Farmaka
Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 333
PENGGUNAAN PROBIOTIK DALAM MERINGANKAN DAN MENGOBATI IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS) : REVIEW
Rico Saputra1, Mutakin1
1Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor 45363
Abstrak
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan fungsional saluran cerna bagian bawaah yang dapat bersifat kronik dan dapat terjadi pada semua umur. Saat ini pengobatan untuk IBS dapat berupa antipasmodik, diet, psikoterapi dan juga probiotik. Penggunaan probiotik untuk mengurangi dan mencegah penyakit IBS saat ini sudah banyak digunakan karena beberapa penelitian telah membuktikan probiotik dapat probiotik mengeluarkan antibakteri dan efek antivirus yang menguntungkan, memiliki efek anti-inflamasi pada permukaan mukosa, serta bisa mengubah komposisi flora usus dimana dapat secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, perlu pengembangan dan penelitian lebih lanjut potensi probiotik yang dapat dijadikan sebagai obat yang dapat mengobati berbagai macam penyakit.
Kata kunci : Probiotik, IBS, mikroorganisme Abstract
Irritable Bowel Syndrome (IBS) is a functional disorder lower gastrointestinal tract which can be chronic and occur at everyone. Currently the treatment for IBS could be antipasmodik, diet, psychotherapy and probiotics. Probiotics has benefit to reduce and prevent IBS, because some studies have shown probiotics secrete an antibacterial and antiviral effect that is profitable, has anti-inflammatory effect on mucosal surfaces, and can alter the composition of the intestinal flora which can be directly or indirectly. Therefore, it needs further development and research to see the potential of probiotics that can be used as a medicine to treat various diseases.
Farmaka
Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 334
Keywords: Probiotics, IBS, microorganism Pendahuluan
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan fungsional saluran cerna bagian bawah berupa nyeri perut, gangguan pola buang air besar tanpa adanya gangguan organik1. IBS dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mengganggu saluran cerna seperti faktor psikologis2, sensitivitas terhadap makanan, pengaruh obat-obatan, genetik3, dan hormon4.
Gejala yang ditimbulkan dari IBS dapat berupa berupa nyeri perut dan perubahan pola buang air besar seperti diare, konstipasi atau diare bergantian serta kembung5. Selain itu penderita IBS juga sering mengeluhkan keinginan defekasi yang tidak bisa ditahan dan perasaan defekasi tidak sempurna, serta feses berlendir6.
Penyakit IBS telah mendapatkan perhatian cukup besar akibat semakin tingginya prevalensi dan gejala yang muncul bervariasi selama dua dekade terakhir. IBS termasuk kelompok penyakit gastrointestinal kronik yang
diklasifikasikan oleh the Rome foundation yang disebut sebagai Functional Bowel Disorders (FBD)5. Menurut Kriteria Rome II, kejadian IBS dengan prevalensi tertinggi adalah Kanada dan Amerika (12%)7.
Pengobatan IBS dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pemberian obat berupa antipasmodik, diet, psikoterapi dan juga dapat menggunakan probiotik.
Probiotik merupakan salah satu organisme yang dimasukkan ke dalam tubuh inang yang dengan mengubah flora dalam saluran pencernaan yang bermanfaat bagi kesehatan. Probiotik saat ini tersedia dalam bentuk olahan yang dibuat dari berbagai spesies bakteri dan jamur8.
Istilah probiotik yang digunakan berasal dari Roy Fuller yang mengartikan bahwa probiotik adalah suplemen mikroba hidup yang menguntungkan dan berpengaruh terhadap inang (host) dengan meningkatkan keseimbangan mikroba di usus9. Definisi dari probiotik sekarang dirancang oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan World health
Farmaka
Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 335
Organization (WHO) pada tahun 2001 yang mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup apabila diberikan dalam jumlah cukup, dapat memberikan pengaruh yang menguntungkan pada inang (host). Dan pada tahun 2002, melakukan evaluasi probiotik bagi kesehatan dari berbagai produk makanan10.
Probiotik adalah mikroorganisme yang menguntungkan jika diberikan dengan jumlah yang cukup, dapat digunakan untuk mencegah dan
pengobatan diare11. Probiotik juga bermanfaat bagi manusia tertutama dalam pencegahan dan pengobatan gangguan saluran cerna seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS). Salah satu hipotesis menyatakan penambahan probiotik kedalam tubuh dapat mencegah invasi, memodulasi imunitas luminal dan mengurangi dampak IBS12. Dalam review ini akan dijabarkan beberapa penelitian mengenai probiotik yang dimanfaatkan untuk mengobati IBS.
Metode
Metode yang digunakan dalam penyusunan review ini, menggunakan metode kajian pustaka dengan pengambilan data dari beberapa sumber data primer (jurnal) yang dibutuhkan sesuai dengan topik yang dibahas. Pengumpulan data menggunakan sumber atau literatur dalam bentuk data primer yang secara keseluruhan didapatkan beberapa jurnal yang dijadikan referensi.
Pencarian data menggunakan media online yaitu Pubmed, Google, dan situs jurnal yang terkait dengan tema. Kata kunci yang digunakan berupa “probiotic”, “Irritable
Bowel Syndrome”, “IBS”, dan
”treatment” Artikel dan jurnal yang digunakan untuk mendukung review ini adalah artikel/jurnal nasional maupun internasional terakreditasi yang memuat informasi mengenai pencegahan dan penanganan penyakit Irritable Bowel Syndrome (IBS) dengan probiotik dalam 20 tahun terakhir.
Hasil
Digunakan 6 studi penelitian yang melaporkan adanya pengaruh pemberian probiotik dalam mengobati dan meringkan penyakit IBS (Tabel 1).
Tabel 1. Studi Penggunaan Probiotik dalam Meringankan dan Mengobati IBS
Studi Metode Probiotik sumber Peserta;
Umur; (jumlah interverensi/jumlah
kontrol)
Durasi (minggu)
Hasil
Yoon et al., (2015)13
Randomization Blind Lactobacillus acidophilus, L.
rhamnosus, Bifidobacterium breve, B. actis, B. longum, Streptococcus thermophiles
IBS tanpa memiliki penyakit organik 19-85 (39/42)
4 Campuran dari probiotik dapat meningkatkan konsentrasi tinja dan meningkatkan gejala diare pada IBS
Faghihi et al., (2015)14
Uji Klinis dengan pendekatan terkontrol plasebo (double-blind randomized placebo- controlled trial)
Escherichia coli Nissle 1917 penderita IBS 20-50 (139/139)
6 -Pasien IBS dengan gejala dominan konstipasi tidak menunjukkan respon tehadap probiotik
-Pasien IBS yang mengalami diare menunjukkan respon positif terhadap probiotik Sinn et al.,
(2008) 15
Randomization and Double blind.
Lactobacillus acidophilus-SDC 2012, 2013
Penderita IBS 18-70 (20/20)
4 Probiotik yang diberikan memiliki efek positif Gawronska et al.,
(2007)16
Randomization and Double blind.
Lactobacillus rhamnosus GG Anak-anak Penderita IBS 6-16 (52/52)
4 LGG memberikan efek positif dalam pengobatan IBS
Whorwell et al., (2006)17
Randomization and Double blind Loperamide for diarrhoea and
bisocodyl for constipation permitted.
Bifidobacterium infantis 35624
Wanita penderita IBS 18-65 (270/92)
4 Mengurangi gejala IBS
O’Mahony et al., (2005)18
Randomization Lactobacillus salivarius UCC433 & Bifidobacterium infantis 35624,
Penderita IBS 18-73 (77/77)
8 B infantis 35624
meringankan gejala IBS
337 Dari studi penelitian tersebut,
didapatkan pemberian probiotik dapat mengobati penyakit IBS, kecuali pada penelitian Faghihi et al., 2015 menunjukkan pemberian probiotik kepada pasien IBS dengan gejala dominan konstipasi tidak memberikan efek. Semua studi penelitian melibatkan peserta IBS dengan rentang umur yang berbeda-beda.
Terdapat satu penelitian melibatkan pasien anak-anak16, dan satu penelitian melibatkan pasien wanita17.
Dalam studi penelitian, sumber probiotik yang digunakan berasal dari Lactobacillus acidophilus13,15, Lactobacillus rhamnosus13,16, Lactobacillus salivarius18, Bifidobacterium infantis17,18, Escherichia coli14, Bifidobacterium breve13, B. actis13, B.
longum13, dan Streptococcus thermophiles13.
Pembahasan
Penulisan ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian probiotik dalam mengurangi atau mengobati penyakit IBS dengan metode dan jenis probiotik yang berbeda. sumber probiotik
yang digunakan dari hasil berasal dari Lactobacillus acidophilus13,15, Lactobacillus rhamnosus13,16, Lactobacillus salivarius18, Bifidobacterium infantis17,18, Escherichia coli14, Bifidobacterium breve13, B. actis13, B.
longum13, dan Streptococcus thermophiles13.
Probiotik adalah mikroba yang menguntungkan dengan cara meningkatkan keseimbangan mikroba di usus.
Pada studi Yoon et al., (2005) yang menggunakan campuran probiotik (Lactobacillus acidophilus, L. rhamnosus, Bifidobacterium breve, B. actis, B. longum, Streptococcus thermophiles) dalam bentuk kapsul diberikan ke sejumlah pasien. Hasil menunjukkan perubahan setelah pemberian probiotik dalam sampel feses sebelum dan sesudah masa studi. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat probiotik pada kelompok plasebo. Namun, konsentrasi meningkat secara signifikan setelah konsumsi pada kelompok probiotik. Ketika intervensi terapeutik pada pasien dengan IBS, efek terapi dapat ditentukan dengan menggunakan respon
subjektif pasien, terlepas dari perbaikan apapun dalam gejala obyektif. Hal ini menegaskan pentingnya aspek psikologis dalam persepsi gejala pada pasien IBS13.
Penggunaan probiotik dari bakteri E.coli Nissle 1917 dapat merangsang IL-10 memproduksi sel perifer mononuklear19, meningkatkan motilitas usus20, mencegah patogen masuk ke dalam mukosa 21, dan menginduksi sintesis peptida antimikroba dan sintesis protein di sel epitel usus22. Dalam literatur yang ada, E.coli Nissle 1917 menghambat hipersensitivitas viskeral yang berhubungan dengan asam trinitrobenzensulfonik (TNBS) pada radang usus besar.23
Studi dari Sinn et al. (2008) efek dari pemberian probiotik berupa Lactobacillus acidophilus-SDC 2012, 2013 dapat menurunkan gejala IBS seperti diare dan sakit perut sebesar 20% dibandingkan dengan plasebo. Manfaat yang diamati dari Lactobacillus acidophilus-SDC 2012, 2013 bisa dari efek anti-inflamasi atau dengan memperbaiki hubungan disfungsional antara flora asli dan host15.
Dalam studi Gawronska et al., (2007) 7 dari peserta 37 (19%) dengan IBS
melaporkan keberhasilan pengobatan dimana pemberian LGG dapat mengurangi frekuensi sakit, meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam persepsi rasa sakit16.
B. infantis 35624 adalah pengobatan yang aman dan efektif untuk pasien IBS dengan gejala ringan sampai sedang. dan memiliki keunggulan khusus yang dapat diberikan kepada pasien IBS dengan gejala diare atau sembelit. Hal ini terlihat dari pemberian probiotik B.
infantis dapat menurunkan gejala hingga 20%. B. infantis 35624 digunakan untuk mengembalikan keseimbangan sitokin normal pada individu18. Studi Whorwell et al., (2006) ini memberikan bukti dalam formulasi tepat, probiotik B. infantis 35624 pada tingkat dosis 1 × 108 cfu, efektif dalam mengurangi gejala IBS , meskipun dilakukan dalam studi jangka pendek, yaitu 4 minggu17.
Probiotik dari L salivarius UCC4331 dipilih berdasarkan aktivitas in vitro terhadap beberapa patogen, toleransi terhadap asam dan empedu18. Sedangkan B infantis 35624 dipilih dari antara beberapa probiotik karena toleransi terhadap asam
339 dan empedu dan pernah dilakukan
percobaan pada tikus penyakit IBS dan terbukti sangat efektif dalam mengubah flora usus dan dalam mengurangi perubahan inflamasi yang terjadi24.
Probiotik secara umum tampaknya memiliki sifat yang mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh, motilitas, dan lingkungan intralumen. menunjukkan bahwa peran mereka dalam IBS dapat memperbaiki hubungan disfungsional antara flora asli dan host 25,26.
Perubahan sitokin pada antiinflamasi atau proinflamasi setelah digunakan probiotik menunjukkan bahwa probiotik memiliki efek anti-inflamasi. Hal ini sesuai dengan manfaat yang ditunjukkan dalam penyakit IBS27.
Terdapat beberapa alasan mengapa probiotik memiliki efek terapeutik pada IBS. Pertama, banyak organisme probiotik mengeluarkan antibakteri dan efek antivirus yang dapat mencegah IBS28,29. Kedua, probiotik memiliki efek anti- inflamasi pada permukaan mukosa.
Dengan mengurangi peradangan mukosa, probiotik dapat menurunkan aktivasi imun yang dimediasi motor enterik dan neuron
sensorik serta memodifikasi jalur saraf antara usus dan sistem saraf pusat 24,30. Ketiga, probiotik bisa mengubah komposisi flora usus dimana dapat secara langsung (melalui augmentasi lactobacilli atau bifidobacteria dan eliminasi patogen) atau secara tidak langsung (melalui pengurangan inflamasi terkait patogen atau fermentasi 31) yang berpengaruh fungsi usus bakteri. probiotik bisa mengubah volume dan komposisi feses32 atau dapat meningkatkan sekresi lendir di usus33 sehingga dapat mengurangi gejala seperti sembelit dan diare.
Pemilihan jenis probiotik yang digunakan tergantung kepada gejala dan keparahan penyakit IBS yang diderita pasien, jenis probiotik pada mikroorganisme tertentu mungkin memiliki sifat yang unik yang sangat penting dalam pengelolaan IBS17. Dan juga, jenis probiotik tertentu mungkin relatif sulit untuk bertahan di usus manusia setelah menelan secara singkat13.
Simpulan
Probiotik adalah mikroba yang menguntungkan dengan cara
meningkatkan keseimbangan mikroba di usus yang dapat mengurangi dan mengobati penyakit IBS. Berdasarkan review yang dilakukan, dapat diketahui probiotik yang berasal dari berbagi mikroorganisme berperan penting dalam mengurangi dan mengobati IBS. Oleh sebab itu, perlu pengembangan dan penelitian lebih lanjut potensi probiotik yang dapat dijadikan sebagai obat yang lebih memilik efek terapi tinggi.
Ucapan Terimakasih
Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada, Tuhan Yang Maha Esa, Orangtua dan Keluarga, Mutakin, Ph.D., Apt. selaku dosen pembimbing, Rizky Abdulah Ph.D., Apt.
selaku dosen metodologi penelitian, serta teman – teman angkatan 2013 yang telah membantu baik secara moril maupun materil dalam menyelesaikan review ini.
Konflik Kepentingan
Seluruh penulis menyatakan tidak terdapat potensi konflik kepentingan dengan penelitian, kepenulisan
(authorship), atau dalam publikasi artikel ini.
Daftar Pustaka
1. Drossman, D. A., Camilleri, M., Mayer, E. A., & Whitehead, W. E.
AGA technical review on irritable bowel syndrome. Gastroenterology.
2002;123(6) : 2108-2131.
2. Simrén, M., Axelsson, J., Gillberg, R., Abrahamsson, H., Svedlund, J., &
Björnsson, E. S. Quality of life in inflammatory bowel disease in remission: the impact of IBS-like symptoms and associated psychological factors. The American journal of gastroenterology.
2002;97(2): 389-396.
3. Saito, Y.A. The role of genetics in IBS. Gastroenterol Clin North Am.
2011;40(1): 45-67.
4. Mulak, A., Tache, Y., and Larauche, M. Sex hormones in the modulation of IBS. World J Gastroenterol.
2014;20(10): 2433-2448.
5. Grundmann, oliver & Saunjoo L Yoon. Irritable bowel syndrome:
Epidemiology, diagnosis and
341 treatment: An update for health-care
practitioners. Journal of Gastroenterology and Hepatology.
2010;25(4): 691-699.
6. Moraes-Filho, J. P., & Quigley, E. M.
The intestinal microbiota and the role of probiotics in irritable bowel syndrome: a review. Arquivos de gastroenterologia. 2015;52(4): 331- 338.
7. Gwee, K.A., Bak, YB, Ghoshal, U.C., Gonlachanvit, S., Lee, O.Y., Fock, K.M.Asian consensus on irritable bowel syndrome. Journal of Gastroenterology and Hepatology.
2010;25(7): 1189-205.
8. Gogineni VK, Morrow LE, Gregory PJ, Malesker MA. Probiotics: History and Evolution. Journal of Ancient Diseases & Preventive Remedies.
2013; 1(2): 1-7.
9. Anukam, Kingsley C., and Gregor Reid. Probiotics: 100 years (1907- 2007) after Elie Metchnikoff’s observation. Communicating current research and educational topics and trends in applied microbiology. 2007;
1: 466-474.
10. World Health Organization. Probiotics in food: health and nutritional properties and guidelines for evaluation. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations; 2006.
11. Kligler B, Cohrssen A. Probiotics.
American Family Physician.
2008;78(9).
12. Brenner DM, Moeller MJ, Chey WD, Schoenfeld PS. The utility of probiotics in the treatment of irritable bowel syndrome: a systematic review.
Am. J. Gastroenterol. 2009;104: 1033- 49.
13. Yoon, H., Park, Y. S., Lee, D. H., Seo, J. G., Shin, C. M., & Kim, N. Effect of administering a multi-species probiotic mixture on the changes in fecal microbiota and symptoms of irritable bowel syndrome: a randomized, double-blind, placebo- controlled trial. Journal of clinical biochemistry and nutrition.
2015; 57(2): 129.
14. Faghihi, A. H., Agah, S., Masoudi, M., Ghafoori, S. M., & Eshraghi, A.
Efficacy of Probiotic Escherichia coli
Nissle 1917 in Patients with Irritable Bowel Syndrome: a Double Blind Placebo-controlled Randomized Trial. Acta Medica Indonesiana.
2015;47(3): 201-208.
15. Whorwell, P. J., Altringer, L., Morel, J., Bond, Y., Charbonneau, D., O'Mahony, L et al. Efficacy of an
encapsulated probiotic
Bifidobacterium infantis 35624 in women with irritable bowel syndrome. The American journal of gastroenterology. 2006; 101(7): 1581- 1590.
16. Sinn, D. H., Song, J. H., Kim, H. J., Lee, J. H., Son, H. J., Chang, D. K et al. Therapeutic effect of Lactobacillus acidophilus-SDC 2012, 2013 in patients with irritable bowel syndrome. Digestive diseases and sciences. 2008;53(10): 2714-2718.
17. Gawrońska, A., Dziechciarz, P., Horvath, A., & Szajewska, H. A randomized double‐blind placebo‐
controlled trial of Lactobacillus GG for abdominal pain disorders in children. Alimentary pharmacology &
therapeutics. 2007;25(2): 177-184.
18. O’Mahony, L., McCarthy, J., Kelly, P., Hurley, G., Luo, F., Chen, K., et al.
Lactobacillus and bifidobacterium in irritable bowel syndrome: symptom responses and relationship to cytokine profiles. Gastroenterology.
2005;128(3): 541-551.
19. Helwig U, Lammers KM, Rizzello F, Brigidi P, Rohleder V, Caramelli E, et al. Lactobacilli, bifidobacteria and E.
coli nissle induce pro- and anti- inflammatory cytokines in peripheral blood mononuclear cells. World J Gastroenterol. 2006;12(37): 5978-86.
20. Bär F, Von Koschitzky H, Roblick U, Bruch HP, Schulze L, Sonnenborn U, et al. Wedel T. Cell-free supernatants of Escherichia coli Nissle 1917 modulate human colonic motility:
evidence from an in vitro organ bath study. NeurogastroenterolMotil.
2009;21(5): 559-566.
21. Altenhoefer A, Oswald S, Sonnenborn U, Enders C, Schulze J, Hacker J, et al. The probiotic Escherichia coli strain Nissle 1917 interferes with invasion of human intestinal epithelial cells by different enteroinvasive
343 bacterial pathogens. FEMS Immunol
Med Microbiol. 2004;40(3): 223-229.
22. Cichon C, Enders C, Sonnenborn U, Schmidt MA. DNA-microarray-based comparison of cellular responses in polarized T84 epithelial cells triggered by probiotics: E. coli Nissle 1917 (EcN) and Lactobacillus acidophilus PZ1041. Gastroenterol. 2004;126(4):
A-578–A-579.
23. Liebregts, T., Adam, B., Bertel, A., Jones, S., Schulze, J., Enders, C et al.
Effect of E. coli Nissle 1917 on post‐
inflammatory visceral sensory
function in a rat
model. Neurogastroenterology &
Motility. 2005;17(3): 410-414.
24. McCarthy, J., O’mahony, L., O’callaghan, L., Sheil, B., Vaughan, E. E., Fitzsimons, N et al. Double blind, placebo controlled trial of two probiotic strains in interleukin 10 knockout mice and mechanistic link with cytokine balance. Gut.
2003;52(7): 975-980.
25. Quigley, E. M. M., & Flourie, B.
Probiotics and irritable bowel syndrome: a rationale for their use and
an assessment of the evidence to date.Neurogastroenterology &
Motility. 2007; 19(3): 166-172.
26. Camilleri, M. Probiotics and irritable bowel syndrome: rationale, putative mechanisms, and evidence of clinical efficacy. Journal of clinical gastroenterology. 2006;40(3): 264- 269.
27. Camilleri, M. Is there a role for probiotics in irritable bowel syndrome?. Digestive and Liver Disease. 2006;38: S266-S269.
28. Isolauri, E., Kirjavainen, P. V., &
Salminen, S. Probiotics: a role in the treatment of intestinal infection and inflammation?. Gut. 2002;50(suppl 3):
iii54-iii59.
29. von Wright, A., & Salminen, S.
Probiotics: established effects and open questions. European journal of gastroenterology & hepatology. 1999;
11(11): 1195-1198.
30. O'mahony, L., Feeney, M., O'halloran, S., Murphy, L., Kiely, B., Fitzgibbon, J et al. Probiotic impact on microbial flora, inflammation and tumour development in IL‐10 knockout
mice. Alimentary pharmacology &
therapeutics. 2001;15(8): 1219-1225.
31. King, T. S., Elia, M., & Hunter, J. O.
Abnormal colonic fermentation in irritable bowel syndrome. The Lancet.
1998;352(9135): 1187-1189.
32. Jiang, T., & Savaiano, D. A.
Modification of colonic fermentation by bifidobacteria and pH in vitro (impact on lactose metabolism, short- chain fatty acid, and lactate production). Digestive diseases and sciences. 1997;42(11): 2370-2377.
33. Ouwehand, A. C., Lagström, H., Suomalainen, T., & Salminen, S.
Effect of probiotics on constipation, fecal azoreductase activity and fecal mucin content in the elderly. Annals of nutrition and metabolism. 2002;46(3- 4): 159-162.