• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Perkembangan zaman membuat segala aspek dalam kehidupan sehari-hari semakin berkembang cepat. Begitu juga dengan kejahatan, seiring dengan perkembangan zaman membuat kejahatan semakin tak terbatas dan pelaku kejahatan dapat melakukan aksinya dengan alat yang lebih canggih. Dalam sambutannya, Letnan Jenderal Drs. Dibyo Widodo (tahun 1997) menyampaikan bahwa “kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi yang melanda dunia akhir-akhir ini, dikaitkan dengan posisi silang Negara Kesatuan Republik Indonesia akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kejahatan di Indonesia”1.

Era globalisasi membuat batas-batas dalam setiap negara semakin terbuka.

Setiap orang dapat memasuki negara manapun yang ingin dituju dengan mudah.

Sehingga hal ini membuat para pelaku kejahatan dapat melakukan aksinya dimana saja, ataupun para pelaku kejahatan dapat melarikan diri ke negara lain setelah melakukan tindak kejahatan di negaranya. Tidak hanya itu, perkembangan teknologi dan komunikasi membuat para pelaku kejahatan juga memiliki jaringan- jaringan di berbagai negara sehingga mempermudah untuk melakukan aksinya di negara mana saja yang ingin dijadikan sasaran. Dalam hal ini, tentunya masyarakat Indonesia dapat melakukan tindak pidana kejahatan di negara lain, begitu juga sebaliknya. Namun, setiap negara tentunya memiliki kedaulatannya masing- masing. Hal ini terkadang menjadi salah satu penghalang bagi suatu negara untuk melakukan penyelidikan di negara lain. Tidak hanya pelaku kejahatan, tetapi hasil dari kejahatan tersebut juga dapat dilarikan ke negara lain untuk menghilangkan bukti hasil kejahatannya. Hal ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kejahatan transnasional.

1 Sambutan Kapolri Indonesia dalam Buku Kejahatan Terorganisasi Dunia oleh THE INTERNATIONAL CRIMINAL POLICE ORGANIZATION INTERPOL NCB - INDONESIA

(2)

Pada dasarnya kejahatan transnasional terjadi dikarenakan tiga faktor, yaitu : 1.) globalisasi dari ekonomi ; 2.) meningkatnya angka heterogenitas imigran ; 3.) perkembangan yang sangat pesat dari teknologi komunikasi (Firdaus, 2017).

Ekonomi menjadi salah satu aspek dari munculnya kejahatan transnasional. Salah satu bentuk kejahatan transnasional dalam bidang ekonomi adalah tindak pidana pencucian uang. Dalam buku yang berjudul ‘Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)’ (Amrullah, 2003 : 156) mengatakan bahwa tindak pidana pencucian uang merupakan suatu kejahatan yang sangat berbahaya bagi sendi-sendi ekonomi suatu bangsa, sehingga menimbulkan instabilitas sistem keuangan, distorsi ekonomi, dan kemungkinan gangguan terhadap pengendalian jumlah uang yang beredar, serta dampak negatif lainnya.

Berdasarkan data dari United States Department of State Bureau of International Narcotics dan Law Enforcement Affairs (2017 : 104) Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kejahatan money laundering yang cukup tinggi2. Meskipun bukan pusat keuangan regional, Indonesia tetap rentan terhadap pencucian uang karena kesenjangan dalam peraturan dan regulasi sistem keuangan, ekonomi berbasis uang tunai, aturan hukum yang lemah, dan lembaga penegak hukum yang tidak efektif. Sebagian besar pencucian uang di Indonesia terkait dengan perdagangan narkoba dan kegiatan kriminal lainnya seperti korupsi, kejahatan pajak, pembalakan liar, perdagangan satwa liar, pencurian, penipuan bank, penipuan kartu kredit, pembajakan maritim, penjualan barang palsu, perjudian ilegal, dan prostitusi. Jika melihat dari sejarahnya, pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi besar-besaran. Pada tahun yang sama, Indonesia telah meratifikasi United Nation Convention Against Illucit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1998 (Konvensi 1998) dimana Indonesia diharuskan untuk membuat Undang – Undang terkait pelaksanaannya.

Pada tanggal 17 Apil 2002, Undang – Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang disahkan. Kemudian pada tanggal 13 Oktober 2003 diubah dengan adanya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Perubahan atas

2 United States Department of State Bureau for International Narcotics and Law Enforcement Affairs International Narcotics Control Strategy Report Volume II ‘Money Laundering and Financial Crimes’ pada Maret 2017

(3)

Undang-undang Nomor 15 tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Namun, pelaksanaan Undang – Undang tersebut masih belum berjalan dengan baik di Indonesia.

Menurut annual report dari Financial Action Task Force (FATF) mengenai

‘the FATF Blacklist’ pada tahun 2001, Indonesia termasuk dari 3 negara Asia Tenggara bersama dengan Myanmar dan Filipina dikarenakan lalai dan tidak menanggapi isu kejahatan money laundering dengan serius. Di Asia sendiri, kasus pencucian uang menjadi salah satu bentuk kejahatan yang cukup mendapat banyak perhatian. Hal ini menjadi sangat penting dikarenakan kegiatan pencuciaan uang biasanya dikaitkan dengan terorisme. Indonesia berada pada status blacklist FATF dari tahun 2001-20053. Hal ini terjadi karena Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang menjadi surga bagi kegiatan pencucian uang. Alasan tersebut dikarenakan Indonesia menganut sistem devisa bebas, rahasia bank yang ketat, korupsi yang merajalela, maraknya kejahatan narkotika, dan pada saat itu perekonomian Indonesia dalam keadaan yang terpuruk, sehingga ada kecenderungan akan menerima dana dari mana pun untuk keperluan pemulihan ekonomi (Nurmalawaty, 2006).

Dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) menjelaskan mengenai bentuk-bentuk dari pencucian uang. Dalam pasal 3 UU TPPU dijelaskan bentuk pencucian uang secara aktif bahwa setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.

Dalam pasal 4 UU TPPU dikenakan pula bagi mereka yang turut menikmati hasil tindak pidana pencucian uang. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa tindak pidana pencucian uang dapat dikenakan kepada setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut

3 Financial Action Task Force (FATF) Annual Review of Non-Cooperative Countries and Territories 2006-2007: Eighth NCCT Review pada 12 Oktober 2007

(4)

diduganya merupakan hasil tindak pidana. Hal ini pun dianggap sama dengan melakukan pencucian uang. Selain secara aktif, dalam pasal 5 ayat 1 UU TPPU juga menjelaskan mengenai pencucian uang yang juga dapat dilakukan secara pasif, yaitu tindak pidana pencucian uang dikenakan kepada setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Hal tersebut dianggap juga sama dengan melakukan pencucian uang. Namun, dikecualikan bagi pihak pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pencucian uang dapat dilakukan melalui 3 tahap yaitu (Almahendra: 2018) :

1. Placement, dalam tahap ini pelaku kejahatan pencucian uang akan menempatkan atau memindahkan uang hasil kejahatannya ke dalam berbagai aktifitas bisnis yang sah. Hal ini bisa saja dilakukan baik di dalam negeri maupun aktifitas bisnis di luar negeri. Uang hasil pencucian uang selanjutnya akan dikonversikan untuk menyembunyikan asal usul uang hasil kejahatan tersebut.

2. Layering, dalam tahap ini pelaku kejahatan selanjutnya akan menyamarkan jejak dari uang hasil kejahatan tersebut. Hal ini dilakukan dengan cara mengirimkan uang hasil kejahatan tersebut ke perusahaan palsu, menciptakan faktur palsu, salah satu cara baru untuk dalam tahap layering ini adalah membuat tempat-tempat perjudian atau membeli barang-barang mewah seperti mobil mewah, pesawat, dengan mengatasnamakan orang lain.

3. Integration, dalam tahap ini pelaku kejahatan akan menstransfer kembali uang hasil kejahatannya yang sudah “bersih” atau yang sudah dilakukan pencucian uang ke dalam rekeningnya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melaporkan keuntungan yang cukup signifikan atas perusahaannya, bisa juga dengan cara menerima gaji setinggi langit dari perusahaan palsu yang dia bentuk dalam tahap layering sebelumnya.

(5)

Kejahatan money laundering juga memberikan dampak terhadap ketidakstabilan politik dalam negara. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya infrastruktur khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan masyarakat, dan lainnya. Pada tahun 2014 yang merupakan tahun Pemilu, terjadi pergantian Presiden di Indonesia. Pergantian pemimpin negara, tentunya juga terjadi perubahan struktur dan sistem perpolitikan di negara tersebut. Hal ini tentunya juga berdampak terhadap kinerja dan bentuk upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menangani kasus kejahatan transnasional.

Salah satu contoh dugaan pencucian uang yang dilakukan adalah kasus E- KTP Setya Novanto pada tahun 2017. Kasus korupsi dan pencucian uang yang dilakukan oleh Setya Novanto telah mengakibatkan kerugian bagi negara sekitar Rp 2,3 Triliun. Selain itu, pada bulan April tahun 2016, sebuah dokumen yang berisi daftar dari kepemilikan perusahaan bebas pajak yang ada di negara – negara bebas pajak (offshore). Dalam dokumen yang tersebar tersebut, terdapat beberapa nama politikus, kepala negara, serta atlit. Dalam beberapa ama tersebut, ada juga beberapa nama pengusaha dan politikus asal Indonesia juga yang termasuk dalam daftar orang-orang yang menyembunyikan harta kekayaannya dalam perusahaan bebas pajak tersebut. Dalam investigasi yang dilakukan oleh Tempo, nilai aset dari harta kekayaan orang Indonesia yang terlibat dalam dokumen panama papers tersebut melebihi Product Domestic Bruto (PDB) Indonesia, yaitu melebihi 11 triliun.(Anonim1,2016 A Global Investigation the Panama Papers)

Berdasarkan contoh kasus di atas, maka kasus pencucian uang (money laundering) di Indonesia masih cukup tinggi dan mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi negara. Dalam penanganan hal tersebut, tentunya perlu ada penanganan dan pemberantasan permasalahan tersebut dari pemerintah. Pemerintah Indonesia sendiri memiliki beberapa lembaga yang bertanggungjawab dalam penanganan kasus money laundering. Mengingat salah satu hal yang membuat Indonesia rentan terhadap money laundering adalah lemahnya lembaga penegak hukum. Contoh dari lembaga penegak hukum yang bertanggungjawab dalam kejahatan money laundering adalah PPATK, yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh KPK dan Polri.

(6)

Mengingat masih tingginya peluang kejahatan pencucian uang di Indonesia yang melibatkan negara lain, maka penulis ingin melihat lebih dalam bagaimana upaya kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menangani kasus kejahatan pencucian uang (money laundering) khususnya yang bersifat transnasional mulai dari tahun 2014 - 2018.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana upaya kerjasama internasional yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani kasus kejahatan transnasional money laundering pada tahun 2014 – 2018 ?

1.3 Tujuan Penelitian

Mendeskripsikan upaya kerjasama internasional yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani kasus kejahatan transnasional money laundering pada tahun 2014 - 2018.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui kerjasam internasional dalam penanganan kasus pencucian uang di Indonesia. Dimana kejahatan money laundering (pencucian uang) tersebut memiliki dampak buruk bagi kondisi perekonomian negara dan situasi perpolitikan.

1.4.2 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah diharapkan dapat menjadi pengembangan referensi ilmu Hubungan Internasional untuk memahami bagaimana upaya dari kerjasama internasional yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjaga keamanan di Indonesia dari kejahatan transnasional pencucian uang. Sehingga dapat menjadi acuan dan bahan evaluasi dalam melakukan kerjasama untuk penanganan kejahatan transasional pencucian uang ke depannya.

(7)

1.5 Batasan Penelitian

Batas dari penelitian ini adalah upaya kerjasama internasional pemerintah Indonesia dalam menangani kasus kejahatan transnasional money laundering di Indonesia pada tahun 2014-2018. Dimana pada tahun 2014, terjadi perubahan sistem perpolitikan mengingat adanya pergantian pemimpin negara di Indonesia, yang tentunya juga berdampak pada kinerja dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi kejahatan transnasional yang melibatkan Indonesia. Selain itu, pada tahun-tahun berikutnya, bermunculan kasus pencucian uang yang mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan

Dengan cara yang sama untuk menghitung luas Δ ABC bila panjang dua sisi dan besar salah satu sudut yang diapit kedua sisi tersebut diketahui akan diperoleh rumus-rumus