• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada saat ini dunia digemparkan dengan wabah penyakit yang disebabkan oleh virus Covid-19 (Corona Virus Disease-19). Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menyatakan keadaan ini sebagai pandemi global. Oleh sebab itu, pemerintah menerapkan kebijakan ketat untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. Hal ini berakibat pada sistem pendidikan juga yaitu berpindahnya kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi di rumah dan dilakukan secara online. Pendidikan secara oflline ataupun online diharapkan dapat mempersiapkan kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan siswa ke kehidupan sehari-hari.

Kemampuan tersebut diharapkan dapat dikembangkan dalam pendidikan melalui mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Harapan tersebut tercermin dalam kompetensi-kompetensi inti pada standar isi kurikulum 2013. Kompetensi Inti (KI) domain kognitif untuk setiap mata pelajaran adalah untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahu siswa tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. Kompetensi Inti domain keterampilan untuk setiap mata pelajaran adalah mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. (Mendikbud, 2013)

Salah satu bidang ilmu yang diajarkan di sekolah adalah matematika.

Pada proses pembelajaran matematika, literasi merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa. Literasi matematika memiliki peran penting dalam membantu siswa menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penerapan matematika dalam kehidupan (Hasanah et al., 2016).

1

(2)

Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) mendefinisikan literasi matematika sebagai kemampuan individu untuk merumuskan, menggunakan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, sebagai alat untuk mendeskripsikan, menjelaskan serta memprediksi suatu fenomena atau kejadian. Oleh sebab itu, siswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang matematika, tetapi siswa harus memiliki pemahaman serta mampu untuk mengidentifikasi setiap permasalahan yang diberikan dalam matematika.

Fathani (2016) berpendapat bahwa literasi matematika tidak hanya mementingkan pada penguasaan materi, melainkan juga memperhatikan penguasaan pada penggunaan penalaran, konsep, fakta, dan alat matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari. Literasi matematika membekali siswa dengan kesadaran dan pemahaman tentang peranan matematika di dunia modern. jadi, diperlukan kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan literasi matematika siswa.

Menurut Kuswidi (2015) literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/kejadian.

Pendapat Fathani dan Kuswidi merujuk pada hal yang sama yaitu bagaimana cara penggunaan pengetahuan matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari secara efektif.

Menurut Yunus Abidin, Tita Mulyati, dan Hanna Yunansah (2017:108) kemampuan dasar matematika yang menjadi pokok dalam proses literasi matematika meliputi (1) literasi, (2) mematematisasi, (3) representasi, (4) penalaran dan pemberian alasan, (5) strategi untuk memecahkan masalah, (6) penggunaan operasi dan simbol, bahasa formal, dan bahasa teknis, (7) penggunaan alat matematika. Komponen proses sendiri menggambarkan situasi permasalahan yang ada pada kehidupan sehari-hari.

(3)

Bagian penting dalam literasi matematika yaitu proses matematisasi.

Proses yang dimaksudkan yaitu proses merumuskan, menggunakan dan menafsirkan serta mengevaluasi matematika dalam berbagai konteks. Dalam pelaksanaannya pemilihan cara ataupun representasi sangat bergantung pada situasi atau konteks masalah yang akan dipecahkan. Hal ini memerlukan keterampilan siswa untuk menerapkan pengetahuannya dalam berbagai konteks (Sari, 2015)

Kebijakan pendidikan Indonesia dalam merespon PISA yaitu memberi soal HOTS (higher order thinking skill). Menurut Anderson dan Krathwohl (dalam Dafik, 2014) soal HOTS adalah soal evaluasi yang melibatkan kognisi tingkat tinggi dari Taksonomi Bloom. Soal HOTS dirancang untuk berfikir aplikatif dalam pembelajarannya. Pada konsep ini diharapkan siswa mampu mengaplikasikan yang diketahui dan menjadi solusi bagi permasalahan di kehidupan sehari-hari.

Penetapan soal HOTS pernah menjadi perbincangan masyarakat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan secara tidak langsung bahwa penambahan nilai HOTS pada ujian nasional tahun 2018 merupakan respon Indonesia terkait dengan capaian PISA

“…pembelajaran matematika Indonesia masih kurang tepat. Standar PISA menggunakan sistem pendidikan HOTS sementara Indonesia masih menggunakan LOTS sehingga tidak nyambung” (Rizal, 2018)

PISA mempunyai karakter tersendiri dalam penyusunan soal literasi matematika, yaitu harus memperhatikan tiga dimensi di dalamnya. Dimensi tersebut adalah konten, proses, dan konteks. Jika dilihat dari konten, PISA membagi menjadi empat bagian, yaitu : (1) ruang dan bentuk, (2) perubahan dan hubungan, (3) bilangan, (4) probabilitas atau ketidakpastian. Apabila dilihat dari cabang ilmu matematika, beberapa guru sekolah menengah berpendapat bahwa masih banyak siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika terutama terkait dengan aljabar. Materi aljabar ini apabila dikaitkan dengan konten PISA termasuk dalam bagian perubahan dan hubungan.

(4)

Penyelesaian masalah kontekstual termasuk dalam soal model PISA, siswa memerlukan kemampuan memahami masalah, menganalisis, melakukan perhitungan, bernalar, dan berabstraksi. Materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) berisi beberapa aplikasi permasalahan kehidupan atau kejadian yang terjadi di sekitar siswa. Hal tersebut berupa soal cerita yang dapat memunculkan literasi matematika pada saat siswa menyelesaikan permasalahan tersebut.

Mahdiansyah dan Rahmawati (2014) mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi capaian literasi matematika di Indonesia yaitu: faktor personal, faktor instruksional dan faktor lingkungan. Faktor personal dibagi menjadi 2 yaitu faktor kognitif dan faktor non kognitif. Salah satu dari faktor personal non kognitif yaitu aktivitas belajar siswa.

Salah satu faktor penting pada kegiatan belajar adalah aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa cukup bervariasi, antara lain mencatat materi, mendengarkan penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan guru, mengerjakan soal, dan lain-lain. Daya ingat rendah terhadap materi pelajaran dapat disebabkan karena aktivitas belajar siswa yang rendah. Hal ini dapat mempengaruhi rendahnya prestasi belajar matematika. Akan tetapi, siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi pada proses pembelajaran akan terlibat aktif pada setiap kegiatan pembelajaran sehingga mempengaruhi kenaikan prestasi belajar. Siswa yang memiliki aktivitas belajar sedang memerlukan dorongan motivasi agar lebih terlibat aktif pada kegiatan pembelajaran. Guru diharap mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan dan kondusif agar setiap siswa mau terlibat lebih aktif pada proses pembelajaran mengingat pentingnya aktivitas belajar siswa pada kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar yang dicapai akan memuaskan apabila suasana belajar tersebut didukung dengan aktivitas belajar ini.

Penerapan model pembelajaran online menuntut siswa supaya lebih giat dan aktif pada proses pembelajaran agar siswa dapat menguasai dan memahami pembelajaran dengan baik. Aktivitas belajar siswa di rumah

(5)

diharapkan tidak mengganggu proses belajar siswa dan tidak menurunkan aktivitas belajar siswa seperti saat di sekolah.

Berdasarkan uraian diatas, literasi matematika memiliki peran penting pada pembelajaran matematika. Setiap siswa mempunyai aktivitas belajar yang berbeda, demikian juga saat meliterasi suatu masalah matematika. Kedua hal ini berperan pada pembelajaran matematika siswa sehingga penting untuk diteliti.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana literasi matematika siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Surakarta tahun ajaran 2020/2021 yang memiliki aktivitas belajar tinggi dalam menyelesaikan soal SPLTV?

2. Bagaimana literasi matematika siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Surakarta tahun ajaran 2020/2021 yang memiliki aktivitas belajar sedang dalam menyelesaikan soal SPLTV?

3. Bagaimana literasi matematika siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Surakarta tahun ajaran 2020/2021 yang memiliki aktivitas belajar rendah dalam menyelesaikan soal SPLTV?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang tersebut maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan literasi matematika siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Surakarta tahun ajaran 2020/2021 yang memiliki aktivitas belajar tinggi dalam menyelesaikan soal SPLTV.

2. Mendeskripsikan literasi matematika siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Surakarta tahun ajaran 2020/2021 yang memiliki aktivitas belajar sedang dalam menyelesaikan soal SPLTV.

(6)

3. Mendeskripsikan literasi matematika siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Surakarta tahun ajaran 2020/2021 yang memiliki aktivitas belajar rendah dalam menyelesaikan soal SPLTV.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan agar bermanfaat bagi guru, siswa, serta peneliti lain antara lain sebagai berikut:

1. Bagi guru

Memberi informasi tentang literasi matematika siswa dalam menyelesaikan soal SPLTV ditinjau dari aktivitas belajar siswa.

Setelah mengetahui literasi matematika siswa, diharapkan guru mampu menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.

2. Bagi siswa

Memberi informasi kepada siswa tentang sejauh mana literasi matematika yang mereka miliki dalam pembelajaran matematika, khususnya materi SPLTV, sehingga diharapkan mereka dapat termotivasi untuk belajar lebih giat.

3. Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian- penelitian yang berhubungan dengan literasi matematika.

Referensi

Dokumen terkait

Pembiasaan menurut Riyadi, dkk (2020) merupakan sebuah cara yang dilakukan dalam membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai ajaran dan tuntutan. Secara

Penelitian ini secara umum memiliki tujuan untuk mendeskripsikan profil bakat peserta didik SMA Negeri di Kota Bandung tahun ajaran 2013/2014 sesuai dengan kategori

Hasil observasi awal pada proses pembelajaran Biologi di SMA Batik I Surakarta berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa disertai dengan observasi di

tingkat motivasi terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Islam Al-abidin Surakarta. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan baru mengenai model

Berdasarkan prestasi observasi guru dapat merefleksi diri tentang penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode Drill (latihan) dalam menyelesaikan soal operasi

berkemampuan literasi rendah dalam menyelesaikan soal berbentuk PISA serta untuk mengetahui faktor-faktor yang memperngaruhi tinggi rendahnya kemampuan literasi

Kemampuan menyajikan teks iklan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan peserta didik kelas VIII SMP Diponegoro 5 Wangon tahun ajaran 2021/2022 dalam

Untuk mengetahui respon siswa kelas XI SMA Negeri 5 Semarang dalam menyelesaikan soal Ujian Akhir Semester Gasal mata pelajaran Fisika Tahun Pelajaran