• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Penduduk dinegara Indonesia merupakan yang tertinggi keempat di dunia dengan pertumbuhan penduduk yang semakin lama semakin berkembang pesat. Timbulnya persaingan ketat dalam dunia kerja akibat dari bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Semakin jumlah penduduk meningkat seharusnya di imbangi dengan meningkatnya banyak lapangan pekerjaan agar tidak terjadi lonjakan pada jumlah pengangguran.

Pengangguran memberikan dampak terhadap kemiskinan yang merupakan permasalahan yang dihadapi Negara berkembang seperti Indonesia yang harus segera di pecahkan. Salah satunya cara mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia yaitu lapangan pekerjaan diperbanyak. Lapangan pekerjaan dapat berupa menciptakan lapangan usaha maupun berwirausaha. Pemerintah terus mendorong masyarakat Indonesia untuk berwirausaha, sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan yang terjadi akibat meningkatnya pengangguran.

Menurut data yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik bulan Agustus 2019.

Pengangguran terbuka di Indonesia tercatat sebanyak 7,05 juta orang yang menjadi pengangguran dari 197,91 juta orang yang termasuk dalam angkatan kerja.

Penggangguran sebanyak 7,05 juta orang tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda. Ditinjau menurut tingkat pendidikan tertinggi yang di tamatkan sebagai berikut:

(2)

Tingkat Pengangguran Terbuka (TBT) menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Februari - Agustus 2019

Pendidikan tertinggi yang di tamatkan 2019

Februari Agustus

Tidak/ Belum Pernah Sekolah 35.655 39.655

Belum Tamat Sekolah Dasar 435.655 343.416

Sekolah Dasar 954.010 857.159

Sekolah Menengah Pertama 1.219.767 1.128.018

Sekolah Menengah Atas 1.680.794 1.994.836

Sekolah Menengah Kejuruan 1.381.964 1.727.164

Diploma I/ II/ III 269.976 217.331

Universitas 839.019 738.182

Total 6.816.840 7.045.761

Tabel 1. 1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TBT) (Sumber: bps.go.id, 2020)

Tabel 1.1 menjelaskan jika Sekolah Menengah Kejuruan bertujuan untuk menyiapkan calon tenaga kerja yang telah siap kerja, namun menurut data dari BPS per Agustus 2019 justru dapat diketahui bahwa lulusan dari tingkat pendidikan Menengah kejuruan juga menyumbang pengangguran yang paling besar. Kesimpulan bahwa masih banyak pengangguran bahkan pada penduduk Indones ia yang berpendidikan tinggi. Mengisyaratkan bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan mendapatkan pekerjaan dan tidak menganggur. Peran pendidikan lebih kepada membangun SDM yang ada di masyarakat.

Pemerintah pusat menetapkan beberapa kebijakan yang terkait dengan aspek peningkatan SDM salah satunya adalah bidang pendidikan dan bidang kesehatan.

Cara yang di lakukan pemerintah dalam bidang pendidikan yaitu dengan memperluas akses pendidikan, meningkatkan sarana dan prasarana yang ada di sekolah, pemberian dana investasi yang lebih besar kepada sekolah kejuruan, serta penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan negara dengan tujuan agar lulusan

(3)

memiliki penguasaan keahlian, ketrampilan juga pengetahuan yang di harapkan mampu untuk terjun langsung ke dalam pasar tenaga kerja.

Sekolah Menengah Kejuruan adalah jenjang pendidikan yang khusus di arahkan pada penguasaan keahlian tertentu dengan program khusus sehingga siswa dapat terjun dalam dunia kerja dengan keahlian khusus (Latuconsina, 2014: 267). Fokus Kemendikbud yaitu melakukan pengembangan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa di era industri 4.0. Sembilan jenis muatan industri 4.0 tersebut diantaranya adalah Augmented Reality/ Virtual Reality (AR/ VR), 3D Printing, Tourism promotion, Game Development, Smart School, Internet of Things, E-commerce, dan Kewirausahaan.

Keberadaan wirausaha di Indonesia diharapkan mampu memperbaiki perekonomian serta menyejahterakan rakyat karena mengentaskan kemiskinan akibat terbatasnya lapangan pekerjaan (McClelland, 2000: 5). Faktor yang menyebabkan sebuah negara menjadi maju adalah ketika wirausahawan yang terdapat Negara tersebut berjumlah 2% dari populasi penduduknya Wirausaha merupakan potensi pembangunan, baik dalam jumlah maupun mutu wirausaha itu sendiri (Alma, 2009:

1). Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan perlu diajarkan sejak dini di sekolah.

Pendidikan berwawasan kewirausahaan merupakan pendidikan yang menerapkan prinsip dan metodologi kearah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum di sekolah, pendidikan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan seseorang untuk tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, produktif dan mandiri serta memiliki keahlian untuk menyelesaikan permasalahan dalam berwirausaha. Kewirausahaan dapat dikatakan sebagai kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses (Daryono, 2012: 2). Berdasarkan pernyataan berikut peneliti menggunakan faktor personal adalah kreativitas, faktor kepribadian yaitu motivasi, serta faktor pendidikan dalam hal ini adalah pembelajaran kewirausahaan.

Conny Semiawan menyatakan bahwa, “kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru.” (Alma, 2009: 68). Pendapat Al Qudah (2018: 157-168) memperkuat anggapan tersebut dengan pernyataan

(4)

“Innovation and creativity are critical skiils needed to succeed in a business one needs creativity insight in order to create a solution to a management problem.”

Memiliki arti bahwa sebuah kreativitas merupakan ketrampilan penting yang di perlukan dalam keberhasilan suatu bisnis, karena kreativitas bisa memacu untuk menciptakan solusi dalam permasalahan yang ada di manajemen. Penyebab kreativitas di perlukan dalam membangun sebuah usaha, agar usaha tetap mampu berkelanjutan tidak mengalami gulung tikar. Hasil penelitian dari Solomon et al (2008: 304-320) sesuai dengan pernyataan tersebut yang membuktikan bahwa kreativitas memiliki hubungan yang positif dengan minat untuk berwirausaha karena dengan memiliki kreativitas yang tinggi akan berdampak pada meningkatnya semangat dalam berwirausaha.

Berwirausaha juga memerlukan motivasi yang kuat. Motivasi berfungsi untuk mempengaruhi minat berwirausaha. Minat seseorang terhadap suatu obyek diawali dari perhatian seseorang terhadap obyek tersebut. Minat merupakan sesuatu hal yag sangat menentukan dalam setiap usaha, maka minat perlu ditumbuh kembangkan pada diri sendiri setiap entrepreneur (Nurwakhid, 1995: 20). Motivasi sangat mempengaruhi seseorang untuk memutuskan berwirausaha usaha maupun tidak.

Hasil penelitian Fayolle, Linan & Mariano (2014: 679-689) yang berjudul “Beyond Entrepreneriurial Intentions: values and motivations in entrepreneurship”

menyatakan bahwa motivasi dalam memahami proses kognitif kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha.

Pembelajaran kewirausahaan dapat di peroleh oleh seluruh siswa SMK yang bertujuan agar meningkatkan minat siswa untuk berwirausaha atau membuka lapangan pekerjaan sendiri. Penelitian Germa dan Tessema (2012: 258-277) memperkuat anggapan tersebut “Student who had undergone entrepreneurship education tend to have better entrepreneurial intention than those who had not taken entrepreneurship course” yang memiliki arti bahwa siswa yang telah mendapatkan pembelajaran kewirausahan maka akan cenderung memiliki minat untuk berwirausaha di banding dengan mereka yang belum mendapatkan pembelajaran kewirausahaan.

(5)

Penelitian ini akan menggunakan siswa yang telah mendapatkan pembelajaran kewirausahaan, bahkan di SMK yang bidang keahliannya farmasi yang memiliki peluang bekerja terbatas apabila ingin mendapatkan pekerjaan yang sejalur dengan bidang keahlinya, hal itu dikarenakan terbatasnya fasilitas kesehatan, contohnya dapat dilihat ditabel dibawah ini:

Banyaknya Fasilitas Kesehatan menurut Kecamatan Kabupaten Karanganyar Tahun 2019

Kecamatan Rumah

Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu

Klinik Pratama

Klitik Utama

Jatipuro 0 1 4 1 0

Jatiyoso 0 1 2 0 0

Jumapolo 0 1 4 1 0

Jumantoro 0 1 4 2 0

Matesih 0 1 3 2 0

Tawangmangu 0 1 3 1 0

Ngargoyoso 0 1 3 0 0

Karangpandan 0 1 4 2 0

Karanganyar 1 1 2 6 2

Tasikmadu 3 1 3 4 0

Jaten 1 2 6 3 0

Colomadu 1 2 3 5 2

Gondangrejo 0 1 3 4 1

Kebakramat 1 2 2 2 0

Mojogedang 1 2 4 2 0

Kerjo 0 1 4 3 1

Jenawi 0 1 3 0 0

Jumlah Tahun 2019 8 21 57 38 6

Tabel 1. 2 Jumlah Fasilitas Kesehatan

(Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, 2019)

(6)

Tabel 1.2 menjelaskan bahwa fasilitas kesehatan di Karanganyar masih sangat terbatas sehingga lapangan pekerjaan di bidang kesehatan juga terbatas. Selain itu, penelitian akan di lakukan di Kabupaten Karanganyar di karenakan Pemerintah Kabupaten Karanganyar mendukung sekolah SMK dengan memberikan bantuan untuk operasional pendidikan siswa SMK yang ada di Karanganyar dengan total anggaran sebesar tiap siswa RP. 750.000,00 pertahun. Bupati Kabupaten Karanganyar menyatakan terkait dengan kelanjutan program pendidikan gratis terjadi pengambilanalihan tata kelola SMA/SMK oleh Pemprov Jawa Tengah (https://jatengprov.go.id, 2020). . Penelitian ini di lakukan pada SMK dengan bidang keahlian farmasi karena sektor pendidikan serta kesehatan merupakan sektor yang penting untuk pembangunan ekonomi suatu Negara. Menurut hasil penelitian Elen, Rusno & Yudiono (2018: 375-389) menyatakan bahwa prestasi belajar memperngaruhi minat berwirausaha dengan ditunjukkan uji F lebih rendah dibanding nilai signifikan. Berdasarkan data tersebut ditinjau dari perolehan nilai Ujian Nasioanal pada SMK dengan bidang keahlian farmasi adalah sebagai berikut:

Data SMK Swasta di Karanganyar bidang keahlian Farmasi

Nama Satuan Pendidikan Nilai Ujian Nasional Jumlah Siswa Kelas XII

Smk Farmasi Bhakti Husada 61,18 75

Smk Bintang Nusantara 52,64 67

Smk Karya Dharma Veteran 45,62 20

Smk Taruna Farma 67,49 33

Tabel 1. 3 Data Siswa SMK Taruna Farma

(Sumber: sekolah.data.kemendikbud.go.id di akses 03 maret 2020)

Perbandingan itu di lakukan di SMK swasta di karenakan untuk bidang keahlian farmasi di Kabupaten Karanganyar hanya ada SMK swasta. Prestasi SMK dapat di ukur dengan menggunakan nilai Ujian Nasional, dapat dilihat jika SMK Taruna Farma memperoleh nilai tertinggi dibanding SMK yang lain, dengan sedikitnya jumlah lulusan yang di hasilkan SMK Taruna Farma karena SMK Taruna Farma merupakan Sekolah Vokasi yang baru didirikan pada tahun 2012, sehingga masyarakat di Kabupaten Karanganyar belum terlalu mengenal SMK Taruna Farma.

(7)

Peneliti menggunakan SMK Taruna Farma sebagai tempat penelitian karena walau prestasinya tertinggi namun minat berwirausaha yang rendah, tersedianya data spesifik yang dibutuhkan peneliti, dan pihak sekolah memberikan ijin untuk dilakukan penelitian.

Keterangan Presentase

Kreativitas 43%

Motivasi 39%

Pembelajaran Kewirausahaan 20%

Tabel 1. 4 Angket Prapenelitian Tingkat Kretivitas, Motivasi, dan Pembelajaran Kewirausahaan

(Sumber: Data diolah)

Pelaksanaan prapenelitian variabel kreativitas dilakukan untuk menguji kreativitas yang dimiliki peserta didik SMK Taruna Farma menunjukkan bahwa tingkat kreativitas siswa sangatlah rendah yaitu 43% dari jumlah populasi sebesar 30 orang. Angket pra penelitian menggunakan indikator yang dinyatakan oleh Roger dalam Riani (2016: 76-80) bahwa faktor mengembangkan kreativitas berasal dari faktor internal dan faktor ekternal.

Prapenelitian variabel motivasi berpusat mengenai motivasi siswa untuk berwirausaha. Tingkat motivasi siswa untuk berwirausaha rendah yaitu sebesar 39%,.

Penelitian yang dilakukan Fayolle, Linan & Mariano (2014: 679-689) membuktikan bahwa motivasi dalam memahami proses kognitif kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha. Dengan diketahui bahwa motivasi untuk minat wirausaha SMK Taruna Farma rendah menjadikan siswa lebih memilih mencari pekerjaan daripada mencoba peluang dengan berwirausaha

Sedangkan prapenelitian untuk variabel pembelajaran kewirausahaan hanya memperoleh 20% yang menunjukan terbatasnya pemahaman siswa mengenai pembelajaran serta cara pengaplikasiannya di dunia nyata. Indikator yang digunakan dalam angket pra penelitian yaitu bagaimana respon siswa menghadapi pembelajaraan kewirausahaan yang ada. Penelitian Germa dan Tessema (2012: 258- 277) membuktikan bahwa siswa yang mendapatkan pembelajaran kewirausahaan

(8)

akan cenderung memiliki minat berwirausaha dibanding dengan siswa yang belum mendapatkan pembelajaran kewirausahaan. Siswa di SMK Taruna Farma Karanganyar seharusnya memiliki ketrampilan, pengetahuan, beragam kreativitas, serta motivasi untuk berwirausaha karena sudah menerima pembelajaran kewirausahaan. Penyebaran angket pra penelitian yang telah di lakukan di SMK Taruna Farma untuk kelas X menunjukkan bahwa minat berwirausaha siswa masih rendah dapat dilihat berdasarkan data di bawah ini:.

Setelah Lulus Sekolah Presentase

Tenaga Farmasi 31,25%

Lanjut Studi 56,25%

Berwirausaha 6,25%

Lain-lain 9,375%

Tabel 1. 5 Angket Prapenelitian Minat Berwirausaha (Sumber: Data di olah)

Dari Tabel 1.5 dapat di ketahui bahwa permasalahan minat berwirausaha bagi siswa SMK Taruna Farma sangatlah rendah, sedangkan minat untuk melanjutkan studi untuk siswa SMK Taruna Farma sangatlah tinggi. Data sekunder tamatan siswa SMK Taruna Farma yang melanjutkan studi juga tergolong rendah, banyak lulusan yang memilih untuk langsung terjun ke dunia kerja baik sebagai tenaga farmasi maupun di sektor lain. Siswa di SMK Taruna Farma lebih memilih untuk mencari pekerjaan dibanding menjadi wirausaha yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa motivasi untuk berwirausaha yang masih rendah, selain itu siswa SMK Taruna Farma tidak bisa memanfaatkan waktu yang baik untuk berwirausaha, di pembelajaran kewirausahaan dalam kegiatan prakteknya telah diajarkan ketrampilan membuat masker. Rendahnya inisiatif untuk berwirausaha produk masker menunjukkan bahwa tingkat kreativitas maupun pembelajaran kewirausahaan siswa

(9)

9

SMK Taruna Farma yang masih rendah. Data-data tersebut yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian di SMK Taruna Farma Karanganyar.

Hasil penjelasan mengenai latar belakang penelitian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan variabel independen yaitu kreativitas, motivasi, dan pembelajaran kewirausahaan serta variabel dependennya yaitu minat berwirausaha pada siswa SMK Taruna Farma Karanganyar, selanjutnya di rumuskan dalam bentuk skripsi tentang “Pengaruh Kreativitas, Motivasi, dan Pembelajaran Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha Siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi permasalahan yaitu sebagai berikut:

1. Kemampuan berwirausaha para lulusan SMK Taruna Farma masih rendah.

2. Rendahnya kreativitas siswa SMK Taruna Farma untuk berwirausaha berdasarkan ilmu yang telah di terima.

3. Rendahnya motivasi berwirausaha oleh siswa SMK Taruna Farma,

4. Tingginya prestasi SMK Taruna Farma tidak di imbangi dengan minat berwirausaha.

5. Banyaknya lulusan yang memilih mencari pekerjaan di banding membuka lapangan pekerjaan.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, agar penelitian ini tidak meluas maka di perlukan adanya pembatasan masalah. Faktor yang akan di teliti dalam penelitian ini adalah kreativitas, motivasi, dan pembelajaran kewirausahaan agar penelitian lebih spesifik dan mendalam. Pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Variabel Penelitian

a. Variabel independent (Variabel Bebas)

1) Kreativitas merupakan keahlian dalam diri siswa untuk mendorong minat siswa berwirausaha. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk

(10)

menciptakan sesuatu yang baru (Alma, 2009: 68). Kreativitas sangatlah berpengaruh untuk keberhasilan suatu usaha, oleh karena itu meningkatkan kreativitas siswa dalam berwirausaha itu perlu untuk bekal pengetahuan serta ketrampilan. Kreativitas dapat dikembangkan karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Riani, 2016: 76-80) , sehingga pada penelitian ini memanfaatkan dua faktor tersebut sebagai indikator untuk alat ukur tingkat kreativitas.

2) Motivasi merupakan faktor dari dalam siswa untuk memacu minat berwirausaha. Motivasi adalah dorongan yang timbul dari diri seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi berwirausaha harusnya di tanamkan ke siswa agar siswa juga berkeinginan yang kuat untuk menjadi wirausaha (Riani, 2016: 59). Indikator dan soal dalam rangka mengukur tingkat motivasi di penelitian ini menggunakan pendapat yang dikembangkan oleh Saiman (2009: 26) yaitu, laba, kebebasan, impian personal, dan kemandirian.

3) Pembelajaran kewirausahaan merupakan usaha membentuk jiwa wirausaha peseta didik sehingga yang bersangkutan menjadi individu yang kreatif, inovatif dan produktif (Suherman, 2008: 38). Semua SMK di Indonesia mendapatkan pembelajaran kewirausahaan karena merupakan fokus kemendikbud untuk merevitalisasi sekolah vokasi.

Keberhasilan pembelajaran kewirausahaan diukur dari dua aspek, yaitu mengajarkan ketrampilan-ketrampilan berwirausaha, dan memberikan kesempatan untuk berkreasi dan inovasi (Suryaningrum, 2016: 28).

Sehingga dalam penelitian ini memanfaatkan dua aspek tersebut sebagai indikator dan alat ukur untuk tingkat pembelajaran kewirausahaan

b. Variabel dependen (Variabel Terikat)

Minat berwirausaha merupakan gejala psikis untuk memusatkan perhatian dan berbuat sesuatu terhadap wirausaha itu dengan perasaan senang karena membawa manfaat bagi dirinya (Santoso dalam Suyamannim, 2016: 22).

Penelitian ini memilih indikator untuk mengukur minat berwirausaha

(11)

mengadopsi pada penelitian Indriyani & Subowo (2019: 475) yaitu percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, berani mengambil resiko, kepemimpinan, keorisinilan, berorientasi pada masa depan.

2. Subyek Penelitian

Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI dan XII SMK Taruna Farma Karanganyar tahun pelajaran 2020/2021, yang telah mendapatkan mata pelajaran kewirausahaan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan batasan masalah di atas, maka dalam penelitian ini yang di rumuskan adalah yang berhubungan dengan variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas meliputi kreativitas, motivasi, dan pembelajaran kewirausahaan. Adapun variabel terikat meliputi minat berwirausaha.

Maka rumusan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan kreativitas, motivasi, dan pembelajaran kewirausahaan secara simultan terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar?

2. Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kreativitas terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karangayar?

3. Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar?

4. Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pembelajaran kewirausahaan terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar?

E. Tujuan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas maka tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini antara lain:

1. Mengetahui adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara kreativitas, motivasi, dan pembelajaran kewirausahaan secara simultan terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

(12)

2. Mengetahui adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara kreativitas terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

3. Mengetahui adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

4. Mengetahui adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara pembelajaran kewirausahaan terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang pengaruh kreativitas, motivasi dan pembelajaran ekonomi terhadap minat berwirausaha pada siswa SMK.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru, memberikan bahan masukan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat menerima pembelajaran mata diklat kewirausahaan sehingga dapat meningkatkan minat berwirausaha siswa.

b. Bagi siswa, mendorong siswa untuk lebih berkreasi serta percaya diri untuk membuka lapangan pekerjaan.

c. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini menjadi salah satu referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut oleh peneliti-peneliti selanjutnya dengan topik dan permasalahan yang sama.

Referensi

Dokumen terkait

Upaya apakah yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi oleh SMK Kristen Salatiga dalam melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)?. Untuk

Dengan dilatih mencari solusi sejak masih kuliah diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk terbiasa mengambil keputusan yang dianggap terbaik dalam memecahkan masalah pada

Sesuai pedoman dasar karang taruna, pengertian karang taruna adalah organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dang tangung

Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwasannya motivasi juga sangat diperlukan untuk membangun mental yang baik ketika bertanding, dengan demikian motivasi berprestasi

Yang dapat dilakukan penulis antara lain mencari metode yang tepat dan dapat menarik minat, motivasi anak untuk belajar matematika serta alat bantu yang konkrit

1 Selanjutnya, ASEAN mengambil langkah untuk bersekutu atau berada dalam pihak yang sama (bandwagoning) dengan Cina dalam lingkup ekonomi untuk mencari keuntungan

Oleh karena itu, menjadi tugas gurulah untuk memilih metode dan teknik yang tepat dan bervariasi dalam pembelajaran menulis khususnya pembelajaran pengembangan paragraf, untuk

Kuswara (2011) mencatat setidaknya ada 6 usaha yang dilakukan untuk meningkatkan wirausaha pada mahasiswa, antara lain; 1) pendirian pusat kewirausahaan kampus,