• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL EDUKASI SEBELAS APRIL Agustus 2017 Vol. 1 No. 2 PENGARUH MODEL MENGAJAR TGT TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL EDUKASI SEBELAS APRIL Agustus 2017 Vol. 1 No. 2 PENGARUH MODEL MENGAJAR TGT TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 55 PENGARUH MODEL MENGAJAR TGT TERHADAP HASIL BELAJAR

LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

Dadang Budi Hermawan [email protected]

Jurusan Pendidikan Olahraga STKIP Sebelas April Sumedang

Abstrak: Pencapaian tujuan pendidikan khususnya pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan tidak dapat dicapai dengan mudah, hal ini dikarenakan masih ditemukannya permasalahan di dalam pelaksanaannya. Salah satunya masih ada kurangnya guru yang berkompetensi dalam mengajarkan mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, hal ini dikarenakan masih ditemukannya mengajar yang tidak bersesuai dengan bidang akademik keahliannya.

Berdasarkan pengamatan peneliti di SMK KORPRI Sumedang, bahwa permasalahan yang timbul adalah masih rendahnya tingkat pengetahuan siswa tentang teknik-teknik lompat jauh. Berdasarkan permasalahan umum yang dihadapi khususnya gerak dasar lompat jauh gaya jongkok, maka peneliti merasa tertarik melakukan penilitian pada siswa kelas X SMK KORPRI Sumedang dengan menggunakan model pembelajaran TGT untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui besarnya pengaruh model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis melalukan penelitian dengan menggunakan metode eksperimen. Instrument yang digunakan yaitu tes lompat jauh yang ditulis Syarifudin (1992). Tes tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali yaitu tes awal dan tes akhir. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan Sampling purposive.

Sampel yang diambil sebanyak 25% dari jumlah populasi yaitu sebesar 29 siswa.

Berdasarkan hasil dari pengolahan data, penulis dapatmenarik simpulan bahwa model pembelajaran TGT memiliki pengaruh terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas X SMK KORPRI Sumedang. Adapun besarnya pengaruh taraf signifikannya ditentukan dengan hasil uji peningkatan yang menunjukan hasil signifikan pada taraf nyata 0,05 dengan derajat kebebasan 28, yaitu (thitung > ttabel yaitu17.4 > 1.701) dengan peningkatan rata-rata sebesar 0,30.

Kata kunci: Model pembelajaran TGT, LompatJauh Gaya Jongkok

(2)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 56 PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan bagian yang terpenting dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, kemampuan sosial, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yangdirencanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannasional.

Proses pengajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan memiliki empat unsur utama yaitu tujuan, substansi, metode dan strategi, dan asasmen serta evaluasi. Keempat unsur tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tugas utama guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah mengelola persiapan dan keterkaitan keempat unsur tersebut dalam sebuah mata rantai yaitu berawal pada

perencanaan tujuan dan berakhirnya pada gambaran pencapaian tujuan.

Lompat jauh merupakan keterampilan melompat sejauh-jauhnya dengan memindahkan seluruh tubuh dari titik tertentu ketitik lainnya.

Sedangkan teknik lompat jauh gaya jongkok merupakan spesifikasi dari lompat jauh. Selain kemampuan jauhnya lompatan dalam lompat jauh perlu diperhatikan juga tentang teknik dan gaya dalam lompat jauh, seperti lompat jauh gaya jongkok. Muhtar (2009: 52) mengemukakan pengertian lompat jauh sebagai berikut.

Lompat Jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara ( melayang di udara) yang di lakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada suatu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh –jauhnya.

Berdasarkan pengamatan peneliti di SMK KORPRI Sumedang, bahwa permasalahan adalah masih rendahnya

(3)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 57 tingkat pengetahuan siswa tentang

teknik-teknik lompat jauh. Di SMK KORPRI Sumedang. Berdasarkan permasalahan umum yang dihadapi guru penjas dalam menyampaikan materi khususnya gerak dasar lompat jauh gaya jongkok, maka peneliti merasa tertarik melakukan penilitian pada siswa kelas X SMK KORPRI Sumedang dengan judul, Pengaruh model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok?

2. Seberapa besar pengaruh model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok?

Tujuan Penelitian

Setelah mengetahui

permasalahan yang ada, tujuan yang ingin dicapai penulis adalah sebagai berikut

Tujuan Umum

Untuk memberikan gambaran dan data yang objektif kepada guru

pendidikan jasmani supaya mempunyai pertimbangan pentingnya mengenai model pembelajaran TGT pada saat pembelajaran khususnya pada saat mengajar lompat jauh gaya jongkok dalam olahraga atletik, dan umumnya pada pembelajaran Penjas.

Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok dalam olahraga atletik pada siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang.

b. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya gaya jongkok pada siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang.

LANDASAN TEORITIS Hakekat Lompat Jauh

Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dalam cabang olahraga atletik. Lompat jauh merupakan suatu bentuk gerakan melompat, melayang dan mendarat sejauh-jauhnya. Gerakan-gerakan dalam lompat jauh tersebut harus dilakukan secara baik dan harmonis

(4)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 58 tidak diputus-putus pelaksanaannya

agar diperoleh lompatan sejauh- jauhnya. Muhtar (2009: 52) mengemukakan pengertian lompat jauh sebagai berikut.

Lompat Jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara ( melayang di udara) yang di lakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada suatu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh –jauhnya.

Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik yang paling populer dan paling sering dilombakan dalam kompetisi kelas dunia, termasuk Olimpiade. Lompat jauh adalah suatu gerakan melompat ke depan atas dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.

Lompat jauh merupakan suatu gerakan melompat yang menggunakan tumpuan pada satu kaki untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya.

Sasaran dan tujuan lompat jauh adalah untuk mencapai jarak lompatan sejauh mungkin ke sebuah titik pendaratan atau bak lompat. Jarak lompatan diukur dari papan tolakan sampai ke batas terdekat dari letak titik pendaratan yang dihasilkan oleh bagian tubuh.

Teknik Lompat Jauh Gaya Jongkok Lompat jauh gaya jongkok dianggap mudah karena tidak banyak gerakan yang harus dilakukan pada saat melayang di udara, jika dibandingkan dengan gaya lainnya. Namun ada salah satu hal yang harus diperhatikan agar gaya pada saat melayang dapat dilakukan dengan benar yaitu pada gaya jongkok terletak pada saat membungkukkan badan dan menekuk kedua lutut serta menjulurkan kedua kaki ke depan dengan kedua lengan tetap ke depan untuk mendarat.

Awalan merupakan tahap pertama dalam lompat jauh.

Tujuanawalan adalah untuk mendapatkan kecepatan maksimal pada

(5)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 59 saat akanmelompat dan membawa

pelompat pada posisi yang optimal untuktolakan. Awalan lompat jauh harus dilakukan dengan harmonis, lancardan dengan kecepatan yang tinggi, tanpa ada gangguan langkah agardiperoleh ketepatan bertumpu pada balok tumpuan.

Menurut Muhtar (2009: 52) awalan atau ancang-ancang adalah

“Gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan (lompatan)”.Untuk menentukan jarak awalan sampai pada papan tolakan, dalam usaha tepat melakukan tolakan pada papan tolakan sesuai dengan papan kaki yang akan digunakan, biasanya di lakuan dengan tiga cara yaitu sebagai berikut.

1. Pelompat mencoba beberapa kali lari secepat-cepatnya dari batas permulaan untuk memulai melakukan awalan sampai pada papan tolakan apabila kaki yang akan di gunakan untuk menolak itu sudah tepat pada papan tolakan, baru di ukur.

2. Pelompat mencoba beberapa kali lari secepat- cepatnya, mulai dari papan tolakan ke tempat permulaan di mana ia mulai melakukan awalan apabila sudah tepat baru di ukur.

3. Mengkombinasikan dari kedua cara tersebut.

Pada waktu akan melakukan tolakan, badan agak di condongkan ke belakang, kaki tumpu atau kaki yang akan di gunakan untuk menolak lurus, sedangkan kaki ayun (kaki belakang) agak di bengkokkan. Berat badab berada pada kaki belakang, kedua tangan atau lengan ke belakang, dan kepala agak di tegakkan (dagu agak diangkat) dan pandangan ke depan.

Muhtar (2009: 53) mengemukakan sebagai berikut.

Tolakan adalah Perubahan atau perpindahan gerakan dari gerakan horizoltal ke gerakan vertikal yang di lakukan secara cepat. Pelompat harus siap mempersiapkan diri untuk melakukan tolakan sekuat- kuatnya pada langkah terakhir, sehingga seluruh tubuh terangkat ke atas melayang di

(6)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 60 udara. Dengan demikian

dapatlah dikatakan bahwa melakukan tolakan berarti pula merubah kecepatan horizontal menjadi kecepatan vertikal.

Pada waktu melakukan tolakan, yang perlu di lakukan antara lain adalah bersamaan dengan menolakan kaki tolak yang sekuat- kuatnya ke atas ke depan tepat pada papan tolakan, kaki belakang di ayunkan sekuat-kuatnya ke atas ke depan lurus dibantu dengan mengayunkan kedua tangan dari belakang ke depan ke atas.

Salah satu usaha untuk mengatasi daya tarik bumi tersebut yaitu harus melakukan tolakan yang sekuat-kuatnya disertai dengan ayunan dengan kedua tangan ke arah lompatan.

Semakin cepat awalan dan semakin kuat tolakan yang dilakukan, maka akan semakin lebih lama dapat membawa titik berat badan melayang di udara. Dengan demikian akan dapat melompat lebih tinggi dan lebih jauh, karena kedua kecepatan itu akan mendapatkan perpaduan (resultante)

yang menentukan lintasan gerak dari titik berat badan tersebut. Hal yang perlu diperhatikan pada saat melayang di udara yaitu menjaga keseimbangan tubuh, sehingga akan membantu pendaratan. Muhtar (2009: 54) mengemukakan sebagai berikut.

Salah satu usaha daya tarik bumi tersebut, dengan jalan si pelompat harus dapat melakukan tolakan yang sekuat-kuatnya disertai dengan ayunan kaki dengan kedua tangan ke arah lompatan.

Semakin cepat awalan dan semakin kuat tolakan yang di lakukan yang di lakukan oleh seorang pelompat, maka akan semakin lebih lama dapat membawa titik berat badan melayang di udara. Dengan demikian maka si pelompat akan dapat melompat lebih jauh atau lebih tinggi. Karena dari kedua kecepatan itu, kita akan mendapatkan perpaduan (resultante) yang menentukan gerakan dari titik berat badan tersebut.

(7)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 61 Pendaratan merupakan tahap

terakhir dari rangkaian gerakanlompat jauh. Pendaratan merupakan prestasi yang dicapai dalam lompatjauh.

Mendarat dengan sikap dan gerakan yang efisien merupakan kuncipokok yang harus dipahami oleh pelompat.

Mendarat dengan sikap badanhampir duduk dan kaki lurus ke depan merupakan pendaratan yangefisien.

Pada waktu mulai menyentuh pasir, pelompat memegaskan lututdan menggeserkan pinggang ke depan, sehingga badan bagian atasmenjadi agak tegak dan lengan mengayun ke depan. Muhtar (2009: 55) mengemukakan sebagai berikut.

Sikap mendarat pada lompat jauh, baik untuk lompat jauh gaya jongkok, gaya menggangtung, maupun gaya jalan di udara adalah sama, yaitu: pada waktu akan mendarat kedua kaki dibawah kedepan lurus dengan jalan mengangkat paha ke atas, badan di bungkukkan ke depan, kedua tangan ke depan.

Kemudian mendarat pada

kedua tumit terlebih dahulu dan mengeper, dengan kedua lutut dibengkokkan (ditekuk), berat badan ke depan supaya tidak jatuh ke belakang, kepala ditundukan, kedua tangan ke depan.

Gaya Mengajar TGT (TeamGames Tournament)

Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Taniredja (2014: 78) menjelaskan sebagai berikut.

Gaya mengajarTeams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung

(8)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 62 unsur permainan dan

reinforcement.

Teams games tournament (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh Davied Devries dan Keith Edward, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam model ini kelas terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan bekerjasama dalam kelompok- kelompok kecilnya. Pembelajaran dalam Teams games tournament (TGT) hampir sama seperti STAD dalam setiap hal kecuali satu, sebagai ganti kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT menggunakan turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu.Teams games tournament (TGT) telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dan paling cocok digunakan untuk mengajar tujuan pembelajaran yang dirumuskan

dengan tajam dengan satu jawaban benar, seperti perhitungan dan penerapan berciri matematika, dan fakta-fakta serta konsep IPA.

Pembelajaran Lompat Jauh Gaya Jongkok Menggunakan Gaya Mengajar TGT

Gaya mengajar TGT adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.

Husdarta (2010:36) mengemukakan sebagai berikut,

Peranan siswa adalah menghasilkan berbagai respons, dan memverifikasi respon tersebut untuk tugas yang di instruksikan oleh guru kepadanya. Sementara peranan guru adalah membuat keputusan yang tepat mengenai jawaban siswa serta menerima respon tersebut.

Dengan menggunakan gaya mengajar TGT ini dalam pembelajaran lompat jauh gaya jongkok diharapkan siswa dapat menemukan teknik dasar

(9)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 63 yang tepat yang sesuai dengan

kemampuannya dan keinginannya dalam melakukan teknik dasar lompat jauh gaya jongkok. Dari pernyataan diatas, maka gaya mengajar TGT memiliki hubungan terhadap keberhasilan belajar siswa pada umumnya, khususnya keberhasilan siswa dalam melakukan teknik dasar lompat jauh gaya jongkok.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, metode ini adalah metode

yang siswanya mencoba

memperaktikan suatu proses tersebut.

Setelah melihat atau mengamati apa yang telah di demonstrasikan oleh seorang demonstrator. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang yang jumlahnya orang.

Sampel yang diambil sebagian dari populasi sebanyak 29 orang. Mengenai penyebaran sampel penulis informasikan pada tabel sebagai berikut.

Untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis, membutuhkan data yang objektif. Data tersebut dapat

diperoleh melalui pengetesan dan pengukuran terhadap variabel terikat yang akan diteliti. Alat yang penulis gunakan untuk mendapatkan data dalam penelitian tes lompat jauh gaya jongkok yang ditulis oleh Nurhasan.

Tes tersebut berlaku untuk semua sampel kedua kelompok perlakuan dalam melakukan pengetesan untuk memperoleh data, penulis melaksanakan sebanyak dua kali, yaitu tes awal sebelum diberi perlakuan dan tes akhir sesudah diberi perlakuan. Dan observasi penelitian penulis mengambil gaya mengajar TGT untuk meningkatkan pembelajaran terhadap lompat jauh gaya jongkok.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Hasil Penelitian

Data dari penelitian ini diperoleh melalui bentuk tes lompat jauh gaya jongkok. Setelah data di identifikasi, langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data dan analisis data dengan menggunakan rumus-rumus statistik yang meliputi pengujian normalitas dan signifikansi serta uji hipotesis yang diketahui jawaban dari

(10)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 64 rumusan masalah dan dapat

membuktikan hipotesis yang diajukan.

Nilai Rata-Rata dan Standar Deviasi Nilai rata-rata dan standar deviasi dari setiap tes dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Rata-rata dan Standar Deviasi Nilai Tes Awal dan Tes Akhir

PeriodeTes Rata-rata Standar Deviasi

Tes Awal 1.99 0.18

Tes Akhir 2.86 0.36

Peningkatan 0.87 0.30

Berdasarkan tabel diatas, penulis dapat mengemukakan tes pengaruh gaya mengajar TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jonkok pada siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang, dengan nilai rata-rata 1.99 sedangkan nilai rata-rata tesakhir 2.86 (nilai tes awal lebih kecil dari tesakhir / 1.99 < 2.86). Maka peningkatan hasil belajar sebesar 0,87. Sedangkan simpangan baku tes awal 0,18, tesakhir 0.36, dan peningkatannya 0.30.

Uji Normalitas Data Tes Awal dan Tes Akhir

Setelah nilai rata-rata dan standar deviasi diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji Lilliefors.

Hasil pengujian normalitas data tes awal dan tes akhir sampel teruji pada table berikut.

Nilai𝐋𝐡𝐢𝐭𝐮𝐧𝐠 dan 𝐋𝐭𝐚𝐛𝐞𝐥Data TesAwaldanTesAkhir

PeriodeTes Lhitung

Ltabel Tafsiran

TesAwal 0.105 0.164 Normal TesAkhir 0.159 0.164 Normal

Dari tabel di atas dapat dilihat, Lhitungtes awal dan tes akhir lebih kecil dari Ltabel pada taraf nyata 0.05, yaitu Lhitung tes awal 0.105<

0.164 dan Lhitung tes akhir 0.159<

0.164 yang berarti data tersebut berdistribusi normal.

UjiPeningkatan (Signifikansi)

Setelah diketahui data dari setiap tes berdistribusi normal, makalangkah selanjutnya adalah uji peningkatan kedua kelompok sampel tersaji pada table berikut.

Hasil Uji Peningkatan (Signifikansi)

(11)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 65

Model PembelajaranTGT Tafsiran

17.4 1.701 Signifikan

Dari table diatas, pada kelompok nilaithitung= 17.4 dannilaittabel pada taraf nyata ∝ = 0.05 dalam dk (n - 1)

= 28 diperoleh ttabel = 1.701. Dengan demikian thitung berada di luar batas interval ttabel (thitung > ttabelyaitu 17.4 > 1.701). Maka dapat diartikan adanya perbedaan yang signifikan setelah diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran TGT.

Kurva Hasil Tes LompatJ auh Gaya Jongkok

Berdasarkan Gambar diatas diketahui bahwa thitung berada diluar interval−ttabelsampai denganttabel.

Dengan kata lain thitung > ttabel = 17.4 > 1.701 atau nilai thitung lebih besar daripada nilai ttabel, maka H0

ditolak artinya nilai peningkatan hasil tes model mengajar TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang. Dengan taraf nyata 𝛼 = 0,05 (angka kepercayaan atau keinginan peneliti memperoleh kebenaran sebesar 55% dan untuk kesalahan 5%) dalam db (n – 1) = 29-1

= 28.

PembahasanPenelitian

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan Sampling purposive. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sugiyono (2013: 68) mengungkapkan bahwa “Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu”.

Atas dasar ketersediaan waktu tenaga dan juga supaya penelitian ini terarah, maka penulis mengambil sampel dalam penelitian ini sebanyak 25% yaitu 29 siswa. Dengan demikian yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang yang

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

K U R V A P E N I N G K A T A N

Daerah Daerah

Penolakan

-1, 693 1 1

(12)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 66 jumlahnya orang. Sampel yang

diambil sebagian dari populasi sebanyak 29 orang

Berdasarkan data hasil penelitian dengan menggunakan beberapa system pengujian uji normalitas dan uji signifikan diperoleh hasil yaituLhitung tes awal 0.105 <

0.164 dan Lhitung tes akhir 0.159 <

0.164 yang berarti data tersebut berdistribusi normal. Uji signifikansi memperoleh hasil thitung > ttabel yaitu 17.4 > 1.701,dengan rata-rata peningkatan 0.87, sehingga menghasilkan data yang signifikan.

Dari pembahasan tersebut di atas dapat peneliti simpulkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan setelah diberiperlakuan dengan menggunakan model pembelajaran TGT terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemberian model pembelajaran TGT dalam meningkatkan hasil pembelajaran lompat jauh gaya siswa putra kelas X

SMK KORPRI Sumedang dan analisis data, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

1. Model Pembelajaran TGT memiliki pengaruh terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas X SMK KORPRI Sumedang.

2. Besarnya peningkatan kemampuan hasil pembelajaran lompat jauh gaya jongkok dibuktikan dengan uji peningkatan yang menunjukan signifikan pada taraf nyata (∝) = 0.05 (thitung > ttabelyaitu17.4 >

1.701) Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka penulis menyampaikan saran- saran sebagai berikut.

1. Kepada lembaga STKIP Sebelas April Sumedang prodi PJKR, merupakan masukan informasi yang berarti dalam rangka melaksanakan program pembelajaran untuk meningkatkan prestasi dalam cabang olahraga atletik lompat jauh gaya jongkok.

2. Kepada sekolah tempat penelitian, merupakan masukan secara ilmiah

(13)

JESA (Jurnal Edukasi Sebelas April) Vol. 1, No. 2 p-ISSN 2548-8988, e-ISSN 2548-8996 ©STKIP Sebelas April Sumedang 67 mengenai model pembelajaran

khususnya untuk meningkatkan kualitas teknik lompat jauh gaya jongkok.

3. Bagi guru mata pelajaran pendidikanjasmani, diusahakan untuk memberikan memakai model pembelajaran TGT sebagai alat pembelajaran lompat jauh gaya jongkok dalam cabang olahraga atletik.

4. Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti dengan masalah yang sama, diharapkan menggunakan sampel yang lebih banyak dan tidak hanya satu kategori, misalnya putra dan putri. Diharapkan juga dapat mencoba pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Baharidanswan.(2006).Strategi Belajar Mengajar.Jakarta : Rinekacipta.

Hasibuan dan Moedjino.(2006). Prose Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Hendrayana. (2007). Bermain atletik.

Jurusan Pendidikan Olahraga

dan Rekreasi Universitas Pendidikan Indonesia.

Jarver (2009).Belajar dan berlatih atletik.Bandung : CV.

Pionir Jaya.

Muhtar.(2009).Atletik.Bandung :Universitas pendidikan Indonesia.

Nurhasan. (2007). Tes dan Pengukuran keolahragaan. Bandung:

fakultas pendidikan olahraga dan kesehatan UPI Bandung.

Purnomo dan Dapan.(2001). Dasar- Dasar gerak atletik.

Yogyakarta: JL. Pandega Martha Ringroad Utara.

Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantatif kualitatif dan R & D.

Bandung:

Alfabeta.Sugiyono.(2013).Statistik auntuk penelitian.Bandung :Alfabeta.

Suherman.(2014). Statistika penjas.

Bandung :Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan UPI Bandung

Referensi

Dokumen terkait

tertinggi (53,79) diperoleh dengan cara Gambar 1 menunjukkan bahwa pening- mempertahankan 6 buah muda, namun tidak katan jumlah buah muda yang dipertahankan

Basic educa- tion conducted during the two (2) days (Saturday and Sunday) at the beginning of a member, and become one of the prime conditions for obtaining loans. Not all

We just installed 100,000 movie ratings, and we now have everything we need to actually run some Spark code and get some results out of all this work that we've done so far, so let's

terminal bayangan dibutuhkan aturan hukum yang tegas yang dijalankan oleh

9 Qatrunnada Salsabila Rohadatul 'Aisy 59 D فيعض * Bagi yang tidak lulus atau yang punya tanggungan. 10 Qotrunnada Salsabila 73 B ديج admistrasi / OSADU,

Kegiatan promosi merupakan peranan yang penting untuk berjalannya perusahaan start up yang masih belum dikenal oleh pasar, dimana tujuan dari promosi yaitu agar customer

Diharapkan kepada guru dalam mengembangkan dan meningkatkan pembelajaran PKn dengan menggunakan metode Mind Mapping sebagai salah satu alternatif metode

PERINGATAN HARI IBU BALAIKOTA YOGYAKARTA DIWARNAI DENGAN PEMBERIAN PENGHARGAAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TELAH BERPERAN AKTIF DALAM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN /.. PERLINDUNGAN ANAK /