SUSUNAN REDAKSI
Penanggung Jawab
Apolinaris Samsudin Geru, SP, M.Si
Pimpinan Redaksi Yanuar Henry Pribadi, M.Si
Tim Redaksi Devi Febrianty, ST
Yuningsih, ST Sugiyanti, S.Si Selvy Yolanda, SST Mutiara Halida, S.Tr Ratri Widyastuti, S.Tr Qurrata A’yun Kartika, S.Tr Sri Septiani Debora Saragih, S.Tr
Yosik Norman, M.Si Dyah Ajeng Sekar Pertiwi, S.Tr
Sirly Oktarina, S.Tr Farhan Darmansyah, S.Tr
Distribusi
Tonny Satria Wijaya Kusuma, S.kom Kusairi, S.Si
Alamat Redaksi
Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Jln. Raya Kodam Bintaro No.82
Kelurahan Pondok Betung Kecamatan Pondok Aren
Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten
Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected]
Website: www.iklimbantendki.id
Buletin ini merupakan laporan rutin setiap bulan yang berisikan informasi mengenai Analisis hujan bulan sebelumnya, informasi Prakiraan hujan untuk tiga bulan kedepan, Analisis kekeringan bulan sebelumnya, Prakiraan tingkat kekeringan bulan berikutnya dan Analisis kadar air tanah bulan sebelumnya. Untuk edisi kali ini berisi Analisis hujan bulan Februari 2021, Prakiraan hujan untuk bulan April - Juni 2021, Analisis indeks kekeringan 3 bulanan (Desember 2020 s/d Februari 2021), Prakiraan indeks kekeringan bulan Februari s/d April 2021.
Analisis hujan diketahui dengan melihat kondisi yang terjadi pada bulan tersebut. Untuk Analisis Sifat hujan bulan Februari 2021 pada umumnya di wilayah Banten dan DKI Jakarta bersifat Normal – Atas Normal , kecuali sebagian kecil Selatan Kab. Lebak, Sebagian kecil Timur Laut Kab. Pandeglang, dan Kota Cilegon bagian Barat Laut bersifat Bawah Normal.
Analisis indeks kekeringan tiga bulanan (Desember 2020 s/d Februari 2021) dengan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) di Provinsi Banten dan DKI Jakarta pada umumnya berada pada kategori Normal hingga Basah kecuali di Kab.
Pandeglang bagian Tengah berada pada kategori Sangat Basah.
Informasi prakiraan hujan dihasilkan dari pengolahan data hujan yang ada (time series) dengan membandingkan kondisi dinamika atmosfer yang mempengaruhi wilayah Banten dan DKI Jakarta. Hasil prakiraan hujan April - Juni 2021 menunjukkan wilayah Banten dan DKI Jakarta didominasi oleh kategori Nornal hingga Atas Normal.
Prakiraan indeks kekeringan bulan Februari s/d April 2021 merupakan prakiraan SPI dengan menggunakan data curah hujan bulan Februari 2021, serta prakiraan curah hujan bulan Februari - April 2021. Prakiraan tingkat kekeringan dan kebasahan bulan Februari – April 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta umumnya berada pada kategori Normal, kecuali di Kab Tangerang bagian Tengah, Selatan, dan Timur Laut berada pada kategori Agak Basah – Basah, serta Kota Serang dan sebagian kecil Tengah Kab. Pandeglang berada pada kategori Agak Basah.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Harapan kami semoga informasi ini bermanfaat sebagai bahan acuan dalam pengambilan kebijakan bagi semua pihak yang berkepentingan.
Segala kritik dan saran sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas publikasi ini.
Semoga bermanfaat.
Tangerang Selatan, Maret 2021 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI
TANGERANG SELATAN
Apolinaris Samsudin Geru, SP, M.SI NIP.19740209 199703 1001
DAFTAR ISI
SUSUNAN REDAKSI ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
1 TINJAUAN UMUM ... 1
1.1 Curah Hujan ... 1
1.2 Curah Hujan Kumulatif Satu Bulan ... 1
1.3 Sifat Hujan... 1
1.4 Intensitas Hujan ... 1
1.5 Cuaca Ekstrim ... 1
1.6 SOI (Southern Oscillation Index) ... 2
1.7 DMI (Dipole Mode Index) ... 2
1.8 Kekeringan ... 2
1.9 Jenis-jenis kekeringan ... 2
1.10 Standardized Precipitation Index (SPI) ... 3
1.11 Peta Normal Curah Hujan ... 4
2 ANALISIS HUJAN BULAN FEBRUARI 2021 ... 5
2.1 Analisis Sifat Hujan Bulan Februari 2021 ... 5
2.2 Analisis Curah Hujan Bulan Februari 2021 ... 6
2.3 Informasi Cuaca/Iklim Ekstrem Bulan Februari 2021 ... 7
2.4 Iklim Mikro Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Bulan Februari 2021 ... 8
2.5 Data Iklim Bulan Februari 2021 Stasiun BMKG Provinsi Banten dan DKI Jakarta ... 10
3 PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL S/D JUNI 2021 ... 10
3.1 Kondisi Dinamika Atmosfer Secara Global... 10
3.2 Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Bulan Februari Dasarian III Tahun 2021 ... 12
3.3 Prakiraan Sifat Hujan Bulan April 2021 ... 13
3.4 Prakiraan Curah Hujan Bulan April 2021... 14
3.5 Prakiraan Sifat Hujan Bulan Mei 2021 ... 15
3.6 Prakiraan Curah Hujan Bulan Mei 2021 ... 16
3.7 Prakiraan Sifat Hujan Bulan Juni 2021 ... 17
3.8 Prakiraan Curah Hujan Hujan Bulan Juni 2021 ... 18
4 PRAKIRAAN POTENSI BANJIR PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA ... 19
4.1 Prakiraan Potensi Banjir Bulan April - Mei 2021 ... 20
5 ANALISIS INDEKS KEKERINGAN DAN KEBASAHAN BULAN NOVEMBER 2020 - FEBRUARI 2021 DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA ... 21
6 PRAKIRAAN INDEKS PRESIPITASI TERSTANDARISASI (SPI) 3 BULANAN PERIODE FEBRUARI – APRIL 2021 DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA ... 28
7 ANALISIS KADAR AIR TANAH BULAN FEBRUARI 2021 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA ... 30
8 ANALISIS KIMIA AIR HUJAN (KAH) ... 31
9 ANALISIS SUSPENDED PARTICULATED MATTER (SPM) ... 33
LAMPIRAN 1. ANALISIS HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN FEBRUARI 2021 ... 34
LAMPIRAN 2. PRAKIRAAN HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN MARET 2021 ... 35
LAMPIRAN 3. PRAKIRAAN HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN APRIL 2021 ... 36
LAMPIRAN 4. PRAKIRAAN HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN MEI 2021 .... 37
LAMPIRAN 5. INDEKS SPI TIGA BULANAN DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA ... 38
LAMPIRAN 6. PETA SEBARAN POS HUJAN UNTUK EVALUASI BULANAN ... 39
1 TINJAUAN UMUM 1.1 Curah Hujan
Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang jatuh pada tempat yang datar dengan asumsi tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) mm adalah air hujan setinggi 1 (satu) mm yang jatuh (tertampung) pada tempat yang datar seluas 1m2 dengan asumsi tidak ada yang menguap, mengalir dan meresap.
1.2 Curah Hujan Kumulatif Satu Bulan
Curah hujan kumulatif 1 (satu) bulan adalah jumlah curah hujan yang terkumpul selama 28 atau 29 hari untuk bulan Pebruari dan 30 atau 31 hari untuk bulan-bulan lainnya.
1.3 Sifat Hujan
Sifat hujan merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan kumulatif selama satu bulan di suatu tempat dengan rata-ratanya atau normalnya pada bulan dan tempat yang sama.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu :
a. Sifat Hujan Atas Normal (AN) : jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya.
b. Sifat Hujan Normal (N) : jika nilai curah hujan antara 85% - 115%
terhadap rata-ratanya.
c. Sifat Hujan Bawah Normal (BN) : jika nilai curah hujan kurang dari 85%
terhadap rata-ratanya.
Rata-rata curah hujan bulanan didapat dari nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan minimal periode 10 tahun. Sedangkan normal curah hujan bulanan didapat dari nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
1.4 Intensitas Hujan
Intensitas hujan merupakan besarnya hujan harian yang terjadi pada suatu waktu.
Umumnya memiliki satuan mm/jam.
Intensitas hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu : a. Ringan : jika nilai curah hujan kurang dari 13 mm/jam b. Sedang : jika nilai curah hujan antara 13 – 38 mm/jam c. Lebat : jika nilai curah hujan lebih dari 38 mm/jam
1.5 Cuaca Ekstrim
Cuaca ekstrim, yaitu keadaan cuaca yang terjadi bila:
1. Jumlah hari hujan yang tercatat paling banyak melebihi harga rata-rata pada bulan yang bersangkutan di stasiun tersebut.
2. Intensitas hujan terbesar dalam 1 (satu) jam selama periode 24 jam dan intensitas dalam 1 (satu) hari selama periode satu bulan yang melebihi rata-ratanya.
3. Terjadi kecepatan angin >45 km/jam dan suhu udara >35oC atau <15oC.
Curah hujan Ekstrim :
Curah Hujan dengan intensitas >50 milimeter per hari menjadi parameter terjadinya hujan dengan intensitas lebat. Sedangkan curah hujan ekstrim memiliki curah hujan >100 milimeter per hari.
(Jaja Supiatna, Diklat Meteorologi Publik 2008)
1.6 SOI (Southern Oscillation Index)
Indeks ini menunjukan perbedaan tekanan udara antara daerah Tahiti (mewakili daerah Amerika Selatan) dan Darwin (mewakili India-Australia). Jika nilai SOI negatif, berarti tekanan udara permukaan sepanjang Amerika Selatan lebih tinggi daripada wilayah India-Australia, dan jika SOI positif akan terjadi sebaliknya.
1.7 DMI (Dipole Mode Index)
Fenomena Dipole Mode Indeks (DMI) yaitu fenomena yang ditandai dengan interaksi laut-atmosfer di Samudera Hindia, dimana terjadi penurunan suhu muka laut dari keadaan normalnya di Samudera Hindia tropis bagian timur (pantai barat Sumatera) dan kenaikan temperatur dari normalnya di Samudera Hindia tropis bagian barat atau bagian timur Afrika, Menganalisis kejadian DMI digunakan indeks sederhana, yaitu berupa dipole anomali suhu muka laut yang didefinisikan sebagai perbedaan anomali suhu muka laut Samudera Hindia bagian timur (90° - 110°BT / 10°LS – ekuator) dan Samudera Hindia bagian barat(50° - 70°BT / 10°LS - 10°LU).
Pada saat DMI (+) terjadi penurunan curah hujan di wilayah Indonesia Bagian Barat, sebaliknya apabila DMI (-) terjadi peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia Bagian Barat.
1.8 Kekeringan
Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan (slow-onset disaster), berdampak sangat luas, dan bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain). Kekeringan merupakan fenomena alam yang tidak dapat dielakkan dan merupakan variasi normal dari cuaca yang perlu dipahami.Variasi alam dapat terjadi dalam hitungan hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad. Dengan melakukan penelusuran data cuaca dalam waktu yang panjang, akan dapat dijumpai variasi cuaca yang beragam, misalnya: bulan basah-bulan kering, tahun basah-tahun kering, dan dekade basah- dekade kering.
Berkurangnya curah hujan biasanya ditandai dengan berkurangnya air dalam tanah sehingga pertanian merupakan sektor pertama yang akan terpengaruh. Cukup sulit untuk mengetahui kapan kekeringan akan dimulai atau berakhir, dan kriteria apa yang digunakan untuk menentukannya. Apakah kekeringan itu berakhir ditandai dengan faktor-faktor meteorologi dan klimatologi atau ditandai dengan berkurangnya dampak negatif yang dialami oleh manusia dan lingkungannya.
1.9 Jenis-jenis kekeringan a. Kekeringan Meteorologis
Kekeringan ini berkaitan dengan tingkat curah hujan yang terjadi berada dibawah kondisi normalnya pada suatu musim. Perhitungan tingkat kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama terjadinya kondisi kekeringan.
Intensitas kekeringan berdasarkan definisi meteorologis adalah sebagai berikut;
1. Kering: apabila curah hujan antara 70% - 85% dari kondisi normal (curah hujan dibawah normal)
2. Sangat kering : apabila curah hujan antara 50% - 70% dari kondisi normal (curah hujan jauh dibawah normal)
3. Amat sangat kering : apabila curah hujan < 50% dari kondisi normal (curah hujan amat jauh dibawah normal)
b. Kekeringan Pertanian
Kekeringan ini berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas tanah) sehingga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi pertanian adalah sebagai berikut :
1. Kering : apabila ¼ daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena ringan s/d sedang)
2. Sangat kering : apabila ¼ - 2/3 daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena berat)
3. Amat sangat kering : apabila seluruh daun kering (terkena puso) c. Kekeringan Hidrologis
Kekeringan ini terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan hidrologis diukur dari ketinggian muka air sungai, waduk, danau dan air tanah. Ada jarak waktu antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya ketinggian muka air sungai, danau dan air tanah, sehingga kekeringan hidrologis bukan merupakan gejala awal terjadinya kekeringan. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi hidrologis adalah sebagai berikut :
1. Kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran dibawah periode 5 tahunan
2. Sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran jauh dibawah periode 25 tahunan
3. Amat sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran amat jauh dibawah periode 50 tahunan
d. Kekeringan Sosial Ekonomi
Kekeringan ini terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal sebagai akibat dari dari terjadinya kekeringan meteorologis, pertanian dan hidrologis.
1.10 Standardized Precipitation Index (SPI)
Standardized Precipitation Index (SPI) adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam susatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst). Nilai SPI dihitung menggunakan metode statistik probabilitas distribusi gamma.
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh SPI adalah :
SPI dapat dihitung untuk skala waktu yang berbeda
Dapat memberikan peringatan dini kekeringan
Dapat membantu menilai tingkat keparahan kekeringan
SPI lebih sederhana daripada Palmer Drought Severity Index
Gambar 1. Peta Normal Hujan
Bulan Februari Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Berdasarkan nilai SPI, ditentukan kategori tingkat kekeringan dan kebasahan sebagai berikut:
Tingkat Kekeringan
1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00 dengan probabilitas 2,3%
2. Kering : Jika nilai SPI –1,50 s/d -1,99 dengan probabilitas 4,4%
3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49 dengan probabilitas 9,2%
Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99 dengan probabilitas 68,2%
Tingkat Kebasahan
1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00 dengan probabilitas 2,3%
2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99 dengan probabilitas 4,4%
3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49 dengan probabilitas 9,2%
Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.
1.11 Peta Normal Curah Hujan
Gambar 2. Peta Normal Hujan Bulan April Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Gambar 3. Peta Normal Hujan Bulan Mei Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Gambar 4. Peta Normal Hujan Bulan Juni Provinsi Banten dan DKI Jakarta
2 ANALISIS HUJAN BULAN FEBRUARI 2021
Berdasarkan data curah hujan yang diterima dari Stasiun/Pos hujan di Provinsi Banten dan DKI Jakarta, maka analisis curah hujan bulan Februari 2021 dapat diinformasikan sebagai berikut:
2.1 Analisis Sifat Hujan Bulan Februari 2021
SIFAT HUJAN WILAYAH
Bawah Normal (BN) Sebagian kecil Selatan Kab. Lebak, Sebagian kecil Timur Laut Kab.
Pandeglang, dan Kota Cilegon bagian Barat Laut.
Normal (N)
Kab. Serang bagian Selatan hingga Barat, kab. Lebak bagian Barat, Kab. Pandeglang bagian Barat Daya dan Utara, serta bagian kecil DKI Jakarta bagian Timur Laut.
Atas Normal (AN)
Seluruh Wilayah Kab. Tangerang, DKI Jakarta bagian Timur, Selatan, Barat, dan Sebagian Utara, Kab. Serang bagian Timur, Kab. Lebak bagian Timur dan Kab. Lebak bagian Tengah.
Gambar 5. Peta Analisis Sifat Hujan
Bulan Februari 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
2.2 Analisis Curah Hujan Bulan Februari 2021
CURAH HUJAN WILAYAH
Rendah
(0 – 100 mm) -
Menengah (101 – 300 mm)
Kota Cilegon dan Kota Serang bagian Barat, Sebagian kecil Kab.
Pandeglang bagian Barat Laut dan Timur Laut, serta kab. Lebak bagian Barat Daya.
Tinggi (301 – 400 mm)
Kab. Serang bagian Timur dan Barat, kab. Pandeglang bagian Utara, Kab. Lebak bagian Utara, Tengah, dan Selatan, dan Kab.
Tangerang bagian kecil Tengah.
Sangat Tinggi
> 400 mm
Hampir seluruh wilayah Kab. Tangerang kecuali bagian kecil Kab.
Tangerang bagian Tengah, DKI Jakarta, Kab. Lebak bagian Timur, dan Kab. Pandeglang bagian Tengah dan Selatan.
Gambar 6. Peta Analisis Curah Hujan
Bulan Februari 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
2.3 Informasi Cuaca/Iklim Ekstrem Bulan Februari 2021
KRITERIA TERJADI TANGGAL
Angin dengan kecepatan >45 km/jam -
Suhu Udara > 35OC -
Suhu Udara < 17OC -
Kelembaban Udara < 40 % -
Curah Hujan Harian > 100 mm
DKI Jakarta :
- Ciganjur tgl 20 Februari 2021 : 105 mm - Depok tgl 19 Februari 2021 : 115 mm
- Halim tgl 19, 20 Februari 2021 : 159 mm, 175,8 mm - Krukut Hulu tgl 20 Februari 2021 : 136 mm
- Lebak Bulus tgl 20 Februari 2021 : 154 mm - Manggarai tgl 19 Februari 2021 : 136 mm
- Pakubuwono tgl 19, 20 Februari 2021 : 115 mm, 112 mm - Pasar Minggu tgl 19, 20 Februari 2021 : 125 mm, 226 mm - Pulo Gadung tgl 19 Februari 2021 : 120 mm
- Ragunan tgl 20 Februari 2021 : 150 mm
- Sunter Hulu tgl 19, 20 Februari 2021 : 112 mm, 197 mm - Teluk Gong tgl 16 Februari 2021 : 101 mm
Tangerang :
- BPP Cisauk tgl 19 Februari 2021 : 122 mm
- BPP Kaliasin / Balaraja 20 Februari 2021 : 112 mm - BPP Sukadiri tgl 01 & 05 Februari 2021 : 115 mm - BPP Sukadiri tgl 06 Februari 2021 : 150 mm - UPTD Kresek tgl 10 Februari 2021 : 100 mm - Stageof Tangerang tgl 17 Februari 2021 : 118,8 mm - Staklim Tangsel tgl 20 Februari 2021 : 118,9 mm - UPTD Benda Sukamulya tgl 20 Februari 2021 : 140 mm - UPTD Bobojong tgl 19, 20 Februari 2021 : 105 mm, 120
mm
- UPTD Kresek tgl 19, 20 Februari 2021 : 107 mm, 125 mm - UPTD Sindang Jaya tgl 20 Februari 2021 : 129 mm Serang :
- Pulo Merak tgl 07 Februari 2021 : 101 mm Pandeglang :
- Cikeusik tgl 24 Februari 2021 : 100 mm - Cimanggu tgl 27 Februari 2021 : 134 mm - Menes tgl 03 Februari 2021 : 134 mm - Munjul tgl 09 Februari 2021 : 105 mm
- Teluk Lada Sobang tgl 03, 10 Februari 2021 : 109 mm, 107 mm
Lebak :
- Cilemer tgl 03 Februari 2021 : 103 mm
2.4 Iklim Mikro Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Gambar 7. Intensitas Hujan Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Pada grafik disamping menunjukkan bahwa selama bulan Februari 2021 Tidak Terjadi Hujan sebesar 14%, Hujan Ringan sebesar 60%, Hujan Sedang sebesar 10%, Hujan Lebat sebesar 21%.
Gambar 8. Suhu Udara Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Pada bulan Februari 2021 suhu udara rata-rata di wilayah Tangerang Selatan berkisar antara 24.0 – 29.0 oC. Suhu maksimum absolut ditunjukkan dengan garis merah terjadi pada tanggal 28 sebesar 33.6 oC.
Sedangkan suhu minimum absolut ditunjukkan dengan garis biru terjadi pada tanggal 17 dan 18 sebesar 22.8 oC.
Gambar 9. Kelembaban Udara Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Kelembaban Udara yang tercatat di Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan pada bulan Februari 2021 rata-rata sebesar 86%.
Nilai maksimum tercatat pada tanggal 18 sebesar 95%
sedangkan nilai minimum
tercatat pada tanggal 28 sebesar 77%.
Gambar 10. Windrose Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Gambar windrose bulan Februari 2021 menunjukkan bahwa angin yang terjadi pada bulan tersebut sebagian besar berasal dari arah Barat, sedangkan untuk
frekuensi kejadian kecepatan anginnya antara lain dengan kategori 2-4 knots sebesar 50%, kategori 4-6 knots sebesar 17.9%, 6-8 knots sebesar 28.6%, kategori 8-10 knots sebesar 3.6%.
Gambar 11. Lama Penyinaran Matahari Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Dari gambar disamping terlihat bahwa lama penyinaran matahari pada bulan Februari 2021 rata- rata sebesar 27%. Nilai
maksimum terjadi pada tanggal 21 sebesar 60% sedangkan nilai minimum tercatat pada tanggal 3 dan 17 sebesar 0%.
Gambar 12. Penguapan Udara pada Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
Nilai rata-rata penguapan yang terukur pada Panci Penguapan bulan Februari 2021 sebesar 2.5 mm. Nilai maksimum tercatat pada tanggal 6 sebesar 5.2 mm dan bernilai minimum pada tanggal 26 sebesar 0.0 mm.
Sedangkan untuk penguapan yang terukur pada ruangan (Piche) rata-rata sebesar 1.1 mm. Nilai maksimum tercatat pada tanggal 26 sebesar 4.6 mm dan bernilai minimum pada tanggal 6 dan 28 sebesar 0.2 mm.
5 cm 10 cm 20 cm 5 cm 10 cm 20 cm 07.30 25.8 26.5 27.9 27.2 27.5 28.0 13.30 31.6 29.3 28.5 29.1 28.4 28.3 17.30 29.8 29.7 28.9 29.1 28.9 28.4
Suhu Tanah Gundul (°C) Suhu Tanah Berumput (°C) Waktu Pengamatan
(WIB)
Gambar 13. Temperatur Tanah Gundul dan Tanah Berumput Rata-rata pada Area Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
2.5 Data Iklim Bulan Februari 2021 Stasiun BMKG Provinsi Banten dan DKI Jakarta
No Pos Hujan Temperatur Rata - rata(0C) Kelembaban
Udara (%) Penyinaran Matahari (%)
Hujan
Rata-rata Maks Min Jumlah
(mm) Hari Hujan (hari) 1 Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan 26.9 33.6 22.8 86 46 468.7 17
2 Stasiun Meteorologi Curug 26.4 33.5 22.4 86 35 512.7 20
3 Stasiun Meteorologi Maritim Serang 26.9 33.0 23.0 85 26 283.2 19
4 Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok 27.6 32.3 23.5 83 44 467.1 20
5 Stasiun Geofisika Tangerang 26.7 33.8 23.0 88 48 572.1 21
6 Stasiun Meteorologi Cengkareng 26.6 34.2 21.8 84 42 471.1 21
7 Stasiun Meteorologi Kemayoran 27.3 34.0 23.8 82 46 604.4 20
Sumber : UPT BMKG Banten dan DKI Jakarta
3 PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL - JUNI 2021 3.1 Kondisi Dinamika Atmosfer Secara Global
Pada bulan Maret 2021 posisi semu matahari masih berada di Ekuator, diprakirakan suhu muka laut di wilayah equator mulai menghangat. Suhu muka laut yang hangat di wilayah tersebut berimplikasi terhadap terhadap munculnya pusat tekanan udara rendah dan jumlah uap air yang dihasilkan sehingga memungkinkan terbentuknya awan hujan disekitarnya.
Kondisi cuaca di Indonesia termasuk wilayah Banten dikendalikan / dipengaruhi oleh fenomena-fenomena dinamika atmosfer berskala global, regional hingga lokal yang saling berinteraksi dan membentuk pola serta variabilitas cuaca dan iklim. Berikut adalah berbagai indeks prakiraan kondisi yang menguraikan keadaan dinamika atmosfer sebagai bahan pertimbangan kondisi untuk bulan Maret s/d Agustus 2021:
1. Anomali Suhu Muka Laut (SST):
Kondisi anomali suhu muka laut di sebagian besar Benua Maritim Indonesia (BMI) bulan Maret 2021 diperkirakan Wilayah Samudera Hindia di bagian utara dan selatan masih didominasi anomali positif kemudian meluruh menuju normal hingga Agustus 2021. SST Pasifik di Wilayah Nino3.4 diprediksi masih didominasi anomali negatif pada Maret 2021 dan bertahan hingga Agustus 2021.
Gambar 14. Anomali Suhu Muka Laut
Sumber: NCEP-USA
2. SOI (Southern Oscillation Indeks) dan Nino3.4 :
Berdasarkan Gambar 15, diketahui bahwa Indeks Nino 3.4 bulan Januari 2021 tercatat pada kisaran -0.8 (Lanina) dan pada Bulan Februari 2021 di prediksi masih pada kategori Lanina. Berdasarkan rata-rata Ensemble Forecast, Indeks Nino 3.4 pada Bulan Maret diprakirakan akan mulai berada pada kategori Netral hingga bulan Agustus 2021.
Gambar 15. Prakiraan Anomali Wilayah Nino 3.4
Sumber : http://www.bom.gov.au/climate/ocean/outlooks/#region=NINO34
3. IOD (Indeks Ocean Dipole) :
Kondisi IOD (Indeks Ocean Dipole) di Samudera Hindia pada Januari 2021 masuk kategori Netral dan pada bulan Februari 2021 diprakirakan masih tetap netral. Umumnya diprediksi akan tetap pada kategori Netral hingga Agustus 2021.
Gambar 16. Prakiraan Indeks Dipole Mode
Sumber : http://www.bom.gov.au/climate/ocean/outlooks/#region=IOD 3.2 Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Bulan Februari Dasarian III Tahun 2021
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) pada Dasarian III Februari 2021 di wilayah Banten dan DKI Jakarta pada umumnya didominasi kategori Sangat Pendek (1-5 hari) dan Masih Ada Hujan sampai tanggal Update.
Gambar 17. Monitoring HTH bulan
Februari
Dasarian III 20213.3 Prakiraan Sifat Hujan Bulan April 2021
SIFAT HUJAN WILAYAH
Bawah Normal (BN) Kab. Pandeglang bagian Timur Laut dan bagian kecil Tengah.
Normal (N)
Hampir seluruh Wilayah Kab. Lebak kecuali bagian kecil Barat, Kota Tangerang, Kota Tangsel, dan Kab. Tangerang bagian Timur Laut, DKI Jakarta bagian Timur dan Barat, Kota Serang bagian Barat, Kota Cilegon bagian Timur, Kab. Serang bagian Tenggara, dan Kab. Pandeglang bagian Utara dan Selatan.
Atas Normal (AN)
Sebagian kecil DKI Jakarta bagian Timur Laut dan Tengah, Sebagian kecil Kota Tangerang bagian Timur Laut, Kab.
Tangerang bagian Barat, Kab Serang bagian Barat hingga Barat Laut, Kota Serang bagian Timur Laut, dan Sebagian kecil Kab Lebak bagian Barat.
Gambar 18. Peta Prakiraan Sifat Hujan Bulan April 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
3.4 Prakiraan Curah Hujan Bulan April 2021
CURAH HUJAN WILAYAH
Rendah
(0 – 100 mm) -
Menengah (101 – 300 mm)
DKI Jakarta, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kab.
Lebak kecuali bagian Barat Daya dan Barat, Kab.
Pandeglang bagian Utara dan Tengah.
Tinggi (301 – 400 mm)
Kab. Lebak bagian Barat Daya hingga Barat dan Kab.
Pandeglang bagian Selatan.
Sangat Tinggi
> 400 mm -
Gambar 19. Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan April 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
3.5 Prakiraan Sifat Hujan Bulan Mei 2021
SIFAT HUJAN WILAYAH
Bawah Normal (BN) DKI Jakarta bagian Tenggara, Kab.Lebak bagian Selatan, dan Kab. Pandeglang bagian Tengah, Selatan, hingga Barat Daya.
Normal (N)
Sebagian kecil Tengah DKI Jakarta, Kota Tangsel, Kab.
Tangerang bagian Tenggara, Kota Serang bagian Tenggara, Kab. Lebak bagian Utara hingga Tengah, Kab. Pandeglang bagian Utara, Tengah, dan Tenggara.
Atas Normal (AN)
DKI Jakarta bagian Timur Laut, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kab. Serang, Kota Cilegon, Kota Serang bagian Utara, Tengah, dan Sebagian kecil Selatan, dan Sebagian kecil Kab. Lebak bagian Timur.
Gambar 20. Peta Prakiraan Sifat Hujan Bulan Mei 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
3.6 Prakiraan Curah Hujan Bulan Mei 2021
CURAH HUJAN WILAYAH
Rendah (0 – 100 mm)
Sebagian kecil Kab. Tangerang bagian Utara, dan Sebagian kecil Kota Serang bagian Utara.
Menengah (101 – 300 mm)
DKI Jakarta, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kota Serang, Kota Cilegon, Kab.
Serang, Kab. Pandeglang, dan kab. Lebak kecuali bagian kecil Barat.
Tinggi
(301 – 400 mm) Sebagian kecil Kab. Lebak bagian Barat.
Sangat Tinggi
> 400 mm -
Gambar 21. Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan Mei 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
3.7 Prakiraan Sifat Hujan Bulan Juni 2021
SIFAT HUJAN WILAYAH
Bawah Normal (BN) -
Normal (N)
DKI Jakarta bagian Tengah dan Selatan, Kota Tangsel bagian Timur, Kota Tangerang bagian Timur, Kota Cilegon bagian Barat daya dan Tenggara, Kab. Lebak bagian Timur Laut, Tenggara, Selatan, dan Barat Daya, serta Kab. Pandeglang bagian Tenggara dan Timur Laut.
Atas Normal (AN)
DKI Jakarta bagian Timur Laut, Kab. Tangerang, Kota Tangerang bagian Barat, Kota Tangsel bagian Barat, Kota Serang, Kota Cilegon bagian Utara, Timur Laut, hingga Tenggara, Kab. Serang bagian Barat Daya, Kab. Pandeglang bagian Tengah dan Barat Daya, dan Kab. Lebak bagian Tengah dan Timur Laut.
Gambar 22. Peta Prakiraan Sifat Hujan Bulan Juni 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
3.8 Prakiraan Curah Hujan Hujan Bulan Juni 2021
CURAH HUJAN WILAYAH
Rendah (0 – 100 mm)
DKI Jakarta bagian Selatan, Kab. Tangerang bagian Utara, Kota Serang bagian Timur Laut, dan Sebagian kecil Kab. Serang bagian Barat.
Menengah (101 – 300 mm)
DKI Jakarta bagian Utara, Kab. Tangerang bagian Selatan, Kota Tangsel, Kota Tangerang, Kab. Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kab. Lebak, dan Kab. Pandeglang.
Tinggi
(301 – 400 mm) -
Sangat Tinggi
> 400 mm -
Gambar 23. Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan Juni 2021 Provinsi Banten dan DKI Jakarta
4 PRAKIRAAN POTENSI BANJIR PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
Prakiraan potensi banjir bulan April 2021 Provinsi Banten berada pada potensi Rendah dan DKI Jakarta berada pada potensi banjir Rendah, sedangkan pada bulan Mei 2021 Provinsi DKI Jakarta berada pada potensi banjir Rendah dan Provinsi Banten berada pada potensi Rendah hingga Aman.
4.1 Prakiraan Potensi Banjir Bulan April 2021
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui pada bulan April 2021 potensi banjir di wilayah Provinsi Banten dan DKI Jakarta seluruhnya masuk dalam kategori Rendah.
Gambar 24. Peta Prakiraan Potensi Banjir Bulan April 2021 Provinsi DKI Jakarta
Gambar 25. Peta Prakiraan Potensi Banjir Bulan April 2021 Provinsi Banten
4.2 Prakiraan Potensi Banjir Bulan Mei 2021
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui pada bulan Mei 2021 potensi banjir di wilayah Provinsi Banten dan DKI Jakarta seluruhnya masuk dalam kategori Rendah, kecuali Kab.
Pandeglang bagian Barat Daya hingga Barat masuk kategori Aman.
Gambar 26. Peta Prakiraan Potensi Banjir Bulan Mei 2021 Provinsi DKI Jakarta
Gambar 27. Peta Prakiraan Potensi Banjir Bulan Mei 2021 Provinsi Banten
5 ANALISIS INDEKS KEKERINGAN DAN KEBASAHAN BULAN DESEMBER 2020 - FEBRUARI 2021 DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
Monitoring Tingkat Kekeringan Berdasarkan Metode SPI
DAERAH
TINGKAT KEKERINGAN SANGAT
KERING KERING AGAK
KERING NORMAL
Jakarta - - -
Halim, Kemayoran, Tanjung Priok, Depok, Karet, Kedoya, Manggarai,
Pakubuwono, Pasar Minggu, Pulogadung, Rorotan, Setiabudi Timur,
Sunter Kodamar, Sunter Rawabadak, Waduk Melati
Tangerang - - Cipondoh,
Tegal Kemiri
Cengkareng, Curug, Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Sepatan, Mauk, Balaraja, Benda Sukamulya,
Kresek
Serang - - -
Kota Serang, Anyer, Carenang, Cicinta, Cinangka, ciruas, Kragilan Kalenpetung,
Kramatwatu Pegadigan, Mancak, Pabuaran, Padarincang, Pamarayan,
Pontang, Ragas Hilir, Singamerta, Walantaka
Pandeglang - - - Cimanggu, Cimanuk, Labuhan,
Mandalawang, Pagelaran
Lebak - - -
Bjojong Leles, Bojong Manik, Leuwidamar, Sajira, Cilaki/iminyak, Cimarga Palayangan, Cisalak baru,
Cisangu atas, Kec. Cimarga, Panggarangan, Rangkasbitung, Warung
gunung
Monitoring Tingkat Kebasahan Berdasarkan Metode SPI
DAERAH
TINGKAT KEBASAHAN
AGAK BASAH BASAH SANGAT BASAH
Jakarta - - -
Tangerang Curug, Benda Sukamulya Kresek -
Serang
Ciomas, Kramatwatu Pegadingan, Pabuaran,
Walantaka
Pamarayan -
Pandeglang Bd Ciliman, Cimanuk, Menes - Munjul
Lebak Bayah, Cijaku, Cimarga, Pasir Ona Rangkas
Banjar Irigasi, Cilemer,
Lebak Parahiang -
Gambar 28. Peta Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Gambar 29. Peta Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Provinsi DKI Jakarta
Gambar 30. Peta Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan
Wilayah Tangerang (Kota Tangerang, Kab. Tangerang, Kota Tangerang Selatan)
Gambar 31. Peta Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Wilayah Serang (Kota Serang, Kab. Serang, Kota Cilegon)
Gambar 32. Peta Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Kabupaten Pandeglang
Gambar 33. Peta Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Kabupaten Lebak
6 PRAKIRAAN INDEKS PRESIPITASI TERSTANDARISASI (SPI) 3 BULANAN PERIODE FEBRUARI - APRIL 2021 DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
Gambar 34. Peta Prakiraan Indeks Kekeringan Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Prakiraan Tingkat Kekeringan Berdasarkan Metode SPI
DAERAH
TINGKAT KEKERINGAN
SANGAT KERING KERING AGAK KERING
Jakarta - - -
Tangerang - - -
Serang - - -
Pandeglang - - -
Lebak - - -
Prakiraan Tingkat Kebasahan Berdasarkan Metode SPI
DAERAH
TINGKAT KEBASAHAN
AGAK BASAH BASAH SANGAT BASAH
Jakarta Kemayoran - -
Tangerang
Curug, Tangerang, Sepatan, Jatiwaringin,
Balaraja
Kresek Benda Sukamulya
Serang Carenang, Ciruas,
Kragilan Cicinta, Walantaka -
Pandeglang Munjul - -
Lebak Pasir Ona/Rangkas - -
7 ANALISIS KADAR AIR TANAH BULAN FEBRUARI 2021 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
8 ANALISIS KIMIA AIR HUJAN (KAH)
Data Kimia Air Hujan (KAH) dapat mengetahui informasi pertukaran polutan di atmosfer dengan permukaan bumi, dan sebagai bahan evaluasi model perpindahan polutan dari suatu daerah ke daerah lain (long range transport), serta sebagai bahan penilaian dampak deposisi asam terhadap ekosistem dan struktur perkotaan.
Pemantauan Kimia Air Hujan (KAH) di Indonesia dilakukan di 52 (Lima Puluh Dua) stasiun. Pengambilan sampel air hujan menggunakan Metode Wet Deposition dan Wet & Dry Depositition dengan alat Automatic Rain Water Sampler (ARWS).
Adapun parameter-parameter yang termasuk dalam KAH adalah : 1. Derajat Keasaman (pH)
2. Daya Hantar Listrik (DHL) dalam satuan (µS/cm) 3. Konsentrasi ion negatif (SO
42-, NO
3-, Cl
-) dalam satuan mg/L.
4. Konsentrasi ion positif (NH
4+, Na
+, K
+, Mg
2+, Ca
2+) dalam satuan mg/L
Gambar 35. Peta Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari 2021Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Parameter yang dianalisis di Lab Mini Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan yaitu derajat keasaman (pH), dan Daya Hantar Listrik (DHL). Metode analisis pH menggunakan metode elektroda gelas dengan instrumen analisis pH Meter. PH air hujan hujan menurut WMO berkisar antara 3,0 hingga 7,5 dengan pH ideal air hujan 5,6 bersifat asam. Bila pH air hujan terukur dibawah (asam) atau diatas pH ideal (basa), mengindikasikan bahwa air hujan tercemar polutan. Alat pengukuran analisis DHL berupa DHL Meter dengan metode sel konduktivias. Rentang nilai pengukuran DHL menurut WMO 0,1 sampai 1000 µS/cm (BMKG, 2018).
Pada Bulan Februari 2021, terdapat 3 periode sampling yaitu tanggal 8, 15, dan 22 Februari 2021. Hasil analisis pH air hujan pada bulan Februari tanggal 8, 15, dan 22 bersifat asam (dibawah pH ideal air hujan), dengan nilai sampel secara berurutan yaitu senilai 4.521, 5.037, dan 4.913. Hasil pengukuran DHL pada sampel air hujan tanggal 8 Februari 2021 sebesar 31.9 µS/cm, 15 Februari 2021 sebesar 34.4 µS/cm, dan tanggal 22 Februari 2021 sebesar 28.0 µS/cm.
Gambar 36. Grafik Kualitas Air Hujan (pH & Daya Hantar Listrik ) Tangerang Selatan Bulan Februari 2021
9 ANALISIS SUSPENDED PARTICULATED MATTER (SPM)
Pemantauan Suspended Particulated Matter (SPM) di Indonesia dilakukan di 31 stasiun. pemantauan SPM dilakukan dengan metode sampling menggunakan High Volume Sampler (HVS), sedangkan untuk analisis laboratorium menggunakan Neraca Analitik (Analytical Balance). Nilai baku mutu untuk (SPM) Suspended Particulated Matter sebesar 230 µg/m3 (BMKG, 2018)
Hasil analisa laboratorium pada bulan Februari 2021 di Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan menunjukkan bahwa kadar partikulat di Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan pada umumnya berada di bawah nilai baku mutu (230 µg/m3), seperti terlihat pada grafik di bawah ini :
Gambar 37. Grafik Analisis Suspended Particulated Matter (SPM) Februari 2021
Lampiran 1. Analisis Hujan Wilayah Banten dan DKI Jakarta Bulan Februari 2021
I. DKI JAKARTA 1. BMKG Kemayoran 411 349 - 473 604 AN 147 116-150
2. Tangerang Selatan (BMKG) 331 282 - 381 486 AN 147 116-150
3. Tanjung Priok (BMKG) 422 358 - 485 467 N 111 85-115
4. Cengkareng (BMKG) 353 300 - 406 474 AN 134 116-150
5. Halim (TNI AU) 431 366 - 495 763 AN 177 151-200
6. Pakubuwono 346 294 - 397 641 AN 185 151-200
7. Kedoya Selatan 400 340 - 460 595 AN 149 116-150
II. TANGERANG 8. Curug (BMKG) 297 253 - 342 516 AN 173 151-200
9. Stageof Tangerang 351 299 - 404 572 AN 163 151-200
10. Mauk 351 298 - 404 460 AN 131 116-150
11. Kresek 289 246 - 333 491 AN 170 151-200
12. Balaraja 257 218 - 295 379 AN 148 116-150
III. S E R A N G 13. Serang (BMKG) 260 221 - 299 283 N 109 85-115
14. C i o m a s 335 285 - 385 381 N 114 85-115
15. Cinangka 331 281 - 381 344 N 104 85-115
16. Ciruas (Singamerta) 267 227 - 307 329 AN 123 116-150
17. Kramat Watu 250 213 - 288 288 AN 115 116-150
18. Pamarayan 279 238 - 321 391 AN 140 116-150
19. Kasemen 199 169 - 229 332 AN 167 151-200
20. Mancak 385 327 - 443 299 BN 78 51-84
21. Carenang 309 262 - 355 428 AN 139 116-150
22. Padarincang 358 304 - 411 308 N 86 85-115
IV. PANDEGLANG 23. Pandeglang 445 378 - 512 270 BN 61 51-84
24. Labuan 332 283 - 382 184 BN 55 51-84
25. Menes 366 311 - 420 433 AN 118 116-150
26. Cibaliung 442 376 - 508 393 N 89 85-115
27. Munjul 372 316 - 428 711 AN 191 151-200
28. Cikeusik 385 327 - 443 489 AN 127 116-150
V. L E B A K 29. Banjarsari (Bd. Cilemer) 310 263 - 356 419 AN 135 116-150
30. Rangkasbitung 272 231 - 313 463 AN 170 151-200
31. Banjar Irigasi-Cipanas 352 299 - 404 550 AN 156 151-200
32. Bayah 332 282 - 381 374 N 113 85-115
33. Lebak Parahiang-Leuwidamar 330 280 - 379 336 N 102 85-115
34. Malingping 336 285 - 386 257 BN 76 51-84
35. BPP Sajira 333 283 - 383 348 N 104 85-115
36. Panyaungan Panggarangan 344 292 - 395 235 BN 68 51-84
WILAYAH STASIUN PENGAMATAN X (mm) N RR SIFAT % SIFAT
Keterangan : X : Rata-rata curah hujan bulanan (mm); Tahun 1981-2010 N : Normal curah hujan (antara 0.85 X – 1.15 X)
RR : Curah hujan bulan berjalan (mm)
Lampiran 2. Prakiraan Hujan Wilayah Banten dan DKI Jakarta Bulan April 2021
I. DKI JAKARTA 1. BMKG Kemayoran 163 139 - 188 151 - 200 N 104 85-115
2. Tangerang Selatan (BMKG) 245 208 - 282 201 - 300 N 104 85-115
3. Tanjung Priok (BMKG) 115 98 - 132 101 - 150 AN 120 116-150
4. Cengkareng (BMKG) 132 113 - 152 151 - 200 AN 116 116-150
5. Halim (TNI AU) 252 214 - 290 201 - 300 N 107 85-115
6. Pakubuwono 225 191 - 258 201 - 300 AN 118 116-150
7. Kedoya Selatan 174 148 - 200 151 - 200 N 108 85-115
II. TANGERANG 8. Curug (BMKG) 250 213 - 288 201 - 300 N 106 85-115
9. Stageof Tangerang 164 139 - 188 151 - 200 N 96 85-115
10. Mauk 98 84 - 113 101 - 150 N 112 85-115
11. Kresek 105 90 - 121 151 - 200 AN 186 151-200
12. Balaraja 140 119 - 161 151 - 200 AN 128 116-150
III. S E R A N G 13. Serang (BMKG) 137 116 - 157 101 - 150 N 105 85-115
14. C i o m a s 241 204 - 277 201 - 300 N 99 85-115
15. Cinangka 198 168 - 228 201 - 300 AN 118 116-150
16. Ciruas (Singamerta) 126 107 - 144 151 - 200 AN 123 116-150
17. Kramat Watu 121 103 - 139 101 - 150 N 103 85-115
18. Pamarayan 184 156 - 212 151 - 200 N 94 85-115
19. Kasemen 94 80 - 108 101 - 150 AN 119 116-150
20. Mancak 161 137 - 185 201 - 300 AN 141 116-150
21. Carenang 106 90 - 122 151 - 200 AN 154 151-200
22. Padarincang 309 263 - 356 301 - 400 N 100 85-115
IV. PANDEGLANG 23. Pandeglang 303 258 - 348 201 - 300 BN 80 51-84
24. Labuan 245 209 - 282 201 - 300 N 99 85-115
25. Menes 355 301 - 408 201 - 300 BN 82 51-84
26. Cibaliung 331 281 - 380 301 - 400 N 98 85-115
27. Munjul 334 284 - 384 201 - 300 BN 79 51-84
28. Cikeusik 324 276 - 373 301 - 400 N 102 85-115
V. L E B A K 29. Banjarsari (Bd. Cilemer) 229 195 - 264 301 - 400 AN 135 116-150
30. Rangkasbitung 235 199 - 270 201 - 300 N 91 85-115
31. Banjar Irigasi-Cipanas 303 258 - 349 201 - 300 BN 85 85-115
32. Bayah 274 233 - 315 201 - 300 N 99 85-115
33. Lebak Parahiang-Leuwidamar 264 224 - 303 201 - 300 N 101 85-115
34. Malingping 278 236 - 320 301 - 400 N 111 85-115
35. BPP Sajira 264 224 - 303 201 - 300 N 96 85-115
36. Panyaungan Panggarangan 267 227 - 307 301 - 400 N 114 85-115
N % SIFAT
WILAYAH STASIUN PENGAMATAN X (mm) RR SIFAT
Keterangan : X : Rata-rata curah hujan bulanan (mm); Tahun 1981-2010 N : Normal curah hujan (antara 0.85 X – 1.15 X)
RR : Prakiraan curah hujan (mm)
Lampiran 3. Prakiraan Hujan Wilayah Banten dan DKI Jakarta Bulan Mei 2021
I. DKI JAKARTA 1. BMKG Kemayoran 107 91 - 123 101 - 150 AN 128 116-150
2. Tangerang Selatan (BMKG) 190 161 - 218 151 - 200 N 90 85-115
3. Tanjung Priok (BMKG) 84 72 - 97 101 - 150 AN 119 116-150
4. Cengkareng (BMKG) 89 75 - 102 101 - 150 AN 154 151-200
5. Halim (TNI AU) 155 132 - 179 101 - 150 BN 78 51-84
6. Pakubuwono 180 153 - 206 101 - 150 BN 74 51-84
7. Kedoya Selatan 141 120 - 163 101 - 150 N 100 85-115
II. TANGERANG 8. Curug (BMKG) 206 175 - 237 201 - 300 N 109 85-115
9. Stageof Tangerang 124 105 - 143 151 - 200 AN 122 116-150
10. Mauk 81 69 - 93 51 - 100 AN 117 116-150
11. Kresek 86 73 - 99 101 - 150 AN 127 116-150
12. Balaraja 130 111 - 150 201 - 300 AN 166 151-200
III. S E R A N G 13. Serang (BMKG) 115 97 - 132 101 - 150 AN 124 116-150
14. C i o m a s 218 185 - 250 201 - 300 AN 124 116-150
15. Cinangka 124 105 - 142 151 - 200 AN 156 151-200
16. Ciruas (Singamerta) 101 86 - 117 151 - 200 AN 151 151-200
17. Kramat Watu 95 81 - 109 101 - 150 AN 118 116-150
18. Pamarayan 178 151 - 204 151 - 200 N 105 85-115
19. Kasemen 68 58 - 78 51 - 100 AN 145 116-150
20. Mancak 131 111 - 151 151 - 200 AN 116 116-150
21. Carenang 98 83 - 112 101 - 150 AN 138 116-150
22. Padarincang 182 154 - 209 201 - 300 AN 124 116-150
IV. PANDEGLANG 23. Pandeglang 259 220 - 298 201 - 300 N 92 85-115
24. Labuan 153 130 - 176 151 - 200 N 102 85-115
25. Menes 213 181 - 245 151 - 200 N 88 85-115
26. Cibaliung 242 206 - 278 151 - 200 BN 67 51-84
27. Munjul 241 205 - 278 151 - 200 BN 73 51-84
28. Cikeusik 187 159 - 215 151 - 200 N 87 85-115
V. L E B A K 29. Banjarsari (Bd. Cilemer) 139 118 - 160 101 - 150 N 102 85-115
30. Rangkasbitung 185 157 - 213 151 - 200 N 103 85-115
31. Banjar Irigasi-Cipanas 316 269 - 363 301 - 400 AN 120 116-150
32. Bayah 172 146 - 198 101 - 150 BN 83 51-84
33. Lebak Parahiang-Leuwidamar 182 155 - 209 151 - 200 N 90 85-115
34. Malingping 178 151 - 205 101 - 150 BN 73 51-84
35. BPP Sajira 241 205 - 277 201 - 300 N 87 85-115
36. Panyaungan Panggarangan 183 155 - 210 101 - 150 BN 82 51-84
N % SIFAT
WILAYAH STASIUN PENGAMATAN X (mm) RR SIFAT
Keterangan : X : Rata-rata curah hujan bulanan (mm); Tahun 1981-2010 N : Normal curah hujan (antara 0.85 X – 1.15 X)
RR : Prakiraan curah hujan (mm)