• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPATUHAN WAJIB PAJAK PASCA AMNESTI PAJAK 2016: STUDI KASUS WAJIB PAJAK DI JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEPATUHAN WAJIB PAJAK PASCA AMNESTI PAJAK 2016: STUDI KASUS WAJIB PAJAK DI JAKARTA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Arif Nugrahanto1), SalamunMathla’ilFajri2)

1Program Studi DIV Manajemen Aset Publik, Politeknik Keuangan Negara STAN

2Program Studi DIII Pajak, Politeknik Keuangan Negara STAN

1email: [email protected]

2email: [email protected]

Abstrack

One of the objectives of the 2016 Tax Amnesty Program is to improve taxpayer compliance. A sound and increasing tax compliance will ensure the national budget for development. Thus, tax compliance should be a major concern for the government, especially the tax authorities. By using qualitative research methods and content analysis approach, this study describes the tax compliance after the implementation of the 2016 tax amnesty program. To do so, We use secondary data from tax office in Jakarta. The findings indicate that the tax compliance, both individuals and corporates, tends to be improving. This situation shows that efforts of tax authority to improve the compliance through 'exceptional’ programs need to be seriously considered as one of strategies among the tax compliance programs.

Keywords: tax compliance, tax amnesty, individual tax payer, corporate taxpayer, content analysis approach.

1. PENDAHULUAN

Pajak menjadi sumber penerimaan negara yang paling besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Menurut data dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, penerimaan pajak menjadi kontributor terbesar pendapatan nasional pada APBN. Tahun 2018, penerimaan pajak memberikan kontribusi sekitar 75% dari total pendapatan nasional (Nota Keuangan dan APBN Tahun 2016-2019; 2019). Menurut OECD (2018), kontribusi ini masih sedikit di bawah Amerika Serikat yang mencapai 76%, namun masih sangat jauh dibandingkan dengan Denmark dan Australia yang masing-masing mencapai 99% dan 100%.

Potensi pajak di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, tax ratio Indonesia pada tahun 2018 masih pada level 11.6% dan diharapkan akan meningkat menjadi 12.2% pada tahun 2019.

Dengan level ini, memunjukkan bahwa masih terdapat postensi yang luar bisa besar mengingat rata-rata tax ratio pada negara- negara se-kawasan berada pada kisaran 14%

(malaysia) bahkan ada yang mencapai 20%

(Singapura). Bila dibandingkan dengan negara- negara maju, situasi Indonesia terlalu jauh untuk dibandingkan. Menurut OECD (2018), rasio pajak negara-negara Asia dan

Pasifik ini masih di bawah rerata rasio pajak negara-negara OECD yang mencapai 34% Produk Domestik Bruto.

Lebih lanjut, berdasarkan data BPS, saat ini Indonesia memiliki penduduk sebanyak 261 juta orang dengan 124 juta diantaranya berada dalam kategori usia produktif. Namun demikian, hanya 10,1 juta orang yang terdaftar sebagai pembayar pajak dan membayar pajak secara teratur (Direktorat Jenderal Pajak, 2017).

Fakta di atas menunjukkan bahwa masih terdapat gap yang sangat signifikan antara realisasi penerimaan pajak dengan potensi pajak.

Untuk menutup gap penerimaan tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak melakukan berbagai jenis terobosan di bidang perpajakan, salah satunya yang paling signifikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah kebijakan amnesti pajak (tax amnesty).

Melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak (UU Pengampunan Pajak), pemerintah memberikan kesempatan bagi Wajib Pajak untuk mendeklarasikan hartanya, tanpa perlu khawatir akan adanya sanksi perpajakan.

(2)

Menteri Keuangan1 mengungkapkan bahwa terdapat empat hal yang hendak dicapai oleh pemerintah dengan adanya tax amnesty, yaitu repatriasi dana Warga Negara Indonesia yang ada di luar negeri, meningkatkan pertumbuhan nasional, meningkatkan basis perpajakan nasional, untuk meningkatkan penerimaan pajak.

Pernyataan Menteri Keuangan tersebut diperkuat dalam konsideran UU Pengampunan Pajak yang menyebutkan bahwa latar belakang lahirnya tax amnesty antara lain adalah pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memerlukan pendanaan besar yang bersumber utama dari penerimaan pajak. Dan untuk meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi serta kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan, perlu diperlukan kebijakan tentang tax amnesty.

Tujuan pertama dari tax amnesty, yaitu meningkatkan penerimaan negara, dapat diketahui dengan relatif mudah. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Kementerian Keuangan, diketahui bahwa terdapat 965.983 Wajib Pajak yang mengikuti program tax amnesty yang dilaksanakan sejak Juli 2016 sampai dengan 31 Maret 2017. Dari sejumlah Wajib Pajak tersebut, total aset yang dideklarasikan senilai Rp4,865 triliun (sekitar USD $366 miliar). Total aset yang dideklarasikan ini melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp4.000 triliun.

Namun total uang tebusan yang disetorkan ke kas negara hanya mencapai Rp114 trilyun atau 70% dari target yang ditetapkan oleh pemerintah. Masih dibawah target, namun dibandingkan dengan beberapa negara yang pernah melaksanakan kebijakan tax amnesty, capaian ini menurut Ibrahim, Myrna, Irawati, and Kristiadi (2017), termasuk yang paling berhasil di dunia.

Namun, dari tujuan tax amnesty lainnya masih sulit untuk dijawab. Salah satunya adalah dalam kaitannya dengan peningkatan kesadaran dan kepatuhan Wajib Pajak. Isu ini menjadi penting karena dengan sistem self-asessment, kepatuhan Wajib Pajak (khususnya kepatuhan sukarela) menjadi faktor yang paling

1 Muhammad Idris, 4 Tujuan Pemerintah Ingin Terapkan Tax amnesty, detikFinance, Selasa, 12 April 2016. https://finance.detik.com/berita- ekonomi-bisnis/d-3186301

menentukan terkumpulnya penerimaan pajak.

Berdasarkan Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Pajak (2017) rasio kepatuhan dalam penyampaian SPT Tahunan PPh tahun 2017 baru mencapai 61.66% untuk orang pribadi non karyawan dan 65.32% untuk Wajib Pajak badan. Rasio ini masih jauh dari rata-rata negara OECD yang mencapai 85% dari total Wajib Pajak yang terdaftar.2

Berdasarkan hal-hal di atas, penelitian ini berusaha untuk mengetahui kepatuhan wajib pajak pasca pemberlakuan Program Amnesti Pajak Tahun 2016. Dalam penelitian ini, Jakarta dipilih menjadi salah satu sampel penelitian karena lebih dari 60% penerimaan pajak nasional berasal dari wilayah Jakarta. Dan wilayah yang dipilih adalah suatu KPP yang memiliki wajib yang beragam kegiatan ekonominya.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam menambah literatur mengenai amnesti pajak, khususnya yang terkait dengan kepatuhan wajib pajak, baik orang pribadi maupun badan, serta penerapan amnesti pajak di Indonesia. Lebih lanjut, penelitian ini dapat digunakan oleh otoritas pajak untuk memahami lebih dalam tentang situasi wajib pajak atas implementasi Program Amnesti Pajak 2016.

2. KAJIAN LITERATUR

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan mendefinisikan pajak sebagai kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan definisi ini, maka unsur- unsur pokok pajak antara lain bahwa pajak merupakan suatu kontribusi dalam bentuk pungutan/iuran dari rakyat kepada negara melalui pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang melalui perumusan macam, jenis, dan tarif pajak, adanya pemberian kewenangan untuk memaksa masyarakat untuk

2 Edi Suwiknyo, Pajak Internasional: Kepatuhan Global Naik, Bagaimana dengan Indonesia?

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190612/259/933 010/pajak-internasional-kepatuhan-global-naik- bagaimana-dengan-indonesia

(3)

membayar pajak melalui undang-undang, tidak adanya kontraprestasi secara langsung bagi para pembayar pajak, dan tujuan dari pajak adalah untuk kesejahteraan rakyat.

Dalam kaitannya dengan pajak, kepatuhan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Menurut Norman D. Nowak (dikutip dalam Rahayu, 2013), kepatuhan wajib pajak merupakan suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan yang tercermin dalam situasi antara lain Wajib pajak memahami ataupun berusaha untuk memahami sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Wajib Pajak mengisi formulir pelaporan pajak secara lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak yang terutang secara benar dan tepat, dan tepat waktu dalam membayar pajak yang terutang.

Lebih lanjut, Gunadi (2013) menjelaskan bahwa kepatuhan wajib pajak merupakan situasi dimana wajib pajak bersedia memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, penyidikan, peringatan, atau ancaman secara menyeluruh, serta tanpa adanya pengenaan sanksi hukum dan administratif terhadap wajib pajak.

Dalam beberapa literatur tentang kepatuhan pajak, para peneliti umumnya membagi kepatuhan pajak dalam dua perspektif, yaitu kepatuhan pajak formal dan kepatuhan pajak material. Rahayu (2013) menyatakan bahwa kepatuhan formal merupakan suatu keadaan yang terjadi ketika wajib pajak telah memenuhi kewajiban perpajakan secara formal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Kepatuhan formal wajib pajak dalam hal pembayaran pajak dapat dilihat dari aspek kesadaran wajib pajak dalam mendaftarkan diri, membayar pajak tepat waktu, serta melaporkan pembayaran pajak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Kepatuhan dalam menyampaikan SPT, termasuk dalam pengertian kepatuhan formal.

Hal yang senada dikemukan oleh Widi Widodo (2010) yang menyatakan bahwa kepatuhan pajak formal adalah hal-hal yang dapat diidentifikasikan sebagai kewajiban perpajakan wajib pajak berdasarkan Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan antara lain terkait pendaftaran dan pengukuhan wajib pajak, kewajiban menyampaikan SPT,

batas waktu penyampaian SPT, serta pembayaran dan penyetoran pajak.

Apabila kepatuhan formal mengacu pada hal-hal yang bersifat formalistik maka kepatuhan pajak material biasanya mengacu pada substansi. Kepatuhan pajak material merupakan suatu kondisi ketika wajib pajak secara substantif atau pada hakikatnya telah memenuhi segala ketentuan material perpajakan, yaitu ketentuan yang sesuai dengan isi dan jiwa undang-undang perpajakan.

Kepatuhan material juga dapat meliputi kepatuhan formal (Rahayu, 2013). Dengan kata lain, wajib pajak dapat digolongkan sebagai wajib pajak yang patuh secara material apabila wajib pajak yang melakukan pengisian SPT dengan jujur, benar, dan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Pengertian yang relatif sama juga dikemukakan oleh Widi Widodo (2010) bahwa kepatuhan pajak material sebagai kesesuaian jumlah kewajiban perpajakan yang harus dibayar berdasarkan perhitungan yang sebenarnya.

Selanjutnya, dalam praktik pemungutan pajak yang dilakukan oleh otoritas pajak, tidak semua wajib pajak dapat mematuhi ketentuan perpajakan secara memadai, baik secara formal maupun material. Mengingat pajak memiliki sifat memaksa maka situasi ini mengakibatkan munculnya beban tambahan bagi wajib pajak. Selain terbebani jumlah pokok pajaknya, wajib pajak juga harus membayar sanksi perpajakan sebagai tambahan beban pajaknya. Situasi seperti ini memicu munculnya upaya penghindaran pajak.

Meskipun otoritas pajak memiliki berbagai instrumen ‘pemaksa’ seperti pemeriksaan dan penyidikan pajak, namun perilaku penghindaran pajak tetap terjadi. Diperlukan terobosan-terobosan kebijakan pajak yang tidak biasa (extraordinary) untuk memutus mata rantai upaya penghindaran pajak. Salah satunya adalah dengan melakukan pengampunan pajak atau amnesti pajak. Sebagaimana dijelaskan oleh Ardyanto Fitrady (2016) bahwa “tax amnesty is an invitation to tax evaders to report their taxable wealth to the government.”

John (2004) menjelaskan bahwa amnesti pajak merupakan kebijakan pemerintah di bidang perpajakan yang memberikan penghapusan pajak yang seharusnya terutang dengan membayar tebusan dalam jumlah tertentu yang bertujuan untuk memberikan

(4)

tambahan penerimaan pajak dan kesempatan bagi wajib pajak yang tidak patuh (tax evaders) menjadi wajib pajak yang patuh (honest taxpayers) sehingga diharapkan akan mendorong peningkatan kepatuhan sukarela wajib pajak di masa yang akan datang.

Pendapat yang senada dikemukan oleh Devano & Rahayu (2006). Menurut mereka, amnesti pajak adalah kebijakan pemerintah di bidang perpajakan yang memberikan penghapusan pajak yang seharusnya terutang dengan membayar tebusan dalam jumlah tertentu yang bertujuan untuk memberikan tambahan penerimaan pajak dan kesempatan bagi wajib pajak yang tidak patuh menjadi wajib pajak patuh.

Kedua pendapat di atas memberikan titik tekan pada tujuan akhir dari amnesti pajak, yaitu mendorong kepatuhan wajib pajak. Hal ini juga dikemukakan oleh Muttaqin (2013) yang mengatakan bahwa amnesti pajak merupakan pemberian fasilitas perpajakan berupa pembebasan dalam periode atau tenggang waktu tertentu dari pengenaan, pemeriksaan, pengusutan, dan penuntutan atas harta kekayaan atau penghasilan yang sebelumnya tidak atau belum sepenuhnya dikenakan pajak yang dilandasi oleh adanya pengakuan kesalahan dari Wajib Pajak dengan menyesali kesalahan tersebut dan janji tidak akan mengulangi kesalahan.

Selanjutnya pemerintah, melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, mendefinisikan pengampunan pajak sebagai suatu program penghapusan pajak yang seharusnya terutang dengan tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan melalui pengungkapan harta dan pembayaran uang tebusan.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa amnesti pajak merupakan fasilitas penghapusan pajak dengan tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, yang diberikan kepada wajib pajak dengan kompensasi berupa pengungkapan harta dan pembayaran uang tebusan, yang diinisiasi oleh pemerintah supaya wajib pajak tidak lagi mengulangi kesalahannya di masa yang akan datang atau menajdi wajib pajak yang patuh.

Terkait dengan amnesti pajak, melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, pemerintah meluncurkan program amnesti pajak. Ketentuan tersebut

mengatur bahwa masyarakat yang mengikuti program ini hanya perlu mengungkap (mendeklarasikan) harta yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan dalam SPT dan membayar tebusan sebagai kompensasi atas atas harta yang selama ini tidak pernah dilaporkan.

Dalam rilis resmi laman Kementerian Keuangan (2015), program amnesti pajak ini memiliki beberapa tujuan dan manfaat, antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Melalui repatriasi harta wajib pajak yang berada di luar negeri, diharapkan terjadi peningkatan likuiditas domestik yang dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan penurunan tingkat suku bunga. Pada akhirnya situasi ini akan mendorong peningkatan investasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Tujuan berikutnya adalah perluasan basis data perpajakan dan penerimaan pajak.

Melalui program amnesti pajak diharapkan terjadi perbaikan data wajib pajak dan masuknya uang tebusan sebagai sumber penerimaan pajak.

Dan tujuan final dari amnesti pajak 2016 adalah dengan adanya pengakuan maka diharapkan kepatuhan pajak akan meningkat sehingga penerimaan pajak dapat meningkat.

Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian yang terkait dengan amnesti pajak 2016 masih belum conclusive. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa amnesti pajak 2016 tidak serta-merta meningkatkan kepatuhan pajak. Misalnya hasil penelitian para peneliti di bawah ini.

Suyanto, S., & Putri, I. S. (2017) yang meneliti tentang persepsi wajib pajak tentang amnesti pajak terhadap kepatuhan pajak menunjukkan bahwa adanya amnesti pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Penelitian yang dilaksanakan di wilayah Yogyakarta (Kabupaten Gunung Kidul) ini menggunakan 100 wajib pajak dengan metode convenience sampling.

Alasan mengapa amnesti pajak tidak mempengaruhi kepatuhan sebagaimana penelitian Suyanto, S., & Putri, I. S. (2017) di atas dapat dijelaskan melalui penelitian Tri Prasetyo Rahman Rosyadi (2018) dalam penelitiannya yang berjudul “Mengungkap Kepatuhan Wajib Pajak Pasca Tax amnesty”.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa amnesti pajak 2016 tidak secara otomatis meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Bahkan peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara

(5)

amnesti pajak dengan wajib pajak patuh.

Penelitian dengan pendekatan fenomologi transendental ini mengungkap bahwa keikutsertaan wajib pajak dalam program amnesti pajak lebih disebabkan semata-mata karena katakutan, bukan karena kepatuhan.

Padel, M., Zamzam, F., & Istianda, M.

(2021) memperkuat temuan Suyanto, S., &

Putri, I. S. (2017) dan Prasetyo Rahman Rosyadi (2018). Dengan pendekatan kualitatif dengan memperhatikan data SPT tahun 2014 hingga 2017, Padel menemukan bahwa program amnesti pajak belum berhasil meningkatkan kepatuhan formal wajib pajak.

Bila penelitian-penelitian di atas berkesimpulan bahwa amnesti pajak tidak mempengaruhi kepatuhan, maka penelitian- penelitian berikut mengungkap temuan yang berbeda.

Hutasoit (2017) yang meneliti pengaruh amnesti pajak terhadap variable- variabel kemauan membayar pajak mengungkapkan bahwa kebijakan amnesti pajak berpengaruh terhadap kesadaran membayar pajak. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda ini menggunakan data hasil survei 101 responden di Kota Palembang dengan teknik convinience sampling.

Dengan menggunakan metode paired-t test dengan 100 responden melalui kuesioner dengan skala likert di Jepara, Subadriyah, S., &

Aliyah, S. (2018) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan kepatuhan wajib pajak pada periode sebelum dan setelah program amnesti pajak. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan wajib pajak, meskipun masih sangat rendah.

Ardayani (2019) juga menemukan hal yang sama dengan Hutasoit (2017) dan Subadriyah, S., & Aliyah, S. (2018). Penelitian yang dilakukan dengan melakukan survei kepada 100 wajib pajak orang pribadi di Denpasar menemukan bahwa amnesti pajak dan kondisi keuangan wajib pajak berpengaruh positif pada tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

Berdasarkan review atas penelitian- penelitian di atas, maka dapat diketahui bahwa hubungan antara amnesti pajak dan kepatuhan masih berbeda-beda. Penelitian ini selanjutnya berusaha untuk mengisi gap ini dengan menghadirkan penggunaan data sekunder dari kantor pajak di Jakarta.

3. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis). Analisis isi merupakan interpretasi dari apa yang terkandung dalam suatu konten dan serangkaian prosedur yang digunakan untuk mengubah informasi yang berbentuk diskret ke dalam suatu bentuk yang terorganisasi yang memungkinkan peneliti untuk mendapatkan suatu simpulan dari suatu informasi (Parveen & Showkat, 2017). Tujuan penggunaan analisis isi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kepatuhan wajib pajak pasca diterapkannya Program Amnesti Pajak Tahun 2016.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, berupa data agregat kepatuhan pelaporan SPT wajib pajak, baik orang pribadi maupun badan, yang berasal dari salah satu kantor pajak di wilayah Jakarta. Data yang digunakan adalah data tahun 2016 hingga 2019.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dengan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data dari salah satu kantor pajak di Jakarta. Data yang diperoleh antara lain data jumlah wajib pajak yang terdaftar pada kantor pajak, jumlah wajib pajak yang memiliki kewajiban untuk melaporkan SPT, dan data jumlah SPT yang dilaporkan. Data tersebut mencakup data wajib pajak orang pribadi dan wajib pajak badan tahun 2016 hingga 2020.

Berdasarkan analisis, terdapat kecenderungan peningkatan jumlah wajib pajak setelah tahun 2016. Data berikut ini menggambarkan situasi tersebut.

Tabel 1. Jumlah Wajib Pajak Terdaftar pada Kantor Pajak di Jakarta

Tahun Orang

Pribadi Badan Total 2016 56.563 6.402 62.965 2017 61.626 6.638 68.264 2018 64.869 6.910 71.779 2019 72.585 7.648 80.233 2020 79.546 9.761 89.307 Sumber: Diolah dari Data pada Seksi Penjamin Kualitas Data

Berdasarkan data di atas, terdapat pertumbuhan jumlah wajib pajak, baik orang pribadi maupun badan dalam kurun waktu 2016 hingga 2020.

Rata-rata terjadi pertumbuhan jumlah wajib

(6)

pajak sekitar 5% hingga 12% untuk wajib pajak orang pribadi.

Sedangkan untuk wajib pajak badan, rata-rata pertumbuhan jumlahnya mengalami peningkatan sebesar 4% hingga 29% dengan catatan pertumbuhan tertinggi dicapai pada tahun 2020.

Kenaikan jumlah wajib pajak pasca amnesti pajak tidak hanya terlihat dari jumlah wajib pajak yang meningkat. Jumlah SPT yang disampaikan pun mengalami peningkatan. Data berikut ini menyajikan adanya peningkatan tersebut.

Tabel 2. Jumlah SPT yang Disampaikan pada Kantor Pajak di Jakarta

Tahun SPT OP SPT Badan Total 2016 20.763 1.692 22.455 2017 20.929 1.990 22.919 2018 22.295 1.991 24.286 2019 25.899 2.947 28.846 2020 30.959 2.100 33.059 Sumber: Diolah dari Data pada Seksi Penjamin Kualitas Data

Berdasarkan data di atas, terlihat adanya tren kenaikan jumlah SPT yang disampaikan oleh wajib pajak, khususnya wajib pajak orang pribadi. Rata-rata pertumbuhan jumlah SPT PPh orang pribadi mengalami kenaikan sebesar 0,8% hingga 19,5%. Sedangkan untuk wajib pajak badan, secara umum terdapat tren positif hingga tahun 2019 namun mengalami penurunan jumlah SPT PPh Badan yang disampaikan pada tahun 2020. Adanya pandemi covid-19 yang berlangsung sejak akhir 2019 hingga 2020 kemungkinan yang menyebabkan adanya penurunan ini. Sebagaimana kita tahu bahwa akibat pandemi tersebut, ekonomi Indonesia sempat mengalami penurunan tajam hingga -5,32% pada tahun 2020.

Selanjutnya, terkait dengan tingkat kepatuhan pajak, penelitian ini menggunakan kepatuhan formal, dengan menggunakan proxy berupa persentase jumlah SPT yang disampaikan wajib pajak terhadap total jumlah wajib pajak yang diwajibkan oleh otoritas pajak untuk melaporkan SPT. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, terdapat kecenderungan peningkatan kepatuhan, baik untuk wajib pajak orang pribadi maupun wajib pajak badan. Data berikut ini menggambarkan situasi tersebut.

Tabel 3. Rasio Kepatuhan Pajak pada Kantor Pajak di Jakarta

Tahun

Rasio Kepatuhan

WP OP

Rasio Kepatuhan WP Badan

Target

2016 65% 67% 75%

2017 72% 85% 78%

2018 74% 70% 78%

2019 84% 101% 80%

2020 83% 60% 80%

Sumber: Diolah oleh Peneliti

Tabel di atas memberikan informasi mengenai tingkat kepatuhan pajak (formal) seluruh wajib pajak pada salah satu kantor pajak di Jakarta. Untuk wajib pajak orang pribadi, rasio kepatuhannya berkisar dalam rentang 65% hingga 84%. Tepat pasca amnesti pajak, rasio kepatuhan hanya berada pada tingkat 65% namun situasi ini meningkat menjadi 72% hingga 84% pada tahun-tahun berikutnya.

Sama halnya dengan situasi wajib pajak orang pribadi, SPT PPh badan yang disampaikan oleh wajib pajak badan juga menunjukkan tren peningkatan, kecuali pada tahun 2020. Bila pada 2016 rasio kepatuhan hanya 65%, persentase ini meningkat hingga 101% pada tahun 2019, meskipun mengalami penurunan yang cukup dalam hingga menjadi 60% pada 2020. Penurunan ini sepertinya terkait dengan adanya pandemi covid-19.

Hal yang menarik adalah adanya rasio kepatuhan pajak wajib pajak badan pada tahun 2019 yang mencapai hingga 101%. Penjelasan atas fenomena ini adalah adanya wajib pajak badan yang berstatus wajib pajak non efektif (tidak diwajibkan untuk melaporkan SPT) namun secara sukarela tetap menyampaikan SPT-nya. Hal ini bisa jadi merupakan indikasi adanya perbaikan profil ekonomi karena membaiknya situasi dan kondisi ekonomi, atau munculnya kesadaran untuk mematuhi ketentuan perpajakan.

Namun, kenaikan rasio kepatuhan pajak yang ditunjukkan pada Tabel 3 tersebut ternyata belum memenuhi seluruh target yang ditetapkan oleh otoritas pajak (target ini termuat dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-18/PJ/2015, SE-07/PJ/2016, dan SE-06/PJ/2017 tentang Strategi Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak dan Penetapan Target Rasio Kepatuhan Wajib Pajak.). Sebagai contoh pada tahun 2016, otoritas pajak

(7)

menargetkan rasio kepatuhan berada pada tingkat 75%. Realitasnya, rasio kepatuhan pajak hanya mencapai 65% untuk wajib pajak orang pribadi dan 67% untuk wajib pajak badan. Situasi yang sama terjadi pada tahun 2017 dan 2019.

Hal yang berbeda terjadi pada tahun 2019 dan 2020. Dalam dua tahun terakhir ini rasio kepatuhan pajak melebihi ekspektasi dan target yang ditetapkan oleh otoritas pajak. Target sebesar 80% mampu dilampaui hingga mencapai lebih dari 100%. Bahkan untuk tahun 2019 dapat mencapai 127% dari target yang ditetapkan, khusunya untuk wajib pajak badan.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, penelitian ini menemukan bahwa pasca program amnesti pajak yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2016, kepatuhan pajak, baik orang pribadi maupun badan, menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Peningkatan kepatuhan tersebut dapat tergambar dari adanya penambahan jumlah wajib pajak yang terdaftar maupun yang diwajibkan untuk melaporkan SPT dan peningkatan rasio kepatuhan penyampaian SPT. Bahkan dalam dua tahun terakhir, rasio kepatuhan pajak mampu memenuhi target yang ditetapkan, kecuali untuk rasio kepatuhan pajak wajib pajak badan tahun 2020 yang mengalami penurunan cukup serius yang kemungkinan besar diakibatkan oleh adanya pandemi covid-19.

Lebih lanjut, situasi ini menunjukkan bahwa adanya suatu program pemerintah yang

‘tidak biasa’ atau tidak reguler, seperti amnesti pajak, ternyata mampu menaikkan kepatuhan pajak secara konsisten. Ke depannya, program- program yang tidak rutin seperti ini perlu dipertimbangkan secara serius dan lebih sistematis untuk mendorong kepatuhan pajak dan menjadikannya sebagai strategi peningkatan kepatuhan pajak.

Penelitian ini hanya menggunakan satu titik lokasi di wilayah Jakarta sebagai lokasi penelitian. Ke depannya, penelitian ini dapat dikembangkan menjadi lebih banyak lokasi agar dapat merepresentasikan keseluruhan situasi dan kondisi kepatuhan wajib pajak pasca amnesti pajak se-Indonesia. Selain itu, penggunaan metodologi dalam penelitian ini relatif sangat sederhana. Sangat disarankan agar metodologi penelitian ini dikembangkan lebih lanjut dengan wawancara atau penelitian kuantitatif dengan menggunakan survei agar

dapat diperoleh informasi yang lebih komprehensif dan mendalam, khususnya tentang responnya kepatuhan pajak terhadap amnesti pajak.

6. REFERENSI

Ardayani, P. V. N., & Jati, I. K. (2019).

Pengaruh Tax Amnesty dan Kondisi Keuangan pada Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. E-Jurnal Akuntansi, 26(3), 1741-1768.

Devano, S., & Rahayu, S. K. (2006).

Perpajakan: Konsep, Teori, dan Isu.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Direktorat jenderal Pajak, 2017. “Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Pajak 2017.”

Fitrady, Ardyanto (2016). Is Tax Amnesty the Only Option for the Government Today?

https://macroeconomicdashboard.feb.u gm.ac.id/is-tax-amnesty-the-only- option-for-the-government-today/

(diunduh pada 19/06/2022)

Gunadi. (2013). Panduan Komprehensif Pajak Penghasilan. PT Niaga Swadaya.

Hutagaol, John (2004). Sekilas Tentang Tax Amnesty, Berita Pajak No. 1529, 15 Desember 2004.

Hutasoit, G. (2017). Pengaruh Tax Amnesty terhadap kepatuhan wajib pajak di kota Palembang. SNTIBD, 2(1), 38-43.

Ibrahim, M. A., Myrna, R., Irawati, I., &

Kristiadi, J. (2017). A systematic literature review on tax amnesty in 9 Asian countries. International Journal of Economics and Financial Issues, 7(3), 220-225

Kementerian Keuangan (2015). Amnesti Pajak.

https://www.kemenkeu.go.id/single- page/amnesti-pajak/ (diunduh pada 29/06/2022).

Muttaqin, Z. (2013). Tax Amnesty di Indonesia.

Refika Aditama.

Muttaqin, Z. (2013). Tax Amnesty di Indonesia.

Refika Aditama.

OECD. (2018). Revenue Statistics 2018.

Padel, M., Zamzam, F., & Istianda, M. (2021).

DAMPAK Program Pengampunan Pajak Terhadap Kepatuhan dan Penerimaan Pajak (Pada Kpp Pratama Palembang Ilir Timur). Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis, 26(2), 109-121.

(8)

Rahayu, N. A. (2020). Analisis Pengawasan pada Wajib Pajak Pasca Tax amnesty dalam Meningkatkan Penerimaan Pajak (Studi Kasus KPP Pratama Pekalongan). Pekalongan: Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta. Diambil

kembali dari

https://etd.umy.ac.id/id/eprint/1899 Rahayu, S. K. (2013). Perpajakan Indonesia

Konsep & Aspek Formal. Graha Ilmu.

Showkat, N., & Parveen, H. (2017). In-depth interview. Quadrant-I (e-Text).

Subadriyah, S., & Aliyah, S. (2018). The Differences Of Taxpayer Compliance Before And After Tax Amnesty Stimulus. Jema: Jurnal Ilmiah Bidang Akuntansi Dan Manajemen, 15(2), 98- 107.

Suyanto, S., & Putri, I. S. (2017). Pengaruh Persepsi Wajib Pajak Tentang

Kebijakan Tax Amnesty

(Pengampunan Pajak), Dan Motivasi Membayar Pajak Terhadap Kepatuhan Perpajakan. Jurnal Akuntansi, 5(1), 49-56.

Waluyo. (2002). Perpajakan Indonesia.

Salemba Empat.

Widi Widodo dkk. 2010. Moralitas, Budaya dan Kepatuhan Pajak. Alfabeta : Bandung

Referensi

Dokumen terkait

(3) Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku, Perturan Bupati Cilacap Nomor 48 Tahun 2017 tentang Pedoman Tata Cara Penghitungan, Penganggaran dalam Anggaran Pendapatan

(2019) ‘Diagnosis and Treatment of Adults with Community -acquired Pneumonia An Of fi cial Clinical Practice Guideline of the American Thoracic Society and Infectious Diseases

FM dan depresi jelas terkait pada perobaan dan tingkat pengukuran.+enilaian terhadap kuesioner depresi mengungkapkan berbagai item somatik pada pasien yang menderita

melakukan eksperimen fisika karena sangat tidak mungkin untu mengukur tumbukan secara langsung. Oleh karena itulah penulis terdorong untuk melakukan analisis tumbukan

Untuk menganalisa kondisi internal perusahaan, digunakan analisa Strategi Bisnis yang ada saat ini, dimana untuk hasil analisa ini didapatkan dari dokumen internal

Namun kebebasan hakim tidak keluar dari tujuan Islam Artinya dalam tugas, hakim wajib memperhatikan prinsip amanah, karena kekuasaan kehakiman pada dasarnya adalah amanah rakyat yang

Hasil pengujian sensor dalam mendeteksi pernapasan terengah-engah menunjukkan bahwa sensor napas memiliki waktu respon yang singkat se- hingga dapat mendeteksi pernapasan

Sistem bonus untuk driver yang diterapkan pada perusahaan Go-Jek cabang Purwokerto sudah sesuai dengan konsep ji‘a>lah dalam hukum Islam, baik dilihat dari