• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PERSEDIAAN OBAT-OBATAN (Studi Kasus pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PERSEDIAAN OBAT-OBATAN (Studi Kasus pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo)"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP

EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL

PERSEDIAAN OBAT-OBATAN

(Studi Kasus pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo)

RIZMA MEYDITIA

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

(2)

ii

SKRIPSI

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP

EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL

PERSEDIAAN OBAT-OBATAN

(Studi Kasus pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo)

sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh

gelar Sarjana Ekonomi

disusun dan diajukan oleh

RIZMA MEYDITIA

A31112290

kepada

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

(3)

iii

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP

EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL

PERSEDIAAN OBAT-OBATAN

(Studi Kasus pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo)

disusun dan diajukan oleh

RIZMA MEYDITIA

A311 12 290

telah diperiksa dan disetujui untuk diuji

Makassar, 16 Januari 2017

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Kastumuni Harto, Ak.,M.Si, CPA, CA Drs. Agus Bandang, Ak., M.Si, CA

NIP. 19550110 198703 1 001 NIP. 19620817 199002 1 001

Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Hasanuddin

Prof. Dr. Mediaty, S.E., M.Si., Ak. NIP. 19650925 199002 2 001

(4)

iv

SKRIPSI

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP

EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL

PERSEDIAAN OBAT-OBATAN

(Studi Kasus pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo)

disusun dan diajukan oleh

RIZMA MEYDITIA

A31112290

telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi

pada tanggal

9 Februari 2017

dan

dinyatakan telah memenuhi syarat kelulusan

Menyetujui,

Panitia Penguji

No. Nama Penguji Jabatan Tanda Tangan

1. Drs. Kastumuni Harto, Ak.,M.Si, CPA, CA Ketua 1... 2. Drs. Agus Bandang, Ak., M.Si, CA Sekertaris 2... 3. Dr. Kartini, S.E., M.Si., Ak., CA Anggota 3... 4. Drs. Mushar Mustafa, Ak., MM., CA Anggota 4... 5. Drs. Yulianus Sampe, Ak., M.Si., CA Anggota 5...

Ketua Departemen Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Hasanuddin

Prof. Dr. Mediaty, S.E., M.Si.,Ak., CA

NIP. 19650925 199002 2 001

(5)

v Saya yang bertandatangan di bawah ini,

nama : RIZMA MEYDITIA

NIM : A31112290

departemen/program studi : AKUNTANSI

dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PERSEDIAAN OBAT-OBATAN

adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).

Makassar, 17 Februari 2017 Yang membuat pernyataan,

RIZMA MEYDITIA Materai

(6)

vi

PRAKATA

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13.

Segala puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan atas kasih dan kebaikan-Nya yang tidak berkesudahan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti telah banyak menerima bimbingan, dorongan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus sumber kekuatan dan pengharapan yang sejati, yang selalu memberikan jalan dan rancangan yang indah bagi peneliti. God is good all the time!

2. Kedua orang tua peneliti, Bapak Aris Randalembang dan Ibu Marthina Imbar serta saudara-saudaraku, Randy dan Rian Octaviano yang tidak pernah berhenti memberikan doa, dukungan, nasehat, dan semangat selama penyusunan skripsi.

3. Bapak Drs. H. Kastumuni Harto, Ak.,M.Si, CPA, CA selaku Pembimbing I dan Bapak Drs. Agus Bandang, Ak., M.Si, CA selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, serta pikiran untuk membimbing, memberikan nasehat, dan memotivasi dalam menyelesaikan penelitian ini.

4. Ibu Dr. Hj. Mediaty, S.E., M.Si., Ak. CA, Bapak Dr. Yohanis Rura, S.E., M.SA., Ak.,CA, Bapak Ical, Bapak Aso, Ibu Susi, Bapak Safar, segenap dosen, staf akademik, dan pegawai fakultas, khususnya Departemen Akuntansi yang telah membantu selama proses perkuliahan hingga pengurusan skripsi.

5. Tim penguji, yaitu Ibu

Dr. Hj. Kartini, S.E., M.Si., Ak., CA, Bapak Drs.

Mushar Mustafa, Ak., MM., CA, dan Bapak Drs. Yulianus Sampe,

M.Si., Ak., CA atas masukan dan saran perbaikan dalam rangka

penyempurnaan skripsi ini.

6. Segenap pegawai RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar yang telah membantu selama penelitian dan meluangkan waktunya untuk menjadi responden dalam penelitian ini.

(7)

vii

Wildha, Indri, Diah, Oci, Maxy, Lidya, dan Aldi) yang telah memberi kenangan indah selama perkuliahan. Terima kasih untuk suka dan duka yang sudah kita alami bersama. Friendship isn’t about whom you have known the longest. It’s about who came, and never left your side.

8. Demisioner pengurus PMKO FE-UH periode 2015-2016, periode 2014-2015, dan periode 2013-2014. Terima kasih untuk kakak-kakak dan adik-adik yang telah menjadi rekan sekerja Allah dalam tiga kepengurusan. Terima kasih untuk setiap doa, motivasi, dan bantuannya. 1 Korintus 15 : 58.

9. Teman-teman PMKO FE-UH khususnya angkatan 2012, Yuni, Gina, Pingkan, Lita, Lala, Dakry, Erni, Tia, Eko, Gise, Priyo, Fili, dll yang tidak dapat peneliti sebutkan namanya satu persatu serta teman-teman PE12ENNIAL sebagai teman angkatan sekaligus keluarga. See you on top guys!

10. Keluarga PA-KTB PMKO FEUH, Kak Donna, Chiantal, Gischa, Uthy, Etni, dan Ju. Terima kasih untuk waktu dan sharing yang selama ini kita lakukan. Terima kasih karena kita pernah belajar dan bertumbuh bersama dalam persaudaraan. Be a light and keep fire in Jesus.

11. Demisioner pegurus PPGT Jemaat Rama periode 2013-2015 dan teman-teman PPGT khususnya kelompok Nazaret-Getsemani. Terima kasih untuk setiap hal yang telah kita lalui bersama, yakin bahwa di balik suka dan duka yang dialami mendatangkan sukacita di kemudian hari. God bless!

12. KKN 90 Kabupaten Pinrang, Kecamatan Patampanua, Desa Padangloang (Wilda, Viki, Yoga, dan Tri) terima kasih untuk setiap dukungan yang diberikan dalam menyelesaikan skripsi.

13. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu, terima kasih untuk doa dan dukungannya.

Akhir kata, peneliti mendoakan semoga Tuhan membalas setiap bantuan yang diberikan dengan berlipat ganda dan semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak. Amin. God bless you abundantly.

Makassar, 2017

(8)

viii

ABSTRAK

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL TERHADAP EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PERSEDIAAN OBAT-OBATAN (STUDI KASUS PADA RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO)

The Effect of Operational Audit to Effectiveness of Internal Control of Medicines Inventory

(Case Study at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo) Rizma Meyditia

Kastumuni Harto Agus Bandang

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh audit operasional terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada pegawai sistem pengendalian internal, komite farmasi, dan instalasi farmasi RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan metode uji t dengan bantuan program aplikasi SPSS versi 20.0. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai koefisien determinasi diketahui bahwa audit operasional memberikan pengaruh sebesar 55,4 % terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, sedangkan sisanya 44,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain.

Kata Kunci: audit operasional, efektivitas, pengendalian internal, persediaan obat-obatan.

This research aims to determine the effect of operational audit to the effectiveness of internal control of medicines inventory at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. The data used in this research is the primary data. Data was collected by using a survey method by distributing questionnaires to the employees of internal control system department, employees of pharmacy committee, dan all of employees of pharmacy installation at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. The hypothesis of this research was tested by using the T-test with the help of SPSS version 20.0. Based on the calculation, the value of the coefficient of determination is known that the operational audit effect on the effectiveness of internal control of medicines inventory at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo by 55,4% while the rest 44,6% is explained by other variables.

(9)

ix

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN ... v

PRAKATA ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 4 1.3 Batasan Masalah ... 4 1.4 Tujuan Penelitian ... 4 1.5 Kegunaan Penelitian ... 4 1.5.1 Kegunaan Teoretis ... 4 1.5.2 Kegunaan Praktis ... 5 1.6 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Audit Operasional ... 6

2.1.1 Pengertian Auditing ... 6

2.1.2 Jenis-Jenis Audit ... 7

2.1.3 Pengertian Audit Operasional ... 8

2.1.4 Jenis Audit Operasional ... 9

2.1.5 Tujuan Audit Operasional ... 10

2.1.6 Kualifikasi Auditor Operasional ... 11

2.1.7 Tahapan Audit Operasional ... 11

2.2 Pengertian Efektivitas ... 15

2.3 Pengendalian Internal ... 15

2.3.1 Pengertian Pengendalian Internal ... 15

2.3.2 Unsur-unsur Pengendalian Internal ... 17

2.3.3 Tujuan Pengendalian Internal ... 19

2.4 Persediaan ... 20

2.4.1 Pengertian Persediaan ... 20

2.4.2 Pencatatan Persediaan ... 21

2.4.3 Penilaian Persediaan ... 22

2.4.4 Jenis Persediaan ... 22

(10)

x

2.5 Apotek ... 25

2.6 PenelitianTerdahulu ... 27

2.7 Kerangka Pemikiran ... 30

2.8 Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

3.1 Rancangan Penelitian ... 32

3.2 Lokasi Penelitian ... 32

3.3 Populasi dan Sampel ... 32

3.3.1 Populasi ... 32

3.3.2 Sampel ... 33

3.4 Jenis dan Sumber Data ... 34

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 34

3.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 35

3.6.1 Variabel Penelitian ... 35

3.6.2 Definisi Operasional ... 36

3.7 Instrumen Penelitian ... 37

3.8 Uji Validitas ... 37

3.9 Uji Reliabilitas ... 38

3.10 Uji Asumsi Klasik ... 38

3.10.1 Uji Normalitas ... 39

3.10.2 Uji Heterokedastisitas ... 39

3.11 Uji Hipotesis ... 39

3.12 Analisis Data ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42

4.1 Sejarah Singkat RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo ... 42

4.1.1 Visi dan Misi RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo ... 43

4.2 Deskripsi Penelitian ... 43 4.3 Karakteristik Penelitian ... 44 4.3.1 Jenis Kelamin ... 44 4.3.2 Usia ... 44 4.3.3 Pendidikan Terakhir ... 45 4.3.4 Masa Kerja ... 45

4.4 Uji Kualitas Data ... 46

4.4.1 Uji Validitas Data ... 46

4.4.2 Uji Reliabilitas ... 48

4.5 Uji Asumsi Klasik ... 49

4.5.1 Uji Normalitas ... 49

4.5.2 Uji Heteroskedastisitas ... 50

4.6 Uji Hipotesis ... 51

4.6.1 Analisis Koefisien Determinasi (R2) ... 51

4.6.2 Uji t ... 52

4.7 Analisis Regresi Linier Sederhana ... 52

(11)

xi 5.1 Kesimpulan ... 55 5.2 Saran ... 55 5.3 Keterbatasan Penelitian ... 56 DAFTAR PUSTAKA ... 57 LAMPIRAN ... 59

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Tahun

2012-2014 ... 1

2.1 Kutipan ISA 315 ... 16

3.1 Operasionalisasi Variabel ... 36

4.1 Ikhtisar Pendistribusian dan Pengambilan Kuesioner ... 44

4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44

4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia... 44

4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 45

4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 45

4.6 Hasil Uji Validitas Variabel X ... 46

4.7 Hasil Uji Validitas Variabel Y ... 47

4.8 Uji Reliabilitas Variabel X ... 48

4.9 Uji Reliabilitas Variabel Y ... 48

4.10 Hasil Uji Normalitas ... 49

4.11 Koefisien Determinasi ... 52

4.12 Hasil Uji t ... 52

(13)

xiii

Gambar Halaman

2.1 Kerangka Pemikiran ... 30

4.1 Hasil Uji Normalitas ... 50

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Biodata ... 60

Lampiran 2: Kuesioner Penelitian ... 62

Lampiran 3: Jawaban Responden ... 68

Lampiran 4: Hasil Uji SPSS ... 74

(15)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam perkembangan zaman yang begitu pesat seperti saat ini, bidang kesehatan menjadi salah satu peluang bisnis. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya didirikan rumah sakit swasta maupun pemerintah. Dari Profil Kesehatan Indonesia 2014, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat tiap tahunnya jumlah rumah sakit di Indonesia rata-rata bertambah sebanyak 300. Pertumbuhan rumah sakit di Indonesia dari tahun 2012-2014 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Tahun 2012-2014

No Pengelola/Kepemilikan 2012 (unit) 2013 (unit) 2014 (unit) 1 Publik

Kementrian Kesehatan dan Pemerintah

Provinsi/Kabupaten/Kota

656 676 687

TNI/Polri 154 159 169

Kementrian Lain 3 3 7

Swasta Non Profit 727 724 736

Jumlah Publik 1.406 1.540 1.599 2 Privat BUMN 75 67 67 Swasta 468 599 740 Jumlah Privat 315 543 807 Jumlah 1.721 2.083 2.406

Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI 2015

Tabel di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan rumah sakit di Indonesia sangat tinggi, oleh karena itu rumah sakit yang ada harus memiliki manajemen

(16)

2 yang baik sehingga rumah sakit dapat berkembang dengan baik pula. Manajemen yang baik, mulai dari tingkat atas hingga tingkat bawah, akan merencanakan program-program kegiatan yang akan memberikan dampak positif bagi perusahaan.

Dampak positif bagi perusahaan akan diperoleh apabila manajemen perusahaan dapat menjalankan kegiatan sesuai dengan rencana sehingga mencapai efektivitas dan efisien dalam pelaksanaannya. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa masalah dapat timbul di perusahaan, baik itu dari internal ataupun eksternal perusahaan. Meskipun terdapat masalah yang timbul, perusahaan mampu menjalankan kegiatan dengan baik apabila manajemen memiliki sistem pengendalian yang memadai. Sistem pengendalian inilah yang akan mengatur dan mengawasi jalannya perusahaan yang disebut pengendalian internal.

Menurut Tuanakotta (2013:127) “Pengendalian internal merupakan jawaban manajemen untuk menangkal risiko yang diketahui, atau dengan perkataan lain, untuk mencapai suatu tujuan pengendalian (control objective)”. Hal ini menegaskan bahwa pengendalian internal menjadi hal penting bagi perusahaan atau organisasi dalam menangkal dan mengatasi risiko yang ada. Perlu diperhatikan pula bahwa pengendalian internal memiliki tujuan untuk melindungi hal-hal yang dimiliki perusahaan sehingga tidak terjadi penyelewengan ataupun pemborosan di dalamnya.

Pada perusahaan atau rumah sakit, audit operasional merupakan salah satu bagian penting karena membantu manajemen dan pimpinan dalam mengendalikan kegiatan pada perusahaan atau rumah sakit. Andayani (2008:10) menyebutkan bahwa audit operasional lebih dikaitkan pada efisiensi dan efektivitas, termasuk pengendalian internal dan menguji efektivitas pengendalian

(17)

(pengujian atas pengendalian) sebagai bagian dari suatu audit operasional. Dengan diterapkannya audit operasional maka auditor dapat melihat sejauh mana tujuan perusahaan atau rumah sakit telah tercapai dan apakah kegiatan operasi perusahaan telah dilakukan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, audit operasional dapat digunakan untuk menilai kinerja perusahaan, apakah suatu perusahaan telah menjalankan operasionalnya sesuai dengan prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan atau tidak.

Dalam mencapai tujuan perusahaan atau rumah sakit maka akan dilakukan berbagai macam cara pada setiap bagian yang ada. Dalam perusahaan kita mengenal adanya persediaan, demikian pula di rumah sakit. Kieso dkk (2011:408) mengartikan bahwa persediaan merupakan item aset yang perusahaan simpan untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, atau barang yang akan digunakan untuk dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual. Persediaan pada rumah sakit berupa obat-obatan. Persediaan ini menjadi barang jadi karena langsung dijual pada konsumen yaitu pasien. Persediaan obat-obatan sangat membutuhkan suatu pengendalian sehingga tidak terjadi hal-hal buruk seperti berikut:

1. Kerusakan, kehilangan, dan kadaluwarsa pada barang 2. Tempat penyimpanan (gudang) yang tidak mencukupi 3. Biaya penyimpanan yang berlebihan

Adanya pengendalian internal diharapkan dapat melindungi persediaan tersebut dan juga agar informasi mengenai persediaan dapat lebih dipercaya. Pengendalian persediaan dilaksanakan ketika persediaan pertama kali diterima. Oleh karena sangat pentingnya persediaan obat-obatan dalam menjalankan kegiatan organisasi pada rumah sakit, maka pihak manajemen harus mengefektifkan pengendalian internal persediaan obat-obatan.

(18)

4 Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih penelitian yang berjudul "Pengaruh Audit Operasional terhadap Efektivitas Pengendalian Internal Persediaan Obat-Obatan".

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang ingin diidentifikasi oleh peneliti adalah “apakah terdapat pengaruh audit operasional terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo?”.

1.3 Batasan Masalah

Agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang dan mengambang dari tujuan yang semula direncanakan sehingga mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka peneliti menetapkan batasan dari penulisan skripsi ini adalah aktivitas operasional pada apotek-apotek yang ada di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

1.4 Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh audit operasional terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

1.5 Kegunaan Penelitian 1.5.1 Kegunaan Teoretis

Hasil penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan di bidang audit operasional bagi mahasiswa, khususnya mengenai pengendalian internal persediaan obat-obatan.

(19)

1.5.2 Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi rumah sakit untuk melakukan perbaikan pada pelaksanaan pengendalian internal persediaan obat-obatan di masa yang akan datang. Dan untuk masyarakat umum, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi mengenai pengaruh audit operasional terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada penelitian ini mengacu pada pedoman penulisan skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, 2014. Adapun sistematika penulisan terdiri dari 5 bab sebagai berikut.

BAB I merupakan pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, kegunaan penelitian, dan juga sistematika penulisan.

BAB II merupakan tinjauan pustaka. Bab ini berisi teori-teori yang relevan dengan penelitian, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian.

BAB III merupakan metode penelitian. Bab ini berisi mengenai jenis penelitian, lokasi penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan teknik yang digunakan dalam menganalisis data.

BAB IV merupakan hasil dan pembahasan. Bab ini berisi tentang deskripsi data, pengujian atas hipotesis penelitian, dan pembahasan hasil penelitian.

BAB V merupakan penutup. Bab ini berisi kesimpulan dan saran-saran dari peneliti.

(20)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Audit Operasional 2.1.1 Pengertian Auditing

Istilah auditing pada dasarnya adalah kegiatan yang berhubungan dengan pemeriksaan atau mengevaluasi apakah telah sesuai dengan aturan yang digariskan.“Report of the Committee on Basic Auditing Concepts of the American Accounting Association” (Accounting Review, vo.47) dikutip dari Boynton et al (2002:5) memberikan definisi auditing sebagai berikut.

“suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.”

Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa audit berupa prosedur yang logis dan terstruktur dalam memeriksa dan mengevaluasi secara objektif mengenai kegiatan entitas dengan tujuan untuk mendapatkan hasil apakah kegiatan entitas telah berjalan sesuai dengan kriteria yang ada dan hasil tersebut dikomunikasikan terhadap para pengguna.

Sedangkan menurut Arens et al (2012:24) arti auditing sebagai berikut:

“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent, independent person.”

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa auditing adalah akumulasi dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat

(21)

kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.

Selain itu, ada pula pengertian auditing menurut Mulyadi (2014:9).

”Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara penyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan”.

2.1.2 Jenis-Jenis Audit

Boynton et al. (2002:6-7) menggolongkan audit menjadi tiga jenis yaitu audit laporan keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional.

1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

Audit laporan keuangan berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan mengevaluasi bukti tentang laporan-laporan entitas dengan maksud agar dapat memberikan pendapat apakah laporan-laporan tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

Audit ketaatan dilaksanakan untuk menentukan apakah pihak yang diaudit mengikuti prosedur, aturan, atau ketentuan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi. Hasil dari audit ketaatan biasanya dilaporkan kepada manajemen, bukan kepada pemakai luar, karena manajemen adalah kelompok utama yang berkepentingan dengan tingkat ketaatan terhadap prosedur dan peraturan yang digariskan.

3. Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional mengevaluasi efisiensi dan efektivitas setiap bagian dari prosedur dan metode operasi organisasi. Pada akhir audit operasional, manajemen biasanya mengharapkan saran – saran untuk memperbaiki operasi. Dalam audit operasional, review atau penelaahan yang dilakukan tidak terbatas

(22)

8 pada akuntansi, tetapi dapat mencakup evaluasi atau struktur organisasi, operasi komputer, metode produksi, pemasaran, dan semua bidang lain dimana auditor menguasainya.

2.1.3 Pengertian Audit Operasional

Audit operasional disebut sebagai perluasan lingkup audit (extended audit view) karena memang berawal dari perluasan audit keuangan. Menurut Kumaat (2011:45) audit operasi pada hakikatnya bertujuan memberi gambaran yang lebih gamblang mengenai berbagai pelaksanaan, peristiwa, atau masalah actual di balik fakta yang ditunjukkan oleh angka-angka keuangan, seperti permasalahan di sekitar:

a. Penjualan ke pelanggan (yang membentuk sales receivables & revenues), b. Pembelian dari pemasok (yang tercatat pada trade payables maupun

purchase expenses),

c. Berbagai aktivitas operasi yang menimbulkan biaya/beban (expenses) perusahaan.

Arens dan Loebecke (2003:829) mengemukakan bahwa istilah auditing operasional lebih dikenal dengan audit manajemen atau audit kinerja. Audit operasional lebih dikaitkan pada efisiensi dan efektivitas, termasuk mengevaluasi pengendalian internal dan menguji efektivitas pengendalian (pengujian atas pengendalian) sebagai bagian dari suatu audit operasional.

Instititute of Internal Auditor (IIA) dalam Andayani (2008:11) mendefinisikan audit operasional sebagai proses sistematis yang mengevaluasi efektivitas, efisiensi, dan keekonomisan operasi organisasi yang berada dalam pengendalian manajemen. Audit operasional dilaporkan kepada manajemen, individu, atau badan yang meminta audit mengenai hasil-hasil evaluasi tersebut beserta rekomendasi perbaikan.

(23)

2.1.4 Jenis Audit Operasional

Menurut Arens dan Loebecke dalam Andayani (2003:10) membagi audit operasional menjadi 3, yaitu:

1. Fungsional Audit 2. Organisasional Audit 3. Penugasan Khusus

Masing-masing bagian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Fungsional Audit

Fungsi merupakan suatu alat penggolongan kegiatan perusahaan, seperti fungsi penerimaan kas atau fungsi produksi. Seperti yang tersirat dalam namanya, audit fungsional berkaitan dengan sebuah fungsi atau lebih dalam suatu organisasi. Keunggulan audit profesional adalah memungkinkan adanya spesialisasi oleh auditor. Sedangkan kekurangannya adalah tidak dapat dievaluasinya fungsi yang saling berkaitan di dalam organisasi.

2) Organisasional Audit

Audit operasional atas suatu organisasi menyangkut keseluruhan unit organisasi, seperti departemen, cabang, atau anak perusahaan. Penekanan dalam suatu audit organisasi adalah seberapa efisien dan efektif fungsi-fungsi yang saling berinteraksi.

3) Penugasan Khusus

Penugasan audit operasional khusus timbul atas permintaan manajemen. Ada banyak variasi dalam audit seperti itu. Contoh-contohnya mencakup penentuan penyebab tidak efektifnya system PDE, penyelidikan kemungkinan kecurangan dalam suatu divisi, dan membuat rekomendasi untuk mengurangi biaya produksi suatu barang.

(24)

10

2.1.5 Tujuan Audit Operasional

Menurut Kumaat (2011:45) tujuan dari audit operasi adalah:

a. Menggali berbagai akar masalah di balik kinerja bisnis yang tergambar dalam laporan keuangan, yang terkait dengan efektivitas dan efisiensi kinerja pengelolaan berbagai object.

b. Memastikan bahwa seluruh aset non keuangan menjadi aset yang produktif bagi bisnis perusahaan, yaitu memberi manfaat yang sepadan dibanding biaya atau risiko yang timbul.

c. Memastikan bahwa seluruh sistem (business process) berjalan dalam koridor standar (kualitas) yang ditetapkan dengan tingkat pengendalian internal yang memadai.

Menurut Widjayanto (2006;81) tujuan penugasan audit operasional adalah:

1. Untuk menilai kegiatan yang tengah berjalan.

2. Untuk mengidentifikasikan berbagai kelemahan untuk perbaikan. 3. Mencari peluang untuk penyempurnaan dan pengembangan.

4. Pengembangan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas, dan efesiensi. Tujuan audit operasional secara umum adalah untuk mengetahui apakah prestasi manajemen perusahaan telah sesuai dengan kebijakan ketentuan dan peraturan yang ada dalam perusahaan, serta untuk mengetahui apakah prestasi manajemen perusahaan lebih baik dari pada masa sebelumnya, dan untuk menentukan apakah aktivitas atau program perusahaan tersebut telah dikelola secara ekonomis, efektif dan efisien.

(25)

2.1.6 Kualifikasi Auditor Operasional

Menurut Arens, Elder dan Beasley (2012:501) dua kualitas yang terpenting bagi auditor operasional adalah independensi dan kompetensi. Berikut uraian mengenai independensi dan kompetensi:

1. Independensi

Menurut Arens et al. (2012:511) independensi dapat diartikan mengambil sudut pandang yang tidak bias. Auditor tidak hanya harus independen dalam fakta, tetapi juga harus independen dalam penampilan. Independensi dalam fakta (independence in fact) ada bila auditor benar-benar mampu mempertahankan sikap yang tidak bias sepanjang audit, sedangkan independensi dalam penampilan (independent in appearance) adalah hasil dari interpretasi lain atau independensi ini.

2. Kompetensi

Kompetensi adalah kualifikasi yang dibutuhkan oleh auditor untuk melaksanakan audit dengan benar, yang diukur dengan indikator mutu personal, pengetahuan umum, dan keahlian khusus. Kompetensi berkaitan dengan keahlian profesional yang dimiliki oleh auditor sebagai hasil dari pendidikan formal, ujian profesional maupun keikutsertaan dalam pelatihan, seminar, maupun simposium.

2.1.7 Tahapan Audit Operasional

Tahap-tahap audit operasional menurut Bayangkara (2008:178-180) sebagai berikut:

1. Audit Pendahuluan

Audit pendahuluan diawali dengan perkenalan antara pihak auditor dengan organisasi auditee. Pertemuan ini juga bertujuan untuk mengkonfirmasi

(26)

12 scope audit, mendiskusikan rencana audit dan penggalian informasi umum tentang organisasi auditee, objek yang akan diaudit, mengenal lebih lanjut kondisi perusahaan dan prosedur yang diterapkan pada proses produksi dan operasi. Pada tahap ini auditor melakukan overview terhadap perusahaan secara umum, produk yang dihasilkan, proses produksi dan operasi yang dijalankan, melakukan peninjauan terhadap pabrik (fasilitas produk), layout pabrik, sistem komputer yang digunakan dan berbagai sumber daya penunjang keberhasilan fungsi ini dalam mencapai tujuannya.

Setelah melakukan tahapan audit ini, auditor dapat memperkirakan (menduga) kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi pada fungsi produksi dan operasi perusahaan auditee. Hasil pengamatan pada tahapan audit ini dirumuskan ke dalam bentuk tujuan audit sementara yang akan dibahas lebih lanjut pada proses audit berikutnya.

2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen

Pada tahapan ini auditor melakukan review dan pengujian terhadap beberapa perubahan yang terjadi pada struktur perusahaan, sistem manajemen kualitas, fasilitas yang digunakan dan/atau personalia kunci dalam perusahaan, sejak hasil audit terakhir. Berdasarkan data yang diperoleh pada audit pendahuluan, auditor melakukan penilaian terhadap tujuan utama fungsi produksi dan operasi serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Variabel-variabel ini meliputi berbagai kebijakan dan peraturan yang telah ditetapkan untuk setiap program/aktivitas, praktik yang sehat, dokumentasi yang memadai dan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan dalam menunjang usaha pencapaian tujuan tersebut. Di samping itu, pada tahap ini auditor juga mengidentifikasi dan mengklasifikasikan penyimpangan dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan

(27)

terhambatnya pencapaian tujuan produksi dan operasi. Review terhadap hasil audit terdahulu juga dilakukan untuk menentukan berbagai tindakan korektif yang harus diambil. Berdasarkan review dan hasil pengujian yang dilakukan pada tahap ini, auditor mendapat keyakinan tentang dapat diperolehnya data yang cukup dan kompeten serta tidak terhambatnya akses untuk melakukan pengamatan yang lebih dalam terhadap tujuan audit sementara yang telah ditetapkan pada tahapan audit sebelumnya. Dengan menghubungkan permasalahan yang dirumuskan dalam bentuk tujuan audit sementara dan ketersediaan data serta akses untuk mendapatkannya. Auditor dapat menetapkan tujuan audit yang sesungguhnya yang akan didalami pada audit lanjutan.

3. Audit Lanjutan (Terinci)

Pada tahap ini auditor melakukan audit yang lebih dalam dan pengembangan temuan terhadap fasilitas, prosedur, catatan-catatan yang berkaitan dengan produksi dan operasi. Konfirmasi kepada pihak perusahaan selama audit dilakukan untuk mendapatkan penjelasan dari pejabat yang berwenang tentang adanya hal-hal yang merupakan kelemahan yang ditemukan auditor. Di samping itu, analisis terhadap hubungan kapabilitas potensial yang dimiliki dan utilisasi kapabilitas tersebut di dalam perusahaan sangat penting dalam proses audit. Untuk mendapatkan informasi yang lengkap, relevan dan dapat dipercaya, auditor menggunakan daftar pertanyaan yang ditujukan kepada berbagai pihak yang berwenang dan berkompeten berkaitan dengan masalah yang diaudit. Dalam wawancara yang dilakukan, auditor harus menyoroti keseluruhan dan ketidaksesuaian yang ditemukan dan menilai tindakan– tindakan korektif yang telah dilakukan.

(28)

14 4. Pelaporan

Hasil dari keseluruhan tahapan audit sebelumnya yang telah diringkaskan dalam kertas kerja audit (KKA), merupakan dasar dalam membuat kesimpulan dan rumusan rekomendasi yang akan diberikan auditor sebagai alternatif solusi atas kekurangan-kekurangan yang masih ditemukan. Pelaporan menyangkut penyajian hasil audit kepada pihak–pihak yang berkepentingan terhadap hasil audit tersebut. Laporan audit disajikan dengan format sebagai berikut:

a. Informasi Latar Belakang

Menyajikan gambaran umum fungsi produksi dan operasi dari perusahaan yang diaudit, tujuan dan strategi pencapaiannya serta ketersediaan sumber daya yang mendukung keberhasilan implementasi strategi tersebut.

b. Kesimpulan Audit dan Ringkasan Temuan Audit

Menyajikan kesimpulan atas hasil audit yang telah dilakukan auditor dan ringkasan temuan audit sebagai pendukung kesimpulan yang dibuat. c. Rumusan Rekomendasi

Menyajikan rekomendasi yang diajukan auditor sebagai alternatif solusi atas kekurangan-kekurangan yang masih terjadi. Rekomendasi harus didukung hasil analisis dan menjelaskan manfaat yang diperoleh jika rekomendasi ini diterapkan serta dampak negatif yang mungkin terjadi di masa depan jika rekomendasi ini tidak diterapkan.

d. Ruang Lingkup Audit

Ruang lingkup audit menjelaskan tentang cakupan (luas) audit yang dilakukan, sesuai dengan penugasan yang diterima (disepakati) dengan pemberi tugas audit.

(29)

5. Tindak Lanjut

Rekomendasi yang disajikan auditor dalam laporannya merupakan alternatif perbaikan yang ditawarkan untuk meningkatkan berbagai kelemahan (kekurangan) yang masih terjadi pada perusahaan. Tindak lanjut (perbaikan) yang dilakukan merupakan bentuk komitmen manajemen untuk menjadikan organisasinya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Dalam rangka perbaikan ini auditor mendampingi manajemen dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan program–program perbaikan yang dilakukan agar dapat mencapai tujuannya efektif dan efisien.

2.2 Pengertian Efektivitas

Efektivitas merupakan salah satu kriteria untuk menilai kinerja dari suatu perusahaan. Anthony dan Govindrajan (2005:174) mendeskripsikan bahwa efektivitas ditentukan oleh hubungan antara output yang dihasilkan oleh suatu pusat tanggung jawab dengan tujuannya. Semakin besar output yang dikontribusikan terhadap tujuan, maka semakin efektiflah unit tersebut.

Sedangkan menurut Robbins dan Coulter (2004:7) mendefinisikan efektivitas sebagai "melakukan segala sesuatu yang benar"-yaitu, aktivitas-aktivitas pekerjaan yang membantu organisasi mencapai sasaran.

2.3 Pengendalian Internal

2.3.1 Pengertian Pengendalian Internal

Pengendalian internal menjadi salah satu hal penting dalam keberlangsungan suatu entitas. Pengendalian internal juga termuat dalam standar pekerjaan lapangan kedua yang berbunyi “pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan”. Menurut Committee of

(30)

16 Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO) yang dikutip oleh Moeller (2009:32):

“Internal control is a process, affected by an entity’s board of directors, management, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories:

- Effectiveness and efficiency of operations - Reliability of financial reporting

- Compliance with applicable laws and regulations”

Dari definisi tersebut arti pengendalian internal adalah proses dipengaruhi oleh dewan entitas direksi, manajemen, dan personil lainnya, yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam kategori berikut :

 Efektivitas dan efisiensi operasi  Reliabilitas dari laporan keuangan

 Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku

Menurut Tuanakotta (2013:127) “Pengendalian internal merupakan jawaban manajemen untuk menangkal risiko yang diketahui, atau dengan perkataan lain, untuk mencapai suatu tujuan pengendalian (control objective)”. Berikut tabel yang berisi beberapa kutipan dari ISA 315 menyangkut pengendalian internal:

Tabel 2.1 Kutipan ISA 315

ISA 315 Kutipan dari ISA 315 Alinea yang Bersangkutan

Alinea 4c Pengendalian Internal-Proses yang dirancang, diimplementasi dan dipelihara TCWG, manajemen dan karyawan lain untuk memberikan asuransi yang memadai tentang tercapainya tujuan entitas mengenai keandalan pelaporan keuangan, efektif dan efisiennya operasi, dan kepatuhan terhadap hukum dan ketentuan perundang-undangan. Istilah pengendalian bermakna satu atau beberapa unsur pengendalian internal.

(31)

Alinea 12 Auditor wajib memperoleh pemahaman tentang pengendalian internal yang relevan dengan audit. Meskipun kebanyakan pengendalian relevan dengan audit umumnya berkaitan dengan pelaporan keuangan, tidak semua pengendalian yang berkaitan dengan pelaporan keuangan adalah relevan dengan audit. Pertimbangan profesional auditor yang menentukan apakah pengendalian, secara individual atau gabungan dengan pengendalian lain, memang relevan dengan audit. (lihat juga alinea A42-A65)

Alinea 13 Ketika memperoleh pemahaman tentang pengendalian yang relevan dengan audit, auditor wajib mengevaluasi rancangan pengendalian tersebut dan menentukan apakah pengendalian tersebut memang diimplementasi, dengan melakukan prosedur tertentu di samping bertanya kepada karyawan entitas. (lihat juga aline A66-A68)

Sumber : Tuanakotta, “Audit Berbasis ISA”, 2013.

2.3.2 Unsur-unsur Pengendalian Internal

COSO pada akhir tahun 1992 memperkenalkan lima komponen pengendalian internal atau yang dikenal sebagai kerangka pengendalian (control framework). Komponen kerangka pengendalian yaitu:

1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)

Lingkungan pengendalian merupakan dasar bagi pengendalian internal yang efektif. Hal tersebut memberikan disiplin dan struktur bagi entitas. Hal tersebut menjadi penunjuk arah (it sets the tone) bagi entitas, membuat karyawan sadar akan pengendalian (control consciousness) dalam organisasi itu (Tuanakotta,2013:130).

2. Penilaian Risiko (Risk Assesment)

Tidak dapat dihindari bahwa semua organisasi akan menghadapi risiko dalam menjalankan kegiatan organisasi. Risiko ini dapat menjadi ancaman bagi organisasi dalam mencapai tujuannya. Risiko yang telah diidentifikasi

(32)

18 dapat dievaluasi sehingga dapat diketahui tindakan apa yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko tersebut.

3. Kegiatan Pengendalian (Control Activities)

Kegiatan pengendalian ini merupakan prosedur yang ditetapkan untuk memastikan bahwa arahan dari manajemen telah dilaksanakan sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan. Menurut Kumaat (2011:17) proses pengendalian meliputi hal-hal berikut:

a. Personel yang kompeten, mutasi tugas, dan cuti wajib.

b. Pelimpahan tanggung jawab dan pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.

c. Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset, dan operasi. 4. Pemantauan (Monitoring)

Pemantauan bertujuan untuk mengetahui apakah pengendalian berjalan sebagaimana mestinya, dan jika tidak berjalan dengan baik maka akan diadakan tindakan perbaikan. Menurut Tuanakotta (2013:145) bahwa kegiatan pemantauan oleh manajemen juga dapat meliputi penggunaan informasi dari pihak eksternal yang mengindikasikan masalah atau yang menyoroti area yang memerlukan penyempurnaan. Sebagai contoh:

a. Keluhan (complaints) dari pelanggan;

b. Komentar dari lembaga pengatur seperti lembaga keuangan dan regulator;

c. Komunikasi mengenai pengendalian internal dari auditor dan konsultan eksternal.

5. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)

Informasi dan komunikasi juga merupakan unsur yang penting dalam pengendalian internal.Informasi menjadi penting karena diperlukan oleh

(33)

manajemen untuk mengetahui jalannya organisasi dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum serta kebijakan dan peraturan yang berlaku di organisasi. Menurut Tuanakotta (2013:140) komunikasi adalah unsur kunci dalam suksesnya sistem informasi. Komunikasi yang efektif secara internal, membantu karyawan memahami tujuan pengendalian internal, proses bisnis, dan peran serta tanggung jawab masing-masing pegawai.

2.3.3 Tujuan Pengendalian Internal

Menurut Arens (2003:271) tujuan dari pengendalian internal yaitu: "1. Reability of Financial Reporting

2. Efficiency and effectiveness of operations.

3. Compliance with applicable laws and regulations.” Arti dari tujuan pengendalian internal di atas:

1. Keandalan pelaporan keuangan 2. Efektivitas dan efisiensi operasi

3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku Penjelasan dari tiap-tiap tujuan sebagai berikut:

1) Keandalan pelaporan keuangan

Pada dasarnya pengendalian internal harus memberikan keyakinan yang memadai tentang laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum.

2) Efektivitas dan efisiensi operasi

Pengendalian internal yang berjalan dengan baik akan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dari perusahaan.

(34)

20 Pengendalian internal yang baik diharapkan membuat perusahaan berjalan sesuai dengan peraturan, kebijakan, dan prosedur yang berlaku untuk mencapai tujuan perusahaan.

Sedangkan Tugiman (1997:44) menyatakan bahwa tujuan utama pengendalian internal adalah meyakinkan:

1. Keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi

2. Kesesuaian dengan berbagai kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan ketentuan perundang-undangan

3. Perlindungan terhadap harta organisasi

4. Penggunaan sumber daya yang ekonomis dan efisien

5. Tercapainya berbagai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

2.4 Persediaan

2.4.1 Pengertian Persediaan

Pengertian persediaan menurut Ristono (2009:2) adalah suatu teknik untuk manajemen material yang berkaitan dengan persediaan.Secara teknis, persediaan adalah suatu teknik yang berkaitan dengan penetapan terhadap besarnya persediaan bahan yang harus diadakan untuk menjamin kelancaran dalam kegiatan operasi produksi, serta menetapkan jadwal pengadaan dan jumlah pemesanan barang yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan.

Kieso dkk (2011:408) mengartikan persediaan sebagai berikut:

“inventories are asset items that a company holds for sale in the ordinary course of business, or goods that it will use or consume in the production of goods to be sold.”

(35)

Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa persediaan merupakan item aset yang perusahaan simpan untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, atau barang yang akan digunakan untuk dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual.

2.4.2 Pencatatan Persediaan

Menurut Weygandt et al (2010:185) pencatatan persediaan terdiri dari : a) "Perpetual system. In a perpetual inventory system, detailed records

of the cost of each inventory purchase and sale are maintained. This system continuously - perpetually - shows the inventory that should be on hand for every item.

b) Periodic system. In a periodic inventory system, detailed inventory records of the goods on hand are not kept throughout the period. The cost of sales is determined only at the end of the accounting period - that is, periodically.”

Pengertian dari pencatatan persediaan di atas adalah:

a) Sistem perpetual.Dalam sistem persediaan perpetual, catatan rinci dari biaya setiap pembelian persediaan dan penjualan dipertahankan. Sistem ini terus-menerus menunjukkan persediaan yang harus di tangan untuk setiap item. b) Sistem periodik. Dalam sistem persediaan periodik, catatan persediaan rinci

barang di tangan tidak terus sepanjang masa. Biaya penjualan ditentukan hanya pada akhir periode akuntansi - yaitu, secara berkala.

Apabila dalam suatu perusahaan menerapkan sistem perpetual, pembelian akan dicatat dengan mendebit persediaan barang dagang. Kemudian, jika terjadi penjualan maka akan mendebit harga pokok penjualan dan persediaan akan dikredit. Dengan menerapkan sistem perpetual, perusahaan dapat mengetahui saldo persediaan yang ada dan mengetahui harga pokok penjualan.

Selain itu, jika perusahaan menerapkan sistem periodik maka ketika terjadi pembelian yang akan didebit adalah pembelian. Akan tetapi ketika terjadi penjualan tidak ada jurnal yang menunjukkan harga pokok penjualan. Oleh

(36)

22 karena itu, jika perusahaan menerapkan sistem ini maka perusahaan akan melakukan perhitungan fisik setiap akhir periode.

2.4.3 Penilaian Persediaan

Menurut Weyandt et al (2010:242) penilaian persediaan terdiri dari:

"1. First-in, first out (FIFO) 2. Last-in, last out (LIFO) 3. Weighted average cost."

Penjelasan dari poin-poin di atas adalah:

1. Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang paling awal yang dibeli adalah yang pertama untuk dijual. FIFO sering sejajar dengan aliran fisik yang sebenarnya dari saham atau persediaan karena umumnya adalah praktik bisnis yang baik untuk menjual unit awal pertama.

2. Metode LIFO mengasumsikan bahwa barang terbaru yang dibeli adalah yang pertama untuk dijual. LIFO jarang bertepatan dengan arus fisik persediaan. Berdasarkan metode LIFO, biaya barang terbaru yang dibeli adalah yang pertama yang akan ditugaskan untuk biaya penjualan.

3. Metode biaya rata-rata tertimbang mengasumsikan bahwa barang tersedia untuk dijual memiliki yang sama (rata-rata) biaya per unit. Dengan metode ini, biaya barang tersedia untuk dijual dialokasikan atas dasar biaya unit rata-rata tertimbang.

2.4.4 Jenis Persediaan

Pembagian jenis persediaan menurut Ristono (2009:7) dapat berdasarkan proses manufaktur yang dijalani dan berdasarkan tujuan. Jika berdasarkan proses manufaktur, maka persediaan dibagi dalam tiga kategori: a. Persediaan bahan baku dan penolong

(37)

c. Persediaan barang jadi

Pembagian jenis persediaan berdasarkan tujuannya terdiri dari: a. Persediaan pengamanan (safety stock)

Persediaan pengamanan atau sering pula disebut sebagai safety stock adalah persediaan yang dilakukan untuk mengantisipasi unsur ketidakpastian permintaan dan penyediaan. Apabila persediaan pengaman tidak mampu mengantisipasi ketidakpastian tersebut, akan terjadi kekurangan persediaan (stockout).

b. Persediaan antisipasi

Persediaan antisipasi disebut sebagai stabilization stock merupakan persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya.

c. Persediaan dalam pengiriman (transit stock)

Persediaan dalam pengiriman disebut work-in process stock adalah persediaan yang masih dalam pengiriman, yaitu:

o Eksternal transit stock adalah persediaan yang masih berada dalam transportasi.

o Internal transit stock adalah persediaan yang masih menunggu untuk diproses atau menunggu sebelum dipindahkan.

2.4.5 Tujuan dan Prosedur Audit Persediaan

Menurut Munawir (2005:152) tujuan yang spesifik audit persediaan adalah untuk membuktikan asersi manajemen tentang:

1. Adanya atau terjadinya, yaitu bahwa persediaan yang dinyatakan pada neraca benar-benar ada dan harga pokok penjualan benar-benar terjadi. Persediaan tersebut merupakan barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual

(38)

24 atau digunakan dalam operasi perusahaan yang normal. Prosedur audit yang diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah:

a. Observasi penghitungan fisik persediaan.

b. Konfirmasi persediaan yang berada di pihak lain. c. Pengujian pisah batas (cut off).

2. Kelengkapannya. Kuantitas persediaan tersebut meliputi semua produk atau barang jadi, bahan mentah, dan bahan penolong yang ada di gudang, dalam perjalanan dan yang disimpan di luar perusahaan (di gudang umum) dan dalam konsinyasi. Prosedur audit yang dapat diterapkan:

a. Observasi penghitungan fisik persediaan.

b. Konfirmasi persediaan yang berada di pihak lain. c. Prosedur analitis.

3. Pemilikan atau hak dan kewajibannya. Perusahaan benar-benar mempunyai hak milik terhadap persediaan, dan persediaan tersebut tidak termasuk barang-barang titipan atau milik pihak lain. Prosedur audit yang diterapkan untuk mencapai tujuan adalah:

a. Konfirmasi persediaan yang berada di pihak lain. b. Pengujian pisah batas.

c. Review kontrak konsinyasi dan pembelian.

4. Penilaian atau alokasi. Persediaan dinilai sebesar cost atau harga perolehannya (kecuali harga pasarnya lebih rendah). Barang-barang mutasinya sangat rendah, usang, dan rusak telah diidentifikasi dengan benar. Prosedur audit untuk mencapai tujuan tersebut adalah:

a. Pengujian penentuan harga perolehan persediaan (inventory pricing test). b. Pengujian penilaian persediaan (inventory valuation test).

(39)

5. Penyajian dan pengungkapan. Persediaan telah diidentifikasikan dan diklasifikasikan sebagai aktiva lancar dalam neraca, dan metode penilaiannya telah diungkapkan. Pengungkapan dalam laporan keuangan sudah memadai. Pengujian dilakukan dengan prosedur membandingkan antara laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2.5 Apotek

Wijayanti (2008:4) mendefinisikan apotek sebagai suatu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian kepada masyarakat. Selain itu apotek juga dapat didefinisikan sebagai suatu tempat pengabdian profesi apoteker dengan sasaran perluasan dan pemerataan pelayanan kesehatan, jaminan keabsahan dan mutu obat, jaminan ketepatan, kerasionalan dan keamanan penggunaan obat serta pencegahan penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat.

Adapun tugas dan fungsi apotek menurut PP 25 tahun 1980, yaitu : 1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan

sumpah jabatan.

2. Sarana farmasi yang melakukan pengubahan bentuk dan penyerahan obat atau bahan obat.

3. Sarana perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.

Pengelolaan apotek adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) dalam rangka tugas dan fungsi apotek yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian. Sesuai dengan PERMENKES RI No 26/ PerMenkes/ Per.I/ 1981, pengelolaan apotek meliputi :

(40)

26 1. Bidang pelayanan kefarmasian

Pengelolaan apotek dibidang pelayanan kefarmasian meliputi :

a) Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat.

b) Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan kesehatan di bidang farmasi lainnya.

c) Informasi mengenai perbekalan kesehatan

a. Pengelolaan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan kepada dokter dan tenaga kesehatan lain maupun kepada masyarakat.

b. Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan atau mutu obat serta perbekalan farmasi lainnya.

2. Bidang material

Pengelolaan apotek di bidang material meliputi :

a) Penyediaan, penyimpanan dan penyerahan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin.

b) Penyediaan, penyimpanan, pemakaian barang non perbekalan farmasi misalnya rak-rak obat, lemari, meja kursi pengunjung apotek dan mesin register.

3. Bidang administrasi dan keuangan

Pengelolaan apotek di bidang administrasi dan keuangan meliputi pengelolaan serta pencatatan uang dan barang secara tertib, teratur dan berorientasi bisnis.

(41)

Pengelolaan apotek di bidang ketenagakerjaan meliputi pembinaan, pengawasan, pemberian intensif maupun pemberian sanksi terhadap karyawan apotek agar timbul kegairahan, ketenagakerjaan dan kepastian masa depannya.

5. Bidang lainnya

Pengelolaan apotek di bidang lainnya berkaitan dengan tugas dan fungsi apotek meliputi pengelolaan dan penataan bangunan, ruang tunggu, ruang peracikan, ruang penyimpanan, ruang penyerahan obat, ruang administrasi dan ruang kerja apoteker.

2.6 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian yang telah dilakukan yang berkaitan dengan audit operasional dan efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan, yaitu:

No Peneliti/ Tahun

Judul Penelitian

Variabel

Penelitian Hasil Penelitian

Metode Analisis Data 1 Apriani Putri (2015) Peranan Audit Internal dalam Menunjang Efektivitas Pengendalian Internal Persediaan Obat-Obatan (Studi Kasus pada Rumah Sakit Universitas Hasanuddin) Audit internal, pengendalian internal, dan persediaan. - Pelaksanaan audit internal atas persediaan obat-obatan berada pada kriteria sangat memadai. - Pengendalian internal persediaan obat-obatan berada pada kriteria sangat efektif. - Terdapat hubungan yang positif antara pelaksanaan audit Korelasi

(42)

28 internal yang memadai dengan efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan. 2 Anindita Wijaya Kusuma (2014) Analisis Pengendalian Internal Persediaan Obat Pada Apotek Kencana Unsur-unsur audit internal dan persediaan. - Apotek masih mengunakan sistem pencatatan manual atau belum terkomputerisasi. - Prosedur pengendalian atas penerimaan dan penyimpanan barang pada apotek tersebut masih memiliki kelemahan dan belum efektif. - Apotek melakukan stock opname dalam waktu satu tahun sekali dirasa kurang efektif. - Penilaian risiko

yang dilakukan oleh apotek atas persediaan barang

sudah cukup

efektif.

Kualitatif Deskriptif

(43)

3 Divianto (2012) Peranan Audit Operasional Terhadap Efektivitas Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Audit operasional, pelayanan publik, mutu pelayanan - Peranan Audit operasional pada Rumah Sakit Bunda Palembang mempunyai pengaruh terhadap efektivitas pelayanan kesehatan rawat inap pada rumah sakit tersebut sebesar 86.1%, Regresi 4 Eli Nurlaela (2005) Peranan Audit Internal dalam Menunjang Efektivitas Pengendalian Internal Persediaan Obat-Obatan (Studi Kasus pada RS Santo Yusuf Bandung) Audit internal, pengendalian internal, dan persediaan. - Pelaksanaan audit internal pada rumah sakit sangat memadai.

- Pengendalian internal persediaan obatnya sangat efektif.

- Audit internal yang memadai memiliki peran 68,72% terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan. Korelasi

Penelitian ini pada dasarnya termotivasi dari penelitian yang dilakukan oleh Putri (2015), Kusuma (2014), Divianto (2012) dan Nurlaela (2005). Kusuma (2014) meneliti tentang analisis pengendalian internal persediaan obat pada

(44)

30 Apotek Kencana. Adapun persamaan penelitian Kusuma (2014) dengan penelitian ini adalah membahas tentang pengendalian internal persediaan obat. Sedangkan perbedaannya ialah metode analisis data, sampel, waktu, dan objek penelitian. Kemudian persamaan penelitian ini dengan penelitian Putri (2015) dan Nurlaela (2005) adalah variabel dependen yang digunakan. Sedangkan perbedaannya ialah variabel independen yang digunakan, metode analisis data, sampel, waktu, dan objek penelitian. Dan yang terakhir yaitu persamaan penelitian ini dengan Divianto (2012) adalah variabel independen dan metode analisis data yang digunakan. Sedangkan perbedaannya ialah variabel dependen, sampel, waktu, dan objek penelitian.

2.7 Kerangka Pemikiran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya serta berapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel independennya yaitu audit operasional dan variabel dependennya yaitu efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan. Indikator dari variabel independen adalah kualifikasi auditor dan tahap-tahap audit operasional. Sedangkan indikator untuk variabel dependen adalah unsur-unsur pengendalian internal dan tujuan pengendalian internal. Berikut gambar yang menunjukkan skema kerangka pikir dari penelitian ini.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Audit Operasional

Efektivitas Pengendalian Internal Persediaan

(45)

2.8 Hipotesis Penelitian

Audit operasional sangat dibutuhkan dalam menunjang efektivitas dan efisiensi kegiatan yang dilakukan oleh rumah sakit. Audit operasional dapat menjadi alat evaluasi untuk mencari hambatan atau kendala yang terjadi dalam kegiatan operasional instansi sehingga dapat dicarikan solusi untuk memperbaiki kendala tersebut.

Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa adanya pengaruh antara audit operasional dengan efektivitas pelayanan kesehatan di rumah sakit (Divianto,2012). Selain itu juga penelitian yang dilakukan oleh Putri (2015) dan Nurlaela (2005) membuktikan bahwa adanya hubungan positif antara peranan audit internal dengan efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan.

Berdasarkan deskripsi di atas maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H1: Terdapat pengaruh audit operasional terhadap efektivitas pengendalian internal persediaan obat.

(46)

32

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yaitu metode yang bertujuan memberikan gambaran sebenarnya dari objek yang diteliti melalui data yang dikumpulkan, diolah, dan dianalisis sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan. Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional, yaitu penggambaran variabel penting yang terkait dengan masalah. Penelitian melibatkan dua variabel yaitu variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas (independent variable). Variabel terikat dari penelitian ini adalah efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan, sedangkan variabel bebas penelitian ini adalah audit operasional.

3.2 Lokasi Penelitian

Dalam melakukan penelitian guna memperoleh data yang diperlukan untuk mendukung penulisan skripsi ini, maka peneliti memilih tempat penelitian pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi merupakan sekumpulan objek yang akan diteliti dalam penelitian ini. Menurut Sugiyono (2012:80) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan yang berkaitan dengan prosedur audit internal dan pengelolaan persediaan obat-obatan yaitu pegawai

(47)

Instalasi Farmasi, Komite Farmasi, dan SPI dengan rincian pegawai Instalasi Farmasi sebanyak 156 orang, pegawai Komite Farmasi sebanyak 2 orang, dan pegawai SPI sebanyak 5 orang.

3.3.2 Sampel

Menurut Sugiyono (2012:81) yang dimaksud dengan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

Pada dasarnya ukuran sampel adalah langkah untuk menentukan besarnya sampel yang akan diambil dalam melaksanakan penelitian suatu objek. Menentukan besarnya sampel tersebut bisa dilakukan secara statistik ataupun berdasarkan estimasi penelitian. Untuk menetapkan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin yaitu:

n = N 1 + N (𝑒)2 Dimana :

n = ukuran sampel N = ukuran populasi

e = persen kelonggaran ketidakpastian dengan tingkat kesalahan 10%

Berdasarkan rumus tersebut, dengan populasi sebesar 163 orang, maka ukuran sampel dapat dihitung sebagai berikut:

n = 163 = 62 responden

1 + 163(0,1)2

Jadi total ukuran sampel yaitu 62 orang. Alasan peneliti mengambil sampel tersebut karena bagian tersebut dapat memberikan data dan informasi yang dibutuhkan untuk penelitian.

(48)

34

3.4 Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer yaitu data secara langsung bersumber dari jawaban dari responden atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Data yang diperoleh dan dikumpulkan langsung oleh peneliti dari RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang akurat dan relevan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan metode penelitian lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung dengan mengadakan pengamatan terhadap objek penelitian. Teknik yang digunakan meliputi:

a. Observasi

Metode observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan melihat secara langsung kejadian di lapangan dan kemudian menarik kesimpulan lewat realita yang terjadi.

b. Kuesioner atau Angket

Kuesioner atau angket adalah teknik pengumpulan data melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan tertulis yang dapat mewakili sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari kuesioner yang digunakan dalam penelitian Divianto (2012) dan Nurlaela (2005).

c. Study Pustaka (Library Research)

Penelitian yang dilakukan dengan cara membaca dan mempelajari buku, referensi dan lain-lain yang berhubungan dengan pokok bahasan sehingga

(49)

digunakan sebagai acuan analisis untuk memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan.

3.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.6.1 Variabel Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu "Pengaruh Audit Operasional Terhadap Efektivitas Pengendalian Internal Persediaan Obat-Obatan", maka terdapat beberapa variabel yang digunakan yaitu:

1. Variabel Independen

Menurut Sugiyono (2012:39) variabel independen atau yang biasa disebut variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Maka dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah audit operasional.

2. Variabel Dependen

Menurut Sugiyono (2012:39) yang dimaksud dengan variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Maka yang menjadi variabel terikat dari penelitian ini adalah efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan.

3.6.2 Definisi Operasional

Adapun judul penelitian yang dipilih yaitu "Pengaruh Audit Operasional Terhadap Efektivitas Pengendalian Internal Persediaan Obat-Obatan", maka terdapat dua variabel penelitian yaitu:

1) Audit operasional

(50)

36 Untuk lebih mudah dalam memahami variabel penelitian yang digunakan, maka peneliti menjabarkannya ke dalam bentuk operasionalisasi variabel yang dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel

Variabel Indikator

Variabel Sub Indikator

Skala Pengukuran Instrumen Audit Operasional Kualifikasi Auditor Tahap-Tahap Audit Operasional 1. Independensi 2. Kompetensi 1. Audit Pendahuluan 2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen 3. Audit Lanjutan (terinci) 4. Pelaporan 5. Tindak Lanjut Ordinal Ordinal Kuesioner Kuesioner Efektivitas pengendalian internal persediaan obat-obatan Unsur-unsur pengendalian internal 1. Lingkungan pengendalian 2. Penetapan risiko 3. Informasi dan komunikasi 4. Aktivitas pengendalian 5. Pemantauan Ordinal Kuesioner Tujuan pengendalian internal persediaan 1. Keandalan laporan keuangan 2. Efektivitas dan Ordinal Kuesioner

(51)

secara umum efisiensi 3. Ketaatan terhadap peraturan yang berlaku 3.7 Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan skala likert sebagai instrumen dalam mengumpulkan data. Lima alternatif jawaban yang disediakan untuk menjawab kuesioner. Adapun nilai dan jawaban yang akan digunakan yaitu:

5 = Sangat Setuju (SS) 4 = Setuju (S)

3 = Kurang Setuju (KS) 2 = Tidak Setuju (TS)

1 = Sangat Tidak Setuju (STS)

3.8 Uji Validitas

Peneliti melakukan uji validitas agar mengetahui apakah instrumen yang digunakan benar-benar dapat mengukur variabel yang dimaksud. Menurut Sugiyono (2012:121) valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kuesioner, sehingga pengujian validitas yang digunakan berupa validitas isi (content validity). Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dan materi pelajaran yang telah diajarkan. Nilai koefisien korelasi antara skor setiap item dengan skor total dihitung dengan korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut:

Gambar

Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Tahun 2012-2014
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Audit
Tabel Hasil Uji Validitas dan Reabilitas
Tabel Hasil Uji t

Referensi

Dokumen terkait

Pembuatan kurva standar ini dilakukan untuk sampel selanjutnya recall yakni berupa logam Cu pada limbah yang diadsorpsi dengan zeolit alam yang telah diaktivasi dengan

Dari penjelasan baterai yang berprinsip pada larutan elektrolit, maka penulis membuat gagasan menulis essay untuk melakukan pelestarian lingkungan dengan

(3)Mahasiswa semester satu menyadari di unika mereka akan selalu tertib dalam perkuliahan yang membuat semangat yang baik dan baru dalam proses belajar –

Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subyek penelitian siswa kelompok B TK Dharma Wanita Kunjang Kecamatan Ngancar.

sebuah jalur-transmisi yang diberi beban Z L dengan impedansi yang tidak sama ( mismatch ) dengan Z o , maka akan ada sebagian daya yang akan dipantulkan kembali ke generator.

Plas- ma nutfah talas yang berasal dari Gunung Kidul Jawa Tengah memiliki panjang umbi lebih dari 12 cm (kode 7, 9), bentuk umbi kerucut, silindris, dan elips (kode 1, 3, 4),

(2) Pendanaan pelaksanaan evaluasi dan pengawasan pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan yang dilakukan oleh badan pengelola perbatasan atau satuan