• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Capital Structure

Capital structure menurut Gitman (2002) adalah “the mix of long term debt and equity maintained by the firm that can significantly affect its value by affecting return and risk ”(p.463). Artinya, capital structure merupakan kombinasi dari hutang jangka panjang dan modal yang dipertahankan oleh perusahaan di mana struktur modal tersebut secara signifikan dapat mempengaruhi nilai perusahaan melalui tingkat pengembalian dan risiko yang dimilikinya. Margaretta (2007) menjelaskan bahwa “capital structure menggambarkan pembiayaan permanen perusahaan yang terdiri atas utang jangka panjang dan modal sendiri”

(p.219).

Menurut Sawir (2004), capital structure atau struktur modal adalah bauran pendanaan pe rmanen (jangka panjang) yang digunakan perusahaan.

Tujuan manajemen struktur modal adalah menciptakan suatu bauran sumber dana permanen sedemikian rupa agar mampu memaksimalkan harga saham dan agar tujuan manajemen keuangan untuk memaksimalkan nilai perusahaan tercapai. Bauran pendanaan yang ideal selalu diupayakan manajemen ini disebut struktur modal optimal (p.43) .

Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa struktur modal merupakan kombinasi dari hutang dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan untuk dig unakan dalam operasional badan usaha, di mana hutang yang dimaksud adalah hutang jangka panjang. Semua item yang terdapat pada sisi kanan neraca perusahaan, kecuali current liabilities (hutang jangka pendek) merupakan sumber modal.

Dengan demikian, jenis modal atau capital dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu debt capital dan equity capital. Equity capital itu sendiri terdiri atas beberapa unsur seperti: saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan. Di samping itu, juga terdapat obligasi dan surat-surat berharga lainnya.

Dengan demikian, pengukuran struktur modal dapat dilakukan melalui perhitungan tingkat leverage perusahaan. Dalam penelitian ini, leverage menurut Gitman (2002) adalah “results from the use of fixed-cost assets or funds to

(2)

magnify retu rns to the firm’s owners” (p.463). Artinya, leverage adalah hasil dari penggunaan biaya tetap aktiva atau dana untuk memperbesar tingkat pengembalian kepada pemilik perusahaan.

Menurut Arifin (2006, p. 232), rasio struktur modal meliputi:

1. Equity financing ratio (rasio biaya modal)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dari sisi pembiayaan yang bersumber dari dana sendiri (bukan pinjaman), yang dihitung dengan rumus:

Equity financing ratio =

Assets Total

Equity

... (2.1) Angka baku rasio ini adalah 0,4 – 0,5, sehingga perusahaan dikatakan memiliki kemampuan dana yang relatif baik jika sekitar 40% sampai 50%

seluruh kekayaan dibiayai oleh modal sendiri.

2. Long term debt to equity ratio (rasio hutang terhadap modal)

Rasio ini digunakan untuk mengukur bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan hutang jangka panjang. Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio ini sebagai berikut:

Long term debt to equity ratio =

Equity debt term

Long ... (2.2)

Angka baku rasio ini adalah 1,0 didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan bukan merupakan suatu usaha yang memiliki kemampuan pengembalian dana yang relatif cepat.

3. Long term debt to fixed assets (rasio hutang terhadap aktiva tetap)

Rasio ini digunakan untuk mengukur pembiayaan harta ata u aktiva tetap perusahaan (misalnya gedung, apotek, dan peralatan) yang dibiayai dengan kewajiban atau hutang jangka panjang. Rumus yang digunakan untuk mengitung rasio ini adalah:

Long term debt to fixed assets =

assets Total

debt term

Long

... (2.3)

Angka baku rasio ini adalah 0,45, sehingga perusahaan dikatakan memiliki kemampuan dana yang relatif baik jika sekitar 45% dari kekayaan tetap dibiayai oleh modal sendiri.

(3)

Dengan mengacu pada beberapa definisi struktur modal yang diuraikan oleh Gitman, Margaretta, dan Sawir di atas maka rasio struktur yang digunakan dalam penelitian ini adalah long term debt to equity ratio (rasio hutang terhadap modal) atau Debt to Equity Ratio (DER).

2.2. Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan merupakan akumulasi dari hasil aktivitas yang dilakukan dalam perusahaan itu sendiri. Rue dan Byars (1997) mendefinisikan

“kinerja bisnis sebagai hasil yang dicapai oleh suatu organisasi” (p.221). Samsul (2006) memberikan definisi bahwa “kinerja perusahaan merupakan hasil akhir dari proses manaje men selama suatu periode ke periode yang lain” (p.129).

Waterhouse dan Svendsen (1998) mendefinisikan ”kinerja sebagai tindakan- tindakan atau kegiatan yang dapat diukur” (p.59). Selanjutnya, Mulyadi (2007) memberikan definisi kinerja sebagai ”keberhasilan personel dalam mewujudkan sasaran strategik di empat perspektif: keuangan, customer, proses, serta pembelajaran dan pertumbuhan” (p.363).

Pengukuran kinerja menurut Anthony dan Govindarajan (2003) adalah

”pengukuran atas hasil dari implementasi strategi, dan hasil kinerja yang dianggap baik akan menjadi standar untuk mengukur kinerja di masa mendatang. Bila indikator yang menjadi ukuran kinerja meningkat, berarti strategi telah diimplementasikan dengan baik” (p.441). Dengan demikian, untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan kinerja perusahaan perlu mengadakan interpretasi atau analisa terhadap data keuangan dari perusahaan yang bersangkutan dan data keuangan itu akan tercermin di dalam laporan keuangan.

Suwardjono (2005) menjelaskan bahwa ”pelaporan keuangan merupakan struktur dan proses akuntansi yang menggambarkan bagaimana informasi keuangan disediakan dan dilaporkan untuk mencapai tujuan ekonomik dan sosial negara” (p.101). Menurut Samsul (2006) ”laporan keuangan meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan yang ada pada halaman

(4)

belakang neraca dan laporan rugi laba perlu dipahami karena merinci setiap akun yang ada dalam laporan keuangan” (p.128).

Dari pengertian di atas maka dapat terlihat bahwa kinerja perusahaan merupakan hasil keputusan-keputusan manajemen untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan efisien yang dapat dilakukan melalui analisa atau interpretasi terhadap laporan keuangan. Penilaian kinerja dilakukan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya dan untuk merangsang dan menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kinerja dan waktu serta penghargaan baik yang bersifat instrinsik maupun ekstrinsik.

Metode penilaian kinerja keuangan perusahaan harus didasarkan pada data keuangan yang dipublikasikan yang dibuat sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan yang berlaku umum. Laporan ini merupakan data yang paling umum yang tersedia untuk tujuan tersebut, walaupun seringkali tidak mewakili hasil dan kondisi ekonomi. Laporan keuangan disebut sebagai “kartu skor” periodik yang memuat hasil investasi operasi dan pembiayaan perusahaan, maka fokus akan diarahkan pada hubungan dan indikator keuangan yang memungkinkan analisa penilaian kinerja masa lalu dan juga proyeksi hasil masa depan dimana akan menekankan pada manfaat serta keterbatasan yang terkandung didalamnya (Sucipto, 2003).

Perusahaan kemungkinan akan menggunakan informasi akuntansi untuk menilai kinerja manajer. Kemungkinan lain adalah informasi akuntansi digunakan bersamaan dengan informasi non akuntansi untuk menilai kerja manajernya.

Kinerja manajer diwujudkan dalam berbagai kegiatan mencapai tujuan perusahaan. Dan karena setiap kegiatan itu memerlukan sumber daya maka kinerja manajemen akan tercermin dari penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan perusahaan.

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu pencatatan kegiatan operasi perusahaan yang merupakan ringkasan dari transaksi-tra nsaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku bersangkutan. Laporan keuangan juga merupakan suatu alat yang sangat penting dalam memperoleh informasi mengingat posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama periode

(5)

tertentu. Jadi laporan keuangan memberikan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan.

Pada penelitian ini, dengan merujuk pada Kahle dan Shastri (2002), Berger dan di Patti (2003), Brown dan Caylor (2004), Driffield dan Mahambare (2005), serta Zaretta dan Sitinjak (2006) maka pengukuran kinerja perusahaan dilakuka n dengan menggunakan analisis laporan keuangan, yaitu menggunakan rasio-rasio keuangan yaitu rasio profitabilitas, rasio likuiditas, dan rasio aktivitas.

2.3. Analisis Laporan Keuangan

Menurut P rastowo dan Juliaty (2002) analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membedah laporan keuangan ke dalam unsur- unsurnya, menelaah masing-masing unsur tersebut, dan menelaah hubungan di antara unsur -unsur tersebut, dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik dan tepat ata s laporan keuangan itu sendiri.

Harahap (2004) juga menjelaskan bahwa analisis laporan keuangan berarti menguraikan pos -pos laporan keuangan menjadi informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat (p. 190).

Berdasarkan definisi di atas maka dapat dijelaskan bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan di masa mendatang. Menurut Arifin (2007) “teknik analisis laporan keuangan meliputi analisis perbandingan, angka indeks dan trend, common size, dan analisis rasio”

(p. 31-32).

(6)

2.4. Analisis Rasio Keuangan

Menurut Arifin (2007) “rasio keuangan merupakan alat analisis yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara elemen yang satu dengan elemen yang lain dalam suatu laporan keuangan” (p.32).

Menurut Hanafi dan Halim (2003) menjelaskan rasio keuangan adalah rasio yang menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai sebuah standard (p.111).

Maksud dari pernyataan tersebut adalah dengan melakukan analisa terhadap rasio -rasio keuangan maka akan dapat memberikan pengetahuan mengenai bagaimana keadaan sebenarnya perusahaan yaitu mengetahui bagaimana tingkat kesehatan keuangan perusahaan, masalah-masalah yang sedang dihadapi dan penyebab-penyebabnya, serta hal-hal lain yang dapat mempengaruhi keadaan perusahaan tersebut. Dengan adanya pengetahuan tersebut maka akan dapat meningkatkan mutu maupun efektivitas manajemen dalam menjalankan perusahaan, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pengarahan, maupun pengendalian.

Menurut Sartono (2005) “analisa rasio dikembangkan menjadi empat kelompok rasio keuangan yaitu analisis rasio likuiditas, financial leverage ratio , rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas” (p.113-125).

1. Analisis rasio likuiditas perusahaan

Likuiditas perusahaan, menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya. Likuiditas perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aset lancar yaitu aset yang mudah untuk diubah menjadi kas meliputi kas, surat berharga, piutang, persediaan. Dengan menggunakan laporan keuangan yang terdiri atas Neraca, Laporan Rugi/Laba, laporan perubahan modal. Berikut ádalah rasio -rasio likuiditas:

(7)

a. Current ratio Rumusnya adalah:

lancar Hutang

lancar Aset

= tio

Current ra

... (2.4) Semakin tinggi current ratio ini berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Aset lancar yang dimaksud termasuk kas, piutang, surat berharga dan persediaan. Dari aset lancar tersebut, persediaan merupakan aset lancar yang kurang likuid dibanding dengan lain.

b. Current asset ratio Rumusnya adalah:

lancar Hutang

persediaan -

lancar Aset

= ratio set

Current as ... (2.5) Rasio ini sama halnya current ratio, tetapi hanya memperhitungkan aset lancar yang benar-benar likuid saja yakni aset lancar di luar persediaan.

Pengertian likuiditas sebenarnya mengandung dua dimensi yaitu waktu yang digunakan untuk mengubah aset menjadi kas dan kepa stian harga yang akan terjadi. Dengan demikian elemen lancar tersebut memang piutang lebih likuid dibanding dengan persediaan dan memerlukan waktu yang lebih pendek untuk mengubah menjadi kas.

c. Working capital to total assets ratio Rumusnya adalah:

Aset Jumlah

Lancar Kewajiban -

Lancar Aset

= Ratio Assets Total to Capital

Working .. (2.6)

Working capital to total assets ratio juga diguna kan untuk mengukur likuiditas total aset dan posisi modal kerja.

d. Net fix assets to total assets ratio Rumusnya adalah:

Net Fix Assets to Total Assets Ratio =

Assets Total

Assets Fix

Net ... (2.7)

Di sebut juga sebagai assets tangibility, yaitu menunjukkan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang memberikan manfaat ekonomi kepada perusahaan dan dapat dijadikan sebagai jaminan bagi perusahaan di mana

(8)

dapat dilihat dari hasil bagi antara aset tetap yang telah didepresiasi dengan total aset. Dengan demikian rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola aset tetapnya.

e. Current asset to total assets ratio Rumusnya adalah:

Current Asset to Total Assets Ratio =

Assets Total

Assets Current

... (2.8) Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya berupa aset lancar dalam aktivitas perusahaan.

2. Financial leverage ratio

Rasio leverage atau rasio hutang merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh aset perusahaan dibiayai dengan hutang atau dibiayai pihak luar. Rasio -rasio financial leverage meliputi:

a. Debt ratio

Rumusnya adalah:

Aset Total

Hutang Total

=

Debt ratio ... (2.9) Menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya. Perusahaan yang tidak mempunyai leverage berarti menggunakan modal sendiri 100%.

b. Debt to equity ratio Rumusnya adalah:

sendiri modal Total

hutang Total =

io equity rat to

Debt ... (2.10) Semakin tinggi rasio ini semakin besar risiko yang dihadapi dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. Rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aset.

(9)

c. Time interest earned ratio Rumusnya adalah:

bunga Beban

pajak dan bunga sebelum

= Laba ratio earned interest

Time

... (2.11)

Time interest earned ratio adalah rasio antara laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan beban bunga. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya berupa bunga atau mengukur seberapa jauh laba dapat berkurang tanpa perusahaan mengalami kesulitan keuangan karena tidak mampu membayar bunga.

d. Fixed charge coverage Rumusnya adalah:

sewa pembayaran bunga

sewa pembayaran bunga

cov EBIT

arg +

+

= + erage e

Fixed ch

... (2.12)

Fixed charge coverage mengukur berapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga angsuran pinjaman dan sewa.

e. Debt service coverage Rumusnya adalah:

pajak) ) tarif - (1

pinjaman pokok

angsuran (

sewa Bunga

pajak dan bunga sebelum cov Laba

+

= + erage rvice

Debt to se ... (2.13)

Debt service coverage mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya termasuk angsuran pokok pinjaman.

f. Current liabilities to total assets ratio Rumusnya adalah:

Current Liabilities to Total Assets

Aset Total

Lancar Kewajiban

=

... (2.14) Menunjukkan proporsi atas penggunaan utang lancar untuk membiayai investasinya.

(10)

3. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki. Rasio aktivitas meliputi:

a. Periode pengumpulan piutang Rumusnya adalah:

Periode pengumpulan piutang =

kredit Penjualan

360 x Piutang

... (2.15) Periode pengumpulan piutang yaitu rata-rata hari yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi kas. Biasanya ditentukan dengan membagi piutang dengan rata -rata penjualan harian. Kedua rasio tersebut berhubungan, dimana hari dalam satu tahun dibagi dengan periode pengumpulan piutang akan menghasilkan perputaran piutang.

Terlalu tinggi periode pengumpulan piutang itu berarti bahwa kebijakan kredit terlalu liberal atau bebas, akibatnya timbul b ad -debt dan investa si dalam piutang menjadi besar dan akibatnya keberuntungan akan menurun.

b. Perputaran persediaan Rumusnya adalah:

persediaan rata

- Rata

Penjualan Pokok

Harga persediaan

Perputaran = ... (2.16) Seperti halnya perputaran piutang dimaksudkan agar lebih tepat lagi apabila persediaan mengalami perubahan cukup besar. Perusahaan yang perputaran persediaan yang makin tinggi itu berarti makin efisien, tetapi perputaran yang terlalu tinggi juga tidak baik, untuk itu perlu ditentukan keseimbangan.

c. Perputaran aset tetap Rumusnya adalah:

Aset tetap Penjualan aset tetap

Perputaran = ... (2.17) Perputaran aset tetap adalah rasio antara penjualan dengan aset tetap neto.

Rasio ini menunjukkan bagaimana perusahaan menggunakan aset tetapnya seperti gedung, kendaraan, mesin -mesin, perlengkapan kantor.

(11)

d. Perputaran total aset Rumusnya adalah:

aset Total Penjualan aset

total

Perputaran = ... (2.18) Perputaran total aset menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aset untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba.

4. Rasio Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aset maupun modal sendiri. Rasio profitabilitas meliputi:

a. Gross profit margin Rumusnya adalah:

Penjualan HPP - Penjualan argin=

m profit

Gross ... (2.19) Gross profit margin adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjuala n. Semakin tinggi gross profit margin berarti semakin baik, tetapi perlu diperhatikan bahwa gross profit margin sangat dipengaruhi oleh harga pokok penjualan. Apabila harga pokok penjualan meningkat maka gross profit margin akan menurun begitu pula sebaliknya.

b. Net profit margin Rumusnya adalah:

Penjualan pajak setelah argin= Laba

m profit

Net ... (2.20) Apabila gross profit margin selama suatu periode tidak berubah sedangkan net profit margin nya mengalami penurunan maka berarti bahwa biaya meningkat relatif lebih besar daripada peningkatan penjualan.

c. Return on asset Rumusnya adalah:

Return on Assets

aset Total

pajak setelah

= Laba ... (2.21)

(12)

Return on assets menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan.

d. Return on equity Rumusnya adalah:

sendiri Modal

pajak setelah

Returnonequity=Laba ... (2.22)

Return on equity atau return on net worth mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Rasio ini juga dipengaruhi oleh besar kecilnya utang perusahaan, apabila proporsi utang semakin besar, maka rasio ini juga akan makin besar.

e. Operating Profit margin Rumusnya adalah:

Operating Profit margin =

Penjualan

EBIT ... (2.23)

f. Rentabilitas ekonomi Rumusnya adalah:

Rentabilitas ekonomis

aset Total

= EBIT

... (2.24)

g. Earning power Rumusnya adalah:

Earning power

Penjualan pajak setelah Laba

aset Total Penjualan ×

=

... (2.25)

Dengan menggunakan hubungan antara perputaran aset dengan net profit margin maka dapat dicari earning power atau return on assets ratio.

Earning power adalah hasil kali net profit margin dengan perputaran aset.

Earning power merupakan alat ukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan aset yang digunakan. Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi investasi yang nampak pada tingkat perputaran aset.

Apabila perputaran aset meningkat dan net profit margin tetap maka earning power juga akan meningkat.

(13)

Dalam penelitian ini, dengan merujuk pada Kahle dan Shastri (2002), Berger dan Di Patti (2003) , Driffield dan Mahambare (2005), serta Zaretta dan Sitinjak (2006) maka rasio-rasio keuangan yang diamati untuk mengukur kinerja perusahaan meliputi rasio profitabilitas, rasio likuiditas, dan rasio aktivitas.

2.5. Hubungan antara Capital Structure dengan Kinerja Perusahaan Di dalam memilih tempat berinvestasi maka investor akan mempertimbangkan kinerja perusahaan, karena investor memiliki kepentingan terhadap tingkat pengembalian investasi yang digunakan untuk membiayai perusahaan tersebut. Kinerja perusahaan tersebut dapat diukur dengan menggunakan rasio keuangan, yaitu profitabilitas merupakan kemampulabaan perusahaan yang mempengaruhi struktur modal secara langsung. Perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi akan menggunakan hutang yang relatif kecil, karena tingkat laba yang tinggi memungkinkan perusahaan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Di sisi lain, perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan itu berkinerja baik dan berhubungan positif pada growth sehingga akan memberi kemudahan dalam memperoleh dana dari pihak eksternal.

Kahle dan Shastri (2002) dengan berdasar pada pecking order theory yang dinyatakan oleh Myers dan argumen dari Titman dan Wessels menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas tinggi akan cenderung memiliki tingkat leverage yang rendah (lebih banyak menggunakan modal sendiri dibandingkan dengan hutang), jika dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas lebih rendah, karena perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi akan memiliki peluang untuk menggunakan laba ditahan sebagai sumber pendanaan. Dengan dasar tersebut maka Kahle dan Shstri (2002) menggunakan operating profit margin (operating income to sales) dan operating income to assets (ROA dan ROE) sebagai pengukur profitabilitas perusahaan.

Selain profitabilitas, rasio likuiditas juga mempunyai hubungan dengan struktur modal, karena likuiditas berhubungan dengan masalah kemampuan suatu badan usaha untuk memenuhi kebutuhan finansialnya yang harus dipenuhi. Hasil

(14)

penelitian yang dilakukan oleh Aditya (2006) dan Djuang (2007) menunjukkan bahwa variabel likuiditas memiliki hubungan terhadap struktur modal, di mana hubungan yang diberikan adalah hubungan negatif. Dalam penelitian tersebut likuiditas diukur dengan menggunakan current ratio (CR). Secara teoritis hal ini berarti bahwa semakin besar likuiditas (total current asset) perusahaan maka struktur modalnya (dalam hal ini utang) akan semakin berkurang, karena perusahaan yang mempunyai total aktiva yang besar kemampuan untuk membayar utangnya pun lebih besar.

Penelitian Aditya (2006) dan Djuang (2007) juga menunjukkan bahwa tangible asset (asset tangibility) juga memiliki hubungan terhadap struktur modal, di mana hubungan yang diberikan adalah hubungan negatif. Proxy likuiditas lainnya yang memiliki hubungan terhadap struktur modal pada perusahaan kecil dan menengah adalah net working capital/total assets atau working capital to total assets ratio, sedangkan pada perusahaan skala besar, working capital to total assets ratio memiliki hubungan negatif terhadap total pinjaman, tetapi memiliki hubungan positif terhadap struktur keuangan jangka panjang (Voulgaris, dkk., 2004). Karena itu, tingkat likuiditas dan faktor -faktor yang mempengaruhinya perlu diperhatikan oleh pihak intern perusahaan sebagai dasar untuk menentuka n kebijaksanaan bagi perkembangan suatu badan usaha dari tahun ke tahun. Tingkat likuiditas bagi perusahaan memiliki fungsi untuk mengetahui apakah perusahaan yang bersangkutan memerlukan uang yang cukup dipergunakan secara lancar dalam menjalankan usahanya. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa ada hubungan berbanding terbalik antara likuiditas dengan leverage perusahaan.

Aktivitas operasi perusahaan membutuhkan investasi, baik untuk aset yang bersifat jangka pendek (inventory and account receivable) maupun jangka panjang (property, plan, and equipment). Rasio aktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan (sales) dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan tersebut. Rasio aktivitas juga dapat digunakan untuk memprediksi modal yang dibutuhkan perusahaan (baik untuk kegiatan operasi maupun jangka panjang). Misalnya untuk meningkatkan penjualan akan membutuhkan tambahan aset. Rasio aktivitas memungkinkan para analis menduga kebutuhan ini serta menilai kemampuan perusahaan untuk

(15)

mendapatkan aset yang dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat pertumbuhannya.

Pada penelitian ini rasio aktivitas diukur dengan menggunakan total asset turn over. Rasio ini merupakan ukuran seberapa jauh aktiva yang telah dipergunakan dalam kegiatan atau menunjukkan berapa kali aktiva berputar dalam periode tertentu. Berdasarkan penelitian L i dan Cui (2003) yang menggunakan rasio total asset turn over (ratio of annual sales to total assets) sebagai pengukur biaya keagenan menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara total asset turn over dengan struktur modal. Hasil ini mendukung teori Jensen (1986) (theory of free cash flow) yang mempertim bangkan adanya manfaat hutang tambahan sebagai upaya perusahaan untuk memperbaiki produktivitas aset.

2.6. Kerangka Berpikir

ROA ROE

Operating Profit Margin

Current ratio

Assets Tangibility

Perputaran total aset

Struktur Modal:

DER (Long term debt to equity ratio ) Kinerja

Perusahaan :

Ada hubungan kuat antara kinerja perusahaan dengan struktur modal perusahaan

Working capital to total assets ratio

(16)

2.7. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa ada hubungan yang kuat antara kinerja perusahaan dengan struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Veronika Whardana (2009, p. 3), “display merupakan fasilitas untuk memamerkan sebuah produk atau tampilan yang dipamerkan dalam toko untuk membuat suatu ruangan

Sengketa pajak dapat berupa sengketa pajak formal maupun sengketa pajak material, yang dimaksud dengan sengketa pajak formal yaitu sengketa yang timbul apabila Wajib Pajak

Selain itu, value relevance digunakan untuk mengkaji apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi yang

Keputusan disetujui oleh pemegang saham seri A Dwiwarna dan para pemegang saham lainnya dan/atau wakil mereka yang sah yang bersama- sama mewakili lebih dari 1/2 (satu

Uji coba nuklir dan rudal yang dilakukan oleh Korea Utara juga memperkeruh suasana pengupayaan perdamaian karena menimbulkan kekhawatiran di pihak Korea Selatan maupun negara

Penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu apakah pemberitaan konflik di Lampung Selatan dalam media online Tribun Lampung pada bulan Oktober 2012 sampai November 2012

Isochrone dapat digunakan untuk mengetahui usia gugus bintang dikarenakan anggota gugus memiliki usia yang hampir sama.Perbandingan beberapa usia isochrone dengan HR diagram

Madcoms mengemukakan bahwa PHP (Hypertext Preprocessor), merupakan bahasa pemrograman pada sisi server yang memperbolehkan programmer menyisipkan perintah-perintah