i
PENENTUAN KUALITAS JENIS IKAN HIAS LAUT CLOWNFISHS PERCULA (AMPHIPRION PERCULA).
DI PT. AGUNG AQUATIC MARINE, BALI
TUGAS AKHIR
Oleh:
MURSALIM 1422050596
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS PERIKANAN JURUSAN AGRIBISNIES
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2017
ii
HALAMAN PENGESAHAN
PENENTUAN KUALITAS JENIS IKAN HIAS LAUT CLOWNFISHS PERCULA (AMPHIPRION PERCULA). DI PT. AGUNG AQUATIC
MARINE, BALI
TUGAS AKHIR
Tanggal Lulus :
iii
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI
Judul :Penentuan Kualitas Jenis Ikan Hias Laut Clownfishs Percula (Amphiprion Percula). Di Pt. Agung Aquatic Marine, Bali
Nama : Mursalim Nim : 1422050596
Program Studi : Agribisnis Perikanan
Jurusan : Agribisnis
Menyetujui, Tim Penguji :
1. Sulkifli, S.Pi.,M.Si
2. Yusri Muhammad Yusuf, S.Pd., M.Pd
3. Karma, SE., M.Si
4. Sumarni, SE., M.Si
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah Rabbil Alamin, Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmatnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir ini sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, Program Studi Agribisnis Perikanan.
Penulis mengucapakan banyak terimakasih kepada Ayahanda tersayang Baddu dan Ibunda tercinta Jumatia atas segala bimbingannya, dorongan dan pengorbanan yang disertai dengan doa yang tak hentinya menyertai perjalanan dan keberhasilan serta kesuksesan penulis dalam menuntut ilmu.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir ini tidak dapat diselesaikan dengan baik tanpa bantuan bimbingan, pengarahan dan pembinaan dari dosen pembimbing Bapak Sulkifli, S.pi., M.si dan Bapak Yusri Muhammad Yusuf, S.pd., M.pd., serta Ibu Sumarni, SE., M.si., dan Ibu Karma,SE., M.si.
Selaku dosen penguji, tak lupa pula penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Dr. Ir. Darmawan, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
2. Dr. Nur Alam Kasim, S.Pi., M.Si selaku Ketua Jurusan Agribisnis Politeknil Pertanian Negeri Pangkep.
3. Ir. Agung Setiabudi, selaku Pimpinan Perusahaan PT. Agung Aquatic Marine, Denpasar Bali.
4. Koko, selaku pembimbing lapangan yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan selama berada di lokasi praktek di PT. Agung Aquatic Marine, Denpasar Bali.
v
5. Teman-teman perkuliahan Jurusan Agribisnis Program Studi Agribisnis Perikanan angkatan XXVII.
6. Teman praktek (Slustiani, Safrian dan Riska) yang senantiasa meluangkan waktunya untuk berbagi informasi dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
Tidak lepas dari segala bentuk kekurangan dan kesalahan manusia, maka penulis dengan segala kerendahan hati menerima saran, kritik dan tanggapan yang bersifat membangun. Semoga laporan ini dapat memberikan arti bagi diri sendiri dan seluruh pembaca, hal ini dianggap sebagai pembuka wawasan berfikir yang seluas luasnya untuk masa depan di bidang perikanan.
Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Pangkep, 05 Agustus 2017 Penyusun
Mursalim
vi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRACK ... x
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah... 2
C. Tujuan Penelitian ... 2
D. Manfaat Penelitian ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Defenisi Kualitas Ikan Hias Laut... 4
B. Penentuan Kualitas Ikan Hias Laut ... 5
C. Ikan Clownfish percula (Amphiprion Percula) ... 6
D. Ikan Hias Laut ... 13
III. METODOLOGI A. Waktu dan Tempat... 22
B. Metode Pelaksanaan ... 22
IV. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan ... 24
B. Fasilitas Perusahaan ... 25
C. Struktur Organisasi ... 26
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penetuan Kualitas Ikan Clownfish percula ... 28
B. Karakteristik Ikan Sehat dan Sakit Secara Internal dan Eksternal 33 a. Ikan Sehat Secara Eksternal ... 33
b. Ikan Sehat Secara Internal ... 35
vii
c. Ikan Sakit Secara Eksternal ... 36 d. Ikan Sakit Secara Internal ... 37 VI. PENUTUP
A. Kesimpulan ... 39 B. Saran ... 39 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
viii
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 2.1. Morfologi Ikan Clownfish Percula (Amphiprion Percula) ... 7 Gambar 4.1. PT. Agung Aquatic Marine-Denpasar Bali ... 25
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Hal.
Lampiran 1. Struktur Organisasi 2017 ... 42
x ABSTRACK
MURSALIM. 1422050596. Penentuan Kualitas Jenis Ikan Hias Laut Pada Clownfishs Percula (Amphiprion Percula). Di Pt. Agung Aquatic Marine, Bali.
Di bawah bimbingan bapak sulkifli, dan bapak Yusri muhammad yusuf, dengan penguji ibu karma dan ibu sumarni sumarni.
Perairan Indonesia kaya dengan berbagai jenis ikan hias air laut dan juga memiliki potensi alami yang sangat baik untuk mengembangkan usaha perikanan terutama ekspor ikan hias laut. Ikan hias merupakan salah satu jenis hasil perikanan di Indonesia yang belum memperoleh perhatian yang besar dibandingakan dengan komoditas pertanian lain pada umumnya. Kualitas adalah merupakan salah satu faktor untuk mengembangkan potensi pemeliharaan ikan hias laut untuk mengubah kebutuhan ikan hias yang akan datang dari penggunaan kedalam karakteristik yang diperlukan agar ikan hiasa laut yang diproduksi dapat memberikan kepuasan dengan harga yang dibayar oleh konsumen. pencapaian kualitas dalam perusahaan sangat di butuhkan untuk menjadi persaingan dalam dunia bisnis berbasis internasional.
Ikan clownfis percula (Amphiprion percula) merupakan ikan karang tropis yang hidup di perairan pada daerah terumbu karang, berasal dari Papua dan irian jaya,habitatnya berada di antara tentakel-tentakel anemon, Ikan clownfish percula merupakan ikan (pemakan hewan dan tumbuhan), jadi selain invertebrata kecil (crustacea & parasit yang melekat pada tubuh anemon), Alat tangkap yang di gunakan untuk clownfis percula (Amphiprion percula) adalah jaring angkat yang berupa serok . Sebagian besar biota akuatik sensitif terhada perubahan PH.
Metode pelaksanaan yaitu dengan obserasi,interview,dan studi literatur.
Ikan clownfish percula di katakan berkualitas jika memenuhi krakteristik Organon-visus, (mata) jernih, cerah Kulit sedikit berlendir,Gerak refleks baik,Gerakan lincah,Warna ikan cerah,Bagian ventral (perut) tubuh, mendatar, Bagian cauda (ekor) horizontal atau terangkat keatas, inna caudalis mengembang seperti kipas. Penentuan kualitas yang baik menjadikan nilai jual yang tinggi.
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perairan Indonesia kaya dengan berbagai jenis ikan hias air laut dan juga memiliki potensi alami yang sangat baik untuk mengembangkan usaha perikanan terutama ekspor ikan hias laut. Iklim tropis Indonesia cocok untuk pemeliharaan berbagai jenis ikan hias dan memungkinkan dapat berproduksi sepanjang tahun.
Sumber daya alamnya juga mendukung yaitu lahan masih luas, sumber air melimpah, dan pakan alami juga masih banyak ketersediaannya di alam.
Pemeliharaan tidak terlalu sulit karena didukung oleh iklim Indonesia yang sesuai (Lesmana dan Iwan, 2006).
Ikan hias merupakan salah satu jenis hasil perikanan di Indonesia yang belum memperoleh perhatian yang besar dibandingakan dengan komoditas pertanian lain pada umumnya, dimana komoditas tersebut dapat memberikan sedikit bagi pemasukan devisa negara. Sampai saat ini Indonesia terkenal sebagai penghasil ikan hias terbesar di dunia (Saksono, 2000).
Ikan clownfish percula (Amphiprion ocellaris) merupakan salah satu komoditas unggulan ikan hias air laut yang hidup di perairan terumbu karang dan bersimbiosis dengan anemon. Ikan clownfish merupakan jenis ikan hias air laut tropis dari Famili Pomacentridae yang hidup di terumbu karang dan terlindung hingga kedalaman 15. Ikan clownfish dari jenis Amphiprion ocellaris memiliki bentuk dan corak warna yang menarik yaitu berwarna jingga, belang putih di bagian kepala, badan dan pangkal ekor, serta cocok untuk pengisi akuarium khusus ikan maupun akuarium terumbu karang (Wardoyo, 2006).
2
Ikan Clownfish percula berasal dari famili Pomacentridae. Salah satu famili terbesar dalam komunitas ikan karang Hingga saat ini diketahui ada sekitar 32 spesies. Salah satu spesies diantaranya termasuk dalam marga, Clownfish percula (Amphiprion percula). Untuk mengingat jumlah spesies clownfish percula yang cukup banyak tersebut dapat memberikan peluang untuk melakukan perkawinan silang. Sampai saat ini Balai Perikanan pemeliharaan ikan hias Laut, dan telah mengembangkan 8 spesies clownfish percula dan berhasil menghibrid beberapa spesies dari jenis tersebut. Ukuran maksimal clown fish bisa mencapai 10 – 18 cm (Wood, 2010).
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini hanya menyangkut beberapa aspek yaitu :
1. Bagaimana menentukan kualitas ikan clownfish di perusahaan ?
2. Bagaimana krakteristik ikan sehat dengan yang tidak sehat pada clownfish?
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari hasil kegiatan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dalam menentukan kualitas ikan clownfish percula.
2. Untuk mengetahui krakteristik ikan sehat dengan yang tidak sehat pada clownfish.
D. Manfaat Penelitian
1. Pihak penulis, manfaat yang diharapkan adalah seluruh tahapan penelitian serta hasil penelitian yang diperoleh dapat memperluas wawasan dan sekaligus memperoleh pengetahuan empirik mengenai
3
penerapan fungsi dan ilmu perikanan selama mengikuti kegiatan penelitian pada perusahaan.
2. Pihak perusahaan, sebagaai bahan masukan dalam mempertimbangkan pengambilan kebijakan finansial guna meningkatkan kinerja perusahaan.
3. Pihak lain, hasil penelitian ini sebagai acuan dan teknik dalam menentukan kualitas ikan clownfish percula (Amphiprion ocellaris), serta dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam menentukan kualitas dan karakteristik ikan hias clownfish percula.
4
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Defenisi Kualitas Ikan Hias Laut
Deming (1986), Kualitas adalah merupakan salah satu faktor untuk mengembangkan potensi pemeliharaan ikan hias laut untuk mengubah kebutuhan ikan hias yang akan datang dari penggunaan kedalam karakteristik yang diperlukan agar ikan hiasa laut yang diproduksi dapat memberikan kepuasan dengan harga yang dibayar oleh konsumen.
Kualitas ikan hias laut yaitu keseluruhan ciri dan karakteristik dari ikan hias yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan ikan hiasa yang inginkan oleh konsumen, yang merupakan suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan jenis ikan hias ,pelayanan, proses dan lingkungan yang terpenuhi sesuai dengan yang diharapkan (Ariani, 2004).
Bisnis ikan hias saat ini cukup cerah karena ikan hias merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peranan penting bagi perekonomian dan juga usaha ikan hias lebih menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu pemeliharaan ikan hias dapat dilakukan dengan lahan yang sempit atau aquarium. Satuan jumlah ikan yamg digunakan adalah ekor dan lebih mengutamakan kualitas, pemeliharaan ikan hias yang dipeliharakan dalam waktu cukup panjang sampai ukuran siap jual, selain itu juga bisnis iakan hias merupakan bisnis terbesar dan ikan hias merupan salah satu komoditi ekspor yang sangat menjanjikan. Selain mudah untuk dipeliharakan , ikan hias juga tidak membutuhkan biaya yang sangat mahal saat dipeliharakan. Ikan hias merupakan salah satu hobi yang digemari oleh kalangan masyarakat Indonesia maupun
5
negara asing, baik yang tua maupun yang muda semua berlomba-lomba untuk memiliki salah satu ikan hias yang dipelihara dalam rumah.
Ikan hias adalah jenis ikan baik yang berhabitat diair tawar maupun air laut yang dipelihara bukan untuk dikonsumsi melaikan untuk memperindah taman atau ruang tamu. Panorama bawah laut sering kali mempesona sehingga banyak orang relah menghabiskan uang banyak untuk menyelam dan menikmatinya.
Kini, kemajuan teknologi memungkinkan orang menikmati panorama air laut di dalam ruangan. Kehadiran ikan hias di dalam rumah masyarakat moderen dapat menjadi salah satu alternatif hiburan rutinitas yang padat. Ikan hias ini dipelihara untuk kesenangan. Oleh karena itu, bentuk, warna,ukuran, keserasian, dan kebiasaannya benar-benar harus diperhatikan. Bisa dikatakan hampir 75%
pasokan ikan hias air laut didunia berasal dari Indonesia sekurang-kurangnya 363 jenis ikan hias air laut dari indonesia telah di ekspor ke berbagai negara di dunia.
B. Penentuan Kualitas Ikana Hias Laut
Menentukan kualitas ikan hias, sangat penting untuk dianajurkan dalam upaya mencapai pertumbuhan ikan yang optimal dan mampu meraih keuntungan.
Secara umum kualitas ikan hias dapat ditentukan oleh kualitas air dalam pemeliharaan itu sendiri. Kualitas air yang baik akan menentukan keadaan dan kondisi ikan sehingga berujung pada kualitas ikan hias. Faktor kimia yang dapat mempengaruhi seperti pH, alkalinitas, salinitas, dan yang lainnya berpengaruh pada keberlangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan ikan secara umum.
Namun ada lagi faktor fisik seperti kekeruhan akan mempengaruhi aspek warna pada ikan hias. Selain kualitas air, faktor lain yang juga ikut berpengaruh adalah pakan. Aspek warna sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan atau zat dalam
6
pakan makanan yang mengandung zat untuk pigmen tertentu dapat membawa warna tidak luntur dan mematangkan warna.
Secara teknis dalam lokasi baik dan benar sangat berpengaruh terhadap kontruksi perusahaan yang akan dibangun serta biaya oprasional pemeliharan dalam aquarium. karena pencapaian kualitas dalam perusahaan sangat di butuhkan untuk menjadi persaingan dalam dunia bisnis berbasis internasional.
Dalam menentukan kualitas ikan hias air laut pada perusahaan dapat ditentukan dengan melihat secara langsung ikan yang baru diterima dari nelayan dengan memilih ikan-ikan yang benar sehat dan segar, tidak terdapat cacat pada bagian-bagian tubuh ikan, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan baru, perawatan yang teratur serta memiliki bentuk dan warna kulit ysng bagus dan bebas dari bakteri dan jamur.
C. Ikan clownfish percula (Amphiprion Percula)
Ikan clownfis percula (Amphiprion percula) berwarna oranye cerah, dengan tiga garis putih pada tubuhnya. Tiga garis putih pada ikan clownfis percula terdapat pada bagian kepala, tengah-tengah badan, dan pangkal ekor. Ikan ini, memiliki sebaran warna hitam pekat dan pola garis putih di bagian perut lebih tajam. Selain itu, ikan clownfis percula memiliki jari-jari keras sebanyak 10 buah dan jari-jari lunak pada sirip punggungnya sebanyak 17 buah, dengan panjang jari-jari sirip yang berbeda (Allen, 1991).
1. Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi ikan clownfish percula (Amphiprion Percula) menurut Michael (2008), adalah sebagai berikut :
7 Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata Superkelas : Osteichthyes Kelas : Actynopterygii Subkelas : Neopterygii
Ordo : Perciformes
Subordo : Labroidei Famili : Pomacentridae
Genus : Amphiprion
Spesies : Amphiprion percula
Gambar morfologi ikan clownfish percula (Amphiprion percula) dapat dilihat pada Gambar 1.
(Sumber : Lieske, 2001)
Gambar 2.1. Morfologi ikan clownfish percula (Amphiprion Percula)
8 2. Habitat Ikan Clownfish Percula
Ikan clownfis percula (Amphiprion Percula) merupakan ikan karang tropis yang hidup di perairan pada daerah terumbu karang, berasal dari Papua dan irian jaya. Ikan clownfish percula hidup di laut dengan kedalaman 12-15 meter dengan berair jernih dengan daerah penyebaran di samudra pasifik,laut merah, samudra Hindia. Beberapa faktor yang mempengaruhi distribusi dan arah distribusi dari ikan clownfish percula adalah jumlah larva, ketersediaan anemon laut, faktor-faktor hidrografi dan adanya daratan penghalang (Michael, 2008).
3. Kebiasaan Makan
Ikan clownfish percula merupakan ikan (pemakan hewan dan tumbuhan), jadi selain invertebrata kecil (crustacea & parasit yang melekat pada tubuh anemon), alga juga diketahui memenuhi 20 – 25% kebutuhan nutrisinya.
Ikan clownfish percula (Amphiprion percula) di alam mendapatkan makanan dari sekitar anemon. Ikan badut merupakan ikan omnivora yang mengkonsumsi zooplankton, invertebrata kecil (crustacean) dan parasit yang melekat pada tubuh anemon serta alga bentik. Ikan clownfish percula biasanya menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari makan, bermain, dan berpasangan dalam wilayah tempat hidupnya (Wood, 2001).
4. Penangkapan
Ikan clownfish percula merupakan ikan hias yang mempunyai daerah penyebaran relative luas, terutama di daerah seputar Indonesia pasifik.Di
9
perairan papua ditemukan tidak kurang dari 8 spices .sedangkan berdasarkan Encharted & learning( 2004 ) ikan clownfish percula hidup di bawa laut di antara a nemom.
Diliat dari penyebaran yang di kemukakan para ahli diatas bahwa ikan hias ini mendiami perairan di samudra Hindia dan samudra pasifik, yang berarti Indonesia termasuk di dalamnya.
Alat tangkap yang di gunakan adalah jaring angkat yang berupa serok .Hal ini Karena serok merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan tidak merusak habitat ikan clownfish percula. Serok merupakan alat tangkap sederhana yang jaringnya berasal dari benang yang dalam pengoperasiannya menggunakan tenaga manusia dan umumnya para nelayang menggunakan serok di daerah yang dangkal dan berlumpur.
5. Karantina
Berdasarkan hasil tangkapan ikan hias dilaut maka para nelayang yang melakukan kegiatang karantina. dengan tujuan untuk melakukan peroses penentuan kualitas ikan yang telah di tangkap. kemudian ikan hias yang sudah di tentukan kualitasnya akan di kirim keperusahaan yang bersangkutan.
6. Adaptasi
Merupakan aklimasi dari alam liar untuk hidup akuarium adalah salah satu transisi yang paling sulit dan penuh tekanan pada jenis ikan apapun.
Bergerak dari satu akuarium ke yang lain, seperti halnya untuk akuarium pemeliharaan, umumnya ikan tersebut tidak akan stres karena mereka telah menghabiskan seluruh hidup mereka di akuarium, jadi ketika Anda membelih
10
mereka, mereka hanya akan membutuhkan waktu yang singkat untuk proses adaptasi dan sudah siap dengan ruang terbatas dan makanan buatan. Jika Anda memperoleh ikan clownfish percula yang dipanen dari alam liar, Anda harus sangat berhati-hati dalam mengurangi stres pada tahap Adaptasi, kualitas air harus baik, intensitas cahaya yang tinggi, dan Anda mungkin awalnya harus memberi makanan hidup atau makanan beku, menempatkan di akuarium yang terpisah, mencapur sedikit demi sedikit air akuarium dengan air dari bungkus ikan tersebut. Dengan demikian, ikan clownfish percula dari pemeliharaan spesimen mungkin lebih baik untuk aquarium air laut pemula.
Tapi ingat, menempatkan clownfish percula dari tangkapan liar atau dari sistem pemeliharaan, kedalam akuarium dengan kualitas air yang buruk dan kondisi yang tidak benar dapat juga menyebabkan kematian. Jadi semuanya juga tergantung baik atau buruknya kondisi air dalam akuarium anda.
7. Penentuan pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ionhidrogen yang terlarut.
Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan dan standar pH- nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa(keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja
11
bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah.
Air akan bersifat asam atau basa tergantung besar kecilnya pH. Bila pH di bawah pH normal, maka air tersebut bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH di atas pH normal bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan industri akan mengubah pH air yang akhirnya akan mengganggu kehidupan biota akuatik. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahab pH dan menyukai pH antara 6 – 8. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan ,misalnya proses nitrifikasi akan berakhir pada pH yang rendah
8. Salinitas
Salinitas adalah salah satu penyebab penyakit non infeksi pada ikan.
Pada kondisi salinitas tinggi >25 ppt ikan rentan terkena penyakit. Hal ini disebabkan karena kadar garam tinggi menyebabkan gas-gas kurang terlarut, sehingga terjadi penurunan kadar oksigen dalam air. Pada air tawar dengan salinitas 0 ppt .sedangkan pada air laut dengan salinitas biasanya 25 ppt. Pada kondisi seperti inilah ikan rentan terkena penyakit infeksi (Irianto, 2005)
9. Suhu
Parameter kualitas air yang dapat mempengaruhi timbulnya serangan parasit pada ikan adalah suhu. Walaupun toleransi suhu antar spesies ikan satu dengan yang lainnya berbeda, namun pada suhu tinggi ikan dapat mengalami gangguan kesehatan seperti stres. Tingkah laku ikan stres ditandai dengan tubuh lemah, kurus dan tingkah laku abnormal. Sedangkan pada suhu
12
rendah dengan kandungan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan pada suhu tinggi, ikan juga dapat mengalami stres pernafasan sehingga ikan lebih rentan terserang penyakit infeksi parasit (Tang dan Neson, 1998).
10. Kondisi Lingkungan
Lingkungan memiliki peran sebagai indikator keaadan organisme di dalamnya, jika lingkungan baik atau bersih maka organisme yang di dalamnya akan baik pula. Sedangkan pada kondisi lingkungan yang buruk dapat menyebabkan organisme yang ada di dalamnya mengalami stres sehingga terjadi penurunan ketahanan tubuh. Hal inilah yang dapat memicu timbulnya serangan penyakit infeksi. Adapun kondisi lingkungan penyebab timbulnya parasit pada ikan baik secara langsung dan tidak langsung yaitu bahan organik, suhu, nutrien, salinitas, amoniak, nitrit, dan nitrat.
11. Pemantauan Penyakit Parasit
Pemantauan penyakit ikan bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi penyebaran hama penyakit ikan. Pemantauan penyakit parasit dapat dilakukan oleh Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Hasil dari pemantauan penyakit parasit menunjukkan beberapa jenis parasit yang menyerang ikan-ikan air laut seperti jamur,parasit,wat spot.
Hingga tahun 2012, belum diketahui jenis parasit yang menyerang ikan clownfish percula (Amphiprion percula). Namun untuk jenis bakteri dan jamur yang menyerang ikan ini sudah diketahui jenisnya yaitu bakteri Pseudomonas putida. Sedangkan jamur yang menginfeksi pada ikan badut
13
adalah Laptolegnia sp. Jenis bakteri dan jamur ini diketahui dari hasil pemantauan penyakit oleh Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan.
D. Ikan hias laut
1. Perbedaan Ikan Hias Laut dan Ikan Hias Air Tawar
Ikan hias air laut dan ikan hias air tawar secara bentuk sama namun perbedaan yang mencolok adalah tempat hidup keduanya, adapun perbedaan yang lain yaitu ikan hias air laut memiliki urin sangat banyak pada saat dikeluarkan berbeda dengan ikan air tawar yang mengeluarkan urin lebih sedikit, selain itu hal yang paling mencolok adalah urin ikan air laut terasa pekat sedangkan ikan air tawar terasa encer, selain itu terdapat pada perbedaan dinding sel yaitu ikan hias air laut memiliki dinding sel yang lebih tebal dibandingkan ikan hias air tawar , dengan kondisi sel yang tebal memungkinkan ikan hias air laut memungkinkan untuk bertahan dengan kondisi air laut yang extrem .
2. Perkembangan pecinta ikan hias laut di Indonesia
Perkembangan produksi budidaya ikan hias Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Tingginya minat terhadap ikan hias saat ini membuat semakin banyak pembudidaya ikan atau para pedagang yang menjadikan ikan hias sebagai komoditas andalan, sehingga memiliki potensi meningkatkan ekonomi nasional. Ikan hias air laut indonesia memiliki lebih dari 700 jenis spesies, potensi ini memberi peluang Indonesia di pasar Internasional untuk menjadi eksportir terbesar dunia.
14
3. Keuntungan dan Tantangan dalam Pemeliharaan Ikan Hias Laut
Keuntungan dalam pemeliharaan ikan hias laut antara lain berasal dari teknik pemeliharaan yang cukup mudah,konsumen yang cukup banyak dan modal untuk memulai bisnis terbilang kecil. Tantangan yang harus dihadapi dalam pemeliharaan ikan hias laut yaitu adanya ikan hias yang beracun, ikan mudah terserang penyakit, cuaca lingkungan tidak menentu, ph air yang berbeda dan banyaknya saingan dalam pemeliharaan ikan hiasa , sehingga dalam proses pemeliharaan kita harus mempunyai berbagai macam strategi untuk pemeliharaan untuk persaingan dalam pemasaran.
4. Penanggulangan Hama Dan Penyakit Ikan hias
Anonim, 1994. Dalam pemeliharaan ikan, serangan penyakit adalah masalah dan aspek yang sangat penting, artinya penanggulangan penyakit dan hama juga harus menjadi pengetahuan yang penting bagi pemelihara ikan dan siapa saja yang hendak memelihara ikan. Sebab penyerangan penyakit maupun ganguan hama dapat mengakibatkan kerugian ekonomis.
Serangan penyakit dan ganguan hama dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat (kekerdilan), padat tebar sangat rendah, konversi pakan sangat tinggi, periode pemeliharaan lebih lama, yang berarti meningkatnya biaya produksi. Dan pada tahap tertentu, serangan penyakit dan gangguan hama tidak hanya menyebabkan menurunya hasil panen (produksi), tetapi pada tahap yang lebih jauh dapat menyebabkan kegagalan panen.
Agar para pemelihara ikan mampu mencegah serta mengatasi serangan penyakit dan gangguan hama yang terjadi pada ikan pemeliharaannya, maka
15
mereka perlu dibekali pengetahuan sumber penyakit, penyebab, dan jenisnya serta teknik-teknik penanggulangannya.
Dan masalah yang dianggap sering menjadi penghambat pemeliharaan ikan terbesara adalah munculnya serangan penyakit. Pengalaman dalam dunia perudangan merupakan trauma berkepanjangan, yang hingga saat ini belum terpecahkan secara tuntas. Karena senrangan penyakit dapat menimbulkan kerugian ekonomis, bahkan mengagalkan hasil panen, maka para akuakulturis dan calon akuakulturis perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang penanggulangan hama dan penyakit.
a. Penyakit Ikan
Penyakit ikan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak lansung. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak dating begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang (ikan), dan adanya jasad pathogen (jasad penyakit). Dengan demikian timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil dari interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan, dan jasad/ organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjdi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit.
Manusia memegang peranan penting dalam upaya mencegah terjadinya serangan penyakit pada ikan pemeliharaan, baik di kolam, aqarium maupun di wadah pemeliharaan lainnya, yaitu dengan cara memelihara keserasian interaksi
16
antara tiga komponen di atas. Ini berarti kerugian yang diderita karena serangan penyakit sebenarnya dapat dihindari apabila petani mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai cara menjaga keserasian antara ketiga komponen penyebab penyakit itu.
b. Stress
Semua perubahan pada lingkungan dianggap sebagai penyebab stress bagi ikan dan untuk itu diperlukan adanya adaptasi dari ikan. Beberapa faktor stress, misalnya suhu air dan salinitas, bisa menyebabkan meningkatnya metabolism ikan, bila ikan dipindahkan dari air yang salinitasnya 0 ppt ke tambak atau laut yang salinitasnya di atas 20 ppt tidak secara bertahap maka ikan akan mengalami kesulitan beradaptasi. Faktor lain misalnya transportasi, dapat menyebabkan tekanan pada system kekebalan dan menghasilkan bermacam penyebab meningkatnya penyakit dan kematian pada ikan, oleh karena itu kadang-kadang ikan diberi obat penenang sebelum ditransportasikan. Untuk mengurangi stres pada saat penebaran benih harus hati-hati, ikan yang baru ditangkap atau baru didatangkan tidak boleh langsung dicampurkan dengan ikan-ikan yang lama, namun perlu dilakukan adaptasi suhu terlebih dahulu.
c. Kekurangan gizi
Ikan yang kekurangan gizi juga merupakan sumber dan penyebab penyakit. Pakan yang kandungan proteinnya rendah akan mengurangi laju pertumbuhan, proses reproduksi kurang sempurna, dan dapat menyebabkan ikan menjadi mudah terserang penyakit. Kekurangan lemak atau asam lemak akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat, kesulitan reproduksi, dan warna kulit yang tidak normal. Kekurangan karbohidrat dan mineral jarang terjadi, kecuali
17
yodium yang dapat menyebabkan gondok. Kekurangan vitamin dapat mengakibatkan pertumbuhan menurun, mata ikan redup, anemia, kulit pucat, dan pertumbuhan tulang belakang kurang baik.
Pakan yang tidak seimbang atau komponennya berlebihan juga dapat menimbulkan masalah, seperti kelebihan protein dan lemak dapat menimbulkan penimbunan lemak di hati dan ginjal (lipoid liver degeneration) sehingga ikan menjadi gemuk, nafsu makan berkurang, dan bengkat di sekitar perut. Dan kelebihan karbohidrat juga dapat menyebabkan penimbunan lemak di hati dan organ dalam lainya, rongga perut melebar, insang menjadi pucat, telur tertahan, dan kualitasnya menurun. Pencegahan dilakukan dengan memberikan ikan makanan yang mengandung gizi lengkap, tidak kelebihan gizi, pemberian makanan cukup, tepat waktu, dan makanan tidak mengandung bahan beracun.
d. Pemberian pakan yang berlebihan
Selain kekurangan gizi sebagai pengebab mudahnya ikan terserang penyakit, pemberian makanan juga mengakibatkan hal yang sama. Ada dua kejadian yang berbahaya bila ikan diberikan pakan yang berlebihan, yaitu ikan mengalami kekenyangan yang berlebihan sehingga usus ikan mudah pecah dan penurunan kualitas air. Pakan yang berlebihan yang tidak habis dimakan oleh ikan akan tertimbun didasar kolam dan tambak. Dengan demikian akan mempercepat penurunan kualitas air, karena pakan merupakan sumbernbahan organik yang mengalami dekomposisi (terutama protein) akan menjadi ammonia.
Sedangkan konsentrasi ammonia yang berlebihan dapat menyebabkan timbulnya keracunan pada ikan.
18 e. Keracunan
Keracunan yang bayak dikenal adalah yang disebabkan oleh ion NO2– dan NH3. Tetapi ini terjadi hanya pada kondisi lingkungan tertentu, Gangguan kesehatan lainnya yang sangat tergantung pada keadaan fisik adalah trauma gelembung gas atau disebut GBT (Gas Bubble Trauma). Penyakit ini terjadi karena air terlalu jenuh dengan gas-gas terutama nitrogen. Tetapi trauma gelembung gas atau GBT juga bisa terjadi karena terlalu jenuhnya oksigen.
Terlalu jenuhnya darah dengan gas bisa terjadi misalnya karena penggunakan air yang dipanaskan, air yang disediakan melalui tekanan yang berlebihan, dan pengaliran air menggunakan pompa-pompa yang rusak dan berlubang. Didalam tubuh ikan, dengan kejenuhan darah seperti tersebut di atas, akan timbul suatu gelembung udara dengan tingkat tertentu dan hal ini akan menyumbat kapiler- kapiler darah. Pecahnya kapiler-kapiler ini menghasilkan hemoragik.
Selain keracunan yang disebutkan di atas, kerucunan juga bisa berasal dari pakan. Misalnya dari bahan baku yang digunakan, aktivitas mikroorganisme yang mencemari pakan dan penurunan/ pengrusakan komponen pakan selama penyimpanan. Ketengikan lemak dapat merusak fungsi hati ikan. Mycotoksin dai Aspergilus flavus dapat menyebabkan tumor hati. Beberapa senyawa lainnya yang tidak beracun tetapi dapat menurunkan kualitas pakan antara lain enzim thiaminase yang dapat merusak thiamin (vitamin B1), trypsin inhibitor yang dapat menghambat aktivitas enzim tripsin.
19
Keracunan juga bisa berasal dari limbah baik limbah rumah tangga seperti ditergen, limbah pertanian seperti pestida maupun limbah industry seprti Cu, Cd, dan Hg serta berbagai bahan pencemaran lainnya. Kesemuanya ini pada konsentrasi tinggi dapat membahayakan ikan dan para pengkonsumsi ikan.
f. Memar dan luka
Ikan mengalami memar dan luka karena saling mengigit atau penangganan yang kurang baik. Penyakit ulcus syndrome pada ikan kerapu yang diidentifikasikan disebabkan oleh bakteri vibrio sp. (vibriosis) berawal dari memar dan luka pada ikan .
Selama pengangkutan perlu diperhatikan agar kondisi lingkungan dalam media pengangkut tetap baik, sehingga ikan tidak mengalami gangguan. Untuk menjaga kondisi media pengangkut tetap baik, perlu diperhatikan waktu pengangkutan, jumlah ikan yang diangkut, dan jarak yang ditempuh. Di dalam wadah pengangkut, ukuran ikan harus seragam, terutama ikan-ikan yang mempunyai sifat kanibal (saling memangsa) . Hal ini perlu diperhatikan agar tidak terjadi saling menyerang antara ikan yang dapat menyebabkan memar dan luka pada ikan. Sebab ikan yang memar dan luka hanya cepat stres, tetapi bagian tubuh yang memar dan luka merupakan media potensial untuk diserang penyakit.
g. Cacat
Ikan cacat akan kesulitan memperoleh makanan, baik karena pergerakannya lambat atau karena kecacatannya sehingga mengalami kekerdilan.
Dan karena itu, sulit bersaing terutama dalam memperoleh makanan. Walaupun demikian ikan cacat bukan hanya merupakan penyakit (non-infeksi) bawaan,
20
tetapi juga karena perlakuan pembenih yang tidak tepat. Misalnya, ikan yang mempunyai kebiasaan memakan makanan di dasar perairan, oleh pembenih diberikan makanan terapung. Perlakuan seperti ini akan menyebabkan ikan menderita mata juling. Begitu juga ikan yang mengalami pembengkokan tulang.
Mungkin saja telur ikan ditetaskan terserang penyakit terlebih dahulu sebelum menetas. Oleh karena itu, pembenih juga harus dapat memastikan media air yang digunakan maupun telur yang hendak ditetaskan adalah dalam kondisi optimal
h. Kulitas air
Bila kualitas air tidak dalam kondisi optimum untuk keperluan kehidupan ikan, misalya tingkat bahan organik di dasar kolam atau tambak yang tinggi.
Kualitas air juga mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan sito-patologi dan histo-patologi pada ikan. Kosentrasi amonia yang tinggi bisa menyebabkan perubahan histologis pada jaringan insang walaupun secara lambat tetapi terus menerus. Menjaga agar kualitas air tetap optimum bagi kebutuhan ikan yang dibudidayakan, berarti menjaga kesehatan ikan dan mencegah serangan penyakit.
Kualitas air yang optimum dapat dipertahankan dari kegiatan memilih lokasi yang ideal, menggunakan dan membuat wadah pemeliharaan yang cocok, dan melaksanakan pengololaan usaha pemeliharaan ikan secara benar, seperti memilih benih yang berkualitas, pemberian pakan yang cukup dan bermutu serta tepat waktu, pergantian air, pengelolaan tanah, dan sebagainya.
21 i. Hama
Penyakit juga dapat disebabkan oleh hama yang secara sengaja maupun tidak sengaja masuk ke dalam wadah pemeliharaan. Hama selain mengganggu ikan pemeliharaan dalam bentuk memangsa, menyaingi, dan merusak wadah pemeliharaan, juga dapat membawa organisme penyakit seperti virus, perasit, bakteri atau jamur. Ikan pemeliharaan yang terluka akibat terserang pemangsa akan mudah stres, dan bagian yang memar atau terluka merupakan media yang potensial terjadinya serangan penyakit infeksi.
22
III. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan dilakukan mulai tanggal 05 Januari sampai dengan 30 Maret 2017. dimulai dari pukul 08.00-16.00 WITA yang terdapat jam istirahat pukul 12.00-13.00 WIB. Kegiatang ini dilaksanakan di PT. Agung Aquatic Marine yang terletak di Jl. Kesambi Raya, Denpasar Bali.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam kegiatan di PT. Agung Aquatic Marine Denpasar Bali antara lain :
a. Observasi (Pengamatan) adalah pengamatan adalah tehnik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara sistematik .
b. Interview adalah proses tanya jawab secara langsung mengenai suatu masalah yang akan diteliti pihak perusahaan.
c. Studi literature adalah menggunakan buku-buku referensi yang relevan tentang proses penentuan kualitas jenis ikan hias laut sehingga dapat menunjang dalam penulisan laporan penelitian.
C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Adapun data yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Kualitatif dan Kuantitatif.
23 a. Data Kualitatif
Data kualitatif yang diperoleh dari perusahaan yauitu sejarah singkat berdirinya perusahaan , visi dan misi ,struktur organisasi, dan fasilitas perusahaan.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif perusahaan yang diperoleh yaitu jumlah fasilitas, umlah Negara tempat mengekspor, dan jumlah karyawan perusahaan.
2. Sumber Data a. Data Primer
Data primer diperoleh dari hasil pengamatan, menghitung atau mengukur secara langsung serta wawancara dengan para karyawan pada saat kegiatan PKPM.
b. Data Skunder
Data skunder berupa data yang diperoleh dengan cara penelusuran literatur atau pustaka yang relevan dengan penentuan kualitas jenis ikan hias laut pada clownfishs percula serta data dari Standar Oprasional Perusahaan PT. Agung Aquatic Marine, Bali.
24
IV. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah
PT. Agung Aquatic Marine didirikan pada tahun 1988 yang dibentuk oleh Bapak Ir.Agung Setiabudi yang pada awalnya masih bergabung dengan PT.
Dinar yang merupakan perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1977. Pada tahun 2004 PT. Agung Aquatic Marine telah dipisahkan dengan PT. Dinar karena merasa telah mampu untuk mandiri, awalnya perusahaan ini berdiri banyak mengalami tantangan namun karena sifat optimis pemilik perusahaan ini yang tidak berhenti untuk berusaha beberapa tahun kemudian PT. Agung Aquatc Marine mengalami peningkatan dan resmi didirikan pada tahun 2009.
PT. Agung Aquatic Marine bergerak dalam bidang ekspor ikan hias laut dan tanaman (coral) dan Manajer 1 orang dan Supervisor 6 orang, Manajer Keuangan memilki 1 orang, Manajer Pemasaran memiliki 1 orang, Manajer Personalia memiliki 1 orang, Satpam 5 orang, bagian Produksi memiliki 25 orang.
Sumber bahan baku berasal dari suplier yang dibeli oleh perusahaan dari sekitar pulau bali maupun luar pulau bali kemudian di pelihara di perusahaan lalu diekspor dan Negara tujuan PT. Agung Aquatic Marine yaitu Belgia,Paris, Brazil,Canada,Jepang, German,Inggris, Prancis, Swish, Swedia, Hongkong, Italia, Australia, Amerika Serikat, Polandia, vietnam.
PT. Agun aquatic marine mempunyai permintaan ikan hias laut yang cukup tinggi. Perkembangan kondisi pasar yang menjanjikan tersebut, tentu akan memacu dalam bidang eksportir untuk mengesksploitasi secara tidak terkendali..
25
Gambar 4.1. PT. Agung Aquatic Marine-Denpasar Bali
Visi : Menjamin ikan hasil hias laut yang bermutu dan bebas hama penyakit ikan karantina (hpik) serta sesuai dengan standar negara mitra.
Misi :
1. Menerapkan ckib secara benar
2. Menjalankan ckib secara konsisten dan terintegrasi
3. Menggunakan tenaga kerja yang mempunyai komitmen dan berpengalaman
B. Fasilitas
PT Agung Aquatic Marine dalam melakukan proses produksi didukung oleh fasilitas meliputi pos penjagaan, area parkir motor dan mobil, gudang barang, ruang produksi, Musollah, kantor. Adapun fasilitas perusahaan dapat dilihat sebagai berikut :
26 1. Ruang peneriman bahan baku
2. Ruang pemeliharaan
3. Ruang pembuatan es batu dan plastik 4. Ruang isolasi
5. Ruang packing 6. Ruang Obat
7. Ruang penampungan air
C. Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi yang ada pada PT Agung Aquatic dapat dilihat pada lampiran I, struktur organisasi dan staf terdiri dari :
1. Pemegang saham sebagai penanam modal bagi perusahaan.
2. Komisaris sebagai pemilik perusahaan dan sistem pengendalian internal.
3. Direktur sebagai penanggung jawab dan pengontrol kegiatan bagi semua manajer.
4. Manajer yang mengatur semua segala kegiatan dari masing-masing kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan.
5. Bagian Produksi yang mengontrol semua kegiatan yang berhubungan dengan seluruh kegiatan produksi.
6. Bagian Personalia bertugas untuk mengolah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesejahteraan karyawan maupun staf pada perusahaan.
7. Bagian penerimaan yang bertugas untuk mempersiapkan segala bahan baku untuk diproduksi oleh perusahaan sebagai produk ekspor.
8. Bagian pemasaran yang bertugas mengatur masalah pemasaran.
9. Bagian keuangan yang bertugas mengatur aliran dana perusahaan.
27
10. Transplantasi yang bertugas menangani masalah budidaya terumbu karang.
Organisasi dan deskripsi tugas dan wewenang dari masing-masing jabatan yang terdapat di PT. Agung Aquatic Marine dapat dilihat pada lampiran .