i
GEJALA DAN INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT NODA MERAH DAN NODA KUNING PADA TANAMAN TEBU
TUGAS AKHIR
Oleh :
AHMAD RIDHO RAMADAN 1522040031
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2018
i
HALAMAN PENGESAHAN
GEJALA DAN INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT NODA MERAH DAN NODA KUNING PADA TANAMAN TEBU
TUGAS AKHIR
Oleh:
AHMAD RIDHO RAMADAN 1522040031
Tugas Akhir ini sebagai Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan
Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh:
Mengetahui,
Tanggal Lulus : 08 Agustus 2018
ii
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI
Judul : Gejala Dan Intensitas Serangan Penyakit Noda Merah Dan Noda Kuning Pada Tanaman Tebu
Nama : Ahmad Ridho Ramadan
NIM : 1522040031
Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Budidaya Tanaman Perkebunan
Menyetujui, Tim Penguji :
1. Nildayanti, S.P., M.Si.
2. Dr. Syahruni Thamrin, S.P., M.Si.
3. Sri Muliani, S.P., M.P.
4. Syatrawati, , S.P., M.P.
iii
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Mandalle Juni 2018 Yang Menyatakan,
Ahmad Ridho Ramadan
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas limpahan Rahmat, taufik, serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas akhir yang berjudul gejala dan intensitas serangan penyakit noda merah dan noda kuning pada tanaman tebu yang dilaksanakan di lahan jurusan budidya tanaman perkebunan.
Walau sepenuhnya penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekuragan, tetapi penulis berharap semoga Laporan Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
Dalam penyelesaian laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini :
1. Rahman Renreng dan Ramadana yang selama ini memberi dukungan dan motivasi kepada saya.
2. Nildayanti, S.P., M.P. dan Dr. Syahruni Thamrin, S.P., M.Si. selaku dosen pembimbing I dan pembimbing II
3. Dr. Junaedi, S.P, M.Si. selaku Ketua Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan.
4. Dr. Ir. Darmawan, M.P. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
5. Seluruh staf Dosen, Pegawai, dan PLP Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan 6. Kawan-kawan dan seluruh stakeholder yang telah membantu dalam
penyusunan laporan ini.
v
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekuragan. Oleh karena itu, penulis dapat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan lapaoran ini.
Mandalle, Juni 2018
Penyusun
vi DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN HALAMAN PENGESAHAN ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
RINGKASAN ... ix
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan dan Kegunaan ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit yang terserang pada tanaman tebu dan gejalanya ... 3
III. METEDOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... 8
3.2 Alat dan Bahan ... 8
3.3 Metode Pelaksanaan ... 8
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 9
4.2 Pembahasan ... 10
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 12
5.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
LAMPIRAN ... 14
RIWAYAT HIDUP ... 17
vii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 4.1. Tingkat serangan penyakit noda merah dan noda kuning
pada tanaman tebu ... 9 Gambar 4.2. Gejala serangan penyakit noda kuning ... 10 Gambar 4.3. Gejala serangan penyakit noda merah ... 11
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1.Tabel hasil pengamatan jumla penyakit pada pertanaman
tebu ... 15 Lampiran 2. Perhitungan intensitas serangan penyakit ... 16
ix RINGKASAN
Ahmad Ridho Ramadan. 1522040031. Gejala dan intensitas serangan penyakit noda merah Dan Noda kuning pada tanaman tebu. Dibimbing oleh Nildayanti dan Syahruni Thamrin.
Tujuan percobaan mengetahui gejala-gejala penyakit noda merah dan penyakit noda kuning yang terdapat pada tanaman tebu. Percobaan ini dilaksanakan di Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2018, dengan metode pelaksanaan berupa kegiatan observasi. Metode Observasi ini merupakan bentuk pengumpulan data yaitu dengan cara melihat secara langsung di lapangan gejala-gejala penyakit noda merah dan noda kuning, kemudian menghitung jumlah tanaman yang terserang.
Jumlah sampel yang diamati yaitu 30 sampel tanaman. Dari 30 tanaman sampel 80% tanaman menunjukkan gejala penyakit noda merah dan 20% tanaman menunjukkan gejala noda kuning
Kata kunci : Tebu, Gejala, Penyakit, Noda Merah, Noda Kuning.
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan tanaman tebu tidak terlepas dari serangan penyakit. Penyakit yang menyerang tanaman tebu diantaranya penyakit Noda Merah dan Noda Kuning. Saat ini penyakit Noda Merah dan Noda Kuning merupakan penyakit yang penting, terutama pada kebun-kebun tebu yang telah mengalami peremajaan.
Penyakit tanaman merupakan salah satu permasalahan penting produksi tebu diIndonesia maupun di negara lain. Tanaman tebu dapat terserang berbagai macam penyakit, antara lain yaitu penyakit Noda Merah, pokkahbung, mosaic, noda kuning, Noda cincing, karat orange, penyakit pembuluh, penyakit blondok (Siregar, A.Z., 2017).
Penyakit pada tanaman tebu yang disebabkan oleh jamur akan menyerang daun dengan menimbulkan infeksi berupa lesi atau bercak pada daun yang disebut dengan penyakit noda. Lesi yang ditimbulkan oleh penyakit noda tersebut dapat merusak daun dan menghambat proses fotosintesis yang dibutuhkan oleh daun untuk proses produksi. Kerusakan area daun yang merupakan ambang kehilangan hasil yang signifikan yaitu 15%. Diagnosa dini yang dilakukan pada tanaman tebu yang terserang penyakit noda dapat meningkatkan kualitas produksi gula. Hal tersebut karena keputusan penanganan penyakit yang cepat dan tepat berdasarkan diagnosa yang telah dilakukan akan meminimalisir penyebaran penyerangan penyakit. Sayangnya ahli penyakit yang memiliki pengetahuan dalam mengenali penyakit pada tanaman tebu keberadaannya tidak pada semua wilayah persawahan tebu dan pelayanan dari ahli tersebut membutuhkan waktu yang lama (Vibhute &
Bodhe, 2012). Teknik klasifikasi otomatis berdasarkan perubahan fisik daun yang
2
menampakkan lesi dari suatu jenis penyakit. Lesi yang direkam menggunakan kamera digital akan menghasilkan citra yang dapat diproses dan digunakan untuk mengenali jenis penyakit noda secara otomatis, cepat, mudah, murah dan akurat (Rathod, Tanawal, & Shah, 2013).
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora kopkei dan banyak ditemukan di daerah dataran tinggi yang lembab dengan gejala sebagai berikut: 1) pada daun muda timbul noda-noda kuning pucat, kemudian berubah menjadi kuning terang segar. Warna ini bertahan sampai daun menua kemudian timbul pula noda titik-titik atau garis-garis berwarna darah kotor yang tak teratur; 2) pada cuaca lembab, bagian bawah daun tertutup lapisan putih kotor yang keluar dari sulur-sulur cendawan; 3) helaian daun yang mati berwarna agak kehitaman.
Yellow spot muncul pada daun tebu karena suatu jamur yang disebut dengan mycovellosiella koepki. Efek samping yang disebabkan adalah kadar sukrosa dan hasil panen tanaman yang menurun. Penyebaran penyakit ini disebabkan karena curah hujan dan kelembapan yang tinggi. Pada fase awal penyakit ini berbentuk bercak dengan diameter 1-2 mm yang berwana kuning kemerahan dan berwarna kabur 24 keabu-abuan pada bagian bawah daun. (Siregar, A.Z., 2017)
Berdasarkan uraian diatas maka penyusun tertarik melakukan percobaan untuk mengetahui gejala penyakit noda merah dan noda kuning pada tanaman tebu.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui gejala-gejala dan intensitas serangan penyakit noda merah dan penyakit noda kuning yang terdapat pada tanaman tebu. Sedangkan kegunaan untuk menambah wawasan bagi
3
mahasiswa dan menjadi bahan informasi bagi masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit noda merah dan penyakit noda kuning yang terdapat pada tanaman tebu.
4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyakit yang terserang pada tanaman tebu dan gejalanya A. Penyakit Noda Kuning
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora kopkei dan banyak ditemukan di daerah dataran tinggi yang lembab dengan gejala sebagai berikut: 1) pada daun muda timbul noda-noda kuning pucat, kemudian berubah menjadi kuning terang segar. Warna ini bertahan sampai daun menua kemudian timbul pula noda titik-titik atau garis-garis berwarna darah kotor yang tak teratur; 2) pada cuaca lembab, bagian bawah daun tertutup lapisan putih kotor yang keluar dari sulur-sulur cendawan; 3) helaian daun yang mati berwarna agak kehitaman.
Sebaran penyakit. Penyakit ini pertama kali dijumpai di Lampung di area pertanaman tebu PG Gunung Madu. Tebu yang mendapat serangan hebat adalah varietas Ragnar dan SP 70-1284. Kemudian penyakit ini dijumpai di area pertanaman tebu PG Gula Putih Mataram. PG Bunga mayang,dan PG Cinta manis di Sumatera Selatan Penularan dan gejala (Sa’diyah, N. & Aeny, T. N., 2013)
Penularan penyakit melalui spora cendawan yang terbawa air hujan atau angin. Di samping itu penularan juga dapat melalui klaras daun tebu yang sakit yang terdapat pada bibit tebu yang ditanam. Gejala tanaman sakit, pada daunnya terdapat suatu noda berbentuk elip memanjang dikelilingi oleh suatu warna kuning. Bentuk-bentuk noda tersebut sering kali saling bersambungan. Kemudian bagian tengahnya mengering. Pada keadaan cuaca terik dan kering daun-daun tampak seperti terbakar. Di samping itu, seperti halnya pada pengendalian penyakit umumnya, sanitasi kebun perlu mendapat perhatian. Untuk menghindari terjadinya penyebaran penyakit ini ke wilayah penanaman tebu, jika memasukkan
5
bibit dari daerah "wabah" tersebut hendaknya memenuhi ketentuan-ketentuan pengiriman bibit tanaman yang berlaku baik nasional maupun internasional.
(Chastine Fatichah. 2011)
Penyakit Noda Kuning disebabkan oleh jamur Mycovellvsiella koepkei (krÜger) Deighton. Jamur ini meriba di dalam sel-sel parenkim dan miseliumnya tidak terdapat di dalam berkas – berkas pembuluh. Sulur-sulur jamur ke luar melalui mulut-mulut kulit (stomata) dari bagian bawah daun tampak bersekat, tidak sarna panjangnya, dan berwama coklat. Pada ujungnya terdapat konidium- konidium yang jika telah masak akan dilepaskan. Jika singgah di daun muda dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru.Sebaran penyakit. Penyakit ini sudah lama dikenal di Jawa, namun baru dikemukakan penciriannya. Penyakit ini terutama daerah tinggi Malang yang lembab. Lama penyakit noda kuning tidak mendapat perhatian, baru setelah tahun 1929 menarik perhatian pada tebu varietas POJ 2878. Pada saat ini penyakit ini telah dijumpai di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. (Ratnasari, Ginardi,
& Fatichah 2015)
Penularan dan gejala. Pada daun timbul noda-noda berwarna kuning agak pucat yang cepat menjadi kuning cerah, dan warna ini juga bertahan pada daun yang tua. Kemudian jika serangan menjadi parah di dalam noda timbul bintik- bintik berwama merah, hanya kadang-kadang saja seluruh noda menjadi berwarna merah darah yang kotor. Bentuk noda tidak teratur, kadang-kadang bersambungan. Penularan melalui spora yang berupa konidium yang dilepaskan dari daun bagian bawah. Kerugian yang terjadi. Terjadi penghambatan pembentukan gula terutama pada noda-noda yang semakin meluas. Pada serangan
6
penyakit noda kuning yang menurut penglihatan hebat dan terjadi terus menerus, akan timbul kerugian, rendemen akan menurun. Bila penyakit noda kuning disembuhkan, ketinggalan pembentukan gula akibat serangan penyakit ini, dapat dikejar dalam 2 bulan. Kesimpulan tersebut merupakan hasil penelitian dengan percobaan yang dilaksanakan di Malang. Namun kesulitan yang dihadapi adalah penunjukan keparahan serangan jadi sangat subyektif, karena tidak adanya tolok ukur kuantitatif pengendalian. Pengendalian yang terbaik adalah dengan penanaman varietas tebu yang tahan terhadap penyakit noda kuning. Di samping itu sanitasi kebun akan dapat mencegah terjadinya penyebaran dan penularan.
Pada percobaan pendahuluannya, mengadakan pemberantasan kimiawi dengan penghembusan beberapa kali selama dua atau tiga bulan sebelum saat tebang memberi hasil yang baik. Namun penelitian ini masih perlu disempurnakan lebih lanjut. (Semangun H. 2013)
B. Penyakit Noda Merah
Penyakit noda merah (Red Leaf Spot) disebabkan oleh cendawan Eriosphaeria sacchari dan penyakit ini terdapat baik pada bagian atas maupun
pada bagian bawah daun dari daun tebu, tetapi pada bagian bawah lebih jernih warnanya. Pada permulaan timbul bintik halus pada bagian bawah dari daun, yang berwarna merah dan dikelilingi oleh suatu tepi yang kuning. Bintik merah membesar, dan tetap dikelilingi oleh suatu tepi yang kuning. Noda-noda berbentuk lingkaran, kadang-kadang tidak teratur, karena saling bersambung (Handojo, 1982 dalam Siregar, A.Z., 2017).
Pengendalian penyakit mempunyai beberapa pendekatan antara lain : (1) Menanam varietas yang tahan, (2) Pengendalian penyakit dengan tindakan kultur
7
teknis, dan (3) pengendalian dengan menggunakan zat kimia. Pengendalian penyakit bertujuan untuk mencegah terjadinya kerugian ekonomis serta meningkatkan nilai produksi panen dari tanaman yang diusahakan. Pengendalian penyakit mempunyai beberapa pendekatan dimana salah satunya pengendalian dengan pemakaian zat kimia. Tergantung dari macamnya patogen, maka senyawa kimia dapat digolongkan kedalam fungisida, bakterisida atau virisida.
Hampir semua penyakit tanaman dapat dikendalikan oleh jenis-jenis fungisida yang ada. Beberapa penyakit pada tanaman tebu yang disebabkan oleh fungi diantaranya adalah pokahbung, dan penyakit noda merah. Fungisida tersebut termasuk golongan strobilurin dengan bahan aktif piraklostrobin dan bersifat sistemik (Haryono, 2000).
Pengendalian penyakit noda merah yang dilakukan secara kimia adalah dengan menggunakan fungisida. Penyemprotan dan perendaman merupakan metode aplikasi fungisida yang dilakukan dalam pengendalian patogen.
Penyemprotan dilakukan pada daun-daun tanaman biasanya ditujukan untuk mencegah atau mengendalikan penyakit-penyakit. Sedangkan aplikasi dengan perendaman dilakukan sebelum bibit ditanam, bertujuan untuk melindungi bibit dari penyakit atau mengendalikan serta mengobati bibit yang terserang penyakit saat diambil. Dalam hal ini fungisida memiliki sifat protektif maupun eradikatif.
Penyakit ini sangat mudah tersebar dan menular dengan melalui air hujan dan angin.
8
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilakukan pada bulan Juni 2018 yang bertempat di Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.
3.2 Alat dan Baban
Alat yang di gunakan yaitu kamera dan alat tulis menulis sedangkan bahan yang digunakan yaitu tanaman Tebu.
3.3 Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan berupa kegiatan observasi. Metode Observasi ini merupakan bentuk pengumpulan data yaitu dengan cara melihat secara langsung dilapangan gejala-gejala penyakit noda merah dan noda kuning, kemudian mengambil sampel tanaman secara acak dengan jumlah sampel 30.
Perhitungan intensitas serangan penyakit dengan menggunakan rumus :
IS =
Xy× 100%
Keterangan :
IS = Intensitas Serangan
X =Jumlah Tanaman Yang Menunjukkan Gejala Penyakit Y = Total Sampel