1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Kristen Petra

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kasus Bank Century yang mencuat sejak akhir tahun 2009 menjadi sorotan media. Media mainstream terutama televisi memberitakan kasus ini hampir tidak ada putusnya kepada publik. Kasus Bank Century mulai muncul setelah hasil pilpres 2009 keluar. Karena itu, banyak orang menuduh kasus ini hanyalah akal-akalan pihak-pihak yang kalah dalam pemilu kemarin. Beberapa tuntutan yang diungkapkan mengenai kemungkinan ini adalah adanya tuntutan untuk mundur bagi Boediono dan Sri Mulyani. Pihak yang menuduh ada kejanggalan dalam kasus Bank Century menganggap kebijakan bailout yang dibuat oleh Sri Mulyani dan Boediono pada waktu itu adalah salah. Sementara pihak yang tertuduh berargumen kuat dengan sejumlah data langkah tersebut diambil untuk menyelamatkan perekonomian secara umum. Sementara Century hanyalah satu komponen saja dalam penyelamatan secara makro. Pada saat penyelamatan Bank Century diputuskan, Sri Mulyani menjabat sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) dan Boediono menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. (“Pemberitaan century”, 24 Februari 2010).

Akar permasalahan dari kasus bailout Bank Century adalah penyelamatan Bank Century yang diputuskan sebagai bank gagal yang berdampak sistemik. Pada 20 November 2008, Bank Indonesia mengirim surat kepada Menteri Keuangan yang menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik dan mengusulkan langkah penyelamatan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Setelah itu, suntikan dana secara berkala kepada Bank Century terus berlanjut hingga 21 Juli 2009. Pengucuran dana sejumlah 6,7 triliun rupiah kepada Bank Century sebagai tindakan penyelamatan inilah yang dipermasalahkan karena sebelumnya diketahui bahwa dana yang diberikan seharusnya sebesar 624 miliar rupiah. Parlemen mulai menggugat karena dana suntikan kepada Bank Century ini terlalu besar. Perkembangan kasus ini terus berlanjut kepada penggelapan dana yang dilakukan oleh Robert Tantular selaku pemilik Bank Century (Kumaini, 2010). Tetapi yang lebih menjadi sorotan dari

(2)

permasalahan bailout Bank Century adalah dana suntikan oleh LPS diduga diambil dari uang negara dan hal tersebut menimbulkan kerugian bagi negara (Aritonang, Februari 2010). Akan tetapi, dugaan tersebut belum terbukti sehingga pada 4 Desember 2009 dibentuk Panitia Khusus Bank Century.

Pansus merupakan panitia khusus yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan terdiri atas sembilan fraksi (partai politik) untuk meneliti kasus Bank Century yang pada akhirnya memberi pandangan siapakah pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kasus ini (Indonesia, 2009). Pansus Bank Century disahkan dalam Rapat Paripurna DPR pada tanggal 1 Desember 2009.

Akan tetapi, keputusan yang telah diputuskan pada Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 2-3 Maret 2010 kemarin, bukan merupakan suatu keputusan hukum yang mengubah status pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus tersebut menjadi tersangka. Hasil temuan Pansus Bank Century tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan juga Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai tindak lanjut secara hukum terhadap pihak-pihak tersebut (“Pansus serahkan”, Januari 2010). Dengan demikian, status dari pejabat publik, pemilik ataupun pihak manajemen Bank Century yang hanya diduga bersalah pada saat itu adalah sebagai saksi, bukan tersangka.

Pemberitaan dan siaran langsung, antara lain rapat Panitia Khusus Bank Century (Pansus Bank Century), putusan pengadilan atas mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan, sidang Paripurna DPR terkait kasus Bank Century, penembakan tersangka teroris Dulmatin, dan makelar kasus pajak di kwartal pertama 2010 telah mendongkrak kepemirsaan terhadap program berita di televisi. Berdasarkan hasil survei kepemirsaan TV Nielsen Audience Measurement di 10 kota besar di Indonesia pada periode Januari-Maret 2010, porsi tayang program berita di 11 stasiun TV nasional masih sama dengan tahun lalu, yaitu sebesar 21% dari total durasi tayang televisi yang mencapai 23.760 jam atau sekitar 4996 jam. Jumlah ini paling besar dibandingkan program-program lainnya, seperti hiburan (19%), film (16%), informasi (14%) atau serial (12%), terutama karena kontribusi program-program berita Metro TV dan tvOne (hampir 50% dari total siaran berita).

(3)

Sebagai stasiun televisi berita, tvOne dan Metro TV secara khusus menayangkan berbagai berita, diskusi, editorial sampai siaran langsung berjam- jam lamanya terkait kasus Century. Dua stasiun televisi ini menjadikan kasus ini menjadi agenda yang paling mendesak untuk diselesaikan. Berdasarkan AGB Nielsen Newsletter – Edisi 1 Januari 2010 kepemirsaan terhadap berita spesial kembali naik di Januari seiring dengan siaran langsung rapat Pansus Bank Century (Pansus Century) yang melibatkan sejumlah pejabat negara sebagai saksi dalam kasus bailout Bank Century. Pada bulan Januari 2010, khususnya di antara pemirsa berita, share program berita spesial di televisi nasional mencapai 12,6%

(naik 3%) (Nielsen, 2009).

Sri Mulyani sebagai pihak yang diduga terkait dalam kasus bailout Bank Century diberitakan di media televisi sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas bailout Bank Century. Pada tanggal 18 Januari 2010, Metro TV melalui program ”Headline News” jam 18.00 WIB menurunkan berita yang membahas mengenai pertanggungjawaban Sri Mulyani atas kasus bailout Bank Century (Headline News,2010). SCTV melalui program “Liputan 6 Pagi” pada tanggal 21 Januari 2010 juga menurunkan berita terkait pertanggungjawaban Sri Mulyani dan Boediono atas kasus bailout Bank Century (Liputan 6 Pagi, 2010). RCTI pada tanggal 29 April 2010 melalui program “Seputar Indonesia” menyajikan berita mengenai pemeriksaan Sri Mulyani dan Boediono oleh KPK (Seputar Indonesia, 2010). Pemberitaan-pemberitaan di berbagai media televisi menurunkan berita yang menyoroti pertanggungjawaban Sri Mulyani dan Boediono atas kasus bailout Bank Century. Hal ini menyebabkan khalayak turut berpikir bahwa kedua pihak ini adalah pihak yang memang harus bertanggung jawab atas kasus bailout Bank Century. Padahal kedua pihak ini belum terbukti bersalah secara hukum.

Kasus bailout Bank Century ini telah mencapai babak akhir yaitu pada tanggal 2-3 Maret 2010 kemarin. Pada tanggal itu telah diadakan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan agenda pembacaan keputusan akhir pansus mengenai kasus bailout Bank Century. Hasilnya, opsi C dipilih oleh 325 anggota dewan dari total jumlah anggota yang hadir sebanyak 537 orang sebagai jalan keluar politis atas kasus bailout Bank Century ini. Keputusan dari opsi C adalah pertama, kebijakan akuisisi dan merger tiga bank, yakni CIC (Century),

(4)

Picco, dan Dampac, melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Akuisisi ini pun identik dengan penipuan, praktik pencucian uang yang dilakukan oleh pemilik, pengurus dan pejabat bank. Praktik penipuan dan pencucian uang yang dilakukan manajemen Bank Century, dilakukan secara terus menerus ini terjadi, akibat lemahnya pengawasan otoritas Bank Indonesia. Pihak BI pun dinilai tidak tegas dalam menindak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manajemen Bank Century. Bahkan, BI justru memberikan kebijakan yang berlebihan terhadap proses akuisisi merger Bank Century. Padahal, pemilik bank jelas-jelas tidak melaksanakan komitmen-komitmen-nya. Kedua, Pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) melanggar peraturan perundangan.

Ketiga, Penyertaan Modal Sementara (PMS) melanggar peraturan perundangan.

Keempat, Proses penyelidikan aliran dana PMS ke parpol atau pasangan capres tertentu belum dapat dituntaskan karena kendala kewenangan pro-justisia dan keterbatasan waktu. Kelima, ditegaskan bahwa kasus Bank Century ini merupakan perbuatan melawan hukum dan ada indikasi merugikan keuangan dan perekonomian negara (Maeswara, 2010).

Pada tanggal 5 Mei 2010, World Bank menyampaikan rilis resmi mengenai penunjukan Sri Mulyani sebagai Direktur Bank Dunia yang berkantor di Washington DC. Seperti yang diberitakan di tvOne pada program Kabar Petang 5 Mei 2010 jam 18.00 WIB dengan judul “Sri Mulyani menjadi Direktur Bank Dunia”, Sri Mulyani resmi mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan setelah Presiden Repulik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyetujui surat pengunduran diri Sri Mulyani melalui pidato kepresidenan yang dilakukannya pada tanggal 5 Mei 2010 jam 14.28 WIB. Sri Mulyani resmi menduduki salah satu dari tiga kursi direktur pelaksana menggantikan Juan Jose Daboub sejak 1 Juni 2010. Dan Bank Dunia sendiri melalui Robert B. Zoellick, presiden Bank Dunia, memberikan apresiasi terhadap Sri Mulyani yang dianggap sebagai seseorang yang mampu menavigasi perekonomian Republik Indonesia keluar dari krisis global (“World bank”, 4 Mei 2010)

Tetapi yang menjadi perbincangan di kalangan masyarakat maupun pemerintah adalah Sri Mulyani masih diindikasikan terkait dengan kasus Bailout Bank Century yang belum terselesaikan hingga saat ini. Bambang Susatyo selaku

(5)

salah satu anggota tim pengawas kasus Bank Century sekaligus anggota Komisi III DPR RI, dalam wawancara di program Kabar Petang 5 Mei 2010 jam 18.07 WIB mengatakan bahwa mundurnya Sri Mulyani merupakan jalan politik yang terbaik untuk mengatasi kebuntuan politik yang telah terjadi. Sedangkan Bambang Harymurti, Direktur Utama PT. Tempo Inti Media Tbk dan juga menjabat Wakil Ketua Dewan pers, melalui wawancaranya di waktu yang sama mengatakan bahwa kemunduran Sri Mulyani ini merupakan apresiasi dari kredibilitas Sri Mulyani mengatasi permasalah krisis ekonomi di Indonesia. Singkat cerita, melalui pemberitaan tersebut dapat dikatakan bahwa lebih banyak pihak yang menganggap kemunduran Sri Mulyani ini dilihat sebagai jalan keluar yang tepat untuk mengatasi permasalahan Bank Century dan proses hukum harus tetap berjalan walaupun Sri Mulyani berada di luar negeri (“Kabar Petang” , Mei 2010).

Situs liputan 6.com pada tanggal 5 Mei 2010 juga memuat berita mengenai kemunduran Sri Mulyani. Media ini mengatakan bahwa berdasarkan wawancara dengan ekonom, Drajad Wibowo dalam dialog Liputan 6 Petang di Jakarta pada 5 Mei 2010, mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk menjadi Managing Director Bank Dunia dianggap sebagai "gracious exit".

"Artinya, pergi dengan terhormat, pergi tidak dipermalukan, dan mendapatkan tempat yang cukup terhormat juga. Menurut ekonom yang juga politikus tersebut, mundurnya Sri Mulyani akan mengurangi beban politik pemerintah (“Ekonom”, 5 Mei 2010).

Masih berkaitan dengan kasus Bank Century, ada satu hal yang juga menjadi sorotan dari kasus Bank Century ini yakni ada perseteruan antara Aburizal Bakrie selaku komisaris utama Grup Bakrie yang merupakan pendana dan pemilik saham terbesar stasiun TV nasional, tvOne dengan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan. Ketegangan antara Sri Mulyani dan Bakrie sebenarnya berawal dari kasus luapan lumpur Lapindo sejak 28 Mei 2006 di mana telah terjadi perdebatan sengit mengenai siapa pihak yang bertanggung jawab atas biaya penanggulangannya. Ketegangan ini dilanjutkan pada Oktober tahun 2008 silam ketika Menkeu menolak menutup perdagangan saham saat harga saham Bakrie mengalami kejatuhan (“Kesepakatan sby-ical”, 18 Januari 2010).

(6)

Penunggakan royalti batubara yang dilakukan perusahaan batubara, yang sebagian di antaranya adalah perusahaan milik Bakrie juga merupakan permasalah antara Sri Mulyani dengan Bakrie. Sedikitnya perusahaan batubara Bakrie menunggak 2-5 triliun royalti Batubara hasil akumulasi sejak periode 2002-2003.

Tidak hanya sampai di situ, Sri Mulyani juga membuat keputusan pencekalan terhadap sejumlah petinggi perusahaan batu bara Bakrie. Ketegangan makin berlanjut saat Sri Mulyani menolak keinginan Bakrie membeli 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (“Kesepakatan sby-ical”, 18 Januari 2010).

Pada tanggal 10 Desember 2009, The Wall Street Journal, kembali menurunkan berita kontroversi antara Aburizal Bakrie dengan Sri Mulyani. Dalam artikelnya ditulis bahwa Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani Indrawati angkat bicara mengenai pembentukan Pansus DPR atas pengucuran dana bailout US$700 juta untuk Bank Century. Menurutnya, hal itu merupakan upaya politikus-politikus rivalnya untuk menggulingkan dirinya dari jabatan.

Penyebabnya adalah mereka tidak senang pada upaya-upaya Sri Mulyani untuk memperbaiki birokasi di Indonesia. Sri Mulyani juga mengatakan bahwa dirinya yakin Pansus Century DPR itu merupakan upaya untuk mendiskreditkan dirinya oleh para politikus yang menentang agenda reformasinya. Sri Mulyani bahkan secara terang-terangan menyebut nama Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar dan mantan Menko Kesra. Sri Mulyani dalam wawancaranya berkata bahwa Aburizal Bakrie tidak senang pada dirinya dan ia berpendapat bahwa tak seorang pun di Golkar yang akan fair atau baik kepada dirinya. Dikatakan Sri Mulyani seperti yang ditulis oleh The Wall Street Journal, ketegangan antara dirinya dan Bakrie berawal tahun lalu ketika dirinya menolak menutup perdagangan saham saat harga saham BUMI Resources milik Bakrie mengalami kejatuhan. Menurut Sri Mulyani, Bakrie yang meminta penutupan tersebut.

Akan tetapi di sisi lain, Aburizal Bakrie membantah adanya masalah dirinya dengan Sri Mulyani. Ia mengatakan bahwa “Ia berkomitmen akan mengusut kasus Bank Century sehingga masyarakat dapat gambaran jelas terkait aliran dana serta ada tidaknya kesalahan prosedur dalam kasus itu.” Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie juga berkata bahwa “Pihaknya tidak ragu untuk membongkar kasus tersebut sampai tuntas. Mereka akan minta aparat untuk

(7)

menggunakan semua data sebagai dasar penyelidikan. Hal ini penting, agar jangan nantinya fitnah yang dipakai sebagai suatu dasar untuk mengambil keputusan.”Sikap tersebut jelas memperpanjang kontroversi antara Aburizal dengan Menkeu Sri Mulyani. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan tentang pembentukan Pansus DPR atas pengucuran dana bailout US$700 juta untuk Bank Century. Sri Mulyani dan Boediono merupakan dua pejabat negara yang kini terancam skandal tersebut (Wright, 2009).

Berbagai media sebagian besar memuat rubrik, artikel, dan lain-lain yang menyudutkan Sri Mulyani, tetapi media cetak Kompas pada 20 Januari 2010, memuat artikel pembelaan kepada Sri Mulyani yang ditulis oleh Rhenald Kasali, seorang guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan juga praktisi bisnis di Indonesia yang telah menerbitkan berbagai buku ekonomi maupun bisnis. Dalam artikelnya, Rhenald Kasali mengatakan bahwa “Setiap kali menghadapi perubahan, seorang pemimpin selalu menghadapi suasana yang dilematis. Mengambil langkah A dan B, menolong atau membiarkan mati, mengambil langkah berani yang berisiko atau mendiamkan saja.”

Rhenald Kasali juga mengutip perkataan Lord Elington yang berpendapat bahwa seorang pemimpin yang tidak melakukan kesalahan adalah pemimpin yang tak melakukan apa-apa. Lord Elington juga berpendapat bahwa pemimpin yang tak melakukan apa-apa tersebut hasilnya menjadi bagus karena posisinya aman sehingga jabatan terus diperpanjang. Tetapi sebaliknya bagi mereka yang melakukan breakthrough atau terobosan menghadapi risiko tinggi kemungkinan untuk dipersalahkan lebih besar. Rhenald Kasali juga mengutip pandangan dari Herbert Simon, seorang ahli ekonomi politik, penerima hadiah Nobel Ekonomi 1978 yang menandaskan bahwa percuma „mengadili‟ keputusan yang sudah diambil. Apalagi bila digunakan „rasionalitas‟, karena dalam setiap pengadilan keputusan strategis setiap pemimpin selalu ditengarai oleh suasana keterbatasan.

Jadi, menurut Rhenald Kasali, mungkin ada suasana keterbatasan yang dihadapi oleh mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono, atau Menkeu Sri Mulyani Indrawati pada saat itu. Keterbatasan yang dimaksdukan oleh Rhenald Kasali adalah ketidaklengkapan informasi, terbatasnya waktu, banyak celah hukum, kecerdikan penjahat yang memanfaatkan situasi,

(8)

lemahnya sistem komunikasi, kesibukan para atasan, dan tentu saja keterbatasan otak manusia. Dengan demikian, menurutnya percuma mencari-cari kesalahan pengambilan keputusan yang diambil Sri Mulyani, mempersoalkan efek sistemik atau tidak, atau kebijakan-kebijakan yang diambil. Sementara penjahat yang melakukan kejahatan dibiarkan menari-nari dan menikmati keuntungan (Kasali, Januari 2010).

Artikel yang ditulis oleh Rhenald Kasali pada paragraf sebelumnya, memberikan pandangan dari sisi lain bagi khalayak bahwa adanya kasus bailout Bank Century bukanlah sepenuhnya menjadi kesalahan dari pejabat publik yang pada saat itu berperan dalam penyelamatan Bank Century. Jadi, penyelesaian kasus bailout Bank Century ini hendaknya tidak mencari-cari kesalahan mengenai pengambilan keputusan yang diambil oleh Sri Mulyani, melainkan mengusut tuntas ke mana dana sebesar 6,7 Triliun rupiah tersebut mengalir. Sehingga nantinya tidak muncul persepsi bahwa pengusutan kasus bailout Bank Century ini hanya sebagai kesempatan untuk menyingkirkan Sri Mulyani dan Boediono dari pemerintahan. Akan tetapi, menurut pengamatan peneliti, media massa justru mengusut kesalahan-kesalahn yang dilakukan oleh pejabat publik ini.

“Terkait dengan pemberitaan di media massa, media massa memiliki kebebasan untuk menentukan jenis acara atau berita yang akan ditayangkan, sesuai dengan standar dan nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan media massa tersebut” (McQuail, 2000, p.116). “Media televisi dapat memanipulasi gambar dan suaranya untuk kepentingan politik yang otomatis dampaknya akan berpengaruh pada sikap dan perilaku aspirasi politik pemirsa. Ada kenyataan, gambar yang tertayang di televisi (paket acara) baik film, drama, berita maupun iklan, akan mempengaruhi kejiwaan pemirsa” (Kuswandi, 1996, p.73). Dengan kata lain, tayangan televisi bisa menggiring atau membawa khalayak kepada pandangan tertentu sesuai dengan kehendak dan ideologi stasiun televisi tersebut.

Contohnya, pemberitaan mundurnya Sri Mulyani di Kabar Petang pada tanggal 5 Mei 2010, tvOne lebih memfokuskan pemberitaannya baik melalui wawancara ataupun naskah berita ke suatu opini bahwa Sri Mulyani yang memilih untuk mundur dari Menteri Keuangan Republik Indonesia adalah jalan keluar politik, padahal opini tersebut belum tentu benar (“Kabar Petang”, 5 Mei 2010).

(9)

Hal ini berhubungan dengan bingkai / analisa framing di mana dalam ranah studi komunikasi, analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perpektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi. Konsep tentang framing atau frame sendiri bukan murni konsep ilmu komunikasi, akan tetapi dipinjam dari ilmu kognitif (psikologis).

Dalam praktiknya, analisis framing juga membuka peluang bagi implementasi konsep-konsep sosiologis, politik, dan kultural untuk menganalisis fenomena komunikasi, sehingga suatu fenomena dapat diapresiasi dan dianalisis berdasarkan konteks sosiologis, politis, atau kultural yang melingkupinya (Sobur, 2006).

Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, menarik, berarti, atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perpektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perpektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut.

Karenanya, berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendominasi keberadaan subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, atau tak terelakkan (Sobur, 2006).

Penyampaian pesan yang ditampilkan juga dipengaruhi oleh ideologi yang dianut oleh media tersebut. Ideologi itulah yang menjadi dasar dalam kebijakan redaksional tiap media dan pada akhirnya tercermin dalam pemberitaannya. Isi pesan media televisi berasal dari sumber resmi tentang sesuatu isu yang terjadi di masyarakat. Pendapat sumber resmi ini, apabila sudah ditayangkan, akan menimbulkan pendapat umum. Pendapat umum bersebut menjadi penting artinya bagi kalangan politikus, karena akan menghasilkan satu kekuatan yang dapat diarahkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Keberadaan komunikasi massa media televisi ialah bahwa kehadiran televisi menjadi bagian yang sangat penting sebagai sarana untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam berbagai hal yang menyangkut perbedaan dan persamaan persepsi tentang

(10)

suatu isu yang sedang terjadi di belahan dunia. Yang perlu diwaspadai dari komunikasi massa media televisi adalah terjadinya ketimpangan arus informasi yang memonopoli demi kepentingan pihak tertentu (Kuswandi, 1996)

Selain itu, keakuratan sesuatu fakta tidak selalu menjamin keakuratan arti. Fakta-fakta yang akurat yang dipilih atau disusun secara longgar atau tidak adil sama menyesatkannya dengan kesalahan yang sama sekali palsu. Dengan terlalu banyak atau terlalu sedikit memberikan tekanan, atau menyisipkan fakta- fakta yang tidak relevan atau dengan menghilangkan fakta-fakta yang seharusnya ada di sana, pembaca mungkin mendapat kesan yang palsu. Unsur adil dan berimbang dalam berita mungkin sama sulitnya untuk dicapai seperti juga keakuratan dalam menyajikan fakta. Selaku wakil dari pembaca atau pendengar berita, seorang wartawan harus senantiasa berusaha untuk menempatkan setiap fakta atau kumpulan fakta-fakta menurut proporsinya yang wajar, untuk mengaitkannya secara berarti dengan unsur-unsur lain, dan untuk membangun segi pentingnya dengan berita secara keseluruhan. (Budyatna, 2006) .

Peneliti memilih untuk meneliti bingkai tvOne terhadap Sri Mulyani dalam pemberitaan terkait hasil keputusan akhir oleh Pansus Century karena pada saat itu Sri Mulyani merupakan Menteri Keuangan Republik Indonesia dan juga oleh Pansus Bank Century diduga sebagai pihak turut andil terhadap bailout Bank Century ini. Di samping itu, Sri Mulyani memiliki permasalahan dengan Aburizal Bakrie yang disoroti oleh media massa. Jadi, melalui penelitian ini, penulis hendak meneliti bagaimanakah pemberitaan yang dilakukan oleh tvOne terhadap Sri Mulyani terkait hasil keputusan Pansus Century. Apakah tvOne membingkai Sri Mulyani sebagai pihak yang melakukan kesalahan, atau dibingkai sesuai dengan kapasitas pada saat itu terkait kasus bailout Bank Century. Di samping itu, pemilihan media tvOne juga terkait dengan kepemilikan tvOne oleh Bakrie Grup.

Karena itu, muncul dugaan bahwa tvOne cenderung negatif dalam pemberitaan mengenai Sri Mulyani. Dalam bukunya Mediating The Message, dikatakan bahwa pemilik suatu media memiliki posisi dalam organisasi media tersebut. Pengaruh mereka telah menarik minat ilmiah substansial. Akhirnya, pemilik media tersebut atau jajaran eksekutif memiliki keputusan final terhadap apapun yang dilakukan oleh organisasi media tersebut (Shoemaker, 1996).

(11)

Penelitian ini dilakukan melalui rekaman pemberitaan di program berita Kabar Petang tvOne pada tanggal 29 April 2010 dengan judul “KPK Periksa Sri Mulyani hampir Tiga Jam”. Alasan pemilihan rekaman pemberitaan tanggal 29 April 2010 karena pada tanggal tersebut merupakan kali pertama proses hukum atas kasus bailout Bank Century dijalankan yaitu oleh KPK. KPK melakukan penyelidikan terhadap Sri Mulyani dan Boediono terkait putusan Rapat Paripurna DPR tanggal 2-3 Maret 2010, di mana telah disebutkan di atas bahwa penyelidikan KPK terhadap Sri Mulyani dan Boediono merupakan salah satu hasil keputusan Pansus Bank Century untuk menindak lanjuti putusan yang diambil pada tanggal 3 Maret 2010 oleh DPR RI. Rekaman pemberitaan ini merupakan rekaman pemberitaan pertama yang ditayangkan oleh tvOne setelah penyelidikan Sri Mulyani dan Boediono oleh KPK selesai. Pemberitaan ini ditayangkan di program Kabar Petang yang tergolong program hard news unggulan tvOne. Jadi, peneliti hendak meneliti bingkai seperti apa yang ingin disampaikan oleh redaksi tvOne melalui pemberitaan tersebut mengenai penyelidikan terhadap Sri Mulyani.

Fakta apa yang ditonjolkan dan yang dihilangkan oleh redaksi tvOne dalam pemberitaan tersebut.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana bingkai tvOne terhadap Sri Mulyani dalam pemberitaan hasil keputusan pansus Bank Century ?

1.3. Tujuan Penelitian

Melihat bingkai tvOne terhadap Sri Mulyani dalam pemberitaan hasil keputusan pansus Bank Century.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis

Manfaat akademis dari penelitian ini adalah untuk menambah wawasan penulis mengenai bingkai pemberitaan yang dilakukan oleh media massa mengenai pemberitaan yang ditayangkan dan sedikit banyak berkaitan dengan ideologi yang terkandung dalam sebuah media massa.

(12)

1.4.2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis adalah untuk mengetahui sikap media massa sebagai acuan dasar (praktik) dalam peran media massa yaitu televisi dengan ideologi perusahaan dalam mengkonstruksi realitas.

1.5. Batasan Penelitian

Peneliti ingin menganalisis bingkai tvOne terhadap Sri Mulyani dalam pemberitaan hasil keputusan pansus Bank Century melalui video rekaman pemberitaan yang ditayangkan di program Kabar Petang tanggal 29 April 2010 jam 17.54 WIB. Pemilihan Sri Mulyani dan tvOne didasarkan pada adanya kasus antara Sri Mulyani dan Aburizal Bakrie di mana Aburizal Bakrie merupakan pendana terbesar atas tvOne.

Pemilihan pemberitaan dalam Kabar Petang tanggal 29 April 2010 karena pemberitaan tersebut adalah pemberitaan pertama setelah pemeriksaan Sri Mulyani dan Boediono oleh KPK.

Penelitian ini menggunakan metode framing William A.Gamson dan Modigliani.

1.6. Sistematik Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Pendahuluan

Bab ini menguraikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.

2. Tinjauan Pustaka

Bab ini menguraikan teori dasar yang dipakai sebagai pustaka rujukan dalam penelitian ini. Dalam penjabaran teori ini peneliti menjelaskan mengenai teori pandangan konstruksionis, ideologi media massa dan teori framing oleh Gamson dan Modigliani. Pada bab ini juga terdapat nisbah antar konsep dan kerangka pemikiran.

(13)

3. Metode Penelitian

Bab ini menguraikan tentang definisi konseptual, jenis penelitian, jenis sumber data, metodologi pengumpulan data, teknik analisis data dan triangulasi data yang akan dipakai peneliti dalam melakukan penelitian ini.

4. Analisis Data

Bab ini berisi tinjauan umum mengenai tvOne yang menjadi subjek penelitian. Bab ini juga memuat analisis masalah yang diangkat peneliti, yaitu analisis bingkai pemberitaan Sri Mulyani oleh tvOne terkait hasil keputusan pansus Bank Century.

5. Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran dari peneliti yang berkaitan dengan objek penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :