wajib pajak harus dikenakan pajak yang sama pula. 3. Pajak yang harus dibayar oleh seseorang haruslah. terang dan

jelas dan tidak mengenal kompromis.

Disamping itu diperlukan kepastian hukum mengenai subyek, obyek, besarnya pajak dan juga ketentuan mengenai waktu pembayarannya.

4. Dalam teknik pemungutan pajak kiranya da~at dilaksanakan prinsip yang menetapkan bahwa pajak hendaknya dipungut pada saat yang paling baik bagi para wajib pajak, yaitu saat sedekat mungkin dengan detik diterimanya penghasilan yang bersangkutan.

5. Sesuai asas efisiensi pemungutan pajak hendaknya dilakukan sehemat-hematnya, jangan sampai terjadi biaya pemungutan melebihi atau tak seimbang dengan pemasukan pajaknya.

Dari prinsip-rpinsip dasar yang kami sebutkan tadi, bila dikaitkan dengan perkembangan Hukum Fiscal dapat diartikan bahwa dalam menciptakan suatu UU Perpajakan kita hendaknya berpegang teguh pada, asas keadilan, asas juridis, asas ekonomis dan asas finansial.

Disamping itu perlu diperhatikan daya pikul waj ib pajak, pembatasan-pembatasan yang tepat, pas t i dan tegas, dengan menghindari sejauh mungkin adanya pengecualian-·pengecualian.

Dengan demikian dapat dibatasi dan dicegah praktek-praktek

penghindaran pemenuhan kewajiban pajak, pengelakan atau

penyelundupan pajak.

Demikian pula suatu peraturan perundangan perpajakan yang baik hendaklah dapat mengatur secara seimbang antara hak dan kewajiban baik u~tuk fiscus maupun wajib pajak.

Jangan sampai terjadi untuk fiscus hanya dicantumkan haknya dan untuk wajib pajak hanya diatur kewajibannya saja, dua-duanya

harus diatur sebaik mungkin. ,

Untuk itu selanjutnya fiscus harus pula dijamin dalam undang-undang u~tuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan lancar, sebaliknya para waj ib pajak harus pula mendapat jaminan hukum, agar supaya mereka tidak diperlakukan dengan semena-mena oleh fiscus dan aparatnya.

Dalam perumusan UU Pajak yang baik perlu pula diperhatikan :

1. Barus diusahakan jangan sampai menghambat lancarnya produksi dan perdagangan.

2. Barus diusahakan jangan sampai menghalang-halangi rakyat dalam usaha meningkatkan kesejahteraannya dan jangan sampai merugikan kepentingan rakyat.

3. Harus diusahakan tetap mempunyai daya tarik dan rangsangan bagi usaha investasi.

Saudara Pimpinan dan Para Anggota Dewan yang terhormat,

Keempat RUU yang diajukan oleh Pemerintah adalah perubahan atas 4 Undang-Undang bidang Perpajakan yang kurun waktu berlakunya sudan mencapai satu dasawarsa, sehingga pembahasan akan terpusat pada substansi materi perubahan, dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip dasar dan keempat asas yang kami kemukakan di atas.

(7)

Apabila dilihat dari substansi materinya, maka perubahan tersebut dapat dipilahkan ke dalam delapan katagori :

1) Dihapus 2) T e t a p

3) Perubahan materi

4) Perubahan redaksional 5) Penyempurnaan

6) Perpindahan ke RUU Perpajakan lainnya 7) Ketentuan baru

8) Penyesuaian.

Berdasarkan pemilahan tersebut menurut hemat Fraksi Karya Pembangunan, pembahasan materi akan lebih banyak dipusatkan pada materi ketentuan baru, perubahan materi dan penyempurnaan.

Yth. Saudara Ketua/Pimpinan Rapat Paripurna,

Yth. Saudara Menteri Keuangan yang mewakili Pemerintah,

Ibu-ibu, Bapak-bapak Anggota Dewan serta hadirin yang kami

muliakan. &

Selanjutnya ijinkan Fraksi kesempatan ini mengajukan beberapa

jawaban, tanggapan dan penjelasan melalui Saudara Menteri Keuangan.

Karya Pembangunan dalam hal pokok yang memerlukan lebih jauh dari Pemerintah

Adapun hal-hal pokok yang kami ajukan adalah sebagai berikut

I. RUU Tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

1. Pasal 23 A, Pasal 23 B dan Pasal 23 C merupakan pasal-pasal tentang penyitaan, sanggahan dan atau gugatan penanggung pajak terhadap pelaksanaan surat paksa, serta penyanderaan.

Ketentuan-ketentuan tersebut khususnya pasal 23 B dan Pasal 23 C berkaitan dengan kewenangan lembaga peradilan

~ umum.

Kiranya perlu dijelaskan oleh Pemerintah, sejauhmana keterkaitan pasal-pasal tersebut dengan ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang nomor 5 Tahun 1985 tentang peradilan Tata Usaha Negara, dan apakah sejauh ini sudah dikonsultasikan dengan Menteri Kehakiman dan Ketua Mahkamah Agung.

2. Apa dasar pertimbangan dan alasan ditetapkannya daluwarsa penetapan pajak menjadi sepuluh tahun yang dikaitkan dengan prinsip self-assesment dan daluwarsa penyimpanan dokumen.

3. Apa dasar pertimbangan Pemerintah mencantumkan ketentuan pasal 1139 angka 1 dan angka 4 serta pasal 1149 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan pasal-pasal lainnya dalam pasal 21 RUU KUP.

Apakah ·tidak sebaiknya di cantumkan substansinya saja, tanpa mengutip pasal-pasalnya, sehingga pada waktu ditetapkannya Undang-Undang Hukum Perdata yang baru tidak perlu lagi ada perubahan atau penyesuaian ketentuan UU KUP dengan UU Hukum Perdata yang baru.

4. Penggunaan terminologi badan peradilan dalam Undang-Undang Perpaj akan ( RUU KUP dan RUU PPh) apakah tidak

sebaiknya dihindari, karena secara hukum dapat

(8)

dipersoalkan keterkaitannya dengan Undang-Undang nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang

secara pasti sudah menetapkan jenis-jenis badan

peradilan. Apakah tidak lebih tepa t dig an t i dengan terminologi lainnya seperti badan penyelesaian sengketa perpajakan yang mempunyai kewenangan dan prosesnya semacam quasi peradilan, sementara menunggu adanya

undang-undang tersendiri yang mengatur tentang

penyelesaian sengketa perpajakan yang selama ini ditangani oleh Majelis Pertimbangan Pajak.

II. RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 7 Tahun 1991.

1. Pas al 2 A ayat (5) tentang. kewaj iban pajak subyektif warisan yang belum terbagi, perlu lebih diperjelas, yaitu bahwa pengenaan wajib pajak subyektif warisan yang belum terbagi ditetapkan selama warisan yang belum terbagi tersebut memberikan penghasilan, dan setelah warisan tersebut selesai dibagi, maka subyek wajib pajaknya beralih kepada para ahli waris sejauh warisan tersebut memberikan penghasilan.

Kewajiban pajak subyektif warisan yang belum terbagi sejauh memberikan penghasilan tanggungjawab pajaknya melekat pada para ahli waris secara kolektif.

Apabila penafsiran ini benar, apakah tidak sebaiknya dicantumkan penjelasan atas Pasal 2 A ayat (5) tersebut. 2. Ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf f biaya penelitian dan

pengembangan perusahaan, standard/ukuran apa yang dipakai untuk menentukan komponen kegiatan Penelitian dan pengembangan perusahaan. Apakah sepenuhnya diserahkan kepada perusahaan yang bersangkutan sesuai dengan prinsip self-assesment.

Bagaimana pula kalau penelitian dan pengembangan perusahaan tersebut berskala multy-years.

3. Pasal 8 ayat {2) huruf ~ :

Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah berdasarkan keputusan hakim.

Keputusan hakim tentang suami-isteri hidup terpisah hanya berlaku bagi mereka yang tunduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sedangkan bagi mereka yang tunduk pada hukum agama Islam, tidak dikenal suami-isteri yang secara hukum dinyatakan hidup terpisah. Bagaimana perlakuan ketentuan pasal 8 ayat (2} huruf ~ terhadap keadaan yang demikian itu.

4. Pasal 9 ayat (1) huruf c memberikan perkecualian pengurangan besarnya penghasilan kena pajak terhadap biaya reklamasi untuk usaha pertambangan yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Untuk menghindari hal-hal yang bersifat diskriminatif,

apakah perlakuan yang sama akan diberikan kepada usaha pengelolaan hutan seperti biaya reboisasi dan biaya HTI. 5. Pasal 10 ayat (2) dan (3) tentang harga pasar. Mengingat

harga pasar bersifat fluktuatif, apakah tidak sebaiknya pemerintah menetapkan standard yang dipakai sebagai patokan dasar dalam hal nilai perolehan atau nilai penjualan atau nilai pengalihan harta dalam jangka waktu

tertentu.

(9)

6. Pasal 17 ayat (2) Dengan peraturan pemerintah, tarif tertinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dirubah menjadi setinggi-tinginya 25 % (duapuluhlima perseratus). Ayat ini mengandung arah antisipasi terhadap perkembangan keadaan. Namun ayat ini sekaligus mengandung unsur ketidakpastian penghitungan penerimaan negara dari sektor pajak dalam tahun anggaran (RAPBN), bila perubahan tarif tertinggi dilaksanakan pada tahun anggaran yang s·edang berj al an. Apa sebenarnya dasar pertimbangan ditetapkannya Pasal 17 ayat (2) tersebut. Disamping itu kiranya perlu dij elaskan dasar pertim.bangan perhi tungan besarnya lapisan penghasilan kena pajak dan tarif pajak sebagaimana tersebut dalam pasal 17 ayat (1), dan bagaimana perkiraan dampaknya terhadap penerimaan negara dan sumber PPh.

7. Fraksi Karya Pembangunan sependapat dengan penj·elasan Pemerintah mengenai dasar pertimbangan untuk menambah ketentuan baru diantara Pasal 31 dan Pasal 32 yang dijadikan Pasal 31 A yaitu untuk mendorong dan meningkatkan pembangunan yang merata keseluruh bidang dan Daerah wilayah Indonesia, agar terdapat pertumbuhan yang serasi, selaras dan seimbang, kepada Wajib Pajak yang melakukan penenaman modal dibidang-bidang usaha tertentu dan atau didaerah-daerah tertentu dapat diberikan fasilitas perpajakan yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah . .

Meskipun demikian Fraksi Karya Pembangunan masih ingin memperoleh gambaran dari Pemerintah mengenai batasan-batasan yang dimaksudkan dengan bidang-bidang usaha

tertentu dan bentuk-bentuk failitas perpajakan yang akan diberikan melalui Peraturan Pemerintah tersebut.

Dalam hubungan itu Fraksi Karya Pembangunan mengharapkan perhatian Pemerintah agar pemberian fasilitas perpajakan dalam bidang kegiatan usaha pemanfaatan kekayaan alam seperti yang dimaksudkan oleh ayat (3) pasal 33 U.U.D. 1945 tidak menutup kemungkinan perolehan pendapatan negara yang diatur oleh Peraturan Perundang-undangan lainnya.

III. RUU Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

1. Kebijaksanaan perpajakan mempunyai pengaruh terhadap

alokasi, efisiensi, distribusi, stabilisasi dan

pertumbuhan dalam kehidupan perekon0mian.

Dalam kaitan itu, mohon dijelaskan perkiraan dampak dari perubahan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai terhadap hal-hal diatas.

2. Peranan perpajakan dalam mengoreksi efek-efek perembesan yang kurang menguntungkan agaknya masih kurang efektif. Dalam hubungan ini hendaknya dapat dijelaskan apakah perubahan terhadap Tarif Pajak Barang Mewah akan cukup efektif dalam mengoreksi efek-efek perembesan yang kurang menguntungkan itu, terutama terhadap golongan penduduk berpenghasilan rendah dan golongan yang mengkonsumsi

sebagian besar pendapatannya.

3. Mengingat sebagian besar rakyat masih menggantungkan perekonomiannya pada barang-barang basil pertanian, perkebunan,perikanan dan hasil-hasil agraria lainnya oleh

(10)

Undang-Undang nomor 8 Tahun 1983 tidak dimasukkan dalam cakupan Barang Kena Pajak.

Berhubung dalam RUU Perubahan Undang-Undang nomor 8 Tahun 1983 diadakan perluasan cakupan Barang Kena Pajak yang tidak hanya terbatas pada barang hasil pengolahan, ingin diperoleh penegasan dari Pemerintah apakah memang dikandung maksud untuk memasukkan barang-barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan hasil-hasil agraria lainnya dalam cakupan Barang Kena Pajak, sehingga akan dikenakan PPN.

4. Mengingat dasar pengenaan PPN adalah harga jual, apakah penyerahan Barang Kena Pajak tidak atas dasar jual beli dapat dimasukkan dalam pengertian penyerahan Kena Pajak. 5. Ketentuan pasal 8 yang menyangkut barang mewah perlu

dijelaskan macam dan jenis barang mewah yang dimaksudkan, dan apa pula batasan atau kriteria yang dipergunakan untuk menetapkan suatu barang termasuk katagori barang mewah.

6. Fraksi Karya Pembangunan sependapat dengan Pemerintah terhadap ketentuan baru dalam pasal 16B atas dasar pertimbangan untuk lebih meningkatkan ekspor dan investasi, penciptaan lapangan kerja baru dan menunjang pelestarian lingkungan hidup. Hanya perlu dijelaskan apakah cakupan pengertian daerah Pabean dalam Pasal 1

J

huruf ~ sama dengan yang dimaksudk?tn didalam peraturan perundang-undangan dibidang Kepabeanan yang rancangan undang-undangnya sedang dipersiapkan Pemerintah.

IV. Rancangan Undang-Undang Perubahan atas Undang Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang PBB:

1. Pasal 3 ayat (3) yang menetapkan besarnya nilai jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak menjadi Rp.

7.000.000,-(tujuh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak, Fraksi Karya Pembangunan menyambutnya dengan baik, karena hal itu mencerminkan sikap tanggap dan kesungguhan Pemerintah terhadap keluhan keberatan sebagian besar wajib pajak PBB dari kalangan bawah khususnya rakyat dipedesaan. Namun Fraksi Karya Pembangunan masih menginginkan penjelasan ten tang dasar pertimbangan di tetapkannya ni lai Rp. 7.000.000,- tersebut, serta perkiraan dampaknya terhadap penerimaan PBB. Apabila karena ketentuan ini

berakibat berkurangnya penerimaan PBB, Fraksi Karya Pembangunan menyarankan hendaknya alokasi penerimaan untuk Pemerintah Daerah Tingkat I dan Tingkat II tidak berkurang, dengan membebankan kekurangan penerimaan PBB

tersebut pada alokasi Pemerintah Pusat.

2. Dalam Pasal 6 mengenai dasar pengenaan pajak yaitu Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP), apakah tidak sebaiknya didengar saran dan pertimbangan Pemerintah Daerah Tingkat I mengingat ketidaksamaan kondisi tiap-tiap daerah, disamping pertimbangan sebagian terbesar penerimaan pajak PBB dikembalikan kepada Pemda Tingkat I dan Tingkat II sebagai penerimaan daerah.

(11)

•"' Rapat Paripurna Dewan yang kami muliakan.

Demikianlah Pemandangan Umum Fraksi Karya Pembangunan terhadap empa t rancangan undang-undang perubahan dibidang perpajakan yang kiranya perlu kami sampaikan.

Selanjutnya Fraksi Karya Pembangunan menyatakan siap melakukan Pembicaraan Tingkat III bersama Pemerintah dan rekan fraksi-fraksi lainnya.

Atas nama Fraksi Karya Pembangunan kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas perhatian seluruh hadirin terhadap penyampaian Pemandangan Umum

Fraksi Karya Pembangunan ini.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan petunjuk dan ridho-Nya kepada kita bersama dalam menunaikan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara. Sekiart terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 12 September 1994 FRAKSI KARYA PEMBANGUNAN DPR-RI

(12)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT R.I. FRAKSI ABRI

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI ABRI

ATAS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG

RUU PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

RUU PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO.MOR 7 TAHUN 1983

TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH

DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991

RUU PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PA.JAK

PEN.JUALAN ATAS BARANG MEWAH

RUU PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANGNOMOR 12 TAHUN 1985

TENTANGPAJAKBUMIDANBANGUNAN

DIBACAKAN OLEH :

SOETRISNO R.

Nomor Anggota A-487

(13)

tmWAN PEltWAKILAN RAKYAT R.I.

FRAKSI AURI

PEMANUANGAN Ul\1UM FRAKSI Alm.I ATAS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG RIWUBLIK lNDONESIA

TENTANG

JUJU PERUHAIIAN ATAS UNDANG-lJNDANG NOMOH 6 TAllUN 1983 TEN'fANG KETEN'l'UAN UMUM DAN TATA CARA PEH.PAJAKAN RUU PERU.HAUAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAlllJN 1983

TENTANG PA.JAK PENGHASILAN SEDAGAlMANA TELAH DIUllAH

D.ENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAlllJN 1991

HlJU PEltlJHAllAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOH B TAllUN 19BJ

TENTANG PA.JAK Pl~RTAMBAIIAN NILAI BAnAN<; DAN .JASA

DAN PA.JAK PENJUALAN ATAS HARANG 1\ll~\VAJI

llUU PERUBAUAN ATAS UNDANG-UNDANG NOI\'I°OH. J2 TAllUN 1935 TENTANG PAJAK BU.Ml DAN UANGUNAN

Yang krhormat Saudara Pimpinan Sidaug,

Yang lcrhormat Saudara Mcntcri Kcuangan sclalm Wakil Pcmcrintah, Yang tcrhormat para Anggota Dewan,

scrta hmlirin yang kami hormati.

Pcrlama:-lama marilah kita pmtjatkan puji <lan syukur kcha<liral Tuha11 Yang Maha Esa, karena alas rakhmat dan lindungan-Nya pa<la hari ini kila <lapat bcrkumpul <lalam keadaan

schat wal 'a fiat,· unluk mcngikul i Pcman<langan Um um para J\nggola alas Paket 4 (crnpat)

Rancangan Un<lang-undang tcnlang Pcrubahan alas Undang-un<lang l'crpajakan.

Alas nama Fraksi All RI, pcrkcnankanlah kami mcnyampaikan tcrima kasih kcpa<la Sam.Iara Pimpinan Si<lang, alas kcsempalan yang <libcrikan kcpaua l'raksi ABRI, unluk menyampaikan Peman<langan Umum ini <lan terima kasih pula kami sampaikan kepa<la Pemerintah mclalui Sau<lara Mentcri Keuangan yang Lelah mcnyampaikan kclcra11gan Pemerin-lah <lalam Si<lang Paripurna Dewan lauggal 3 Scplcmbcr 1994.

(14)

llmlirin J~mg kami hormati.

Pcmhangu11a11 Jangka Panjang II dilaksanakan <lcngan tcl•1p hcrtu1111n1 kcpada Trilogi l'crnba11gu11an. Pcrlumbuhan ckonomi yang cukup tinggi tclap uipcrluka11 unluk mcn<linamisir pcmhangunan di bidang-bkJang lain sckaligtis scbagai kckuafa11 utama pcmlwngunan untuk mcwujudkan. pcmerataan pcmbangunan dan hasil-hasilnya.

Dcmikian juga scbaliknya <lari pcmcrataan lerscbul diharapkan tc1jadi perlumbuhan discgala bidang pcmbangunan.

Perlumbulian ckonomi tcrscbul Jiarus <liarahkan unluk mcningkatkan pcmlapala11 masyarakat, pcnycrapan angkatan ke1ja serla mcngatasi kcse11janga11 sosial dan lclap rncmperhatikan pcngcmbangan <lan pcrlindungan kcpada pcngusaha kccil, mc11c.11gah dan kopcrasi scrta mcruamin pclcslarian lingkungan hidup.

. GDHN 1993 mcngamanatkan bahwa dana unlUk pcmbiayaan pcmhangunan lerutama digali dari sumbcr kcma111puan scndiri. Sumbcr dana luar ncgcri yang masih dipcrlukan 111crnpakan pclc11gkap, dcngan prinsip pcningkatan kcmandirian dalam pclaksa11aan

pcmba11gu-11a11 dan mcncegah kctcrikatan scrta campur tangan asing. Pcmbangunan nasional pada

dasarnya diseJcnggarakan oleh masyara-kal bcrsama Pemerinlah. Oleh karcna itu, penman masyarakat dalam pembiayaan pcmbangunan harus lcrus diturubuhkan dcngan 1nemlorong kcsauaran, pcmahaman dan pcughayatan hahwa pcmbangunan adalah liak, kcwajiban dan langgung jawab seluruh rakyal.

Sela1tjulnya dilegaskan pula, bahwa pcncrimaan ncgara lcrus <liupayakan peningkatannya dengan mcnggal i dan mcngcmbangkan semua sumbcr pcncrimaan ncgara, lerulama sumbcr penerimaan yang bcrasal dari pcrpajakan dan sumbcr lainnya, dcngan lctap mempcrhatikan pcningkalan kcmampuan pcmbiayaan pcmuangunan olch masyarakal <lan dunia usaha.

Dalam Rcpclita VI, untuk mcncapai sasanm pcrlumbuhan ckonomi rata-rala sebesar 6,2 pcrsen per lahun, <lipcrlukan dana invcslasi yang scluruhnya dipcrkirakan bc1jumlah Rp. 660 lriliun. Dari jumlah kcbutuhan <lana inveslasinya di alas, penman invcslasi c.lari masyarakat cJiharapkan mcncapai 73 % alau sckilar Rp 481,8 trilyun. Pcranan dana i11vcslasi <lari scklor l'emerinlah dipcrkirakan sckilar 27 % atau Rp 178,2 Lrilyun, sualu jumlah yang rclalif sangat besar, yang <liharapkan sebagian bcsar dapat <lidukung dari pcnerimaan pajak.

(15)

Scbagai konsckucnsi logis unluk 111cncmpalka11 kcdudukan pajak sch;1gai lulang

ptmg-gung pcmbiayaan pcmbangunan Llalam rangka kcmandirian, maka pajak akan mcrupakan heban bagi rakyal. Olch karcna ilu Lindakan yang akan mcncmpalkan pajak scbagai bcban kepa<la rakyat ini, harus ditclapkan <lcngan Urn.Jang-un<lang, yaitu <lcngan pcrsctujua11 Dewan Pcrwa-kilan Rakyat, hat ini scsuai dengan amanal lHJD 1945 pasal 23.

Pcncrimaan dari pcrpajakan harus dilaksanak:.m bcnJasarkan asas kcadilan dan pc-mcrataan, dan diharnpkan mampu mcnunjang pcmb:rngunan dan mcuingkalkan scrta

mcmera-takan kcsejahleraan rakyat.

GBI.lN 1993 juga mcngamanatkan bahwa ;

Sislcm dan prosc<lur perpajakan unluk mcoingkalkan pcn<lapalan ucgara lcrus <lisem-purnakan <lan dise<lcrhanakan <lengan mcmpcr-hatikan asas kea<lilan, pcmcralaaH, manfaat, dan kcmampuan masya-rakal melalui pcningkatan mutu pelayanan dan kualilas aparat yang terccr-min dalam pcningkalan kcjujuran, tanggung jawab da11 dc<likasi scrla melalui pcnycmpurnaan sislem adminislrasi.

Kesadarnn masyarakat mcmbayar p<tjak sccarn jujur <lan bcrlangguug jawab terus di-lingkatkan mclatui molivasi, pencnrngan, pcnyuluhan, pcndidika11 scjak dirii, scrla langkah kctcladanan. Pcningkalan kcsadaran masyarakal untuk mcmbayar p<uak scbagai kcwajiban warga ncgara perlu <liimbangi dcogan pcniugkalan pclayanan aparatur ncgara kcpada pcmbayar 1ntjak, discrlai pencrapan sanksi scsuai <lcngan pcraluran pcrun<lang-umlaogan yang bcrlaku.

Perlu pula diccgah a<lanya pajak gan<la yang memhcralkan kehidupan niasyarakal banyak.

lladirin yang kaini honnati.

Sejak d.iberlakukannya refonnasi sislem perpajakan nasional tahun 1983 dan Lahun 1985

sumbangan pcnerimaan pajak tcrhadap pcncrimaan negara tcrus mcningkat. Jjka pad.a 'fahun

Anggaran 1984/85 pcnerimaan pajak yang dikelola Dircktorat Jcudcral Pajak baru mencapai Rp 3 ,3 lriliun atau 17

%

dnri volume APBN, pada 'Hlhun Anggaran 1989/90 Lelah meningkat mcttjalli Rp 12,2 lrilyun a tau 31,9 % dari volume APBN. Scdangkan pad a 'fahun Anggaran 1994/95 yang sedang be1jalan dircncanakan pcncrimaan hampir

Rp 34,0 lriliun alau 48,7% dari volume APBN.

(16)

\Valaupun dari pcngalaman reformasi sislcm perpajak<lll lcrscbut di atas pencrirnaan ncgara mclalui pcrpajakan tcrus mcningkat, mu11u11 apahila dihadapkan kcpada kcccnderungan pcrkcmhangan ekonomi yang menuntul lcrscdianya <lana pcmbangu11an ya11g makin membcsar, saal ini dan uimasa 111cnu.ala11g, tanpa aua11ya pcnycmpurnaan pcrpajakan lcbih Ja1tjut, sulit untuk dapat mcttjamin mcningkatnya pencrimaan ncgara dari pajak.

Pcrkcmbatigan pcrckunomian dunia dalam era globalisasi saat ini bcrkcmbang sangat <linamis, cepat dan penuh dengan perubahan-pcrubahan yang mcnuasar diserlai kcli<lakpastian yang sulil dipcrkirakan. Salah salu masalah 1)cnling yang pcrlu kita pcrhal.ikan bcrsama dalam kchidupan pcrckonomian <lan huhungan ckonomi anlar bangsa saal ini yailu scmakin mcniugkat uan scmakin kelatnya pcrsaingan di bidang ckonomi. Hal iui cral kail.annya Jcngan akan <liber-lakukannya kclentuan GATT <.Ian tcrbcntuknya NAFTA, AFTA serta J\PEC.

Pcningkalan inveslasi dan kcgialan ckspor khususnya di ncgara-11cgara bcrkcmbang scmakin kumpclilif schingga dipcrlukan adanya upaya yang mcm.Jukung iklim investasi yang Jcbih baik antara lain bcrupa fosililas dan flcksibilitas dari pcraluran pcrumJang-undangan di bidang pcrpajakan. Mcnghadapi pcrkcmbangan ckonomi daJam era globalisasi lcrscbut salah salu faklor yang dipcrlukan auaJah mcningkalkan cfisiensi pereko1t'omia11. Unluk ilu <liperlukan pcralunm pcrundang-undangan pcrpajakan yang dapal lchih mcndukung pc11ingkala11 cfisicnsi pcrckonomian lcrscbut <.Ian juga dapal mcmutjang kegialan ckspor scrta pcrkcmbangan pasar modal dalam rangka mcnghimpun dana masyarakat.

Di samping pcngaruh globaJisasi lcrsebul di alas, kila mcuyadari bahwa pesatnya perkcmbangan sosial ekonomi saat ini membcri dampak yang tidak kila llarapkan, anlara lain inflasi. Aki bat inllasi ini, nilai-nilai nominal yang tcrcantum di <la~arn lJ n<laug-umlang Pcrpaja-kan saat ini perlu ditinjau kcmbaJ i. Hal-bal lain yang palut diperlimbangkan puJa adalah adanya benluk-bcnluk aktivitas pcrckonomiau yang bclum diatur, alau cukup dialur <lalam Undang-undang Perpajakan yang berlaku sckarang.

Ber<lasarkan pcrtimbangan di alas, Fraksi AlHU mcndukung gagasan u11luk menyem-purnakan Uudang-um.Jang Pcrpajakan yang bcrlaku sckarang ini. Karena Hu Fraksi ABRI bcrpcnuapat bahwa pcngajuan Rancangan un<lang te11tang Pcruhahan alas Undang-U ndang Pcrpajakau yang berlaku saat ini merupakan Jangkah yang lcpal dan mcmpunyai arti strategis unLuk mc1tjami11 tercapainya tujuan dan sasaran PJP II dan arnanal GBIIN 1993.

(17)

Sidang J~mg kmni muliakan.

Pcrubahan Umlang-un<lang pcrpajakan harus lclap scjalan da11 mcnccnuinkan pclaksa-naan asas Dcmokrasi Pancasila, yang lala laksaua <.Ian pcngclolaam1ya dial11r olch UUD 1945

khususnya pasal 23 ayal (2) berikut pcnjcla.sannya yang bcrbuuyi : 11

Segala Pajak uuluk

kepcr-luan Negara· bcn.Jasarkan Unuang-um.lang 11 dcugan pcnjclasa1111ya scbagai

!Jerikul : "Bela pa caranya rakyat ,sebagai hangsa akan hi<lup <.Ian darimana didapalnya belat\ia lmal hidup, harus ditclapkan oleh i«1kyal itu scndirL dcngan pcranlaraan Dewan Pcrwakilannya" Di sarnping asas

dcmokrasi, perpajakan nasional harus didayagunakan schingga 1ncnccrminka11 asas kcadilan

sosial. Dcngan kala lain, pajak mcrupakan pcrwujuda11 ta11ggu11g jawall dan pcngabdian

masyarakal lcrha<lap ncgara. Sccarn garis besar pajak yang bcrasal dari rakyal, harus <likelola scbaik-baiknya untuk kcpenlingan rakyal dan <ligunakan unluk 111c11ingka1ka11 kcsejahteraan,

kemakmuran rakyal berdasarkan lJ U D 1945.

Dcngan pcrkembangan dunia intcrnasional dalam era globalisasi da11 tunlulan pcmban-gunan yang scmakin mcningkat, maka pcrubahan Unda11g-u11dang Pcrpajakan ini mcmpunyai tujuan anlara lain mcmpcrluas dan mengcfckli fkan pcncrimaan 11cgara mclalui pcrpajakan.

Tujuan itu haruslah merujuk kcpada uilai-nilai filosofi yang herinlikan rasa keadilan dan

kcbcnarnn, nilai sosiologis yang sesuai <lengan lata nilai sosial budaya y:mg bcrlaku di ma-syarakat scrla norma yuridis yaug scsuai dcngan kclcntuan pcrundang-undangan yang bcrlaku dimana kcscmuanya lcrkandung dalam Pancasila, U UD 1945 dan GIH IN dc11ga11 Rcpclitanya.

Mcngalir dari falsafah dan alur pikir scbagaimana disampaika11 di alas, maka daJam

pcmbahasan 4 (empal) RUU lcnl.ang Pcrubahan alas Unc.Jang-undang Pcrpajakan yang tclah

<lisampaikan Pcmerintah kepa<la Dewan, Frnksi ABRI bcrpcgang pada pokok-pokok pikirnn

sebagai licrikut :

Pokok l'ikiran l'criama

llahwa perubahan Un<lang-undang perpajakan yang menelapkan segala pcraturan yang men-yangkul subyek, obyck <lan tarif pajak yang lufrus <libayar olch rakyat, pada dasarnya perlu dialur <lengan un<lang-un<lang dan lidak didclcgasikan pa<la pcraturan pcrulll.langan yang lcbih rcnuah tingkatannya <lari undang-un<lang, dan tclap bcrpcgang kcpada asas hukum pa<la umumnya.

(18)

Pokok rikirnn Kcdua

Bahwa pcruhahan umla11g-umla11g pcrpajakan, dalam scliap pcmhcha11a11 pajak kcpa<la wajib pajak bcrsifat final, kccuali kalau tcn.Japat kekcliruan dalam pcncrapan peraluran perpajakau olch wajih p<~jak, dan demi kepastian hukum jangka waklu daluwarsa pcrlu dilclapkan sccara rasional dan cfcklif.

I'okok Pikinm Kctig;!

Bahwa pcrubahan Undang-umlang perpajakan harus mampu Icbih rncni11gkalka11 rasa kcadilan <lan pcmcralaau mclalui kebijakan sistcm [Htjak yang progrcssif, dan n1euiugkatkan batas pendapalan tidak kcna pajak ya11g Icbih tinggi, sclla menghindarkan pajak ganda.

l'okok rikirnn Kccmpat

Bahwa pcrubahan lJ ndang-undaog pcrpajakan hcodaknya mampu 111c11ingkaLkan pcncrimaan ncgara mclalui pcrpajakan, yang pclaksa11aannya pcrlu didukung "law c11forcc111cnt" scrta _ dilcngkapi dcngan sanksi pidana yang scpadau, yang bcrlaku baik unluk wajib pajak maupun aparalur pcrpajakan.

rokok Pikiran Kclima

Uahwa pcrubahan undang-umlaug perpajakan hcndaknya dapal mc11i11gkatka11 daya saing usaha nasional dalam pcrsaingan regional dan intcrnasional, <lan mcmloro11g pcngcmbangan pcngusaha kccil, mcncngah scrla koperasi unluk lumbuh mc1tjadi pc11gusaha yang tangguh, <lengan tetap 111e1tjamin keleslarian lingku11gan hidup, pcngembangan lplck dan peningkatan kualilas sumbcr daya manusia.

l'okok fikiran Kecnam

Bahwa pcrubahan tmdang-undang perpajakan pcrlu diikuli pcnycdcrhanaan proscdur dan a<lminislrasinya sehingga mcmu<lahkan bagi wajib 1ntjak untuk mcmcnuhi kcwajibannya.

(19)

Bahwa dalam pcrubahan untlang-undang pcrpajakan prinsip sci

r

(ISSCSlllClll dalam

pclak-sanaannya perlu dipaduka11 dcngan prinsip official asscsmcnt scsuai dc11ga11 kepcrluannya.

Sidang yang kami muliakan.

Ucrdasarkan Pokok-pokok pikiran scrla mcmpcrhatikan hal-hal prnl ing ya 11g 111cnyang-kut pcrpajakan sebagai lolok ukur, Fraksi AllRI bcrpcndapal, halnva <lc11gan Rancangan Umlang-un<lang tenlang Pcrubahan alas Un<lang-undang Pcrpajakan ini, yang terkandung didalamnya aspck-aspek pcnurnnan larir lapisan pcnghasilan kc11a pajak, pc11i11gkata11 batas pcnghasilan lidak kcna pajak (PTKP), pcningkalan nilai jual obyck pajak tidak kcna pajak (NJOPTKP), dan perlakuan khusus tli bitlang kewajiban pcqHtjaka11, uisadari akan te1jadi

pcnurunan dalam pcncrimaan ncgara dari pajak.

Dipihak lain, dengan adanya pcrubahan larif dan bcrbagai keri11gaoa11 alaupun fasilitas pajak Lcrsclmt, diharnpkan akan tcrcipla iklim usaha yang lcbih kon<lusif, mcn<lorong pcningkalan kcsadaran dan kcpatuhan subyck pajak, serla lcbih tcrci1painya aspck kca<lilan <lan pcmcrataan di bidang pcrpajakan. llal ilu pada gilirannya akan 1ncndoro11g mcni11gkat11ya

pcncrimaan ucgara dari pajak di masa-masa mcntlatang. Dalam kaitan ilu Fraksi ABRI mcnghargai dan mcndukung langkah slratcgis yang ditcn1puh Pc111cri111ah

ui

hidang pcrpajakan, mclalui H.am.:angan Undang-undang tcntang Pcruhahan alas U11da11g-·t111da11g pcrpajakan yang bcrlaku sclama ini.

Scla1tjulnya Fraksi AURl akan mcnyoroli bcbcrapa hal yang mcrupakan mualan dari Pakct 4 (clllpat) Raucangan Undaug-undang lcnlaug Pcrubaha11 alas Umlang--uudang Pcrpa-jakan, scbagai berikut:

1. 'fanggapan lcrhadap RU U Pcrubahan alas U 11da11g-untlang N (! ~- G lahun 1983 ten tang

Kctcntuan Unmm clan 'fata Cara Pcrpajakan.

Palla das'hrnya Fraksi AURI dapat memahami pcnjelasan Pcmcrinlah yang ingin menga-dakan perubahan alas UU No.6 tahun 1983 dcngan maksud untuk rncmbcrikan kcpas-lian hukum bagi Waj ib Pajak maupun aparatur p<tjak. dalarn rangka mcngantisipasi

(20)

pcrkcmha11gan global dcwasa ini maupun dalam rangka inlc11sifikasi 1naupun ckstcnsifi-kasi pcrpajakan u11luk mc11i11gkalka11 pc11crimaa11 di dala1n 11cgcri. Pcncrirnaan J>i~jak

dapal d iharapkan mcnjad i tulang punggu11g pcncrimaan ncgara sc.b:igai allcmati f dari prncrimaan Migas yang dipcrkirnkan akan scmakin bcrkurn11g.

Kcbcrhasilan pcnerimaan pajak sangat tergantung kepada;

Kcpatuhnn dan partisipasi aktif wajib pajak Kctekunan dan kc1ja kcras aparal pcrpajakan

Administrasi pajak dan Pcraluran Pcnmdang-umlangan yang mc1Klukungnya.

Kckurang bcrhasilan pada umumnya karcna lemahnya administrasi pajak dan law en-forcement dalam mcningkatkan kcpatuhan Wajib Pajak. Fraksi /\URI mcndukung usaha Pemcrinlah ui dalam pcrubahan Undang-um1ang Pcrpajakan ini untuk

mcningkat-kan kcmudahan-kcmudahan adminislrasi pc~jak dcngan pcnycdcrl1anaa11 sistcm dan

proscdur pcrpajakan, pcmbcbasan obyck pajak lcrlcnlu, scrta pcrluasa11 wilholding lax yang final. Untuk tujuan law enforcement di dalam pcrubaha11 Umla11g-umJaug Pcrpa-jaka11 ini juga mcmpcrtcgas lujuan dan cara pcmcriksaan, pc11crapa11 sanksi pcqn~akan,

sanksi pidana pcrpajakan, kclcnluan pcnagihan pajak Jan nicmpcrtcgas tcnlang

penang-gung pajak.

Fraksi AllRI sangat mcnghargai sikap Pcmcrintah untuk mcni11gkalkan sanksi pidana maupun mcmpcrluas pcrhualan- pcrhualan yang dikalagorikan tindak pic.Jana cJalam Rancangan U11da11g-Umla11g ini, yang tcrccrmin dalam Bab VlJl 111c11gcnai Kctcntuan l'idana. Kcbcrhasilan pcncgakkan hukum ini, akhirnya saugal lcrgaulung kcpa<la aparal pcrp<tjakan dan pcncgak lmkum yang bcrsih dan bcrwibawa~

Sclaitjutnya Fraksi AURI masih mcmcrlukan pc1tjclasan bcrkailan dcngan matcri RUU scoagai berikut ;

a. Masalah "Dadan Pcradilan Pajak"

Bcrdasarkan Um.Jaug-undang 14 'fahun 1970 tcntaug Um.Jang- undang Pokok Kchakiman Pasal 10 mcncntukan .bahwa kekuasaan Kchakiman dilakukan olch pe11gadilan dalam lingkungan Pera<lilan Umum, Pcradilan Agama, Pcra<lilan Militer dan Pcradilan lltla Usaha Negara. Scsuai hal lcrscbut di alas maka <lalam UU No.14 tahun 1970 tidak 1ncngcnal adanya islilah "lla<lan Peradilan

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(21)

Pajak". Olch scbab itu Fraksi /\BRI moho11 pc11jclasa11 dasar llukum pcmhcnlu-kan Badan lcrscbul, fu11gsi dan lugasnya. J\pakah lial i11i t idak bcrtcnlangan dcngan Unda11g-u11dang No. l4 lalnm 1970 Lcrscbut ?

b. Masalah Pcuagjha11___JIBiak lcrulang_ dengan Su.rnLJ~-~llisaL0~ Lclang <lan Pcnyandcraan.

Di dalam U11dang-undang Nomor 6 'fahun t 983 tidak mcngatur <lcngan

jdas lcnlang Surat Paksa, Sita, Letang <lan Pcnym1dcrnan, lctapi masih mcngacu

kcpac.la Umlang-u1HJa11g Nomor 19 'fahun J 959 lcntang l'cnagihan Pajak Negara

<lcngan Surat l'aksa. Fraksi ABIU dapal mcmahami maksud l'cmcrintah agar

dapat mcningkatkan kepaluhan Wajib Pajak. Maka di dalam RUU lcntang Perubahan Umlang-umlang Nomor 6 'fahun 1983 <limuat kelcnluan yang Iebih

lcrpcrinci lcntang Surat Paksa, Sita, Letang <lan Pcnyarnlcraan yang dimuat <lalam pasal 23, pasal 23 A, pasal 23 U <lan pasal 23 C. yang inlinya mcngambil dari kctcnluan-kct.cnluan yang ada di dalam Undang-·undang Nomor 19 Tahun

1959. Kami mc11yadari bahwa Undang-undang Nomor 19 'lhhun 1959 lcrsebut dibuat dengan kunsi<leran UUD Semenlara RI 'lhhun 1950 c.Jan "Konniklyk Ucsluit" tcrtanggal 3 Juli 1879 (Slaalsbla<l 1879 Nu.267), <limana banyak ketcn-tuan di<lalamnya masih bcrbau kulunial lerutama yang mcnyaugkul Pcnyan-<lcraan l'cnanggung Pajak.

Fraksi AURI bcrpcudapal bahwa a<lanya Lcmbaga Pcnyaudcraan <lalam usaha

penagihan pajak tcrulang kcpa<la pcnanggung pajak su<lah tiJak scsuai dengan falsafah Pancasila yang kita anut, <lan kura11g manusiawi.

Kctentuan <lalam pasal 23 C ayat (4) yang mcnc11Lukan bahwa pclaksanaan penyan<leraan bcrpc<loman pa<la pcraturan pcrun<lang-un<langan yang berlaku.

Bila yang <limaksu<l adalah Umlang-uudang Nomor 8 'fahun 1981 tentang

Hukum Acara Pidana, maka <lalam pasal 20 hingga 31 hauya 111cngcnal a<lanya lembaga penahanan.

Olch karcna ilu Fraksi AUIU bcrpcndapat bahwa kclcntuan-kctcnluan yang terpcrinci tentang pcnagihan pajak yang tcrhutang <lcngan Surat Paksa, Sita, Lelang dan Pcnyamlcraan pcrlu disesuaikan <lcngan falsafah Pancasila <lan keten-tuan-kclcntuan c.lalam UUD 1945 scrla pcraturan pcnmdang-un<langan lainnya yang berlaku sckarang atau Un<lang-umlang Nomor 19 'fahun 1959 lentang

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(22)

pcnagihan Pajak Negara dcngan Surat Paksa scgcra d iga 11Li dcnga11 um.lang-lllH.lang baru.

c. .rv1asalah Ivlasa <l«~Ll!lY.!trsa pcqcrbilan Surat Kctcl_L1m!J.L..1JU~!k ... ~a1unclakuka11 pcna_gjlJan _pajak.

Fraksi J\BRI dapal mcmahami lujuan Pc111cri11lah unluk mcrubah kctcnluan

tcnlang daluwarsa u11tuk pcncrhilan Surat Kctctapan Pajak (SKP) dalam pasal 15 ayat (.1) dan unluk melakukan penagihan p<~jak dalam pasal 22 ayat (1) RUU

tc11la11g Pcruhahan UlJ No.6 •11thu11 1983 <lari sclama :; lallun dirubah mcnjadi

..

sclama 1.0 tahun. Jlal ini Lc11tu hcrtujuan untuk lcbili 111cmbcrikan kcscmpalan

yang cukup lapang bagi Dircklorat Jcn<lcral Pajak <lalam mc11gadakan

pcmerik-saan tcrhadap Surat Pcmberitahuan yang disampaikan olch Wajib Pc1jak.

Pcncn-tuan waktu <laluwarsa yang pcmlek dapal dimanfaatkan oleh Wajib Pajak yang hernial tidak baik untuk bcrusaha 111cnycmbunyikan da11 mcnghimlari kcwa-jihanuya unluk mclaporkan pcrhilungan <lan pcmbayaran pajak yang tcrhutang dcngan bcnar, apalagi bila masa daluwarsanya hanya 5 tahun. Walaupun prinsip self asscsmcnt scsungguhnya tidak mcngcnal dalmvan;a, karcna W<tjib ,Pajak lclah <libcri kchchasan untuk mcnghilung, mclaporkan dan n1c11yctorkan scndiri pajak lcrlmtangnya, schingga kapan saja

u

itcmukan kcsalahau yang dilmat olch

Waj ib Pajak baik ~cngaja maupun tklak scngaja, J'cmcrinlah dapal mcnunlul Wajib Pajak. Fraksi AURI bcrpcnuapat bahwa kclcnluan lc11ta11g daluwarsa

terscbut dapat dipcrpaitjang lagi. Schubungan dcngan itu Fraksi ABRI mcngharapkan pc1~jclasan Pcmcrintah tcnlang masalah daluwarsa tcrscbul di alas.

d. Masalah Kewcnangau Pcnyidik Pcjabat Pcgawai Ncgcri Sipil Pajak

Penyidik. 1ntjak adalah Pcnyidik Pegawai ncgcri Sipil (PPNS) yang <.liberi wcwcnang unluk mclakukan pcnyi<.likan limlak pidana pajak. Pada Pasal 44 ayat

(2) discbutkan tentang wewenang Pcnyidik Pajak anlara lain huruf k "melakukan timlakan lain yang pcrlu untuk kelancaran penyidikan timlak pi<.lana di bidang perpajakan" .'

(23)

Kcmudian pada ayal (3) dischulkan; Pcnyidik mc111bcri1ahuka11 dimulainya pcliyidika11 dan mcnyampaikan hasil pc11yidika1mya kcpada l'cm111lul Umum. Dalam KUIIAP dialur bahwa Pcnyiuik Pcjabal Pcgawai Ncgcri Sipil tcrlcntu yang mcnangani pcrkaranya, scrnc1tjak laporan/pc11gaduau cJilcrimanya wajib mcmbcrilahukannya kcpada Penyidik Polri yang kcmudian ulcl1 Pcnyidik Polri ditcruskao kcpada Pcmmtut Umum (pasal 107 ayal (2) dan (3) KUIIAP). Jadi Pcnyidik PPNS ilu harus mc11gadaka11 koordinasi dc11ga11 l'c11yidik Pulri guna kclancaran dan ketclapan jalannya proses pcnyiuikan.

Untuk itu pcrlu kiranya pcnjelasan scbcrapa jauh wcwcnang yang dapat diberi-kan kqn\da Pcnyidik Pcgawai Negcri Sipil ini Lelah uiscsuaidiberi-kan dalam KUlIAP.

2. }lmggtl_Qan lcrhadap RU U Pcrubahan alas U U No. 7 1hhun 1983 lcuta1m Pajak

Pcngha-~dlan scbagaimaua Lelah diubah dengan UU No. 7 Lahun 1991.

a. Masalah 'farif 1.W.Rk dan Lapisan Pcnghasilan Kena Paja_I~.

1) Pasal 17 ayal (l) RUU ini mcmual pcrubahan tcntang jumlah Lapisan Pcnghasilan Kena Pajak dan bcsarnya 'farif Ptijak dari 3 lapisan mc1tjadi 4 lapisan. Perubahan ini pada dasarnya tclah dibahas olch Dewan saal pcmbahasan RU U tcntang Pajak Pcnghasilan lahun 1983. Ternyata sclclah U11da11g-umla11g lcnlaug Pajak Pc11ghasila11 bcrjalan

±

10 tahun, hal Lcrscbut saat ini dapaL diakomodasikan ulch Pcmcrintah, dcugan tclah dituangkannya perubahan lapisan tcrscbuL dalam Pasal l 7 ayat (1) RUU ini.

Hal itu dirasakan scbagai suatu kcmajuan, dan mc11u1tjukkan ili~ad

Pcmcrinlah untuk lcbih mcngakomodasikan aspck pcmcrataan <lan kca-<lilan dalam pcnerapan 1ntiak penghasilan, yang pada gilirannya dapal mcningkalkan kcsadaran masyarakat mcmbayar pajak, dnn mcningkaLkan pcncrimaan ncgara.

Untuk ilu Fraksi ABRI mcnyampaikan pcughargaan sctinggi-lingginya kcpada Pcmcriulah.

Namun ketenLuan Pasal 17 ayat (1) Rancangan Undang-undang ini tidak mcmbcdakan antarn Wajib Pajak Orang Pribadi dan Wajib Pajak Badan. Wajib Pajak Orang Pribadi, lcrutama buruh uan karyawan, kcmampuan

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(24)

ckonomis dan daya pikul11ya jclas bcrbcda dari \Vajib Pajak Bae.Jan. Kiranya hal itu pcrlu mcndapatkau pcrli111ba11ga11 Pc111cri11tal1.

Schubungan dcngan ilu .haksi ABRI mcngltarapkan pc1\jclasan Pemerin-tah apakah tidak scyogyanya diadakan pcml>cdaan tarir autara Wajib P<\iak Orang Pribadi dcngan Wajib Pajak Badan.

2) Pasal l7 ayal (2) Rancangan Undaug-unda11g ini rncmbcrikan peluang kcpada Pcmcrinlah untuk mcnurunkan lagi larif p~\jak lerlinggi dari 30%

I

lllCJ\jadi scrcnuah-rcndal111ya 25 % . Kctc11luao lcrscl)IJ( apabila dikailkan

dcngan W::~jib Pajak Bae.Ian diharapka11 da1wt 111cni111bulkan rangsangan hagi pcrluasan usaha dan invcslasi, yang aka11 l>cnlampak posilip bagi pcningkalan pcncrimaa1i ncgara dari pajak. Na1m111 apabila dikaitkan

~lcngan Wajib Pajak Orang Pribadi, pcnurunan tarif lcrlinggi· tcrscbut

dirasakan akan 111c11gga11ggu kcscimbangan dan progrcsivitas pengcnaan pajak, lcrnlama anlara Japisan pcnghasilan kcna pajak lcrcndah dcngan yang tcrlinggi. Guna mcnguraogi kcscnja11ga11 hak dan kcwajiban autara lapisan pc11ghasila11 tcrcndah dan tcrti11ggi ap(1kah tidak scyogianya tarif pajak tcrendah juga masih dimungkinkan · untuk ditunmkan, atau scba-liknya unluk W'\jib Pajak Orang Pribadi pada lapi.')all pcnghasilan lcr-tinggi justru larif pajaknya lcbih dilingkalkan.

Schubungan dcngau uraian di alas, Frnksi J\BRl mcngharapkan langgapan dan pe1tjclasa11 lcbih la1tjul dari Pc111cri11Lal1.

h. Masalah Pcnghasilan Tidak Kena P<~iak (j>'l'KP).

Pasal 7 ayat (1) mcnctapkan perubahan alas batas Penghasilan Tidak Kena Pajak

unluk Wc.tjib Pajak Orang Pribadi. Dibandingkan dcngan Um.lang-umlang lerda-hulu, perubahan larif PTKP dalam RUU ini cukup signifikan, dan lentunya masyarakat akan mcnyambutnya dcngan gcmbira. Diharapkan dcngan ditiugkat-kannya PTKP lcrscbut kcsadaran dan kcgairahan masyarakat dalam mcmcnuhi kcwajioan pcrp;\jakannya kcpada Negara akan semakin melliJJgkal pula. Dilarn-: bah lagi dcngan kclcnluan l'asal 7 ayat (3) RUU illi, dimana masih dibcrikan peluang kepa<.la Pcmcrinlah untuk mcngubah hcsarnya Pcnghasilan Tidak Kena Pajak diwaktu-waklu mcndatang. Dengan dcmikian masyarakal dapat

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(25)

mcmpcrolch kcyakinan hahwa Pcrncrinlah dc11ga11 pcnuli kcarifan akan sclalu rncmo11itor perke111hanga11 kcadaan di mas.yarakal, da11 me11gadaka11 pcnyesuaian

tarir PTKP dari tahun kc taln111, scsuai dcngan pcni11gkata11 inflasi. Dalam pcncnluan PTKP haksi J\BRI mcuyarankan agar pcnrnluan jumlah batas pcndapatan li<fak kcna pc\jak mampu mcmJukung kchutuli;m hidup mi11imum untuk scliap kcluarga.

Schuhu11gan dcngan itu Fraksi ABRI rnasjh rnc11gha rapkan pcnjclasan Pcmcrin-lah tcnlang kritcria pcrlimbangan yang digunakan dalam mc11clapkan Larif PTKP

bagi Wajib Pajak Orang Pribadi scbagnimana lcrcanlurn thtla111 Pasal 7 ayat (1)

Rancangan U11da11g-undang tcrschut.

Kelcntuan Pasal 4 ayat (l) huruf g mcngalur antara Jain dcvidcn dau pembagian

sisa hasil usaha kopcrasi scbagai obyck pajak. Rumusan kclentuan tcrsebut

membcrikan kcsan kcdmlukan yang sctara anlara dcvidcn dan sisa hasil usaha kopcrnsi.· l'adahal sccarn prinsip keuua jcnis pcnghasila11 tcrscbut bcrbcda baik tujuan maupun pcmili.kannya.

Ketcntuan Pasal 9 ayal (l) huruf a mcngatur kctcnl.uan tcnlang biaya dan pcnghasilan yang tidak bolch dikurangkan dalam mcnc11Luka11 l>csarnya pcngha-silan kcna pajak bagi wajib p<\jak dalam ucgcri dan bc11tuk usaha tctap. Bal ini bcrarti tcrmasuk pula bagi kopcrasi.

Pasal 17 ayal (l) mcmuat kclenluan tcnlang larir p~\jak da11 lapisan pcnghasilan kcna pajak, baik hagi. W<tj ib Pajak dalam ncgcri (orang pribadi dun lladan) maupun Bcntuk Usaha '!clap. Scbagai Badan, sc~uai kclcnluan Pasal 2 ayat (1) huruf b, maka kcwajiban kopcrasi di bidang pcrp£tjakan disclarakan c.lcngan Badan-badan Usaha lainnya.

Sclanjutnya Pasal 23 ayal ( l) huruf b mcngalur tc11la11g pcmolongan pajak alas

bunga simpanan kopcrasi scbcsar 15 % dan bcrsirat final yang sama dengan tarif {J<tjak alas c.leviden dan bunga simpanan di bank. Kc11yataan tersebut dapat rnengurangi minat masyarakat, tcrulama di dacrah pcdcsaan, unluk menyimpan uangnya pada koperasi. Padahal disisi lain simpanan masyarakat tersebut merupakan sumbcr moc.lal yang penting dan dibutuhkan untuk mcmbantu men-dorong pertumbuhan ekonomi mclalui pcngcmbangan usaha koperasi

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(26)

sctcmpal/ui pedcsa~m. rvlc11gingat kopcrasi scbagai liada11 us;1ha u111um11ya masih dalam tarar pcngcmhanga11 diri mc1tjadi badan usaha yang cfisirn dan mc1tjadi gcrakan ckonomi rakyat yang tanggull dan hcrakar dalam masyarakat, kopcrasi pada dasarnya masih mcmcrlukan himbingan dan pc111hi11aa11 yang tcrarah dari Pcmcrinlah. Sehubungan dcngan ilu, dalam kaila11nya dcngan RUU Pcrubahan alas Undang-undang Pcrpajakan i11i Fraksi J\URJ mengharapkan pcrlimbangan Pcmcrinlah alas kcmu11gkina11 pcmbcrian pcrlakuan khusus kcpada koperasi schagaimana pcmhcrian fosilitas pajak hagi pcnanam modal di hidaog usaha/di dacrah lcrlcnlu dan sclcrusnya.

Muho11 tanggapan <.Ian pcqjclasan lchih lanjul dari Pcmcrinl<ll1.

d. Ekstcnsifikasi dan inlc11sifikasi pcugenaan pajak pcu_g.:.l!_asilaq.

Fraksi ABRI sangal mcnghargai usaha Pcmcrintah unluk pc11i11gkalan cfcktifilas ckstcnsifikasi Wajib Pajak dan intcnsifikasi pcmungulan pajak, dcnga1~ mcnga-dakan pcruhahan-pcrubahan dan pcnycsuaia11-pc11ycsuaia11 yang lcrcantum dalam RUU lcnlang Pcrubahan UU Nu. 7 lahun 1983. Ada pun pcruhahan-pcrubahan lcrscbul anlara lain:

Pasal 4 ayal (l) yang lcbih mcncgaskan bahwa kcu11lunga11 karcna sclisih kurs, sclisili rcvaluasi, prcmi asuransi, iura11 pcrkumpuJau, Lambahan kckayaan ncllo, hadiah dan pcnghargaan scbagai ohyck pi.~jak penghasi-lan;

Pasal 4 ayat (2) yang membcrikan kclmycsan, kcscdcrhanaan <lan kemu<lahan dalam pcngcnaan pajak alas pcnghasilan lcrtcntu scpcrli bunga ileposito, saham, peugalihan harla lanah dan bangunan;

Pasal 21 ayat (1) mcmpcrluas subyck <lan obyck pungulan scpcrli hadiah dan penghargaan <lari kcgialan yang <lilcrima olch orang priba<li;

Pasal 23 ayat (l) mcmperluas subyck <lan obyck pcmolongan dari hadiah dan pcnghargaan yang diterima olch um.Ian;

(27)

Pasal 26 ayal (2) untuk mcmbcri kcadilan dalam hal W<\jib Pajak Luar Ncgcri yang mcmperokh pcnghasila11 bcrnpa kcuntungan dari pcngalihan harla

oan

pcncri111aan prcm i asu ram;i.

Tujuan pcruhaha11 dan pc11ambaha11 <lalam kclcntuau- kclc11lua11 pasal-pasal · tcrscbut tcntu dalam rangka mcni11gkatka11 pc11crimaa11 pajak 111c11uju

kcman-dirian pcmbiayaan pcmbangunan. Fraksi ABRI mc11gllarapka11 hahwa scbagian bcsar dari kctc11llllllt·-kctc11lua11 pcngcnaan pajak tcrhadap ohyck p~~jak tcrsebul

dapat bcrsirat final agar tujuan praktisisasi pc11gc11aa11 pajak sccara cepat, aman,

mu rah dan ac.I ii c.lapat tcrcapai.

3. 'fatJggapan lcrhac.lap H.UU Pcrubahau alas UU No. 8 tahun 1983 lcq!_ang Pcrtarnbahan Nilai JJarang dan Jasa dau Pajak Pc11juala11 alas Harang Mcwab.

GBIIN 1993 mcngamanatkan~ adanya pcmbcrian priorilas pada Kawasan Timur

I n<loncsia dalam rangka mcmcralaka11 jalannya pcmbangunan di scluruh wilayah

Negara Kcsatuan l{cpublik Indonesia.

Sehubungan dcngan ilu dan scsuai Pasal 16 B ayat (I) hutir a, b, c, <l, dan c,

1 'raksi AUlU scpcndapal <lan mcmlukuug pemikiran yang 1m~1,nberikan wcwc-nang kcpa<la Pemcri11tah untuk membcrikan pcrlakuan khusus yaitu bahwa [ntjak tcrutang ti<lak dipungut scbagian atau seluruJmya, baik untuk scmcntara waktu a tau pun untuk scla111anya, a tau <l ibcbaskan dari pc11gcnaa11 pajak tcrha<lap kegiatan di kawasan lertcntu alau tcmpat tcrlentu di <lalam dacrah Pabean, atau tcd1adap barang atau jasa lertcntu yang <litujukan untuk pcningkatan investasi.

dan ckspor, penciptaan lapangan kc1ja baru scrla mcnu1tja11g pclcstarian

ling-kungan hidup.

Selattjutuya <lalam rangka mcnarik investasi yang lcbih baik, mungkinkah Pemerinlah memhcrikan pcrlakuan khusus untuk mcngcnakau PPN sebesar 0% untuk jangka waktu hagi sualll komoditi lcrlcntu misalnya pc11gclolaan scktor kelaulan yang mcmpunyai potensi yang bcsar tclapi bclum scpcnuhnya <ligali

sccarn maksimal.

(28)

Di samping ilu pcn1hcrian pcrlakuan k husus ilu k iranya ~ckaJ igus dapat dihu-hungkan dcuga11 progra111 lnprcs Lksa 'lcrlinggal, agar p;1ra investor tcrlarik pcrltalia1111ya untuk mcnanarnkan modalnya di dcsa-desa lerlinggal yang polen-sial.

Unluk itu Fraksi ABRI motion pc1~jclasa11.

h. Masalah pcrluas~m obyck pajak.

Kemudian sehuhungan <lcngan Pasal 1 bulir b, c dan g Pc111eri11tah mcrcncana-kan mcmpcrluas ohyck pc\jak <lcngan mcnamhah barnng tid<1k bcrwujud, barang bukan hasil proses pabrikasi cJan kcgiatan mcmbangun sctH.liri yang <lilakukan ti<lak dalam Ji11gkunga11 pcrusahaan atau pckc1jaan. Dalarn hal ini Fraksi Al31U ingin mcnanyakau dasar pcrlimbangan apa yang digu11aka11 Pcmcrintah, tcm-tama dalam hal mcnyamakan pcrlakuan tcrhadap pelllakaia11 scn<liri Barang

Kena Pajak at11u Jasa Kc11a Pajak yaug <liproduksi dalam li11gku11gan pcrusahaan

atau pekc1:jaa11nya dcngan pemakaian scmliri tidak dalam li11gku11ga11 pcrusahaan atau pckctjaa1111ya.

Pasal I huruf m Rancangan Um.lang-uodang Pcrubahau alas Uudang-um.lang

Nomor 8 Tahun 1983 tcntang PPN berhunyi : "Menghasilkan a<lalah kegiatan

mengolah melalui proses mcngubah bcnluk alau sifal sualu barang <lari benluk aslinya mettjadi barang baru atau mcmpu11yai daya guua barn, alau kegiatan mengolah sumbcr daya alam tcrmasuk menyuruli orang prihadi atau badan lain · melakukan kegialan tcrsclmt".

Dibandingkan <lcngan Pasal 1 huruf m yang lama tcnlapat pcrubahan materi, termasuk mcngolah sumber <laya alam. Fraksi ABRI mcmahami perubahan Kelcnluan ini d imaksu<lkan unluk mcmpcrluas pengcrlian "menghasilkan" yailu Lidak hanya tcrbalas pa<la kcgialan pcngolahan mclalui proses pabrikasi, tclapi tenuasuk jl.aga kcgialan pc11golahan Jainuya, yang hcrdasarkan UU PPN 1983 ti<lak <likcnakan PPN.

Namun <lemikian, GBHN 1993 tclah mcngamanatkan bahwa "Pcmbangunan perlanian a<lalah unluk meningkatkan pcndapatan <lan laraf hi<lup pctaui uan

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(29)

·"

.

nclayan. mcmpcrluas lapangan kc1ja dan kcsclllpata11 usalia, scrla mcngisi dan mcmpcrluas pasar, mclalui pcrtaniau yang maju. cfisic11 da11 ta11gguh".

Olch karcna ilu Fraksi ABH..I mcngharapkan pcnjclasan pcmcrintah bagaimana pclaksanaan l'asal 1 huruf m, <lalam Ital mcngolah su111bcr daya ala111 lcrscbut agar tidak mc1\jadi hambatan dalam pcmbangunan pcrla11ian.

4. 1luiggapan tcrha<lap RUU l'crubahan alas UU No. 12 tahun _L985 l.!;Jllaug Pajak llumi

~la11 Bangu11a11

a. Masalah kcadilaq_pungutan pajak.

Scsuai dcngan kclcrangan Pcmcrintah yang ·1.ncnjclaskan baliwa : "Obyck <lan subyck p<\jak dibuat scJuas mu11gki11 dcngan telap mcmpcrhatikan asas kca<lilan

dalam pemu11gula11 p<\jak". Dalam hal ini Fraksi ABHI mcmluku11g dan

scpcnda-pat dcngan Pcmcrinlah dcngan harapan hahwa kcadila11 dala111 pc111u11gula11 pajak t.crsclml mcngakihatkan kclcnlraman masyarakat dan tidak schaliknya mcnim-bulkan kcrcsalwn, schingga kcadilan ha11ya mcrupakan "Equal before t.hc law" scbagaimana paham liberal yang tidak sesuai dc1.1ga11 Pancasila yaitu adanya pcngayoman lmkum hagi yang lcmah (sccara ckonomi).

Pasal 3 ayat (3) RUU PUB bcrbunyi bahwa : "Bcsarnya Nilai Jual Obyek Pajak Ti<lak Kena Pajak ditclapkan scbcsar Rp 7. 000. 000, - (tujulijula rupiah) untuk sctiap w;tj ib pajak" yang mcrupakan gahungan N.IOP Bumi dau NJOP llangunan.

Kctenluan pasal ini sudah tcntu lcbih 1rntju <lan adil hila dibandingkan dcngan kclcntuan scbclu11111ya yang hanya mcncntukan nil<ii hangunan Lidak kcna pajak sebesar Rp 2.000.000,-. Mcngingat perkembauga11 kcadaan ckonomi yang mcrupakan dampak pembangunan, maka harga lanah dan baugunan setiap lahun meningkat cukup bcsar. Dcngan pcrlimbangan scpcrli Lcrscbut di atas dan <lcngan Lujuan u11luk mcringankan rakyat kccil apakah Pcmcrinlah masih <lapat mcmpcrlimbangkan kemungkinan pcningkalan bcsai·nya Nilai .Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pc\jak unluk scliap Wajib Pajak sampai ucngan minimal ··:~ama

<lcngan nilai RSS tanpa subsidi.

Sehubungan dcngan <litingkatkannya NJOP TKP tcrscbut, jclas akan le1jadi

perubahan jumlah Wajib P<~ak Uumi c.lan Bangunan yang tcrbcbaskan dari

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(30)

pc11gcnaa11 J>BB scrla pengura11ga11 pc11crimaa11 11cgara dari l'BB lerschut. Untuk ilu Frnksi J\BIU 111cngharapka11 pc1~jdasa11 Pcmcri11lah l>crnpa bcsarnya pcnunman jumlah W<\iih P<\jak Jan bcrnpa hcsar ju111lah pcngurangan

pcnerimaan Ncg~mi scrla bagaimana kornpcnsasi yang di:~iapkau Pcmerinlah scbagai akibal pc11gura11ga11 pcmlapala11 yang hcrasal dari PBB khususnya bagi

Dali 11.

b. Masalah NJOP.

Pasal 3 ayat (4) hcrbunyi : "J>cnycsuaian bcsarnya Nilai .lual Obyek P!tjak Tidak Kena Pajak schagaimana dimaksu<l dalam ayal (3) ditelapkan olch Mentcri

Kcua11ga11.

NJOP mcmang pcrlu discsuaikan pac.Ja sctiap kurun wak tu tcrtcntu, karena nilai

bangunan dan tcrutama nilai tanah (bumi) 111c11galami pcruhahan yang cukup ccpat. Unluk mcncnlukan hcban pajak yang adil hagi set iap subyck pajak yang 111cmiliki ubyck pajak, maka NJOPTKP itu pcrlu dilentukau sccarn obyektif mclalui proses yang rinci <lan <lcngan mcminta pcrlimbangan dari bcrbagai pihak yang lcrkail.

Fraksi J\BRI bcrpcmlapat hahwa, pclaksanaa11 pasal 3 ayal (1~) RUU PJJU scpc-nuhnya discrahkan kcpada kcbijaksanaau Pcmcrinlah sdclah bcrkonsultasi dcngan Dewan schingga diharap lcrdpta kcadila11 yang merata <limana pcmungutan p~1jak tcrha<lap orang bcrpcnghasilan ti11ggi akan lebih tinggi

dibandingkan dc11ga11 orang bcrpenghasilan rcmlah, walaupun kcduanya

bcrtcm-pat linggal c.Ji daernh yang mempunyai N.IOP yang sama. Sclain dari pada itu

apakah pcngenaan PllB <lapal dilerapkan sistem rnijak progrcsif.

Samlara Pimpinan Sidang dan, hadirin yang kami hormati.

Dcngan bcrbagai tanggapan, pcrnyalaan dan harapan yang diutarakan tadi, Fraksi J\UIU menyambut <lcnmm gcmbira dan mcnyatakan penghargaan yang .sctiuggi-tingginya kcpada Pemcrinlah alas peng::\juan 4 (cmpal) Rancangan Undang-uw.Jang Pcruhahan alas

Umlang-Undang Perpajakan. Bersama ini pula Fraksi ABIU mcnyctujui unluk dibahas olch Dewan Pcrwaki1an Rakyat bcrsama <lcngan Pemcrinlah.

(31)

Mc11gingat beta pa pcrlunya pcnyclcs,a ian Ranca11ga11 U mlang-u 11da 11g lrnta 11g J>crulJahan alas Undang-Undang Pcrpajakan dan tcrbatasnya waktu scrla ba11yak11ya 111asalah yang akan dil?ahas. Fraksi Al31U dcngan ini mcngajak scmua Fraksi <lan Pcmcrintah untuk mcml.>ahas

pcnna~alahan yang lcn:a11tum dalam Rancanga11 Undang--undang ini dc11gan su11gguh-su11gguh discrtai dcngan argumcnlasi yang obycktif, <lengan <lidasari scmangal rncmiliki saling asih,

asah dan asuh ·scrla dcngan pcnuh rnsa tanggung jawab.

Dcngan dijiwai semangat kcbcrsamaan dan kckcluargaan dalam 111usyawarah unluk mcncapai mufakat dan dcngan senanliasa berorienlasi kepada kcpcntingan Negara, baugsa, <lan rakyat Indonesia, Fraksi J\BRI yakin bahwa pcmbahasan ini akan mcnghasilkan Undang-umlang lc11la11g Pcrubahan J>crp<~jakan yang lcngkap. padat, memcnuhi tuntutan perkcmbangan dunia ckonomi, mc1tjami11 kcpaslian hukum, kcadilan so.sial dan mc11yc11tull la11gsung kcpcn-tingan masyarakal, bangsa dan 11cgara scrla mct\jamin peleslarian lingkungan hidup.

Akhirnya pada kcsempatan ini, Fraksi ABRI mengucapkan lcrima kasih kcpada Sau<lara Pimpinan Sidang, Saudara Mcntcri Kcuangan sclaku wakil Pctncrinlah dan para anggola

Dewan tcrhormat scrla hadirin yang kami muliaka11, yang dcngan pcnuli pcrhal ia11 tel ah

rncugi-kuli Pcmamlangan Umum Fraksi J\IHU.

Scmoga Tuhan Yang Maha Esa scnantiasa mc111bcrikan bi111hinga11 dan pctuqjuk--Nya kcpada kila scmua.

Jakarta, 12 Scplernbcr 1994 J\.n. FRAKSJ J\BRI DPH.-IU

Juru bicara,

SOETlUSNO IC A-487

Referensi

Dokumen terkait

Perceraian yang terjadi pada pasangan suami istri, apapun alasannya, akan selalu berakibat buruk pada anak, meskipun dalam kasus tertentu perceraian dianggap

If you look closely at the code in Update , you find that at the end of the method, the value of oldKeys is set to refer to the pressedKeys array so that the next time that

tidak boleh atau haram untuk menggunakan kaedah ini dalam proses rawatan jika perawat mendakwa bahawa terdapat jin yang mendiami tubuh pesakit itu dengan jumlah

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

Disajikan kutipan teks iklan, slogan dan poster., peserta didik dapat menentukan informasi iklan, slogan dan poster pada kutipan teks. PG Disajikan kutipan teks iklan, slogan

diperkenankan memasuki terminal penumpang dengan menstempel tangan para calon penumpang untuk menandai bahwa calon penumpang tersebut telah mengcheck-in tiketnya

Pada teknik ini individu terlibat pada beberapa atau keseluruhan komponen dasar yaitu menentukan perilaku sasaran, memonitor perilaku sasaran, memilih prosedur yang

Berkaitan dengan uraian tersebut, masalah yang menjadi dasar ulasan adalah bagaimana bentuk kebudayaan prasejarah yang spesifik dari masa awal Holosen dan masa Neolitik di