47 A. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Masyarakat Kapuas a. Letak Geografis
Letak geografis Kecamatan Kapuas terletak pada koordinat 1°00”
Lintang Utara - 0°06‟ Lintang Selatan dan 109°08‟ Bujur Timur - 111°03‟
Bujur Barat. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Sanggau adalah sebagai berikut:
1) Sebelah Utara dengan Malaysia Timur (Sarawak) 2) Sebelah Selatan dengan Kabupaten Ketapang 3) Sebelah Timur dengan Kabupaten Sekadau
4) Sebelah Barat dengan Kabupaten Landak dan Kabupaten Kubu Raya Dilihat dari kondisi geografis, Kabupaten Sanggau mempunyai posisi strategis yaitu (a) terletak di tengah-tengah Provinsi Kalimantan Barat; (b) terletak pada jalur lalu lintas sektor timur menuju Kabupaten Sekadau, Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu; (c) terletak pada jalur Sungai Kapuas, Sungai terpanjang di Indonesia; (d) terletak pada jalur Trans Kalimantan (Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur); (e) Terletak pada jalur Trans-Borneo (Sarawak dan Brunei Darussalam); (f) berbatasan langsung dengan negara bagian Sarawak Malaysia (Malaysia Timur); (g) memiliki PPLB Entikong sebagai pintu keluar/masuk barang dan manusia antar negara melalui jalur darat resmi pertama di Indonesia.
Berdasarkan jarak tempuh, letak masing-masing ibukota kecamatan menuju ibukota kabupaten memiliki jarak tempuh yang berbeda-beda. Jarak tempuh terjauh adalah Ibukota kecamatan Noyan dengan panjang 158 Km.
b. Luas
Luas wilayah Kecamatan Kapuas adalah 568,60 atau 3,11% dari kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Topografi berhubungan erat dengan kondisi fisik lahan serta relief setempat. Seperti telah diketahui bahwa wilayah Kabupaten Sanggau sebagian besar merupakan tanah Podsolik Merah Kuning (576.910 ha) sedangkan yang terkecil adalah tanah Latosol (19.375 ha). Berikut
uraian jenis tanah dengan luas areanya : Berikut uraian jenis tanah dengan luas areanya :
1) Tanah Organosol bersamaan dengan Glei humus, berjumlah 71.250 ha, yaitu di Kecamatan Toba dan Tayan Hilir.
2) Tanah Podsol terdapat di Kecamatan Toba, Meliau dan Tayan Hilir berjumlah 46.875 ha.
3) Tanah Podsolik merah kuning batuan endapan hampir terdapat di seluruh Kabupaten Sanggau terkecuali di Kecamatan Entikong berjumlah 576.910 ha.
4) Tanah Podsolik merah kuning latosol dan litosol, berada di Kecamatan Noyan dan Sekayam seluas 36.915 ha
5) Tanah Podsolik merah kuning batuan beku dan endapan hampir seluruhnya ditemui di hampir di semua kecamatan, yaitu seluas 536.455 ha.
6) Tanah Latosol terdapat di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Toba dan Kecamatan Meliau dengan jumlah 19.375 ha.
c. Profil Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada empat desa yang berada di Kecamatan kapuas diantaranya, Desa Sungai Alai, Desa Penyaliamu Jaya, Desa Penyaliamu, dan desa Tapang Dulang. Berikut adalah profil desa yang diteliti:
1) Desa Sungai Alai
Gambar 6.Kantor Desa Sungai Alai Sumber : (Dokumentasi Pribadi 2019)
Desa Sungai Alai merupakan desa yang terletak di pinggiran sungai kapuas. Desa ini desa yang paling luas terdampak oleh perkebunan kelapa sawit, Pada umumnya penduduk desa sungai Alai ber etnis Dayak, Jawa ,Sunda, Batak, Bali, dan Melayu, sehingga dalam tatanan adat istiadat juga masih cukup kental mewarnai kehidupan sosial masyarakat, dan sampai saat ini masih ada tradisi yang masih dipelihara yaitu perkawinan/pernikahan, khitanan , kematian kelahiran dan lain sebagainya gunanya adalah untuk saling mengikat hubungan kekeluargaan , dan antar warga.
Keadaan sosial di desa Sungai Alai secara global masyarakat hidup saling berdampingan dengan masyarakat lainnya. Dalam kebiasaan masyarakat sungai alai keutamaan rasa saling membantu sangat dijunjung tinggi terutama ketika ada warga yang mengalami musibah, sebagian besar penduduknya merupakan suku dayak, pemeluk agama yang terbesar adalah pemeluk agama kristen katolik dan protestan.
Pola kehidupan masyarakat sudah mengarah pada zaman modern namun tak lepas dari adat istiadat yang turun temurun dari nenek moyang.
Adat istiadat ini masih dipertahankan hingga kini walaupun banyak pengaruh terutama dari mudahnya informasi yang didapat dari televisi maupun pergaulan masyarakat sehari-hari ditambah lagi dengan pengaruh- pengaruh budaya lainnya yang masuk ke desa sungai alai.
Secara umum keadaan perumahan penduduk pada umumnya sangat baik. Keadaan ekonomi di desa sungai Alai sebagian besar perekonomiannya dalam bidang sektor pertanian dan pada umumnya berpenghasilan sedang yaitu diatas rata-rata pendapatan perkapita nasional.
Mata pencarian yang sebagian besar dari sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi unggulan di desa sungai alai seperti karet, kakao dan sawit.
2) Desa Penyaliamu Jaya
Gambar 7.Kantor Desa Penyelimau Jaya Sumber : (Dokumentasi Pribadi 2019)
Desa peyelimau Jaya adalah desa yang terletak di pinggiran Sungai Kapuas desa ini merupakan desa yang nyaman dan asri dikarenakan desa ini masih dikelilingi oleh banyaknya hutan-hutan yang terjaga keasliannya.
Adapun batas-batas desa penyelimau jaya diantaranya :
Sebelah utara : berbatasan dengan desa sungai alai kecamatan kapuas Sebelah selatan: berbatasan dengan desa pampang dua kecamatan meliau Sebelah timur : berbatasan dengan penyelimau hulu kecamatan kapuas Sebelah barat : berbatasan mukti jaya kecamatan meliau
Sebagian besar masyarakat desa penyalimau jaya bekerja sebagai petani perkebunan kelapa sawit yang dimana sangat berdampak pada pertumbuhan perekonomian di desa tersebut. Banyaknya sebagian besar masyarakat di desa penyalimau jaya ini bersuku dayak dan melayu.
3) Desa Penyalimau Hulu
Gambar 8.Kantor Desa Penyelimau Sumber : (Dokumentasi Pribadi 2019)
Pada umumnya penduduk Desa Penyalimau Hulu ber- etnis dayak, jawa, Sunda ,NTB, batak, bali, melayu, dan ternate, sehingga dalam tatanan adat istiadat juga masih cukup kental mewarnai kehidupan sosial masyarakat, dan sampai saat ini masih ada tradisi yang masih dipelihara yaitu perkawinan /pernikahan, khitanan, kematian kelahiran dan lain sebagainya gunanya adalah untuk saling mengikat hubungan kekeluargaan dan antar warga. Penyelesaian perkara yang terjadi pada umumnya diselesaikan dengan cara Hukum adat, yang berjenjang dari Tingkat RT sampai ke Pengurus Adat dan apabila masih tidak dapat diselesaikan maka dapat ditempuh melalui hukum positif. Batas wilayah penyalimau diantaranya :
Sebelah Barat :Dusun sungai kunyit,desa penyelimau Sebelah Timur :Dusun rambin,dusun Lebak desa Rambin
Sebelah Utara :Dusunkayu tunu desa sungai muntik, dan dusun lintang kapuas desa lintang kapuas
Sebelah Selatan:Dusun engkalet desa lintang pelaman
Pada saat itu belum terbentuknya kepala desa secara definitif. Pada tahun 1953 warga yang berasal dari Lanak, Senyobong Desa Engkode Kecamatan Mukok diterima warga Desa Penyalimau dan menetap di Saka
Dua (Muara Sungai Saka Dua) Dusun Penyaliamu Hulu Desa Penyalimau.
Sejak tinggal di Saka Dua mengadakan musyawarah untuk membuat kampung di saka dua, namun berbagai pertimbangan yang dirasakan kurang tepat untuk dibuat perkampungan akhirnya pada tahun 1969 gagal membuat kampung di saka dua. Adapun warga yang datang dan bermukim di Saka Dua serta bersatu membentuk kampung Saka Dua tahun 1953 adalah : Amok, Ribong, Pance, Jimin, Ringai, Ayen Ocer, Amat, Jugok, Silon, Amat Aden, Latep, Jana, Jambi, Nali, Jajang, Asan, Jama, Jamal, Amin, Lompai.
Pada tahun 1969 tersebut juga akhirnya satu persatu meninggalkan permukiman saka dua, dan pada tahun bersamaan 4 KK (Kepala Keluarga) pindah dan membuat perkampungan di wilayah Riam Putih (Sekarang Dusun Riam Putih) dan sebagian pindah dan membuat bersama-sama di kampung tongkok (Sekarang Desa Tapang Dulang) dan sebagian ada yang membuat perkampungan di Dusun Sungai Kunyit Dalam serta sebagian ada yang kearah Kuala Kabupaten Ketapang. Pada tahun 1956 Sdr. JAMBI sebagai pengurus kampung riam putih, dari tahun 1956 tersebut juga yang awal masuk dan membuat perkampungan Riam Putih 4 KK (Kepala Keluarga) dan semenjak tahun 1956 tersebut juga berdatangan dari tahun ke tahun sampai tahun 2017 memiliki KK (Kepala Keluarga) sebanyak 76 KK.
Gambar 9.Kantor Desa Penyelimau Jaya Sumber : (Dokumentasi Pribadi 2019)
Dengan masuknya Perkebunan Kelapa Sawit pada tahun 1989/1990 ke daerah Desa Penyalimau serta dengan adanya Bantuan bibit unggul Karet dari Pemda tahun 2009 untuk perkebunan Karet Rakyat, telah banyak membantu memperbaiki ekonomi masyarakat Desa, peningkatan ekonomi tersebut telah membawa kearah perubahan yang positif hal ini terbukti dengan telah banyak dibangun rumah permanen yang terbuat dari beton, rata-rata memiliki sepeda motor, pesawat Televisi, Handphone, bahkan sudah ada warga yang memiliki kendaraan roda empat. Dan secara umum pula sudah tidak ada lagi penduduk yang sulit untuk mendapatkan kebutuhan makan sehari-hari. Walaupun kondisi ekonomi dan kehidupan sosial sudah jauh mengalami kemajuan namun tidak bisa pula dihindari masih adanya penduduk yang masih hidup miskin, pemerintah juga telah berupaya membantu melalui pendistribusian Raskin, adapun jumlah warga miskin sampai 13 September 2018 berjumlah 29 KK.
4) Desa Tapang Dulang
Gambar 10.Kantor Desa Tapang Dulang Sumber : (Dokumentasi Pribadi 2019)
Desa Tapang Dulang merupakan Desa yang masih sangat asri karena semua dikelilingi hutan yang sangat luas. Pemukiman masyarakat Desa Tapang Dulang terletak di sekitar lereng pegunungan yang membentang dari wilayah Kecamatan Meliau sampai ke wilayah Kecamatan Kapuas.
Secara geografis dilihat dari ketinggian wilayah Desa Tapang Dulang
berada pada 30 Mil dari permukaan Laut dengan curah hujan rata-rata 3184 mm/tahun, Desa Tapang Dulang berada pada wilayah 0º52‟ - 0º1‟52” garis Lintang dan 109º30‟ - 110º27‟51” garis Bujur.
Berdasarkan arah mata angin maka Desa Tapang Dulang masing- masing memiliki daerah perbatasan yaitu :
- Sebelah Utara Desa Tapang Dulang berbatasan dengan Desa Penyelimau, Kecamatan Kapuas.
- Sebelah Selatan Desa Tapang Dulang berbatasan dengan Desa Pampang Dua, Kecamatan Meliau.
- Sebelah Timur Desa Tapang Dulang berbatasan dengan Desa Kuala Rosan, Kecamatan Meliau.
- Sebelah Barat Desa Tapang Dulang berbatasan dengan Desa Penyalimau Jaya, Kecamatan Kapuas.
Desa Tapang Dulang terdiri atas bentangan alam dan hutan yang luas sehingga sebagian besar masyarakat masih terikat dengan alam dengan memanfaatkan bahan-bahan alam dan kekayaan alam yang ada baik untuk pembangunan, perekonomian, pertanian, perkebunan maupun pemanfaatan kebutuhan lainnya.
Secara Historis dahulu Desa Tapang Dulang berawal dari Pemindahan masyarakat dari Jangkang Jungur Tanjung pada Tahun 1964 bermukim di Kampung Tongkok sebanyak 16 Kepala Keluarga (KK) Selang Waktu 4 Tahun (1964-1968), Kemudian pindah lagi ke Kampung Melobo Tahun 1968-1982 dengan 27 Kepala Keluarga (KK), Pindah lagi Pemukiman ke Kampung Tapang Dulang pada tahun 1982-1997 dengan 30 Kepala Keluarga. Pemukiman Kampung dan Pemukiman Transmigrasi Kapuas L dimulai penempatan pada tanggal 30 Oktober tahun 1996 s/d tanggal 25 Maret 1997 sejumlah 320 KK = 1.308 Jiwa yang berasal dari beberapa Daerah yaitu dari Jawa barat, DKI, Jawa Tengah, NTB, dan APPDT terdiri dari beberapa suku yaitu, Dayak, Melayu dan Cina.
Dari transmigrasi diserah ke Pemerintah Daerah Pada tanggal 12 Desember tahun 2000. Dengan rentang waktu yang cukup lumayan lama untuk menantikan Kampung Tapang Dulang Menjadi Desa Tapang Dulang
merupakan Desa yang diresmikan pada tanggal, 11 Juni 2009 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2009 Tentang Penetapan Desa Tapang Dulang, Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau, Mengingat sangat pentingnya hari jadi tersebut maka kami seluruh masyarakat Tapang Dulang, sepakat untuk dijadikan hari peringatan Ulang tahun Desa.
Dalam sejarah Desa Tapang Dulang merupakan dari nama Tapang Dulang mempunyai makna Duta, artinya Warga Tapang Dulang jaman Dahulu dipercaya oleh masyarakat di sekitar Tahun 1984 berdiri sebuah kampung salah satu RT. dari Desa Penyelimau yang berjumlah 30 KK.
Mayoritas dayak jangkang Jungur tanjung dengan bahasa Ento-ento di tengah-tengah kampung ada sebuah kayu tapang yang sangat besar yang sangat indah bersih tegas dan tegar, salah satunya dahan ada yang menggembung dalam perkiraan ± I. m² (satu meter persegi) sebuah yang mesteri yaitu kaya dulang untuk mengayak emas, pengembungan kayu tersebut jaman dahulu biasa dipakai tempat istirahat kalau orang akan mengambil madu lebah di batang kayu tersebut, maka para orang tua-tua dulu desa tersebut diberi nama Tapang Dulang, menurut orang tua jaman dulu kayu tapang itu bersih tegak besar tidak ada kayu lain yang bisa merobohkannya. Pada Setiap Kepercayaan yang diberikan semuanya sukses ini dibuktikan dengan cerita turun temurun. Dengan Kepercayaan ini jadi sampai saat ini, warga Tapang Dulang tetap mempercayai, seperti sejarah kayu tersebut.
Persoalan yang terjadi di Tapang Dulang, seperti yang kami lakukan selama ini seluruh Etnis suku berkumpul pada satu tempat yang dinamai Balai Berugok untuk melaksanakan Pembacaan Doa Bersama, untuk acara gawai tutup tahun, lalu acara tersebut sebelum acara dimulai acara tersebut dibuka oleh salah satu etnis, setelah acara tersebut selesai ditutup oleh salah satu jenis lain.
Desa Tapang Dulang salah satu desa yang jauh dari kecamatan (± 87 Km), mayoritas penduduk Desa Tapang Dulang adalah suku Dayak, Melayu dan Cina dan mayoritas beragama Islam dan Kristen Protestan. Asal mula terbentuknya Desa Tapang Dulang berasal dari Pemukiman Transmigrasi
Kapuas L dimulai penempatan pada tanggal 30 Oktober tahun 1996 s/d tanggal 25 Maret 1997 sejumlah 320 KK = 1.308 Jiwa yang berasal dari beberapa Daerah yaitu dari Jawa barat, DKI, Jawa Tengah, NTB, dan APPDT terdiri dari beberapa suku yaitu, Dayak, Melayu dan Cina. Pada Tahun 2009 yang pada saat itu terdiri dari dua kepala Kampung, dimana Kampung Tantang Jaya dikepalai oleh Bapak Samsul Bahri dan Kampung Kerowet Permai dikepalai oleh Bapak Sulianto Botet,
Dari dua kepala kampung tersebut di atas membentuk suatu Desa dengan persatuan kepala kampung dengan nama Tapang Dulang yang diambil dari nama Kayu Tapang, Desa Tapang Dulang pada saat itu dikepalai oleh Bapak Yohanes Tabae selaku kepala Desa pertama periode tahun 1997 sampai dengan tahun 2016. Selanjutnya Bapak Samuel Poter selaku Pejabat kepala Desa Kedua periode tahun 2017 sampai dengan tahun 2019, dan Bapak Yohanes selaku kepala Desa Ketiga periode tahun 2019 sampai dengan tahun 2025. Seiring perkembangan zaman dan berdasarkan hasil pemetaan Pemerintah maka Desa Tapang Dulang hanya terdiri atas dua (2) Dusun yaitu Dusun Tantang Jaya dan Dusun Kerowet Permai. Terdiri dari Lima (5) RT dan Dua (2) RW.
2. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Sebelum Adanya Perkebunan Kelapa Sawit Di Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau a. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Sosial Sebelum Adanya Perkebunan
Kelapa Sawit
Kondisi sosial masyarakat di Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat sebelum masuknya perkebunan kelapa sawit dapat dikatakan penuh diwarnai dengan adat atau tradisi setempat. Sebelum adanya perkebunan sawit, lingkungan kecamatan Kapuas dikelilingi oleh hutan serta sebagian kebun karet. Penduduk di kecamatan kapuas tersebut mayoritas merupakan penduduk asli yang bersuku Dayak dan Melayu. Masyarakat di Kecamatan Kapuas masih kuat dengan tradisi dan budaya mereka yang diwariskan secara turun temurun. Hal itu membuat kehidupan sosial mereka juga dipenuhi dengan tradisi yang mereka miliki. Misalnya bagaimana masyarakat Kapuas merawat alam, hutan, dan juga lingkungan sekitar, serta membuat aturan-aturan untuk
kehidupan mereka sendiri.
1) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Kapuas mayoritas masih rendah terutama sebelum adanya perkebunan sawit. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak terlalu dibutuhkan dalam kehidupan mereka. Artinya, jenjang sekolah yang tinggi bukan menjadi tuntutan kebutuhan hidup kebanyakan masyarakat di kecamatan Kapuas. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh narasumber di bawah ini.
“Kalau menurut saya, sekolah tinggi atau sekolah rendah ya sama saja. Tidak ada bedanya. Karena di sini paling banter juga akan jadi petani, menderas karet atau berkebun. Daripada menyekolahkan anak, lebih baik lulus sekolah dasar atau tingkat pertama, suruh bantu-bantu orangtua saja.” (Wawancara : Hendrikus, 24 Juli 2019).
Pernyataan di atas didukung oleh narasumber lain yang memaparkan bahwa :
“Karena kebutuhan hidup. Kalau sekolah tinggi itu mengeluarkan biaya, sementara tidak menjamin bisa mendukung ekonomi keluarga. Jadi, ya lebih baik bekerja saja daripada melanjutkan sekolah lagi.” (wawancara: Satrianus, 24 Juli 2019).
Menurut sebagian besar informan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang terdapat di kecamatan Kapuas kurang memadai dan kurang mencukupi. Kondisi dan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan seperti gedung sekolah, kelengkapan fasilitas sekolah (seperti meja, bangku, papan tulis, lemari, buku-buku,dan sebagainya) tenaga pendidikan, fasilitas pendukung pendidikan, akses jalan menuju ke sekolahan sangat terbatas yang menyebabkan masyarakat sekitar sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Berdasarkan pernyataan di atas, masyarakat berpandangan bahwa tingkat pendidikan sebelum adanya perkebunan kelapa sawit mayoritas masih rendah. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa melanjutkan sekolah di tingkat yang lebih tinggi tidak akan merubah nasib mereka.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi penyebab masyarakat lebih memilih anak mereka membantu perekonomian keluarga daripada melanjutkan
sekolah.
2) Kesehatan Keluarga
Masyarakat berpandangan bahwa kondisi kesehatan di masyarakat Kecamatan Kapuas sebelum ada perkebunan sawit maupun sesudah ada perkebunan sawit, tidak jauh berbeda. Artinya, masyarakat bisa saja terkena penyakit dan tidak ada kaitannya dengan perkebunan sawit. Masyarakat memiliki persepsi bahwa ada atau tidaknya perkebunan sawit, penyakit bisa saja berjangkit pada seseorang. Hanya saja sebagian masyarakat beranggapan bahwa cara menangani penyakit tersebut yang berbeda.
Artinya penanganan terhadap penyakit antara sebelum ada perkebunan sawit dengan sesudah ada perkebunan sawit berbeda. Seperti yang diungkapkan narasumber di bawah ini.
“Kalau penyakit pasti ada ya. Apakah itu sebelum ada perkebunan sawit atau sesudah adanya perkebunan sawit. Cara mengobati penyakit yang menurut saya lain. kalau dulu, ada orang kena sakit, diobati dengan cara tradisional. Dengan ramuan daun, akar-akaran.
Atau dengan dukun atau orang yang dianggap punya kemampuan mengobati orang sakit. Tapi sekarang sudah ada Puskesmas di sini, kita bisa berobat ke dokter, dikasih obat, suntik, dan lain sebagainya.” (wawancara: Acian, 27 Juli 2019).
Sejalan dengan pernyataan di atas, narasumber lain mengungkapkan pandangannya.
“Kalau dulu barangkali belum ada puskesmas, rumah sakit sangat jauh. orang susah berobat ke dokter. Lagi pula di sini ada cara tradisional untuk mengobati penyakit, apa itu demam, badan panas, dan segala macam bisa sembuh.” (wawancara: Maria Livi, 27 juli 2019).
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa sebelum masuknya kebun kelapa sawit kondisi kesehatan masyarakat sama dengan masyarakat pada umumnya hanya saja masyarakat setempat lebih memanfaatkan pengobatan tradisional dibanding dengan pengobatan medis. Hal ini dikarenakan fasilitas Kesehatan seperti rumah sakit maupun klinik sulit untuk dijangkau. Sehingga masyarakat cenderung lebih bergantung pada obat-obatan tradisional.
3) Interaksi Masyarakat
Interaksi masyarakat Kapuas sebelum masuknya perkebunan kelapa
sawit cenderung tertutup dengan masyarakat luar. Masyarakat menilai bahwa keadaan tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat di Kecamatan Kapuas itu sendiri yang cenderung tertutup dari dunia luar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh narasumber di bawah ini.
“Sebelum ada sawit dulu kondisi sosial kurang baik, dalam arti cenderung tertutup dengan pendatang atau masyarakat luar. Namun sekarang sudah bisa berinteraksi dengan baik, setelah adanya kebun sawit. Bisa menerima perubahan yang ada”.(Wawancara:
Hendrikus, 24 Juli 2019).
Bahkan masyarakat yang menilai kehidupan sosial masyarakat kapuas masih primitif dan tertutup untuk dunia luar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Satrianus di bawah ini :
Kalau menurut saya, ya sebelumnya primitive, tertutup, tidak bergaul dengan dunia luar. Sejak ada perkebunan sawit, lambat laun mulai ada perubahan-perubahan dan akhirnya sekarang mulai beradaptasi dengan dunia luar. (Wawancara: Satrianus, 24 Juli 2019).
Berdasarkan beberapa pernyataan narasumber di atas, dapat dipahami bahwa interaksi masyarakat cenderung tertutup hal ini disebabkan oleh perilaku masyarakat itu sendiri yang belum bisa menerima kehadiran masyarakat luar. Namun pernyataan lain mengindikasikan bahwa kehidupan sosial masyarakat di Kecamatan Kapuas baik-baik saja, sedangkan yang lain menilai masyarakat kurang maju karena tertutup oleh dunia luar sehingga potensi untuk mendapatkan informasi baru, kebudayaan baru, pengalaman baru sangat kecil.
4) Sarana Sosial/Publik
Kehidupan sosial masyarakat kecamatan kapuas masih sederhana karena mereka cenderung tertutup dan selalu berupaya melindungi adat dan budaya setempat yang diyakini sebagai budaya leluhur mereka. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa kehidupan sosial masyarakat di Kecamatan Kapuas sangat sederhana karena tidak tersentuh oleh budaya luar, khususnya yang berkaitan dengan teknologi. Mengenai hal ini diungkapkan oleh narasumber di bawah ini.
“Sebelumnya kondisi sosial masih sangat sederhana ya. Karena apa–
apa dikerjakan secara tradisional. Tetapi hubungan kami itu baik, seperti saudara begitu, komunikasi juga baik-baik saja. Munculnya persoalan biasanya bisa cepat diselesaikan secara musyawarah”.
(wawancara: Susi, 22 juli 2019).
Pendapat di atas juga diperkuat oleh narasumber lain yang mengungkapkan bahwa
“Dulu tidak terlalu baik karena semua masih sederhana. Tidak menerima dunia luar atau memang tidak dikenal oleh dunia luar.
Mungkin disebabkan oleh keadaan lingkungan yang masih berhutan lebat. Tapi sejak ada perkebunan sawit keadaan jadi berubah. Sudah banyak pendatang dan jadi bertambah ramai” (wawancara: Cantono, 22 juli 2019 ).
Sarana sosial dan publik masih sangat terbatas hal ini dikarenakan kabupaten Kapuas merupakan salah satu daerah tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang ada di Kalimantan. Begitupun dengan kondisi sosialnya, seperti halnya pernyataan narasumber berikut :
“Kalau sebelum ada sawit, kehidupan sosial di sini sangat baik dengan lingkungan, dengan sesama penduduk sini. Kami hidup damai dan rukun-rukun saja. Kalau ada konflik segera bisa diselesaikan dengan baik-baik. Sekarang mungkin potensi timbul masalah sosial karena penduduk semakin banyak, pendatang juga banyak, jadi rawan terjadi persoalan-persoalan. Mungkin mulai ada pula kesenjangan sosial ya”. (wawancara: Paulus Sabinus, 22 juli 2019)
Pernyataan lain yang mendukung adalah
“Kalau menurut saya, kalau dilihat dari segi sosialnya, sebelumnya ya baik, karena masyarakat disini masih asli, penduduk asli sini. Dan masalah yang ada belum begitu rumit seperti sekarang ini. Walaupun kehidupan kami boleh dikata sederhana, tetapi hubungan satu sama lain baik-baik saja. Hampir tidak ada gesekan-gesekan, begitu. Tapi sekarang sudah ada kebun sawit, yang mana mau tidak mau mulai banyak pendatang ke sini. Artinya masyarakat sini sudah terbuka terhadap dunia luar sehingga perubahan tak bisa dihindari lagi.
Kalau ada persoalan secara sosial yaitu sudah jadi resiko saya kira.”
(wawancara: A Tomen, 22 juli 2019).
Pendapat tersebut sejalan dengan pernyataan dibawah ini
“Kondisi sosial sebelumnya tak sebaik ketika masih belum ada kebun sawit. Memang suasana lebih sepi apalagi pas malam.
Penduduknya tak sebanyak sekarang ini. Mayoritas masyarakatnya waktu itu ya masih asli orang sini, belum ada pendatang sehingga kami mengatur segalanya ya dengan cara kami. Harus saling membantu. Sekarang ramai, banyak pendatang. Jalanan dibangun, diperbaiki. Memang ada dampaknya pula”. (Wawancara: Sarinus,
22 juli 2019)
Sebagian masyarakat beranggapan bahwa kondisi lingkungan tempat tinggal mereka ketinggalan dibanding dengan daerah-daerah lain.
Masyarakat menilai kondisi sosial mereka kurang maju dan ketinggalan. Hal ini diungkapkan oleh narasumber berikut ini.
“Kondisi sosial masih melarat, kurang maju. Semua pekerjaan dikerjakan dengan cara tradisional. Rumah satu dengan lainnya masih terbentang jarak yang jauh. Penduduk masih sangat jarang”
(wawancara: Yulian Ipana, 23 juli 2019).
“Sebelum ada sawit berpergaulan rendah, maksudnya kami masih sangat tradisional, sederhana dari segi apa pun. Sekarang sudah mulai teratur”(wawancara: A Tomen, 23 juli 2019).
Pendapat yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Maria Levi di bawah ini.
“apabila meninjau kembali ke belakang atau sebelum ada perkebunan sawit, kondisi sosial masyarakat di sini menurut saya dapat dikatakan sangat ketinggalan” (wawancara: Maria Livi, 23 juli 2019.)
“Sebelum ada sawit kondisi kurang baik secara sosial. Setelahnya kondisi jadi lebih baik”. (wawancara: Langgan, 23 juli 2019.) Masyarakat juga menilai bahwa keadaan yang kurang maju atau ketinggalan tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat di Kecamatan Kapuas itu sendiri yang cenderung tertutup dari dunia luar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh narasumber di bawah ini.
“Sebelum ada sawit dulu kondisi sosial kurang baik, dalam arti cenderung tertutup dengan pendatang atau masyarakat luar. Namun sekarang sudah bisa berinteraksi dengan baik, setelah adanya kebun sawit. Bisa menerima perubahan yang ada”. (Wawancara:
Hendrikus, 24 juli 2019).
Berdasarkan beberapa pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian masyarakat menganggap kehidupan sosial masyarakat di Kecamatan Kapuas baik-baik saja, sedangkan yang lain menilai masyarakat kurang maju karena tertutup oleh dunia luar sehingga jangkauan untuk mendapatkan informasi baru, kebudayaan baru, pengalaman baru sangat kecil.
b. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Ekonomi Sebelum Adanya Perkebunan Kelapa Sawit
Kondisi ekonomi masyarakat di Kecamatan Kapuas dapat dikatakan dalam keadaan miskin atau kekurangan. Hal tersebut terjadi karena sedikitnya lapangan pekerjaan yang ada. Selain itu karakter masyarakat Kapuas yang tertutup terhadap dunia luar menyebabkan sedikitnya peluang untuk berinteraksi dengan dunia luar. Interaksi dengan dunia luar sangat diperlukan untuk membuka peluang diperolehnya relasi sosial yang memungkinkan untuk membuka peluang berkaitan dengan persoalan ekonomi. Masyarakat yang terbuka tentu akan mengundang pihak luar untuk datang dan turut memberikan kontribusi secara ekonomi.
1) Sumber Mata Pencaharian
Sebelum masuknya perkebunan sawit, sumber mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Kapuas dengan bertani (berkebun dan berladang), dan menderas getah karet. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan di bawah ini.
“Kalau pekerjaan saya dulunya adalah noreh dan berladang. Ya lumayan sekedar untuk menyambung hidup walaupun harus hidup sederhana”. (wawancara: A Tomen, 2 agustus 2019 ).
“Kerja sebelumnya noreh dan berladang, di mana penghasilan kami sangat minim bila dibandingkan dengan bekerja di kebun sawit ini”.
(Wawancara: Hendrikus, 2 agustus 2019).
“Pekerjaan sebelumnya berladang, noreh getah. Pekerjaan ini kalau dilihat dari hasilnya lumayan jauh juga bila dibandingkan dengan bekerja di perkebunan sawit. Nyatanya kesejahteraan kami meningkat setelah bekerja di kebun sawit” (Wawancara: Maria Livi, 2 agustus 2019)
“Kerja sebelumnya berladang dan sadap getah. Itu penghasilan tak seberapa. Artinya dengan bekerja seperti itu penghasilan kecil bila dibanding di perkebunan sawit ini. Hampir sebagian masyarakat merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Saya kira begitu”.
(Wawancara dengan Cantona pada tanggal 2 agustus 2019)
“Kerja sebelumnya noreh, dan bila dibanding dengan yang sekarang lebih enak yang sekarang, di perkebunan sawit ini. Penghasilannya jauh lebih baik”. (Wawancara dengan Acian pada tanggal 2 agustus 2019).
Keterangan narasumber di atas mengindikasikan bahwa sebelum masuknya perkebunan kelapa sawit kondisi ekonomi masyarakat setempat cukup memprihatinkan. Hal ini dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sumber penghasilan. Pendapatan masyarakat tersebut menyebabkan masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
2) Fasilitas Ekonomi
Salah satu kemajuan di bidang ekonomi ditandai dengan adanya fasilitas ekonomi. Sebelum adanya perkebunan sawit, fasilitas ekonomi di Kecamatan Kapuas masih sangat sedikit. Fasilitas ekonomi yang ada sebelum hadirnya perkebunan sawit di Kecamatan Kapuas antara lain pasar tradisional, warung makan, toko kelontong, dan lain sebagainya. Seperti yang diungkapkan oleh narasumber berikut:
Menurut saya ya masih sangat sedikit. Toko itu ada tapi ya tidak sebanyak sekarang. Pasar masih tradisional. Tidak ada mal atau supermarket. Jadi ya berbeda dengan yang sekarang ada.” (wawancara:
Sarinus,2 agustus 2019).
Pernyataan di atas ditegaskan oleh narasumber lain yang mengatakan bahwa :
“Fasilitas ekonomi kalau dulu masih terbatas. Penduduk sini bekerja kebanyakan di kebun, sawah jadi petani, kemudian menjual hasilnya ke pasar, dan lain sebagainya. Dibanding sekarang sangat jauh. sekarang lebih ramai, banyak toko, koperasi, bank, dan macam- macam lagi.
Jadi ya orang bisa bekerja di sana.” (wawancara:Topik, 2 agustus 2019).
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fasilitas ekonomi sebelum masuknya perkebunan sawit masih sangat minim yang tersedia. Hal ini dikarenakan kondisi Kecamatan kapuas masih tergolong sepi, penduduk masih sedikit sehingga fasilitas ekonomi juga masih terbatas.
3) Kepemilikan Rumah atau Tempat Tinggal
Kepemilikan rumah juga dapat menjadi tanda bagi status ekonomi seseorang. Bukan saja mengenai kuantitas atau jumlahnya, tetapi juga
berdasarkan ukuran atau besar kecil ukuran tanah dan rumah, serta bentuk fisik rumah tersebut. Sebelum ada perkebunan sawit, rumah yang dimiliki oleh masyarakat Kecamatan Kapuas masih sangat sederhana. Rumah tersebut terbuat dari papan kayu.
“Kalau masyarakat di sini waktu itu kan masih sedikit. Jadi rumah juga tidak begitu padat. Apalagi sebagian masyarakat hidup dengan cara berpindah-pindah. Karena masih sedikit, jarak dari rumah satu dengan yang lain itu tidak berdekatan.” (Wawancara: Udin, 2 agustus 2019).
Pernyataan di atas didukung oleh narasumber lain yang mengatakan bahwa:
“Masih sedikit dan hampir semuanya sederhana. Kebanyakan rumah adat, yang terbuat dari kayu atau papan. Rumah di sini rata-rata berbentuk persegi panjang dan bisa ditempati oleh beberapa keluarga.
Belum ada rumah yang berbentuk macam-macam dari batu bata atau tembok.” (Wawancara: Devi, 2 agustus 2019).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebelum masuknya perkebunan kelapa sawit masyarakat Kapuas masih memiliki rumah yang sederhana hal itu diakibatkan oleh keterbatasan ekonomi.
Namun untuk status kepemilikan rumah adalah rumah sendiri.
4) Pendapatan
Sebelum adanya perkebunan sawit, sebagian masyarakat menilai bahwa kondisi perekonomian masyarakat di Kecamatan Kapuas dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Hal itu diakibatkan oleh kurangnya pendapatan dan lowongan kerja tidak tersedia.
“Apabila dilihat pendapatan ya dapat dikatakan susah, kondisi ekonomi kurang baik, karena lapangan kerja sulit ya. Hanya mengandalkan alam seperti hutan sedangkan peralatan atau semacamnya tidak kami miliki”. (wawancara: Susi, 3 agustus 2019).
Jaman sebelum ada perkebunan sawit saya bekerja berladang dan sadap karet. Seperti yang tadi saya bilang, hasilnya sangat sedikit untuk membiayai kebutuhan hidup kami sehari-hari”. (wawancara:
Langgan, 3 agustus 2019.)
“Pendapatan kami kalau sebelum adanya perkebunan sawit, dapat dikatakan memprihatinkan. Uang saja mungkin tidak terlalu banyak mengenalnya, karena waktu itu transaksi dilakukan dengan cara barter. Itu saya mengalaminya. Jadi, bisa dikatakan masyarakat disini tergolong pendapatan rendah dan masyarakatnya tergolong miskin”. (wawancara dengan Sarianus pada tanggal 3 agustus 2019).
“Untuk masalah ekonomi demikian juga. Dulu sebelum ada kebun sawit, orang bekerja hanya mengandalkan kebun yang tak seberapa, bertani, menderas getah karet tapi semua itu tak dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan baik (wawancara: Cantona, 3 agustus 2019).
“Memprihatinkan masyarakat hanya mengandalkan berladang dan sadap karet lokal. Penghasilan yang didapat tidak seberapa. Belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Itu sangat kecil sehingga untuk membiayai sekolah anak juga kesulitan”. (wawancara: Langgan, 3 agustus 2019)
Berdasarkan keterangan beberapa narasumber diatas dapat disimpulkan bahwa sebelum masuknya perkebunan kelapa sawit pendapatan masyarakat Kapuas masih tergolong sangat rendah, pendapatan hanya dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hal ini dikarenakan sulitnya lapangan kerja.
3. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Setelahnya Masuknya Perkebunan Kelapa Sawit
a. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Sosial Setelah Masuknya Perkebunan Kelapa Sawit
Kondisi sosial masyarakat Kapuas setelah masuknya perkebunan kelapa sawit adalah semakin membaik. Untuk lebih jelasnya dapat dikaji dari empat aspek yaitu
1) Tingkat Pendidikan
Masuknya perkebunan kelapa sawit memberikan dampak positif bagi masyarakat khususnya pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling penting dengan latar belakang pendidikan yang baik maka seseorang akan dipandang tinggi derajatnya dibanding yang tidak berpendidikan, untuk itu manusia senantiasa selalu dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan yang ada agar kelak bisa menjadi orang yang pandai dan memiliki SDM yang handal dan siap memasuki dunia kerja.
Seperti halnya di Kecamatan Kapuas pada saat ini fasilitas pendidikan bisa dikatakan sudah memadai dari bangunan fisik hingga tenaga mengajar dan diharapkan akan menciptakan SDM yang handal dan mampu bersaing di kemudian hari.
Dari hasil penelitian di lapangan penulis mengambil pendapat pemerintahan Desa mengenai tingkatan pendidikan.
“Pada saat ini saya melihat minat anak-anak untuk bersekolah sangat tinggi, rata-rata anak usia sekolah tidak ada yang putus sekolah sehingga sebagian besar penduduk tamatan SLTA dan banyak juga yang mengenyam pendidikan hingga memperoleh gelar sarjana”.(Wawancara 25 Juli 2019)
Selain itu pernyataan masyarakat juga mendukung akan pentingnya pendidikan. Hal ini berdasarkan pernyataan berikut
“Memang sejak adanya perkebunan sawit ini, ada perubahan dalam bidang pendidikan. Sekarang banyak anak-anak di sini yang sekolah di tingkat yang lebih tinggi dibanding dengan jauh sebelum ada perkebunan sawit. Sekarang, sebagian ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi, yang SMA juga banyak. (Wawancara: A Tomen, 26 Juli 2019).
Jika dilihat dari pentingnya pendidikan buat anggota keluarga informan, sebagian besar cara berpikir informan telah mengalami perubahan dalam cara berpikir tentang pendidikan anak dan keluarga. Sebelum adanya perkebunan kelapa sawit, kondisi desa yang terisolir membuat sebagian informan menganggap pendidikan anak tidaklah terlalu penting untuk kehidupannya. Mereka berpikir cukup hanya menyekolahkan anaknya hanya sampai tingkat pendidikan SD. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar informan dulunya berpikir “yang penting bisa baca, tulis dan hitung saja” yang bertujuan agar tidak memanfaatkan orang. hal itu seperti pernyataan dari informan berikut ini.
“pendidikan anak bagi saya dulu tidak terlalu penting. Karena memang sebagian masyarakat sini anaknya ya cuma lulusan SD saja.
Malah ada yang gak lulus SD juga makanya dulu anak udah selesai SD saja sudah seneng”. Dulu pendidikan buat anak penting gak penting juga. Pokoknya saya sekolahkan anak saya agar bisa baca, tulis, hitung cukup biar gak ditipu orang luar. (wawancara: Susi, 22 juli 2019)
Namun ada beberapa masyarakat yang menganggap dari dulu pendidikan itu penting. Namun mereka terkendala fasilitas pendidikan yang ada di sekitar mereka dan juga faktor ekonomi keluarga yang kurang mencukupi. Alasan mereka menganggap pendidikan itu penting yaitu agar
anak-anak mereka mampu dan bisa lebih tinggi dari pada orang tuanya, agar kedepannya memiliki kehidupan yang enak daripada saat ini. Selain ada yang menganggap tidak penting dan penting, sebagian informan lainnya juga mengatakan bahwa belum memikirkan untuk pendidikan anak kedepannya. Pada saat masuknya perkebunan Kelapa Sawit, cara berpikir informan yang diteliti tentang pendidikan anak sudah mengalami perubahan. Jika sebelumnya sebagian informan masih ada yang menganggap pendidikan kurang penting dan masih belum mempunyai pandangan namun pada saat ini seluruh informan menganggap bahwa pendidikan itu penting buat mereka dan anggota keluarga mereka.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam bidang pendidikan masyarakat berpandangan ada perubahan antara sebelum ada perkebunan sawit dengan setelah ada perkebunan sawit. Sebelum ada perkebunan sawit, sebagian sebagian masyarakat masih berpendidikan rendah, yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak akan merubah keadaan hidup mereka. Masyarakat lebih memilih anak mereka membantu bekerja daripada melanjutkan sekolah setelah tamat sekolah dasar atau tingkat pertama. Setelah ada perkebunan sawit, mulai ada perubahan dalam bidang pendidikan.
Masyarakat berpandangan bahwa sejak ada perkebunan sawit, perekonomian meningkat sehingga ada biaya untuk menyekolahkan anak- anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Selain itu mulai ada perubahan berpikir, bahwa sekolah bukan saja semata-mata untuk urusan pekerjaan, melainkan juga meningkatkan pengetahuan, wawasan dan lain sebagainya.
Tabel 4.Tingkat Pendidikan Masyarakat Kapuas
TINGKATAN PENDIDIKAN LAKI-LAKI PEREMPUAN Usia 3-6 tahun yang belum masuk
TK
0 orang 0 orang Usia 3-6 tahun yang sedang
TK/play group
25 orang 30 orang Usia 7-18 tahun yang tidak pernah
Sekolah
2 orang 0 orang
Usia 7-18 tahun yang sedang Sekolah
223 orang 200 orang Usia 18-56 tahun tidak pernah
Sekolah
8 orang 7 orang Usia 18-56 thn pernah SD tetapi
tidak tamat
18 orang 16 orang
Tamat SD/sederajat 126 orang 151 orang
Jumlah usia 12 – 56 tahun tidak tamat SLTP
20 orang 27 orang Jumlah usia 18 – 56 tahun tidak
tamat SLTA
50 orang 49 orang
Tamat SMP/sederajat 106 orang 113 orang
Tamat SMA/sederajat 90 orang 108 orang
Tamat D1/sederajat 0 orang 1 orang
Tamat D2/sederajat 6 orang 5 orang
Sumber : Laporan Profil Desa Dan Kelurahan 2018
Dari pemaparan diatas dapat diketahui bahwa pendidikan masyarakat Kapuas saat ini mengalami kemajuan. Dengan kondisi ekonomi yang memadai dampak dari aktivitas perkebunan masyarakat bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tentunya hasil tersebut meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di kecamatan Kapuas.
2) Kesehatan Keluarga
Tingkat kesehatan merupakan salah satu kunci untuk membangun suatu daerah. Dengan tingkat kesehatan yang baik, maka orang yang bersangkutan akan dapat beraktivitas dengan produktif. Tingkat kesehatan dipengaruhi oleh faktor hereditas, nutrisi, pelayanan kesehatan, dan lingkungan (Hambuako,2009). Masuknya perkebunan kelapa sawit mengakibatkan cara penanganan penyakit di kecamatan Kapuas berubah.
Dari yang berobat secara tradisional hingga melibatkan tenaga Kesehatan seperti dokter.
Sebagian masyarakat beranggapan bahwa dengan adanya perkebunan sawit tersebut secara tidak langsung telah mempengaruhi terjadinya perubahan di bidang kesehatan. Hal ini seperti yang diungkapkan narasumber di bawah ini
“Tidak bisa dipungkiri, kalau sejak adanya perkebunan sawit, mulai banyak pendatang. Di sini bertambah ramai. Lalu dibangun puskesmas atau klinik. Pergaulan merubah cara berpikir masyarakat.
Orang jadi kenal dokter, obat dan segala macam. Jadilah masyarakat bisa berobat ke dokter, atau ke Puskesmas kalau sakit.” (wawancara:
Paulus Sabinus, 28 Juli 2019).
Selain itu orang yang bekerja di perkebunan kelapa sawit mendapatkan jaminan Kesehatan. Hal itu berdasarkan penuturan salah satu masyarakat yang menjadi karyawan.
“Status saya sebagai karyawan tetap oleh pihak perusahaan perkebunan diberikan tunjangan kesehatan untuk keluarga saya dan sepenuhnya dijamin oleh pihak perkebunan mulai dari saya sendiri, istri serta anak saya. Dengan adanya tunjangan kesehatan untuk anggota keluarga saya, tanggung jawab saya untuk memenuhi kesehatan anggota keluarga menjadi lebih ringan “.(wawancara 02 Juli 2019)
Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa masyarakat Kapuas yang bekerja di perkebunan kelapa sawit mendapatkan tunjangan kesehatan yang cukup baik dari tempat mereka bekerja. Bagi karyawan tetap anggota keluarga ditanggung sepenuhnya oleh pihak perkebunan dari sakit sampai sehat kembali. Selain tunjangan, perusahaan juga menyediakan klinik untuk karyawan dalam anggota keluarga yang sakit. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Ediyono sebagai berikut:
“Perusahaan menyediakan klinik yang diperuntukan bagi keluarga karyawan yang sakit. Jika penyakit yang cukup parah dan pelayanan kesehatan atau rumah sakit lokal tidak sanggup menangani bisa berobat kerumah sakit besar di kota atau di luar kota dan biaya sepenuhnya ditanggung oleh pihak perusahaan. Sedangkan untuk karyawan tidak tetap hanya yang bekerja saja yang diberikan tunjangan kesehatan. (Wawancara : Ediyono,04 Juli 2019).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masuknya perkebunan kelapa sawit membawa dampak positif baik itu untuk masyarakat mampu karyawan yang bekerja di perkebunan kelapa sawit tersebut.
3) Interaksi Sosial
Interaksi sosial masyarakat yang berdomisili di sekitar wilayah perkebunan kelapa sawit “pendatang” sangat dinamis, mengalami pasang surut. Ada kalanya berlangsung harmonis, kadang juga terjadi gesekan
antara keduanya. Masuknya perkebunan kelapa sawit mengharuskan masyarakat bisa beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Karena tidak bisa dipungkiri banyak pendatang yang akan menjadi bagian dari masyarakat setempat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari beberapa hasil wawancara dengan masyarakat diantaranya :
“Sebelum ada sawit dulu kondisi sosial kurang baik, dalam arti cenderung tertutup dengan pendatang atau masyarakat luar. Namun sekarang sudah bisa berinteraksi dengan baik, setelah adanya kebun sawit. Bisa menerima perubahan yang ada”. (Wawancara:
Hendrikus, 24 Juli 2019).
Bahkan ada pula masyarakat yang menilai kehidupan sosial masyarakat kapuas masih primitif dan tertutup untuk dunia luar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Satrianus di bawah ini :
Kalau menurut saya, ya sebelumnya primitive, tertutup, tidak bergaul dengan dunia luar. Sejak ada perkebunan sawit, lambat laun mulai ada perubahan-perubahan dan akhirnya sekarang mulai beradaptasi dengan dunia luar (Wawancara: Satrianus, 24 Juli 2019).
Berdasarkan beberapa ungkapan di atas, dapat dipahami bahwa sebagian masyarakat menganggap interaksi sosial kehidupan masyarakat di Kecamatan Kapuas baik-baik saja. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, keadaan perlahan berubah terutama setelah dibangun perkebunan sawit di Kecamatan Kapuas. Keberadaan perkebunan sawit di Kecamatan Kapuas tentu membawa perubahan tertentu terhadap interaksi sosial masyarakat Kecamatan Kapuas. Perubahan tersebut misalnya masyarakat Kapuas mulai terbuka dengan dunia luar. Hal ini dimungkinkan karena dengan dibangunnya perkebunan sawit, maka membuka peluang bagi masyarakat luar untuk datang ke Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau. Hadirnya pendatang akan berdampak pada adanya pertukaran budaya dan akan memberikan pengalaman, pengetahuan dan wawasan baru bagi masyarakat setempat. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Acian di bawah ini.
“Kalau menurut saya ya kondisi sosial baik baik saja. Baik sebelum ada kebun sawit maupun sesudah ada. Hanya saja sekarang mulai banyak pendatang. Bedanya hanya itu. Kalau dulu kan masih agak tertutup begitu. Mungkin pengaruh alam dan lingkungan ya”.
(Wawancara; Acian, 25 juli 2019).
Selain itu masuknya perkebunan kelapa sawit, mengubah beberapa aspek kehidupan seperti sistem gotong royong masih berlaku, tetapi perkembangan dan perbedaan fungsi dalam masyarakat dewasa ini cenderung mengubah bentuk gotong royong itu. Kenyataan ini sesuai dengan teori solidaritas organik dan mekanik Durkheim (dalam Veeger, 1992) menyatakan bahwa pada bentuk solidaritas organik, terintegrasi karena adanya keseragaman pola-pola relasi sosial, yang dilatarbelakangi oleh kesamaan pekerjaan dan kedudukan semua anggotanya, sedangkan solidaritas mekanik, dimana masyarakat mulai berubah, setelah pertambahan penduduk memaksa masyarakat untuk merundingkan suatu pembagian kerja. Pembagian ini mengakibatkan perbedaan kepentingan, status dan pikiran yang menjurus kepada pola interaksi yang parsial dan fungsional, untuk mencapai kesatuan dibutuhkan undang-undang, peraturan-peraturan, kontrak atau perjanjian, dan suatu ideologi atau seperangkat nilai-nilai yang bersifat lebih umum dan abstrak.
Perubahan sistem hubungan kerja tersebut, sejalan dengan semakin intensifnya peredaran uang di lingkungan mereka, karena proyek perkebunan menganut manajemen modern yang dalam imbalan tenaga selalu dibayar dalam bentuk uang kontan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sayogyo (1985), bahwa kehadiran proyek ekonomi dari luar yang dikerjakan secara modern telah menghancurkan pranata desa tradisional berasaskan tolong menolong yang diganti dengan sistem upah yang dibayar dengan uang.
Disisi lain masuknya perkebunan kelapa sawit munculnya kompleksitas persaingan tidak hanya persaingan ekonomi tetapi juga persaingan sosial dan politik. Suparlan (1998) mengemukakan bahwa persaingan di dalam kehidupan bermasyarakat itu selalu ada dan tidak dapat diingkari lagi kehadirannya. Ini berarti setelah kehadiran perkebunan kelapa sawit persaingan yang terjadi tidak hanya terbatas pada perebutan sumber daya alam, tetapi juga persaingan dalam pendidikan dan politik.
Dalam pada itu, konflik yang terjadi setelah masuknya proyek perkebunan kelapa sawit, tidak hanya tentang tanah semata-mata, tetapi juga
sudah menyangkut pergaulan anak-anak muda, antara tetangga dan, warga yang kurang sehat. Menurut Rauf (2001) karena masyarakat terdiri dari sejumlah besar hubungan sosial, selalu saja terjadi konflik antara warga masyarakat yang terlibat dalam hubungan sosial. Dalam kaitan itu, konflik atau pertikaian yang terjadi di lokasi penelitian secara perorangan antara tetangga pada umumnya disebabkan oleh masalah-masalah yang berkisar pada kehidupan ketetanggaan. Seperti adanya kecemburuan sosial terhadap tetangga yang hidupnya lebih maju, adanya tetangga yang tidak menepati janji. Konflik terbuka antara sesama warga dalam skala besar setelah masuknya perkebunan kelapa sawit memang belum pernah terjadi, tetapi konflik individu dalam skala kecil memang sering terjadi. Konflik seperti itu tidak berkembang luas karena dapat diatasi oleh orang Dayak secara musyawarah. Perselisihan cukup sering terjadi umumnya antar remaja pada saat kompetisi olahraga atau dalam pergaulan sehari-hari, tetapi tidak sampai meluas menjadi konflik antar suku bangsa, agama atau antar golongan.
4) Sarana Sosial dan Publik
Masuknya perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Kapuas mempermudah seluruh aktivitas masyarakat. Hal itu dikarenakan pemerintah mulai melakukan pembangunan dalam berbagai bidang. Salah satu tersedianya sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu perusahaan juga mulai melakukan perbaikan terhadap kondisi jalan.
Sekarang lumayan lah ada perusahaan ini. jadi jalanan sudah mulai bagus. Dulu itu jalan besar yang di depan kiri-kanannya hutan pak.
orang juga males mau ngelewatin. Tapi sekarang pas ada perusahaan jalan itu di buka pak, dilebarkan, jadi ya seperti ini sekarang orang mau keluar masuk desa sudah gampang” (wawancara: Paulus Sabinus, 3 Agustus 2019)
Pada dasarnya perusahaan tidak membantu pembangunan infrastruktur lainnya, seperti pembangunan jembatan atau yang lain.
Berbeda dengan perbaikan jalan perusahaan ikut serta dikarenakan sebagian besar akses untuk menuju perkebunan kelapa sawit melewati
perkampungan, sehingga jika ada jalan yang rusak perusahaan ikut serta dalam perbaikan jalan.
“Kalau menurut saya masuknya perkebunan kelapa sawit. sangat membantu apalagi dalam hal sarana dan prasarana. Seperti adanya perbaikan jalan, kemudian masuknya listrik hingga adanya klinik yang dapat digunakan untuk masyarakat dalam berobat.
(Wawancara: Acian, 25 juli 2019).
Selain itu pernyataan lain yang mendukung hal tersebut adalah Sebelum ada sawit dulu kondisi sarana sosial maupun publik susah untuk dijangkau, dalam arti semua aktivitas masyarakat Kapuas dilakukan secara tradisional apalagi dalam proses pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pendidikan. Namun masuknya kebun sawit membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat salah satunya sudah dibangunya klinik, perbaikan jalan, adanya listrik dan sebagainya”. (Wawancara; Hendrikus, 26 Juli 2019).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masuknya perkebunan kelapa sawit berdampak positif pada sarana sosial maupun public yaitu dengan semakin meningkatnya fasilitas pendidikan, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pendidikan, meningkatnya akses masyarakat terhadap kesehatan dan meningkatnya akses transportasi di kecamatan Kapuas.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, menurut Kadir (2006) transportasi merupakan unsur yang penting dan berfungsi sebagai urat nadi kehidupan dan perkembangan sosial, ekonomi, politik dan mobilitas penduduk dalam suatu wilayah. Dan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hadirnya perkebunan kelapa sawit mampu meningkatkan akses transportasi di desa-desa kecamatan Kapuas yang menyebabkan semakin berkembangnya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pada saat ini. Ini seperti pernyataan dari Roanuddin (2016) yang mengatakan bahwa pembangunan yang terjadi di suatu daerah dapat meningkatkan terhadap transportasi di daerah tersebut.
b. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Ekonomi Setelah Masuknya Perkebunan Kelapa Sawit
1) Sumber Mata Pencaharian
Masuknya perkebunan kelapa sawit di kecamatan Kapuas menjadikan mata pencaharian masyarakat setempat menjadi meningkat.
Hal tersebut dikarenakan tersedianya lapangan pekerjaan yang dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian sehari-hari. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada hasil wawancara berikut :
“Pekerjaan sebelumnya berladang, noreh getah. Pekerjaan ini kalau dilihat dari hasilnya lumayan jauh juga bila dibandingkan dengan bekerja di perkebunan sawit. Nyatanya kesejahteraan kami meningkat setelah bekerja di kebun sawit”. (Wawancara: Maria Livi, 2 agustus 2019)
Peningkatan sumber mata pencaharian masyarakat Kapuas mengindikasikan perubahan dalam bidang ekonomi. Untuk lebih jelasnya perubahan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.Jenis Pekerjaan Masyarakat Kapuas
Jenis Pekerjaan Laki-Laki Perempuan
Petani 345 orang 104 orang
Buruh Tani 97 orang 74 orang
Pegawai Negeri Sipil 6 orang 1 orang
peternak 6 orang -
Montir 3 orang -
Polri 2 orang -
Karyawan Perusahaan Swasta 45 orang 9 orang
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa, adanya perkebunan kelapa sawit di kecamatan Kapuas ini telah merubah sebagian besar mata pencaharian informan yang diteliti. Hal ini seperti pernyataan dari Afifuddin (2007) yang mengatakan bahwa subsektor kelapa sawit merupakan penyedia lapangan pekerjaan yang cukup besar dan sebagai sumber pendapatan masyarakat. Dan keadaan di lapangan mendukung dari pernyataan dari Afifuddin tersebut bahwa subsektor kelapa sawit kecamatan Kapuas pada saat ini menjadi penyedia lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan dari masyarakat di desa yang ada di kecamatan Kapuas.
2) Fasilitas Ekonomi
Salah satu kemajuan di bidang ekonomi ditandai dengan adanya fasilitas ekonomi. Sebelum adanya perkebunan sawit, fasilitas ekonomi di Kecamatan Kapuas masih sangat sedikit. Fasilitas ekonomi yang ada sebelum hadirnya perkebunan sawit di Kecamatan Kapuas antara lain pasar tradisional, warung makan, toko kelontong, dan lain sebagainya.
Menurut saya ya masih sangat sedikit. Toko itu ada tapi ya tidak sebanyak sekarang. Pasar masih tradisional. Tidak ada mal atau supermarket. Jadi ya berbeda dengan yang sekarang ada.”
(wawancara: Sarinus, 2 agustus 2019).
Pernyataan di atas ditegaskan oleh narasumber lain yang mengatakan bahwa :
“Fasilitas ekonomi kalau dulu masih terbatas. Penduduk sini bekerja kebanyakan di kebun, sawah jadi petani, kemudian menjual hasilnya ke pasar, dan lain sebagainya. Dibanding sekarang sangat jauh.
sekarang lebih ramai, banyak toko, koperasi, bank, dan macam- macam lagi. Jadi ya orang bisa bekerja di sana.” (wawancara: Topik, 2 agustus 2019).
Kehadiran perkebunan sawit membawa dampak pada adanya perkembangan ekonomi. Hal itu ditandai dengan banyaknya fasilitas ekonomi yang ada, seperti adanya toko-toko modern, rumah makan, dan lain sebagainya yang sebelumnya tidak ada. Hal ini seperti yang diungkapkan beberapa narasumber di bawah ini.
“Ya, menurut saya sejak adanya perkebunan sawit kondisinya makin ramai, sehingga dengan kian banyak orang itu, akhirnya bermunculan toko, warung, rumah makan dan segala macam.”
(Wawancara: Nur, 2 Agustus 2019).
Pernyataan di atas didukung oleh narasumber lain yang mengungkapkan bahwa.
“Menurut saya itu wajar saja. Karena disini dulu kan sepi, maksudnya penduduk masih sedikit, belum banyak. Sekarang banyak, apa-apa jadi ada. Orang jual apa ada yang beli, jadilah banyak yang buka warung makan, toko, dan sebagainya.”
(Wawancara:Ida, 2 Agustus 2019).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat mengenai fasilitas ekonomi adanya perkebunan sawit terjadi
perbedaan. Masyarakat menganggap bahwa sebelum adanya perkebunan sawit, Kecamatan kapuas masih tergolong sepi, penduduk masih sedikit sehingga fasilitas ekonomi juga masih terbatas. Setelah adanya perkebunan sawit, dan seiring dengan berjalannya waktu, penduduk semakin banyak sehingga memukinkan mendorong tumbuh dan meningkatnya kebutuhan ekonominya. Kebutuhan ini dapat dibuktikan dengan adanya pertokoan, warung makan, restoran dan lain sebagainya.
3) Kepemilikan Rumah/Tempat Tinggal
Kondisi perumahan atau tempat tinggal merupakan cerminan kualitas hidup pemiliknya. Pendapatan yang diperoleh dapat digunakan untuk kebutuhan atau fasilitas hidup diantaranya untuk perumahan, pendapatan seseorang dapat mempengaruhi kemampuan untuk memiliki tempat tinggal. Setiap manusia dimanapun berbeda membutuhkan tempat untuk tinggal yang disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul dan membina rasa kekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga merupakan status lambang sosial. Tempat tinggal yang layak harus memenuhi syarat kesehatan sehingga penghuninya tetap sehat dan seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif.
Untuk lebih jelas maka penulis menyampaikan dari hasil penelitian di lapangan, dari wawancara dengan masyarakat Kapuas mengenai status tempat tinggal. Masyarakat beranggapan bahwa kehadiran perkebunan sawit di Kecamatan Kapuas telah mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.peningkatan perekonomian tersebut dapat dilihat dari kepemilikan rumah mereka.
“Ya pasti ada perubahan. Semakin lama penduduk pasti akan semakin banyak dan itu berarti membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal. Apalagi dengan adanya perkebunan sawit di sini, makin banyak pendatang, lalu berkeluarga di sini sehingga tidak bisa dibendung kalau ada semakin banyak rumah dibangun.”
(Wawancara dengan Slamet, 2 agustus 2019)
Pernyataan di atas juga didukung oleh narasumber lain yang mengatakan bahwa :
“Bukan saja dalam hal jumlahnya, tetapi juga berbagai bentuk rumah, terbuat dari batu bata. Bukan dengan papan saja.
Perkebunan sawit kalau menurut saya sedikit banyak telah membawa pengaruh bagi masyarakat sini. Khususnya ekonomi.
Kalau ekonomi meningkat, orang bisa kumpulkan uang buat keperluan, salah satunya buat bangun rumah.” (Wawancara:
Rohani, 2 agustus 2019).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa keberadaan perkebunan sawit telah membawa pengaruh di masyarakat Kecamatan Kapuas. Hal tersebut ditandai dengan kemampuan masyarakat dalam membeli atau membangun rumah. Kepemilikan rumah meningkat bukan saja dari segi kuantitas tetapi juga dari bentuk fisik rumah yang lebih variatif dan modern, artinya tidak saja terbuat dari papan kayu melainkan batu-bata.
4) Pendapatan
Pendapatan merupakan penghasilan yang diterima oleh seseorang dalam jangka waktu tertentu sebagai balas jasa dengan apa yang telah dilakukannya (Soediyono,1992). Besaran pendapatan seseorang tergantung dari kegiatan/jasa/pekerjaan apa yang telah dilakukannya.
Sehubungan dengan hal tersebut berubahnya pekerjaan yang dilakukan masyarakat di kecamatan Kapuas secara tidak langsung juga merubah pendapatan yang mereka terima.
Kondisi ekonomi kurang sejahtera. Misalnya dibandingkan dengan keadaan sekarang sepertinya sangat jauh. dulu itu hampir semua penduduk tak memiliki sepeda motor, televisi hanya beberapa saja, membiayai pendidikan dan kesehatan apalagi, masih sangat kekurangan”. (wawancara, Yulian Ipana, tanggal 3 agustus 2019 ).
Selain itu menurut beberapa narasumber juga bahwa pendapatan yang diperoleh setelah masuknya perkebunan kelapa sawit cukup meningkat dibandingkan sebelumnya.
“Jika melihat kondisi dulu sebelum masuknya perkebunan kelapa sawit ya termasuk melarat setelahnya kaya atau sejahtera. Saat itu kondisi ekonomi kurang baik, karena lapangan kerja sulit ya.
(wawancara: Susi, tanggal 3 agustus 2019).
Sebelum adanya perkebunan kelapa sawit sebagian besar masyarakat yang bekerja dibidang pertanian seperti peladang dan bertani memiliki pendapatan yang tidak menentu karena biasanya hasil bertani mereka gunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hanya jika saat-saat tertentu saja hasil pertanian dari mereka dapat dijual ke penjual sayuran yang kebetulan masuk ke desa mereka. Namun pada saat ini sebagian besar Informan telah memiliki pekerjaan tetap dan memiliki gaji yang tetap dari pekerjaan mereka saat ini sehingga tidak menyulitkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.
“Menurut saya masuknya perkebunan kelapa sawit berdampak positif untuk masyarakat hal ini dapat dilihat pendapatan masyarakat meningkat sehingga bisa menyisihkan uang untuk biaya anak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Masyarakat juga mulai berpikir, kalau menyekolahkan anak bukan saja karena semata-mata ingin merubah keadaan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup, berpikir luas, mendapat tambahan wawasan dan lain sebagainya.” (wawancara: Yulian Ipana, 26 Juli 2019).
Kalau dari segi ekonomi sebelum sawit ekonomi tidak lancar, tetapi setelah ada sawit masyarakat lancar ekonominya.
Kebutuhan- kebutuhan hidup bisa lebih bisa terpenuhi segera.
Karena memang penghasilan masyarakat mulai meningkat”.
(wawancara: Paulus Sabinus, 3 agustus 2019.)
Namun pada saat ini sebagian besar Informan telah memiliki pekerjaan tetap dan memiliki gaji yang tetap dari pekerjaan mereka saat ini sehingga tidak menyulitkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Penghasilan rata-rata warga jika saya lihat cukup baik karena saya melihat di setiap kepala keluarga sudah bekerja semua jadi paling tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka keluarga, walaupun keluarga yang di bawah garis kemiskinan tetap saja ada tetapi tidak begitu banyak “. (Wawancara: Sarianus 3 Agustus 2019)
Yang paling bisa dirasakan ya itu lapangan kerja ada, bahkan lebih baik dibanding sebelum ada kebun sawit ini. Selin itu jalan atau transportasi bertambah baik. Tentu ini sangat membantu masyarakat di sini”. (wawancara: Langgan, 31 Juli 2019 ).
Yang diberikan perusahaan sawit adalah upah yang dihasilkan perusahaan uang, uang tersebut sebagian juga digunakan atau
diberikan kepada orang-orang yang bekerja di perkebunan sawit seperti saya ini”. (Wawancara, Maria Livi, 31 Juli 2019).
“Adanya perluasan lapangan pekerjaan dengan adanya sawit, sehingga pengangguran di masyarakat di sini dapat dikurangi, penghasilan lebih baik daripada sebelum-sebelumnya”.
(wawancara: Susi, 31 Juli 2019).
Peningkatan pendapatan masyarakat Kapuas dibuktikan dengan kepemilikan barang-barang diantaranya :
Tabel 6.Kepemilikan Benda-Benda Masyarakat Kapuas
Barang Jumlah
Jumlah keluarga memiliki TV dan elektronik lainnya 362 Keluarga Jumlah keluarga memiliki sepeda motor/sejenisnya 212 Keluarga Jumlah keluarga memiliki mobil dan sejenisnya 15 Keluarga Jumlah keluarga memiliki perahu bermotor 15 Keluarga Jumlah keluarga memiliki kapal penumpang 4 Keluarga Jumlah keluarga memiliki ternak besar 4 Keluarga Jumlah keluarga memiliki ternak kecil 6 Keluarga Jumlah keluarga yang memiliki hiasan emas/berlian 115 Keluarga Jumlah keluarga yang memiliki buku tabungan bank 172 Keluarga Jumlah keluarga yang memiliki sertifikat deposito 8 Keluarga Jumlah keluarga yang memiliki sertifikat tanah 347 Keluarga Jumlah keluarga yang memiliki sertifikat bangunan 392 Keluarga
Berdasarkan keterangan diatas dapat diketahui bahwa masyarakat yang ada di desa kecamatan Kapuas yang bekerja di perkebunan kelapa sawit telah memiliki pendapatan tetap yang cukup baik karena sesuai dengan standar upah minimum rata-rata untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain pendapatan yang didapat dengan bekerja di perkebunan ada beberapa individu yang mendapatkan tambahan pendapatan diluar bekerja sebagai karyawan perkebunan dengan memanfaatkan waktu luang Seperti pernyataan dari Amelinda (2014) yang mengatakan bahwa besaran pendapatan yang didapatkan seseorang dari bekerja maka secara otomatis
mereka dapat membiayai segala kebutuhan hidupnya baik sandang, pangan maupun papan.
Untuk lebih jelasnya baik kondisi sosial dan ekonomi sebelum dan sesudah dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7.Aspek Sosial dan Ekonomi Masyarakat Sebelum dan Setelah Masuknya Perkebunan Kelapa Sawit
Aspek Sosial
Sungai Alai Penyelimau Jaya Penyelimau Hulu Tapang Dulang Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Pendidikan
PAUD - √ - √ √ √ - √
Sekolah SD - √ - √ √ √ √ √
Sekolah
SMP - √ - √ - √ - -
Sekolah
SMA - - - -
Universitas - - - -
Kesehatan
Posyandu - √ - √ - √ - √
Puskesmas - - - √ - - - -
Klinik
Kesehatan - √ - √ - √ - √
Kesejahteraan umum
Pasar - √ - √ - - - -
Angkutan
umum - - - - - √ - -
Bank - - - - - - - -
Kantor Pos - - - √ - - - -
Koperasi - √ - √ - - - -
Warung
Makan - √ - √ - √ - √
Kos-Kosan - - - √ - - - -
Bengkel - √ - √ - √ - √
Aspek Ekonomi Jenis Pekerjaan Pendapatan
A. Sungai Alai Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1. Suryono Pengangguran Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 5.000.000
2. Maria Ibu Rumah
Tangga
Buruh Tani < Rp 1.000.000 Rp. 1.000.000
3. Abdul PNS PNS Rp 3.000.000 Rp 3.000.000
4. Acian Peternak Peternak Rp 4.000.000 Rp 6.000.000
5. Sapari Montir Montir Rp 2.300.000 Rp 4.300.000
6. Rizal Polri Polri Rp 2.500.000 Rp 2.500.000
7. Pinsensius Pengangguran Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.700.000
8. Amir Peternak Peternak Rp 3.500.000 Rp 8.500.000
9. Susi Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 5.000.000 10. Hadi Jaya Pedagang Pedagang Rp 3.200.000 Rp 7.200.000 B.Penyelimau Jaya Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1. Hendrikus PNS PNS Rp 3.000.000 Rp 3.000.000
2. Satrianus Petani Karyawan Rp 1.000.000 Rp 5.000.000
3. Aziz Montir Montir Rp 2.000.000 Rp 5.000.000
4. Cantona Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 5.000.000 5. Paulus
Sabinus
Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 5.000.000 6. A. Tomen Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.300.000 7. Serinus Buruh Tani Buruh Tani < Rp 1.000.000 < Rp 1.000.000 8. Yulian Ipana Buruh Tani Petani < Rp 1.000.000 Rp 2.000.000
9. Langgan Petani Petani Rp. 2.000.000 Rp. 2.000.000
10. Taufik Polri Polri Rp 2.500.000 Rp 2.500.000
C. Penyelimau Hulu Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 1. Haeril Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000
2. Dewi Pedagang Pedagang Rp. 3.000.000 Rp. 3.000.000
3. Sarianus Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000 4. Ediyono Peternak Peternak Rp 3.000.000 Rp 3.000.000 5. Nur Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000 6. Ida Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000
7. Slamet PNS PNS Rp 3.000.000 Rp 3.000.000
8. Rohani Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000 9. Rudiyanto Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000 10. Hartono Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000
D. Tapang Dulang Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1. Topik Pedagang Pedagang Rp 2.700.000 Rp >3.700.000 2. Udin Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000 3. Erna Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000
4. Lasiono Petani Petani Rp 1.500.000 Rp 2.000.000
5. Devi Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000 6. Siva Pedagang Pedagang Rp 2.500.000 Rp >5.500.000
7. Jumini Bidan Bidan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000
8. Jepi Buruh Tani Karyawan < Rp 1.000.000 Rp 2.500.000
9. Niko Montir Montir Rp 2.400.000 Rp 2.400.000
10. Soleh Peternak Peternak Rp 3.200.000 Rp 2.500.000
4. Harapan Masyarakat Kecamatan Kapuas Terhadap Masuknya Perkebunan Kelapa Sawit
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, sebagian masyarakat merasakan manfaat serta menilai bahwa masuknya perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Kapuas dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Akan tetapi besar kecilnya penghasilan yang mereka dapatkan juga bergantung pada harga kelapa sawit.