• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM 2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN UMUM 2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

Daerah penyelidikan kuari batugamping yang diusahakan oleh PT. Sugih Alamanugroho secara administratif terletak di Dusun Bulak Cabe, Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis terletak pada koordinat 110o4300’’ – 110o4500’’ BT dan 8o0100’’ – 8o0120’’ LS, dengan batas wilayah di sebelah utara terdapat jalan provinsi (jalan kelas II) yang menghubungkan kota Wonosari dengan Kecamatan Pracimantoro (Gambar 2.1). Di sebelah Barat merupakan daerah terbuka berupa lahan dengan beberapa bukit batugamping, berjarak  1 Km terdapat penambangan batugamping yang diusahakan oleh PT. Anindya. Sebelah Selatan merupakan ladang pertanian dengan beberapa bukit batugamping dan di sebelah Timur berjarak  1 Km terdapat penambangan batugamping yang diusahakan oleh penduduk setempat.

Dari kota Yogyakarta, lokasi penambangan dapat ditempuh melalui jalur Yogyakarta – Wonosari dengan jarak 42 km kemudian diteruskan dari Wonosari ke Kecamatan Ponjong dengan jarak 15 km kemudian dari Kecamatan Ponjong ke Desa Bedoyo ke lokasi pabrik dengan jarak 3 km. Sedangkan lokasi pabrik pengolahan batugamping berjarak 10 m sebelah selatan jalan raya Wonosari - Pracimantoro. Daerah ini memiliki tingkat kesampaian daerah yang cukup baik, dalam arti mudah dijangkau dari berbagai arah dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat dengan kondisi jalan beraspal (hot mix) baik, sedangkan ke lokasi penambang batugamping dengan berjalan kaki sejauh sekitar (100 – 400) meter dari pintu gerbang masuk PT. Sugih Alamanugroho.

(2)

8

(Sumber : PT. Sugih Alamanugroho,2011)

Gambar 2.1

Peta Lokasi Daerah Penelitian

2.2. Iklim dan Curah Hujan

Wilayah penambangan batugamping PT. Sugih Alamanugroho terletak di daerah yang beriklim tropis dengan musim hujan dan kemarau silih berganti.

Keadaan cuaca sepanjang tahun tidak merata, sering terjadi kekeringan yang panjang pada musim kemarau. Suhu udara 26o–32oC. Curah hujan rata-rata maksimum berdasarkan data dari Dinas Pertanian (Lampiran A).

PULAU JAWA

(3)

9 2.3. Tinjauan Geologi

Secara umum lokasi penambangan PT. Sugih Alamanugroho dan sekitarnya didominasi oleh batugamping Formasi Wonosari. Kenampakan bentang alam pada daerah ini membentuk bukit-bukit dengan arah utara–selatan.

2.3.1. Morfologi

Ditinjau dari aspek morfologi, daerah penambangan merupakan daerah perbukitan dimana terdapat batugamping yang akan ditambang. Bukit-bukit tersebut dihubungkan satu sama lain oleh punggung bukit atau hamparan lembah.

Sebagian besar bukit tersebut mempunyai bentuk kerucut dengan ketinggian antara 410–420 meter di atas permukaan air laut dengan kemiringan lereng rata- rata sebesar 23,75o atau 44%.

Pada umumnya bukit-bukit tersebut terdiri dari batugamping klastik yang mempunyai relief-relief lebih rendah dibanding dengan bukit yang disusun oleh batugamping nonklastik.

2.3.2. Stratigrafi

Stratigrafi batuan di daerah Bedoyo dapat dibedakan dua macam satuan batuan, yaitu satuan batugamping keras (klastik dan kristalin) dan satuan batugamping lunak (bioklastik). Satuan batugamping ini diperkirakan termasuk dalam Formasi Wonosari yang berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir (Gambar 2.2).

a. Batugamping Klastik

Batuan ini mempunyai penyebaran yang paling luas membentuk bukit-bukit kecil yang tidak beraturan dan permukaannya kasar. Batuan ini terdiri dari batugamping klastik dan batugamping kristalin, batugamping kristalin merupakan batuan yang dominan berwarna putih kecoklatan sampai abu-abu muda, keras dan kompak, membentuk permukaan kasar serta perlapisan yang buruk. Batugamping klastik berwarna putih kotor sampai coklat muda, terdiri dari fragmen kalsit, gamping, fosil foraminifera dan koral.

(4)

10 b. Batugamping Bioklastik

Batugamping ini terdiri dari batugamping nonklastik yang membentuk bukit- bukit kecil dengan permukaan yang relatif halus. Batugamping lunak secara umum terdapat di bagian bawah batugamping kristalin. Batugamping ini merupakan batugamping bioklastik yang secara megaskopis berwarna putih sampai kekuningan, terdiri dari cangkang-cangkang fosil moluska, koral dan foraminifera, berbutir sedang, agak sarang (porous) dan lunak.

(Sumber: Direktorat Sumber Daya Mineral Bandung,1998)

Gambar 2.2

Stratigrafi Pegunungan Selatan

2.3.3. Struktur Geologi

Menurut Bemmelen (1949), pada pertengahan kala Pleistosen, cekungan pengendapan Pegunungan Selatan mengalami pengangkatan membentuk

(5)

11

geantiklin Jawa. Selama pengangkatan Perbukitan Jiwo, zona sumbu geantiklin terpatahkan. Patahan yang terjadi berupa sesar normal, dengan blok bagian utara dari geantiklin meluncur normal dengan kemiringan kearah utara yang terletak diantara Perbukitan Jiwo dan Pegunungan Selatan. Gawir batugamping merupakan gawir yang terbentuk oleh sesar normal ini. Sayap selatan dari geantiklin yang tetap dalam keadaan semula, terpatahkan oleh beberapa patahan tangga dan membentuk blok-blok patahan antiklin yaitu patahan dengan kemiringan yang berlawanan. Patahan-patahan yang terbentuk kadang-kadang berkembang menjadi pelengseran di atas sedimen-sedimen lunak neogen yang terdapat dekat permukaan.

Pada Kala Pleistosen Atas, terjadi pelengseran suatu blok lain dari sayap selatan geantiklin yang merupakan batuan dasar (basement) dari cekungan Wonosari. Blok ini bergerak kearah utara dan menekan sisi utara dari Pegunungan Selatan yang mengakibatkan gawir patahan yang terdapat pada sisi utara Pegunungan Selatan, berubah menjadi antiklin bersayap satu dengan perlapisan batuan relatif miring ke selatan serta mengakibatkan terbentuknya patahan mendatar bersedimentasi relatif kecil yang merupakan perkembangan dari kekar- kekar akibat gaya tektonik.

2.4. Sifat Fisik dan Kimia Batugamping 2.4.1. Sifat Fisik Batugamping

Berdasarkan sifat fisiknya batugamping di daerah Bedoyo dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

a. Batugamping Keras

Batugamping ini bersifat kompak dan kristalin berwarna putih dan putih kekuningan, kadang-kadang berwarna kecoklatan serta kekuningan. Karena batugamping mempunyai sifat yang reaktif terhadap air, maka banyak terdapat rekahan-rekahan (diaklast) pada lapisan batuan ini dengan pola yang tidak teratur.

Rekahan-rekahan ini terisi oleh larutan tanah penutup setelah batugamping terbongkar, rekahan ini banyak ditemui sampai kedalaman empat meter dari lapisan terluar.

(6)

12 b. Batugamping Lunak

Batugamping ini lunak dan getas, berpori-pori (porous) kadang-kadang berfosil, berwarna putih bersih, kalau basah menjadi kekuningan. Batugamping ini sering disebut caliche (batu keprus, batu kapur atau chalky limestone). Caliche ini mempunyai sifat fisik yang berbeda dari batugamping pada umumnya karena relatif lunak dan berwarna putih sampai kekuningan, terdiri dari cangkang fosil moluska, koral dan foraminifera, berbutir sedang sampai kasar, sarang (porous) lunak dan getas.

Analisa fisik yang dilakukan oleh Direktorat Sumber Daya Mineral Bandung, batugamping lunak (caliche) mempunyai derajat kecerahan yang tinggi (>90%), sedangkan kemampuan daya serap terhadap minyak cukup baik yaitu (10- 12cc/100gr), apabila digerus dapat mencapai kehalusan ≥1200 mesh, serta kandungan silica dan oksida besi yang rendah. Sifat Fisik batugamping di daerah penambangan PT. Sugih Alamanugroho dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1

Hasil penelitian Sifat Fisik Batugamping di Laboratorium PT. Sugih Alamanugroho

No. Sifat Fisik Besaran

1. Bobot Isi Insitu 22,1 KN/m3

2. Bobot isi Lepas 12,6 KN/m3

3. Bobot Isi Tanah 11,5 KN/m3

4. Kekerasan 2,5-3,3 (Skala Mohs)

5. Faktor Pengembangan 0,57

(Sumber : PT. Sugih Alamanugroho, 1998)

2.4.2. Sifat Kimia Batugamping

Batugamping adalah batuan sedimen yang secara kimiawi terdiri atas kalsium karbonat (CaCO3), kandungan seperti terlihat pada Tabel 2.2 berikut ini:

(7)

13 Tabel 2.2

Analisa Kimia Batugamping PT. Sugih Alamanugroho

No. Senyawa % Berat

1. CaCO3 97,20

2. SiO2 0,66

3. Al2O3 0,15

4. Fe2O3 0,16

5. K2O 0,16

6. Na2O 0,05

7. H2O 0,88

8. CaO 54,48

(Sumber : Direktorat Sumber Daya Mineral Bandung, 1998)

2.5. Genesa Batugamping

Batugamping dapat terjadi dari beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik dan secara kimia :

a. Organik, jenis ini paling banyak dijumpai di alam, berasal dari pengendapan cangkang kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, juga dapat terdiri dari kerangka binatang dan koral.

b. Mekanik, jenis ini sama bahannya dengan pembentukan secara organik, perbedaannya karena telah terjadi perombakan, kemudian diendapkan lagi di tempat lain.

c. Kimia, jenis ini terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu, dalam air laut maupun air tawar.

Batugamping di daerah Bedoyo termasuk dalam batugamping dengan pembentukan secara mekanik, yaitu proses diagenesa batuan karbonat yang muncul di atas permukaan air sehingga terbentuk chalice. Penyebaran batugamping chalice di daerah Bedoyo sangat luas, nama pasaran batuan ini adalah batu keprus atau batu kapur.

(8)

14 2.6. Tahapan Kegiatan Penambangan

Penambangan batugamping di Bedoyo, Gunung Kidul yang diusahakan oleh PT. Sugih Alamanugroho dilakukan dengan mempergunakan sistem tambang terbuka secara kuari. Dalam pelaksanaannya, penambangan dilakukan dengan membuat jenjang-jenjang miring. Adapun tahapan-tahapan penambangan batugamping terdiri dari pembabatan, pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup, pembongkaran, pemuatan dan pengangkutan (Gambar 2.3).

2.6.1. Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilaksanakan sebelum kegiatan penambangan dilakukan, adapun kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut :

2.6.1.1. Pembabatan (Land Clearing)

Tahap awal dalam operasi penambangan batugamping ini adalah pembabatan hutan yang merupakan vegetasi yang menutupi overburden dari cadangan batugamping yang akan diambil. Adapun vegetasi yang menutupi overburden sebagian besar adalah tanaman keras, dalam hal ini pohon Jati, Sengon, Mahoni.

2.6.1.2. Pengupasan Tanah Pucuk (Topsoil)

Pengupasan tanah pucuk ini bertujuan untuk memindahkan dan mengamankan tanah pucuk itu sendiri pada daerah yang telah dipersiapkan, dimana tanah pucuk tersebut berguna sebagai media tanam pada saat dilakukan kegiatan reklamasi, kegiatan ini sangat penting sekali mengingat jumlah tanah pucuk yang ada jumlahnya sangat terbatas sekali.

2.6.1.3. Pengupasan Tanah Penutup (Overburden)

Pengupasan tanah penutup adalah suatu upaya untuk memindahkan lapisan tanah dan batugamping lapuk yang ada di atas cadangan batugamping, sehingga didapat permukaan kerja yang bersih dari pengotor dan tidak menghambat kegiatan selanjutnya. Alat yang digunakan untuk mengupas tanah penutup adalah Hydraulic Excavator Hitachi EX-200 (Back Hoe).

Kegiatan pengupasan diawali dengan penebangan pohon–pohon kecil dengan diameter 15-20 cm dan pembabatan semak–semak (land clearing)

(9)

15

pada areal yang akan ditambang. Setelah kegiatan Land Clearing dilakukan penggalian pada tanah penutup berupa tanah litosol (humus) dan batugamping lapuk. Secara umum ketebalan lapisan tanah penutup adalah 40–70 cm.

Lapisan tanah penutup yang telah digali ditimbun pada area yang kosong, material ini dimanfaatkan untuk pemadatan jalan tambang dan reklamasi.

2.6.2. Kegiatan Penambangan

Penambangan adalah kegiatan yang ditujukan untuk membebaskan dan mengambil bahan galian dari kulit bumi, kemudian membawanya kepermukaan bumi untuk dimanfaatkan. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

2.6.2.1. Pembongkaran (Loosening)

Lapisan batugamping yang telah dikupas tanah penutupnya, digali dengan menggunakan alat gali muat Back Hoe dibantu alat pemecah batuan yang disebut Rock Breaker untuk batuan yang besar dan keras.

a. Pembongkaran dengan Back Hoe.

Proses pembongkaran batugamping di kuari ini dilakukan dengan mengunakan alat Back Hoe. Pola gerak alat ini pada saat membongkar dibagi dua berdasarkan posisi alat terhadap batugamping yang dibongkar.

Gerakan Overcutting dilakukan apabila posisi batugamping lebih tinggi dari pada Back Hoe, gerakan ini dilakukan pada dinding jenjang. Sedangkan gerakan Undercutting dilakukan apabila posisi batugamping yang akan dibongkar jauh lebih rendah daripada Back Hoe, gerakan ini biasanya dilakukan pada pembongkaran lantai jenjang.

b. Pembongkaran dengan menggunakan Rock Breaker

Pembongkaran batugamping dengan mengunakan alat pemecah batuan Rock Breaker ini biasanya diterapkan pada batugamping keras yang tidak dapat dibongkar dengan menggunakan Back Hoe. Pembongkaran dengan menggunakan Rock Breaker ini hanya sebagai alat bantu, penggunaannya dengan melepas Buket yang ada pada lengan Back Hoe kemudian diganti dengan alat Rock Breaker.

(10)

16 2.6.2.2. Pemuatan (Loading)

Kegiatan pemuatan yaitu pengambilan material batugamping hasil pembongkaran untuk dimuat ke alat angkut. Adapun kegiatan pemuatan ini dilakukan dengan menggunakan Bucket yang terpasang pada Back Hoe.

2.6.2.3. Pengangkutan (Hauling)

Kegiatan pengangkutan bertujuan untuk memindahkan batugamping hasil pemberaian dari lokasi penambangan ke lokasi penimbunan. Alat angkut yang digunakan adalah 1 Unit truk jungkit Mitsubishi Colt 100 PS.

2.6.3. Penimbunan dan Pengeringan

Hasil penambangan ditimbun dahulu di tempat pengeringan, yang berjumlah 11 gudang pengeringan yang merupakan bangunan dengan atap yang transparan dan tanpa dinding untuk sirkulasi udara. Penimbunan dan pengeringan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kadar air yang terdapat pada batugamping.

Pengeringan dilakukan antara 6-7 hari pada musim hujan dan 4-5 hari pada musim kemarau dengan cara digelar dan diangin-anginkan.

2.6.4. Pengolahan dan Pemasaran

Batugamping yang telah kering diangkut dengan menggunakan 1 unit truk jungkit Mitsubishi Colt 100 PS menuju instalasi pengolahan untuk dipecah dari ukuran bongkah ± 4 - 30 cm hingga mencapai ukuran 800 - 1.200 mesh, kemudian dimasukkan ke dalam karung dengan berat 40 kg - 50 kg per karung dan siap untuk dipasarkan ke pabrik-pabrik yang membutuhkan bahan baku batugamping, diantaranya pabrik ban Goodyear, pabrik cat di kawasan Gresik, sandal dan sepatu New Era dan pabrik kertas Leces.

2.6.5. Kegiatan Reklamasi

Penambangan dapat mengubah lingkungan fisik, kimia dan biologi seperti bentuk lahan dan kondisi tanah, kualitas dan aliran air, debu, getaran, pola vegetasi dan habitat fauna dan sebagainya. Dampak negatif seperti yang disebut

(11)

17

diatas dapat dicegah atau ditanggulangi dengan cara mengatur rencana kegiatan penambangan berkoordinasi dengan reklamasi.

Keadaan lahan bekas penambangan disana pada umumnya kondisinya relatif tandus dan kering. Tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar sana kurang mendukung kegiatan penambangan dan penimbunan. Karena daunnya mudah rontok dan pohonnya kurang rindang sehingga kemampuan untuk menahan angin dan memecah angin relatif kecil. Untuk itu perlu dilakukan reklamasi dengan cara reklasifikasi vegetasi untuk mencukupi kebutuhan reklamasi di daerah ini.

Reklamasi yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang bertujuan mengembalikan kegunaan lahan agar dapat berfungsi kembali secara optimal sesuai dengan peruntukannya.

(12)

18

(Sumber : PT. Sugih Alamanugroho, 2012)

Gambar 2.3

Bagan Alir Tahapan Kegiatan Pertambangan Batugamping di PT. Sugih Alamanugroho

Kegiatan Land Clearing

Pengupasan Lapisan Tanah Pucuk dan Overburden

Kegiatan Peremukan Mangan Pembongkaran/Penggalian Mangan

Mangan

Kegiatan Pengemasan (Packing)

Kegiatan Pemuatan dan Pengangkutan

Kegiatan Penimbunan Produk

Reklamasi Kegiatan Land Clearing

Pengupasan lapisan tanah pucuk dan overburden

Kegiatan pemecahan mangan Pembon

gkaran Mangan

Pengupasan Lapisan Tanah Pucuk dan Overburden

Kegiatan pengem asan

Kegiatan penimbunan produk

reklamasi Persiapan Lahan :

 Pembabatan (Land Clearing)

 Pengupasan Tanah Pucuk (Topsoil)

 Pengupasan Tanah Penutup (Overburden)

Penambangan :

 Pembongkaran (Loosening)

 Pemuatan (Loading)

 Pengangkutan (Hauling)

Penimbunan dan Pengeringan

Pengolahan

Pemasaran

Reklamasi

Referensi

Dokumen terkait

1) Latar belakang pendidikan sudah memenuhi syarat dalam memberikan training motivasi (outbond). Akan tetapi keterampilan trainer dalam memberikan materi outbond

Kecerdasan Daeng Pamatte memang harus diakui; lewat tangan “dinginnyalah” masyarakat Makassar bisa mengetahui asal usul leluhur mereka melalui Aksara Lontara. Namun sosok

15 Perbandingan harian persentase lesio tubulus hari ke-n pasca pemberian obat pada kelompok perlakuan minyak (p), kontrol positif (k+) dan kontrol

Profitabilitas yang tinggi akan dimanfaatkan oleh pihak manajemen untuk melakukan investasi yang berkaitan dengan aset tetap sebagai salah satu tindakan manajemen

Pada putaran 4500 – 4750 RPM terdapat penurunan daya yang dihasilkan, tetapi daya mesin akan meningkat lagi pada putaran 5750 – 5819 RPM sebagai puncak maksimum daya

Bantul / Pengguna

d. idak berhubungan dengan dosis respons e. Karakteristik) tanda atau kumpulan gejala  pada penyakit yang diderita indi-idu yang mana se%ara statisti% berhubungan

(C, A, P) Bahan Kajian Metode Pembelajaran (bentuk pembelajaran) Media Waktu Pengalaman belajar mahasiswa Kriteria Penilaian dan Indikator (hard dan soft. skills)