1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran IPA adalah salah satu mata pelajaran umum Kurikulum 2013 untuk Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Sanawiah yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sebagai dasar dan penguatan kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Kemendikbud, 2018a).
Disebutkan juga bahwa pembelajaran IPA berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Hal ini diupayakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia di mana saat ini pendidikan Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0.
Revolusi industri 4.0 adalah tingkat lanjutan dari revolusi industri 1.0, 2.0, dan 3.0. Dalam menghadapi era pendidikan 4.0 maka dibutuhkan pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, dan penerapan strategi pembelajaran yang sesuai (Lase, 2019). Siswa perlu memiliki keterampilan seperti belajar mandiri, berpikir kreatif, pemecahan masalah, berpikir kritis, memiliki keterampilan komunikasi dan kolaboratif untuk mempersiapkan diri terhadap kehidupan nyata dan tuntutan industri 4.0 (Himmetoglu, Aydug, & Bayrak, 2020).
Namun realitanya Pendidikan Indonesia masih menduduki peringkat rendah dan kalah bersaing dengan negara-negara lain.
Berdasarkan penilaian internasional matematika dan sains untuk siswa kelas empat yang dilakukan pada tahun 2015 oleh IEA dan Pusat Studi Internasional TIMSS & PIRLS di Boston College ditunjukkan Indonesia tercatat mendapatkan peringkat 44 dari 47 negara yang ikut dalam penilaian tersebut dengan meraih skor 397 (kategori rendah < 400) (Martin, Mullis, Foy, & Hooper, 2016). Berdasarkan hal tersebut menyebabkan Indonesia berada pada tingkat rendah. commit to user
Hasil survei pendidikan yang diadakan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2018, Indonesia meraih nilai berturut-turut dalam Sains, Membaca, dan Matematika yaitu 396, 371, dan 379 (OECD, 2019). Indonesia mengalami penurunan nilai karena hasil survei PISA di tahun 2015 untuk nilai Sains, Membaca, dan Matematika berturut-turut adalah 403, 397, dan 386 (OECD, 2016). Penurunan ini memprihatinkan karena ketiga-tiganya masih di bawah nilai 400 padahal nilai internasional berdasarkan PISA untuk Sains, Membaca, dan Matematika berturut-turut adalah 489, 487, dan 489. Penurunan nilai yang diperoleh Indonesia menunjukkan penurunan kualitas pendidikan Indonesia.
Berdasarkan beberapa hasil survei dan penilaian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan di Indonesia menempati tingkat rendah dibanding negara-negara lain.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengembangkan kurikulum 2013 yang kemudian direvisi tahun 2017 sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Dalam kurikulum 2013, pendidikan Indonesia terdapat standar penilaian hasil belajar termasuk dalam pembelajaran IPA pada pendidikan dasar dan menengah yang meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Kemendikbud, 2016). Disampaikan juga bahwa penilaian hasil belajar bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan serta menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Menurut Purwanto (2002) hasil belajar merupakan keterampilan yang didapatkan seseorang seusai melalui proses belajar, yang mampu membuat perubahan pada perilaku baik penguasaan konsep, keterampilan, sikap, dan pengetahuan sehingga seseorang tersebut menjadi makin baik dari sebelumnya. Slameto (2013) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang ada di luar individu.
Salah satu hasil belajar dalam pembelajaran IPA yaitu hasil belajar pada materi getaran, gelombang, dan bunyi. Materi getaran, gelombang, dan bunyi
commit to user
SMP kelas VIII sebagaimana dicantumkan dalam Permendikbud RI Nomor 37 Tahun 2018 materi getaran, gelombang, dan bunyi sebagai materi IPA dalam kompetensi dasar 3.11 dan 4.11 (Kemendikbud, 2018b). Materi gelombang merupakan materi yang abstrak (Serway & Jewett, 2009). Berdasarkan penelitian Kallesta & Erfan (2017) memperoleh simpulan bahwa siswa SMP masih kesulitan dalam mengerjakan soal bunyi. Maka dengan demikian materi getaran, gelombang, dan bunyi termasuk dalam materi yang sukar dikuasai oleh siswa SMP. Maka dengan demikian materi getaran, gelombang, dan bunyi termasuk dalam materi yang sulit dikuasai oleh siswa SMP. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Rusilowati (2007) bahwa materi atau pokok bahasan fisika yang sulit dikuasai siswa SMP adalah getaran/gelombang/bunyi, kelistrikan, kemagnetan, tekanan, usaha, suhu, cahaya, dan induksi elektromagnet. Abbas &
Hidayat (2018) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar fisika di antaranya kemampuan matematis, minat belajar, gangguan kesehatan, perhatian dalam pembelajaran, kebiasaan belajar, kontrol orang tua, dan pergaulan siswa.
Berdasarkan ulasan di atas, maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan siswa yang sesuai untuk menghadapi persaingan pendidikan dengan negara-negara lain, tantangan revolusi industri 4.0, dan pencapaian Standar Kompetensi Lulusan melalui penilaian hasil belajar khususnya pada materi getaran, gelombang, dan bunyi. Salah satu keterampilan yang sesuai yaitu keterampilan pemecahan masalah.
Keterampilan ini selaras dengan pembelajaran abad 21. Bialik & Fadel (2015) yang menyampaikan bahwa pembelajaran abad 21 memuat keterampilan 4C yang terdiri dari Communication, Critical Thinking and Problem Solving, Collaboration, dan Creative and Innovative. Namun ternyata masih banyak siswa Indonesia yang memiliki keterampilan pemecahan masalah rendah khususnya dalam pembelajaran IPA SMP.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti, Rusilowati, Subali, &
Marwoto (2020) bahwa siswa SMP masih mengalami kesulitan dalam memecahkan commit to user
masalah IPA khususnya pada materi getaran, gelombang, dan bunyi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah masih berada pada level rendah, sebanyak 68,97 % dan 90,32
% siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA. Berdasarkan penelitian oleh Rahayu, Siburian, & Suryana (2021) bahwa rerata persentase kemampuan pemecahan masalah IPA siswa MTs dengan kriteria rendah pada indikator 4 yakni pada aspek ‘memeriksa kembali kebenaran solusi’. Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh Murtayasa, Sahara, &
Eso (2020) bahwa kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah pada materi IPA menunjukkan rata-rata kemampuan dengan kategori kurang yang dimulai dengan kemampuan interpretasi sebesar 10,14%, interpolasi sebesar 30%, ekstrakpolasi sebesar 16,66% dan kemampuan transformasi sebesar 19,11%.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterampilan pemecahan masalah IPA siswa SMP tergolong kurang atau rendah. Berdasarkan penelitian Hanifa, Akbar, Abdullah, & Susilo (2019) bahwa kemampuan pemecahan masalah dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti media pembelajaran, metode/model pembelajaran, lingkungan belajar, minat, kemampuan kognitif, dan motivasi siswa.
Beberapa penelitian menunjukkan pentingnya keterampilan pemecahan masalah dalam mencapai hasil belajar siswa. Penelitian yang telah diselenggarakan oleh Silaban (2014) menyebutkan bahwa hasil belajar siswa dapat dioptimalkan dengan peningkatan kreativitas, penguasaan konsep, dan keterampilan pemecahan masalah. Dalam hal ini ada hubungan yang positif dan signifikan antara hasil belajar dengan keterampilan pemecahan masalah. Penelitian yang dilakukan oleh Hodiyanto (2017) dihasilkan bahwa terdapat antara keterampilan pemecahan masalah dengan prestasi belajar hubungan yang positif dan signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh Musrifah, Akhmadi, & Komarayanti (2016) ditemukan hasil bahwa antara keterampilan pemecahan masalah dengan hasil belajar siswa terdapat korelasi kuat dan positif sehingga peningkatan skor keterampilan pemecahan masalah akan diiringi dengan peningkatan skor hasil belajar siswa.
commit to user
motivasi belajar yang tinggi. Dalam penelitian oleh Putri & Neviyarni (2013) diperoleh bahwa faktor yang paling menonjol menjadi penyebab rendahnya prestasi belajar siswa yaitu faktor internal berupa motivasi (sebanyak 88,3% siswa setuju).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nofianingsih (2014) menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa SMP ditinjau dari ketekunan dalam menghadapi tugas sebanyak 28,125% siswa tidak tekun, ditinjau dari keuletan menghadapi kesulitan sebanyak 37,5% tidak ulet, ditinjau dari senang bekerja mandiri sebanyak 6,25%
tidak senang, dan ditinjau dari keaktifan siswa sebanyak 25% tidak aktif dalam pembelajaran, dan ditinjau dari antusiasme sebanyak 28,125% siswa tidak antusias dalam pembelajaran. Dalam penelitian oleh Haqiqi (2018) bahwa faktor kesulitan belajar dari faktor internal siswa di antaranya aspek motivasi, bakat, intelejensi, dan minat. Sedangkan faktor eksternal siswa di antaranya sarana prasarana, guru, aktivitas siswa, dan fasilitas sekolah. Berdasarkan penelitian Rubiana & Dadi (2020) menyimpulkan bahwa motivasi belajar IPA dipengaruhi faktor seperti kebutuhan, harapan, cita-cita, penghargaan, dan juga kondisi lingkungan.
Beberapa penelitian menunjukkan pentingnya motivasi belajar dalam mencapai hasil belajar siswa. Dalam studi yang dilakukan oleh Chan & Norlizah 2017), mereka menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar IPA dengan prestasi belajar IPA siswa. Temuan lain menunjukkan semakin meningkat self-efficacy dan strategi belajar aktif yang siswa miliki, semakin bahagia siswa tersebut yang mengarah pada pencapaian akademik yang lebih baik di masa depan (Omar, Jain, & Noordin, 2013). Temuan lain dalam penelitian Saputra, Hendri, & Amindo (2019) yang memperoleh hasil bahwa motivasi belajar memiliki hubungan positif dan signifikan dengan hasil belajar kognitif. Azis (2016) juga menemukan dalam penelitiannya bahwa motivasi berhubungan signifikan dengan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII SMP.
Demikian latar belakang penelitian ini sebagai landasan peneliti dalam melakukan penelitian guna mengetahui bagaimana hubungan keterampilan pemecahan masalah dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa pada materi
commit to user
getaran, gelombang, dan bunyi. Penelitian ini berjudul “Hubungan Keterampilan Pemecahan Masalah dan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP pada Materi Getaran, Gelombang, dan Bunyi”.
B. Identifikasi Masalah
Berlandaskan pada latar belakang penelitian ini maka selanjutnya dapat ditentukan identifikasi masalah yaitu:
1. Pendidikan Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0 namun pendidikan Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain.
2. Pendidikan Indonesia berkategori rendah dengan peringkat 44 dari 47 negara dalam penilaian TIMSS tahun 2015.
3. Indonesia mengalami penurunan nilai pada hasil survei PISA 2019 dibandingkan hasil survei PISA tahun 2015.
4. Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil belajar siswa baik faktor internal maupun faktor eksternal.
5. Materi getaran, gelombang, dan bunyi menjadi salah satu materi yang sulit dikuasai oleh siswa SMP.
6. Masih banyak siswa SMP yang memiliki keterampilan pemecahan masalah kurang atau rendah sehingga siswa tersebut masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah IPA khususnya pada materi getaran, gelombang, dan bunyi.
7. Motivasi belajar merupakan faktor internal yang paling menonjol menjadi penyebab rendahnya prestasi belajar siswa.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah ditentukan dengan tujuan pelaksanaan penelitian dapat lebih terfokuskan serta tidak keluar dari konteks permasalahan yang akan diteliti.
Peneliti menentukan batasan masalah berupa subjek penelitian dan objek penelitian.
commit to user
Berdasarkan tujuan penelitian maka subjek penelitian ini yaitu siswa kelas VIII SMP yang telah mengikuti pembelajaran materi getaran, gelombang, dan bunyi.
2. Objek Penelitian
Penelitian ini memiliki objek penelitian yaitu:
a. Keterampilan pemecahan masalah yang diteliti yaitu keterampilan pemecahan masalah dalam menyelesaikan soal-soal materi getaran, gelombang, dan bunyi.
b. Motivasi belajar yang diteliti yaitu motivasi belajar siswa selama mengikuti pembelajaran IPA materi getaran, gelombang, dan bunyi tahun ajaran 2019/2020 melalui pengisian kuesioner motivasi belajar setelah siswa mengikuti pembelajaran materi tersebut.
c. Hasil belajar siswa yang diteliti yaitu hasil belajar siswa kelas VIII SMP dalam pembelajaran IPA pada materi getaran, gelombang, dan bunyi tahun ajaran 2019/2020.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan dan identifikasi masalah di atas, rumusan masalah yang diajukan sebagai berikut:
1. Bagaimana hubungan keterampilan pemecahan masalah dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi?.
2. Bagaimana hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi?.
3. Bagaimana hubungan keterampilan pemecahan masalah dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi?.
commit to user
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yakni:
1. Mengetahui hubungan keterampilan pemecahan masalah dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi.
2. Mengetahui hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi.
3. Mengetahui hubungan keterampilan pemecahan masalah dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Memperkaya wawasan dan khazanah keilmuan mengenai hubungan keterampilan pemecahan masalah dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi.
2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis
Mampu meningkatkan pengetahuan penulis dan menjadi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan IPA FKIP UNS.
b. Bagi siswa
Sebagai tolok ukur dan evaluasi keterampilan pemecahan masalah dan keberhasilan proses belajar yang mereka lakukan selama belajar dalam pembelajaran IPA. Di samping itu dapat memotivasi siswa agar belajar lebih giat dan memperbaiki motivasi belajar yang dialami agar berprestasi.
commit to user
Dapat digunakan sebagai evaluasi dari proses pembelajaran IPA yang telah dilakukan sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran IPA di masa mendatang.
d. Bagi sekolah
Dapat digunakan sebagai acuan guna meningkatkan kualitas sistem pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah.
e. Bagi kalangan akademik/pendidikan
Dapat dipergunakan guna pengembangan ilmu pengetahuan maupun sebagai referensi atau kajian pustaka.
f. Bagi pembaca dan peneliti lain
Mampu menambah wawasan dan masukan maupun acuan terkait penelitian hubungan keterampilan pemecahan masalah dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi bagi para pembaca.
commit to user