55
ANALISIS FINANSIAL USAHA KECIL DAN MENENGAH PUPUK KOMPOS BERBAHAN BAKU FESES DI KANDANG PERCOBAAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
SEBELAS MARET
FINANCIAL ANALYSIS OF SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES OF COMPOST MADE FROM THE FECES AT EXPERIMENTAL FARM FACULTY OF AGRICULTURE SEBELAS
MARET UNIVERSITY
Sutrisno Hadi Purnomo*, Suharto, dan Fauzan Ismawan
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
*Corresponding author: [email protected] INTISARI
Penelitian ini dilaksanakan di UKM pengolahan pupuk kompos padat di Kandang Percobaan, di Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dari pengembangan usaha pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan dilihat dari aspek finansial dan menentukan capaian Break Even Point (BEP). Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Metode penentuan lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling (sengaja). Penelitian ini menggunakan analisis finansial untuk menentukan kelayakan usaha dengan kriteria dari perhitungan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period of Credit (PPC), dan Break Event Point (BEP). Berdasarkan hasil analisis kelayakan finansial, usaha pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan memperoleh nilai kriteria kelayakan sebagai berikut:
NPV Rp 13.719.059,41; BCR sebesar 1,23 , IRR sebesar 19,39 %, PPC sebesar 3,83, dan BEP penjualan pupuk kompos sebesar Rp 23.349.615,71. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan ini layak untuk diusahakan dan dapat memperoleh keuntungan jika dapat menjual lebih dari 4.111 unit kemasan pupuk plastik dan 613 unit pupuk kompos padat kemasan sak.
Kata Kunci : Analisis finansial, Kandang percobaan, Pupuk kompos, UKM ABSTRACT
This study was taken place in solid fertilizer processing SMEs at Jatikuwung village, Gondangrejo Sub District of Karanganyar Regency. This study aimed to find out the feasibility of compost processing business development in experimental farm viewed from financial aspect and to determine the Break Even Point (BEP) gain. Basic method employed in this study was descriptive one with survey technique. The location of research was selected using purposive sampling technique. The analysis was carried out by conducting financial analysis on business feasibility in investment using criteria of Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period of Credit (PPC), and Break Event Point (BEP). Considering the result of financial feasibility analysis, the compost processing business in experimental farm got the following feasibility criteria score: NPV of IDR 13.719.059,41; BCR of 1,23, IRR of 19,39%, PPC of 3,83 and compost sale BEP of IDR 23.349.615,71. The conclusion drawn was that compost processing in experimental farm was feasible to be attempted and could get profit if it could sell more than 4.111 units of plastic fertilizer package and 613 units of solid compost sack package.
Key words: Experimental farm, Compost, Financial analysis, SMEs
56 Pendahuluan
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat mendukung untuk sektor usaha pertanian. Sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar sebagai penyokong ketahanan dan kedaulatan pangan di Indonesia. Iklim tropis yang ada di Indonesia mendukung berkembangnya sektor pertanian dengan sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.
Bidang peternakan sebagai subsektor dari pertanian mempunyai prospek yang sangat bagus bila dikembangkan secara optimal, dengan melihat peluang pasar yang banyak dicari oleh konsumen maka dapat diperoleh berbagai macam peluang usaha.
Salah satu peluang usaha di bidang peternakan yaitu usaha pembuatan pupuk kompos. Usaha pembuatan pupuk kompos tersebut berbahan baku dari hasil samping limbah peternakan, yaitu berasal dari feses sapi potong. Ketersediaan pupuk kompos berbahan baku limbah ternak tersebut memiliki peranan cukup besar dalam bidang pertanian yang terpadu dan berkelanjutan.
Petani yang menggunakan pupuk dengan kualitas baik pada tanaman akan meningkatkan kualitas hasil panen dan menghasilkan tanaman yang sehat, yaitu bebas dari bahan kimia. Hartatik dan Setyorini (2006) menyatakan bahwa pupuk kimia buatan hanya mampu menyediakan satu (pupuk tunggal) sampai beberapa jenis (pupuk majemuk) hara tanaman, namun tidak menyediakan senyawa karbon yang berfungsi memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, serta tidak menyediakan unsur hara mikro (kecuali untuk pupuk buatan tertentu).
Penggunaan pupuk buatan yang tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas biologi tanah. Berbeda dengan pupuk kimia buatan yang hanya menyediakan satu sampai beberapa jenis hara saja, pupuk organik mempunyai peran penting dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Meskipun kadar hara yang dikandung pupuk organik relatif rendah, namun peranan terhadap sifat kimia tanah jauh melebihi pupuk kimia buatan. Contoh peranan pupuk organik terhadap sifat kimia tanah adalah sebagai berikut penyedia hara
makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan mikro (Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe).
Usaha pengelolaan pupuk kompos dikelola oleh mahasiswa dengan nama Jatikuwung Innovation Center (JIC) adalah sebuah unit usaha dibawah Kandang Percobaan, Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian UNS. Salah satu usaha JIC adalah pengolahan pupuk kompos untuk memanfaatkan hasil samping kegiatan peternakan yang berada di Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Usaha pengolahan pupuk kompos tersebut dikelola oleh mahasiswa peternakan dengan dibantu oleh beberapa karyawan dan dibimbing langsung oleh dosen peternakan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pengolahan limbah peternakan dalam usaha pembuatan pupuk tersebut menerapkan sistem zero waste dan mendukung tercapainya sistem pertanian terpadu berkelanjutan. Usaha dikelola secara profesional dengan menggunakan bahan organik yang aman bagi lingkungan, sehingga merupakan prospek yang baik dimasa mendatang.
Usaha pengolahan pupuk organik yang didirikan perlu merencanakan strategi bagaimana produk dapat memberikan keuntungan dalam usaha. Salah satu hal yang penting dalam perencanaan usaha adalah melakukan suatu analisis kelayakan usaha, yaitu analisis finansial. Menurut Nitisemito dan Burhan (1995), bahwa analisis finansial dalam usaha sangat perlu diperhatikan untuk menentukan tingkat keuntungan usaha dalam kaitan kelayakan usaha ternak dan analisis BEP, untuk mengetahui skala usaha yang akan di dirikan agar usahanya dapat menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kelayakan usaha dari aspek finansial dengan menggunakan analisis Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period of Credit (PPC), dan Break Event Point (BEP) sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan tentang kelayakan usaha pengolahan pupuk kompos.
Materi dan Metode
Penelitian ini dilaksanakan di Usaha Kecil Menengah (UKM) pengolahan pupuk
57
kompos padat di kandang percobaan Prodi Peternakan Fakultas Pertanian UNS, di Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan wawancara dan observasi secara langsung di Kandang Percobaan, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan survei langsung pada usaha pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan. Penentuan lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling (sengaja). Menurut Sugiyono (2001), purposive sampling adalah teknik penentuan lokasi dengan pertimbangan tertentu, dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan pertimbangan tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan dipilih karena usaha tersebut merupakan salah satu unit usaha dalam Kandang Percobaan milik Program Studi Peternakan dan pengolahannya dengan sistem pengolahan dan manajemen yang dibimbing langsung oleh dosen Peternakan Universitas Sebelas Maret, sehingga perkembangan UKM ini dimasa mendatang memiliki prospek yang baik.
Metode analisis data
Net present value (NPV). Net present value (NPV) adalah selisih bersih antara present value (nilai sekarang) dari benefit (keuntungan) dan present value dari biaya yang besarnya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
Bt = Benefit bruto proyek pada tahun ke –t Ct = Biaya bruto proyek pada tahun ke-t n = Umur ekonomis proyek
i = Tingkat bunga (%) t = Periode per tahun
Apabila dalam perhitungan NPV diperoleh lebih besar dari nol atau positif, maka proyek yang bersangkutan diharapkan menghasilkan tingkat keuntungan, sehingga
layak untuk diteruskan. Jika nilai hasil bersih lebih kecil dari nol atau negatif, maka proyek akan memberikan hasil yang lebih kecil dari pada biaya yang dikeluarkan atau akan merugi (Kadariah, 1999).
Net benefit cost ratio (Net B/C Ratio). Analisis Net B/C bertujuan untuk mengetahui beberapa besarnya keuntungan dibandingkan dengan pengeluaran selama umur ekonomisnya. Nilai mutlak B/C ratio akan berbeda tergantung pada tingkat bunga, semakin tinggi tingkat bunga semakin rendah B/C ratio yang dihasilkan.
Jika tingkat bunga yang dipilih cukup tinggi maka B/C ratio akan kurang dari satu (Ibrahim, 2003). Adapun rumus akan yang dipakai sebagai berikut :
n 1
t t
n 1
t t
i) (1
Bt Ct
i) (1 Βt Ct Β/C
Keterangan:
Bt = Benefit kotor pada tahun ke-t Ct = Biaya kotor pada tahun ke-t i = Tingkat bunga (discount rate) t = Umur ekonomis
Internal rate of return (IRR). Internal rate of return dari suatu investasi adalah suatu nilai tingkat bunga yang menunjukan bahwa nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah seluruh ongkos investasi proyek. menyatakan bahwa cara untuk dapat memperoleh IRR yaitu:
Keterangan:
i1 = Nilai discount Rate NPV pertama i2 = Nilai discount Rate NPV kedua NPV1 = NPV pada tingkat discount rate I NPV2 = NPV pada tingkat discount rate II
Payback period of credit (PPC).
Payback period of credit (PPC) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas. Metode ini merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu usaha. Perhitungan ini diperoleh setiap tahun. Semakin cepat waktu
58 pegembalian maka semakun baik untuk
diusahakan. Menurut Pudjosumarto (2002), PPC dihitung dengan rumus:
tahun b 1
c b n a
PPC
Keterangan:
n = Tahun terakhir dimana jumlah pendapatan masih belum bisa menutup investasi awal a = Jumlah investasi awal b = Jumlah kumulatif pendapatan pada tahun ke – n
c = Jumlah kumulatif pendapatan pada tahun ke n + 1
Analisis break event point (BEP).
Break event point (BEP) merupakan suatu keadaan dimana pendapatan usaha mencapai titik impas, artinya tidak mengalami keuntungan maupun kerugian.
Menghitung break even point yang harus diketahui adalah jumlah total biaya tetap, biaya variabel per unit atau total variabel, hasil penjualan total atau harga jual per unit.
Menurut Riyanto (2001), rumus perhitungan BEP sebagai berikut:
Break even point dalam unit
VC P (unit) FC
BEP
Break even point dalam rupiah VCS 1 (rupiah) FC
BEP
Keterangan :
BEP (unit) = Jumlah unit BEP (rupiah) = Volume penjualan/
penerimaan dalam rupiah
FC = Biaya tetap
P = Harga jual per unit
VC = Biaya variabel per unit / Biaya variable total
S = Penerimaan total
Hasil dan Pembahasan
Jatikuwung Innovation Center (JIC) merupakan unit usaha dalam Kandang Percobaan milik Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian UNS, yang terletak di Desa Jatikuwung Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Unit usaha
tersebut bergerak pada bidang peternakan terutama pada pengolahan limbah kotoran sapi menjadi pupuk kompos yang siap dipakai oleh konsumen. Pengolahan limbah menjadi pupuk kompos sangat memberikan nilai tambah bagi pengolahnya, sehingga diharapkan akan memperoleh manfaat baik dalam segi finansial maupun lingkungan setempat. Limbah yang hanya dibiarkan tanpa ada pengolahan lebih lanjut akan mengakibatkan pencemaran lingkungan.
Kandang Percobaan selain melayani penjualan pupuk kompos juga melayani kegiatan magang mahasiswa/umum, serta program baru yang mulai dirintis perusahaan yakni penjualan pakan konsentrat sapi.
JIC mulai memasarkan produk pupuk di Surakarta dan sekitarnya pada bulan September 2014. Visi berdirinya unit usaha pengolahan pupuk adalah mampu membuka usaha dalam pengolahan limbah peternakan dengan menerapkan sistem zero waste, sedangkan Misi dalam usaha ini yaitu mendukung sistem pertanian terpadu berkelanjutan dalam pengolahan pupuk dan melakukan produksi pupuk dengan professional sehingga mampu meraih penerapan pengolahan limbah peternakan dengan sistem zero waste. Produk pupuk kompos padat yang dijual berupa kemasan sak dan plastik. Pupuk kemasan sak dijual dengan ukuran 20 kg dan pupuk kemasan plastik berukuran 3 kg, produk pupuk kompos tersebut telah dipasarkan di toko bunga maupun toko pertanian di Solo raya.
Aspek ekonomi usaha pengolahan pupuk kompos
Biaya investasi. Biaya investasi yang dikeluarkan dalam pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan dapat dilihat dalam tabel 1.
Biaya paling banyak dikeluarkan dalam biaya investasi adalah biaya pembuatan bangunan instalasi pupuk dsebesar Rp 40.000.000 dan total biaya investasi pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan tersebut sebesar Rp 59.482.309. Pembuatan mesin Hammermill diperlukan karena alat tersebut merupakan peralatan utama dalam proses produksi pupuk yang berfungsi sebagai penggiling feses sebelum dikemas dalam plastik atau sak. Biaya instalasi atau bangunan digunakan untuk pembuatan bangunan yang
59
Tabel 1. Biaya investasi pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan
Uraian Biaya ( Rp)
Biaya pembuatan mesin Hammermill 16.000.000
Biaya pembuatan bangunan Instalasi Pupuk 40.000.000
Biaya Instalasi Listrik 200.000
Biaya Pembelian Peralatan produksi 1.600.000
Alat kantor 1.682.309
Total 59.482.309
Sumber: Data primer terolah, 2016.
Tabel 2. Biaya Tetap pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan
Uraian Jumlah (Rp /tahun)
Penyusutan 5.760.000
Total 5.760.000
Sumber : Data primer, 2016
Tabel 3. Biaya variabel pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan
Uraian Jumlah (Rp /tahun)
Bahan baku ( feses) 14.838.000
Bahan tambahan 1.202.500
Operasional peralatan 4.678.500
Kemasan 7.068.000
Gaji 11.705.000
Lain-lain 3.031.125
Total 42.523.125
Sumber : Data primer, 2016
berguna dalam kenyamanan serta keamanan dalam pengolahan pupuk karena semua peralatan dan proses produksi berada dalam instalasi pupuk tersebut.
Terdapat peralatan lain selain peralatan
utama yang berfungsi untuk mempermudah proses produksi pupuk kompos seperti skop, cangkul, mesin jahit, bronjong besar, alat angkut artcho, ikrak bambu, dan timbangan.
Peralatan lain yang tidak terkait dalam proses produksi pupuk adalah peralatan kantor, peralatan ini digunakan untuk kebutuhan kantor dalam pencatatan semua data keuangan dan penjualan pupuk.
Biaya operasional. Biaya operasional dapat diartikan menjadi biaya tetap dan biaya variabel yang berkaitan dalam proses produksi suatu unit usaha. Biaya tetap adalah biaya dalam jangka pendek tidak mengalami perubahan dan biaya tersebut secara total tidak mengalami perubahan walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Biaya tetap dari pengolahan pupuk kompos di Jatikuwung Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 2.
Hasil penelitian menunjukan dalam setahun mengeluarkan biaya berupa biaya penyusutan sebesar Rp 5.760.000. Biaya penyusutan digunakan sebagai biaya
pengganti peralatan yang sudah tidak layak untuk digunakan lagi dalam produksi pupuk kompos. Perhitungan biaya penyustan ini menggunakan metode garis lurus/ straight- line method, dimana nilai penyusutan dibebankan secara merata setiap tahunnya.
Biaya variabel adalah biaya dalam jangka pendek berubah karena perubahan volume produksi atau penjualan dalam suatu usaha. Biaya variabel dari pengolahan pupuk kompos di Jatikuwung Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 3.
Hasil penelitian biaya variabel menunjukan bahan baku (feses) berada diurutan biaya tertinggi dalam tahun pertama sebesar Rp 14.838.000 dan total pengeluaran biaya variabel pada tahun sebesar Rp 42.523.125. Biaya bahan baku (feses) digunakan untuk membeli feses yang berasal dari dalam kandang Jatikuwung dan
60 feses tambahan yang berasal dari luar
kandang Jatikuwung. Feses tambahan tersebut diperlukan karena terjadi kekurangan bahan baku feses dari kandang Jatikuwung saat terjadi proses produksi pengolahan pupuk kompos. Feses tambahan berasal dari daerah Plesungan dan Sragen dengan total pembelian 27,7 ton.
Biaya bahan tambahan pada penelitian ini digunakan dalam bahan tambahan proses produksi yaitu stardec dan dolomit, yang membantu keberhasilan proses pengomposan. Biaya operasional peralatan dalam penelitian ini adalah solar, oli, transport, dan benang. Biaya operasional peralatan diartikan sebagai biaya dalam proses produksi dimana digunakan untuk bahan penggerak mesin dalam produksi atau pengemasan dan penanganan dalam distribusi.
Biaya kemasan digunakan sebagai pembelian kemasan pupuk yang berupa kemasan plastik dan kemasan sak, selain itu juga digunakan sebagai pembuatan sablon kemasan untuk identitas brand pupuk
“Rojokoyo” produksi Jatikuwung Inovation Center (JIC). Tenaga kerja dalam pengolahan pupuk kompos ini berasal dari tim JIC yang berjumlah 9 orang, dengan gaji setiap anggota tim JIC berbeda beda setiap orangnnya tergantung dengan tingkat kehadirannya. Biaya lain-lain dalam penelitian ini digunakan untuk biaya konsumsi setelah melakukan proses produksi, biaya lain saat terjadi masalah pada pengiriman/ transport, biaya pembelian alat tulis kantor, serta untuk melakukan uji lab untuk menghasilkan data kandungan dan kualitas pupuk kompos yang dapat digunakan pada label kemasan sebagai penarik pembeli/konsumen.
Penerimaan. Penerimaan merupakan hasil perkalian dari harga produk yang bersangkutan dengan jumlah produksi total.
Produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah pupuk kompos padat yang dikemas menjadi dua kemasan dengan berat yang berbeda yaitu kemasan plastik 3 kg dan kemasan sak 20 kg. Penerimaan dari pengolahan pupuk kompos di Jatikuwung Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 4.
Hasil penerimaan dalam penelitian ini diperoleh dari penerimaan pupuk kompos kemasan plastik 3 kg, pupuk kompos kemasan sak 20 kg, nilai sisa kandang dan nilai sisa mesin/peralatan. Penerimaan terbesar dalam tahun pertama adalah penerimaan pupuk kompos kemasan sak sebesar Rp 45.360.000 dan dan total dari penerimaan tahun pertama sebesar Rp 62.048.000. Nilai sisa bangunan dan mesin merupakan nilai akhir setelah digunakan dalam proses produksi selama 5 tahun.
Pendapatan. Pendapatan dari pengolahan pupuk kompos di Jatikuwung Innovation Center merupakan hasil selisih antar penerimaan yang diperoleh dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi. Pendapatan dari pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan dapat dilihat pada tabel 5.
Total penerimaan usaha pengolahan pupuk kompos ini diperoleh dari hasil produksi penjualan pupuk kompos padat
kemasan plastik 3 Kg , kemasan sak 20 Kg dan nilai sisa kandang. Total biaya yang dikeluarkan adalah biaya variabel yang dikeluarkan selama masa produksi berlangsung. Pendapatan yang diperoleh dari usaha pengolahan pupuk kompos adalah sebesar Rp 13.764.875.
Analisis finansial usaha pengolahan pupuk kompos
Analisis finansial yang dilakukan pada pengolahan pupuk kompos di Desa Jatikuwung Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar sangat penting dilakukan karena dapat dijadikan sebagai bahan acuan usaha apakah investasi yang diberikan menguntungkan atau tidak dilihat dari aspek finansial dan dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Analisis finansial dapat menggunakan kriteria dari perhitungan seperti Benefit cost ratio (BCR), Net present value (NPV), Internal rate of return (IRR), dan Payback period of credit (PPC) (Nurmalina, 2009).
Besarnya nilai kriteria analisis finansial pada pengolahan pupuk kompos di Desa Jatikuwung Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 6.
Net present value (NPV) dari hasil analisis perhitungan diperoleh sebesar Rp 3.719.059,41. Menurut Ibrahim (2003) NPV adalah kriteria dari perhitungan aspek finansial yang banyak digunakan dalam
61
Tabel 4. Penerimaaan pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan
Uraian Jumlah (Rp /tahun)
Pupuk kemasan plastik 11.088.000
Pupuk kemasan Sak 45,360,000
Nilai sisa bangunan 4.000.000
Nilai sisa mesin 1.600.000
Total 62.048.000
Sumber : Data primer terolah, 2016.
Tabel 5. Pendapatan pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan.
Uraian Jumlah (Rp /tahun)
Total Penerimaan Total Biaya Tetap
62.048.000 5.760.000
Total Biaya Variabel 42.523.125
Pendapatan 13.764.875
Sumber: Data primer terolah, 2016.
Tabel 6. Hasil analisis investasi usaha pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan
Uraian Hasil
Benefit cost ratio (BCR) 1,23
Net present value (NPV)(Rp.) 13.719.059,41
Internal rate of return (IRR)(%) 19,39
Payback period of credit (PPC) 3,83
Sumber : Data primer, 2016
Tabel 7. Break Even Point (BEP) dalam usaha pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan
Uraian Jumlah
Biaya tetap 5.760.000
Biaya variabel 49.326.825
Penerimaan 65.479.680
BEP penjualan pupuk 23.349.615,71
BEP unit pupuk kemasan plastik 4.111
BEP unit pupuk kemasan sak 613
Sumber : Data primer terolah, 2016
mengukur apakah suatu usaha feasible atau tidak. Apabila hasil perhitungan NPV lebih besar dari 0 (nol), dikatakan usaha tersebut layak untuk dilaksanakan dan jika lebih kecil dari 0 (nol) tidak layak untuk dilaksanakan.
Hasil perhitungan NPV dalam penelitian ini sebesar Rp 3.719.059,41 sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha layak dilakasanakan.
Internal rate of return (IRR) dari hasil analisis perhitungan diperoleh sebesar 19,39
%. IRR adalah suatu tingkat discount rate yang menghasilkan net present value sama dengan 0 (nol). Menurut Kasmir dan Jakfar (2003) jika IRR lebih besar (>) dari bunga pinjaman maka diterima/layak, jika IRR lebih kecil (<) dari bunga pinjaman maka ditolak/
tidak layak. Hasil perhitungan IRR dalam
62 penelitian ini sebesar 19,39 %, sehingga
dapat dikatakan bahwa usaha yang didirikan layak dilihat dari kriteria IRR.
Benefit cost ratio (BCR) dari hasil analisis perhitungan diperoleh sebesar 1,23.
BCR adalah merupakan perbandingan antara net benefit yang telah di discount positif (+) dengan net benefit yang telah di discount negatif (-). Menurut Ibrahim (2003) jika nilai BCR lebih besar dari 1 (satu) berarti gagasan usaha tersebut layak untuk dikerjakan dan jika lebih kecil dari 1 (satu) berarti tidak layak untuk dikerjakan. BCR sama dengan 1 (satu) berarti cash in flows sama dengan cash out flows, dalam present value disebut dengan break even point (BEP) yaitu total cost sama dengan total revenue. Hasil perhitungan BCR dalam penelitian ini menunjukkan lebih besar dari 1 (satu) sehingga usaha layak dijalankan dilihat dari kriteria BCR.
Payback period of credit (PPC) dari hasil analisis perhitungan diperoleh sebesar 3,83 tahun. PPC dalam kelayakan suatu usaha perlu juga ditampilkan untuk mengetahui beberapa lama usaha yang dekerjakan tersebut mampu mengembalikan investasi yang telah diberikan pada usaha tersebut. PPC yang baik harusnya semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi dari usaha yang dikerjakan, karena jika terlalu lama maka akan berujung pada kerugian pada suatu usaha tersebut.
Break even point (BEP) dalam usaha pengolahan pupuk kompos
Komponen penentu dalam analisis break even adalah harga jual dan biaya, baik biaya variabel maupun biaya tetap. Manfaat dari analisis break even adalah membantu dalam penetapan harga per unit.
Perhitungan BEP dapat dilihat pada tabel 7.
Break even point (BEP) adalah titik pulang pokok dimana total revenue sama dengan total cost atau dengan kata lain BEP diperoleh pada saat penerimaan sama dengan pengeluaran. Berdasarkan hasil perhitungan BEP penjualan didapatkan sebesar Rp 23.349.615,71. BEP penjualan tersebut menunjukkan bahwa penjualan pupuk kompos tidak mengalami laba dan rugi jika penjualan sebesar Rp 23.349.615,71. Apabila penjualan perusahaan kurang dari BEP maka perusahaan akan mengalami kerugian dan
sebaliknya jika penjualan melebihi BEP maka perusahaan akan mendapatkan laba.
BEP dalam unit dibedakan menjadi dua yaitu BEP unit pupuk kemasan plastik 3 kg sebesar 4.111 dan BEP unit pupuk kemasan sak 20 kg sebesar 613, artinya produksi per unit harus lebih besar dari 4.111 dalam kemasan plastik 3 kg dan 613 dalam kemasan sak 20 kg untuk memperoleh laba.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari investasi UKM pengolahan pupuk pada Kandang Percobaan diperoleh kesimpulan:
1. Usaha kecil menengah usaha pengolahan pupuk kompos di Kandang Percobaan layak untuk diusahankan yaitu dengan nilai NPV, BCR, dan IRR sebesar Rp 13.719.059,41; 1,23; dan 19,39 % serta nilai PPC sebesar 3,83 tahun 2. Penerimaan penjualan pupuk kompos di
Jatikuwung Innovation Center akan mengalami keadaan Break Even Point sebesar Rp 23.349.615,71. Produksi per unit pupuk kompos dalam kemasan plastik 3 Kg dan kemasan sak 20 Kg berada pada keadaan Break Even Point saat produksi sebesar 4.111 dalam kemasan plastik 3 Kg dan 613 dalam kemasan sak 20 Kg.
Daftar Pustaka
Hartatik, W. dan D. Setyorini. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber daya Lahan Pertanian. Bogor.
Ibrahim, Y. 2003. Studi kelayakan Bisnis.
Rineka Cipta. Jakarta.
Kadariah. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek.
Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Kasmir dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Kencana. Jakarta.
Nitisemito, A.S. dan U. Burhan. 1995.
Wawasan Studi Kelayakan dan Evaluasi Proyek. Bumi Aksara.
Jakarta.
Nurmalina, R. 2009. Studi Kelayakan Bisnis.
Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor. Bogor.
63
Pudjosumarto, M. 2002. Evaluasi Proyek Uraian Singkat dan Soal Jawab. Edisi Kedua. Liberty. Yogyakarta.
Riyanto, B. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat. BPFE. Yogyakarta.
Sugiyono. 2001. Perilaku Pembelian Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Rosda. Bandung.