14
LANDASAN TEORI 2.1 Komunikasi Massa
2.1.1 Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa harus menggunakan media massa. Jadi, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri oleh ribuan bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran dan televisi keduanya dikenal sebagai media elektronik, kemudian surat kabar dan majalah keduanya dikenal sebagai media cetak, serta media film. Film sebagai media komunikasi adalah film bioskop (Ardianto dkk, 2012: 3).
Agar tidak ada kerancuan dan perbedaan persepsi tentang massa, ada baiknya kita membedakan arti massa dalam komunikasi massa dengan massa dalam arti umum. Massa dalam arti umum adalah kumpulan individu yang berada di suatu lokasi tertentu. Sedangkan massa dalam arti komunikasi massa lebih lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Oleh karena itu, massa di sini menunjuk pada khalayak, audience, penonton, pemirsan, atau pembaca. Beberapa istilah ini berkaitan dengan media massa (Nurudin, 2013: 5).
Di samping itu, agar tidak membingungkan, kita juga perlu membedakan anatara mass communications (dengan s) dengan mass communcation (tanpa s).
Seperti dikemukakan oleh Jay Back Frederick C. Whitney dikatakan bahwa mass communications lebih menunjuk pada media mekanis yang digunakan dalam komunikasi massa yakni media massa. Sedangkan mass communication lebih menunjuk pada teori atau proses teoretik. Atau bisa dikatakan mass communication lebih menunjuk pada proses dalam komunikasi massa (Nurudin, 2013: 5).
2.1.2 Karakteristik Komunikasi Massa
Adapun beberapa karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut (Ardianto dkk, 2012: 6):
1. Komunikatornya Terlembagakan
Ciri komunikasi massa yang pertama adalah komunikatornya. Kita sudah memahami bahwa komunikasi massa itu menggunakan media massa, baik cetak maupun elektronik. Komunikasi massa melibatkan lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks.
2. Pesan Bersifat Umum
Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenanya pesan komunikasi bersifat umum. Pesan komunikasi dapat berupa fakta, peristiwa atau opini.
3. Komunikannya Anonim dan Heterogen
Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Disamping anonim, komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokan berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi.
4. Media Massa Menimbulkan Keserempakan
Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya adlah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang sama memperoleh pesan yang sama pula.
5. Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
Dalam konteks komunikasi massa, komunikator tidak harus selalu kenal dengan jkomunikannya, dan sebaliknya. Yang penting, bagaimana seorang komunikator menyusun pesan secara sistematis, baik, sesuai dengan jenis medianya, agar komunikannya bisa memahami isi pesan tersebut.
6. Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah
Salah satu ciri yang merupakan keunggulan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya, ada juga ciri komunikasi massa yang merupakan kelemahannya. Karena komunikasinya melalui media massa, maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung.
Komunikator aktif menyampaikan pesan sedangkan komunikannya aktif menerima pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana hal terjadi dalam komunikasi anatarpesona. Dengan kata lain, komunikasi massa bersifat satu arah.
7. Stimulasi Alat Indra Terbatas
Ciri komunikasi massa lainnya yang dapat dianggap salah satu kelemahannya, adalah stimulasi alat indra yang terbatas. Pada komunikasi antarpesona yang bersifat tatap muka, maka seluruh alat indra pelaku komunikasi, kamunikator dan komunikan, dapat digunakan secara maksaimal. Kedua belah pihak dapat melihat, mendengar secara langsung, bahkan mungkin merasa.
8. Umpan Balik Tertunda (Delayed) dan Tidak Langsung (Indirect)
Komponen umpan balik atau yang lebih populer dengan sebutan feedback merupakan faktor penting dalam proses komunikasi antarpesona, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Efektivitas komunikasi seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan. Dalam komunikasi massa tanggapan khalayak bisa diterima lewat telepon, e-mail, atau surat pembaca. Dalam proses tersebut, menggambarkan feedback komunikasi massa bersifat tidak langsung (indirec). Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan telepon, menulis surat pembaca, mengirim e-mail itu menunjukan bahwa feedback komunikasi massa bersifat tertunda (delayed).
2.1.3 Fungsi Komunikasi Massa
Dalam setiap item fungsi komunikasi massa terdapat persamaan dan perbedaan. Pembahasan fungsi komunikasi telah menjadi diskusi yang cukup penting, terutama konsekuensi komunikasi melalui media massa. Adapun beberapa fungsi komunikasi massa adalah (Ardianto dkk, 2012: 14):
1. Surveillance (Pengawasan).
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama: (a) pengawasan peringatan, (b) pengawasan instrumental. Fungsi pengawasan peringatan terjadi ketika media massa menginformasikan ancaman dari angin topan, meletusnya gunung merapi, kondisi yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya serangan militer. Sedangkan pengawasan instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Berita tentang film apa yang sedang ditayangkan di bioskop, bagaimana harga-harga saham di bursa efek, produk-produk baru, ide-ide tentang mode, resep masakan dan sebagainya, adalah contoh-contoh pengawasan instrumental.
2. Interpretation (Penafsiran).
Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberika penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan. Contoh nyata penafsiran media dapat dilihat pada halaman tajuk rencana (editorial) surat kabar. Penafsiran ini berbentuk komentar dan opini yang ditujukan kepada khalayak pembaca, serta disertai dengan perspektif (sudut pandang) terhadap berita yang disajikan di halaman lainnya.
3. Linkage (Pertalian).
Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
4. Transmission of Values (Penyebaran Nilai-Nilai).
Fungsi penyebaran nilai tidak kentara. Fungsi ini juga disebut sosialisasi yang mengacu kepada cara, di mana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu ditonton, didengar dan dibaca.
5. Entertaiment (Hiburan).
Sulit dibantah lagi bahwa pada kenyataanya hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Televisi adalah media massa yang mengutamakan sajian hiburan. Hampir tiga perempat bentuk siaran televisi setiap hari adalah tayangan hiburan. Begitu pun radio siaran, siarannya banyak memuat acara hiburan.
2.1.4 Elemen-Elemen Komunikasi Massa
Dalam kegiatan komunikasi ada empat elemen yang harus diperhatikan, yaitu source, message, channel dan receiver. Kemudian komponen tersebut diperinci kembali menjadi lima bagian oleh Eilbur Schramm, yaitu, source (sumber), encoder (komunikator), signal (sinyal), decoder (komunikan), destination (tujuan). Kelima komponen tersebut sesuai dengan paradigma Harold D. Lasswell yakni who-say what in which channel to whom-with what effect.
Komponen-komponen tersebut meruapakan suatu syarat yang harus ada dalam proses komunikasi, baik komunikasi anatarpeson, komunikasi kelompok atau komunikasi massa (Ardianto, 2012: 31)
Dalam komunikasi massa pengirim sering disebut sebagai sumber atau komunikator, sedangkan penerima pesan yang berjumlah banyak disebut audiens, komunikan, pendengar, pemirsa, penonton, atau pembaca. Adapun beberapa elemen dalam komunkasi massa lainnya adalah (Nurudin, 2013: 95):
a. Komunikator.
Komunikator dalam komunikasi massa sangat berbeda dengan komunikator dalam bentuk komunikasi yang lain. Komunikator di sini meliputi jaringan, stasiun lokal, direktur, dan staf teknis yang berkaitan dengan sebuah acara televisi. Jadi komunikator merupakan gabungan dari berbagai individu dalam sebuah lembaga media massa.
b. Isi.
Masing-masing media massa mempunyai kebijakan sendiri-sendiri dalam pengelolaan isinya. Sebab, masing-masing media melayani masyarakat yang beragam juga menyangkuti individu atau kelompok sosial.
c. Audiens.
Audiens yang dimaksud dalam komunikasi massa yang sangat beragam, dari jutaan penonton televis, ribuan pembaca buku, majalah, atau koran. Masing- masing audiens satu sama lain di antaranya dalam hal berpakaian, berfikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya.
Akan tetapi masing-masing individu bisa saling mereaksi pesan yang diterimanya.
d. Umpan balik.
Di dalam komunikasi massa umpan balik biasanya terjadi tidak secara langsung. Artinya, antara komunikator dan komunikan dalam komunikasi massa tidak terjadi kontak langsung yang memungkinkan mereka mengadakan reaksi langsung satu sama lain.
e. Gangguan saluran dan semantik.
Gangguan dalam komunikasi massa biasanya selalu ada. Di dalam media gangguan berupa sesuatu hal seperti kesalahan cetak pada surat kabar dan gangguan gelombang pada radio. Sedangkan gangguan semantik berarti gangguan yang berhubungan dengan bahasa. Bisa dikatakan, gangguan semantik adalah gangguan komunikasi yang akibatkan oleh pengirim atau penerima pesan itu sendiri.
f. Gatekeeper.
Di dalam komunikasi massa dengan salah satu elemennya adalah informasi, mereka yang bertugas untuk memengaruhi informasi itu (dalam media massa) disebut gatekeeper. Mereka yang disebut gatekeeper antara lain reporter, editor berita, bahkan editor film.
g. Pengatur.
Karena kekuatan media massa sedemikian besar, tidak sedikit di antara orang- orang di luar media menggunakan kekuatannya untuk kepentingan mereka sendiri. Artinya orang atau institusi di luar media ini secara langsung atau tidak, ikut berperan dalam proses aliran informasi yang disebarkan atau disiarkan media massa.
h. Filter.
Filter di sini adalah kerangka pikir melalui mana audiens menerima pesan.
Filter ibarata bingkai kacamata tempat audiens melihat dunia. Dalam hal ini berarti dunia riil yang diterima dalam memori sangat tergantung dari bingkai tersebut. Ada beberapa filter, antara lain fisik, psikologis, budaya, dan yang berkaitan dengan informasi.
2.2 Pers
2.2.1 Sejarah Pers
Sejarah pers di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa periode yakni (Mondry, 2008: 30):
a. Zaman Belanda
Pada masa itu bisa dikatakan bahwa surat kabar pertama yang terbit di Indonesia muncul pada zaman Belanda, yang pada saat itu dipimpin oleh Jendral Van Jonhoff. Nama medianya adalah Baviasche Nouvelles tahun 1774, terbit di Batavia, yang diterbitkan oleh orang putih dan isinya mendukung sistem pemerintahan kolonial namun tidak tercatat kapan media tersebut berhenti.
b. Zaman jepang
Sesudah proklamasi kemerdekaan, pers Indonesia berada di Jepang melarang pers berbahasa Belanda dan Cina. Koran berbahasa Indonesia mendapat sensor ketat dari Jepang dan jumlahnya hanya beberapa saja yang tersisa, antara lain Asia Raja (Jakarta), Sinar Baroe (Semarang), Sinar Matahari (Jogjakarta), Soeara Asia (Surabaya), Kita Sumatra Shinbun (Tapanuli), Shinbun (Tarutung), Atjeh Shinbun (Kutaraja). Kantor berita diganti namanya menjadi Domei (Berbahasa Indonesia) dan Yashima (Berbahasa Jepang).
c. Periode 1945-1950
Pada masa awal Indonesia merdeka beberapa surat kabar terbit di beberapa daerah, diantaranya Koran Merdeka, Pedoman dan Berita Indonesia di Jakarta, Waspada di medan, Mimbar Oemum di Tebing Tinggi, Adil di Solo, Kedaulatan Rakjat dan Kantor Berita Antara di Jogjakarta. Sedangkan secara
nasional, pada saat itu diperkirakan sekitar 75 surat kabar dan majalah, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, Belanda dan Cina
d. Periode 1950-1959
Era tahun 1950-1959, pers nasional berada pada pers liberal, sesuai dengan kondisi pemerintahan yang menggunakan sistem liberal saat itu. Pada masa itu beberapa surat kabar muncul seperti Soerabaja Post dan Jawa Post di Surabaya, Kedaulatan Rakjat dan Minggoean Pagidi jogajakarta, serta Pemandangan di jakarta dan banyak lagi di daerah lainnya di Indonesia. Pada periode ini tercatat ada sekitar 104 surat kabar dan 226 majalah yang terbit dan bahasa yang digunakan juga beragam, Indonesia, Inggris, Belanda, atau Cina. Setelah tahun 1954 tercatat ada sekitar 286 surat kabar yang terbit.
2.2.2 Pengertian Pers
Pers adalah badan yang membuat penerbitan media massa secara berkala.
Secara etimologis, kata Pers (Belanda), atau Press (inggris), atau presse (prancis), berasal dari bahasa latin, perssare dari kata premere, yang berarti tekan atau cetak, definisi terminologisnya adalah media massa cetak atau media cetak. Media massa, menurut Gamle & Gamle adalah bagian komunikasi antara manusia (human communication), dalam arti, media merupakan saluran atau sarana untuk memperluas dan memperjauh jangkauan proses penyampaian pesan antar manusia3.
Pers mengandung dua arti. Arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit pers hanya menunjuk kepada media cetak berkala, seperti surat kabar, majalah, tabolid.
Sedangkan dalam arti luas, pers tidak hanya menunjuk pada media cetak berkala melainkan juga media elektronik auditif dan media elektronik audiovisual berkala, yakni radio, televisi, film dan media on line internet (Sumardiria, 2014: 31).
Sama halnya seperti yang disampaikan oleh Hikmat Kusumaningrat (2012:
17) bahwa terdapat dua pengertian pers, yaitu pers dalam arti sempit dan pers dalam arti luas. Pers dalam arti sempit adalah kegiatan dalam komunikasi yang hanya dilakukan dengan perantara barang cetakan. Sedangkan pers dalam arti luas
3 https://id.wikipedia.org/wiki/Pers_Indonesia (diakses 5 November 2017, pukul 15.26)
adalah yang menyangkut kegiatan komunikasi, baik dilakukan dengan media cetak maupun dengan media elektronik.
Namun, secara yuridis formal seperti yang dinyatakan dalam pasal 1 ayat (1) UU pokok Pers No. 40/1999, Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunnikasi massa yang melakukan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suran dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan dengan jenis saluran yang tersedia (Sumardiria 2014: 31).
Adapun beberapa jenis dan wilayah sirkulasi pers diantaranya (Sumadiria, 2014: 41):
1. Pers Komunitas.
Pers komunitas memiliki jangkauan wilayah sirkulasi yang sangat terbatas.
Biasanya hanya mencakup satu atau beberapa desa dalam satu kecamatan.
Kebijakan pemberitaan pers komunitas lebih banyak diarahkan untuk mengangkat berbagai potensi dan masalah aktual di desa atau kecamatan tersebut. Fungsi koreksi disentuh juga, hanya dilakukan dengan sangat hati-hati.
Mereka tidak mau merusak harmoni. Dalam kerangka ini, jalninan komunikasi dan interaksi di antara warga selalu dijadikan kata kunci.
2. Pers Lokal.
Pers lokal hanya beredar di sebuah kota dan sekitarnya. Salah satu ciri pers lokal ialah 80 persen isinya didominasi oleh berita laporan, tulisan, dan sajian gambar bernuansa lokal. Motivasi dan ambisi pers lokal adalah menjadi “raja”
di kotanya sendiri. Pers lokal bsia disebut sebagai kamus dan cermin berjalan sebuah kota karena apapun peristiwa dan fenomena tentang kota tersebut dapat dijumpai di dalamnya.
3. Pers Regional.
Pers regional berkedudukan di ibu kota provinsi. Wilayah sirkulasinya meliputi seluruh kota yang terdapat dalam suatu provinsi tersebut. Sejak 1999 ketika era reformasi mulai digulirkan, pers regional menghadapi tentangan sangat berat dan persaingan sangat tajam dengan tumbuh menjamurnya pers komunitas dan
pers lokal di tiap-tiap kota. Pers regional tidak lagi menjadi pemain tunggal seperti dalam era orde baru. Pers regional seperti terkepung. Kebijakan redaksional pemberitaan pers-pers lokal dan pers komunitas, ternyata banyak diarahkan untuk melemahkan, kalau tidak disebut mematikan, pers yang selama tiga dasawarsa malang melintang menjadi raja pers di provinsi setempat.
4. Pers Nasional.
Pers nasional lebih banyak berkedudukan di ibu kota negara. Wilayah sirkulasinya meliputi seluruh provinsi, atau setidaknya-tidaknya sebagian besar provinsi yang berada dalam jangkauan sirkulasi melalui transportasi udara, darat, sungai dan laut. Untuk memenuhi tuntutan distribusi dan sirkulasi. Pers nasioanl lebih banyak mengembangkan teknologi sistem cetak jarak jauh.
Kebijakan redaksional pers nasional lebih banyak menenkankan kepada masalah, isu, aspirasi, tuntutan, dan kepentingan nasional secara keseluruhan tanpa memandang sekat-sekat geografis atau ikatan primordial seperti agama, budaya, dan suku bangsa. Seperti isu-isu penegakan hukum, demokratisisasi, hak asasi manusia, keadilan dan kesejahteraan, senantiasa menjadi sorotan pers nasional.
5. Pers Internasional.
Pers internasional hadir di sejumlah negara dengan menggunak teknologi sistem cetak jarak jauh dengan pola pengembangan zona atau wilayah. Seperti contoh kita di Indoneisa membaca majalah Times, Newweek atau surat kabar harian Internasional Herald Tribune edisi Asia. Sementara warga Inggris menikmati Times atau Internasional herald tribune edisi Eropa. Sirkulasi per internasioanl lebih banyak terpusat di ibu kota negara setempat yang masuk dalam satelit pengaruhnya, baik secara politis, industri dan bisnis.
2.2.3 Fungsi Pers
Dalam berbagai literatur komunikasi dan jurnalistik disebutkan terdapat lima fungsi utama pers yang berlaku universal. Dikatakan universal, karena kelima fungsi tersebut dapat ditemukan pada setiap negara di dunia yang menganut paham demokrasi, yakni (Sumardiria, 2014: 32):
a. Informasi
Fungsi pertama dari lima fungsi utama pers ialah menyampaikan informasi secepat-cepatnya kepada masyarakat yang seluas-luasnya. Setiap iformasi yang disampaikan hasrus memenuhi kriteria dasar, yaitu aktual, akurat, faktual, menarik atau penting, benar, lengkap-utuh, jelas-jernih, jujur-adil, berimang, relevan, bermanfaat, etis.
b. Edukasi
Apa pun informasi yang disebarkan pers hendaknya dalam kerangka mendidik.
Inilah antara lain yang membedakan pers sebagai lembaga kemasyarakatan dengan lembaga kemasyarakatan yang lain. Sebagai lembaga ekonomi pers memang dituntut berorientasi komersial untuk memperoleh keuntungan finansial. Namun orientasi dan misi komersial itu sama sekali tidak boleh mengurangi apalagi meniadakan fungsi dan tanggung jawab sosial pers. Dalam istilah sekarang pers harus mau dan mampu memerankan dirinya sebagai guru bangsa.
c. Koreksi
Pers adalah pilar demokrasi setelah legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dalam kerangka ini kehadiran pers dimaksudkan untuk mengawasi atau mengontrol kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif agar kekuasaan mereka korup dan absolut. Seperti ditegaskan Lord Acton, pujangga Inggris abad 18, kekuasaan yang bersifat absolut cenderung disalahgunakan secara absolut pula.
d. Rekreasi
Fungsi ke empat pers adalah menghibur. Pers harus mampu memerankan dirinya sebagai wahana rekreasi yang menyenangkan sekaligus menyehatkan bagi semua lapisan masyarakat. Artinya apa pun pesan rekreatif yang disajikan mulai dari cerita pendek sampai pada teka-teki silang dan anekdot, tidak boleh yang bersifat negatif apalagi destruktif. Pers harus jadi sahabat setia pembacayang menyenangkan. Karena itulah berbagai sajian hiburan yang bersifat menyesatkan, harus dibuang jauh-jauh dari pola pikir dan pola prilaku pers sehari-hari.
e. Mediasi
Mediasi artinya penghubung. Bisa juga disebut fasilitator atau mediator. Setiap hari pers melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia dalam lembaran- lembaran kertas yang tertata rapih dan menarik. Dengan kemampuan yang dimilikinya, pers telah menghubungkan berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan bumi itu dengan kita yang sedang duduk di ruang tamu atau sedang bersantai di sofa. Karena pers lah kita mengetahui aneka peristiwa lokal, nasional, regional, dan mondial dalam waktu singkat dan bersamaan.
Singkat, karena kita hanya memerlukan beberapa menit untuk mengetahuinya.
Bersamaan, karena pada halaman yang sama, disajikan juga berita tentang pepristiwa sejenis atau peristiwa lain dari tempat yang berbeda.
2.3 Jurnalistik
2.3.1 Definisi Jurnalistik
Dalam pandangan awam jurnalistik dan pers seolah sama atau bisa dipertukarkan satu sama lain. Sesungguhnya tidak. Jurnalistik menunjuk pada proses kegiatan, sedangkan pers berhubungan dengan media. Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Perancis, journ berarti catatan atau laporan harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari. Dengan demikian jurnalistik bukanlah pers, bukan pula media massa jurnalistik adalah kegiatan yang memungkinkan pers atau media massa bekerja dan diakui eksistensinya dengan baik (Sumardiria, 2014: 2).
Erik Hodgins, Redaktur majalah Time, menyatakan, jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan berfikir yang selalu dapat dibuktikan.
Kustadi Suhandang menyebutkan, jurnalistik adalah seni atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan nurani khalayaknya (Suhandang, 2004: 23).
Secara teknis, jurnlistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyajikan melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya (Sumardiria, 2014: 3).
2.3.2 Bentuk Jurnalistik
Dilihat dari segi bentuk dan pengelolaannya, jurnalistik dibagi dalam tiga bagian besar diantaranya jurnalistik media cetak (newspaper and magazine jornalism), jurnalistik media elektronikauditif (radio broadcast journalism), jurnalistik audiovisual (television journalism). Setiap bentuk jurnalistik memiliki ciri dan kekhasannya masing-massing. Ciri dan kekhasannya itu antara lain terletak pada aspek filosofi penerbitan, dinamika teknis persiapan dan pengelolaan, serta asumsi dampak yang ditimbulkan terhadap khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Untuk memperjelas, berikut rimcian penjelasannya (Sumardiria, 2014: 4):
a. Jurnalistik Media Cetak
Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual. (a) Verbal, sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif. (b) Visual, menunjuka pada kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut segi perwajahan. Materi berita yang ingin kita sampaikan kepada pembaca memang merupakan hal sangat penting. Namun bila berita tersebut tidak ditempatkan dengan baik, dampaknya akan kurang berarti. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh bagian desain visual, tata letak, atau perwajahan. Dalam perspektif jurnalistik, informasi yang disajikan kepada khalayak, bukan saja harus benar, jelas dan akurat, melainkan juga harus menarik.
b. Jurnalistik Media Elektronik Auditif
Jurnalistik media jurnalistik auditif atau jurnalistik radio siara, lebih banyak dipengaruhi dimensi verbal, teknologikal, dan fisikal. (a) Verbal, berhubungan dengan kemamouan menusun kata, kalimat, dan paragraf secara efektif dan komunikatif. (b) Tekonologikal, berhubungan dengan teknologi yang memungkinkan daya pancar radio dapat ditangkap dengan jelas dan jernih oleh
pesawat radio penerima. (c) Fisikal, erat kaitannya dengan tingkat kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak dalam menyerap dan mencerna setiap pesan kata atau kalimat yang disampaikan.
c. Jurnalistik Media Elektronik Audiovisual
Jurnalis media elektroniik audiovisual atau jurnalistik televisi siaran, merupakan gabungan dari segi verbal, visual, dan teknologikal, dan dimensi dramatikal. (a) Verbal, berhubungan dengan kata-kata yang disusun secara singkat, padat, efektif. (b) Visual, lebih banyak menekankan pada bahasa gambar yang tajam, jelas, hidup, memikat. (c) Teknologikal, berkaitan dengan daya jangkau siaran, kualitas suara, dan gambar yang dihasilkan serta diterima oleh pesawat televisi penerima di rumah-rumah. (d) Dramatikal, berarti bersinggungan dengan aspek serta nilai dramatik yang dihasilkan oleh rangkaian gambar yang dihasilkan secara simultan. Aspek dramatikal inilah yang tidak dimiliki oleh media massa radio dan surat kabar.
2.3.3 Produk Jurnalistik
Produk jurnalistik adalah surat kabar, tabloid, majalah, buletin, atau berkala lainnya seperti radio, televisi, dan media on line internet. Namun tidak setiap surat kabar disebut produk jurnalistik. Surat kabar, tabloidd, majalah, dan buletin dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni: (1) berita (news), (2) opini (views), dan (3) iklan (advertising). Dari tiga kelompok besar tersebut, hanya berita (news) dan opini (views) saja yang bisa disebut produk jurnalistik. Iklan bukanlah produk jurnalistik, walaupun teknik yang digunakannya merujuk pada teknik jurnalistik (Sumardiria, 2014: 6).
Kelompok berita (news), meliputi antara lain berita langsung (stright news), berita menyeluruh (comprehensive news), berita mendalam (depth news), pelaporan mendalam (depth reporting), berita penyelidikan (investigative news), berita khas bercerita (feature news), berita gambar (photo news). Kelompok opini (views), meliputi tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, kolom, esai, dan surat pembaca. Sedangkan kelompok iklan, mencakup berbagai jenis dan sifat iklan mulai dari iklan produk barang dan jasa, iklan kelurga seperti iklan dukacita, sampai kepada layanan masyarakat. Untuk memisahkan secara tegas antara berita
(news) dan opini (views), maka tajuk rencana (editorial), karikatur, pojok, artikel, kolom, dan surat pembaca ditempatkan dalam satu halaman khusus. Inilah yang disebut halaman opini (Sumardiria, 2014: 7)
Pemisahan secara tegas berita dan opini tersebut merupakan konsekuensi dari norma dan etika luhur jurnalistik yang tidak menghendaki berita sebagai fakta objektif, diwarnai atau dibaurkan dengan opini sebagai pandangan yang sifatnya subjektif. Berikut penjelasan kelompok opini tersebut (Sumardiria, 2014: 7-16):
a. Tajuk Rencana
Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, dan kontroversial yang berkembang dalam masyarakat. Opsini ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media pers bersangkutan secara keseluruhan sebagai suatulembaga lembaga penerbitan media berkala. Suara tajuk rencana bukanlah suara perorangan atau pribadi-pribadi yang terdapat di jajaran redaksi atau di bagian produksi dan sirkulasi, melainkan suara kolektif seluruh wartawan dan karyawan dari lembaga penerbitan pers. Karena merupakan suara lembaga, maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya.
b. Karikatural
Secara etimologis, karikatur berasal dari bahasa Italia, caricare, artinya melebih-lebihkan, kata caricare itu sendiri dipengaruhi kata carattere juga bahasa Italia yang berarti karakter dan kara cara bahasa Spanyol yang berarti wajah. Dalam perkembangan kemudian, sesuai dengan dinamika persoalan yang dihadapi dan diliput pers, karikatur tidak hanya menunjuk kepada gambar wajah seorang yang dilebih-lebihkan. Karikatur juga mencakup semua peristiwa yang terjadi, diliput, dan menjadi sorotan pers. Ia bahkan termasuk karya seni grafis. Seperti ditegaskan karikaturis terkemuka GM Sudarta dalam satu makalahnya, karikatur adalah termasuk karya seni grafis, yaitu suatu cabang dari bentuk seni lukis.
c. Pojok
Pojok adalah kutipan pernyataan singkat narasumber atau peristiwa tertentu yang di anggap menarik atau kontroversial, untuk kemudian di komentari oleh pihak redaksi dengan kata-kata atau kalimat mengusik, menggelitik dan adakalanya reflektif. Tujuannya untuk mencubit, mengingatkan, atau menggugat sesuai dengan fungsi kontrol fungsi sosial yang dimiliki pers. Kritis tetapi tetap etis. Sesuai dengan namanya, pojok ditempatkan di sebelah pojok.
Dalam setiap edisi penerbitan, pojok memuat tiga-lima butir kutipan pernyataan ataut peristiwa menarik untuk di komentari.
d. Artikel
Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu, mempengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (rrekreatif). Disebut lepas, karena siapa pun pembaca boleh menulis artikel dengan topik bebas sesuai dengan minat dan keahliannya masing-masing. Selain itu juga artikel yang ditulis tersebut tidak terikat dengan berita atau laporan tertentu. Ditulisnya pun boleh kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja.
e. Kolom
Kolom adalah opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan yang terdapat dalam masyarakat. Kolom lebih banyak mencerminkan cap pribadi penulis. Sifatnya memadat memakna. Bandingkan dengan sifat artikel yang lebih banyak memapar melebar. Kolom ditulis ditulis dengan inferensial, sedangkan artikel ditulis refensial. Biasanya dalam tulisan kolom terdapat foto penulis. Sangat dianjurkan, tulisan kolom disertai foto penulis. Anjuran yang sama justru tidak berlaku pada artikel.
f. Surat pembaca
Surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya
atau masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata 2-4 paragraf. Rubrik surat pembaca lebih merupakan layanan publik dari pihak redaksi terhadap masyarakat.
2.4 Media Massa
2.4.1 Pengertian Media Massa
Media massa merupakan istilah yang digunakan untuk mempertegas kehadiran suatu kelas, seksi media yang dirancang sedemikian rupa agar dapat mencapai audiens yang sangat besar dan luas (yang dimaksud dengan besar dan luas adalah seluruh penduduk dari suatu bangsa/negara). Pengertian media massa ini makin luas penggunaanya sehubungan dengan lahirnya percetakan oleh Guttenberg di abad pertengahan dan disusul oleh penemuan radio yang melintasi lautan Atlantik pada 1920, dan terakhir dengan perkembangan jaringan radio, televisi, meluasnya sirkulasi surat kabar dan majalah serta internet yang berhubungan dengan massa (Liliweri,2011: 874).
Media massa adalah alat atau sarana yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber (komunikator) kepada khalayak (komunikan) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis, seperti surat kabar, radio, televisi, film dan internet (Suryawati, 2014: 37).
Media massa dapat dikatakan sebagai sarana yang menjadi tempat penyampaian hasil kerja jurnalistik. Media massa merupakan istilah yang digunakan oleh publlik dalam mereferensi tempat dipublikasikannya suatu berita.
Hasil kerja jurnalistik menjadi tidak bermakna tanpa mendapat dukungan atau dipublikasin melalui media. Jadi, media massa merupakan tempat untuk mempublikasikan berita. Penyampaian informasi dalam bentuk berita membutuhkan saluran komunikasi yang disebut media. Istilah media massa karena mengacu pada pemanfaatan sebagai bacaan masyarakat atau publik (Yunus, 2012:26).
2.4.2 Peran Media Massa
Informasi di media massa secara umum terdiri dari berita dan opini, yang tentu saja dilengkapi dengan foto bagi media cetak dan gambar bagi media elektronik dan iklan. Berita dikatakan sebagai informasi yang menarik perhatian
masyarakat (pembaca dan pendengar) yang disusun sedemikian rupa dan disebarluaskan secepatnya seeuai perodisasi media (Mondry, 2008: 83).
Orang sering mengatakan media massa laksana lampu penerang kehidupan.
Tanpa media massa seperti radio, koran, televisi, dan kini internet, masyarakat mungkin menjadi buta terhadap perkembangan di sekelilingnya dan juga perubahan dunia luar. Denga adanya media massa, masyarakat dunia bisa mengetahui perubahan dan perkembangan zaman, lintas wilayah dan lintas peradaban (Zaenudin, 2011: 9).
Media massa merupakan institusi yang berperan sebagai agen of change yang menjadi lembaga pelopor perubahan. Ini merupakan paradigma utama media massa. Dalam menjalankan paradigma tersebut, media massa berperan sebagai berikut (Mondry, 2008: 84):
a. Institusi pencerahan masyarakat. Melalui perannya sebagai media edukasi.
Media massa menjadi media yang setiap saat mendidik masyarakat supaya cerdas, terbuka pikirannya dan masyarakat maju.
b. Media massa juga menjadi media informasi kepada masyarakat. Dengan informasi yang terbuka, jujur dan benar yang disampaikan media massa kepada masyarakat, akan menjadikan masyarakat kaya terhadap informasi, masyarakat menjadi terbuka dengan informasi. Sebaliknya pula, masyarakat akan menjadi masyarakat informatif., masyarakat yang dapat meyampaikan informasi dengan jujur kepada media massa. Selain itu, dengan banyaknya informasi yang dimiliki masyarakat, menjadikan mereka sebagai masyarakat dunia yang dapat berpartisipasi dengan berbagai kemampuannya.
c. Media massa sebagai media hiburan. Sebagai agen of change, media massa juga menjadi institusi budaya, merupakan institusi yang setiap saat menjadi corong kebudayaan dan katalisator perkembangan budaya masyarakat.
Sebagai agen perubahan itu, media massa juga mendorong agar perkembangan budaya itu bermanfaat bagi kepentingan manusia bermoral dan masyarakat madani. Dengan demikian, media massa juga berperan mencegah berkembangnya budaya-budaya yang justru merusak peradaban manusia dan masyarakat.
Selain peran media massa yang sudah di sebutkan, sedikitnya ada empat fungsi sekaligus manfaat lainnya dari media, di antaranya (Zaenudin, 2011: 10):
1. Menghimpun dan menyebarkan informasi bagi khalayak masyarakat. Dengan adanya media komunikasi massa itu, berbagai informasi dapat diliput dan disiarkan, baik melalui koran, tabloid, majalah, radio, televisi maupun internet.
2. Memberikan pendidikan bagi khalayak masyarakat. Berbagai informasi yang disiarkan di surat kabar dan media elektronik mengandung nilai-nilai edukatif.
Orang akan mendapat ilmu pengetahuan dari membaca sebuah berita di koran atau mejalah, juga dari menonton tayangan televisi.
3. Sebagai hiburan bagi khalayak masyarakat. Dari membaca koran dan majalah, menonton tv dan mendengarkan radio, banyak orang merasa terhibur. Mereka tidak merasa sepi dan hampa karena di dalam berita juga seingkali mengandung nilai-nilai hiburan misalnya informasi tentang selebritis, sport, anekdot. Nilai hiburan sangat kental di dalam infomasi yang disirkan radio maupun yang ditayangkan televisi, dengan kekuatan gambar, telah menjadi media yang sangat eksis pada masa kini.
4. Sebagai alat kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dalam istilah lain yang lebih politis, keberadaan jurnalis atau pers dianggap sebagai „kekuatan keempat‟ dalam sistem politik kenegaraan setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sebagai pilar keempat itu, media cetak maupun elektronik dapat dimanfaatkan sebagai (1) penyalur aspirasi rakyat banyak, (2) pembentuk opini publik, (3) alat penekan yang dapat ikut mempengaruhi dan mewarnai kebijakan politik negara, (4) pembela kebenaran dan keadilan.
2.5 Surat Kabar
2.5.1 Sejarah Singkat Surat Kabar
Dalam masa kekuasaan Caesar, Roma sudah memiliki sebuah surat kabar Acta Diuran (kegiatan-kegiatan dalam sehari), yang dituliskandalam sebuah batu tulis, ditempatkan di dinding setiap setelah pertemuan senat. Sirkulasinya tunggal dan tidak ada pengukuran yang akurat untuk mengukur jumlah pembacanya.
Namun, benda ini dapat menunjukkan bahwa orang selalu ingin mengetahui hal
yang telah terjadi dan orang lain akan menolong mereka untuk mengetahuinya.
Surat kabar yang kita kenal saat ini berakar dari abad ke-17 di Eropa.lembaran berita satu halaman tentang kejadian khusus, sudah dicetak dalam bahasa inggris di Belanda pada tahun 1620 dan diimpor ke inggris oleh para penjual buku inggris yang bersemangat untuk memuaskan tuntutan publik akan informasi tentang yang terjadi di Eropa Daratan, yang pada akhirnya membawa kepada Perang Tiga Puluh Tahun (Baran, 2012: 130).
Surat kabar merupakan media paling tua dibandingkan dengan jenis media lainnya. Sejarah telah mencatat keberadaan surat kabar dimulai sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Guternberga di Jerman. Propotipe atau bentuk awal surat kabar diterbitkan di Bremen Jerman pada tahun 1906. Pada tahun yang sama , surat kabar yang sangat sederhana terbit di Strasborg. Bentuk surat kabar yang sesungguhnya terbit pada tahun 1620 di Frankfurt, Berlin, Humberg, Vienna, Amsterdam dan Antwerp. Di Indonesia sendiri, keberadaan surat kabar ditandai dengan perjalanan panjang melalui lima periode yakni masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, menjelang kemerdekaan, dan awal kemerdekaan, serta zaman orde lama dan orde barum (Ardianto, 2012: 105).
2.5.2 Fungsi Surat Kabar
Surat kabar sebagai media massa dalam masa orde baru mempunyai misi menyebarluaskan pesan-pesan pembangunan dan sebagai alat mencerdaskan rakyat Indonesia. Dari empat fungsi media massa (informasi, edukasi, hiburan dan persuasif), fungsi yang paling menonjol pada surat kabar adalah informasi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar, yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Karenanya sebagian besar rubrik surat kabar terdiri dari berbagai jenis berita. Namun demikian, fungsi hiburan surat kabar pun tidak terabaikan karna tersedianya rubrik artikel ringan. Feature (laporan perjalanan, laporan tentang profil seseorang yang unik), rubrik cerita bergambar atau komik, serta cerita bersambung. Begitu pula dengan fungsinya mendidik dan memengaruhi akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau editorial dan rubrik opini. Fungsi pers, khusunya surat kabar pada
perkembangannya bertambah, yakni sebagai alat kontrol sosial yang konstruktif (Ardianto, 2012: 112).
Menurut Agee dalam buku Jurnalistik, surat kabar mengemban fungsi primer dan fungsi sekunder. Fungsi Primer Surat kabar terdiri dari tiga, yaitu : (a) menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas , negara dan dunia, (b) mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam fokus berita, (c) menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media (Suryawati, 2011: 41).
Sedangkan fungsi sekunder surat kabar terdiri dari: (a) mengampanyekan proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu, (b) memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun, dan cerita-cerita khusus, (c) melayani pembaca sebagai 3 konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak (Suryawati, 2011, 41).
2.5.3 Karakteristik Surat Kabar
Surat kabar dapat dikelompokan pada berbagai kategori. Dilihat dari ruang lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar lokal, regional, dan nasional.
Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabliod. Sedangkan dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar berbahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa daerah. Surat (Ardianto, 2012: 114).
Untuk dapat memanfaatkan media massa secara maksimal demi tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunkator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut, dengan kata lain komunikator harus mengetahui secara tepat karakteristik media massa yang akan digunakannya. Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup (Ardianto, 2012: 112):
a. Publisitas
Publisitas atau publicity adalah penyebaran pada publik atau khalayak. Salah satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan yang dapat diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak yang tersebar di berbagai tempat, karena pesan
tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik bagi khalayak pada umumnya.
b. Periodesitas
Periodesitas menunjuk pada keteraturan terbitnya, bisa harian, mingguan, atau dwi mingguan. Sifat periodesitas sangat penting dimiliki media massa, khususnya surat kabar. Kebutuhan manusia akan informasi sama halnya dengan kebutuhan manusia akan makan, mium, dan pakaian. Setiap hari manusia membutuhkan informasi.
c. Universalitas
Universalitas menunjuk pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan dari seluruh dunia. Dengan demikian atau isi surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain.
d. Aktualitas
Aktualitas, menurut kata asalnya, berarti “kini” dan “keadaan sebenarnya”.
Kedua istilah tersebut erat kaitannya denga berita, karena definisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang penting atau menarik minat, atau kedua-duanya bagi sejumlah besar orang.
e. Terdokumentasikan
Dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu di buat kliping. Misalnya karena berita tersebut berkaitan dengan instansinya, atau artikel itu bermanfaat untuk menambah pengetahuannya.
2.6 Redaksional
2.6.1 Pengertian Redaksi
Bagian redaksional merupakan bagian yang mengurus pemberitaan. Bagian yang dipimpin oleh seorang Pemimpin Redaksi ini bertanggungjawab atas pekerjaan yang terkait dengan pencarian dan pelaporan berita. Maka itulah, jajaran ini disibukan oleh proses rapat redaksi yang memutuskan peristiwa apa yang diangkat, peristiwa mana yang ditangguhkan. (Santana, 2005: 188).
Kebijakan redaksi merupakan dasar pertimbangan suatu lembaga media massa untuk memberikan atau menyiarkan suatu berita. Kebijakan redaksional juga merupakan sikap redaksi suatu lembaga media massa terutama media cetak, terhadap masalah aktual yang sedang berkembang, yang biasanya dituangkan dalam bentuk tajuk rencana. Dengan demikian, kebijakan redaksi adalah suatu prinsip yang menjadi pedoman dalam memilih dan menyusun, serta menolak atau mengizinkan pemuatan sebuah tulisan atau berita, merupakan dasar dari kebijakan redaksi itu sendiri (Tebba, 2005: 150).
Kebijakan penerbitan sendiri mencakup dua bagian besar diantaranya (Sumadiria, 2006: 23):
a. Kebijakan komersial.
Kebijakan komersial menunjuk kepada kebijakan perusahaan. Kebijakan ini mengatur bagaimana perusahaan dikelola dan dikembangkan. Salah satu prinsip dasar dalam kebijakan perusahaan tentu menekankan pada pengelolaan finansial perusahaan secara efisien dengan tingkat pendapatan dan keuntungan secara maksimal. Kebijakan komersial mengatur segi-segi usaha agar perusahaan mencapai kemajuan dan keuntungan maksimal.
b. Kebijakan redaksional.
Kebijakan redaksional lebih memusatkan perhatian kepada bagaimana aspek- aspek dan misi ideal yang dijabarkan dalam peliputan dan penempatan berita, laporan, tulisan dan gambar sesuai dengan kepentingan dan selera khalayak yang relatif beragam. Karena sifat khalayak anonim dan heterogen, maka bahasa jurnalistik yang dipilih tentu harus memenuhi asas anonim dan heterogenitas itu. Agar memudahkan seluruh pengelola, maka pedoman pemakaian bahasa jurnallistik ini lazimnya dituangkan dalam sebiah buku khusus intern sebagai rujukan resmi dalam peliputan, penulisan, pemuatan, penyiaran, atau penayangan berita, laporan, tulisan dan gambar pada media yang bersangkutan.
Adapun beberapa dasar pertimbangan media untuk menyiarkan atau tidaknya suatu peristiwa, di antaranya (Tebba, 2005: 155):
1. Ideologis
Pertimbangan ideologis media massa biasanya ditentukan oleh latar belakang pendiri atau pemilik media massa tersebut. Baik itu agama, ataupun nilai-nilai yang dihayati, seperti nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan sebagainya.
2. Politik
Kehidupan pers merupakan indikator demokrasi. Oleh sebab itu, pers tidak pernah lepas dari masalah politik. Demokratis tidaknya suatu negara antara lain di tentukan oleh kehidupan persnya, yaitu bebas atau tidak. Adanya pemilik atau pemimpin media massa yang juga menjadi pemimpin suatu partai politik, maka tidak akan menyebabkan kedekatan media massa dengan partai politik yang bersangkutan.
3. Bisnis
Dalam hal ini, pemilik media massa lebih melihat kepada pertimbangan siapa sasaran yang paling besar (segmentasi pasar), agar media tersebut banyak dikonsumsi masyarakat. Misalnya dengan melihat ekonomi masyarakat, pendidikan, dan sebagainya.
2.6.2 Struktur Redaksi
Organisasi media cetak pada titik puncaknya akan dipimpin orang pertama yang disebut direktur utama atau pimpinan umum, bahkan mungkin ada istilah lain. Terlepas dari sebutan tersebut, dia bertugas dan bertanggung jawab di perusahaan tersebut, baik bidang redaksional maupun bidang usaha dan percetakannya. Orang pertama itu belum tentu pemilik perusahaan itu, tidak jarang perusahaan pers atau media massa tersebut bukan dipimpin langsung oleh pemilik perusahaan, tetapi menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga profesional. Akibatnya, seperti juga di perusahaan umum, bila disusun struktur perusahaan pers, tentu yang paling di atas adalah pemilik perusahaan atau owner (Mondry, 2008: 123).
Berikut struktur redaksi yang umum berlaku di banyak media di indonesia:
(1) pemimpin redaksi, (2) redaktur pelaksana/eksekufif, (3) redaktur dan koodinator liputan, (4) asisten redaktur, (5) reporter dan fotografer (Zaenudin, 2011: 71).
Sesuai tugas dan tanggungjawabnya, demikian struktur redaksti pada media massa (Mondry, 2008: 125):
a. Pemimpin Redaksi.
Pemimpin redaksi merupakan orang pertama yang bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan media cetak. Sesuai Undang-Undang Pokok Pers, pemimpin redaksi bertanggung jawab seandainya muncul tuntutan hukum yang berhubungan dengan isi pemberitaan pada penerbitannya.
Namun, pemimpin redaksi juga dapat melimpahkan wewenang ke bawawhan sampai ke tingkat penulisnya (wartawan).
b. Sekertaris Redaksi.
Sekertaris redaksi bertugas membenatu permimpin redaksi dalam bidang administrasi, seperti membuat surat yang dibutuhkan bidang redaksional, misalnya membuat surat tugas dan kartu identitas bagi koresponden yang akan ditandatangani pemimpin redaksi. Menerima surat dari luar dan meneruskan sesuai bidangnya, seperti undangan peliputan atau sumbangan tulisan diteruskan kepada redakstur yang membidanginya dan tidak boleh langsung menyerahkan kepada wartawan atau mengirimkan kepada koresponden.
Mengirim hinir tulisan kepada koresponden dan penulis dari luar media tersebut.
c. Radaktur Pelaksana.
Redaktur pelaksana (managing editor) merupakan pejabat yang bertugas membantu pekerjaan pemimpin redaksi dalam pekerjaan keredaksioanalan di media cetak tersebut. Jumlah redaktur pelaksana sangat tergantung pada kebutuhan, biasanya ditentukan dari jumlah halaman yang harus diterbitkan media itu. Jumkah redaktur pelaksana di Indonesia umumnya satu orang karena jumlah halaman media cetak, seperti surat kabar di negeri ini rata-rata 16 hingga 32 halaman. Kondisinya tentu berbeda dengan media cetak di luar negeri, surat kabar saja bisa terbit hingga 100 halaman sehingga dibutuhkan lebih dari satu redaktur pelaksana.
d. Redaktur.
Redaktur (editor) bertanggung jawab terhadap isi halaman tertentu atau rubrik (bidang) tertentu, tergantung pada sistem pembagian tugasredaktur yang berlaku di media cetak tersebut. Akan tetapi, secara umum, tanggung jawab terhadap halaman, rubrik, atau bidang artinya sama saja karena rubrik atau bidang tertentu secara tetap dimuat di halaman tertentu pula, misalnya di sebuah surat kabar, redaktur di bidang ekonomi disebut pula redaktur halaman dua kerana rubrik ekonomi dimuat di halaman dua.
e. Wartawan
Wartawan (media cetak) atau reporter (media elektrobnik) merupakan orang yang bertugas mencari, menggali, dan mengolah berita untuk disiarkan melalui medai massa. Pencari berita di media massa secara umum dibedakan dalam tiga kelompok, berdasarkan status pekerjaannya, meliputi: (1) wartawan tetap, yang merupakan karyawan tetap dan bekerja di suatu media cetak atau elektroonik. Dengan status karyawan tetap, berarti mendapat gaji tetap dan hak-hak lain sesuai dengan yang diterima karyawan lain yang bekerja di perusahaan itu. (b) koresponden (media cetak) atau kontributor (media elektronik), merupakan orang wartawan atau reporter yang bekerja di media tertentu, tetapi tidak diangkat sebagai wartawan tetap. Mereka hanya diberi honor sesuai dengan kesepakatan. Umumnya, imbalan itu berdasarkan jumlah informasi yang dimuat.
2.7 Manajemen Komunikasi
2.7.1 Pengertian Manajemen Komunikasi
Pengertian manajemen komunikasi secara umum adalah bagaimana cara orang mengelola proses komunikasi dalam hubungannya dengan orang lain dalam konteks komunikasi. Untuk menjelaskan istilah ini lebih jauh, kita perlu mengetahui definisi dari kedua kata tersebut, yaitu kata manajemen dan kata komunikasi. Secara harfiah, manajemen merupakan ilmu untuk menyelesaikan pekerjaan melalui suatu perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan kepemimpinan. Sedangkan komunikasi diartikan sebagai proses interaksi antar individu atau kelompok untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi
untuk terhubung dalam lingkungan orang lain. Oleh karena itu pengertian manajemen komunikasi merupakan perpaduan konsep komunikasi dengan teori manajemen untuk diaplikasikan dalam berbagai setting komunikasi.
Pengertian manajemen komunikasi yang lain adalah proses timbal balik untuk memberi, membujuk dan memberikan perintah dari suatu informasi kepa da orang lain serta merupakan tuntutan untuk menjembatani teoritisi komunikasi dan praktisi komunikasi4.
2.7.2 Bentuk Manajemen Komunikasi
Komunikasi dalam manajemen diibaratkan sebagai “minyak pelumas”
bahkan GR. Terry mengatakan bahwa management is communications. Dari pendapat tersebut terlihat betapa pentingnya peran komunikasi dalam kegiatan manajemen. GR. Terry mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan manajemen terdapat lima bentuk komunikasi, antara lain5:
1. Komunikasi formal.
Biasanya terjadi dalam jalus komunikasi formal, memiliki wewenang dan tanggung jawab yaitu melalui instruksi-instruksi bentuk lisan dan tulisan sesuai dengan prosedur secara fungsional yang berlaku dari arus atasan ke bawahan atau sebaliknya.
2. Komunikasi non-formal.
yaitu di luar komunikasi formal, terjadi secara spontan. Misalnya Sumbang saran yang berkaitan dengan tugas, kewajiban. Efektif digunakan dalam
perusahaan yang bersifat padat karya dengan jumlah pekerja cukup banyak, dan tidak terlalu teknis.
3. Komunikasi informal.
Seperti halnya komunikasi non formal namun lebih menekankan pada aspek human relations-nya. Atau dengan kata lain digunakan dalam permasalahan di luar pekerjaan secara langsung.
4 https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-manajemen-komunikasi.html (diakses 10 Februari 2018, pukul 19.28)
5 http://www.definisi-pengertian.com/2015/08/definisi-pengertian-manajemen-komunikasi.html (diakses 10 Februari 2018, pukul 15.55)
4. Komunikasi teknis.
Biasanya hanya dilakukan dan dimengerti oleh orang-orang tertentu saja yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
5. Komunikasi prosedural.
Biasanya dekat dengan komunikasi formal, diwujudkan misalnya dalam bentuk pemberian laporan tahuan/bulanan, instruksi tertulis, memo dan lain-lain.
Sementara Onong U Effendy mengelompokkan komunikasi dalam manajemen menjadi tigadimensi, yaitu6:
a. Komunikasi vertikal
yaitu arus komunikasi dua arah timbal balik dalammelaksanakan fungsi-fungsi manajemen, bisa dari atas ke bawah dan bisa dari bawah ke atas.
b. Komunikasi horizontal
Merupakan komunikasi satu level yang terjadi antara satukaryawan dengan karyawan lainnya atau pimpinan satu departemen dengandepartemen lainnya dalam satu tingkatan dan lain sebagainya.
c. Komunikasi eksternal
Berlangsung secara dua arah antara pihak organisasi/lembaga dengan pihak luar 2.8 Fotografi
2.8.1 Pengertian Fotografi
Fotografi berasal dari dua kata, yaitu photos dan graphoo. Dalam bahasa Yunani, photos berarti cahaya dan graphoo berarti menulis atau melukis, sehingga fotografi dapat diartikan sebagai melukis dengan cahaya. Istilah ini dikemukakan oleh Sir John Herschell pada tahun 1839 (Alwi, 2008: 19).
Dalam fotografi terdapat beberapa hal dalam memotret yang sangat diperlukan, yakni komposisi, fokus, kecepatan, dan diafragma. Berikut penjelasannya (Alwi, 2008: 42):
1. Komposisi
Komposisi adalah susunan dalam foto. Bagaimana susunan itu hanya fotografer yang biasa mengetahui dan melakukannya. Komposisi dilakukan berdasarkan point of interes, framing, balance. Poin of interest adal hal atau
6 https://www.scribd.com/doc/118769020/MANAJEMEN-KOMUNIKASI (diakses 10 Februari 2018, pukul 21.39)
sesuatu yang paling menonjol pada foto, yang membuat orang langsung melihat kepadanya.
2. Fokus
Fokus adalah kegiatan mengatur ketajaman objek foto yang telah dijadikan point of interest pada saat komposisi. Dilakukan dengan cara memutar ring fokus pada lensa kamera sehingga terlihat pada kca pembidik. Objek yang tadinya tidak tajam dan tidak jelas menjadi fokus dan tajam. Fokus dapat dilakukan dengan cara mengira-ngira jarak antara objek dengan kamera.
3. Kecepatan
Kecepatan dalam kegiatan fotorgafi adalahgerakan tirai yang membuka dan menutup sesuai angka yang dipilih pada tombol kecepatan. Jika angka yang dipilih pada tombol kecepatan besar, maka tirai akan membuka dan menutup dengan cerap sehingga cahaya yang dapat masuk ke dalam kamera menjadi sedikit. Sebaliknya, jika angka yang dipilih kecil maka tirai akan membuaka dan menutup dengan lambat sehingga cahaya yang dapat masuk ke dalam kamera banyak.
4. Diafragma
Diafragma adalah rana ysng membesar dan mengecil berdasarkan angka yang dipilih pada lensa. Teori diafragma yatu, makin besar diafragma (ditunjukan dengan angka kecil) maka akan banyak cahaya yang bias lolos ke dalam kamera melalui lensa. Sebaliknya, makin kecil diafragma (ditunjukan dengan angka besar) maka makin sedikit cahaya yang dapat lolos ke dalam kamera.
Selain hal yang sudah disebutkan di atas, agar foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah harus diperhatikan mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar yang baik. Dalam fotografi dikenal beberapa sudut pengambilan gambar yang mendasar, yaitu7:
a. Bird Eye
Sudut pengambilan gambar ini, posisi objek dibawah / lebih rendah 0dari kita berdiri. Biasanya sudut pengmbilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan
7 Kurniawan, Yuda. Komposisi Dasar dan Sudut Pengambilan Gambar.
https://fotografiyuda.wordpress.com/seputar-fotografi/komposisi-dasar-dan-sudut-pengambilan-gambar- camera-angle/ (diakses 1 Desember, pukul 21:40)
apa yang sedang dilakukan objek (HI), elemen apa saja yang ada disekitar objek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview (keseluruhan) lingkungan dengan POI (Point Of Interest).
b. High Angle
Pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.
c. Eye Level
Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar / sama seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi ekspresif dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang lebih rendah dari pada kita missal, anak – anak.
d. Low Angle
Pemotretan dilakukan dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana objek lebih tinggi dari posisi kamera. Sudut pengembilan gambar ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bagunan agar terkesan kokoh, megah dan menjulang. Namu, tidak menutup kemungkinan dapat pula digunakan untuk pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.
e. Frog Eye
Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.
Dalam kegiatan memotret terdapat beberapa teknik dalam pengambilan, diantaranya (Alwi, 2008: 60):
1. Freeze. Yaitu teknik memotret pada objek bergerak yang menginginkan objek tersebut berhenti (diam) setelah dipotret. Karena itu digunakan kecepatan tinggi sesuai dengan gerakan objek tersebut.
2. Blur. Adalah teknik memotret pada objek bergerak untuk memperoleh hasil yang blur atau tidak fokus (goyang), sementara objek yang tidak bergerak diam dan tajam.
3. Panning. Adalah teknik memotret dengan menggunakan kamera sesuai dengan gerakan objek foto. Jika objek foto bergerak dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri, maka kamera digerakan sesuai dengan gerakan tersebut.
Tujuannya adalah agar gerakan tersebut terekam atau tertangkap oleh kamera, namun latar belakang objek terlihat blur bergaris
4. Zooming. Adalah teknik memotret untuk mendapat hasil foto dengan kesan objek mendekat atau menjauhi kamera. Untuk itu digunakan lenso zoom.
Kecepatan yang diguanakan yaitu rendah, agar tirai kamera masih membuka sebelum menutup ring zoom dapat diputar melebar atau memanjang sesuai objek foto, sehingga diperoleh foto yang berkesan mendekat atau menjauhi kamera.
5. Multiple Exposure. Yaitu teknik memotret untuk memperoleh hasil foto dengan kesan menumpuk objek yang difoto lebih dari satu kali tetapi berada pada satu frame (bingkai film).
6. Window Light. Yaitu teknik memotret dengan memanfaatkan cahaya dari satu sumber, bias dari cahaya jendela ataupun sumber lain yang searah seperti halnya cahaya jendela.
7. Siluet. Yaitu teknik memotert dengan menempatkan kamera menghadap langsung sumber cahaya, semetera objek foto berada di tengah-tengah anatara sumber cahaya dan kamera. Hasil fotonya objek foto gelap sementara latar belakang (sumber cahaya) terang.
2.9 Foto Jurnalistik
2.9.1 Sejarah Singkat Foto Jurnalistik
Media foto pertama kali ditemukan oleh Joseph Nicephone Niepce yang memulai pekerjaanya dalam bidang ini pada tahun 1813. Pada awalnya, Niepce masih mencoba-coba dengan menggunakan peralatan tradisional, dan baru pada tiga tahun berikutnya sistem film negatif seperti apa yang kita kenal saat ini ia temukan. Jauh sebelum itu, orang-rang memang sudah banyak yang mencoba-coba
melakukan kegiatan dalam bentuk penggunaan alat semacam kamera yang mereka sebut camera obscura. Alat ini digunakan, misalnya, untuk menggambar pemandangan alam. Mereka membuat boks besar, lalu diberi lubang kecil, dan lewat lubang itulah mereka melihat batas-batas alam yang bisa tergambar dalam lukisannya (Muhtadi, 1999: 100).
Fotografi jurnalistik sebagi produk jurnalistik memang tak setua jurnalistik tulis. Ia berakar dari fotografi dokumenter setelah teknik perekaman gambar secara realis ditemukan. Embrio fotografi jurnalistik muncul pertama pada senin 16 April 1877, saat surat kabar The Daily Graphic di New York memuat gambar yang berisi berita kebakaran hotel dan salon pada halaman satu. Terbitan tersebut menjadi tonggak awal adanya foto jurnalistik pada media cetak yang saat itu hanya berupa sketsa (Wijaya, 2014:1).
2.9.2 Pengertian Fotografi Jurnalistik
Semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan fotografi jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi. Perbedaan foto jurnalistik adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalistik berarti memilih mana cocok. Contoh di dalam acara pernikahan, foto dokumentasi mengambil seluruh peristiwa, mulai dari penerimaan tamu sampai dengan acara selesai, tapi wartawan foto hanya akan mengambil yang menarik. Hal lain yang membedakan foto dokumentasi dengan foto jurnalistik terbatas pada apakah foto tersebut akan dipublikasikan dalam media massa atau tidak8.
Dalam pengertian lain, foto jurnalistik adalah foto yang menyangkut hubungannya dengan berita, mengandung berita, dan mungkin untuk disiarkan atau dipublikasikan. Namun tidak selalu dibuat oleh wartawan foto atau pekerja pers dan melulu mengenai peristiwa seperti perang, huru-hara, demontrasi atau segala sesuatu yang menggambarkan tingkah manusia saja. Tetapi juga bisa berbagai hal yang berkaitan dengan alam, makhluk hidup (selain manusia, benda, bahan dan situasi kehidupan lain yang bersifat mengungkap suatu berita (Sugiarto, 2014: 23).
8 Wendra Ajistyatama, Dasar Fotografi Jurnalistik fotografi Jusnalistik Sebagai Media Komunikasi.
http://www.academia.edu/3823951/DASAR_FOTOGRAFI_JURNALISTIK_FOTOGRAFI_JUSNALISTIK_SEBAGAI_ME DIA_KOMUNIKASI, (diakses, 27 Agustus 2017, pukul 15.13)
Jurnalisme foto merupakan bentuk khusus jurnalisme (pengumpul, mengedit, dan menyajikan bahan berita untuk diterbitkan atau disiarkan) yang menciptakan gambar agar dapat menceritakan sebauah peristiwa. Sekarang, jurnalisme foto hanya dipahami sebagai gambar diam, namun sebenarnya merujuk pada ke video yang digunakan dalam jurnalisme penyiaran (Liliweri, 2011: 927).
Jurnalisme foto bukan fotografi, dia bisa salah satu cabang atau yang dekat dengan fotografi (dokumenter foto, street fotografi, atau selebriti fotografi). Foto jurnalistik selain memenuhi syarat fotografi juga memenuhi syarat suatu berita, misalnya (Liliweri, 2011: 928):
a. Ketepatan waktu (Timeliness).
gambar memiliki makna dalam suatu konteks, misalnya menceritakan suatu peristiwa, apalgai peristiwa yang baru saja terjadi.
b. Objektivitas.
Situasi yang tersirat dalam gambar biasanya “fair” dan akurat tentang peristiwa yang mereka gambarkan baik dalam isi dan nada.
c. Narasi (narative).
Menggabungkan gambar dengan unsur-unsur berita lain yang membuat fakta lebih berhubungan budaya dengan para pemirsa atau pembaca.
2.9.3 Karakteristik Foto Jurnalistik
Sebagai satu paket sajian informasi, foto yang dimuat di sebuah media merupakan foto berita. Sesungguhnya lebh banyak hal yang membuat sebuah foto tergolong foto jurnalistik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia berada dalam ranah foto jurnalistik. Hal itu sebagai pelurusan dari anggapan bahwa foto jurnalistik harus memuat manusia di dalamya. Yang perlu diingat adalah foto jurnalistik memliki kepentingan penuh terhadap manusia sehingga orientasi tertingginya terletak pada kelangsungan manusia dan kehidupannya.
Mobil, puing-puing, boneka, sampai alat-alat kerja bisa menjadi subjek dalam foto jurnalistik selama mereka memiliki kelayakan untuk berdiri sebagai suatu sumber informasi atau berita (Wijaya, 2014: 32).
Fotografi muncul untuk menggapai cita-cita objektivitas karena ia dipercaya mampu memaparkan kembali realitas visual secara presisi. Berbeda dengan
lukisan yang bergantung pada tekanan dan sapuan kuas, foto dianggap sebagai jiplakan alam nyata ke dalam medium lembar dua dimensi. Dan kamera merupakan instrumen yang membantu fotografer memindahkan imaji tersebut (Wijaya, 2014: 44).
Foto jurnalistik adalah foto berita. Setidaknya harus mempunyai sifat-sifat yang sama seperti halnya berita tulis, yaitu memuat unsur-unsur apa (what), siapa (who), di mana (where), kapan (when) dan mengapa (why). Bedanya dalam bentuk visual, foto berita mempunyai kelebihan dalam menyampaikan unsur (how) nya, yaitu bagaimana kejadia itu berlangsung. Meskipun dalam suatu peristiwa itu unsur (how) bisa terjawab dalam tulisan (berita tulis), tetapi dengan sebuah foto, unsur how lebih dapat menjawab dan menguraikan secara lebih baik lagi (Sugiarto,2014: 23)
Berikut beberapa karakteristik foto jurnalistik, antara lain9:
a. Foto jurnalistik merupakan media bagi para jurnalis untuk dapat menyampaikan sebuah informasi kepada publik. Foto jurnalistik akan mengekpresikan pandangan jurnalis, namun pesan yang disampaikan melalui foto tersebut bukanlah ekspresi pribadi.
b. Foto Jurnalistik disebarluaskan melalui media cetak, media siaran, dan internet.
c. Foto jurnalistik merupakan kegiatan pelaporan berita.
d. Foto Jurnalistik merupakan hasil dari perpaduan dua unsur, yaitu gambar dan kata.
e. Acuan dalam foto Jurnalistik adalah manusia. Sebab manusialah pembaca sekaligus objeknya.
f. Foto Jurnalistik berkomunikasi dengan masyarakat luas. Foto jurnalistik harus dibuat sedemikian rupa agar pembaca yang beragam dapat dengan segera menerima pesan yang disampaikan. Pesan yang disampaikan juga harus dibuat singkat.
9 Ivony. Fotografi Jurnalistik sebagai Media Komunikasi – Pengertian dan Karakteristiknya.
http://pakarkomunikasi.com/fotografi-jurnalistik. (diakses, 27 Agustus 2017, pukul 16.55)