1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kebudayaan pasti diperlukannya komunikasi, karena dalam berbicara, mengutarakan pendapat atau memberi saran kepada anggota masyarakat lainnya harus menggunakan komunikasi. Di dalam komunikasi tersebut juga diperlukannya sebuah media untuk menyampaikan pesan kepada khalayak atau masyarakat. Media komunikasi juga memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Bernard Berelson & Gary A. Steiner komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol- simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka, dan lain-lain (Darmawan, 2019). Maka dari itu komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting bagi seluruh aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Selain itu, menurut Raymond S.Ross, “Komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator” (Novianti et al., 2017). Maka tidak heran jika komunikasi berkembang dengan sangat pesat dari zaman ke zaman atau dari waktu ke waktu. Selain berperan yang sangat penting bagi seluruh aspek yang ada dalam kehidupan manusia, komunikasi juga berperan sangat penting dalam mempertahankan nilai-nilai budaya.
Dalam mempertahankan nilai-nilai budaya ini terdapat yang namanya komunikasi tradisional, komunikasi tradisional adalah proses penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak lain, dengan menggunakan media tradisional yang sudah lama digunakan di suatu tempat sebelum kebudayaannya tersentuh oleh teknologi modern (Irma, 2013). Selain itu, pengertian
2
komunikasi tradisional yang lainnya adalah gaya dan cara berkomunikasi yang berlangsung sama secara turun-temurun pada suatu masyarakat tertentu yang berbeda dengan masyarakat lainnya disebabkan oleh ciri-ciri khas sistem masyarakat dan tata nilai kebudayaan yang juga berbeda (Scharfstein & Gaurf, 2013).
Dalam berkomunikasi tentu diperlukannya media komunikasi dalam menyampaikan suatu pesan komunikasi, karena di dalam komunikasi mengandung definisi yang berisi penyampaian pesan kepada penerima pesan (komunikan) melalui media komunikasi yang bersifat modern maupun tradisional. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), media dapat diartikan sebagai berikut : (1) alat, dan (2) alat atau sarana komunikasi seperti majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk (Syaifudin, 2016). Tujuannya agar komunikan atau penerima pesan dapat mengerti serta memahami pesan yang disampaikan oleh pemberi pesan (komunikator). Karena dalam menyampaikan pesan manusia membutuhkan perantara. Di dalam komunikasi pesan tidak harus terjadi antar dua orang tetapi juga bisa terjadi antar kelompok. Dapat diketahui bahwa pesan yang akan disampaikan dapat dilakukan melalui komunikasi non-verbal. Dalam komunikasi non verbal, seseorang dapat menyampaikan pesan secara langsung tanpa menggunakan bahasa lisan atau verbal, melainkan melalui simbol atau melalui gerakan, ekspresi, maupun bahasa isyarat. Media komunikasi tradisional misalnya, media komunikasi ini bisa menjadi media untuk penyampaian pesan terhadap anggota masyarakat yang lain.
Menurut Yusni Lubis dalam tulisannya menyebutkan bahwa media tradisional juga biasanya dikenal sebagai media rakyat yang dipraktekkan secara turun temurun dari generasi ke generasi dalam berbagai bentuk yang sangat kompleks yang tidak hanya mengandung berupa cerita, mitos, dan dongeng, tetapi juga mengandung berbagai hal yang menyangkut
3
hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, seperti kearifan lokal (local wisdom), sistem nilai, pengetahuan tradisional (local knowledge), sejarah, hukum, pengobatan, sistem kepercayaan atau religi, hasil seni, dan upacara adat (Irma, 2013).
Selain itu, media tradisional merupakan bagian penting dari ruang lingkup kajian komunikasi. Secara umum media tradisional dimaksudkan sebagai proses penyampaian pesan melalui bermacam-macam media komunikasi yang bersifat tradisional atau sederhana, yang digunakan oleh sekelompok masyarakat tertentu yang berbeda dari kelompok masyarakat lainnya. Media tradisional ini juga merupakan media yang digunakan sebagai alat untuk berinteraksi, yang berlangsung secara turun-temurun pada suatu kelompok masyarakat tertentu yang berbeda dari kelompok masyarakat lainnya yang disebabkan oleh tata nilai kebudayaan yang berbeda.
Media komunikasi menjadi sangat penting di dalam menyampaikan pesan komunikasi.
Karena tanpa adanya media atau perantara maka pesan komunikasi tidak bisa tersampaikan dengan baik. Melalui media komunikasi diharapkan komunikator dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada komunikan agar dapat mudah dipahami oleh masyarakat.
Peran media tradisional dalam sistem komunikasi yaitu, media tradisional berperan sebagai sistem komunikasi yang mempunyai nilai tinggi. Karakteristik atau tanda-tanda informasi yang ada dalam pertunjukkan tradisional maupun dalam konteks kejadian, mengakibatkan orang-orang yang berasal dari sistem budaya lain dapat belajar dengan menyadari, memahami, dan menghayati ekspresi kesenian yang bersifat verbal dan material dari yang ditampilkan. Di samping itu, media tradisional memiliki potensi yang besar bagi komunikasi persuasif, komunikasi tatap muka, dan umpan balik yang segera. Ranganath juga mempercayai bahwa media tradisional dapat membawa pesan-pesan modern (Irma, 2013).
4
Sifat media tradisional itu sendiri adalah kerakyatan, yang berarti bentuk kesenian yang menunjukkan bahwa ia berakar pada kebudayaan rakyat yang hidup di lingkungannya atau sekitarnya. Seperti Ritual Manten Kopi, yang dalam penyajiannya ritual ini biasanya diiringi dengan bunyi gamelan dan jaranan. Sifat-sifat umum media tradisional, antara lain mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur, menggunakan bahasa daerahnya sendiri, memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan yang dibawanya, dan komunikasi bisa terjadi secara dua arah.
Nah, dalam Ritual Manten Kopi pasti ada yang namanya komunikasi ritual. Komunikasi ritual ini sendiri merupakan sebuah fungsi komunikasi yang digunakan untuk pemenuhan jati diri manusia sebagai individu, sebagai anggota komunitas sosial dan sebagai salah satu unsur dari alam semesta. Individu yang melakukan komunikasi ritual berarti menegaskan komitmennya kepada tradisi keluarga, suku, bangsa, ideologi atau agamanya (Manafe, 2011).
Komunikasi ritual erat kaitannya dengan komunikasi ekspresif yang biasanya dilakukan secara kolektif. Upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, upacara kematian, berdoa, shalat, sembahyang, misa, upacara bendera itu merupakan contoh dari komunikasi ritual. Dalam acara-acara tersebut, orang-orang biasanya mengucapkan kata- kata atau menampilkan perilaku-perilaku tertentu yang bersifat simbolik. Komunikasi ritual juga bersifat ekpresif, sebagai contoh : orang yang berdoa sambil menangis (Manafe, 2011).
Sejarah Ritual Manten Kopi sendiri berawal dari Perkebunan Kopi Karang Anyar yang berada di Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Awal ritual ini mucul sejak jaman kolonial (jaman penjajahan) atau pada masa kejayaan komoditas kopi yaitu sekitar tahun 1950 hingga 1960, pada waktu awal kemunculannya ritual ini digelar dengan sangat meriah. Digelarnya ritual ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur kepada sang pencipta
5
agar tahun-tahun berikutnya hasil panen lebih baik dan lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Dan pada tahun 2012 ritual ini telah dibuka untuk umum, dan ritual ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada bulan Juni atau bulan Juli. Tetapi dengan banyaknya kendala yang tidak bisa dijelaskan akhirnya Ritual Manten Kopi ditutup untuk sementara waktu dan dibuka kembali secara resmi pada tahun 2017 lalu. Dan dengan seiring berjalannya waktu tujuan dilaksanakannya ritual ini bukan hanya sebagai ucapan rasa syukur saja tetapi juga sebagai media untuk menarik wisatawan daerah maupun wisatawan asing untuk datang.
Tabel 1.1 : Data Kunjungan Wisatawan Ritual Manten Kopi
No. Tahun Usia Jumlah Orang
1. 2017 0 – 60 tahun 100.000
2. 2018 0 – 60 tahun 100.000
3. 2019 0 – 60 tahun 100.000
4. 2020 0 – 60 tahun 100.000
Sumber : Profil Desa Modangan, diakses pada tanggal 1 November 2020
Komunikasi yang terjadi dalam Ritual Manten Kopi tersebut dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan sebuah kelompok masyarakat terhadap sistem kepercayaan yang diyakininya. Dalam prosesnya selalu terjadi pemaknaan simbol-simbol tertentu yang menandakan terjadinya proses komunikasi tersebut. Contohnya penggunaan simbol-simbol dalam Ritual Manten Kopi seperti sejumlah pria dan wanita yang berpakaian adat Jawa dengan membawa sesajen serta diiringi musik gamelan dan dua tangkai buah kopi yang dijadikan simbol kopi lanang dan kopi wadon. Dalam komunikasi tradisional tersebut, kita dapat
6
mengenal simbol-simbol yang digunakan dalam ritual sebagai sarana masyarakat untuk menyampaikan pesan melalui perantara.
Berpijak pada uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar merupakan komunitas adat yang tidak meninggalkan kebiasaan, adat istiadat, dan tradisi leluhurnya dalam praktek kehidupan mereka. Termasuk yang ada di dalamnya seperti cara mereka menyampaikan informasi dan mewariskan nilai- nilai budaya secara turun-temurun.
Berbicara mengenai nilai-nilai budaya, Blitar merupakan salah satu kota kecil yang memiliki keanekagaraman budaya yang ada di dalam negara Indonesia dan mempunyai daya tariknya sendiri, dimana banyak wisatawan daerah hingga asing atau mancanegara untuk datang ke Blitar. Sebenarnya banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan para wistawan daerah dan asing atau mancanegara tersebut untuk datang ke Blitar, antara lain : terdapat peninggalan-peninggalan purbakala, adat istiadat, demikian pula kebudayaan yang ada dalam kota Blitar maupun kabupaten Blitar dengan berbagai aspek seperti : seni tari, seni musik, dan lain sebagainya. Semua aspek budaya yang ada dalam kota Blitar maupun kabupaten Blitar sekarang ini merupakan warisan dari nenek moyang maupun leluhur sejak dahulu kala.
Sehingga segala bentuk kebudayaan di Blitar sudah menjadi tradisi yakni warisan budaya yang ada dari nenek moyang maupun leluhur dan bersifat normatif sekaligus informatif bagi masyarakat.
Blitar sendiri merupakan salah satu kota kecil yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, yang terletak sekitar 80 km sebelah barat kota Malang. Blitar juga terkenal sebagai Kota Proklamator dan Kota Patria, kota ini juga terkenal sebagai Kota Peta (Pembela Tanah Air). Selain itu, Blitar juga terkenal karena nilai-nilai budayanya dan juga peninggalan
7
para leluhur zaman dahulu. Maka tak heran jika Blitar juga dikenal sebagai tempat pariwisata budaya. Salah satu budaya tradisional di Blitar yang masih bertahan hingga kini yaitu Ritual Manten Kopi yang sudah dijelaskan diatas. Ritual Manten Kopi merupakan media komunikasi masyarakat Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar dengan sesama anggota masyarakat, Tuhan Yang Maha Esa, dan wisatawan asing atau mancanegara yang datang.
Secara garis besar, Ritual Manten Kopi dikutip dari SURYA.co.id yang ditulis oleh Samsul Hadi –
“….. Sejumlah pria dan wanita berpakaian adat Jawa berjalan pelan dengan diiringi musik gamelan di Perkebunan Kopi Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar sambil membawa sesajen, mereka berjalan beriringan dari depan gudang menuju ke area kebun kopi”.
Oleh sebab itu, Ritual Manten Kopi termasuk produk wisata unggulan di Kabupaten Blitar khususnya di Desa Modangan Kecamatan Nglegok karena banyaknya wisatawan daerah maupun wisatawan asing yang datang dengan rasa keingin tahuan tentang tradisi atau ritual tersebut.
Untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya seharusnya kita sebagai generasi penerus berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga dan melestarikannya agar nilai-nilai budaya tersebut dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Dengan begitu maka nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki oleh negara Indonesia, dapat menarik wisatawan asing atau mancanegara untuk datang ke negara Indonesia.
Dari fenomena yang telah dijelaskan diatas bahwa Ritual Manten Kopi sangat melekat erat dengan kehidupan masyarakat Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang makna komunikasi ritual dalam media komunikasi tradisional yang digunakan oleh masyarakat di Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar dalam Ritual Manten Kopi. Berdasarkan uraian latar belakang yang
8
telah dijelaskan, maka peneliti mengangkat judul “MAKNA KOMUNIKASI RITUAL DALAM MEDIA KOMUNIKASI TRADISIONAL (Studi Etnografi Pada Ritual Manten Kopi di Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka rumusan masalah yang dapat dideskripsikan, yaitu : “Apa makna komunikasi ritual yang terkandung dalam Ritual Manten Kopi di Desa Modangan Kec. Nglegok Kab. Blitar ?”
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan memahami makna komunikasi ritual yang terkandung dalam Ritual Manten Kopi di Desa Modangan Kec.Nglegok Kab.Blitar
1.4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi dan pengembangan media komunikasi tradisional, khususnya bagi peneliti selanjutnya
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadikan masyarakat khususnya para pemuda untuk lebih kritis dan lebih aktif dalam membangkitkan semangat melestarikan budaya asli
9
dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan alternatif terkait dengan makna komunikasi ritual yang terkandung dalam Ritual Manten Kopi