• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut World Health Organisation (WHO) penyakit tidak menular sekarang menjadi penyebab paling banyak yang menyebabkan kematian dini dan kecacatan di seluruh dunia, dengan sebagian besar kematian terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Hipertensi, obesitas, fisik tidak aktif, penggunaan tembakau, konsumsi alkohol yang berbahaya dan asupan trans fatty acid (TFA) adalah salah satu faktor risiko utama non communicable disesases (NCD) atau penyakit tidak menular (PTM) yang mendasarinya. Penyakit tidak menular (PTM) telah menjadi masalah kesehatan utama bagi sebagian besar negara di dunia. Saat ini, lebih dari 36 juta orang di seluruh dunia meninggal karena PTM setiap tahun, terhitung 63% dari kematian global tahunan; yang sebagian besar kematian tersebut dapat dicegah. Beban keuangan global dari PTM sangat mengejutkan, dengan perkiraan biaya global tahun 2010 sebesar $ 6,3 triliun (dolar AS) yang diproyeksikan meningkat menjadi $13 triliun pada tahun 2030. Sejumlah PTM memiliki satu atau lebih faktor risiko predisposisi yang umum, semuanya terkait dengan gaya hidup sampai taraf tertentu yaitu : (1) merokok, (2) hipertensi, (3) hiperglikemia, (4) dislipidemia, (5) obesitas, (6) kurangnya aktivitas fisik, dan (7) gizi buruk. Sebagian besar, pencegahan, pengendalian, atau bahkan menghilangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi tersebut diwujudkan melalui gaya hidup sehat (Arena, et al.

2015).

Sindroma metabolik (SM) merupakan kumpulan faktor risiko metabolik yang menyebabkan terjadinya penyakit kardiovaskuler (Bimandama, 2016).

SM menurut Shahab (2017) adalah keadaan klinis pada seseorang terdapat sekumpulan tanda-tanda klinis berupa kelainan metabolik, antara lain dislipidemia (peningkatan kadar trigleserida, penurunan kadar High Density Lipoprotein / HDL kolesterol), resistensi insulin, peningkatan tekanan darah

1

(2)

(hipertensi), dan kegemukan (obesitas). Kondisi ini dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular (PKV), stroke, yang merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia dan diabetes melitus tipe 2.

Seiring dengan adanya globalisasi telah terjadi perubahan peradaban manusia yang sangat cepat. Globalisasi selain menghadirkan dampak positif berupa hidup mudah, nyaman dan indah juga mendatangkan dampak negatif yang menimbulkan masalah kesehatan. Dampak negatif yang dimaksud adalah gaya hidup kurang gerak (sedentary life style), yaitu kebiasaan kehidupan seseorang yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik (kurang gerak). Diperparah dengan gaya hidup tidak sehat misalnya : merokok, minum-minuman beralkohol, bergadang setiap malam, makan makanan yang berlebih yang banyak mengandung zat kimia, dan sebagainya. Kegiatan tersebut memacu kerja tubuh secara fisiologis untuk bekerja ekstra dan pada akhirnya merusak fungsi organ yang berakibat munculnya penyakit jantung (Mulyaningsih, 2008). Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan akibat lanjut dari SM.

Kebiasaan merokok masyarakat sebagai faktor risiko SM di Indonesia menunjukkan data yang masih tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa kebiasaan merokok setiap hari 23.7 persen tahun 2007, meningkat sebesar 29.3 persen tahun 2013, turun menjadi 28.8 persen tahun 2018, sedangkan rerata jumlah batang rokok yang dihisap adalah sekitar 12.3 batang perhari tahun 2013, meningkat menjadi 12.8 batang tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Gaya hidup yang juga berpengaruh terjadinya SM berikutnya adalah pola konsumsi kurang makan sayur dan buah. Penelitian yang dilakukan oleh Fonsela et al. (2012) di Portugis menyebutkan wanita yang kurang mengonsumsi sayur dan buah memiliki lingkar perut lebih besar dan HDL protein rendah dibanding wanita dengan diet sehat (OR = 1.88).

Wanita yang banyak mengonsumsi daging dan alkohol memiliki lingkar perut lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan diet sehat (OR = 1.45) dan mengalami SM (OR = 1.57). Sedangkan pada laki-laki yang banyak mengonsumsi ikan akan mempunyai trigliserida lebih tinggi dibanding

(3)

laki - laki dengan pola diet sehat. Penelitian Fan et al. (2008), menemukan bahwa peningkatan risiko SM dikaitkan dengan konsumsi alkohol harian yang melebihi pedoman rekomendasi diet Amerika Serikat.

Wanita yang kurang melakukan aktivitas hanya duduk dan menonton televisi selama lebih dari 40 jam seminggu memiliki 94 persen peningkatan risiko obesitas dan 70 persen peningkatan risiko terkena diabetes (Maria et al. 2015), lebih lanjut akan terjadi komplikasi penyakit kardiovaskuler. Ada bukti yang menunjukkan bahwa semua penyebab angka kesakitan, dan angka kematian penyakit kardiovaskuler secara spesifik, dipengaruhi oleh waktu yang dihabiskan untuk duduk.

Kurangnya olah raga secara teratur atau kurang melakukan aktivitas fisik akan mengakibatkan kelebihan kalori dalam tubuh (Barnes et al. 2012).

Kelebihan kalori yang dikonsumsi tanpa disertai penggunaan energi yang memadai akan menyebabkan peningkatan penyimpanan energi dalam sel lemak yang berakibat meningkatnya jumlah dan ukuran sel lemak. Keadaan ini yang mengakibatkan obesitas. Penumpukan lemak di dalam tubuh akan menyebabkan berbagai penyakit seperti: serangan jantung, stroke, diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia yang merupakan komponen dari SM. SM merupakan kelainan metabolik kompleks yang diakibatkan oleh peningkatan berat badan melebihi normal. Obesitas, resistensi insulin, dislipidemia, dan hipertensi merupakan komponen utama SM (Rini, 2015).

Prevalensi SM diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah individu yang mengalami kegemukan.

Prevalensi SM dunia adalah 20-25 persen, hasil penelitian Framingham Offspring Study menemukan bahwa responden yang berusia 26-82 tahun pada laki-laki terdapat 29.4 persen menderita SM dan 23.1 persen perempuan menderita SM. Penelitian di Prancis menemukan prevalensi SM sebesar 23 persen pada laki laki dan 21 persen pada wanita (Rini, 2015). Hasil penelitian di Amerika Latin menunjukkan prevalensi SM berkisar antara 12.3 persen sampai 42.7 persen (Marquez, 2011). Prevalensi SM kelompok usia lanjut di Indonesia tahun 2007 sebesar 14.9 persen. Prevalensi meningkat pada tahun

(4)

2013 menjadi 22.8 persen (Riskesdas, 2013). Prevalensi pada wanita 27.5 persen ini lebih tinggi dibanding prevalensi pada laki-laki (16.5 persen).

Peningkatan prevalensi SM akan diikuti meningkatkan komponen SM seperti hipertensi, diabetes militus, obesitas sentral dan penyakit kardiovaskuler. Data Riskesdas menunjukkan hasil sebagai berikut, prevalensi hipertensi secara nasional berdasarkan pengukuran dari 29.8 persen tahun 2007 menurun menjadi 25.8 persen tahun 2013, kemudian naik menjadi 34.1% pada tahun 2018. Hal yang sama untuk stroke berdasarkan wawancara (berdasarkan jawaban responden yang pernah didiagnosis nakes dan gejala) juga meningkat dari 8.3 permil tahun 2007 menjadi 12.1 permil tahun 2013, kemudian menurun menjadi 10.9 permil pada tahun 2018.

Demikian juga untuk diabetes melitus juga terjadi peningkatan dari 5.7 persen tahun 2007 menjadi 6.9 persen tahun 2013, kemudian meningkat menjadi 8.5 persen pada tahun 2018. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas tahun 2007 di Indonesia adalah sebesar 31.7 persen, menurun menjadi 25.8 persen di tahun 20013, naik menjadi 34.1 persen pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018).

Faktor risiko utama SM adalah berat badan yang berlebihan (obesitas) dan pola hidup yang kurang aktif. Kondisi ini juga berhubungan dengan kecenderungan munculnya resistensi insulin pada beberapa orang. Data hasil riset kesehatan dasar kementerian kesehatan Republik Indonesia menunjukkan adanya peningkatan prevalensi obesitas sentral umur ≥ 15 tahun, dari 18.8 persen di tahun 2007, menjadi 26.6 persen di tahun 2013, kemudian naik menjadi 31.0 persen pada tahun 2018 (Riskesdas 2018).

Sedangkan di Jawa Timur prevalensi obesitas mengalami penurunan dari 27.3 persen, menjadi 18.8 persen, kemudian naik menjadi 30.38 persen pada tahun 2018 (Riskesdas 2018). Temuan penting pada penelitian Rosyidi di Kabupaten Ponorogo tahun 2015 adalah terdapat tiga faktor risiko SM yang lebih tinggi dari angka nasional yaitu inaktivitas fisik sebesar 74 persen, angka nasional sebesar 26.1 persen, risiko hipertensi sebesar 46.9 persen

(5)

angka nasional 26.6 persen, dan berat badan lebih sebesar 40.6 persen angka nasional 28.9 persen (Rosjidi, C.H, et al. 2015).

Sementara sesuai hasil Riskesdas Propinsi Jawa Timur kebiasaan merokok di kabupaten Ponorogo tahun 2013 sebesar 30 persen, tahun 2018 sebesar 30 persen. Bila dibandingkan dengan lima kabupaten se wilayah bakorwil Madiun kabupaten Ponorogo dan kabupaten Ngawi merupakan yang tertinggi. Hasil-hasil penelitian ini menggambarkan SM telah menjadi ancaman serius di Kabupaten Ponorogo. Faktor resiko utama SM di Kabupaten Ponorogo adalah terjadinya perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat dari perilaku yang aktif bergerak berubah menjadi perilaku sedentari, yang menyebabkan inaktivitas fisik individu, kebiasaan merokok yang masih tinggi (diatas prevalensi Jawa Timur), dan pola konsumsi sayur yang kurang.

Dari berbagai faktor risiko di atas dapat dianalisis bahwa sebagian besar disebabkan karena perilaku atau pola hidup masyarakat yang tidak sehat.

Upaya promosi kesehatan telah dikembangkan oleh pemerintah untuk menurunkan jumlah penderita SM melalui kegiatan pos pembinaan terpadu (posbindu) berupa pemantauan kenaikan berat badan melalui pengukuran lingkar perut, pengukuran tekanan darah, anjuran untuk melakukan aktifitas fisik, anjuran untuk berhenti merokok dan anjuran untuk melakukan diet sehat gizi seimbang.

Selain itu promosi kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah berupa upaya - upaya yang mendorong diterbitkannya kebijakan yang mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan SM yang terdiri dari Peraturan Pemerintah RI Nomor 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, Permenkes Nomor 28 tahun 2013 tentang pencantuman peringatan dan informasi kesehatan pada kemasan rokok dan Permenkes Nomor 30 tahun 2013 kemudian diubah menjadi Permenkes nomor 63 tahun 2015, tentang pencantuman informasi kandungan gula, garam dan lemak serta pesan kesehatan untuk pangan olahan dan pangan siap saji, pasal 4 ayat 2

(6)

mengatakan “ Konsumsi gula lebih dari 50 gram, natrium lebih 2000 miligram atau lemak total lebih dari 67 gram per hari per orang berisiko menyebabkan penyakit hipertensi, stroke, diabetes melitus, serta serangan jantung”.

Upaya-upaya tersebut nampaknya belum dapat menurunkan angka kejadian SM. Strategi intervensi upaya promosi kesehatan yang paling sesuai untuk mengubah perilaku adalah pemberdayaan masyarakat pada level mikro, meso, ekso dan makro. Menurut Dahlgren dan Whitehead dalam teori eko- sosial kesehatan, menjelaskan bahwa kesehatan/penyakit yang dialami individu dipengaruhi oleh faktor yang terletak di berbagai lapisan lingkungan, yang sebagian besar determinan kesehatan tersebut sesungguhnya dapat diubah (modifiable factors).

Lapisan pertama adalah level mikro, merupakan level yang terletak dalam diri individu meliputi faktor konstitusional (gen), dan sistem lingkungan mikro pada level sel/molekul. Determinan kesehatan pada level mikro meliputi perilaku dan gaya hidup individu, meningkatkan ataupun merugikan kesehatan, misalnya pilihan untuk merokok atau tidak merokok, pilihan melakukan perilaku sedentari atau perilaku aktif bergerak, pilihan konsumsi diet sehat atau konsumsi diet tidak sebat. Perilaku individu berkaitan dengan persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri, terhadap faktor risiko SM

Level meso adalah pengaruh sosial dan komunitas, meliputi norma komunitas, nilai-nilai sosial, lembaga komunitas, modal sosial, jejaring sosial, dan sebagainya. Faktor sosial pada level komunitas merupakan diterminan yang dapat memberikan dukungan bagi anggota komunitas pada keadaan yang menguntungkan bagi kesehatan, misalnya dukungan teman sebaya, imitasi, efikasi kolektif, harapan hasil. Sebaliknya faktor yang ada pada level komunitas dapat juga memberikan efek negatif bagi individu dan tidak memberikan dukungan sosial yang diperlukan bagi kesehatan anggota komunitas.

(7)

Level ekso meliputi faktor struktural yaitu lingkungan pemukiman /perumahan/papan yang baik, ketersediaan pangan, ketersediaan energi, kondisi di tempat bekerja, kondisi sekolah, penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan, akses terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu, akses terhadap pendidikan yang berkualitas, lapangan kerja yang layak. Level makro meliputi kondisi-kondisi dan kebijakan makro sosial-ekonomi, budaya, dan politik umumnya, serta lingkungan fisik. Termasuk faktor makro adalah kebijakan publik, stabilitas sosial, ekonomi, dan politik, hubungan internasional/kemitraan global, investasi pembangunan ekonomi, peperangan/perdamaian, perubahan iklim dan cuaca, eko-sistem, bencana alam (maupun bencana buatan manusia/man-made disaster seperti kebakaran hutan). Kebijakan publik antara lain diwujudkan dengan policy dukungan pemerintah terhadap pencegahan faktor risiko SM.

Berdasarkan model determinan eko-sosial kesehatan tersebut dapat disimpulkan bahwa kesehatan individu, kelompok, dan komunitas yang optimal membutuhkan realisasi potensi penuh dari individu, baik secara fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan ekonomi, pemenuhan harapan peran seorang dalam keluarga, komunitas, tempat bekerja, dan realisasi kebijakan makro yang dapat memperbaiki kondisi lingkungan makro (Dahlgren dan Whitehead ,1991, Murti, 2016 ).

Intervensi untuk mengubah perilaku yang berhubungan dengan kesehatan biasanya memiliki efek yang sederhana dan mungkin lebih efektif jika didasarkan pada teori yang sesuai. Dipilihnya intervensi pada berbagai level akan lebih berdampak luas. Oleh karena itu perlu melakukan pendekatan promosi kesehatan yang mampu mengubah perilaku masyarakat pada tataran mikro, meso, ekso, dan makro agar terhindar dari meningkatnya prevalensi SM dengan membuat model promosi kesehatan. Model yang ditawarkan adalah model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada perilaku pencegahan faktor risiko SM.

Upaya tersebut merupakan upaya pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berperilaku sehat,

(8)

mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri, berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan, serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan, keluarga dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya, kebutuhan permasalahan serta potensi masyarakat. Pada hakikatnya pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya membantu atau memfasilitasi masyarakat atau klien, sehingga memiliki pengetahuan, kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan atau mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya (to facilitate problem solving).

Keberhasilan promosi kesehatan yang bertujuan merubah perilaku dengan jalan pencegahan faktor risiko yang dapat diubah pada SM dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan penderita. Sesuai konsep Health Belief Model yang menjelaskan bahwa seseorang sebelum berperilaku sehat akan melakukan beberapa pertimbangan yang mencakup: (1) bagaimana persepsi terhadap kerentanan penyakit, (2) bagaimana persepsi terhadap keparahan penyakit, (3) bagaimana persepsi tentang besarnya ancaman penyakit, (4) bagaimana persepsi tentang manfaat dan hambatan, (5) adanya faktor pencetus untuk bertindak (6) dan adanya efikasi diri (Sarwono, 2007 dalam Sulaeman, 2016).

Individu untuk mau berperilaku mencegah faktor risiko SM dipengaruhi oleh persepsi terhadap kerentanan penyakit, persepsi terhadap keparahan penyakit, persepsi tentang ancaman penyakit, keyakinan adanya manfaat bila penderita melakukan pencegahan, keyakinan masyarakat akan kemampuannya untuk melakukan pencegahan, adanya isyarat untuk bertindak dan efikasi diri. Selain hal tersebut diatas perilaku individu dalam pencegahan faktor risiko juga dipengaruhi oleh adanya faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong. Individu berperilaku juga dipengaruhi oleh faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong (Green dan Kreuter, 2005 dalam Sulaeman, 2014). Disamping itu perubahan

(9)

perilaku juga terjadi melalui proses pembelajaran sosial dengan meniru banyaknya model yang ditampilkan dalam media masa (Sulaeman, 2016 ).

Dalam teori kognitif sosial, Bandura mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial (Bandura, 1962 dalam Sulaeman, 2016). Teori ini berperan dalam mempelajari efek dari isi media massa pada level individu.

Di dalam masyarakat banyak model yang dipelajari adalah model yang dilihat, didengar, atau dibaca di media massa. Model ini bisa jadi merupakan orang-orang yang diamati dalam siaran berita atau program dokumenter.

Mereka juga bisa saja karakter-karakter yang dilihat dalam program-program drama, sinetron, film layar lebar atau televisi.

Dukungan sosial sangat diperlukan oleh individu dalam berhubungan dengan orang lain demi melangsungkan hidupnya di tengah tengah pergaulan masyarakat. Dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial, dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu (Rook dalam Kurniawati, 2012). Pengertian dukungan sosial secara umum mengacu pada penerimaan rasa aman, peduli, penghargaan atau bantuan yang diterima seseorang dari orang lain atau kelompok. Safarino dalam Kurniawati (2012) berpendapat bahwa dukungan sosial umumnya digunakan untuk merujuk pada yang dirasakan kenyamanan, kepedulian, penghargaan atau bantuan yang diterima seseorang dari orang atau kelompok lain. Dukungan sosial tersebut dapat berasal dari sumber-sumber yang berbeda, seperti dari pasangan atau orang yang dicintai, keluarga, teman, tenaga profesional, psikolog atau anggota organisasi. Dengan adanya dukungan sosial dari berbagai sumber, individu akan merasa yakin bahwa dirinya dicintai dan disayangi, dihargai, bernilai dan menjadi bagian dari jaringan sosial.

Studi pendahuluan melalui tinjauan dokumen mendapatkan data sebagai berikut: adanya dukungan dana dari pemerintah Ponorogo untuk kegiatan

(10)

posyandu lansia telah diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 24, Tentang Pedoman Umum Pengelolaan Dana Bantuan Untuk Operasional Pos Pelayanan Terpadu Balita Dan Lansia yang bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Angaran 2021. Kegiatan monitoring dan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) di beberapa Posbindu di wilayah Ponorogo dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Namun tidak semua kecamatan melaksanakan kegiatan Posbindu.

Posbindu Puskesmas kecamatan yang melaksanakan pemantauan PTM secara rutin sebanyak 53.72%. Persentase tertinggi ada di Puskesmas Kecamatan Sampung, Kunti, Slahung, Ponorogo Selatan, Sukosari, Pudak.

Sedangkan persentasi terendah, Puskesmas kecamatan Sambit (Profil Dinas Kesehatan Ponorogo 2021). Data di wilayah Puskesmas Ponorogo Selatan kegiatan Posbindu dilaksanakan setiap bulan satu kali.

Wawancara terhadap beberapa orang peserta posbindu mengatakan bahwa kebiasaan merokok telah lama ditinggalkan, yang sulit ditinggalkan adalah konsumsi gula dan garam yang berlebihan, oleh karena itu mereka memiliki persepsi bahwa mereka dapat menderita diabetes. Mereka percaya bahwa diabetes adalah penyakit yang sulit disembuhkan, sehingga mereka menghindari perilaku yang dapat menyebabkan diabetes, misalnya makan berlebihan. Mereka percaya olah raga dapat melindungi diri terhadap penyakit diabetes. Mereka akan mendapat keuntungan karena berolah raga mencegah diabetes. Mereka mempunyai persepsi bahwa olah raga terasa berat, melelahkan dan mengurangi kenyamanan saat santai. Mereka mengidentifikasi bagaimana cara mengindari diabetes dengan ‘nyaman’

walaupun dengan olah raga yaitu dengan olah raga jalan santai. Menurut anjuran dari petugas puskesamas yang paling baik dan murah adalah dengan olah raga, sehingga mereka melakukan tindakan nyata dengan kegiatan apa saja asalkan bergerak aktif.

Atas dasar latar belakang masalah tersebut peneliti melakukan penelitian disertasi dengan judul Model Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Pada Perilaku Pencegahan Faktor Risiko SM dengan menggabungkan teori Health

(11)

Belief Model dari Hockhaum et al., Social Cognitve Theory dari Bandura dan Social Support Theory dari Safarino.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Apakah efikasi diri berpengaruh langsung terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

2. Apakah persepsi manfaat pencegahan penyakit berpengaruh langsung terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

3. Apakah persepsi hambatan berpengaruh langsung terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

4. Apakah persepsi keseriusan penyakit berpengaruh langsung terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

5. Apakah persepsi kerentanan berpengaruh tidak langsung melalui persepsi keseriusan penyakit terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

6. Apakah persepsi manfaat berpengaruh tidak langsung melalui persepsi hambatan terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

7. Apakah dukungan pemerintah berpengaruh tidak langsung melalui persepsi hambatan dan persepsi manfaat terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

8. Apakah dukungan teman sebaya berpengaruh tidak langsung melalui imitasi dan efikasi diri terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

9. Apakah efikasi kolektif berpengaruh tidak langsung malalui efikasi diri terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

10. Apakah imitasi berpengaruh tidak langsung melalui efikasi diri dan efikasi kolektif terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

11. Apakah harapan hasil berpengaruh tidak langsung melalui efikasi diri terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

12. Apakah modal sosial berpengaruh tidak langsung melalui efikasi kolektif terhadap pencegahan faktor risiko SM.

(12)

13. Bagaimana rumusan model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada pencegahan faktor risiko SM.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Terumuskannya model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada perilaku pencegahan faktor risiko SM.

2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis ada tidaknya pengaruh langsung yang signifikan antara efikasi diri, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

b. Menganalisis ada tidaknya pengaruh langsung yang signifikan antara persepsi manfaat, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

c. Menganalisis ada tidaknya pengaruh langsung yang signifikan antara persepsi hambatan, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

d. Menganalisis ada tidaknya pengaruh langsung yang signifikan antara persepsi keseriusan, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

e. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara persepsi kerentanan melalui persepsi keseriusan, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

f. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara persepsi manfaat melalui persepsi hambatan, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

g. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara dukungan pemerintah melalui persepsi hambatan dan persepsi manfaat terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

h. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara dukungan teman sebaya melalui imitasi dan terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

i. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara efikasi kolektif melalui efikasi diri terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

(13)

j. Menganlisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara imitasi melalui efikasi diri, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

k. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung yang signifikan antara harapan hasil melalui efikasi diri, terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

l. Menganalisis ada tidaknya pengaruh tidak langsung antara modal sosial melalui efikasi kolektif, terhadap pencegahan faktor risiko SM.

m. Merumuskan model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada pencegahan faktor risiko SM.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini bermanfaat secara teoritis dalam mengaplikasikan konsep health belief model dari Hockbaum, social cognitve theory dari Bandura dan social support theory dari Safarino. Penelitian ini menghasilkan rumusan model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada pencegahan faktor risiko SM. Perumusan ini terdiri dari tingkat idividu yaitu : persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, imitasi, efikai diri dan harapan hasil. Pada tingkat komunitas yaitu : dukungan teman sebaya, dukungan pemerintah, modal sosial dan efikasi kolektif.

2. Manfaat Metodologi

Penelitian ini menggunakan path analisis dalam mencari pengaruh langsung atau tidak langsung variabel persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepi hambatan, imitasi, efikasi diri, harapan hasil, dukungan teman sebaya, dukungan pemerintah, modal sosial, efikasi kolektif terhadap perilaku pencegahan faktor risiko SM.

(14)

3. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan kepada :

a. Bagi pemerintah, penelitian ini dapat dijadikan salah satu alternatif kebijakan model pencegahan dan penanggulangan SM, dengan jalan membuat kebijakan publik yang yang berorientasi kepada kesehatan b. Bagi pelaksana program di tingkat Dinas Kesehatan dapat dijadikan

salah satu pendekatan dalam melaksanakan program pencegahan dan penanggulangan SM.

c. Bagi klien dapat mengubah perilaku kurang sehat menjadi perilaku sehat dengan jalan, tidak merokok, melakukan olah raga yang teratur, menjaga berat badan ideal, menjaga pola makan.

E. Kebaruan Penelitian

Hasil penelusuran penelitian yang relevan dengan model promosi kesehatan pada perilaku pencegahan faktor risiko SM yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya sebagai berikut:

1. Penelitian berjudul : ̋ Metabolic syndrome: An emerging public health problem in Iranian Women: Isfahan Healthy Heart Program ̏ oleh Sarrafza et al. (2007). Tujuan penelitian mengetahui prevalensi SM spesifik gender dewasa daerah perkotaan dan pedesaan tiga kota di Iran.

Metode penelitian survei kuantitaf dengan pendekatan cros-sectional.

Variabel yang diteliti asupan makanan, aktivitas fisik. Hasil penelitian, prevalensi perempuan yang menderita SM lebih tinggi dibanding laki - laki (35,1% dibanding 19,5%). Prevalensi SM di daerah perkotaan lebih tinggi dibanding daerah pedesaan (24,2% dibanding 19,5%). Risiko obesitas perut perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki (72,7%

dibanding 12%) Pada obesitas perempuan diikuti risiko HDL-C rendah (60,9%) dan hipergliseridemia (49,1%), sedangkan pada obesitas laki - laki diikuti hipergliseridemia (49,1%) dan HDL-C rendah (35,1%).

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah pada tujuan penelitian, sampel, teknik sampling, variabel dan lokasi penelitian.

(15)

Sedangkan persamaannya terletak pada jenis penelitiannya yaitu kuantitatif.

2. Penelitian berjudul : ̋ The effects of a lifestyle intervention program on physical outcomes, depression, and quality of life in adults with metabolic syndrome ̏ oleh Wang Qun, et al. (2017). Tujuan penelitian : menguji efek dari program intervensi gaya hidup terhadap hasil fisik, depresi dan kualitas hidup pada individu China dengan SM. Metode penelitian percobaan kontrol acak, dengan memberikan perlakuan pada kelompok perlakuan sebanyak 86 responden dan kelompok kontrol sebanyak 87 responden. Perlakuan berupa model promosi kesehatan menggunakan buklet modifikasi gaya hidup, pendidikan kesehaan dan ditindak lanjuti sepuluh kali melalui telepon. Sampel diambil dari pasien rawat inap rumah sakit. Alat ukur menggunakan Generalized Estimating Equetion Model (GEEM). Hasil intervensi gaya hidup menurunkan berat badan (p 0,007 ˂ 0,05), memperbaiki depresi (p 0,001 ˂ 0,05), memperbaiki kualitas hidup (p 0,02 ˂ 0,05). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisa data dan lokasi penelitian. Sedangkan persamaannya adalah jenis penelitian kuantitatif.

3. Penelitian dengan judul ̋ Contribution of sociodemographic and lifestyle - related factors to the differences in metabolic syndrome among Russian, Somali and Kurdish migrants compared with Finns ̏ Oleh Skogberg N. et al. (2017). Tujuan penelitian adalah mengetahui kontribusi faktor - faktor yang berkaitan dengan sosiodemografi dan gaya hidup terhadap perbedaan sindroma metabolik antara imigran Rusia, Somalia dan Kurdi dibandingkan dengan Finlandia. Jenis penelitian survei kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil secara acak pada populasi umur 30 - 64 tahun (318 migran asal Rusia, 212 orang Somalia, dan 321 orang Kurdi). Hasil penelitian : dibandingkan dengan orang Finlandia prevalensi SM secara signifikan lebih tinggi diantara semua migran, kecuali orang-orang Somalia. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan penelitian, metode pengambilan sampel, teknik

(16)

analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian terletak pada jenis penelitian dan pendekatan penelitian.

4. Penelitian dengan judul ̋ Effects of a home-based intervention on diet and physical activity behaviours for rural adults with or at risk of metabolic syndrome ̏ oleh Blackford K. et al. (2016). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian program intervensi gaya hidup berbasis pada masyarakat kurang beruntung di pedesaan Westen Australia yang berisiko mengalami SM. Metode : jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen dengan kelompok kontrol, sampel berumur 50-69 tahun diambil secara acak, kelompok intervensi sebanyak 201, kelompok kontrol sebanyak 200, pemberian intervensi selama 6 bulan. Variabel yang diteliti adalah perilaku aktivitas diet dan aktivitas fisik. Populasi penelitian diambil dari kota Albany dan kota-kota sekitarnya. Hasil penelitian:

kelompok perlakuan mengalami peningkatan yang signifikan secara bermakna pada aktivitas fisik sedang per minggu (p = 0,049 ˂ 0,05), peningkatan asupan serat secara bermakna (p = 0,001 ˂ 0,05), penurunan asupan lemak (p = 0,003 ˂ 0,05), peningkatan konsumsi sayuran per hari (p = 0,002 ˂ 0,05). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya yaitu kuantitatif

5. Penelitian dengan judul ̏ Obesity, Metabolic Syndrome and Physical Activity in Indian Adults.̏ Oleh Sharma M. et el. (2012). Tujuan penelitian menilai hubungan obesitas, sindroma metabolik dan aktivitas fisik pada 1500 individu di India. Sampel dibagi 750 subyek pasien SM dan 750 subyek penderita non sindroma metabolik. Variabel yang diteliti adalah antropometri, tekanan darah, glukose darah dan aktivitas fisik. Desain penelitian studi literatur pasien di 7 rumah sakit Di New Delhi. Hasil penelitian : pada pasien SM ditemukan 85% HDL rendah, 80% mengalami peningkatan lingkar pinggang, 65% peningkatan glukosa darah, 50%

mengalami peningkatan kadar trigliserida, 55% mengalami peningkatan

(17)

tekanan darah. Ada perbedaan signifikat nilai Physical Activity Level antara pasien pasien SM dan non metabolik (p ˂ 0,01). Odds ratio menunjukkan kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko SM sebesar 3,34 kali. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

6. Penelitian dengan judul ̋ Association between dietary patterns and metabolic syndrome in a sample of portuguese adults ̏ oleh Fonseca J.M et al. (2012). Tujuan penelitian mengevaluasi hubungan antara pola diit dengan SM populasi dewasa di Portugis. Desain penelitian menggunakan metode campuran, sampel adalah individu sebanyak 2167 yang dipilih secara acak. Variabel yang diukur adalah antropometri, tekanan darah, sampel darah puasa dan pola diet. Hasil penelitian wanita dengan pola diet rendah buah dan sayur memiliki kemungkinan lingkar perut lebih besar dibanding wanita yang melakukan pola diet sehat (OR= 1,88), HDL kolesterol rendah. Wanita yang mengkonsumsi daging dan alkohol memiliki kemungkinan lingkar perut lebih besar dibanding wanita yang dengan pola diet sehat (OR = 1,45) dan kemungkinan menderita SM (OR = 1,57). Laki - laki dengan pola diet ikan memiliki kemungkinan trigliserida lebih tinggi dibanding laki - laki dengan pola diet sehat (OR= 1,57). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

7. Penelitian dengan judul ̋ Physical activity and non - movement behaviours:

their independent and combined associations with metabolic syndrome ̏ oleh Rao Deepa P et al. (2016). Penelitian dilakukan di Canada. Tujuan penelitian menganalisis hubungan secara sendiri-sendiri dan gabungan dari perilaku fisik pasif (waktu tidur, waktu rekreasi berlayar, perilaku sedentary) dan perilaku fisik aktif dengan SM. Desain penelitian menggunakan survey analitik, besar sampel 2901 responden yang berumur

(18)

18 tahun keatas. Variabel penelitian : aktivitas fisik sedang sampai berat, aktifitas fisik pasif dan kejadian SM. Hasil penelitian : ada hubungan waktu lama tidur dengan sindroma metabolik, ada hubungan lama waktu berlayar dengan SM, ada hubungan perilaku sedentary dengan SM.

Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

8. Penelitian dengan judul : ̋ Metabolic syndrome in Spanish adolescents and its association with birth weight, breastfeeding duration, maternal smoking, and maternal obesity ̏ Oleh Gonsalez Emilio et al. (2015).

Tujuannya adalah untuk memverifikasi hubungan antara prediktor awal seperti berat badan lahir, menyusui, status berat badan ibu, merokok selama kehamilan, dan pengembangan SM. Metode penelitian cross-sectioal studi, sampel anak remaja umur 10-15 tahun di sekolah-sekolah di propinsi Granada dan Almeria Spanyol sebanyak 976 anak. Variabel yang diteliti berat badan lahir, lama mendapatkan asupan ASI, berat badan ibu, konsumsi rokok selama kehamilan dan tanda- tanda biokomia responden. Hasil penelitian ada hubungan antara berat lahir dan diagnosis kejadian sindroma metabolik (OR 1,27). Kesimpulan subyek yang lahir dengan berat lahir lebih tinggi dari rata-rata memiliki risiko lebih besar mengalami SM di masa kanak-kanak dan remaja. Ada hubungan terbalik antara lama waktu mereka mendapat ASI dan diagnosis SM positif (OR 1 - 3 bulan 3,16; OR 4 - 6 bulan 1,70; OR > 6 bulan 0,13). Kesimpulan menyusui anak-anak selama lebih dari 6 bulan melindungi mereka dari SM di tahun-tahun awal mereka serta di usia remaja. Ada hubungan yang signifikan antara berat badan ibu (OR overweight 30.79; OR obesity 49.36) dan konsumsi rokok selama kehamilan (OR 1.47) lebih lanjut anaknya akan menderiata SM. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

(19)

9. Penelitian dengan judul ̋ Carbohydrate intake and refined-grain consumption are associated with metabolic syndrome in the Korean adult population ̏ oleh Song Su Jin et al. (2014). Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara asupan karbohdrat dengan kejadian SM pada populasi dewasa di Korea, dengan metode penelitian, cross-sectional study.

Variabel yang diteliti, asupan karbohidrat diet, termasuk total karbohidrat, energi dari karbohidrat, indeks glikemik makanan, beban glikemik diet, jumlah biji-bijian, biji bijian olahan, dan nasi putih pada pria dan wanita Korea. Analisis data penelitian multivariat regresi logistik. Hasil penelitian, faktor penentu SM adalah persentase energi dari karbohidrat pada pria dan asupan biji-bijian olahan, termasuk nasi putih, pada wanita.

Trigliserida, kolesterol high-density lipoprotein, dan kadar glukosa darah puasa dikaitkan dengan persentase energi dari karbohidrat pada pria dan asupan nasi putih pada wanita. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

10. Penelitian dengan judul ̋ Active Smoking and Risk of Metabolic Syndrome:

A Meta-Analysis of Prospective Studies ̏ oleh Sun Ka et al.(2012) Tujuan penelitian menguji hubungan antara kebiasaan merokok dengan SM.

Metode yang digunakan meta analisis prospektif studi. Analisis primer dari 13 penelitian yang melibatkan 56.691 peserta dan 8.688 kasus mendeteksi hubungan positif yang signifikan antara merokok aktif dan risiko sindroma metabolik (risiko relatif dikumpulkan (RR 1,26, 95%

CI: 1,10 - 1,44). Hasil penelitian, dalam analisis dosis-respons, risiko sindroma metabolik lebih kuat untuk perokok laki-laki aktif ( RR 1,34, 95% CI: 1,20-1,50) daripada mantan perokok laki-laki ( RR 1,19, 95% CI:

1,00-1,42) , dan lebih besar untuk perokok berat (RR 1,42, 95% CI:

1,27-1,59) dibandingkan dengan perokok ringan (RR 1,10, 95% CI:

0,90 - 1,35). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode,

(20)

sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

11. Penelitian dengan judul ̋ Association of Cigarette Smoking and Metabolic Syndrome in a Puerto Rican Adult Population ̏ oleh Calo Wiliam et al. (2014). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara merokok, Metabolic Syndrome, dan komponennya di antara individu di Puerto Rico. Metode penelitian menggunakan cross-sectonal study, sampel 856 orang berusia 21-79 tahun. Variabel yang diteliti adalah kebiasan merokok diukur menggunakan kuisioner, SM diukur menggunakan pengukuran biokimia dan index antropometri.

Hasil penelitian : ada hubungan yang signifikan antara SM dengan mantan perokok (p = 0,001 ˂ 0,05), perokok aktif yang merokok lebih dari 20 batang perhari menderita SM 2,24 kali dibanding responden yang tidak merokok, perokok berat cenderung memiliki 2,22 kali tingkat trigliserida tinggi dibanding responden yang tidak merokok, perokok berat memiliki kadar HDL kolesterol rendah 2,49 kali dibanding responden yang tidak merokok. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

12. Penelitian dengan judul ̋ Gaya hidup dan kejadian SM pada karyawan laki - laki berstatus gizi obes di PT Indocement Citeureup ̏ oleh Nurjanah F et al. (2015). Tujuan penelitian menganalisis gaya hidup dan kejadian SM pada karyawan laki - laki berstatus gizi obesitas di PT Indocement. Disain penelitian cross-sectional, sampel adalah karyawan PT Indocement, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.

Hasil penelitian, tidak terdapat perbedaan proporsi kejadian SM menurut umur, riwayat kegemukan, kebiasaan merokok, kebiasaan olah raga, tingkat aktivitas fisik maupun perilaku makan (p > 0,05). Semakin banyak jumlah rokok yang dikonsumsi berkorelasi signifikan dengan tekanan darah diastole yang rendah dan ukuran lingkar perut yang besar (p ˂ 0,05).

Perilaku makan yang tidak sehat berkorelasi signifikan dengan rendahnya

(21)

kadar kolesterol HDL, sedangkan perilaku konsumsi camilan berkorelasi dengan tingginya kadar glokosa darah puasa (p ˂ 0,05). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

13. Penelitian dengan judul : ̋Association between physical activity and metabolic syndrome in middle-aged Japanese: a cross-sectional study”

oleh Kim Y.et al. (2011). Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara aktivitas fisik yang diukur secara obyektif, untuk menentukan batas optimal aktivitas fisik yang diperlukan untuk mengurangi risiko berkembangnya SM. Metode penelitian cross-sectional study, jumlah sampel 483 dibagi menjadi dua kelompok. Satu bagian kelompok penderita SM dan pre SM, satu bagian lagi kelompok bukan sindro SM.

Responden dianggap aktif secara fisik jika mereka mencapai aktivitas fisik tingkat 23 ekuivalen metabolik (MET) h/minggu yang diukur menggunakan accelerometer triaksial. Teknik analisa data bivariat menggunakan regresi logistik. Variabel yang diteliti : jenis kelamin, usia, intensitas aktivitas fisik, asupan kalori, merokok, index masa tubuh.

Hasil responden yang tidak aktif secara fisik (< 23 METs h/minggu) menderita SM sebesar 2,20 kali lebih besar dibanding responden yang aktif melakukan aktifitas secara fisik ( ≥ 23 METs h/minggu).

Aktivitas fisik > 26,5 METs h/minggu sudah cukup mengurangi prevalensi SM pada laki-laki dan perempuan yang sedang berkembang di Jepang. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

14. Penelitian dengan judul ̋ Sociocultural Characteristic, Lifestyle, and Metabolic Risk Factors Among a Sample of Kuwaiti Male University Students ̏ oleh Maha Al-Sejari (2017). Tujuan penelitian untuk mendeteksi hubungan antara karakteristik sosiokultural, seperti aktivitas fisik, kebiasaan diet, merokok dan prevalensi sindroma metabolik (MetS).

(22)

Metode penelitian survei deskriptif, cross-sectional dilakukan di antara 262 mahasiswa pria di Kuwait; peserta dipilih dengan menggunakan sampel oportunistik non random. Faktor sosial dan kesehatan terkait diperoleh dengan menggunakan kuesioner tertutup. Body Mess Index dan tes darah yang mencakup kelompok komponen risiko SM diambil dari peserta di klinik perawatan kesehatan primer. Hasil penelitian lebih dari separuh peserta mengalami kelebihan berat badan dan obesitas; 74,4% dari peserta melaporkan bahwa mereka tidak mengunjungi ahli gizi; 69,8%

mengatakan bahwa mereka saat ini tidak sedang diet; 53,4% dari siswa adalah bukan perokok; 42,7% melaporkan aktivitas fisik sedang hingga sangat rendah setiap hari. Prevalensi komponen SM meningkat di antara mahasiswa dengan usia yang lebih tua, bekerja, dan menikah (p<0,001), Body Mess Index yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, merokok, jumlah anggota keluarga yang hidup lebih sedikit, dan milik sekte agama Syiah (p<0,05). Tingginya frekuensi SM di antara mahasiswa yang lebih muda perlu dipertimbangkan oleh anggota masyarakat Kuwait dan pemerintah untuk menyoroti faktor risiko SM pada kesejahteraan individu, kualitas hidup, dan harapan hidup. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

15. Penelitian dengan judul “Integrated social-and neuro-cognitive model of physical activity behavior in older adults with metabolic disease”

oleh : Erin A. Olson, et al. (2018). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji determinan kognitif sosial dan neuropsikologis perilaku aktivitas fisik pada lansia dengan Diabetus Militus type 2 dan SM. Metode penelitian : eksperimen dengan melakukan akitivitas fisik dan pendidikan kesehatan selama delapan minggu, dan tindak lanjut enam bulan, dengan sampel sebanyak 58 orang. Model yang dihipotesakan adalah penggunaan strategi pengaturan diri awal dan fungsi kognitif secara tidak langsung

akan mempengaruhi aktifitas fisik melalui self-efficacy.

(23)

Hasil: Data sebagian mendukung model hipotesis (χ2 = 158.535 (131), p > .05, CFI = .96, RMSEA = .04, SRMR = .06) dengan menggunakan strategi pengaturan diri yang secara langsung memprediksi self-efficacy (β =. 33, p <.05), yang pada gilirannya memprediksi aktivitas fisik (β = .21, p <.05). Kinerja pada berbagai tugas fungsi kognitif memprediksi aktivitas fisik secara langsung dan tidak langsung melalui self-efficacy. Aktivitas fisik dasar (β = .62, p <.01) dan penugasan kelompok intervensi melalui self-efficacy (β = -. 20, p <.05) memperkirakan tindak lanjut aktivitas fisik. Model tersebut menyumbang 54,4% dari varians dalam aktivitas fisik pada bulan ke enam. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

16. Judul penelitian: “ Effects of a Health Education Program based on Social Cognitive Theory on the Health Promotion of University Students with Metabolic Syndrome Gachon University, Seongnam, Korea ” Oleh:

Kim, Hee-Gerl et al. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek dari program pendidikan kesehatan berdasarkan teori kognitif sosial pada mahasiswa dengan faktor risiko SM. Metode yang digunakan:

desain pretest-posttest kelompok kontrol nonequivalent digunakan.

Sampel adalah 88 siswa yang memiliki setidaknya 2 faktor risiko SM (47 siswa untuk eksperimen dan 41 untuk kelompok kontrol). Perlakuan pendidikan kesehatan terdiri dari tiga belas sesi. Variabel yang diteliti:

pengetahuan tentang merokok dan minum alkohol, self-efficacy dan harga diri. Hasil: Terdapat peningkatan efikasi diri yang signifikan secara statistik pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak ada perubahan signifikan dalam pengetahuan dan harga diri yang ditemukan. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

(24)

17. Penelitian dengan judul;” Correlates Between Health Beliefs and Health-Promoting Lifestyle Profiles in the Development of Metabolic Syndrome in Taiwan “ Oleh : Sue-Hsien Chen et al. (2018). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui korelasi Antara Keyakinan Kesehatan dan Profil Gaya Hidup dalam pengembangan mempromosikan kesehatan SM. Metode yang digunakan disain cross-sectional. Sampel: 1741 penduduk Taiwan berusia ≥30 tahun. Variabel yang diteliti:

sosiodemografi, kepercayaan kesehatan, dan profil gaya hidup.

Hasil : Analisis multivariat mengungkapkan bahwa usia ≥ 65 tahun (rasio odds [OR] = 2,17), tingkat pendidikan rendah (OR = 1,46), indeks massa tubuh ≥ 24 kg / m2 (OR = 9,00), lebih banyak tanggung jawab kesehatan (OR = 1,08), dan kurang berolahraga (OR = 0,924). Kesimpulan : Ada korelasi antara keyakinan kesehatan dan profil gaya hidup yang mempromosikan kesehatan, menunjukkan bahwa pembentukan program promosi kesehatan yang efektif harus mempertimbangkan keyakinan kesehatan peserta. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

18. Penelitian dengan judul ̋ Effect of educational intervention based on the Health Belief Model on promoting self-care behaviors of type-2 diabetes patients ̏oleh : Shabibi. et al, (217). Tujuan dari penelitian ini adalah : Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh intervensi pendidikan berdasarkan Health Belief Model (HBM) pada mempromosikan perilaku perawatan diri pasien diabetes tipe 2 di Ilam, Iran 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian: eksperimental semu pre-post tes dilakukan berdasarkan HBM di mana 70 pasien diabetes tipe 2 dari Ilam, Iran barat dipilih dengan multi-stage random sampling. Bentuk intervensi pendidikan yang diberikan dalam bentuk presentasi, pertanyaan dan jawaban, diskusi kelompok, dan demonstrasi praktis dalam empat sesi selama satu bulan. Dua bulan setelah intervensi, post - test diberikan. Data

(25)

dianalisis melalui SPSS versi 20 menggunakan uji-t sampel independen, uji-t berpasangan, dan regresi univariat dan multivariat pada tingkat signifikansi kurang dari 0,05. Hasil Skor rata-rata kerentanan, keparahan, manfaat yang dirasakan dan hambatan, efikasi diri, dan perilaku perawatan diri berada pada tingkat rata-rata dan lebih rendah sebelum intervensi;

Meskipun demikian, setelah intervensi pendidikan, skor rata-rata setiap konstruk HBM dan perilaku perawatan diri meningkat secara signifikan (p<0,001). Kesimpulan pendidikan kesehatan melalui HBM mempromosikan perilaku perawatan diri pasien dengan diabetes tipe 2.

Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

19. Penelitian dengan judul ̋ Efficacy of HBM-Based Dietary Education Intervention on Knowledge, Attitude, and Behavior in Medical Students ̏ Oleh Tavakoli et al. (2016). Tujuan penelitian ini berusaha untuk mengetahui pengaruh pendidikan pada pola konsumsi makanan di kalangan mahasiswa kedokteran di universitas militer Teheran. Metode penelitian: studi kuasi-eksperimental, responden 242 mahasiswa kedokteran dari Universitas Militer Teheran dipilih dengan convenience sampling dan kemudian dibagi menjadi kelompok kontrol (n = 107) dan kelompok intervensi (n = 135) dengan pengacakan blok. Variabel yang diteliti: pengetahuan, manfaat yang dirasakan, hambatan yang dirasakan, ancaman yang dirasakan, self-efficacy dan perilaku. Intervensi yang diberikan: pendidikan kesehatan Hasil penelitian: Setelah intervensi pendidikan, skor rata - rata pengetahuan, struktur model kepercayaan kesehatan (HBM), dan perilaku siswa dalam kaitannya dengan pola asupan makanan yang sehat meningkat secara signifikan (p < 0,05). Hasil penelitian: sebelum intrevensi: skor pengetahuan rata-rata adalah 6.76, ancaman yang dirasakan 2.93, manfaat yang dirasakan 7.28, hambatan yang dirasakan 5.44, self-efficacy 4.28, dan perilaku 8.84. Skor pasca intervensi semua meningkat sebagai berikut : pengetahuan 8.3, ancaman

(26)

yang dirasakan 3.29, manfaat yang dirasakan 7.71, hambatan yang dirasakan 5.9, self-efficacy 4.6, dan perilaku 9.45. Perbedaan skor rata - rata untuk pengetahuan, struktur kepercayaan kesehatan (HBM) dan perilaku mahasiswa sebelum dan sesudah intervensi pendidikan adalah signifikan (P ≤ 0,05). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

20. Penelitian dengan judul ̋ The moderating effect of social cognitive factors on self-management activities and HbA1c in Thai adults with type-2 diabetes ̏ oleh Thojampaa (2016). Tujuan penelitian: mengetahui hubungan antara faktor kognitif sosial dengan aktifitas menajemen diri HbA1c, pada individu Diabetes di Thailand. Variabel yang diukur:

variabel independen dukungan sosial, self efficacy dan nilai-nilai Buddhis, variabel dependen aktifitas menejemen diri HbA1c. Metode penelitian:

adalah desain cross-sectional. Sampel sebanyak 401 individu Thailand yang didiagnosis dengan diabetes tipe 2, berusia 20-65 tahun yang memiliki setidaknya satu tes HbA1c dalam tiga bulan terakhir. Hasil penelitian: dukungan sosial, self-efficacy dan nilai-nilai Buddhis memiliki efek interaksi yang signifikan antara kegiatan manajemen diri dan HbA1c (β = -0,97, p ≤ 0,05, β = -0,18, p ≤ 0,05 dan β = -2,76, p ≤ 0,001).

Kesimpulan : Aktivitas manajemen diri diabetes lebih kuat terkait dengan HbA1c dalam kondisi dukungan sosial yang tinggi, efikasi diri dan kepercayaan kesehatan dengan nilai-nilai Buddhis. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

21. Penelitian dengan judul ̋ Effects of a Health Education Program based on Social Cognitive Theory on the Health Promotion of University Students with Metabolic Syndrome ̏ (2013) Oleh: Kim et al. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek dari program pendidikan

(27)

kesehatan berdasarkan teori kognitif sosial pada mahasiswa dengan faktor risiko SM. Metode penelitian pretest-posttest kelompok kontrol nonquivalent. Responden adalah 88 siswa yang memiliki setidaknya 2 faktor risiko SM (47 siswa untuk eksperimen dan 41 untuk kelompok kontrol). Intervensi yang dilakukan adalah : Program pendidikan kesehatan terdiri dari tiga belas sesi. Variabel yang diukur : Pengetahuan tentang merokok dan minum alkohol, self-efficacy dan harga diri. Hasil penelitian : ada peningkatan efikasi diri yang signifikan secara statistik pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak ada perubahan signifikan dalam pengetahuan dan harga diri yang ditemukan. Pekerjaan selanjutnya adalah diperlukan untuk mengembangkan program pendidikan kesehatan yang lebih efektif. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

22. Penelitin denga judul ˝ The association between attitude, self-efficacy, and social support and adherence to diabetes self-care behavior ̏ (2017) Oleh:

Karimy et al. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki hubungan self-efficacy, sikap dan dukungan sosial dengan kepatuhan terhadap perilaku perawatan diri diabetes. Dalam studi cross-sectional terhadap 403 pasien diabetes di Zarandieh, Iran. Mereka dievaluasi dengan kuesioner yang valid dan reliabel yang terdiri dari item tentang perawatan diri diabetes, efikasi diri dalam menghadapi masalah, dukungan sosial dan sikap terhadap perawatan diri. Data dianalisis menggunakan uji t, ANOVA, dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan skor perawatan diri yang lebih tinggi memiliki efikasi diri, dukungan sosial, dan sikap yang lebih baik terhadap perawatan diri. Selain itu, efikasi diri, dukungan sosial, dan sikap terhadap variabel perawatan diri menyumbang 39,5% dari total varians perilaku perawatan diri. Selanjutnya, dukungan sosial (β = 0.87), self-efficacy (β = 0.52), dan sikap terhadap perawatan diri (β = 0.42) masing-masing merupakan

(28)

prediktor yang paling penting dari perilaku perawatan diri. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

23. Penelitian dengan judul ˝ Efficacy of social support on metabolic syndrome among low income rural women in Chiapas, México ̏ (2013) Oleh: Sarmento et al. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai intervensi dukungan sosial pada wanita pedesaan dari Chiapas Mexico dan kemampuannya untuk mengubah gaya hidup, konsep diri, dan SM.

Metode : Sebuah convenience sampling dilakukan di antara wanita yang lebih tua dari 16 tahun dari komunitas pedesaan yang terpinggirkan dari pusat Chiapas. Dua kuesioner yang digunakan, kuesioner konsep diri dan profil gaya hidup sehat. Kriteria komponen SM yang digunakan adalah dari International Diabetes Federation. Intervensi dilakukan selama tiga bulan dan dibagi menjadi 13 sesi yang berkonsentrasi pada dukungan sosial dan dilengkapi dengan modul pendidikan gizi. Hasil : Lima ratus delapan puluh enam peserta memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian ini.

Pada waktu basal 47% memiliki SM, obesitas perut 69%, kadar glukosa tinggi 27%, trigliserida 56%, tekanan darah sistolik 17%, tekanan darah diastolik 15%, dan kadar kolesterol HDL yang rendah 55%. Setelah intervensi, 38% memiliki SM dan perbedaan yang signifikan diamati pada semua komponen SM. Skor dimensi pra dan pasca intervensi pada formulir konsep diri , atau kuesioner konsep diri, dan Kuesioner Promosi Kesehatan dan Gaya Hidup Pender juga menghasilkan perbedaan yang signifikan. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

24. Penelitian dengan judul ˝ Personal Attributions, Emotion Managements, Social Supports, and Diabetes Knowledge in Diabetes Self-care Adherenc ̏ Oleh : Cap et al. Maksud & Tujuan: edukasi dan manajemen diabetes . Berdasarkan Self-Determination Theory, studi ini mengeksplorasi aspek

(29)

psikososial peserta dengan memeriksa kekuatan masing-masing prediktor dalam aktivitas perawatan diri mereka. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang. Sebelas skala digunakan dalam survei ini (termasuk manajemen emosi, atribusi pribadi, dukungan sosial dan pengetahuan diabetes). Pengambilan sampel purposive diadopsi di antara 187 orang dewasa yang hidup dengan diabetes tipe 2 di semenanjung Malaysia melalui berbagai entitas perawatan kesehatan.

Hasil: Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan yang signifikan antara 10 variabel dan perawatan diri diabetes ketaatan ; regresi berganda pada analisis menunjukkan bahwa self-efficacy, kecemasan, dan optimisme adalah prediktor yang berguna, menyumbang 13,9% kontribusi unik untuk varians indeks perawatan diri. Selain itu, pengetahuan diabetes dan dukungan sosial tidak dapat memprediksi aktivitas perawatan diri.

Kesimpulan : Temuan menyoroti peran pelatihan penguasaan perawatan diri berbasis kompetensi dan elemen kesehatan mental dalam pendidikan dan manajemen diabetes dapat mencapai kepatuhan yang diinginkan.

Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan, metode, sampel, variabel, teknik analisis data dan lokasi penelitian. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah jenis penelitiannya.

Berdasarkan hasil penelusuran beberapa penelitian yang sejenis diatas, kebaruan dari penelitian ini terletak pada :

1. Tujuan penelitian; dalam beberapa penelitian sebelumnya banyak meneliti tentang faktor-faktor risiko SM yang dihubungkan dengan kejadian risiko SM. Sedangkan penelitian ini berbeda dikarenakan penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada perilaku pencegahan faktor risiko SM.

2. Ruang lingkup penelitian ; berupa model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada mencegahan faktor risiko SM meliputi ; persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, efikasi diri, imitasi, efikasi kolektif, harapan hasil, modal sosial, dukungan

(30)

pemerintah, dukungan teman sebaya dan perilaku pencegahan, dengan mengadopsi teori model Health Belief Model yang disampaikan oleh Hockbaum et el. dan Rosenstock, Social Cognitive Theory oleh Bandura dan Social Support dari Safarino.

3. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data multivariat dianalisis menggunakan Path analisis. Penelitian sebelumnya data bivariat dianalisis menggunakan chi-squaer, pendekatan yang digunakan bervariasi antara lain: cross-sectional, experimen, studi literatur.

4. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya disebabkan penelitian ini menghasilkan suatu rumusan model promosi kesehatan dan pemberdayaan pada perilaku pencegahan faktor risiko SM.

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan pengaturan hak kesehatan buruh yang diselenggarakan oleh Jamsostek dan BPJS Kesehatan adalah dari segi asas dan prinsip penyelenggaraan; sifat kepesertaan; subjek

Oleh karenannya untuk melaksanakan kewenangan dimaksud diperlukan adanya sarana dan prasarana berupa peraturan daerah yang mengatur tentang retribusi daerah sebagai salah

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Materia Medika Indonesia Jilid III, Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.. Departemen Kesehatan Republik

[r]

rnnsiprla adalah afrk-annk yang sah sccara lurun LrLa pe.tx\Dro cinjpurrr drLrlsrMkan mentrrur hulu rang bena[u

Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran langsung menggunakan kalkulator terhadap hasil belajar

Perlakuan lama pem anasan berpengaruh nyata (α = 0 .05) terhadap kadar air, kadar protein, nilai kekerasan, dan kesukaan terhadap tekstur bakso. Lama pemanasan yang

Tindakan kriminal yang direncanakan biasanya terjadi akibat dendam pelakunya, sedangkan tindakan yang tidak direncanakan terjadi karena adanya kesempatan pelaku untuk melakukan